Sabtu, 26 Mei 2012

KAKAK VS PACAR



Sepulang sekolah, Anggi langsung menuju gerbang sekolah tempat kakaknya biasa menunggunya. “Kak, aku gak jadi pulang bareng kakak ya.”
        “Lho? Emang kenapa?” Tanya Doni, sang kakak yang juga siswa di SMA tersebut. “Kalo mama nanya, gue harus jawab apa?”
        “Ya udah, bilang aja aku mau pergi sama temen.” Kata Anggi.
        “Terserah lo aja deh.” Balas Doni yang sedikit kesal yang langsung meninggalkan Anggi sendiri.
       
@@@

        Anggi duduk sendiri di sebuah bangku taman. Ia harap-harap cemas menunggu kedatangan seseorang. Sesekali ia melirik jam tangannya.
        “Putra mana sih? Jam segini kok belum datang-datang juga?” keluhnya. Cewek itu berdiri sambil mengedarkan pandangannya ke sekitar taman yang siang itu memang cukup sepi. “Beteeee…” Keluh Anggi lagi untuk yang kesekian kalinya.
        Tak lama, seorang cowok muncul dengan nafas yang sedikit tersengal-sengal. “Hai sayang… Maaf ya aku telat.” Ujar Putra sambil duduk di samping Anggi. “Kamu lama nunggu yaa?” Tanya Putra.
        “Kamu kemana aja?” Anggi balik bertanya dengan nada kecewa karena dibiarkan menunggu lama oleh sang pacar.
        “Iya tadi jalanan macet.” Ujar Putra menjelaskan alasan keterlambatannya.
        Anggi berdiri untuk sedikit menghindari Putra. “Jam segini mana ada macet!” Ia belum bisa begitu saja menerima alasan Putra yang tak menepati janji.
        “Beneran, tadi macet di jalan.” Putra berusaha meyakinkan Anggi.
        “Jalan mana?” Tanya Anggi lagi, masih dengan raut wajah kekesalan.
        “Jalan menuju hati kamuuu…” Putra mengeluarkan jurus pamungkasnya.
        Skak matt. Anggi tak bisa membalas gombalan Putra.
        Melihat Anggi diam, Putra tak menyia-nyikan kesempatan untuk meluluhkan hati sang pujaan. “Maaf ya.” Ujar Putra dengan lembut sambil mengulurkan jari kelingkingnya.
        Meski terlihat sedikit ragu, dengan perlahan Anggi pun mengaitkan jari kelingkingnya ke jari kelingking Putra. “Tapi janji ya, kamu gak ngulangin lagi?” Pinta Anggi dengan nada manja.
        “Iya, aku janji.” Kata Putra meyakinkan. “Senyum donk.” Putra merayu karena Anggi kembali diam.
        Anggi pun tersenyum malu-malu. “Nanti malam kita jadi nonton kan?” Tanya Anggi memastikan Putra menepati janjinya.
        “Jadi donk.” Jawab Putra penuh semangat. “Emang kenapa? Kamu gak mau, ya?”
        “Mau.” Balas Anggi yang tak ingin mengecewakan Putra. “Emangnya, kamu mau nonton film apa?”
        “Hmm… Terserah kamu…”
        “Yaudah deh. Jangan telat jemput ya.” Anggi memperingatkan Putra sambil menyambar ranselnya yang tergeletak di atas bangku taman.
        “Pasti.”
        “Aku pulang dulu ya.” Anggi pun berpamitan.
        “Dandan yang cantik ya.” Kata Putra sebelum Anggi benar-benar pergi meninggalkannya sendiri di taman.
        Akhirnya… Putra pun bisa bernapas lega. Ia duduk dan langsung bersandar di bangku taman.
        “Untung aja, Anggi gak curiga kalo gue telat gara-gara tawuran.”

@@@

        “Bos, itu bukannya anak SMA yang tadi tawuran sama kita?”
        “Mana?” Doni mencari-cari arah yang ditunjuk Moel.
        “Iya bener, bos.” Panji meluruskan ucapan Moel.
“Kita abisin aja sekalian.” Ujar Yuris menimpali perkataan Panji.
Doni yang terhasut ucapan teman-temannya tadi langsung mempercepat langkahnya menuju tempat Putra berada. Kala itu Putra tengah bersiap untuk meninggalkan taman.
“Hebat bener berani dateng ke sini.” Ucap Doni sambil menepuk tangan tanda meremehkan.
“Ada apa nih, bang?” tanya Putra yang sedikit kebingungan.
Panji memaksa Putra untuk melepaskan kembali ranselnya. “Ada apa ada apa? Lo dateng kemari, punya nyawa berapa?” Tanya Panji sambil sedikit mendorong tubuh Putra.
Yuris menahan tubuh Putra yang terdorong ke arahnya. Kemudian, ia merangkul Putra dengan tatapan merendah. “Lo pikir, bokap lo Jendral di sini? Hah!” Bentaknya.
“Boy! Sini lo!” Perintah Moel.
Dengan gugupnya, Putra pun menuruti permintaan Moel.
“Abis ketemu cewek, ya?” lanjut Moel.
“Nggak bang.” Jawab Putra dengan suara pelan.
“Akh! Buang-buang waktu. Hajar bos!” teriak Moel memberi komando sambil mendorong Putra ke arah Yuris dan Panji berada dan Doni pun langsung melayangkan tinjuan tepat mengenai perut Putra. “Abisin aja, bos!”
Belum sempat membela diri, serangan berikut dilancarkan oleh Panji. Bogeman cowok itu ampuh menyungkurkan Putra. Lanjut menendang bagian perut sebelum Putra berhasil berdiri.
Doni pun tak mau buang kesempatan ketika Putra masih tergeletak di atas rumput. Ia berulang kali menonjok wajah Putra. Dirasa cukup, Doni menarik kerah seragam Putra dan memaksa cowok itu untuk berdiri. Yuris dan Panji dengan sigap menangkap tubuh Putra ketika Doni mendorong Putra ke arah mereka.
Dengan sangat leluasa, Moel melayangkan tendangan dengan perut Putra sebagai samsaknya.
“Cabut.” Ajak Doni ketika dilihatnya Putra sudah tidak akan memberi perlawanan.
Yuris yang berjalan paling belakang kembali menoleh. Dilihatnya Putra masih tersungkur dan susah payah untuk bangkit. Di saat itu pula, Yuris tak segan-segan untuk berlari kembali ke arah Putra dan menendang perut cowok itu hingga kembali tersungkur.

@@@

Suasana taman sore ini lebih ramai dibandingkan dengan saat siang tadi. Banyak anak-anak bermain. Kala itu Putra tak sengaja lewat. Di sana ia melihat Doni yang tengah asik menyaksikan anak-anak bermain.
“Cowok yang tadi siang ngehajar gue tuh.” Ujar Putra kesal. Rasa ingin balas dendampun menguasai cowok ini untuk menghampiri Doni.
Pelan tapi pasti, Putra menepuk punggung Doni hingga cowok itu menoleh. “Urusan kita belum selesai.” Tanpa menunggu kata-kata keluar dari mulut Doni, Putra langsung melayangkan tinjuan hingga mengenai wajah cowok itu.
Sontak kericuhan pun terjadi. Beberapa anak yang tengah bermain pun menjerit histeris ketakutan dan mulai berhamburan menjauhi Doni dan Putra.
Tak terima, Doni pun membalas perlakuan Putra. Tak ayal, pertarungan sengit terjadi. Beberapa orang yang menyaksikan tak ada yang berani melerai. Akhirnya Doni pun bisa melepaskan diri dan kabur.
“Woi…! Jangan lari lo!” teriak Putra sambil mengejar. Ia tak ingin Doni lepas begitu saja karena saat ini ia berada di atas angin. One by one, akhirnya Putra bisa member perlawanan. Bukan seperti tadi siang saat ia dikeroyok.
Putra terus mengejar Doni yang masih berlari sejauh mungkin untuk menghindarinya. Kini Doni hanya berada kurang dari dua meter dihadapannya. Sekuat tenaga, Putra berusaha meraih kerah baju Doni. Dan… dapat! Putra menarik Doni hingga terjatuh. Suasana yang sepi pun semakin menguatkan niatnya untuk menghabisi Doni.
Putra terus menghujani Doni dengan pukulan-pukulannya. Sementara Doni tak bisa memberikan perlawanan yang berarti.
“Mampus lo!” ujar Putra yang merasa puas karena Doni sama sekali tak berontak. Sudah cukup. Pikirnya. Putra pun meninggalkan Doni begitu saja.

@@@

Ini yang telah ditunggu-tunggu oleh Putra. Dengan semangat ’45, ia menjemput Anggi dirumahnya. Cewek itu telah menunggunya di teras.
“Hai, sayang. Kali ini aku gak telat, kan?” kata-kata yang keluar dari mulut Putra sama sekali tak membuat Anggi tersenyum. “Kamu kenapa sih?” Tanya Putra sedikit mencurigai sikap aneh yang ditunjukkan Anggi.
“Kita gak jadi pergi.” Ujar Anggi tegas.
“Lho, kenapa?”
“Kakak aku…” Anggi menggantungkan ucapannya.
“Ada apa sama kakak kamu?” Putra kembali bertanya penuh kekhawatiran.
Anggi tak sanggup menjawab. Ia seperti menahan tangisnya. “Kakak aku meninggal.” Anggi akhirnya tak sanggup menahan tangisnya yang kali ini benar-benar pecah. “Sekarang aku mau ke rumah sakit.”
“Emang selama ini kakak kamu sakit?”
Anggi cepat-cepat menggeleng. “Tadi sore dia dihajar sama seseorang sampe meninggal.”
Putra mendengarkan cerita Anggi sambil melirik tangan cewek itu yang seperti menyembunyikan sesuatu. Cepat-cepat ia rampas benda itu dari tangan Anggi. Bagaikan disambar petir, Putra tak mempercayai apa yang baru saja dilihatnya. Itu foto Anggi bersama kakaknya. Dan kakaknya Anggi adalah Doni, cowok yang tadi sore …

@@@

TAK KAN SALAH



Aku tergesa-gesa keluar kamar dan menuruni anak tangga sambil menenteng sebuah bola sepak. Ada janji bermain sepak bola sore ini. Aku menemukan kakak ku yang sedang menonton televisi di ruang tengah. Ia sodara tiriku . kami seumuran. Namanya Revan.
        Aku tau ia menyadari kehadiranku, tapi aku sama sekali tak peduli. Karena ku rasa ia sama seperti diriku dan yang lain.
        “Lingga.” Panggilnya.
        Aku meresponnya dengan berhenti tepat dibekakang sofanya.
        “Udah sholat?” Tanya Revan lagi tanpa menoleh kea rah ku.
        Aku meliriknya sinis. “Lakukan apa yang menurutmu benar.” Ucapku sebelum pergi, dan sebelum ia merespon ucapanku lagi.

@@@

        Jam 3 pagi aku terbangun. Memang disengaja olehku. Karena aku berniat menonton pertandingan sepakbola. Aku melalui depan kamar Revan. Pintunya sedikit terbuka. Aku tergelitik untuk sedikit meliriknya. Ku dapati Revan sedang sholat.
        “Sholat apaan jam segini?” gumamku penasaran. “Tumben!” celetukku. Aku berfikir demikian karena menurutku ia tak setaat itu.
        Aku melanjutkan langkahku menuju ruang tengah. Ku raih remote tivi dan menghidupkannya. Tak berapa lama, Revan datang dan duduk di sampingku.
        Aku menatapnya masih dengan pandangan sinis.
        “Kau tak sholat?” tegurnya.
        Aku hanya menanggapinya dengan senyuman kecut dan tak mempedulikan kata-katanya.
        Dua jam kami lalui dalam diam. Aku tak tertarik untuk bicara dengannya. Karena bicara dengannya sama seperti bicara dengan ayahku.
        Aku siap kembali ke kamar. Tapi Revan menegurku sekali lagi.
        “Udah waktunya sholat Subuh.” Revan memperingatkan.
        “Tak usah mengajariku.” Ujarku tanpa ingin menatapnya.
        Revan tak kembali tidur. Ia memilih untuk langsung melaksanakan sholat Subuh, lalu bergegas untuk bersiap ke sekolah.
        Tak ada yang berbeda dari dirinya dengan kehidupan remaja lain seumurnya. Kesekolah mengendarai sepeda motor. Di kelaspun Revan memilih tempat duduk sedikit di belakang. Ketika jam istirahatpun Revan berkumpul dengan teman-temannya di kantin. Dan terkadang menyibukkan diri dengan bermain sepakbola.
        Apa yang dilakukannya terekam olehku. “Apa yang berbeda denganku?” ujar ku pelan.
        “Bedanya, dia rajin sholat sedangkan kau tidak.”
        Lingga menoleh. Aku sedikit terperenjat mendapati seorang cewek yang tiba-tiba berada di sampingku. Cewek itu menatapku dengan sorot mata sedikit meledek.
        “Kau menguping?” hardikku.
        “Tidak.” Ucapnya sedikit bersemangat sambil menggeleng, membuat jilbabnya seolah bergerak kesana-kemari.
        Aku lega mendengarnya. Tapi itu hanya berlangsung sesaat.
        “Tidak sengaja maksudku.” Cewek itu tertawa.
        “Riva?” aku terdengar mengeram dan tak kusadari mataku melebar menatpnya kesal.
        “Apa?” tantangnya.
        Aku tak meresponnya lagi dan langsung pergi.
        “Lingga.”
        Ku dengar Riva menyebut namaku. Tapi aku tak serta-merta menghentikan langkah. Aku sadar Riva mensejajarkan langkahnya denganku.
        “Kau tau kalau Revan itu…”
        “Stop.” Aku membuat kata-katanya menggangtung tanpa sedikitpun menghentikan langkah. “Jangan katakana itu lagi.” Pintaku.
        “Aku tak kan mengatakannya.”
        Ucapannya kembali membuatku lega. Tapi tatapannya tidak.
        “Karena kau sudah mengetahuinya.”
        Kata-katanya yang terakhir membuatku benar-benar menghentikan langkah. Tapi tidak untuknya. Riva terus melangkah menjauhiku.
        “Hei. Mau kemana kau?” teriakku.
        “Menemui kakak iparmu.” Balasnya sambil melambaikan tangan dan terus berjalan tanpa berpaling.
        Sikapnya membuatku tak ingin mengejarnya lagi. Karena menurutku ia akan menemui Revan. Aku sama sekali tak tertarik.

@@@

        Apa yang ku temukan begitu sampai di kelas? Ku lihat Riva bersama Karina. Dan Revan, duduk sendiri di kursinya sambil membaca buku. Aku pun duduk di kursiku. Tidak jauh dari tempat Revan.
        Aku menyaksikan Riva bicara dengan Revan dari kursi mereka masing-masing.
        “Revan. Kau mau ikut belajar bersama dengan kami siang ini di rumahku?” itu suara Riva.
        Akupun dengan jelas menangkap respon Revan.
        “Kami?” ulangnya.
        “Iya. Aku, kau, dan Karina.” Jawab Riva.
        Revan terlihat ragu. Aku mengawasinya.
        “Maksudku, kita bertiga dan aku juga berencana mengajak Nurul, Mega, Adit dan Bima nanti.” Cepat-cepat Riva menambahkan ucapannya.
        Keraguan Revan terlihat memudar. “Insya Allah.” Jawabnya. Membuat Riva dan Karina terlihat tersenyum.
        Aku menatap Revan heran. Apa maksudnya dengan bilang ‘insya Allah’? jadi dia akan datang atau tidak?
        “Lingga.” Ku dengar Riva memanggilku.
        Aku mendongak kearahnya.
        “Apa kau mau bergabung bersama kami?”
        Ku dengar suaranya sungguh-sungguh. Ia menungguku. Lalu aku menggeleng.
        “Kau yakin?” Riva memastikan.
        Aku tak menjawab. Hanya mengangguk.
        “Tapi kita rame-rame kok.” Riva masih berusaha membujukku.
        Apa bedanya rame-rame atau hanya beberapa orang saja? Sekali lagi. Aku menggeleng. Kali ini terlihat lebih meyakinkan.
        Ku lihat mulut Riva kembali terbuka. Aku yakin ia iangin bersuara lagi. Tapi ku lihat Karina menahan tangannya dan berkata.”Riva, udah ya? Jangan dipaksa kalau Lingga gak mau.” Suaranya terdengar lembut. Dan seketika Riva luluh.
        Aku kembali melirik ke tempat Revan berada. Revan memang terlihat tak memperhatikan kami. Tapi aku lihat ia tersenyum di balik bukunya.
        Ketika pulang sekolah, Revan mendekati mejaku. Tanpa harus bertanya, aku yakin ia akan mengatakan sesuatu.
        “Katakan pada ibu, hari ini aku pulang telat.”
        “Ya. Aku mengetahuinya.” Kataku cuek. “Ada lagi?”
        Revan diam. “Ada.” ucapnya.
        Aku menunggu.
        Ia menepuk pundakku pelan. “Jangan lupa sholat.” Kata Revan sesaat sebelum ia meninggalkanku.

@@@

        Revan akan pulang telat. Itu benar. Dan baru saja ibu berpamitan untuk menghadiri acara pengajian. Alhasil, di rumah aku sendiri. Mencoba mencerna apa yang terjadi hari ini.
        Aku teringat semua ucapan Riva sebelum ia bilang ingin menemui Revan. Tapi kurasa mereka tidak benar-benar mempertemukan diri. Aku berfikir lagi. Dan kali ini aku yakin. Aku telah salah menangkap. Riva tak mengatakan ingin menemui Revan. Tapi siapa? Aku mencoba mengingat.
        Aku mendengar suara pintu menjeblak. Kurasa itu Revan. Dan ternyata benar.
        “Assalamualaikum.” Revan selalu begitu.
        “Waalaikumsalam.” Jawabku.
        Tapi tampaknya ia sedkit terkejut mendengar aku menjawab salamnya.
        “Kau ada di situ?” ucapnya heran. “Sudah sholat ashar?” ia bertanya sambil tetap melangkah melaluiku. Ia tak menunggu. Mungkin karna ia tau aku tak kan menjawabnya.
        “Mengapa kau selalu bertanya seperti itu?” suaraku membuat Revan berhenti dan berbalik. Kami saling berhadapan dalam jarak beberapa meter.
        “Apa lagi yang bisa ku tanyakan padamu?” Revan balik bertanya. Suaranya tenang namun menantang.
        “Kalau begitu, aku yang bertanya.” Aku tak mau kalah.
        “Apa?” ia menungguku.
        “Aku tau kau. Aku sadar apa yang kau lakukan. Aku mungkin tak sepertimu. Tapi ada satu sikapmu yang janggal.”
        Ucapanku membuat Revan seolah harus berfikir keras. Aku sadar, perkataanku cukup sulit untuk dicernanya.
        “Aku tak mengerti.” Kata Revan akhirnya.
        Kali ini aku ingat. Sungguh, ini benar. Riva bilang ingin menemui kakak iparku. Siapa yang di maksudnya dengan ‘kakak ipar’ ku? Riva membuatku berfikir kalau Revan…
        “Lingga.” Suara Revan membuyarkanku. Mungkin karena aku terlalu lama diam.
        “Awalnya aku fikir kau tak setaat itu. Tapi ternyata aku salah. Aku sadar apa yang kau lakukan. Pertanyaan yang selalu kau lontarkan untukku. Kita memang baru setahun menjadi keluarga. Tapi aku tau apa yang selalu ibu ajarkan padamu. Bahkan padaku juga. Aku juga sadar seperti apa kaluarga baruku. Tapi aku tak bisa me…”
        “Katakan apa yang menurutmu janggal dari ku?” Revan tampak tidak sabar menunggu ucapanku.
        “Oke.” Aku mengalah. “Kau tau ayah dan ibu melarang kita ‘pacaran’?” aku memberi tekanan ketika menyebut kata ‘pacaran’.
        “Aku sangat menyadari itu.”
        “Tapi kau punya pacar?”
        Kata-kataku mengejutkannya. Jelas ia, cukup kaget mendengarnya. Tapi aku tak melihat kemarahan dalam matanya. Revan tersenyum.
        “Aku mengetahuinya.” Ucapku sengit.
        “Apa yang kau ketahui?” revan semakin menantangku.
        “Kau tak begitu peduli dengan ponselmu. Tapi aku pernah memergokimu membaca sebuah sms, lalu kau pergi. Kau tak sadar aku mengikutimu. Mengikuti sampai kau berhenti didepan sebuah rumah. Dan aku tau itu rumah Karina.” Tatapanku mengancam ke Revan.
        “Apa yang kau pikir setelah itu?” Revan masih tenang menungguku.
        “Karina pacarmu.”
        Revan malah tertawa menanggapi suaraku.
        “Kau tau apa yang terjadi setelah itu? Apa yang kulakukan dirumah Karina? Siapa yang kutemui disana?” Revan balik menyerangku dengan pertanyaannya.
        Jawabannya tidak. Ia tau itu. Aku hanya diam.
        “Karina berasal dari keluarga yang beragama. Kau tau itu. Mungkin kau berfikir aku munafik. Tapi kau salah. Aku kerumah karina untuk menemui ayahnya. Karina tak ada disana. Ayahnya mengajariku tentang agama. Aku tak masalah kau mengabaikanku ketika menyuruhmu sholat. Karna kau berfikir aku sama sepertimu.”
        Revan masih membuatku diam.
“Mungkin salah kalau aku menyuruhmu mengikutimu. Tapi aku ingin kau tau. Agama tak kan menghalangimu bermain sepak bola.”
        Entah mengapa suara Revan terdengar semakin samar. Aku mengerti semua yang dikatakannya. Dan entah mengapa aku membenarkan itu.
        “Aku harap kau ingat. Aku tak pernah meminta Karina menjadi pacarku.” Revan menekan itu sekali lagi..
        “Iya. Sebenarnya aku tak sungguh-sungguh mengatakan itu.” Oke. Lalu, apa kau memintanya menjadi istrimu suatu saat nanti?”
        Oh, tidak. Jangan katakana itu lagi. Tapi semua telah terucap. Revan mendengar pertanyaan ajaibku.
        “Iya.”
        Mengejutkan. Revan membenarkan perkataanku.
        “Tapi aku masih 17 tahun?” Aku keheranan
        “Tapi itu tak melanggar ucapan ibu kan?”
        “Benar.” Aku menghela napas.
        “Kau bisa mempraktekan itu ke Riva.” Revan terdengar meledekku.
        Mataku melebar. Mendengar nama itu disebut, aku langsung jengkel. Aku masih sedikit kesal dengan Riva.
        “Maaf. Aku tak bermaksud.” Cepat-cepat Revan kembali merubah suasana hatiku. ”Lupakan. Lebih baik kau sholat dulu.”
        Kali ini aku menuruti sarannya. Revan benar. Dan aku bertekad. Setelah ini aku ingin jadi lebih baik. Begitu sampai depan kamar mandi, aku berhenti dan kembali melihat Revan menaiki tangga.
        “Revan.” Panggilku.
        “Iya?” Ia menoleh.
        “Maafkan aku mengabaikanmu.” Ucapanku sungguh terdengar tulus.
        “Ya. Aku maafkan.” Kata Revan cepat.
        Aku lega. Dan aku tau Revan akan mengatakan itu.
        “Boleh ku pinta sesuatu darimu?” Aku berkata lagi sebelum Revan kembali melangkah.
        “Silakan.” Ujarnya enteng.
        “Tolong bimbing aku menjadi lebih baik.” Pintaku.
        “Pasti.” Revan langsung menjawab dengan lantang.
        “Alhamdulillah.” Gumamku pelan.
        Dan aku bersyukur dapat membuka mata hatiku sebelum terlambat.

@@@


Senin, 20 Februari 2012

rosengard fc (part 15) end


15. THIS IS JUST A GAME

Partai final terasa semakin mendebarkan dimana pertandingan harus ditentukan oleh drama adu penalty. Kedua tim sama kuat. Meski awalnya SMA Jakabaring unggul 1-0 dengan gol yang dicetak Bagas, namun SMA Rosengard berhasil menyamakan kedudukan lewat gol dari Danu di menit-menit akhir babak kedua.
        Penendang pertama dari SMA Jakabaring. Christ. Gol. 1-0. Penendang pertama dari SMA Dipokar. Diaz. Gol. 1-1.
        Dua penendang berikutnya dari kedua kesebelasan berhasil menerobos gawang lawan, masing-masing Zagar dan Nicky dari Jakabaring serta Dewa dan Garra dari Dipokar. Skor sama kuat 3-3. Eksekutor berikutnya dari Jakabaring, Bagas yang sukses membuat klubnya unggul 3-4. Penendang ke-empat dari Rosengard, Ilan yang membuat skor kembali sama kuat.
        Beban berat dihadapi Frans yang notabene adalah eksekutor terakhir untuk Jakabaring. Meski akhirnya ia berhasil memberikan jarak kepada Rosengard.
        Tapi beban berat lebih diterima Lingga yang menjadi penentu. Jika tendangannya gagal, berarti ia memberikan kemenangan untuk lawan. Tapi jika ia berhasil, Rosengard bisa sedikit bernafas lebih panjang.
       
@@@

Beberapa jam sebelum pertandingan, Lingga menemui ayahnya di lobby. Bram memberikan amplop coklat untuk Lingga.
“Itu brosur salah satu akademi sepakbola di Inggris. Papa udah pegang tiketnya. Kalo Rosengard menang, besok pagi kita berangkat. Mamamu udah duluan terbang ke sana.” Kata Bram tanpa basa basi kepada anaknya.
“Akademinya Arsenal ya?” tebak Lingga penuh semangat. Karena Arsenal adalah klub sepakbola asal Inggris yang menjadi favoritnya.
“Jangan mengkhayal terlalu tinggi!” dengus ayahnya yang membuat senyum Lingga perlahan memudar. “Tapi papa jamin kamu gak akan kecewa.” Lanjutnya sedikit menghibur.
Lingga tertegun. Hanya ada satu nama yang terlintas dibenaknya. Nalula. Jika Rosengard juara, Lingga berhak atas hadiah taruhannya dari Zagar plus mencicipi training sepakbola di luar negeri. Itu artinya, Lingga harus kembali meninggalkan Nalula untuk kedua kalinya.
“Tapi kalo kamu gagal. Kamu tetep bisa bermain sepakbola, namun hanya klub di Indonesia aja.” Lanjut Bram memperingtakan hasil buruk yang kemungkinan di terima Lingga dan Rosengard.
Ayahnya benar. Jika menang, Lingga bisa mendapatkan semuanya. Tapi jika hasilnya tak sesuai harapan, Lingga harus rela kehilangan segalanya. Masuk akademi sepakbola di luar negeri, dan Nalula tentunya.

@@@

Sesungguhnya Nalula sama sekali gak bisa milih satu dari mereka. Ia rela menunggu hasil akhir dari final hari ini.  Jika ia memilih Zagar, bisa saja ia memporak-porandakan sekuad SMA Rosengard. Tapi jika ia memilih Lingga, Nalula punya strategi khusus untuk melumpuhkan salah satu punggawa andalan SMA Jakabaring, yaitu Zagar.
Tapi segera, ditepiskannya semua pikiran-pikiran licik dibenaknya. Sumpah. Ini murni masalah hati. Nalula sama sekali tak kepikiran dengan Rosengard secara keseluruhan.
Semua semakin berkecamuk di pikirannya kala pertandingan menyentuh ending, drama adu penalty.
Dan kini, ketika Lingga siap mengeksekusi tendangan terakhir, Nalula lebih memilih meninggalkan lapangan sebelum seluruh isi stadion bergemuruh. Cepat-cepat ia melangkah—hampir setengah berlari—menuju locker room. Nalula meraih ranselnya dan mengeluarkan kabel handsfree dan menggantungkannya di telinga. Diputarnya lagu dengan volume keras dari hapenya. Samar-samar Nalula mendengar gemuruh dari arah lapangan ketika ia menutup pintu dibelakangnya dari arah luar.
“Selesai.” Desahnya pelan, lalu segera berjalan berlawanan dengan arah menuju lapangan.

@@@

Nalula jadi orang pertama yang pulang ke apartemen. Dibantingnya tubuhnya ke atas kasur dan menenggelamkan wajahnya ke bantal. Esok pagi, sebuah babak baru dalam hidupnya telah menunggu. Nalula justru berharap hari esok tidak akan pernah terjadi.
Nalula gak siap bertemu Lingga. Nalula gak siap bertemu Zagar. Nalula gak siap bertemu Kharis. Nalula gak siap bertemu nyokapnya. Intinya, Nalula gak siap buat bertemu siapa-siapa dalam hidupnya. Sampai akhirnya ia tersadar setelah seseorang mengguncang-gungcangkan tubuhnya.
“Nal, bangun Nal.” Tegur Riva yang duduk di tepi tempat tidur Nalula.
Nalula mengerjap-ngerjap. Setelah pulang dari stadion, tak ada lagi yang bisa ia ingat. Nalula langsung tertidur sampai pagi.
“Sory ya.” Ucap Riva penuh rasa bersalah. “Sebenernya gue gak tega bangunin. Tapi Dari tadi ada yang nungguin lo diluar, jadi gue terpaksa ngelakuin ini.”
Deg. Seseorang telah menunggu Nalula diluar. Ia pun mulai menerka-nerka. Lingga? Rasanya tak mungkin, karena Riva tak menyebutkan nama seolah-olah ia tak mengenal orang itu. Berarti, Zagar? Dalam sekejap, terfikir untuk Nalula melompat turun dari tempat tidur. Tapi baru ia sadari, kaos yang dipakainya basah kuyup karena keringat. Dan badannya terasa berat untuk digerakkan.
Reva muncul dari balik pintu. “Nih, Nal minum dulu.” Reva menyodorkan segelas teh hangat.
Semula Nalula bingung harus seperti apa menyambut kedatangan Reva. Cukup aneh karena kedua anak kembar dihadapannya ini terlihat khawatir karenanya. Tiba-tiba Riva menempelkan punggung tangannya ke kening Nalula.
Seketika, Riva menoleh ke Reva yang masih memegang gelas. “Feeling tuh anak beneran gak meleset.” Ujarnya cukup kalut. Nalula semakin bingung dibuatnya.
Kepanikan Riva sontak langsung menular ke Reva. “Aduuuhh, Nal.” Keluhnya. “Lo minum ya. Gue gak tau deh gimana lagi ngadepin Diaz kalo tuh anak lagi kalut.”
Nalula siap membuka mulut, tapi langsung ditahannya ketika pintu menjeblak terbuka. Diaz muncul tergesa-gesa. “Diaz lo gak sopan masuk kamar cewek!” bahkan omelan Reva pun tak dihiraukannya. Kini ia telah duduk ditepi tempat tidur Nalula setelah menarik paksa Riva untuk berdiri.
Diaz terlihat tak karuan meski tak ditunjukannya. Wajahnya agak pucat. “Lo sakit?” yang pertama bertanya justru Nalula ketika Diaz menggenggam kedua tanga Nalula.
Diaz tak menjawab, ia menoleh ke Riva dan Reva yang berdiri disampingnya. “Bisa tinggalin kita berdua?” Reva siap memprotes, namun Diaz lebih sigap karena ia tau apa yang ingin dikatakan Reva. “Berarti lo gila kalo mikir bahanya ninggalin gue berdua sama Nalula, apalagi dalam kamar.”
Diaz benar. Reva tak jadi protes. Justru ia menyodorkan gelas yang sejak tadi ditangannya. “Makasih.” Diaz tersenyum menggoda. “Oiya, satu lagi.” Ujar Diaz ketika si kembar telah sampai diambang pintu. “Tolong tutup pintunya ya.” Pinta Diaz dengan sangat lembut membuat kening Reva berkerut. Riva hanya tersenyum menanggapinya. Tapi tetap diturutinya permintaan Diaz meski dengan wajah gak ikhlas.
“Jadi lo yang dari tadi nungguin gue di depan?” tanya Nalula begitu Diaz kembali menatap kearahnya.
Diaz menghela napas. Disodorkannya teh manis hangat yang ada di tangannya. “Lo pasti kepikiran kejadian semalem?”
Nalula tak menjawab. Ia pun sengaja tak melihat ke mata Diaz ketika menyeruput minumannya.
“Semua udah tau tentang taruhan gila yang dilakukan Lingga dan Zagar.” Diaz berujar lembut namun sarat akan kekecewaan. “Sesungguhnya taruhan itu gak adil buat Lingga.”
Nalula mengkerutkan keningnya. Menyalahkan pernyataan Diaz. “Yang seharusnya ngerasa gak adil tuh gue.” Protesnya.
Diaz tersenyum. Ada hal yang belum diketahui Nalula. “Nggak, Nal.” Kata Diaz tegas sambil mengeleng. “Lingga pemenangnya. Tapi Lingga gak bisa mendapatkan seluruh hadiah yang menjadi hak nya.”
Nalula menyipitkan matanya. Semua yang dikatakan Diaz masih mengambang dibenaknya.
“Om Bram menghadiahi Lingga kesempatan berlatih di sebuah akedemi terkenal di Inggris.” Diaz memulai. “Dengan syarat, Lingga harus membawa Dipokar meraih juara.” Terdengar cukup berat Diaz bercerita. Karena ia pun harus ikut merasa kehilangan jika temannya itu benar-benar memilih pergi ke luar negeri.
Nalula menatap Lingga lekat-lekat. Ia mencurigai sesuatu terhadap Diaz yang tia-tiba terdiam. “Kapan Lingga berangkat?” tanya Nalula tegas.
Diaz terlonjak kaget. Tak disangka Nalula langsung menghadiahinya pertanyaan yang tak bisa diterka sebelumnya. “Satu jam lagi pesawatnya terbang.”
Nalula cukup terperangah. Secepat itu kah? Pikir Nalula. Tanpa pikir panjang, diletakkannya gelas itu di atas meja samping tempat tidur. Lalu Nalula bergegas menuju lemari dan mengambil sebuah kaos dan membawanya ke kamar mandi. Gak sampai semenit, Nalula sudah kembali keluar dengan memakai kaos yang baru saja diambilnya.
“Lo temenin gue nemuin Lingga.” Pinta Nalula meski terdengar setengah merintah. Ia menatap Diaz sekilas sebelum meraih ponselnya diatas bantal, lalu segera menuju pintu.
Diaz yang tak bisa menolak, dan segera mengikuti langkah Nalula.

@@@

Tak sampai setengah jam, Nalula sampai di bandara. Ia bergegas turun dati taksi yang ditumpanginya. Dibelakangnya Diaz mengikuti. Ia menatap berkeliling.
Disampingnya, Diaz mencoba menelepon seseorang. “Sial!” gerutunya. “Nomornya Lingga gak aktiv.” Ucapnya pada Nalula yang langsung beranjak dari tempat itu. Diaz masih terus mencoba menghubungi Lingga, sambil harus terus mengimbangi langkah Nalula yang setengah berlari.
Sampai akhirnya Nalula berhenti dengan tiba-tiba dan membuat Diaz sekuat tenaga menghentikan langkahnya agar tidak menabrak tubuh Nalula. Namun usahanya sia-sia. Meski tidak terlalu keras, namun tubuhnya tetap sedikit membentur tubuh Nalula yang berdiri didepannya.
“Sorry, Nal.” Ujar Diaz peruh rasa bersalah. Nalula yang diam membuat Diaz mencari tau apa yang sedang ditatap Nalula dengan lekat. Beberapa meter di depan mereka, Lingga berdiri juga menatap terpaku, terutama kepada sosok Nalula.
Perlahan Nalula melangkah mendekat. Lingga terlihat mempersipakan diri. Kini jarak mereka tidak sampai dari satu meter. PRAAKK… Sebuah hadiah tamparan mendarat empuk di pipi kiri Lingga.
“Kenapa lo gak nemuin gue?” pertanyaan Nalula memaksa Lingga menatapnya. “Masih kurang kalian mempermainkan gue dengan taruhan tolol itu.” Suara Nalula penuh dengan kekecewaan.
Sesaat Lingga memalingkan wajahnya ka arah lain. “Gue kalah, Nal.” Ujar Lingga pelan. Ada kesungguhan dalam matanya.
Nalula siap kembali membuka mulut, namun Lingga mematahkannya sebelum Nalula sempat berucap. “Gue kalah buat ngedapetin lo lagi.”
Nalula tak habis pikir dengan apa yang terucap dari bibir Lingga. “Ga.” Nalula memanggil ditengah keterpurukan hati Lingga. Namun yang bersangkutan tak memberi respon. Nalula yang terlihat gemas, langsung memeluk Lingga dengan cukup keras sehingga tubuh Lingga sedikit bergerak mundur. “Kasih gue alasan kenapa lo ngelakuin ini ke gue.”
Jantung Lingga berdegup dengan kencangnya. Ia mulai panic dan tak membalas pelukan Nalula karena beberapa pasang mata mulai memperhatikan mereka, namun Nalula tampak tak peduli dengan tatapan orang-orang disekitarnya. “Nal.” Bisiknya pelan. Ia menatap berkeliling mencari Diaz yang tiba-tiba aja menghilang. “Diaz gak ada.”
“Gue gak peduli.” Balas Nalula enteng, masih dalam pelukan Lingga.
Terdengar suara diudara menyebutkan pesawat yang akan ditumpangi Lingga akan segera berangkat.
Nalula dapat merasakan gerakan yang dilakukan Lingga. “Gue gak akan ngelepasin pelukan sebelum gue ngedapetin alasan yang gue cari dari lo.” Ancamnya. “Gak peduli kalo lo harus ketinggalan pesawat.” Lanjutnya tanpa rasa berdosa.
Lingga tersenyum lega. Barulah ia balas memeluk Nalula, bahkan lebih erat. “Sejujurnya gue gak rela lo jatuh dipelukan siapapun. Termasuk Zagar. Tapi gue kasih pertimbangan buat dia.” Ujar Lingga berusaha terdengar tanpa beban. “Gue bisa sedikit tenang kalo lo sama Zagar.”
“Gimana perasaan lo ke gue?” nampaknya Nalula belum ingin melepaskan Lingga begitu aja.
Lingga terperangah mendapati Nalula mempertanyakan hal itu kepadanya. Lalu ia tersenyum. Satu kebahagiaan terselip di dadanya. “Gue sayang lo. Dulu, sekarang, dan gue mau selamanya perasaan gue tetep sama meski mungkin suatu hari nanti lo gak bisa gue miliki.”
Rasanya cukup meyakinkan dan gak berlebihan juga apa yang dikatakan Lingga. Nalula melepaskan pelukannya.
Akhirnya, Lingga terlepas dari tekanan pertanyaan yang diluncurkan Nalula. “Sekarang lo udah puas sama jawaban gue?” Lingga balik bertanya meski sebenarnya ia kecewa seiring terlepasnya pelukan Nalula.
Nalula melipat tangannya di depan dada. “Kenapa lo segampang itu ngelepas gue ke Zagar?” Ternyata Nalula belum selesai hanya sampai disitu.
Lingga ikut melipat tangannya di depan dada. “Kata siapa?” Lingga cukup tegas bertanya menandakan ia belum sepenuhnya kalah. Nalula menatap Lingga penuh minat. “Sekarang mungkin dia bisa bernapas lega. Tapi setelah gue balik…” Lingga sedikit member jeda di ucapannya. Ia menunduk untuk mendekatkan wajahnya ke telinga Nalula. “Jangan harap kalian bisa pacaran dengan tenang.” Lanjutnya melalui bisikan. Kemudian kembali menegakkan badannya.
Sebenarnya Lingga mengancam, tapi Nalula tak merasakan itu sebagai ancaman. “Berani ngelakuin itu?” Nalula menantang.
“Berani!” Jelas saja Lingga menyambutnya dengan sukarela. “Walau harus ngebunuh Zagar sekalipun.”
Nalula mengangkat bahunya. Ia tak mau mengambil pusing dengan pernyataan terakhir Lingga yang terdengar sedikit ekstrim.
“Jadi…” Lingga memandang Nalula dengan tatapan menggoda. “Apa gue udah boleh pergi?” tanya Lingga kerena cukup lama Nalula diam.
“Nggak!” ucapnya tegas. Nalula menggeleng dengan jelas. “Sebelum lo terima ini.” Ancamnya sambil menyodorkan sebuah jam tangan bermodel sport yang didominasi dengan warna merah.
Lingga tertegun melihatnya.
“Itu hadiah terakhir dari bokap pas gue ulang tahun kemaren.”
Lingga mendongak. “Kenapa malah lo kasih ke gue?” Dipandanginya Nalula dengan tatapan bingung. “Itu pasti berharga banget buat lo.”
“Lo pikir? Gue sempet gitu beliin lo hadiah buat kenang-kenangan? Lo mau pergi aja gak ngasih tau gue.” Nalula sedikit sewot dan menyalahkan Lingga. “Endingnya, gue kesini sama Diaz Cuma bawa diri.”
Lingga tertegun mendengar nada bicara Nalula.
“Sekarang, lo mau terima atau mau gue bunuh sebelum lo sempet bunuh Zagar duluan?” tanya Nalula setengah mengancam. Meski maksudnya sama sekali bukan seperti itu.
Lingga tersenyum. Tersenyum lepas. Samar-samar ia terlihat semabil menggeleng. Rasanya, tak habis pikir dengan apa yang dilakukan Nalula terhadapnya. Antara beban dan bahagia, Lingga meraih jam itu dari tangan Nalula. Diperhatikannya tiap detail dari jam itu. Namun seketika ia tersadar Nalula belum menarik tangannya dan masih diposisi seperti tadi dengan bagian telapak tangan menghadap ke atas. “Sekarang apa lagi?” tanya Lingga. Ia sangat ingin memberikan apapun yang diminta Nalula.
“Seratus ribu.”
Lingga terperangah. “Hah?” Antara percaya dan tidak. “Buat apa?” Ia kembali bertanya dengan suara hampir terbata-bata.
“Gue udah gak punya duit lagi buat ongkos pulang ke apartemen.” Jawab Nalula dengan polosnya. “Barang-barang gue kan masih di sana.” Lanjutnya dengan ekspresi tanpa rasa berdosa.
Lingga masih terperangah. Membuat Nalula terbahak karenanya. Sesaat Lingga masih terdiam. Tidak lama, kemudian ia ikut tertawa menyadari kebodohannya yang dengan mudah kembali dikerjai Nalula.
“Ternyata, playboy kayak lo bisa juga dikadalin sama cewek.” Celetuk Nalula sambil berusaha meredakan tawanya.
Tepat. Lingga memang terkenal playboy, namun ia tak menapik hal ini. Lingga gak berkutik di depan Nalula. Naluri playboynya runtuh seketika. Tapi justru ia sama sekali tak menyesali. Kebahagiaan yang telah lama dinantinya : melihat Nalula tertawa dan tersenyum untuknya. Ini akan dijadikannya hadiah kemenangan terindah.
Sisa tawa Nalula telah tergantikan dengan senyuman. Tanpa ragu, Lingga meraih kedua tangan Nalula dan digenggamnya erat membuat cewek didepannya terdiam seketika. Perlahan ia mulai mendakatkan wajahnya ke wajah Nalula sambil memejamkan mata. Begitu pula yang dilakukan Nalula. Semakin lama semakin dekat. Lingga berniat mencium kening Nalula. Namun bukan itu yang berhasil diraihnya. Sebuah benda asing berhasil menghalanginya. Sontak Lingga membuka matanya.
        Hal pertama yang dilihatnya adalah wajah Diaz yang melotot kepadanya sambil membentangkan Koran tepat di depan wajah Lingga. “Kalo ampe lo berani nyium Nalula, sumpah lo bakal gue matiin!” Ancamnya serius.
        Lingga tertawa. Agak malu sih sebenernya ketauan Diaz. Makanya, Lingga Cuma sanggup ngacak-ngacak bagian belakang rambutnya seperti yang sering ia lakukan. Dan Nalula, tersenyum geli menanggapi sikap Lingga yang kelewat salting.
       
@@@

        Zagar terlihat bersandar di tiang depan pintu masuk apartemen sambil memutar-mutarkan ponselnya dengan satu tangan. Tampangnya terlihat cukup jenuh. Sampai akhirnya di kejauhan, ia melihat sosok yang sejak tadi ditunggunya, Nalula yang bersama Diaz. Sontak, Zagar langsung menegakkan posisi badannya. Zagar terlihat sama gugupnya ketika melihat Diaz membisikkan sesuatu pada Nalula sambil sesekali melirik terhadapnya.
“Gue bakal ngawasin lo dari dalam. Karena gue gak mau bener-bener kecolongan sama apa yang nyaris Lingga lakuin ke lo tadi.” Ancam Diaz. Kemudian ia sedikit mmepercepat langkahnya meninggalkan Nalula.
Ketika berhadapan dengan Zagar, Diaz sempat berhenti sesaat untuk menepuk pundak Zagar. Lalu kembali berjalan ke dalam.
Zagar tanpa sadar memandang mengikuti arah langkah kaki Diaz. Ia menghela napas. Kemudian berbalik dan sedikit terkejut mendapati Nalula yang kini berdiri dihadapannya.
Nalula menatap Zagar. Kegugupan jelas tersirat di wajah Zagar. Nalula mengusap-usap kedua telapak tanagnnya. “Rasanya gak adil ya kalo Cuma Lingga yang nerima hadiah dai gue.” Nalula berkata tanpa menatap Zagar. Pandangannya menjelajahi pemandangan sekitar.
“Hmm..!!” Zagar mengangkat salah satu alisnya. “Perasaan gue gak enak nih.” Tebak Zagar, ketika melihat gelagat mencurigakan dari sikap Nalula. Lalu perlahan melepas kacamatanya.
Nalula tersenyum menggoda. “Feeling yang bagus.” Pujinya. Dan… PRAAAKKK…!!! Nalula menampar pipi kiri Zagar sebelum cowok di depannya ini sempat merespon.
Zagar terlihat terkejut sambil memegangi pipi kirinya. Nalula menunggu sambil melipat tangan di depan dada. Ia sama sekali tak meminta maaf atau pun merasa bersalah. “Kayaknya tamparan gue gak sesakit apa yang gue rasain gara-gara taruhan konyol lo sama Lingga!” ucap Nalula tegas.
“Lo boleh tampar gue sepuas lo.” Ujar Zagar sungguh-sungguh. “Dan gue sadar kalo ide gila gue ini pada akhirnya bakal nyakitin lo. Karena itu, gue minta maaf, Nal.” Tanpa di duga, Zagar merendahkan badan sampai akhirnya ia berlutut di depan Nalula.
Nalula mendorong pelan meski sedikit ada pemaksaan hingga Zagar terduduk. “Lo apa-apaan sih!” Nalula langsung mengambil posisi duduk di samping Zagar.
Cukup lama keheningan menguasai mereka.
“Konyol.” Zagar menertawai kebodohannya. “Gue percaya sama Lingga seperti halnya Lingga percaya sama gue kalo gue bisa ngejagain lo.”
Nalula memperhatikan seseorang yang telah sedikit mengacaukan perasaanya. “Tapi posisi lo gak bener-bener aman sekarang.” Ia seolah memperingatkan Zagar atas ancaman yang diberikan Lingga.
“Bukan sekarang.” Zagar membalas tatapan Nalula. “Tapi nanti.”
“This is just a game.” Nalula tersenyum meremehkan. “Kalian gak bisa terpaku sama hasil akhir pertandingan kemaren.”
Zagar menghela napas. Sesaat, ia memalingkan wajahnya ke tempat lain sebelum akhirnya kembali memandang Nalula. “Gimana perasaan lo ke Kharis?” Zagar berusaha sedikit mengalihkan perhatian Nalula.
Nalula menggeleng dengan cukup mantap. “Gak adil tiba-tiba gue ngusik kehidupan Kharis sama kakaknya Danu. Dengan klaim, gue jatuh cinta sama orang yang selama ini menjadi kakak buat gue.”
Mata Zagar tak pernah lepas dari wajah Nalula yang entah kenapa, terlihat berbinar menutupi rasa sakit ketika harus mengikhlaskan Kharis hanya akan menjadi kakaknya.
“Itu gak nyaman.”
“Sangat.” Nalula tersenyum. Ia memandang hamparan langit luas yang seolah ikut tersenyum bersamanya. “Lingga.”
Zagar ikut mendongak bertepatan ketika sebuah pesawat melintas di atas mereka.
“Untuk kedua kalinya, gue ditinggal sama cinta pertama gue.” Pengakuan yang cukup menggelikan dari Nalula. tidak pernah sekalipun Nalula segamblang ini mengutarakan perasaannya.
“Apa itu adil?” Tanya Zagar yang tak ingin sedetikpun kehilangan momen untuk memandang binar senyum di wajah Nalula. Meski Nalula masih menatap langit tempat pesawat tadi menghilang.
“Harusnya nggak. Tapi itu adil buat satu dari sekian banyak mimpi yang ingin diwujudkannya.” Nalula menghela napas. Obrolan serius ini cukup menguras tenaga dan emosinya. “Dan gue, hanya mimpi terpendam dari masa lalunya.”
“Gue perhatiin dari tadi lo selalu ngebahas masalah keadilan.” Langit yang cerah. Membuat Zagar tak punya alasan untuk mengabaikannya terlalu lama. “So, keadilan apa yang udah di dapat Diaz dan keluarganya dari lo?”
“Pertanyaan bagus.” Nalula tersenyum sambil menunggu Zagar kembali mengalihkan pandangan padanya. Ketika Zagar telah menoleh, Nalula masih tersenyum sambil mengeluarkan ponselnya. Ia mencari nama seseorang dikontak. Kemudian menempelkan ponselnya ke telinga.
“Begitu sampai Jakarta, gue mau ikut pulang ke rumah lo.” Ujar Nalula begitu ada respon dari seberang sana. “Udah saatnya gue balik ke pelukan kalian.” Suara Nalula terdengar lirih.
Zagar cukup tercengang dan sedikit bertanya-tanya perihal seseorang yang baru saja di telpon Nalula. Perlahan Zagar membalikkan badan. Tepat dibalik pintu kaca dibelakangnya, Diaz berdiri mengawasinya dengan posisi ponsel ditempelkan di salah satu telinganya.
Seseorang yang baru saja dihubungi Nalula adalah Diaz. Diaz yang berdiri terperangah, sama sekali tak bisa berkata-kata. Ia hanya sanggup membuka mulutnya. Sebuah kebahagiaan yang amat sangat ia nantikan.
Zagar berdiri melihat Diaz yang dengan susah payah melangkahkan kakinya menuju tempat Nalula berada. Nalula yang menyadari perubahan ekspresi Zagar pun ikut berdiri dan cukup tecengang mendapati Diaz yang kini berdiri dihadapannya.
“Lo gak lagi bercanda kan, Nal?”
Nalula hanya menggeleng untuk merespon ucapan Diaz. Ia menggeleng dengan sungguh-sungguh. Tulus dari hatinya untuk bisa berkumpul dengan Diaz dan ibu kandungnya. Diaz yang tak bisa menahan emosi kebahagiaannya, hanya dapat memeluk Nalula dalam diam.
Nalula membalas pelukan Diaz meski hanya dengan satu tangan. Sementara tanagnnya yang lain, berkaitan erat dengan tangan Zagar. “Gue udah kehilangan papa, mama, Lingga.” Ucap Nalula dalam pelukan Diaz. “Dan gue gak rela kalau harus kehilangan nyokap kandung, dan lo.”
Baik Diaz atau pun Nalula, sama-sama berusaha menahan tangis mereka agar tidak jatuh. Perlahan Nalula menarik dirinya mundur seiring kedatangan Kharis, Vindhya, Ilan, Reva, Riva, Danu dan para punggawa Rosengard yang lain. Setelah melepas genggamannya terhadap Zagar, Nalula gantian memeluk Kharis. Hanya sesaat dan tanpa sepatah kata pun. Nalula merasakan tangan seseorang mengusap lembut lengannya. Itu bukan perbuatan Kharis, begitu menoleh ternyata yang melakukan itu adalah Vindhya yang kini tersenyum manis kepadanya.
“Maafin Nal ya kak.” Ucapnya lirih.
Vindhya menggeleng. “Aku juga minta maaf ya, karena…” Vindhya tak ingin melanjutkan. Ia menarik Nalula kepelukannya.
“Nal sebenernya lo tuh pacaran sama siapa sih?” Suara Tegar yang tiba-tiba muncul, mengacaukan suasana haru yang tengah terjadi.
Nalula langsung melepaskan diri dan menoleh ke arah Tegar yang berdiri dibelakangnya.
“Kalo ternyata lo terima cinta Lingga gara-gara Lingga menang taruhan, berarti lo bohong donk waktu bilang udah jadian sama Zagar.”
Nalula tercengang mendengar pertanyaan ajaib yang keluar dari mulut Tegar. Tapi kemudian ia hanya tertawa menanggapinya. Membuat alis Tegar terangkat.
“Iya deh ngaku.” Kata Nalula akhirnya. “Kemaren emang gue bohong, tapi itu bisa jadi beneran kok.” Dengan ekspresi tersirat, Nalula menyindir Zagar dengan lirikkan.
Keberangkatan Lingga yang tiba-tiba sudah diketahui seluruh punggawa SMA Rosengard. Termasuk juga berita pertaruhan antara Lingga  dan Zagar. Dan sekarang, hampir seluruh pasang mata menatap Zagar.
Zagar yang menyadari maksud dari tatapan orang-orang disekitarnya, meju selangkah mendekati Nalula. “Kayaknya semua udah tau ya.” Sesaat, Zagar terlihat menghela napas. “Jadi, gue langsung ke intinya aja.” Kata Zagar sambil melepas jam yang melilit tangannya. Sebuah jam sport berwarna merah yang hampir setema dengan jam yang diberikan Nalula kepada Lingga ketika di Bandara tadi. “Kalo lo terima cinta gue, lo ambil jam ini.” Ujarnya penuh percaya diri sambil menatap Nalula yang berdiri dihadapannya. “Tapi kalo nggak…” Zagar member jeda pada ucapannya. “Terserah lo aja deh mau diapain nih jam.” Kali ini ucapannya terdengar pasrah.
Nalula menoleh ke Diaz dan Kharis yang kini berdiri bersebelahan. Ia seolah meminta pendapat tentang ‘penembakan’ yang dilakukan Zagar di hadapan hampir seluruh punggawa SMA Rosengard.
Beberapa mulai berseru. “Terima… Terima… Terima…” diikuti pula dengan yang lain membuat suasanya sedikit ramai.
Nalula memegang satu sisi tali jam itu. Sementara Zagar belum melepaskan tangannya dari sisi lain jam itu. Ragu-ragu Nalula mulai menariknya. Namun Zagar seperti belum rela atau hanya ingin mengerjai Nalula dengan tidak buru-buru melepaskan jam itu.
        Nalula kembali menoleh kepada kedua kakaknya. Kali ini ia seperti meminta pertolongan. “Kak…”
        Diaz langsung menngerti dan menunjukkan tatapan mengancam supaya Zagar mau melepaskan jam itu. Genggaman Zagar terasa mulai melemah, Nalula langsung berinisiatif untuk merebut dan langsung dipakaikan di lengan kirinya. Sorak sorai kembali membahana setelah sebelumnya tegang sesaat.
        “Akhirnya, gue langsung dapet pengganti jam yang gue kasih ke Lingga.” Ujar Nalula pelan ditengah ramainya suara-suara. Lagi-lagi tersebut nama Lingga. Nalula tersadar dan langsung menoleh ke Zagar yang kini berada di tengah-tengah kerumunan orang yang ingin mengucapkan selamat padanya.
        Vindhya, Reva dan Riva pun tak mau kalah mengekspresikan kegembiraan mereka dengan mengerubungi Nalula yang tiba-tiba saja tak bisa berkata-kata.
        Kembali sebuah pesawat melintas. Dan sontak saja membuat Nalula kembali mendongak. ‘Gue bukan terpaksa menerima Zagar, tapi gue terpaksa kembali membiarkan Lingga membawa pergi cinta pertama gue. Tapi sekarang, udah ada Zagar yang akan siap memberikan cinta yang lain buat gue.’ Nalula berujar dalam hati sambil tersenyum geli.

@@@

LINGGA DI DALAM PESAWAT…
        Ia hanya sanggup memandangi satu-satunya kenangan yang diberikan Nalula. “Gue gak sabar buat cepet-cepet kembali ke Indonesia untuk gangguin kalian.” Kata Lingga sambil menertawai ide nakal dibenaknya. “Jangan harap ya, kalian bisa pacaran dengan tenang.” Ancamnya pada jam seolah-olah ia sedang berbicara pada Nalula. Lalu mencium jam itu. ‘Gue sayang lo, Nal.’ Ujarya dalam hati.

@@@