Jumat, 31 Mei 2013

BLUE FLAME BAND (part 1)



Author              : Annisa Pamungkas
Main Cast          :
·        Lee Joon/Changsun (Mblaq)
·        Siwan (Ze:a)
·        Nichkhun (2PM)
·        Doojoon (Beast/B2ST)
·        Luhan (Exo-M)
Original cast     : Hye Ra, Soo In, Minjung, Sung Hye, Han Yoo
Support cast     :
·        Yoona (SNSD)
·        Minho (SHINee)
·        Yunho (TVXQ/DBSK)
·        Sehun (Exo-K)
Genre               : romance
Length              : part

@@@

        Pagi itu Doojoon sudah ada di depan pintu kamar Siwan dan Nichkhun. “Hyung! Bangun!” teriaknya sambil menggedor pintu.
        “Doojoon hyung!”
        “Luhan? Kau kenapa?” Tanya Doojoon khawatir karena tiba-tiba Luhan keluar kamar sambil berlari dan berteriak histeris.
        “Hyung, kenapa kau meninggalkanku sendirian di kamar?” seru Luhan manja dan kini bahkan dia sudah menggamit lengan Doojoon.
        Doojoon hampir saja melempar Luhan dengan sandal karena teman sekamarnya itu membuatnya hampir jantungan dengan berteriak seperti itu. Dipikirnya terjadi sesuatu pada Luhan, ternyata maknae tersebut hanya takut ditinggal sendiri di kamar.
        “Tadi aku sudah membangunkanmu!” protes Doojoon.
        “Iya, tapi harusnya kau tunggu aku sebelum keluar,” balas Luhan tak ingin disalahkan.
        Sementar di dalam kamar, sang pemilik ruangan semakin menenggelamkan tubuh mereka ke bawah selimut.
        “Berisik sekali!” terdengar suara keluhan. Sepertinya suara itu milik Siwan.
        Salah satu sudut selimut terangkat dan memunculkan wajah tampan Nichkhun yang baru bangun tidur. Ia mengusap matanya. Nichkhun berusaha mengerakan badannya, namun sedikit sulit. Seperti ada yang menahannya. Saat membuka selimut lebih lebar, Nichkhun berteriak histeris karena tangan dan kaki Siwan melilit tubuhnya.
        “Huaaa!!!” jerit Nichkhun.
        Siwan yang terkejut ikut menjerit.
        Doojoon dan Luhan yang mendengar keributan tersebut langsung menerobos masuk.
        “Hyung kalian kenapa?” pekik Doojoon khawatir.
        Kini Siwan dan Nichkhun sudah saling menjauhkan tubuh. Siwan menutupi tubuhnya menggunakan selimut, sedangkan Nichkhun memeluk bantal. Mereka menutupi badan seolah-olah sedang tidak mengenakan pakaian.
        “Siwan telah menodaiku!” lapor Nichkhun seperti mengadu.
        “Tidak! Nichkhun yang membuatku tak sengaja memeluknya.” Protes Siwan yang tak terima dengan pengaduan Nichkhun.
        Doojoon menarik selimut yang menutupi tubuh Siwan dan bantal yang dipeluk Nichkhun. “Kalian menjijikkan jika memeluk selimut dan bantal seperti itu!”
        Siwan dan Nichkhun tak protes dengan apa yang dilakukan Doojoon pada mereka. Karena jelas-jelas mereka semua adalah laki-laki, lagi pula Siwan dan Nichkhun masih mengenakan piyama, lengkap.
        Doojoon mengacak rambutnya, frustasi. “Kenapa kalian semua harus menjerit pagi ini!” kesalnya karena Luhan tadi juga sempat berteriak karena ia tinggal keluar kamar.
        “Siwan hyung, Nichkhun hyung, Doojoon hyung!” lagi-lagi Luhan teriak. Kali ini ia datang dari luar kamar Siwan dan Nichkhun. Saat Doojoon masuk tadi, ternyata Luhan tak mengikutinya.
        “Kenapa lagi?” keluh Doojoon. Kekesalan yang tadi belum hilang, dan kini Luhan kembali berteriak.
        “Itu…” seru Luhan takut-takut sambil menunjuk ke arah luar kamar. “Joonie hyung,” ujarnya terbata.
        Nichkhun sudah berdiri. “Joonie hyung kenapa?” desaknya.
        “Joonie hyung nggak ada di kamarnya. Joonie hyung hilang… Hwaaa…” jerit Luhan lagi, kali ini seperti hampir menangis. Sebenarnya Luhan sama sekali tidak mengeluarkan air mata. “Aku takut Joonie hyung di culik lalu di bunuh. Dia masih punya banyak hutang padaku,” lanjutnya berlebihan.
        Nichkhun melirik Siwan seperti menuntut penjelasan. “Bukankah semalam Joon pulang dalam keadaan mabuk?”
        Siwan bangkit seperti teringat sesuatu. “Aku benar-benar sudah menguncikannya di kamar mandi kok,” kata Siwan memastikan. Lalu ia segera melesat pergi dan diikuti yang lain.
        “Joonie hyung tidak akan hilang. Kau tenang saja,” ujar Doojoon yang sudah merangkul Luhan agar pemuda itu berhenti berpura-pura menangis.
        Saat sampai di depan pintu kamar mandi, Siwan memutar anak kunci yang memang tergantung di luar. “Joon!” ujar Siwan memanggil hyungnya itu.
        Tiba-tiba tubuh Siwan terdorong karena Luhan menerobos masuk. “Joonie hyung!” jeritnya histeris untuk yang kesekian kali.
        Tidak hanya Luhan, tapi Siwan, Nichkhun dan Doojoon juga ikut histeris melihat pemandangan di hadapannya. Joon tertidur di dalam bathub lengkap menggunakan bantal dan selimut.
        “Kau memberikannya bantal dan selimut?” omel Nichkhun pada Siwan.
        “Enak saja! Mungkin Joon sudah mempersiapkan sebelumnya,” protes Siwan.
        “Hyung bangun,” Doojoon mengguncang-guncangkan tubuh Joon yang masih tertidur lelap.
        Luhanpun ikut membantu. “Joonie hyung, cepat bangun!” namun teriakan cempreng Luhan sama sekali tak berpengaruh. Mata Joon tetap tertutup rapat.
        Nichkhun yang sudah tak sabar menyeruak di tengah-tengah yang lain. Ia bahkan sudah menarik slang dan membawanya ke atas wajah Joon. Nichkhun melirik Siwan dan memberikan isyarat. Siwan hanya mengangguk tanda mengerti. Ternyata Nichkhun menyuruh Siwan memutar keran hingga air keluar dari ujung slang dan jatuh tepat membasahi wajah Joon.
        “Lee Changsun, bangun kau!” teriak Nichkhun dengan penuh semangat menyirami Joon.
        “Akh!” Berhasil. Joon akhirnya bangun dan gelagapan menghalau serangan air oleh Nichkhun. “Hentikan!” jerit Joon heboh. “Tolong! Aku tenggelam!” serunya lagi, berlebihan. Dia pikir dia tenggelam di samudera Hindia?
        Siwan sudah mematikan keran air, dan Nichkhun melempar slang sembarangan. “Bangun kau CHANGSUN!” perintah Nichkhun dengan memperjelas saat ia menyebut nama asli leader mereka.
        “Tak perlu memanggilku Changsun aku juga akan bangun!” protes Joon yang memang tak terlalu suka jika ada yang memanggilnya ‘Changsun’.
        Kini Joon menatap satu-persatu anggotanya. Semua lengkap berdiri di hadapannya dan menatapnya tajam. Sontak saja membuat Joon menyilangkan tangan ke depan dada.
        “Siapa yang berani membuka pakaianku?” omel Joon yang memang hanya menyisakan jinsnya di balik selimut.
        Siwan, Nichkhun, Doojoon dan Luhan saling tatap, malas. Joon akan selalu seperi ini. Dia lebih suka tidur hanya dengan celana di balik selimut. Tapi jika habis mabuk, dia akan menuduh anggota yang telah membuka pakaiannya. Mereka mendengus kesal lalu kompak berbalik dan meninggalkan Joon sendiri.
        “Kenapa orang seperti itu bisa dipilih sebagai leader?” cibir Nichkhun sambil berbisik pada anggota yang lain.
        “Joonie hyung kan yang paling tua,” Luhan yang menjawab keheranan Nichkhun.
        “Yang paling tua tapi kelakuannya paling abnormal,” timpal Siwan.
        “Tapi dia tetep leader kita,” seru Doojoon. Mungkin hanya dia yang tidak ingin menyudutkan Joon seperti yang lain.
        “Hei! Jangan pergi!” teriak Joon, namun tak ada yang mempedulikannya.

@@@

       
        Ini adalah hari special untuk band ‘Blue Flame’, di mana mereka genap berusia 5 tahun sejak debut. Hari ini juga bertepatan dengan peluncuran mini album ke-4 mereka yang bertajuk ‘Beautiful Midnight’. Sorenya mereka akan mengadakan konferensi pers sekaligus acara fans sign. Rencananya malam nanti akan di lanjutkan dengan party perayaan ulang tahun mereka di sebuah hotel. Acara puncak tersebut hanya dihadiri keluarga dan kerabat dekat serta tertutup bagi media dan para ‘Flamers’, julukan fans mereka.
        Dan saat ini tengah berlangsung acara fans sign. Sang leader berada di tengah-tengah. Sementara Siwan dan Luhan di tempatkan terpisah. Posisinya akan selalu seperti ini : Nichkhun, Siwan, Joon, Doojoon dan Luhan.
        Para fans mengantri di depan meja masing-masing member ‘Blue Flame’ yang mereka suka. Seperti biasa, barisan terpanjang adalah para fans dari Siwan dan Luhan. Keduanya juga terlihat seimbang. Dan bisa di pastikan bahwa yang mengantri di depan meja Joon jumlahnya paling sedik, bahkan hanya tersisa beberapa orang.
        Entah karena Siwan terlalu ramah atau gimana dan ia cukup lama meladeni fans. Hingga akhirnya sedikit terjadi kericuhan di barisan fans Siwan. Mereka saling dorong karena tidak sabar untuk bertatap muka langsung dengan Siwan dan menyebabkan salah satu fans terdorong keluar barisan lalu terjatuh di belakang fans terakhir Joon. Kejadian tersebut langsung menarik perhatian, tak terkecuali semua member ‘Blue Flame’ yang langsung berdiri.
        Joon sudah ingin membantu gadis itu meski bukan fansnya, namun Doojoon bertindak lebih cepat.
        “Kau baik-baik saja?” Tanya Doojoon yang sudah membantu gadis itu berdiri.
        Gadis bernama Hye Ra itu berdiri dan mengangguk. Tanpa sadar ia meletakkan album terbaru milik ‘Blue Flame’ di atas meja Joon. “Cepat sana kembali,” bisik Hye Ra tanpa ingin memunculkan kecurigaan karena ia dan Doojoon sebenarnya telah saling kenal.
        Saat menoleh dan hendak mengambil kembali album ‘Blue Flame’ miliknya, mata Hye Ra sontak membulat. “Apa yang kau lakukan?” omelnya karena Joon sudah membubuhkan tanda tangannya di bagian depan album.
        “Siapa namamu?” Tanya Joon tak sadar jika Hye Ra sudah melancarkan protesnya.
        “Changsun!” bentak Hye Ra merasa diabaikan.
        Joon mendongak. “Aku hanya bertanya siapa namamu?” ulangnya.
        “Aku bukan ingin meminta tanda tanganmu,” seru Hye Ra yang kini sudah merebut album tersebut namun Joon juga tak kalah cepat menangkapnya.
        “Tapi kau berbaris dan meletakkan album ini di mejaku,” balas Joon tak mau kalah.
        Adegan tarik-menarik albumpun tak terelakkan dan kembali menyita perhatian hingga acara fans sign sedikit terganggu.
        “Bukankah kau juga melihat jika aku terdorong dari barisan fans Siwan?”
        “Jika kau bukan fansku, jangan meletakkan benda milikmu sembarangan di mejaku.” Selain saling tarik-menarik album music, Joon dan Hye Ra juga saling adu mulut.
Doojoon yang berada di samping Joon langsung mempercepat acara memberikan tanda tangan untuk para fansnya yang saat itu memang menyisakan beberapa orang saja. Setelah selesai, bassist ‘Blue Flame’ ini langsung melerai berdebatan Joon dengan Hye Ra.
        “Hyung, sudah,” serunya yang kini sudah ada di tengah-tengah dua orang yang membuat keributan.
        “Doojoon! Tapi aku belum selesai,” protes Joon karena Doojoon membantu gadis itu merebut album dari tangannya.
        “Kita sudah selesai,” paksa Doojoon yang kini sudah menyeret Joon ke ruang ganti dan membiarkan Hye Ra juga pergi dari sana.

@@@

        Sore telah berganti malam. Di sebuah taman kecil gedung tempat ‘Blue Flame’ mengadakan launching album sampai jumpa fans, Hye Ra duduk sendiri di atas rumput. Matanya tak lepas dari album music di tangannya yang kini sudah terisi coretan tanda tangan Joon.
        “Harusnya Siwan yang menandatangani ini,” sesalnya sambil menatap nanar album milik ‘Blue Flame’ tersebut.
        “Hye Ra!” seru seseorang menyebut namanya.
        Gadis itupun menoleh dan mendapati Doojoon yang setengah berlari ke arahnya. Penampilannya sedikit lebih berantakan. Doojoon sudah menanggalkan jas hitam yang tadi ia kenakan. Kemeja putihnya bahkan sudah keluar dari celana. Saat Doojoon ikut duduk di sampingnya, Hye Ra menghempaskan album itu ke atas rumput.
        “Kenapa di buang?” protes Doojoon langsung memungut karya bandnya yang di perlakukan seperti sampah oleh Hye Ra.
        “Nanti aku akan membeli lagi yang baru,” jawab Hye Ra enteng. Ia masih kesal jika teringat Joon yang telah mencoret album itu, bukan Siwan seperti apa yang ia harapkan.
        Hening beberapa saat.
        “Kau kenapa masih di sini? Bukankah kalian akan ada pesta ulang tahun ke-lima ‘Blue Flame’?” ujar Hye Ra mengingatkan.
        Doojoon menghembuskan napas berat. “Kau tau kan rencanaku malam ini?”
        Hye Ra menekuk lutut lalu memeluk dan meletakkan dagunya di sana. Ia memang tau jika Doojoon berniat mengenalkan Sung Hye pada member yang lain. Dan ia juga tau jika Sung Hye kini sudah bersama pria lain. Karena itu Hye Ra hanya diam dan tak ingin membahasnya.
        “Anggap saja kau tidak pernah memiliki niat seperti itu,” cetus Hye Ra tiba-tiba namun Doojoon sama sekali tak menyetujuinya.
        “Suasana hatiku sama sekali tidak bisa di ubah. Aku tak ingin merusak pesta.”
        “Lalu?”
        Doojoon menatap Hye Ra datar. Namun semakin lama aura tatapannya berubah. Dari datar kini justru lebih ceria membuat Hye Ra menatap takut-takut padanya.
        “Kau harus jadi kekasihku,” putus Doojoon secara sepihak dan seenaknya menarik tangan Hye Ra untuk ikut bersamanya.
        “Nggak mau!” protes Hye Ra dan berusaha melepaskan diri. “Bahkan jika berpura-purapun aku tetap tidak mau!”
        Doojoon menghentikan langkahnya tiba-tiba. “Ku mohon tolong aku. Apa kau tidak kasihan padaku?” ujar Doojoon  sambil berekspresi memelas agar Hye Ra mau menolongnya.
        “Nggak!” Hye Ra tetap pada pendiriannya. “Di sana aku pasti akan bertemu lagi dengan si Changsun itu.” Ia sampai menggeleng kuat-kuat dan tak ingin membayangkan kembali bertemu dengan Joon.
        “Kalau begitu tak usah kau pedulikan. Lagi pula kau sangat ingin bertemu dengan Siwan, kan? Aku akan mengaturnya agar kau bisa bertemu Siwan. Dan ku jamin tidak akan ada yang mengganggu kalian.”
Doojoon masih berusaha merayu Hye Ra dan tampaknya itu cukup berhasil. Hye Ra terlihat diam dan mempertimbangkan hadiah yang akan Doojoon berikan padanya.
        “Itu artinya kau setuju,” putus Doojoon lagi karena Hye Ra tak kunjung memberikan jawaban.
        “Aku belum bilang setuju!”

@@@

        “Pakai ini!” Doojoon menyodorkan paksa sebuah wedges dari dalam mobilnya.
        Hye Ra terpaksa mengganti sepatu ketsnya dengan wedges tinggi. Doojoon juga menyuruh Hye Ra mengganti sweaternya dengan blazer berwarna putih yang menutupi tanktop hitam yang sudah dikenakan gadis itu.
        “Aww! Sakit!” protes Hye Ra saat Doojoon menarik paksa ikat rambutnya.
        “Maaf,” sesal Doojoon yang tak sengaja melakukan itu. Lalu ia sedikit membenarkan rambut panjang Hye Ra yang kini terurai.
        Gadis itu menunduk untuk memastikan penampilannya. “Apa kau tidak menyesal melakukan ini? Aku hanya takut membuatmu malu.”
        Doojoon melipat tangannya di depan dada sambil memperhatikan penampilan Hye Ra mulai ujung rambut hingga kaki. “Ini lebih meyakinkan jika kau memang tipeku.”
        Hye Ra masih tidak yakin untuk membantu Doojoon meski ia memang sangat berharap bisa bertemu Siwan.
        “Kau jangan khawatir. Di dalam acaranya santai. Kami hanya makan-makan dan bukan acara mewah yang tamunya mengenakan pakaian formal,” ujar Doojoon untuk menenangkan hati Hye Ra sambil menggulung lengan kemejanya. “Kau lihat saja penampilanku.”
        Hye Ra akhirnya tertawa karena kemeja Doojoon bisa dikatakan sudah tidak berada pada posisi yang benar.

@@@

        “Itu pacarku, itu pacarku!” heboh Luhan saat tivi plasma menayangkan acara berita. “Hyung, itu pacarku,” serunya sambil mengguncang tubuh Nichkhun lalu menunjuk seorang gadis pada layar tivi yang sedang menyampaikan berita.
        Nichkhun menjauhkan tangan Luhan dari pundaknya. “Iya aku tau,” serunya malas jika maknae mereka itu mulai heboh menunjukkan pacarnya.
        Luhan seperti tak merasa bersalah. Ia tak mempedulikan kekesalah Luhan padanya dan kembali menatap layar tivi plasma. Saat Nichkhun pergi, Joon yang menggantikannya berdiri di samping Luhan.
        “Ada berita apa malam ini?” Joon mencoba menegur Luhan.
        “Nggak tau, hyung,” jawab Luhan tanpa menoleh. Ia tetap melihat tivi dengan tatapan berbinar.
        Joon terbelalak mendapati reaksi sang maknae padanya. “Sudahlah,” keluhnya berusaha menyabarkan diri lalu pergi dari sana.
        Luhan berbalik, “Joon.”
        “Apa?” Joon yang menoleh.
        “Eh, maaf hyung. Maksudku Doojoon hyung,” ralat Luhan yang langsung mendahului Joon pergi dari sana untuk mencari Doojoon. Joon hanya menatap kepergian Luhan tanpa ekspresi.

@@@

        Luhan berjalan hingga ke luar gedung. Di sana ia melihat Doojoon berjalan masuk dan bersama seorang gadis. Cepat-cepat Luhan segera mendakati mereka. Doojoon juga terlihat cerah saat mendapati Luhan di sana.
        Alih-alih menyapa Doojoon, Luhan justru menarik tangan Hye Ra untuk sedikit menjauhi Doojoon membuat pemuda itu menatap mereka heran.
        “Apa kau ingin membuat keributan lagi? Setelah tadi dengan Joonie hyung, sekarang Doojoon hyung? Sudah bagus aku tadi diam saja,” semprot Luhan dengan tuduhan-tuduhannya.
        Hye Ra menghempaskan tangannya lalu menatap Luhan tajam. “Siapa yang ingin membuat keributan? Aku hanya terdorong dari barisan fans Siwan. Dan leadermu yang aneh itu malah membuat ku kesal.”
        “Noona…”
        “Jangan panggil aku noona!” protes Hye Ra. “Aku bahkan lebih muda darimu!”
        “Hye Ra!” pekik Doojoon yang kini sudah memegangi kedua tangan gadis itu yang seperti ingin menyerang Luhan. “Sudah, sudah. Luhan!” bentaknya juga pada si maknae yang tidak mau kalah.
        “Hyung, kau tau kan tadi dia yang membuat keributan dengan Joonie hyung?” Tanya Luhan seakan meminta pembelaan.
        “Iya aku tau, lalu kenapa?”
        “Dia itu teman sekolahku yang pernah aku ceritakan dulu. Gadis aneh yang selalu cari masalah denganku,” tuduh Luhan lagi.
        “Cukup!” pekik Doojoon lagi karena Hye Ra yang tak terima dengan tuduhan Luhan padanya mulai kembali ingin menyerang pemuda itu.
        “Hyung, kenapa kau membelanya?” protes Luhan karena Doojoon menyembunyikan tubuh Hye Ra di belakangnya.
        “Luhan dengar dulu. Hye Ra datang bersamaku,” jelas Doojoon membuat Luhan membulatkan mata padanya.
        “Tapi, hyung…” Luhan tak melanjutkan ucapannya karena ada seseorang yang memanggil Doojoon.
        “Doojoon!”
        Mereka menoleh bersamaan, ternyata Nichkhun.
        “Siapa?” Tanya Doojoon penasaran pada gadis yang berdiri di belakang Doojoon.
        “Oh,” Doojoon seperti teringat sesuatu. Ia lantas membawa Hye Ra keluar dari sana dan menunjukkannya pada Nichkhun. “Kenalkan, hyung. Ini Hye Ra, kekasihku.”
        Nichkhun terkejut namun masih tetap bisa tersenyum. Bertolak belakang dengan Luhan yang langsung memprotes keras pada Doojoon.
        “Hyung, kok bisa?”
        “Sudahlah, nanti aja bahasnya. Aku ingin mengenalkan Hye Ra pada Joon hyung dan Siwan,” seru Doojoon cepat-cepat mengalihkan perhatian Luhan. Lalu ia melirik Nichkhun. “Kau ingin menjemput Minjung kan di depan?” tebaknya dan hanya di jawab anggukan oleh Nichkhun. “Cepat sana, jangan membuat Minjung menunggu lama,” lanjutnya lalu membawa Hye Ra pergi ke arah yang berlawanan dengan arah yang dituju Nichkhun.
        “Hyung!” Luhan ingin mengejar Doojoon, namun ia langsung membatalkan niat. Saat menoleh ke arah Nichkhun yang sudah berjalan jauh, ia juga tak ingin mengejarnya. Sampai akhirnya Luhan memutuskan pergi ke arah yang sama dengan Doojoon dan Hye Ra. “Hyung, tunggu!” teriaknya yang memang takut jika di tinggal sendiri.

@@@


Kamis, 30 Mei 2013

PARA KORBAN FF


Namanya juga FF. Ada yang perannya jadi baik, jahat, teraniaya, konyol bahkan terkadang jadi korban yang meninggal dalam FF tersebut. Termasuk FF milik author juga. Sebenernya gak tega juga bikinnya, tapi terpaksa dan mau gak mau memang terjadi. Ini ada beberapa tokoh yang meninggal dalam FF milik author. Author juga sertakan judul FF-nya.

Kim Heechul (Super Junior)
      Heechul menjadi korban pertama author. Ini terjadi dalam sequel ‘Hate U Love U’ part 2. Ceritanya Heechul menjadi korban kecelakaan mobil yang juga melibatkan Eunhyuk. Namun hanya Heechul yang nyawanya tak tertolong.
        Untuk mengobati rasa bersalah, author sampe bikin sequel dari ‘Hate U Love U’. Tapi ini kisah Heechul dan ceweknya saat mereka masih SMA. Jadi sebelum Heechul dan Kibum saling kenal.

Kim Jaeseop (AJ U-Kiss)
      Jaeseop menjadi korban pembunuhan yang dilakukan Zhoumi pada FF ‘Black Orchid’ part 6. Pembunuhan tersebut terjadi di dalam sebuah gang sempit. Tepat di depan Yong Hwa yang saat itu bersembunyi di dalam kardus.

Im Siwan (Ze:a)
      ‘One Place In You’re Heart’ adalah FF pertama author yang pake Siwan sebagai main cast. Tapi kejadiannya ada di part 2. Setelah ingatannya kembali, Siwan seakan tak terima jika gadis yang ia cintai menikah dengan seorang pemuda yang juga sahabat lamanya. Di ceritakan Siwan tewas tertabrak mobil saat menyeberang jalan. Huhu… mianhae Siwan. Pertama kalinya jadiin kamu tokoh, malah di bikin meninggal.

Jung Byunghee (G.O Mblaq)
      Bang G.O jadi korban author berikutnya di FF berjudul ‘Love Is In Danger’ di part 1. Gara-garanya, G.O yang kepala gangster itu terlibat tawuran dengan musuh bebuyutannya. Padahal adiknya udah minta dia untuk keluar dari gangster tersebut dan G.O juga meminta adiknya untuk tidak dekat dengan Jonghyun yang juga anggota gangster tersebut.

Lee Chang Min (2AM)
        Lagi-lagi FF ‘Love Is In Danger’ menuai korban. Di part 2 ini author terpaksa nge-bully mas Changmin. Kasusnya hampir sama dengan bang G.O di part sebelumnya.


KRIS WITHOUT WINGS (part 18)


        Luhan dan Baekhyun duduk di lantai toilet. Luhan menghela napas berat sebelum menjawab pertanyaan Baekhyun, “sejak kecil.”
        Baekhyun diam. Ia masih berusaha untuk menerima kenyataan ini.
        “Entah atas alasan apa, keluarga memang merahasiakan ini. Terutama dari Sehun.” Luhan diam sesaat. “Sampai akhirnya, Sehun tahu dengan sendirinya tentang penyakit ini,” sesal Luhan karena sempat membuat adik bungsunya itu sedih.
        Hening kembali menguasai mereka. Dari balik pintu yang tak tertutup rapat, Baekhyun dan Luhan tak menyadari sosok Chanyeol yang mengawasi mereka sejak tadi.
        “Baekhyun…” panggil Luhan.
        “Hmm…” hanya itu yang dikatakan Baekhyun sebagai respon untuk panggilan Luhan.
        Namun tak ada yang dikatakan Luhan setelah itu.
        Obat Kris masih berada di tangan Baekhyun. Sementara tangannya yang lainnya tanpa sadar mencengkram dada kirinya yang kembali terasa sakit. Baekhyun sudah hampir membuka tutup tabung itu namun Luhan sudah lebih dulu menahannya.
        “Kau pikir itu vitamin?” omel Luhan karena Baekhyun seenaknya meminum obat milik orang lain.
        Baekhyun menggeleng lemah. “Aku ingin kuat di hadapan Kris. Semangatnya telah memberikan kekuatan tersendiri untukku.” Baekhyun tersenyum, namun senyuman itu sangat sulit di artikan oleh Luhan. “Meski kami sama-sama pernah meninggalkan sahabat terbaik kami di masa lalu, sama-sama memiliki penyakit yang sama,” Baekhyun sudah membuka mulut untuk melanjutkan kata-katanya, namun Luhan sudah lebih dulu memotongnya.
        “Apa maksudmu penyakit yang sama?” desak Luhan bingung.
        Lagi-lagi Baekhyun kembali tersenyum, kali ini ia juga sudah memasukkan satu butir obat lagi ke dalam mulutnya lalu bergegas berdiri untuk mencari air agar bisa mendorong obat itu masuk ke dalam kerongkongannya. Meski dengan terpaksa ia meminum air keran.
        Chanyeol membeku di tempatnya. Tanpa sadar tangan Chanyeol melepaskan pegangan pintu hingga membuat pintu tersebut bergeser dan membongkar tempat persembunyiannya.
        “Kau?” seru Luhan. “Sejak kapan…”
        Chanyeol mendongak, tatapannya langsung tertancap lurus ke arah Baekhyun hingga membuat pemuda itu membeku. Perlahan Chanyeolpun melangkahkan kakinya ke dalam. Ia sama sekali tak memalingkan tatapannya dari sosok Baekhyun.
        “Byun Baekhyun?” seru Chanyeol perlahan.
        Perlahan mata sipit Baekhyun melebar. “Jadi, benar kau Park Chanyeol?”
        Chanyeol tidak menjawab dengan kata-kata. Ia hanya menarik tubuh Baekhyun yang lebih pendek darinya itu ke dalam pelukannya. “Kemana saja kau selama ini! Apa kau bekerja sama dengan Kris untuk menjauhiku? Kau pikir kalian sukses menjalankan rencana itu?”
        Baekhyun siap membuka mulut, namun tampaknya Chanyeol sama sekali tak memberikannya kesempatan bicara.
        “Apa?” Tanya Chanyeol sambil menjauhkan tubuh Baekhyun. “Mau membela diri? Atau mau membela Kris?”
        Tak lama pintu kembali di buka dengan kasar dan memunculkan Tao di sana. “Hyung! Kris!” hanya itu yang kata-kata yang keluar dari mulut Tao namun itu telah mewakili semuanya.

@@@

        Mereka, Luhan, Chanyeol, Baekhyun dan Tao masuk ke dalam ruangan tempat Kris berada. Di sana telah menunggu Jongdae dan Kyungsoo. Mereka hanya diam berdiri. Dan Sehun, ia sudah berdiri di hadapan Kris dan menatap nanar tubuh lemah Kris yang berbaring dengan mata terpejam. Di sisi ranjang Kris yang lain, Joongki juga berdiri dalam diam.
        Luhan melangkah perlahan. Matanyapun mulai berkaca-kaca. Sedetik kemudian, Luhan langsung melesat mendekati Kris. Ia bahkan sampai mendorong tubuh Joongkin untuk menyingkir. Dan di saat yang bersamaan, mesin pendeteksi detak jantung hanya memunculkan sebuah garis lurus dan menghasilkan sebuah bunyi nyaring.
        “Hyung!” teriak Sehun histeris dan mulai mengguncang-guncangkan tubuh Kris. Memaksa pemuda itu untuk bangun. “Hyung bangun! Kau tidak boleh tidur! Kau belum mengajakku pergi menggunakan mobilmu! Kita juga belum menyelesaikan game IRIS kita! Kau tidak boleh melanggar janjimu, hyung! Atau aku juga akan…” Sehun berhenti bicara. Ia memegangi dadanya yang sesak. Sementara Chanyeol dan Kyungsoo sudah sejak tadi berusaha menenangkannya.
        Sementara Luhan, tubuhnya membeku, tangannya menjuntai lemah ke bawah. Bahkan ia sudah tak sanggup menahan air matanya.
        “Luhan, yang sabar,” bisik Joongki menenangkan Luhan, di bantu Tao yang telah merangkul Luhan meski ia juga menangis.
        Luhan tetap diam. Tatapannya tertancap lurus ke wajah Kris yang pucat dan penuh dengan luka. Ia hanya ingin berusaha tegar menghadapi kenyataan ini. Tapi Luhan juga tak bisa berkata apa-apa lagi saat Sehun di paksa keluar oleh Kyungsoo dan Chanyeol.
        “Aku mau di samping Kris hyung!” jerit Sehun meronta-ronta sampai akhirnya Taopun ikut turun tangan membantu Chanyeol dan Kyungsoo.
        Posisi Tao di gantikan Jongdae yang kini sudah di samping Luhan. Isakan Luhan semakin terdengar kala jeritan Sehun di luar masih terdengar hingga dalam membuat Jongdae berinisiatif untuk memeluknya. Dan saat itu, tatapan Jongdae jatuh ke bawah kaki Luhan.

@@@

        Suho memaksa untuk di antarkan ke kamar Kris, namun ia menolak jika Jongin yang mendorong kursi rodanya. Akhirnya, Minseoklah yang bersedia mendorong kursi roda Suho menuju kamar Kris. Sementara Lay menemani Jongin berjalan di belakang Minseok dan Suho. Terlihat jelas raut wajah Jongin sangat terpukul karena di benci oleh kakaknya sendiri. Orang kedua yang sangat berharga dalam hidupnya setelah sang ibu.
        “Kris Hyung…!”
Langkah mereka berhenti ketika mendengar jeritan suara Sehun. Tak jauh dari sana, memang tampak tubuh Sehun yang sudah terkepung tiga orang sekaligus.
Sontak Jongin melirik Suho yang menatap pemandangan itu lurus-lurus. Hatinya semakin sakit ketika melihat air mata Suho mulai mengalir. Penyesalan dan rasa bersalah itu semakin menguasai dirinya.
Akhirnya Sehun berhenti berteriak tapi ia masih menangis sejdi-jadinya. Sehun juga sudah tak memberontak. Ia diam lalu dengan lemahnya meluruh di lantai sampai akhirnya Baekhyun muncul dari dalam kamar Kris.
        Tatapan Baekhyun kosong. Obat milik Kris juga masih berada di genggamannya. Kembali, Baekhyun memegangi dada kirinya. Entah udah untuk yang ke berapa kali hal ini terjadi. Baekhyun semakin kencang memegangi dada dan tabung obat itu bersamaan. Sampai akhirnya ia jatuh berlutut masih dengan tatapan kosong.
        “Baekhyun!” jerit Chanyeol yang kini sudah melesat ke samping Baekhyun. “Baekhyun kau kenapa?” Tanya Chanyeol sambil mengguncang-guncangkan tubuh Baekhyun namun pemuda itu sama sekali tak menjawab. “Baekhyun jawab!” paksa Chanyeol lalu akhirnya Baekhyun menoleh dan hanya menunjukkan senyumannya, kemudian Baekhyun menghempaskan tubuhnya ke arah Chanyeol hingga tak sadarkan diri di sana.

@@@

1 tahun kemudian…
        Suho berjalan di tengah sebuah pemakaman umum. Ia sedikit terkejut ketika mendapati seseorang yang sudah berdiri di hadapan makam yang memang ia tuju saat itu. Tanpa mengurangi niat, Suho semakin mempercepat langkahnya ketika menyadari siapa yang berdiri di sana.
        “Kau? Untuk apa lagi kau di sini?” Tanya Suho ketus.
        Pemuda itu berbalik dengan tatapan kecewa. “Hyung! Apa hyung pikir aku sudah benar-benar tidak memiliki hati?” balas Jongin. Ia tak melepaskan kacamata hitam yang menghiasi wajahnya. “Dia!” Jongin menunjuk sebuah nisan dengan nama ‘Kim Joonmyun’. “Dia kembaranku sendiri! Jika aku tahu Kris juga menderita penyakit yang sama dengan kembaranku, aku tidak akan pernah melakukan itu pada Kris. Aku tidak akan membiarkan ada Joonmyun ke dua di dunia ini.”
        Suho diam. Tatapannya tertancap lurus pada makam di hadapannya. Makam seseorang yang cukup berharga di hidupnya seperti Jongin. Suho memang memiliki adik kembar. Jongin dan Joonmyun. Kepergian Joonmyunlah yang dijadikan alasan ayahnya untuk menceraikan ibunya. Karena penyesalan itulah, membuat Suho tak bisa melakukan apapun untuk mempertahankan Jongin saat itu. Dan kini ia menyesal. Satu-satunya adik yang ia miliki saat ini justru ia benci dengan alasan yang tidak jelas. Karena Kris. Bukan salah Jongin karena memang tidak ada yang tahu jika Kris menderita penyakit tersebut.
        “Jongin, aku…” Suho menoleh, namun ternyata Jongin sudah berjalan jauh meninggalkannya. Suhopun segera menyusul adiknya. Ia memaksa tubuh Jongin untuk berbalik lalu memeluknya. “Maafkan aku. Aku memang tidak bisa menjadi kakak yang baik untukmu,” sesal Suho.
        Jongin melepas pelukan Suho untuk melihat mata kakaknya. “Hyung, aku benar-benar tidak tahu jika Kris…” ucapan Jongin terputus karena Suho telah menarik kembali dirinya ke dalam pelukan.
        “Aku tahu. Maafkan aku. Aku hanya terpukul. Karena, Kris adalah orang yang berhasil membuatku membuka diri untuk orang lain.”

@@@

        Luhan menaiki anak tangga menuju kamar Sehun. Ia ingin mengajak adiknya makan siang bersama. Ketika sampai, perhatian Luhan justru tertuju pada kamar Kris yang pintunya sedikit terbuka. Luhan mengintip dan menatap khawatir seseorang di dalamnya. Di dalam kamar Kris sudah ada Sehun yang sedang duduk manis di hadapan laptop Kris yang memutarkan slide foto-foto mereka bertiga.
        Luhan melangkah masuk secara diam-diam. Sehun masih asik menertawai foto-foto konyol mereka tanpa menyadari kehadiran Luhan di belakangnya.
        “Apa yang kau lakukan?” tegur Luhan pelan.
        Sehun yang terkejut, langsung menoleh ke belakang. “Kau mengagetkanku, hyung!” protes Sehun lalu kembali menatap laptop membuat Luhan ikut tersenyum ketika layar laptop menampilkan foto Kris yang tertidur dengan banyak karet mengikat rambutnya di beberapa bagian.
        Kris memang sulit dibangunkan jika sudah tertidur. Kejahilan Sehunpun menghasilkan kenangan seperti itu. Dan mereka mengancam akan marah pada Kris jika berani menghapus foto tersebut.
        “Aku sangat merindukan Kris hyung,” ujar Sehun lirih.
        “Aku juga,” kata Luhan menyetujui lalu ia melirik Sehun ngeri karena adiknya itu senyum-senyum sendiri padalah layar laptop sudah selesai menampilkan slide foto mereka. “Kau kenapa?” tegur Luhan takut-takut terjadi sesuatu pada adiknya.
        Sehun masih tersenyum lalu melirik Luhan. “Aku hanya teringat hal konyol yang dilakukan Joongki hyung. Dia seorang dokter, tapi sangat ceroboh.”

*Flash back*
Luhan melangkah perlahan. Matanyapun mulai berkaca-kaca. Sedetik kemudian, Luhan langsung melesat mendekati Kris. Ia bahkan sampai mendorong tubuh Joongki untuk menyingkir. Dan di saat yang bersamaan, mesin pendeteksi detak jantung hanya memunculkan sebuah garis lurus dan menghasilkan sebuah bunyi nyaring.
“Aku mau di samping Kris hyung!” jerit Sehun meronta-ronta sampai akhirnya Taopun ikut turun tangan membantu Chanyeol dan Kyungsoo.
        Posisi Tao di gantikan Jongdae yang kini sudah di samping Luhan. Isakan Luhan semakin terdengar kala jeritan Sehun di luar masih terdengar hingga dalam membuat Jongdae berinisiatif untuk memeluknya. Dan saat itu, tatapan Jongdae jatuh ke bawah kaki Luhan.
Ada sebuah kabel mencurigakan. Jongdae memungut benda itu lalu dengan polosnya bertanya pada Joongki, “ini kabel untuk apa?”
Selain Kris, di ruangan itu hanya menyisakan Luhan, Jongdae, Joongki dan Baekhyun. Saat Luhan, Jongdae dan Joongki sibuk dengan kabel tersebut, tangan Kris perlahan bergerak. Dan orang pertama yang menyadari kejadian itu hanyalah Baekhyun.
“Kris!” pekik Baekhyun yang langsung membuat tiga orang tadi menoleh.
“Hwaaa!!!” jerit Luhan yang sontak memeluk Jongdae. “Kenapa kau hidup lagi?”
Baekhyun mengibas-ngibaskan tangannya ke arah Luhan. Ia seperti ingin menyampaikan sesuatu. “Bukan, hyung!” lalu Baekhyun melirik Joongki yang kini menatap Kris tanpa kedip membuat Baekhyun mengacak rambutnya, frustasi. “Hyung, sepertinya kabel itu terlepas kerena tersangkut kakimu saat Luhan hyung tak sadar mendorongmu tadi.”
“Kenapa tidak bilang dari tadi jika kau melihat itu?”
“Karena alat itu langsung berbunyi, aku panic hyung,” seru Baekhyun membela diri.
Luhan berbalik perlahan. “Jadi, sebenarnya Kris…”
“Apa kau pikir aku sudah mati, hyung!” protes Kris dengan suara lemah.
Wajah Luhan berubah cerah. “Kris…” serunya seraya memeluk Kris.
“Hyung! Lepas! Sakit!” rintih Kris.
Joongki, Baekhyun dan Jongdae berusaha menyelamatkan Kris dari serangan Luhan.
“Kau!” pekik Luhan ke arah Baekhyun. “Cepat kasih tahu Sehun,” perintahnya. Sebagai gantinya karena ia tidak bisa memeluk Kris, Luhanpun memeluk Jongdae dan Joongki sambil melompat-lompat penuh semangat. Seperti telah memenangkan sebuah pertandingan besar.
*flashback end*

@@@

        “Chanyeol… Shoot!” teriak Jongkook sedikit memerintah karena posisi Chanyeol saat ini hanya sendiri dan sedikit bebas. Hanya tinggal selangkah lagi ketika anak asuhannya itu menembakkan bola ke arah ring. Dan… “Akh!” pekiknya kecewa karena Chanyeol gagal menambah poin untuk tim-nya yang kini sudah tertinggal angka dari klub ‘Red Stone’, tempat Jongin bergabung.
        “Ternyata aku lebih cepat lima menit dari biasanya.”
        Joongki sampai menghentikan aktifitasnya menenggak air minum ketika mendengar suara seseorang yang sudah sangat asing, namun juga telah lama tak ia dengar. Di saat yang bersamaan, Jongkook meminta time out dari wasit.
        “Kris!” jerit Chanyeol heboh dan kini sudah berlarian ke pinggir lapangan.
        Cepat-cepat Joongki menoleh. Benar saja. Matanya terbelalak saat mendapati seorang pemuda tinggi yang kini sudah terjerat dalam pelukan Chanyeol.
        Joongki melangkah mendekat, dan menatap Kris dari atas hingga bawah lalu ke atas lagi. Setelah itu Chanyeol melepaskan pelukannya terhadap Kris karena kini beberapa pemain dari tim ‘running boy’ sudah mengelilingi Kris, termasuk Jongkook sang pelatih.
        “Apa-apaan kau!” protes Joongki karena Kris kini sudah mengenakan seragam basket mereka, lengkap. Merasa tak di tanggapi, Joongki melirik Baekhyun yang datang bersama Kris. Bahkan di samping Baekhyun ada dua koper besar dan di punggungnya juga ada sebuah ransel yang cukup besar.
        “Ku rasa kesembuhan membuat Kris sedikit kehilangan akal sehat,” sahut Baekhyun asal membuat Joongki hanya mampu menghela napas berat.

@@@

        “Apa!”
        Brak!!! Luhan menggebrak meja hingga membuat Sehun terkejut.
        “Uhuk… uhuk…” Sehun sibuk menepuk-nempuk dadanya seranya mencari gelas yang masih terisi air. Bahkan ia tak peduli jika gelas yang disambarnya adalah milik Luhan.
        “Kau yakin?” Tanya Luhan untuk memastikan kebenaran apa yang ia dengar dari seseorang melalui telpon. Luhan yang kesal, meletakkan ponselnya ke sembarang tempat. “Benar-benar anak itu!”
        “Hyung, mau ke mana?” protes Sehun saat Luhan sudah bangkit dan melesat menuju kamarnya.
        Beberapa saat kemudian, Luhan kembali ke ruang makan. Ia melemparkan sebuah jaket dan mendarat tepat di atas kepala Sehun yang saat itu tengah kembali menikmati makanannya.
        “Hyung!” protes Sehun sambil menyingkirkan jaket yang menutupi wajahnya.
        Luhan tak terlalu ambil pusing dengan reaksi Sehun. Ia menenggak minumannya hingga habis lalu melirik Sehun. “Kris ada di lapangan basket. Kita harus segera ke sana.”
        “Hah?” Sehun menatap Luhan, terkejut. Sedetik kemudian ia baru menyadari bahwa hari ini jadwal Kris pulang ke Korea setelah menjalani perawatan di rumah sakit Jerman bersama Baekhyun. “Astaga, dasar Kris hyung!” keluhnya. Tak lama kemudian Sehun panic karena Luhan sudah tidak berada di sana. “Hyung!” pekik Sehun yang langsung melesat menyusul Luhan.

@@@

        Sehun dan Luhan sampai berlarian memasuki gedung lapangan basket untuk segera memastikan berita dari Minseok tadi. Begitu sampai, ternyata pertandingan baru saja selesai.
        Sehun terbelalak melihat pemandangan di hadapannya. “Itu hyungku?” gumamnya tak percaya pada sosok di tengah lapangan yang kini tubuhnya sedang di angkat tinggi-tinggi oleh beberapa orang. Tim ‘running boy’ layak melakukan selebrasi kemenangan mereka.
        Beberapa saat kemudian, kericuhan di lapangan sudah sedikit memudar. Karena ini adalah pertandingan final, pembagian hadiah dilakasanakan hari itu juga.
        Luhan mengabari Minseok, Lay dan Jongdae tentang posisinya saat itu. Tak lama, Baekhyun muncul, dan Sehun justru yang lebih dulu menghampirinya. Padahal Baekhyun sudah berniat menemui Luhan dan Sehun.
        “Hyung, kenapa tidak langsung pulang?” desak Sehun.
        “Apa kau pikir aku tidak berusaha memaksa Kris untuk pulang dulu?” balas Baekhyun seolah tak terima dengan perlakuan Sehun. Ia bahkan tetap berjalan ke arah Luhan yang sudah berada bersama Minseok, Jongdae dan Lay.

@@@


Rabu, 29 Mei 2013

LOVE IN DANGER (1/3)


LOVE IN DANGER (1/3)

Author              : Annisa Pamungkas
Main cast          :
·        Yong Hwa (CN Blue) as Choi Yong Hwa
·        Sulli (SNSD) as Park Sulli (Adik Byunghee)
·        Jonghyun (SHINee) as Kim Jonghyun
·        Dongjoon (Ze:a) as Choi Dongjoon
·        G.O (MBlaq) as Park Byunghee
Support cast     :
·        Sungyeol (Infinite) as Lee Sungyeol
·        Siwon (Super Junior) as Choi Siwon
·        Hyunseung (Beast/b2st) as Park Hyunseung
·        Taeckyeon (2PM) as Kepala Polisi
·        Changmin (2AM) as pimpinan ‘Red Flame’
Genre               : romance, tragedy, gangster
Length              : part (1/3)

***

        Malam itu, kembali dua buah gangster yang menjadi rival abadi terlibat perkelahian di sebuah jalan layang kosong yang belum selesai. Masing-masing kubu di pimpin oleh pemuda yang kini sedang adu jotos tanpa ada yang bisa di hentikan. Kubu ‘Black Jell’ di pimpin oleh Byunghee, sedangkan ‘Red Flame’ kini berada dalam komando Changmin.
        Meski tanpa senjata, pertarungan antara Changmin dan Byunghee terlihat sangat menarik karena keduanya adalah pemegang sabuk hitam taekwondo. Pertarungan berakhir begitu saja setelah banyak mobil polisi yang mulai bermunculan. Dan beberapa dari mereka yang tidak berhasil kabur, terpaksa di amankan ke kantor polisi. Termasuk di antaranya Byunghee dan Changmin.

***

        Sementara itu di sebuah resto mewah, tampak adanya sebuah pertemuan dua keluarga. Dua pasang suami istri dan seorang gadis yang tampak cantik dengan balutan dress sederhana berwarna soft blue. Mereka tengah menikmati makan malam masing-masing sampai akhirnya datang seorang pemuda dengan balutan jas hitam dan kemeja serba hitam yang terlihat sangat mewah berkharisma.
        “Selamat malam, maaf aku telat,” ujarnya yang langsung mengambil satu kursi di antara gadis tadi dan seorang wanita paruh baya.
        Wanita itu sedikit tersentak dengan kehadiran sang pemuda dan langsung mendekatkan wajahnya pada telinga pemuda tadi. “Kenapa kau yang datang, Dongjoon? Mana hyungmu?” tegurnya dengan nada suara pelan.
        Pemuda bernama Dongjoon tadi memberikan senyumannya untuk semua yang berada di sana, terutama pasangan tuan dan nyonya Park yang duduk berseberangan dengannya.
        “Maaf, hyungku tiba-tiba mendadak ada rapat. Jadi aku yang menggantikannya untuk datang ke sini,” seru Dongjoon seperti sudah mempersiapkan alasan tersebut sebelumnya.
        “Malam-malam begini?” Tanya tuan Park heran.
        “Kebetulan tamu kami dari yang Jepang itu besok sudah harus kembali ke negaranya,” ujar Dongjoon menjawab pertanyaan tuan Park.
        “Hyunseung maaf, sebenarnya aku ingin mengenalkan anak sulungku pada putrimu, tapi ternyata dia mendadak tidak bisa hadir,” sesal tuan Choi.
        Tuan Park yang kebetulan duduk di sampingnya menepuk pelan pundak tuan Choi. “Tak apa Siwon. Kami mengerti.”

***

        “Senang bertemu denganmu Sulli,” ujar Dongjoon sambil menjabat tangan gadis tadi.
        “Aku juga senang bertemu denganmu,” balas gadis itu yang ternyata bernama Sulli.
        Setelah itu, dua keluargapun berpamitan. Sulli mengikuti langkah kaki dua orang tuanya menuju mobil mereka. Namun Sulli masuk ke dalam mobil yang berbeda dengan orang tuanya karena tuan dan nyonya Park langsung menuju bandara karena ada pekerjaan di luar kota.
        “Astaga! Jonghyun!” pekik Sulli karena seseorang yang berada di balik jok pengemudi bukanlah sopir pribadinya, melainkan Jonghyun, temannya. “Kenapa kau di sini? Sungyeol bilang ‘Red Flame’ menyerang lagi. Mana oppaku?”
        “Aku akan mengantarmu ke sana,” jawab Jonghyun terdengar sedikit enggan sambil menjalankan mobilnya.

***

        Salah seorang anggota kepolisian melempar sebuah amplop coklat ke dalam laci mejanya. Lalu ia menyandarkan badannya ke kursi. Di hadapannya duduk seorang gadis cantik yang berpakaian kasual. Sulli. Gadis itu kini sudah berganti pakaian. Ia juga yang memberikan uang pada seorang polisi yang diketahui bernama Taeckyeon, sebagai jaminan pembebasan kakaknya, Byunghee.
        Tanpa berkata apa-apa, Sulli berjalan mendahului Byunghee ke luar kantor polisi. Di dalam mobil, Jonghyun sudah menunggu.
        “Hyung maaf aku meninggalkanmu tadi,” sesal Jonghyun saat Byunghee masuk ke dalam mobil yang ia kendarai.
        Byunghee melirik sekilas ke jok belakang tempat Sulli berada sebelum menjawab pertanyaan Jonghyun. “Sudahlah. Lagi pula aku baik-baik saja.”

***

        Byunghee menarik tangan adiknya yang hendak langsung masuk ke kamar saat mereka sampai di rumah. “Kau kenapa?” Tanya Byunghee penuh selidik karena sejak tadi menurutnya sikap Sulli cukup aneh.
        Sulli berbalik dan menatap tajam mata kakaknya. “Kapan kau mau berhenti dari sana? Sampai menikah dan punya anak? Apa oppa mau anak oppa tau kalau ayahnya adalah seorang kepala gangster? Aku tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi padamu.”
        Byunghee menarik Sulli ke dalam pelukannya. “Aku tau aku sudah salah melangkah. Aku akan berhenti jika kau berjanji satu hal.”
        Sulli melepaskan tubuhnya dari pelukan Byunghee. “Apa?”
        “Aku tau kau dan Jonghyun memiliki hubungan. Dan bukankah aku pernah bilang agar kau tidak menjalin hubungan dengan anggota gangster?”
        “Tapi Jonghyun anggotamu juga,” Sulli berusaha membela Sungyeol.
        Byunghee menggeleng. “Siapapun itu. Aku tidak ingin kau dalam bahaya.”
        Sulli diam memikirkan perkataan kakaknya. Ia mendongak ketika merasakan pundaknya di sentuh seseorang.
        “Apa permintaanku berat?”
        Samar-samar Sulli tampak menggeleng.
        “Kalau begitu, aku juga akan menuruti permintaanmu,” seru Byunghee sambil kembali memeluk adiknya.

***

        Sore itu Sulli menemui Jonghyun di taman.
        “Apa kau menerima perjodohan dari orang tuamu itu?” Tanya Jonghyun tanpa menoleh saat Sulli duduk di sampingnya.
        “Kami baru di kenalkan saja. Hanya itu.”
        Jonghyun tersenyum pahit lalu dengan tajam menatap Sulli. “Apa kau tidak bisa menolaknya?”
        Sulli sudah membuka mulut untuk melancarkan protes namun tak ada satu katapun yang keluar. Karena saat itu ia langsung teringat permintaan Byunghee. Akhirnya Sulli hanya bisa menghela napas saat Jonghyun sudah tak menatapnya lagi.
        “Sudah ku duga,” sinis Jonghyun yang segera bangkit dan meninggalkan Sulli seorang diri di bangku taman.
        “Aku melakukan ini untuk kebaikanmu dan Byunghee oppa,” lirih Sulli ketika sosok Jonghyun sudah semakin jauh.
        Sulli pun pergi dari taman itu. Ia hanya melangkahkan kakinya dan berjalan seperti tanpa arah dan tujuan. Sampai-sampai, Sulli tidak sadar jika di depannya sudah ada sebuah keributan. Gadis itu tersadar saat tangan seseorang menarik tubuhnya menjauhi kerumunan. Sulli terus berlari tanpa menolak tarikan tangan pemuda tersebut. Ternyata pemuda itu membawanya bersembunyi ke sebuah jalan sempit.
        “Kenapa tak lari? Kau tidak tau jika di sana sedang terjadi tawuran?” Tanya pemuda itu dan sedikit menyalahi Sulli.
        Sulli tak menjawab. Kejadian itu tak terlalu lama sejak Jonghyun meninggalkannya di taman. Bisa jadi tawuran tadi juga ikut menyeret Jonghyun ke sana.
        “Mau ke mana?” protes pemuda itu saat Sulli memilih keluar dari tempat persembunyian mereka. Beruntung pemuda itu lebih cepat untuk menahan tangan Sulli. Akhirnya gadis itu menurut untuk tetap di tempat persembunyian mereka. Tak lama, pemuda itu merasakan ponselnya bergetar. “Halo, kau di mana? Oke…” pemuda tersebut memasukkan kembali ponselnya lalu mengajak Sulli pergi.
        Mereka menelusuri gang sempit tersebut sampai akhirnya mereka menemukan jalan keluar. Pemuda itu membawa Sulli menyeberangi jalan. Sudah ada sebuah mobil yang menunggu mereka di sana.
        “Hyung, kenapa kau bisa terjebak di sana?” tegur seorang pemuda yang menyetir mobil.
        Sulli mengawasi mereka berdua dari jok belakang. Pemuda yang menyetir itu ternyata adalah Dongjoon.
        “Nanti akan ku ceritakan. Kita ke café saja sekarang,” ujar pemuda tadi sedikit memerintah.

***

        Dongjoon duduk di sebuah café, dan ia terkejut dengan gadis yang sebenarnya sejak di mobil bersama mereka. “Sulli? Kau Sulli, kan?” Tanya Dongjoon terdengar ragu.
        “Kau Dongjoon? Kenapa aku baru menyadarinya?” Sulli balik bertanya dan tak kalah terkejutnya.
        Dongjoon sedikit menertawai kebodohannya. “Kau sangat berbeda saat kita bertemu kemarin.”
        “Kalian sudah saling kenal?” pemuda itu angkat bicara setelah beberapa saat hanya mengawasi Dongjoon dan Sulli.
        “Astaga, hyung. Maaf, ini Sulli, putrinya tuan Park,” ujar Dongjoon kepada pemuda itu. Lalu ia menatap Sulli yang heran melihatnya. “Sulli, ini hyungku, Yong Hwa. Sebenarnya malam itu ayahku ingin mengenalkannya padamu, tapi Yong Hwa hyung sedang ada acara di luar,” jelasnya.
        Sulli dan pemuda yang bernama Yong Hwa itu saling tatap. Sedetik kemudian mereka kompak tertawa. Mereka telah bersama sejak beberapa waktu yang lalu, dan ternyata sebenarnya tuan Park dan tuan Choi berencana mengenalkan Sulli dengan Yong Hwa.
        “Aku Choi Yong Hwa,” ujar pemuda itu sambil mengulurkan tangannya.
        Awalnya Sulli sedikit terkejut dan jadi sedikit canggung menerima uluran tangan Yong Hwa. Namun Dongjoon yang jahil, menarik tangan Sulli dan mendekatkannya pada tangan Yong Hwa membuat mereka kembali tertawa.

***

        Dua hari setelah Yong Hwa dan Sulli bertemu untuk pertama kalinya. Sulli yang baru pulang kuliah, berjalan ke arah gerbang kampusnya. Di sana ia langsung memperlambat langkah karena ada seseorang yang berdiri di dekat sebuah mobil. Pemuda itu seperti sedang menunggunya.
        “Yong Hwa?” tegur Sulli ragu. Sejujurnya ia sedikit terpesona dengan penampilan Yong Hwa sore ini. Pemuda itu berbalut jas serba hitam. Benar-benar menampakkan sosok eksekutif muda yang menawan. Berbeda saat mereka bertemu kemarin, Yong Hwa berpakaian sangat kasual.
        “Dongjoon tidak bisa menjemputmu, jadi dia memintaku untuk menggantikannya,” ucapan Yong Hwa membuat Sulli mengerutkan dahinya, bingung.
        “Kami tidak memiliki janji apapun.”
        “Benarkah?” Tanya Yong Hwa polos. Ia menggaruk tengguknya dan sedikit bingung dengan apa yang terjadi. “Astaga, Dongjoon pasti mengerjaiku,” kesalnya karena menjadi korban kejahilan sang adik. “Kalau begitu, kau tetap pulang denganku, ya.”
        “Tapi…” belum sempat Sulli berkata-kata, Yong Hwa sudah lebih dulu membuka pintu mobilnya untuk gadis itu. “Baiklah,” seru Sulli akhirnya, lalu masuk ke dalam mobil.
        Selama perjalanan, Sulli dan Yong Hwa tampak berbincang-bincang. Mereka juga terlihat mulai dekat. Sampai akhirnya ketika mobil Yong Hwa sedikit terjebak macet, ada seseorang mengetuk jendela di samping Yong Hwa.
        “Dongjoon? Ke mana saja, kau?” omel Yong Hwa ketika mengetahui pemuda tersebut adalah adiknya.
        Dongjoon sedikit menundukkan kepala untuk melihat siapa seseorang yang bersama kakaknya itu. “Waah, hyung. Kau sudah berani mengajaknya pergi?” ledeknya yang di sambut pelototan oleh Yong Hwa.
        “Bukankah kau yang menyuruh?” protes Yong Hwa.
        “Kapan?” ujar Dongjoon pura-pura lupa. “Akh, hyung. Jangan menyalahkan orang lain.” Kali ini Dongjoon melirik Sulli. “Aku tidak tau apa-apa tentang ini,” seru Dongjoon seperti membela diri. Sebelum Yong Hwa memakinya, Dongjoon memilih kabur menggunakan motornya. Kebetulan lampu lalu lintas juga sudah menunjukkan warna hijau.
        “Dongjoon!” teriak Yong Hwa yang kekesalannya sudah tidak terbendung lagi. “Awas kau!”
        Sementara Sulli hanya tersenyum melihat kejahilan Dongjoon pada Yong Hwa. Tanpa menuntut penjelasan apapun, Sulli tau kalau itu memang rencana Dongjoon. Karena dari pemuda itu pula ia tau kalau Yong Hwa bukan tipe pria yang mudah dekat dengan seorang gadis. Apalagi mereka juga baru saling kenal. Tapi, kenapa Yong Hwa mau menuruti Dongjoon untuk menjemputnya?

***

        Sebelumnya Yong Hwa mengajak Sulli untuk makan malam. Setelah satu jam, mereka selesai dan segera meninggalkan restoran. Beberapa kali Yong Hwa kepergok melirik Sulli ketika berjalan. Nampaknya pesona Sulli sudah menyerang Yong Hwa. Padalah gadis itu tetap berpenampilan kasual meski kakinya dihiasi wedges tinggi. Bagaimana jika malam di pertemuan itu Yong Hwa benar-benar datang? Mungkin dia akan langsung mengajak Sulli menikah.
        Hanya tinggal beberapa langkah lagi mereka sampai di mobil Yong Hwa, namun pemuda itu tiba-tiba berhenti dan membuat Sulli ikut berhenti lalu mendongak.
        “Jonghyun!” gumam Sulli tanpa suara karena pemuda itu kini bersandar di bagian belakang mobil Yong Hwa.
        Perlahan Jonghyun melangkah mendekat. Ia menatap Sulli tajam tanpa mempedulikan Yong Hwa yang juga berada di sana.
Yong Hwa hanya berdiri mengawasi. Ia tidak berhak untuk ikut campur dalam hal yang tidak ia ketahui. Apalagi ia juga tidak kenal pada Jonghyun ataupun masalah yang dihadapi Sulli dengan pemuda itu.
        Bahkan ketika Jonghyun menarik tangan Sulli dan membawa gadis itu pergi, Yong Hwa hanya mengikuti mereka dari jauh. Tadinya ia memang berniat menghalangi Jonghyun, namun Sulli meyakinkannya untuk menyelesaikan dengan Jonghyun.
        “Kau sendiri ke mana?” balas Sulli saat ia bicara berdua dengan Jonghyun.
Dari kejauhan Yong Hwa memang terlihat mengawasi, namun bisa di pastikan pemuda itu tidak mendengar apa yang mereka bicarakan.
        “Kau pasti tau jika setelah itu ‘Red Flame’ kembali nyerang kalian. Dan kau tau? Aku nyaris menjadi korban jika pemuda itu tidak datang membawaku pergi.” Terdengar jelas dari ucapannya, Sulli tampak kecewa pada Jonghyun dan ia juga bersyukur karena saat itu bertemu dengan Yong Hwa.
        “Jadi kau membelanya?” Tanya Jonghyun sedikit tak terima.
        “Apa salah jika aku menginginkan perhatian lebih darimu?”
        “Untuk apa? Aku tau kau sudah tidak mencintaiku.”
        Sulli menarik tangan Jonghyun agar pemuda itu menatapnya. “Apa kau pikir selama setahun kita pacaran aku hanya bermain-main denganmu?”
        Jonghyun memalingkan wajahnya. Ia hanya sesaat menatap mata gadis itu. Ia sadar, selama ini Sulli memang serius menjalin hubungan dengannya.
        “Kalau begitu, tinggalkan dia.”
        Sulli melepas tangan Jonghyun, lalu tersenyum pahit. “Jika kau meninggalkan ‘Black Jell’, aku akan meninggalkannya.”
        Jonghyun terbelalak dengan permintaan Sulli. “Apa kau lupa jika ‘Red Flame’…” ucapan Jonghyun terputus karena Sulli lebih dulu menyela ucapannya.
        “Dendam tidak akan ada habisnya!” bentak Sulli di hadapan Jonghyun. “Kau tau jika oppa ku menyuruhku untuk tidak menjalin hubungan dengan gangster,” cecar Sulli karena Jonghyun terdiam. “Pikirkan dengan baik. Kau ingin tetap bersamaku atau bersama ‘Black Jell’?”
        Sulli berbalik lalu meninggalkan Jonghyun. Ia tidak menuntut jawaban dari Jonghyun saat itu juga. Gadis ini akan memberi waktu untuk Jonghyun menjawab. Lalu langkahnya berhenti karena ada seseorang yang menghalanginya. Saat mendongak, ternyata itu Yong Hwa.
        “Maaf, boleh aku tau siapa pemuda itu?” Tanya Yong Hwa hati-hati. Tapi ia ingin perlahan menyelami kehidupan gadis si hadapannnya ini. Jujur saja, Yong Hwa sudah mulai menaruh hati padanya.
        Sulli masih diam. Ia sadar, sepertinya Jonghyun memang sulit melepaskan ‘Black Jell’. Karena Sulli tau kehidupan sulit Jonghyun di masa lalu.
        “Apa dia kekasihmu?” Tanya Yong Hwa lagi karena Sulli belum menjawab. “Tak usah di jawab sekarang,” selak Yong Hwa sebelum Sulli sempat buka mulut.

***

        “Terima kasih untuk hari ini,” seru Sulli sambil melambaikan tangannya menyambut kepergian Yong Hwa yang baru saja mengantarnya sampai rumah.
Begitu mobil Yong Hwa sudah tidak tampak, Sulli tidak langsung masuk ke rumah. Karena setelah itu, muncul kembali sebuah mobil yang di kendarai Sungyeol. Sullipun segera masuk ke dalam mobil itu.
        “Bagaimana bisa terjadi?” desak Sulli tak sabar sesaat setelah ia duduk di dalam mobil. Sejak dalam perjalanan pulang bersama Yong Hwa, gadis itu saling mengirim pesan dengan Sungyeol. Sungyeol memberi tau bahwa Byunghee terlibat tawuran lagi, tentu saja masih dengan ‘Red Flame’.
        “Serangan terjadi tiba-tiba.”
        “Apa Jonghyun juga terlibat di sana?”
        “Justru yang pertama kali ditemui ‘Red Flame’ adalah Jonghyun.”
        Selama perjalanan, Sulli tampak tidak tenang. Ia meremas tangannya sendiri sebagai upaya untuk menenangkan diri. Sungyeol menghentikan mobilnya sedikit lebih jauh dari lokasi tawuran. Tapi ternyata tawuran tadi sudah selesai. Sungyeol mengejar Sulli yang sudah berlarian mencari Byunghee.
        “Jonghyun!” teriak Sulli sambil berlari ke arah Jonghyun yang berjalan sempoyongan sambil memegangi lengannya yang terluka. “Mana oppaku?” desak gadis itu.
        Jonghyun tak menjawab, ia hanya melirik ragu ke arah pinggir jalanan. Ia juga sudah tak sanggup berkata apa-apa. Di sana sudah tergeletak seorang pemuda.
        “Oppa!” jerit Sulli lalu berlari ke arah pemuda yang ia yakini sebagai Byunghee.
        Sementara itu, Jonghyun juga sudah tak sanggup berdiri lebih lama. Ia hampir menjatuhkan badannya ke aspal. Dan beruntung Sungyeol sudah berada di dekatnnya hingga bisa menahan tubuh Jonghyun sebelum pemuda itu sempat membentur bumi.
        Byunghee tersenyum di dalam pangkuan Sulli. Tubuhnya sudah di penuhi darah segar. Sementara adiknya sudah menangis histeris.
        “Maaf aku tak bisa menepati janji untuk berhenti. Tapi jika terjadi sesuatu yang buruk padaku, ku mohon kau tetap menuruti permintaanku,” ujar Byunghee lirih.
        “Oppa, aku akan membawamu ke rumah sakit,” kata Sulli cepat-cepat. Lalu ia berbalik. “Sungyeol! Siapkan mobil untuk oppaku!” teriak Sulli pada Sungyeol. Pemuda itu hanya mengangguk karena ia juga ingin membawa Jonghyun ke rumah sakit.
        Dengan susah payah, Byunghee menarik wajah Sulli untuk mendekat. “Aku sayang padamu,” ujarnya sebelum mengecup pipi dan kening Sulli. Menyisakan noda darah di wajah adiknya.
        “Oppa!” jerit Sulli histeris. Tangisannya yang keras semakin terasa mencekam karena disekitarnya sepi dan ada kebakaran beberapa benda.
        Polisi datang terlambat. Sudah banyak korban yang berjatuhan di sana. Sungyeol mendekati Sulli yang sudah memeluk tubuh Byunghee dan terisak di sana. Ia juga meluruh setelah melihat apa yang terjadi pada Byunghee.


@_To_Be_Continue_@