Sabtu, 29 Maret 2014

BLUE FLAME BAND 2 (part 14)


Author              : Annisa Pamungkas (@nniissaa11)
Main Cast          :
·        Lee Joon/Changsun (Mblaq)
·        Lee Minhyuk (BtoB)
·        Jung Yong Hwa (CN Blue)  
Original cast     : Hye Ra, Soo In, Minjung, Sung Hye, Han Yoo
Support cast     :
·        Im Siwan (Ze:a)
·        Nichkhun Horvejkul (2PM)
·        Yoon Doojoon (Beast/B2ST)
·        Luhan (Exo-M)
·        Choi Sulli (F(x))
·        Kim Himchan (B.A.P)
·        Lee Sungmin (Super Junior)
·        Cha Hackyeon ‘N’ (VIXX)
Genre               : romance
Length              : part

***

        Minhyuk menegakkan badannya ketika menyadari pintu di belakangnya terbuka lalu menutup kembali. Bisa dipastikan itu adalah Hye Ra karena Minhyuk menyadari Himchan beranjak dari kursinya. Begitu pula dengan Hackyeon.
        “Hai semua…,” seru Hye Ra ceria. “Maaf aku telat. Aku mencarikan ini dulu untuk kalian,” ujarnya sambil meletakkan makanan-makanan yang ia bawa ke atas meja.
        “Waah… merepotkan sekali.”
        Hye Ra hanya merespon ucapan Himchan dengan senyuman. “Aku juga merasa bersalah karena tidak datang tepat waktu.” Setelah itu Hye Ra melirik ke tempat Minyuk berada. Dengan penuh senyum, gadis itu mendekati Minhyuk masih tetap mempertahankan senyumnya.
        Di tempatnya berada, Minhyuk mengawasi kedatangan Hye Ra dengan wajah datar.
        Hye Ra menyambar sebuah buku di tangan Minhyuk, kemudian menggandeng lengan pemuda itu. “Kau tidak ingin makan?” Tanpa menunggu jawaban Minhyuk, Hye Ra sudah menariknya mendekat ke tempat yang lainnya berada.
        “Ayo cepat makan!” seru Hackyeon pada Minhyuk. Ia bahkan sudah menyodorkan sebuah sumpit pada Minhyuk.
        Dengan ragu, Minhyuk menerima sumpit pemberian Hackyeon. Ia masih sulit mengendalikan ekspresikan wajahnya. Belum lagi dengan sikap Hye Ra yang menurutnya cukup aneh hari ini. Minhyuk sempat mengawasi gadis itu. Hye Ra masih menatap Minhyuk sambil tersenyum. Seakan tidak ada hal yang terjadi sebelum ini.


***

        Satu-persatu anggota ‘Blue Flame’ memasuki sebuah mini bus yang akan membawa mereka ke suatu tempat. Joon menghempaskan tubuh di salah satu kursi yang kosong. Tepat ketika ia merasakan ponselnya bergetar. Hye Ra yang menelponnya. Namun Joon tampak masih enggan untuk menjawabnya.
        “Ini untukmu, hyung!”
        Joon tampak sedikit tersentak ketika mendapati Doojoon menyodorkan sebuah botol minuman padanya. “Oh. Terima kasih,” ujarnya setelah menerima minuman tersebut.
        “Sama-sama, hyung,” seru Doojoon kemudian melesat pergi.
        Joon sempat menoleh ke tempat Doojoon berjalan tadi. Ia lalu menatap minuman di tangannya. “Hye Ra mengesampingkan perasaannya pada Doojoon untuk Sung Hye. Apa aku juga bisa melakukan hal yang sama? Minhyuk tampak begitu mencintai Hye Ra.”
        Sebuah pesan masuk ke ponsel Joon membuat pikiran pemuda itu teralih sementara. Pesan dari kekasihnya, Hye Ra.
       
        Masih mengabaikan panggilanku?

        Joon tersenyum pahit membaca pesan tersebut. “Apa harus ada kejadian itu dulu baru kau mau melakukan ini? Menghubungiku hampir setiap saat,” gumam Joon dengan suara pelan. Semua ucapannya hanya sekedar pengalih perasaannya saat ini.
        Leader ‘Blue Flame’ itu menyandarkan tubuhnya lebih dalam pada sandaran kursi. Ia juga melempar pandangan ke luar jendela tanpa minat. Kesendiriannya itu membuat Joon kembali teringat beberapa kejadian pahit tentang Hye Ra bersama pemuda lain.

Flashback…
        Joon menajamkan mata memperhatikan pemuda tersebut karena itu bukan Minhyuk seperti apa yang ia khawatirkan. Tapi Yong Hwa. Namun tampaknya Joon lupa tentang pemuda itu.
Joon sedikit panic ketika melihat Yong Hwa membimbing Hye Ra untuk berdiri. Ia segera mencari tempat bersembunyi di sekitar sana. Pilihannya adalah sebuah pohon yang tidak tersinari lampu taman. Saat mereka berbalik, Joon baru menyadari bahwa pemuda itu adalah Yong Hwa. Seseorang yang pernah membuatnya sangat cemburu karena kedekatannya dengan Hye Ra.
Flashback end…

        “Hye Ra tidak mencintai pemuda itu. Yong Hwa bahkan sudah bertunangan sekarang,” lirih Joon dalam hati. “Lalu dengan Minhyuk…”

Flashback…
        Joon kini sudah berdiri dan menatap tajam ke duanya. Belum lagi Minhyuk justru sudah merengkuh tubuh Hye Ra ke dalam pelukannya. Minhyuk tetap berusahan menahan tubuh Hye Ra meski gadis itu memberontak. Joon menarik ke belakang hoddienya lalu menyeka tepi bibirnya yang berdarah dengan ujung jaketnya.
        “Jadi ini yang kalian lakukan di belakangku?” ujar Joon dingin.
        Minhyuk membeku mendengar suara yang sudah sangat di hafalnya tersebut. Perlahan ia menjauhkan tubuhnya dari tubuh Hye Ra. Minhyuk juga memaksakan diri menoleh ke tempat Joon berada. Matanya membulat sempurnya saat mendapati kakaknya di sana. “Hyung?” serunya pelan.
Flashback end…

        Joon menghembuskan napasnya dengan kasar. “Jika aku akhirnya tidak sanggup melepasmu, bolehkah aku melawan Minhyuk?” Pertanyaan tanpa ada yang bisa menjawabnya itu tentu saja Joon tunjukkan untuk Hye Ra.

***

        Aku masih sibuk!
       
        Hye Ra buru-buru memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku jins sambil menggembungkan pipinya. Bosan karena menunggu seseorang muncul dari dalam butiknya. Gadis itu juga belum ingin membalas pesan Joon tadi.
        “Kau masih di sini?” tegur Himchan yang sebenarnya sudah pulang beberapa waktu lalu.
        Hye Ra menoleh cepat. “Kau kembali?”
        “Ada yang tertinggal. Aku ke dalam dulu,” ujar Himchan yang kemudian melesat masuk meninggalkan Hye Ra yang masih berdiri di samping mobilnya yang terparkir di depan butik.
        Beberapa saat kemudian, Himchan kembali dan kali ini muncul bersama Minhyuk. Hye Ra yang menyadari itu, berusaha untuk tidak bereaksi berlebihan. Memang ada yang ingin ia bicarakan pada Minhyun. Namun tidak di depan Himchan.
        “Aku pergi duluan,” pamit Himchan. Ia memang tampak sedikit terburu-buru. Terlebih setelah Hye Ra dan Minhyuk mengangguk untuk ia bisa segera pergi dari sana.
        Tersisa Hye Ra bersama Minhyuk di sana. Dan setelah Himchan benar-benar pergi, Hye Ra segera menoleh cepat ke tempat Minhyuk berada. Minhyuk sendiri sudah ingin melangkah pergi. Tapi buru-buru Hye Ra menahan tangannya dan memaksa Minhyuk untuk menoleh padanya.
        “Apa lagi yang ingin kau lakukan padaku hari ini?” desis Minhyuk. “Kau tidak bisa membuatku membencimu.”
        Hye Ra melepaskan tangannya pada tangan Minhyuk. Ia juga sedikit mengulur waktu untuk merespon ucapan Minhyuk. “Aku hanya ingin kau mengembalikan cincinku. Itu saja. Apa itu sulit?” Hye Ra berujar dingin.
        Minhyuk tersenyum meremehkan. “Apa kau sudah sangat yakin dengan hyungku?”
        “Yakin atau tidak, itu urusanku. Dan kau tidak perlu tau. Sekarang, cepat kembalikan!” seru Hye Ra sedikit memaksa.
        Dengan sangat terpaksa, Minhyuk membongkar ranselnya. Ia mengeluarkan sebuah kotak yang berisi benda berharga milik Hye Ra. Minhyuk juga tampak terkejut karena Hye Ra tanpa sabar menyambar kotak di tangannya itu.
        Setelah mendapatkan apa yang ia inginkan, Hye Ra langsung balik kanan. Namun baru beberapa langkah, gadis itu berbalik kembali dan menatap Minhyuk langsung ke mata pemuda itu.
        “Setelah ini, jangan coba merebutku dari Joon. Dan aku juga tidak sudi bicara padamu sebelum Joon mau memaafkanku.” Usai berkata seperti itu, Hye Ra benar-benar melesat meninggalkan Minhyuk yang masih berdiri mematung di tempatnya.

***

        Setelah hari itu, Hye Ra benar-benar membuktikan ucapannya. Ia sama sekali tidak membiarkan Minhyuk bicaranya padanya. Tidak peduli tanggapan orang lain seperti Himchan atau pun Hackyeon yang juga terlibat di sana. Sampai akhirnya, hari yang di tunggu Hye Ra pun tiba. Di mana butik tersebut telah siap untuk mulai di jalankan.
        Usai peresmian butik yang dilakukan sendiri oleh Yoona, Hye Ra menjadi orang pertama yang beranjak dari sana. Dan setelah mengganti pakaian resminya menjadi lebih santai, Hye Ra melesat pergi tanpa pamit pada Minho dan Yoona tentunya.

***

        Beberapa hari lalu ‘Blue Flame’ masih disibukkan dengan kegiatan konser mereka. Dan hari ini, ke lima pemuda tampan tersebut kembali untuk mempersiapkan diri meluncurkan album music terbaru mereka, sore ini.
        Seperti yang sering mereka lakukan. Setelah acara peluncuran album terbaru akan langsung dilaksanakan acara ‘fan sign’. Posisi mereka pun hampir tidak pernah berubah. Luhan, Siwan, Joon, Doojoon dan Nichkhun.
        Setiap acara yang melibatkan ‘Blue Flame’ hampir selalu dipadati oleh fans mereka. Tak terkecuali hari ini. Hampir semua barisan para member dipenuhi fans mereka.
        Joon sendiri juga berinteraksi dengan ramah pada para fansnya. Namun fans yang kali ini mendapat giliran bertatap muka dengan Joon, justru tidak membawa apapun yang bisa diberikan tanda tangan milik Joon.
        Joon sempat mendongak sambil bertanya, “kau tidak membawa sesuatu yang bisa ku tanda tangani?”
        Gadis itu menutupi hampir seluruh bagian wajahnya dengan syal. Ia bahkan juga menggunakan sebuah kacamata hitam. Dan setelah ditanya seperti itu, gadis tersebut hanya memberikan sebuah kotak persegi beserta sebuah surat.
        Joon menatap bingung barang-barang di hadapannya. Namun ketika ingin meminta penjelasan, gadis itu sudah lebih dulu berbalik dan pergi.
        “Hye Ra!” pekik Doojoon yang sontak saja membuat Joon menoleh cepat padanya. Kebetulan Joon memang duduk tepat di samping Doojoon. Tentu saja Doojoon mengenali Hye Ra karena gadis itu mengenakan pakaian pemberian fans untuk Joon yang kemudian ia berikan kembali pada Hye Ra.
        Joon tidak bisa menahan diri untuk tidak mengejar Hye Ra. Aksinya menjadi sorotan. Tidak terkecuali oleh para anggotanya yang lain. Namun tidak ada yang ingin ikut mengejar Joon.
        Siwan menoleh ke tempat Doojoon berada sambil melemparkan pertanyaan, “itu benar Hye Ra?”
        “Aku yakin itu pasti dia,” seru Doojoon.
        Luhan sendiri sudah berdiri di belakang meja milik Joon. Ia meraih kotak kecil di atas sana. Siwan bahkan sempat ikut melihat ke dalam kotak yang dibuka Luhan tersebut. Berisi sepasang cincin.
        “Apa ini cincin yang Hye Ra maksud ada pada Minhyuk?” pikir Luhan. Ia memang berjanji pada Joon untuk merahasiakan kejadian malam itu dari member ‘Blue Flame’ yang lain.

***

        Joon mengejar Hye Ra sampai luar. Tentu saja kejadian itu membuat histeris para fansnya yang sudah berada di luar. Namun Joon langsung menghentikan langkah karena melihat seorang pemuda yang tiba-tiba datang dari arah lain dan ikut mengejar Hye Ra. Itu Minhyuk. Dan Joon sendiri tidak mungkin salah mengenali.
        Demi mengembalikan kondisi seperti semula, Joon langsung menyunggingkan senyumannya di hadapan para ‘flamers’. Beberapa bodyguard juga telah bersiap disekelilingnya untuk menjaga Joon dari sikap fans yang bisa saja menjadi tak terkendali.
        Dengan sangat terpaksa, Joon dikawal untuk kembali ke dalam.
        Luhan yang melihat kedatangan Joon, langsung kembali ke mejanya seperti semula. Siwan, Doojoon dan Nichkhun juga kembali pada tugas mereka bertemu para fans.

***

        Yong Hwa tampak menguap karena bosan. Ia mengantar Sulli bertemu ‘Blue Flame’. Namun pemuda itu hanya menunggu diparkiran sambil bersandar di badan mobilnya. Di tengah rasa bosannya, Yong Hwa mengeluarkan ponsel karena ada sebuah panggilan masuk. Dari Sulli.
        “Ada Hye Ra di sini. Tapi dia sudah ke luar. Apa kau melihatnya disekitar sana?”
        Tanpa merespon pertanyaan Sulli lebih dulu, Yong Hwa langsung menegakkan badannya dan melempar tatapan ke sekitar.
        “Hye Ra mengenakan syal dan kacamata untuk menutupi wajahnya,” seru Sulli lagi meski Yong Hwa sama sekali belum merespon perkataannya.
        Tepat setelah Sulli menyelesaikan kalimatnya, Yong Hwa menangkap sosok gadis dengan ciri-ciri seperti yang dijelaskan Sulli. “Dia ada di sini,” ujarnya yang kemudian mematikan sambungan untuk mengejar keberadaan Hye Ra.
        Yong Hwa memperlambat langkah karena ia melihat Minhyuk berada beberapa meter di belakang Hye Ra. Tapi pemuda itu tetap melangkah mendekat. Mengawasi ke duanya dari tempat ia berdiri sekarang.
        “Hye Ra tunggu!” seru Minhyuk yang bahkan sudah berhasil menangkap tangan Hye Ra hingga gadis itu berbalik.
        Hye Ra menghentakkan tangan agar Minhyuk melepaskannya. Dengan tatapan tajam, gadis itu berujar, “bukankah sudah ku katakan jangan berani mengajakku bicara sebelum Joon memaafkanku!”
        Minhyuk tidak membalas ucapan Hye Ra karena mereka menyadari keberadaan Yong Hwa di sana. Yong Hwa sendiri juga mendengar apa yang Hye Ra katakan untuk Minhyuk.

***

        Joon kembali melakukan kegiatannya yang sempat tertunda untuk berinteraksi langsung dengan fansnya. “Siapa namamu?” tanya Joon yang sudah bersiap menanda tangani album terbaru mereka.
        Gadis itu justru sedikit menunduk agar wajahnya bisa lebih dekat dengan wajah Joon. “Kau kekasih Hye Ra?” Gadis itu justru balik bertanya. Saat Joon mendongak, ia sudah lebih dulu menegakkan tubuhnya seperti semula.
        “Kau?” seru Joon terkejut mendapati Sulli di hadapannya. Ia mengenal gadis itu saat menghadiri pertunangannya dengan Yong Hwa.
        “Aku tidak akan mengatakannya pada siapa pun,” kata Sulli seolah mengerti kekhawatiran Joon.
Joon tidak mengucapkan sepatah kata pun. Ia hanya melakukan tugasnya untuk menandatangi album milik Sulli. Setelah itu mereka saling berjabat tangan.
        “Tanpa kau pinta, aku akan memastikan Hye Ra tidak akan berpaling darimu.”
        Joon mengukir senyum. Senyum itu tidak terlihat seperti paksaan. “Terima kasih.”
        Sulli balas melempar senyumannya. Lalu ia melesat pergi untuk memberikan kesempatan pada yang lain agar bisa bertemu Joon. Sementara Joon sendiri langsung terdiam dan perhatiannya sedikit tersita pada kotak kecil di hadapannya.

***

        “Kalau memang tidak ingin bicara dengan Minhyuk, bagaimana kalau kau bicara padaku saja?”
        Hye Ra sempat melirik sekilas pada Minhyuk sebelum merespon perkataan Yong Hwa tadi. Kemudian Hye Ra tampak mengangguk kecil dan menggeser tubuhnya agar lebih dekat dengan Yong Hwa.
        Minhyuk sudah ingin bergerak untuk mendekati Hye Ra tentu saja. Namun Yong Hwa sudah lebih dulu menghalanginya. Ia kemudian balik badan. Dan tanpa harus memaksa, Hye Ra tetap akan berjalan mengikutinya.
        “Benar Joon tidak mau memaafkanmu?” tanya Yong Hwa setelah memastikan Minhyuk sudah tidak berada di dekat mereka.
        Hye Ra menghembuskan napasnya, berat. “Begitulah. Joon bahkan masih belum mau menerima panggilanku,” keluhnya.
        Yong Hwa sempat merangkul Hye Ra sesaat dengan canggung. “Maafkan perlakuanku malam itu.”
        “Lupakan,” seru Hye Ra enggan membahas hal itu.
        “Akh, iya. Ku rasa sebentar lagi Sulli selesai. Aku bisa mengantarmu pulang dulu,” tawar Yong Hwa.
        Hye Ra menghentikan langkah, kemudian berdiri menghadap Yong Hwa. “Terima kasih untuk apa yang kau lakukan padaku selama ini. Dan untuk tawaranmu, maaf aku menolak. Masih ada hal yang harus ku kerjakan.”
        Yong Hwa hanya bisa mengangguk. Ia sudah tidak bisa memaksa Hye Ra seperti apa yang sering ia lakukan dulu. Dan pemuda itu hanya menemani Hye Ra sampai gadis itu mendapat sebuah tumpangan taksi.

***

        Seluruh anggota ‘Blue Flame’ sudah kembali ke dorm mereka. Kecuali Nichkhun yang setelah menikah sudah tidak tinggal di sana. Masing-masing juga langsung masuk ke dalam kamar mereka. Namun, Luhan tampak melesat ke luar kamarnya lalu menuju kamar yang di tempati Joon.
        “Joonie hyung!” seru Luhan seraya mengintip ke balik pintu kamar tersebut. Tampak Joon tengah berganti pakaian dengan posisi berdiri membelakanginya.
        Joon sempat menoleh sekilas. “Oh, kau? Masuklah,” ujar Joon kemudian duduk di tepi tempat tidurnya. “Ada apa?”
        Luhan melangkah masuk lalu mengambil tempat duduk di samping Joon. Ia menyodorkan sebuah amplop yang ia ketahui pemberian Hye Ra tadi saat acara ‘fans sign’. “Aku hanya ingin memastikan kau membaca ini.”
        Joon tertegun sesaat. Menatap amplop dan Luhan bergantian. “Ku pikir benda itu hilang,” ujar Joon. Dan sedetik kemudian, barulah ia meraih amplop dari tangan Luhan. “Sepertinya kau akan menjadi pengganti Nichkhun dalam mengetahui segala rahasiaku,” goda Joon.
        Luhan terekekeh menanggapi ucapan Joon. “Tak apa, hyung. Aku juga senang bisa membantumu.”
        Selama Joon sibuk membaca suratnya, Luhan tampak tertarik pada sebuah kotak kecil di atas meja. Itu kotak yang ia lihat bersama surat yang ia bawa. Dan kondisi kotak itu dalam keadaan terbuka. Hingga bisa dipastikan Luhan dengan leluasa mengintip isinya. Sepasang cincin.

     Maaf tidak memberitahumu sebelumnya. Minho oppa dan keluargaku menginginkan kita untuk bertunangan. Dan malam ituharusnya aku menunjukkan cincin kita. Tapi… ya sudahlah.
     Aku hanya ingin meminta maaf padamu atas segalanya. Dan maaf juga bahwa aku baru bisa mengatakan…
AKU MENCINTAIMU JOON…

-Hye Ra-
   
        “Cincin yang bagus, hyung.”
        Joon tampak mengabaikan kekaguman Luhan pada cincin pemberian Hye Ra untuknya. Ia sendiri kini sibuk menatap cincin yang melingkar di jari manis tangan kanannya.
        “Luhan…. Apa yang harus aku lakukan sekarang?” keluh Joon.
        Saat Luhan menoleh, ia sudah mendapati Joon meringkuk sambil memeluk gulingnya. “Kau sangat mencintainya kan, hyung?”
        Mendengar pertanyaan Luhan, Joon langsung bangkit. “Yang harus ku hadapi bukan Yong Hwa atau Doojoon. Tapi Minhyuk. Adikku sendiri,” ujar Joon dengan nada cukup terdengar frustasi.
        Luhan hanya mampu menghela napasnya.
        “Kau juga memiliki adik laki-laki, kan? Bagaimana jadinya kalau kau dan Minwoo terlibat cinta dengan Han Yoo?” tanya Joon. Secara tak langsung ia memang berusaha menyeret Luhan agar merasakan penderitaannya saat ini.
        “Jangan beri aku pertanyaan seperti itu!” protes Luhan. Dan bisa dipastikan ia juga akan sama frustasinya jika apa yang diucapkan Joon benar-benar terjadi.
        Merasa tak ada pencerahan, Joon menghempaskan kembali tubuhnya ke atas kasur hingga menimbulkan sedikit guncangan di atasnya.
        “Tapi hyung harus tetap mengejar cinta Hye Ra. Karena yang berhak memutuskannya bukan kau, apalagi Minhyuk. Tapi Hye Ra. Dan hanya Hye Ra yang bisa menentukannya.”
        “Luhan benar, hyung!”
        Joon dan Luhan sama-sama menoleh. Mereka mendapati Doojoon juga Siwan di ambang pintu kamar itu.
        “Sejak kapan kalian di situ?” seru Joon.
        Siwan dan Doojoon saling melempar tatapan sambil tersenyum penuh rahasia.
        “Yang jelas, kami mendengar semua curhatanmu, Joon.” Siwan yang tampak menjelasakan.
        Doojoon kemudian maju beberapa langkah. “Yong Hwa memberitahuku. Hye Ra sama sekali tidak memiliki perasaan apapun pada Minhyuk.”
        Mendengar nama Yong Hwa disebut, Joon langsung menatap tak suka pada Doojoon yang tadi mengatakannya. “Kenapa harus orang itu yang memberitahumu?”
        “Apapun kodisinya, Yong Hwa salah satu orang yang sangat Hye Ra percayai. Dan aku juga percaya Yong Hwa sudah merubah keputusannya. Dia tidak akan mengusik hidup Hye Ra dengan perasaannya. Tapi mereka juga tidak bisa dipisahkan selayaknya Hye Ra dan Minho. Atau kau dengan Minhyuk juga Hyorin noona.”
        Setelah ucapan panjang lebar dari Doojoon tadi, Joon sama sekali belum berkomentar. Sampai akhirnya, Luhan tampak merangkul Joon. “Kami akan mendukungmu sepenuhnya, hyung.”

***

        Malam itu, Sulli tampak melangkah sendiri di koridor rumah sakit. Ia memang tengah menjalani tugasnya sebagai seorang dokter. Lalu di ujung lorong sana, ia melihat seorang pemuda yang sudah cukup dikenalnya. Itu Hackyeon. Sulli mempercepat langkah dan menghampiri Hackyeon.
        “Sedang apa kau di sini?” tegur Sulli yang sukses membuat Hackyeon sedikit terlonjak kaget.
        “Oh, kau? Aku menemukan Hye Ra pingsan di jalan setelah nyaris tertabrak mobilku. Dia sedang ditangani sekarang. Dan aku juga mencoba menghubungi Minhyuk, tapi…”
        “Jangan beri tahu Minhyuk!” seru Sulli menyelak ucapan Hackyeon.
        “Memangnya kena….” Ucapan Hackyeon terinterupsi oleh panggilan dari Minhyuk.
        Sulli juga sempat menangkap nama ‘Minhyuk’ dilayar ponsel Hackyeon. Ia menatap Hackyeon penuh harap agar pemuda itu mau menuruti permintaannya. Dan dengan terpaksa, Hackyeon akhirnya mengangguk dan menuruti permintaan Sulli.

***

        Minhyuk menghempaskan tubuh di atas sofa apartmen Joon. Ia baru menyadari Hackyeon ternyata sejak tadi menelponnya beberapa kali. Namun tidak ada yang sempat ia jawab. Minhyuk pun langsung balik menelpon Hackyeon.
        “Minhyuk, maaf. Tadi aku ingin menanyakan dompetku. Mungkin kau melihatnya. Tapi sekarang aku juga sudah menemukannya. Maaf mengganggumu.”
        Minhyuk menjauhkan ponsel dari telinganya. Selama Hackyeon berbicara tadi, pemuda itu hanya terdiam. Terdengar ada yang janggal dengan nada suara Hackyeon.
        “Apa Hackyeon menyembunyikan sesuatu?” desis Minhyuk.


***

Rabu, 19 Maret 2014

FC LOVE (chapter 11)


Author              : Annisa Pamungkas (@nniissaa11)
Main Cast          :
·        B2ST/Beast Lee Gikwang
·        Infinite Lee Howon (Hoya)
·        SNSD Im Yoona
Support cast     :
·        Other member B2ST/Beast, Infinite and SNSD
·        Yong Hwa CN Blue
·        Siwan Ze:a
·        Jonghyun, Minho and other member Shinee
·        Member Super Junior
·        All member A-Pink
·        Sulli, Victoria F(x)
Genre               : romance, family, friendship
Length              : chapter

***

        Howon tiba di kamar rawat Siwon. Sepulang sekolah ia memang langsung ke rumah sakit. Ia bahkan masih mengenakan seragam sekolahnya. Saat itu Siwon tidak sedang tidur, dan hanya menonton tivi saja. Nggak ada orang lain juga di sana.
        “Hai ganteng. Kamu kok nggak pulang dulu?” Siwon menyapa duluan anak tirinya itu.
        Howon hanya tersenyum singkat. “Aku bawa baju ganti kok, Yah.” Setelah itu Howon terlihat melesat ke dalam kamar mandi. Dan beberapa saat kemudian ke luar dan telah berganti pakaian. “Aku sengaja dateng sekarang, soalnya nanti sore harus latihan bola di sekolah buat persiapan pertandingan ‘away’ lawan SMA Paradise nanti,” jelas Howon yang sudah duduk di tepi tempat tidur Siwon.
        “Waah… seru tuh. Mudah-mudahan nanti ayah bisa nonton ya.”
        Mendengar itu, Howon tersenyum lebar. “Aku sama Minho pasti seneng banget kalo ayah beneran dateng. Makanya, Ayah cepet sembuh ya.”
        Siwon mengulurkan tangannya untuk menyentuh kepala Howon. Pria itu menatap Howon penuh kasih sayang selayaknya anak kandung sendiri. “Oh, iya. Kamu nggak bareng Minho ke sini?”
        “Minho lagi ada kerja kelompok dulu di sekolah. Dia kan juga dicalonin jadi ketua OSIS yang baru. Jadi, dia sibuk banget sekarang.”
        “Terus, kamu nggak dicalonin jadi ketua OSIS juga?”
        “Nggak deh, Yah. Kalo aku sama Minho sibuk, siapa yang gantiin Ibu jagain Ayah di sini? Lagian, aku juga nggak terlalu minat buat jadi ketua OSIS. Kalo jadi kapten bola sih gapapa,” candanya dengan sedikit terkesan membanggakan diri.

***

      Sungmin baru saja tiba di apartmennya. Ia berjalan ke arah dapur lalu membuka pintu yang menuju balkon. Di sana juga biasanya digunakan untuk menjemur pakaian. Dan ada sebuah seragam sepakbola yang tergantung. Jelas saja sangat menarik perhatian Sungmin karena hanya ada benda itu di sana. Terlebih sebuah nama yang tertera di bagian belakang kaosnya adalah nama ‘HOYA’. Nama yang sangat melekat di hatinya.
        Sebuah suara gemericik air dari kamar mandi yang terdengar membuat Sungmin menoleh seketika. Ia yakin anaknya sudah pulang. Sungmin mendekat karena orang tersebut membuka pintu.
        “Itu baju yang namanya Hoya punya siapa?” tanya Sungmin bahkan sebelum ia benar-benar melihat wajah orang itu.
        “Eh, Om Sungmin?” seru orang itu yang ternyata adalah Yong Hwa.
        “Oh, Yong Hwa? Om kira Gikwang. Ke mana dia?” tanya Sungmin mencari-cari anaknya.
        “Lagi ke luar Om sama Sunggyu,” kata Yong Hwa.
        Lalu seseorang muncul dari dalam kamar Gikwang. Itu Jonghyun. Ia sibuk menatap ponselnya. “Kok Gikwang sama Sunggyu lama banget, sih?” tanyanya tanpa memastikan ada siapa saja di sana. Kemudian Jonghyun mendongak karena Yong Hwa nggak langsung menjawab. “Wah, Om Sungmin udah pulang?” serunya sedikit terkejut.
        “Iya, baru aja,” ujar Sungmin.
        Setelah itu, pintu utama apartmen terbuka dan memunculkan Gikwang yang datang bersama Sunggyu dan Myungsoo juga. “Makanan datang…” terdengar suara Gikwang. “Loh, Papa udah pulang?” serunya nggak kalah terkejut seperti Jonghyun tadi saat melihat sosok Sungmin di sana. “Aku kira belom, makanya aku nggak beliin makanan juga buat Papa,” jelas Gikwang sedikit merasa bersalah.
        “Santai aja. Papa udah makan, kok,” kata Sungmin yang nggak ingin anaknya terlalu merasa bersalah. “Kalian kan lagi pada ngumpul, ya udah lanjutin aja acaranya. Papa masuk dulu,” pamitnya pada Gikwang dan teman-temannya juga.
        Jonghyun tampak mengajak Yong Hwa untuk bergabung ke ruang tamu tempat Sunggyu sudah duduk dan bahkan meletakkan pesanan mereka. Ke lima cowok itu duduk di lantai dan mengelilingi meja.
        “Bokap gue udah lama pulangnya?” tanya di sela-sela kesibukkannya membuka bungkus makanan. Tentu saja pertanyaan itu ia lontarkan untuk Yong Hwa dan Jonghyun yang memang ada di sana.
        “Nggak terlalu kok. Pas banget waktu gue di kamar mandi,” jelas Yong Hwa. Dan memang saat itu posisinya berada di depan pintu kamar mandi.
        “Nah, lo bocah!” tunjuk Jonghyun pada Myungsoo. “Kok bisa ikutan nongol di sini. Perasaan tadi nggak ada deh. Ngintilin Sunggyu mulu lo,” ledeknya pada adik kandung Sunggyu tersebut.
        Myungsoo menunjukkan wajah kesalnya. “Ya elah, bang. Pelit banget lo kalo gue ikutan gabung. Lagian temen-temen gue si Dongwoo, Woohyun sama Sungjong tuh lagi pada ngapel. Maklum, ini kan malem minggu. Nah, kebetulan gue nggak punya pacar, jadilah ngumpulnya sama cowok-cowok jomblo juga,” kata Myungsoo panjang lebar dan terdengar nggak mau kalah dari Jonghyun tadi.
        “Tapi ini kan belom malem, Myung!” seru Sunggyu meralat ucapan adiknya.
        “Sama aja akh, bang!” balas Myungsoo cuek.
        “Ade lo songong banget, sih!” protes Gikwang yang malah ia tujukan untuk Sunggyu.
        “Tau, nih. Kan nggak semua dari kita masih jomblo,” timpal Yong Hwa.
        “Bener tuh,” Jonghyun juga mendukung ucapan Yong Hwa. “Kan Yong Hwa doang yang udah punya pacar,” ujarnya mempertegas.
        Mendengar itu, Yong Hwa justru menjadi nggak terlalu memusingkannya. Ia lebih memilih sibuk dengan makanannya. Melihat Yong Hwa yang seperti itu, Sunggyu dan Gikwang tiba-tiba saling melempar tatapan curiga.
        Sunggyu menatap Yong Hwa curiga secara terang-teranga. “Biasanya Yong Hwa ngapelin Seohyun juga. Kok lo malah ikutan ngumpul di sini, Yong?”
        “Oh, itu…” Yong Hwa terdengar cukup gugup meresponnya. “Seohyun… sebenernya… hmm… kita udah… putus,” ujarnya susah payah mengatakan hal itu.
        Gikwang, Jonghyun, Sunggyu dan nggak terkecuali Myungsoo langsung menoleh cepat ke tempat Yong Hwa berada. Yong Hwa sediri sudah tertunduk dan hanya mampu mengaduk-aduk makanannya tanpa minat. Namun sedetik kemudian, terdengar gelak tawa Gikwang dan yang lain. Tentu saja untuk menertawakan Yong Hwa.
        Yong Hwa sendiri langsung melempar tatapan horornya. “Temen lagi patah hati, hibur kek! Bukannya di ketawain!” protes Yong Hwa yang justru semakin menyulut tawa teman-temannya.

***

        Di dalam kamar, Sungmin tampak menatap sebuah foto usang di tangannya. Itu foto pernikahan ia dan mantan istrinya yang juga Ibu kandung Gikwang. Wanita di dalam foto tersebut adalah Ga In, ibu kandung Howon. Sungmin dan Ga In memang pernah menikah dan menghasilkan Gikwang dari pernikahan mereka tersebut. Namun sayangnya Sungmin sedikit merahasiakan tentang keberadaan Ga In dari Gikwang.
        “Apa kamu memberi nama Hoya pada anakmu bersama Siwon?” ujar Sungmin pada foto tersebut. Ia seolang tengah berbicara langsung dengan Ga In.
Sungmin juga mengenal Siwon, bahkan ia juga mengetahui pernikahan Ga In dan Siwon. Hanya saja yang tidak Sungmin ketahui yaitu tentang anak dari hasil pernikahan Ga In dengan Siwon itu adalah Sulli, bukan anak yang ia pikir bernama Hoya. Sungmin langsung mengingat nama tersebut karena melihat sebuah kaos bola yang di jemur oleh Gikwang. Dan ia yakin nggak pernah mendengar Gikwang menyebutkan salah satu temannya ada yang bernama Hoya.
        “Kenapa kau melakukan itu? Padahal kau sama sekali nggak setuju saat aku ingin menamai Gikwang dengan nama Hoya,” seru Sungmin dengan nada kecewa.
        Sungmin memasukkan kembali foto tersebut ke dalam sebuah laci di dekat tempat tidurnya. Suasana hening yang terjadi membuat gelak tawa Gikwang dan temannya terdengar menembus tembok yang membatasi ruang tamu dan kamar tidur Sungmin.
        “Setidaknya, aku masih bisa mendengar tawa Gikwang dan selalu ada di sampingnya.”

***

        Yoona hampir tidak pernah melepaskan kebiasaannya berjalan-jalan sore menggunakan sepeda kesayangannya. Meski ia sudah terbebas secara sepihak dari Howon, cewek itu masih melakukan hobinya. Termasuk sore ini. Namun tanpa sengaja, ia justru tetap bertemu Howon di tempat yang sedikit jauh dari lokasi biasa mereka bertemu.
        Yoona menghentikan laju sepedanya saat sosok Howon tampak mendekat. Howon memang sedang menunggu kedatangan cewek itu.
        “Apa maksud lo nyuruh Eun Ji yang nganter seragam ini?” desis Howon cukup tajam. Ia bahkan sampai menyerahkan paksa bungkusan di tangannya pada Yoona. Bisa dipastikan Howon baru saja bertemu dengan Eun Ji beberapa saat lalu.
        Yoona nggak langsung menjawab. Pikirannya melayang pada saat ia pertama kali bertemu Eun Ji. Cewek itu justru mendesak agar Yoona menceritakan tentang Howon. Dari situ bisa disimpulkan kalao hubungan antara Eun Ji dan Howon sedang tersandung masalah. Terlebih dengan tatapan yang ditunjukkan Howon sekarang ini. Entah apa masalah mereka.
        “Eun Ji bener cewek lo, kan?” Yoona justru balik bertanya.
        Di saat yang bersamaan, muncul Sungyeol, Yoseob dan Dongwoon di sana. Mereka memang mencari-cari sosok Howon yang ternyata sedang bersama Yoona.
        “Hoya! Kita cariin ke mana-mana. Ternyata lo di…” Yosoeb langsung membungkam mulutnya sendiri karena melihat suasana dingin di sana. Yoona dan Howon saling tatap dan seakan mengabaikan kedatangan Yoseob dan yang lain.
        “Eun Ji emang masih cewek gue, tapi…”
        “Nah, kan!” sela Yoona. “Apa salahnya kalo dia mau ngelakuin itu buat lo? Dan lo juga nggak mikirin posisi gue, kan? Gimana ternyata gue udah punya cowok juga, lalu cowok gue tau kalo gue sering ketemuan dengan cowok lain di taman?”
        Yoseob, Sungyeol dan Dongwoon yang nggak mengerti apa-apa, hanya menatap Yoona serta Hoya secara bergantian. “Kalian pada kenapa, sih?” tanya Dongwoon penasaran.
        “Kayaknya tadi gue denger sempet nyebut-nyebut nama Eun Ji juga,” ujar Sungyeol menimpali. “Waah, lagi terlibat cinta segitiga nih kayaknya?” tanyanya jahil.
        Howon masih saja nggak mempedulikan keberadaan tiga temannya itu. Yang mengganjal dipikirannya saat ini adalah ucapan Yoona yang mengatakan cewek itu udah memiliki pacar. Tentu saja karena sejak hubungannya dengan Eun Ji bermasalah dan ia bertemu dengan Yoona, perasaannya sedikit teralih pada cewek itu.
        “Udah cukup beberapa minggu ini gue ngejalanin permintaan lo,” kata Yoona lagi karena Howon nggak juga memberikan respon. “Apa itu masih kurang? Mau sampe kapan, hah?”
        Howon udah hampir buka mulut, namun Yoseob udah lebih dulu menghalanginya sambil berujar, “lanjutin nanti aja ya ngobrolnya. Minho udah SMS gue buat cepetan dateng ke sekolah.” Yoseob bahkan sampai menunjukkan bukti pesan singkat yang dikirim Minho padanya. Ia kemudian mengisyaratkan Sungyeol dan Dongwoon juga untuk membantunya menarik Howon dari tempat itu.
        Yoona langsung berinisiatif melempar kembali bungkusan dari Howon tadi dan jatuh tepat di pelukan cowok itu. Lalu tanpa berkata-kata lagi, ia memutar sepedanya dan pergi dari sana.

***

        Seusai makan, Gikwang yang membereskan seluruh peralatan makan yang kotor karena ia kalah dalam sebuah permainan kecil yang mengharuskan ia mendapatkan hukuman. Gikwang bahkan harus mencuci seluruh peralatan yang terpakai.
        “Untung gue udah biasa ngelakuin ini,” seru Gikwang sekedar menghibur diri juga. Teman-temannya yang lain juga sama sekali nggak ada yang berniat membantu. Karena sebenarnya jarang-jarang Gikwang kalah dalam permainan seperti itu. Kecuali setelah pindah ke apartmen tersebut, Sungmin memang nggak membayar pembantu dan jadilah Gikwang yang dengan keinginannya sendiri bertanggung jawab untuk urusan pekerjaan rumah.
        Setelah beberapa menit, Gikwang benar-benar selesai dari pekarjaannya. Ia kemudian beralih ke dispenser untuk mengambil segelas air minum. Dan di sana ia sempat melirik ke jendela dan dapat dengan jelas melihat seragam bola milik Howon yang tanpa rencana bisa ada di tangannya.
        “Kok kayaknya gue familiar ya sama yang namanya ‘Hoya’ itu?” gumam Gikwang yang sibuk dengan pikirannya sendiri.

***

        Sementara di tempat lain, Howon tengah bersiap menjalai latihan sepakbola rutin di sekolahnya. Ia hanya tinggal mengenakan kaos yang ada di tangannya. Namun cowok itu masih saja menatap deretan huruf yang membentuk nama ‘Gikwang’ di bagian punggung kaos.
        “Gue nggak pernah denger temen sekolah gue ada yang namanya Gikwang. Tapi kenapa rasanya gue kayak udah kenal deket ya sama pemilik baju ini,” ujar Howon untuk dirinya sendiri.
        “Lo kenal sama temen sekelas gue yang namanya Gikwang?”
        Howon langsung menoleh dan mendapati Yoseob di sana. Yoseob sendiri langsung duduk di samping Howon yang masih duduk di tepi lapangan.
        “Emang temen sekelas lo ada yang namanya Gikwang?” Howon justru balik bertanya dengan tatapan bingung. “Oh, yang anak baru itu bukan?” serunya lagi.
        Yosoeb sama sekali nggak terlihat antusias menanggapi tebakan Howon. “Masalahnya pas kemaren gue latihan di ‘Running Boys’, gue liat Gikwang pake baju lo. Apa mungkin Eun Ji salah ambil baju lo?” pikirnya. “Soalnya kan Yoona tiba-tiba nyerahin tanggung jawabnya ke Eun Ji.”
        Howon tampak mengangkat bahunya.
“Dipikirin nanti lagi aja. Mending sekarang kita latihan,” ujar Yoseob sekaligus mengingatkan bahwa mereka sudah di tunggu untuk segera ke tengah lapangan.
Howon nggak langsung menyusul Yoseob. Pikirannya melayang kembali saat ia bertemu dengan Eun Ji di taman.

Flashback…
        “Ini baju siapa?” protes Howon ketika memeriksa bungkusan yang diberikan Eun Ji padanya. “Mana baju gue?”
        Eun Ji sedikit meremas ujung seragamnya. Nggak biasanya Howon bersikap cukup kasar seperti ini. “Baju lo kemarin mendadak dipinjem sama temennya Yoona. Dan tadi pagi Yoona nyuruh gue ngasih lo baju itu dulu,” jelasnya sambil menunduk.
        Kalau saja Eun Ji tidak menyinggung masalah Yoona, mungkin ia akan melemparkan protes lagi pada cewek itu. Namun karena ia juga harus bergegas latihan sepakbola, Howon akhirnya lebih memilih meninggalkan Eun Ji di sana.
Flashback end…

***

        Yoona tiba di rumahnya. Ia kembali lebih cepat karena suasana hatinya sedang sedikit buruk akibat berdebat dengan Howon tadi. Sebenarnya alasan Yoona berkata seperti itu bukan karena ia memang sudah memiliki kekasih, tapi karena Gikwang. Semenjak Yoona tau dirinya dan Siwan saudara kandung, ia semakin gencar melupakan perasaannya pada Siwan. Salah satunya dengan cara dekat dengan Gikwang.
        Setelah memarkirkan sepedanya, Yoona melangkah ke pintu utama. Ada sesuatu yang janggal di sana. Pintu tidak tertutup rapat. Padahal ia yakin telah menguncinya sebelum pergi. Padahal saat ini Yoona juga sudah memegang kunci rumahnya.
        “Jangan-jangan, ada maling?” ujar Yoona yang entah dari mana mendapat pikiran seperti itu. Segera saja ia melesat masuk ke dalam. Sepi. Yoona melangkahkan kaki semakin dalam. “Hwaaa…!” jeritnya karena tiba-tiba tubuh seseorang menghalangi jalannya saat berbelok ke arah dapur.
        “Ada apaan, sih?” seru seseorang yang juga muncul dari arah dapur dengan nada panic. Itu Doojoon. Ia memang baru saja tiba beberapa menit lalu. “Yoona? Lo gapapa?” Doojoon segera mendekati adiknya yang menatap seorang cowok yang tadi tiba-tiba menghalangi jalannya itu.
        “Lee Jonghyun? Kok lo bisa ada di sini?” tanya Yoona pada cowok itu. Ia bahkan sedikit mengabaikan keberadaan Doojoon di sana.
        Cowok yang dipanggil Yoona dengan nama Lee Jonghyun itu justru menunjukkan raut wajah kecewanya. “Jadi kamu nggak suka aku dateng? Kita kan udah lama nggak ketemu. Kamu nggak kangen gitu?” tanya Lee Jonghyun dengan nada di buat semanja mungkin.
        “Lebay deh lo, Jong!” cibir Doojoon pelan.
        Lee Jonghyun mendekatkan wajahnya ke telinga Doojoon. “Gue denger loh, bang,” bisiknya.
        Yoona sendiri hanya memutar bola matanya. Malas menanggapi dua cowok di hadapannya. “Berarti Bang Siwan udah pulang juga, kan?” Tanpa menunggu respon Doojoon ataupun Lee Jonghyun, Yoona sudah lebih dulu balik badan dan melesat pergi ke luar rumah.
        Doojoon dan Lee Jonghyun saling tatap. Namun sedetik kemudian mereka baru menyadari bahwa Yoona sudah nggak ada di sana. “Yoona! Tunggu!” teriak keduanya dengan kompak. Namun sudah lebih dulu menghilang di sana.
        “Siwan kan masih di Surabaya,” lirih Doojoon karena tidak sempat memberitahukan hal tersebut pada adiknya.

***

        “Kamu suka bermain sepakbola?” tanya dokter yang menangani Siwan.
Saat ini Siwan sendiri baru saja menjalani pemeriksaan. Luka terberatnya ada pada kaki. “Iya,” jawab Siwan pendek dengan tatapan kosong ke depan.
Dokter itu menghela napasnya, berat. “Kamu juga pernah cedera parah di kaki yang sama. Jika masih memaksa bermain, akan fatal akibatnya.”
        Mendengar itu, Siwan menoleh cepat. “Maksud dokter?” serunya tajam. Tentu saja ia kurang bisa menerima perkataan dokter itu. “Saya harus berhenti bermain sepakbola?”
        “Sesekali kamu boleh bermain. Tapi, tidak untuk menjalani pertandingan.”
        Sementara di luar kamar rawat Siwan, tampak Seulong berdiri dengan cukup tegang. Jelas ia mendegar semua pembicaraan Siwan dan sang dokter. Ia cukup terpukul mendengarnya. Apapun kondisinya sekarang, Siwan adalah anak kandungnya. Dan ia wajib bertanggung jawab atas apa yang terjadi pada Siwan.

***

        Sebagai pemain sepakbola, tentu saja Gikwang pernah mengalami yang namanya cedera. Meski sudah sembuh, namun ia harus tetap rutin menjalani pemeriksaan. Termasuk hari ini. Sepulang sekolah, ia melakukan pemeriksaan di sebuah rumah sakit.
        Gikwang tampak baru saja ke luar dari ruangan dokter yang memeriksanya. Ia berjalan menelusuri koridor rumah sakit. Namun tiba-tiba langkahnya terhenti karena sebuah pintu terbuka dan memunculkan seorang wanita yang sedang menangis. Ga In. Melihat itu, Gikwang perlahan mendekat. Ia hanya memperhatikan Ga In secara intens.
Sadar dirinya diperhatikan, Ga In menoleh. Ia menatap Gikwang melalui matanya yang basah. Dan sedetik kemudian, Ga In memeluk Gikwang, sementara Gikwang sendiri langsung membalas pelukan wanita itu. Tidak ada yang mereka lakukan selain berpelukan. Selayaknya dua orang yang baru bertemu setelah sekian lama terpisah.

***

        “Lo kenapa nggak bilang dari kemarin-kemarin, sih?” protes Sungmin saat ia dan Eunhyuk terburu-buru berjalan di koridor sebuah rumah sakit.
        “Gue juga baru tau, Min!” seru Eunhyuk membela diri.
        Beberapa meter di depan mereka, ada dua orang yang tengah saling berpelukan. Dan di dekat sana, tampak sebuah pintu terbuka dan memunculkan Howon. Eunhyuk langsung mengajak Sungmin mendekat.
        “Gimana Siwon?” tanya Eunhyuk sedikit hati-hati pada Howon. Raut wajah cowok itu jelas menyiratkan sesuatu yang buruk terjadi.
        Howon menggeleng lemah. Dan itu sudah cukup menjelaskan semuanya. Meski sedih, Howon tidak menangis. Lalu ketika melihat itu, Sungmin tanpa sadar menarik Howon ke dalam pelukannya. Eunhyuk sendiri tampak membiarkan keduanya dalam posisi seperti itu dan lebih memilih untuk masuk ke dalam.
        “Hoya!” Terdengar teriakan beberapa orang sekaligus. Yoseob, Sungyeol serta Dongwoon. Dan suara itu sukses menginterupsi Howon dan Sungmin untuk melepaskan pelukan mereka.
        “Bokap lo…” ucapan Sungyeol terdengar tertahan.
        Howon menggeleng lemah. Sungyeol serta Dongwoon langsung memberikan ucapan duka cita pada Howon. Namun tidak untuk Yoseob. Ia justru menatap Gikwang yang saat itu tengah memperhatikan Howon dan masih dalam keadaan memeluk Ga In.
        “Gikwang, lo di sini juga?” tanya Yoseob.
        Howon dan Sungmin cukup tersentak karena mereka baru menyadari keberadaan Gikwang yang padahal hanya berjarak beberapa meter saja.
        Di dalam pelukan Gikwang, Ga In juga terkejut mendengar nama itu. Ia lalu perlahan menjauhkan tubuhnya dari tubuh Gikwang. Ga In memperhatikan tiap lekuk wajah pemuda yang baru saja memeluknya itu.
        Sungmin sendiri semakin terkejut karena wanita yang berpelukan dengan Gikwang adalah Ga In yang tak lain mantan istrinya sendiri. “Ga In?” seru Sungmin dengan suara lemah. Namun tentu saja bisa terdengar sampai telinga Ga In.
        Ga In melebarkan mata melihat sosok Sungmin di sana. Berdiri tepat di samping Howon.

***