Rabu, 20 Agustus 2014

PERFECT LOVE (chapter 14)


Author              : Annisa Pamungkas (@nniissaa11)
Main Cast          : B.A.P (Yongguk, Himchan, Daehyun, Youngjae,
  Jongup, Zelo [Junhong])
Support cast     :
·        A-Pink (Chorong, Bomi, Naeun, Eun Ji, Namjoo, Hayoung)
·        G.Na (Soloist)
·        B2ST (Doojoon)
·        BtoB
Genre               : romance, family, brothership
Length              : chapter

***

        Sebenarnya Youngjae masih bisa bertahan di rumahnya hingga sore hari. Namun karena kegelisahan tentang foto-foto masa lalu yang ia temukan, Youngjae lebih memilih untuk meninggalkan rumah siang itu juga.
        Youngjae bertemu dengan Namjoo di luar. Cewek itu juga memang berniat mengunjungi rumah Youngjae. Sambil membawa sesuatu, Namjoo tersenyum dengan tetap melangkah menghampiri Youngjae.
        “Kok udah pulang?” seru Namjoo.
        Youngjae memaksakan senyumannya terukir. “Ada perlu sebentar. Tapi ini gue juga udah mau berangkat lagi.” Tatapan Youngjae kemudian tertuju pada sesuatu di tangan Namjoo. “Apaan tuh? Lo nggak mau kalah sama gue buru-buru nikah?” godanya.
        Namjoo tidak langsung menyahut. Cewek itu bahkan seakan kehilangan kata-kata. Namun ia sadar, Youngjae sudah memilih cewek lain meski ia sendiri tidak pernah tahu kisah cinta Youngjae.
        Buru-buru Namjoo mengembalikan kesadarannya. Sambil menyodorkan sebuah undangan ke hadapan Youngjae, Namjoo berusaha terlihat ceria. “Bukan gue. Tapi Chorong.”
        Mendengar nama Chorong disebut, sontak senyuman Youngjae memudar. Dan dengan malas Youngjae menerima undangan tersebut. “Kok Chorong masih mau sih nikah sama Changsub? Jujur aja, gue sedikit kurang respect waktu pertama kali ketemu cowok itu. Sok protective.
        “Bukan sama Changsub, kok.”
        Youngjae menoleh ke tempat Namjoo dengan penuh minat. Tapi kemudian, ia buru-buru memeriksa undangan tersebut. Selanjutnya, Youngjae kembali menatap Namjoo. Kali ini dengan tatapan menuntut penjelasan. Karena pada undangan tersebut masih atas nama Changsub sebagai calon suami Chorong.
        Namjoo mengalihkan tatapannya sesaat. Mengingat nama Changsub, membuatnya juga kembali teringat pada Hyunsik. Kekasihnya yang sama-sama menjadi korban tabrak lari seperti Changsub.     
        “Lo nggak denger berita tentang Hyunsik dan Changsub?”
        Youngjae justru semakin bingung karena Namjoo justru melemparinya pertanyaan. Namun belum sempat berpikir, Youngjae sudah lebih dulu menyerah. Malas berpikir untuk hal yang tidak terlalu ada kaitan dengan kehidupan pribadinya.
        “Sorry, gue nggak tahu apa-apa.”
        Namjoo mengangguk-angguk, mengerti. Atau lebih tepatnya berusaha mengerti untuk seorang Youngjae. Dan dengan berat hati, Namjoo menceritakan tentang apa yang terjadi pada Changsub dan Hyunsik hingga sampai merenggut nyawa dua cowok tersebut.
        Youngjae mengulurkan tangan untuk mengelus pundak Namjoo. “Lo pasti bakal dapet yang lebih baik sebagai pengganti Hyunsik.”
        Namjoo langsung menolehkan wajah karena tiba-tiba air matanya menetes. Youngjae yang melihat itu, tanpa sungkan menyeka dengan tangannya sendiri. Sebagai bentuk perhatiannya pada cewek itu.

***

        Junhyung dan Hyuna menoleh ke belakang karena mendengar sebuah langkah kaki. Mereka mendapati Eun Ji di sana dan menatap anak perempuannya sedikit bingung. Tidak menyangka jika Eun Ji sudah ada di rumah mereka.
        Hyuna sampai berdiri karena sedikit tidak percaya dengan penglihatannya. “Kapan kamu pulang? Sama Youngjae, kan?”
        Eun Ji sedikit mengulur waktu untuk menjawab. “Belum lama, sih. Iya sama Youngjae. Tapi dia tadi buru-buru pulang.”
        “Terus, sekarang kamu mau ke mana?” Junhyung ikut ambil bagian untuk menanyai anaknya.
        “Mau ke… rumah Youngjae. Tiba-tiba kangen lagi sama dia,” tukas Eun Ji. Jelas ia berpura-pura mengatakan hal itu. Padalah dalam hati, ia memaki sendiri. Tidak mungkin seorang Eun Ji merindukan Youngjae.
        Junhyung dan Hyuna terkekeh geli. Junhyung bahkan sampai menggelengkan kepala. Tidak menyangka dengan apa yang terjadi pada Eun Ji sekarang ini. Perubahan yang cukup drastis. Tapi ia tidak ingin membahas itu. Sementar di sisi lain, Eun Ji juga terkekeh. Namun sangat canggung dan terpaksa.
        “Di anter supir ya,” ujar Junhyung. Jelas ia tidak mungkin membiarkan Eun Ji pergi seorang diri. Dan Eun Ji sendiri hanya  mengangguk tanpa bisa menolak.
        Sekitar hampir 1 jam kemudian, Eun Ji tiba di sebuah perumahan mewah. Ia menyuruh supir pribadi Junhyung untuk menghentikan mobil di depan sebuah gang. Selanjutnya, Eun Ji memilih berjalan kaki menuju jalanan tersebut.
        Tidak jauh di depan Eun Ji, cewek itu melihat dua orang yang sudah sangat ia kenal. Berdiri berhadapan. Sementara tangan cowok itu berada di pundak si cewek. Dan kemudian berpindah menuju wajah cewek itu untuk menghapus air mata di pipi cewek tersebut.

Flashback…
Youngjae melirik penuh arti. Tawaran Eun Ji cukup menarik untuknya. “Kalau minta lo bikin Naeun sama Daehyun putus?”
        Eun Ji melotot lebar. “Lo gila ya?” cewek itu malancarkan protes keras. “Yang lain,” serunya tanpa pikir panjang. Eun Ji benar-benar seperti di ujung tanduk. Ia yakin Minhyuk masih berada di sekitar sana.
        Tanpa sepengetahuan Eun Ji, Youngjae tersenyum tipis. “Kalo gitu, gue minta lo bermalam sama gue?”
        Eun Ji membeku mendengarnya.
        “Harusnya lo beruntung. Karena gue cowok popular di sini. Cewek lain harus ngemis-ngemis ngedapetin gue, tapi lo justru dapet tawaran langsung dari gue,” lanjut Youngjae tak peduli dengan tatapan penuh kebencian dari Eun Ji yang merasa di lecehkan.
Flashback end…

        Eun Ji semakin tidak melepaskan tatapannya pada dua orang tersebut. Youngjae dan Namjoo. Jika Youngjae saja bisa bersikap kurang ajar padanya, bagaimana pada Namjoo. Terlebih mereka terlihat cukup akrab.
        “Gue jadi penasaran. Sebrengsek apa lo, Young?”
        Eun Ji melangkah mendekat dengan sedikit terburu-buru. Baru saja Youngjae dan Namjoo menyadari kehadirannya, Eun Ji sudah lebih dulu memposisikan diri di tengah-tengah mereka. Menjauhkan tangan Youngjae dari wajah Namjoo dengan sedikit kasar. Dan kemudian, tanpa ragu Eun Ji mendaratkan bibirnya di bibir Youngjae. Melingkarkan tangannya dengan erat ke leher Youngjae seakan tidak ingin melepaskan cowok itu begitu saja.
        Tanpa bicara apa-apa, Namjoo memilih balik kanan dan meninggalkan kesibukan Youngjae dengan Eun Ji. Namjoo tahu jika Youngjae dan Eun Ji akan menikah. Namun tidak ada yang tahu jika ia sebenarnya memiliki perasaan pada Youngjae. Dan akhirnya Namjoo lebih memilih mengalah.
        Youngjae sudah hampir ingin mengejar Namjoo karena ia merasa ada sesuatu yang aneh pada cewek itu. Tapi Eun Ji seperti tidak membiarkannya pergi. Youngjae memegang pergelangan tangan Eun Ji sambil berusaha melepaskannya.
        Dengan terpaksa Youngjae harus benar-benar mengeluarkan tenaga ekstra hingga akhirnya bisa terlepas dari Eun Ji. Youngjae menatap Eun Ji tepat ke dalam mata cewek itu. Sementara tangannya menyeka bibirnya yang basah.
        “Apa maksud lo?” desis Youngjae, dingin. Membuat suasana diantara mereka menjadi sama seperti sebelumnya. Dua kubu yang saling bermusuhan.
        Eun Ji membalas tatapan Youngjae tak kalah dingin. “Harusnya gue yang nanya itu sama lo,” balasnya.
        Youngjae mengukir senyum, meremehkan. Ia mendekatkan diri pada sosok Eun Ji dengan tatapan misterius. “Dan harusnya ucapan gue di dalam mobil itu bener-bener gue lakuin.”
        Eun Ji berusaha tidak terpengaruh. Namun tidak dipungkiri jika ia mengingat maksud ucapan Youngjae. Kejadian saat Eun Ji tidak sengaja bersembunyi di dalam mobil Youngjae.
        Detik berikutnya, Youngjae sudah menyambar pergelangan tangan Eun Ji. Kemudian ia menyeret cewek itu ke dalam rumahnya. Tidak hanya sampai disitu. Youngjae bahkan sampai membawa Eun Ji ke dalam kamarnya. Tentu Eun Ji melakukan pemberontakan. Tapi Youngjae benar-benar mengeluarkan hampir seluruh kekuatannya.

***

        Jongup baru saja pulang dari sekolah siang itu. Dan Bomi yang kebetulan melihat, segera menyusul Jongup ke rumahnya karena melihat ada yang aneh dari sikap Jongup. Sedikit tergesa-gesa. Bomi bahkan nyaris terantuk pagar karena Jongup menghempaskan pagar dengan cukup kasar. Beruntung Bomi masih bisa menghindar.
        “Mas! Ibu sakit. Mas Daehyun juga maksa ibu buat dirawat dulu.” Jongup bicara dengan suara keras.
        “Tante G.Na sakit?” seru Bomi. Tepat saat Himchan muncul dari dalam kamar Daehyun dan Jongup yang kini juga menjadi kamarnya.
        Jongup menoleh ke belakang. Tempat Bomi berdiri saat ini. “Bantuin Mas Himchan nyiapin baju buat ibu ya, Mba.” Tanpa menunggu respon dari Bomi, Jongup sudah lebih dulu melesat masuk ke dalam kamarnya. Ia bahkan sampai menarik tubuh Himchan untuk menyingkir dari ambang pintu. Jongup lalu menutup pintu dari dalam.
        Himchan dan Bomi saling melempar tatapan. Sedetik kemudian, Himchan berinisiatif untuk lebih dulu menuju kamar G.Na. Sementara tangannya bergerak sebagai tanda agar Bomi mengikutinya. Dan tanpa pikir panjang, Bomi pun menyusul Himchan yang kini sudah berdiri tepat di depan lemari milik G.Na.
        Beberapa saat Himchan masih terpaku di sana. Tangannya sudah terulur, tapi tidak langsung ia gunakan untuk meraih pegangan lemari. Ini pertama kali ia akan membuka dan bahkan sampai melihat isinya.
        “Perlu dibantuin?” ujar Bomi karena melihat Himchan tidak melakukan apa-apa.
        Himchan sontak langsung menggeser tubuhnya yang berdiri tepat di depan pintu lemari. Memberikan ruang untuk Bomi menggantikan tugasnya.
        “Gue cari tas dulu,” kata Himchan.
        Saat Bomi menoleh, cowok itu sudah lebih dulu melesat ke arah pintu. Bomi tidak melepaskan pandangannya pada punggung Himchan. Namun Himchan menghentikan langkah karena Jongup sudah lebih dulu memunculkan diri di sana sambil membawakan sebuah tas. Jongup juga sudah mengganti seragam sekolahnya dengan pakaian biasa.
        Bomi menarik sebuah pakaian G.Na dari dalam lemari dengan tatapan masih mengarah pada Himchan juga Jongup. Dan itu justru membuat Bomi tidak melihat sesuatu dalam lemari hingga tangannya tidak sengaja menjatuhkan benda tersebut.
        “Akh… maaf.” Bomi sudah berniat membereskan benda itu. Tapi Himchan lebih dulu menahannya.
        Himchan berjongkok dan memungut benda tersebut. Sebuah amplop coklat yang sudah cukup usang dan beberapa isinya menyembul ke luar. Perbuatan Himchan justru membuat isi yang lainnya ikut meluncur ke lantai.
        “Foto apaan tuh, Mas?” seru Jongup dengan tatapan penuh minat. Ia menyambar cepat beberapa lembar foto sebelum Himchan sempat bisa mencegahnya.
        Himchan hanya mampu menatap Jongup dari bawah. Mencoba menebak dari perubahan raut wajah Jongup. Sementara Bomi justru mengawasi Jongup dengan tatapan khawatir.
        “Kayak kita waktu kecil. Tapi….” Jongup, ia tidak sempat melanjutkan ucapannya karena Himchan sudah lebih dulu menyambar foto dari tangannya.
        Sebuah foto lama. Sebuah keluarga dengan 5 orang anak mereka yang semuanya laki-laki. Sama persis seperti yang Youngjae temukan di apartmen pribadi Doojoon saat di luar kota.
        Di saat Himchan terpaku dengan satu foto itu, Jongup yang tidak bisa menahan penasarannya memilih memungut foto lain yang masih berceceran di lantai. Salah satunya foto yang terdapat sebuah tulisan tangan dibagian belakangnya.
        Melihat itu, Bomi sudah ingin mencegah. Namun tekadnya kurang kuat untuk melakukan itu. Akhirnya ia hanya bisa mengawasi Jongup dari tempat ia berdiri saat ini.
        Kali ini Himchan benar-benar mencegah tangan Jongup yang sudah ingin memungut foto tersebut. Jongup tentu saja melakukan pemberontakan. Tapi Himchan juga sekuat tenaga mencegahnya.
        “Mas!”
        “Itu foto-foto pribadi ibu! Nggak sopan buat liat-liat,” seru Himchan sebelum Jongup sempat melakukan protes padanya. Lalu buru-buru Himchan membereskan foto tersebut dan ia masukkan kembali ke dalam amplop tanpa ingin melihat isinya lebih jelas. Atau tepatnya menahan diri untuk tidak melihat.
        Saat Himchan berdiri, Bomi menggeser tubuhnya sambil menutup pintu lemari. Ia berdiri seakan menghalangi Himchan yang berniat mengembalikan amplop milik G.Na ke tempat semula.
        “Gue rasa udah saatnya kalian tahu,” ujar Bomi tanpa berani menatp Himchan atau pun Jongup.
        “Tahu tentang apa?” Himchan berseru menantang. Namun tangannya yang kosong meraih lengan Bomi dan menarik cewek itu untuk menyingkir.
        Jongup berpindah secepat mungkin agar Bomi tidak terlalu jauh terhempas akibat tarikan kuat yang dilakukan Himchan pada cewek itu. “Mas! Jangan kasar kenapa, sih!” protesnya.
        Saat Himchan menoleh, ia mendapati Jongup begitu perhatian pada Bomi. Menanyakan kondisi cewek itu akibat perlakuan Himchan. Sontak Himchan menutup pintu lemari dengan sedikit keras.
        “Kalau mau pacaran jangan di sini,” desis Himchan seakan tak suka dengan kedekatan adiknya dengan Bomi.
        Mendengar itu, Jongup hanya memutar bola matanya. Ia lalu menyambar tas kosong yang tadi ia bawa. Tidak lupa Jongup juga mengajak Bomi untuk mendekat ke arah lemari dengan sebelumnya Jongup sengaja mendorong tubuh Himchan untuk menyingkir.
        “Mas ganti baju aja deh sana,” kata Jongup. Terdengar seperti memerintah.
        Bomi tampak langsung menyikut lengan Jongup untuk menegur sikap cowok itu pada kakaknya sendiri. Sementara Himchan tidak ingin ambil pusing dan lebih memilih meninggalkan Jongup dengan Bomi di sana.
        “Sopan sedikit sama kakak sendiri.”
        Jongup hanya mendesah berat mendengar teguran dari Bomi. “Mas Himchan agak aneh akhir-akhir ini. Sejak dia mutusin ceweknya di kelab malam waktu itu.”
        Sambil mendengarkan Jongup bicara, Bomi tampak memilih-milih pakaian G.Na yang sekiranya bisa dibawa ke rumah sakit. Namun beberapa saat setelah Jongup mengakhiri ucapannya, Bomi seperti baru menyadari sesuatu. Cewek itu menoleh dengan tatapan penuh selidik pada Jongup.
        “Kelab malam?” Bomi mengulangi ucapan Jongup untuk memastikan ia tidak salah dengar. Namun dengan jelas Jongup seperti menghindar untuk menjawabnya.

***

        Setelah Eun Ji benar-benar sudah berada di dalam kamarnya, Youngjae mengunci pintu. Sambil membuka kemejanya dan menyisakan sebuah kaos putih polos, Youngjae melangkah mendekat ke tempat Eun Ji berada.
        Eun Ji sendiri hanya menatap datar tanpa melakukan persiapan untuk melakukan perlawanan nantinya jika Youngjae bersikap macam-macam padanya.
        Wajah Youngjae dan Eun Ji hanya berjarak beberapa senti saja. Dan beberapa saat, keduanya tidak melakukan apa-apa selain saling melempar tatapan. Eun Ji dengan tatapan datarnya. Sementara Youngjae menatap tajam dan langsung tepat ke dalam bola mata milik Eun Ji.
        “Apa ada sesuatu yang lo mau dari gue?” Terdengar suara Eun Ji melempar pertanyaan.
        Youngjae tidak bereaksi berlebihan saat mendengarnya. Kecuali, ia semakin intens menatap Eun Ji. Jelas ucapan cewek itu cukup berpengaruh bagi Youngjae.
        “Karena nggak mungkin tau-tau lo mau nikahin gue. Padahal lo tahu kalau gue nggak hamil. Dan kalau pun gue hamil, itu pasti bukan karena lo.” Eun Ji bicara masih dengan posisi menatap Youngjae. Ia seolah-olah mencari sesuatu melalui mata cowok itu.
        Tatapan Youngjae akhirnya melemah seiring dengan desahan napas cowok itu. Youngjae juga sempat mengalihkan pandangannya dari mata Eun Ji. Sebelum akhirnya Youngjae memilih untuk membalikkan badan. Youngjae melangkah menjauhi Eun Ji. Menuju tempat tidur dan menyambar kemeja yang ia lempar ke atas sana.
        “Pernikahan kita nggak bisa dibatalin gitu aja.” Youngjae, cowok itu bicara dengan posisi membelakangi Eun Ji. “Dan setelah itu…” Youngjae sempat memberi jeda pada kalimatnya. “Kita lihat nanti aja,” tukas Youngjae akhirnya. Seperti ada sebuah beban yang tidak mungkin ia limpahkan pada Eun Ji juga.
        Eun Ji sama sekali tidak melepas pandangannya pada sosok Youngjae yang kini tampak melangkah ke arah pintu. Menginggalkan Eun Ji begitu saja di dalam kamar tersebut.
        Cewek itu masih bertahan di sana beberapa saat setelah Youngjae pergi. Eun Ji melempar pandangan hampir ke seluruh penjuru kamar Youngjae. Terbilang cukup luas dan cukup rapih untuk seorang cowok seperti Youngjae. Walau sebenarnya cowok itu tidak benar-benar merapihkan tempat tidur dan meja belajarnya. Tapi tidak ada barang yang tergeletak bukan pada tempatnya.

***

        “Loh, mas Youngjae udah pulang?” seru Zelo yang heran melihat keberadaan Youngjae di rumah. Ia sendiri juga baru saja tiba di sana sepulang dari sekolahnya.
        Youngjae tidak mengatakan apa-apa selain mengarahkan langkahnya ke dapur. Zelo sendiri juga tampak mengikuti Youngjae. Selain itu Zelo juga membawa tas plastik berisi makanan yang ia beli saat perjalanan pulang. Dan tentu saja cowok itu berniat untuk langsung memakannya. Terlihat jelas karena Zelo menuju meja makan.
        Tidak lama kemudian Youngjae bergabung dengan Zelo di meja makan setelah mengambil segelas air dingin dari dalam lemari es. Youngjae mengambil tempat tepat berseberangan dengan Zelo.
        “Tahu gitu gue juga nitip makanan Zel sama lo,” ujar Youngjae sesaat sebelum kembali menenggak minumannya.
        Zelo mendongak tanpa sempat menyentuh makanannya sedikit pun. Ia kemudian mendorong kotak makanannya di atas permukaan meja ke arah Youngjae. “Buat Mas Youngjae aja,” putus Zelo.
        Tentu Youngjae menatap heran adiknya tersebut. “Loh, kan itu punya lo, Zelo. Ya udah makan aja. Nanti gue bisa makan di luar. Sekalian mau balik juga soalnya.”
        Bukannya menarik kembali makannya, Zelo justru terdengar mendesah berat. Tak lupa Zelo semakin dalam menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi.
        “Gue nggak napsu, Mas.” Zelo, cowok itu berujar enggan. Tanpa menatap lawan bicaranya.
        Youngjae mengerutkan kening mendengar perkataan Zelo. Ia bahkan sampai menatap penuh minat. “Masalah cewek, ya?” tebak Youngjae langsung.
        Sontak Zelo melirik cepat. Dan itu menegaskan bahwa tebakan Youngjae benar-benar tepat sasaran. “Pengalaman banget, sih.”
        Youngjae justru terkekeh mendengar kekesalan Zelo atas tebakannya. “Gue kenal lo dari kecil, Zel. Dan nggak biasanya lo kayak gini. Jarang-jarang lo susah makan. Apa lagi coba kalau bukan gara-gara cewek?”
        Pikiran Zelo tiba-tiba melayang pada kejadian-kejadian yang melibatkan Jongup dan Hayoung. Mereka tampak sangat dekat. Bahkan Zelo seperti tidak memiliki celah sedikit pun diantara mereka. Hal tersebut yang membuatnya resah seperti sekarang ini.
        “Terserahlah,” tukas Zelo sambil bangkit berdiri.
        “Eh, lo mau ke mana?” tegur Youngjae karena Zelo meninggalkan meja makan. “Ini makanan lo gimana?”
        “Buat Mas Youngjae aja,” ujar Zelo tanpa memperlambat langkah sedikit pun. Ia tetap berjalan cepat menaiki anak tangga untuk menuju kamarnya. Namun saat melintasi kamar Youngjae, ia seperti menangkap sesuatu.
        Karena penasaran, Zelo bahkan sampai mengintip ke dalamnya. Terlebih pintu tidak tertutup sempurnya. Di sana Zelo menemukan sosok Eun Ji yang tampak merapihkan beberapa sudut kamar Youngjae. Zelo lalu menjauhkan badannya dari celah pintu. Ia balik badan dan kembali turun untuk menemui Youngjae yang masih di meja makan.
        “Mas! Parah banget, sih! Mentang-mentang mau nikah, masa calon istrinya udah disuruh beres-beres kamar,” ujar Zelo panjang lebar.
        Youngjae sampai tersedak makanan milik Zelo karena mendengarnya. Buru-buru cowok itu mencari air minum. Setelah reda, Youngjae melirik Zelo. “Maksud lo Eun Ji?”
        Zelo berdecak malas. “Emang mau nikahin berapa cewek, sih?”
        Kali ini Youngjae tidak bicara apa-apa lagi selain langsung bangkit dan melesat pergi dari sana. Ia membuka pintu kamarnya dengan gerakan cepat. Dan tepat saat Eun Ji baru saja menghempaskan tubuhnya ke atas tempat tidur.
        Melihat kedatangan Youngjae, Eun Ji langsung menegakkan tubuhnya lagi. “Kirain lo udah berangkat.”
        Youngjae tidak langsung merespon. Karena tatapannya kini mengedar ke beberapa sudut kamar. Memastikan bahwa memang terjadi sedikit perubahan di sana. Meja belajarnya jauh lebih rapih. Begitu pula dengan tempat tidur.
        Eun Ji lalu terlihat bangkit karena melihat Youngjae yang tidak bereaksi apa-apa. “Ini gue juga udah mau balik kok, Young.” Tanpa menunggu respon apa pun dari Youngjae, Eun Ji beringsut menuju pintu.
        Zelo dan Youngjae hanya menatap pergerakan Eun Ji. Lalu setelah Zelo menyusul Eun Ji, Youngjae juga tampak mengikuti.
        “Eh, siapa yang lagi makan, tuh?” seru Eun Ji sedikit penasaran melihat makanan yang belum habis di atas meja. Saat menoleh ke belakang, ia mendapati Youngjae dan Zelo saling menunjuk. Eun Ji tampak tersenyum kaku. “Kayaknya gue lebih percaya Zelo.”
        Youngjae melempar tatapan membunuh pada Zelo karena mendengar kekekah tertahan. Dan bisa dipastikan itu perbuatan Zelo.
        “Lo baru pulang sekolah kan, Zel?” tanya Eun Ji meski hanya memastikan karena Zelo sendiri memang masih mengenakan seragam sekolahnya. “Berarti belum makan, dong? Gimana kalau makan siang sama gue?”
        Tanpa pikir panjang, tentu Zelo langsung mengangguk dengan penuh semangat. Membuat Youngjae meliriknya dengan tatapan yang sulit diartikan.

***

        “Jongup pulang ya, Mas.” Jongup berbisik ke samping Himchan yang duduk di sampingnya.
        “Mau ngapain, sih? Udah deh di sini dulu aja,” tolak Himchan. “Mas Yongguk aja belum dateng.”
        Jongup hanya mendengus kesal mendengar Himchan melarangnya untuk pulang. Sementara di sana, Bomi sedang menyuapi makanan pada G.Na yang sakit. Jongup sempat melirik ke tempat Himchan berada. Kakaknya itu terlihat sama sekali tidak melepaskan tatapannya pada Bomi.
        Dengan jahilnya, Jongup sedikit mendekatkan wajahnya ke arah Himchan. “Berarti besok Jongup bebas tugas Fisika, ya?” bisiknya.
        “Hmm…” Himchan hanya bergumam. Namun dari nadanya, secara tidak langsung ia meluruskan permintaan Jongup. Tapi sedetik kemudian, Himchan melirik tegas pada Jongup yang terlihat sedang menahan tawanya.
        Himchan lalu berdiri. “Ya udah ayo pulang.”
        Mendengar suara Himchan tersebut, Bomi dan G.Na tampak menoleh penuh minat. Sementara Jongup juga sampai terkejut dengan reaksi Himchan.
        “Ikh, apaan sih? Jongup aja yang pulang. Mas Himchan tetep di sini nemenin Mba Bomi sama ibu.” Merasa tidak ada respon dari Himchan, Jongup lalu menatap G.Na seakan meminta pembelaan. “Jongup belum ngerjain tugas pelajarannya Mas Himchan.”
        “Oh, ya udah kalian pulang aja.”
        “Jangan,” G.Na menolak tegas ucapan Bomi tadi. “Jongup pulang sendiri aja. Biar Himchan nanti nemenin kamu.”
        “Setuju, Bu!” Jongup berseru semangat. Ia bahkan sampai berdiri. Lalu setelah menyambar jaketnya, Jongup mendekat ke tempat G.Na berbaring. Mengecup singkat pipi ibunya. “Cepet sembuh ya, Bu.”
        Belum hilang keterpakuan G.Na atas perlakuan Jongup, anak bungsunya itu sudah lebih dulu melesat . Menutup pintu ruangan dari luar. Tidak hanya G.Na, tapi Himchan dan Bomi juga tercengang melihat perlakuan Jongup pada G.Na. Meski terlihat kuat, cowok itu tetap menginginkan kasih sayang dari seorang ibu.

***

        Suara hentakan hak sepatu itu terdengar jelas. Tentu sukses membuat Minhyuk menoleh di tengah ruangan kelab malamnya yang masih tutup. Karena ini memang baru sore hari. Dan kelab tersebut belum saatnya untuk buka.
        Seorang cewek dengan mini dressnya yang cantik menghempaskan tubuh di sofa yang berseberangan dengan Minhyuk duduk saat ini. Namjoo. Namun cewek itu tidak menatap Minhyuk di sana. Entah apa yang ia lihat dengan tatapan kosong seperti itu.
        “Kenapa lo dateng ke kelab malam gue jam segini?”
        “Bisa gue minta pesenan gue?” Namjoo membalas Minhyuk dengan pertanyaan juga.
        Minhyuk hanya melirik salah satu karyawannya yang berada di balik meja bar. Mengisyaratkan sesuatu. Dan tidak lama kemudian pelayan tersebut mendekat ke tempat Minhyuk serta Namjoo dengan membawakan dua gelas minuman yang kemudian ia letakkan di atas meja.
        Tanpa pikir panjang, Namjoo mengambil gelas miliknya. Cewek itu menenggak minuman tersebut tanpa henti. Membuat Minhyuk hanya bisa membelalakkan matanya melihat kelakuan Namjoo yang sedikit aneh hari itu. Setelah habis, Namjoo meletakkan gelas dengan sedikit kasar ke permukaan meja.
        “Lo kuat banget minum sih, Nam?”
        Belum sempat pertanyaan Minhyuk terjawab, Namjoo sudah lebih dulu menyambar gelas milik Minhyuk. Tentu Minhyuk langsung bangkit dan berniat merebut kembali gelas miliknya.
        “Namjoo berhenti!” seru Minhyuk. Ia berusaha melawan Namjoo yang tidak ingin ia merebut gelas miliknya. “Namjoo!” teriak Minhyuk sekali lagi. Dan klimaksnya, gelas tersebut tidak bisa ia rebut. Tapi terlempar, lalu jatuh dan pecah di atas lantai.
        Minhyuk mendesah berat. Bukan karena melihat gelas milik kelabnya pecah. Tapi karena ia baru saja melewati detik-detik menegangkan melawan Namjoo. Kemudian ia menoleh dan mendapati cewek itu sudah terisak dengan air mata meleleh membasahi pipinya. Minhyuk lalu melangkah dan menempatkan diri di samping cewek itu.
        “Lo kenapa?” Minhyuk berujar pelan. Meski tidak terlalu dekat, tapi ia sudah cukup lama mengenal Namjoo. Dan tidak mungkin Minhyuk mengabaikan cewek itu begitu saja. Terlebih di kelab miliknya dan ia juga terlibat di sana.
        Namjoo belum ingin menjawab. Ia masih terisak dengan tangisan yang semakin terdengar memilukan. Setelah merasakan tangan Minhyuk mendarat dipundaknya, Namjoo menoleh dan menatap Minhyuk dengan matanya yang basah.
        “Apa lo mencintai Eun Ji?”
        “Lo nanya apa, sih? Jelas-jelas lo juga udah tau jawabannya.”
        Namjoo tersenyum pahit. Kali ini ia melempar tatapannya ke arah lain. “Eun Ji beruntung. Dia dicintai dengan tulus dengan seseorang. Dan dia juga akan nikah dengan pemuda baik-baik seperti Youngjae.”
        Mendengar nama Youngjae disebut, Minhyuk mendengus tak suka. “Jangan bilang lo punya perasaan ke cowok itu?” Minhyuk tidak ingin menyebut nama Youngjae dengan mulutnya sendiri.
        “Tapi sayangnya cowok itu, nggak.”
        Pernyataan Namjoo membuat Minhyuk bungkam. Membuat rasa bencinya pada Youngjae semakin besar. Selain telah merebut seseorang yang dicintainya, Youngjae juga membuat cewek di hadapan Minhyuk tersebut patah hati.
        Beberapa saat, suasana hening menguasai mereka. Namjoo sendiri juga masih terisak di sana.

***