Minggu, 13 Mei 2018

Behind The Night




Author         : N-Annisa [@nniissaa11]
Cast              : Ko Hojung, Park Dan-A, Park Sejun, Hong Eunji
Genre           : romance
Lenght         : one shoot

***

            Suara deru mesin motor saling bersautan, diiringin debu yang terkena hempasan ban yang menggesek tanah merah. Cowok bernomor urut 11 itu tanpa ampun melibas tanah yang dilaluinya. Konsentrasinya harus terpecah antara balapan dan kehidupan pribadinya. Baru malam tadi ia berpisah dengan kekasihnya yang sudah ia pacari lebih dari 5 tahun. Lantaran orang tua Eunji tidak merestui mereka.
            Suasana riuh terdengar setelah Hojung berhasil mencapai finish di urutan pertama. Namun sesuatu yang tidak diinginkan terjadi. Motor yang dikendarai Hojung hilang kendali. Hojung masih melaju kencang sampai akhirnya Hojung terpaksa melompat dan membiarkan motornya tanpa kemudi sampai akhirnya berhenti karena menabrak sebuah pohon besar. Sementara Hojung sendiri mengalami sedikit cedera pada kaki dan pergelangan tangan. Dengan sigap, tim medis langsung mengurus Hojung agar segera mendapatkan perawatan.
            Setelah mendapatkan perawatan selama seminggu, hasil pahitpun didapatkan Hojung. Kecelakaan saat pertandingan tersebut membuat cedera lama di kakinya kembali lagi. Bahkan menjadi semakin parah. Dengan terpaksa dokterpun memvonis Hojung tidak bisa menjalani balapan lagi. Belum kelar menata hati karena hubungan percintaannya kandas, kini Hojung harus menghadapi nasibnya yang sudah tidak bisa balapan. Dan belum lagi ia masih memiliki tanggungan lain, harus membiayai kuliah adiknya, Yebin.
***
            Dunia entertainment sedang berduka setelah berita meninggalkan seorang model cantik akibat kecelakaan. Suasana kelampun masih mewarnai X entertainment, agensi tempat model cantik tersebut bernaung. Belum lagi mereka sedang mempersiapkan projek besar yang melibatkan beberapa model terkenal dari beberapa agensi.
            Sementara di salah satu sudut ruangan, seorang staf agensi –Park Dana—sedang menikmati kesendiriannya. Wanita cantik itu dipilih sepihak oleh CEO Jung untuk menggantikan model yang meninggal dunia itu sebagai model. Padahal selama ini Dana adalah perancang busana dan makeup artist di agensi tersebut. Alasannya adalah karena para model yang mereka miliki sedang full job. Belum lagi Dana sebenarnya adalah seorang model saat remaja. Namun ia memilih banting stir karena ada kejadian tidak mengenakkan saat menjadi model dulu. Ada seorang pria yang ia pergoki berada di toilet wanita yang sama dengannya. Orang itu adalah Hojung. Mantan pembalap motocross yang mengalami cedera. Mereka sebenarnya adalah sama-sama model remaja saat SMP dan berteman baik sejak kecil. Namun kini hubungan keduanya sangat renggang.
            Dana mematikan ponselnya. Sudah terlalu kesal dengan perintah seenaknya dari CEO, ditambah lagi berita tentang mantan kekasihnya, Sejun, yang kini telah resmi kembali menggandeng seorang model cantik. Banyaknya komentar dukungan dari para fans untuk Dana. Bukannya tidak menghargai cinta yang fans berikan. Hanya saja para fans justru membuka kembali luka lamanya karena Hojung. Fans justru lebih setuju jika Dana bersama Hojung karena saat remaja dulu mereka adalah pasangan model remaja yang memiliki banyak fans. Belum lagi keduanya juga sempat di pasangkan dalam sebuah film sebelum akhirnya baik Dana maupun Hojung meninggalkan dunia modeling dan memilih jalan masing-masing.
***
            Hari ini adalah hari dimana Dana kembali menjalani kehidupannya sebagai model. Semua staf dari beberapa agensi itu sudah berkumpul di stasiun. Mereka akan naik kereta menuju lokasi yang berada di pinggir kota. Model dan staff ditempatkan di gerbong berbeda. Dana siap melangkahkan kakinya untuk masuk ke pintu gerbong, namun tangan seseorang menahannya. Dengan cepat Dana menoleh.
            “Yebin?” ujar Dana.
            Tanpa menjawab, Yebin sudah lebih dulu memeluk Dana. “Eonnie jangan bersedih. Aku tidak tahu harus bagaimana menghibur kalian.”
            Dana hanya diam mendengarkan semua ucapan Yebin. Yebin adik kandung Hojung. Dana cukup akrab dengan gadis ini meski rasa bencinya terhadap Hojung sama sekali belum memudar. Namun ada yang lain dari ucapan dan nada bicara Yebin.
            “Hojung oppa tidak bisa balapan lagi. Oppa kecelakaan dan cedera kakinya kambuh. Eonnie tolong maafkan oppa-ku.” Perlahan Yebin melepaskan pelukan dan berbalik pergi. Belum sempat Dana menahannya, mata Dana menangkap sosok Sejun yang menaiki gerbong dari pintu satunya.
            Dana hanya memegangi kepalanya. Belum selesai ia mengerti maksud ucapan Yebin, kini ia justru dihadapi kenyataan lain jika Sejun terlibat projek yang sama dengannya. Dana memaksakan kakinya melangkah masuk. Tepat saat Sejun baru saja duduk di samping seorang wanita. Dana berhenti tepat di sebelah Sejun.
            “Oh, hai.” Sejun berusaha menyapa dengan ramah.
            Dana hanya menunjukkan raut wajah datar. “Ini tempatku.”
            “Lalu jika ini tempatmu, aku akan membiarkanmu duduk di sebelahku?” wanita di samping Sejun yang membalas ucapan Dana. Hong Eunji. Wanita yang Dana ketahui adalah mantan kekasih Hojung.
            Kepalanya semakin terasa sakit. Tak ingin beradu argument, Dana menebut selembar tiket di tangan Sejun dan menukarkan dengan miliknya. Kursi Sejun ternyata tepat di belakangnya. Dana langsung duduk di kursi dekat jendela sambil sesekali tetap memijat-mijat keningnya.
            “Kenapa mereka harus di sini juga.” Dana menggumam pelan sambil memejamkan mata. Ia bahkan tidak terlalu peduli saat seorang pemuda berpakaian serba hitam dengan topi, masker serta kacamata yang semuanya hitam, duduk di sampingnya.
***
            Pagi itu saat turun dari bus bersama Yebin, Hojung langsung mengenakan topi, kacamata hitam dan masker untuk menutupi sebagian wajahnya. Yebin sendiri hanya terkekeh geli melihat kelakuan kakaknya.
            “Jangan khawatir, aku akan selalu mendukung semua yang oppa lakukan. Baik sebagai pembalap, ataupun model.” Yebin menggamit manja lengan Hojung. Ia mengantar kakaknya sampai di stasiun.
Saat Hojung mendekati staf agensi tempat Dana bekerja, Yebin justru melangkah ke arah lain. Setelah urusannya selesai, Hojung baru sadar jika Yebin tidak membuntutinya lagi. Namun kekhawatirannya segera sirna begitu ia mendapati sosok Yebin berjalan kearahnya. Namun fokusnya justru pada seseorang yang berada di belakang Yebin.
“Dana?”
Yebin mengangguk meski sebenarnya Hojung bicara sendiri.
“Semoga kalian segera baikan, oke?” Tanpa mempedulikan sikap Hojung, Yebin lebih memilih segera meninggalkan Hojung.
Hojung sendiri langsung naik ke atas kereta. Ia bahkan sempat menyaksikan bagaimana sikap Eunji terhadap Dana tadi. Namun raut wajah Eunji berubah saat menyadari siapa sosok yang berdiri di belakang Dana tersebut meski Hojung melakukan penyamaran. Sejun yang bingung, jelas menuntut penjelasan dari Eunji. Sementara Hojung lebih memilih tidak mempedulikan keduanya dan duduk di samping Dana.
 Di balik kacamata hitamnya, Hojung sama sekali tidak melepaskan pandangan terhadap Dana. Dana mungkin tidak memiliki tubuh yang tinggi seperti Eunji, namun wajah polosnya mampu menyihir Hojung untuk tidak berpaling ke arah lain. Sudah beberapa tahun mereka tidak berada dalam jarak dekat seperti ini meski Dana berhubungan baik dengan adiknya, Yebin. Keduanya lebih memilih saling menghindar jika tidak sengaja bertemu. Hojung sengaja melepaskan kacamata hitamnya, namun tak sedikitpun melepaskan tatapan terhadap Dana.
Dana membuka matanya sesaat hanya untuk memastikan siapa yang menjadi teman seperjalanannya selama di kereta. Dana justru melebarkan matanya, menatap Hojung tidak percaya. Terlebih Dana juga teringat perkataan Yebin sebelum ini.
Rasa penasarannya terhadap keberadaan Hojung di sana terkalahkan dengan rasa khawatirnya. Dana meraih pergelangan tangan kiri Hojung. Ia menemukan tangan Hojung dibalut perban coklat. Dana bahkan tidak mempedulikan Hojung meringis karena kesakitan.
Sementara di kursi depan mereka, Eunji tampak khawatir setelah mendengar jeritan Hojung. Namun ia tidak bisa melakukan apa-apa karena tatapan Sejun yang seakan menguncinya. Eunji tidak bisa berkutik dan hanya berpura-pura tidak terjadi apa-apa dengannya.
***
            Dana turun dari kereta, kemudian mengambil kopernya yang tadi berada di gerbong barang. Hojung sengaja terus mengekor Dana. Hanya memperhatikan Dana yang sedikit kerepotan karena membawa koper dan ransel. Karena Hojung yakin mungkin tidak akan menerima bantuannya.
            Seluruh staf dan model berkumpul di satu titik sebelum akhirnya melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki menuju penginapan. Dana baru menyadari jika Hojung selalu dibelakangnya. Dengan sengaja gadis itu berhenti dan berbalik dengan tatapan tajam untuk Hojung.
            “Kenapa tidak bergabung dengan yang lain?”
            “Tidak ada yang aku kenal selain dirimu.” Hojung menjawab santai.
            “Setidaknya kamu bisa bersama Sejun.”
            Hojung menunjukkan wajah tak suka saat Dana menyebut nama Sejun. Sebenarnya pemuda itulah yang membuat hubungan pertemanannya dengan Dana menjadi hancur. Namun Hojung tidak ingin Dana tau sekarang sebelum ada bukti yang jelas. “Aku tidak sudi mengenalnya.” Hojung sedikit mempercepat langkahnya mendahului Dana. Namun tidak berlangsung lama. Hojung berpura-pura mengikat tali sepatunya agar Dana kembali menyusul dan ia bisa kembali mengikuti Dana dari belakang.
            Setelah sampai di penginapan dan pembagian kamar, seluruh orang yang terlibat hanya diijinkan membawa sebagian barang untuk keperluan projek. Mereka akan sedikit masuk ke dalam hutan dan sampai di tepi bukit. Begitu sampai, ternyata sudah ada staf lain yang menyiapkan tenda. Sebelumnya tiap agensi dibagi dalam beberapa kelompok kecil.
            “Aku berada satu agensi denganmu.” Hojung menjawab tatapan sinis Dana bahkan sebelum gadis itu melempari pertanyaan karena Hojung tidak pernah terlepas darinya.
            “Ah, kenapa kita harus satu kelompok dengan agensinya Dana?”
            Hojung menoleh saat mendengar suara Eunji mengeluh. Dilihatnya Sejun seperti sedang memberikan dukungan terhadap Eunji. Mereka terlihat sangat dekat dan akrab. Namun saat menoleh ke tempat Dana, gadis itu justru sangat tidak mempedulikan keberadaan Eunji dan sibuk sendiri dengan ponselnya.
***
            Sudah hampir siang mereka baru tiba di lokasi, tidak jauh dari sungai kecil yang airnya jernih. Tidak jauh dari sana, dibangun tenda tenda untuk istirahat atau bermalam jika pekerjaan belum selesai. Kembali, mereka dibagi beberapa kelompok untuk menempati tenda. Karena model yang terlibat hanya 4 orang, jelas saja Dana berada satu tenda dengan Eunji. Sejun tampak bergabung dengan staf lain, sementara Hojung lebih memilih meletakkan barang bawaannya di tikar yang digelar di bawah pohon besar.
            Salah seorang staf menghampiri Hojung sambil memberikan pakaian dan sekotak makan siang. Hojung hanya mengangguk sopan sambil tersenyum saat menerima barang pemberian staf.
            Saat Hojung hampir menyelesaikan makan siangnya, Dana tampak memunculkan diri dari dalam tenda. Gadis itu bahkan sudah berganti pakaian. Gaun panjang berwarna putih dengan ornament biru muda di beberapa tempan membuat Dana terlihat sangat mempesona. Dana duduk di sebuah kursi untuk diberi makeup pada wajahnya. Saat beberapa staf berlalu lalang didepannya, Hojung berusaha mencari celah agar tidak kehilangan moment untuk melihat Dana. Sampai akhirnya, salah seorang staf menegur Hojung untuk segera mengganti pakaiannya. Hojung hanya tersenyum canggung. Sedikit malu mendapati dirinya kepergok seperti itu. Namun beruntung Dana tidak menyadari apa yang terjadi terhadap Hojung.
            Karena tidak tahu harus berganti pakaian di mana, Hojung seenaknya melepaskan pakaian. Membuat badannya yang atletis menjadi tontonan gratis para staf, terutama bagi staf perempuan di sana. Hojung tidak mempedulikannya, ia terus berganti pakaiannya dengan jas berwarna putih. Tampak serasi dengan yang dikenakan Dana. Ada oranamen biru muda juga di beberapa bagian tertentunya.
            Dengan terpaksa Dana menggamit lengan Hojung saat mereka akan menuju lokasi pemotretan di tepi sungai dengan air yang jernih. Rambut Hojungpun tampak sudah tertata rapih. Berbeda dengan penampilannya sebelum ini. Set lokasipun dibuat seperti tengah berada pada musim salju.
            “Sudah lama aku tidak berfoto seperti ini. Mungkin terasa sedikit mudah karena yang menjadi pasanganku adalah dirimu.”
            Dana tampak sibuk merapihkan pakaiannya, tanpa melirik Hojung sedikitpun. “Harusnya kamu berpasangan saja dengan Eunji.”
            “Kenapa? Agar kamu bisa berpasangan dengan Sejun?” Hojung melemparkan pertanyaan pada Dana yang kini melihat ke arah Eunji yang sedang berfoto dengan Sejun di titik lokasi yang sedikit berjauhan. Eunji tampak elegan dengan gaun berwarna hijaunya. “Aku tidak akan membiarkan itu terjadi.” Hojung berdiri semakin dekat dengan Dana karena sebenarnya pemotretan akan segera dimulai.
            Dana menoleh dan mendapati tatapan Hojung tidak pernah terlepas pada dirinya. Dana tersenyum meremehkan. “Bukankah harusnya kamu tidak membiarkan Eunji dan Sejun…” Ucapan Dana terputus karena Hojung mendekatkan wajahnya. Namun sialnya Dana tidak bisa menghindar karena mereka sudah berada dalam pemotretan.
            Hojung membenarkan letak rambut Dana yang sedikit berkibar karena hembusan angin. “Aku sudah tidak peduli dengan Eunji.”
            “Kenapa? Karena kamu tidak berhasil melihat ba…”
            Hojung menarik pinggang Dana hingga membuat kalimat gadis itu kembali terputus. Tatapannya tajam menusuk ke dalam mata Dana. Jelas dia cukup marah dengan arah ucapan Dana. Hojung berusaha meredam amarahnya, namun belum berhasil.
            “Lalu apa yang kau inginkan dari laki-laki yang secara tidak langsung melecehkanmu itu?”
            “Laki-laki seperti apa yang kamu maksud? Seperti kamu?”
            Dengan gerakan sedikit kasar, Hojung memutar badan Dana hingga kini ia berhasil memeluk Dana dari belakang. Jelas terasa gerakan Dana seakan meminta Hojung untuk melepaskannya. Namun bisa dipastikan tenaga Hojung jauh lebih kuat. Dana tidak bisa berkutik dalam pelukannya.
            “Sekeras apapun aku berusaha menjelaskan bahwa bukan aku yang melakukan itu. Bukan aku yang mengintipmu saat berganti pakaian. Kamu tidak akan percaya apapun yang aku katakan.” Hojung bicara tepat di samping telinga Dana. Bisa dipastikan hanya gadis itu yang mendengarnya. “Kalau begitu kenapa tidak diteruskan saja. Apa yang akan kamu lakukan terhadap laki-laki seperti aku?” tangan Hojung sudah melingkar kuat di pinggang Dana. “Laki-laki yang kamu pikir sudah melihat tubuhmu itu. Menikah dengannya?”
            Dana terdiam. Darahnya terasa mendidih seakan dipermainkann. Setelah itu tidak ada yang bicara lagi karena Dana harus berganti Pakaian berikutnya. Sebuah gaun berwarna mint dan putih. Kali ini mereka akan turun ke sungai. Hojung berpose dengan membuka jasnya dan dia sampirkan di pundak. Sementara Dana bersandar di punggung Hojung. Bahkan tanpa sadar kini giliran tangan Dana yang melingkar di pinggang Hojung. Entah apa yang ia pikirkan. Rasanya Dana justru seperti tidak ingin berjauhan dengan Hojung. Apakah yang diucapkan laki-laki itu ada jalan keluar terbaik. Toh semisalkan mereka menikah, Hojung tetap akan bisa melihat tubuh Dana. Tidak perlu dengan bersembunyi. Saat mendapati Sejun melintas bersama Eunji, Dana justru semakin mengeratkan pelukannya terhadap Hojung. Sejujurnya Dana selalu mendengar cerita tidak bagus dari Yebin tentang Eunji. Rasanya puas melihat Eunji melihatnya dengan tatapan tidak suka. Ia berniat menceritakan hal tersebut pada Yebin. Karena Eunji jelas terlihat cemburu, namun harus ia tahan karena kini Eunji sudah bersama Sejun.
            Hojung sedikit menoleh kebelakang dan berbisik. “Apa kau ingin membuat Sejun cemburu?” Hojung menarik lengan Dana yang masih melilit pinggangnya. Membuat semakin tidak ada celah diantara mereka berdua.
***
            Pemotretan belum berakhir. Setelah makan malam, Dana dan Hojung kembali berganti pakaian. Projek ini harus segera diselesaikan. Karena besok masih banyak kostum-kostum yang mengantri untuk digunakan. Thema kali ini didominasi warna silver berpadu biru muda. Dana juga menggunakan riasan wajah yang sedikit rumit, ditambah mahkota Kristal menghiasi rambut panjangnya yang dibuat bergelombang. Lokasi yang mereka gunakan saat ini adalah lahan terbuka dengan latar belakang langit penuh bintang. Lampu kelap-kelippun menjadi hiasan penunjang untuk pemotretan.
            “Fans mereka pasti mengira keduanya melakukan pemotretan untuk pre-wedding.” Terdengar gurauan dari salah satu photographer kepada salah seorang staf.
            Namun Dana dan Hojung ternyata mendengar candaan dari photographer tersebut yang sukses membuat pipi keduanya terasa panas. Hojung dan Dana melakukan beberapa pose sesuai dengan arahan staf dan photographer. Setelah hampir satu jam, pemotretanpun berakhir. Sebagian staf sibuk membereskan semua perlengkapan yang dipakai. Beberapa sisanya kembali ke perkemahan.
            Setelah berganti pakaian, Hojung tampak sedikit berkeliling. Suasana perkemahanpun mulai sedikit sepi karena memang hari juga mulai beranjak malam. Namun masih ada satu lampu menyala dan menyorot ke arah sungai yang memang berada tidak jauh di samping perkemahan.
Hojung melangkah ke tepi sungai tempat Dana berada seorang diri. Gadis itu sedang membersihkan wajahnya dari makeup. Hojung berjongkok tepat di samping Dana, lalu mengambil air menggunakan tangan dan membasuh wajahnya.
“Waaah, segarnya.”
Dana tidak terlalu merespon keberadaan Hojung. Gadis itu kini tampak sedang mengeringkan wajah menggunakan handuk. Kemudian Dana membereskan peralatannya untuk mencuci muka sebelum akhirnya ia berdiri dan bersiap kembali ke perkemahan.
Mata Hojung mengikuti arah gerakan Dana yang berdiri dan bersiap meninggalkan sungai. “Sepertinya kita tidak kebagian jatah tenda.”
Dana menoleh dan mendapati Hojung masih bermain-main dengan air sungai yang jernih. “Oh, Sejun mengusirmu? Baiklah aku akan coba tanyakan staf lain agar menyiapkan tenda lain untukmu.” Cepat-cepat Dana kembali berbalik dan meneruskan langkah. Namun Hojung tak kalah cepat dengan mengejar Dana dan menahan tangan gadis itu saat telah tiba di sekitar perkemahan.
“Bukan itu maksudku. Tapi..” Hojung tidak melanjutkan ucapannya karena baik dirinya maupun Dana kini terpaku karena melihat ransel milik Dana justru berada di luar tenda. “Tapi kita sama-sama terusir.” Sejenak tidak ada yang bersuara membuat suasanya semakin sangat hening.
Dana hanya menghembuskan napas dengan keras. Belum lagi ia dan Hojung juga menemukan sepasang sepatu laki-laki di depan tenda yang seharusnya ditempati Dana bersama Eunji. Sedetik kemudian gadis itu sudah menyambar ranselnya dan membawanya ke tikar yang berada di bawah pohon, tempat Hojung meletakkan barang-barang miliknya.
Hojung berinisiatif untuk membakar rantin-ranting kayu yang memang sudah disediakan untuk membuat api unggun. Tidak lama, Dana mengambil tempat tepat di samping Hojung. Duduk di atas rerumputan.
            “Menurutmu apa yang membuat kita bermusuhan?” Hojung bertanya namun tetap focus pada kegiatannya membakar ranting.
            Dana terdiam.
            “Kau tidur saja. Besok kita masih banyak kegiatan hingga sore.”
            Dana bangkit, berdiri. Ia menuruti perkataan Hojung. Namun pemuda itu sama sekali tidak merubah posisinya. Entahlah, Hojung hanya merasa tidak ingin mengganggu Dana untuk sementara. Api unggun semakin membesar, membuat tubuhnya kini menjadi lebih hangat. Hojung akhirnya membalikkan badan, sambil berfikir akan tidur di mana dirinya malam ini.
            Ternyata Dana menyiapkan sleeping bag untuk Hojung tidur disebelahnya. Sementara Dana sendiri tampak sudah terlelap. Hojung melangkah mendekat, ia membuka jaketnya dan ia lebarkan di atas badan Dana yang terbungkus sleeping bag. Perlahan Hojungpun masuk ke dalam sleeping bag-nya tanpa sedikitpun melepaskan pandangannya terhadap Dana. Memastikan tidak ada yang mengganggu gadis itu. Namun langkah seseorang membuat Hojung harus mengalihkan fokusnya untuk sementara. Hojung menajamkan penglihatannya sampai wajah pemuda itu terlihat dengan jelas. Itu Sejun. Hojung duduk dengan posisi kaki sudah berada di dalam sleeping bag.  Sejunpun mengambil tempat diantara Hojung dan api unggun. Hojung memasang sikap siaga untuk menjaga Dana dari Sejun.
            Sejun tersenyum penuh arti. “Tidak perlu bersikap seperti itu. Atau karena aku merebut Eunji darimu?”
            Giliran Hojung yang mendapat kesempatan menunjukkan senyumannya yang mengejek. “Aku tidak peduli dengan Eunji karena aku tidak pernah mencintai gadis itu. Lagipula, untuk apa kau ke sini? Sana kembali ke tenda kalian.” Hojung segera berbaring kembali, kali ini sambil menghadap ke arah Dana secara terang-terangan di hadapan Sejun. Pemuda itu sudah tidak peduli lagi terhadap Sejun yang juga mantan kekasih Dana.
            “Tapi kalian berpacaran sampai 5 tahun.”
            “Karena kau membuat Dana membenciku selama itu juga.” Hojung bicara tanpa melepaskan pandangannya ke wajah damai Dana yang tertidur pulas.
            Sejun melebarkan matanya menatap punggung Hojung. “Aku?”
            Hojung mengulurkan tangannya hendak menyentuh pipi Dana, sesaat tidak mempedulikan keberadaan Sejun, namun ia kurungkan niatnya tersebut. Ini bukan sedang dalam pemotretan, dimana Hojung bisa memeluk Dana dengan penuh kehangatan.
            “Atau kau ingin aku mengakuinya di depan Dana?”
            Sontak Hojung menoleh dengan cepat. “Untuk apa? Ke mana saja kau selama ini?”
            “Aku menyesal. Sejujurnya aku juga tidak sengaja melakukan itu. Karena..” Sejun memberi jeda sesaat pada kalimatnya. “Karena kau. Kau selalu membanding-bandingkan Eunji dengan Dana. Eunji pikir, apa bagusnya Dana di banding dia. Kenapa kau tidak pernah melihat Eunji sedikitpun.”
             “Karena aku tidak mencintai Eunji. Kami berpacaran juga karena Eunji yang memaksaku.” Hojung menghembuskan napas, berat. Bagaimana jika Dana ternyata mendengar semua, pikirnya. Karena ia juga tidak bisa mengusir Sejun begitu saja hanya karena merasa terpojok.
            Sejun menatap tubuh Dana yang terbungkus sleeping bag. Namun fokusnya tidak di sana. “Tidak mencintai Eunji karena kau mencintai Dana, kan?”
            “Tapi Dana memebenciku.”
            “Karena diriku, kan?” Sejun sudah hampir beranjak mendekat ke Dana.
            Dengan tidak kalah sigap, Hojung bagkit untuk menghalangi Sejun. “Kembali ke tendamu bersama Eunji.” Dengan sedikit kasar, Hojung mendorong tubuh Sejun yang sedikit lebih tinggi darinya itu. “Jangan membuat Eunji salah sangka terhadapmu dan Dana. Cukup lakukan pekerjaanmu dengan benar.”
            “Sejun?”
            Dua pemuda itu ikut menoleh ke arah sumber suara. Eunji muncul dengan wajah bingung. Sejun segera berjalan mendekekati gadis itu.
            “Kenapa kau bangun? Aku hanya pergi ke toilet tadi, dan mengobrol sebentar dengan Hojung.” Sejun merangkul pundak Eunji sambil membawa gadis itu untuk berbalik dan kembali ke tenda. Setelah beberapa langkah, Sejun sempat kembali melirik Hojung sesaat, tepat saat Eunji baru saja masuk ke dalam tenda. Sejunpun menyusul kemudian.
            Hojung akhirnya bisa bernapas lega, setelah Sejun dan Eunji benar-benar menghilang dari pandangan. Pemuda itu hendak kembali membaringkan diri di samping Dana. Namun posisi Dana sudah berubah, kini gadis itu berbalik memunggungi Hojung. Hojung berbaring dan mendekatkan tubuhnya menjadi sedikit lebih rapat dari Dana.
            “Apa kamu dengar semua pembicaraanku dan Sejun?” Hojung berujar pelan. Tidak yakin Dana sebenarnya sudah tertidur pulas sejak tadi.
            Hojung menatap hampa punggung Dana yang kemudian tampak bergetar pelan. Tanpa sepenglihatan Hojung, air mata Dana mengalir. Tapi sebenarnya pemuda itu menyadari jika Dana mendengar semua. Dana hanya berpura-pura tetap tertidur agar tidak mengacaukan semuanya. Dan gadis itu menangis.
            “Menangislah sepuasmu.” Hojung melingkarkan tangannya ke tubuh Dana. Tangisan Dana membuat gadis itu tidak sanggup memberontak pelukan Hojung. “Tapi setelah ini, aku tidak akan membiarkanmu menangis karena laki-laki lain.”
***
            Dua minggu berlalu sejak projek pemotretan berakhir. Dana kembali ke aktifitas rutinnya di kantor. Sementara Hojung memilih bekerja di bengkel karena dirinya sudah tidak memiliki harapan besar untuk kembali balapan.
Namun siang ini ada pertemuan di kantor Dana. Hojung datang sedikit terlambat dan langsung mengambil tempat di samping Dana dengan tatapan penuh Tanya pada gadis itu. Dana tidak ingin menjawab. Ternyata projek yang melibatkan mereka sukses di pasaran. Banyak yang suka dengan hasil foto Dana dan Hojung. Belum lagi ada tawaran bermain film untuk Dana maupun Hojung. Sudah banyak proposal yang masuk ke kantor agensi yang menaungi mereka.
“Lihat punyamu.” Hojung menyambar paksa kertas milik Dana dan menyamakan isi kertas tersebut dengan miliknya. “Aku akan terima tawaran film ini kalau kamu juga menerimanya.” Hojung menunjuk salah satu judul film kepada Dana. Dari beberapa judul, hanya satu yang melibatkan Hojung dan Dana berpasangan dalam sebuah judul.
“Ahh.. dia hanya bergurau.” Dana menatap dengan canggung orang-orang yang juga berada di ruang rapat tersebut.
“Aku serius.” Hojung berdiri membuat semua oramg menatapnya. “Aku akan menerima film itu jika Dana juga menerimanya.” Hojung membungkuk dengan sopan ke hadapan CEO mereka.
“Kau bisa mendapatkan pengalaman bermain film dengan aktris terkenal. Hei..!” Dana sedikit berseru karena Hojung seperti mengabaikannya. Hojung memang benar-benar melangkah pergi meninggalkan ruangan.
Setelah Hojung sudah tidak terlihat, Dana justru teringat dengan Yebin. Adik-kakak tersebut sudah tidak memiliki orang tua. Hojung satu-satunya keluarga yang dimiliki Yebin. Terlebih Hojung sudah tidak bisa mendapatkan uang dari balapan. Belum lagi Hojung harus membiayai Yebin kuliah.
“Pak, saya terima tawaran untuk film tersebut.” Setelah membungkuk memberi hormat, Dana pun meninggalkan ruangan tersebut.
***
Selama beberapa bulan Dana dan Hojung terlibat dalam sebuah projek film. Mereka menghabiskan waktu bersama-sama di lokasi syuting. Mereka bahkan menjadi pasangan dalam film tersebut. Dan hari ini mereka baru saja mendaratkan kaki di Korea setelah sebulan terakhir mereka menjalani Syuting di salah satu lokasi di Jepang.
“Wah..” Dana membelalakkan mata, takjub dengan apa yang dilihat. Para fans menyambut dirinya dan Hojung. Mereka bahkan membawa poster Dana bersama Hojung saat projek pemotretan beberapa bulan lalu.
Hojung juga tampak takjub, namun fokusnya langsung teralih karena ada chat masuk dari Yebin. Saat melihat Dana sudah ingin melangkah, Hojung menarik salah satu lengan gadis itu dan mendekatkan wajah ke telinga Dana. Sontak saja pemandangan tersebut membuat para fans histeris.
“Yebin menyuruhku mengajakmu untuk bertemu. Kita pergi bersama ya.” Hojung berbisik dengan suara sedikit keras.
Dana mengangguk tanpa protes sedikitpun.
***
            Taksi yang ditumpangi Hojung dan Dana berhenti di pelataran parkir sebuah café. Mereka segera keluar dari mobil. Dana berjalan sambil menarik kopernya menyusul Hojung. Tidak ada hal aneh yang dipikirkan Dana. Kecuali tentang Yebin yang mungkin sudah menunggu di sana.
            Benar saja. Orang pertama yang menyambut kedatangan Dana dan Hojung adalah Yebin yang bahkan langsung berlari memeluk Dana serta Hojung bergantian. “Ah, aku rindu sekali pada kalian.” Yebin berujar manja sambil menggamit lengan Dana dengan manja.
            “Aku juga rindu kamu.” Dana membalas mengusap lengan Yebin.
            “Aku susah menyiapkan sesuatu untuk kalian.” Dengan semangat, Yebin menarik Dana juga Hojung di kedua tangannya. Mereka menaiki tangga menuju lantai 2 café.
            Siang itu suasana tidak terlalu ramai. Ada sebuah meja dengan 4 kursi dan sudah tersaji beberapa jenis makanan juga minuman. Namun hanya ada satu pemuda yang duduk di sana. Pemuda itupun menoleh saat menyadari kedatangan Yebin bersama Dana dan Hojung. Ia bahkan sampai berdiri menunggu ketiga orang itu tiba.
            “Oppa, eonnie, kenalkan ini Suwoong.”
            Pemuda bernama Suwoong itu mengulurkan tangan dan disambut bergantian oleh Hojung juga Dana. “Namaku Lee Suwoong.”
            “Dia pemilik café ini.”
            Suwoong memasang wajah malu karena Yebin bicara seperti itu. Semetara Hojung serta Dana menunjukkan wajah bangga mereka untuk pemuda tampan di samping Yebin tersebut.
            Kemudian mereka duduk di kursi yang sudah disediakan.  Hojung duduk berhadapan dengan Suwoong, sedangkan Dana duduk disampingnya berhadapan dengan yebin.
            “Senang akhirnya bisa bertemu kalian.” Terdengar Suwoong seperti sudah bersusah payah mengeluarkan kata-kata itu. Hojung mengangguk singkat. Sementara Dana ikut mengangguk sambil tersenyum geli melihat tingkah lucu Suwoong.
            “Yebin, sebenarnya ini ada apa? Ini juga bukan hari ulang tahun salah satu antara kita.” Hojung menunjukkan tatapan bingung pada adiknya di sela-sela makan siang mereka.
            Yebin menggeleng tegas. “Ini perayaan hari kelulusanku. Bulan depan aku wisuda.”
            “Waaah, selamat Yebin.” Dana dengan semangat memberikan selamat untuk Yebin, bahkan sampai menyalami gadis itu.
            Namun reaksi berbeda ditunjukkan oleh Hojung. Pemuda itu menatap bingung ke arah adiknya dan Dana secara bergantian. “Lulus? Kenapa tidak bilang? Dan bukankah seharusnya ada biaya tambahan untuk siding bahkan sampai wisuda?  Kamu dapat uang dari mana? Bukankah uang yang oppa kasih masih kurang? Oppa juga tidak merasa memberikan uang lebih padamu. Atau kamu memimjam pada seseorang? Pada siapa? Pemuda ini?” Hojung bicara tanpa henti. Bahkan tidak ada yang bisa menghentikannya. Terlebih saat Hojung dengan tegas menunjuk ke arah Suwoong.
            Dana menarik lembut tangan Hojung yang masih menunjuk ke arah Hojung. Hojungpun menoleh dengan tatapan luluh. “Selama ini Yebin mencari uang tambahan dengan menulis artikel bahkan cerpen di sebuah majalah.”
            “Kamu tahu itu, dan kamu tidak mengatakannya padaku?”
            Suwoong diam-diam menggenggam tangan Yebin dari bawah meja. “Aku tidak memberikan uang sepeserpun untuk biaya kuliah Yebin.”
            “Kamu dengar itu?” Dana seolah membenarkan ucapan Suwoong.
            “Oppa, aku hanya ingin sedikit meringankan bebanmu. Lagi pula pekerjaanku tidak mengganggu kuliah. Dan.. yang terpenting aku juga ingin melihat oppa bahagia.”
            “Oppamu pasti sudah sangat bahagia melihatmu seperti sekarang ini.” Dana yang mewakili Hojung karena dilihatnya pemuda di sampingnya itu seperti kehilangan kata.
            Yebin menggeleng. Dengan tegas ia menolak menyetujui ucapan Dana. Yaebin lalu membisikkan sesuatu pada Suwoong. “Oppa pasti belum mengatakan perasaannya pada Dana Eonnie sampai detik ini.”
            Suwoong menatap Yebin dengan sorot mata kecewa. “Berarti kita tidak bisa menikah dalam waktu dekat.”
            Hojung dan Dana bersamaan melebarkan mata. Nampaknya Yebin dan Suwoong sengaja melakukan hal tersebut. Dana melirik Hojung yang sedikit melamun. Jelas sangat berat melepaskan adik perempuan satu-satunya menikah.
            “Oppamu pasti mengijinkan kalian menikah lebih dulu demi kebahagiaan mu, Yebin.”
            “Bukan.” Hojung menunduk. Namun sikapnya membuat dirinya menjadi pusat perhatian sekarang ini. “Yebin benar. Aku hanya terlalu pengecut untuk memperjuangkanmu.” Hojung akhirnya mendongak dan menoleh ke tempat Dana berada. “Bahkan terlalu bodoh dengan membiarkanmu berfikir aku yang melakukan hal memalukan itu.”
            Dana sontak berdiri dengan raut wajah terkejut. Yebin dan Suwoong tidak kalah terkejut dengan reaksi Dana. Hojung berdiri, tepat ketika Dana berbalik memunggunginya.
            “Jangan ingatkan aku tentang kejadian itu!”
            Hojung merengkuh pinggang Dana tepat sebelum gadis itu sempat melangkah pergi. “Tolong jangan kembali pada Sejun. Kumohon belajarlah untuk mencintaiku.”
            Mendengar Hojung menyebut nama Sejun, Dana langsung teringat kejadian saat mereka akan kembali. Hojung memergokinya menerima chat dari Sejun. Terlebih sudah beredar luas bahwa hubungan Sejun dengan Eunji sudah berakhir. Dan karena kejadian itu, Dana dan Hojung seperti orang asing sampai akhirnya permintaan Yebin untuk bertemu mereka berdua membuat Hojung menyerah untuk bersikap demikian pada Dana.
            Hojung merenggangkan pelukannya saat dirasa Dana akan berbalik. Kini mereka saling berhadapan. “Sejun hanya berpamitan untuk pergi ke luar Negeri karena ingin melanjutkan kuliah.” Kali ini giliran Dana yang terlebih dulu mendekatkan badannya dan memeluk Hojung. “Maafkan aku. Maaf karena aku egois selama ini.”
            Suwoong dan Yebin saling melempar pandangan dan memberikan isyarat agar mereka sementara menyingkir dari sana. Membirakan Hojung dan Dana saling mengutarakan semua isi hati mereka.
            Hojung membelai rambut panjang Dana. Membiarkan gadis itu menangis hingga membasahi pakaiannya. “Maaf karena aku tidak bisa berhenti mencintaimu selama ini.”
            Tangisan Dana semakin kuat bersamaan dengan pelukannya pada Hojung yang seolah tidak akan membiarkan pemuda itu pergi. “Ku mohon jangan pergi lagi.”
            Mendengar ucapan Dana seperti itu membuat Hojung akhirnya bisa bernapas lega. Gadis yang dicintainya selama ini sudah berada dalam pelukannya. “Aku janji tidak akan pernah meninggalkanmu. Aku mencintaimu Dana.” Sesekali Hojung mengecup puncak kepala Dana. “Tapi, sepertinya bajuku sudah sangat basah.”
            Sontak Dana melepaskan pelukan dan mengongak, menatap Hojung dengan matanya yang basah. Hojung hanya tertawa melihat wajah lucu Dana. Tidak lama, Yebin dan Suwoong kembali bergabung dengan Yebin yang berhamburan memeluk Dana.
            Suwoong menepuk pelan lengan Hojung. Saat berbalik, tatapan Hojung sudah tertuju pada sebuah cincin di telapak tangan Suwoong. Dengan gerakan mata, Suwoong menyuruh Hojung untuk memberikan cincin itu pada Dana.
            “Tapi ini milikmu, kan?”
            “Iya memang ini rencananya ingin kuberikan pada Yebin. Tapi tidak apa, hyung. Lagipula, Yebin sekarang lebih berharga untukku.” Ucapan Suwoong berhasil membuat pipi Yebin bersemu merah.
            Hojung menatap Suwoong dengan ekspresi yang sulit diartikan. Rasanya seperti seorang ayah yang akan menikahkan anaknya. Meski pertama kali bertemu, Hojung yakin Suwoong bisa menjaga Yebin. Sudah saatnya Hojung melepaskan tanggung jawabnya terhadap Yebin. Karena mulai sekarang, ada satu wanita yang harus ia jaga. Yaitu Dana.
** End **