Tampilkan postingan dengan label Park Jimin (BTS). Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Park Jimin (BTS). Tampilkan semua postingan

Selasa, 08 Juli 2014

Oh My School (chapter 9)


“The Memories”

Author      : N-Annisa (@nniissaa11)
Cast          :
·        Jung Hyerim (A-Pink)
·        Kim Seok Jin (BTS)
·        Kim Himchan (BAP)
·        Jung Taekwoon (VIXX)
·        Lee Minhyuk (BtoB)
Genre       : Life school, teen romance, tragedy
Length      : Chapter

***

        “Mau tambah minuman?” tawar Seok Jin. Masih terlihat canggung akibat perlakuannya sendiri tadi pada Krystal.
        Krystal menyeruput sisa minumannya dalam gelas sambil menggeleng. Ia bahkan tak berani menoleh ke tempat Seok Jin yang berada di sampingnya.
        Cukup lama mereka kembali saling diam. Sibuk dengan pikiran masing-masing. Sampai akhirnya, Seok Jin terdengar berdeham pelan.
        “Lo udah lebih baik kan, Krys?”
        Krystal tersenyum tipis. “Berkat Kak Jin. Makasih, ya…”
        “Uhuk!” Seok Jin menepuk-nepuk dadanya. Tiba-tiba ia tersedak tanpa sebab.
        “Kak Jin nggak pa-pa?” ujar Krystal. Sementara tangannya menyodorkan gelas milik Seok Jin sendiri.
        “Makasih, Krys.” Seok Jin menerima gelas yang disodorkan Krystal. Setelah beberapa saat, cowok itu akhirnya terlihat lebih baik. Ia juga meletakkan kembali gelasnya ke atas meja. “Syukur deh kalau lo udah ngerasa lebih baik. Karena gue yakin, besok lo pasti bakal ngerasa lebih baik lagi dari sekarang.”
        Krystal menatap Seok Jin penuh arti karena ucapan cowok itu yang terasa misterius. “Emang bakal ada apa besok?”
        Seok Jin sengaja mengulur waktu untuk menjawab. “Lo pasti bakal seneng. Karena… beberapa temen-temen kita dari Destiny bakal balik ke Paradise.”
        Krystal tampak speechless. Matanya menatap Seok Jin, namun pikirannya melayang dari sana.
        “Biar gue tebak. Pasti lo ngarepin Dongwoon atau mungkin Jaehwan yang balik, kan?” tebak Seok Jin dengan nada jahilnya. Dan ia terkekeh puas saat melihat ekspresi Krystal yang justru menatapnya, tajam.

***

        Minhyuk melirik jam di tangan kanannya. Sesekali ia melempar pandangan ke ujung koridor dengan tatapan resah. “Hyerim beneran nggak balik ke sini lagi, apa?”
        “Kamu temannya Himchan?”
        Minhyuk sedikit terlonjak karena mendapat sebuah tepukan pelan di pundak dan suara seseorang bicara padanya. Buru-buru cowok itu membalikkan badan sambil berdiri dan mendapati ke dua orang tua Himchan di sana. “Iya om, tante. Saya Minhyuk.”
        “Kami ada keperluan di luar. Bisa minta tolong kamu temenin Himchan dulu? Soalnya, Yura belum datang sampai sekarang?” pinta wanita yang juga ibu kandung dari Himchan tersebut.
        Tentu Minhyuk langsung mengangguk tanpa harus pikir panjang. Setelah orang tua Himchan pergi, Minhyuk kemudian menyambar ranselnya yang tergeletak di kursi, lalu melangkah masuk ke dalam kamar tempat Himchan dirawat saat ini.
        Minhyuk menutup pintu di belakangnya dengan sangat pelan. Tidak ingin mengganggu istirahat Himchan. Minhyuk kemudian mendekat dan menghempaskan tubuh di kursi dekat tempat tidur. “Gue tenang karena ternyata lo baik-baik aja.”
        “Min!”
        Minhyuk menoleh karena Taekwoon dan Hayoung ternyata memunculkan diri di sana. “Berdua aja? Jin mana?” tanya Minhyuk, heran.
        “Jin ada urusan sama Krystal,” jawab Taekwoon saat sudah berdiri di dekat ujung tempat tidur Himchan. “Gara-gara berita pernikahan Pak Doojoon, gue yakin cewek itu pasti sakit hati,” jelasnya kemudian dengan cukup berhati-hati. Ia menyadari perubahan waut wajah Minhyuk tadi saat ia menceritakan tentang Jin dan Krystal.
        Hayoung juga sebenarnya menyadari sikap Minhyuk. Dan ia berusaha untuk mengalihkan suasana. “Kak Hyerim mana, Kak?”
        Minhyuk menoleh cepat, namun ia tak langsung menjawab. Dan itu menandakan bahwa kondisi Hyerim tidak bisa dikatakan dalam keadaan ‘aman’.

***

        Eun Ji ke luar dari dalam sebuah ruangan sambil memegangi salah satu lengannya yang terdapat sebuah plester kecil pada lipatan tangannya. Cewek itu menyeret langkah menuju kursi tempat Yura menunggunya dan Hyerim juga.
        Yura sontak berdiri dan menghampiri Eun Ji. “Kakak nggak pa-pa?” tanyanya yang khawatir karena melihat wajah Eun Ji kini tampak sedikit pucat.
        Eun Ji menghempaskan tubuhnya ke kursi tanpa berkata apa-apa. Ia bahkan tidak menjawab pertanyaan Yura tadi. Pikirannya sibuk melayang seorang diri.
        “Coba tanyakan pada orang tuamu. Saya yakin ada rahasia besar antara dirimu dan Hyerim yang belum diketahui siapa pun. Sekalian, saya akan melakukan tes DNA pada kalian berdua.”
        Eun Ji mendesah panjang. Ia lalu melirik Yura yang duduk di sampingnya. “Mungkin nggak sih kalau gue sama Hyerim itu beneran kembar?”
        “Hmm?” Yura terdengar tak siap dengan pertanyaan Eun Ji. “Hyerim itu cewek yang…” ucapannya menggantung, namun tangan Yura menunjuk ke arah sebuah pintu kamar rawat.
        “Yura? Kenapa kamu di sini?”
        Mendengar ada yang memanggil, sontak Yura menoleh cepat. Bahkan Eun Ji juga melakukan hal yang sama. Ke dua orang tua Himchan tampak berada di sana.
        “Ma, Pa, aku nyaris kecelakaan tadi. Tapi untung ada yang…”
        “Mau apa lagi kamu di sini?”
        Eun Ji menatap bingung wanita itu yang kini justru menatapnya tajam.
        “Kamu cewek yang dulu itu, kan? Kamu di sini pasti tau kondisi Himchan? Dan kamu berniat jengukin dia di sini?” tuduh ibu Himchan. “Saya nggak akan ngebiarin itu terjadi. Dan harusnya Himchan juga nggak kembali ke sekolah itu. Tapi…”
        Eun Ji tersenyum sedikit meremehkan. Ia sadar dengan siapa ia berhadapan saat ini. Dan berita tentang Hyerim waktu itu menyebar cepat. Terutama diantara orang-orang yang dekat dengan Hyerim juga Himchan. Termasuk dirinya. “Jadi, tante itu ibunya Himchan yang udah ngusir Hyerim waktu itu?”
        “Apa maksud kamu?” desis ibu Himchan tak suka. Sementara tuan Kim sontak merangkul istrinya agar bersikap lebih tenang.
        Eun Ji berdiri sambil menyambar tas dan jaketnya. “Tante salah orang. Karena saya adalah Eun Ji, bukan Hyerim.”
        Mendengar ucapan Eun Ji, ibu Himchan menatap cewek itu dari atas ke bawah. Jelas penampilan dua cewek yang memiliki kemiripan wajah tersebut memang jauh berbeda. Hyerim adalah cewek sederhana, sementara Eun Ji sangat mementingkan penampilan.
        “Anak tante nyaris menjadi korban kecelakaan kalau aja Hyerim nggak nyelametin dia.”
        Ke dua orang tua Himchan tersebut sontak melempar tatapan pada Yura. “Bener gitu?” tanya tuan Kim untuk memastikan.
        “Iya,” kata Yura, pendek. “Dan sekarang cewek itu lagi mendapat perawatan di dalam.”
        Eun Ji tampak sudah sedikit malas berada di sana. Ia lalu mendekatkan wajahnya ke arah telinga Yura. “Gue balik dulu, Ra. Agak anemia gara-gara donor darah tadi.” Eun Ji kemudian menegakkan kembali tubuhnya dan bersiap untuk berpamitan dengan orang tua Himchan. “Om, tante, saya permisi dulu.” Tanpa ingin berbasa-basi, Eun Ji membalikkan badan lalu melangkah pergi dari sana.

***

        “Him!” seru mereka kompak. Minhyuk, Taekwoon, dan Hayoung langsung mendekat ke tempat tidur untuk memastikan sendiri kondisi Himchan saat cowok itu mulai membuka matanya.
        Himchan menegakkan badannya dengan bantuan Taekwoon dan Minhyuk di ke dua sisinya. “Makasih Taek, lo udah ngebawa gue ke sini. Sama Hayoung juga,” ujar Himchan, lalu tatapannya terhenti pada sosok Minhyuk. “Oh, ada lo juga, Min? Maaf gue nggak inget.”
        Taekwoon dan Minhyuk saling melempar tatapan, bingung. Tak terkecuali dengan Hayoung. Namun tak ada yang bisa memberikan jawaban tentang kondisi Himchan.
        “Tapi…” suara Himchan kembali menarik perhatian. Belum lagi dengan reaksi keterkejutannya yang cukup menghebohkan. Himchan memeriksa hampir seluruh bagian tubuhnya. “Young, kaca!” ujarnya setengah memerintah. Hayoung sendiri tanpa sadar langsung menuruti permintaan Himchan dengan memberikan cowok itu sebuah kaca kecil yang ia ambil dari dalam ranselnya.
        Cukup lama Himchan terdiam sambil menatap pantulan wajahnya dicermin. “Nggak mungkin,” gumamnya pelan.
        “Him, lo nggak pa-pa?” tanya Taekwoon berhati-hati.
        “Berapa lama gue pingsan?”
        “Nggak sampe 2 jam.” Minhyuk yang menjawab.
        Himchan menurunkan kaca di tangannya. Sementara tatapannya mengarah pada Taekwoon, menuntut penjelasan. “Nggak mungkin luka bekas pukulan di wajah bisa ilang dalam 2 jam, kan? Ini bukan dunia Harry Potter!” Himchan berseru sedikit histeris.
        “Coba Kak Himchan cerita apa yang kakak rasain.” Hayoung berusaha mencari jawaban. Karena dapat dipastikan Minhyuk dan Taekwoon benar-benar tidak bisa menerka apa yang terjadi pada Himchan.
        Himchan tertegun sesaat. “Gue dipukulin sama orang yang nggak gue kenal di kelas.”
        Taekwoon meneguk ludahnya mendengar Himchan bercerita. Ia kembali teringat Sungjae yang muncul dengan pakaian penuh darah. Taekwoon juga sempat melirik Hayoung yang ternyata sejak tadi mengawasinya. Belum lagi ia juga sedikit merasakan kekuatan tendangan seorang Sungjae.
        “Gue sempet liat Hayoung dari luar jendela.” Kali ini Himchan tampak menoleh ke arah Hayoung untuk memastikan bahwa ingatannya tak salah.
        “Hmm… apa artinya, ingatan lo udah balik seutuhnya?” tanya Minhyuk. Terdengar ragu, namun ia memaksa diri untuk tetap menanyakan hal tersebut. Karena ucapan Himchan memang sudah mengarah ke sana.
        Himchan melempar tatapan hampir ke seluruh penjuru kamar rawatnya. Ada sebuah kalender bertulisan besar yang bisa dengan jelas ia lihat. “Jadi, selama setengah tahun lebih ini gue lupa ingatan? Termasuk tentang Hyerim, dong?”

***

        “Mau sekalian gue anter pulang nggak, Krys?” tawar Seok Jin. Ia dan Krystal baru saja ke luar dari café tadi.
        “Hmm…” Krystal cukup lama mempertimbangkan tawaran Seok Jin. Cewek itu kemudian melirik ke tempat Seok Jin. “Gue mau main ke rumah Hayoung dulu aja mungkin. Dan bakal balik agak malem. Takutnya Pak Doojoon tau-tau ada di rumah gue buat ngurusin pernikahannya.”
        Seok Jin menatap prihatin cewek di sampingnya. Ia berpikir keras untuk nasib cewek itu setelah ini. Tentu karena Seok Jin tahu Hayoung pergi dengan Taekwoon ke rumah sakit untuk menjenguk Himchan. “Lo ikut gue aja, ya!” putusnya sepihak. Seok Jin bahkan sampai menarik paksa cewek itu untuk ikut bersamanya.
        Krystal duduk diboncengan motor Seok Jin. Cewek itu tampak sedikit tegang. Belum lagi ini kali pertama dirinya berboncengan dengan ketua kelas 3 tersebut. Krystal akhirnya hanya mencengkeram ujung jaket yang dikenakan Seok Jin tanpa berbicara apa pun.
        “Hayoung lagi pergi sama Taekwoon jenguk Himchan.”
        “Apa, Kak?” seru Krystal yang tampak tidak terlalu mendengar ucapan Seok Jin. Memang karena posisi mereka saat itu adalah sudah dalam perjalanan.
        “Hayoung lagi pergi sama Taekwoon jenguk Himchan.” Seok Jin mengulangi ucapannya. “Tadi ada sedikit insiden di sekolah,” lanjutnya kemudian dengan suara yang sedikit lebih dikeraskan. “Lo mau ke rumah temen lo yang lain? Jinri, Naeun atau Namjoo gitu?”
        “Tadinya mau ke rumah Jinri, tapi kayaknya dia lagi sibuk nyiapin buat lomba cerdas cermat itu.”
        “Oh, ya udah. Lo pergi sama gue aja, ya?” ajak Seok Jin kemudian. Jelas ia tak tega jika Krystal pergi sendiri dengan kondisi seperti sekarang. Belum lagi cewek itu juga tidak ingin pulang.
        “Ke mana, Kak?” tanya Krystal memastikan.
        Seok Jin hanya tersenyum tipis tanpa sepengetahuan Krystal. Ia juga tidak berniat mengatakan apa-apa pada cewek itu.
        “Kak Jin!” jerit Krystal karena tiba-tiba Seok Jin menambah kecepatan laju motornya. Mau tidak mau, Krystal terpaksa melingkarkan tangannya di pinggang Seok Jin. Dan tidak diduga, perbuatan Krystal sukses membuat Seok Jin juga membeku.

***

        “Gue ngabarin ke mana ya tentang kondisi Hyerim?” Eun Ji sibuk mengotak-atik ponselnya. Karena tidak menemukan apa yang ia butuhkan, Eun Ji mengalihkan tatapannya ke luar jendela mobil. “Ke SMA Paradise, Pak!” ujarnya pada sang supir.
        Mobil pun melaju ke tempat yang dimaksud oleh Eun Ji. Dan cewek itu sama sekali tidak melepaskan tatapannya ke arah jendela. Eun Ji tampak menegakkan badan saat melihat cewek dan cowok berseragam SMA Paradise sedang berboncengan motor.
        “Itu Luna?” seru Eun Ji. “Pak, cegat motor itu.” Eun Ji sendiri sudah membuka jendela mobilnya. “Luna! Ji… Jin. Eh, Jimin!” teriaknya yang sukses membuat Jimin menghentikan motornya. Setelah mobil berhenti, Eun Ji melesat ke luar.
        Jimin sontak melepas helmnya dengan cepat. “Kak Hyerim? Tapi kok udah ganti baju aja? Terus rambutnya…” Jimin tidak melanjutkan ucapannya karena ia merasakan Luna turun dari boncengan motornya.
        “Eun Ji?” seru Luna yang sejak tadi tidak melepaskan tatapannya ke arah Eun Ji.
        “Iya, Lun. Gue Eun Ji. Dan gue butuh bantuan kalian. Siapa aja yang sampe sekarang masih deket sama Hyerim?”
        Jimin dan Luna sontak saling melempar tatapan. “Kak Jin, Kak Minhyuk.” Jimin yang menjawab. “Nah… Ho Seok juga,” lanjutnya. Kali ini terdengar sedikit heboh.
        Eun Ji terlihat tidak puas dengan jawaban Jimin. Dan nggak sengaja, tatapannya terhenti pada seorang cowok yang juga berseragam SMA Paradise. “Jeon!” teriaknya.
        “Jeon?” Jimin menatap Eun Ji, bingung. Ia kemudian ikut menoleh ke arah yang dimaksud Eun Ji. “Oh, maksudnya Jeon Jungkook?”
        Dikejauhan, Jungkook tampak terdiam sesaat untuk memastikan siapa orang-orang yang meneriaki namanya tersebut. Namun Jungkook akhirnya tetap melanjutkan langkah. Ia tidak akan menemukan jawaban apa pun jika tetap di sana.
“Lho, Kak Eun Ji? Sama…” Jungkook tidak melanjutkan ucapannya karena heran melihat Eun Ji bersama Luna dan Jimin.
        “Makasih ya kalian berdua,” ujar Eun Ji cepat. Ia bahkan sambil menyambar salah satu tangan Jungkook dan membawanya masuk ke dalam mobil.
        “Ada apaan sih, Kak?” Jungkook tak bisa menahan rasa penasarannya setelah mobil Eun Ji mulai berjalan.
        “Kayaknya sekolah lagi sibuk banget ya?” Eun Ji justru balik bertanya. “Abis ada kejadian apa?”
        Jungkook menghela napas, panjang. Cukup melelahkan apa yang terjadi di SMA Paradise akhir-akhir ini. “Gue ampe bingung mau cerita dari mana.” Jungkook menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Ia sudah ingin membuka mulut, namun tidak ada kata yang ke luar dari mulutnya karena melihat wajah Eun Ji yang tampak sedikit pucat.
        “Kak Eun Ji sakit?”
        Eun Ji menoleh sambil tersenyum penuh rahasia.

***

        Sedikit ketegangan justru terjadi di dalam kamar rawat Himchan. Seluruh orang yang berada di sana tidak ada yang bersuara satu pun. Sementara Taekwoon dan Hayoung berusaha saling komunikasi melalui tatapan. Namun diakhiri dengan reaksi frustasi dari Taekwoon yang tidak bisa menangkap maksud tatapan Hayoung.
        “Tolong rahasiain kondisi gue saat ini,” kata Himchan yang akhirnya memecah keheningan.
        “Jadi lo mau pura-pura tetap lagi amnesia?” seru Minhyuk.
        Himchan mengangguk cepat. “Nggak ada hal penting yang terjadi, kan? Oh, iya. Minho kenapa nggak nyusul ke sini?”
        Untuk pertanyaan tersebut, jelas Minhyung angkat tangan. Ia justru melemparkan tatapan pada Taekwoon untuk menjawabnya.
        “Hmm… sebenernya, banyak yang udah terjadi di Paradise,” tukas Taekwoon akhirnya. Secara bergiliran, Hayoung dan Minhyuk melengkapi setiap penjelasan Taekwoon. Mulai tentang kondisi SMA Paradise, hingga apa yang telah terjadi setelah Himchan kembali ke sekolah tersebut. Termasuk juga cerita tentang Minho serta Sungjae.

***

        Pagi itu keramaian terjadi di halaman SMA Paradise. Pemandangan yang sudah lama tidak terlihat, akhirnya kembali mewarnai sebagian besar area parkiran. Mobil-mobil mewah tampak berjejer rapih di sana. Dan hampir seluruh penghuni mobil yang muncul adalah menggunakan seragam SMA Destiny.
        Sementara di titik berbeda, siswa yang memang masih menjadi siswa SMA Paradise tampak berkumpul. Kelas 2 dan kelas 3 membaur menjadi 1. Ke dua kubu belum ada yang beranjak menuju gedung sekolah. Tampak masih menunggu teman-teman mereka yang lain. Mungkin karena hari ini lain, dan tidak seperti hari biasanya.
        Di antara siswa berseragam SMA Destiny, hanya Yuri yang berdiri mengarah ke belakang. Dan Hackyeon hanya menatapnya khawatir tanpa berkata apa-apa. Ia yakin, cewek itu menyembunyikan sesuatu. Namun Hackyeon belum ingin mengusiknya.
        “Kayaknya lo nyantai banget ya pindah ke sini lagi?” cibir Yoona secara terang-terangan pada Yuri. “Pasti dalam hati lo seneng karena bisa ngeliat Taekwoon. Cuma lo pendam aja karena ada Hackyeon di sini,” lanjutnya. Sempat melirik kesal ke arah Hackyeon.
        “Gue rasa untuk masalah Taekwoon, itu urusan gue sama Yuri.” Hackyeon bicara dengan nada dingin. Kemudian ia melirik Yoona, datar. “Mending lo awasin Gikwang. Takut dia masih ngelirik Chorong. Oiya, Naeun juga masih sekolah di sini, kan?” balasnya.
        Sontak Yoona menatap Hackyeon tak bersahabat. Sementara Yuri sama sekali tak berniat ikut campur sedikit pun dengan perdebatan mereka.
        “Eh, itu mobilnya Minho kan ya?”
        Kemudian, kehebohan sedikit terjadi. Yoona dan Hackyeon sontak menoleh. Namun tidak untuk Yuri. Tepat saat sebuah mobil mewah melintas dan terparkir bergabung dengan mobil-mobil yang lainnya.

***

        Seok Jin baru bergabung ke dalam gerombolan SMA Paradise. Ia terlihat datang bersama Kibum, Jinki, juga Ho Seok dan Youngjae. Seok Jin menghampiri Hayoung yang berdiri bersama Jinri.
        “Taekwoon belum dateng?” ujar Seok Jin pelan.
        Hayoung melirik jam tangannya. “Udah,” ujarnya pendek. Lalu ia menatap Seok Jin. Dengan tatapan seolah hanya mereka yang mengetahui kebiasaan tentang Taekwoon. “Tapi nggak lewan pintu depan.”
        Seok Jin sontak terkekeh mendengar jawaban Hayoung. Ia teringat saat diajak memanjat pagar belakang sekolah. “Nggak lagi-lagi deh gue ngikutin kebiasaan gilanya si Taekwoon.”
        “Oiya, gimana keadaan Kak Himchan kemarin?” Jinri terdengar mengajukan pertanyaan.
        Mendengar itu, Seok Jin juga menatap Hayoung penuh minat. Tentu ia tertarik dengan pertanyaan Jinri dan sama ingin tahunya seperti cewek itu.
        Hayoung tampak menegakkan badan. Menggerak-gerakkan bola matanya, menggambarkan kepanikan. “Hmm… kemarin sih…” cewek itu tidak melanjutkan ucapannya karena kedatangan sebuah mobil yang menarik perhatian.
        Mobil mewah yang terparkir berjejeran dengan mobil-mobil milik siswa dari SMA Destiny. Hayoung sempat melirik Seok Jin yang menatap penuh minat ke arah mobil tersebut. Mau tidak mau, cewek itu juga menatap ke tempat mobil tadi berada. Ikut merasa penasaran. Terutama saat sang pengendara tampak membuka pintu mobil. Warna celana yang terlihat mencolok—siswa SMA Paradise berwarna hitam, sementara SMA Destiny berwarna kecoklatan—hingga membuat beberapa orang menahan napas, penasaran.
        Cowok tinggi itu menampakkan diri dengan seragam milik SMA Paradise. Ia menutup pintu mobil sambil melempar senyuman kebeberapa siswa yang berada di dekatnya. Dan kebetulan yang berada disekitar sana adalah siswa berseragam SMA Destiny.
        “Apa besok kita harus pakai seragam itu juga?”
        Yoona melirik kesal ke tempat Hackyeon berada. Jelas, ia menolak ucapan cowok itu. “Jangan bercanda, Hack!”
        Yuri akhirnya menoleh karena merasakan suasana aneh di sana. Sedikit terasa sunyi, namun suara bisik-bisik para siswa di sana cukup jelas terdengar.
“Itu Minho?” Yuri bergumam. Sedikit tidak mempercayai penglihatannya.

***

        TAP!!
        Sepasang sepatu mendarat mulus di atas rumput halaman belakang SMA Paradise. Cowok itu melirik jam di tangannya karena merasa suasana yang sangat terasa sepi. “Gue kecepetan ya?”
        Cowok tinggi itu menegakkan badan. Melempar tatapan ke sekitar. Belum bisa menemukan kejanggalan di sana, Taekwoon memilih melangkah menuju gedung yang berada paling dekat dengan tempatnya berada sekarang.
        Taekwoon menatap ke dalam jendela kelas yang tampak masih kosong dari luar gedung. “Pada ke mana nih anak-anak?” Cowok itu menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal. Bingung dengan keadaan yang terjadi. Taekwoon akhirnya berinisiatif mengeluarkan ponsel untuk menghubungi salah satu teman sekelasnya, mungkin.
        BRAAK!!
        “Akh!” Taekwoon tanpa sadar melepaskan ponselnya hingga terjun bebas ke lantai. Akibat suara benturan keras yang berasal dari dalam kelas.
Taekwoon tak langsung memungut ponselnya. Namun ia sedikit merunduk karena seseorang tampak memasuki kelas tersebut. “Pak Junhyung?” gumamnya pelan.
        “Gue tahu itu memang musibah! Tapi kenapa Paradise juga terlibat buat nampung mereka! Belum lagi Minho juga termasuk yang balik ke sini! Dan semua rencana gagal total!”
        Taekwoon sampai membekap mulutnya mendengar penuturan keras dari Junhyung tersebut. Salah satu guru tampan tersebut tampak berbicara dengan seseorang melalui telepon.
        “Sungjae udah tahu, tapi dia sama sekali nggak peduli dengan rencana ini. Dia punya misi sendiri di sini. Masalah cewek!”
        “Eun Ji,” Taekwoon bergumam pelan. Cowok tinggi itu merunduk kembali hingga bawah jendela. Kemudian ia memungut ponselnya yang ternyata terhubung dengan nomor milik Seok Jin. Belum lagi panggilan masih berjalan dan sudah terlewat sampai beberapa menit.
        “Oke, gue bakal pastiin Minho masih amnesia.”
        Taekwoon masih membeku di sana. Ia juga belum mematikan sambungannya dengan Seok Jin. Hanya menatap layar ponselnya. Tidak ada suara apa pun yang terdengar dari dalam ponsel. Dan Taekwoon bisa bernapas lega saat mendengar tanda-tanda Junhyung meninggalkan kelas tersebut.
        Taekwoon mendekatkan ponselnya ke telinga. “Lo di mana, Jin?”

***

        “Ada apaan sih, Kak?” tegur Hayoung yang curiga dengan perubahan sikap Seok Jin.
        Seok Jin hanya mengangkat tangan tanpa ingin mengatakan  apa pun. Ia kemudian melangkah ke luar rombongan. Di sisi lain, Minho juga berjalan ke arah yang bersamaan dengan Seok Jin. Namun sepertinya Seok Jin tidak terlalu menghiraukan keberadaan Minho dengan seragam Paradise yang dikenakannya.
        “Jiiinnn!” Taekwoon teriak histeris sambil berlari. Fokus cowok itu hanya pada Seok Jin. Dan akhirnya… BRUKK!!
        “Akh, Taek!” Minho meringis karena tertabrak tubuh Taekwoon. Bukan hanya itu, Taekwoon bahkan sampai menindihnya.
        “Ya ampun, Taek… lo apa-apaan, sih?” seru Seok Jin yang sudah mengulurkan tangannya. Berniat membantu Taekwoon juga Minho untuk berdiri.
        Hampir seluruh siswa di sana sontak menghampiri lokasi insiden antara Minho dengan Taekwoon.
        “Sorry, Min!” seru Taekwoon, menyesal.
        “Nggak pa-pa, Taek.” Minho menepuk-nepuk celananya untuk menghilangkan kotoran.
        Di tempatnya berada, Gyuri tampak menyenggol-nyenggol lengan Chaerin. Memberi tanda tentang keberadaan Seok Jin juga Taekwoon di sana. “Itu OB ganteng yang kemarin.”
        Chaerin hanya melirik sekilas. Berusaha tidak terpengaruh dengan ucapan Gyuri. Jika Seok Jin dan Taekwoon memang OB, tentu cewek itu tidak ingin ada yang tahu jika ia ‘mengagumi’ ketampanan dua cowok itu.
        “Mereka bukan OB,” desis Yuri yang kebetulan berada tidak terlalu jauh dari tempat Chaerin dan Gyuri. Ada rasa tidak suka saat dua temannya mengatakan demikian, baik untuk Seok Jin atau pun Taekwoon. Yuri yang menyadari Hackyeon mengawasinya, lebih memilih menghindari tatapan cowok itu dengan balik badan dan menyeruak ke luar dari kerumunan.

***

        Jungkook terkekeh kecil melihat seorang cewek berseragam SMA Paradise, mengintip ke dalam gerbang sekolah tersebut. Ia mengenal jelas siapa cewek itu.
        “Ayo buruan masuk,” ujar Jungkook yang dengan jahilnya menggamit lengan cewek itu dan menyeretnya untuk masuk bersama.
        “Jung! Jeon Jungkook!” protes Eun Ji. Namun ia juga tidak berniat melepaskan diri dari cengkeraman kuat adik kelasnya tersebut. “Gue takut, Jung.”
        “Kalau takut, kenapa kemarin minta?”
        Eun Ji tidak bisa membalas ucapan cowok itu. “Tunggu…!”
        Jungkook sontak tertarik ke belakang karena Eun Ji berhenti tiba-tiba. Beruntung ia masih bisa mengimbangi tubuh hingga tidak sampai terjatuh. Namun… BRUUKK!!
        “Sorry…!”
        Eun Ji dan Jungkook sontak berbalik dan mendapati tubuh tinggi Himchan di sana.
        “Him… Chan…” Eun Ji menjadi yang paling terperangah. Karena ini pertama kalinya ia melihat Himchan kembali.
        “Lo nggak bareng Minhyuk atau si Jin, Rim?” tanya Himchan polos. Namun diam-diam, ia mencurigai Eun Ji yang ia sangka sebagai Hyerim. Jelas tetap ada yang berbeda dari cewek itu meski Eun Ji sudah berusaha berpenampilan sama persis dengan Hyerim.
        “Kita baru aja nyampe, Kak.” Jungkook yang menjawab.
        “Ayo masuk,” ajak Himchan kemudian. Ia bahkan tidak sungkan untuk merangkul Jungkook dan Eun Ji di kedua sisinya. “Waah… masih pada di luar.”
        “Anak SMA Destiny juga udah pada dateng,” seru Jungkook.

***

        “Ayo masuk kelas. Sebentar lagi bel.” Minhyuk tampak mengingatkan sambil menepuk pundak Seok Jin. Kemudian, satu-persatu siswa SMA Paradise mulai meninggalkan lapangan.
        Cheondung tampak sengaja menghampiri Minho untuk mengajaknya masuk bersama. Di sisi lain, Taekwoon juga terlihat mengulurkan salah satu tangannya yang kemudian disambut oleh Hayoung.
        Hackyeon yang melihat kejadian antara Taekwoon dan Hayoung, sontak membuatnya teringat Yuri. Ia tidak langsung menghampiri ceweknya itu tadi. Hackyeon kemudian mulai mencari Yuri yang justru lebih memilih ke arah berbeda dari teman-temannya yang lain.
        Yuri menghentikan langkah karena berpapasan dengan Jungkook, Himchan dan Eun Ji. Namun tatapan cewek itu justru tertuju pada sesuatu di belakang ketiganya.
        Hackyeon yang tadi mengejar Yuri, sama terlihat terkejutnya. “Itu kan…”
        Jungkook yang sudah ingin buka mulut, tampak membatalkan niat karena melihat reaksi Yuri dan Hackyeon. Ia kemudian mengintip dari balik pundak Himchan yang berdiri di sampingnya. Cowok itu membulatkan mata melihat seseorang melangkah di belakang mereka.
        Tanpa pikir panjang Jungkook menyingkirkan tangan Himchan yang masih merangkulnya. Jungkook lalu menyambar tangan Eun Ji. Dan lagi-lagi ia menarik paksa cewek itu. “Jangan nengok ke belakang. Itu Sungjae,” bisik Jungkook. Tapi nyatanya, suara Jungkook masih bisa sampai ke telinga Himchan.
        Himchan sontak membeku mendengar ucapan Jungkook. Tentu ia sudah tahu siapa cowok bernama Sungjae. Lengkap dengan perlakuan cowok itu terhadapnya. Himchan harus berpikir cepat agar Sungjae tidak sempat menangkap wajahnya.
        Hackyeon dan Yuri. Beruntung Himchan sudah bisa mengingat ke dua orang tersebut. Teman lamanya yang sempat pindah ke SMA Destinya. Sontak saja Himchan memaksa Yuri dan Hackyeon agar berbalik dan segera menyusul teman-teman mereka lainnya yang sudah lebih dulu masuk ke dalam gedung.

***

Minggu, 08 Juni 2014

Oh My School (chapter 7)


“The Paradise”

Author      : N-Annisa (@nniissaa11)
Cast          :
·        Jung Hyerim (A-Pink)
·        Kim Seok Jin (BTS)
·        Kim Himchan (BAP)
·        Jung Taekwoon (VIXX)
·        Lee Minhyuk (BtoB)
·        Krystal Jung (Fx)
·        Oh Hayoung (A-Pink)
Genre       : Life school, teen romance, tragedy
Length      : Chapter

***

        “Jin! Tunggu, Jin!” seru Taekwoon sambil mengimbangi langkah cepat Seok Jin.
        Seok Jin sendiri seperti tidak mendengar teriakan Taekwoon. Ia tetap melesat secepat mungkin ke luar daru gedung A, menuju gedung B. Mereka menaiki tangga ke lantai 2, dan Seok Jin langsung berbelok ke kelasnya.
        Namun tidak untuk Taekwoon karena Ho Seok menghalangi langkahnya. “Kak Taekwoon!” seru Ho Seok yang bahkan sudah menahan tangan Taekwoon. Tentu ia melakukan itu karena ia merasa ada gelagat aneh yang ditunjukkan Seok Jin tadi.
        Taekwoon sendiri tidak menjelaskan apa-apa. Ia hanya menepuk lengan Ho Seok dan memberikan isyarat dengan lirikan mata agar Ho Seok mengikutinya mengejar Seok Jin. Beruntung sekolah memang masih sangat sepi. Terlihat hanya segelintir siswa di dalam kelas 2, tapi bisa dipastikan mereka tidak menyadari apa yang dilakukan Seok Jin dan yang lainnya tadi.
        Di sisi lain, ruang kelas 3 juga baru Hyerim yang datang. Cewek itu belum sempat duduk di kursinya karena Seok Jin sudah lebih dulu menahan tangannya.
        “Kenapa lo ngerahasiain itu dari gue? Kita temenan udah lama, Rim!” cecar Seok Jin. Namun semua ucapannya justru membuat Hyerim hanya menatapnya, bingung.
        “Rahasia apa, Jin?” Hyerim balik melemparkan pertanyaan.
        Seok Jin memeriksa setiap saku diseragam sekolahnya. “Mana, ya?” gumamnya pelan. Sementara Hyerim tampak menunggu dengan sabar. Kemudian, Seok Jin melirik ke tempat Taekwoon berada bersama Ho Seok yang ternyata benar-benar menyusulnya. Seperti teringat sesuatu, Seok Jin lantas bergegas ke tempat Taekwoon berada. “Foto yang tadi, Taek!” serunya menagih.
        Taekwoon masih diam. Ia sempat menangkap wajah Hyerim yang terlihat semakin bingung. “Eh, Jin!” protesnya karna Seok Jin kini sampai menggeledah jas sekolahnya. “Apa-apaan sih, lo!”
        Seok Jin berhenti bertindak. Ia menatap Taekwoon, tajam. “Foto yang tadi,” tegasnya sekali lagi.

***

        “Ruangan lain nggak ada yang bisa dipake apa?”
        “Jangan ke SMA Paradise, kek!”
        “Iya, ke sekolah lain lah kalo mau numpang.”
        “Gila! Nggak elit banget numpangnya di Paradise! Anak-anak Paradise aja pada ngungsi ke sini!”
        Cheondung menyikut Minho di tengah-tengah kerumunan siswa SMA Destiny yang berkumpul di lapangan utama gedung sekolah. Tepat di depan gedung yang kemarin terbakar.
        “Gedung di SMA Destiny kan banyak! Masa’ iya nggak bisa nampung murid-murid di sini!” ocehan salah seorang siswi SMA Paradise kembali membuat suasana semakin ramai. Belum lagi sahutan-sahutan suara siswa yang lain menambah riuh suasana pagi itu.
        “Bener, kita bakal dipindahin ke SMA Paradise?” bisik Cheondung pada Minho. Ia juga berusaha tidak menghiraukan kicauan teman-temannya yang melancarkan protes keras.
        Minho sempat mengangkat bahu. Ia tak peduli dengan protes keras teman-temannya. Namun ia peduli jika rumor yang terjadi mereka akan dipindahkan ke SMA Paradise benar-benar terlaksana. Dan mungkin hanya dia yang mendukung keputusan itu.
        “Itu Yuri sama Hackyeon!” seru Cheondung sambil menepuk pundak Minho seperti memberi tahu.
        “Anak kelas 3-8, kita kumpul.” Cowok bernama Hackyeon tadi bicara sambil melintas di hadapan Minho dan Cheondung.
        “Kabarin yang lainnya juga,” timpal seorang cewek yang tadi datang bersama Hackyeon. Yuri.
        Cheondung dan Minho sendiri terlihat mengikuti arah Yuri dan Hackyeon serta beberapa siswa lain yang termasuk di kelas 3-8 tersebut. Itu pun karena Cheondung sudah lebih dulu menyikut lengan Minho sambil memaksanya untuk ikut.

***

        “Jin!” pekikan keras Taekwoon tetap tak mampu mengalihkan apa yang dipikirkan Seok Jin. Justru Ho Seok yang tampak terganggu dengan suara cowok itu.
        “Nah, ini dia!” seru Seok Jin yang sumringah mendapati benda yang sejak tadi ia cari dari dalam seragam sekolah Taekwoon. Buru-buru ia berpaling kembali ke hadapan Hyerim. Namun kali ini ia menunjukkan ekspresi seriusnya. Tentu saja sambil menunjukkan foto yang membuatnya seakan mendapat kemenangan.
        Di tempatnya berada, Ho Seok menusuk-nusuk pinggang Taekwoon dengan jari telunjuknya. Jelas saja ia ingin tahu atas apa yang sedang terjadi antara Seok Jin dan Hyerim. Namun Taekwoon dengan tegas menolak untuk menjelaskan.
        “Itu foto apa, Jin?” Hyerim bertanya dengan tatapan polos.
        Seok Jin berdecak dengan tatapan meremehkan. “Ini foto lo jaman SMP. Dan kenapa bisa sama Sungjae?” tanya Seok Jin akhirnya karena tidak ingin menunggu sampai Hyerim menjawabnya sendiri.
        “Apa?” Hyerim tanpa sadar menyambar foto di tangan Seok Jin agar ia bisa leluasa melihatnya. Cewek dalam foto itu memang sangat mirip dengannya. Namun Hyerim justru melemparkan tatapan penuh tanya pada Ho Seok yang sangat menguntungkan baginya.
        Merasa ada gelagat yang aneh, Taekwoon juga ikut menatap Ho Seok. Begitu pula dengan Seok Jin. Tapi justru karena tatapan mengintimidasi dari Taekwoon yang membuat Ho Seok melesat ke arah Hyerim.
        “Kenapa sama Sungjae?” tanya Ho Seok. Sementara tangannya menyambar foto di tangan Hyerim.

Flashback…
        “Nggak mungkin Eun Ji ada di sini? Nggak mungkin dia sekolah di sini juga,” pekik Sungjae dengan napas yang memburu.
        “Emang nggak ada siswi yang namanya Eun Ji di sini.”
        Salah satu bilik toilet di belakang Sungjae tampak terbuka. Tentu Sungjae langsung mendongak dan mendapati Ho Seok muncul. Ia dapat melihat cowok itu melalui pantulan di cermin.
        “Ngapain lo ikut campur urusan gue?” seru Sungjae tak terima.
        Ho Seok tampak terkekeh. Ia tak menatap Sungjae karena masih sibuk membereskan seragam sekolahnya. “Nggak ikut campur,” tantangnya. Ia masih berdiri di ambang pintu toilet. “Cuma sekedar ngasih informasi aja. Karena gue kenal sama seluruh siswi di sekolah ini. Tak terkecuali. Dan termasuk juga, ‘Himchan’. Anak yang lagi dihebohin hari ini.”
Flashback end…

        Ho Seok menggeleng tegas. Tentu setelah ia mengingat kejadian yang melibatkan Sungjae. “Ini Kak Eun Ji,” serunya kemudian dengan tatapan tegas untuk Seok Jin. “Gue beberapa kali mergokin Sungjae nyebut nama Kak Eun Ji. Bahkan ke Kak Hyerim pun gitu.”
        “Jin… Jin…!”
        Seok Jin sontak menoleh ke tempat Taekwoon berada. Namun cowok itu justru sedang melihat ke luar kelas dengan tatapan paniknya.
        Taekwoon sempat melihat Jungkook melintas. Dan itu membuatnya kembali teringat akan tugas ‘kerja sosial’ yang masih harus ia jalani. “Jin, ayo Jin ke gedung B lagi.” Taekwoon lalu menatap Seok Jin. “Masalah ini bisa diselesain nanti lagi, kan?”
        Belum sempat Seok Jin merespon. Beberapa siswa kelas 3 mulai bermunculan memasuki kelas. Kibum, Chorong, Yongguk, Sunggyu, bahkan Himchan dan Minhyuk.
        “Kenapa sih, Taek?” tanya Minhyuk saat teman-teman yang lainnya sudah menuju meja mereka masing-masing. Kebetulan Minhyuk juga memang berjalan paling akhir. Dan ia juga menangkap ekspresi tak tenang di wajah Taekwoon.
        “Nanti aja deh ya, Min.” Taekwoon bicara tanpa menatap Minhyuk. “Kalo ampe ketahuan Pak Hyunseung, gue nggak mau bantu ya!” ancamnya serius. Dan sedetik kemudian, Taekwoon sudah balik badan dan melesat pergi dari sana. Ia bahkan nyaris saja menabrak Bomi yang baru saja sampai.
        “Taekwoon!” jerit Bomi. Namun Taekwoon sudah lebih dulu meninggalkan kelas.
        Seok Jin kini terlihat bingung. Ia seperti meminta penjelasan dari Hyerim dan Ho Seok. Tentu tidak ada yang tahu apa yang dimaksudkan oleh Taekwoon tadi.
        “Susul Taekwoon aja sana!”
        Mendengar ucapan Hyerim tadi, Seok Jin baru lah bergerak. Ia menyusul Taekwoon ke gedung B karena akhirnya ia ingat kalau tugas ‘kerja sosial’-nya masing menunggu.

***

        “Taeyeon sayang, renovasi sekolah nggak bakal maksimal kalau masih dipake buat proses belajar-mengajar,” ujar Yuri mencoba memberi pengertian pada salah satu teman sekelasnya. Terlebih cewek itu adalah ketua kelas di sana.
Siswa kelas 3-8 sudah berkumpul seperti apa yang diintruksikan Hackyeon tadi. Mereka memisahkan diri dari siswa lain yang juga berkumpul sesuai kelas mereka masing-masing. Dan tentu saja tak mengurangi keramaian di sana.
        “Jadi lo setuju kalo kita pindah ke ‘Paradise’?” protes siswi lain di kelas itu. Yoona. Ia bahkan sampai memberi tekanan saat menyebut kata ‘Paradise’.
        “Gue sebagai ketua kelas di sini, harus bikin keputusan berat. Tolong jangan pada mojokin gue,” balas Yuri berusaha menahan emosinya.
        Hackyeon tampak merangkul Yuri untuk menenangkan cewek itu. “Kita belum pasti ke Paradise juga, kok. Bisa aja ke Two Moons, Deportivo atau Sun Moon,” jelas cowok itu sekaligus untuk menangahi juga. “Kita harus kompak mau pindah ke mana. Masalahnya siswa di kelas ini nggak mungkin di pisah.”
        “Pokoknya gue nggak mau balik ke Paradise,” kata Taeyeon tegas. Ia bahkan sampai memberi tatapan membunuh pada beberapa temannya yang sama-sama pindahan dari SMA Paradise agar mereka juga mengikuti keputusannya.
        “Gue juga nggak mau lah, Yeon.” Hyoyeon juga tampak menyetujui ucapan Taeyeon. Karena ia juga salah satu pindahan dari SMA Paradise ke SMA Destiny.
        “Ke Deportivo aja, ya? Lokasinya juga nggak terlalu jauh dari sini. Kalo Ke Sun Moon, akses kendaraan umumnya agak sulit,” kata Yuri menyarankan. Ia memang harus memberikan keputusan yang bijak sana, terutama untuk teman-temannya.
        “Oke,” seru Hackyeon. “Nggak ada yang keberatan kan kalo kita pindah ke Deportivo?” tanyanya.
        Hampir semua saling melempar tatapan. Namun diamnya mereka menegaskan kalau memang tidak ada yang ingin melancarkan protes. Cheondung juga sempat melirik cewek yang memiliki kepiripan wajah dengannya. Dan mereka saling mengangguk.
        “Lo gapapa kan, Min, kita ke SMA Deportivo?” Kali ini Hackyeon melemparkan pertanyaan pada Minho.
        “Kalian anak-anak kelas 3-8 buruan lapor sana mau pindah ke mana,” seru seorang cowok salah satu siswa SMA Destiny. Namun ia dari kelas berbeda. “Gue dari kelas 3-7 bakal pindah ke SMA Two Moons. Dan anak kelas 3-2 udah pasti dimasukin paksa ke SMA Paradise. Kalian tahu kan kelas itu terkenal susah diatur.”
        “Thanks ya, Woo.” Yuri sontak bereaksi cepat. “Kita bakal lapor dulu,” ujarnya yang kemudian mengajak Hackyeon dan yang lain untuk mengikutinya.
        Cheondung yang memang cukup dekat dengan Minho, tidak melupakan temannya itu. Namun Minho justru seperti enggan untuk melangkah.
        “Gue mau balik ke Paradise!” desis Minho yang cukup mengejutkan. Sontak sikapnya mendapat ptores keras dari hampir seluruh teman sekelasnya. Termasuk Gikwang yang bahkan sampai menariknya hingga ke luar kerumunan.
        “Lo yakin mau baik ke sana?” desak Gikwang. Tentu ia bersikap seperti itu karena ia dan Minho sebelumnya bersekolah di SMA Paradise.
        “Himchan ada di sana, Kwang.” Mendengar ucapan Minho tersebut, Gikwang sontak melebarkan mata. “Ini kesempatan gue balik. Dan gue takut Sungjae masih ngincer Himchan.”
        “Gikwang!” seru Yoona sebelum Gikwang sempat melangkah untuk menyusul Minho. “Jangan ikut-ikut Minho!” pekiknya dengan nada mengancam.

***

        Hyunseung menutup buku pelajaran yang ia gunakan saat mengajar di kelas 3. “Kita lanjutkan dipertemuan berikutnya. Selamat berisitrahat.”
        Sementara di tempatnya berada, Seok Jin terlihat menyandarkan punggungnya ke kursi. Lalu ia menoleh ke kanan, tempat Taekwoon duduk cukup jauh darinya. Mereka saling mengangguk malas. Ke duanya lalu berdiri hampir bersamaan sambil melepaskan jas masing-masing. Seok Jin melangkah ke luar dari kursinya. Namun saat berada di depan kelas, Hyerim menghalanginya.
        “Jangan lupa makan dulu,” ujar Hyerim dengan nada datar. Ia masih kesal dengan tuduhan Seok Jin tadi pagi. Sementara tangannya menyodorkan kotak bekal untuk cowok itu.
        Seok Jin menghela napas kasar sebelum menerima kotak pemberian Hyerim. Cewek itu kemarin memang sudah menjanjikan untuk membawakan bekal makan.
        Setelah Seok Jin meninggalkan kelas, Hyerim duduk kembali di kursinya. “Makan di kelas aja, Min.” Cewek itu lalu mengeluarkan kotak makan miliknya. Ia jadi enggan meninggalkan kelas karena Seok Jin tidak bisa bergabung.
        Hyerim mendongak karena ada seseorang yang berdiri di sampingnya. Himchan. Cowok itu berdiri sambil tersenyum gugup dengan kotak bekal di tangannya. “Boleh gabung lagi, kan?”

***

        Hackyeon menghentikan mobilnya yang sudah terparkir aman di halaman sekolah SMA Paradise. Ia lalu melirik Yuri yang kebetulan memang datang ke sana bersamanya. Tak jauh dari sana juga terparkir sekitar 3 mobil mewah, berjejer dengan mobil milik Hackyeon yang tak kalah mewahnya juga.
        “Kita balik lagi ke sini, Hack.” Yuri bicara tanpa melirik Hackyeon. Ia sibuk melempar tatapannya ke luar jendela mobil yang kebetulan menghadap ke gedung utama SMA Paradise.
        “Yang lain udah pada turun,” kata Hackyeon mengingatkan.
        Yuri menghembuskan napasnya, kasar. Cewek itu tampak terkejut karena ternyata Hackyeon sampai rela membukakan pintu untuknya. Mau tidak mau, Yuri terpaksa ke luar dari mobil.
        “Yuri! Hackyeon!” seru seorang cewek yang berlari-lari kecil menghampiri mereka. Cewek dengan gaya ‘fashion’ yang cukup ‘stylish’. Dan tentu dengan gaya make-up yang cukup mencolok untuk ukuran anak SMA. Rambut panjangnya berwarna kecoklatan. Chaerin.
        “Apaan sih, Rin?” tanya Yuri.
        “Toilet di mana, Yur?” desak Chaerin. “Lo kan dulu pernah sekolah di sini.”
        “Gedung sebelah kiri. Masuk aja. Ada di bawah, kok.” Hackyeon yang menjelaskan.
        Tanpa pikir panjang lagi, Chaerin sudah lebih dulu melesat pergi. Ia bahkan masih sempat mengajak salah satu adik kelasnya untuk menemani ke toilet.

***

        Taekwoon dan Seok Jin duduk bersila di atas meja kelas kosong di gedung B yang sedang mereka bersihkan. Tentu hal tersebut masih ada hubungannya dengan ‘kerja sosial’ mereka. Seok Jin sendiri tampak sudah menghabiskan makanannya.
        “Semangat ya! Tinggal dua kelas lagi, nih!” seru Taekwoon menyemangati. Mereka lalu mulai kembali membersihkan kelas tersebut. Dimulai dengan mengangkati kursi-kursi ke atas meja untuk memudahkan mereka menyapu lantai.
        “Jin? Taekwoon?”
        Sontak saja ke dua cowok itu menghentikan pekerjaan mereka saat mendengar suara kepala sekolah mereka, Doojoon. Kepala sekolah tampan tersebut bahkan sampai sengaja masuk ke dalam kelas.
        “Kemarin, AC di kelas ini sudah diganti belum ya?”
        “Nggak diganti, Pak. Ternyata masih nyala,” jelas Taekwoon.
        “Mau ada tamu ya, Pak?” tanya Seok Jin yang kebetulan berada di dekat jendela luar. Ia melihat ada beberapa siswa berseragam asing yang muncul dari dalam-dalam mobil mewah. “Dari sekolah lain?”
        Doojoon sempat melirik sekilas ke luar gedung untuk memastikan ucapan Seok Jin tadi. “Akh, iya. Kalian dengar berita SMA Destiny mengalami musibah? Salah satu gedung mereka terbakar. Dan sementara murid-murid di sana akan dipindahkan ke beberapa sekolah. Salah satunya di sini. Ada sekitar 6 kelas yang akan menumpang di sini.”
        Mendengar ucapan Doojoon panjang lebar tadi, Taekwoon dan Seok Jin saling melempar tatapan. Samar-samar, mereka sama-sama menyebutkan nama ‘Minho’.
        “Setelah ini kalau ada masalah, lapor aja ke Bu Victoria. Saya mau menemui anak-anak dari SMA Destiny tadi,” kata Doojoon yang ternyata ia juga meletakkan sebuah bungkusan di atas meja. “Ini juga ada papan kelas. Nanti tolong di tempel di atas pintu.”
        Taekwoon tampak mendekat saat Doojoon mulai mengeluarkan satu-persatu papan yang bertuliskan kelas-kelas. “Katanya cuma ada 6 kelas, Pak? Kok ini banyak banget?”
        “Mereka akan gabung parallel kelas sama kalian. Jadi, besok kalian juga akan pindah lagi ke gadung B.” Doojoon tampaknya tidak menyadari perubahan raut wajah dua muridnya itu. “Ya sudah. Tolong langsung di pasang dulu papan kelasnya.” Setelah itu, sang kepala sekolah memilih meninggalkan Taekwoon dan Seok Jin di sana.
        “Ayo, Taek.” Seok Jin berinisiatif menurunkan kursi dari salah satu meja. Kemudian ia membawa meja tersebut ke luar kelas dengan bantuan Taekwoon juga.

***

        “Aduuh… Gyuri. Di mana sih toiletnya?” keluh Chaerin.
        “Itu ada OB, Kak!” seru Gyuri penuh semangat karena mendapat sedikit pencerahan. “Ayo tanya aja.”
Chaerin sontak menarik Gyuri ke arah dua pemuda yang sedang melakukan sesuatu di depan sebuah kelas. Tentu yang mereka maksud adalah Seok Jin dan Taekwoon. Dua siswa kelas 3 tersebut sedang melakukan tugas yang diberikan oleh Doojoon.
        “Permisi, Mas.”
        Taekwoon yang kebetulan berdiri di atas meja, sampai menghentikan kegiatannya memasang paku. Sementara Seok Jin mempersiapkan apa yang dibutuhkan oleh Taekwoon di atas sana. Mereka sama-sama menoleh ke tempat 2 cewek asing di sana.
        “Toilet di mana, ya?” desak Chaerin tak sabar. Karena ia memang sudah sangat ingin menuju tempat tersebut.
        “Di ujung sana,” jawab Seok Jin sambil menunjuk ke ujung koridor di sana.
        “Terima kasih, Mas.” Chaerin langsung melesat dari sana. Ia juga tak lupa menarik paksa Gyuri yang justru sejak tadi hanya menatap kagum ke dua cowok tampan milik SMA Paradise tersebut.
        “Jin. Pakunya satu lagi,” kata Taekwoon yang langsung melanjutkan pekerjaannya. “Berapa lagi papannya?”
        Seok Jin memeriksa benda di hadapannya. “Dua lagi, buat ruang kelas 1.”

***

        “Yeol, cepet!” pekik Howon yang dengan terburu-buru menaikin anak tangga. Padahal ke duanya masing-masing sibuk membawa sebuah dus minuman.
        “Nyantai, Won!” Sungyeol terdengar memprotes sambil berusaha mengimbangi langkah Howon.
        “Apa-apaan sih lo berdua!” seru Bomi heboh saat Sungyeol dan Howon dengan tidak sabar melesat masuk ke dalam kelas.
        Tidak ada yang menghiraukan suara cempreng Bomi. Howon dan Sungyeol meletakkan dus yang mereka bawa di atas meja terdepan milik Hyerim juga Minhyuk.
        “Min, lo kan ketua OSIS. Ada berita apa dari sekolah? Gue sama Sungyeol ngeliat banyak mobil mewah yang asing banget untuk masuk sini.”
        “Bahkan ‘police line’ di lapangan lagi dibongkar,” ujar Howon menimpali ucapan Sungyeol tadi.
        Perbuatan Howon dan Sungyeol tadi menyulut rasa penasaran teman-temannya. Tak terkecuali. Mereka langsung berkumpul di depan karena tidak ingin teringgal sedikit saja berita yang sepertinya menghebohkan. Termasuk Jimin yang berada di kelas itu. Tentu saja untuk menemui Luna, pacarnya.
        “Yang gue tau Jungkook, Kak Jin sama Kak Taekwoon lagi ‘kerja sosial’…”
        “Semua juga udah tau, Jim!” Yoongi terdengar menyelak ucapan Jimin yang sebenarnya belum tuntas.
        “Bukan gitu, Kak. Mereka lagi beresin kelas-kelas di gedung B. Katanya bakal dipake lagi. Tapi nggak tau buat apa,” jelas Jimin akhirnya.
        “Jimin bener.” Dasom tampak menyetujui ucapan Jimin. “Gue juga pernah nanya ke Taekwoon. Cuma dia juga masih kurang tau mau digunain buat apa kelasnya.”
        “Kok pada ngumpul gini, sih?” suara seseorang menginterupsi perkumpulan siswa kelas 3 tersebut. Termasuk Jimin yang ikut bergabung. Mereka hampir bersamaan berbalik dan mendapati para siswa kelas 2 mengunjungi kelas mereka. Tentu anak kelas 2 itu kompak ke luar bersama karena mereka semua sedang mempersiapkan diri untuk mengikuti lomba cerdas cermat.
        Youngjae selaku ketua kelas 2 tampak maju memimpin. “Gue udah terima berkas balasan dari pendaftaran kemarin. Kita bisa dipastiin bakal ikut berpartisipasi.” Youngjae bicara sambil mencari sesuatu di dalam halaman buku yang ia bawa. Setelah dapat, ia menyodorkan benda itu ke arah siswa kelas 3.
        Yongguk yang kebetulan berada di posisi terdekat dengan Youngjae tampak meraihnya. Yang kemudian ia serahkan lagi pada Yoongi selaku siswa kelas 3 yang ikut membantu Taekwoon untuk bertanggung jawab dalam ‘persiapan’ tersebut.
        “Yang Biologi di kelas ini aja. Taekwoon udah bawain buku referensi lain untuk kalian. Sisanya bisa langsung ke perpus,” putus Yoongi yang langsung dituruti oleh semua yang ada di sana.
        Tersisa Changsub, Hyorin, Luna dan Jonghyun dari kelas 3. Serta Jimin, Daehyun, Yookyung, Ilhoon juga Namjoon dari kelas 2. Sementara sisanya langsung kompak meninggalkan kelas tersebut untuk menuju perpustakaan.
        Jimin tentu langsung mendekat pada Luna. Diiringi dengan tatapan jahil untuk pacarnya tersebut. Perbuatan Jimin sontak membuat Changsub menatapnya semakin kesal.
        “Nggak ada yang pacaran dulu di sini!” seru Changsub. Tentu itu untuk menyunggung pasangan Jimin dan Luna. “Yookyung pindah ke deket Luna. Atau Jimin beneran gue diskualifikasi,” tegasnya. Bahkan sebelum Jimin sempat melancarkan protes.

***

        Yuri, Hackyeon dan beberapa temannya dari SMA Destiny baru saja bertemu dengan kepala sekolah SMA Paradise, Doojoon. Hackyeon serta Yuri yang sebelumnya memang pernah ke sana, mengajak teman-temannya untuk mengunjungi gedung B. Tempat mereka melanjutkan pendidikan besok.
        Mereka langsung menuju lantai 3 untuk ruang kelas 1. Hongbin, dan Yura tampak memeriksa ruang di kelas 1-A yang akan menjadi kelas mereka nantinya. Sementara Chanyeol dan Bora menuju ruang kelas lainnya. Kelas 1-B.
        “Nggak terlalu buruk,” komentar Hongbin setelah beberapa menit memeriksa kelas. Ia langsung kembali ke tempat kakak kelasnya menunggu di koridor. Namun ternyata yang tersisa hanya Hackyeon dan Yuri.
        “Tapi tetap nggak sebagus di Destiny.” Yura menunjukkan wajah kecewanya.
Lalu setelah Chanyeol juga Bora muncul, mereka langsung menuruni tangga menuju lantai bawah. Hongki bersama Gyuri tampak memunculkan diri dari kelas 2-C. Dan Jinyoung bersama Ji Yoon juga ke luar bersamaan dari ruang kelas 2-B. Namun tanpa ada yang berkata-kata, mereka mengikuti Hackyeon, Yuri juga siswa dari kelas 1 untuk segera menuju lantai 1 tempat ruang kelas 3 berada.
        “Gue nggak nyangka bakal sekolah di tempat kayak gini.”
        Hackyeon dan Yuri sontak menghentikan langkah saat mendengar Chaerin berkata seperti tadi. Mereka berusaha menyembunyikan ekspresi wajah saat Ji Yoon, Hongki dan Hongbin menatap mereka sambil mendului keduanya.
        “Tapi untung aja OB di sini cakep-cakep,” seru Gyuri memecah suasana. Tentu saja ucapannya menarik perhatian yang lain. “Ya kan Kak Chaerin?”
        “Iya, untung aja.” Chaerin mengangguk terpaksa meski sebenarnya ia mengakui hal tersebut.
        “OB?” Hackyeon mengulangi ucapan Gyuri untuk memastikan. Sementara tatapan juga tampak melempar pertanyaan pada Yuri.
        “Mereka yang masang ini.” Gyuri menunjuk papan nama kelas di atas pintu. “Pasti OB kan yang ngelakuin?”

***

        Seok Jin dan Taekwoon tampak membasuh wajahnya di toilet. Seok Jin bahkan sampai membasahi sedikit rambutnya. Sementara Taekwoon kini sudah membuka kaosnya untuk mengeringkan wajah. Memperlihatkan lekuk tubuhnya yang bagus.
        “Sebagian siswa SMA Destiny bakal balik ke sini. Kemungkinan besar masih ada yang dulu pernah sekolah di sini juga dan bakal balik lagi ke sini.” Taekwoon berujar sambil menatap pantulan wajahnya dan Seok Jin dari cermin.
        Seok Jin sempat menghela napas, kasar. “Gue berharap Minho yang balik ke sini. Hackyeon, Yuri, Gikwang, Yoseob. Tiffany dan Yong Hwa juga.”
        Taekwoon menoleh cepat dan menatap Seok Jin penuh minat. Membuat cowok bersamanya itu ikut balik menatapnya. “Eun Ji udah balik. Minho juga di sini. Apa semuanya bakal balik kayak dulu?” Taekwoon sempat diam sesaat. “Hyerim dan Himchan…”
        Seok Jin sampai menahan napas beberapa saat ketika Taekwoon menggumamkan nama Hyerim dan Himchan. Namun sekuat tenaga Seok Jin mengalihkan perasaannya di hadapan Taekwoon. Ia lalu mengusap sekali lagi wajahnya yang masih sedikit basah. Saat itu Seok Jin juga hanya mengenakan kaos polos. Setelah menyambar jas dan kemeja sekolahnya, ia bersiap meninggalkan toilet.
        Taekwoon menyusul sambil memakai kembali kaosnya yang setengah basah karena ia gunakan untuk mengeringkan wajah. Setelah itu ia menyambar kemeja juga jasnya sebelum menyusul Seok Jin ke luar toilet sambil memakai kemejanya.

***

        “Akh, iya. Mungkin sekarang sekolah ini udah punya OB.” Yuri mengalihkan pikiran temannya yang mungkin akan menjatuhkan SMA Paradise. Apa pun keadannya, ia pernah bersekolah di sana.
        Setelah itu, tidak ada lagi yang membahas perihal OB ganteng seperti yang ditemui oleh Gyuri dan Chaerin. Namun sebenarnya, Hackyeon masih terkekeh memikirkan hal tersebut. Membuat Yuri menatapnya aneh.
        Hackyeon mendekatkan wajahnya ke telinga Yuri. “Gue yakin Pak Hyunseung masih kayak dulu. Dan gue penasaran siapa yang dimaksud OB ganteng sama si Gyuri itu,” bisiknya. Masih mempertahankan pikiran gelinya.
Tapi kemudian, Hackyeon justru dibuat benar-benar bungkam karena melihat seorang cowok ke luar dari ruang kelas paling ujung koridor. Cowok itu mengenakan seragam SMA Destiny. Tentu tanpa jasnya. Dengan ke dua tangan dipenuhi alat-alat kebersihan. Cowok itu Jungkook yang langsung menghentikan langkah karena mendapati orang-orang dihadapannya menatap dengan wajah tak biasa.
        Jungkook menoleh ke arah toilet karena dari sana juga muncul dua orang pemuda tampan yang tadi dibilang OB oleh Gyuri. Taekwoon dan Seok Jin. Tanpa ada rasa bersalah, Taekwoon merapihkan seragamnya sambil berjalan. Jelas saja karena ia tidak tahu jika di sana telah banyak orang. Seok Jin sendiri bahkan sedang memasang sabuknya setelah melakukan hal yang sama seperti Taekwoon.
        Seluruh siswa SMA Destiny di sana membeku melihat Taekwoon juga Seok Jin yang muncul dengan rambut basah. Dan Jungkook yang terlihat mempesona dengan wajah penuh peluh. Terutama untuk para cewek tentunya.
        Hackyeon tersadar jika teman-teman cewek dari sekolahnya tengah menikmati ‘pemandangan’ indah dihadapan mereka. “Sorry, ladies. Mereka bukan tontonan!” seru Hackyeon sambil berusaha mengalihkan pandangan cewek-cewek itu. Hackyeon membalikkan satu-persatu badan mereka semampunya. “Sekarang kita balik ke Destiny!”
        “Jadi mereka bukan OB?” seru Gyuri untuk memastikan. Namun yang ia dapat justru paksaan dari Hongki untuk menuruti Hackyeon yang sudah menyuruh mereka untuk pergi dari sana.

***