Tampilkan postingan dengan label PERFECT LOVE. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label PERFECT LOVE. Tampilkan semua postingan

Minggu, 15 Februari 2015

PERFECT LOVE (chapter 19)


Author              : Annisa Pamungkas (@nniissaa11)
Main Cast          : B.A.P (Yongguk, Himchan, Daehyun, Youngjae,
  Jongup, Zelo [Junhong])
Support cast     :
·        A-Pink (Chorong, Bomi, Naeun, Eun Ji, Namjoo, Hayoung)
·        G.Na (Soloist)
·        B2ST (Doojoon)
·        BtoB
Genre               : romance, family, brothership
Length              : chapter

***

        Setelah mengetahui punya banyak kakak laki-laki, sifat manja Zelo mendadak muncul. Ia memaksa dan terkesan sedikit merengek agar Jongup untuk ikut menginap di rumahnya. Pulang ke kediaman Doojoon bersama pasangan pengantin baru itu juga, Youngjae dan Eun Ji. Zelo benar-benar sudah melupakan masalah yang pernah terjadi antara dirinya dan Jongup. Bahkan seperti tidak pernah ingat kalau kedekatan Jongup dengan Hayoung membuat pemuda tinggi itu menjadi resah. Tidak lupa Zelo bahkan memaksa Ilhoon untuk ikut bersamanya juga.
        Eun Ji menggamit lengan Youngjae saat menaiki anak tangga di rumah mewah tempat tinggal Youngjae selama ini. Sementara Zelo dan Jongup dengan semangat bersedia memegangi bagian belakang gaun pernihakan Eun Ji yang menjuntai panjang. Lalu Ilhoon membantu membawakan tas besar berisi barang-barang milik Eun Ji.
        Sesampainya di ambang pintu kamar Youngjae, Ilhoon menyodorkan tas milik Eun Ji pada kakak iparnya itu. Tapi mereka belum juga membubarkan diri. Seakan menggoda pasangan pengantin baru itu dengan tatapan jahil mereka. Youngjae sudah tidak bisa menahan diri lagi. Sementara Eun Ji benar-benar merasa tidak nyaman dengan cara ketiga pemuda itu menatapnya.
        “Pada nggak pengen istirahat?”
        Zelo, Jongup, dan Ilhoon tampak menahan tawa mereka. Entah apa isi kepala mereka saat itu yang kelihatannya hampir serupa. Zelo dan Jongup bahkan saling sikut. Kemudian tiba-tiba Zelo mendekatin Eun Ji lalu memeluk gadis itu.
        “Selamat istirahat ya kakak ipar. Dan selamat datang juga dikeluarga kami.”
        Eun Ji hanya diam tanpa bisa membalas perkataan Zelo. Begitu juga dengan Youngjae yang hanya bisa terperangah dengan perlakuan Zelo pada Eun Ji. Cukup di luar dugaan mengingat Zelo termasuk anak yang cuek. Selesai Zelo, kini giliran Jongup melakukan hal yang sama. Dan tersisa Ilhoon. Youngjae menatap adik laki-laki Eun Ji yang ikut ke sana itu seakan bertanya apakah Ilhoon akan melakukan hal serupa pada Eun Ji?
        Mengerti maksud tatapan Youngjae, Ilhoon terkekeh kecil kemudian ia justru memeluk Youngjae. “Aku udah sering meluk Kak Eun Ji,” ledeknya.
        Setelah tiga ‘pengganggu’ itu pergi, Youngjae mengajak Eun Ji masuk ke dalam kamarnya. Menggenggam lembut tangan gadis yang sudah resmi menjadi istrinya itu. Eun Ji terlihat memaksa berhenti karena ia melihat ada sesuatu yang berbeda di kamar itu dari saat terakhir kali ia ke sana. Ada seperangkat meja rias dengan kaca besarnya di salah satu sudut kamar. Dan memang tampak masih baru.
        “Hadiah dari Om Doojoon. Tapi buat lo, bukan buat gue.”
        Eun Ji terkekeh melihat raut wajah kesal dari Youngjae. Tapi tentu Youngjae tidak serius bersikap seperti itu karena kemudian ia ikut tertawa.

***

        Beberapa menit lalu, Zelo baru saja dari dapur untuk mengambil segelas air. Lalu saat kembali ke lantai atas, ia justru melihat Ilhoon berdiri di depan kamar Youngjae. Padahal saat itu masih tengah malam. Tapi bisa saja Ilhoon sedang membutuhkan sesuatu.
        “Ngapain, Mas?” tegur Zelo.
        Ilhoon menoleh cepat sambil meletakkan jari telunjuknya dibibir dan berdesis pelan. “Kakak gue diapain ya sama Mas Youngjae? Kok kayak kesakitan gitu masa,” ujar Ilhoon sepelan mungkin agar tidak menimbulkan kecurigaan. Terutama untuk dua orang yang berada di dalam kamar tersebut.
        Zelo hanya diam karena memang ia tidak bisa menjawab kebingungan Ilhoon. Namun cowok itu justru masih bertahan di sana sambil menenggak minumannya.
        “Akh, Youngjae! Bisa pelan sedikit kan? Kasar banget sih!”
        Tanpa sadar Zelo menyemburkan kembali ke dalam gelas air yang belum sempat ia telan setelah mendengar teriakan Eun Ji tadi.
        “Iya, maaf. Soalnya ini susah banget ditariknya,” lanjut terdengar suara Youngjae.
        “Balik ke kamar,” ajak Zelo. Ia bahkan sampai menarik kaos yang dikenakan Ilhoon dengan sedikit kasar.

***
       
        Eun Ji duduk di depan meja rias. Menatap pantulan dirinya dengan pandangan kosong. Sementara Youngjae sudah melesat ke kamar mandi. Tidak lama kemudian, Youngjae memunculkan diri dan sudah berganti pakaian dengan piyama tidurnya. Tapi Eun Ji masih bertahan seperti tadi dengan riasan lengkap.
        “Lo mau tidur pakai baju begitu?” tegur Youngjae sambil duduk di tepi ranjangnya. Sementara salah satu tangannya mengusap rambutnya yang basah menggunakan handuk.
        “Iya,” ujar Eun Ji pendek. Ia lalu mulai melepas satu persatu perhiasan yang menempel ditubuhnya. Namun karena banyaknya aksesoris yang memenuhi kepalanya, Eun Ji sedikit bingung untuk melepasnya.
        Youngjae berdiri dan berinisiatif untuk membantu Eun Ji karena ia lihat gadis itu seperti berada dalam masalah. “Sini gue bantu.”
                “Akh, Youngjae! Bisa pelan sedikit, kan? Kasar banget, sih!” pekik Eun Ji saat Youngjae membantunya melepas aksesoris yang menempel di kepalanya.
“Iya, maaf. Soalnya ini susah banget ditariknya.” Youngjae menatap Eun Ji melalui cermin, cukup merasa bersalah.
        Setelah beberapa menit, mereka akhirnya selesai. Eun Ji sampai memijat-mijat kepalanya yang sudah terasa sangat berat. Tanpa sepengetahuan Eun Ji, Youngjae tengah memperhatikannya dalam-dalam. Merekam wajah cantik Eun Ji yang biasanya tampil tanpa make-up. Youngjae mengembalikan kesadarannya karena dirasa Eun Ji tampak berdiri.
        “Lo mandi aja dulu. Nanti gue bawain teh hangat,” ujar Youngjae yang tanpa menunggu persetujuan Eun Ji sudah lebih dulu meninggalkan kamar. Namun Youngjae sempat bertahan sesaat sambil menyandarkan punggungnya pada daun pintu sebelum akhirnya ia melangkah pergi. Sambil berjalan menuju dapur, pikiran Youngjae melayang pada kejadian beberapa saat lalu. Tepat seusai resepsi pernikahannya dengan Eun Ji. Ia menemui sahabat kecilnya, Gikwang.

Flashback…
        Youngjae menemui Gikwang di sebuah koridor yang sepi. Pemuda itu sudah menunggunya di sana. Youngjae sedikit mempercepat langkahnya.
        “Jadi, calon istri yang lo bilang waktu itu adalah Eun Ji? Padahal lo tahu kalau Eun Ji itu cewek gue,” desis Gikwang saat Youngjae sudah benar-benar berhenti tepat di hadapannya.
        “Sorry, tapi sebenernya gue nggak pernah tahu pasti wajah cewek lo itu. Dan lagi pula, itu udah lama sebelum gue denger lo ninggalin dia.” Dalam hati sebenarnya Youngjae menyesali ucapannya yang bisa saja membuat pertemanan mereka justru menjadi hancur.
        “Lepasin Eun Ji.”
        Youngjae melebarkan matanya mendengar ucapan Gikwang. “Lo terlambat, Kwang.”
        Gikwang menunduk sesaat untuk menghela napas. “Bukan untuk gue. Tapi untuk kebaikan lo.”
        “Kebaikan apa?”
        “Gue nggak mau lo nerima kekejaman Minhyuk.”
        “Oh,” Youngjae justru berujar enteng.
        Gikwang menoleh cepat. Berusaha memberi peringatan untuk Youngjae. “Lo nggak tahu siapa itu Minhyuk. Dia seseorang yang cukup kejam dan sangat mencintai Eun Ji. Dia bisa berbuat apa saja untuk mendapatkan Eun Ji kembali.”
        Youngjae menatap Gikwang dengan santainya. “Apa itu juga alasan lo ninggalin Eun Ji? Hanya karena takut menghadapi Minhyuk?”
        Gikwang mengerjap tak percaya. Ucapan Youngjae sangat tepat. Padahal ia sama sekali tidak pernah bercerita tentang masalah tersebut. “Jae, lo…”
        “Gue bahkan udah pernah dihajar oleh Minhyuk sampai masuk rumah sakit. Dan bonus mobil gue dibawa pergi sama Minhyuk juga.” Youngjae menatap Gikwang. Menunggu reaksi pemuda itu yang ternyata hanya bisa diam. “Gue udah tahu cerita antara Eun Ji dan Minhyuk. Dan itu justru bikin gue dan Eun Ji berada di posisi seperti sekarang ini.”
        Gikwang masih diam tanpa bisa membalas ucapan Youngjae.
        “Tapi gue bersyukur nggak pernah tahu siapa cewek lo dulu.”
        Gikwang melirik ragu. Perkataan Youngjae cukup menyakiti hatinya.
        Youngjae tersenyum penuh arti untuk membalas tatapan Gikwang. “Kalau gue tahu Eun Ji itu cewek lo, mungkin gue nggak akan bisa sedeket ini sama Eun Ji. Gue menghargai perasaan lo. Dan akhirnya justru lo yang jadi korban dari Minhyuk. Seperti lo mengkhawatirkan gue, gue juga pasti merasa hal yang sama. Bahkan mungkin dua kali lipat akan lebih ngerasa bersalah.”
        Gikwang semakin bungkam. Youngjae merangkul pemuda itu. Perasaannya juga bercampur aduk sekarang ini.
        “Mungkin terdengar klasik, tapi wajah lo itu asset berharga buat hidup lo. Karena lo seorang model. Cukup gue aja yang hampir mati dihajar sama Minhyuk,” ujar Youngjae. Secara tidak langsung ia juga menghibur Gikwang.
        “Tapi lo baik-baik aja kan waktu itu?”
        Youngjae mengangguk cepat. “Sangat merasa baik karena yang nolongin gue waktu itu Eun Ji dan Mas Himchan.”
        Gikwang sudah ingin membuka mulut, tapi Youngjae sudah lebih dulu membuat Gikwang membatalkan niatnya.
        “Jangan bahas apa-apa lagi hari ini. Cuma bikin gue semakin ngerasa bersalah sama lo.”
        “Lo nggak usah khawatirin hal itu. Niat gue balik emang buat memperbaiki hubungan gue sama Eun Ji. Karena siapa tahu Minhyuk udah nyerah buat ngedapetin Eun Ji. Tapi nyatanya, Eun Ji justru jatuh ke tangan orang yang jauh lebih baik dari gue.”
        Youngjae tertawa keras membuat Gikwang menatapnya heran. “Eun Ji adalah orang pertama yang akan ngehajar gue kalau sampai hubungan Naeun dan Daehyun rusak. Eun Ji sama sekali nggak berpikir gue cowok baik-baik, inget itu. Hubungan gue dan Eun Ji jauh dari kata ‘baik’.”
        “Tapi…”
        “Tapi gue akan berusaha untuk mencintai Eun Ji,” kata Youngjae. Terdengar jauh lebih serius. Youngjae kemudian bercerita dengan singkat saat-saat yang dilalui dirinya dan Eun Ji sebelum hari ini tiba. Mereka memang baru bertemu karena selama ini Gikwang berada di luar kota meski pertemanan keduanya masih bertahan sampai sekarang.
Flashback end…

        Youngjae kembali ke kamar dengan membawa 2 cangkir teh hangat. Gaun Eun Ji tampak tergeletak begitu saja di atas kursi. Gadis itu juga masih berada di dalam kamar mandi saat Youngjae meletakkan cangkir di atas meja. Pemuda itu memilih bersandar di kepala tempat tidur sambil memeriksa ponselnya.
        Terdengar pintu kamar mandi terbuka. Namun tidak ada yang terjadi setelah itu. Youngjae akhirnya mendongak karena penasaran dan hanya mendapati kepala Eun Ji yang menyembul ke luar dari dalam kamar mandi.
        “Lo ngapain masih di situ? Nggak mau ke luar?”
        Eun Ji menggigit bibirnya. “Gue cuma pakai handuk, Jae. Bisa tolong ke luar dulu nggak? Gue mau ganti baju. Sebentar aja. Janji nggak bakal lama.”
        Youngjae nyaris terkekeh melihat sikap pemalu Eun Ji yang baru saja ditunjukkan gadis itu. Tentu karena selama ini Eun Ji hanya menunjukkan sikap galaknya pada Youngjae. Tapi Youngjae menahan diri agar tawanya tidak pecah. Ia memilih mengembalikan ponselnya ke atas meja, kemudian merebahkan badan sambil menarik selimut hingga menutupi sebagian tubuhnya.
        “Gue capek, mau istirahat.”
        Eun Ji menahan rasa kesalnya untuk saat ini. Dengan terpaksa ia melangkahkan kakinya ke luar setelah beberapa saat. Mendekap handuk yang hanya menutupi bagian dadanya hingga paha. Sambil terus menatap waspada ke arah Youngjae, Eun Ji berjingkat menuju pakaian yang sudah ia siapkan di atas tempat tidur. Tepat di dekat kaki Youngjae yang tertutup selimut.
        Tentu Youngjae belum sepenuhnya tertidur. Ia mengintip dari balik guling yang didekapnya. Tepat saat Eun Ji kembali berlari kecil menuju kamar mandi setelah berhasil mengambil pakaiannya di tempat tidur. Melihat kaki mulus Eun Ji, membuat Youngjae meneguk ludah. Buru-buru pemuda itu menenggelamkan wajahnya ke balik selimut.
        “Sial…! Kenapa tadi gue nggak nurutin permintaan Eun Ji aja buat ke luar kamar!” Youngjae berdesis kesal.

***

Empat hari berlalu setelah hari pernikahan Youngjae dan Eun Ji. Mereka sementara masih tinggal di rumah keluarga Doojoon. Dan hari itu Youngjae tampak sudah siap dengan sebuah koper besar miliknya. Ia akan bertolak ke luar kota karena memang sudah mulai belajar mengurus perusahaan keluarga Doojoon. Atau yang sebenarnya memang miliknya juga sebagai salah satu anak kandung Hyunseung.
        Youngjae ke luar kamar sambil menarik koper besarnya. Ia juga belum melihat Eun Ji pagi ini. Dan ternyata gadis itu justru muncul dari kamar Zelo yang tidak terlalu jauh dari kamar Youngjae berada.
        “Suami lo tuh gue atau Zelo, sih? Lo abis ngapain di sana?” Youngjae menegur dengan nada cukup tinggi. Sukses membuat Eun Ji sedikit terkejut mendengar suaranya.
        “Adik lo sakit. Apa salah kalau gue juga perhatian ke Zelo?” Eun Ji membalas ucapan Youngjae dengan nada lebih rendah. Membuat Youngjae kini balik merasa bersalah.
        “Maaf,” ujar Youngjae mengalah. “Lo nggak mau nganter gue ke bandara?”
        “Nggak. Lagian, bukannya lo udah biasa sendiri. Gue mau di rumah aja. Kasian Zelo nggak ada yang nemenin. Om Doojoon juga nggak ada tanda-tanda bakal pulang. Lagi pula, gue belum ngapa-ngapain juga.”
        Youngjae menghela napas, pasrah. Ia sudah ingin berangkat, dan tidak mungkin memaksa Eun Ji untuk mengantarnya ke bandara. Eun Ji bahkan masih memakai piyama tidurnya.
        “Kalau nganter gue sampai depan rumah, nggak nolak ‘kan?” Youngjae tetap ingin Eun Ji mengantarnya. Meski hanya sampai depan rumah. Pagi itu rasanya ia ingin memanjakan diri pada Eun Ji sebelum meninggalkan istrinya tersebut.
        Meski sebenarnya masih saling bersikap dingin, Eun Ji dan Youngjae sepakat untuk sedikit berbaikan. Eun Ji tetap mengabulkan permintaan Youngjae. Tapi saat Youngjae berniat merangkulnya, gadis itu sedikit menolak. Tentu Youngjae tidak ingin mengalah. Ia bahkan sampai terkesan memaksa Eun Ji.
        “Kalau lo nurut, gue nggak bakal kasar.” Youngjae membalas tatapan tajam Eun Ji atas perbuatannya.
        “Gue cuma nggak enak aja. Soalnya gue belom mandi.”
        Youngjae terkekeh mendengar jawaban Eun Ji yang menurutnya hanya sebuah alasan klasik. “Oh, ya? Apa menurut lo itu masalah buat gue?”
        Eun Ji menoleh cepat untuk memastikan maksud ucapan Youngjae. Tapi yang didapat jauh lebih besar dari sekedar jawaban. Youngjae sudah lebih dulu mendaratkan bibirnya sekilas pada bibir Eun Ji. Dan setelah itu, Youngjae dengan jelas menunjukkan tatapan penuh kemenangan pada Eun Ji sambil mengajak Eun Ji turun ke lantai bawah.

***

        Eun Ji melenggang riang, menaiki escalator menuju tempat Peniel dan teman-temannya menunggu. Ia sedang berada di bandara sekarang. Eun Ji juga akan melakukan perjalanan ke luar kota. Menghadiri bahkan ikut terlibat dalam sebuah event besar bersama rekan kerjanya di kantor Peniel.
        “Gue belum terlambat, kan?” seru Eun Ji saat sudah berdiri di depan Namjoo dan Peniel.
        Namjoo dan Peniel sontak berdiri bersamaan. Menatap penuh minat kehadiran Eun Ji di sana. Peniel bahkan sampai membuka kacamata hitamnya.
        “Gue kira lo nggak bakal dateng? Youngjae tahu lo pergi?”
        Mendengar pertanyaan Peniel, membuat Eun Ji diam dan hanya bisa menggigit bibirnya. “Youngjae bahkan udah pergi dari tadi pagi. Bisa sebulan dia baru balik.”
        “Akh, nggak seru dong? Kenapa nggak minta ijin langsung aja, sih?” goda Peniel.
        “Udah, deh. Gue masih belum yakin Youngjae bakalan nggak rese ke gue. Bisa-bisa dia ngadu ke bokap gue.” Eun Ji berujar malas. Namun Peniel hanya tersenyum.
Mereka kemudian duduk sambil berbincang seru tentang rencana mereka. Termasuk juga sempat membahas sedikit tentang ketidak hadiran Peniel saat pernikahan Eun Ji dan Youngjae. Cukup melupakan kehadiran Namjoo yang kini sibuk dengan pikiran-pikirannya tentang Youngjae.
        “Apa lo bisa bahagia dengan Eun Ji yang bahkan nggak sedikitpun memiliki rasa untuk lo?” Namjoo mengkhawatirkan Youngjae. Pemuda yang masih memiliki tempat tersendiri dihatinya.

***

        Daehyun dan G.Na mendapat tugas malam dan baru akan pulang dari rumah sakit siang nanti. Sementara Yongguk, Jongup serta Himchan juga sudah berangkat sejak pagi. Memulai aktifitas mereka hari ini. Meninggalkan Chorong seorang diri di sana. Tapi itu cukup menyenangkan untuk Chorong. Wanita itu sangat menikmati keberadaannya di tengah-tengah keluarga Yongguk yang hangat. Terlebih G.Na juga sudah mulai membuka diri semenjak kejadian di hari pernihakan Youngjae waktu itu.
        Seusai membersihkan semua peralatan makan yang digunakan untuk sarapan, kegiatan Chorong berikutnya hanya menonton televisi. Ia memang dilarang melakukan pekerjaan berat. Chorong juga masih dalam kondisi cuti bekerja hingga akhir pekan ini. Chorong sempat ke dapur untuk mengambil segelas air. Tepat beberapa saat kemudian terdengar suara pintu terbuka dan bunyi ponsel miliknya.
Chorong menempelkan ponselnya ke telinga, sementara tangan yang lainnya masih menggenggam gelas. Ternyata Himchan juga sudah pulang. Padahal waktu masih menunjukkan pukul 11 siang. Mereka hanya saling sapa melalui tatapan mata karena Himchan berniat langsung menuju kamarnya. Namun saat mendengar suara pecahan kaca, Himchan membatalkan niat untuk masuk ke dalam kamar.
        Gelas dalam genggaman tangan Chorong terlepas begitu saja hingga pecah di atas lantai. Buru-buru Himchan melesat ke tempat Chorong berada. Wanita itu sudah menangis, tepat saat Himchan menangkap tubuhnya yang sedikit sempoyongan. Himchan membimbing Chorong untuk duduk di sofa. Setelah itu ia merebut ponsel Chorong yang mencurigakan. Himchan tertegun sesaat saat mendengar seseorang bicara dari ponsel Chorong.
        Himchan berusaha mengimbangi berat tubuhnya agar tetap berdiri tegap. Tangannya yang memegang ponsel Chorong juga terasa lemas. Kemudian ia melirik Chorong karena merasakan tangannya digenggam seseorang.
        “Him, kita harus segera ke… akh!” Tiba-tiba Chorong memegangi perutnya yang terasa sakit.
        “Chorong!” Himchan menatapnya panik. Sambil memegangi pundak Chorong. “Darah…” gumam Himchan saat matanya mendapati noda darah mengalir di kaki Chorong yang hanya mengenakan dress selutut. Tanpa pikir panjang, Himchan mengangkat tubuh Chorong dan membawanya ke luar.
        “Bomi…!” seru Himchan meneriaki nama Bomi saat cewek itu baru saja memasuki rumahnya.
        “Mba Chorong kenapa, Mas?” tanya Bomi sambil mendekat.
        “Gue mau bawa Chorong ke rumah sakit.”
        “Pakai mobil gue aja.”
Bomi berlari kembali menuju rumahnya. Membukakan pintu mobil untuk Chorong. Himchan kemudian membuka pintu kemudi. Namun sesaat ia menatap Bomi.
        “Bisa minta tolong? Gue belom sempet ngunci rumah.”
        “Oke, tapi gue juga ikut ke rumah sakit.” Bomi segera melesat ke rumah Himchan. Melakukan permintaan pemuda itu yang tadi memang terburu-buru ke luar rumah.

***

        Bomi masih menemani Himchan di ruang tunggu rumah sakit sementara Chorong sedang mendapatkan perawatan. Namun ia tidak berani bertanya apa-apa tentang apa yang terjadi pada Chorong. Bomi hanya menunggu dengan resah kehadiran Daehyun di sana.
        “Mas, Jongup belum tahu kan?”
        Himchan dan Bomi menoleh bersamaan. Daehyun juga sudah duduk di samping Himchan masih lengkap dengan seragam dokternya.
        “Gue nggak ngasih tahu Jongup, kok. Dia juga lagi ke rumah Zelo. Zelo sakit,” jelas Himchan. “Oiya, gimana Mas Yongguk?”
        “Tadi Mas Yongguk keserempet motor gitu. Tapi udah nggak-papa kok. Cuma luka-luka aja. Nanti bisa langsung di ajak pulang sekalian dan…” Daehyun melebarkan mata saat baru menyadari sesuatu. “Mba Chorong mana?”
        Belum sempat ada yang menjawab, pintu tempat Chorong mendapat perawatan terbuka. Himchan, Daehyun dan Bomi langsung berdiri dan menghampiri seorang dokter yang menangani Chorong.
        “Siapa suami dari nyonya Chorong?” dokter itu menatap Daehyun dan Himchan bergantian.
        “Saya, dok.”
        Mereka menoleh cepat ke arah sumber suara. Tampak Yongguk sudah berdiri di sana dengan kondisi lengan kirinya yang dibalut perban.
        “Mas Yongguk?” Himchan, Bomi serta Daehyun berujar hampir bersamaan.
        “Maaf, istri anda mengalami keguguran. Nampaknya ada sesuatu yang dipikirkannya.”
        Mendengar jawaban dari dokter tersebut, Yongguk melempar tatapan menyelidik pada 2 adiknya, terutama pada Daehyun. “Siapa yang ngasih tahu Chorong kalau gue kecelakaan?”
        Himchan sendiri juga ikut menatap Daehyun.
        “Petugas UGD,” Daehyun berujar sepelan mungkin.
        Yongguk dengan cepat bergerak memasuki ruangan. Tidak ingin melakukan perdebatan lebih dulu dengan Daehyun karena pemuda itu tentu tidak tahu apa-apa.
“Untuk kita punya keponakan tertunda dong?” Daehyun terdengar mengeluh. “Akh, tapi seenggaknya masih ada Youngjae kan ya?”
        Himchan mentap Daehyun dengan pandangan aneh. “Jelas-jelas Eun Ji nggak hamil,” desisnya seolah mengingatkan.
        Daehyun terlihat menjentikkan jarinya. “Mas Himchan bener.” Ia menatap Bomi dan Himchan bergantiang. Tatapannya sangat penuh minat. Mata Daehyun kemudian terlihat menerawang. Seperti ada sesuatu yang ia pikirkan. Dan saat melihat dua orang di hadapannya, mendadak isi kepala Daehyun berubah. Ada sesuatu yang ia inginkan dari dua orang itu. “Kalian jangan lama-lama ya nyusul Youngjae nikah.”
        “Apa?” seru Bomi. Tentu ia memprotes dengan tegas. Meski ia memang masih menyukai Himchan, tapi bukan saatnya membahas pernikahan. Hubungan antara dirinya dan guru tampan itu saja bahkan belum jelas sampai sekarang.
        Himchan hanya diam menanggapi ucapan jahil Daehyun. Tapi tentu saja itu hanya usaha menutupi sesuatu yang ia pikirkan. “Ayo pulang,” putus Himchan pada Bomi. Ia tidak ingin terjebak di sana dengan pikiran Daehyun yang mulai serupa dengan Jongup.

***

Yongguk menutup pintu di belakangnya. Tidak ingin 2 adiknya yang masih di luar mengganggu. Di sana ia mendapati Chorong dalam keadaan sadar. Wanita itu bahkan sampai tersenyum melihat kedatangan Yongguk.
        “Kamu baik-baik aja?”
        Yongguk mendesah berat sambil menghempaskan badannya ke kursi. “Harusnya aku yang nanya begitu.” Tangan Yongguk perlahan mengarah pada perut Chorong yang masih terlihat rata. “Kamu ngelakuin apa di rumah sampai bisa bikin kamu keguguran gitu?” tanyanya selembut mungkin. Tidak ingin menyakiti Chorong dalam bentuk apapun.
        “Aku memang wanita keras kepala. Tapi aku bukan wanita pembangkang. Terutama setelah kita nikah. Jadi, tolong jangan salahin aku atas kejadian ini. Karena setidaknya, sudah tidak ada nama ‘Changsub’ lagi yang tersisa di antara kita.”
        “Apa kamu nggak sedih karena…”
        “Tentu aku sedih. Tapi sumpah, Yongguk, aku nggak kelakuin hal jahat pada bayi ini.” Chorong menatap Yongguk, sementara tangannya ia letakkan di atas tanggan Yongguk yang masih memegangi perutnya. “Sebelumnya aku baik-baik aja. Sampai.. ada seseorang yang telepon aku dan bilang kalau kamu…”
        “Maaf.” Yongguk memeluk tubuh Chorong. “Maaf karena udah bikin kamu khawatir sampai mengganggu janin kamu.”
        “Ketakutan aku untuk kehilangan kamu jauh lebih besar.”
        Yongguk perlahan melepaskan pelukannya. Tersenyum sambil mengusap pipi Chorong yang sudah basah. “Aku mencintaimu,” ujarnya sesaat sebelum mendaratnya bibirnya di atas bibir Chorong.

***

        Eun Ji duduk bergabung di meja makan bersama Peniel, Namjoo dan beberapa rekan kerjanya yang lain. Eun Ji memilih kursi di antara Namjoo dan Peniel.
        “Gue denger, kita bakal ketemu sama CEO acara ini besok siang?” tanya seorang pemuda berkaca mata bernama Dongwoon. Ia duduk di seberang Peniel.
        “Iya,” ujar Peniel pendek. Ia sendiri tampak memegang sebuah buku agenda. Membolak-balikkan isinya dengan penuh minat sambil menelusuri setiap sudut halaman tanpa ada yang terlewatkan. “Setelah makan malam, kita rapat.” Peniel lalu menoleh ke tempat Eun Ji berada yang mulai menikmati makanannya. “Lo udah bikin daftar yang gue minta, kan?”
        Eun Ji mengangguk cepat. “Model tambahan yang kita butuhin itu udah ada?”
        “Catetannya gue taruh di halaman belakang,” kata pemuda lain yang duduk di samping Dongwoon.
        “Oh.” Peniel langsung membuka halaman yang dimaksud oleh Yoseob tadi. “Iya, ada 3 orang. Lee Jonghyun, Ahn Jaehyo dan…” Peniel tidak langsung meneruskan ucapannya karena nama tersebut. ‘Lee Gikwang’. “Kayaknya waktu kita nggak banyak. Kalian selesai makan malam kalian. 15 menit lagi kita ketemu di ruang rapat.” Peniel tampak berdiri.
        Namjoo, Yoseob dan Dongwoon kembali melanjutkan makan malam mereka. Namun tidak untuk Eun Ji. Ia menatap punggung Peniel yang sudah berjalan semakin menjauh. Seperti ada yang disembunyikan pemuda itu.

***

        “Kalian jangan tinggalin gue sendirian dong di sini,” rengek Zelo dengan suara paraunya. Ia juga masih tenggelam di balik selimut tebalnya.
        Daehyun dan Jongup saling melempar pandangan. Daehyun baru saja memeriksa kondisi Zelo. Dan sekarang, ia juga Jongup harus pulang. Meski tentu saja Yongguk atau mungkin Himchan tidak melarang mereka untuk lebih lama berada di rumah Zelo. Terutama Jongup. Tapi keduanya masih memiliki keingin pulang ke rumah mereka selama ini, bahkan rasanya jauh lebih besar.
        “Lo ikut kita pulang aja,” putus Jongup secara sepihak.
        Daehyun sontak menoleh cepat. Menatap Jongup seakan adiknya itu tidak bisa sembarangan memutuskan sesuatu. Terlebih dikondisi yang seperti sekarang ini. Namun Jongup membalas tatapan Daehyun dengan pandangan tenang. Pemuda itu sudah memiliki pemikiran sendiri.
        “Gue kan bisa tidur di sofa. Cuma buat semalam aja, kan?”
        Jongup sudah lebih dulu menepuk pelan lengan Daehyun untuk memastikan semuanya baik-baik saja. Ia lalu menyingkir dan berniat membawa beberapa helai pakaian untuk Zelo. Sementara Daehyun sendiri mampu mengawasi kegiatan Jongup.
        Sekitar hampir 1 jam, mereka akhirnya sampai di rumah G.Na. Tentu dengan membawa serta Zelo bersama mereka. Himchan yang tampak membukakan pintu karena mendengar seseorang datang, sukses dibuat tercengang melihat tubuh tinggi Zelo yang merangkul pundak Daehyun.
        “Ini darurat, Mas.”
        Himchan hanya mampu menyingkir tanpa berkomentar apa-apa. Membiarkan Daehyun dan Jongup membawa Zelo untuk duduk di sofa. Sesaat Himchan masih tertegun di tempatnya tanpa bergerak sedikitpun. Memperhatikan 3 adiknya dengan pikirannya yang cukup bercampur aduk. Zelo sakit, dan Jongup tampak begitu perhatian. Seperti bukan Jongup yang selama ini ia kenal. Jongup sempat menyelimuti Zelo dengan jaket tadi sebelum ia ke dalam. Sementara Daehyun, tentu karena profesinya yang sebagai seorang dokter.
        G.Na tampak memunculkan diri dari dalam kamarnya, bertepatan saat Jongup dan Daehyun melintas. Namun 2 pemuda itu tampak biasa saja. Seakan tidak menyadari keberadaan G.Na di sana.
        “Himchan, apa Yongguk mengabari sesuatu tentang Chorong?”
        Himchan tidak langsung menoleh. Fokusnya masih untuk Zelo. Seseorang yang selama ini ia anggap sebagai muridnya. Ternyata anak kandung dari Ibunya juga. Meski ayah mereka berbeda.
        Melihat Himchan mengabaikan pertanyaannya, tentu G.Na merasa sedih. Perlakuannya yang selama ini mengabaikan anak kandung, seperti sedang terbalaskan. Bahkan pelakunya adalah anak kandungnya sendiri.
        “Nanti aku temenin Jongup tidur di luar, deh. Nggak-papa kan kalau Zelo di kamar kita malam ini?”
        G.Na baru menyadari jika Himchan tidak sendirian di sana. Karena posisi Daehyun dan Zelo terhalang sebuah lemari besar sebagai pembatas ruangan. Dan saat mendengar Daehyun menyebut nama Zelo, sontak G.Na mendekat. Dengan jelas ia melihat wajah pucat Zelo yang duduk di sofa dengan mata terpejam erat.
        “Aku pergi beli obat buat Zelo dulu ya.” Jongup berpamitan sambil berlalu.
        “Nggak minta uang?” tanya Daehyun.
        Jongup menaikkan resleting jaketnya. “Masih punya kok, Mas.”
        “Zelo sakit? Apa dia akan menginap di sini juga?”
        Mendengar G.Na bersuara, Jongup hanya mampu melempar tatapan pada dua kakaknya. Seakan berusaha untuk saling bertukar pikiran. Kejadian saat di pernikahan Youngjae beberapa hari lalu seperti belum memberikan dampak apapun di keluarga itu.
        “Tapi kan nggak bagus tidur di luar. Zelo bisa di kamar ibu aja.”
        Ketiga pemuda itu tentu terkejut. Tatapan Himchan kini kembali jatuh pada sosok Zelo. Sementara Daehyun menatap khawatir pada Jongup yang berdiri di samping Himchan.
        “Sama Jongup juga kan, Bu?”
Himchan bertanya dengan penuh penekanan. Tidak sekalipun selama ini G.Na mengijinkan Jongup untuk tidur bersamanya. Ia bahkan teringat kejadian di rumah sakit saat Jongup mencium pipi G.Na yang sedang dirawat. Jongup sangat merindukan Ibu mereka. Namun Himchan, Daehyun, bahkan Yongguk sadar, Jongup tidak memiliki kekuatan sedikitpun untuk membenci G.Na. Tapi ia tidak yakin untuk beberapa detik kemudian saat G.Na memberikan jawaban yang mungkin akan menyakiti hati Jongup. Atau sebaliknya…
        “Tentu. Kita bisa tidur sama-sama.”
        Semuanya runtuh. Kekhawatiran Himchan bahkan sama sekali tidak terjadi. Dan ini yang sudah ia tunggu-tunggu selama belasan tahun. G.Na kini mulai membuka hatinya.
        “Jong, cepet pergi. Keburu malem,” tegur Daehyun.

***

Minggu, 28 Desember 2014

PERFECT LOVE (chapter 17)


Author              : Annisa Pamungkas (@nniissaa11)
Main Cast          : B.A.P (Yongguk, Himchan, Daehyun, Youngjae,
  Jongup, Zelo [Junhong])
Support cast     :
·        A-Pink (Chorong, Bomi, Naeun, Eun Ji, Namjoo, Hayoung)
·        G.Na (Soloist)
·        B2ST (Doojoon)
·        BtoB
Genre               : romance, family, brothership
Length              : chapter

***

        Melihat kedatangan Hayoung, membuat Himchan dengan bangganya merapikan jas. Hayoung justru menatap remeh guru tampan di hadapannya tersebut.
        “Kalo udah lunas tuh emang bagus hasilnya,” kata Hayoung.
        Sontak Bomi mendekat ke tempat Hayoung berada. “Jadi kamu beneran nyuruh Mas Himchan buat bayar semuanya?”
        Himchan berusaha mencuri dengar pembicaraan dua cewek itu. Dan beruntung suara Bomi memang bisa ia dengar karena Himchan dengan sengaja ikut mendekatkan wajahnya di antara dua cewek itu. Bomi yang menyadari hal tersebut, langsung saja mendorong tubuh Himchan agar menjauh darinya.
        “Udah deh, jangan pada bahas baju. Kamu nggak mau ketemu Mas Yongguk, apa?” Himchan berujar mengalihkan.
        Bomi menatap Himchan, cukup serius dan merasa sedikit aneh dengan cara Himchan bicara padanya. Namun bukan Himchan namanya jika ia terlihat kalah dihadapan Bomi dan salah satu muridnya tersebut. Cowok itu meraih salah satu tangan Bomi dan ia genggam dengan cukup kuat.
        “Tugas lo sekarang nemenin gue buat ketemu Mas Yongguk dan Chorong,” putus Himchan. Tanpa ingin ada penolakan sedikit pun. “Kita duluan,” pamitnya pada Hayoung. Namun sambil menunjukkan senyumannya dan berusaha terlihat sangat ramah.
        Hayoung sendiri hanya terkekeh geli melihat kelakuan gurunya tersebut. “Jadi pengen cepet-cepet liat mereka nikah.” Dan pikiran jahil pun mulai menggerayangi otak cewek itu. Tapi hanya berlangsung sesaat. Karena tidak lama kemudian, terlihat sosok Jongup akan melintas bersama Namjoo.
Melihat itu, Hayoung terkekeh. Suasana yang terjalin antara Jongup dan Namjoo masih terlihat kaku. Jongup terlihat salah tingkah saat berjalan di samping cewek itu. Sementara Namjoo juga terlihat malu-malu dan takut jika ada yang memergokinya jalan dengan Jongup.
        Saat melintas di hadapan Hayoung, Jongup memang menyadari keberadaan cewek itu yang semakin membuatnya salah tingkah. Namun Hayoung justru menunjukkan kedua ibu jarinya untuk memberikan dukungan pada Jongup.
        Hayoung menatap kepergian Jongup dengan tatapan ikut merasa senang dengan yang dialami teman sekelasnya tersebut. Kemudian cewek itu berniat menuju tempat lain. Namun tak disangka, arah yang ia pilih justru membuatnya menemukan sosok cowok tinggi yang sudah sejak beberapa waktu lalu mulai mencuri perhatiannya. Zelo.
        Zelo berjalan seorang diri. Tampak bingung harus berbuat apa. Dan terlihat kesal karena tidak bisa menemukan seseorang yang sekiranya ia kenal. Tapi akhirnya kegelisahan Zelo berkurang karena ia juga menyadari keberadaan Hayoung yang kini hanya berjarak beberapa meter saja darinya.
        “Young, lo di sini sama siapa?”
        “Sama keluarga besar gue.”
        Zelo terlihat berpikir dua kali untuk bisa mengerti maksud ucapan Hayoung. “Lo keluarga dari…” Zelo sengaja menggantungkan ucapannya dengan maksud agar Hayoung meneruskannya.
        “Mba Chorong kakak gue.”
        Mendengar pengakuan Hayoung, membuat Zelo sedikit terkejut.

***

        Youngjae menahan tangan Eun Ji yang ia paksa untuk menggandeng lengannya. “Tetap kayak gini sampe kita ketemu orang tua lo,” desis Youngjae tepat di telinga Eun Ji. Mereka masuk ke dalam gedung untuk menemui orang tua Eun Ji dan ke dua mempelai tentunya.
        “Lo punya hutang penjelasan ke gue!” balas Eun Ji tak kalah tajam.
        Youngjae mendekatkan lagi wajahnya ke telinga Eun Ji meski cewek itu justru terlihat menjauh. “Apapun yang lo mau. Setelah kita ketemu mertua gue,” serunya dengan nada sedikit menggoda.
        Eun Ji hendak memberontak. Tapi tentu saja sekuat tenaga Youngjae menahan pergerakan cewek itu.
        “Kenapa nggak bilang kalau kalian datang bersama?” tanya Junhyung yang raut wajahnya berubah drastis dari saat Eun Ji belum datang. Ia kemudian memeluk Youngjae, singkat.
        Cowok itu tak lupa juga memeluk Hyuna. “Kejutan, Om.” Youngjae menjawab dengan nada sedikit jahil. Dan terlihat sangat akrab. Seolah ia memang sudah menjadi bagian dari keluarga tersebut.
        “Yaudah sana kalian makan dulu. Kayaknya Eun Ji lagi nggak pengen diganggu,” goda Hyuna pada putrinya yang tampak sangat tidak bersemangat.
        Eun Ji sendiri hanya bisa menahan kesal atas kejahilan ibunya tersebut. Namun di sisi lain, Youngjae justru tampak berusaha menahan tawanya melihat Eun Ji. Cowok itu sangat menyadari jika Eun Ji memang belum bisa benar-benar menerimanya.
        “Iya nih, Tan. Soalnya aku sempet ngerjain Eun Ji. Bilang kalau aku nggak bisa dateng. Jadi rada bête gini, deh.” Youngjae dengan sengaja bicara sambil mengawasi perubahan raut wajah Eun Ji. Dan saat Eun Ji menoleh padanya, Youngjae memberikan satu kedipan mata pada cewek itu.
        Junhyung dan Hyuna terkekeh geli melihat kejahilan calon menantunya itu. “Yaudah, kita nggak mau ganggu kalian.” Junhyung tampak merangkul Hyuna dan berniat membawa pergi istrinya tersebut.
        Youngjae sendiri juga sudah ingin mengajak Eun Ji pergi bersamanya. Namun ternyata Hyuna menghalangi.
        “Eun Ji, kamu pakai sepatu hak tinggi!” pekik Hyuna yang baru menyadari sesuatu yang digunakan anak perempuannya sebagai alas kaki.
        Eun Ji yang sedikit terkejut dengan suara tinggi Hyuna, tanpa sadar mempererat genggaman tangannya pada lengan Youngjae. Youngjae sendiri juga sebenarnya tampak panik. Namun ia harus bisa mengendalikan keadaan. Karena Hyuna tentu masih mengira Eun Ji tengah mengandung. Dan memang sangat bahaya untuk wanita hamil mengenakan sepatu ber-hak tinggi.
        Youngjae melepaskan tangan Eun Ji karena ia ingin merangkul cewek itu. Melingkarkan lengannya di pinggang Eun Ji. “Kan ada aku, Tan. Om sama tante tenang aja. Eun Ji pasti aman selagi ada aku.”
        “Cari perhatian terus,” bisik Eun Ji sepelan mungkin. Tapi tentu itu sebuah sindiran keras untuk Youngjae.
        Hyuna jelas tidak bisa mendengar apa yang Eun Ji katakan pada Youngjae. Ia hanya bisa tersenyum lega karena ucapan Youngjae tadi. “Jaga Eun Ji baik-baik, ya?”
        Setelah beberapa saat Junhyung dan Hyuna meninggalkan Eun Ji bersama Youngjae, cowok itu masih mempertahankan posisi seperti tadi. Bahkan saat Eun Ji berdeham keras pun, Youngjae sama sekali tidak merubah letak tangannya yang masih melingkar di pinggang Eun Ji.
        “Mau singkirin tangan lo, atau mau sepatu gue mendarat di jidat lo yang mulus itu?” Eun Ji memperingati Youngjae dengan tatapan setajam mungkin untuk cowok itu.
        Youngjae justru tersenyum. Seakan menandakan bahwa ancaman Eun Ji bukan berarti apa-apa untuknya. “Sayangnya gue nggak mau ngelepasin lo. Terlebih setelah satu minggu dari sekarang.”
        Eun Ji yang merasa sudah tidak mungkin melawan Youngjae, akhirnya memilih untuk berusaha menyingkirkan tangan Youngjae dari pinggangnya. Semula Youngjae memang luluh dan melepasnya. Tapi ternyata cowok itu memiliki rencana lain. Youngjae justru menarik salah satu lengan Eun Ji yang bebas hingga menyebabkan bibir Youngjae mendarat mulus di pipi Eun Ji. Seolah-olah tidak sengaja terjadi.
        “Daeh, bisa cubit aku?” Naeun ternyata melihat semua yang terjadi antara Eun Ji dan Youngjae. Dan ia hanya bisa tercengang, seakan tidak mempercayai pemandangan di hadapannya.
        Dengan polosnya, Daehyun meluruskan permintaan Naeun. Cowok itu benar-benar mencubit Naeun dibagian ke dua pipi cewek itu.
        “Akh!” jerit Naeun. Tentu saja membuatnya sedikit menjadi pusat perhatian orang-orang disekitarnya. Termasuk Eun Ji yang dengan cepat menoleh ke arah Naeun. Namun sayangnya Youngjae sudah lebih dulu pergi dari sana.
        Tertangkap oleh Eun Ji, Naeun hanya tersenyum kikuk. Sementara Daehyun juga tersenyum sambil menunjukkan deretan giginya yang putih.

***

        Yongguk membimbing Chorong untuk meninggalkan pelaminan. Selain itu, pesta resepsi pernikahan mereka juga sudah memasuki puncaknya. Tamu-tamu sudah mulai meninggalkan gedung. Hanya tersisa orang-orang terdekat saja di sana.
        Di salah satu sudut gedung, tampak Youngjae sama sekali tidak menjauh dari sisi Eun Ji. Ia menatap calon istrinya yang sedang makan itu penuh dengan tatapan yang sulit diartikan. Eun Ji meletakkan gelas minumannya yang sudah kosong dengan sedikit keras. Membuat Youngjae seakan sadar dari lamunannya.
        “Eh, lo mau ke mana?” seru Youngjae saat melihat Eun Ji bergerak.
        “Toilet!” balas Eun Ji tanpa menoleh ke arah Youngjae. Ia terus saja berjalan.
        Sementara itu, Yongguk ternyata masih berada di sekitar sana. Ia sedang berbincang dengan Jongup dan Zelo. Daehyun serta Himchan juga tampak mendekat tanpa cewek-cewek mereka. Namun keduanya tidak begitu saja bergabung ke dalam obrolan serius Yongguk, Zelo serta Jongup.
        “Daeh, kayaknya itu cowok yang kita liat di rumahnya Eun Ji, deh.” Himchan berujar dengan tatapan tertuju pada Youngjae.
        Daehyun sontak mengikuti arah pandang kakaknya. Tentu saja sebenarnya tebakan Himchan sangat tepat. “Youngjae.”
        Mendengar nama Youngjae disebut, sukses membuat Himchan terpaku. Belum lagi Youngjae benar-benar menghampiri mereka sepeninggal Eun Ji tadi. Hubungan antara Youngjae dan Daehyun juga tampaknya sudah mulai membaik.
        “Perasaan waktu Mas Yongguk mau nikah, nggak suram kayak lo, Young.” Daehyun berseru menggoda.
        Himchan yang berada di sana pun menyimak semua ucapan Daehyun. “Waah, kalian beneran akan nikah?” Ia mengerti maksud pembicaraan adiknya.
        Sesaat, Youngjae tertegun mendengar pertanyaan Himchan. Bukan hanya pertanyaan, bahkan ia terpaku mendapati Himchan berada di hadapannya. Tentu karena Youngjae teringat saat Zelo mengatakan bahwa gurunya tersebut yang membawa Youngjae ke rumah sakit. Dan bisa dipastikan, yang dimaksud oleh Zelo adalah Himchan.
        “Kayaknya gue belum sempat berterima kasih karena…”
        Belum sempat Youngjae menyelesaikan kalimatnya, Himchan sudah lebih dulu menarik Youngjae ke dalam pelukannya. “Nggak perlu berterima kasih. Itu udah kewajiban gue.”
        Youngjae sendiri cukup terkejut dengan perlakuan Himchan padanya. Namun ada hal yang membuatnya tidak bisa menolak sebuah pelukan yang terasa hangat untuknya. Pelukan hangat seorang kakak yang tidak ia miliki selama ini.
        Bukan hanya Youngjae yang terkejut atas pemandangan tersebut. Tapi juga Daehyun. Bahkan Jongup juga akhirnya menangkap kejadian itu. Jongup mencoba memberitahu Yongguk dengan mengguncang lengan kakaknya tersebut. Dan setelah Yongguk menyadari maksud Jongup, ternyata Zelo juga melihat ke arah yang sama. Tepat saat Himchan baru saja melepaskan pelukannya.
        “Sepertinya kalian belum berfoto.” Suara salah seorang fotografer di sana menginterupsi 6 orang cowok yang kebetulan berdiri tidak terlalu jauh. Ia sudah membidikkan lensa kameranya. “Ayo lebih merapat.”
        Meski terlihat saling melempar tatapan bercampur bingung, Yongguk dan yang lainnya tetap menuruti arahan sang fotografer. Berjejer dari kiri ke kanan, Daehyun, Himchan, Youngjae, Jongup, Yongguk serta Zelo.

***

        Bomi berinisiatif mendekati G.Na saat ia melihat sesuatu yang janggal terjadi pada wanita itu. G.Na membalikkan badan dan terlihat menyeka tepi matanya yang tampak basah.
        “Tante baik-baik aja?” ujar Bomi memastikan.
        G.Na tidak menjawab. Bomi sendiri juga tidak ingin memaksa. Namun tatapan cewek itu mengedar untuk mencari penyebab G.Na tampak sedih seperti itu. Sampai akhirnya, tatapan Bomi terhenti pada deretan 6 cowok yang sedang berfoto bersama. Bomi sontak berpegangan pada tepi sebuah meja terdekat. Ia sama terkejutnya dengan G.Na.
        G.Na sudah tidak tahan berada di sana. Wanita itu memaksakan diri untuk pergi dari sana. Berusaha tetap berjalan tegap meski sebenarnya G.Na sudah tidak sekuat itu. Dan karena G.Na sudah kurang bisa mengendalikan diri, wanita itu sampai menubruk tubuh Hayoung tanpa sengaja. Bahkan sampai membuat piring di tangan Hayoung terlepas hingga terjatuh dan pecah di atas lantai. Sementara G.Na sendiri sama sekali tidak merasa bersalah sedikit pun pada Hayoung dan lebih memilih terus melanjutkan langkahnya.
        Namjoo dan Bomi terlihat menghampiri Hayoung yang masih terlihat terkejut. Tentu saja kejadian tersebut sukses menyita perhatian orang-orang yang masih tersisa di sana. Naeun sendiri tampak berusaha menenangkan Chorong yang sudah ingin melesat ke tempat Hayoung berada. Karena Hayoung juga sudah di ajak menepi oleh Bomi serta Namjoo.
        Hanya Eun Ji yang berada paling jauh dari yang lainnya. Namun ia tetap menyadari kejadian tadi. Eun Ji juga tidak melakukan apa-apa karena ia melihat G.Na yang berjalan semakin dekat dengan tempat ia berada sekarang yang tidak jauh dari pintu utama. Setengah berlari menuju pintu utama.
        “Ibu!” Yongguk berseru keras. Dan ia hanya mengajak Himchan untuk bersamanya menyusul G.Na.
        Daehyun dan Zelo sudah lebih dulu ke tempat Hayoung berada bersama Chorong, Naeun, Namjoo dan Bomi. Tersisa Jongup serta Youngjae yang masih bertahan di tempat tadi bersama pikiran mereka masing-masing.
        “Apa ibu mertuanya Chorong itu seorang perawat?” Youngjae melempar pertanyaan pada Jongup yang ia temui di sana. Namun di saat yang bersamaan, Jongup pun berujar, “Zelo tadi ikut foto juga?”
Saat mengucapkan selamat pada Yongguk dan Chorong tadi, Youngjae juga Eun Ji tidak bertemu dengan G.Na. Dan tadi Youngjae baru menyadari keberadaan wanita yang pernah merawatnya saat di rumah sakit.
        Youngjae tidak merespon ucapan Jongup. Karena akhirnya ia melihat sosok Eun Ji dikejauhan. Setengah berlari menyusul G.Na sambil sedikit kerepotan memakai gaun panjangnya. Dan bukan hanya itu, terlihat pula Himchan serta Yongguk yang juga menyusul kemudian.
        Jongup langsung teringat sesuatu. Belum sempat Youngjae menyelesaikan kalimatnya, Himchan sudah lebih dulu menarik Youngjae ke dalam pelukannya. “Nggak perlu berterima kasih. Itu udah kewajiban gue.”
Sesaat Jongup tampak bimbang. Tapi akhirnya, Jongup pun memilih berjalan menuju orang-orang yang mengerumuni Hayoung karena Youngjae sudah lebih dulu mendahuluinya memilih menuju pintu utama.
        Jongup mendekati Bomi. Membawa cewek itu untuk sedikit menyingkir dan membisikkan sesuatu. Seusai Jongup menyelesaikan ucapannya, Bomi menatap cowok itu dalam. Memastikan bahwa ia tidak salah dengar.
        “Rasanya belum siap,” Jongup berujar pelan.
        Bomi menggerakkan kepala sebagai tanda ia mengajak Jongup pergi dari sana. Jongup mengangguk pelan, dan setelahnya Bomi mulai bergerak. Namun Jongup sempat menoleh sesaat ke tempat Namjoo untuk sekedar memastikan bahwa ia hanya ingin pergi sebentar dan meminta cewek itu untuk tetap di sana menunggunya.

***

        Di luar gedung resepsi pernikahan Yongguk dan Chorong terlihat banyak sekali karangan bunga dari beberapa orang penting sebagai ucapan selamat. Salah satunya dari Hyunseung Coorporation (Paradise Grup) dengan Yoon Doojoon sebgai pengirimnya. Dan G.Na, sudah berdiri di sana untuk beberapa saat. Memandang dengan tatapan yang sulit diartikan. Karena 2 nama itu, adalah sebuah nama yang sukses membuka kembali luka yang telah ia tutup rapat-rapat selama belasan tahun lebih.
        Sementara itu, Eun Ji yang sudah mengawasi G.Na sejak tadi ingin melangkahkan kakinya. Namun Himchan ternyata lebih sigap untuk menghalangi cewek itu dan mendahului Eun Ji untuk mendekati G.Na.
        Himchan yang sudah berdiri tepat di belakang G.Na, tampak masih terdiam. Seperti menunggu sesuatu. Ia juga tampak mempersiapkan diri saat melihat G.Na mulai bergerak dan berniat membalikkan badan.
        Yongguk dan Eun Ji tampak menunggu dalam jarak beberapa meter. Yongguk sempat bertanya pada Eun Ji melalui tatapan mata. Namun tidak ada yang bisa Eun Ji jelaskan. Kemudian, Youngjae tampak memunculkan diri dan berdiri tidak jauh dari tempat Eun Ji bersama Yongguk. Youngjae tentu juga bisa melihat posisi Himchan saat ini.
        “Ibu.” Himchan menatap lembut ke dua bola mata G.Na. Sorot mata penuh rindu atas kasih sayang seorang ibu. Dan kali ini, Himchan sudah tidak bisa menahannya. Cowok itu menarik G.Na ke dalam pelukannya. Sebuah hal yang memang belum pernah ia rasakan selama ini. “Mulai sekarang, ibu bisa berbagi semua penderitaan ibu pada kami. Aku mohon jangan seperti ini lagi.”
        Bomi dan Jongup akhirnya memunculkan diri di sana. Tepat saat Himchan dan G.Na berpelukan. Bomi yang tidak bisa menahan rasa harunya, memilih untuk membalikkan badan. Sementara Jongup berusaha menenangkan Bomi yang kini berdiri menghadap padanya dengan mengusap lembut kepala Bomi dan ia dekatkan pada pundaknya.
        Di tempatnya berada, Youngjae tampak mengepalkan tangannya. Ia tidak bisa memastikan apa yang sedang ia rasakan saat ini. Dan satu-satunya cara yang bisa ia lakukan adalah menjalankan rencana yang sudah ia susun sejak awal.
        “Ayo pulang.” Suara Youngjae yang terdengar tepat di belakang Eun Ji, membuat cewek itu berbalik. Bersamaan saat Eun Ji merasakan seseorang menyentuh tangannya. Dan yang melakukan itu adalah Youngjae. Cowok itu bahkan sampai mengajak Eun Ji untuk segera pergi dari sana.

***

        Seperti permintaannya, setelah menikah Chorong ingin tinggal di tengah-tengah keluarga Yongguk. Dimulai dengan malam ini, sepulang dari pesta resepsi pernikahan mereka. Dan saat itu, Chorong sudah berada di kamar Yongguk. Belum lama selesai mengganti pakaiannya. Sementara Yongguk sendiri sedang berada di luar. Bersama ibu dan adik-adiknya.
        Chorong yang resah, memaksakan diri untuk mengintip keadaan di luar melalui celah pintu yang ia buka sedikit. Ia sangat ingin bergabung di sana karena Chorong sudah menjadi bagian dari keluarga tersebut. Tapi Chorong masih menahan diri. Karena pembicaraan mereka sangat pribadi dan cukup serius.
”Apa yang ibu ceritain ke Bomi.. aku sama Jongup udah denger semuanya.”
        Chorong semakin mempertajam pendengarannya saat Himchan bersuara. Mereka sedang membahas tentang masa lalu G.Na. Bahkan wanita itu juga berada di sana. Semakin malam, obrolan mereka semakin serius. Chorong juga semakin tidak ingin meninggalkan tempatnya sekarang ini.

***

        G.Na sudah tidak bisa berkata apa-apa lagi. Himchan masih setia berada di samping ibunya. Guru tampan itu memang yang paling sangat menunggu-nunggu suasana seperti malam ini. Bisa seleluasa mungkin mendekap ibunya.
Yongguk juga tampak membisu setelah Bomi kembali menceritakan tentang masa lalu G.Na yang memang belum diketahui Yongguk serta Daehyun. Jongup juga sedikit membantu karena beberapa kali Bomi sempat kehilangan kata-kata.
        “Apa yang bareng sama Eun Ji itu, Youngjae anak ibu yang hilang? Adik aku?” Terdengar suara berat Himchan. “Karena tadi aku sempet…”
        Belum selesai Himchan berbicara, Jongup lebih dulu menyelak dengan pertanyaan hebohnya. “Youngjae itu yang dulu katanya pernah deketin Mba Naeun bukan sih, Mas?” Jongup menatap Daehyun penuh minat.
        Sontak Daehyun menjadi pusat perhatian. Termasuk juga G.Na yang ikut menatap Daehyun sama penasarannya seperti yang lain. Sementara Daehyun sendiri langsung terlihat panik, hingga membuatnya tak bisa langsung menjawab pertanyaan ajaib yang dilontarkan Jongup. Calon dokter itu akhirnya hanya bisa menunjukkan deretan giginya yang putih. Sampai kemudian, ia menangkap sosok Naeun yang ternyata ada di sana. Duduk di sebelah kiri Bomi, sedangkan Daehyun duduk di samping kanan Bomi.
        Daehyun sedikit memajukan posisi duduknya untuk mempertegas tatapan pada Naeun. “Kok kamu nggak pulang?”
        Naeun tentu menatap kesal kekasihnya tersebut. Ia juga sampai memajukan sedikit kepalanya agar bisa melihat Daehyun. “Kan aku udah bilang mau nginep di rumah Bomi.”
        Bomi yang merasa terganggu dengan dua orang yang berada di sampingnya, mengangkat tangan agar Daehyun membatalkan niat untuk membalas ucapan Naeun. “Stop!” Selanjutnya, Bomi lebih memilih berdiri karena ia juga merasa menjadi penghalang antara Daehyun dan Naeun yang mungkin sedang ingin berdebat. “Kalian boleh lanjutin kalau gue udah ke belakang.”
        Himchan tersenyum sambil menatap mengikuti arah perginya Bomi menuju dapur. Yongguk hanya bisa geleng-geleng kepala melihat tingkah Daehyun dan Naeun yang benar-benar masih saling adu mulut sepeninggal Bomi ke dapur tadi.

***

        “Kalian dari mana aja? Kenapa baru pulang?” Hyuna mendekat dengan cemas. Ia memang sudah menunggu-nunggu kepulangan Eun Ji dan Youngjae dari resepsi pernikahan Yongguk tadi.
        “Tante kayak nggak pernah muda aja,” goda Youngjae.
        “Ma, aku masuk dulu ya.” Eun Ji segera melesat masuk. Meninggalkan Hyuna bersama Youngjae. Ia bahkan tidak berpamitan sedikitpun dengan pemuda yang akan segera menikahinya tersebut.
        Hyuna sendiri tidak berkomentar apa-apa. Namun ia sedikit menaruh curiga pada Youngjae yang kini terlihat sedikit tidak nyaman ditatap seperti itu oleh Hyuna. “Kayaknya tante nggak pernah ngeliat kalian kayak selayaknya orang yang memiliki hubungan khusus. Sebenarnya kalian udah berapa lama berpacaran?”
        Youngjae berpikir cukup lama untuk memberikan jawaban yang memuaskan.
        “Tante jadi agak setengah hati ngebiarin kalian nikah. Rasanya masih banyak hal yang janggal.”
        Youngjae memejamkan mata sesaat, lalu menghembuskan napas sedikit keras. “Sebenarnya memang berawal dari kesalahpahaman.” Youngjae kembali terdiam. Berusaha merangkai kata sebaik mungkin agar Hyuna bisa menerima alasannya selama ini mau untuk menikahi Eun Ji.
        “Apa, Youngjae?” desak Hyuna yang sudah tidak bisa menahan rasa penasarannya. “Ceritain ke tante. Mumpung Om Junhyung lagi nggak di rumah.”
        Sebelum menceritakan semuanya, Youngjae lebih dulu membimbing Hyuna menuju kursi yang ada di halaman rumah. “Hubunganku dan Eun Ji sebenarnya tidak bisa dikatakan baik. Aku menyukai Naeun. Dan Eun Ji adalah orang yang paling menentang hal itu. Karena dia tidak ingin hubungan sahabatnya dengan Daehyun itu hancur gara-gara aku.”
        Hyuna begitu menyimak tiap kata yang meluncur dari mulut Youngjae. Hyuna ingin mendengar semuanya dengan jelas sebelum ia menyimpulkan sesuatu yang salah.
        “Dan sebenarnya.. Eun Ji nggak hamil.” Ucapan Youngjae sukses membuat Hyuna melebarkan matanya. “Aku nggak pernah ngelakuin hal apapun karena kami memang nggak pacaran,” sambar Youngjae lagi sebelum Hyuna sempat menyelanya.
        “Tapi kena…”
        “Alasannya adalah karena aku ingin tahu masa lalu keluargaku.” Youngjae seolah mengerti maksud ucapan Hyuna. “Om Doojoon nggak bisa aku andelin. Dan satu-satunya jalan adalah melalui tante juga om Junhyung.”
        “Kenapa nggak bilang dari awal kalau Eun Ji nggak hamil?” Hyuna sudah terlihat cukup frustasi dengan Youngjae membeberkan semuanya.
        Dan kali ini Youngjae yang menjadi serba salah. Youngjae akhirnya memilih bersimpuh dipangkuan Hyuna. Menggenggam kedua tangan wanita itu dan memandang ke dalam mata Hyuna dengan tatapan lembut. “Aku tau aku egois, Tan. Hanya karena aku merindukan.. ibuku.”
        Mendengar itu, sontak Hyuna balik menatap Youngjae. “Kamu udah tau tentang…”
        Youngjae menggeleng cepat. “Aku cuma pernah denger Om dan Tante ngomongin tentang seseorang bernama G.Na saat acara di rumah Om Doojoon.” Cowok itu memberi jeda sesaat dalam ucapannya. “Dan harapan aku hanya pada kalian.”
        Tatapan Hyuna sedikit berubah. “Apa yang kamu mau sebenarnya?”
        “Aku memang belum mencintai Eun Ji sepenuhnya. Tapi aku juga nggak akan menyia-nyiakan Eun Ji begitu saja nantinya. Dan keinginan terbesar aku adalah.. jika wanita bernama G.Na itu adalah ibu kandungku, aku ingin tante mengundangnya ke pernikahan aku dan Eun Ji.” Youngjae menatap Hyuna dengan penuh kesungguhan.

***

        Eun Ji meremas ponselnya. Ia juga mendengar semua pembicaraan Hyuna dan Youngjae dari balik jendela rumah. Eun Ji juga sempat mengintip ke luar jendela. Di sana Youngjae sedang memeluk Hyuna. Beruntung posisi Youngjae menghadap ke jendela, dan Eun Ji bisa melihat ekspresi wajah cowok itu yang sudah sulit dimengerti. Rasa haru, bahagia bercampur sedikit penyesala. Semuanya tergambar di wajah tampan Youngjae.
        Kemudian, getaran ponsel milik Eun Ji membuat cewek itu tersadar dari keterpakuannya terhadap Youngjae. Sebuah panggilan dari Peniel. Dan Eun Ji menjawabnya sambil melangkah meninggalkan tempat itu.
        “Gikwang beneran ngehubungin lo? Dia bilang apa aja?” Terdengar suara Peniel yang mencecar Eun Ji.
        Cewek itu tiba di kamarnya dan langsung mengunci pintu dari dalam. “Ya gitu. Minta maaf, ngajak ketemu.”
        “Ya udah. Kalau emang lo butuh temen, gue siap nemenin lo ketemu Gikwang.” Peniel menawarkan diri.
        “Gue nggak akan nemuin Gikwang sebelum hari pernikahan gue dan Youngjae berlangsung,” ujar Eun Ji. Namun sedetik kemudian, Eun Ji membeku mengingat ucapannya sendiri.
        “Tapi lo tahu ‘kan alasan Gikwang dulu pergi? Bukannya lo juga masih cinta sama Gikwang sampai-sampai lo sama sekali nggak ngebuka hati lo buat Minhyuk? Ini kesempatan untuk memperbaiki hubungan kalian, Ji.”
        Eun Ji menarik kursi dan duduk di depan meja riasnya. Ia menopang kening dengan posisi tangan mengepal. Bingung karena hati dan pikirannya tidak sejalan.
        “Gue udah mempermalukan bokap dengan urusan kuliah. Dan gue nggak mau ngecewain lagi kalau pernikahan gue dan Youngjae gagal juga.”
        Terdengar suara Peniel mendesah di ujung sana. “Lo udah mulai terbiasa dengan kehadiran Youngjae?”
        “Nggak tahu.” Eun Ji menyerah. “Intinya, gue harus harus selesain urusan gue dan Youngjae dulu. Sisanya biar gue yang ngomong baik-baik ke Youngjae.” Eun Ji memutuskan sambungan telepon secara sepihak.
        Usai mengakhiri pembicaraannya di telepon dengan Peniel, Eun Ji kembali teringat dengan ucapan-ucapan Youngjae dengan Hyuna tadi. “Kalau Youngjae aja bisa manfaatin keluarga gue untuk bisa ketemu dengan ibu kandungnya, berarti gue juga bisa manfaatin dia untuk bisa pergi sama timnya Peniel,” batin Eun Ji.
        Masih dengan gaun yang ia kenakan pada pesta pernikahan Yongguk dan Chorong tadi, Eun Ji melangkah menuju balkon kamarnya yang terletak di lantai dua. Tepat bersamaan dengan mobil Youngjae meninggalkan rumahnya.

***