Selasa, 07 Mei 2013

BLACK ORCHID 2 (part 1)



“Lepaskan,” Haesa memberontak. Setelah berhasil melepaskan diri, ia langsung menggamit lengan Joon, “ayo kita pergi.” Joon yang tak berani menolak hanya melambaikan tangan canggung.
“Huaaa… mereka pergi…” rengek Taemin. Semua langsung panic dibuatnya.
“Taemin, jangan menangis,” usaha Cheondung. “Bagaimana kalau kau ku traktir di café baruku?” ujarnya yang tiba-tiba mendapat ide.
“Sungguh?” Wajah Taemin berubah senang. “Kalau begitu, ayo,” ujarnya penuh semangat sambil menarik tangan Cheondung.
Cheondung pun dengan sangat terpaksa menuruti kemauan Taemin. “Aku menyesal berkata seperti itu,” ujarnya kemudian.
Seungho, Kibum, Minho dan Yong Hwa saling melempar pandangan sebelum akhirnya mengangguk lalu mengikuti Taemin yang sudah membawa Cheondung berjalan cukup jauh.

@@@
1 tahun kemudian…
        “Akhirnya, kita mendapatkan libur,” seru Baekhyun penuh semangat ketika berjalan bersama Minho menuju lapangan parkir klub sepakbola mereka.
        “Aku tak sabar bertemu ibuku,” ujar Minho menimpali.
        “Salam untuk adikmu ya…” kata Baekhyun sebelum mereka berpisah menuju mobil masing-masing.
        Minho berhenti tepat di belakang mobilnya. “Maksudmu Yong Hwa atau Cheondung?” teriak Minho karena posisi Baekhyun sudah jauh di depannya. Ucapan isengnya hanya mendapatkan tawa dari Baekhyun.

@@@

        Tangan jahil Joon mendarat di kepala Taemin sambil mengacak gemas rambut adiknya itu, lalu menghempaskan diri di kursi yang selalu ia tempati ketika makan. Selama tinggal bersama keluarga Park Jung Soo, Joon memang tidak pernah makan sendiri lagi. Minimal akan ada satu orang yang menemaninya. Untuk pagi ini, hanya ada Hyun Rae dan Taemin.
        “Apa kau tidak pernah bosan melakukan itu?” protes Taemin di tengah acara makannya.
        Joon tampak tak peduli dengan kekesalan adiknya. “Apa yang lain belum turun?”
        “Bukan belum turun, tapi kau yang terlambat turun.”
        “Benarkah?” Joon melirik jam di tangan kirinya, ia memang sedikit terlambat bangun pagi ini. Joon kembali melanjutkan aktivitas makannya. Semakin lama, seperti ada seseorang yang memperhatikan dirinya. Diliriknya Taemin, tapi pemuda itu sama sekali tak berpaling dari piringnya. Lalu Joon melirik Hyun Rae.
        “Ternyata kau tampan.”
        Joon terkejut dan hampir saja tersedak. Apa-apaan ini? Pagi-pagi kakaknya sudah merayu. “Apa aku lebih tampan dari Sungmin?”
        “Tentu saja tidak,” cibir Hyun Rae tegas. Raut wajahnya langsung berubah. “Berapa banyak gadis yang kau kencani sebelum dengan Haesa?” Tanya Hyun Rae dan terdengar sedikit jahil.
        Joon membeku di tempatnya. Lalu menggelengkan kepala samar membuat Hyun Rae berdecak kecewa. “Haesa yang pertama,” ujarnya polos.
        “Kenapa kau bertanya seperti itu?” Tanya Taemin takut-takut.
        Hyun Rae menatap dua adiknya bergantian. “Apa ketiga adik laki-laki ku ini tidak ada yang menjadi playboy? Bahkah Kyuhyun yang justru pernah diduakan oleh Eun Gee.”
        Taemin melebarkan matanya, “dengan siapa?”
        “Donghae,” jawab Hyun Rae singkat.
        Joon terlihat berdiri sambil menenggak air minumnya. “Sudahlah… aku pergi.” Setelah meletakkan kembali gelasnya yang sudah kosong, Joon langsung beranjak dari sana.
        “Kakak… Tunggu…” teriak Taemin membuat Joon terpaksa menghentikan kakinya.
        “Ada apa lagi?” Tanya Joon malas.
        “Aku ingin menumpang ke sekolah.”
        “Aku tidak membawa mobil. Aku janji naik bus dengan Haesa. Tapi kalau kau mau, kau boleh bawa mobilku,” ujar Joon tanpa ingin membuang-buang waktu.
        “Benarkah?”
        “Jangan…” tegas Hyun Rae yang seketika membuat wajah Taemin kembali muram. “Biar aku yang antar.”

@@@

        Minho mengenakan kaca mata hitamnya. Sesekali kepalanya mengangguk mengikuti alunan lagu. Ia memang sangat menikmati liburannya hari ini. Minho juga menyempatkan diri menoleh ke kanan dan ke kiri. Sampai akhirnya, mata Minho berhenti pada seorang gadis yang duduk sendiri di halte bus.
        “Haesa?” seru Minho semangat. Liburannya seolah terasa lengkap karena ia bisa bertemu dengan gadis yang dulu sempat ia pacari selama 2 tahun lebih.
        Minho memperlambat laju mobilnya lalu mulai menepi. Namun sedetik kemudian, Minho membatalkan niatnya. Ia sedikit memukul stir sebelum akhirnya kembali menginjak pedal gas dan melajukan mobilnya sekencang mungkin.

@@@

        Haesa duduk seorang diri di halte bus. Sesekali ia melirik jam tangannya lalu mendengus kesal. Tak lama, ada tangan seseorang yang menjulurkan sebatang coklat tepat di depan wajah gadis itu. Siapa lagi kalau bukan Joon? Tapi Haesa tak mempedulikannya. Pemuda itu tak menyerah. Kali ini ia menunjukkan setangkai buanga mawar putih.
        Haesa berdiri dengan tegas. “Kau…” ia tak melanjutkan ucapannya karena di depan sana tiba-tiba saja ada mobil yang melaju kencang. Masih membekas di ingatan Haesa bahwa mobil itu ingin menepi. “Minho…?” pekik Haesa saat masih bisa melihat mobil tadi. Tapi ia tak antusias untuk mengejar.
        Haesa menghela napas sebelum akhirnya menunduk. Coklat dan bunga. Dua benda yang dibawa oleh Joon untuknya. Tapi ketika menoleh, gadis itu tak menemukan Joon di dekatnya. Justru pemuda itu sudah berjalan cukup jauh darinya. Haesa menyempatkan diri untuk memungut coklat dan bunga tersebut sebelum akhirnya berlari mengejar Joon.
        “Joon…” teriak Haesa sambil berlari.
        Haesa sudah mensejajarkan langkahnya dengan Joon. “Ku pikir kau mengejar Minho,” sindir Joon dengan santai sambil terus berjalan dan menenggelamkan tangan di kedua saku jinsnya.
        “Jika ku tau akhirnya kau seperti ini, lebih baik tadi aku benar-benar mengejar Minho.”
        Joon tersentak lalu berhenti dan menoleh ke arah Haesa. Gadis itu tengah menatapnya tajam. Beberapa saat kemudian, Haesa menghempaskan coklat dan bunga di tangannya lalu berbalik dan segera menjauhi Joon.
        “Haesa…” pekik Joon panic. Namun akhirnya ia tetapa menyusul gadis itu.

@@@

        Memang sudah satu tahun lalu Minho melepaskan Haesa ke tangan Joon. Tapi hingga detik ini, Minho masih sangat sensitive jika menyinggung masalah antara Joon dengan Haesa. Seperti tadi, ketika ia hendak menghampiri Haesa, Joon justru muncul di saat yang tidak tepat menurut Minho. Pemuda ini lebih memilih menghindar dari pada hatinya semakin sakit melihat gadis yang dicintainya bersama pemuda lain.
        Tak jauh di depan sana, ada kerumunan orang-orang yang mengelilingi sesuatu. Entah apa yang membuat Minho justru tertarik untuk turun dan mencari tau apa yang sedang terjadi.
        Mata Minho melebar ketika mendapati sesuatu yang menjadi jawaban. “Ayah…!” pekik Minho yang langsung berlutut di samping pria yang tergeletak dan mengeluarkan darah dari kepalanya. Tanpa pikir panjang, Minho langsung menggotong tubuh Hyukjae dan ia bawa ke dalam mobil sebelum akhirnya ia menuju rumah sakit.
        Sesampainya di sana, Hyukjae segera mendapatkan perawatan. Pantas saja tadi ada sesuatu yang sangat kuat untuk menarik Minho menuju kerumunan. Ternyata ayahnya menjadi korban kecelakaan.
        “Apa tidak ada yang menemanimu pergi?” gumam Minho kecewa ketika menunggu Hyukjae di luar ruangan. Pikirannya melayang kepada Seungho, Heechul, Kibum, Yong Hwa dan Cheondung. “Apa mereka sesibuk itu?”
        Tak lama, dokter Kibum yang tadi merawat ayahnya keluar dari ruangan dan membuat Minho berdiri otomatis.
        “Bagaimana keadaan ayahku?” Tanya Minho khawatir.
        “Ikut aku, kami butuh tambahan darah untuk tuan Hyukjae.”
        Minho mengangguk tanpa pikir panjang dan mengukuti dokter Kibum ke ruangannya. Apapun akan ia lakukan untuk sang ayah.

@@@

        Seungho keluar dari sebuah ruangan sambil memegangi kapas yang menempel di lekukan lengannya. Ia menatap Minho simpatik yang terduduk di ruang tunggu. Pikirannya juga campur aduk dengan apa yang menimpa Minho saat ini.
        Minho berdiri lalu menghela napas cukup berat. “Aku ingin menemui ibu,” ujarnya tanpa menoleh lalu berjalan meninggalkan Seongho yang juga tak sanggup untuk menahan Minho.
        “Kau mau ke mana?” tegur Heechul yang baru datang saat bertemu dengan Minho di koridor rumah sakit.
Minho tak menghiraukan kakaknya yang muncul bersama Kibum. Seolah ia tak mengenal dua orang yang menegurnya barusan. Minho terus berjalan. Kali ini ia sambil mengenakan kacamata hitam untuk menutupi ekspresi di matanya.
Ketika baru saja keluar dari pintu utama rumah sakit, Minho bertemu dengan Cheondung. Respon yang ditunjukkannya pun sama. Ia tetap tak merespon apapun dan tetap pergi meninggalkan Cheondung.
“Minho!” teriak Yong Hwa dan langsung mengejar tepat bersamaan ketika Minho masuk ke dalam mobil dan secepat mungkin pemuda itu meninggalkan area parkiran.
Yong Hwa menggaruk belakang kepalanya. “Apa dia tidak mendengarku?” keluhnya, namun tak membuang waktu untuk segera masuk menemui ayahnya.
Yong Hwa menghentikan langkah ketika melihat Seungho, Heechul, Kibum dan Cheondung sedang berbicara dengan dokter Kibum.
“Aku juga bingung. Nyatanya, memang tidak ada kesamaan DNA antara tuan Hyukjae dan Minho.”
“Pantas saja Minho sama sekali tak mau berbicara denganku,” keluh Seungho setelah mendengar penjelasan lebih rinci dari dokter Kibum.
“Jadi, siapa ayah kandung Minho yang sebenarnya?” Semuanya menoleh ke arah sumber suara, Yong Hwa. Namun, tak ada yang mengetahui jawabannya.
“Kenapa Minho seolah dipermainkan oleh takdir?” tak ada yang sanggup merespon ucapan Seungho.
        Kibum mendekati Seungho dan merangkulnya. “Biar bagaimanapun, Minho tetap adik kita,” hiburnya.

@@@

        Lagi, malam itu Joon menjadi orang terakhir yang bergabung di meja makan. Ia memang pulang telat karena sebelumnya menemani Haesa ke rumah sakit untuk menjenguk Hyukjae.
Tidak seperti tadi pagi, malam ini seluruh anggota keluarga Park lengkap berkumpul. Namun sepertinya beberapa dari mereka sudah menghabiskan setengah makanan sebelum Joon benar-benar duduk untuk bergabung.
        “Apa kau masih menjalin hubungan dengan anak perempuannya Hyukjae?” Tanya Jung Soo yang bisa di pastikan untuk Joon, meski pria ini sama sekali tidak berpaling dari piring makannya.
        Joon meletakkan gelas dengan pelan ke atas meja sebelum menjawab pertanyaan ayahnya. “Aku bukan playboy yang bisa dengan mudah berganti pasangan, ayah,” jelas Joon untuk menyakinkan ayahnya tentang kepribadiannya yang mungkin belum diketahui pula oleh anggota keluarganya yang lain.
        Taemin melirik Joon khawatir, namun tampaknya tidak mudah mempengaruhi pemuda itu. Memang hanya Taemin yang paling mengerti Joon.
        Park Jung Soo masih terlihat sangat santai seolah apa yang ia lontarkan hanya sebatas pertanyaan ringan untuk menemani suasana makan malam. “Aku hanya ingin mengingatkan, siapa itu Hyukjae.”
        Joon melepaskan sendok lalu menghempaskan tubuh ke sandaran kursi sambil menghela napas keras. Taemin sampai menghentikan makannya untuk mengawasi sang kakak.
        “Hyukjae?” ulang Joon. Pemuda itu tersenyum pahit. “Aku justru tinggal bersamanya sampai usia 14 tahun,” ujar Joon seolah mengingatkan masa lalunya.
        Suasana makan malam berubah menegang. Tak terkecuali untuk Soo Ra, Hyun Rae dan Kyuhyun. Hanya Jung Soo seorang yang menikmati makan malamnya. Pria itu juga tak terlalu menanggapi ucapan Joon tadi. Bahkan kini ia telah menyelesaikan makannya lalu meninggalkan meja makan.
        “Ayah!” pekik Joon sebelum ayahnya terlalu jauh meninggalkan meja makan. Jung Soo berhenti. Di saat yang bersamaan, Joon berdiri. “Apa yang ayah khawatirkan adalah status tuan Hyukjae sebagai mantan pembunuh bayaran?”
        “Joon…” desis Soo Ra berusaha menghentikan Joon. Ia justru mendapat tatapan tajam dari salah satu putranya.
        “Ibu… jika ayah membenci tuan Hyukjae, berarti ayah juga harus membenciku. Karena aku juga pernah menjadi pembunuh bayaran. Kalian harus ingat itu,” tegas Joon. Pemuda ini justru mendahului Jung Soo meninggalkan ruang makan keluarga mereka.
        “Anakku baru saja kembali, jadi ku mohon kau tidak membuatnya pergi untuk yang ke dua kalinya,” ujar Soo Ra memperingatkan, namun ia sama sekali tak melirik sedikitpun di mana posisi suaminya berada. Setelah beberapa saat Jung Soo tak merespon apapun, Soo Ra pun mengeluarkan air matanya. Hyun Rae langsung mendekat untuk menenangkan ibunya.

@@@

        Pagi itu, Baekhyun baru saja kembali ke rumah setelah satu jam jogging. Ia dengan santainya melangkah sambil menggunakan earphone di kedua telinganya. Tak lama kemudian, langkahnya terhenti setelah mendapati sebuah mobil yang cukup familiar berhenti tepat di depan pagar rumahnya.
        “Minho?” pekik Baekhyun yang langsung mendekati mobil lalu mengetuk kacanya. “Minho…” panggil Baekhyun lagi.
        Perlahan, kacapun terbuka dan Minho menegakkan badannya.
        “Ternyata benar,” gumam Baekhyun. “Sejak kapan kau di sini? Kenapa kau tidak pulang ke rumahmu?” selidik Baekhyun. Memang tadi pagi ketika ia hendak pergi berolahraga, mobil Minho belum terparkir di sana.
        “Aku tidak pulang semalaman,” lirih Minho.
        “Tapi…” Baekhyun menggantungkan ucapannya karena melihat raut wajah Minho yang seperti menyembunyikan sesuatu. Mungkin tentang Haesa, atau tentang yang lain. Tapi yang pasti, ia memang cukup banyak tau tentang Minho dan keluarganya.
        “Yasudah… kau istirahat saja dulu di rumahku,” ajak Baekhyun khawatir dengan temannya itu. Minho pun tak menolak, karena memang itu yang ia butuhkan saat ini.

@@@

        Kibum yang baru saja keluar kamar, langsung menuju ruang makan dan bergabung dengan Haesa untuk sarapan. Memang hanya ada gadis itu di meja makan.
        “Apa ibu sudah pergi?”
        Haesa menelan makanannya sebelum menjawab pertanyaan kakaknya. “Kau lupa? Bahkan ibu sampai tidak pulang tadi malam.”
        Kibum duduk di hadapan adiknya. “Malam ini kau menginap saja di rumah Cheondung.,” ujar Kibum. Ada sedikit rasa bersalah di sana. “Aku dan Yong Hwa mungkin baru akan kembali besok bagi.”
        Haesa mendongakkan kepala untuk menatap kakaknya. “Kalau begitu aku di rumah sakit saja. Cheondung juga akan menginap di sana.”
        “Cheondung?” Kibum mengulangi ucapan Haesa. “Kenapa harus dia lagi? Lagi pula, bukankah Minho sedang mendapatkan libur? Apa dia tidak mau menemani ayah…” Kibum tak melanjutkan ucapannya.
        “Bahkan Seungho saja tidak tau di mana Minho berada saat ini,” kata Haesa yang tak menyadari gelagat aneh dari Kibum. “Aku pergi sekarang. Ku rasa Joon sudah menungguku,” pamit Haesa tanpa menunggu respon dari Kibum.
        Kibum sendiri masih dalam keterpakuan. Bagaimana tidak, ia bahkan mengetahui berita tentang Minho dan Hyukjae. Mereka memang sengaja merahasiakan semua ini dari Haesa. Bukan ingin berniat jahat, mereka hanya ingin menjaga perasaan Haesa. Apa jadinya jika gadis itu mengetahui bahwa ia dan Minho ternyata bukan saudara.
        Kibum buru-buru mengeluarkan ponselnya untuk mengontak Seungho. “Apa kau tidak tau di mana Minho sekarang?” tegur Kibum setelah mendapat jawaban dari Seungho.
        “Ku rasa Minho menghindar,” ujar Seungho berat. “Dan aku tidak tau di mana ia sekarang.”

@@@

        “Kenapa akhir-akhir ini kau sering bangun lebih siang?” tegur Taemin bahkan sebelum Joon sampai di meja makan. Hanya tersisa Taemin pagi itu.
        Joon menghempaskan tubuhnya dengan kasar di kursi lalu menghela napas berat. “Kenapa kau belum berangkat? Kau sudah selesai sarapan, kan?” Joon balas bertanya.
        “Kau belum jawab pertanyaanku?” protes Taemin karena pertanyaannya tak di respon.
        Joon belum langsung menjawab. Ia menyendokkan makanan ke dalam piringnya. “Apa kau mempermasalahkan aku berpacaran dengan Haesa?” Tanya Joon penuh harap.
        “Jika kau menyakitinya, itu yang ku permasalahkan,” ujar Taemin santai, lalu menenggak sisa air minum di gelasnya. Ucapan Taemin membuat Joon bisa bernapas lega. Setidaknya, masih ada anggota keluarganya yang lain yang masih mendukung hubungannya dengan Haesa. “Apa kau sedang bermasalah dengannya?” selidik Taemin.
        Joon mengunyah makanannya lambat-lambat sambil sedikit berfikir. Ia melirik Taemin. “Entahlah,” Joon mengangkat bahu sebagai tanda masih ada yang ia bingungkan. “Masih ada sosok Minho dibelakang kami. Dan…” Joon menggantungkan ucapannya.
        Taemin menyandarkan badannya seolah mengetahui hal lain yang mengganjal di hati kakaknya itu. “Sudahlah… ayah hanya belum memahami siapa dirimu.”
        Joon memaksakan senyumnya ketika mendengar ucapan Taemin. Sejak ia kembali ke rumah ini hingga sekarang, memang hanya Taemin yang sangat mengerti dan perhatian terhadapnya. “Ku rasa hanya kau yang benar-benar memahami diriku di rumah ini,” pujian Joon membuat Taemin tersenyum malu.
        “Hanya kau yang bisa membuatku merasakan memliki kakak laki-laki sebenarnya.”
        Mata Joon melebar seketika. “Lalu selama ini kau anggap Kyuhyun apa?”
        “Dia juga kakak laki-lakiku,” ralat Taemin. “Tapi kehidupanmu lebih menantang menurutku. Tidak pernah sekalipun Kyuhyun berselisih paham dengan ayah.”
        “Kau adikku yang hebat,” Joon balas memuji Taemin diiringi tangan jahilnya yang selalu mendarat di kepala Taemin untuk mengacak rambutnya. Dan ketika Taemin memprotes akibat perbuatannya, Joon hanya akan tersenyum. Karena menurutnya, itu sangat menyenangkan.

@@@

        Seperti hari-hari sebelumnya. Kini Haesa juga menunggu Joon di halte tempat biasa mereka bertemu. Meski hanya ketika dalam perjalanan saja mereka bisa bersama, baik Haesa maupun Joon tidak akan menyia-nyiakan waktu kebersamaan mereka. Tapi nampaknya Haesa sedikit diselimuti kegelisahan pagi ini. Ia menunggu dengan cemas.
        “Lama menunggu?”
        Haesa tersentak mendengar suara seseorang dan langsung membuatnya berdiri lalu menatap orang yang kini sudah berdiri di hadapannya. Di saat yang bersamaan, bus yang akan mereka tumpangi pun tiba. Gadis itu langsung saja menyambar tangan Joon. “Ayo pergi,” ajaknya sambil menarik tangan Joon.
        Mereka duduk di kursi yang berada sedikit lebih belakang. Haesa sama sekali tak melepaskan genggaman tangannya terhadap tangan Joon, namun tatapan gadis itu bukan untuk kekasihnya, melainkan memandangn hampa ke luar jendela.
        “Kau kenapa?” bisik Joon yang cukup mencurigai sikap aneh yang ditunjukkan Haesa pagi ini.
        “Ku mohon jangan memprotes apapun yang aku lakukan padamu hari ini,” pinta Haesa tanpa sedikitpun mengalihkan pandangannya.
        Joon menatap khawatir kekasihnya itu, “kau sakit?”
        Haesa menahan tangan Joon ketika dirasakan tangan kekasihnya itu bergerak. Bisa dipastikan Joon ingin memeriksan suhu tubuh Haesa melalui kening gadis itu. Haesa melirik Joon dengan tatapan sedikit merasa bersalah. Gadis itu juga tak berkata apa-apa. Yang bisa ia lakukan adalah menyandarkan kepalanya ke pundak Joon.
        ‘Apa ada hubungannya dengan Minho?’ pikir Joon. ‘Tidak mungkin,’ Joon menggeleng untuk menghilangkan pikiran-pikiran jeleknya terhadap Minho.

@@@

        Haesa kembali ke dapur dengn posisi ponsel masih ditempelkan di telinganya. “Kau bahkan baru menelponku satu jam yang lalu, dan sekarang kau menelpon lagi? Apa tidak ada kerjaan lain yang bisa kau lakukan,” cecar Haesa bertubi-tubi.
        “Aku hanya ingin memastikan keadaanmu,” di tempat berbeda, Kibum nampak membela diri.
Sementara Yong Hwa yang sejak tadi duduk di samping Kibum hanya menggelengkan kepala melihat sikap protektif Kibum terhadap Haesa. Baru sama adik saja sikapnya seperti itu, bagaimana terhadap kekasihnya kelak? Pikir Yong Hwa.
        Di lain tempat, Cheondung hanya menahan tawa ketika Haesa masuk ke dalam ruangannya dengan raut wajah cemberut dan melemparkan badan di kursi yang berseberangan dengan Cheondung. “Sudahlah… berhenti menelponku jika hanya ingin menanyakan hal yang tidak terlalu penting. Lebih baik kau membersihkan pakaian Yong Hwa,” Haesa memutuskan sambungan telpon secara sepihak.
        Cheondung sampai harus menutup mulut agar tawanya tidak sampai pecah. “Apa itu Kibum?”
        Haesa menatap Cheondung tajam. “Apa kau pikir ini telpon dari Heechul? Atau Seungho?” cibir Haesa masih dengan rasa kesalnya.
        “Lebih baik kau memasakkan sesuatu untukku,” kata Cheondung berusaha mengalihkan masalah Haesa.
        Haesa meletakkan ponsel di meja kerja Cheondung dengan kasar, lalu bangkit dan tanpa protes, ia akan mengabulkan permintaan Cheondung.

@@@

        “Takdir seolah mempermainkanku!”
        Baekhyun hanya bisa terdiam mendengar cerita Minho. Dari nada biacara saja bisa dipastikan Minho benar-benar terpuruk dan dalam kekecewaan yang amat sangat besar. Bukan karena seseorang, tapi karena takdir yang seolah mempermainkannya.
        “Maaf, aku tidak bermaksud melibatkanmu dalam permasalahanku,” lirih Minho merasa bersalah.
        Baekhyun menatap sahabat yang duduk di seberangnya. Ia melihat Minho tertunduk dan hanya menatap hampa ke gelas dihadapannya.
        “Apa aku harus merebut Haesa kembali dari Joon?”
        Ini yang ia takutkan dari seorang Minho yang tengah putus asa. “Apa kemarin Joon merebut Haesa darimu?” desis Baekhyun tajam, seolah mengingatkan Minho bahwa Joon tidak sedikitpun berniat memisahkan Haesa darinya.
        Minho diam tak menjawab. Itu artinya, ia membenarkan ucapan Bakhyun.
        “Kurasa Joon tidak akan mendekati Haesa jika dari awal ia tau kau dan Haesa berpacaran, bukan akhirnya hanya sebagai saudara sebelum ini.”
        Minho menghela napas berat sambil menyandarkan badannya di sandaran kursi. “Kenapa ibuku tak mengatakan dari awal bahwa aku bukan anak kandung Hyukjae?” tegas Minho lagi yang sedetik kemudian kembali menyesal telah melampiaskan emosinya ke Baekhyun yang sama sekali tak bersalah.
        “Apa kau keberatan jika kau ku ajak pergi untuk sekedar melupakan masalah ini walau untuk sesaat?” tawar Baekhyun. Ia tidak bisa bersikap egois untuk menghadapi kondisi Minho saat ini.
        Minho berpikir cukup lama. Sampai akhirnya ia mengangguk samar. “Ku rasa tidak ada salahnya.”
        “Kita pergi ke tempat Sehun,” putus Baekhyun sebelum akhirnya menyeret Minho untuk bersiap-siap.

@@@

        “Apa jadwal kita setelah ini?” Tanya Yong Hwa sebelum menenggak minuman kaleng di tangannya. Merasa tak mendapat respon, Yong Hwa melirik dan mengawasi Kibum yang duduk di sampingnya.
Pemuda itu sejak tadi hanya memandangi layar laptop di pangkuannya. Yong Hwa menatap Kibum khawatir karena yang dilihatnya bukanlah jadwal kegiatan band yang ia menejeri, melainkan foto yang terpampang pada layar laptopnya. Foto keluarga barunya, Seungho, Heechul, Minho, Yong Hwa dan Cheondung.
        “Aku ingin sekali Minho, bahkan siapapun itu tidak mengetahui bahwa Minho bukanlah anak kandung ayah.”
        Kibum masih tak merespon. Namun sedetik kemudian, ia menghela napas. Lelah dengan kenyataan yang ada. Harus kembali ada yang kalah dan tersakiti.
        Kibum melirik Yong Hwa penuh arti, “siapa menurutmu yang lebih pantas untuk Haesa?”
        Yong Hwa tersenyum sebelum menjawab pertanyaan ajaib yang keluar dari mulut Kibum. “Kau aneh. Melontarkan pertanyaan seperti itu padaku,” ujarnya lalu kembali menenggak isi minuman kalengnya. “Apa kau akan menghubungi Haesa lagi?” protes Yong Hwa ketika melihat Kibum mengeluarkan ponselnya.
        “Apa kau tidak mengkhawatirkan kondisi Haesa dan Minho yang seperti ini?” balas Kibum tegas.
        “Apa aku harus menunjukkan sikap sepertimu sebagai tanda aku juga mengkhawatirkan mereka?” seru Yong Hwa tak mau kalah. Dengan sigap ia merebut ponsel Kibum sebelum kakaknya itu sempat menghubungi Haesa. Yong Hwa tetap mengawasi Kibum yang terdiam. “Apa jadwal kita setelah ini?” tegur Yong Hwa lembut sebagai tanda bahwa masih banyak yang harus mereka lakukan selain memikirkan hubungan antara Minho dan Haesa serta Joon nantinya.
        Kibum membuka beberapa folder di laptopnya. “Sekarang jadwal kosong. Empat jam lagi kita baru melakukan gladi resik untuk acara nanti malam,” kata Kibum meski terdengar tidak semangat. Tapi ia harus tetap menjalankan kewajibannya sebagai menejer band yang digawangi Yong Hwa.
        Yong Hwa menatap berkeliling. Di sudut ruangan ia menemukan Geun Suk yang tertidur di sofa. Hongki dan Jung Shin juga melakukan kegiatan yang sama tertidur di bawah sofa. “Aku bosan jika hanya diam di sini menunggu empat jam lagi.”
        Kibum melirik Yong Hwa yang telah berdiri dan menatap adiknya penuh Tanya. “Kau mau ke mana?”
        “Jalan-jalan…” ucap Yong Hwa singkat, namun baru beberapa langkah ia berhenti dan berbalik. “Kau mau ikut atau tidak?” tegasnya kepada Kibum yang masih duduk di tempatnya.
        “Iya iya aku ikut,” seru Kibum yang langsung mengejar Yong Hwa.

@@@

Rabu, 01 Mei 2013

KRIS WITHOUT WINGS (part 16)



        Sehun melingkarkan tangannya yang tak tertusuk jarum infuse di pundak Luhan. Sementara Kyungsoo membantu membawakan botol infuse milih Sehun sedangkan Jongdae hanya mengikuti dan berjalan di samping Luhan.
        “Hyung, apa kau sudah menemui dokter yang merawatku?”
        Luhan mengangguk. “Sudah.”
        “Apa kau bertanya kapan aku bisa pulang?” Tanya Sehun lagi penuh harap.
        Luhan melirik Sehun sebal. “Kau ini…” Luhan tak melanjutkan ucapannya karena melihat Sehun terbelalak melihat sesuatu.
        “Anak jaman sekarang kenapa sangat suka berkelahi?” komentar Jongdae membuat Luhan mengerti apa maksud tatapan Sehun.
        Ternyata tak jauh dari sana, Luhan melihat Joongki masuk ke dalam ruangan yang ia ketahui milik dokter Jaesuk. Joongki tak sendiri, melainkan bersama dua pemuda tinggi, Chanyeol dan Tao.
        Kyungsoo yang bingung dengan apa yang terjadi, menatap Sehun dan Luhan bergantian. “Apa kalian mengenal salah satu dari mereka?” Tanya Kyungsoo curiga.
        Sehun dan Luhan menoleh kompak. “Tidak,” sangkal Sehun.
        “Tidak ada,” tambah Luhan.
        “Ayo, hyung,” ajak Sehun untuk mengalihkan perhatian Kyungsoo dan Jongdae dari dua pemuda yang bersama Joongki.

@@@

        Begitu sampai di rumah sakit, Joongki segera membawa Chanyeol dan Tao ke ruangannya yang juga ruangan dokter Jaesuk. Begitu Chanyeol dan Tao duduk, Joongki segera menyambar jas putihnya lalu mencari peralatan yang akan ia gunakan untuk mengobati dua pemuda yang tengah babak belur tersebut.
        Tao memandang hampir keseluruh penjuru ruangan. “Hyung, mana ayahku?” Tanya Tao yang tak menemukan ayahnya di ruangan itu.
        “Beliau mungkin sedang memeriksa pasien,” jawab Joongki, namun tetap focus menyiapkan peralatan medisnya.
        Tak lama, Joongki menghampiri tempat Chanyeol dan Tao berada. Ia meletakkan sebuah nampan alumunium di atas meja dan mulai mencomot gumpalan kapas kecil menggunakan tangan yang telah dilapisi sarung tangan karet.
        Joongki memutuskan untuk merawat Tao lebih dulu karena luka pemuda itu lebih parah dari pada Chanyeol.
        “Hyung, bagaimana kau bisa ada di sana?” selidik Chanyeol membuat pekerjaan Joongki berhenti sejenak. “Kau kan tahu, kalau itu jalan sepi yang jarang dilalui orang.”
        Joongki tak melirik dan lebih memilih melanjutkan pekerjaannya membersihkan luka di wajah Tao. “Kris yang menghubungiku.”
        “Apa ini memang rencana Kris?” tebak Tao mulai berspekulasi.
        “Maksudmu?” heran Joongki.
        Tao mendesah kasar. “Mereka musuh kami sejak SMA. Tapi yang aku bingung, kenapa justru Yoseob yang menghubungiku dan Chanyeol untuk datang ke sana?”
        Chanyeol melirik Tao karena merasa berbeda pendapat dengan temannya itu. “Kau kan tahu kalau Yoseob memang yang paling aneh di antara mereka. Dia anggota gangster, tapi takut jika memukul orang,” ujarnya.
        Yang dikatakan Chanyeol memang benar. Taopun diam. Sedetik kemudian, ia menatap Joongki penuh arti. “Hyung, apa Kris juga di sini?”
        Joongki mendongak dan sedikit tidak siap dengan pertanyaan yang dilontarkan Tao.
        Tao berdecak kesal karena Joongki tak memberikan jawaban apapun. “Kris juga terluka di sana. Dia bersama seorang pemuda yang belum kami kenal,” jelas Tao.
        “Tapi…” Joongki menggangtungkan ucapannya.

@@@

        Sore itu Baekhyun baru sempat mengunjungi Suho di rumah sakit. Tak terlalu lama dari waktu saat Jongin membawa Kris pergi dari sana. “Suho!” pekik Baekhyun setelah membuka pintu sebuah kamar dan mendapati Suho sudah berdiri sambil berpegangan dengan tepi ranjang. “Apa yang terjadi padamu? Mana Kris?” Tanya Baekhyun mulai panic karena ia menemukan Suho dalam kondisi penuh luka.
        “Tidak tahu,” ujar Suho kesal. “Cepat kau hubungi Kris,” perintahnya namun tak langsung dilakukan oleh Baekhyun.
        “Aku mungkin telah berpuluh-puluh kali menghubungi nomor Kris, tapi tak satupun yang ia jawab,” jelas Baekhyun. “Apa yang terjadi sebenarnya?” paksa Baekhyun setelah meliha Suho mendesah keras.
        “Kris di bawa pergi oleh adikku.”
        “Untuk apa?” heran Baekhyun.
        Suhopun akhirnya menceritakan tentang kronologi kejadian saat dirinya dan Kris berkelahi dengan Doojoon dan lima temannya. Ia juga akhirnya membongkar rahasia Kris yang dulunya seorang gangster. Bahkan Kris dan Jongin menjadi rival tetap sejak dulu. Dan sekarang, Kris dibawa pergi oleh Jongin, Lay dan Minseok. Bisa dipastikan memang terjadi sesuatu pada Kris karena Suho bisa melihat kilatan kebencian di mata Jongin tadi.
        Baekhyun membeku mendengar cerita Suho. Ia tak ingin langsung percaya dengan ini semua. Tapi keadaanlah yang memaksanya harus mempercayai Suho.
        “Apa kau tadi menyebut nama Minseok?” ulang Baekhyun untuk memastikan.
        Suho hanya mengangguk lemah. Satu petunjuk telah di pegang oleh Baekhyun.
        “Kau jangan ke mana-mana,” perintah Baekhyun tanpa ingin mendapat protes apapun dari Suho. “Biar aku yang mencari Kris,” seru Baekhyun. “Hubungi aku jika ada petunjuk lagi dari Kris,” lanjutnya lalu bergegas ke luar dari kamar Suho tanpa pamit.

@@@

        Minseok yang menyetir, sementara Jongin dan Lay duduk di kursi belakang mengapit Kris untuk mencegah aksi kabur dari pemuda itu.
        “Apa kau masih belum mau mengaku jika kau yang melakukan itu pada kakakku?” Tanya Jongin lagi yang masih penasaran mengenai hal yang dialami kakaknya.
        Kris cukup lama diam sebelum akhirnya mengeluarkan suara, “percuma. Aku yakin kau tidak akan mempercayai ucapanku.”
        Lay tersenyum meremehka. “Jelas saja, kami tidak akan pernah mempercayai ucapanmu sedikitpun.”
        Selama beberapa saat kemudian, suasana mobil kembali hening. Hingga akhirnya, Minseok membelokkan mobil ke halaman sebuah rumah kosong yang dulu ia gunakan sebagai markas gangster sekolahnya. Di tempat itu pula Chanyeol diculik oleh gangster SMA Sun Moon beberapa tahun yang lalu.
        Kris tetap tak berontak saat Jongin dan Lay menyeretnya memasuki rumah kosong tersebut. Sementara itu, Minseok telah lebih dulu masuk untuk mengusir anggota gangster SMA Sun Moon yang sekarang setelah ia, Jongin dan Lay lulus dari sana.
        “Aku ada urusan dan membutuhkan tempat ini. Cepat kalian semua pergi dari sini,” perintah Minseok yang tanpa protes langsung dituruti belasan pemuda berseragam SMA.
        Jelas saja bukan perkara sulit mensterilkan tempat itu. Angkatan Minseok termasuk gangster yang paling disegani disekolahnya bahkan sampai saat ini.
        Beberapa dari siswa SMA itu terkejut dan langsung memberi hormat ketika berpapasan dengan Lay dan Jongin. Namun pandangan mereka berubah drastis saat menangkap wajah Kris.
        “Habisi saja dia, hyung,” seru salah seorang siswa SMA tadi sambil memandang remeh ke arah Kris yang langsung mendapat dukungan dari teman-temannya.
        Kris sendiri lebih memilih tidak mempedulikan mereka dan menghindari tatapan-tatapan menjijikkan itu.
        “Jangan mengurusi kami, dan jangan ada yang coba-coba untuk mengintip!” ancam Lay dengan peringatan keras.
        Setelah gerombolan anak SMA Sun Moon tersebut membubarkan diri, Lay dan Jongin kembali menyeret tubuh Kris dengan kasar ke dalam rumah. Minseok sudah menunggu di dalam.

@@@

        Setelah puas berjalan-jalan, kali ini Sehun merengek ingin kembali ke kamar rawatnya. Bukan keinginan hati, tapi seperti ada yang direncanakan Sehun. Luhan sendiri sebenarnya memang telah menangkap gelagat aneh yang ditunjukkan Sehun, namun ia belum bisa menebak apapun. Jongdae dan Kyungsoo juga masih berada di sana.
        “Kenapa Lay dan Minseok belum juga kembali?” gumam Jongdae cemas.
        “Ku rasa aku juga tidak akan menunggu Minseok hyung lebih lama lagi,” ujar Kyungsoo muram. “Sehun, aku ingin pulang dulu. Besok aku akan kembali menemanimu,” pamitnya yang telah siap dengan semua barang-barang bawaannya.
        Senyum dibibir Sehun terukir seperti ia memang mengharapkan keadaan tersebut. Luhan sendiri hanya menatap heran adiknya, namun ia tak berani berkomentar apa-apa.
        Jongdae ikut berdiri. “Ku rasa aku juga harus pulang,” serunya lalu melirik Kyungsoo. “Apa kau mau ikut bersamaku?” ajaknya yang langsung di jawab anggukan oleh Kyungsoo. “Kalau Lay dan Minseok datang, katakan saja aku sudah pulang bersama Kyungsoo,” pesan Jongdae kepada Luhan dan Sehun sebelum benar-benar meninggalkan kamar rawat Sehun.

@@@

        Baekhyun menghentikan langkah ketika melihat dua orang keluar dari sebuah kamar yang sebenarnya kamar rawat milik Sehun. Mereka adalah Kyungsoo dan Jongdae.
        “Minseok,” gumam Baekhyun pelan dan langsung mengejar Kyungsoo yang kini sudah hampir sampai di pintu ke luar. “Kyungsoo tunggu,” panggil Baekhyun untuk menghentikan langkah Kyungsoo.
        Kyungsoo yang merasa ada yang memanggil namanya, segera menoleh kebelakang. Jongdae juga melakukan hal yang sama. “Baekhyun hyung?” ujar Kyungsoo heran karena ia bisa bertemu dengan Baekhyun di tempat seperti ini. “Apa kau masih sakit?”
        Baekhyun menggeleng cepat. “Mana Minseok?” cecar Baekhyun tak ingin membuang waktu.

@@@

        Luhan melirik Sehun penuh arti setelah memastikan Jongin dan Kyungsoo sudah tidak ada di sana. “Kau mau ke mana?” cegah Luhan saat melihat Sehun kembali turun dari atas tempat tidur.
        Sehun juga telah melepaskan paksa jarum infuse yang menusuk punggung tangannya. “Hyung, apa kau tidak melihat siapa yang datang bersama Joongki hyung tadi?” Tanya Sehun tajam.
        “Lalu?” Luhan menunggu rencana yang telah di susun oleh Sehun seorang diri.
        “Aku ingin menemui mereka,” ujar Sehun yang kembali dihalangi oleh Luhan. “Hyung! Ayo! Sebelum Lay hyung dan Minseok hyung datang!” paksa Sehun yang akhirnya terpaksa dituruti oleh Luhan.
        Mereka sampai harus berjingkat ketika ke luar kamar. Di rasa aman karena mereka tidak menemukan Kyungsoo ataupun Jongdae, Luhan dan Sehun langsung menegakkan badan mereka dan kembali berjalan.
        Awalnya mereka berniat untuk langsung ke ruangan tempat Joongki berada. Namun rencana berubah ketika Sehun menyadari keberadaan Kyungsoo dan Jongdae yang berbincang dengan seseorang lagi tak jauh dari pintu utama.
        “Mereka masih di sini?” desis Luhan khawatir.
        “Hyung, sepertinya pemuda itu teman kuliah Kris hyung,” ujar Sehun yang mengenali sosok Baekhyun.
        “Apa dia temannya Jongdae?” tebak Luhan.
        Sehun menggeleng. “Bukan, pemuda itu hanya berbincang dengan Kyungsoo.”

@@@

        “Luhan hyung? Sehun?”
        Luhan dan Sehun membeku ketika mendengar ada yang menyebut nama mereka. Dua kakak beradik ini saling melempar pandangan sebelum akhirnya memaksa diri untuk berbalik. Luhan dan Sehun terkejut mendapati orang tersebut adalah pemuda yang saat ini akan mereka cari, Chanyeol dan Tao.
        “Sehun kau sakit?” Tanya Chanyeol cemas karena mendapati Sehun mengenakan pakaian untuk pasien.
        Sehun menggeleng. Memang saat ini kondisinya sudah terlihat lebih baik, namun statusnya memang masih sebagai pasien. “Ceritanya panjang hyung,” ujar Sehun yang bingung memulai dari mana untuk bercerita.
“Mana Kris?” paksa Tao.
        “Tidak tahu,” Luhan yang menjawab dan sontak membuat Tao meraih kerah pakaiannya.
        “Hyung!” cegah Sehun yang tak terima Tao kembali menyerang Luhan.
        Chanyeol juga memegangi tangan Tao untuk melepaskannya dari kerah pakaian Luhan. “Tao hentikan!”
        Taopun akhirnya mau melepaskan Luhan dan sedetik kemudian ia menyesali perbuatannya. “Maaf, hyung.”
        “Tak apa,” ujar Luhan.
        “Apa Kris baik-baik saja? Temannya juga, kan?” Tanya Chanyeol.
        “Apa maksudmu?” Luhan menatap Chanyeol bingung, begitu pula dengan Sehun.
        “Hyung, kami baru saja bertemu Kris. Kami bahkan sempat berkelahi dengan Doojoon dan anak buahnya,” jelas Tao. “Kami semua terluka, bahkan pemuda yang bersama Kris sampai pingsan,” lanjut Tao.
        Sehun yang lebih dulu menangkap sesuatu dari cerita Tao. Jika Tao dan Chanyeol mengaku bertemu Kris bersama temannya, kemungkinan besar adalah Baekhyun dan Suho. Tapi karena ia baru saja melihat Baekhyun dalam keadaan baik, berarti tinggal satu kemungkinan. Suho. Sehun menoleh ke tempat Baekhyun berada. Ternyata ia masih di sana bersama Kyungsoo dan Jongdae.
        “Sehun, kau mau ke mana?” cegah Luhan namun tak digubris sedikitpun oleh adiknya itu.

@@@

        “Tidak di jawab, hyung,” kata Kyungsoo kesal karena tak satupun panggilannya yang direspon oleh Minseok .
        “Lay juga,” lapor Jongdae karena tadi Kyungsoo memintanya untuk menelpon Lay.
        Baekhyun mendesah kecewa. Ia semakin tidak tenang. Apalagi jika teringat cerita Suho tadi.
        “Hyung, sebenarnya ada apa?” selidik Kyungsoo yang mulai merasakan gelagat aneh dari Baekhyun. Pasti ada sesuatu yang terjadi.
        “Baekhyun hyung!”
Belum sempat Baekhyun mengatakan sesuatu, ia menoleh karena mendengar seseorang memanggilnya. Ia mengerutkan kening bingung, apakah orang tersebut benar-benar memanggilnya. Karena Baekhyun sama sekali tak mengenal pemuda tersebut.
        “Sehun, kenapa kau ke sini? Kau harusnya istirahat,” kata Kyungsoo memperingati, namun Sehun sama sekali tak mempedulikan perhatian temannya itu.
Yang terpenting untuk Sehun sekarang hanyalah keberadaan Kris yang belum ia ketahui. Terlebih setelah mendengar cerita tentang Kris.
        “Hyung,” Sehun menatap Baekhyun penuh harap. “Aku Choi Sehun, adik dari Choi Kris Woo. Kau pasti mengenalnya, kan?”
        “Bukankah kakakmu Luhan?”
        Sehun melirik Kyungsoo yang bingung. Ia juga sedikit merasa bersalah, tapi masih menyembunyikan identitas yang sebenarnya antara ia dan Kris. Namun Sehun belum ingin menjelaskan itu semua sekarang, terlebih Baekhyun yang lebih dulu buka suara.
        “Kau adiknya Kris?” ulang Baekhyun untuk memastikan. “Di mana dia sekarang? Apa dia baik-baik saja?” Baekhyun memberondong Sehun dengan pertanyaan seputar Kris.
        Sehun menggeleng lemah membuat Baekhyun ikut kecewa karena belum bisa menemukan Kris. “Tapi, apa kau bisa mempertemukanku dengan teman kalian yang bernama Suho?”
        Luhan yang kini berdiri di belakang Sehun menyentuh pundak adiknya membuat Sehun berbalik dengan cepat. “Hyung, sedikit lagi kita akan mengetahui keberadaan Kris hyung,” seru Sehun yang sangat yakin bahwa Suho adalah harapan terakhirnya.
        Sementara itu, tatapan Baekhyun akhirnya bertemu dengan tatapan Chanyeol. Dan itu sangat berbeda dibandingkan saat ia menatap Tao. Cepat-cepat Baekhyun mengembalikan kesadarannya karena saat ini ia tengah mencari Kris. Untuk mengurus hal janggal dari pemuda tinggi seperti Chanyeol bisa ia lakukan setelah ini.
        Baekhyun kembali menatap Sehun seolah memberi harapan. “Ayo ikut aku,” ajaknya yang langsung memimpin jalan menuju kamar Suho. Yang lain mengikuti di belakang termasuk Jongdae dan Kyungsoo yang membatalkan niat untuk pulang.

@@@

        Baekhyun masuk lebih dulu ke dalam kamar Suho yang kemudian di susul Sehun, Luhan, Tao dan Chanyeol. Sementara Kyungsoo dan Jongdae berjalan paling akhir karena mereka merasa paling tidak memiliki kepentingan di sana. Baekhyun merasa lega karena Suho benar-benar berisitrahat di sana.
        “Apa kau sudah bertemu dengan Kris?” cecar Suho dan sedikit tak mempedulikan keberadaan orang-orang yang datang bersama Baekhyun.
        Sehun mendekati Suho yang berbaring. “Hyung, aku Sehun. Adiknya Kris. Apa kau tau keadaan hyungku sebelum ini?” Tanya Sehun hati-hati. Ia tidak ingin terlihat terlalu mendesak Suho karena kondisi pemuda itu masih sangat buruk.
        Suho belum menjawab. Terlebih ketika tatapannya berhenti pada sosok Luhan yang kini sudah membeku karena melihatnya. “Luhan?” gumam Suho pelan dan membuat Baekhyun juga menatap Luhan.
        Sehun menggeleng, merasa Suho masih bicara padanya. “Maksudku bukan Luhan hyung, tapi Kris…” Sehun tak sempat melanjutkan ucapannya karena Luhan ini menarik tubuhnya menjauh dari Suho.
        “Suho? Kau?” ujar Luhan dengan nada terbata. Ia masih belum mempercayai seratus persen sosok dihadapannya kini. “Jadi selama ini kau juga berteman dengan Kris?”
        “Hanya setelah Kris kuliah di kampusku,” jelas Suho.
        “Tapi kenapa harus Kris? Kau tahu kan kalau anak itu selalu bikin onar? Dan kini kau terluka pasti karena dirinya?”
        “Hyung!” protes Sehun berusaha menghentikan Luhan sebelum kakaknya itu bicara yang aneh-aneh lagi tentang Kris. “Kris kakakku juga!”
        Luhan tertawa membuat Suho juga ingin tertawa namun hanya sanggup tersenyum samar. “Lama tidak bertemu. Aku sangat merindukanmu,” ujar Luhan yang kembali membuat Sehun kesal.
        “Apa acara reuni kalian tidak bisa diundur sebelum kita menemukan Kris hyung?” kesal Sehun karena itu artinya akan semakin lama ia bertemu dengan Kris.

@@@
        

Selasa, 30 April 2013

KRIS WITHOUT WINGS (part 15)


        Luhan menerobos masuk setelah mengetahui kamar tempat Sehun di rawat. Dibelakangnya, Lay masih setia mengikuti.
        “Sehun, kau baik-baik saja?” Tanya Luhan panic. Dan kepanikan itu bertambah di kala ia melihat tubuh Sehun terbaring lemah di atas tempat tidur.
        Sehun sendiri telah sadar dari pingsan dan kini berusaha memunculkan senyumnya. “Aku baik-baik saja,” ujarnya dan tentu saja itu bohong dan hanya untuk membuat kekhawatiran Luhan berkurang.
        “Kenapa Sehun bisa seperti ini?”
        Luhan menoleh ke arah Lay yang bertanya dengan suara keras pada Kyungsoo yang memang sejak awal menemani Sehun.
        “Aku hanya kelelahan, hyung,” rayu Sehun agar Luhan mempercayai kondisinya sudah lebih baik dari sebelumnya.
        Luhan seperti tak mendengar ucapan Sehun. “Kyungsoo, katakan padaku,” pinta Luhan dengan suara pelan namun seperti ada sebuah ancaman di dalamnya.
        “Apa kalian bertengkar?” Kyungsoo malah balik bertanya dan membuat Luhan menatapnya bingung. “Dokter bilang, ada yang sedang dipikirkan Sehun hingga kondisinya lemah seperti ini,” jelas Kyungsoo.
        Kris. Tidak salah lagi. Tapi bisa dipastikan Luhan tidak akan mengakui bahwa tekanan masalah yang dihadapi Sehun adalah karena Kris, bukan karena dirinya.
        “Mungkin aku yang sedikit kurang memperhatikan Sehun akhir-akhir ini,” kata Luhan berbohong.
        Kyungsoo dan Lay hanya mengangguk mengerti tanpa ada rasa curiga sedikitpun.
        “Kyungsoo, Lay.” Luhan mendesah pelan sebelum melanjutkan kata-katanya. “Bisa tinggalkan aku bersama Sehun sebentar?” pintanya tanpa bermaksud untuk mengusir Kyungsoo dan Lay yang kembali mengangguk sebelum akhirnya benat-benar meninggalkan Sehun berdua saja dengan Luhan.
        “Jongdae hyung dan Minseok hyung di mana?” Tanya Kyungsoo ketika menyusul Lay yang berjalan lebih dulu menuju kursi di koridor tak jauh dengan letak kamar Sehun.
        “Mereka akan menyusul setelah kuliah selesai,” hanya itu penjelasan Lay.

@@@

        Baekhyun mengedarkan pandangan ke sekitar lapangan parkir. Ia dengan cemas menunggu kedatangan Kris dan Suho. Beberapa kali ia dengan gusar melirik jam ditangannya.
        “Kenapa mereka terlambat?” keluh Baekhyun.
        Baekhyun kembali menghubungi ponsel Suho. Nomornya kini tidak aktif. Sementara Kris, pemuda itu sama sekali tidak menjawab satupun panggilan Baekhyun.
        Di saat yang bersamaan, Kris ternyata meninggalkan ponselnya di dalam mobil karena saat ini Kris sedang sibuk melakukan ‘sparing’ menghadapi tiga orang sekaligus.
        Suho juga cukup membantu meski ia yang lebih sering mendapat serangan bertubi-tubi dari Gikwang dan Junhyung.
        Leader dari pemuda-pemuda itu tampak berdecak kecewa karena sejak tadi ia hanya diam saja menyaksikan lima temannya berkelahi melawan Suho dan Kris.
        “Hyunseung, Dongwoon, Yoseob!” teriak pemuda itu kepada tiga orang yang tengah menghadapai Kris.
        “Kenapa?” Yoseob yang bertanya karena hanya ia yang sebenarnya sama sekali belum menyerang Kris. Tidak seperti dua temannya.
Sejak tadi yang dilakukan pemuda bertampang imut ini hanya memperhatikan atau sesekali mengitari area Kris melawan Hyunseung dan Dongwoon dengan kedua tangan terkepal di depan dada.
        Yoseob melihat leader mereka yang berjalan mendekatinya. “Doojoon! Jangan mendekat!” seru Yoseob seperti akan melindungi leader mereka dari bahaya.
        Doojoon seperti tak mendengar ucapan Yoseob, justru Yoseoblah yang berlari ke arah Doojoon dan mendorong tubuh leader mereka karena ternyata ada seseorang di belakang Doojoon yang berniat menyerangnya.
        “Awas!” pekik Yoseob yang justru terkena tendangan dari orang tersebut karena ingin melindungi Doojoon.
        Doojoon tersenyum puas ketika mengetahui siapa orang tersebut. Ia berusaha bangkit karena tadi sempat terjungkal akibat dorongan keras dari Yoseob.
        “Akhirnya kalian datang juga,” seru Doojoon sambil menepuk-nepuk tangannya.
        Mendengar ucapan Doojoon, Kris mencuri-curi pandang untuk bisa melihat siapa orang yang dimaksud Doojoon. Dan mata Kris membulat sempurna ketika menatap dua pemuda tersebut.
        “Waah, si playboy dan mata panda!” heboh Yoseob meski ia sempat tersungkur akibat tendangan dari Tao.

@@@

        “Hyung, maafkan aku,” lirih Sehun dengan wajah pucatnya.
        Luhan menggeleng kuat-kuat. “Aku yang salah. Maaf karena merahasiakan ini darimu,” ujar Luhan sama menyesalnya.
        Sehun tersenyum samar. “Aku takut kalau Kris…”
        “Sssttt…” desis Luhan memotong ucapan Sehun karena ia bisa menebaka apa yang akan dikatakan adiknya itu. “Kau tidak perlu khawatir. Kris pemuda yang kuat. Kita akan bersama selamanya,” ujar Luhan berusaha menghibur Sehun.
        Sehun sendiri tidak terlalau menanggapi ucapan Luhan karena ia sendiri sadar bahwa penyakit Kris bisa tiba-tiba muncul kapan saja dan tidak menutup kemungkinan untuk merenggut nyawa Kris juga.
        “Mana Kris hyung?” Tanya Sehun seperti ingin mengalihkan topic pembicaraan mereka.
        “Dia kuliah,” jawab Luhan singkat.
        Sehun mendesah berat. Di saat seperti ini, ia sangat membutuhkan kehadiran Kris juga. Tapi di sisi lain, ia juga ingin agar tidak selalu bergantung pada kakaknya yang satu itu. Hanya karena ingin mempersiapkan diri menghadapi kenyataan pahit suatu hari nanti. Tapi, bukankah itu sangat jahat?
        Sehun menggeleng kuat-kuat untuk menyingkirkan pikiran jelek tadi dari otaknya. Tidak. Kris tidak akan meninggalkannya secepat itu.
        “Sehun, dari mana kau tahu kalau Kris…” Luhan tak sanggup meneruskan ucapannya karena ia yakin Sehun mengerti kelanjutan perkataan itu.
        “Aku menemukan obat di kolong tempat tidur,” jelas Sehun mengakui.
        “Apa kau menyuruh orang lain untuk menemui Joongki?” tebak Luhan dan dijawab anggukan oleh Sehun.
        “Kyungsoo yang membantuku.”

@@@

        “Suho!” teriak Kris histeris melihat kondisi Suho yang sudah sangat mengkhawatirkan. Tanpa mempedulikan Dongwoon dan Hyunseung, Kris berlari ke arah Suho.
Beruntung untuk Kris karena Tao dengan gesit menghalangi Dongwoon yang sudah ingin menyerang Kris dari belakang. Sementara Chanyeol kini menghadapi Doojoon. Lalu Yoseob? Satu tendangan saja sudah membuatnya tak berani bergerak.
        Kris menarik tubuh Gikwang menjauh dari Suho lalu melayangkan pukulan di wajah pemuda itu. Dengan kalap, Gikwang di hajar habis-habisan dan tanpa ampun.
        “Kris!” pekik Suho yang melihat Junhyung sudah mengangkat tangannya yang memegang balok kayu.
        BRAK!!!
        Junhyung membeku seketika karena balok yang ia layangkan mendarat mulus di punggung Suho, bukan Kris seperti apa yang ia rencanakan sebelumnya.
        Kris mendorong tubuh Gikwang yang mulai babak belur ke atas aspal. “Suho!” teriaknya sambil berlari ke arah Suho. Ia juga sempat menyikut tubuh Junhyung untuk menyingkir.
        Junhyung sendiri tidak ingin membuang kesempatan di saat Kris lengah. Rasa bersalahnya hanya bertahan sebentar. Ia kembali mengangkat balok kayu yang masih di tangannya. Namun gerakannya kalah cepat dari Tao yang telah lebih dulu menendang Junhyung hingga tubuh pemuda itu tersungkur tepat di samping Suho.
        “Kris! Bawa dia pergi!” perintah Tao agar Kris segera membawa Suho ke rumah sakit karena pemuda itu kini sudah tak sadarkan diri.

@@@

        Sehun mendorong sendok yang dipegang Luhan, menjauhkan benda itu dari depan mulutnya. “Hyung, cukup. Aku sudah kenyang,” tolaknya.
        “Kalau kau tidak sembuh, bagaimana bisa kau melindungi Kris?” Luhan berusaha membujuk adiknya untuk makan.
        Sehun cemberut. “Kau mangancamku?”
        “Tentu saja,” balas Luhan penuh kemenangan. “Aku tidak ikut campur jika Kris memarahimu nanti.”
        “Oke… oke…” seru Sehun akhirnya, mengalah karena Luhan seperti bersiap untuk menyingkirkan peralatan makan yang digunakan Sehun.
        Tak lama, terdengar suara pintu terbuka.
        “Hyung, apa Sehun tidak mau makan?” tebak Kyungsoo yang muncul dari balik pintu dan disusul Jongdae dibelakangnya.
        “Kau seperti tidak mengenal Sehun saja,” ujar Luhan yang dihadiahi pelototan dari Sehun. “Jongdae? Mana Lay?” Tanya Luhan kepada teman kuliahnya itu.
        “Lay lagi menemani Minseok mencari makanan,” jelas Jongdae.
        Kyungsoo merebut sendok dari tangan Luhan. “Biar aku saja, hyung. Berisitirahatlah dulu, kau pasti lelah.”
        Jongdae menyentuh pundak Luhan pelan lalu mengisyaratkan Luhan untuk duduk di sofa. Luhan hanya mengangguk sekilas sebelum akhirnya menyerahkan urusan menyuapi Sehun kepada Kyungsoo lalu menyusul Jongdae yang sudah lebih dulu menuju sofa.
        “Apa ada tugas kuliah setelah aku pergi tanya?”
        Jongdae merespon pertanyaan Luhan dengan lirikan sebal. “Adikmu sedang sakit, tak bisakah kau sedikit mengabaikan tugas kuliah untuk sementara waktu?” Tanya Jongdae sinis.
        Sehun menertawai perdebatan antara Luhan dengan Jongdae. “Hyungku memang seperti itu, hyung.”
        “Iya, tidak sepertimu, Sehun,” ujar Kyungsoo yang sukses membuat Sehun cemberut sambil menatapnya kesal. Luhan dan Jongdae balas menertawai Sehun.

@@@

        Doojoon menarik kerah pakaian Chanyeol yang kini sudah terkapar di atas aspal. “Aku telah menyuruh Kris untuk menghubungi kalian dan anak-anak geng SMA Sun Moon, tapi temannya Kris tadi tidak menurutiku dan kalian yang harus menanggung akibatnya,” desis Doojoon tajam.
        Tak jauh dari sana, Tao juga sudah tidak berkutik di bawah kaki Junhyung.
        “Mana Jongin, Lay dan Minseok?” Tanya Junhyung.
        “Kenapa Tanya padaku?” protes Tao.
        “Ku rasa mereka berpura-pura masih bermusuhan di depan kita,” tebak Hyunseung mulai berspekulasi.
        “Kami memang musuh! Bukan berpura-pura!” teriak Chanyeol ikut memprotes.
        “Cih! Diam kau!” bentak Junhyung yang berdiri dibelakang Doojoon. “Apa kau pikir kami itu bodoh?”
        “Mungkin lain kali kita harus menggunakan Jongin sebagai umpan. Pemuda bersama Kris tadi tidak berpengaruh apapun,” ujar Gikwang yang langsung disambut anggukan oleh ke lima temannya.
        “Pemuda yang bersama Kris tadi memang tak berpengaruh apa-apa. Dia bukan siapa-siapa!” seru Chanyeol yang secara tak langsung mendukung ucapan Gikwang untuk tidak menyeret Suho dalam masalah mereka.
        Doojoon tersenyum pahit. “Apa kau tidak tahu siapa pemuda yang bersama Kris tadi?”
        Chanyeol melirik Tao penuh arti, namun temannya itu menggeleng samar sebagai jawaban bahwa ia tak mengenal Suho.
        “Dia kakaknya Jongin,” Dongwoon yang menjawab pertanyaan Doojoon.
        “Apa?” pekik Tao dan Chanyeol bersamaan.
        Doojoon mendengus kesal. “Sudahlah, kalian tak perlu berakting seperti itu,” desisnya tajam lalu berdiri. “Ayo!” seru Doojoon sebagai seorang leader, memerintah anak buahnya untuk meninggalkan Tao dan Chanyeol yang masih terkapar di aspal.
        Terakhir kali sebelum benar-benar pergi, Dongwoon menendang perut Tao dan Gikwang juga melakukan hal yang sama pada Chanyeol.
        Yoseob berbalik paling akhir, karena ia masih saja sempat melambaikan tangan bergantian ke arah Chanyeol dan Tao. “Dadah panda, dadah playboy,” serunya.
        “Yoseob!” teriak Junhyung.
        “Iya!” jawab Yoseob takut-takut. Mungkin hanya dia, anggota seorang gangster yang masih menyempatkan diri memberikan salam perpisahan untuk musuh-musuhnya.
        Tak lama setelah Doojoon dan kawan-kawan meninggalkan Chanyeol dan Tao, Joongki muncul dan akhirnya membawa mereka ke rumah sakit.

@@@

        Saat berjalan untuk kembali ke kamar Sehun, Lay yang melihat Jongin dari kejauhan, merentangkan satu tangannya untuk menghalangi Minseok.
        “Ada apa?” Tanya Minseok bingung karena Lay menghentikan langkahnya dengan tiba-tiba.
        Tangan Lay terangkat menunjuk sesuatu. “Jongin,” ujarnya pada Minseok tanpa melirik.
        “Astaga!” seru Minseok terkejut. “Kenapa Jongin ada di sini? Apa ibunya sakit?” tebaknya dan Lay hanya menggeleng.
        “Entahlah, ayo kita susul dia,” saran Lay yang langsung berlari mengejar Jongin dan Minseok otomatis mengikuti dibelakangnya.

@@@

        Kris merasakan ponselnya bergetar. Ia tak ingin menjawab panggilan dari Baekhyun karena ia tadi telah mengiriminya pesan tentang keadaan Suho dan telah menyuruh Baekhyun untuk datang.  Kris juga tak lupa memberi tahu rumah sakit serta nomor kamar tempat Suho kini berbaring.
        “Kris? Apa kau baik-baik saja?”
        Kris melotot mendengar pertanyaan pertama Suho setelah sadar dari pingsan beberapa saat lalu. “Harusnya aku yang bicara seperti itu!” marah Kris.
        Suho memaksakan tersenyum meski samar-samar karena rasa sakit yang ditimbulkan luka-luka yang menghiasi wajah tampannya. “Tapi kau belum menjawab pertanyaanku!” protes Suho dengan nada lemah namun ia tidak mau terdengar kalah.
        Kris mendesah sebal. “Setidaknya lebih baik darimu,” balas Kris penuh kemenangan. Jelas saja, terluka karena ‘sparing’ sudah hal biasa dikehidupan seorang Choi Kris Woo. Meski kali ini lebih parah dari pada biasanya karena ia dikeroyok, tetap saja Kris tidak sampai pingsan.
        “Apa kau mengenal orang-orang tadi?” Tanya Suho penasaran.
        “Maaf jika aku belum cerita sebelumnya. Dulu ketika SMA, aku adalah seorang gangster. Hobiku berkelahi. Bahkan aku memiliki lawan ‘sparing’ tetap dari sekolah lain. Mereka memang bukan lawan tetapku, tapi sekolah kami juga bermusuhan sejak lama,” jelas Kris panjang lebar.
        “Dan tadi ku dengar mereka menyebut Jongin,” ujar Suho yang mengingat kejadian beberapa waktu lalu. “Apa adikku juga seorang gangster? Dan apa kau mengenalnya?” pertanyaan Suho terdengar penuh selidik. Dari nadanya saja sudah jelas kalau Suho terdengar sedikit mendesak Kris untuk menjawabnya dengan jujur.
        Kris mendesah keras. Ia tidak tau apakah harus jujur atau sebaliknya karena belum sempat menjawab, muncul tiga pemuda di sana.

@@@

        “Hyung, sudah…” Sehun masih tetap merengek karena ia tidak ingin menghabiskan makanannya.
        “Oke,” ujar Kyungsoo mengalah. “Setidaknya ini lumayan.”
        Sehunpun akhirnya bisa bernapas lega. Ia melirih Luhan yang masih berbincang dengan Jongdae. “Hyung,” panggilnya.
        Luhan menoleh, “ada apa?”
        “Aku bosan. Temani aku jalan-jalan ke luar,” pinta Sehun.
        Luhan melirik Kyungsoo seperti meminta pendapat. Yang ditatap justru menunjuk deretan obat yang berjejer rapi di meja samping tempat tidur Sehun.
        Luhan mengangguk sekilas sebelum akhirnya kembali melirik Sehun. “Boleh,” serunya langsung dibalas Sehun dengan ekspresi girang. “Tapi kau harus meminum obatmu dulu,” syarat dari Luhan yang sukses membuat Sehun kembali cemberut.

@@@

        “Jongin!” panggil Minseok menghentikan Jongin yang sudah memegang knop pintu sebuah kamar rawat di rumah sakit yang sama dengan Sehun.
        Jonginpun menoleh dan menatap bingung ke arah dua temanny yang semakin dekat. “Kenapa kalian bisa di sini?”
        Lay mengabaikan pertanyaan Jongin. “Siapa yang sakit? Apa ibumu?”
        “Bukan,” sergah Jongin cepat-cepat. “Tapi, hyungku,” ujarnya pelan. Namun sedetik kemudian, wajah Suho berubah cerah. “Apa kalian ingin bertemu dengannya?”
        Lay dan Minseok saling tatap, lalu mereka dengan kompak mengangguk penuh semangat. Jika tidak sekarang, kapan lagi mereka bisa bertemu dengan kakaknya Jongin.
        Jongin masuk lebih dulu dan langsung disusul oleh Lay serta Minseok.
        “Suho hyung,” seru Jongin sambil berjalan masuk dan langsung menghampiri tempat tidur di mana Suho berbaring. “Apa yang terjadi denganmu?” Tanya Jongin cemas dan nampaknya ia tak menyadari bahwa ada Kris di sana yang langsung membeku mendapati Jongin muncul bersama Lay dan Minseok. Tiga pemuda yang menjadi lawan ‘sparing’ tetapnya.
        “Kris! Apa yang kau lakukan di sini?” hardik Minseok dengan tatapan benci. Memang selalu seperti itu jika ia bertemu Kris.
        Mendengar Minseok menyebut nama Kris, Jongin sontak menoleh. Matanya melebar ketika benar mendapati sosok tinggi yang ia kenal sebagai Kris.
        Jongin segera melesat ke arah Kris berada. “Kenapa kau bisa ada di sini?” Tanya Jongin tegas dan tangannya sudah sampai di kerah pakaian Kris.
        “Jongin, apa yang kau lakukan?” Suho berusaha melerai, namun suaranya yang terdengar lemah sama sekali tak berpengaruh di telinga Jongin serta dua temannya.
        “Apa kau yang membuat hyungku seperti ini?” Tanya Jongin lagi meski pertanyaan sebelumnya tidak di jawab oleh Kris.
        Nampaknya Kris memang tak berniat menjawab pertanyaan Jongin. Karena percuma saja, Jongin tidak akan percaya jika bukan ia yang melakukan hal itu pada Kris. Akhirnya, Kris lebih memilih bungkam dan membalas tatapan Jongin datar.
        “Jongin!” teriak Suho berusaha menghentikan Jongin yang kini sudah menyeret Kris ke luar dari kamarnya. Tentu saja usaha Suho sia-sia. Jongin sudah lebih dulu pergi dan Suho tak bisa melakukan apapun. Rasa sakit membatasi ruang geraknya. Belum lagi luka di punggung akibat pukulan balok kayu yang diterimanya.

@@@