Sabtu, 03 Mei 2014

Oh My School (chapter 2)


"It’s You” 

Author      : N-Annisa (@nniissaa11)
Cast          :
·        Jung Hyerim (A-Pink)
·        Kim Seok Jin (BTS)
·        Kim Himchan (BAP)
·        Yook Sungjae (BtoB)
·        Lee Minhyuk (BtoB)
·        Oh Hayoung (A-Pink)
Genre       : Life school, teen romance, tragedy
Length      : Chapter

***

        Sunggyu mengajak Himchan duduk di dekat garis pembatas lapangan. Di atas aspal dan menghadap ke dalam lapangan dari atas. Ke duanya sempat terdiam cukup lama. Suasana di sana juga cukup sepi karena jumlah siswa yang memang tidak terlalu banyak, dan lebih memilih berada di dalam gedung.
        Himchan terlihat mengawasi sekitar. “Gue mau cerita tentang sesuatu yang penting. Apa lo yakin di sini aman?”
        Sunggyu hanya menghela napas, berat. “Udah banyak tempat sepi di lingkungan sekolah. Dan di sini salah satunya.”
        Himchan berhenti bersikap waspada. Ia kini menatap Sunggyu lekat-lekat. “Apa gue pernah sekolah di sini sebelumnya?” Himchan sekuat tenaga mengucapkan kalimat tersebut karena ada seseorang yang mengatakan sesuatu padanya.
        “Jangan percayakan siapa pun. Tidak ada yang kau kenal di sana.”
        “Sebenernya apa yang terjadi sama lo?” Sunggyu balik melemparkan pertanyaan.
        Himchan meneguk ludahnya. Ucapan orang tersebut dan kata hatinya sangat bertolak belakang. Ia justru tidak merasa asing di sana meski tidak satu pun ada orang yang ia kenal.
        “Kalo emang lo nggak pernah sekolah di sini, nggak mungkin orang-orang yang baru lo temuin bisa kenal sama lo. Dan lo juga nyebutin nama gue kan tadi?”
        Sesaat Himchan terdiam.
        “Maaf, Him. Tapi gue curiga kalo lo… amnesia.” Sunggyu berujar ragu-ragu. “Soalnya sikap lo aneh. Dan gue pernah denger kalo lo kecelakaan. Tapi nggak pernah ada yang bisa ngebuktiin itu. Belum lagi, lo juga tiba-tiba ngilang nggak ada kabar.”
        Himchan tertegun dengan ucapan Sunggyu. “Lo bener.” Dan ucapannya membuat Sunggyu melebarkan matanya yang bulat.
        “Jadi…” Sunggyu tampak tak sanggup melanjutkan ucapannya.
        “Gue emang kecelakaan. Dan gue amnesia. Tebakan lo bener. Tapi, ada hal yang mengganjal untuk gue.” Himchan lalu menoleh ke tempat Sunggyu berada. “Orang tua dan kakak kandung gue seakan merahasiakan masa lalu gue. Mereka sebenernya ngelarang gue sekolah di sini. Tapi entah kenapa, ada hal yang memaksa gue untuk balik ke sini. Dan gue nggak tau itu apa?”
        Sunggyu merangkul Himchan karena saat itu ia sudah tidak bisa berkata apa-apa. “Sekarang terserah lo, Him. Tapi yang pasti, ikutin kata hati lo aja. Karena menurut gue, itu yang terbaik.”
        Himchan tersenyum lega. “Apa ada lagi temen deket gue selain lo?” tanyanya penasaran. Ia begitu semangat ingin mengetahui masa lalunya lagi.
        Justru Sunggyu yang terlihat ragu. “Lo yakin ingin tahu? Dan lo percaya kalo gue nggak akan ngebohongin lo?”
        “Bukannya lo yang nyuruh gue ikutin kata hati? Karena saat gue nyari lo, gue yakin kalo lo emang temen gue,” jelas Himchan.
        “Lo bener.” Sunggyu sedikit takjub dengan ucapan Himchan. “Ya udah. Mendingan sekarang kita makan siang dulu. Gue laper.”
Tanpa perlu waktu lama untuk menyetujui ajakan Sunggyu.
        “Kita makan bareng bekal gue aja. Soalnya di sini udah nggak ada kantin. Gue juga yakin kalo lo nggak siap bawa bekal.”
        “Yakin gapapa kalo gue ikut makan? Nggak takut kurang?”
“Santai, Him.” Sunggyu lalu berdiri dan bersiap mengajak Himchan pergi dari sana. “Tapi tunggu. Dari mana lo tau nama gue? Padahal lo lagi terkena amnesia?”
        “Pak Doojoon,” jawab Himchan cepat.

***

        “Gue bawa barang berat, dan lo enak-enakan main kamera!”
        Minhyuk terkekeh puas mendengar kekesalan Seok Jin padanya. Mereka sedang berjalan di koridor lantai 3 dan akan menuju lantai 4. Di saat Seok Jin kesusahan membawakan 3 kotak bekal, Minhyuk justru asik sendiri dan memotret apa saja yang ia lihat.
        Minhyuk mengarahkan kameranya pada wajah kesal Seok Jin. “Jelek lo kalo ngambek,” ejeknya dan kemudian kembali tertawa.
        Seok Jin sudah ingin melemparkan kotak bekal makanan di tangannya. Namun segera ia batalkan niatnya karena mereka sudah sampai di ujung koridor tempat Hyerim berada sekarang. Cewek itu duduk di lantai dengan jas sekolah yang menutupi lututnya. Karena sebenarya kurang nyaman jika duduk seperti itu saat sedang mengenakan rok pendek.
        Hyerim menoleh saat mendengar derap langkah mendekat ke arahnya. Ia tersenyum karena mereka adalah teman-teman dekatnya. “Gue kira kalian nyasar,” candanya.
        Seok Jin langsung menempatkan diri tepat di samping Hyerim sambil memberikan kotak bekal milik cewek itu. Hyerim pun menerimanya dengan senang hati. Sementara Minhyuk seperti tidak ingin kehilangan moment bersama kamera kesayangannya. Cowok itu bahkan sampai memotret kebersamaan Seok Jin dan Hyerim.
        Melihat hasil jepretannya, Minhyuk mendesah lemas. “Kapan ya gue bisa kayak gini sama Krystal?” ujarnya iri. Selanjutnya ia memilih duduk sambil menyodorkan ikat rambut kecil pada Hyerim.
        “Krystal udah cinta mati sama Pak Doojoon.” Hyerim berkata sambil mengikat rambutnya yang tadi terurai.
        Minhyuk menatap Hyerim penuh minat. “Ya tapi kalo sama Bang Doojoon tuh kejauhan umur mereka,” kata Minhyuk yang seakan tak terima dengan kenyataan yang ia terima. “Bekal gue dong, Jin.” Minhyuk mengulurkan ke dua tangannya dan menatap Seok Jin lembut. Ia bahkan berkata manis pada cowok yang tampak masih menyimpan kesal padanya itu.
        Seok Jin hanya mendorong beberapa senti kotal bekal ke arahh Minhyuk yang tergeletak di atas lantai. Dan itu pun tanpa menatap Minhyuk sedikit pun. Dengan terpaksa, Minhyuk menyambar kotak bekal miliknya.
        Melihat ada yang aneh, Hyerim sempat menghentikan kegiatan makannya. Ia menatap Seok Jin dan Minhyuk bergantian. Ke duanya saling diam seolah tidak sedang bersama-sama. “Kenapa sih lo berdua?” tegurnya. “Ada masalah rumah tangga?” tanya Hyerim lagi. Namun yang terakhir tadi langsung berhadiah tatapan membunuh dari dua cowok di depannya itu.
        Seok Jin dan Minhyuk juga saling melempar tatapan jijik untuk satu sama lain.
        “Kalo pun gue gay, gue juga bakal milih-milih cowok yang bener,” tegas Minhyuk.
        “Lo pikir gue mau sama ketua OSIS suram kayak lo?” balas Seok Jin tak mau kalah.
        “Eehh… stop!” lerai Hyerim sebelum Minhyuk atau mungkin Seok Jin sempat membuka mulut lagi. “Jangan sampe gue kirim lo berdua ke KUA!” ancam cewek itu. Dan Hyerim baru bisa meneruskan kegiatan makannya saat Minhyuk dan Seok Jin benar-benar sudah sepakat untu saling diam. Sedikit menyesal karena yang menyulut ke dua cowok itu adu mulut adalah dirinya. Namun anehnya, Minhyuk dan Seok Jin tetap dekat dan tidak ada yang saling menjauh meski kerap kali bertengkar untuk masalah kecil.

***

        Seorang siswa laki-laki menerobos masuk ke dalam ruang kelas 3. Ia tampak menghampiri meja yang dihuni oleh Kibum bersama Jonghyun yang sedang menikmati bekal makan siang mereka. Meja yang berada tepat di belakang meja milik Minhyuk dan Hyerim.
“Guys… gue liat Sunggyu di deket lapangan. Dia sama siapa?” seru cowok itu yang diketahui bernama Dongwoo. “Mirip Himchan.”
        Kibum dan Jonghyun yang menjadi pusat tujuan Dongwoo. Pembicaraan mereka juga cukup menarik minat beberapa teman sekelas mereka yang lain. Salah satunya adalah Jinki yang juga teman semeja Sunggyu.
        “Itu emang Himchan, Woo,” sambar Howon. Cowok yang duduk di meja sebelah Hyerim. Dan ucapannya sukses membuat teman-temannya yang sedang membicarakan Himchan itu menoleh penuh minat padanya. Terlebih, Howon juga tampak bangkit dari kursinya lalu berpindah duduk ke kursi yang sedang ditinggalkan Hyerim. Ia duduk menghadap Jonghyun tanpa memutar kursi terlebih dahulu. Howon bahkan sampai membawa serta botol minumnya. “Dan gue rasa… terjadi sesuatu sama Himchan.”
        “Bukan cuma Himchan, tapi Hyerim juga.” Kibum ikut menambahkan membuat obrolan mereka menjadi terkesan serius. “Apa kalian nggak ada yang nyadar Hyerim kabur pas anak kelas 2 itu heboh karena ngeliat Himchan datang?”
        “Hyerim bahkan nggak noleh saat Himchan muncul tadi.” Jonghyun tampak bersuara sesuai dengan apa yang ia lihat tentang Hyerim tadi di koridor. Ia bahkan berdiri dengan jarak hanya beberapa meter dari cewek itu tadi.

***

        Minhyuk menghempaskan begitu saja kotak bekalnya yang sudah kosong. Dan dengan cueknya, ia menyambar botol minum milik Hyerim yang kemudian langsung ia tenggak.
        “Heh! Lo abis nguli di mana? Makan lo cepet banget,” komentar Seok Jin. Isi bekal makannya pun masih tersisa setengah. “Pak Doojoon nggak ngasih lo makan apa kalo di rumah?”
        “Jin.” Hyerim tampak menarik-narik lengan kemeja Seok Jin. Setelah Seok Jin menoleh, ia menyodorkan kotak makannya. “Tulang ikannya nggak keliatan.”
        Seakan mengerti maksud Hyerim, Seok Jin pun langsung menyingkirkan kotak bekalnya lalu mengambil alih kotak bekal milik Hyerim.
        “Anak-anak ekskul bola dapet undangan buat ikut kompetisi,” ujar Minhyuk dengan wajah serius. “Gue pengen banget ngajak mereka buat ikut. Tinggal ngabarin Youngjae aja buat dia ngegerakin anak kelas 2 nya.”
        “Iya, Min. Kalo bisa jangan sampe nggak ikut,” saran Seok Jin penuh semangat, sementara tangannya tampak sedang mengembalikan kotak bekal milik Hyerim. Ke duanya bahkan seperti lupa jika sempat berdebat kecil beberapa menit lalu.
        “Gue denger dari temen gue di SMA Destiny si Luhan. Dia bilang itu turnamen emang nggak terlalu besar, tapi cukup bagus.” Seok Jin meneruskan ucapannya.
        “Masalah terbesarnya itu, kita mau latihan di mana?” tanya Minhyuk frustasi. “Lapangan kita aja di segel. Dan gue nggak enak sama anak-anak kalo tiap latihan harus sewa lapangan.” Cowok itu sempat memberikan jeda pada ucapannya. “Lo liat aja sekolah kita sepinya udah kayak tempat pengasingan. Kalo mereka semua orang kaya, pasti udah pada pindah sekolah kayak yang lain.”
        “Diomongin dulu aja bareng-bareng enaknya gimana.” Hyerim ikut bersuara untuk membantu mencari solusi.

***

        “Gila tuh si Hayoung baru dateng jam istirahat,” seru Taehyung heboh saat melihat kedatangan seorang cewek teman sekelasnya.
        Cewek bernama Hayoung tadi langsung melesat masuk dan menghempaskan tubuh ke kursi di belakang Taehyung tersebut. cewek itu tak peduli jika langsung menjadi pusat perhatian teman-teman sekelasnya. Ia bahkan langsung menyambar salah satu buku milik Jinri yang kemudian ia gunakan sebagai kipas tangan.
        “Nampol banget lu baru dateng jam segini. Udah gitu maen duduk di bangku orang pula tanpa permisi!” protes Youngjae yang saat ingin kembali ke kursinya, sudah ada seseorang yang menempati di sana.
        “Lo jadi ketua kelas ngalah dikit napa! Duduk sama Woohyun, kek. Atau Jongup, Ilhoon, terserah,” balas Hayoung tak mau kalah. “Kalo perlu duduk sama Namjoo sekalian.”
Tepat saat Hayoung menyelesaikan ucapannya, Sungjae datang dan langsung menuju kursinya di samping kursi Namjoo. Hayoung langsung tertegun dibuatnya.
        “Kamu ngalah ya, Youngjae.”
        Pundak Youngjae langsung terlihat merosot saat mendengar Jinri berkata demikian. “Ya udah deh karena Jinri yang minta,” ujar Youngjae pasrah. Dengan langkah berat, ia berbalik sambil menenteng ransel sekolahnya dan berjalan ke arah belakang kelas. Menuju meja yang dihuni Woohyun.
        Namun tampaknya tidak ada yang menyadari perubahan raut wajah Hayoung saat pertama kali melihat Sungjae tadi. Cewek itu langsung menolehkan kembali wajahnya menatap lurus ke depan kelas. Dan tidak ada lagi yang bisa ia lakukan karena bel selesainya waktu istirahat sudah berdentang.
        Setelah itu, salah seorang guru masuk ke dalam kelas 2 dan bersiap untuk mengajar. Itu pak guru Hyunseung wali kelas 3 yang juga mengajar matematika untuk kelas 2.
        “Saya dengar ada anak baru yang bernama Yook Sungjae. Mana anaknya?” Hyunseung tampak menyapu hampir seluruh penjuru kelas.
        Sementara dari mejanya, Sungjae tampak mengangkat tangan dengan enggan. Dan dari tempat duduknya berada, Hayoung mengawasi Sungjae dengan perasaan campur aduk. Cewek itu benar-benar resah dan tak tenang berada di kelas itu.

***

        Sunggyu masuk seorang diri ke dalam kelasnya. Tentu saja membuat ia diburu beberapa pertanyaan tentang Himchan.
        “Kok lo sendiri? Bukannya tadi lo sama Himchan?” tanya Jinki, teman semeja Sunggyu.
        “Iya. Himchan nggak lo sekalian ajak masuk?” sahut Chorong. Cewek yang duduk tepat di meja belakang Sunggyu.
        Sebelum menjawab pertanyaan teman-temannya, Sunggyu menyempatkan diri melirik ke arah pintu. Tepat ketika Hyerim muncul bersama Seok Jin juga Minhyuk. Ia kemudian menoleh kembali pada Jinki sambil berujar, “katanya masih ada urusan sama Pak Doojoon.” Selanjutnya ia memilih duduk meski ia sadar, ketika melintas, Seok Jin sempat menatapnya penuh minat. Namun tak mengatakan apa-apa.
        “Selamat siang…” seru Ibu guru Victoria saat melangkah masuk ke kelas 3.
        “Siang Buuu…” sahut para siswa di sana dengan riang. Tentu saja didominasi suara siswa laki-laki karena yang akan mengajar di kelas mereka adalah guru tercantik di SMA Paradise. Bagaimana tidak? Victoria itu satu-satunya guru perempuan di sana.
        Victoria sangat menyambut hangat sapaan murid-muridnya di kelas 3 tersebut. Ia kini berdiri tepat di depan kelas. “Selamat memasuki tingkat akhir di SMA. Dan… bagaimana kabar kalian?”
        “Baik buuu…” seru mereka lagi masih dengan nada riang. Keceriaan Victoria tentu berimbas pada murid-muridnya.
        “Pak Hyunseung sudah membentuk kepengurusan kelas? Siapa yang menjadi ketua kelasnya?”
        Dari dua meja paling belakang dekat jendela luar, Seok Jin mengangkat tangan kanannya. “Saya, Bu.”
        Victoria tersenyum melihat Seok Jin mengakui diri sebagai ketua kelas. “Waah… yang menjadi ketua kelas tahun ini semuanya tampan-tampan. Di kelas 3 ada kamu, dan di kelas 2 ada Youngjae.” Saat Victoria menyebut nama Youngjae, para murid langsung bungkam. Beberapa ada yang malas meresponnya. Tentu, bukan hanya para siswa di kelas 2 yang mengetahui jika Victoria adalah penggemar berat Youngjae.
        Sadar jika kali ini responnya cukup buruk, Victoria langsung mengalihkan suasana. “Karena kita sudah saling kenal, boleh kita langsung memulai materi untuk hari ini?”
        “Yaaah… Ibu….” Terdengar riuh kekecewaan dari para penghuni kelas 3. Tidak terkecuali juga para siswi perempuan.
        Victoria kembali ke mejanya untuk mempersiapkan buku yang ia bawa. “Jangan mengeluh. Kalian sudah kelas 3 SMA. Sebentar lagi menghadapi ujian kelulusan. Kalian harus memulai persiapannya dari sekarang. Dan…”
        Hyerim yang ingin meraih kacamatanya di atas meja, langsung terdiam saat ucapan Victoria terputus. Ia menoleh ke arah pintu masuk. Tepat ketika Himchan berdiri diambangnya. Cewek itu tanpa sadar meremas kacamatanya. Dan meski tanpa mengenakan kacamata, Hyerim tentu dapat mengenali dengan jelas cowok tersebut.
        “Maaf saya terlambat,” ujar Himchan sedikit menyesal.
        Victoria nyaris kembali kehilangan kata-katanya. Gossip yang beredar tentang kembalinya Himchan benar terjadi. Ia bahkan baru melihat cowok itu sekarang. “Oh… iya, Himchan. Kamu boleh masuk. Kita baru akan mulai.”
        Hyerim duduk dengan tegang saat Himchan melintas di sampingnya. Himchan sendiri tampak seperti tidak memiliki masalah apapun dengan Hyerim. Ia terus melangkah ke tempat meja yang kosong. Tepat di barisan paling belakang.
        “Bisa kita mulai sekarang?” Suara Victoria kembali mencairkan suasana yang menjadi dingin saat Himchan datang.
        “Min,” gumam Hyerim pelan.
        “Kena….” Ucapan Minhyuk sukses terputus saat melihat Hyerim menunjukkan kacamatanya yang rusak dengan tatapan polos. Salah satu kacanya terlepas dari bingkai dan memiliki retakan tipis yang membentang di tengahnya. Ia sendiri hanya bisa geleng-geleng kepala melihatnya. “Ya udah, kalo tulisan Bu Victoria nggak kelitan, lu liat dari buku gue aja.”
        Hyerim mengangguk setuju. Sementara Victoria mulai menuliskan sesuatu dipapan tulis.
        Minhyuk sempat menoleh ke tempat Seok Jin duduk. Cowok itu pun menatap Minhyuk penuh tanya. Sambil terkekeh, Minhyuk menunjukkan kacamata Hyerim yang rusak.
Melihat itu mata Seok Jin sontak melebar. Ia juga hanya bisa menggelengkan kepalanya. “Ada-ada aja si Hyerim,” gumam Seok Jin pelan.

***

        Seorang siswa dihukum membersihkan toilet sekolah yang tampak sudah cukup usang dengan cat gelapnya. Yang ia lakukan saat itu adalah mengepel lantai. Tak lama terdengar salah satu bilik terkunci dari dalam. Cowok tidak menyadari jika ada yang masuk ke sana. Dan sedetik kemudian, pintu bilik yang lain terbuka. Di sana muncullah salah seorang siswa dari kelas 3.
        “Yang bersih ya, dek,” goda Howon sambil mengacak gemas rambut anak itu yang tentu saja langsung menepis tangan Howon.
        “Buruan deh ke luar.”
        “Napa si Jungkook?” seru Kibum yang baru saja muncul dengan tatapan heran pada ke duanya. Terutama untuk anak kelas 2 bernama Jungkook tersebut. “Baru hari pertama sekolah, udah dapet hukuman aja.”
        Sementara siswa bernama Jungkook tersebut hanya menatap kesal pada Kibum yang kini menuju bilik kosong yang tadi digunakan Howon. Howon sendiri juga sudah melangkah ke luar toilet.
        Hanya selang beberapa saat setelah Howon meninggalkan toilet, pintu bilik toilet kembali terbuka. Jungkook yang sedang melanjutkan pekerjaannya tadi, sontak menoleh cepat. Ia menemukan Himchan yang juga sedang melihat ke arahnya. Tentu Jungkook yang lebih terkejut atas pertemuan mereka yang tidak disengaja tersebut.
        “Waah… Kak Himchan udah mulai…” ucapan Jungkook melemah saat Himchan seperti tidak memberikan respon padanya. “Masuk sekolah lagi,” lanjut Jungkook dengan nada pelan. Namun Himchan tetap berlalu begitu saja. “Jadi, Kak Himchan masih hilang ingatan?” Jungkook justru sibuk menebak-nebak seorang diri. Ia bahkan seperti tidak menyadari bahwa pintu bilik ang ditempati Kibum tadi sudah terbuka. Dan bisa dipastikan Kibum mendengar ucapan Jungkook yang terakhir tadi.
        “Apa lo bilang? Himchan bener hilang ingatan?” seru Kibum untuk memastikan. Namun pertanyaannya justru membuat Jungkook terlonjak karena terkejut dan baru menyadari bahwa Kibum sudah memunculkan diri di sana.
        “Lo ngagetin aja sih, Kak!” Jungkook justru melancarkan protes.
        “Jadi lo tau tentang apa yang terjadi pada Himchan kemaren?” tanya Kibum yang sepertinya tidak menghiraukan protes keras dari anak itu. “Cepet ikut gue!” putus Kibum karena Jungkook tidak langsung menjawab pertanyaannya tadi. Ia bahkan sampai menarik paksa pundak Jungkook untuk ikut bersamanya.

***

        Saat bel istirahat ke dua sudah berdentang, Hayoung yang paling pertama melesat ke luar kelas. Bahkan mendahului Victoria. Cewek itu langsung melangkah menuju kelas 3 yang jaraknya tidak terlalu jauh dan hanya dibatasi oleh sebuah kelas kosong antara ke duanya. Ia bahkan tanpa permisi menerobos masuk ke sana. Dan tentu saja tidak ada yang merasa aneh dengan kedatangan Hayoung.
        Meja milik Minhyuk, Hyerim, Seok Jin, dan Sunggyu tampak sudah ditinggalkan penghuni mereka. Juga satu meja paling belakang, satu barisan dengan Hyerin yang sudah tampak kosong. Dan bisa dipastikan Himchan yang duduk di sana karena memang hanya di sana meja yang masih kosong.
        “Kak Taekwoon masuk nggak?” tanya Hayoung pada siapa saja yang berada di sana. Terutama untuk yang berada paling dekat dengan tempatnya berdiri saat ini. Changsub dan Howon.
        “Taekwoon nggak masuk,” teriak seorang cewek yang duduk di barisan paling belakang. Dekat dengan jendela yang mengarah ke koridor. Luna. “Dan lo juga, yang sopan kalo nanya sesuatu sama kakak kelas,” serunya mengingatkan dengan nada sedikit jengkel.
        “Nyantai, Lun. Hayoung kan emang begitu. Atau jangan-jangan, lo masih kesel gara-gara ngeliat Taekwoon jalan sama Hayoung,” ledek cewek yang duduk di meja belakang Jonghyun. Bomi. Cewek itu juga sukses menyulut tawa teman-temannya.
        Dasom, cewek yang duduk di depan Luna juga ikut menertawai cewek itu. Ia bahkan sampai menolehkan pandangnnya ke belakang. “Jadi lo jatuh cinta sama Taekwoon? Jimin mau dikemanain?” godanya.
        “Apaan sih, lo!” Luna tampak jengkel.
        Tanpa diduga, Jimin justru muncul di belakang Hayoung yang masih berdiri di depan kelas 3. Ia menatap heran siswa di sana yang beberapa masih tampak tertawa. Jimin juga sempat mengawasi Hayoung.
        “Nah, kan! Cowoknya dateng,” ledek Bomi yang sudah menyadari keberadaan Jimin.
        “Cieee… dijemput berondong tersayang,” sambar Dasom saat Luna tampak berdiri.
        Hanya Hayoung yang tampak tak peduli dengan keriuhan penghuni kelas 3. Tatapannya justru memandang jauh ke tempat meja Seok Jin berada. Tentu penghuninya sudah tidak ada di tempat. Hayoung kemudian kembali menatap Howon dan Changsub di hadapannya. “Kak Seok Jin tapi masuk, kan?”
        “Biasalah. Sama Minhyuk dan Hyerim paling,” sahut Howon yang langsung disetujui oleh Changsub.
        “Ya udah deh. Makasih ya, Kak.” Setelah itu, Hayoung memilih meninggalkan kelas tersebut.

***

        “Baru hari pertama udah dapet tugas aja,” cela Minhyuk saat ia, Seok Jin serta Hyerim memasuki ruang perpustakaan. Di sana sudah ada Ho Seok, Youngjae, Jinri dan Krystal.
        “Kayak nggak tau Pak Hyunseung aja,” sahut Youngjae yang tampak frustasi dengan tumpukan buku-buku dihadapannya.
        Seok Jin memperhatikan Ho Seok yang dengan terang-terangan menatap kagum pada Hyerim. Dengan jahilnya, Seok Jin mendaratkan tangannya tepat di kepala Ho Seok. “Yang sopan ngeliatin kakak kelas!”
        Tentu saja perbuatan Seok Jin menarik perhatian orang-orang yang berada di sana.
        “Soalnya kak Hyerim cakep banget hari ini,” kata Ho Seok tanpa pikir panjang. Ia bahkan seperti tidak merasa sakit hati dengan perlakuan Seok Jin padanya. “Apalagi kalo nggak lagi pake kacamata begitu. Kan jarang-jarang juga.”
        “Waahh… iya. Kak Hyerim tumben nggak pake kacamata?” seru Jinri.
        “Dirusakin gara-gara ngeliat Himchan.”
        Sontak Hyerim melancarkan pukulan pada lengan Minhyuk. Kebetulan juga cowok itu sedang berjarak tidak terlalu jauh darinya. Mereka juga tak luput jadi bahan tawa yang lainnya.
        Seok Jin tidak sengaja menangkap Krystal yang sedang menggunakan softlens dari balik kaca lipat yang ia bawa. “Lo selama ini pake itu, Krys?”
        “Kak Jin ke mana aja? Aku udah lama pake ini,” sahut Krystal tanpa menoleh karena ia sedang berkonsentrasi memakai softlens di matanya. “Soalnya mataku mins. Dan aku juga males kalo pake kacamata.”
        “Krystal tambah cakep kan, Jin?”
        Seok Jin sontak menoleh malas ke tempat Minhyuk duduk. Terkadang ia kasihan pada Minhyuk. Cewek yang disukai cowok itu justru lebih menyukai kakaknya sendiri.
        Minhyuk mendorong pelan lengan Seok Jin saat cowok itu sudah melepaskan pandangan padanya. “Jangan bilang lo juga suka sama Krystal?”
        “Apaan sih, Min?” seru Seok Jin kesal dengan tuduhan temannya itu. “Krys, itu masih baru ya?” tanya Seok Jin yang sudah tidak ingin merespon reaksi Minhyuk tadi.
        “Lo mau coba pake softlens, Jin?” seru Hyerim dengan tatapan meremehkan. Sangat di luar dugaan jika seseorang seperti Seok Jin menaruh minat pada benda seperti itu.
        Seok Jin hanya memutar bola matanya, kembali kesal. “Buat lo, Rim!” balasnya kemudian. Hyerim hanya tersentak kaget, namun Seok Jin berpura-pura seolah ia tidak melihat reaksi cewek itu. Seok Jin justru menyambar kotak softlens yang masih utuh milih Krystal. “Nanti gue ganti, ya.”
Cowok itu lalu berpindah duduk di meja. Tepat di depan Hyerim. Minhyuk yang seakan mengerti maksud Seok Jin, ikut membantu menahan Hyerim saat cewek itu berniat kabur. Seok Jin sendiri dengan santainya membuka kotak softlens di tangannya.
        “Jin! Lo mau ngapain!” protes Hyerim.
        “Lo nggak mungkin ganti lensa kacamata dalam jangka waktu dekat, kan?” tanya Seok Jin tanpa menoleh. Ia tampak sibuk dengan benda kecil yang kini menempel di ujung jari tengah tangan kanannya. Seok Jin kemudian menatap Hyerim. Sementara tangan kirinya merengkuh leher Hyerim. “Dan sementara lo pake ini.”
        Hyerim sudah menjauhkan wajahnya dari Seok Jin. Ia bahkan sampai memejamkan mata.
        “Kalo sampe hitungan tiga lo nggak buka mata. Gue cium, ya!” goda Seok Jin setengah mengancam. Namun sukses membuat Hyerim menuruti ucapan cowok itu bahkan sebelum Seok Jin sempat berhitung seperti apa yang ia maksud.
        Krystal menatap perlakuan Seok Jin dengan menopang dagu menggunakan salah satu tangannya yang bertumpu di permukaan meja. “Kak Seok Jin bisa kejam juga ternyata,” ujarnya dengan nada datar.
        Tidak terlalu sulit untuk membuat Hyerim menuruti ucapan Seok Jin. Cowok itu bahkan sudah berhasil memasangkan ke dua softlens di mata Hyerim.
        “Jelas nggak ngeliatnya?” tanya Minhyuk penasaran.
        Hyerim masih tampak beberapa kali mengedipkan mata. Ia juga seperti sedang beradaptasi dengan lingkungan melalui matanya. “Ada yang ganjel, Jin! Nggak enak.”
        Belum sempat Seok Jin merespon ucapan Hyerim, seseorang tampak menerobos masuk ke dalam perpustakaan. Dan semua pasang mata langsung menoleh ke tempat Hayoung memunculkan diri.
        “Kak Jin, boleh ngomong bentar, nggak?” pinta Hayoung.
        “Itu Hayoung, ya?”
        Seok Jin menoleh cepat dan mendapati Hyerim menatap lurus ke tempat Hayoung berada. Ia tersenyum puas atas apa yang dilakukannya pada cewek itu. “Jadi bisa liat, kan?” Cowok itu lalu mengusap puncak kepala Hyerim sambil berangsut turun dari atas meja dan berniat menghampiri Hayoung. “Ngobrol di luar, ya.”

        Melihat Seok Jin menerima ajakannya, Hayoung lalu lebih dulu berbalik dan meninggalkan perpustakaan bersama Seok Jin yang berjalan di belakangnya. 

***

Jumat, 02 Mei 2014

Oh My School (chapter 1)


 “The Lost”

Author      : N-Annisa (@nniissaa11)
Cast          :
·        Jung Hyerim (A-Pink)
·        Kim Seok Jin (BTS)
·        Kim Himchan (BAP)
·        Yook Sungjae (BtoB)
·        Lee Minhyuk (BtoB)
·        Yoon Doojoon (B2ST)
Genre       : Life school, teen romance, tragedy
Length      : Chapter

***

        “Jika sekolah itu sudah tidak bisa menerima murid baru lagi, tentu akan semakin bagus dan sekolah itu akan segera ditutup. Dan kau harus tetap di sana memastikan semuanya. Jangan sampai ada rencana yang gagal.”
        “Tenang, Yah. Sekolah itu akan menjadi milik ayah. Doojoon dan keluarganya harus menerima semua penderitaan yang keluarga kita pernah rasakan.”
        Prank…!
        “Siapa di sana?”
        “Mampus, gue ketahuan!” Cowok itu panik seketika saat kakinya tak sengaja menendang sebuah kaleng minuman yang sudah kosong. Derap langkah kaki dari arah dalam, membuat cowok itu berbalik dan melesat pergi sejauh mungkin.
        Cowok itu melintasi jalan raya yang sudah cukup sepi dan gelap. Ia yang muncul dari dalam sebuah gang dengan berlari, tidak sempat menghindar saat ada sebuah mobil yang melintas. Dan… kecelakaan pun tidak terhindarkan. Cowok itu sempat terpental ke samping dan kepalanya membentur trotoar jalan.
        Sementara tak jauh dari sana, pria yang tadi mengejar cowok tadi, tampak tersenyum samar. Setidaknya, ia merasa aman karena rahasianya tidak sempat terbongkar melihat kecelakaan dan luka yang dialami cowok tadi. “Paling tidak, dia hanya akan terkena amnesia. Baru setelah itu, kupikirkan cara lain untuk membungkamnya.”

***

SMA Paradise…
        Sebuah SMA yang nyaris di tutup. Saat ini sekolah tersebut hanya memiliki 2 tingkatan kelas. Satu untuk kelas XI, dan satu lagi untuk kelas XII. Sementara untuk murid baru, SMA Paradise sudah tidak membuka pendaftaran untuk tahun ini. Namun anehnya, siswa yang tersisa, tidak ingin pindah ke sekolah lain. Dan masing-masing kelas, dihuni tak lebih dari 24 siswa.
        Dewan guru yang tersisa hanya sekitar 4 orang. Itu pun sudah termasuk kepala sekolah mereka, Yoon Doojoon. Seorang pria berusia sekitar 35 tahunan. Masih cukup muda untuk menjadi seorang kepala sekolah. Karena itu jangan heran jika pria ini masih sangat berjiwa muda.
Doojoon tertarik dengan dunia modeling. Hampir setiap sudut ruangan kerjanya terpampang foto diri sang kepala sekolah dengan berbagai model dan pose. Namun yang terpenting, Doojoon belum menikah.
        Dan pagi itu, tepat di awal tahun ajaran baru, Doojoon hendak akan mendatangi ruang kelas 2 yang diwalikan oleh guru cantik, Victoria Song. Kabarnya, Doojoon dan Victoria pernah memiliki hubungan di masa lalu mereka.
        Victoria mengajar matematika, bahasa dan IPA. Tentu saja untuk ke dua kelas yang tersisa. Penampilannya cukup modis. Heels, tas, pakaian, semuanya termasuk barang-barang ber-merk.
        “Loh, kenapa Pak Hyunseung ada di sini?” tanya Doojoon heran. Karena seingatnya, ia akan menuju kelas milik Victoria. “Apa Bu Victoria tidak masuk?” lanjutnya. “Nah, kenapa Howon sama Changsub ada di kelas 2 juga?” Doojoon menunjuk dua murid yang kebetulan duduk di barisan terdepan. “Kamu juga Minhyuk?”
        Siswa yang terakhir ditunjuk tadi, hanya geleng-geleng kepala atas sikap kepala sekolahnya tersebut. “Bang Doojoon liat aja ke depan, ini kelas berapa?” serunya.
        Doojoon langsung melebarkan mata. Bukan karena Minhyuk berani menyuruhnya, namun karena panggilan yang Minhyuk tujukan padanya. “Ini bukan di rumah, tapi di sekolah.” Ia mengingatkan murid yang juga adik kandungnya tersebut.
        “Keceplosan,” kata Minhyuk cuek.

***

        “Oh em ji… Pak Doojoon!” seru Krystal heboh. Semua murid langsung bergegas kembali ke meja mereka masing-masing saat melihat kepala sekolah mereka muncul di depan pintu kelas.
Sementara teman semeja Krystal, Ho Seok, justru sebaliknya. Ho Seok berdecak kesal dengan sikap Krystal. Ia dan bahkan seluruh siswa kelas 2 pun tahu, jika Krystal adalah penggemar berat kepala sekolah ganteng itu.
        Krystal memandang berkeliling seiring dengan langkah Doojoon yang memasuki ruang kelas. “Himin! Kaca!” pekik Krystal. Tak peduli jika sedang berada di ruang kelas. Suaranya yang cempreng membuat Ho Seok sampai memejamkan mata sebagai pengganti usaha menutup telinga, karena sudah terlambat jika ingin melakukan itu.
        “Heh! Buru!” desak Krystal lagi yang udah nggak sabar benda keramatnya itu kembali.
        “Akhirnya saya tidak salah kelas. Anak-anak dengarkan baik-baik. Kalian akan mendapatkan seorang teman baru di kelas kalian,” kata Doojoon ketika berdiri di depan kelas.
        “Murid baru?” seru bebepa murid denga suara bersautan. Tentu hal aneh jika sekolah mereka mau menerima murid baru. Bahkan untuk angkatan yang baru saja, sekolah sengaja tidak membukanya.
        “Masih ada gitu, yang mau masuk ke SMA Paradise?” cela Woohyun. Salah satu murid tampan di kelas tersebut. Ia duduk di meja dengan barisan akhir.
        Tiga meja paling belakang masing-masing dihuni satu siswa. Dan salah satunya Woohyun tadi. Cowok dengan pakaian cukup berantakan, namun tetap tidak menyembunyikan wajah tampannya.
        “Gue rasa cuma ada 2 kemungkinan,” timpal Ilhoon yang duduk di meja tepat di samping kanan Woohyun.
        Jongup juga ikut menyimak obrolan dua temannya. “Orang kaya mendadak miskin, atau emang udah nggak ada sekolah lain yang mau nerima dia,” serunya yang kemudian membuat Woohyun menoleh ke kiri sambil menahan tawa. Tentu saja tempat Jongup berada.
        Tanpa mempedulikan celotehan-celotehan para murid kelas 2 tersebut, Doojoon tetap mempersilahkan anak baru yang ia bawa untuk masuk ke dalam kelas. Seorang cowok. Tinggi, putih, dan melangkah tegap tanpa senyuman sedikit pun di wajahnya yang tampan namun memberikan kesan dingin.
        “Waah… dia lebih ganteng dari Myungsoo?” kagum seorang cewek bernama Naeun. Dan ia langsung ditertawakan teman-teman sekelasnya karena cowok yang tadi ia sebut namanya—Myungsoo—langsung membekap mulut Naeun yang duduk di depannya. Naeun dan Myungsoo adalah sepasang kekasih di kelas tersebut.
        Doojoon hanya geleng-geleng kepala melihat sikap murid-muridnya. Di satu sisi, ia juga sedikit menahan malu dengan murid baru di sampingnya itu. “Kamu, perkenalkan diri,” kata Doojoon setengah memerintah.
        “Nama gue Yook Sungjae.” Cowok itu mulai memperkenalkan diri tanpa berbasa-basi sebelumnya pada Doojoon yang sudah memberikannya kesempatan untuk bicara. Mata tajam cowok itu menyapu hampir seluruh kelas.
Terhitung hanya ada sekitar 5 murid saja yang mau memperhatikannya. Dan itu semua adalah murid perempuan. Sisanya yang bisa dipastikan siswa laki-laki, kompak mengacuhkan Sungjae. Ilhoon bahkan sudah berpindah tempat ke meja Woohyun dan sibuk dengan ponsel mereka.
        Sungjae tampak menghela napas, berat. Suasana di sana tidak bisa dikatakan seperti ruang belajar. Selain muridnya yang bersikap seenaknya, fasilitas kelas pun cukup mengkhawatirkan. Satu dari dua penyejuk ruangan mati. Dan itu menjadi alasan utama siswa di sana tidak mengenakan jas sekolah mereka. Belum lagi cat dinding yang terlihat kusam. Membuat Sungjae sekuat tenaga menahan diri untuk tidak berlari ke luar ruang kelas.
        “Gue…”
        “Apa alasan lo mau pindah ke sekolah kita?” sela Namjoon.
        Sungjae hanya bisa semakin menahan kesal karena ada yang berani memotong ucapannya. “Gue rasa itu bukan hal yang harus gue bicarain di sini,” jelas Sungjae dingin. Tentu saja itu kalimat penolakan yang menurutnya sudah cukup halus untuk dikatakan.
        “Udah deh, jangkung.”
        Mendengar itu, Namjoon menoleh cepat pada seorang cewek yang duduk tepat di belakangnya. Namjoo. “Cowok ganteng kayak dia, mau alasan apa aja pasti bisa di terima di mana pun.”
        “Lo ngomong gitu karena masih sakit hati sama gue, kan? Gara-gara cinta lo ke gue bertepuk sebelah tangan,” ujar Namjoon penuh percaya diri.
Tentu saja Namjoo tak mau terlihat kalah. Ia menatap Namjoon tak minat. “Lo pikir, cinta lo ke Krystal itu sukses?”
        “Sorry! Cinta gue cuma untuk Pak Doojoon seorang,” sergah Krystal. “Buat yang lain nggak ada harapan,” lanjutnya.
        “Yaah! Jangan gitu dong, Krys,” sahut Woohyun dari meja belakang. Padahal semenit yang lalu, dia masih asik dengan ponselnya bersama Ilhoon. Namun jika Krystal sudah beraksi, instingnya langsung dapat tiba-tiba beralih pada cewek itu.
        “Cukup!” seru Doojoon sebelum ada lagi yang menimpali ucapan Woohyun tadi. “Untuk kamu, silahkan duduk.”
        Sungjae tidak langsung menuruti ucapan Doojoon karena ia bingung untuk memilih tempat duduk yang ‘baik’ untuknya. Ada cukup banyak kursi kosong di kelas tersebut. Dan satu diantaranya bersama siswi perempuan, Namjoo.
        “Kamu duduk dengan Jinri,” putus Doojoon sambil menunjuk kursi yang sudah berpenghuni di samping siswi bernama Jinri tadi. Dekat dengan jendela kelas yang mengarah ke luar gedung sekolah. “Youngjae, kamu pindah ke samping Namjoo.”
        “Saya protes, Pak!” tolak Namjoo mentah-mentah. “Nggak ada sejarahnya saya punya teman semeja selama sekolah di sini.”
        “Dan sejarah itu akan terukir hari ini,” balas Doojoon yang buru-buru mendorong pelan tubuh Sungjae agar melangkah ke tempat yang sudah ia tunjuk tadi. Enggan berdebat dengan Namjoo. “Youngjae cepat kamu pindah!”
        Youngjae tampak tak terima dengan keputusan sang kepala sekolah yang tega mengusirnya dari mejanya sendiri. “Kenapa nggak sama Namjoo aja sih, Pak!” Cowok itu tak ingin kalah melakukan protes keras.
        “Lo aja sana duduk sama anak baru!” seru Namjoo.
        Youngjae menoleh cepat. “Kalo lo mau nerima anak baru itu, gue traktir makan selama sebulan.”
        “Lo yang bayar?” tanya Namjoo untuk meyakinkan.
        “Bukan,” kata Youngjae sambil menggeleng pelan. “Tapi Ho Seok!” Selanjutnya, cowok itu tertawa atas ide jahilnya sendiri. “Akh!” Youngjae terdengar meringis karena gumpalan kertas mendarat mulus dikeningnya. Itu perbuatan Ho Seok yang kini menatapnya tajam.
        “Diem, lu!” Namjoo berseru nyaring dan sukses membuat Youngjae bungkam. Ia kemudian menoleh ke belakang, meja paling pojok, tempat Jongup berada. “Jongup!” panggilnya pada cowok itu seakan Jongup adalah harapan terakhirnya.
        Mendengar namanya disebut, Jongup buru-buru memasang earphone yang menggantung dilehernya. Tepatnya pura-pura tidak menyadari bahwa kini ia menjadi sorotan karena perbuatan Namjoo tadi.
        Beberapa dari mereka menahan tawa. Terkecuali Namjoo tentunya yang justru menahan kesal. “Awas lo semua!” ancamnya yang selanjutnya terpaksa kembali duduk di kursinya.
        “Kalo emang nggak suka dengan kehadiran gue, lo bisa anggep gue nggak ada di samping lo,” kata Sungjae sebelum duduk di samping Namjoo. Tentu ia menyadari bahwa kehadirannya sangat tidak diinginkan cewek yang kini menjadi teman semejanya itu.
        “Setuju.”
        “Sungjae, selamat mengikuti pelajaran,” ucap Doojoon. “Oiya, siapa ketua kelas di sini?”
        “Youngjae.” Beberapa murid terdengar menyebut nama Youngjae. Dan yang lainnya menunjuk ke tempat Youngjae berada.
        Tatapan Doojoon berubah masam ketika mendapati Youngjae yang menjadi sorotan. “Kenapa kamu lagi? Siapa sih yang milih kamu jadi ketua kelas? Kenapa bukan yang lain? Gantian lah. Ho Seok mungkin? Atau Jimin, Woohyun, Myungsoo…” Ucapan Doojoon terputus karena reaksi murid di sana hampir sama. Semuanya menunjuk ke tempat Victoria berada. Tentu saja hanya Sungjae yang terdiam karena ia tidak tahu apa-apa.
        Perlahan Doojoon menolehkan kepalanya ke tempat Victoria berada. Mendapati Doojoon sedang mengawasinya, Victoria langsung menutup kotak bedak yang tadi di tangannya.
        “Kalau Krystal adalah fans nomor satu bapak, sementara bu Victoria adalah fans nomor satunya Youngjae,” jelas Namjoon.
        Victoria hanya menunjukkan senyumannya tanpa rasa bersalah, sementara Youngjae menunduk sambil mengacak rambutnya karena menahan malu. Sebuah rahasia memalukan yang akhirnya diketahui sang kepala sekolah.

***

        “Ya ampun, Kak Himchan udah sembuh? Dia sekolah lagi?” jerit Naeun menghebohkan orang-orang yang berkumpul di koridor saat jam istirahat pertama. Termasuk juga Minhyuk yang baru akan melangkah ke luar kelasnya bersama seorang siswi teman semejanya, Hyerim.
        “Jangan malu-maluin, kenapa?” desis Myungsoo yang langsung merangkul Naeun dan membawanya berbalik ke arah kelas mereka. Namun Himin dan Junhong tidak mengikutinya. Tapi justru semakin penasaran dengan sosok Himchan yang katanya ‘kembali’ lagi ke sekolah tersebut.
        “Ada apaan, Min?” tanya seseorang di belakang Minhyuk. “Hyerim kenapa?”
        Minhyuk hanya mengangkat ke dua bahunya. Sementara tatapannya tak lepas dari wajah Hyerim yang kini tampak panik. “Mau nemuin Himchan?”
        “Himchan?” ulang Seok Jin. Cowok yang berada di belakang Minhyuk tadi. Sementara Minhyuk tidak menjawab apa-apa karena Woohyun tampak berlarian di koridor. “Astaga! Itu bener Himchan?” seru Seok Jin.
        Hyerim menerobos kerumunan teman-temannya yang hampir memenuhi koridor sebelum sempat menatap kedatangan murid bernama Himchan tersebut. Ia berjalan menjauhi kelasnya. Seok Jin dan Minhyuk yang melihat sikap aneh Hyerim, saling melempar tatapan bingung.

***

        “Apaan, sih?”
        “Ada apaan?”
        “Ada siapa?”
        Suasana kelas 2 tak kalah hebohnya. Tentu saja berita sekecil apa pun akan cepat tersebar ke seluruh sekolah. Apalagi di SMA Paradise memang hanya tersisa 2 kelas saja.
        “Kak Hyorin pakek rok over mini lagi, ya?” tebak Namjoon dengan ‘polos’nya saat ia berhenti tepat di depan meja Ho Seok dan Krystal.
        “Maunya elu itu, sih!” cibir Ho Seok.
        “Tau, nih?” Jimin ikut menimpali. Tadi ia datang bersama Namjoon.
        “Nggak ada yang lebih cetar di banding Pak kepsek Doojoon.”
        Jimin, Ho Seok dan Namjoon mencibir mendengan ucapan barusan. Siapa lagi kalau bukan fans Yoon Doojoon nomor 1 di SMA Paradise? Krystal.
        Jimin langsung berdiri tegak dan mengusap-usap perutnya yang rata. “Belum aja lu terpesona sama ABS gue.” Lanjut ia menepuk-nepuk lengan kirinya. Seolah memberi tahu jika lengannya berotot sempurna.
        Krystal hanya mengibaskan tangannya ke arah Jimin dan tanpa sedikit minat pun untuk meliriknya. “Nggak akan!”
        Ho Seok tampak berdiri dan ingin menghindari pembicaraan Krystal yang kemungkinan akan semakin berlanjut. Terlebih jika mengenai Doojoon. Saat melempar tatapan ke luar jendela, ia melihat Hyerim melintas di depan kelasnya. Cowok itu langsung berniat menyusul. Saat ia berdiri di ambang pintu, ia melihat Hyerim sudah semakin menjauh. Tepatnya ke arah tangga belakang gedung sekolah. Namun kini Ho Seok justru menahan langkahnya karena dari arah kelas 3, Seok Jin tampak berjalan ke arah depan kelasnya. Dan hampir seluruh penghuni sekolah juga tahu jika Seok Jin berteman dekat dengan Hyerim. Tentu bisa dipastikan, ketua kelas 3 tersebut hendak menyusul Hyerim.

***

        Cowok itu menenggelamkan ke dua tangannya ke saku celana seragam sekolahnya. SMA Paradise. Ia berjalan menapaki tangga dengan wajah tertunduk dan langkah pelan. Sebuah plester kecil juga tampak menghiasi keningnya.
        “Cari siswa bernama Sunggyu. Dia teman dekatmu.”
        Ucapan Doojoon saat di ruangannya tadi masih terekam jelas oleh cowok tersebut. Dan kini, ia semakin resah karena tiga orang siswa kelas 2 yang ia temui justru menatapnya lekat-lekat.
        “Ya ampun, Kak Himchan udah sembuh? Dia sekolah lagi?” Jeritan seorang cewek membuat cowok itu menegakkan tubuh. Tiga cowok kelas 2 yang ia lihat tadi, kini semakin menatapnya. Seolah mengunci dirinya melalui tatapan mereka.
        Cowok itu sudah ingin mundur, berbalik, dan melesat pergi dari sana. Namun seperti ada tembok baja yang tiba-tiba muncul di belakangnya sehingga membuatnya sulit berbalik. Yang bisa ia lakukan saat ini hanya bersikap waspada. Semua orang yang ia lihat sekarang tampak sangat asing.
        Howon dan Changsub tampak mendekat. Mereka ingin menyambut kedatangan cowok itu. Namun cowok tersebut sekuat tenaga menghindar.
        “Himchan? Akhirnya lo balik,” seru Changsub riang.
        Howon juga terlihat senang melihat cowok dihadapannya kini meski cowok itu tampak bersikap aneh. “Sunggyu udah…”
        “Mana dia?” Cowok itu menyelak ucapan Howon. “Di mana Sunggyu?” ulangnya dengan tatapan mengawasi. Ia bahkan menyapu pandangan ke setiap sudut tempat yang bisa terjangkau matanya. Koridor sudah hampir dipenuhi siswa-siswi SMA Paradise.
        Siswa dari kelas 3 tentu berada dibarisan terdepan. Sementara siswa kelas 2 tampak mencuri-curi pandangan untuk melihat seseorang yang kini menjadi pusat perhatian mereka saat ini.
        Mata cowok itu terhenti pada sosok Seok Jin yang baru saja membelokkan badan ke arah yang berlawanan dari tempat cowok itu berdiri sekarang. “Apa itu Sunggyu?” tunjuknya pada sosok Seok Jin. Suaranya yang cukup keras—karena koridor memang sepi meski dihuni banyak orang—membuat Seok Jin menghentikan langkah lalu berbalik.
        “Apa?” seru Seok Jin untuk memastikan.
        “Lo Sunggyu?” Cowok itu mengulangi pertanyaannya. Sedetik kemudian, cowok itu dibuat kembali mengawasi sekitar karena orang-orang di sana mulai saling berbisik.
        “Lo nggak inget gue, Him?”
        Suara seseorang menginterupsi suasana yang langsung kembali hening. Cowok itu juga langsung berbalik dan mendapati seorang cowok yang tingginya sedikit lebih pendek darinya itu. Wajahnya memang asing, namun cowok itu seperti meyakini sesuatu. “Lo Sunggyu?” Kembali, hanya itu kata yang ke luar dari bibirnya, namun nadanya terdengar lebih tenang.
        Cowok bernama Sunggyu tersebut langsung tersenyum mendengarnya.

***

        SMA Paradise terdiri dari 2 gedung yang masing-masing memiliki 4 lantai. Gedung pertama digunakan untuk gedung kelas. Sementara yang satu lagi, adalah gedung yang berisi ruangan untuk guru, serta ruangan-ruangan penunjang kegiatan sekolah. Seperti ruang LAB, ruang cinema, perpustakaan, dan lain sebagainya.
        Namun karena adanya berbagai masalah hingga menyebabkan SMA Paradise hanya menampung 2 kelas. Gedung yang biasa digunakan untuk kelas terpaksa dikosongkan. Dan gedung penunjang (gedung A) juga terpaksa sedikit dibongkar untuk bisa menyediakan 2 kelas untuk proses belajar-mengajar seperti biasa. Tepatnya di lantai 2.
        Dan saat itu, tepat ketika lantai 2 heboh karena kedatangan murid bernama ‘Himchan’. Hyerim sedang menjajakkan kaki di tangga yang mengarah ke lantai 3. Beberapa meter di hadapannya, seorang cowok berjalan ke arah Hyerim. Namun cewek itu tidak bisa melihat dengan jelas karena kacamatanya tertinggal di kelas.
        Sungjae. Cowok itu adalah Sungjae yang langkahnya kini justru terasa goyah karena ia mendapati Hyerim di sana. Ke dua tangannya masih ia tenggelamkan ke dalam saku celana. Masih sama sikapnya seperti saat ia pertama kali datang ke kelas 2.
        “Eun Ji?” Sungjae bergumam pelan.
        Hyerim beberapa kali berkedip. Namun penglihatannya masih samar-samar. Belum lagi mereka sama-sama berhenti dalam jarak yang tidak terbilang cukup dekat. “Taekwoon, ya?” Hyerim berusaha menebak-nebak salah satu teman sekelasnya.
        “Hyerim?”
        Belum sempat Sungjae buka mulut, teriakan Seok Jin sudah lebih dulu menginterupsinya. Seiring dengan langkah cowok itu yang kini muncul dari arah tangga. Tepat di belakang Hyerim.
        “Gue kira lo ke mana?” seru Seok Jin dengan wajah yang kini terlihat tenang karena berhasil menemukan Hyerim di sana. Cewek itu juga terlihat tersenyum samar saat Seok Jin muncul. “Lo tau, nggak? Masa’ si Himchan nyangkain gue itu Sunggyu,” lapornya jengkel.
        Hyerim tidak menjawab. Ia justru menoleh ke tempat Sungjae berada. Seolah memberi tahu Seok Jin kalau bukan hanya mereka yang berada di sana. Seok Jin sendiri juga langsung menatap Sungjae dalam-dalam. Seok Jin bahkan sampai mengerutkan kening.
        “Kayaknya gue baru liat lo di sini?”
        Sungjae tampak kembali melangkah tanpa berniat sedikit pun merespon ucapan Seok Jin. Saat melintas di depan Hyerim, ia menatap cewek itu penuh arti. Tapi ia pura-pura tak menyadari keberadaan Seok Jin saat berjalan di samping cowok itu.
        “Lo kenal, Rim?”
        Hyerim menggeleng. “Tadinya gue pikir itu Taekwoon.”
        “Taekwoon kan hari ini nggak masuk,” jelas Seok Jin. “Ya udah, lo tunggu sini. Gue mau ambil bekal makan dulu. Lo duluan ke sana aja.”
        “Sekalian ajak Minhyuk,” ujar Hyerim mengingatkan. Tepat sebelum Seok Jin berbalik.
        “Siap! Di tempat biasa, kan?”

***

        Himchan melangkah cepat meninggalkan gedung A. Di belakangnya, tampak Sunggyu berusaha mengimbangi dengan mengejar Himchan. Namun tiba-tiba, Himchan mengentikan langkah seketika membuat Sunggyu juga sekuat tenaga mengurangi kecepatan agar tidak menubruk Himchan di depannya.
        Himchan menatap bingung dengan pemandangan di depannya. Sebuah lapangan sepakbola sekolah yang luas. Namun disekelilingnya terdapat pita seperti ‘police line’ yang melintang. Seolah melarang siapa pun untuk masuk ke dalam sana.
        “Kenapa lapangannya dikasih itu? Apa artinya kita nggak boleh ke sana?”
        Sunggyu hanya mengangguk untuk menjawab pertanyaan Himchan.
        “Tapi kenapa?” Himchan tak bisa menahan rasa penasarannya.
        “Gue rasa anak kelas 2 akan menjadi angkatan terakhir sekolah ini.” Sunggyu sempat menghela napasnya sesaat. “SMA Paradise terancam ditutup. Dan yang bisa kita gunain cuma gedung A aja. Tanpa ada lapangan olahraga, atau pun kantin sekolah.” Sunggyu bercerita dengan nada lemah.
        Himchan melihat ada sepasang siswa dan siswa SMA Paradise di dalam area lapangan. Mereka sedang menikmati makan siang mereka sambil bercanda dan tertawa. Ke duanya tampak tidak asing di mata Himchan, namun cowok itu tidak bisa mengenali mereka.
        Himchan menoleh cepat pada Sunggyu untuk melaporkan apa yang dilihatnya. “Tapi itu mereka….” Belum sempat ia melancarkan protes karena ada yang berani melintasi garis ‘terlarang’, Himchan merasakan sakit luar biasa di kepalanya.
        Sunggyu ikut panik melihat Himchan. “Him! Lo kenapa?”
        Himchan sekuat tenaga berpegangan pada Sunggyu, sementara tangannya yang lain ia gunakan untuk menjambak rambutnya. “Sakit, Gyu!”
        “Ya udah, kita balik ke kelas.” Sunggyu sudah ingin menyeret Himchan pergi dari sana, namun Himchan justru yang menahannya.
        Perlahan Himchan membuka mata. Dan hal pertama yang ingin ia lihat adalah sepasang siswa SMA Paradise di dalam lapangan tadi. Namun ke duanya sudah tidak ada. Himchan mencari ke sekelilingnya sambil berujar, “ke mana mereka?”
        Sunggyu ikut menoleh ke sana ke mari. “Lo nyari apaan? Emang lo ngeliat siapa tadi?”
        Tidak ada jawaban apa pun yang bisa ke luar dari bibir Himchan karena ia justru menatap Sunggyu dengan kening berkerut.

***

        Sungjae membasuh wajahnya seperti orang kesetanan. Ia tidak peduli jika kemeja sekolahnya sudah basah karena terciprat oleh air. Cowok itu meletakkan ke dua tangannya di tepi wastafel sambil menatap pantulan wajahnya di cermin. Poni rambutnya pun ikut basah.
        “Nggak mungkin Eun Ji ada di sini? Nggak mungkin dia sekolah di sini juga,” pekik Sungjae dengan napas yang memburu.
        “Emang nggak ada siswi yang namanya Eun Ji di sini.”
        Salah satu bilik toilet di belakang Sungjae tampak terbuka. Tentu Sungjae langsung mendongak dan mendapati Ho Seok muncul. Ia dapat melihat cowok itu melalui pantulan di cermin.
        “Ngapain lo ikut campur urusan gue?” seru Sungjae tak terima.
        Ho Seok tampak terkekeh. Ia tak menatap Sungjae karena masih sibuk membereskan seragam sekolahnya. “Nggak ikut campur,” tantangnya. Ia masih berdiri di ambang pintu toilet. “Cuma sekedar ngasih informasi aja. Karena gue kenal sama seluruh siswi di sekolah ini. Tak terkecuali. Dan termasuk juga, ‘Himchan’. Anak yang lagi dihebohin hari ini.”
        Sungjae tampak mendengus tak suka. “Gue nggak perlu informasi apa pun dari lo.”
        “Bebas,” kata Ho Seok cuek yang kemudian melengos pergi meninggalkan toilet. Berusaha tak ambil pusing dengan apa yang dikatakan Sungjae.
        Sementara Sungjae menatap Ho Seok tak suka sampai teman sekelasnya itu benar-benar meninggalkan ia sendiri di dalam toilet.


***