Rabu, 29 Mei 2013

BLUE FLAME BAND (prolog)


Author              : Annisa Pamungkas
Main Cast          :
·        Lee Joon/Changsun (Mblaq)
·        Siwan (Ze:a)
·        Nichkhun (2PM)
·        Doojoon (Beast/B2ST)
·        Luhan (Exo-M)
Original cast     :
·        Song Hye Ra
·        Park Soo In
·        Kim Minjung
·        Choi Sung Hye
·        Jung Han Yoo
Support cast     :
·        Yoona (SNSD)
·        Minho (SHINee)
·        Yunho (TVXQ/DBSK)
·        Yong Hwa (CN Blue)
Genre               : romance
Length              : part

***

        ‘Blue Flame’ adalah sebuah nama band terkenal di Korea. Terdiri dari lima cowok ganteng yang memiliki charisma masing-masing. Band ini sudah debut selama lima tahun. Ini adalah sedikit informasi tentang member ‘Blue Flame’, di mulai dari yang termuda:
        Pertama Luhan. Dia adalah gitaris di ‘Blue Flame’ sekaligus maknae di sana. Tampang imut sekaligus maknae menjadikan Luhan salah satu member ‘Blue Flame’ yang paling banyak memiliki penggemar. Fangirl tentunya. Waktu sebelum mereka debut, Luhan satu-satunya yang sudah memiliki kekasih. Seorang pembaca berita di salah satu stasiun televisi swasta di Korea bernama Han Yoo. Tentu saja yang mengetahui itu hanya member serta menejer mereka saja.
        Karena statusnya sebagai maknae, Luhan menjadi penakut dan cukup manja terutama pada Doojoon yang juga teman sekamarnya di dorm. Tapi Luhan akan berubah manly dan sangat pemberani di hadapan kekasihnya. Dan itu yang membuat member lain merasa ‘jijik’ padanya.

***

        Ke dua ada Doojoon. Si pecinta sepakbola ini adalah member berpenampilan paling manly. Posisinya adalah sebagai bassist. Doojoon juga sering mengisi part rapp di lagu-lagu mereka. Doojoon di juluki ‘the real leader’ karena dia lebih perhatian terhadap semua member di bandingkan leader mereka sendiri.
Ada yang bilang sekarang Doojoon sudah memiliki kekasih, namun belum ada member yang pernah bertemu dengan gadis beruntung tersebut. Namun sebenarnya, Doojoon sudah bersama gadis itu selama hampir satu tahun. Saat perayaan ulang tahun ke-lima ‘Blue Flame’ rencananya Doojoon ingin membawa gadis bernama Sung Hye tersebut untuk di kenalkan ke keluarga besar ‘Blue Flame’, namun sang gadis lebih dulu meninggalkannya dengan pria lain. Sung Hye dijodohkan dengan seorang pengusaha muda bernama Yunho. Dan ironisnya, Yunho juga pernah satu klub sepakbola bersama Doojoon di SMA.
        Dengan sangat terpaksa, Doojoon meminta seorang gadis untuk pura-pura menjadi kekasihnya menggantikan Sung Hye di acara tersebut. Gadis bernama Hye Ra itu adalah tetangga sejak kecil, sahabat, sekaligus adik baginya. Doojoon memaksa Hye Ra karena hanya gadis itu yang tidak di kenal member ‘Blue Flame’. Tapi belakangan Hye Ra setuju karena dia ternyata adalah seorang fangirl dari Siwan, dan Doojoon berjanji mempertemukan mereka.
        Doojoon sendiri tidak pernah tau jika Hye Ra selama ini memendam rasa padanya. Bahkan sebelum Doojoon berpacaran dengan Sung Hye. Yang Doojoon tau, Hye Ra sudah memiliki kekasih bernama Yong Hwa. Perjalanan cinta Hye Ra dan Yong Hwa terbilang unik. Mereka berpacaran, namun mereka tak saling cinta. Ke dua sama-sama mengetahui keadaan itu, apalagi Yong Hwa sendiri adalah seorang playboy berat.
        Hye Ra tau kalau bukan hanya dia yang menjadi kekasih Yong Hwa. Tapi itu semua sebagai upaya untuk mengalihkan perasaannya terhadap Doojoon. Mereka berdua hanya akan bersenang-senang jika saling bertemu. Dan Yong Hwa cukup menikmati itu. Terlebih ia juga tau kalau cinta Hye Ra hanya untuk Doojoon.

***
        Yang berada di balik keyboard adalah Nichkhun. Fans juga sudah tau kalau Nichkhun memiliki hubungan khusus dengan salah satu member girlband di Korea, namanya Minjung dari grup ‘Red Inject’. Baru-baru ini mereka sudah melangsungkan pertunangan. Tentu saja yang mengetahui hal tersebut hanya keluarga, member dan menejer ‘Blue Flame’ saja. Tapi karena sikap ramah Nichkhun, jumlah fansnya tidak berkurang meski sudah ada seorang gadis di sampingnya.

***

        Sementara itu yang mendapat tugas menggebuk drum ada Siwan. Dia member tertua ke dua, namun ia memiliki wajah yang sama imutnya dengan sang maknae, Luhan. Bahkan Siwan dan Luhan kerap kali bertengkar sebagai member yang paling imut dan memiliki fangirl terbanyak. Siwan akan terlihat kalem jika sedang perform bersama bandnya. Dia juga menguasai biola.
Untuk urusan percintaan Siwan, tidak banyak yang tau. Namun kabarnya Siwan sedang mendekati seorang chef cantik teman lamanya saat sekolah. Gadis itu bernama Soo In. Dan Siwan akan berubah menyebalkan jika tengah jatuh cinta. Bahkan menurut Han Yoo—kekasih Luhan—pemuda itu akan cenderung terkesan kasar dan seenaknya pada Soo In. Padahal niat sebenarnya bukan ingin membuat Soo In kesal, tapi sebaliknya.
        Ketika hatinya telah memilih satu nama, Siwan akan berjuang keras untuk mendapatkan gadis itu. Meski terkadang apa yang ia lakukan hampir mirip dengan seorang Casanova yang sedang tebar pesona. Walau terkesan mirip, tapi Siwan bisa memastikan jika ia bukanlah seorang Casanova.
Di ‘Blue Flame’, hanya Luhan saja yang memanggilnya dengan sebutan ‘hyung’. Doojoon dan Nichkhun menolak memanggil Siwan ‘hyung’ karena mereka merasa Siwan lebih pantas menjadi seorang adik yang bisa mereka lindungi.

***

        Terakhir dan juga member tertua di sini adalah sang vocalis yang sekaligus merangkap sebagai leadernya ‘Blue Flame’. Nama aslinya Changsun, tapi dia lebih suka di sapa dengan nama Lee Joon. Kalau menurut poling, Joon adalah member urutan terakhir jumlah fangirlnya. Mungkin karena pembawaannya yang cool namun cenderung terkesan sombong. Sangat berbeda jauh dengan Siwan dan Luhan yang sangat ramah terhadap para fans.
Joon dipilih menjadi vocalis memang karena dia bisa bernyanyi dan dia satu-satunya member yang sama sekali tidak menguasai alat music. Bahkan Siwan bisa histeris jika Joon sudah mulai memegang stik drumnya karena ingin mencoba bermain drum. Siwan akan cepat-cepat merebut benda itu sebelum Joon membuat telinga mereka sakit karena permainan drum yang sangat buruk.
Menurut pengakuan member yang lain, Joon memiliki kepribadian yang sedikit aneh. Joon sering dikuncikan Siwan di dalam toilet karena pulang dalam keadaan mabuk. Terakhir kali Siwan melakukan itu, member justru mendapati Joon tidur di dalam bathtub lengkap dengan bantal dan selimut. Ternyata Joon sendir yang mempersiapkan itu semua untuknya.
Dan dia juga satu-satunya member yang tidak pernah terlihat dekat dengan gadis manapun. Tentu saja Joon tidak pernah mau mengakui dirinya ‘tak laku’. Tapi fakta membuktikan memang hanya dia yang tidak pernah menyinggung masalah kekasih ataupun membawa seorang gadis ke hadapan member yang lain.
        Yang mengetahui bahwa Joon menyukai seorang gadis hanyalah Nichkhun. Menurut Joon, Nichkhun itu dewasa jadi dia mau berbagi cerita dengan sang keyboardis ‘Blue Flame’ itu. Doojoon juga dewasa, namun dia sangat dekat dengan sang makne Luhan dan Siwan yang selalu ingin menjadi maknae. Itu yang membuat Joon sedikit ragu untuk bercerita pada Doojoon. Ia hanya takut basistnya itu keceplosan pada Luhan dan Siwan.
Gadis itu adalah seorang model cantik bernama Yoona. Mereka teman sejak SMA, dan gadis itu juga juniornya. Namun hingga sekarang cintanya tak terbalas karena Joon sama sekali tidak punya keberanian menyatakan perasaannya tersebut. Bahkan sudah tidak ada harapan lagi untuk Joon karena Yoona ternyata dekat dengan seorang model pria yang juga anak dari seorang pemilik supermarket terbesar di Korea namanya Minho.
        Minho sendiri adalah kakak kandung dari Hye Ra. Mereka satu keluarga, namun mereka tidak tinggal bersama. Karena pekerjaan orang tua mereka yang sangat sibuk, Hye Ra memutuskan tinggal sendiri di sebuah apartmen yang cukup mewah. Begitu pula dengan Minho, namun terkadang pemuda itu sering mengunjungi bahkan menginap di apartmen adiknya. Tentu saja Doojoon juga mengetahui tentang hal itu.


***

Jumat, 24 Mei 2013

TRITWINS VS BUKU BIOLOGI (FF version)



Author              : Annisa Pamungkas
Main cast          : Yoseob (Beast/B2ST), Kiseop, Jaeseop (U-Kiss)
Original cast     : Hye Ra, Eungi, Haesa
Support cast     : Dongjoon (Ze:a), Sungjong (Infinite), Niel (Teen Top)
Genre               : tragedy, brothership
Length              : one shoot

@@@

Pulang sekolah…
        Jaeseop bersandar di pintu mobilnya yang berwarna hitam. Dikanan dan kirinya juga terparkir mobil berwarna putih dan merah. Yang putih, udah pasti milik Kiseop. Karena begitu sampai, Kiseop langsung melempar ranselnya ke dalam mobil. Dan mobil yang merah, berarti punya Yoseob? Bukan. Itu punya Hye Ra. Sebelum pergi, ia sempat membuka kaca mobilnya dihadapan Kiseop dan Jaeseop.
        “Kiseop, ini buku lo.” Ujarnya sambil menyodorkan sebuah buku setebal novel ‘breaking dawn’. “Makasih ya.”
Namun Jaeseop lah yang merebut buku itu diiringi tatapan jahilnya. “Tawaran gue yang tadi masih berlaku lho, Ra.”
“Ya ampun, aku tersanjung.” Kata Hye Ra pura-pura manis. “Sekali nggak, tetep nggak!” Hye Ra langsung menutup jendela mobil dan pergi dari sana.
“Seneng banget sih ngeledekin anak orang!” Kiseop membela Hye Ra sambil merebut buku itu dari tangan Jaeseop.
Jaeseop hanya tertawa tak peduli. Lalu mengeluarkan sebungkus rokok dari saku celananya. Dengan cukup iseng, Jaeseop menyodorkan rokok itu ke Kiseop. Jelas saja Kiseop menolak mentah-mentah, karena ia tak merokok.
Tiba-tiba beberapa orang siswa terlihat berlari berhamburan. Ada beberapa orang juga dibelakang mereka yang terlihat sebagai pengejar.
“Woy! Jangan lari lo!” Teriak salah satu dari mereka. Begitu melewati Kiseop dan Jaeseop, ia merebut buku yang gipegang Kiseop.
Wajahnya mirip dengan Jaeseop dan Kiseop. Jelas saja, mereke bertiga kembar dan itu Yoseob. Park Yoseob. Preman sekolah. Terkenalnya sih gitu. Gak segan-segan menghajar siswa, terutama yang pamer harta di depan matanya. Seragamnya sama sekali gak rapih. Kemejanya berkibar karena tak dimasukan ke dalam celana. Cara pakai dasinya tak beda jauh dengan Jaeseop. Lengan seragamnya digulung beserta lengan kausnya.
 “Menurut lo, Hye Ra kenapa kesel banget sama Yoseob?” tanya Kiseop pada Jaeseop yang tengan menikmati rokoknya.
Jaeseop mengembuskan asap rokoknya ke udara. “Gue kan udah bilang, cintanya Hye Ra ditolak sama Yoseob.” Ujarnya santai.
“Bukannya selama ini mereka pacaran ya?”
Jaeseop tertawa sejadi-jadinya. “Lo kemana aja sih, Kiseop? Yoseob tuh lagi pedekate sama alumni anak SMA Sun Moon. Beda setahun di atas kita sih.” Keluh Jaeseop.
Suasana ricuh di depan gerbang nampaknya mulai reda. Yoseob pun perlahan muncul dari kejauhan, ia berjalan sambil menenggelamkan salah satu tangannya ke dalam saku celana. Yoseob tersenyum kepada kedua kembarannya dengan penuh kemenangan.
“Hai para kembaranku. Makin cakep aja kalian.” Ledek Yoseob sambil berhenti sesaat, kemudian kembali berjalan.
“Heh!” Kiseop menarik kerah seragam Yoseob. “Mana buku gue?” Pintanya.
“Hah? Buku? Buku apaan?” Yoseob balik bertanya.
“Eh, jangan belagak amnesia mendadak gitu deh!” Kiseop mulai kesal. “Tuh buku penting banget.”
“Oohh… iya iya iya…” Kata Yoseob akhirnya. “Tadi gue pake buat nimpuk.” Lanjut Yoseob tanpa rasa bersalah.
“Terus, sekarang mana bukunya?” Pinta Kiseop lagi, kali ini lebih tegas.
“Kecebur got.” Jawab Yoseob enteng.
“Apa?” Kiseop berteriak cukup histeris. “Gue gak mau tau, sekarang juga lo ganti buku itu.”
“Iya gue bakal ganti. Tapi jangan hari ini juga donk. Ntar sore gue mau ketemu Haesa.” Yoseob memohon.
“Gue gak mau tau.”
“Udah lah, lo tenang aja.” Kata Jaeseop yang berusaha menjadi penengah. “Urusan Haesa biar gue yang gantiin lo.”
Yoseob melirik kesal ke Jaeseop yang tak membantu apa-apa.
“Sekarang gini aja, lo pilih pergi buat cari buku itu, atau gue gak mau bantuin lo ngerjain tugas Biologi punya lo.” Kiseop yang sudah cukup kesal terdengar mengancam.
Yoseob melirik jamnya. 15.12. ‘Sial!’ umpatnya dalam hati.
“Gue tunggu sampe jam 5.” Ujar Kiseop santai sambil berjalan menuju pintu mobil. Diikuti Jaeseop setelah membuang puntung rokoknya.
Yoseob tak punya banyak waktu untuk berfikir. Ia segera menempatkan diri diantara mobil kedua saudaranya itu dan meminta Kiseop dan Jaeseop untuk membuka kaca mobil masing-masing.
“Oke. Gue setuju.” Kata Yoseob akhirnya—meski terpaksa—sambil memandang ke Kiseop. “Tulisin judul buku sama nama pengarangnya.” Perintah Yoseob, kemudian beralih ke Jaeseop. “Gue berniat nembak dia hari ini. So, gue harap lo gak bikin kacau semuanya.” Yoseob memperingatkan.
“Serahin ke gue.” Jaeseop tersenyum puas, lalu menyodorkan ponselnya. Sesaat Yoseob menatap penuh tanda tanya. “Lo mau semuanya lancar, kan?”
Yoseob pun akhirnya mengerti. Dengan enggan ia mengeluarkan ponselnya untuk ditukar dengan milik Jaeseop. Kemudian kembali menoleh ke tempat Kiseop berada. Ia pun meraih kertas yang disodorkan Kiseop.
“Inget! Jam 5 sore.” Kiseop kembali mengingatkan, lalu pergi meninggalkan Yoseob. Tapi Jaeseop justru menghampiri Yoseob sambil menyodorkan kunci mobilnya. Yoseob yang mengerti dengan maksud Jaeseop, dengan enggan mengeluarkan kunci motornya untuk ditukarkan dengan kunci milik Jaeseop. Setelah mendapatkan yang ia inginkan, Jaeseop pun berjalan menuju lapangan parkir motor.
“Aarrgghh…!!!” Yoseob kesal sendiri.
Beberapa orang yang melintas, sontak memandang Yoseob dengan tatapan ingin tahu.
“Apa liat-liat!” teriak Yoseob galak sebelum akhirnya masuk ke dalam mobil Jaeseop.

@@@

        Ini adalah toko buku ketiga yang dikunjungi Yoseob seharian ini. Segera ia menanyakan buku yang tengah dicarinya kepada petugas di sana.
        “Ada di sebelah sana, mas.” Ujar mbak karyawan toko sambil menunjuk salah satu lemari penyimpan buku.
        Akhirnya. Yoseob pun menghela napas dan… tanpa pikir panjang, Yoseob menyambar buku itu dan langsung membawanya ke kasir.
        Tak ada yang diinginkannya setelah itu selain pulang. Terang saja, Yoseob langsung ke sana sepulang sekolah. Ia pun masih mengenakan seragam putih abu-abunya.
Begitu Yoseob berada di atas escalator, beberapa cewek anak SMA memperhatikannya sambil bergumam gak jelas ke teman-temannya yang lain. Suasana itu membuat Yoseob merasa sangat tidak nyaman.
Sebisa mungkin Yoseob berlari menghindari kerumunan cewek-cewek centil itu. Sampai akhirnya ada insiden kecil terjadi. Yoseob menabrak seorang cewek hingga barang belanjaan mereka sedikit berceceran.
“Maaf ya, gue buru-buru.” Kata Yoseob yang merasa bersalah.
“Iya, gapapa.” Balas cewek santai.
Mereka pun berdiri. “Nih.” Yoseob menyodorkan tas plastic milik cewek itu yang berhasil di kumpulkannya.
“Makasih.” Ujar cewek itu lagi penuh senyum sebelum meninggalkan Yoseob.
Sesaat Yoseob terhanyut dalam pesona cewek itu. Namun semua buyar ketika ponselnya bergetar. Yoseob merogoh saku celananya.
“Apaan lagi sih, Seop?” keluh Yoseob ketika menjawab telpon dari salah satu kembarannya itu.
“Bukunya udah dapet belom?” Tanya Kiseop dari tempat yang berbeda.
“Iya, udah. Ini juga gue udah mau balik kok.” Jawab Yoseob enggan.
“Cek lagi, udah bener apa belom? Gue gak yakin sama lo.”
“Iya bawel.” Yoseob memutuskan sambungan telponnya. Semula ia berniat langsung pergi dari tempat itu. Namun rasanya ada yang aneh dengan barang berlanjaannya. “Kok, agak sedikit lebih berat dari yang tadi, ya?” tanya Yoseob seorang diri.
Untuk mendapatkan jawabannya, Yoseob mengikuti saran Kiseop untuk memeriksanya. Yoseob membuka tas plastic belanjaannya. “Hah?” Yoseob tercengang mendapati isi tas itu bukan buku yang baru saja ia beli. “Kenapa buku biologi bisa berubah jadi novel remaja?”
Baru kali ini sebuah buku pelajaran yang berjudul biologi bisa menjadi sebuah barang berharga yang tak ternilai harganya bagi Yoseob.
Yoseob berlari dengan tekad bisa menemukan cewek tadi lagi. Ia menuju pintu keluar mall penuh keyakinan bahwa cewek itu juga melintas di sana.
Yoseob menajamkan mata menyapu sekelilingnya mencari cewek itu. Pandangannya berhenti di atas jembatan penyebrangan yang terdapat tepat di depan gedung mall itu. Yoseob merasa lega mendapati cewek itu menuju halte transjakarta.
Sekuat tenaga Yoseob mengejar. Tak peduli cacian dari beberapa orang yang tak sengaja tertabrak tubuhnya meski ia telah berteriak minta maaf.
Sesampainya di halte, Yoseob sudah melihat sosok cewek itu menunggu bus datang. Tapi dirinya justru di hadang petugas.
“Tiketnya, mas.” Pinta petugas itu.
Yoseob melupakan hal yang berkaitan dengan transjakarta busway, ia harus terlebih dahulu membeli tiket. Segera Yoseob menuju loket penjualan tiket.
“Satu, mbak.” Kata Yoseob sambil mencari dompet di saku celananya, namun pandangannya sesekali mengawasi cewek tadi.
“Tiga ribu lima ratus rupiah.” Tegur penjaga loket karena Yoseob tak kunjung menyodorkan uang.
Yoseob menepuk jidat. Ia baru menyadari kalo dompetnya benar-benar terjatuh di kamar mandi tadi pagi. Saku celana yang lain juga tak menyisakan uang sepeserpun. Uang terakhirnya sudah ditukar dengan buku biologi. Alhasil, Yoseob membatalkan transaksinya. Dan semakin kalap ketika cewek tadi sudah menaiki bus dan kini bus mulai meninggalkan halte.
Yoseob mendekati tepi pagar pembatas. “Wooyy…!! Turun lo!! Buku kita ketuker.” Teriak Yoseob sambil melambaikan buku itu ke arah bus. Tak peduli pandangan orang-orang yang menatapnya.
Yoseob tertunduk. Bus semakin jauh berjalan.

@@@

Sore itu Kiseop lagi menyiram tanaman di halaman rumahnya. Tak lama, sebuah taksi berhenti tepat di depan pagar.
“Siapa?” pikir Kiseop.
Belum sempat Kiseop menghampiri, Yoseob muncul membuka pintu pagar dan bergegas menuju dalam rumah.
“Bukunya gimana?” tegur Kiseop ketika Yoseob melintas. Tapi Yoseob tak menjawab.
Begitu Yoseob masuk, Jaeseop keluar.
Yoseob berlari menuju kamar mandi yang berada dalam kamarnya. Ternyata dugaannya benar. Dompet kulit berwarna hitam itu tergeletak di lantai kamar mandi. Begitu Yoseob memungutnya, ia kembali keluar.

@@@

“Kok lo malah beli novel? Buku biologinya mana?” tanya Kiseop yang menemukan novel yang diletakkn Yoseob di atas meja ketika kembarannya itu muncul.
“Kenapa lo naik taksi? Mobil gue mogok? Terus, lo tinggalin di mana?” Jaeseop melakukan hal yang sama.
“Buku biologi ketuker, dompet gue ketinggalan.” Yoseob menjawab sambil tetap berjalan. Ia membuka pintu taksi. “Sekarang gue mau balik ke mall buat ngambil mobil lo.” Lanjut Yoseob kali ini sambil menatap Jaeseop.

@@@

Pagi hari, Yoseob baru saja memarkirkan motornya di halaman sekolah. Sebuah motor berhenti di samping motornya. Sang pengandara itu cewek.
Yoseob tercengang ketika cewek itu membuka helmnya.
“Lo anak SMA ini juga?” tegur Yoseob galak.
Itu cewek yang kemaren tabrakan dan bukunya tertukar dengan Yoseob. Namanya Eungi.
“Lo yang kemaren nabrak gue di mall, kan?” Eungi balik bertanya.
“Bagus deh kalo lo masih inget. Sekarang, mana buku gue?” pinta Yoseob setengah memaksa.
“Gak ada di gue.” Ujar Eungi sambil melengos pergi. Tapi Yoseob berhasil menahan tangannya.
“Heh! Lo tuh anak baru di sini. Jadi jangan macem-macem sama gue.” Yoseob sedikit terdengar mengancam.
“Terus, ngaruh gitu karna gue anak baru, terus gue harus takut sama lo?” balas Eungi.
“Gak usah sok jagoan deh. Udah, cepet, mana buku gue?” kata Yoseob lagi, kali ini sedikit memaksa untuk menggeledah tas Eungi.
“Apa-apaan sih lo, kak!”
“Yoseob, berenti!” teriak Jaeseop yang diikuti pula oleh Kiseop dan Hye Ra dibelakangnya.
“Jaeseop, cewek ini yang bukunya ketuker sama gue.” Ujar Yoseob sambil menunjuk Eungi. “Dan dia gak mau balikin. Lo tau kan kalo gue ada tugas buat hari ini?” Yoseob sedikit minta pembelaan dari Jaeseop.
“Tugas lo udah selesai kok.” Kata Kiseop menyeruak. Ia menyodorkan print out tugas Yoseob dan sebuah buku. Buku biologi yang sempat menjadi barang berharga bagi Yoseob. “Itu buku yang ketuker sama novelnya Eungi.” Lanjut Kiseop.
“Kok bisa ada di lo?” Tanya Yoseob penuh curiga.
Hye Ra tersenyum dan membuat Yoseob semakin curiga dan mencurigai sikap cewek yang kini berdiri di samping Eungi sambil merangkulnya.
“Semua yang terjadi di bawah scenario Kiseop.” Kata Hye Ra.
Kecurigaan Yoseob berpindah ke Kiseop.
“Semata-mata supaya lo bisa menghargai sesuatu.” Kiseop membela diri.
Dongjoon, Sungjong dan Niel muncul. Mereka adalah orang yang kemarin sempat dikejar oleh Yoseob.
“Jadi, kalian termasuk dalam scenario?” Tanya Yoseob memastikan tebakannya benar.
Dongjoon, Sungjong dan Niel mengangguk kompak.
Entah kenapa, Yoseob sontak melirik dimana Eungi berada. “Dan lo… Anak baru yang juga sepupunya Hye Ra, gitu?”
Gantian, Hye Ra dan Eungi yang mengangguk kompak.
“Pantesan lo berani ngelawan gue.” Yoseob baru menyadari sesuatu. “Biasanya anak baru sopan ke gue.”
“Bukan sopan! Tapi takut.” Celetuk Jaeseop.
“Yaiyalah, takut. Lo galak sih, kak.” Eungi menimpali perkataan Jaeseop yang membuat Yoseob sedikit salah tingkah.

@@@

Juice Strawberry In Love


Author              : Annisa Pamungkas
Main Cast          : Junhyung (B2ST), Changsun (Lee Joon Mblaq), Minho (Shinee)
Original cast     : Haesa, Eungi
Genre               : romance
Length              : one shoot

@@@

Haesa PoV
        Aku kesal setengah mati setelah tahu Minho selingkuh di depan mataku sendiri. Cih, dia pikir dia siapa? Dia memang tampan, tapi ternyata dia tak sebaik yang kupikirkan selama ini.
        Aku menghempaskan tubuh ke kursi di sebuah café. Dan aku terbelalak mendapati Eungi di sana. Eungi, dia teman SMA ku dan dia telah merebut Changsun dariku. Tapi sekarang, dia sudah dengan pria lain lagi, melupakan Changsun begitu saja. Jika tahu seperti ini nantinya, aku akan menunggu Changsun dan mengabaikan pesona Minho, si playboy gak penting itu.
        Selagi pelayan meletakkan pesananku di meja, mataku masih tertancap lurus ke arah pasangan kekasih yang duduk tak jauh dari tempatku berada. Tapi kini fokusku kepada pemuda itu. Aku merasa seperti pernah meihatnya, tapi aku lupa.
        Masih dalam menatap pemuda itu, tanganku terjulur dan meraih gelas berisi jus stroberi kesuakaanku. Nah, itu dia, aku ingat. Kami pernah saling berebut jus stroberi beberapa kali sewaktu SMA. Dia ternyata kakak kelasku. Tapi aku hanya tahu sebatas itu. Dan aku yakin pemuda itu juga pasti sudah tidak mengenaliku.
        Saat menyeruput jusku, terlintas sebuah ide jahil di sana. Ini bukan ajang balas dendam, tapi aku hanya ingin bersenang-senang untuk melupakan kekesalanku pada si Minho itu.
        Aku berdiri dari kursi menuju meja di mana Eungi berada. Tapi aku sedikit memutari beberapa meja agar kesannya aku baru datang dari arah pintu.
        “Jadi kau di sini?” bentakku pada pemuda itu yang bisa dipastikan langsung terkejut. “Kau bilang kau ingin mengantar ibumu ke dokter, tapi kau malah berduaan dengan gadis ini!” tuduhku bohong sambil menunjuk Eungi.
        Pemuda itu berdiri dan otomatis Eungi ikut berdiri. “Junhyung! Ada hubungan apa kau dengan Haesa?”
        Ku dengar Eungi menyebut namaku. Cih, ku pikir dia sudah lupa. Aku menunggu reaksi pemuda itu selanjutnya setelah cukup lama diam.
        Eungi memberikan Junhyung tatapan membunuh. “Apa dia selingkuhanmu?”
        Aku menepiskan tangan Eungi yang menunjuk hidungku. “Enak saja! Kau pasti yang ingin merebut Junhyung lagi dariku seperti kau merebut Changsun dulu!” lanjutku semakin menjadi. Beruntung tadi Eungi sempat menyebut nama pemuda itu yang langsung saja aku manfaatkan.
        Ku lihat Eungi hampir menangis dan aku tertawa dalam hari. Setidaknya dia telah merasakan apa yang ku rasakan dulu. Tak lama Eungipun pergi.
        “Eungi tunggu!” teriak pemuda itu namun tak berniat mengejar Eungi. Dan aku tak menyia-nyiakan sekempatan untuk kabur.

@@@

        Aku sampai di sebuah taman yang sepi. Aku duduk di sebuah kursi semen lalu kembali tertawa sampai perutku sakit.
“Eungi maaf, aku hanya ingin bersenang-senang. Setidaknya aku tidak benar-benar merebut pemuda itu darimu,” ujarku seorang diri. Sedikit merasa bersalah memang, tapi aku sama sekali tak berniat untuk meminta maaf pada Eungi setelah ini.
        Tak lama aku mendengar ponselku berbunyi. Namun tanpa harus melihat layarnya, bisa ku tebak bahwa yang menelpon adalah si Minho. Aku memang sengaja menggunakan nada khusus untuk panggilan dari nomornya. Dan beruntung itu adalah lagu favoritku, jadi aku lebih memilih mendengarkannya dari pada mendengar suara cempreng milik Minho.

So beautiful my girl,
Oh oh girl, oh oh girl,
Sigan-i jinado,
Nuguboda naega deo deo deo,
Neoleul akkyeojulge my girl,
Modu da julge neo, (You)
Neoege (You) eege oh oh,
(Niga eodi issdeun dallyeo gal su isseo,
I always think about you, )
[B2ST-‘Beautiful’]

        “Setelah menghancurkanku, ternyata kau malah bersantai-santai di sini!”
        Aku mendongak. Astaga! Pemuda itu kini sudah ada di hadapanku. Junhyung. Mau apa dia? Apa dia mau menghajarku setelah ini. Gawat. Minho tolong aku. Setidaknya Minho pernah belajar taekwondo dulu dan hanya dia satu-satunya yang bisa ku harapkan walau aku masih kesal setengah mati padanya.
        Aku tersentak saat tangannya sudah lebih dulu menarik tanganku dengan kasar. “Lepaskan!” aku meronta-ronta untuk melepaskan diri namun tangannya lebih kuat dan lebih besar.

@@@


        Ternyata dia membawaku kembali ke café tadi. Tapi kini dia mengajakku ke tempat yang lebih dalam lagi dan kursinya pun tidak hanya untuk dua orang saja.
        “Ku mohon maafkan aku Junhyung,” pintaku sambil mengatupkan kedua tangan.
Junhyung menatapku tajam. Hampir sama seperti yang dilakukan Eungi padanya beberapa waktu yang lalu. “Kau pikir bisa semudah itu lepas dariku? Kau harus bertanggung jawab!”
“Aku tidak bermaksud melakukan itu pada kalian,” kataku masih terus memohon.
        Junhyung merapatkan tubuhnya ke meja membuatku merapatkan tubuh ke sandaran kursi. “Lalu?” Tanya Junghyun serius.
        Apa aku harus cerita? Akh, itu pasti memalukan. Balas dendam untuk urusan cinta. Tapi Junhyung masih menungguku untuk bicara. Ku rasa dia memang benar-benar menginginkan jawaban dariku.
        “Sebenarnya aku…” ujarku gugup sambil sedikit menggaruk kepala. “Aku hanya ingin Eungi tahu bagaimana rasanya jika kekasihnya di rebut gadis lain,” seruku akhirnya. “Tapi sebenarnya aku tak berniat balas dendam pada Eungi,” kataku cepat-cepat sebelum Junhyung berpikir jelek lagi tentangku. “Kejadian itu mengalir begitu saja. Karena aku juga sedang bermasalah dengan kekasihku. Dan sialnya aku malah bertemu dengan Eungi di saat seperti ini.”
        “Jadi, Eungi pernah merebut kekasihmu?”
        Aku mendongak. Jelas saja terkejut. Kenapa Junhyung sudah tak terlihat kesal padaku? Dan kenapa dia tak membela Eungi sama sekali?
        “Ternyata benar,” gumam Junhyung samar.
        “Kau bicara apa?” tanyaku untuk memastikan pendengaranku tak salah.
        “Tidak ada.”
        Dari gelagatnya, aku tahu kalau Junhyung menyembunyikan sesuatu dariku. Tapi aku belum bisa menangkap itu. Sampai akhirnya ponselku kembali berbunyi dan masih dari si Minho itu. Walau tadi aku sempat ingin meminta bantuannya, tapi kekesalanku padanya kembali muncul.
        “Kenapa tak di angkat?” tegurnya karena aku masih saja menggenggam ponselku. “Apa dari kekasihmu?”
        Aku mendongak, bingung akan menjawab apa. Aku ingin katakan ‘tidak’, tapi sebenarnya aku belum benar-benar putus darinya. Tapi jika aku katakana ‘ya’, akh, aku sama sekali sudah tak ingin mengakuinya sebagai kekasih.
        “Sini biar aku yang jawab,” kata Junhyung yang dengan cepat menyambar ponselku sebelum aku sempat merespon apapun. Dan aku hanya menunggu dengan cemas apa yang akan dikatakan Junhyung pada Minho. “Aku Junhyung. Kekasihnya Haesa.”
        Mataku membulat sempurnya saat mendengar apa yang dikatakan Junhyung tadi. Apa dia benar-benar berniat balas dendam padaku?
        “Setelah ini, ku mohon kau jangan pernah menghubungi Haesa karena sebentar lagi kami akan menikah.”
        “Apa maksudmu?” omelku tak lama setelah Junhyung mematikan telpon.
        Dia menatapku datar, seolah tidak pernah terjadi apapun sebelum ini. “Bukankah kau bilang kau sedang bermasalah dengan kekasihmu? Dan ku lihat, kau seperti sudah tidak menginginkannya. Jadi anggap saja aku ini telah membantumu dan kau juga tidak perlu repot-repot mengucapkan terima kasih,” ujarnya enteng.
        Aku berdiri dan bersiap pergi. Namun Junhyung kembali menarik tanganku dan memaksaku untuk duduk.
        “Kau pikir kau sudah terbebas dariku?”
        Kembali, aku hanya bisa membulatkan mata dan menatapnya kesal. Bertambah lagi orang-orang yang membuatku kesal hari ini.
        “Aku berjanji untuk mengenalkan Eungi pada ibuku. Karena Eungi pergi, jadi kau yang harus menggantikannya,” putusnya tanpa meminta persetujuanku sebelumnya.
        “Bukankah kau telah membalasnya tadi?” protesku untuknya yang telah tanpa ijin menjawab telponku dari Minho.
        “Itu baru satu.”
        “Maksudmu?” jeritku tak terima. “Kau tahu, setelah ini aku pasti akan benar-benar putus dari Minho. Apa itu belum cukup?”
        “Itu hanya untuk Eungi, belum untuk ibuku,” serunya santai.
        Aku sudah hampir kembali berdiri jika saja tidak ada seorang wanita yang menghampiri meja kami. Bukan, itu bukan pelayan.
        “Ibu?” pekik Junhyung yang sukses membuatku hampir pingsan.
        Habislah aku. Ternyata Junhyung benar-benar mempertemukanku dengan ibunya.
        “Ini kekasihmu?” Tanya ibu Junhyung pada anaknya sambil melirik ke arahku.
        “Iya, bu. Ini Haesa,” jelas Junhyung.
        Pemuda itu benar-benar sudah gila. Hampir sama dengan Minho. Setidaknya yang membuatku sedikit lega adalah, ibunya terlihat sangat ramah padaku.

@@@

        Aku langsung melarikan diri setelah menemani Junhyung mengantar ibunya ke mobil. Aku tahu jika Junhyung berlari mengikutiku dari belakang. Untuk apa lagi?
        Akupun berhenti ketika merasakan seseorang menarik tanganku. “Apa kau masih ingin membalas dendam padaku?” protesku sambil menghentakkan tanganku.
        “Apa maksudmu?”
        Aku tersentak. Suara itu sangat familiar di telingaku. Itu bukan suara Junhyung. Ketika berbalik, mataku langsung membulat sempurna. “Minho?” Ternyata orang ku sangka sebagai Junhyung adalah Minho.
        “Minho? Ternyata kau di sini? Aku telah mencarimu sejak tadi.”
        Ada seorang gadis di belakangku. Dengan cepat aku berbalik. “Kau?” desisku penuh selidik karena gadis itu adalah Eungi. Dan yang membuatku semakin kesal padanya adalah dia menyunggingkan senyum penuh kemenangan dariku.
        Kilasan bayangan itu kembali muncul di pikiranku. Seorang gadis dalam pelukan Minho. Meski aku hanya melihatnya dari belakang, tapi kini aku yakin jika gadis itu adalah Eungi. Setelah Changsun, kini... Minho?
        Aku menatap Eungi intens. Bahkan tatapanku sama sekali tak bergeser saat Eungi menggerakkan badannya. Bergeser dan kini ia berdiri di samping Minho.
        “Kau sudah ingat sekarang?” Tanya Eungi meremehkan.
        Kini aku sudah tidak menyesal telah membuat Eungi meninggalkan Junhyung. Pemuda sebaik dia tak pantas mendapat perlakuan buruk dari gadis licik seperti Eungi.
        “Karena kau telah membuat Junhyung pergi dariku, sudah saatnya aku mengakhiri semua ini.”
        “Jadi kau telah merebut Minho dariku?” tanyaku sinis.
        Eungi tertawa dan Minho juga tak berbuat apa-apa. “Bukan aku yang mulai. Tapi kau?”
        “Maksudmu?”
        “Aku menyukai Junhyung sejak lama, tapi dia lebih memilihmu.”
        “Aku tidak pernah mengenal Junhyung sebelumnya!” protesku atas tuduhan itu.
        “Tentu saja, Junhyung mundur karena kau lebih dulu bersama Changsun sebelum kalian saling kenal. Setelah aku berhasil mendapatkan Changsun, aku sudah melupakan perasaanku pada Junhyung.”
        “Jadi kau tidak benar-benar menyukai Changsun? Sial! Changsun pasti akan membunuhmu jika dia mengetahui itu,” kataku serius namun Eungi sama sekali tak beranggapan seperti itu.
        “Benar!” ujar Eungi dengan nada di buat-buat. “Karena setelah itu, aku menyukai Minho.”
        Tatapanku beralih ke Minho. “Minho! Katakan sesuatu!” paksaku agar Minho mau bicara.
        “Maaf, sebenarnya sejak awal aku menyukai Eungi. Tapi karena dia telah lebih dulu bersama Changsun, aku beralih padamu. Tapi, bukankah Junhyung telah menjadi kekasihmu sekarang?” Tanya Minho polos. Ternyata dia masih mengingat itu.
        “Tapi kau berpacaran dengan Junhyung!” hardikku lagi pada Eungi.
        “Anggap saja itu bonus untukku,” serunya enteng.
        Sudahlah. Aku memang harus mengakhiri semua ini. Aku merelakan Minho untuk Eungi karena sejujurnya, aku masih lebih mencintai Changsun dari pada Minho. Namun aku sama sekali tidak tahu di mana keberadaan pemuda itu.
        Aku menghembuskan napas keras. “Oke. Semoga kalian bahagia.” Hanya itu yang kuucapkan sebelum akhirnya berbalik. Sebenarnya kata-kata itu terlalu manis untuk seseorang yang dikhianatin seperti ku. Tapi aku sudah tidak mempedulikannya. Ini lebih baik dari pada aku terus di bohongi lebih lama lagi.

@@@

        Aku melangkah lurus ke depan. Sama sekali tak ingin menoleh ke belakang sedikitpun. Sampai akhirnya, ada sebuah tangan yang melingkari pinggangku. Membuat langkahku sontak berhenti. Aku menunduk dan terpaku pada gelang yang melingkar di pergelangan tangan orang itu. Gelang itu sangat mirip dengan milikku yang hilang sudah lama. Saat aku masih SMA.
        Akupun segera berbalik dan mendapati Junhyung di sana. “Kau?”
        “Ingat ini?” dia membawa gelas berisi cairan berwarna merah muda ke depan wajahku.
Junhyung membuka penutupnya hingga aroma minuman itu menguar dan masuk ke dalam hidungku. “Jus stroberi?” tanyaku bingung dan Junghyung hanya menjawab dengan senyuman membuatku semakin bingung.
Dia memberikan gelas itu padaku. Setelah itu, ia membuka gelang yang ia kenakan, lalu memasangkannya padaku.
“Aku tahu jika Eungi yang merebut Changsun dan Minho darimu.”
Aku mendongak untuk menatap wajahnya yang lebih tinggi dariku. Dia tersenyum. Memang bukan yang pertama ku lihat hari ini. Tapi ada yang berbeda dari senyuman itu.
“Tapi tak usah lagi kau pedulikan Eungi. Aku sudah membalaskan dendam kita padanya.” Junhyung kembali tersenyum, seolah kami berhasil menjalankan sebuah misi rahasia.
Namun masih ada kata-katanya yang kurang ku mengerti. “Dendam kita?” aku mengulangi ucapannya.
Raut wajah Junhyung berubah serius. “Aku tidak pernah memiliki perasaan apapun pada Eungi. Gadis yang selalu menarik perhatianku selam ini hanya kau.”
“Tapi kita tidak saling kenal?” aku masih mempermasalahkan itu.
“Kata siapa? Hanya kau yang belum mengenalku. Aku telah memperhatikanku sejak dulu. Sejak kita memperebutkan air itu,” dia melirik aneh jus stroberi di tanganku.
Aku hanya bisa tertawa menanggapinya. “Tapi, bukankah kau ingin mempertemukan Eungi dengan ibumu?”
“Maaf jika aku sedikit membohongimu. Seperti yang ku bilang tadi, hanya kau yang belum mengenalku. Café tadi milik keluargaku. Dan ibuku selalu datang di jam-jam seperti tadi. Jadi, kejadian itu tidak di rencanakan. Aku sama sekali tak berniat mengenalkan Eungi pada ibuku.”
Ku rasakan pipiku panas. Pemuda tampan di hadapanku ternyata benar-benar tak menganggap Eungi sedikitpun. Tanpa sadar, aku menyeruput minuman di tanganku secara perlahan untuk mengalihkan kegugupanku.
“Apa yang kau lakukan!”
Aku hampir saja memuncratkan jus itu ketika mendengar suara Junhyung yang mengagetkanku. “Kenapa?”
“Jus itu milikku. Tapi jika kau meminumnya, kau juga harus jadi milikku!” lagi-lagi Junhyung memutuskan sesuatu seorang diri.
“Tapi kau tidak mengatakannya tadi!” protesku.
“Aku sudah mengatakannya!” balas Junhyung. “Di dalam hati…” lanjutnya saat aku mempelototinya.
Astaga! Pemuda ini memang suka seenaknya. Tapi apa yang bisa ku perbuat? Yang bisa ku lakukan saat ini adalah, berjalan di sampingnya sambil membawa jus stroberi yang telah memberikanku kisah dengannya. Mendengarkannya bercerita tentangnya yang belum pernah ku ketahui.
Ternyata Junhyung menejer di café ibunya. Ia suka basket, berenang, bermain gitar, memasak walau hanya sedikit, … , dan yang pastinya jus stroberi.
Aku menyesal telah mengenal Minho sebelum ini. Menyesal karena dulu pernah membiarkan Changsun jatuh ke tangan Eungi. Dan menyesal karena pernah menjadi kekasih dari seorang Minho.
Tapi aku akan sangat-sangat menyesal jika tadi tak jadi mengerjai Eungi dengan mengaku sebagai kekasihnya Junhyung. Meski begitu, Eungi dan Minho cukup berjasa untukku dan Junhyung.
Aku menghentikan langkah tiba-tiba membuat Junhyung juga berhenti dan menatapku bingung. “Tapi, apa tidak terlalu cepat? Aku baru saja putus dengan Minho, tapi aku sudah mendapatkan penggantinya. Apa itu tidak jahat?” ujarku terdengar ragu.
“Aku juga baru putus dengan Eungi. Jadi kita sama-sama jahat, kan?”
Satu kesimpulan terakhirku tentang Junhyung. Dia memang suka seenaknya!


@_E_N_D_@