Minggu, 13 April 2014

PERFECT LOVE (chapter 9)


Author              : Annisa Pamungkas (@nniissaa11)
Main Cast          : B.A.P (Yongguk, Himchan, Daehyun, Youngjae,
  Jongup, Zelo [Junhong])
Support cast     : A-Pink (Chorong, Bomi, Naeun, Eun Ji, Namjoo,
                          Hayoung), G.Na (Soloist), B2ST (Doojoon), BtoB
Genre               : romance, family, brothership
Length              : chapter

***

Flashback…
        Chorong menyodorkan selembar kertas yang terdapat bekas lipatan ke hadapan Eun Ji. Sebuah desain gaun pengantin. Eun Ji yang sangat mengenali gambar itu sebagai salah satu desainnya, tentu saja langsung menyambarnya.
        “Mba dapet ini dari mana?” desak Eun Ji.
        Chorong tak langsung menjawab. Matanya menatap Eun Ji namun dengan pandangan kosong. “Dari Namjoo. Kalau bisa, aku ingin yang itu saja. Jadi kita nggak perlu buang waktu lebih banyak.”
        Eun Ji sedikit melebarkan matanya. “Tapi…” Eun Ji menahan diri untuk mengatakan sesuatu. “Ini gaun pernikahan impian Namjoo,” gumam Eun Ji dengan suara pelan.
        “Kamu cuma perlu ngukur badanku. Setelah itu, kita selesai.”
        Chorong tampak berdiri, kemudian Eun Ji mengikuti wanita itu dan memulai pekerjaannya. Eun Ji melakukan pekerjaannya dalam diam karena Chorong yang memulai suasana dingin tersebut. Dan setelah semuanya selesai, tanpa diduga Chorong menjatuhkan tubuhnya ke atas sofa lalu menangis di sana.
        Eun Ji yang panic melihatnya, langsung memeluk Chorong. “Mba kenapa?”
        “Kenapa harus Changsub! Kenapa bukan Yongguk!”
        Mendengar saura pilu Chorong yang bercampur tangis, Eun Ji semakin mengeratkan pelukannya. “Cowok tadi bukan seseorang yang kamu cintai?” tanya Eun Ji meski sebenarnya ia tidak ingin terkesan ikut campur dengan masalah Chorong.
        Perlahan Chorong menjauhkan tubuhnya. Eun Ji langsung menyodorkan tempat tissue ke hadapan Chorong. “Dikeluargaku, jika seorang perempuan belum menikah sampai usia 25 tahun, dia akan langsung dijodohkan. Aku memaksa Yongguk untuk menikahiku bukan karena egoku sendiri. Tapi karena keadaan. Jika tidak seperti ini, aku akan tetap menunggu Yongguk.”
        Eun Ji menggenggam ke dua tangan Chorong. “Maaf, boleh aku tau kenapa kekasihmu nggak mau kalian segera menikah?”
        “Yongguk udah nggak punya ayah. Dan dia punya tiga orang adik. Ibunya menjadi kurang perhatian pada mereka karena frustasi pernah kehilangan dua orang anaknya.”
        “Mirip cerita Daehyun,” gumam Eun Ji dalam hati.
        “Boleh aku minta tolong kamu?”
        Eun Ji mengangguk cepat. “Kalo bisa, pasti aku bantu.”
        “Tolong temuin Yongguk. Dan sampein rasa maaf aku sebesar-besarnya. Karena… nggak bisa menjadi kekasih yang baik buat dia. Aku bahkan akan menikah dengan cowok lain.” Chorong kembali terisak di sana. “Aku juga nggak akan sanggup kalo harus ngomong langsung ke Yongguk.”
Flashback end…

        Yongguk tampak mencengkeram gelasnya. Ia kini duduk berhadapan dengan Eun Ji di sebuah café. Eun Ji yang memang sengaja menemui Yongguk di Bank.
        “Mba Chorong nggak mau ngasih Mas Yongguk undangan. Karena dia nggak mau Mas ngeliat kesedihannya,” ujar Eun Ji.
        Yongguk terdengar menghembuskan napasnya dengan kasar. Ia juga sempat memejamkan mata untuk mengendalikan perasaannya. “Harusnya Chorong mengatakan hal itu dari awal.”

***

        Sore itu, Himchan tampak sibuk dengan lembaran-lembaran tugas anak didiknya. Ia lebih suka menyelesaikan semuanya di rumah dari pada harus berlama-lama di sekolah. Himchan yang memilih ruang tamu untuk bekerja, sesekali melempar tatapannya ke luar jendela rumah yang bisa melihat langsung ke arah rumah Bomi.
        Merasa tidak ada tanda-tanda kehadiran atau aktivitas apapun yang dilakukan pemilik rumah itu, Himchan kembali sibuk dengan pekerjaannya. Beberapa saat kemudian, Himchan menerima sebuah pesan dari salah satu pacarnya, Gayoon.

        Nanti malem temenin aku jalan. Kita makan di resto.

        Himchan tampak mendengus membaca kalimat tersebut. “Padahal Bomi aja sering ke luar sama Jongup. Tapi mereka cuma beli wedang ronde aja, tuh.”

        Aku masih sibuk ngurusin nilai murid-muridku.

        Himchan membalas cepat pesan dari kekasihnya tersebut. Namun baru beberapa saat pesannya terkirim, sudah ada pesan lain yang masuk. Kali ini dari kekasihnya yang lain. Yookyung. Dengan isi yang nggak jauh berbeda seperti Gayoon tadi. Dan jawaban Himchan pun sama.
        Guru muda itu langsung menyingkirkan ponselnya jauh-jauh agar tidak terlalu mengganggunya. Himchan sempat menyesap kopinya yang sudah disediakan oleh Jongup tadi. Namun belum sempat ia menyentuh kertas tugas muridnya lagi, suara seseorang sudah menginterupsinya kembali.
        “Assalamu’alaikum… Daehyun!” teriak seseorang dari luar.
        “Bomi ngapain pake teriak segala, sih! Biasanya juga langsung nyelonong masuk,” cibir Himchan mengenai kebiasaan Bomi. Namun harusnya ia sadar, Bomi hampir selalu meneriaki namanya meski yang sebenarnya ingin ia temui bukanlah Himchan.
        “Daeh….” Ucapan cewek itu terpotong karena mendapati Himchan membuka pintu utama rumah tersebut. “Hmm… Mas Himchan, ya?” tebak cewek itu yang ternyata adalah Naeun.
        Himchan menatap datar ke tempat Naeun berada. “Oh, iya. Kamu cari Daehyun?” tanyanya basa-basi karena tebakannya kali ini salah. Cewek itu bukan Bomi seperti apa yang ia pikirkan tadi. Himchan juga sudah membukakan pagar untuk Naeun. “Saya panggilin Daehyun dulu, ya.”
        Naeun hanya mengangguk menanggapi ucapan Himchan tadi.

***

        “Hah! Mas Himchan!” pekik Jongup yang terkejut dengan kehadiran kakaknya di kelab tersebut. Ia yang ingin mengantarkan pesanan pelanggan, langsung kembali melesat masuk ke dalam. Jongup mendapati Himchan di meja bar.
        “Mas Himchan ngapain di sini? Bisa ‘abis’ gue kalo ampe ketauan terus dilaporin Mas Yongguk,” gumam        Jongup yang tampak mengintip Himchan dari balik tembok.
        Jongup melebarkan pandangan ke sekitar. Dan tatapannya jatuh pada salah satu pelayan di sana juga. “Tolong gantiin gue dulu dong sebentar. Gue mules banget, nih.” Jongup memulai aksinya sambil memegangi perut seolah mengalami sembelit.
        “Oh, iya.”
        Setelah baki di tangannya berpindah, Jongup diam-diam tersenyum. Namun ia kembali gelisah karena Himchan masih berada di sana. Jongup tidak mungkin bertahan di dalam karena ia harus bekerja. Tapi resikonya kemungkinan besar Jongup akan bertemu Himchan.
        “Lho, Jong! Masih di sini?”
        Jongup menoleh cepat dan mendapati Ilhoon di sana. Ilhoon belum sepenuhnya menyadari kepanikan Jongup karena ia sedang sibuk membereskan pakaiannya.
        “Bukannya lo udah nggak ada hutang sama orang yang kameranya lo rusakin itu?” Ilhoon menatap Jongup intens. Ucapannya nggak salah karena Jongup masih mengenakan seragam pelayan di sana. Terlebih Jongup juga menceritakan masalahnya pada Ilhoon.
        Mendengar itu, Jongup menunduk memastikan pakaiannya. Ia lalu tersenyum sampai menunjukkan deretan giginya. Sementara satu tangannya mengusap tengguk, gugup.

***

        Aku lagi nemenin mama belanja.

        Himchan tersenyum pahit membaca pesan balasan dari Gayoon. Padahal saat ini gadis itu sedang berada di tempat yang sama dengan Himchan. Saat melirik ke samping, cowok menemukan salah satu pacarnya bersama dengan pemuda lain. Hanya berdua dan sedang asik bermeseraan.
        Himchan menenggak sampai habis soft drink-nya. Setelah itu ia bangkit dan berjalan ke tempat Gayoon berada. Tanpa ada basa-basi apapun, Himchan meraih leher Gayoon dan mendaratkan bibirnya tepat di bibir cewek itu. Gayoon sendiri hanya mampu melebarkan mata karena terlalu terkejut mendapati perlakuan seperti itu. Namun karena yang melakukan adalah Himchan, tentu saja Gayoon tidak mungkin menolaknya karena ia juga sudah menyadari siapa cowok itu.
        “Heh! Apa-apaan lo berdua!” seru cowok yang bersama Gayoon tadi. Ia berusaha menjauhkan tubuh Himchan dari Gayoon. Namun ke duanya seakan tidak ingin melepaskan ciuman panas mereka.
        Wajah Gayoon mulai memerah menerima perlakuan Himchan yang memang sudah sangat ia harapkan sejak lama. Namun Himchan yang hampir selalu menolaknya.
        Himchan mengakhiri ciumannya. Ia menyeka bibirnya dengan tangan sambil terus menatap Gayoon yang sudah tersipu malu.
        Sementara beberapa meter dari sana, ternyata Jongup juga menyaksikan aksi nekat Himchan yang mencium seorang cewek di depan umum. Jongup bahkan sampai menutupi matanya dengan ke dua tangan. “Aduh. Mata gue tercemar.”
        Ilhoon yang ternyata berdiri tepat di samping Jongup, hanya terkekeh mendengar ucapan temannya itu. “Emang selama ini lo nggak pernah liat orang ciuman?”
        Jongup melirik Ilhoon dari sela-sela jarinya. “Pernah. Tapi bukan abang gue sendiri, Hoon!”
        Mendengar itu, Ilhoon melebarkan matanya. Tentu saja terkejut dengan pengakuan Jongup.
        “Aku nggak nyangka kamu mau melakukan ini sama aku,” ujar Gayoon masih dengan nada malu-malu.
        “Sayang…!” seru cowok bersama Gayoon tadi yang kesal karena diabaikan Gayoon dan Himchan.
        Himchan sendiri masih senantiasa menyunggingkan senyumannya. Seakan ia juga menginginkan hal tersebut. “Karena aku ingin ada perubahan dihubungan kita.” Ucapan Himchan membuat Gayoon semakin merasa di atas angin. “Dari pacar menjadi…”
        Cowok tadi menarik kerah pakaian Himchan. “Lo nggak bisa ngelamar cewek orang sembarangan!” protesnya.
        “Kamu mau ngelamar aku?” desak Gayoon dengan kepercayaan diri yang cukup tinggi.
        Himchan sama sekali nggak terganggu dengan perlakuan cowok tadi. Ia hanya sempat menyingkirkan tangan cowok itu tanpa menatapnya. “Gue mau perubahan hubungan kita. Dari pacar menjadi…” Himchan sengaja mengulur waktu untuk membuat Gayoon seakan terbang melayang. “MANTAN PACAR! Gue mau kita putus!” tegasnya. Dan tanpa menunggu respon apapun lagi dari Gayoon, Himchan bergegas balik badan lalu meninggalkan Gayoon bersama cowok itu.
        “Himchan tunggu!” jerit Gayoon. Namun Himchan sengaja tak mendengarnya.
        Melihat kakaknya pergi, Jongup juga langsung balik badan. “Gue harus nemuin bang Minhyuk dulu,” ujarnya pada Ilhoon.

***

        “Namanya Youngjae. Dia temen sekolahnya Bomi dan Eun Ji juga. Dan setau gue, dia suka sama Naeun.”
        Mendengar ada yang menyebut namanya, Youngjae menghentikan langkah. Cowok itu kini berada di parkiran kelab malam milik Minhyuk. Dan tujuannya datang ke sana memang ingin mengetahui tentang Minhyuk. Namun tak disangka, Minhyuk justru juga tengah membicarakannya bersama Eunkwang.
        “Bisa cari tau tentang dia? Rumahnya mungkin. Gue pengen ketemu dan kasih perhitungan ke tuh anak,” seru Minhyuk dengan penuh kilatan kebencian atas Youngjae. Tentu saja karena Minhyuk merasa Youngjae akan membantu Daehyun menjauhinya dari Eun Ji.
        “Nggak perlu susah-susah. Gue ada di sini sekarang.” Tanpa diduga, Youngjae justru menampakkan dirinya dihadapan Minhyuk dan Eunkwang.
        Minhyuk yang sedang duduk di ujung kap mobilnya, langsung menegakkan tubuh saat melihat sosok yang dianggap mengganggu kedekatannya dengan Eun Ji. Ia bahkan sampai mengepalkan tangannya. Sementara Youngjae tampak tak mengurangi irama langkahnya. Meski ia sendiri sudah tahu kalau Minhyuk menguasai salah satu ilmu bela diri. Dan ke duanya kini sudah berdiri saling berhadapan.
        Tidak butuh waktu lama untuk Minhyuk menghabisi Youngjae. Mereka juga tak luput jadi tontonan orang-orang yang kebetulan melintas di sana. Eunkwang bahkan sudah berusaha melerai mereka. Namun ia justru juga mendapat pukulan dari Minhyuk. Hingga akhirnya, Youngjae sudah tidak mungkin melawan. Bahkan dari awal pun Youngjae memang tak melakukan perlawanan.
        “Lo bakal dapet yang lebih parah dari itu kalau masih berani ngalangin gue ngedeketin Eun Ji!” ancam Minhyuk serius. Ia yang melihat kunci mobil Youngjae yang tergeletak di aspal, langsung saja merampasnya. “Gue bakal balikin mobil lo, kalau Eun Ji bener-bener udah jadi milik gue!”

***

        “Brengsek!” pekik Himchan ketika sudah berada di luar kelab. Ia menjadi kesal sendiri. Tujuan datang ke sana ingin menenangkan diri, cowok itu justru dikejutkan dengan kelakuan kekasihnya sendiri. Kini Himchan mencoba menghubungi kekasihnya yang lain. Yookyung.
        Di salah satu arah, ada seorang cewek mengenakan topi, kacamata dan masker yang menutupi hampir seluruh wajahnya. Cewek itu melangkah mundur. Ia tidak menyadari keberadaan Himchan. Begitu pula Himchan. Hingga akhirnya, punggung mereka berbenturan. Cewek itu langsung diam seketika.
        “Jalan pake mata, dong!” seru Himchan dengan nada tinggi sampai membuat cewek itu berbalik. Suasana hatinya kian memburuk.
        “Maaf, gue…. Loh? Mas Himchan kakaknya Daehyun, kan?” tanya cewek itu. Karena Himchan menatapnya bingung, cewek itu akhirnya mau membuka masker. Ternyata itu Eun Ji.
        “Berani-beraninya dia ngedeketin Eun Ji!”
        Belum sempat Himchan merespon ucapan Eun Ji, suara seseorang sudah lebih dulu terdengar di antara mereka. Minhyuk dan Eunkwang tampak melangkah mendekat. Dan ketika melihat itu, Eun Ji langsung melingkarkan tangan ke pinggang Himchan dan menenggelamkan wajahnya ke dada bidang milik guru muda tersebut. Tentu saja tujuan Eun Ji melakukan itu adalah untuk menghindari Minhyuk mengetahui keberadaannya. Dan beruntung pula Himchan tidak protes. Sementara Minhyuk berhasil dikelabui cewek itu.
        Setelah di rasa aman, Eun Ji melepaskan diri. Dan tentu saja rasa bersalah kini menghantuinya. “Mas Himchan. Maaf yang sebesar-besarnya. Aku ngelakuin itu terpaksa biar nggak ketemu Minhyuk.”
        “Gapapa, kok.” Himchan berujar tanpa menatap Eun Ji. Karena ada sesuatu yang lebih menarik perhatiannya saat itu. Beberapa meter di depan sana, seorang pemuda tampak berjalan dengan sedikit pincang sambil bertumpu pada mobil-mobil yang berjejer di sana.
        “Jadi dia alasan kamu mutusin aku.” Suara cempreng seseorang sukses membuat Himchan dan Eun Ji menoleh ke belakang. Itu Gayoon. Ia masih mengejar Himchan. Dan tadi ia datang tepat saat Eun Ji memeluk Himchan.
        Kali ini giliran Himchan yang merangkul Eun Ji. “Kalau emang bener, kamu mau apa?” Dan kembali, tanpa menunggu Gayoon merespon, Himchan berbalik sambil membawa serta Eun Ji untuk ikut pergi bersamanya. “Sekarang kita impas, kan?” bisik Himchan.
        Eun Ji hanya mengangguk menanggapinya. Di sisi lain ia juga lega karena tidak terlalu merasa bersalah pada Himchan. Dan selama beberapa langkah mereka masih dalam posisi yang sama. Sampai akhirnya Himchan menghentikan langkah karena pemuda yang ia lihat kini berada di hadapannya. Eun Ji yang berinisiatif bergerak duluan untuk menghampiri cowok tersebut.
        “Youngjae?” seru Eun Ji.
        Mendengar nama yang cukup ‘sensitiv’ dikeluarganya itu, Himchan buru-buru menghampiri. Cowok itu memang benar Youngjae. Namun bercak-bercak darah menghiasi wajahnya.
        “Young, lo kenapa?” tanya Eun Ji tanpa sanggup menatap Youngjae lama-lama. Ia sudah membekap mulutnya menahan mual karena melihat darah. Itu menjadi salah satu faktor terbesarnya sulit menjalani niat ayahnya yang ingin Eun Ji juga menjadi seorang dokter.
        “Bawa ke rumah sakit,” seru Himchan.

***

        Yongguk tampak meregangkan tubuh-tubuhnya. Ia masih berada di  kantor penerbit sampai malam. Di atas meja kerjanya, terpampang foto Youngjae bersama Zelo yang ia buka melalui laptop. Diam-diam Yongguk mengkopi foto-foto tersebut dari kartu memori yang sempat ia pinjam dari Jongup.
        “Belom mau pulang, Yong?” sapa salah satu teman kerja Yongguk dari balik sekat pembatas meja kerja mereka.
        Yongguk tersenyum tipis sambil menutup layar laptopnya. “Lagi mikir aja. Temennya Jongup ada yang punya bakat fotografi. Dan gue pengen foto-fotonya dia dijadiin kayak semacam foto book.”
        Teman Yongguk tadi tampak ikut berfikir. Sementara Yongguk sambil merapihkan beberapa barang-barang kantor miliknya.
        “Tergantung temanya juga, Yong.”                                             
        “Gue rasa dia itu anak yang merindukan kasih sayang ibunya. Karena kebanyakan foto-fotonya tentang ibu bersama anak.”
        Cowok tadi menepuk pundak Yongguk pelan. “Coba lo ajuin aja,” serunya karena ia juga tampak sudah bersiap untuk pulang. “Gue duluan, ya?” pamitnya.
        “Oke,” jawab Yongguk, pendek. Tak lama kemudian, ia juga segera menyusul temannya meninggalkan kantor.
        Yongguk meninggalkan parkiran kantornya menggunakan motor. Dan setelah beberapa meter, Yongguk menghentikan motornya karena ada kerumunan yang sebenarnya berada di seberang jalan. Yongguk langsung turun dari motornya dan justru menghampiri sebuah mobil yang terparkir beberapa meter di depannya. “Mobilnya Hyunsik?”

***

        “Pernikahan kita cuma tinggal hitungan Minggu! Setelah itu lo bakal jadi milik gue! Harusnya lo seneng bisa bareng-bareng sama gue!” seru Changsub dengan nada tinggi. Sementara Chorong hanya bisa terisak di depannya. Cewek itu menolak untuk diajak pergi dengan calon suaminya tersebut.
        “Mba Chorong!” teriak Hyunsik yang ternyata melihat kakaknya berada di pinggir jalan. Ia datang dari arah seberang.
        Changsub seperti tidak mempedulikan kalau perlakuannya mengundang keingintahuan orang-orang yang kebetulan berada di sana. cowok itu menatap malas ke arah kedatangan Hyunsik. “Lo ngapain, sih?” Changsub tampak tak suka saat Hyunsik ingin menyambar tangan Chorong. Ia bahkan sampai menyingkirkan tangan Chorong.
        Hyunsik sedikit mengabaikan keberadaan Changsub karena yang ia pedulikan hanya kondisi Chorong. Kakaknya itu tampak cukup tersiksa bersama Changsub. Hyunsik sudah mengangkat tangannya untuk menyentuh wajah Chorong, namun Changsub kembali menepisnya.
        Hyunsik yang sudah kesal dengan Changsub, tentu saja sudah mengantisipasi perilaku Changsub. Dan dengan mudahnya Hyunsik menangkap tangan Changsub. Ia lalu memukul wajah Changsub hingga cowok itu tersungkur.
        “Hyunsik!” jerit Chorong yang semakin histeris. Ia bahkan berusaha menahan tubuh Hyunsik yang sudah ingin kembali menghajar Changsub.
        Tentu saja Changsub tidak terima dengan perlakuan Hyunsik. Ia ingin membalas perlakuan Hyunsik. Dan akhirnya, perkelahian pun tak bisa terelakkan lagi. Bahkan jeritan Chorong tidak bisa menghentikan keduanya.
        Merasa diabaikan, Chorong memilih menyingkir dari sana. Bersama sisa-sisa air matanya, cewek itu menyeberangi jalan raya.

***

        Zelo tampak tergesa-gesa menuju garasi rumahnya sambil menggerutu, “Mas Youngjae ada-ada aja, sih. Ngapain pake berantem? Biasa juga nggak pernah.”
        Cowok tinggi itu membelah jalan raya dan memacu motornya dengan kecepatan tinggi. Tentu saja Zelo sangat panik dengan berita tentang Youngjae. Beberapa saat lalu Himchan yang menghubunginya menggunakan ponsel Youngjae.
        Zelo yang mendadak sedikit kehilangan konsenterasinya, nyaris saja menabrak seseorang. Chorong. Cewek itu sedang menyeberang jalan dan sama-sama kurang waspada. Beruntung Zelo bisa menghindarinya. Lalu Hyunsik dan Changsub tampak sempat mendorong tubuh Chorong.
        Chorong terdorong cukup jauh. Tubuhnya jatuh tepat di dalam pelukan seseorang yang berdiri dengan posisi tepat. Mata mereka kemudian bertemu dan saling bertatapan cukup lama. Bahkan suara-suara teriakan orang-orang di sana seakan tidak menembus gendang telinga mereka. Dan suara benturan yang sangat keras yang akhirnya menyadarkan Chorong dan… Yongguk. Chorong sekuat tenaga membalikkan badan.
        “Hyunsik!” jeritnya melihat dua orang pemuda yang sudah terkapar penuh darah di atas aspal. Salah satunya adalah Hyunsik. Dan tentu saja Chorong lebih mengutamakan adiknya di bandingkan calon suami yang tidak diharapkannya. Changsub. Pemuda itu juga menjadi korban tabrakan yang baru saja terjadi. Tepat setelah tubuh Chorong bisa diselamatkan lebih dulu oleh ke dua cowok tadi.

***

        “Kak Eun Ji…!”
        Eun Ji dan Himchan yang menunggu Youngjae di rumah sakit, sama-sama menoleh saat mendengar suara Ilhoon menggema sampai ke ujung koridor tempat mereka berada. Kemudian sosok Ilhoon datang mendekat.                   
        “Kakak gapapa? Siapa yang sakit?” tanya Ilhoon. Cukup cemas saat diminta menjemput kakaknya di rumah sakit. Belum lagi wajah Eun Ji yang terlihat sedikit pucat. Ia juga sempat melirik ke tempat Himchan berada untuk menuntut penjelasan.
        Himchan sendiri nggak langsung menjawab karena ia sibuk memutar otak untuk memberikan jawaban yang logis. Masalahnya, ia sendiri nggak mengenal sosok Youngjae dengan cukup baik. Bahkan sepertinya ini pertemuan pertama mereka.
        “Kamu inget cowok yang pernah nemuin kakak di apartmen?”
        Ilhoon kembali menoleh ke tempat Eun Ji berada.
        “Dia tadi kita temuin udah dalam keadaan babak belur di depan kelab malam tempat kamu kerja,” jelas Eun Ji kemudian.
        “Mas Youngjae?” seru Ilhoon memastikan. Eun Ji hanya mengangguk menanggapinya. Mereka juga tidak ada yang menyadari perubahan raut wajah Himchan saat Ilhoon menyebut nama Youngjae tadi. “Tapi ngapain kakak bisa ada di kelab?”
        “Mama mau ke apartmen. Bisa mati gaya gue kalo nggak ada kamu juga.”
        Perhatian ke tiganya kemudian teralih karena seorang perawat memasuki sebuah kamar tempat Youngjae berada. Tentu saja Himchan mengenali perawat tersebut yang juga ibu kandungnya.
        “Hmm… kalian bisa pulang. Biar gue yang di sini,” kata Himchan. Sejak melihat ibunya masuk ke sana, ia merasa ada sesuatu hal yang aneh. Dan ia ingin membuktikan sendiri apa yang terjadi. Tentu saja setelah Eun Ji dan Ilhoon tidak ada di sana.
        “Beneran gapapa, Mas?” ujar Eun Ji untuk memastikan. Hati kecil cewek itu ingin tetap di sana. Namun kondisinya yang sedang dalam keadaan kurang baik.
        “Tenang aja. Lagian, kayaknya kamu perlu istirahat.”
        Eun Ji menatap Ilhoon seakan meminta pendapat. Dan Ilhoon sendiri hanya mengangguk. Ia lebih mengkhawatirkan kondisi kakaknya tentu saja.
        “Kita pamit ya, Mas,” kata Eun Ji akhirnya.
        Setelah Ilhoon dan Eun Ji sudah tidak tampak di matanya, Himchan segera saja melesat ke dalam kamar tempat Youngjae berada sekarang. G.Na juga sudah berada di sana. Menatap Youngjae dengan sangat penuh kasih sayang. Membuat Himchan yang menyaksikan kejadian itu tentu saja merasakan sebuah rasa sakit di dadanya. Wanita itu tidak sekali pun pernah melakukan hal yang sama untuk dirinya, Yongguk, Daehyun bahkan Jongup, adik bungsunya.
        Himchan menggenggam knop pintu dengan kencang. Hal itu ia lakukan sekaligus untuk mengendalikan perasaannya yang sedikit terguncang. Himchan kemudian membalikkan badan karena sudah tidak sanggup melihat perlakuan ibunya pada seseorang yang baru ia kenal.
        “Himchan!”


***

Jumat, 04 April 2014

BLUE FLAME BAND 2 (part 15)


Author              : Annisa Pamungkas (@nniissaa11)
Main Cast          :
·        Lee Joon/Changsun (Mblaq)
·        Lee Minhyuk (BtoB)
·        Jung Yong Hwa (CN Blue)  
Original cast     : Hye Ra, Soo In, Minjung, Sung Hye, Han Yoo
Support cast     :
·        Im Siwan (Ze:a)
·        Nichkhun Horvejkul (2PM)
·        Yoon Doojoon (Beast/B2ST)
·        Luhan (Exo-M)
·        Choi Sulli (F(x))
·        Lee Sungmin (Super Junior)
·        Cha Hackyeon ‘N’ (VIXX)
Genre               : romance
Length              : part

***

        “Waah… kau sudah sadar?”
        Hye Ra buru-buru menoleh dan mendapati Sulli mendekat sambil membawakan nampan makanan. “Sejak kapan aku di sini?” tanya Hye Ra yang baru menyadari dirinya berada di rumah sakit. “Dan siapa yang membawaku?”
        “Hackyeon.” Sulli menggenggam tangan Hye Ra. “Tapi kau tenang saja. Dia tidak akan mengatakan apapun pada Minhyuk tentang kondisimu saat ini.”
        Mendengar itu, Hye Ra bernapas lega. Namun ia masih tetap menatap Sulli penuh arti. “Apa kau sudah tau kalau aku dan Yong Hwa….”
        Belum selesai Hye Ra berbicara, Sulli sudah lebih dulu menganggukkan kepalanya. “Dan aku tidak mempermasalahkan itu.”
        “Tapi hubungan kami hanya sebatas itu. Aku nyaman bersama Yong Hwa seperti saat aku bersama oppaku, Minho.” Hye Ra merasa sedikit tak enak hati pada Sulli. Terlebih gadis itu yang kini merawatnya secara pribadi di rumah sakit.
        Sulli tampak berubah canggung. “Aku percaya kalian tidak akan menjalin hubungan lagi seperti dulu. Apalagi, ada dua pemuda yang sangat mencintaimu saat ini.”
        Hye Ra membulatkan mata, tepat ketika Sulli sudah lebih dulu melepaskan pandangannya terhadap Hye Ra.
        “Yong Hwa memang meminta bantuanku untuk menjagamu. Dan aku yakin itu semua dia lakukan untuk menjaga perasaanku juga daripada dia yang menjagamu secara langsung.”
        Pergerakan dari genggaman tangan Hye Ra membuat Sulli menoleh padanya. “Jadi… kau Sulli kekasih Minhyuk?”
        Sulli tidak menjawab apapun. Namun untuk Hye Ra, itu sudah cukup memberikannya sebuah jawaban.
        “Sulli, maaf. Aku juga tidak bermaksud mendekati Minhyuk…”
        “Kenapa kau harus meminta maaf?” Sulli memotong ucapan Hye Ra dengan penuh penekanan agar Hye Ra berhenti merasa bersalah. “Aku tau kau dan Minhyuk sudah cukup lama hilang komunikasi. Dan aku yakin, pertemuan kalian setelah aku sudah bersama Yong Hwa oppa.”
        Hye Ra tidak berkata apa-apa lagi setelah itu. Namun tatapannya pada Sulli belum berubah.
        “Ku mohon berhenti merasa bersalah,” ujar Sulli. “Karena setidaknya, sudah tidak ada rahasia lagi antara kau dan Yong Hwa oppa padaku.”
        Hye Ra menarik lengan Sulli lalu memeluk gadis itu. “Aku senang bisa bertemu denganmu. Dan aku sangat berterima kasih untuk itu.”
        Sulli menjauhkan tubuh mereka. Ia tersenyum tulus pada Hye Ra. “Jangan sungkan untuk datang padaku. Kau dan Yong Hwa oppa sudah seperti saudara. Dan sudah sepantasnya juga aku memperlakukan hal yang sama padamu.”
        Perlahan, Hye Ra pun mengukir senyuman pada wajah pucatnya.
        “Sekarang kau istirahat, nanti aku akan segera kembali. Dan mulai saat ini juga, kau berada dalam pengawasanku,” ujar Sulli seperti mengancam namun jelas itu hanya gurauannya hingga membuat Hye Ra terkekeh pelan.

***

        “Setelah ini, jangan coba merebutku dari Joon. Dan aku juga tidak sudi bicara padamu sebelum Joon mau memaafkanku.”
        Perkataan Hye Ra yang seperti itu masih terputar jelas di telinga Minhyuk. Semua ucapan itu bahkan nyaris tak pernah hilang dari pikirannya meski hanya sesaat. Bisa dipastikan, hubungan gadis itu dengan Joon memang dalam kondisi yang kurang baik. Sementara tangan pemuda itu mencengkeram erat sebuah majalah dengan wajah para member ‘Blue Flame’ yang menghiasi bagian cover-nya.
        Pintu utama apartmen Joon tempat Minhyuk saat ini berada, terdengar terbuka. Bisa dipastikan itu Joon karena caranya membuka pintu sangat berbeda dengan Hyorin.
        Minhyuk buru-buru berdiri sambil melempar majalah di tangannya kesembarang tempat. Namun ia tidak ingin repot-repot untuk membalikkan badannya.
“Masalahmu denganku, hyung. Jadi, kau tidak perlu menyiksa Hye Ra seperti itu.”
Mendengar itu, Joon tersenyum meremehkan. “Dia mengatakan apa saja padamu?” tantangnya.
        Minhyuk sedikit menolehkan kepalanya, namun tidak sampai menangkap sosok Joon dalam matanya. “Apa harus menunggu Hye Ra bercerita dulu untuk aku bisa mengetahui masalahnya?” Minhyuk balas menantang.
        Joon tidak ingin langsung menjawab. Ia melangkah lebih dalam sambil melempar jaketnya ke sandaran sofa terdekat. Lalu berhenti tepat di belakang Minhyuk dengan sofa yang membatasi mereka.
        “Sebenarnya aku tidak ingin mengakui ini.” Joon sempat memberikan jeda dalam kalimatnya. “Tapi, aku sadar. Darah lebih kental dari pada air. Kita mencintai gadis yang sama. Dan itu semua di luar kendali kita berdua.”
        Minhyuk masih diam di tempat ia berdiri saat ini.
        “Jujur ku akui. Aku tidak akan sanggup melawanmu. Tapi, aku juga tidak ingin melepaskan Hye Ra begitu saja. Karena itu, sekarang terserah apapun caramu untuk mengalahkanku.”
        Kali ini giliran Minhyuk tersenyum meremehkan. Meski Joon tidak bisa melihat itu. “Apa kau sudah memikirkan dengan baik semua keputusanmu? Itu sama saja kau memberikan peluang secara cuma-cuma padaku.”
        Joon menghela napasnya, kasar. “Awal pertemuanku dengannya bukan dalam keadaan yang baik. Namun takdirlah yang mempersatukan kami.” Joon sempat diam sesaat sebelum akhirnya melanjutkan ucapannya. “Kebersamaan kami membuatku belajar banyak hal. Hye Ra melepaskan cintanya untuk Doojoon. Dan Yong Hwa juga melepaskan cintanya untuk Hye Ra.”
        Joon memejamkam matanya sesaat. Sementara tangannya mengepal kuat. Bukan ingin membalas pukulan Minhyuk padanya waktu itu. Tapi, Joon hanya berusaha mengendalikan perasaannya saat ini.
        Senyuman-senyuman Hye Ra. Sikap menyebalkan gadis itu. Ekspresi polosnya saat tertidur. Bahkah kepanikannya saat mengkhawatirkan Joon. Semuanya terekam jelas dalam hati dan pikiran Joon. Dan rasanya lebih menyakitkan melepaskan itu semua dari pada saat ia merelakan Yoona untuk Minho dulu.
        “Jika kau bisa membahagiakan Hye Ra lebih dari diriku…” Joon menggantungkan ucapannya sesaat. “Aku akan berusaha melepasnya untukmu.”
        Minhyuk sudah ingin tersenyum mendengar ucapan Joon. Namun terasa sedikit berat. Seperti ada yang menahannya melakukan itu.
        “Tapi jika yang terjadi justru sebaliknya….” Joon membuat Minhyuk menahan napas. “Siapkan pernikahan kami.” Setelah berujar seperti itu, Joon berbalik dan melesat masuk ke dalam kamarnya.
        Sebuah kalimat singkat, namun penuh dengan makna terpendam. Dan tentu saja itu sebuah kalimat yang paling menyakitkan untuk Minhyuk.

***

        “Hye Ra…” seru Sulli dengan riang. Ia bahkan menggoda Hye Ra dengan mengintip gadis itu dari balik pintu.
        Hye Ra terkekeh pelan menanggapi sikap lucu gadis itu. “Sini…” desaknya agar Sulli segera masuk dan menemuinya.
        Sulli tersenyum sambil menutup pintu di belakangnya. “Oh, iya. Yong Hwa oppa sudah menemuimu?” tanyanya sambil duduk di tepi tempat tidur Hye Ra. Jika sudah bersama gadis itu, Sulli akan benar-benar mencopot semua hal yang berkaitan dengan pekerjaannya. Ia akan bersikap lebih santai selayaknya memperlakukan teman, bukan pasien.
        Mendengar nama Yong Hwa disebut, Hye Ra langsung merubah ekspresinya menjadi sedikit terkesan enggan membahas pemuda itu. “Kekasihmu itu menyebalkan sekali tadi,” ujarnya kesal. “Lihat itu,” seru Hye Ra sambil melirik sesuatu dari sudut matanya.
        Sulli mengikuti arah pandangan Hye Ra dan menemukan sebuket bunga di atas meja. Kini ia menatap prihatin ke arah Hye Ra. “Kau benar. Harusnya Yong Hwa oppa membawakanmu buah atau roti.”
        Hye Ra tampak menahan tawanya mendengar ucapan Sulli. “Apa selama ini Yong Hwa tidak pernah bersikap romantis padamu?” Hye Ra justru melemparkan sebuah pertanyaan.
        Sementara Sulli menatap Hye Ra dengan tatapan polos. “Aku tidak tau hal apa yang menurutku romantis dari sikap Yong Hwa oppa.”
        “Cepat ambil,” seru Hye Ra dan terdengar sedikit memerintah. “Bunga itu untukmu dari Yong Hwa.”
        “Benarkah?” ujar Sulli untuk memastikan. Wajahnya juga tampak sedikit berbinar menanggapi hal tersebut.
        Sementara Sulli menghampiri bunga untuknya, Hye Ra menggembungkan pipi. “Membuatku iri saja.” Namun kekesalan gadis itu langsun teralih karena sebuah pesan yang masuk ke dalam ponselnya. Dari salah satu rekannya sesama desainer. Jiyeon.

        Kita mendapat proyek besar dari salah satu band terkenal. Mereka akan mengenakan pakaian kita. Nanti sore kita bertemu mereka untuk melakukan pengukuran jam 4 di studio.   
     
      Hye Ra membaca pesan itu secara sembunyi-sembunyi sambil mengawasi keberadaan Sulli. Ia tidak ingin gadis itu mengetahuinya.

***

        Ke lima pemuda tampan dari ‘Blue Flame’ terlihat mendatangi sebuah studio. Tentu saja Sungmin juga ikut terlibat di sana. Mereka direncanakan untuk bertemu dengan para desainer-desainer muda yang akan membantu membuatkan kostum untuk salah satu ‘Video Musik’ mereka nantinya.
        “Kenapa kau baru datang? Kita harus melakukan briefing dulu karena melibatkan band besar. Ayo cepat ke atas!”
        Beberapa member ‘Blue Flame’ sempat menoleh ke arah sumber suara. Namun ke dua gadis yang terlibat sudah lebih dulu berjalan ke arah yang berlawanan dengan mereka.
Joon tampak paling menatap lekat gadis yang sedikit lebih pendek dari gadis di sebelahnya. Perasaannya mencurigai sesuatu. Terlebih gadis tadi membawa sebuah file yang cukup familiar di mata Joon.
“Joon!” tegur Nichkhun untuk mengingatkan Joon karena pintu lift sudah lebih dulu terbuka.
        Setelah ke enam pemuda itu menghilang dari balik lift, gadis yang tadi dicurigai Joon menoleh ke belakang. Gadis itu adalah Hye Ra.
        “Kita akan segera bertemu mereka nanti,” seru gadis bersama Hye Ra tadi. Ia bahkan sampai menggamit lengan Hye Ra.
        “Jiyeon!” seru Hye Ra yang bahkan membuat langkah mereka berdua terhenti. “Kenapa tak bilang jika kita akan bekerja sama dengan ‘Blue Flame’?”
        Gadis bernama Jiyeon tersebut justru menatap Hye Ra bingung. “Bukankah seharusnya kau senang? Aku hanya ingin memberikanmu kejutan karena aku tau kau sangat menyukai ‘Blue Flame’.” Jiyeon berujar dengan cukup semangat. Namun semangat itu tidak berimbas pada Hye Ra.
Masalahnya, hubungan Hye Ra dengan Joon sedang tidak dalam kondisi baik. Setidaknya Hye Ra hanya tidak ingin menambah kekacauan jika harus bertemu Joon sebelum pemuda itu memaafkannya. Tapi Jiyeon seakan tidak membiarkan Hye Ra menghindar.

***

        “Hye Ra tidak bersamaku. Bukankah seharusnya dia masih di rumah sakit?”
        Minhyuk menghentikan gerakan tangannya yang menyusuri deretan album-album music di hadapannya saat mendengar suara seseorang di belakangnya. Saat ini ia sedang berada di sebuah toko kaset untuk mencari album terbaru ‘Blue Flame’.
        “Bagaimana bisa dia tidak ada di kamarnya? Kau bilang dia belum diperbolehkan pulang.”
        Merasa orang di belakangnya seperti akan bergerak, Minhyuk sontak membalikkan badan dan secara tidak langsung juga menghalangi langkah orang tersebut. Hackyeon.
        “Kau?” gumam Hackyeon dengan nada panik.
        Minhyuk menatap Hackyeon seakan menuntut penjelasan atas apa yang ia dengar. “Hye Ra dirawat? Di mana? Tempat Sulli bekerja?” tanya Minhyuk dengan nada datar. Sebenarnya pertanyaan itu hanya untuk memastikan maksud ucapan Hackyeon. Minhyuk sudah hampir sepenuhnya bisa menebak suasana.
        “Minhyuk, maaf. Bukan kemauanku untuk tidak mengabarimu.” Dan ucapan Hackyeon tersebut sudah mewakili semua pertanyaan Minhyuk. “Kau mau ke mana?” tanya Hackyeon karena Minhyuk langsung melesat pergi.

***

        Di ruangan tersebut ‘Blue Flame’ berada. Masing-masing dari mereka bersama seorang gadis yang bertugas untuk melakukan pengukuran untuk kostum yang akan ‘Blue Flame’ kenakan. Namun tersisa Joon yang memilih duduk di ujung ruangan karena masih menunggu desainer yang akan mengurusinya.
        Tak lama, pintu ruangan tampak terbuka dan memunculkan Jiyeon di baliknya. Jiyeon langsung disambut oleh Sungmin. Namun Sungmin terlihat cukup terkejut dengan seseorang yang datang bersama Jiyeon tersebut.
        “Kau sakit?” tanya Sungmin untuk Hye Ra tentunya. Tapi ia tidak mengenali gadis itu.
        Jiyeon yang bingung dengan pertanyaan Sungmin, langsung menoleh ke belakang. Sontak saja Jiyeon sedikit terkejut mendapati Hye Ra yang sudah mengenakan masker dan kacamata. “Sejak kapan kau menggunakan…”
        “Maaf, aku tiba-tiba flu.” Hye Ra segera menyelak ucapan Jiyeon.
        Jiyeon sendiri sudah hampir membuka mulut, namun Sungmin sudah lebih dulu mencegahnya. “Kau bisa langsung temui Lee Joon saja. Dia di sana.” Sungmin bahkan menunjukkan posisi Joon berada saat itu.
        Hye Ra hanya mengangguk sebelum akhirnya melangkah. Gadis itu hanya mampu tertunduk untuk menutupi penyamarannya. Ia bahkan hanya sempat mengangguk sekilas saat berpapasan dengan Siwan.
        “Hati-hati dengan Joon,” canda Siwan.
        “Hyung! Jangan menggoda terus. Ingat Soo In,” tandas Luhan yang saat itu bahkan berada di posisi yang cukup jauh dari tempat Siwan berada. Namun sukses sedikit mencairkan suasana.
        Hanya Joon yang tidak terpengaruh dengan candaan Siwan atau Luhan. Dan saat Hye Ra sudah berada dalam jarak beberapa meter darinya, Joon lebih dulu berdiri sambil melepaskan jaketnya untuk membantu mempermudah pekerjaan gadis itu.
        Hye Ra tidak berniat untuk menyapa atau sekedar basa-basi atas keterlambatannya. Sementara Joon sendiri juga hanya diam. Namun Joon mengawasi lekat-lekat gadis itu. Tidak salah lagi, gadis itu yang ia lihat di lantai bawah tadi.
        Hye Ra mencengkeram sebuah meteran di tangannya saat ia menatap punggung kekar milik Joon hanya hanya dilapisi sebuah kaos putih polos. Tubuh pemuda yang sangat dirindukannya.
        Joon sempat menolehkan wajahnya, namun tidak sampai menatap Hye Ra yang berdiri tepat di belakangnya. “Kenapa diam?” tegurnya.
        Hye Ra hanya mengangguk sekilas. Dan tanpa bicara, mulai melakukan tugasnya. Namun kembali ada sesuatu yang menghambatnya. Hye Ra kembali diam. Ia bahkan tidak sadar jika Joon mengawasinya dari sebuah cermin kecil di atas meja.
        Joon sendiri sudah tampak tidak sabar dengan sikap Hye Ra. Pemuda itu lalu membalikkan badan sambil menahan ke dua tangan Hye Ra yang sedang bekerja. Ia menatap Hye Ra seakan berkata bahwa ia tidak bisa dibohongi dengan penyamaran gadis itu.
        “Joon!” seru Doojoon dari kejauhan yang kebetulan sedang mengarahkan tatapan ke tempat Joon berada. Hampir semua orang di sana langsung menoleh ke tempat Joon bersama Hye Ra karena teriakan Doojoon.
        Sementara Hye Ra sendiri tampak berusaha melepaskan tangan Joon dari tangannya. Namun ia sama sekali tak melepaskan pandangan dari wajah tampan Joon yang sangat ia rindukan.
        Joon menarik salah satu tangan Hye Ra ke depan wajah gadis itu. Sebuah cincin yang melingkar di sana seolah menjadi ‘tanda’ antara mereka. Kebetulan Joon juga mengenakan cincin di tangan itu.
        Sungmin tampak sudah hampir melangkah. “Joon…”
        Joon langsung saja menarik tubuh Hye Ra ke dalam pelukannya tempat sebelum Sungmin bisa melanjutkan ucapannya. “Kau tidak bisa membohongi keberadaanmu dariku,” bisik Joon.

***

        Sulli berusaha mengimbangi langkah Minhyuk dan Hackyeon di depannya. Mereka bertiga sudah berada di gedung studio tempat Joon dan ‘Blue Flame’ berada. Tujuan mereka tentu saja untuk menemui Hye Ra. Terlihat jelas dari ponsel Hye Ra yang berada di tangan Sulli. Gadis itu meninggalkannya sebelum kabur dari rumah sakit. Dan bisa dipastikan, keberadaan Hye Ra dapat langsung terlacak.
        Minhyuk tampak melesat paling depan. Saat tiba di depan sebuah pintu, Minhyuk langsung menerobos masuk karena sekilas ia memang sempat melihat sosok Sungmin dari sebuah jendela kecil pada daun pintu.
        Tentu saja kehadiran Minhyuk, Hackyeon dan Sulli memberikan sebuah kejutan untuk orang-orang yang berada di dalam. Namun mereka bertiga juga mendapat kejutan setimpal. Terutama untuk Minhyuk karena kedatangan mereka tepat ketika Joon masih dalam keadaan memeluk Hye Ra.
        Sementara Sulli langsung menatap ke tempat Jiyeon berada. “Aku kehilangan seorang pasienku di sini,” kata Sulli dengan sedikit terbata.
        Tanpa ingin menatap Minhyuk, Joon melepaskan pelukannya. Dilihatnya Hye Ra yang hanya bisa tertunduk. Joon membuka masker yang menutupi sebagian wajah Hye Ra hingga ia bisa melihat rona pucat di sana. Itu menandakan bahwa yang dimaksud ‘pasien’ oleh Sulli adalah Hye Ra.
        Joon melirik ke tempat Minhyuk berada. Adiknya itu justru memandang lurus ke arah Hye Ra dengan tatapan khawatir. Lalu tanpa berkata-kata lagi, Joon menyambar jaketnya dan segera melangkah pergi dari sana.
        “Joon!” seru Nichkhun berusaha mencegah kepergian Joon.
        “Samakan saja ukuran pakaianku dengan Siwan.” Hanya itu jawaban Joon tanpa menghentikan langkah sedetik pun. Ia bahkan seperti tidak mengenali sosok Minhyuk di sana dan tetap berlalu begitu saja. Joon juga tampak tidak menyadari siapa pemuda yang baru saja ia tabrak bahunya saat melewati pintu.
        Doojoon berinisiatif mendekat ke tempat Hye Ra berada. Sementara yang lain tidak ada yang berani bergerak. Termasuk para desainer di sana yang hanya diam mematung karena mereka memang tidak tahu apa-apa.
        Hye Ra sudah hampir ambruk jika Doojoon tidak sigap menahan tubuhnya. Di saat Minhyuk melangkah mendekat, Doojoon justru melempat tatapan tajam untuk pemuda yang berdiri paling dekat dengan pintu. Yong Hwa.
        Merasa ada sesuatu masalah yang rumit di sana, Sungmin mengambil keputusan untuk menyuruh Jiyeon membawa rekan-rekannya meninggalkan ruangan tersebut.
        “Apa kau juga terlibat di sini?” desis Doojoon untuk Yong Hwa tentunya saat hanya menyisakan mereka, Minhyuk, Sulli, Hackyeon, Nichkhun, Luhan, Siwan serta Sungmin juga yang harus tetap mengawasi anggotanya meski masalah yang terjadi saat ini adalah masalah pribadi.
        Yong Hwa membalas tatapan Doojoon sama tajamnya. “Jika memang iya, aku tidak akan melibatkan Sulli juga di sini.” Tampak ia tidak ingin begitu saja disalahkan.
        Minhyuk yang tidak ingin ambil pusing dengan perdebatan antara Yong Hwa dengan Doojoon, lebih memilih mendekati Hye Ra. Ia sudah ingin meraih tangan gadis itu, namun Hye Ra sudah lebih dulu menepis tangan Minhyuk sambil menatap tajam pemuda itu.
        “Harus berapa kali kubilang…”
        Minhyuk memotong ucapan Hye Ra. “Sampai kapan?”
        “Tapi Joon kakak kandungmu. Apa kau tidak bisa mengalah padanya?” seru Hye Ra dengan nada tinggi. Gadis itu sudah hampir menangis, namun masih ia tahan kuat-kuat.
        “Jika sikapnya tidak seperti tadi, mungkin aku bisa mempertimbangkannya! Tapi apa yang baru saja Changsun hyung lakukan?”
        “Kau hanya tidak tau apa tujuan Joonie hyung melakukan itu!” Luhan yang merespon ucapan Minhyuk tersebut. Untuk masalah yang ini ia memang cukup tahu banyak.
        “Biarkan Hye Ra pulang.”
Semua mata menoleh pada Yong Hwa yang tadi berbicara. Yong Hwa bahkan sudah melangkah. Namun Doojoon buru-buru merangkul pundak Hye Ra dengan tatapan yang menegaskan kalau ia benar-benar menolak usulan Yong Hwa tadi.
        Yong Hwa tampak tersenyum meremehkan. Di luar dugaan, ia juga turut menarik dengan lembut tangan Sulli. “Kondisinya sudah tidak seperti dulu. Kau tidak perlu khawatir.”
        Seakan mengerti maksud ucapan Yong Hwa, Sulli tampak mengulurkan tangan untuk mengajak Hye Ra pulang bersamanya. Tidak sampai ada penolakan dari Hye Ra untuk menyetujui ajakan Sulli tadi.
        “Kau!” seru Yong Hwa saat merasakan Minhyuk berniat melangkah. “Jangan temui Hye Ra dulu,” desisnya tajam.

***

        Joon menjawab panggilan dari Luhan. Tepat sesaat setelah ia masuk ke dalam mobilnya. Joon menghela napas, berat. “Minhyuk yang sudah lebih dulu mengenal Hye Ra. Dia mungkin tahu lebih banyak tentang Hye Ra. Jika memang ia bisa lebih membahagiakan Hye Ra dari pada aku…” Joon tampak berat menlanjutkan ucapannya. “Aku hanya ingin melihat Hye Ra bahagia. Kau pasti mengerti maksudku.”
        “Kau yakin, hyung?” Terdengar suara Luhan merespon.
        Cukup lama Joon terdiam. Ia melirik kaca spion mobilnya dari balik jendela yang tertutup penuh. Di sana Joon melihat bayangan sosok Hye Ra yang berjalan bersama Sulli. Sementara Yong Hwa mengikuti mereka dari belakang. Joon juga sempat menangkap sosok Hye Ra yang tengah menatapnya. Gadis itu seakan tahu kalau Joon tengah melihat ke arahnya.
        “Mari kita bertemu di dorm setelah ini. Tapi yang pasti, kau jangan dulu melepaskan Hye Ra begitu saja. Jangan pernah melakukan itu!” tegas Luhan melalui telepon.
        Tanpa berkata-kata lagi, Joon mematikan sambungan teleponnya dengan Luhan. Belum sempat Joon menyalakan mesin mobil, seseorang mengetuk jendela mobil Joon. Joon sendiri langsung menuruti untuk ke luar dari mobilnya tanpa ada rasa curiga.
        “Kalian…” Sontak saja tubuh Joon terasa melemas. Ia tidak tahu jika salah seorang yang berdiri di belakangnya membekap hidung Joon menggunakan sapu tangan yang sudah ditetesi sesuatu hingga membuat Joon pingsan.
        “Cepat bawa Joon masuk,” seru salah satu dari mereka. Yang lain seakan menuruti lalu membuka pintu mobil Joon.


***