Rabu, 10 April 2013

KRIS WITHOUT WINGS (part 5)



        Sehun berjingkat memasuki rumah. Ia ingin sedikit mengejutkan Kris sebagai ucapan selamat atas kelulusannya. Sehun tersenyum jahil kala melihat sepasang kaki panjang terjulur melebihi panjang sofa tempat orang tersebut berbaring. Sehun pelan-pelan melepas ranselnya sebelum mendekati sosok yang ia yakini adalah Kris.
        ‘Bentuk kaki Luhan hyung tidak seperti itu.’ Gumam Sehun dalam hati. Ia semakin dekat dan semakin mempersiapkan diri. Mungkin Sehun akan berteriak mengucapkan selamat untuk Kris. Lebih bagus lagi kalau sampai Kris kesal padanya.
        Sehun berhenti beberapa senti dari balik sofa. Sepertinya ada yang aneh, pikir Sehun. Meski televisi menyala, tapi entah kenapa suasana sangat tenang. Sehun masih diam di tempat ketika mendengar ponsel milik Kris berbunyi. Ia menunggu sampai hyungnya itu meraih ponsel. Namun telah cukup lama karena Kris tak kunjung menggerakkan badannya sedikitpun.
        Sehun seperti mencurigai sesuatu. Ia mengitari sofa agar mengetahui kenapa Kris sama sekali tak bergerak. Sehun berdecak karena Kris hanya tertidur dengan pulasnya Ia sampai tak tega untuk membangunkan hyungnya itu. Sehun menoleh karena ponsel Kris tak kunjung berhenti berdering.
        “Ayah?” ujar Sehun ketika melihat siapa layar ponsel Kris. tanpa piker panjang, Sehun menyambar ponsel Kris untuk menjawab panggilan dari ayahnya. “Halo, ayah…”
        “Kris…” ujar tuan Choi dari seberang telepon. Ia tak menyadari bahwa yang menjawab telponnya bukanlah Kris, melainkan Sehun. “Kau ingin ayah belikan mobil apa sebagai hadiah kelulusanmu?”
        Sehun terbelalak mendengar ucapan ayahnya. “Mobil?” gumam Sehun tanpa bersuara. “Ferary dua pintu.” Cetus Sehun buru-buru dan langsung mematikan ponsel karena dirasakan Kris mulai terjaga dari tidurnya.
        “Oh, kau sudah pulang?” seru Kris sambil mengusap wajahnya ketika menyadari Sehun berdiri tak jauh dari tempat dirinya tertidur.
        Sehun meletakkan kembali ponsel Kris di atas meja. Ia menunjukkan senyumnya seolah tak pernah terjadi apa-apa. “Hyung…” seru Sehun sambil merentangkan tangannya.
        Kris yang tersentak semakin memojokkan tubuhnya ke sandaran kursi ketika menyadari Sehun hendak memeluknya. “Apa yang kau lakukan?”
        Sehun seperti tak mendengar. Ia benar-benar menjalankan aksinya untuk memeluk Kris. “Selamat hyung…”
        “Sehun lepas!” protes Kris sambil mendorong-dorong wajah Sehun untuk menjauhinya.
        Sehun menuruti untuk menjauhkan tubuhnya dari Kris. “Kau tak suka aku peluk, hyung?” sedih Sehun sambil memanyunkan bibirnya.
        “Tapi tatapanmu menakutkanku.”
        Sehun langsung nyengir. Ia lega karena Kris bukan membencinya, tapi hanya sedikit risih dengan sikap Sehun yang seperti anak kecil. Apapun itu, Sehun tak peduli.

@@@

        Ini saatnya. Beberapa kali Jongin tertangkap tengah tersenyum. Di pandanginya ponsel milik Gwangsoo yang masih dalam genggamannya. Langkah untuk bertemu dengan Suho semakin dekat. Jongin kembali menyeruput minuman yang dipesannya.
        “Maaf tuan muda saya terlambat.”
        Jongin berdiri untuk merespon seseorang yang kini tengah sedikit membungkuk di hadapannya.
        “Jangan memperlakukanku seperti itu, paman.” Pinta Jongin yang merasa risih dengan perlakuan Gwangsoo terhadapnya. Jongin menyentuh pundak tinggi Gwangsoo dan mengisyaratkan pria itu untuk duduk. “Aku bukan majikanmu lagi, jadi mulai sekarang panggil saja aku Jongin.
        “Jangan tuan muda.” Tolak Gwangsoo.
        Jongin juga tak bisa memaksa karena bagaimanapun dirinya tetap anak kandung tuan Kim meski ia tak tinggal lagi bersama ayahnya. “Yasudah paman. Aku sudah memesankan minuman untukmu.”
        Gwangsoo hanya mengangguk singkat sebelum menyeruput minuman yang sudah tersaji di hadapannya.
        Tak berapa lama, hening yang menguasai Jongin dan Gwangsoo. Jongin berinisiatif memulai pembicaraan setelah teringat ponsel milik Gwangsoo. Ia berniat mengembalikan benda itu kepada pemiliknya. “Aku sangat berterima kasih pada paman.”
        Dengan sopan, Gwangsoo menerima ponsel dari tangan Jongin. “Itu sudah menjadi tugasku.” Ujar Gwangsoo. Tak lama kemudian, pria tinggi itu juga teringat sesuatu yang ia bawa. Selembar kertas yang langsung di terima Jongin ketika Gwangsoo memberikannya.
        “Ini apa paman?” Tanya Jongin yang tidak mengerti.
        “Itu data tentang tuan muda Suho. Rumah, sekolah, kampus, nomor telepon dan alamat beberapa akun di jejaring social milik tuan muda Suho.”
        Tatapan Jongin tak lepas dari deretan tulisan di hadapannya. Sesekali ia juga mengangguk ketika Gwangsoo menjelaskan.
        “Cepatlah bertemu dengan tuan muda Suho.”
        Jongin mendongak ketika Gwangsoo berbicara kembali.
        “Apa sesuatu terjadi pada hyungku?” Tanya Jongin yang mulai tak bisa menahan kepanikannya. “Hyungku baik-baik saja kan, paman?” cecar Jongin lagi.
        “Tenang tuan muda. Tuan muda Suho baik-baik saja. Namun ia sedikit menutup diri dari lingkungan luar.” Gwangsoo sedikit menenangkan diri sebelum melanjutkan cerita. “Meski tidak pernah di ceritakan, dari sikap tuan muda Suho selama tuan dan nyonya berpisah sama sekali tak bisa membohongiku.
        “Aku sangat yakin tuan muda sangat merindukan anda. Dan ku mohon anda sama sekali tidak membenci tuan muda Suho terlebih apa yang ia lakukan tadi siang.”
        Jongin tertunduk. Tangannya meremas kertas pemberian Gwangsoo.
        “Tuan muda Suho beberapa kali mengikuti kegiatan anda. Contohnya pertandingan basket beberapa waktu lalu. Tuan muda memang tidak sempat untuk menonton, tapi ia memperhatikan anda dari jauh setelah pertandingan selesai.”
        Jongin mengangkat wajahnya takut-takut. Ada hal yang sangat ingin ia katakan. Sekuat tenaga Jongin berusaha mengeluarkan pertanyaan yang menjadi bebannya selama ini. “Apa ayah membuat hyung menderita?”
        “Tidak secara langsung, tapi ku yakin tuan muda memang tersiksa berpisah dengan kalian, terutama nyonya Kim.”
        “Apa yang harus kulakukan?” Tanya Jongin dengan tatapan penuh harap bahwa Gwangsoo benar-benar bisa membantunya.
        “Aku bisa membantu mempertemukan kalian.” Ucapan Gwangsoo membuat wajah Jongin cerah seketika. “Tapi hanya sekali.” Lanjutnya yang sukses membuat Jongin kembali muram. “Karena jika tuan besar tau, beliau bisa menghentikan biaya sekolah untuk anda. Dan itu yang sangat dihindari oleh tuan muda Suho.”
        “Jika ayah menghentikan biaya untuk keperluan sekolahku, apa artinya ayah sudah tidak bisa menghalangi lagi untuk ku bertemu Suho hyung kapanpun?”
        Gwangsoo menatap Jongin khawatir. “Jangan tuan muda. Tuan muda harus menyelesaikan pendidikan sampai ke Universitas.”
        Jongin berdiri dengan kasar. “Aku tidak peduli jika tidak kuliah. Aku hanya ingin bisa bersama dengan hyungku.” Teriak Jongin penuh emosi. Semuanya memang sudah tak bisa terbendung lagi. Tujuan hidup Jongin hanya untuk Suho. Mungkin ia akan lebih memilih untuk mati dari pada tidak bisa memeluk hyungnya lagi.
        Untuk menghindari amukannya yang lebih parah lagi, Jongin memutuskan untuk meninggalkan Gwangsoo sendiri di sana.

@@@

        “Biar ku bantu, hyung.” Kyungsoo merebut paksa piring-piring yang hendak di bawa Lay menuju taman belakang.
        Mereka sedikit mengubah dekorasi halaman belakang rumah Lay sebagai perayaan kelulusan Minseok, Lay dan Jongin. Sebuah meja yang penuh dengan makanan sengaja mereka letakkan di tengah-tengah. Sedikit sentuhan cahaya lilinpun ikut menghiasi meja makan. Minseok juga tengah memasang lampu kelap-kelip untuk menambah kemeriahan pesta kecil tersebut.
        “Jongdae hyung?” seru Minseok ketika mendapati Jongdae muncul. “Maaf karena kami sedikit merusak tamanmu.” Minseok mengusap tengguknya sebagai ekspresi rasa bersalahnya.
        “Kenapa kalian tak mengajakku jika mengadakan makan malam?” ujar Jongdae sedih.
        Minseok tertawa kecil. “Tentu saja kau boleh bergabung, hyung.” Hibur Minseok. Pemuda ini menajamkan pandangan pada seseorang yang mendekat dari arah belakang Jongdae.
        Jongdae berbalik untuk memastikan apa yang dilihat Minseok. “Oh, itu temanku.” Kata Jongdae menjawab isi pikiran Minseok.
        Kyungsoo tiba-tiba muncul bergabung. Namun tatapannya tak lepas dari seseorang yang kini sudah berdiri di samping Jongdae. “Tadi ku pikir kau Sehun.” Ucap Kyungsoo polos masih menatap pemuda itu. Setelah menatap lebih intens lagi, mata Kyungsoo semakin membulat. “Astaga. Kau Luhan, Kan? Kakaknya Sehun.”
        Jongdae melirik heran ke arah pemuda di sampingnya yang memang benar Luhan.
        “Benarkah kau kakaknya Sehun?” timpal Minseok.
        “Apa kalian sudah saling kenal?” selidik Jongdae.
        Luhan menggeleng samar tanpa maksud untuk menyinggung karena ia benar-benar tak mengenal dua pemuda di hadapannya itu.
        “Mereka teman-teman Lay. Minseok dan Kyungsoo.” Jelas Jongdae.
        Luhan mengangguk sebagai tanda membalas sapaan Minseok dan Kyungsoo. Namun diam-diam ia tenggelam dalam pikirannya sendiri ketika mendengar nama Lay dan Minseok. Meski sudah berteman lama dengan Jongdae, Luhan sama sekali tidak mengenal dekat seorang Lay.
        “Ayo ngobrol sambil duduk…”
        Jongdae, Luhan, Minseok dan Kyungsoo menoleh ke arah Lay yang sudah mengambil satu tempat di meja makan. Mereka pun satu persatu duduk mengelilingi meja.
Tatapan Luhan langsung tertuju pada satu kursi kosong yang tersisa. Ia melirik Minseok dan Lay diam-diam. Tiba-tiba saja Luhan teringat Kris jika mengingat dua nama tadi. Jika kursi yang tersisa hanya satu, berarti… Luhan tak ingin melanjutkan pikirannya.
        Jongdae juga menyadari adanya satu kursi kosong di antara mereka. “Mana Jongin?”
        Pertanyaan Jongdae membuat Luhan membeku di tempatnya. Dugaannya benar dan apa yang ia takutkan terjadi. Harusnya saat ini ia melakukan hal yang sama bersama Kris dan Sehun. Tapi kenyataannya, Luhan bersama orang-orang yang kerap kali membuat Kris pulang dengan wajah penuh luka.
        Luhan berpura-pura sibuk dengan ponselnya. “Kenapa?” bisik Jongdae yang menangkap gelagat aneh dari Luhan.
        “Maaf, sepertinya aku tidak bisa berlama-lama di sini.” Ujar Luhan sambil berdiri dan menatap satu-persatu orang-orang di hadapannya.
        Jongade mengangguk dan ikut menyusul berdiri. “Yasudah, aku antar kau ke depan.”
        “Hyung, salam untuk Sehun.”
        Luhan hanya mengangguk mendengar permintaan Kyungsoo sebelum benar-benar meninggalkan tempat itu.

@@@

        Sehun mengusap kedua matanya sambil sesekali menguap. Anak bungsu di keluarga Choi ini bahkan berjalan dengan kondisi mata sedikit terpejam. Hari libur adalah jadwal Sehun untuk bisa bangun lebih siang. Tapi tidak untuk hari ini ketika sang ibu membangunkan Sehun lebih pagi dari biasanya.
        Sehun masuk ke dalam kamar Kris. Ia duduk di tepi tempat tidur sambil mengguncang-guncangkan tubuh seseorang yang bersembunyi di balik selimut. “Hyung… ayo bangun.”
        Tidak ada renspon dari orang tersebut. Sehun kembali menguap. Ia masih sangat mengantuk sekali. Matanya masih terus menutup erat meski sekarang Sehun sudah berada di kamar salah satu hyungnya itu.
        “Kris hyung…” gumam Sehun lagi dengan suara berat. Kantuknya sudah tidak dapat di bendung lagi. Sehun menjatuhkan badannya tepat di atas tubuh orang dibalik selimut tersebut.
        “Akh…” jerit suara dari balik selimut. Tapi Sehun tak merespon dan tetap memejamkan mata. “Kris…! Minggir!” kesal orang tersebut. “Sehun?” pekiknya setelah menarik selimut yang menutupi wajahnya. Dan ternyata orang itu adalah Luhan, bukan Kris seperti apa yang diperkirakan Sehun.
        Luhan berdecak kesal karena Sehun tidur sangat terlelap dengan napas teratur.
        “Sehun… kau berat.” Sekuat tenaga, Luhan menyingkirkan tubuh Sehun dari atas tubuhnya dan menyingkirkannya dengan sedikit kasar hingga tubuh Sehun berpindah ke sampingya.
        “Akh…” kembali terdengar jeritan suara Kris. Ternyata Sehun jatuh tepat menimpa tubuh Kris yang tertutupi selimut di samping Luhan. Kris menyingkirkan selimut sambil bangkit dengan kasar. “Hyung, apa yang kau…” ucapan Kris terputus ketika menyadari siapa yang menimpa tubuhnya. “Sehun?”
        “Hyung… aku masih mengantuk…”
        Kris melirik Luhan meminta penjelasan. Namun Luhan menggeleng karena ia tak tahu kenapa Sehun bisa berada di sana. Kris mengajak Luhan untuk keluar dengan lirikan mata. Luhanpun menyetujui dan mereka meninggalkan Sehun seorang diri di sana.

@@@

        Kejadian malam tadi masih terekam dengan baik di benak Suho. Pertemuan antara Jongin dan Gwangsoo. Karena curiga dengan gelagat aneh yang ditunjukkan Gwangsoo, Suho diam-diam mengikuti sopir pribadinya itu. Beruntung Suho mempersiapkan diri dengan beberapa benda yang bisa membantunya dalam penyamaran.
        Hingga Jongin pergi dari café malam itu, tak satupu yang menyadari keberadaan Suho yang sebenarnya memilih kursi tak jauh dari tempat yang dipilih Jongin. Semua pembicaraan antar Jongin dan Gwangsoopun dapat dengan jelas terdengar di telinga Suho.
        Suho menghembuskan napas keras. Terasa sesak di dadanya ketika Jongin mencetuskan keinginannya untuk bisa bertemu Suho meski itu sama saja merusak masa depannya.
        Sejak pulang dari mengintai pertemuan adik dengan sopirnya itu, Suho sama sekali tak tertidur. Ia hanya diam duduk di sofa sambil menekuk lututnya.
        “Harusnya aku yang berkorban untuk Jongin. Bukan dirinya.” Sesal Suho yang kembali mengingat pengorbanan yang akan dilakukan Jongin. Tak terasa butiran bening menyelinap keluar dari tepi matanya. Dengan sigap Suho segera menyekanya sebelum benar-benar jatuh.

@@@

        “Ayah membeli mobil baru lagi?” heran Luhan yang melangkah mendahului dua adiknya.
        Tuan dan nyonya Choi keluar dari dalam mobil yang hanya bisa ditumpangi oleh dua orang saja. “Ini untuk Kris.” Kata tuan Choi dengan bangganya.
        Sehun menatap takjub ke arah Kris. Namun Kris hanya memandang heran ekspresi Sehun yang berlebihan itu. “Kau benar-benar mendapatkannya, hyung?” Pertanyaan Sehun membuat Kris bertambah bingung. “Whoah… hebat.” Seru Sehun yang langsung berhamburan ke arah ayah dan ibunya untuk mengagumi mobil mewah yang kini menjadi milik Kris.
        Luhan menggerakkan kepala mengisyaratkan Kris untuk bergabung. Dengan enggan Kris pun mendekati Luhan.
        “Seperti keinginanmu kan, Kris?”
        Pertanyaan nyonya Choi membuat kening Kris berkerut. “Kapan aku meminta dibelikan mobil?” Tanya Kris heran.
        “Bukankah semalam kau menyebutkan mobil keinginanmu ketika ku telpon?” timpal tuan Choi untuk mengingatkan anaknya itu.
        Kris menggaruk belakang kepalanya. Ia semakin bingung dengan apa yang terjadi. “Kapan aku berkata seperti itu? Aku bahkan tidak tau kalau ayah menelponku semalam.”
        Sehun mengawasi sekitar. Tak ada yang menyadari gelagat aneh yang ditimbulkan Sehun. Semua sibuk dengan pikiran masing-masing. Terutama Kris. Jika memang tuan Choi benar-benar menelpon Kris seperti apa yang diakuinya, mungkin Kris tidak akan menyebutkan merk mobil yang semahal itu.
        Luhan melirik Kris khawatir. “Coba kau ingat-ingat lagi.”
        Kris berpikir keras. Ia teringat ketika tertidur di sofa. Saat itu Kris memang mendengar ponselnya berbunyi, tapi ia tidak merasa menjawab panggilan karena matanya sangat berat untuk terbuka. Kris menatap Luhan penuh arti seperti telah menemukan sesuatu. Lantas ia langsung melirik Sehun dengan tatapan menyelidik.
        Merasa rahasianya terbongkar, Sehun tak membalas tatapan Kris seolah tak pernah terjadi sesuatu.
        “Sehun! Mengakulah bahwa kau yang menjawab telponku dari ayah?” tuduh Kris karena semua petunjuk mengarah ke adik bungsunya itu. Saat ia terbangun memang hanya ada Sehun di sana.
        Sehun menghembuskan napas. Ia tak bisa menyembunyikan apapun dari Kris. “Tapi ferary dua pintu itu keren, hyung.” Cetus Sehun akhirnya.
        Kris siap buka mulut untuk memprotes Sehun. Namun sedetik kemudian Kris mengurungkan niat. Ia melirik Luhan yang menatapnya heran. Kris hanya menggerakan matanya ke arah mobil. Seolah bisa menangkap maksud lirikan Kris, Luhan tersenyum jahil.
        “Apa kalian merencanakan sesuatu?”
        Baik Kris ataupun Luhan seolah tak mendengar ucapan Sehun. Mereka dengan kompak berlari ke arah orang tua mereka.
        “Terima kasih ayah…” teriak Kris yang langsung berlari menuju pintu untuk pengemudi.
        “Kami ingin mencobanya.” Luhan menyambar kunci dari tangan tuan Choi lalu segera melesat ke dalam mobil. Lalu Luhan menyerahkan kunci tersebut pada Kris.
        “Hyung, kalian mau kemana?” protes Sehun yang kini telah mengetuk-ngetuk kaca mobil di samping Kris.
        “Bukankah ini keinginanmu?” ujar Kris yang secara tak langsung menyalahkan Sehun. “Aku ingin jalan-jalan dengan Luhan hyung. Jadi kau jangan merengek minta ikut karena mobil hanya untuk dua orang.”
        “Kita naik mobil Luhan hyung saja, hyung.” Sehun terus merengek agar Kris dan Luhan mau mengajaknya.
        “Tidak mau!” tolak Luhan.
        Kris menginjak gas tanpa perintah meninggalkan Sehun merengek seorang diri. “Daah Sehun…” teriak Kris untuk menggoda adiknya.
        “Ayah…” Sehun meminta pembelaan dari ayahnya.
        Namun tuan Choi seolah tak peduli. Ia merangkul istrinya untuk masuk ke dalam rumah meninggalkan Sehun seorang diri di sana.
        “Hyung jahat…” lirih Sehun yang sudah tidak bisa melakukan apapun lagi. “Aku menyesal telah meminta ferary dua pintu.”
        Sehun berbalik sambil cemberut karena ditinggal dua hyungnya serta menyesali keputusannya semalam. Sehun melangkah gontai memasuki rumah. Ia juga sesekali melirih ke arah pagar berharap Kris kembali untuk menukar mobil dengan milih Luhan sehingga Sehun bisa ikut bergabung dengan mereka. Namun hingga sampai di depan pintupun semua harapan Sehun tidak ada yang terkabul.

@@@

Senin, 08 April 2013

KRIS WITHOUT WINGS (part 4)



        “Kau bermain basket lagi, Kris?” tegur dokter Jaesuk ketika Kris dan Joongki muncul.
        Kris duduk di hadapan dokter Jaesuk, sementara Joongki memilih menyingkir ke sudut ruangan melanjutkan tugas yang biasa ia lakukan. Kris menghela napas berat.
        “Bukankah olahraga itu baik, dokter?” Tanya Kris yang secara tak langsung membela diri atas keputusannya untuk tidak meninggalkan basket seperti yang selalu dokter Jaesuk voniskan padanya.
        “Asal kau tidak menjalaninya dengan berlebihan.”
        “Dokter. Selama ini aku selalu turun di pertandingan tidak pernah lebih dari 15 menit. Apa itu berlebihan?” Tanya Kris seolah mendesak dokter Jaesuk.
        Dokter Jaesuk seperti tak mendengar ucapan Kris. Ia tampak menyibukkan diri dengan pekerjaan yang lain.
        Merasa diacuhkan, Kris berbalik untuk menatap Joongki. “Hyung, bantu aku.” Kris meminta pertolongan.
        Joongki menghembuskan napas. “Kau tidak salah, Kris.”
        “Benarkan?” seru Kris ketika mendapat pembelaan dari Joongki. Namun ketika berbalik, ia sudah mendapati dokter Jaesuk di tempat lain.
        “Cepat berbaring.” Perintah Jaesuk. Meski sedikit enggan, Kris tetap menuruti.

@@@

        Kris menutup pintu dibelakangnya, namun belum sempat Kris melangkah, pintu tersebut kembali terbuka. Kris pun berbalik dan mendapati Joongki yang baru saja menutup pintu tersebut.
        “Ku pastikan kau akan tetap bermain basket.” Ujar Joongki menyemangati sementara tangan kanannya terjulur untuk memberikan sebuah tabung berisi obat untuk Kris.
        Kris menerima tabung pemberian Joongki dengan sangat terpaksa. “Sampai kapan aku harus menggantungkan hidup dengan benda ini?”
        Joongki menyentuh pundak Kris. “Bersabarlah, Kris.” Joongki memberi jeda sesaat dalam ucapannya. “Hari itu pasti akan tiba.” Lanjutnya.
        Kris berusaha mengukir senyuman di bibirnya. “Demi kalian yang cinta padaku.”
        Joongki menertawai ucapan Kris. “Kris…” panggil Joongki ketika Kris hampir berbalik. “Ku dengar kau ingin pindah rumah?”
        Kris tampak memutar bola matanya. “Luhan nyung terlalu sering pulang malam. Bahkan tak jarang dia sampai tak pulang. Jika begitu, kapan aku bisa membuat Sehun dekat dengannya.” Tawa Kris di akhir kalimatnya.
        Joongki diam tak menanggapi bahwa semua ucapan Kris terdengar lucu. ‘Mendekatkan Sehun ke Luhan?’ Joongki berujar dalam hati. Joongki cukup banyak tahu tentang Kris dan keluarganya.
Kris terdengar frustasi dengan penyakit yang bisa saja merenggut nyawanya kapanpun. Yang Kris inginkan hanyalah Sehun tak terlalu sakit jika salah satu sayapnya hilang. Walau tak terlalu dekat dengan Luhan, Sehun selalu menganggap dua hyungnya itu sebagai sayapnya yang akan membuat Sehun tak berguna jika salah satu sayapnya itu hilang.
        “Ayo ku antar pulang.” Tawar Joongki untuk mengalihkan pikiran Kris sementara waktu.

@@@

        Baru saja Kris menutup pintu dibelakangnya, Sehun sudah lebih dulu mengejutkannya. “Apa yang kau lakukan?” tegur Kris sedikit kesal.
        “Luhan hyung tidak pulang lagi malam ini.” Cerita Sehun dengan nada sedikit di buat-buat.
        Kris hanya menghela napas. Ia menatap Sehun lembut sambil mengusap kepala adiknya itu. “Aku juga sedih kesibukan Luhan hyung membuat kita jarang bersama.”
        “Kalau begitu, malam ini aku tidur bersamamu ya, hyung.” Pinta Sehun sambil menunjukkan tatapan manjanya.
        Sontak Kris menjauhkan badannya dari Sehun. “Berhenti bersikap seperti itu.” Omel Kris membuat Sehun mengerucutkan bibirnya seketika. “Kau sudah SMA.” Lanjut Kris sebelum akhirnya benar-benar meninggalkan Sehun di sana.

@@@

        Kris, Chanyeol dan Tao bersusah payah menerobos kerumunan untuk melihat hasil ujian kelulusan mereka. Tiga pemuda bertubuh tinggi ini tak terlalu mengalami kesulitan berarti untuk melihat tulisan di papan pengumuman.
        “Yeah… Tao… Aku menang darimu.” Seru Chanyeol girang layaknya mengalahkan Tao di pertandingan bela diri terbesar.
        Tao mendengus kecewa. “Kita hanya beda satu poin.” Sinisnya yang tak terima dikalahkan oleh seorang Chanyeol. Tapi Chanyeol tetap bersorak gembira karena kenyataannya ia tetap mengungguli Tao. “Kris…” tegurnya karena dilihat Kris masih mencari-cari. Mungkin Kris belum menemukan namanya.
        “Apa kau belum menemukan namamu?” Tanya Chanyeol mewakili pertanyaan Tao yang belum sempat diutarakannya.
        “Iya…” ujar Kris singkat namun masih terus menajamkan mata untuk mencari namanya. “Apa jangan-jangan aku tak lulus?” lanjutnya dengan nada pesimis.
        Tao dengan sangat berani memukul kepala Kris. “Cari dulu yang benar.” Perintah Tao galak sebelum Kris yang lebih dulu menatap galak padanya.
        “Aku akan bantu mencarikan.” Putus Chanyeol dengan senang hati.
        “Kris…” panggil seseorang. Namun tak hanya Kris yang menoleh, Chanyeol dan Tao pun ikut menoleh karena mereka sangat mengenal baik siapa sang pemilik suara.
        “Bisa ke ruanganku?” Tanya pak guru Sukjin.
        Kris hanya mengangguk lalu berniat mengikuti langkah kaki Sukjin, namun Chanyeol lebih dulu menahan tubuh Kris. “Apa?” desis Kris.
        “Kau jangan khawatir. Ku dengar tahun ini murid sekolah kita lulus seratus persen.” Bisik Chanyeol di tengah-tengah Kris dan Tao. Wajah Kris cerah seketika. Tao pun ikut tersenyum atas kebahagiaan Kris. Tidak hanya Kris, tapi kebahagiaan mereka bersama.

@@@

        “Jongin…” suara Minseok menggema di sepanjang koridor hanya untuk menghentikan langkah Jongin.
        Lay muncul dari arah lain. Ketika mendapati Minseok melintas di hadapannya, Lay segera menyusul karena di ujung koridor sana ia juga melihat sosok Jongin.
        “Kenapa buru-buru?” Tanya Minseok khawatir ketika sampai di hadapan Jongin.
        Jongin hanya tersenyum lembut menanggapi pertanyaan temannya itu. “Tidak.”
        “Hyung…” Kyungsoo muncul dari kejauhan dan langsung mendekati Jongin yang bersama Minseok dan Lay. Sehunpun mengikuti Kyungsoo dari belakang.
        “Selamat atas kelulusan kalian.” Ucap Sehun sebelum Kyungsoo mengucapkan lebih dulu dari padanya.
        “Terima kasih Sehun.” Lay yang menjawab mewakili Minseok dan Jongin. Ia pun menjadi yang pertama memeluk Sehun membuat adik dari musuh besarnya itu menegang. Minseokpun ikut memeluk Sehun dan Lay sebagai tanda suka cita mereka. Disusuk Kyungsoo kemudian.
        Tersisa Jongin. Namun pelukan lebih dulu terlepas. Terlalu banyak yang ia pikirkan saat ini.
        “Hyung, selamat.” Seru Sehun lagi sambil tersenyum khusus untuk Jongin karena tersisa pemuda berkulit sedikit gelap itu yang belum merespon ucapan selamat darinya.
        Seketika Jongin menjadi serba salah. Minseok dengan jahilnya sedikit mendorong tubuh Jongin ke arah Sehun. Dengan kakunya Jongin dan Sehun saling berpelukan dan itu hanya terjadi selama beberapa detik. Meski sering bersama, namun hubungan Jongin dan Sehunlah yang paling dingin.
        “Hyung ayo rayakan.” Usul Kyungsoo yang telah terbawa suasana bahagia semua kakak kelasnya yang merayakan kelulusan mereka hari ini.
        “Bagaimana kalau di rumahku?” tawar Lay yang sangat menyetujui saran dari Kyungsoo.
        “Oke, nanti malam.” Putus Minseok yang langsung di balas anggukan dari Kyungsoo dan Lay, lalu di susul Jongin tak lama setelah Minseok meliriknya.
        “Sehun, kau ikut, kan?” Tanya Kyungsoo penuh harap.
        Sehun melirik satu-persatu pemuda di hadapannya. Ia sangat ingin ikut, tapi di sisi lain ia juga sangat ingin mendampingi Kris yang juga menghadapi kelulusan hari ini.
        “Sehun…” tegur Lay membuyarkan lamunan Lay.
        Sehun mendongak. “Maaf Lay hyung.” Sesalnya. Hanya dengan kata ‘maaf’ saja sudah bisa menjawab pertanyaan bahwa Sehun tidak bisa ikut bergabung.
        “Kenapa?” Suara Kyungsoo terdengar kecewa.
        “Ayah, Ibu, Luhan hyung dan…” Sehun hampir saja menyebut nama Kris. Sebenarnya ia sangat ingin mengakui dan membanggakan Kris di hadapan teman dan kakak kelasnya tersebut. Tapi Kris selalu saja melarang. Dan jika bercerita, Sehun akan menyebut nama Luhan meski sebenarnya Krislah yang tengah ia bicarakan. “Ayah, ibu dan Luhan hyung…” ralat Sehun sebelum yang lain menatapnya penuh selidik. “…telah berjanji akan pulang dan makan malam bersamaku.”
        Kyungsoo menyentuh pundak Sehun ketika pemuda itu mengakhiri ucapannya. “Tak apa Sehun.” Ujarnya tak keberatan. Kyungsoo sangat mengerti kondisi Sehun yang sering tinggal sendiri di rumah.
        “Salam untuk mereka. Aku sangat ingin mengenal hyungmu.” Kata Minseok menimpali agar Sehun tak semakin kecewa.
        “Nanti akan ku kenalkan.” Janji Sehun. ‘Setelah Kris hyung mengijinkanku untuk mengakuinya sebagai hyungku di depan kalian.’ Lanjut Sehun namun hanya sanggup ia katakan dalam hati saja.

@@@

        Sukjin menatap tiga muridnya dengan seksama. Lalu menghembuskan napas detik berikutnya. Sukjin baru saja hendak membuka mulut namun lebih dulu di sambar oleh Kris, satu-satunya murid yang berani melakukan itu padanya.
        “Selamat, pak.”
        Chanyeol dan Tao saling melempar pandangan bingung mendengar ucapan Kris. Terlebih Sukjin yang bisa saja pingsan di tempat jika tidak terbiasa menghadapi Kris. Chanyeol mengisyaratkan Tao melalui mata untuk menegur Kris.
        Tao menyenggol tangan Kris dan langsung direspon oleh pemuda tinggi itu. “Kris, kita yang lulus. Kenapa kau mengucapkan selamat pada pak Sukjin?” ujar Tao mengingatkan dengan cara berbisik. Selalu saja sulit menebak maksud pikiran Kris.
        “Kalian tidak boleh egois.” Seru Kris melirik Chanyeol dan Tao bergantian karena ia berada di tengah-tengah. “Kitalah yang seharusnya mengucapkan selamat karena pak guru Sukjin telah berhasil membawa kita lulus ujian sekolah.”
        Sukjin hanya diam di kursinya. Sebenarnya itu hanya cara untuk menutupi rasa terharunya atas ucapan Kris tadi. Tak di sangka, anak nakal yang sempat tidak naik kelas itu bisa bicara sedemikian rupa yang bahkan tidak pernah terpikirkan oleh siapapun.
        “Saya mengucapkan selamat untuk bapak.”
        Ragu-ragu Sukjin menyambut uluran tangan Kris. Seperti biasa, Chanyeol dan Taopun melakukan hal yang sama setelah itu.
        “Setelah ini, bapak tidak akan terserang migraine lagi karena kami sudah tidak bersekolah lagi di sini.” Timpal Chanyeol membuat Sukjin semakin tak bisa membalas perkataan tiga siswanya.
        “Jadi sudah tidak ada yang akan bapak marahi lagi.” Tao tak ingin ketinggalan.
        “Kalian boleh pergi.” Seru Sukjin dan cepat-cepat berbalik seperti menyembunyikan sesuatu.
        Chanyeol dan Tao tak menyia-nyiakan kesempatan itu untuk segera pergi dari ruangan Sukjin. Namun tidak untuk Kris. Pemuda itu masih menatap nanar punggung Sukjin yang sudah jauh. ‘Ku mohon jangan seperti itu. Bencilah padaku seperti selama ini.’ Gumam Kris. Dadanya langsung terasa sesak jika memikirkan bahwa ada seseorang lagi yang menyayanginya.
        “Kris…” desis Tao di telinga Kris sambil menarik lengan Kris untuk bangkit, di bantu juga oleh Chanyeol.

@@@

        Jongin berhenti tepat di tengah-tengah gerbang sekolahnya. Ia menghirup udara dalam-dalam layaknya seorang tahanan terbebas dari penjara. Jongin berbalik lalu mendongak untuk menatap papan nama sekolah yang dengan megahnya melintang di atas pagar.
        “Setelah ini tidak ada lagi yang bisa mengancamku untuk bisa bertemu denganmu.” Tekad Jongin. “Aku akan menemuimu Suho hyung.” Seru Jongin untuk menyemangati dirinya sendiri.
        Ayahnya memang masih membiayai sekolah Jongin. Namun ketika telah lulus SMA, Jongin sama sekali tak peduli bahwa ayahnya tidak akan membiayai kuliahnya karena melanggar janji. Toh, ia bisa bekerja untuk membiayai kuliahnya sendiri. Yang Jongin inginkan hanyalah bertemu dengan hyung tersayangnya, Suho.
        Seperti terlahir kembali, Jongin dengan pasti melangkah menuju halte bis yang bisa membawanya pulang. Banyak yang harus ia siapkan setelah ini selain untuk perayaan malam nanti di rumah Lay.
        Cukup lama Jongin menunggu bis yang akan ia tumpangi. Ia hanya melebarkan pandangan ke segala arah untuk mengusir kebosanan. Ternyata ia melihat sebuah motor yang sangat dikenalnya melintas. Jongin menatap kepergian motor sport yang tak lain adalah milik Kris.
        “Apa ia lulus sekolah juga hari ini?” Jongin tersenyum meremehkan namun pandangannya tak terlepas dari jalan yang melenyapkan sosok Kris. Tak jauh dari sana ada sebuah mobil mewah yang tak kalah familiar di ingatannya.
        Jongin menajamkan penglihatannya. Entah apa yang membawa Jongin melangkah mendekati mobil mewah itu. Semakin lama semakin jelas bentuk fisik mobil itu. Dan semakin terbukti bahwa pikiran Jongin tak meleset adalah masuknya seorang pria bertubuh tinggi.
        “Paman Gwangsoo!” teriak Jongin yang kini sudah berlari kencang untuk menghentikan pria itu masuk ke dalam mobil. “Paman, ini aku Jongin…” teriak Jongin yang tak cepat putus asa.
        Jongin pun tiba bersamaan ketika pria yang diyakininya bernama Gwangsoo tersebut menutup pintu mobil. Jongin mengetuk kaca dari luar. Gwangsoo yang sedang menelpon langsung melupakan ponselnya ketika menyadari siapa yang baru saja mengetuk kaca mobil yang ia kendarai.
        “Tuan muda Jongin.” Seru Gwangsoo yang langsung keluar untuk menghampiri Jongin.
        “Paman, apa kau bersama Suho hyung?” cecar Jongin yang langsung mengintip keadaan dalam mobil meski Gwangsoo belum menjawab pertanyaannya.
        Gwangsoo sepertinya tidak akan menjawab pertanyaan Jongin karena di belakang Jongin, Suho sudah berdiri dan memberikannya tatapan mengancam. Gwangsoo tidak akan bisa membantah ketika Suho menyuruhnya untuk masuk ke dalam mobil meski hanya lewat tatapan mata.
        “Maaf tuan muda Jongin.”
        Jongin menoleh dan tersentak ketika Gwangsoo melemparkan ponselnya tanpa sepengetahuan Suho. Ketika Jongin kembali melihat ke arah mobil, ternyata Suho sudah berada di dalam. Jongin tak menyia-nyiakan situasi. Dengan kasar ia menggedor kaca mobil agar Suho mau membukanya.
        “Hyung… keluarlah…” teriak Jongin yang tak digubris sedikitpun oleh Suho.
Jangankan merespon, Suho bahkan sama sekali tak menoleh ke arah Jongin. Ia malah menyuruh Gwangsoo untuk membawanya pergi mobil dari sana dan meninggalkan Jongin seorang diri menghadapi kerinduannya pada Suho.
        “Hyung…!” teriak Jongin frustasi ketika mobil Suho semakin jauh. Ia sudah tak mempedulikan tatapan orang-orang yang meliriknya tajam.
Jongin memungut ponsel milik Gwangsoo yang ternyata gagal di tangkapnya. Pemuda ini menatap intens alat komunikasi di tangannya ini. “Apa itu artinya paman Gwangsoo…” Jongin hanya tersenyum tanpa melanjutkan ucapannya. “Terima kasih paman.” Gumam Jongin sambil tersenyum yang semakin membuat orang-orang yang melihat kejadian tadi menganggap Jongin aneh. Tentu saja Jongin tidak akan pernah mempedulikan itu. Yang ia pedulikan hanyalah Suho. Meski sesaat, Jongin sangat bahagia bisa melihat keadaan hyungnya yang terlihat cukup baik. Setidaknya di mata Jongin.
        Tapi Jongin tidak tau kalau keadaan Suho sebenarnya tidak sebaik apa yang ia lihat. Suho cukup terpukul dan menyesali perbuatannya meninggalkan Jongin begitu saja di pinggir jalan. Terbukti ketika Suho kerap kali menengok ke belakang hanya untuk memastikan keadaan Jongin sampai sosok adiknya itu tidak terlihat lagi di matanya.

@@@

        “Hyung…” teriak Kris yang masih mengenakan seragam sekolahnya ketika berlari menghampiri Luhan.
        Luhan sendiri langsung mmebatalkan niat membukan pintu mobil ketika tahu siapa yang baru saja memanggilnya. “Kenapa kau bisa di sini?” sahut Luhan dengan tatapan heran.
        Kris menggaruk belakang kepalanya yang tak gatal. “Aku tau hyung pasti tak pulang lagi malam ini.” Ujar Kris sedih membuat Luhan kontan menatap adiknya dengan raut penyesalan.
        Luhan sadar, hari ini Kris baru saja menghadapi kelulusannya. Tapi kesibukannya kuliah yang membuat Luhan tak memiliki waktu lebih banyak lagi untuk adik tirinya tersebut.
        Luhan mengembuskan napas sebelum menyentuh pundak Kris yang pastinya lebih tinggi darinya itu. “Aku akan bolos satu mata kuliah setelah ini. Kau boleh minta apapun dan kemanapun dari ku.” Seru Luhan yang seperti ingin menebus waktu yang selama ini hilang untuk Kris. Namun setedik kemudian, wajah Luhan langsung terlihat suram. “Tapi hanya tiga jam.” Lanjut Luhan dengan nada lirih sesaat setelah ia melihat jam.
        Kris tertawa melihat wajah penuh rasa bersalah dari Luhan. “Hyung, tak perlu berlebihan.” Kris menepuk pelan pundak Luhan. “Jika kau bersedia memelukku, itu sudah lebih dari cukup.”
        Luhan sudah mendekap Kris bahkan tepat ketika Kris mengakhiri ucapannya. “Maaf, aku tidak bias menjadi hyung yang baik untukmu.”
        Kris balas memeluk Luhan bahkan lebih erat. “Kau hyung terbaikku.” perlahan Kris melepaskan pelukannya. “Tapi kalau aku minta di traktir makan, apa kau keberatan, hyung?” Kris menatap Luhan penuh harap.
        “Bukankah kau hanya meminta aku memelukmu?” sungut Luhan membuat Kris terdiam dan menyesali perbuatannya tadi. Luhan pun tertawa membuat Kris menjadi semakin bingung. “Aku akan mentraktir makanan apapun yang kau suka.” Lanjut Luhan akhirnya membuat Kris tesenyum.

@@@

Sabtu, 06 April 2013

KRIS WITHOUT WINGS (part 3)



        Kris memasuki kamar sambil memegangi dada kirinya yang terasa cukup sakit. Dengan satu tangan, Kris berusaha mencari tabung berisi obat yang bisa membantu mengurangi rasa sakitnya dari dalam tas. Wajah Kris memucat ketika mendapati tabung tersebut sudah kosong.
        “Hyung…” Sehun menerobos masuk ke dalam kamar Kris. “Kau berkelahi lagi?” selidiknya.
        Kris menyembunyikan tabung kosong tersebut dari Sehun. Ia juga berusaha memaksimalkan senyuman di depan adiknya itu karena hanya Sehun yang tidak mengetahui tentang penyakit yang dimilikinya. “Tidak. Oiya, apa Luhan hyung sudah pulang?” Kris buru-buru mengalihkan pikiran Sehun.
        “Kris…” Luhan muncul dengan tergesa-gesa. Namun ia segera menguasai diri ketika menyadari ternyata Sehun juga berada di sana. “Kau di sini juga?”
        Sehun tak menjawab. Ia kembali melirik Kris. “Hyung, kau belum jawab pertanyaanku.” Tuntut Sehun.
        Kris tampak berfikir apa yang Sehun tanyakan sebelum Luhan muncul. “Nanti saja kita bicara lagi sekalian kita bertanding play station.” Rayu Kris agar Sehun mau melupakan hal itu.
        “Bukankah kau sedang belajar?” Luhan mengingatkan karena ia sempat melihat tumpukan buku pelajaran Sehun di meja ruang tivi. “Selesaikan dulu tugasmu.” Ujar Luhan dengan maksud lain untuk menyuruh Sehun keluar dari kamar Kris.
        “Tepati janjimu.” Sinis Sehun untuk mengingatkan Kris sebelum akhirnya menyetujui untuk keluar dari kamar itu.
        Kris akhirnya bisa bernapas lega lalu membaringkan tubuhnya di ranjang. Luhan juga buru-buru menghampiri Kris. “Kau baik-baik saja?” Tanya Luhan khawatir.
        “Obatku habis, hyung.” Keluh Kris masih memegangi dadanya.
        Luhan merebut tabung kosong di salah satu tangan Kris. Ia menatap tabung itu intens. “Ternyata benar.” Gumam Luhan pelan namun masih terdengar di telinga Kris. “Joongki menghubungiku. Dia bilang kau salah membawa tabung. Bukan yang bertutup merah, tapi harusnya kau membawa yang tutupnya biru.”
        Kris membulatkan matanya. “Tapi selama ini aku selalu membawa yang merah.” Belanya.
        Luhan menggaruk tengkuknya dengan tatapan sedikit merasa bersalah. “Harusnya aku ikut menemanimu kemarin.”
        “Hyung, jangan menyalahkan dirimu.” Protes Kris yang tak ingin Luhan merasa bersalah akibat keteledorannya. “Aku juga salah. Harusnya aku mendengarkan ucapan Joongki dengan baik. Tapi aku meremehkannya.” Sesal Kris.
        “Sudahlah… lebih baik kau minum ini.” Luhan tak ingin bertambah banyak lagi penyesalan. Ia mengeluarkan beberapa butir obat yang ia bawa di atas telapak tangan Kris. Luhan juga mengambilkan gelas di meja belajar Kris.
        Kris menghabiskan air lalu menyodorkan kembali gelas itu kepada Luhan. “Memangnya obat apa yang ku bawa? Apa artinya aku akan lebih cepat mati? Aku tidak mau, hyung. Aku belum membuat Sehun lebih dekat padamu.” Tanya Kris asal.
        Luhan menjitak kepala Kris. “Jaga ucapanmu!” omelnya. “Kau tak perlu memikirkan masalah Sehun.”
        Kris mendengus kesal sambil mengusap puncak kepalanya. “Pantas saja Sehun selalu menjauhimu. Ternyata ini yang selalu dia rasakan.” Cibir Kris.
        “Diam kau!” Luhan tak mau kalah, tapi ia juga tak ingin bertengkar lebih lanjut dengan Kris.

@@@

        Luhan hendak ingin membuka pintu mobil, namun ia membatalkan niat ketika melihat Kris muncul. “Mau ku antar sekolah?” tawarnya.
        Kris menoleh dan tersenyum sambil menarik ke atas resleting jaketnya. “Terima kasih hyung. Kau bisa terlambat kuliah. Kau tenang saja, aku sudah lebih baik.”
        Luhan tak memaksa. Ia hanya memperhatikan ketika motor sport milik Kris meluncur. Luhan menghela napas berat. Kondisi Kris semakin mengkhawatirkan.
        “Hyung!” tegur Sehun membuat Luhan sedikit terlonjak.
        “Sehun! Apa yang kau lakukan?”
        “Aku adikmu juga kan?” Tanya Sehun dengan nada manja.
        “Lalu?” Luhan merespon sedikit malas.
        “Aku boleh ikut mobilmu sampai sekolah, kan?” Sehun berkata masih dengan nada yang dibuat semanja mungkin.
        Luhan menggerakkan kepala sebagai tanda ia mengabulkan permintaan Sehun. “Masuklah…”
        “Terima kasih, hyung.” Seru Sehun senang dan langsung menuju kursi penumpang di samping kursi pengemudi.
        Luhan tak buru-buru masuk ke dalam mobil. Bukannya tidak senang ketika Sehun mendekatinya. Tapi yang menjadi beban adalah Kris. Adiknya yang paling tinggi itu lah yang sangat ingin membuat Sehun dekat dengannya karena Kris sangat mengetahui kondisinya. Lebih baik Sehun selalu menghindarinya dari pada ia juga harus kehilangan Kris.
        “Hyung, cepat.” Tegur Sehun dari dalam mobil membuat lamunan Luhan buyar seketika. “Nanti kita terlambat.” Lanjut Sehun yang mulai tak tenang karena waktu semakin mepet.
        “Iya.” Jawab Luhan singkat sebelum akhirnya masuk ke dalam mobil.

@@@

        “Apa sore nanti Minseok mengajak sparing lagi?”
        Kris menoleh mendengar pertanyaan Tao. Ia tersenyum karena sepertinya Tao sudah mengerti maksud kata ‘sparing’ yang sebenarnya menurut kamus versi Kris.
        “Aku tak sabar untuk mencubit pipi Minseok yan tembam itu lagi.” Gumam Tao sambil menggerak-gerakkan kedua jarinya seolah benar-benar sedang mencubit pipi Minseok seperti apa yang ia bayangkan.
        “Apa aku juga harus membawakan makanan untuk Lay? Jadi aku bisa menendang perutnya.” Seru Chanyeol penuh semangat.
        “Kenapa tidak sekalian saja kau ajak Lay untuk piknik?” saran Kris asal dan tak di sangka Chanyeol justru menanggapi ucapan Kris dengan serius.
        “Ide bagus.”
        Plak! Kris memukul kepala Chanyeol menggunakan buku. Tao hanya menggeleng sebelum akhirnya menyusul Kris yang sudah berjalan lebih dulu.
        Tao mengejar Kris dan mensejajarkan langkahnya. “Lalu bagaimana?”
        Kris menoleh sambil terus berjalan. “Jangan sore ini. Aku harus latihan basket.” Ujar Kris. “Aku juga sudah memberi tahu pada Jongin.”
        “Kau main basket, Kris?” seru Chanyeol yang entah muncul dari mana.
        “Kenapa memangnya?” balas Kris yang merasa di remehkan, tapi Chanyeol tak terlalu ambil pusing dengan tanggapan Kris.
        “Boleh aku ikut bergabung?” pinta Chanyeol penuh harap.
        Kris melirik Tao yang berada di sisi lain dari Chanyeol. Ia menatap Tao penuh Tanya. Kalau di artikan, Kris ingin bertanya apakah Tao juga ingin bergabung di klub basketnya?
        Tao melambaikan tangan tanda ia menolak. “Aku tidak bisa main basket.”
        Kris kembali menatap Chanyeol. “Kita bertemu di sekolah.”
        “Oke…” girang Chanyeol karena Kris mengabulkan permintaannya.

@@@

        Jongin menghentikan motornya tepat di depan sebuah rumah besar. Ia berlari turun dan mendekati pagar. Di sana tertera jelas bahwa rumah itu akan di jual. Jongin hanya mampu mengepalkan dua tangannya untuk menahan emosi.
        “Apa ayah benar-benar ingin memisahkan aku dengan Suho hyung?” gumam Jongin kecewa. Ia menatap rumah tinggi itu dari luar pagar. Terlalu banyak kenangan bersama Suho di sana. “Hyung, aku akan merebutmu kembali dari tangan ayah.” Tekad Jongin, lalu pergi dari sana.

@@@

        Terlibat perkelahian dengan Minseok, Lay dan Jongin tidak bisa terhindarkan lagi di kehidupan Kris. Di tambah ia juga telah mendapatkan dua partner yang memiliki satu misi seperti Chanyeol dan Tao. Meski terkadang Kris masih sempat untuk berlatih basket sesuai jadwal yang telah disepakati dua belah pihak. Terutama untuk Minseok dan kawan-kawan. Mereka tidak protes jika Kris lebih memilih latihan basket, karena Minseok juga tergabung di sebuah klub sepakbola bersama Lay.
        Rutinitas tersebut telah terlaksana bahkan sampai dua tahun kemudian. Setiap tidak ada jadwal ‘sparing’ denga Minseok, Kris akan berlatih basket bersama Chanyeol yang kini juga sudah bergabung. Kecuali Tao yang lebih memilih latihan bela diri jika tidak melakukan ‘sparing’ seperti yang diistilahkan Kris. Begitu pula sebaliknya, jika mereka tidak memiliki kegiatan lain seperti latihan basket, bela diri atau sepakbola, ‘sparing’ pun tak akan terhindarkan.

@@@

        Kris masuk ke dalam kamarnya sambil memegangi salah satu pipinya. Tentu saja karena ia habis ‘sparing’ dengan Chanyeol dan Tao melawan Minseok, Lay dan Jongin. Kris merogoh saku celananya dan mengeluarkan ponsel untuk menghubungi Luhan.
        “Hyung… kau tidak pulang malam ini?” Tanya Kris sambil berusaha menahan rasa kecewanya jika Luhan membenarkan pertanyaannya tadi.
        Di tempatnya berada, Luhan baru saja masuk ke dalam mobil yang masih terparkir di halaman kampusnya. Padalah saat itu hari sudah beranjak malam. “Maaf, Kris.” Lirih Luhan. Dan jawaban Luhan telah mewakili semua kenyataan yang sebenarnya.
        Kris menghela napas berat. “Lebih baik kita pindah ke rumah yang lebih dekat dengan kampusmu. Aku tak rela melihatmu hidup sendiri.”
        Luhan hanya tersenyum mendengar kekhawatiran adiknya. “Jangan egois, Kris. Kau juga harus pikirkan Sehun.”
        “Kau lupa? Sehun bersekolah di SMA Sun Moon.” Seru Kris mengingatkan.
        Demi persahabatannya dengan Kyungsoo, Sehun lebih memilih bersekolah di SMA Sun Moon yang notabene berisi 3 orang musuh besar kakaknya, Kris. Tapi justru Kris sangat mendukung meski kerap kali ia selalu menekankan pada Sehun untuk tak membongkar jatidirinya bahwa Sehun adik dari seorang Choi Kris Woo.
        “Lalu kau?” Luhan juga mengkhawatirkan Kris.
        “Aku sudah kelas tiga dan bulan depan aku ujian kelulusan. Jadi tidak lama lagi kita bisa pindah rumah.” Ujar Kris yang semudian sedikit menyesali ucapannya. Hati kecil tak bisa berbohong. Kris sebenarnya sangat tidak ingin pindah rumah. Alasan lain karena Chanyeol dan Tao yang merencanakan untuk kuliah di kampus yang tak jauh dari tempat tinggal mereka sekarang.
        “Terserah kau saja. Nanti aku akan bicara pada ayah dan ibu.” Ujar Luhan mengalah. “Oiya, dokter Jaesuk sudah merindukanmu.”
        Kris sangat malas jika membahas dokter Jaesuk. “Aku akan menemuinya besok setelah bertanding basket.”
        Luhan siap buka mulut untuk memprotes Kris tentang keputusannya yang akan bertanding basket. Tapi Luhan lebih memilih bungkam karena percuma saja jika melarang Kris. Luhan hanya ingin Kris tak pernah menyesali apa yang dilakukan adiknya itu.

@@@

        Dengan santainya Kris memasuki lapangan basket. Ia juga telah mengenakan seragam kebanggaan klub basketnya tersebut. Di dalam sana pertandingan sudah di mulai. Kris mencari bangku kosong di tempat klubnya berada. Tak jauh dari sana seseorang berbadan atletis berjalan mendekati Kris yang kini sedang memakai sepatu.
        “Dari mana saja kau, Kris?” tegur pria yang tampak seperti pelatih klub basket Kris.
        Kris sama sekali tak menoleh, ia sibuk memasangkan sepatu di kakinya. “Percuma aku datang tepat waktu, toh hyung tidak akan menurunkanku dari awal pertandingan, kan?” serang Kris dengan pertanyaan yang bisa membuat pelatihnya bungkam.
        “Jongkook hyung.”
        Pria bertubuh atletis itu menoleh ketika mendengar seseorang memanggilnya. Ternyata Joongki. Pemuda itu menatap Jongkook untuk memberi pengertian tentang kondisi Kris. Jongkook hanya mengangguk mengerti lalu kembali ke tepi lapangan.
        Joongki duduk di samping Kris sambil mengelap keringat di wajahnya dengan handuk kecil. “Cepat lakukan pemanasan.” Joongki mengingatkan Kris.
        Kris hanya mengangguk singkat sebelum akhirnya berdiri dan mulai melakukan peregangan.

@@@

        “Itu Kris?” seru seseorang yang membuat Sehun menoleh seketika. Ia kini memang berada di sebuah lapangan indoor untuk melihat sebuah pertandingan basket. Dan tak di sangka Sehun justru akan melihat permainan basket dari kakaknya sendiri.
        Pemuda yang berteriak tadi adalah Minseok yang sedang memberi tahu Kyungsoo tentang sosok Kris yang kerap kali ia ceritakan kepada adiknya itu.
        “Yang tinggi itu?” Tanya Kyungsoo memastikan dan Minseok hanya mengangguk membenarkan pertanyaan adiknya itu.
        Kris memang sedang berdiri di tepi lapangan dan siap untuk turun bertanding. Sehun semakin tidak tenang dan beberapa kali melirik Kyungsoo, Monseok serta Lay dengan hati-hati.
        “Kau kenapa?” selidik Lay yang mendapat sinyal aneh dari Sehun.
        Sehun berusaha bersikap setenang mungkin. “Aku mau ketoilet sebentar hyung.” Serunya beralasan. Sebelum ada yang menahannya, Sehun segera melarikan diri dari sana.
        “Luhan hyung kenapa tidak bilang kalau Kris hyung akan bertanding basket?” gumam Sehun sedikit kecewa ketika telah berada pada jarak yang cukup jauh dari Kyungsoo dan dua kakak kelasnya itu.
        Sehun menghela napas berat untuk menghilangkan sedikit rasa sesak yang membuncah di dadanya. Ia sama sekali tak suka dengan keadaan seperti ini. Biar bagaimanapun, Kris adalah kakaknya. Sementara Kyungsoo adalah sahabat terbaiknya. Sepertinya ia akan terus bertahan dengan keadaan seperti ini.
Sehun menoleh. Dari tempat ia berdiri sekarang masih bisa untuk menyaksikan sisa pertandingan. Sementara ini klub yang dibela Kris sedikit tertinggal poin dari lawannya.
        Sementara itu, Kris terlihat melakukan pemanasan terakhirnya sebelum benar-benar masuk ke dalam lapangan menggantikan posisi Chanyeol. Sedetik kemudian, Kris telah tenggelam dalam pertandingan.
        Kris terlihat seperti kesatuan tak terpisahkan dengan bola basket yang kini di tangannya. Bola itu sulit sekali di rebut oleh lawan-lawannya. Kris meliuk-liuk dengan lincah menghindari serangan lawan yang ingin merebut bola darinya. Sampai akhirnya Kris berhenti ketika berhadapan dengan pemain terakhir dari kubu lawan.
        “Jongin…?” seru Kris tak percaya, tapi ia tetap memprioritaskan focus utamanya untuk bola yang siap di rebut Jongin.
        “Ternyata kau kartu terakhir tim ‘running boy’?” ujar Jongin dengan nada meremehkan.
        Kris yang lebih tinggi dari Jongin tak menyia-nyiakan kesempatan di waktu yang cukup sempit ini untuk segera melesatkan bola ke dalam ring. Tembakan tiga poin yang sangat indah.
        “Maaf, itu bukan mauku.” Desis Kris tak kalah meremehkan.

@@@

        Suho tak henti-hentinya menatap pesan masuk pada akun e-mailnya yang ia buka melalui ponsel. Ketika sampai di halte tujuannya, Suho langsung melompat turun dari bus dan berlari menyeberang jalan. Di sana telah menunggu sebuah mobil mewah.
        Suho menghempaskan tubuhnya di kursi belakang mobil mewah tersebut. “Paman, kita ke stadion.” Perintahnya.
        “Baik tuan muda.” Ujar pria bertubuh tinggi itu dari balik kemudinya.
        Suho yang selama perjalanan sedikit gusar, langsung melompat turun ketika Gwangsoo menghentikan mobil di parkiran lapangan basket. Suho mengedarkan pandangan. Sangat banyak orang yang berlalu lalang di sana. Pemuda tampan itu membeku ketika menemukan seseorang yang memang menjadi target pencariannya.
        Siapa lagi kalau bukan Jongin yang saat itu terlihat terburu-buru diikuti Minseok, Lay, Kyunsoo dan Sehun juga di belakang Jongin. Di saat yang bersamaan, Sehun seperti menyadari kehadiran Suho yang membuat kakak kandung Jongin tersebut langsung merunduk untuk bersembunyi.
        Suho tetap mengawasi Jongin dari jauh. Dan seharusnya ia juga tak perlu khawatir karena Sehun bukan melihat ke arahnya, tapi menoleh ke arah Kris yang juga berada di sekitar sana. Tentu saja Kris dan Suho tidak saling kenal.
        Begitu di rasa aman, Suho kembali masuk ke dalam mobil. “Kita pulang.” Perintahnya yang tak mendapat penolakan dari sang sopir.

@@@

        Kris menatap nanar sosok Sehun yang semakin menjauh. Sehun juga sesekali masih mencuri-curi pandang untuk melirik hyung tersayangnya itu. Selagi Kris masih bisa melihatnya, Sehun tersenyum bangga karena Kris tadi memenangkan pertandingan meski secara tak langsung Sehun berada di pihak lawan.
        “Kris…”
        Kris tersentak dan langsung menoleh ke arah sumber suara yang tadi memanggilnya. “Joongki hyung? Ternyata kau?”
        “Kau tak melupakan jadwalmu setelah ini, kan?” Pertanyaan Joongki membuat Kris mendengus malas. “Dokter Jaesuk sudah sangat merindukanmu.” Bisik Joongki untuk menggoda Kris.
        “Jangan seperti Luhan hyung.” Protes Kris karena hanya Luhan yang kerap kali berkata bahwa dokter Jaesuk merindukannya.
        Joongki tertawa puas karena berhasil menggoda Kris. “Sudahlah… kali ini akan ku pastikan kau tidak membawa tabung yang salah.”
        Kris melirik tajam ke arah Joongki. “Jadi selama ini…” Kris tak melanjutkan ucapannya karena sedetik kemudian Joongki terlihat salah tingkah.
        “Maaf, aku janji tak akan menjadi yang ke-empat kali.” Joongki nyengir sambil mejunjukkan jari tengah dan telunjuk di kedua tangannya. “Kita naik mobilku saja ya. Dan pulangnya akan ku antar lagi.” Rayu Joongki semaksimal mungkin karena tatapan Kris sudah seperti ingin membunuhnya.
        Kris masih mendengus kesal.
        “Ayolah Kris…” rayu Joongki lagi, kali ini sambil menarik tubuh Kris yang lebih tinggi darinya. Meski masih terlihat kesal, Kris pun tetap menurut kemana pun Joongki akan membawanya.

@@@