Selasa, 16 April 2013

KRIS WITHOUT WINGS (part 8)



        “Sial!” Chanyeol memukul stir mobilnya. “Kris pasti membunuh kita jika tau kita memukul Luhan dan Sehun seperti itu.” Sesalnya.
        Tao menyandarkan badannya lalu menghembuskan napas dengan kasar. “Jangan membuatku semakin merasa bersalah.” Protes Tao. “Kau pikir aku tidak menyesal melakukan itu?”
        Chanyeol siap untuk kembali buka mulut, namun segera di tahannya. Suasana sedang tidak enak, Chanyeol tak ingin semakin menambah keruh keadaan. Chanyeol bungkam, mengalah. Jika keadaan sudah seperti semula, ia akan membicarakan baik-baik dengan Tao. Ia juga akan memikirkan cara untuk meminta maaf pada Kris jika mereka bertemu.
        “Tapi, kenapa Luhan hyung dan Sehun seperti berada di pihak Minseok?” Tanya Tao heran. Ia merasa janggal dengan kejadian tadi.
        “Sehun tidak memihak pada siapapun.”
        Tao melirik Chanyeol penuh arti, namun Chanyeol tak balas menoleh karena harus tetap berkonsentrasi untuk menyetir.
        “Jika Sehun membela Minseok, dia akan ikut menghajar kita dan tidak akan menyuruh kita untuk lari.”
        Tao kembali menghela napas. Terlalu rumit apa yang terjadi. Mungkin satu-satunya cara agar kesalahpahaman ini selesai adalah bertemu dengan Kris, bagaimanapun keadaannya.

@@@

        Kris mengisi formulir pendaftaran dengan teliti. Di depannya Baekhyun mengawasi gerak-gerik Kris dengan serius. Kris menghentikan kegiatannya dan mendongak. Benar saja, Baekhyun masih menatapnya lurus-lurus.
        “Apa kau tidak kuliah?” Tanya Kris hati-hati.
        “Tidak ada jadwal.” Jawab Baekhyun, kemudian ia menyandarkan badan ke kursi dan Kris melanjutkan mengisi formulir. “Aku kesini hanya mencari map dan dompet ku yang hilang. Siapa tahu ada orang baik yang mau mengantarnya. Dan ternyata benar ada orang baik seperti itu.” Ujar Baekhyun panjang lebar.
        Kris sama sekali tak menanggapi apapun yang dikatakan Baekhyun. Setelah kegiatannya selesai, Kris merapihkan kertas-kertas di hadapannya dan mengembalikan berkas tersebut ke loket pendaftaran. Kris kembali ke meja tempat ia meninggalkan Baekhyun.
        “Aku harus ke bank untuk bayar biaya pendaftara.” Ujar Kris dan tanpa menunggu apapun dari Baekhyun, pemuda ini segera melangkah.
        “Ini jam istirahat, bank sudah tutup.”
        Ucapan Baekhyun membuat Kris berhenti lalu melirik jam di tangannya. Benar. Ini sudah waktunya makan siang. Tiba-tiba Kris teringat janjinya dengan Sehun dan Luhan.
        “Kris…!” teriak Baekhyun sambil mengejar karena Kris meninggalkannya. “Kau mau kemana?” tegur Baekhyun ketika bisa menyusul langkah panjang dari Kris.
        “Aku ada janji makan siang dengan hyung dan adikku.” Jawab Kris meski seharusnya Baekhyun tau itu karena Kris telah mengatakan sebelumnya. “Setelah itu, aku akan kembali ke sini untuk membayar administrasi dan mengurus berkas yang lain.” Lanjut Kris semakin meninggalkan Baekhyun sebelum pemuda itu menanyai hal-hal lain lagi.
        “Aku akan menunggumu di kantin siang nanti.” Teriak Baekhyun yang sudah tak ingin mengejar lagi.
        Kris hanya mengacungkan ibu jarinya sambil membelakangi Baekhyun dan terus berjalan sebagai tanda ia mendengar apa yang dikatakan Baekhyun.

@@@

        Sehun dan Luhan telah sampai di sebuah café. Mereka memilih meja paling dalam. Luhan menghempaskan tubuh lalu sedikit meringis Menahan luka di tepi bibirnya. Sehun juga terluka, tapi ia tidak sampai meringis seperti Luhan.
        “Aku tidak bisa bayangkan bagaimana sakitnya luka yang sering di terima Kris.” Gumam Luhan.
        “Nanti saja, kami masih menunggu seseorang.” Tolak Sehun ramah kepada pelayan yang datang. Ia juga langsung sibuk mencari-cari sesuatu di dalam tasnya.
        Luhan tersentak ketika Sehun mengulurkan tangannya yang memegang kotak p3k kecil tepat di hadapan wajah Luhan. “Ternyata kau masih selalu menyimpan benda ini?” heran Luhan.
        Sehun menghela napas dan menghempaskan badan ke sandaran kursi. “Kenapa Chanyeol hyung dan Tao hyung menghajarmu?” Tanya Sehun penuh selidik dan menatap Luhan tepat di mata seolah tak akan melepaskan hyungnya tersebut.
        Luhan terdiam dengan posisi tangan yang memegang kapas masih menempel di tepi bibirnya. Luhan memutar-mutarkan bola mata sebagai ekspresi berpikir mencari alasan yang tepat.
        “Kris hyung boleh saja membohongiku, tapi ku harap kau tidak.” Desis Sehun tajam seolah telah mengetahui suatu rahasia besar antara Luhan dan Kris.
        “Kris tidak pernah membohongimu.”
        “Apa yang membuat Chanyeol hyung dan Tao hyung menghajarmu?” tegas Sehun sekali lagi karena Luhan seolah menghindari pertanyaan itu.
        Luhan membuang kapas ke dalam asbak. “Mereka menanyakan keberadaan Kris.” Ujar Luhan akhirnya.
        Sehun menunduk dan mengacak-ngacak rambutnya, frustasi. “Kris hyung… kenapa kau seperti ini? Menghindari Chanyeol hyung dan Tao hyung.” Lirih Sehun membuat Luhan merasa bersalah.

@@@

        Jongin keluar melalui pintu belakang café tempat ia bekerja. Ia juga masih mengenakan seragam kerjanya.
        “Apa kalian kurang kerjaan menemuiku di sini?” seru Jongin ketika mendapati Lay dan Minseok di sana.
        “Apa kami mengganggu?” Minseok balik bertanya sedikit merasa tak enak hati mengunjungin Jongin di hari pertama ia bekerja.
        “Tidak juga, tapi kalian? Apa belum masuk kuliah?” protes Jongin tak mau ngalah.
        Satu jitakan mendarat mulus di kepala Jongin membuat pemuda itu mendelik ke Lay sebagai upaya protesnya.
        “Kau ini bodoh atau apa?” Ledek Minseok. “Kami bahkan baru mendaftar ke universitas.”
        Jongin masih memegangi kepalanya. “Lalu?”
        “Sepertinya Kris menyembunyikan diri.”
        Jongin menoleh ke Lay. “Maksud kalian?” Tanya Jongin bingung.
        “Tadi kita bertemu dengan Chanyeol dan Tao, mereka menghajar Luhan hyung.” Lay yang menjelaskan.
        “Luhan temannya Jonghdae hyung?” Tanya Jongin memastikan, Lay dan Minseok hanya mengangguk membenarkan.
        Minseok pun menceritakan kejadian satu jam yang lalu di taman. Beberapa kali Lay juga tampak membantu Minseok bercerita.
        “Sehun? Bagaimana keadaannya?” Tanya Jongin panic ketika mendengar cerita ketika Sehun terkena pukulan dari Tao.
        “Dia baik-baik saja. Luhan hyung juga.”
        Lay menyentuh pundak Minseok hingga pemuda itu menoleh. “Aku masih bingung, kenapa justru Luhan hyung yang di serang?”
        “Mungkin Luhan hyung juga memiliki masalah dengan Kris.” Ujar Minseok berspekulasi.
        “Tidak mungkin.” Lay menyangkal ucapan Minseok. “Luhan hyung pemuda baik-baik.”
        “Kau pikir Kris peduli musuhnya itu pemuda baik-baik atau tidak?”
        Jongin menatap dua temannya penuh arti. Ada sesuatu yang janggal dengan cerita Minseok dan Lay, tapi ia belum bisa menemukan itu.

@@@

        Sehun mengaduk isi minumannya dengan sangat tidak berminat. Ini sudah gelas ketiga yang ia pesan sambil menunggu kedatangan Kris. Namun hyung tersayangnya itu sama sekali belum menunjukkan tanda-tanda kehadirannya.
        “Ku rasa nanti aku tidak akan makan.”
        Luhan hanya diam dan tidak menanggapi ucapan adiknya. Ia melirik jam di tangannya lalu berdecak kesal. “Kemana orang itu? Tidak lucu kalau ternyata dia tersesat.” Kesal Luhan.
        “Maaf aku telat.”
        Sehun dan Luhan tersentak karena tiba-tiba muncul seorang pemuda yang langsung menghempaskan badannya di antara Luhan dan Sehun.
        “Dari mana saja, kau?” omel Luhan ketika menyadari orang tersebut adalah Kris.
        Kris memegangi dadanya sambil mengatur napas.
        “Luhan hyung pikir kau tersesat, hyung.” Cetus Sehun sebelum Kris menjelaskan keterlambatannya.
        “Sebagai ucapan maaf karena keterlambatanku, kalian boleh makan apapun karena aku yang akan menanggung biayanya.” Seru Kris yang tak ingin memperpanjang masalah.
        Sehun menatap Luhan dengan wajah cerah. Namun Luhan merespon sebaliknya, ia menatap Sehun aneh. “Bukankah kau bilang kau tidak akan makan?” seru Luhan mengingatkan perkataan Sehun sesaat sebelum Kris muncul.
        “Itu kan tadi, hyung.” Sehun sedikit cemberut. “Lagi pula Kris hyung mau mentraktir kita, itu tidak boleh ku lewatkan.” Lanjutnya.
        Kris tersenyum geli. “Hyung, sudahlah.” Usaha Kris untuk melerai. Namun sedetik kemudian, senyuman Kris memudar. Ia mengulurkan tangan untuk menyentuh luka di tepi bibir Luhan.
        “Aku baik-baik saja.” Elak Luhan sebelum Kris bertanya yang aneh-aneh lagi.
        Kris berbalik ke Sehun hendak meminta penjelasan tentang apa yang terjadi pada Luhan. Namun percuma. Kris hanya menghela napas mendapati tepi bibir Sehun juga terluka dan bahkan masih ada sedikit kotoran yang menempel pada seragam sekolah Sehun.
        Tatapan Kris lurus ke depan. Tidak sedikitpun lebih condong ke Sehun apalagi Luhan. “Siapa yang melakukan ini pada kalian?” Tanya Kris dengan nada dingin.
        Luhan melirik Sehun, tegang. Namun adiknya itu terlihat tenang menanggapi pertanyaan Kris.
        “Hyung, aku tidak tau ada masalah apa kau dengan mereka. Tapi ku mohon, jangan memperpanjang masalah ini jika kau juga masih ingin menghindari Chanyeol hyung dan Tao hyung.” Balas Sehun tak kalah dingin membuat suasana makan siang itu semakin menegang.
        Kris membeku mendengar pernyataan tajam dari Sehun. “Jadi Minseok yang membuat kalian seperti ini?” Tanya Kris masih tanpa menoleh.
        “Dan sekarang kau malah menuduh orang lain.” Cibir Sehun tak suka jika hyungnya menyalahkan orang lain.
        “Jadi siapa yang melakukannya?” desak Kris.
        “Aku tak ingin memperpanjang masalah.” Dengus Sehun sambil merebut daftar menu di hadapan Kris.

@@@

        Kris membuka dompet lalu mengeluarkan kartu kreditnya pada Sehun. “Ini apa?” Tanya Sehun tak mengerti maksud Kris.
        Kris memaksa Sehun menerima benda itu. “Aku buru-buru.” Hanya itu yang dikatakan Kris sebelum akhirnya meninggalkan Sehun kembali hanya bersama Luhan.
        Luhan sendiri tak bisa menjawab. Ia hanya mampu menatap kepergian Kris. Luhan melirik ketika Sehun mendesah.
        “Ada apa lagi dengan hyungku itu?”
        “Seseorang bisa berubah Sehun.” Luhan mengingatkan.
        “Tapi tidak seperti ini, hyung.” Protesnya tak terima dengan sikap Kris. “Aku sangat merindukan Kris hyung yang dulu.”
        Ada perasaan aneh pada diri Luhan. Sejujurnya, ia juga sangat mengkhawatirkan Kris. Tapi ia tau kondisi adik tirinya itu. Sampai kapanpun Kris akan tetap menjadi adiknya karena Sehun yang menjadi penghubung mereka.
        “Hyung, apa kau sudah selesai?” tegur Sehun sedikit mengejutkan Luhan. “Aku ingin kembali ke rumah.” Ujarnya malas.
        Luhan hanya mengangguk lalu meletakkan kembali gelasnya yang sudah kosong sebelum mengejar Sehun menuju meja kasir.
        “Jongin hyung?”
        Luhan menoleh ketika mendengar Sehun menyebut nama Jongin. Ia segera merapatkan diri ke samping Sehun yang langsung saja menatapnya kesal. Sebenarnya Luhan hanya ingin memastikan ucapan Sehun. Namun tak di sangka reaksinya terlalu berlebihan.
        “Apa kabar, hyung.” Sapa Jongin sopan masih lengkap dengan seragam kerjanya.

@@@

        Kris kembali ke National University seperti janjinya tadi. Kali ini ia langsung melesat ke bank untuk membayar administrasi pendaftaran. Kris berbalik dan terkejut mendapati Suho mengantri di belakangnya.
        Suho mendengus kesal sebagai tanda ia menyesal telah bertemu dengan Kris lagi di sana.
        “Tenang, aku tidak akan mengganggumu sampai tahun pelajaran baru di mulai.” Bisik Kris jahil di telinga Suho lalu meninggalkan tempat itu tanpa pamit lagi. Suho hanya menatap kesal kepergian Kris.
        “Kris…”
        Kris menoleh ketika mendengar sebuah suara menyebut namanya. Ia sedikit mengumpat dalam hati mendapati orang itu adalah Baekhyun yang sedang melangkah dengan penuh antusias ke arahnya.
        “Apa kau sibuk setelah ini? Aku hanya ingin mengobrol.”
        Kris belum menjawab karena ia melihat Baekhyun menatap sesuatu yang berada di belakangnya. Kris yang penasaran ikut melihat apa yang menarik perhatian Baekhyun. Ternyata hanya Suho yang baru keluar dari bank. Kris sedikit tak mempedulikan Suho. Ia kembali menatap Baekhyun.
        “Jika kau berjanji mau menceritakan apapun yang kau ketahui tentang orang itu,” Kris memberi tanda dengan lirikan mata bahwa orang yang ia maksud adalah Suho. “Aku akan menemanimu mengobrol. Kebetulan aku tidak ada kegiatan setelah ini.”
        “Aku akan menceritakan banyak hal tentang Suho.” Tantang Baekhyun yang sama sekali tak menyimpan kecurigaan pada Kris.

@@@

        Kris dan Baekhyun memilih café tak jauh dari kampus Baekhyun. Alasannya, di sana akan ada lebih sedikit orang yang mengenal mereka. Sebelumnya Baekhyun telah memesan makanan kecil dan Kris hanya memesan minuman karena ia baru saja makan bersama Luhan dan Sehun.
        “Apa yang ingin kau tau tentang Suho, dan kenapa kau tertarik menelisik kehidupannya?” Tanya Baekhyun memulai pembicaraan tak lama setelah pesanan mereka di antar.
        “Dia anak orang kaya, kan?” pertanyaan Kris sedikit lebih mirip pernyataan.
        Baekhyun menatap Kris heran. “Dari mana kau tau?” serunya dengan tatapan menyelidik.
        Kris mendesah sambil menyandarkan tubuhnya ke kursi. “Ternyata benar.” Gumam Kris pelan. “Kenapa dia menutup diri?” Tanya Kris lagi ingin tau.
        “Di kampus, mungkin hanya aku dan beberapa staf kampus saja yang tau Suho anak orang kaya. Dia menutup diri karena ia pernah dikecewakan seseorang yang ternyata hanya memanfaatkan kekayaan ayahnya. Itu yang ku tau.”
        Kris menatap Baekhyun dalam-dalam. Ia yakin masih ada hal lain yang dirahasiakan Baekhyun. Baekhyun sendiri sebenarnya sadar akan maksud tatapan Kris, tapi ia berusaha bersikap senormal mungkin meyakinkan Kris bahwa ia memang belum selesai bercerita.
        “Di sini materi sangat berpengaruh. Kau bisa lihat dari hal kecil seperti parkiran mobil. Aku yakin kau pasti bisa menebak berapa harga mobil di sana yang rata-rata mobil mewah. Dan Suho satu-satunya mahasiswa yang menumpang bus kota untuk bisa sampai di kampus.”
        “Setidaknya itu hanya dimata orang lain. Mobil Suho bahkan lebih mahal dari mobilku.”
        Baekhyun tertawa mendengar komentar Kris. “Itu dia. Sebenarnya aku ingin berteman dengan Suho. Tapi tampaknya aku tak sanggup jika harus dijauhi hampir seluruh mahasiswa di sini.”
        Kris menatap Baekhyun bingung. “Dijauhi?” ulangnya.
        “Banyak yang berfikir Suho adalah seseorang yang mendapat beasiswa agar bisa kuliah di sana. Tapi ku akui strategi Suho cukup berhasil. Ia bisa focus menjalani kuliah tanpa gangguan mahasiswa yang lain. Dan ku dengar, ia hanya menyisakan satu setengah tahun lagi untuk bisa lulus. Padalah kini kami sama-sama baru akan masuk semester tiga.”
        Satu setengah tahun. Itu artinya Suho sama saja akan lulus dalam jangka waktu yang bersamaan dengan Luhan. Kris hanya menyembunyikan kekagumannya itu seorang diri.
        “Ku rasa kau harus segera menjauhiku.”
        Baekhyun nyaris tersedak mendengar ucapan Kris. “Apa kau tidak ingin berteman denganku?” protes Baekhyun. Sedetik kemudian pemuda ini mendengus kesal. “Tak ku sangka kau sama seperti yang lain. Memandang rendah dan memilih-milih orang untuk berteman.” Cibirnya.
        “Bukan itu. Tapi kita beda visi misi.” Ucapan Kris kembali menarik perhatian Baekhyun.
        “Maksudmu?” Tanya Baekhyun tak mengerti.
        “Bukankah kau tidak ingin mendekati Suho?” Kris hanya ingin memastikan ingatannya tentang perkataan Baekhyun. “Tapi aku kebalikan denganmu.”
        Baekhyun menimbang-nimbang perkataan Kris. Apa ia telah siap dijauhi orang banyak. Tapi di sisi lain, ia juga jenuh dengan kehidupan mahasiswa sekarang yang lebih banyak bermain-main. Ia ingin benar-benar menekuni profesi sebagai mahasiswa yang sebenarnya.
Mengerjakan tugas tepat waktu, mendapatkan nilai terbaik. Tentu saja itu akan memudahkan langkah-langkah berikutnya hingga ia bisa lulus tepat waktu dan juga mendapatkan hasil yang sangat memuaskan tentunya.
        “Apa kau tetap akan berteman denganku?” Tanya Baekhyun akhirnya.
        Kris tertawa kecil. “Kau pikir aku orang jahat yang menolak seseorang yang ingin berteman denganku?” balas Kris membuat Baekhyun juga menertawainya. Tentu saja Kris langsung merasa bersalah. Dengan terang-terangan ia menjauhi Chanyeol dan Tao tanpa meninggalkan alasan yang logis di hadapan dua temannya itu.
        Kris benar. Lagi pula jika Baekhyun dijauhi teman-temannya yang lain karena mendekati Suho, masih ada Kris yang tidak akan membuatnya kesepian. Dan tentu saja Suho juga, jika mereka bisa mendekati pemuda dingin itu.
        “Jadi, mulai kapan kita menyusun rencana untuk Suho?”
        “Lebih cepat lebih baik, kan?” Baekhyun terdengar antusias merespon ucapan Kris.
        “Apa itu artinya kau akan membayarkan minumanku?”
        “Maksudmu?” Tanya Baekhyun yang sama sekali tak mengerti dengan ucapan Kris.
        Kris tersenyum tanpa merasa bersalah. “Aku kehabisan uang tunai untuk membayar administrasi kampus. Sedangkan kartu kredit, ku tinggalkan pada Sehun karena tadi aku pergi mentraktir hyung dan adikku.”
        Baekhyun kembali menertawai alasan konyol yang dilontarkan Kris meski memang seperti itu keadaannya.

@@@

Minggu, 14 April 2013

KRIS WITHOUT WINGS (part 7)



        Kris memainkan kunci mobil dan tangan satunya memegang sebuah dompet serta map coklat milik seseorang bernama Baekhyun. Kris masuk ke dalam mobil tak lama sebelum Luhan muncul dari dalam rumah. Kris buru-buru menurunkan kaca mobilnya.
        “Hyung…” panggil Kris membuat Luhan mendekat. “Ini alamat kampus yang ku maksud.” Ujar Kris menyodorkan kartu mahasiswa milik Baekhyun.
        Luhan meraih kartu tersebut dari tangan Kris. “Jadi kau benar-benar akan mengantarnya? Ke rumah atau kampus?” Tanya Luhan memastikan. Semalam Kris memang telah bercerita tentang pertemuannya dengan Baekhyun yang tanpa sengaja sampai ia menemukan barang yang ditinggalkan Baekhyun.
        “Ku rasa kampus, karena alamat rumahnya berada di luar kota.” Jawab Kris lengkap beserta alasannya.
        “Kau bisa lewat depan kampusku dulu, setelah itu kau tanyakan saja jika bertemu orang di jalan.” Jelas Luhan masih dengan jawaban yang belum pasti.
        “Oke hyung.” Seru Kris sambil menerima kembali kartu yang disodorkan Luhan. “Nanti siang kita makan bersama. Aku yang akan menghubungi Sehun.”
        “Tapi jangan terlalu jauh dari kampusku.”
        “Iya hyung, aku tau kau sangat sibuk.” Cibir Kris sedikit malas menanggapi ucapan Luhan yang terakhir.
        Luhan sendiri hanya tertawa dengan ekspresi kekesalan yang ditunjukkan Kris. Ia tau Kris tak sungguh-sungguh melakukan itu.

@@@

        Kris sedikit mengawasi mobil Luhan yang mengikuti dari belakang. Ia hanya tersenyum ketika mendapati mobil Luhan berbelok masuk ke dalam gerbang kampusnya. Beberapa kali Kris tampak melihat alamat kampus Baekhyun melalui kartu mahasiswanya untuk memastikan ia tak salah jalan.
        Saat ini Kris harus sedikit terjebak lampu merah. Tepat di sebelah mobil Kris, berhenti sebuah mobil mewah. Kris menurunkan kaca mobilnya yang tepat bersebelahan dengan kaca di pintu belakang mobil mewah tersebut. Kris melihat ada seorang pemuda di dalamnya yang sibuk membaca buku. Kris memberanikan diri untuk mengetuk kaca mobil tersebut.
        “Maaf mengganggu.” Ujar Kris sesaat setelah pemuda itu menurunkan kaca mobilnya. “Aku hanya ingin bertanya.”
        Pemuda yang ternyata adalah Suho itu merespon Kris dengan ekspresi yang sangat datar.
        “Kau tau di mana letak kampus National University?” pertanyaan Kris membuat Suho melirik seketika.
        Suho berpikir ragu antara akan memberi tau atau pura-pura tidak tau.
        “Waahh…” seru Kris membuat Suho kembali dari lamunannya dan menatap Kris heran. “Kau mahasiswa National University juga?”
        Suho panic dan langsung menurunkan buku yang masih di genggamnya. Entah dari mana Kris tau kalau Suho kuliah di sana. “Nanti dia akan mengantarmu.” Putus Suho lalu menutup kaca dengan angkuhnya. Ketika menyebut kata ‘dia’, Suho melirik Gwangsoo.
        Krispun ikut menutup kaca mobil. “Harusnya dia bangga kuliah di sana. Tapi kenapa malah tidak membenarkan pertanyaanku?” Oceh Kris saking bingungnya.
        Lampu lalu lintas berubah menjadi hijau membuat kendaraan perlahan bergerak, termasuk mobil Kris dan Suho. Seperti apa yang Suho katakan, Kris sedikit mengurangi kecepatan dan membuntuti mobil yang dikendarai Gwangsoo dari belakang.
        Tak lama mobil Suho tampak menyingkir dan kemudian berhenti tak jauh dari sebuah halte bus. Kris melihat Suho turun dan langsung menuju halte, sementara Gwangsoo juga ikut turun dan menghampiri mobilnya.
        Kris mempunyai firasat bahwa Gwangsoo akan benar-benar mengantarnya sampai universitas tersebut. Karena itu Krispun keluar dari mobilnya dan mengejar Suho sampai dalam halte.
        “Kenapa kau mengukutiku? Paman Gwangsoo akan mengantarmu. Kau tenang saja.” Protes Suho ketika menyadari Kris malah mengikutinya.
        “Apa kau tidak kuliah?” Kris balik bertanya.
        “Tentu saja.” Jawab Suho singkat masih sambil terus berjalan.
        “Kalau begitu, kau saja yang ikut deganku.” Putus Kris yang seenaknya menyambar tangan Suho.
        Suho dengan kasar menepiskan tangan Kris. “Jangan merusak rencanaku!” bentaknya yang merasa cukup terganggu.
        Bukannya merasa bersalah, Kris justru tersenyum jahil. “Apa kau tidak ingin teman-temanmu tau kalau kau ini anak orang kaya?” ledek Kris. “Jadi kau lebih memilih turun di sini dan pura-pura naik bus untuk sampai tempat kampus?”
        Suho berhenti dan menatap Kris tajam seolah membenarkan apa yang dikatakan Kris tadi. “Tolong jangan campuri urusanku.” Pinta Suho dengan seluruh penekanan pada tiap kata yang keluar dari mulutnya.
        Kris tak menyerah begitu saja, ia segera memposisikan tubuhnya untuk menghalangi Suho yang siap berbalik.
        “Apa kau takut di manfaatkan oleh orang lain karena kau anak orang kaya? Kau tenang saja, aku juga anak orang kaya, kau bisa lihat dari mobil yang ku kendarai tadi. Jadi, aku tidak akan memanfaatkanmu.” Cetus Kris panjang lebar meski sedikit tak penting mengatakan bahwa ia juga anak orang kaya seprti Suho. “Aku tidak akan mengatakan pada siapapun tentang ini. Lagi pula, aku hanya akan menganggumu sekali ini saja.”
        Suho mendongak agar mampu menatap mata Kris. Ia mengerutkan kening menandakan kebingungannya perihal ucapan terakhir dari mulut Kris.
        “Aku hanya ingin mengembalikan sesuatu milik seseorang yang kuliah di sana.” Jelas Kris akhirnya mengenai tujuannya ke sana. “Namanya Byun…” Kris sedikit memberi jeda dalam ucapannya karena sibuk mengingat nama pemuda yang dicarinya. “Baek…” ujarnya ragu. “Ah, Byun Baekhyun.” Pekik Kris pasti.
        Kali ini Suho melirik datar untuk menyembunyikan ekspresi sesungguhnya. Kris masih saja menatapnya penuh harap. Suho menghela napas berat.
        “Oke.” Putus Suho dan segera melesat pergi sebelum Kris merespon lebih.
        Kris tersenyum penuh kemenangan sambil mengikuti Suho dari belakang. “Kalau ada yang bertanya, bilang saja kalau kita teman lama dan baru bertemu.”
        “Sudahlah, tak usah kau pikirkan itu.”
        Kris bungkam karena tak ingin membuat Suho berubah pikiran.

@@@

        Kris memarkirkan mobilnya di temani Suho yang masih di sana. “Di mana kira-kira aku bisa mencari Baekhyun?” Tanya Kris sesaat setelah mematikan masin mobilnya.
        Suho sedikit menunduk untuk menyembunyikan wajahnya. Di luar sana, orang-orang mulai memperhatikan mobil Kris yang sangat mencolok. “Kau bisa tanyakan kepada siapa saja yang kau temui.” Cetus Suho yang tanpa pikir panjang segera melesat keluar dari dalam mobil sebelum Kris sempat menahannya.
        Kris berdecak sambil menggeleng-gelengkan kepala menanggapi sikap dingin Suho yang sangat tertutup dengan orang lain. Kris hanya menghela napas sebelum akhirnya memutuskan keluar. Pemuda tinggi ini beberapa kali menanyakan keberadaan Baekhyun kepada orang-orang yang ia temui. Hasilnya, tak ada satupun yang mengenal Baekhyun.
        Ada satu orang lagi yang akan melintas di depan Kris memarkirkan mobilnya.
        “Permisi…” seru Kris membuat pemuda itu menoleh. “Kau mengenal Byun Baekhyun?” Tanya Kris segera.
        Pemuda itu menatap Kris heran, termasuk menatap mobil mewah di belakang Kris. “Apa kita saling kenal?” pertanyaan pemuda itu membuat Kris mengerutkan kening.
        Sedetik kemudian Kris berdecak. “Harusnya aku sadar sejak tadi. Kau Byun Baekhyun, kan?”
        “Apa kita saling kenal?” ulang Baekhyun yang tak menyadari bahwa pemuda tinggi di hadapannya adalah pemuda yang kemarin ia tabrak di rumah sakit.
        Kris tersenyum lega. Yang di utarakan Baekhyun bukanlah pertanyaan bagi Kris. Tapi itu merupakan petunjuk bahwa pemuda yang di hadapannya kini benar-benar Baekhyun yang ia cari. “Tunggu sebentar.” Pinta Kris sebelum kembali ke dalam mobil untuk mengambil dompet dan map coklat yang dibawanya.
        Baekhyun terus saja mengawasi gerak-gerik Kris.
        Kris menyodorkan semua benda di tangannya. “Apa ini milikmu?”
        Mata Baekhyun terbelalak seketika. “Kau yang menemukannya?” Tanya Baekhyun sambil menerima barang-barang dari tangan Kris dengan mata berbinar.
        “Kau meninggalkannya ketika kita tabrakan di rumah sakit.” Kris mengingatkan kronologi kejadian sampai akhirnya benda itu berada di tangannya. “Maaf aku tak langsung mencarimu saat itu.”
        “Sudahlah…” cetus Baekhyun yang tak ingin ambil pusing. Karena yang terpenting sekarang adalah, dompet dan map coklat tersebut sudah kembali ke tangannya. “Bagaimana kalau kita ke kantin. Aku ingin mentraktirmu makan sebagai ucapan terima kasih.”
        Meski belum waktunya makan siang, Kris menyetujui usul Baekhyun. Ia bisa menunggu di sana sampai siang sebelum menjemput Sehun dari sekolah.

@@@

        Tao memeriksa berkas perkuliahannya setelah keluar dari sebuah ruangan bersama Chanyeol yang setia menemani. Chanyeol melirik Tao  yang belum melepaskan pandangan dari kertas-kertas yang sibuk ia bolak-balikkan sejak tadi.
        “Apa yang kurang?” tegur Chanyeol.
        “Tinggal surat kesehatan aja. Aku akan minta bantuan ayah.” Jawab Tao yang hanya dibalas anggukan oleh Chanyeol sebelum mereka memutuskan pergi.
        Chanyeol masuk ke dalam mobil diikuti Tao setelah itu. “Kita kemana setelah ini?” Tanya Chanyeol sebelum menyalakan mesin mobil.
        Tao tampak memasang sabuk pengamannya. “Apa kau sibuk?” Chanyeol hanya menggeleng menjawab pertanyaan Tao. “Bagaimana kalau kita jalan-jalan?” ajaknya.
        “Oke.” Balas Chanyeol singkat kemudian mulai melajukan mobilnya.
        Tao diam selama perjalanan, sementara Chanyeol beberapa kali terlihat mengawasi sesuatu dari dalam kaca spion.
        Tao terdengar menghela napas berat. “Aneh rasanya tanpa Kris. Biasanya selalu ada motor sport yang membuntuti kita.” Gumam Tao yang tak mendapat respon apa-apa.
        Chanyeol masih sibuk menatap kaca spion sambil membagi konsentrasinya ketika menyetir. Sebuah motor sport, persis seperti yang dikatakan Tao terlihat dibelakang mobil Chanyeol. Itulah yang sejak tadi diperhatikan oleh Chanyeol.
        “Itu Kris!” seru Chanyeol ketika motor tersebut melesat melewati mobilnya. Tao sontak menoleh dan Chanyeol mempercepat laju mobilnya untuk mengejar motor sport tersebut yang persis sama dengan yang selama ini dikendarai Kris.
        “Kenapa Kris masih mengenakan seragam SMA?” Tanya Tao heran. “Tidak mungkin dia tidak lulus, Kris bahkan masuk peringkat sepuluh besar siswa dengan nilai ujian tertinggi.”
        Chanyeol tetap mengabaikan apapun yang dikatakan Tao. Chanyeol tetap membawa mobilnya mengikuti motor tersebut. Tak lama, Chanyeol terlihat menghentikan mobil tepat di belakang motor sport yang ia ikuti sejak tadi. Motor itu kini terparkir sendiri di depan sebuah taman tanpa pengemudi. Chanyeol dan Tao turun dari mobil. Tujuan pertama mereka adalah motor sport tersebut.
        Tao meneliti tiap detail pada motor tersebut. “Tidak salah lagi, ini motor Kris.” Seru Tao mantap.
        Tanpa berkata-kata lagi, Chanyeol segera melesat ke dalam taman disusul Tao saat itu juga. Mereka menelusuri taman lebih dalam lagi. Taman tersebut dihiasi pohon-pohon besar yang membuat sejuk meski di luar terik matahari sedang panas-panasnya. Selain itu terdapat bangku dan lampu taman di sana-sini.
        Tak jauh dari tempat Chanyeol dan Tao berada, ada bagian taman yang terdapat ayunan dan beberapa permainan untuk anak-anak. Dari tempat mereka berada, ada seseorang yang duduk sendiri di ayunan.
        “Luhan hyung?” pekik Chanyeol yang mengenal orang tersebut dan segera berlari menghampiri Luhan.
        “Chanyeol? Tao?” gumam Luhan sambil berdiri seiring kemunculan dua orang teman dekat Kris dihadapannya.
        “Hyung, di mana Kris sekarang?” desak Chanyeol tanpa basa-basi.
        Luhan membeku dengan pertanyaan yang dilontarkan Chanyeol. Tatapan Taopun sama mengintimidasinya.
        Tao yang geram melihan Luhan yang tak merespon apapun, langsung saja menarik kerah pakaian Luhan. “Jangan coba-coba merahasiakan keberadaan Kris pada kami.” Teriak Tao tepat di wajah Luhan.
        “Hyung, ku mohon jawab.” Ujar Chanyeol pelan namun masih terdengar nada mengancam di dalamnya. “Jangan sampai Tao menyakitimu.”
        Luhan melirik Chanyeol, lalu kembali menatap Tao. “Aku tidak akan memberi tahu di mana Kris.” Tandas Luhan.
        Tao sudah tidak bisa menahan diri lagi. Di pukulnya Luhan kuat-kuat tepat di wajah pemuda itu. Membuat kakak kandung Sehun itu terjungkal ke belakang.
        “Tao…!”
        Tao yang siap kembali menghajar Luhan, mengurungkan niat ketika mendengar teriakan seseorang memanggilnya. Awalnya ia pikir itu suara Chanyeol, namun ketika mendongak, Tao menemukan tiga orang pemuda yang mendekat. Minseok, Lay dan Kyungsoo.
        “Apa yang kalian lakukan?” tegur Minseok tak terima melihat perlakuan Tao kepada Luhan.
        Sementara itu, langsung saja Lay mendorong tubuh besar Tao untuk menjauh dari Luhan dan Kyungsoo segera membantu Luhan untuk berdiri.
        Kyungsoo menatap Luhan khawatir. “Hyung, kau baik-baik saja?” Tanya Kyungsoo yang langsung di balas anggukan oleh Luhan.
        “Hyung, jadi kau kini berada di pihak mereka?” tuduh Chanyeol, tentu saja untuk Luhan.
        Lay menghampiri Minseok. “Jangan menyalahkan Luhan hyung.” Geram Lay yang sudah tidak bisa menahan emosi. Segera saja ia menyerang Chanyeol dan Tao menghadapi Minseok. Jika ada Kris dan Jongin, mereka juga akan saling berhadapan. Selalu seperti itu. Mereka tidak pernah saling bertukar lawan.
        Sehun yang melihat kejadian itu dari kejauhan, langsung mendekat untuk melerai kedua kubu yang berseteru tersebut. Ia lebih dulu menghampiri Chanyeol dan Lay. “Hyung, berhenti!” tegas Sehun yang sekuat tenaga menghentikan keduanya.
“Sehun! Minggir!” Seru Lay dan Chanyeol nyaris bersamaan. Tentu saja bukan perkara mudah bagi Sehun untuk memisahkan keduanya.
        Kyungsoo juga berniat membantu Sehun. Ia akan memisahkan Minseok dari Tao, namun buru-buru Luhan menahan tangannya dan menatap Kyungsoo agar pemuda itu tidak nekad untuk ke sana. Pertarungan Minseok dan Tao lebih menyeramkan dari pada antara Lay dan Chanyeol.
        Sebenarnya Kyungsoo sedikit memprotes perintah Luhan, namun ia langsung menurut dan tak berani nekad melakukannya.
        Dan akhirnya, yang bisa membuat ‘sparing’ itu berhenti adalah ketika Chanyeol dengan cukup kasar mendorong tubuh Sehun hingga terpental dan menyebabkan Sehun menabrak Tao. Tao yang masih dalam kekuasaan emosi, tak segan-segan untuk melayangkan pukulan untuk Sehun hingga terjungkal kebelakang.
        “Sehun!” pekik Luhan langsung berhamburan menghanpiri Sehun. Ia memangku kepala Sehun, lalu melirik Chanyeol dan Tao dengan tatapan kecewa karena perlakuan mereka pada Sehun. Minseok, Lay dan Kyungsoo sudah ikut mengerubungi Sehun.
        “Jika terjadi sesuatu pada Sehun, aku tidak akan melepaskan kalian!” ancam Minseok yang hendak kembali menghajar Tao, namun Sehun yang sebenarnya dalam keadaan sadar menahan tangan Minseok. Minseokpun hanya bisa melawan dengan tatapan penuh dendam.
        Sehun perlahan berusaha berdiri di bantu Luhan dan Kyungsoo. Mata Sehun tertuju pada Chanyeol dan Tao yang menunduk bersalah. “Hyung, pergilah.” Perintah Sehun yang langsung mendapat protes keras, terutama dari Minseok dan Lay.
        “Sehun, tapi…” Lay tak jadi melawan ucapan Sehun karena lebih dulu tangan Sehun terangkat sebagai tanda ia menyuruhnya untuk diam.
        “Hyung…” mata Sehun masih tak lepas dari dua pemuda teman dekat Kris semasa SMA tersebut, namun sama sekali tak ada sedikitpun rasa dendam yang menggelayuti Sehun. “Jika kalian tidak pergi, biar kami yang pergi.” Ujar Sehun lalu berbalik.
Satu-satunya orang yang tak memprotes keputusan Sehun hanyalah Luhan. Minseok dan Laypun akhirnya mengalah setelah Kyungsoo memaksa mereka untuk pergi.

@@@

        Baekhyun mendahului Kris untuk memilih tempat duduk. Tak di sangka, Kris tidak mengikutinya. Pemuda tinggi itu justru memilih meja lain karena melihat Suho duduk sendiri.
        Suho terkejut ketika mendapati Kris sudah duduk di hadapannya. “Kau?”
        “Ternyata kita bertemu lagi.” Kata Kris tanpa rasa bersalah.
        Suho yang merasa ketenangannya di ganggu, lebih memilih pergi dari pada memaksa Kris untuk pergi.
        “Tunggu.” Lagi-lagi Kris menghalangi tubuh Suho yang lebih pendek darinya itu.       
        “Jauhi aku jika tidak ingin reputasimu hancur.” Tegas Suho lalu melanjutkan langkahnya yang sempat terhalang oleh tubuh Kris. Ia juga harus sedikit mendorong tubuh Kris untuk membuka jalannya.
        “Hei…” Kris hendak kembali mengejar Suho jika tidak lebih dulu di tahan oleh tangan Baekhyun.
        “Biarkan dia pergi.” Seru Baekhyun sambil menarik paksa tubuh tinggi Kris untuk duduk di kursi yang ditinggalkan Suho.
        Kris sudah membuka mulut namun tidak ada satu katapun yang keluar dari mulutnya. Kris langsung mengurungkan niat melontarkan pertanyaan yang ada di kepalanya karena tiba-tiba saja ia seperti bisa membaca suasana yang terjadi sebenarnya.
        “Kau mau makan apa?” Tanya Baekhyun yang sudah memegang buku menu.
        “Minum saja, aku sudah ada janji makan siang dengan hyung dan adikku.” Jawab Kris dan Baekhyun langsung mengangguk mengerti.
        “Kau kuliah di sini juga? Jurusan apa?” Baekhyun memulai perbicaraan.
        “Aku baru lulus SMA.” Kris menggeleng samar.
        Baekhyun menatap Kris bingung. Bahkan ia mengabaikan pelayan yang mengantarkan makanannya. “Lalu, apa yang kau lakukan di sini? Apa kau baru ingin mendaftar sebagai mahasiswa baru?”
        Kris balas menatap Baekhyun, kali ini dengan cukup minat dengan pertanyaan Baekhyun. Ia seperti mendapat sedikit pencerahan. Entahlah, ia sangat tertarik berteman dengan Suho yang dingin. Alasannya hanya satu, Suho pasti tidak akan merasa kehilangan jika Kris pergi untuk selamanya.
        “Bisa bantu aku?” Tandas Kris akhirnya.

@@@

Jumat, 12 April 2013

KRIS WITHOUT WINGS (part 6)



        Seminggu kemudian, seluruh anggota keluarga Choi disibukkan dengan aktifitas di rumah baru mereka. Nyonya Choi tampak sedang menyiapkan minum untuk suami dan tiga putranya.
        Sehun menghempaskan tubuhnya di sofa yang saat itu belum sesuai dengan posisi sebenarnya. “Aku lelah…” disusul tuan Choi yang duduk di sebelahnya.
        Sementara itu Kris dan Luhan masih harus menggotong sebuah kardus lagi yang akan mereka bawa ke kamar Kris. Rumah baru mereka sama luasnya dengan rumah sebelumnya. Terdiri dari dua lantai. Namun disini hanya tersedia tiga kamar. Kamar utama rencananya akan dihuni oleh Luhan. Tuan dan nyonya Choi tidak mendapat jatah kamar karena kesibukan mereka di luar rumah yang sangat padat. Sehingga jika mereka pulang, Luhan yang akan mengalah untuk tidur di kamar Kris ataupun Sehun.
        “Apa kau tak menyesal dengan keputusan kita pindah?”
        Kris menghembuskan napas sebelum mereka meletakkan kardus besar tersebut di kamar baru Kris. “Sudahlah hyung. Jangan buat aku menyesal nantinya.”
        “Hyung…” Luhan dan Kris menoleh ketika Sehun muncul di ambang pintu. “Ayo turun. Ibu telah menyiapkan minuman untuk kita.” Sehun berbalik ketika mendapati anggukan dari dua hyungnya.

@@@

        Pagi itu Tao tampak tengah mencuci motor di halaman rumahnya. Tak lama sebuah mobil berhenti di depan pagar rumah keluarga Tao. Pemuda ini langsung melemparkan selang air kesembarang tempat karena menyadari siapa yang datang.
        “Kenapa pagi-pagi sudah sampai di rumahku?” tegur Tao.
        Pemilik mobil menurunkan kaca dan menampakkan seorang Chanyeol yang lengkap dengan sebuah kaca mata hitam bertengger di wajahnya. “Apa tidak boleh?” cibir Chanyeol.
        Tao hanya tertawa kecil menanggapi ucapan Chanyeol sambil berbalik kembali ke dalam pagar. Chanyeolpun turun dari mobil dan mengikuti langkah Tao.
        “Dari semalam aku menghubungi Kris, nomornya selalu tidak aktif.” Keluh Chanyeol yang memilih duduk di kursi untuk menunggu Tao menyelesaikan pekerjaannya.
        “Bagaimana kalau kita ke rumahnya?”
        “Aku memang berencana untuk itu.” Seru Chenyeol namun ada guratan kekecewaan di wajahnya. “Tapi aku lupa jalannya. Kita kan ke sana hanya sekali.”
        Tao ikut murung mendengar ucapan Chanyeol karena ia juga sedikit lupa jalan menuju rumah Kris. Tao menyiramkan air asal ke atas motornya. Tatapan Tao tak focus karena memikirkan sesuatu.
        “Bagaimana kalau kita coba cari saja, aku ingat nama daerahnya dan nama ayah Kris, Choi Gary kan?” cetus Tao sedikit memberi pencerahan. Seketika Chanyeol melirik Tao kagum.
        “Ayo pergi sekarang!” putus Chanyeol yang tanpa pikir panjang bergegas menuju mobil diikuti Tao yang begitu saja meninggalkan pekerjaannya mencuci motor.

@@@

        Luhan menuruni tangga mengikuti langkah Sehun. Sementara Kris menyusul di belakangnya. Sehun memilih duduk di samping ayahnya dan Luhan duduk di sisi Sehun satu lagi.
        “Biar aku yang bawakan, bu.” Paksa Kris sambil merebut nampan yang dibawakan nyonya Choi. Kris meletakkan nampan berisi minuman itu di tengah meja, lalu ia menghempaskan badan di samping ibunya. Tak lupa Kris berbaring dan menggunakan paha nyonya Choi sebagai bantal. Kris juga tak peduli meski kakinya yang panjang harus sampai menjuntai ke bawah.
        “Bagaimana sekolahmu, Sehun?” Tanya tuan Choi.
        Sehun menenggak isi gelasnya sampai habis sebelum menjawab pertanyaan ayahnya. “Masih seperti biasa. Tidak ada hal menakjubkan yang terjadi.”
        Nyonya Choi sendiri saat itu tengah mengusap puncak kepala Kris dengan lembut. “Kau sendiri, apa sudah memutuskan akan kuliah di mana?” Tanya nyonya Choi lembut.
        “Nanti akan ku pikirkan.” Jawab Kris seadanya.
        “Kuliah di kampus Luhan hyung saja, hyung.” Saran Sehun.
        Kris melirik Sehun tajam. “Aku tidak mau menyusahkan Luhan hyung.” Tegasnya namun tak mendapat respon apa-apa dari Luhan.
Sehun juga tak ingin memperpanjang urusan dengan Kris meski hanya mengenai kampus. Seperti teringat sesuatu, Sehun memutuskan untuk meninggalkan ruangan itu untuk sementara.
        Mata Luhan mengikuti arah langkah Sehun hingga adiknya menghilang di balik tembok. “Kris…” desis Luhan masih tetap mengawasi, takut-takut Sehun muncul dengan tiba-tiba.
        “Hmm…” Kris tampaknya malas untuk bersuara lebih dari itu.
        “Dokter Jaesuk merindukanmu.” Ujar Luhan seperti apa yang biasa ia katakan pada Kris.
        Kris mengacak rambutnya frustasi lalu memaksa dirinya untuk bangkit. Pemuda ini menghela napas dengan malas setelah melihat jam pada arlojinya.
        “Bukankah mobilmu di dalam? Pakai mobilku saja.” Tawar Luhan yang sudah mengulurkan kunci mobil. Karena posisi duduk lebih jauh, nyonya Choi yang menjadi perantara kunci tersebut untuk sampai ke tangan Kris.
        “Cepat sembuh ya sayang.” Nyonya Choi merengkuh wajah Kris dan mencium kening anaknya tersebut.
        Kris hanya sanggup merespon ibunya dengan senyuman. Cepat-cepat Kris bangkit untuk pergi dari sana.
        “Kris hyung mau kemana?” Tanya Sehun kepada siapapun yang berada di sana perihal kepergian Kris.
        “Mungkin Kris mau menemui Tao dan Chanyeol.” Bohong Luhan namun sangat bisa membuat Sehun percaya. Terbukti ketika Sehun sudah tak membahas hal tersebut lagi dan memilih duduk di sofa yang ditinggalkan Kris.

@@@

        Chanyeol menendang pagar rumah Kris yang tentu saja sudah kosong. Di sampingnya Tao berusaha menenangkan pemuda yang dianggapnya sebagai seorang playboy sejati.
        “Kau tidak pernah merasakannya!” cetus Chanyeol kasar. Napasnya tak teratur. Chanyeol memegangi dadanya yang mulai merasa sesak. Tubuhnya meluruh di depan pagar rumah mewah Kris. “Kau tidak pernah kan merasakan ditinggal teman terbaikmu seperti ini!”
        Perlahan Tao juga menjatuhkan tubuhnya di samping Chanyeol. “Kau pikir aku tidak terpukul dengan perlakuan Kris pada kita?” balas Tao namun nada bicaranya masih terdengar cukup tenang. Ia tak mau terbawa suasana kecewa pada diri Chanyeol.
        Chanyeol melirik Tao tajam. “Apa kau juga akan meninggalkanku seperti Baekhyun dan Kris?” tuduh Chanyeol.
        Tao mendengus kesal. “Jika iya, aku tidak akan mau menemanimu ke sini.” Sinis Tao namun semuanya sudah mewakili jawaban atas pernyataan Chanyeol padanya.
        Chanyeol segera bangkit menyusul Tao. Ia tak ingin lagi kehilangan teman terbaiknya seperti dulu. Tao berhenti tiba-tiba dan berbalik. Dihadapannya, Chanyeol menatap Tao penuh rasa bersalah.
        “Siapa yang telah meninggalkanmu sebelum Kris?”
        Chanyeol menunduk dan tak menjawab.
        “Jawab!” paksa Tao yang kini juga telah mencengkeram kerah baju Chanyeol. “Jangan tunjukkan penderitaanmu jika kau tak mau cerita.” Tegas Tao lalu dengan kasar melepaskan tangannya dari baju Chanyeol membuat pemuda itu sedikit terdorong kebelakang.
        “Maaf…” lirih Chanyeol menyesal.
        Setelah itu, Chanyeol dan Tao sudah dalam perjalanan pulang. Tao yang memutuskan untuk menyetir mobil Chanyeol. Sementara Chanyeol, duduk di sampingnya dan masih tenggelam dengan ingatan masa lalunya.
        “Namanya Baekhyun.” Mulai Chanyeol namun tatapannya tak tertuju ke Tao. “Dia teman masa kecilku. Ketika lulus SD, Baekhyun dan keluarga pergi tanpa ada yang mengabariku sebelumnya.”
        “Kenapa tak pernah kau ceritakan selama ini?” Tao bersuara dengan nada lembut.
        “Aku hanya tak ingin mengingat kejadian itu.” Lanjut Chanyeol masih dengan tatapan suramnya. “Dan sekarang, Kris juga melakukan hal yang sama padaku.” Mata Chanyeol berubah kecewa ketika mengingat Kris juga meninggalkannya tanpa jejak.
        Tao menghela napas berat, sementara tangannya dengan keras mencengkeran stir mobil. Dia juga kecewa dengan keputusan Kris yang menghilang tiba-tiba. Tapi Tao tak ingin menunjukkannya di depan Chanyeol.
        “Aku tau ini rumit. Tapi bukankah kita telah bersama bahkan sebelum Kris masuk ke dalam kehidupan kita?” ujar Tao mengingatkan persahabatan mereka yang terjalin jauh sebelum mereka bertemu dengan pemuda bernama Choi Kris Woo.
        Untuk pertama kalinya, Chanyeol melirik Tao dengan tatapan penuh rasa bersalah. “Maaf aku mengecewakanmu.”
        Tao hanya tersenyum dan tak ingin menambah keruh suasana. “Ayo kita persiapkan diri untuk masuk Universitas.” Seru Tao penuh semangat.

@@@

        “Jongin, susunya dihabiskan!”
        Jongin terburu-buru mengenakan sepatu. Bahkan bibirnya menjepit sebuah roti yang belum sempat ia makan. Setelah selesai, Jongin berdiri dan sedikit merapihkan pakaiannya. Jongin mengigit rotinya. “Ibu, aku berangkat.” Teriaknya dengan mulut yang masih penuh terisi roti.
        Sang ibupun muncul dari arah dapur. Mereka tinggal di sebuah apartmen sederhana. “Apa kau tidak menyesal jika tidak melanjutkan kuliah seperti teman-temanmu?” Tanya nyonya Kim untuk meyakinkan anak bungsunya itu.
        Jongin menghela napas berat. Ia sudah terlalu lelah untuk membahas mesalah ini. “Apa ibu tidak merindukan Suho hyung?” Jongin membuat nyonya Kim tak bisa menjawab pertanyaannya. “Ibu pasti tau bagaimana ayah. Kerinduanku pada hyung sudah tidak bisa terbendung lagi. Aku lebih memilih tidak kuliah dari pada harus semakin lama berjauhan dengan hyung.”
        Nyonya Kim berbalik untuk menyembunyikan air matanya.
        “Aku akan bekerja keras, bu.” Janjinya. “Dan suatu hari nanti aku akan kuliah seperti apa yang selalu ibu harapkan.” Perlahan Jongin melangkah mendekati nyonya Kim dan memeluk ibunya dari belakang. “Maaf jika aku mengecewakan ibu.” Lirih Jongin tepat di telinga ibunya.

@@@

        “Nanti ku telpon jika sudah pulang.” Seru Suho mengingatkan sebelum turun dari mobil mewahnya. Suho turun bukan karena telah sampai di tempat kuliahnya, tapi ia sampai di halte kedua sebelum benar-benar sampai di kampusnya.
        Rutinitasnya selalu seperti ini. Suho tidak akan pernah mau di antar sopir pribadinya sampai kampus. Ia hanya akan di antar sampai halte tersebut dan akan menunggu bus yang akan mengantarnya kuliah.
        Ternyata Kris melihat kejadian itu dari dalam mobil Luhan yang ia kendarai. Meski pakaian yang dikenakan Suho sangat sederhana, namun tidak bisa membohongi mata Kris kalau semuanya adalah keluaran brand termahal. Kris tersenyum karena teringat Luhan. Di hari pertama hyungnya kuliah, Luhan malah lebih memilih naik bus dari pada mengendarai mobil baru hadiah ayah mereka.
        “Ku rasa mereka cocok jika bertemu.” Seru Kris diiringi dengan pikiran jahilnya.

@@@

        Kris siap membuka pintu ruangan dokter Jaesuk. Kris mendengar percakapan dari dalam. Karena itu Kris memutuskan untuk tidak menerobos masuk. Kris menajamkan pendengaran, bukan karena ingin mengetahui pembicaraan dokter Jaesuk dengan tamunya, tapi karena suara tamu dokter Jaesuklah yang familiar di telinga Kris.
        “Kau sudah sampai, Kris?” tegur seseorang membuat Kris menoleh. Joongki.
        “Baru saja, hyung.” Jawab Kris.
        Tak lama terdengar seseorang memutar knop pintu membuat Kris sontak menegang. Sebelum orang tersebut benar-benar muncul, Kris memutuskan untuk menyingkir dan bersembunyi, namun ia masih bisa mengawasi dari sana.
        Jongki siap menahan langkah Kris, tapi terlanjur orang tersebut muncul dan Kris juga sudah lebih dulu bersembunyi.
        “Joongki, hyung?” tegur salah satu dari dua orang yang muncul dari ruangan dokter Jaesuk.
        “Chanyeol… Tao…” gumam Kris dari tempat ia bersembunyi. Pantas saja ia merasa sangat mengenal suara tersebut. Kris mengawasi pertemuan antara Joongki, Chanyeol dan Tao. Namun ia tidak bisa mendengar apa yang mereka bicarakan.
        Tangan Kris mengepal karena Chanyeol terlihat seperti mencecar Joongki. Disampingnya Tao berusaha untuk menahan emosi Chanyeol. Kris sadar, semua pasti berhubungan dengannya.
        Taopun berhasil memaksa Chanyeol pergi dari sana. Setelah itu, Kris baru berani menampakkan dirinya kembali di hadapan Joongki.
        “Hyung, maaf…”
        Joongki tersentak mendengar suara seseorang tepat di belakang kepalanya. Ia pun hanya tersenyum dengan kehadiran Kris. “Sudahlah, Kris.” Gumam Joongki, sementara tangan kanannya menyentuh pundak Kris menandakan ia baik-baik saja. “Chanyeol pantas melakukan itu.”
        Kris masih menatap Joongki penuh penyesalan. Joongki sendiri berkali-kali meyakinkan Kris bahwa ia tidak mempermasalahkan tentang Chanyeol tadi.
        “Tapi, kenapa mereka bisa ada di sini?” Tanya Kris heran.
        “Ku rasa pemuda yang bersama Chanyeol tadi adalah anaknya dokter Jaesuk.”
        Kris sukses terbelalak mendengar pernyataan Joongki. “Tao anaknya dokter Jaesuk?” ulang Kris untuk meyakinkan dirinya. Namun belum sempat Joongki menjawab, pintu ruangan dokter Jaesuk terbuka.
        “Kenapa kalian ribut-ribut di depan ruanganku?” omel dokter Jaesuk dengan kepala menyembul dari balik pintu. “Kris? Cepat masuk.” Perintahnya yang langsung dituruti Kris dan Joongki.

@@@

        Joongki menahan tangan Kris saat pemuda itu sudah meninggalkan ruangan dokter Jaesuk. “Apa kau tidak ingin memberi tau ku alamat rumahmu?” protes Joongki karena Kris memang masih merahasiakan alamat rumah barunya.
        Kris tertawa menanggapi pertanyaan Joongki. “Nanti akan ku kirim alamatnya.”
        Joongki hanya mengangguk lalu berbalik untuk kembali ke dalam ruangan dokter Jaesuk.
        “Hyung…” teriak Kris.
        Joongki menoleh setelah mendengar Kris memanggilnya. “Apa?”
        “Apa Chanyeol masih bermain basket?”
        “Tentu saja. Jika kau ingin kembali ke klub, kembalilah kapanpun kau mau, Kris.” Balas Joongki segera masuk karena masih banyak pekerjaan yang harus ia selesaikan. Sebenarnya, bukan itu alasan utama Joongki. Tapi ia hanya tidak ingin melontarkan pertanyaan yang mungkin tidak bisa ia tahan. Yaitu tentang Kris, apakah ia akan meninggalkan klub basket kebanggaannya itu.
        Kris mendesah setelah Joongki menghilang ke dalam ruangan dokter Jaesuk. Ia tau, Joongki pasti kecewa karena Kris akan meninggalkan klub basket yang sudah membuat hubungan keduanya sangat dekat. Tapi itulah Kris, ia hanya ingin orang-orang disekitarnya tak merasa kehilangan jika Kris pergi untuk selamanya. Terlebih di sana Chanyeol juga bergabung.
        Perlahan Kris berbalik tak hati-hati membuat ia tak bisa menghindari tubuh seseorang yang berlari ke arahnya. Benturanpun tak bisa dihindari. Kris menabrak tubuh seorang pemuda sehingga keduanya sedikit terpental kebelakang.
        “Maaf aku terburu-buru.” Kata pemuda itu cepat-cepat bangkit dan membantu Kris berdiri. “Apa kau baik-baik saja?”
        Kris hanya mengangguk sekilas untuk menjawab pertanyaan pemuda di hadapannya kini.
        “Sekali lagi aku minta maaf.” Kata pemuda itu sambil mengucapkan kata ‘maaf’ sekali lagi lalu pergi saat Kris kembali mengangguk.
        Mata Kris terbelalak melihat sesuatu tertinggal di sana. Kris menoleh ke belakang, namun pemuda tadi sudah tidak terihat. “Ceroboh sekali orang itu.”
        Kris memungut sebuah dompet dan sebuah map coklat berisi dokumen perkuliahan atas nama Byun Baekhyun.
        “Ku kembalikan besok saja.” Putus Kris lalu pergi dan tak lupa ia membawa serta benda yang ia temukan tadi bersamanya. Ia terlalu lelah hari ini dan ingin segera sampai ke rumah.

@@@

        “Gool…!” seru Luhan girang membuat Kris membanting stik PSnya, frustasi.
        “Biar aku yang membalaskan kekalahanmu, hyung.” Ujar Sehun yang tiba-tiba saja menyeruak di antara dua hyungnya. Luhan hanya bergeser sedikit, sementara Kris menyingkir dan pindah duduk di sofa belakang mereka. “Siap melawanku, hyung?” tantang Sehun pada Luhan sambil meraih stik PS yang ditinggalkan Kris.
        “Cih… jangan sombong, kau!” balas Luhan tak terima.
        Kris mengawasi dari belakang ketika Sehun dan Luhan memulai permainan mereka. “Sehun, oper!” perintah Kris yang ikut terbawa suasana permainan. “Shoot! Shoot!” teriaknya lagi untuk mengintimidasi adiknya.
        “Hyung! Berhenti memerintah!” protes Sehun yang merasa konsen trasinya sedikit terganggu atas ulah Kris. Namun pandangannya tetap tertancap pada layar tivi.
        Kali ini giliran Luhan yang melempar stik PSnya.
        “Kok berhenti, hyung?” Tanya Sehun bingung.
        “Aku lelah…” ujar Luhan sambil beranjak menuju sofa tempat Kris duduk sekarang. “Lagi pula, kau harus belajar. Cepat sana kembali ke kamar.” Perintah Luhan membuat Sehun cemberut. Bukannya menuruti perintah Luhan, Sehun malah ikut bergabung duduk di sofa. Ia mengambil posisi di samping Kris yang duduk di tengah-tengah.
        “Oiya hyung. Kau tau National University?” Tanya Kris kepada Luhan.
        “Tapi aku tidak tau pasti letaknya.” Jawab Luhan ragu.
        “Itu sekolah mahal hyung.” Sehun ikut menjawab pertanyaan Kris membuat kedua hyungnya menoleh. “Lebih mahal dari kampus Luhan hyung. Salah satu universitas bisnis terbaik di kota ini.” Lanjutnya.
        “Apa kau ingin kuliah di sana?” Tanya Luhan menyelidik. Kris hanya menoleh tanpa arti. “Lagi pula, bukankah kau juga punya minat menjadi pebisnis?” Tanya Luhan lagi namun tetap tak mendapat jawaban pasti dari Kris.

@@@