Senin, 22 April 2013

KRIS WITHOUT WINGS (part 11)



        Tao dan Chanyeol tampak setengah berlari untuk bisa mengejar langkah Luhan yang telah mendahului mereka. Seharusnya memang tidak sesulit itu, tapi kondisi Tao dan Chanyeol yang sedikit bermasalah setelah ‘sparing’ tadilah yang membuat mereka sedikit mengalami kesulitan.
        Chanyeol sekuat tenaga mengejar Luhan. Mungkin karena kondisinya sedikit lebih baik dari pada Tao. “Hyung,” teriaknya sambil mengulurkan tangan untuk menggapai Luhan yang hanya tersisa beberapa meter saja dari tempat ia berada.
        “Apa?”
        Luhan yang berhenti dan berbalik dengan tiba-tiba, membuat Chanyeol tak sempat mengendalikan laju larinya hingga benturanpun tak bisa terhindarkan. Chanyeol menubruk tubuh mungil Luhan yang kini tertindih oleh badan jangkung milik Chanyeol.
        “Akh…” Chanyeol dan Luhan sama-sama meringis.
        “Astaga, apa yang kalian lakukan?” Tao berdecak bingung dengan apa yang terjadi.
Chanyeol yang berniat menghentikan Luhan, malah kini mereka jatuh bersamaan. Tao membantu Chanyeol yang menindih tubuh Luhan untuk berdiri. Setelah itu mengulurkan tangannya untuk membatu Luhan berdiri. Tapi apa yang Tao dapat? Luhan menepiskan tangannya.
        “Aku tak perlu bantuanmu,” sergah Luhan dengan angkuh lalu berdiri. Ia menepuk-nepuk celananya dari kotoran akibat terjatuh.
        Chanyeol menangkap tangan Luhan sebelum pemuda itu sempat beranjak dari sana. “Hyung,” lirihnya.
        “Apa yang membuat kau membenci kami?” Tanya Tao mewakili Chanyeol.
        Luhan berbalik sambil perlahan menjauhkan tangan Chanyeol dari tangannya. “Aku tidak akan benci pada kalian asalkan kalian janji tidak akan membahas apapun tentang Kris,” ujar Luhan dengan menunjukkan tatapan dingin.
        “Tapi, hyung,” Tao hendak memprotes.
        “Hyung, apa kau ingin menjauhkan kami dari Kris?” Chanyeol lebih dulu menyelak ucapan Tao.
        “Sudah ku bilang jangan bahas itu,” kesal Luhan karena harus mengulangi permintaannya. Luhan kembali berbalik dan berniat meninggalkan Chanyeol dan Tao.
        Chanyeol menghembuskan napas berat. Di sampingnya, Tao hanya mampun menatap nanar langkah Luhan yang semakin menjauh. “Aku ingin pulang saja, sore ini ada pertandingan,” ujar Chanyeol yang seolah enggan berlama-lama di kampus.
        “Kita masih ada jam kuliah,” seru Tao mengingatkan. Tapi tampaknya Chanyeol sudah tidak ada semangat mengikuti matakuliah hari ini.

@@@

        Sekuat tenaga Jongin menarik tangan Suho agar mau naik wahana halilintar. “Hyung, ayo,” paksa Jongin karena mereka sudah selangkah lagi untuk bisa menaiki permainan itu.
        “Tidak mau,” seru Suho tetap pada pendiriannya. Ia menolak dengan tegas ajakan Jongin yang satu ini.
        “Hyung, kau ini seperti gadis saja,” sindir Jongin yang masih belum menyerah untuk bisa mengajak Suho menaiki halilintar.
        Suho menghentakan tangannya sebagai tanda protes karena Jongin mengatakan dirinya seperti seorang gadis. “Enak saja!”
        Jongin diam sesaat sebelum akhirnya tersenyum jahil. “Itu artinya, kau tidak akan menolak kan, hyung?” itu bukan pertanyaan, tapi pernyataan, karena Jongin masih saja memaksa Suho dan kali ini berhasil. Mereka sudah masuk lebih jauh, bahkan sudah sampai duduk di dalam wahana tersebut.
        “Awas kau!” ancam Suho kesal atas perlakuan adiknya.
        Jongin menertawai Suho yang cemberut karena kesal dengannya. Mereka memang memiliki sikap bertolak belakang. Suho sebagai anak baik yang sangat patuh terhadap orang tuanya, dan Jongin anak bandel yang memiliki hobi ‘sparing’.
        Jongin masih saja terkekeh melihat raut wajah ketakutan yang ditunjukkan Suho sesaat sebelum wahana meluncur. Dan…
        “Aaaa…” jerit Suho meski wahana tersebut baru bergerak, bahkan belum mencapai kecepatan maksimalnya.
        Beberapa saat setelah selesai menaiki wahana tersebut, Suho turun sambil berpegangan pagar, tiang atau apapun yang bisa ia jangkau dan dijadikan tumpuan. Sementara tangannya yang lain memegangi kepala karena ia juga merasa pusing. Tak jauh dari sana, Suho menemukan kursi pajang dan Suhopun langsung menjatuhkan tubuhnya di sana.
        “Jongin, kau ingin membunuhku?” protes Suho atau dengan kata lain, ia juga menyalahkan adiknya itu atas apa yang ia alami saat ini. “Kau tidak mendengar ucapanku?” tegurnya lagi karena beberapa saat lalu Suho memejamkan matanya, jadi ia tidak sadar jika Jongin tak berada di dekatnya. “Jongin!” panggilnya sambil menoleh ke kanan dan mencari-cari adiknya.
Tidak mungkin Jongin pergi secepat itu. Ketika pandangan Suho menoleh ke arah lain, ia tersentak mendapati sesuatu yang dingin menyentuh hidung mancungnya. Suhopun mendongak dan menunjukkan kepada orang tersebut tatapan membunuh darinya. Siapa lagi yang melakukan itu kalau bukan Jongin.
        “Hyung, kau baik-baik saja?” tegur Jongin tanpa rasa berdosa yang kini sudah duduk di samping Suho.
        Suho menyeka hidungnya yang terkena es krim tadi dengan kasar. Ia tak menjawab kekhawatiran Jongin. Dan nampaknya Jongin seperti tak mempedulikan kondisi kakaknya. Ia justru mengulurkan salah satu tangannya yang menggenggam es krim ke hadapan Suho.
        Suho melirik Jongin dengan tatapan tak suka. “Apa kau sedang berlatih untuk mengajak kekasihmu ke sini suatu hari nanti?” Tanya Suho ketus.
        Tawa Jonginpun pecah tak terkendali. “Apa kau sudah pernah melakukan itu, hyung?” bukannya menjawab, Jongin malah balas memberikan Suho pertanyaan jahil sambil menatap nakal dan hendak mencolek dagu Suho.
        Suho menghalangi tangan Jongin sebelum hal tadi benar-benar terjadi karena bisa saja kini giliran dagunya yang terkena es krim akibat perbuatan Jongin.
        “Kau ingin menjadi playboy?”
        Jongin berdecak kesal dan menoleh ke arah lain karena tak ingin menanggapi pertanyaan Suho tadi. “Aku tidak seperti Chanyeol,” gumam Jongin nyaris tak bersuara. “Hei! Hyung!” protes Jongin karena tanpa sepengetahuannya, Suho menyambar es krim dari salah satu tangannya.
        “Apa? Mau protes?” seru Suho sebelum Jongin benar-benar memprotesnya. “Kau sudah hampir membuatku pingsang.”
        Jongin tidak jadi kesal karena melihat Suho mulai menjilati es kris yang baru saja direbutnya. Ia kini malah tersenyum karena ternyata Suho masih seperti kakaknya yang dulu. Tidak ada yang berubah.

@@@

        Sepulang sekolah, Sehun langsung bergegas menuju lantai dua rumahnya. Sehunpun membuka salah satu pintu, lalu melesat masuk. Setelah melemparkan ranselnya ke sembarang tempat, Sehunpun menghempaskan tubuhnya ke kasur.
        “Aku lelah…” keluhnya berbicara sendiri.
        “Memang siapa yang bertanya?”
        Sehun tersentak sambil bangkit karena ada seseorang di kamar itu. “Astaga, ternyata kau hyung,” ujar Sehun santai lalu kembali berbaring dan tak mempermasalahkan Kris ada di ruangan itu dan sedang bermain laptop di atas meja belajarnya.
        Kris melepas kacamata lalu memutar kursinya hingga menghadap Sehun. “Kau pikir ini di mana?”
        Sehun yang baru saja memejamkan mata, harus kembali membuka mata setelah mendengar pertanyaan Kris. Ketika menoleh, ia menemukan poster salah seorang pemain basket terkenal yang menjadi favorit Kris. Jelas saja Kris di sana, ini bukan kamar Sehun. Tapi pemuda itu sama sekali tak ada niat untuk beranjak dari sana.
        “Ternyata aku salah kamar,” seru Sehun tanpa rasa berdosa. Ia justru merentangkan tangan seraya menikmati nyamannya kasur besar di kamar Kris. “Pantas saja kasurnya lebih besar. Kau kan tahu hyung, kasur di kamar ku tak sebesar ini,” lanjutnya masih sambil berbaring di atas kasur Kris.
        Kris berdecak tak tertarik dengan apa yang dikatakan Sehun. “Kalau kau ingin kasur yang lebih besar, kau bisa ke kamar Luhan,” ujar Kris membalas ucapan Sehun.
        “Kau pelit sekali, hyung,” cibir Sehun kesal karena dengan kata lain, kakaknya itu seperti tak mengijinkan ia berada di sana walau hanya sebentar saja.
        Tidak seperti apa yang Sehun bayangkan, Kris justru tertawa geli melihat sikap kekanakan yang ditunjukkan Sehun. Ia tak ingin ambil pusing apalagi mengganggu Sehun yang katanya ingin menikmati kasur di kamarnya. Kris kini lebih memilih memutar kembali kursinya lalu mengenakan kacamata dan melanjutkan mengerjakan tugas kuliahnya.
        Tangan Sehun meraba sprei. Di sana ia menemukan ponsel Kris yang tergeletak. Tanpa pikir panjang, Sehun langsung menyambarnya. Dan tanpa ijin, Sehun mulai menjelajahi isi ponsel milik Kris. Tak lama, sebuah pesan multimedia masuk. Sehun sedikit mengerutkan kening ketika membuka foto kiriman dari Baekhyun.
        “Ku fikir kau foto dengan kekasihmu,” seru Sehun tak sopan. Namun Kris seperti tak mendengar apa yang dikatakan adiknya itu. “Apa setelah ini kau akan meninggalkan mereka seperti kau meninggalkan Chanyeol dan Tao,” sindirnya karena foto tersebut adalah foto Kris bersama Baekhyun dan Suho di kampus tadi siang.
        Ucapan terakhir Sehun membuat Kris akhirnya tersentak. Ia belum ingin memutar kursi untuk menghadap Sehun.
        “Aku tidak tahu apa alsanmu melakukan itu. Tapi ku harap Chanyeol dan Tao menjadi yang terakhir. Namun jika ternyata kau kembali bersikap seperti itu,” ujar Sehun panjang lebar dan sedikit memberi jeda sebelum melanjutkan ucapannya. “Entahlah, mungkin aku tidak akan mudah memaafkanmu.”
        Kris menoleh. Di saat yang bersamaan, ternyata Sehun baru saja menutup pintu kamarnya dari luar. Kris menghembuskan napas berat. Di lepaskannya kacamata yang sejak tadi bertengger di wajahnya. Ia sedikit memijat keningnya yang menjadi sedikit pusing.
        Beberapa saat kemudian, sebuah pesan masuk ke dalam ponsel Kris dan akhirnya membuat pemuda tinggi itu bergerak meraih ponselnya yang tergeletak di atas kasur. Kris menatap bingung layar ponselnya yang menunjukkan nama Sehun sebagai pengirim pesan.
        Kau tidak tahu kan? Kalau Luhan hyung mendapatkan perlakuan kurang menyenangkan dari Chanyeol dan Tao karena perbuatanmu. Jika itu kembali terjadi, kali ini aku serius tidak akan memaafkanmu.
        Kris beralih ke pesan lain dari Baekhyun yang tadi masuk ke dalam ponselnya dan telah di buka oleh Sehun. Kris melempar kasar ponselnya setelah melihat foto tadi lalu melesat ke luar kamar. Kris terkejut karena Sehun ternyata masih berdiri di sana, menunjukkan tatapan yang sulit untuk diartikan. Kris juga tak berkata apa-apa, ia segera pergi dari sana meninggalkan Sehun sendiri di depan kamarnya.

@@@

        Suho menatap es krim di tangannya yang berkurang setengah, lalu melirik Jongin yang masih menikmati es krim miliknya. Jongin sendiri tampaknya tak menyadari apa yang tengah dilakukan Suho saat ini. Nampaknya jika sedang bersama Jongin, ide jahil di benak Suho muncul dengan sendirinya.
        “Jongin…”
        Jongin menoleh ketika mendengar Suho menyebut namanya. “Apa?” chu, ternyata Suho menyodorkan tangannya yang memegang es krim ke dekat wajah Jongin. Jadi ketika Jongin menoleh, otomatis pipi Jongin akan menyentuh es krim yang disodorkan Suho. “Hyung!” protes Jongin sambil memegangi pipinya yang terkena es krim.
        Suho tertawa geli melihat tampang kesal yang ditunjukkan Jongin.
        “Hyung!” tegas Jongin lagi, kali ini ia sudah berdiri dihadapan Suho.
        “O… ow,” desis Suho yang langsung diam dan tak menyisakan tawa sedikitpun. Tanpa pikir panjang, Suho melempar sisa es krimnya sembarangan.
        Jongin juga melakukan hal yang sama, membuang es krimnya sembarangan. “Jangan lari kau Kim Suho,” teriak Jongin tak sopan karena menyebutkan nama kakaknya tanpa menggunakan kata sapaan formal kepada orang yang lebih tua.
        Seperti tak mempedulikan tatapan dari orang-orang di sekitar, Suho tetap berlari menghindari kejaran Jongin. Tapi tetap saja Suho bukan tandingan Jongin, karena dengan mudah Suho menyambar kerah belakang kemeja milik Suho.
        Suho yang sekuat tenaga melepaskan diri, justru malah tak bisa menyeimbangkan tubuh ketika Jongin menarik kerah kemejanya dari belakang. Mungkin karena keduanya mengeluarkan tenaga masing-masing, Suho akhirnya malah terjungkal dan menimpa tubuh tinggi Jongin. Suho berusaha melepaskan diri, namun Jongin tak akan melepaskan Suho bergitu saja hingga mereka melakukan gulat seperti waktu kecil yang sering mereka lakukan ketika bertengkar.
        Tawa Jongin di tengah-tengah pergulatan itu tiba-tiba lenyap ketika mendapati banyak mata tertuju pada mereka. “Apa kalian tidak pernah melakukan ini?” Tanya Jongin tajam.
        “Jongin,” seru Suho yang akhirnya sadar dengan apa yang mereka lakukan di depan umum.
        Jongin diam seiring dengan orang-orang yang mulai meninggalkan mereka di sana. “Sepertinya kita harus mencari tempat untuk bergulat,” sarannya membuat Suho tertawa.
        Suho merangkul pundak Jongin yang lebih tinggi darinya. “Bagaimana kalau kita sewa hotel atau apartmen?” tawarnya.
        Jongin tak langsung menyetujui karena kembali beberapa orang menatap aneh ke pada mereka. “Kami bukan penyuka sesama jenis! Dia hyungku!” tegas Jongin untuk menepiskan kecurigaan orang-orang yang menatap mereka heran.
        “Sudahlah, jangan mempedulikan mereka,” ajak Suho sambil mendorong tubuh Jongin agar meninggalkan orang tadi.

@@@

        “Chanyeol shoot,” teriak Jongkook, pelatih basket tim ‘running boy’ dari tepi lapangan.
        Suasana cukup tegang terutama untuk kubu ‘running boy’ karena mereka tertinggal poin dari lawan mereka, ‘black inject’. Joongki yang saat itu tengah duduk di bangku cadangan juga tak kalah tegangnya.
        “Akh…” desis Joongki kecewa karena Chanyeol gagal memasukkan bola ke dalam ring.
        “Sampai kapan kalian akan menyimpan Kris?”
        Mendengar salah satu anggota tim lawan menyebut nama Kris, sontak Joongki dan Jongkook menoleh.
        “Apa maksud kalian?” balas Jongkook yang tak suka dengan pertanyaan dari rivalnya itu.
        Joongki menatap sekelilingnya yang terasa sepi. Beberapa orang yang ia lihat tampak menatap ke arah belakang Joongki. Seperti terbawa suasana, Joongki juga ikut menoleh dan sontak saja ia terkejut dengan apa yang ia lihat.
        “Kris?” seru Joongki tak percaya.
        Sejak beberapa menit yang lalu, Kris memang telah berdiri di sana. Ketika mendapati Joongki yang sudah menyadari keberadaannya, seperti menghindar, Kris segera melesat pergi meninggalkan lapangan basket.
        “Kris, tunggu,” teriak Joongki yang langsung mengejar Kris.
        Sementara itu di area tribun penonton, Tao berada di salah satu kursi di sana. Ia juga menyadari ketika Joongki berlari mengejar seseorang yang ia yakini pasti itu Kris. Segera saja Tao bergegas mengejar Joongki.
        “Kris?”
        Setelah cukup jauh dari area lapangan basket dan ada seseorang yang memanggilnya, Krispun akhirnya mau berhenti. Awalnya ia pikir Joongki yang memanggil, namun ketika berbalik, Joongki juga sudah menoleh ke belakangnya. Ternyata ada seseorang lagi di belakang Joongki.
        “Tao?” gumam Kris pelan. Niat Kris ke sana memang hanya ingin melihat Chanyeol meski hanya dari jauh. Dan tak di sangka ia juga bertemu dengan Tao di sana. Itu artinya, misi Kris sudah selesai. Bahkan sama saja seperti ia mendapatkan bonus, yaitu juga bertemu dengan Tao. Kris hanya menunjukkan senyumnya sebelum berbalik menuju mobil untuk meninggalkan tempat itu.
        Joongki ikut berlari setelah Tao mendahuluinya.
        “Kris! Berhenti!” teriak Tao sambil mengejar mobil Kris yang sudah melesat kencang. “Akh!” Tao kesal karena tak bisa mengejar Kris. Ia menendang angin, frustasi. Sedetik kemudian, ia teringat satu orang lagi yang berada di antara dirinya dan Kris. Joongki.
        Joongki berusaha mengalihkan pandangan agar tidak bertemu dengan tatapan membunuh yang ditunjukkan Tao saat itu. Joongki melirik dengan gelisah terlebih ketika Tao mulai mendekat.
        “Apa yang kau sembunyikan dariku dan Chanyeol?” Tanya Tao tajam dan penuh selidik.
        Joongki menelan ludah, gugup. Tidak tahu apa yang harus ia katakan. “Aku…” ujarnya sedikit tergagap.
        Merasa tak mendapatkan jawaban seperti apa yang diharapnkan, dengan kasar Tao menarik seragam bakset yang dikenakan Joongki. “Apa yang kau sembunyikan dariku dan Chanyeol?” ulang Tao yang bertanya tepat di depan wajah Joongki. Kali ini lebih tegas.
        “Tidak ada yang ku sembunyikan,” seru Joongki akhirnya setelah sudah payah mengumpulkan keberanian. Jelas saja Joongki sedikit merasa takut, ia tahu bagaimana reputasi Tao dalam urusan berkelahi.
        Tao tak bisa percaya begitu saja. Masih diselimuti emosi, Tao mengangkat satu tangannya yang terkepal dan siap menghajar Joongki.
        “Tao hentikan!” teriak Chanyeol dari kejauhan sebelum Tao benar-benar melancarkan aksi pukulnya. “Lepaskan Joongki hyung,” pinta Chanyeol yang kini sudah menggenggam tangan Tao yang masih menggenggam erat di baju Joongki.
        “Dia menyembunyikan sesuatu tentang Kris, dan kau pasti tidak tahu kalau Kris baru saja dari sini,” kesal Tao yang masih belum mau melepaskan Joongki. Tangannya yang lain juga masih mengepal.
        Mendengar ucapan Tao, Chanyeol segera menatap Joongki seperti meminta penjelasan.
        Joongki berusaha bersikap tenang sebelum berkata, “satu-satunya orang yang bisa memberikan kalian jawaban itu hanyalah Kris. Bukan aku, Luhan, Sehun, atau yang lain.” Kalimat yang dikeluarkan Joongki sudah mewakili semuanya hingga membuat Tao bungkam.
        Chanyeol kembali menatap ke arah Tao, namun pemuda itu tak balas menatap dan malah melirik sesuatu dengan tatapan tak focus. Perlahan genggaman tangan Taopun terlepas dari baju Joongki dan akhirnya membuat Joongki menghela napas lega.
        Tanpa pamit atau berkata sesuatu, Tao lebih memilih pergi meninggalkan Chanyeol yang masih bersama Joongki dari pada ia semakin tak bisa lepas kendali.
        “Maaf, hyung,” lirih Chanyeol sekaligus mewakili Tao. Lalu ia ikut pergi dari sana. Bukan menyusul Tao, melainkan kembali ke dalam gedung tempat tadi ia bermain basket karena barang-barangnya masih berada di sana.

@@@

Sabtu, 20 April 2013

KRIS WITHOUT WINGS (part 10)



        Kris dan Baekhyun saling melempar tatapan jahil. Mereka sedikit bersembunyi di balik pilar kampus. Tak jauh dari sana, terlihat Suho berjalan seorang diri. Baekhyun menatap Kris, lalu pemuda itu hanya mengangguk seolah mengerti. Sebelum ini memang ada sedikit rencana antara keduanya.
        Baekhyun berlari ke luar pilar dan pura-pura muncul di hadapan Suho dari arah yang berlawanan. Sementara Kris, tetap berada sedikit di belakang Suho dan berhenti di depan madding kampus.
        Suho tersentak dan berhenti karena ada seseorang yang menghalangi langkahnya. “Baekhyun?”
        Kembali, Baekhyun ‘pura-pura’, seolah ia terkejut dengan apa yang baru saja keluar dari mulut Suho. “Kau masih mengenaliku?” Baekhyun balik bertanya dengan pasang tampang polos.
        Suho bingung harus menjawab apa. Ia melirik ke sekitar yang sudah menjadikan dirinya dan Baekhyun tontonan mereka. Baekhyun, mahasiswa paling popoler berbicara dengan mahasiswa biasa yang bahkan keberadaannya seperti tak terdeteksi.
        “Baekhyun kau tidak ke kantin?” Tanya seorang pemuda lain yang tiba-tiba saja menghampiri Baekhyun bersama dua temannya yang lain.
        “Aku tidak sedang bawa uang, apa itu artinya kalian akan mentraktirku?” kembali, Baekhyun melakukan acting yang sangat meyakinkan. Karena tidak mungkin seorang Baekhyun tidak bawa uang. Jika memang lupa, uang sisa hari kemarin yang tak sengaja tertinggal di tas atau saku tentu saja masih cukup untuk membeli makanan siang ini.
        Pemuda yang menghampiri Baekhyun tadi saling melempar pandangan dengan temannya. “Maaf, tiba-tiba aku teringat memiliki janji dengan orang lain,” ujarnya terburu-buru dan langsung pergi begitu saja meninggalkan Baekhyun berdua dengan Suho.
        Baekhyun hanya mengangkat bahu ketika tatapannya bertemu dengan Suho.
        ‘Ternyata seperti itu kehidupan di kampus ini,’ gumam Kris dalam hati yang sejak tadi mengawasi Baekhyun dan Suho.
        “Kris…”
        Kali ini Kris menoleh ketika seorang pemuda menghampirinya.
        “Kau Kris yang memiliki mobil ferary dua pintu itu, kan?” seru pemuda tadi penuh semangat, namun Kris hanya menanggapinya secara datar. “Wah… Kau hebat,” ujarnya lagi, kali ini sambil menepuk pundak Kris. “Bagaimana kalau kita ke kantin bersama?” ajaknya tiba-tiba.
        “Aku kerampokan tadi pagi. Dompetku hilang. Apa itu artinya kau akan mentraktirku makan?” ucapan Kris sama persis dengan apa yang dikatakan Baekhyun.
        Suho dan Baekhyun juga mengawasi Kris masih dari tempat mereka berdiri sekarang.
        “Kau kerampokan, Kris?” Tanya Baekhyun sambil menatap Kris khawatir tak lama setelah pemuda yang menemui Kris pergi. “Kalau begitu, kau gabung saja bersama kami. Suho sedang berbaik hati,” Baekhyun cepat-cepat merangkul Suho. “Dia akan mentraktir kita makan,” seru Baekhyun tanpa meminta persetujuan Suho sebelumnya membuat pemuda itu melirik kesal pada Baekhyun yang hanya di balas senyuman tanpa rasa bersalah.

@@@

        Jongin sedang menunggu bus di halte. Tak lama, sebuah motor sport yang cukup familiar di matanyapun melintas. “Kyungsoo?” gumam Jongin bingung karena Kyungsoo duduk di boncengan motor tersebut. Mata Jongin tak lepas ketika motor tersebut berbelok ke café tempat ia bekerja. “Sehun?” Jongin memicingkan mata untuk memastikan penglihatannya. Ia yakin bahwa yang mengendarai motor itu adalah Sehun. “Akh, tapi kan bukan hanya Kris yang memiliki motor seperti itu,” ujar Jongin lagi untuk memastikan diri.
        Jarak café dengan halte tempat Jongin berada hanya terpaut beberapa meter saja. Jongin sudah hampir mengejar dua anak SMA yang ia yakini sebagai Sehun dan Kyungsoo. Namun ketika melirik jam di tangannya, Jongin berubah pikiran. Terlebih bus yang sejak tadi ia tunggu sudah tiba.
        Jongin menggeleng. “Terlalu mepet. Aku harus segera menemui Suho hyung,” tegasnya lalu segera mengantri untuk bisa memasuki bus.

@@@

        “Kenapa?” Tanya Lay heran karena tiba-tiba Minseok menghalangi langkahnya yang akan memasuki kantin kampus.
        Minseok menatap ke suatu arah. Ia bahkan tak menoleh ketika Lay berbicara. “Chanyeol, Tao,” serunya heran.
        Lay mengikuti arah pandangan Minseok. Benar saja, ia menemukan dua musuh bebuyutannya yang sebenarnya juga kuliah di sana. “Mau apa mereka di sini?” Lay bukan melemparkan pertanyaan, karena ia sama sekali tak membutuhkan jawabannya.
        Tanpa komando, Lay dan Minseok bergerah melangkah ke tempat Chanyeol dan Tao berada.
        Chanyeol dan Tao yang merasa ada orang yang berdiri di samping mereka, langsung menoleh dan menengadah.
        “Minseok? Lay?” seru Chanyeol dan Tao hanpir bersamaan. Mereka juga langsung kompak untuk berdiri.
        “Cepat ikut!” paksa Minseok yang kini sudah menarik kerah kemeja Tao. Lay pun melakukan hal yang sama pada Chanyeol. Chanyeol sendiri sempat merogoh saku jeans dan meninggalkan selembar uang di atas meja sebelum tubuhnya benar-benar di seret paksa oleh Lay.

@@@

        Sehun duduk di hadapan Kyungsoo, namun matanya tetap mengedar seperti mencari-cari sesuatu. Mereka memilih tempat yang cukup dalam. Sehun sedikit memajukan tubuhnya agar Kyungsoo bisa lebih jelas mendengar suaranya, karena siang ini pengunjung café cukup banyak.
        “Mana Jongin hyung?”
        Kyungsoo menggedikkan bahu, “tidak tahu.”
        Tak lama seorang pelayan menghampiri mereka. “Ada yang bisa saya bantu?”
        “Apa kami bisa dilayani oleh Kim Jongin?” Kyungsoo balik bertanya.
        “Maaf, Jongin baru saja meminta ijin keluar dan baru akan kembali nanti sore,” seru pelayan tersebut.
        Kyungsoo dan Sehun saling pandang dan mendesah berat. Tak bisa dipungkiri, mereka cukup merindukan sosok Jongin. Dengan malas, Sehun dan Kyungsoo menerima buku menu dari tangan sang pelayan dan mulai memilih apa yang mereka ingin makan.

@@@

        Kris, Baekhyun dan Suho memilih makan di café kampus. Tak lama setelah selesai makan, Suho tampak melambaikan tangan kepada salah seorang pelayan sebagai tanda ia akan membayar makanan yang ia dan dua temannya pesan.
Tak lama pelayan tersebut kembali sambil memberikan sebuah kartu kredit beserta kertas berisi daftar harga makanan yang mereka pesan dan ternyata telah di bayarkan oleh seseorang. Suho sendiri juga telah mengeluarkan dompetnya.
        Baekhyun mengisyaratkan pelayan tadi agar pergi dan meninggalkan barang-barang tadi di meja karena Suho tak kunjung menerimanya. Kris meraih kartu kredit karena paling dekat dengannya berada, lalu menyerahkan kepada Baekhyun.
        “Apa maksud kalian mempermainkanku seperti ini?” seru Suho tajam dan sedikit tak terima dengan perlakuan Kris dan Baekyun. “Kau bilang…”
        “Dompetku tertinggal?” Baekhyun menyambar ucapan Suho karena ia sudah tahu apa yang ingin dikatakan pemuda itu. “Jadi kau percaya?”
        Suho tak menjawab dan malah melirik tajam ke Kris karena pemuda itu tampak sedikit menahan tawa ketika Baekhyun menyambar ucapan Suho tadi.
        “Suho maafkan kami jika kau tersinggung,” Baekhyun buru-buru menengahi Suho sebelum terjadi sesuatu. “Sekarang kau tidak boleh makan sendiri. Harus mengajak kami. Dan yang tadi, kau lihat sendiri kan? Mereka hanya ada untukku di saat senang. Tapi kau?”
        Suho diam dan Kris juga tak berniat buka mulut.
        “Cobalah membuka diri untuk berteman.”
        Tatapan Suho penuh selidik pada Baekhyun. “Bukankah selama ini kau takut dikucilkan sepertiku? Kenapa kini kau malah susah payah mendekatiku?” Suho kembali melirik Kris. “Apa karena dia?” tunjukknya lalu kembali pada Baekhyun. “Kau boleh berubah pikiran. Dan aku akan melupakan hari ini,” tanpa ingin ucapannya di bantah sedikitpun, Suho segera berdiri dan menyambar ranselnya lalu berlari keluar.

@@@

        Minseok dan Lay membawa Chanyeol serta Tao ke lapangan yang berada di belakang kampus. Tempat tersebut sangat jarang dikunjungi karena lokasinya seperti terpencil. Lay melepaskan genggamannya pada kerah kemeja Chanyeol. Minseok juga melakukan hal yang sama pada Tao.
        “Apa yang kalian lakukan di sini?”
        Chanyeol tertawa pahit menanggapi pertanyaan yang dilontarkan Minseok. “Apa kalian pikir kami tidak boleh kuliah di sini? Jika kami tau kalian juga melanjutkan kuliah di sini, kami mungkin akan lebih memilih National University!” desisnya tajam.
        Tao melirik Chanyeol sebagai tanda ia tak menyetujui ucapan temannya itu. “Kenapa harus National University? Walau kampus elit, tapi pergaulan di sana sangat buruk.”
        “Kenapa harus protes?” balas Chanyeol tak terima dirinya di salahkan. “Itu kan hanya alasanku saja.”
        “Hei…!” pekik Minseok sebelum Tao sempat buka mulut. “Kami di sini bukan untuk melihat kaliah bertengkar.”
        “Sekarang katakan! Apa yang kalian lakukan pada Luhan hyung waktu itu?” paksa Lay.
        Tao menanggapinya dengan santai. “Sepertinya itu bukan urusan kalian.”
        Chanyeol mengibaskan tangannya. “Sudahlah, jangan membuang-buang waktu untuk masalah itu. Karena sampai kapanpun kami tidak akan mengatakannya,” ujarnya sambil berbalik dan tak lupa mengajak Tao.
        “Kami belum selesai!” geram Lay yang merasa di remehkan. Ia menarik tubuh tinggi Tao lalu memukulnya tepat mengenai wajah. Lay sudah kembali mengangkat tangan, namun buru-buru dihalangi Minseok dan Chanyeol. “Ada apa lagi?” kesalnya.
        “Lawan sparing kita sudah ditetapkan sejak dulu. Kau tidak boleh mengubahnya seenakmu!” cecar Chanyeol mengingatkan sebuah perjanjian tak tertulis antara mereka. “Kau harus tetap melawanku. Dan Minseok yang akan berurusan dengan Tao,” lanjutnya.
        “Kenapa harus diperpanjang!” Lay pun ganti menarik Chanyeol agar sedikit menjauh dari zona kekuasaan Minseok dan Tao.

@@@

        “Suho, maaf. Aku menyesal sempat menjauhimu,” teriak Baekhyun untuk menghentikan Suho. Mereka bertiga sudah cukup jauh meninggalkan café tadi. Dan kini hampir sampai lapangan parkir yang tidak terlalu ramai. “Dan aku tidak ingin menyesal untuk ke tiga kalinya.”
        Suho masih terus berjalan dan Baekhyun serta Kris masih terus mengejar.
        Kris menyambar pundak Suho dan memaksanya untuk berhenti. “Kau boleh saja kecewa pada Baekhyun, tapi tetap saja kau tidak boleh mengabaikan keberadaanku.”
        “Kau tidak akan tahu bagaimana jika kau berteman denganku,” desis Suho tajam. “Baekhyun buktinya. Kau bisa tanyakan padanya,” tegasnya sambil menghentakkan tangan agar ia terlepas dari genggaman Kris.
        Melihat kejadian itu, Baekhyun buru-buru kembali menyambar tangan Suho agar pemuda itu tak lepas begitu saja. Ia menatap Suho sama tajamnya. “Aku tahu kau pasti kecewa karenaku. Tapi, ku mohon kembalilah seperti dulu. Kita sama-sama meninggalkan sahabat terbaik kita di masa lalu. Itu sangat sakit. Dan sekarang, apa kau mau melakukan itu lagi pada orang yang ingin berteman denganmu?” pertanyaan Baekhyun sukses membuat Suho terdiam.
        Kejadian itu terjadi setelah Suho lulus SMA. Ketika mulai kuliah, ia memutuskan untuk menghindari seorang sahabat dekatnya semasa SMA dengan alasan yang mungkin tidak akan bisa diterima jika Suho menceritakannya.
        “Siapa namanya?” Baekhyun tampak berfikir. Di sisi lain, ternyata Kris sedikit menyingkir karena sedang menerima sebuah panggilan. “Luhan?” nada bicara Baekhyun terdengar penuh kemenangan seolah ia tahu segala hal tentang Suho.

@@@

        Jongdae mengejar Luhan yang berlari di depannya. Mereka telah mendapat laporan perkelahian antara Chanyeol dan Tao dengan Minseok bersama Lay di lapangan belakang kampus.
        “Kalian! Berhenti…!” Luhan berteriak meski jarak mereka masih cukup jauh.
        “Lay, hentikan!” Jongdae juga tak hanya tinggal diam.
        Sementara itu, perkelahian masih sangat panas. Tao menghajar Minseok yang kini berada di bawahnya. “Tao!” teriakan Luhan akhirnya bisa menghentikan Tao yang saat itu juga sudah cukup babak belur.
        Di tempat lain, Lay siap kembali memberikan sebuah pukulan pada Chanyeol. “Jangan di situ,” protes Chanyeol sambil memegangi pipinya dengan tangan. “Kau tidak lihat wajah tampanku sudah tak berbentuk?” ujarnya menghalangi tindakan Lay berikutnya.
        Lay seolah tak mempedulikan ucapan Chanyeol. Ia kembali mengangkat tangannya. “Lay, cukup!” seru Jongdae cepat-cepat menahan tangan Lay. “Lay!” tegasnya lagi ketika tangan Lay masih terangkat.
        Luhan menodorong tubuh tinggi Tao agar menjauh dari Minseok. Tatapan Luhan bergantian melirik Tao dan Minseok yang berdiri di ke dua sisinya yang berbeda. “Apa yang kalian lakukan?”
        “Kami hanya ingin membelamu, hyung,” Minseok yang menjawab dan mendapat anggukan dari Lay.
        “Membela atas perlakuan mereka padamu waktu itu,” sambung Lay melengkapi ucapan Minseok.
        “Membela katamu?” Luhan mengulangi ucapan Lay dan Minseok. Ia menatap dua pemuda itu sinis. “Aku tak perlu pembelaan kalian,” desisnya angkuh. “Ayo pergi,” ajaknya sambil mendorong pelan tubuh Tao, sementara Chanyeol otomatis juga ikut melangkah mengejar Tao dan Luhan.
        Chanyeol sedikit menoleh ke arah Lay dengan lirikan penuh kemenangan. Lay yang masih kesal tampak kembali mengangkat tangan membuat Chanyeol langsung melesat pergi.
        “Cukup!” desis Jongdae yang sukses membuat Lay bungkam.

@@@

        Kris menghentikan mobilnya tepat di belakang sebuah mobil mewah yang berhenti di depan halte. “Besok pagi aku tunggu kau di sini,” ujar Kris sebelum Suho keluar dari mobilnya.
        Suho tersenyum dan mungkin ini kali pertamanya ia menunjukkan senyum itu ke hadapan Kris. “Oke,” ujarnya singkat sebelum keluar dari mobil Kris.
        Ketika mobil Kris sudah melintas, Suho melambaikan tangan untuk Baekhyun yang berada di dalam mobil di belakang mobil Kris. Ia kembali tersenyum teringat kejadian hari ini. Rasanya seperti memiliki warna baru dalam hidup. Suho mendesah keras sebelum akhirnya masuk ke dalam mobil yang sejak tadi menunggunya.
        Tanpa perintah, mobil yang dikendarai sopir pribadi Suho tersebut segera melaju. Entah kebahagiaan apa yang terselip pada diri Suho. Seperti orang jatuh cinta, Suho kerap kali tersenyum sendiri meski ia sembunyikan dari balik buku yang ia baca.
        Seseorang mengkerutkan dahi ketika mengawasi Suho dari kaca di dalam mobil. Sampai-sampai, Suho tidak menyadari jika yang mengendarai mobilnya bukanlah Gwangsoo seperti biasa. Tapi orang lain.
        Jongin mengusap keningnya. “Hyungku kenapa?” desisnya bingung.
        Ini memang telah direncanakan Jongin sebelumnya. Ia bekerja sama dengan Gwangsoo agar Jongin menyamar menjadi sopir pribadi Suho. Jongin bahkan meminjam seragam Gwangsoo untuk mendukung rencananya ini.
        Jongin sesekali masih mengawasi Suho dari balik kaca. Kali ini Suho memang sudah tidak terlihat tersenyum seorang diri, tapi ia tengah menikmati music melalui earphone yang menutupi telinganya. Ada setitik kebahagiaan menyelimuti raut wajah Suho. Lagi, karena terlalu ternggelam dalam dunianya sendiri, Suho kembali tak menyadari bahwa Jongin tidak membawanya ke rumah. Tapi ke tempat lain.
        Suho baru tersadar dari dunianya ketika mobil yang dikendarai Jongin berhenti. “Apa kita sudah sampai?” Tanya Suho sambil menarik earphone yang menutupi kedua telinganya.
        Jongin belum menjawab ataupun bergerak sedikit saja.
        Suho tersentak ketika menyadari tempat di mana ia berada sekarang. “Paman, kita di mana sekarang?” serunya heboh masih sambil celingukan ke kanan dan kiri.
        Jongin penepuk keningnya menanggapi respon dari Suho. “Hyung,” tegurnya sambil berbalik menghadap kursi belakang tempat Suho berada.
        “Jongin?” ujar Suho yang terkejut. “Mana paman Gwangsoo?” desak Suho ketika menanyakan keberadaan sopirnya itu. “Kau culik aku kemana?” pertanyaan Suho terdengar setengah menuduh.
        “Hyung, kau menuduhku menculikmu?” ujar Jongin tak terima.
“Cih, sok tampan sekali kau,” cibirnya.
        “Kau bawa aku ke mana?”
        “Apa kau tidak lihat tulisan di sana?” tunjuk Jongin pada sebuah tulisan besar di hadapan mereka. Jongin mengajak kakaknya itu ke sebuah taman bermain. Suho diam. Jongin mengacak rambutnya, frustasi. “Apa kau tidak suka aku ajak jalan?” Tanya Jongin, kali ini dengan nada sedikit kesal.
        Suho memikirkan jawaban yang tepat untuk pertanyaan yang dilontarkan Jongin. “Bukan begitu, tapi…” tak ada lanjutan kata yang ke luar dari mulut Suho.
        Sepertinya Jongin sudah cukup kehilangan kesabarannya. Ia membuka seragam milik Gwangsoo yang sedikit kebesaran di tubuhnya. Lalu ke luar dan membukakan pintu untuk Suho.
        Suho hanya menatap pintu mobil yang dibukakan oleh Jongin.
        “Hyung, kenapa diam saja? Cepat turun,” perintah Jongin dengan nada sedikit memaksa. “Hyung…” kesal Jongin yang kini sudah menarik paksa tangan Suho untuk mengikutinya ke luar.
        Tak ada protesan apapun yang ke luar dari mulut Suho. Pemuda itu hanya mengikuti langkah kaki adiknya. Bahkan ketika Jongin mengantri untuk membeli tiket, Suho tetap berdiri di sampingnya.
        Jongin mengibas-ngibaskan dua lembar tiket ke hadapan Suho. “Ini hasil gajiku selama sebulan. Jadi, jangan kecewakan aku!” ancam Jongin serius.
        “Kau bekerja? Tidak kuliah?” Suho bertanya sambil mengejar Jongin yang sudah lebih dulu menuju pintu masuk.
        Jongin masih belum menjawab pertanyaan Suho, karena setelah itu ia sibuk menunjukkan tiket kepada petugas.
        Merasa sedikit di abaikan, Suho tetap tak putus asa mencecar Jongin dengan pertanyaan seperti tadi. “Kenapa tidak bekerja dan harus kuliah?” ujarnya mengulangi pertanyaan yang masih sama.
        Jongin melirik Suho kesal. Ia sama sekali tak ingin membahas itu saat ini. “Bicarakan itu nanti,” desisnya malas.

@@@

Kamis, 18 April 2013

KRIS WITHOUT WINGS (part 9)



        “Sehun…” Kyungsoo berteriak sambil mengejar Sehun yang hampir sampai di parkiran motor. “Kau kini membawa motor?” seru Kyungsoo heran karena ini adalah kali pertama ia melihat Sehun menuju parkiran motor. Biasanya akan ada sopir pribadi yang siap mengantar Sehun kapanpun dan kemanapun.
        “Baru hari ini.” Balas Sehun seolah menganggap itu masalah kecil yang tak harus di besar-besarkan. “Ada apa?”
        “Aku sangat ingin tau rumah barumu. Apa aku boleh ikut?”
        Sehun tampak menimbang-nimbang permintaan Kyungsoo. Bukannya tak mau Kyungsoo datang. Ia hanya tak ingin Kyungsoo bertemu dengan Kris.
        “Begini…” Sehun berusaha bersikap sebiasa mungkin sambil menyentuh pundak Kyungsoo untuk memberikannya pengertian. “Bukannya tidak mau. Tapi ku pikir nanti saja jika Minseok hyung dan Lay hyung sudah mulai masuk kuliah. Kita akan bisa bermain dengan tenang tanpa gangguan dari mereka.”
        Kyungsoo tampak kecewa dengan keputusan Sehun. “Kalo begitu jangan katakan pada mereka kalau aku main ke rumahmu.” Kyungsoo masih berusaha keras membujuk Sehun.
        Sehun juga dua kali lipat lebih berusaha untuk memberi pengertian pada Kyungsoo. “Kalau kau tidak ada di rumah, Minseok hyung pasti akan mencari.”
        “Kita bisa bilang ada kegiatan di sekolah.”
        “Aku tidak mengijinkanmu berbohong.” Ketus Sehun membuat Kyungsoo bungkam. Dulu ia pernah melakukan sedikit kebohongan pada Kris, dan hyungnya itu marah besar. Dan kini Sehun tak ingin Minseok melakukan hal yang sama jika tau Kyungsoo berbohong.
        “Oke.” Ujar Kyungsoo singkat lalu meninggalkan Sehun. Ia memang tak pandai berbohong. Jelas terlihat di wajahnya bahwa Kyungsoo sangat kecewa.
        “Kyungsoo.” Panggil Sehun sebelum Kyungsoo semakin jauh. Kali ini ia yang mengalah untuk mengejar Kyungsoo. “Maaf jika aku mengecewakanmu. Tapi hyungmu tidak akan lama lagi mulai kuliah. Waktunya akan tersita lebih banyak dan kita bisa memanfaatkan itu untuk bermain bersama. Aku tau kau pasti akan kesepian jika Minseok hyung mulai kuliah.”
        Kali ini Sehun berhasil memberi pengertian pada Kyungsoo yang akhirnya bisa tersenyum. “Apa sejak Luhan hyung mulai kuliah kau juga merasakan hal itu?”
        Sehun tertegun mendengar pertanyaan Kyungsoo. Jelas saja jawabannya ‘tidak’, karena saat itu Kris juga masih SMA. Jadi mereka masih bisa bermain bersama. Namun di sisi lain, Sehun terharu karena Kyungsoo sangat perhatian dengannya. Perlahan Sehun menggeleng. Apa itu artinya ia akan mengakui bahwa ia tidak terlalu merasa kesepian karena ada Kris?
        Kyungsoo menatap Sehun bingung. “Maksudmu?”
        “Kan ada kau, Kyungsoo…” Sehun tampak gemas dan menarik Kyungsoo ke bawah lengannya. Sementara Kyungsoo hanya tertawa menanggapi perlakuan Sehun.

@@@

        Tao keluar dari dalam ruangan ayahnya. Di kejauhan, tak sengaja Tao melihat sosok Luhan menuju tempat informasi. ‘Apa yang dilakukan Luhan hyung di sini?’ pikir Tao dalam hati.
        “Tao tunggu…”
        Tao menghentikan langkah karena ia mendengar suara ayahnya memanggil. Tao memang anak dari dokter Jaesuk. “Ada apa lagi, yah?” Tanya Tao malas setelah berbalik.
        Dokter Jaesuk melambaikan tangan sebagai tanda Tao untuk menghampirinya. “Ada yang lupa ku sampaikan.”
        Dengan sangat terpaksa Tao pun kembali masuk ke dalam ruangan ayahnya dan ia sempat melirik Luhan sesaat yang masih berdiri di depan loket informasi.
        Sementara di tempatnya berada, Luhan tampak gelisah menunggu suster mencari data melalui komputernya.
        “Tuan Choi Kris Woo berada di ruangan 527.”
        Tanpa pamit atau sekedar mengucapkan terima kasih, Luhan langsung melesat ke ruangan yang dimaksud suster tersebut. Ia hendak berniat menaiki lift, namun karena ini jam besuk, antrian cukup panjang. Luhan sudah tidak bisa menunggu, ia langsung mencari tangga meski kamar Kris berada di lantai 5.

@@@

        “Hyung?” gumam Kris yang terkejut mendapati Luhan muncul di depan pintu kamar rawatnya.
        Luhan berjalan tergesa-gesa menghampiri Kris. “Kau baik-baik saja? Kenapa bisa sampai begini? Siapa yang mengantarmu ke rumah sakit?” Tanya Luhan bertubi-tubi.
        Kris menegakkan badannya yang bersandar. “Kau berlebihan hyung.” Canda Kris diiringi tawanya.
        “Hei! Aku hampir mati mendengar kau masuk rumah sakit!” omel Luhan merasa kepanikannya hanya dianggap lelucon oleh Kris.
        Kris sebenarnya tak niat bersikap seperti itu. Ia hanya tidak ingin Luhan terlalu mengkhawatirkannya. “Sudahlah hyung. Aku baik-baik saja. Aku ke sini di antar Joongki hyung. Tadi ia sedang main ke rumah.” Jelas Kris. “Maaf mengkhawatirkanmu, hyung.” Sesalnya.
        Luhan pun akhirnya bisa bernapas lega. Ia menghempaskan badannya ke kursi di samping ranjang Kris. Kris menyodorkan selembar tissue sebelum hyungnya itu menyeka keringat menggunakan ujung jaketnya.
        “Siapa yang memberi tahumu aku di sini?” Tanya Kris di sela-sela Luhan menyeka keringatnya.
        Luhan melirik Kris kecewa. “Jadi kau tidak akan memberi tahuku kalau kau di sini?” balas Luhan membuat Kris bungkam. Kris diam dan tak bisa menjawab. Dan Luhan yakin bahwa Kris tidak akan bisa menjawab pertanyaannya yang itu. “Tak penting siapa yang menghubungiku. Yang penting sekarang, apa yang terjadi padamu?”
        Kris dan Luhan sama-sama terperanjat karena Joongki muncul dan membuka pintu dengan sedikit kasar. “Oh, Luhan? Kau sudah di sini?”
        “Jadi kau yang memberi tahu Luhan hyung?” desis Kris penuh selidik. Ia menjadikan Joongki tersangka utamanya. Kris mendesah karena Joongki tak menjawab. “Harusnya aku tau sejak awal.”
        “Ceritakan apa yang terjadi pada Kris?” desak Luhan pada Joongki karena tak mungkin Kris mau buka mulut.
        Joongki melangkah pelan hingga akhirnya kini ia sudah di samping ranjang tempat Kris berbaring. “Ku harap kau selalu mengecek obat Kris. Kau tau sendiri bagaimana adikmu itu.”
        Luhan mendelik dan menatap Kris tajam. Namun adiknya itu pura-pura tak menyadari perlakuan Luhan padanya. Ia kembali menatap Joongki. “Aku sudah memeriksanya semalam. Dan yang ku temui masih banyak.”
        “Kau pasti melihat yang tutupnya biru?” tebak Joongki.
        “Bukankah memang merah?” Tanya Luhan, namun sedetik kemudian ia menyadari maksud ucapan Joongki. “Kenapa kau selalu mengganti warna tutup obat milik Kris?” pertanyaan Luhan kali ini terdengar seperti menyalahkan Joongki.
        “Itu bukan kemauanku.” Joongki tampak membela diri dan tatapannya sesekali tertuju pada Kris. “Kau! Jangan ikut memojokkanku seperti itu.” Protes Joongki mengenai tatapan penuh kemenangan yang ditunjukkan Kris.
        Luhan menjitak kepala Kris. “Kenapa kau memukulku?” protes Kris tak terima dengan perlakuan Luhan.
        “Apa kau tak sadar apa yang lakukan?” ucapan yang terlontar dari mulut Luhan tak sekedar pertanyaan. Namun juga menyiratkan kekecewaan. Bagaimana tidak? Ia bertanggung jawab sepenuhnya atas Sehun dan Kris selama orang tua mereka tak di rumah. Walau Sehun lebih muda, tapi Kris yang butuh perhatian lebih. Dan kini Kris seperti tak bisa diajak kerja sama untuk meminimalisir kejadian seperti ini akan terjadi lagi suatu hari nanti.
        “Sudahlah hyung, nanti sore aku sudah bisa pulang.” Rayu Kris agar Luhan sedikit tenang. Tapi sebenarnya itu tidak berhasil.
        “Kalau kejadian seperti ini terjadi lagi, habis kau!” ancam Luhan serius. Meski sebenarnya ancaman Luhan sama sekali tak menakutkan di mata Kris.

@@@

        Tao akhirnya bisa benar-benar keluar dari ruangan ayahnya, dokter Jaesuk. Lagi-lagi Tao melirik meja informasi tempat ia melihat seorang Luhan di sana. Ia masih penasaran dengan apa yang dilakukan pemuda itu di sini.
        “Apa kau sudah selesai?” suara seseorang yang berbicara tepat di telinga membuat Tao sedikit terlonjak. “Apa yang kau lihat?” Tanya Chanyeol sambil mengikuti arah pandangan Tao.
        Tao sama sekali tak menggubris kata-kata Chanyeol. Matanya tetap lekat tertuju meja informasi yang sebenarnya tak akan memberikan informasi apapun juga padanya jika hanya berdiam diri di sana.
        Tanpa sepengetahuan Tao, Chanyeol mengerling jahil padanya. “Apa kau sedang memperhatikan suster-suster cantik di sana ya?” godanya sambil menyenggol pelan pundak Tao.
        Tao memberikan tatapan membunuh pada Chanyeol. “Apa di otakmu tak ada hal lain kecuali tentang gadis cantik?” desis Tao tajam, namun ia segera pergi dari sana karena tak ingin mendengar jawaban apapun dari mulut Chanyeol.
        “Tao… tunggu…” kejar Chanyeol.

@@@

        Luhan menutup pintu kamar rawat Kris dari luar. “Hyung…” Luhan berusaha menghentikan langkah Joongki. Ia mempercepat langkahnya untuk mencapai tempat Joongki berdiri sekarang.
        “Apa ada yang tertinggal?”
        “Aku hanya ingin bicara sebentar.” Cetus Luhan lalu berbalik.
Joongki mengikuti langkah Luhan lalu mereka duduk di kursi ruang tunggu.
        “Hyung, tolong katakan. Apa yang terjadi pada Kris tadi?” pinta Luhan penuh permohonan. Joongki lah satu-satunya orang yang bisa ia tanyai perihal adiknya itu.
        Joongki terdengar menghela napas berat. “Jantungnya lemah lagi. Terlebih, ia kehabisan obat.”
        Luhan hanya terdiam mendengar cerita Joongki. Ia mungkin tidak akan memaafkan dirinya jika terjadi sesuatu pada Kris. “Apa obat sangat berpengaruh begitu besar? Tapi Kris sudah tidak bermain basket.”
        “Obat hanya akan mengurangi rasa sakit.” Joongki menatap Luhan untuk memberi pengertian. “Bukan menyembuhkan. Basket juga bukan factor utama penyebab jantung Kris kembali melemah atau tidak.” Joongki diam sejenak. “Apa tidak ada hal lain yang dipikirkan Kris?”
        “Ku rasa hanya tentang kuliah. Dia belum memutuskan universitas mana yang akan dia pilih.”
        “Ku rasa bukan itu.” Kecewa Joongki karena tidak menemukan jawaban yang ia harapkan. Sedetik kemudian, Joongki melirik Luhan dengan wajah cerah. “Bagaimana tentang Chanyeol dan Tao? Yang ku tau, hanya dua pemuda itu yang bisa dekat dengan Kris. Aku juga tau Kris ingin menjauhi mereka, tapi aku sama sekali tidak tau alasannya.”
        Luhan balas menatap Joongki sama cerahnya. “Kau benar, hyung. Hanya Chanyeol dan Tao yang bisa dekat dengannya selain, ayah, ibu, aku, Sehun, kau dan keluarga dekat. Kris hanya tidak ingin Chanyeol dan Tao sulit melepasnya jika sesuatu yang buruk terjadi pada Kris. Tapi…” kali ini Luhan terdengar sedikit ragu. “Apa itu berpengaruh?”
        “Bodohnya anak itu!” omel Joongki. Tapi ia tak sengaja memarahi Luhan hingga pemuda itu menatap takut padanya. “Aku bukan ingin memarahimu.” Sergah Joongki cepat-cepat sebelum Luhan berpikir ia benar-benar memarahinya. “Tapi, Kris salah jika bersikap seperti itu. Justru yang ku ingat saat bersama Chanyeol dan Tao, Kris tidak pernah mencapai titik seburuk ini.”
        “Jadi, apa yang harus ku lakukan?” Tanya Luhan meminta saran.
        “Kita harus mengembalikan suasana hati Kris seperti saat masih bersama Chanyeol dan Tao. Tapi aku juga bingung. Sangat sulit menjaga ‘feel’-nya Kris agar tetap stabil.”

@@@

        “Hyung…” Sehun mengetuk pintu kamar Kris dengan cukup malas. Ia masih sangat mengantuk, tapi Sehun mengalah bangun lebih pagi untuk membangunkan Kris sejak kakaknya itu mulai masuk kuliah.
        Merasa tidak ada jawaban, Sehun memutuskan untuk masuk. Sangat sulit membangunkan Kris tidur, apalagi hanya mengetuk dari luar pintu seperti ini.
        Sehun geleng-geleng kepala melihat Kris masih meringkuk di bawah selimutnya. “Astaga, hyung…” dengan kasar Sehun mengguncang bahkan sampai saling tarik-menarik selimut dengan Kris.
        “Sehun… akh…” pekik Kris yang kini sudah menggelinding ke lantai. Kris memegangi tubuhnya yang sakit akibat pendaratan paksa karena tidak bisa mengimbangi kekuatan Sehun.
        “Kau tidak begitu kau tidak akan bangun!” ujar Sehun sambil melempar selimut tebal ke atas tubuh Kris. Ia sama sekali tidak berniat menolong sedikitpun, bahkan langsung meninggalkan Kris di sana.
        “Astaga, anak itu…” Kris hanya bisa memaki pelan.
Kris mendesah sambil menarik selimut ke dalam pelukannya. Ia belum ingin bangkit dari sana dan kini Kris justru kembali menjatuhkan badannya yang masih di lantai. Ia masih ingin tidur. Kris menghadap ke bawah ranjangnya. Ada sebuah kertas yang tertinggal di sana. Meski tak terlalu penasaran, tapi Kris tetap meraihnya.
        “Ini apaan?” Heran Kris mendapati kertas asing tersebut. seperti surat dari rumah sakit. Tapi itu bukan miliknya, melainkan milik… “Byun Baekhyun?” mata Kris terbelalak mendapati nama Baekhyun tertera di sana. Kris baru ingat, map itu sempat tak sengaja jatuh dan isinya sedikit berceceran di lantai. Ternyata masih ada satu yang tertinggal.

@@@

        “Di mana kau menemukan ini, Kris?” desak Baekhyun sesaat setelah Kris memberikan kertas tersebut dan menemuinya di kantin kampus.
        “Maaf aku tak tau kalau kertas itu ternyata tertinggal.” Seru Kris dengan nada bersalah.
        Baekhyun menghela napas. “Sudahlah Kris.” Ujarnya menenangkan agar Kris berhenti merasa bersalah. “Tapi ku harap kau tidak memberi tahu siapapun tentang penyakit yang ku derita ini.”
        Kris hanya diam. ‘Bagaimana mungkin aku menyebarkan rahasia itu? Aku juga memiliki penyakit yang sama sepertimu, Baekhyun.’ Keluh Kris yang hanya bisa ia jeritkan dalam hati.
        “Tapi, bukankah kau sudah sembuh?”
        Baekhyun mendongak sambil tersenyum seiring tangannya yang memasukkan kertas pemberian Kris ke dalam tasnya. “Sembuh tapi bukan berarti bisa lepas dari penyakit itu sepenuhnya.”
        “Jadi, pengobatan apa yang lakukan dulu dan apa yang kau lakukan sekarang agar penyakitmu tidak kembali?” cecar Kris yang sangat penasaran.
        Baekhyun menatap Kris penuh selidik. “Kenapa kau sangat mendesakku seperti itu?” protesnya.
        “Ku mohon, Baekhyun.” Pinta Kris sungguh-sungguh. “Bukankah aku ini temanmu?” satu serangan pamungkas yang di lancarkan Kris agar Baekhyun mau bercerita, yaitu dengan alasan ‘teman’.
        “Hanya perawatan biasa yang bisa kita dapatkan dari rumah sakit manapun. Aku menuruti semua perintah dokter dan mengalahkan semua keinginanku. Dan yang terberat, ketika aku menyesal meninggalkan sahabat terbaikku ketika kecil.”
        “Sahabat?” Kris mengulangi ucapan Baekhyun dengan nada bingung.
        “Semangat dan kasih sayang dari orang-orang terdekat juga sangat dibutuhkan oleh orang sepertiku. Kau tau? Dulu aku pernah meninggalkan sahabatku karena aku tak ingin ia sedih jika aku tak bisa sembuh. Namun ternyata semua salah.”
        Kris tersentak dengan apa yang ia alami. Ternyata caranya selama ini salah. Tak seharusnya ia menjauhi Chanyeol dan Tao hanya karena egonya.
        “Dan sekarang aku menyesal tak bisa bertemu dengan sahabatku itu. Aku juga tidak tau di mana ia sekarang.” Lanjut Baekhyun.
        Menyesal. Itu dia, satu kata yang sedang menghampiri Kris saat ini. Ia sangat menyesal tak bisa bersama-sama dengan Chanyeol dan Tao. Kris berpikir mereka pasti telah membencinya sekarang.
        “Kris…” tegur Baekhyun membuyarkan lamunan Kris.
        “Maaf…” sahut Kris serba salah untuk bersikap.
        “Kapan kita akan menemui Suho?” Tanya Baekhyun yang tampaknya telah melupakan ucapan terakhir Kris.
        Kris baru sadar, tujuan ia ke sini adalah karena Suho. Tapi kini ia ragu. Jika ia mendekati Suho agar bisa ia perlakukan seperti Chanyeol dan Tao, lebih baik tidak perlu ia lakukan.
        “Bagaimana kalau kita paksa dia untuk makan bersama siang nanti?” usul Baekhyun.
        Kris sedikit mempertimbangkannya. Melihat keceriaan Baekhyun, membuat Kris tersadar. Tak selayaknya ia berniat melakukan hal tersebut pada Suho yang tidak tau apa-apa. Cukup Chanyeol dan Tao. Setelah ini, Kris berniat tidak akan meninggalkan siapapun kecuali hal buruk terjadi padanya. Ia ingin semua orang yang ia sayang ada di sampingnya sampai kapanpun.

@@@

        Kyungsoo melirik Sehun yang sedang merapikan buku-buku pelajarannya. “Apa aku belum boleh main kerumahmu?” bisik Kyungsoo menagih janji Sehun.
        Sehun menertawai pertanyaan Kyungsoo sambil menepuk-nepuk pelan pundak Kyungsoo. “Tentu saja boleh. Tapi bukankah sore ini kau ada les privat?” balas Sehun mengingatkan.
        “Aku ingat.” Ujar Kyungsoo malas. “Tapi aku jenuh harus selalu belajar.” Keluhnya.
        “Besok kan kau libur. Nanti pulangnya, akan ku antar. Oke?”
        Kyungsoo masih kecewa karena ia belum bisa mengunjungi rumah baru Sehun yang kini justru lebih dekat dari pada rumahnya yang dulu.
        Sehun merangkul Kyungsoo untuk mengurangi kekecewaan temannya itu. “Ayolah Kyungsoo.”
        “Iya. Besok kita akan ke rumahmu.” Ujar Kyungsoo akhirnya.
        “Hmm… bagaimana kalau kita makan siang bersama?” tawar Sehun untuk mengobati kekecewaan Kyungsoo.
        “Boleh.” Sahut Kyungsoo yang langsung setuju. “Bagaimana di café tempat Jongin hyung bekerja.”
        “Jongin hyung?” Sehun memastikan pendengarannya.
        Kyungsoo mengangguk penuh antusias. “Tak jauh dari kampus Minseok hyung.”
        “Ayo segera kita ke sana.” Ajak Sehun tanpa pikir panjang. Mereka pun langsung melesat menuju lapangan parkir untuk mengambil motor Sehun.

@@@