Selasa, 16 April 2019

-BEAUTIFUL MONSTER (7)-



Author          : N-Annisa [@nniissaa11]
Cast                :
·        Son Chaeyoung
·        Adachi Yuto
·        Kang Hyunggu (Kino)
·        Jung Wooseok
·        Lee Hangyul
·        and other
Genre            : School Life, Romance, Drama

***

             “Siapa kau?”
            Dongwoon mengerutkan kening. “Kau tidak mengenalku?”
            Yuto memikirkan jawaban yang pas. “Bukan itu. Iya aku pernah melihatmu di televisi. Maksudnya…”
            “Harusnya aku yang bertanya, kau siapa?” Dongwoon lebih dulu menyela ucapan Yuto sebelum pemuda itu menyelesaikan ucapannya.
            “Yuto,” kata Yuto singkat. “Kau siapa dengan Chaeyoung, hmm maksudku Chaeyoung siapamu atau kau siapanya Chaeyoung?” Yuto melipat tangannya dengan tatapan menyelidik, persis seperti detective.
            Dongwoon terkekeh sambil menggeleng. Mungkin dipikirnya ada-ada saja dengan pemuda asing yang menjadi tetangganya itu. Namun memang tidak banyak yang mengetahui hubungannya dengan Chaeyoung. Kecuali keluarga dan orang-orang terdekat.
            “Tanya saja pada Chaeyoung.”
            Dengan gerakan cepat, Dongwoon sudah melesat masuk kembali ke dalam apartmentnya.
            “Tunggu!” Yuto nyaris mengejar Dongwoon namun ia batalkan karena Dongwoon sudah lebih dulu menghilang ke dalam apartmentnya.

***

            Tepat jam 7 malam, para pria berseragam pelayan tengah sibuk di sebuah gedung mengatur makanan yang akan menjadi jamuan acara pertemuan pengurus Yayasan sekolah dan para pemilik saham. Beberapa dari mereka juga turut serta membawa keluarga. Acara tersebut memang rutin dilakukan setahun sekali untuk mempererat hubungan orang-orang yang terlibat atas kelangsungan masa depan sekolah. Dan di sana Chaeyoung berada. Dengan stelan kasual, celana dan jaket jeans, dengan rambut diikat satu keatas. Gadis itu mengawasi makanan yang keluar dari dapur dan memastikan semuanya sesuai dengan pesanan.
            Kogyeol juga berada di sana. Kerap kali ia yang terlihat melakukan koordinasi dengan Chaeyoung. Mengkonfirmasi dan melaporkan beberapa hal. Karena Kogyeol bekerja di dalam ruang acara, sedangkan Chaeyoung siaga di dapur.
            Sementara itu, sebuah tampak mobil memasuki pelataran parkir. Setelah mematikan mesin mobil, pengendara itu membuka pintu dan mengulurkan kaki jenjangnya sebelum benar-benar keluar dari mobil. Ia berjalan menuju area Gedung tempat acara berlangsung. Pemuda itu hanya mengenakan celana Panjang hitam dan kemeja putih polos dengan lengan baju yang di gulung hingga siku, serta rambut yang sedikit ditata. Saat benar-benar memasuki ruangan, pemuda tinggi itu langsung dihujani tatapan kagum dari beberapa tamu yang hadir. Terutama para gadis, anak-anak dari pemilik saham ataupun pengurus Yayasan. Namun kejadian itu tidak berlangsung lama karena acara akan dimulai dan dibuka oleh pembicaraan seorang MC.
            Setelah beberapa sambutan oleh beberapa orang, sang MC yang adalah seorang wanita itu kembali ke tengan podium. “Kami akan memperkenalkan seseorang yang sudah sangat sukses di usianya yang masih muda. Salah satu penyumbang saham di Yayasan kita. Seorang pemuda dari negara Jepang. Please welcome, Adachi Yuto.”
            Riuh tepuk tangan orang-orang yang hadir menciptakan suara gemuruh. Terlebih jeritan histeris dari pada gadis yang hadir. Namun si pemilik nama justru baru tersadar setelah beberapa saat karena menyadari hampir seluruh pasang mata mengarah padanya.
Pemuda itu, Yuto, ia sejak tadi lebih memilih menyendiri di bagian belakang atau dekat dengan pintu masuk. Sibuk dengan ponselnya. Yuto masih menatap layar ponselnya. Sejak tadi ia mengirimi pesan pada Chaeyoung, namun tidak kunjung mendapat balasan. Sambil menghela napas, berat, Yuto memasukkan ponselnya ke saku celana, kemudian melangkah malas ke depan. Beberapa saat lagi ia akan memberikan kejutan untuk Keigo Nishimoto, Mina, dan ibunya Mina yang kemungkinan pasti hadir di sana.
            Yuto menginjakkan kaki di atas podium setelah sebelumnya ia menerima mic dari sang MC. Dari atas sana ia bisa melihat dengan jelas suasana acara secara keseluruhan. Dengan meja makanan di sisi kiri dan kanan ruangan. Tidak terkecuali dua orang yang kini bertabrakan mata dengannya. Keigo dan Mina. Terutama Keigo yang tadi bahkan tidak memberikan tepukan apresiasi untuk Yuto. Jelas pria itu terkejut setengah mati karena mendapati anak bungsunya berdiri di sana. Bukan sekedar tamu undangan biasa.
            Hanya berlangsung beberapa menit saat Yuto harus menjadi pusat perhatian. Ia sengaja mengaku belum terlalu lancar berbahasa Korea untuk menghindari pertanyaan-pertanyaan yang mungkin tidak ingin ia jawab. Terutama tentang bagaimana ia akhirnya bisa sampai berdiri di sana karena memiliki saham Yayasan atas nama dirinya. Karena jawabannya adalah : ia tidak tahu apa-apa.
            Setelah itu acara berganti menjadi lebih santai. Seluruh tamu undangan juga sudah dipersilahkan untuk menikmati hidangan. Yuto berjalan ke salah satu meja yang berisi minuman. Mereka akhirnya kembali bertemu pandang—Yuto dan Keigo. Yuto hanya menunduk sedikit untuk menunjukkan tanda hormat. Mereka tidak mungkin membongkar identitas mereka di sana. Lebih tepatnya Yuto tidak ingin ada yang tahu jika dirinya dan Mina adalah saudara tiri. Yuto sengaja memilih jalan lain untuk menghindari keberadaan Keigo.
            “Cepat panggil pimpinan kalian!”
            Yuto berbalik kembali setelah mendengar ada sebuah keributan. Beberapa orang sudah berkerumun namun ia masih bisa melihat siapa gadis yang membuat heboh tadi dengan suara cemprengnya. Yuto berdesis kesal. Lagi-lagi Mina sok berkuasa. Yuto perlahan mendekat dengan langkah pelan. Tidak ada yang ia pikirkan selain berjalan semakin dekat. Seiring dengan orang-orang yang di seberangnya tampak seperti membuka jalan. Di sana Yuto semakin terkejut karena ia melihat Chaeyoung muncul. Yuto semakin mempercepat langkahnya, tidak peduli jika badan besarnya menubruk orang-orang di depannya.
            “Aku suruh panggilkan pimpinan kalian, bukan rekan kalian sesama pelayan,” kata Mina dengan nada angkuhnya sambil bertolak pinggang.
            Kebetulan Kogyeol memang mengekori Chaeyoung saat gadis itu dipanggil ke sana. “Mohon maaf, tapi Son Chaeyoung adalah pimpinan kami.”
            Chaeyoung menoleh pada Kogyeol yang hanya dibalas anggukan oleh pemuda itu. Anggukan untuk membuat Chaeyoung merasa sedikit tenang.
            Kali ini Mina melipat tangannya di depan dada. “Waaah, hebat. Kau sudah naik pangkat rupanya.”
            Pemuda yang tadi membuat Mina marah tampak sedang membersikan tumpahan minuman yang mengotori lantai. Mina yang melihat itu semakin kesal.
            “Berhenti, kau!” titah Mina dengan tangan yang bergerak memerintah. “Aku ingin Chaeyoung yang membersihkan semuanya. Yang lain silahkan melanjutkan menikmati makan malam kalian.”
            Di tempatnya berdiri, Yuto semakin mengatupkan rahangnya menahan kesal sambil mengepalkan erat kedua tangannya. Chaeyoung sediri tampak belum menyadari keberadaan Yuto di sana. Karena Yuto masih diam. Lebih tepatnya tidak ingin Mina semakin menghancurkan Chaeyoung. Atau bahkan lebih parah dari itu, menghancurkan restoran Chaeyoung. Bukan karena takut melawan Mina, hanya saja ia takut jika justru tidak bisa membereskan semuanya.
            Mina memajukan kaki kanannya saat Chaeyoung terlihat menerima gagang pel dari pemuda tadi. Terlihat ada bercak noda warna dari minuman yang tadi tumpah. Sementara Kogyeol sudah mengalihkan pandangan ke arah lain seiring beberapa orang berangsur meninggalkan kejadian yang sedikit mengganggu acara tersebut.
            “Bersihkan kakiku juga.”
            Yuto dan Kogyeol sontak menoleh ke arah Mina, bersamaan. Gadis itu mengulurkan selembar tissue dari dalam tas tangannya. Kali ini sudah tidak bisa ditolelir lagi. Yuto melangkah maju. Mina menoleh, Chaeyoungpun menoleh dengan tatapan terkejut. Yuto menatap Chaeyoung beberapa saat. Dan tanpa melirik sedikitpun ke arah Mina, ia merebut tissue dari tangan gadis itu. Kemudian Yuto berjongkok di dekat kaki Mina yang sudah ia tarik kembali seperti posisi semula.
            Chaeyoung menyentuh pundak Yuto sambil menahan pemuda itu. “Sunbae, biar aku saja!”
            Yuto mengabaikan Chaeyoung. Ia semakin mendekat pada Mina. Dengan kasar, Yuto menarik kaki Mina dan melepas sepatunya agar ia bisa lebih leluasa membersihkan noda pada sepatu gadis itu.
            “Yuto, hentikan!” pekik Mina.
            Yuto seakan tuli namun ia mempercepat pekerjaannya. Setelah dirasa selesai, Yuto kembali berdiri. “Yang kau hina itu adalah pemilik restoran tempat kau menikmati semua makanan di sini.” Dikembalikannya tissue kotor itu pada Mina secara paksa dengan menarik tangan gadis itu.
            Yuto membalikkan badan dengan gerakan cepat sambil menyambar tangan Chaeyoung dan membawa gadis itu pergi meninggalkan ruangan. Mereka sampai di area luar tidak jauh dari pintu Gedung. Di sana Yuto melepaskan genggaman tangannya sambil berbalik untuk menghadap Chaeyoung yang kini menunjukkan tatapan marah padanya.
            “Apa yang kau lakukan?”
            “Membelamu.”
            “Kau tidak tahu kalau yang kau lakukan itu…”
            Yuto menyambar ucapan Chaeyoung yang belum selesai. “Jika Mina berani menyakitimu, atau bahkan menghancurhan restoranmu, aku berjanji aku akan bertanggung jawab semuanya.”
            “Kenapa kau tiba-tiba peduli padaku?” tanya Chaeyoung dengan kening berkerut.
            “Atau kau ingin kita membuat surat perjanjian?” Yuto tidak menjawab pertanyaan Chaeyoung
            Chaeyoung menggeleng, tidak habis pikir dengan apa yang dilakukan Yuto tadi. “Bukan itu. Maksudku, kenapa kau peduli? Kita bahkan baru kenal.”
            Yuto menggeleng tegas lalu menarik tubuh mungil Chaeyoung ke dalam pelukannya. “Kita tidak baru kenal.”
            Merasa tidak nyaman, Chaeyoung mendorong tubuh Yuto dengan sekuat tenaga untuk membebaskan diri dari tubuh besar pemuda itu. Yuto sendiri bersikap lunak, tidak menahan Chaeyoung dalam pelukannya. Di dalam pencahayaan yang minim itu, Yuto melihat seseorang yang tampak berjalan mendekat, menyusul mereka. Pemuda itu adalah Kogyeol.
            “Kita bicara lagi nanti.” Buru-buru Yuto berbalik.
            “Ya! Sunbae!” Chaeyong berteriak namun tidak mengejar Yuto. Membiarkan tubuh pemuda itu semakin jauh.
            “Chaeyoung,” panggil Kogyeol dengan suara lembut. “Kau pulanglah dulu. Urusan di sini biar aku yang menyelesaikan,” lanjutnya setelah mendapati Chaeyoung berbalik. “Lagipula, acara sudah akan berakhir.”
            Chaeyoung mengangguk lalu kembali berbalik dan melangkah pergi. Gadis itu sempat berhenti sesaat karena ada mobil yang melintas. Mobil milik Yuto yang dikendarai sendiri oleh pemuda itu dengan sorot mata penuh kebencian. Namun Chaeyoung tidak terlalu ingin ambil pusing dulu untuk saat ini. Ia bisa bicara lagi dengan Yuto, nanti.

***

Gadis itu berjalan menuju halte untuk menunggu bus. Tidak berselang lama, bus yang ia tunggupun tiba. Chaeyoung segera naik, berjalan lebih dalam mencari kursi kosong.
            Seseorang melambaikan tangan pada Chaeyoung. Gadis itu menajamkan pandangannya. Ada sosok Taewoong di sana. Duduk di kursi paling belakang. Kebtulan ada satu kursi kosong tepat di sebelah Taewoong. Tentu saja Chaeyoung memilih untuk menempati kursi kosong yang berada di dekat jendela itu.
            Oppa kau baru pulang?”
            Taewoong tersenyum sambil mengangguk pelan. “Kau sendiri dari mana?”
            “Tadi ada acara yang memesan makanan dari restoranku.”
            Kemudian mereka saling diam. Sampai akhirnya Taewoong memecah keheningan karena tiba-tiba ia teringat sesuatu. Taewoong memeriksa tasnya. “Chaeyoung,” panggilnya hingga membuat gadis yang semula tengah menikmati pemandangan dari luar jendela itu menoleh. “
            “Lihat foto ini.” Di tangan Taewoong terdapat selembar foto yang sudah sedikit usang.
Mata Chaeyoung berubah berbinar saat melihatnya. Foto dua buah keluarga bersama anak-anak mereka. Ada seorang anak perempuan sekitar berusia 1 tahun dan seorang anak laki-laki berusia sekitar 2 tahun yang masing-masing duduk dipangkuan ibu mereka. Dan ada 3 anak laki-laki lagi berdiri di samping ibu mereka. Sementara sang ayah berdiri di belakang istri mereka.
            “Aku menemukan foto ini di rumah,” kata Taewoong lagi seakan bisa menebak isi pikiran Chaeyoung yang bisa dipastikan sangat penasaran bagaimana foto tersebut berada pada Taewoong. “Kau tahu? Itu adik laki-lakiku yang bernama Yuto.
            Chaeyoung masih menyunggingkan senyuman. Jelas saja karena ia sangat merindukan orang tuanya yang telah tiada. Lalu kemudian Chaeyoung mengeluarkan ponsel dan memoto ulang foto tersebut menggunakan kamera ponselnya. Namun sepertinya Chaeyoung sedikit tidak menangkap ucapan Taewoong barusan.
            Taewoong mengulurkan tangan karena dilihatnya Chaeyoung mengembalikan foto tersebut padanya. Namun Chaeyoung tidak langsung melepaskan benda itu dari tangannya meski Taewoong sudah ingin mengambil benda itu.
            “Apa?” tanya Taewoong dengan tatapan bingung melihat raut wajah Chaeyoung yang seketika berubah. Sulit diartikan.
            “Aku baru ingat. Kau pernah memiliki nama Jepang, kan?” Chaeyoung mengerutkan dahi dengan tatapan menyelidik. “Apa tadi kau menyebut nama seseorang?”
            “Siapa? Yuto? Adachi Yuto?” Taewoong balas bertanya.
            Sontak Chaeyoung membulatkan matanya. Sayang ia tidak memiliki foto Yuto diponselnya untuk ia tunjukkan pada Taewoong. Gadis itu sedikit tahu tentang keluarga Taewoong yang juga tidak utuh karena orang tuanya bercerai. Namun ia sempat lupa jika Taewoong memiliki adik laki-laki karena Taewoong hampir tidak pernah menyebut nama pemuda itu.
            “Siapa nama Jepangmu?”
            Meski tampak bingung, Taewoong tetap menjawab pertanyaan Chaeyoung. “Yukimoto Yasuo.”          

***

            Chaeyoung setengah berlari setelah keluar dari bus. Taewoong sudah turun dari satu halte sebelumnya. Ia berlari menyeberangi jalanan yang sedikit lebih lelang. Malam itu sudah bukan jam padat kendaraan. Gadis itu ingin segera bertemu Yuto. Mungkin dengan cara ini ia dan Yuto bisa berbaikan kembali. Meski sebenarnya mereka tidak bertengkar, Chaeyoung hanya sedikit merasa bersalah.
            Tuk.
            Chaeyoung mengehentikan langkah karena dirasa kakinya menendang sesuatu. Saat menunduk, gadis itu menemukan sebuah ponsel dengan gantungan berbentuk hati berinisial ‘Y’. Seingat Chaeyoung, itu mirip seperti milik Yukyung.
            “Chaeyoung!”
            Merasa ada yang memanggil, Chaeyoung menolah. Ia melihat seseorang berlarian mendekat. Itu Kino yang berlari sambil menempelkan ponsel ke telinganya.
            Sunbae, kau kenapa?”
            Kino memegang pundak Chaeyoung untuk berpegangan sambil berusaha mengatur napasnya. “Kau lihat Yuqi di dekat sini?”
            Mendadakan Chaeyoung merasakan jantungnya berdegup sedikit cepat. Seperti ada rasa takut yang tiba-tiba mengerebungi. Gadis itu menggenggam erat ponsel Yukyung di tangannya. Tadi siang Yukyung sempat mengabarinya jika ia pergi bersama Yuqi.
            “Apa ini ponsel Yukyung? Di mana mereka?” Kino bertanya dengan tidak sabar.
            Chaeyoung memasukkan ponsel Yukyung ke dalam saku celananya. Tanpa menjawab pertanyaan Kino, gadis itu berlari kembali ke seberang jalan yang sudah ia lalui tadi. Dibelakangnya Kino tampak menyusul mengejar Chaeyoung tanpa banyak bertanya lagi. Mereka memasuki sebuah gang yang sudah sedikit sepi. Hanya beberapa lampu jalanan yang masih menyala menerangi jalan dengan banyak kios yang sudah tutup.
Di ujung sana Chaeyoung melihat gerombolan orang-orang yang seperti saling Tarik-menarik. Kebetulan mereka sempat melintas di bawah lampu jalanan yang memungkinkan mereka menjadi sedikit lebih jelas terlihat. Ada dua orang gadis, terlihat dari rambut Panjang mereka.
            Kino lebih dulu melesat berlari mendahului Chaeyoung yang menyusul kemudian. Pemuda itu meyakini gadis yang memiliki rambut bergelombang itu adalah Yuqi. Dan ternyata dugaan mereka benar. Itu Yuqi dan Yukyung. Chaeyoung kembali mendahului Kino karena pemuda itu seperti mengurangi kecepatan. Chaeyoung menendang punggung salah satu dari lima pemuda yang mengganggu temannya. Kino melakukan hal sama meski dengan ilmu beladiri yang pas-pasan. Mereka saling pukul dan saling tendang.
            “Yuqi cepat ajak Yukyung pergi dari sini!” pekik Kino di sela-sela bertarungnya.
            Kino dan Chaeyoung sama-sama terhempas dan justru membuat mereka saling bertubrukan. Dengan posisi Chaeyoung di depan Kino seperti Kino seolah memeluk Chaeyoung.
            Yukyung menarik tangan Yuqi. Namun Yuqi seakan belum ingin melepaskan pandangannya dari Kino. Yukyung tetap berusaha menariknya meski Yuqi tidak bergerak.
            Tiga preman sudah tersungkur. Satu preman lagi kini sudah berhasil Chaeyoung lumpuhkan. Chaeyoung lalu berlari ke arah Kino karena ada seorang preman yang ingin menyerang Kino. Namun pergerakannya sangat mudah ditebak oleh Chaeyoung yang berhasil menendangnya sebelum pereman itu menyerang Kino.
            Chaeyoung mengatur napas beberapa saat sebelum akhirnya melangkah ke tempat Yuqi dan Yukyung berada. Yuqi mundur selangkah hingga ia seperti berdiri di belakang Yukyung. Yukyung sendiri hanya menoleh heran mengapa Yuqi melakukan itu. Chaeyoung sendiri sudah tidak bisa mengatur raut wajahnya yang berdarah di bagian pelipis dan tepi bibir. Ia hanya mengembalikan ponsel milik Yukyung yang ia temukan di jalanan.
            “Yukyung!”
            Hampir semua yang berada di sana menoleh. Di ujung sana, dibelakang Yuqi dan Yukyung, terlihat pemuda tinggi setengah berlari mendekat.
            Oppa.” Yukyung terdengar bergumam pelan.
            Kino sudah berdiri di dekat Yuqi, mengulurkan tangannya, namun Yuqi seperti menolak. Karena fokus mereka kini tertuju pada pemuda tinggi yang semakin dekat itu. Wooseok. Chaeyoung menajamkan penglihatannya, bukan kepada Wooseok, melainkan pada sesuatu beberapa meter di belakang Wooseok. Pemuda yang tidak kalah tinggi. Kepalanya sudah sakit untuk menebak-nebak pemuda itu benar Yuto atau hanya ilusinya saja.
            Yuto—seperti yang ada pada pikiran Chaeyoung—berjalan semakin mendekat ke tempat Chaeyoung berdiri. Belum lagi dilihatnya Wooseok sendiri tampak sudah sibuk dengan Yukyung. Seakan tidak menyadari keberadaan Chaeyoung. Gadis itu merasakan sesuatu menyentuh tepi bibirnya. Chaeyoung mendongak sambil memegang lengan orang itu yang menempelkan sapu tangannya untuk membersihkan darah dari tepi bibir Chaeyoung. Itu benar-benar Yuto. Ia bisa merasakan deru napas pemuda itu akibat kelelahan karena berlari.
            “Kau baik-baik saja?” tanya Yuto tanpa melepaskan tatapan khawatirnya pada Chaeyoung. Sama seperti gadis itu, Yuto juga seakan sudah melupakan kejadian menegangkan saat terakhir kali mereka bertemu 1 jam lalu.
            Chaeyoung mengangguk pelan sambil merasakan perih pada tepi bibirnya.
            “Aku bertemu Wooseok tadi. Dia bilang ingin menyusul Yukyung karena ada hal janggal saat ia menelepon Yukyung tadi. Sepertinya ada preman yang mengganggu mereka,” kata Yuto menjelaskan meski sebenarnya Chaeyoung tidak menanyakan tentang bagaimana dirinya bisa sampai di sana.
            Yuto kembali menghela napas, berat. Di lihatnya para preman tadi sudah berdiri dan berjalan dengan tergopoh-gopoh meninggalkan tempat itu. Pemuda itu kemudian melirik ke tempat Wooseok berdiri dengan yang lain. Wooseok sama sekali tidak melepaskan rangkulan pada Yukyung. Saat mata mereka saling bertemu, Yuto dan Wooseok saling mengangguk seperti memberikan isyarat satu sama lain. Yuto berpindah ke samping Chaeyoung. merangkul tubuh mungil gadis itu dengan satu tangan. Sementara tangan yang lainnya memegangi sapu tangan yang kini ia tempelkan pada pelipis Chaeyoung.
            Kino berjalan lebih dulu. Wooseok lalu mengajak Yukyung dan Yuqi untuk menyusul Kino. Mereka pergi ke arah yang berlawanan dengan Yuto dan Chaeyoung. Menuju sebuah taman yang sudah cukup sepi malam itu. Yuqi, Yukyung dan Wooseok duduk di kursi Panjang. Sementara Kino memilih berdiri tidak jauh dari Wooseok. Mendengarkan cerita versi Yukyung perihal mereka bertemu dengan preman itu yang tiba-tiba saja membawa mereka pergi. Sampai akhirnya Chaeyoung datang bersama Kino.
            Wooseok mengulurkan tangan dan mengusap pundak Yukyung sekaligus untuk menenangkan gadis itu. Kino memperhatikan keduanya dengan tangan terlipat di depan dada. Lalu tatapan pemuda itu beralih pada Yuqi yang sejak tadi terdiam.
             “Ada yang ingin kau katakan?”
            Yuqi mendongak, mendapati Kino menatap lurus padanya. “Apa maksudmu?”
            Wooseok menatap Kino berharap pemuda itu balik menatapnya. Jelas terlihat Wooseok mengkhawatirkan sesuatu. Ia ingin Kino menahan diri. Terlebih hubungan Kino dan Yuqi terakhir kali kurang baik. Kino akhirnya menoleh sesaat, ia mendapati Wooseok memberinya isyarat agar tidak bertindak atau mengatapa apa-apa pada Yuqi. Namun Kino seakan tidak peduli. Ia kembali menatap Yuqi, menunggu gadis itu mengatakan sesuatu.
            “Apa kau ingin membela Chaeyoung?”
            Kino melebarkan mata. Tidak menyangka Yuqi akan bertanya seperti itu. Entah mengapa ia menangkap ada sorot kebencian dari mata Yuqi. Kino sudah maju selangkah mendekat ke tempat Yuqi duduk lalu berkata, “kau ini aneh. Chaeyoung yang telah menyelamatkan kalian. Dan kau bahkan tidak mengucapkan terima kasih. Kau pikir aku tidak melihat sikapmu?”
            Yuqi ikut berdiri dengan ekspresi menantang. Seakan ia tidak terima karnea Kino terus memojokkannya. “Apa yang kau lihat? Apa kau lihat aku ketakutan?”
            “Ketakutan? Pada Chaeyoung?”
            “Selamat dari pengeroyokan 6 bulan lalu. Menghajar preman-preman sendirian, memangnya apa dia kalau bukan monster? Dan aku tidak boleh takut pada monster?” jerit Yuqi dengan nada tinggi seakan kekesalannya sudah memuncak. Gadis itu berjongkok lalu menelungkupkan wajahnya, menangis.
            Yukyung melesat dari samping Wooseok, ikut berjongkok disamping Yuqi untuk menenangkan gadis itu. Sementara Kino maish berdiri dengan mengepalkan tangannya, sangat erat, sambil mendongak menahan emosi. Wooseok sendiri hanya menunduk, tidak bisa berbuat apa-apa, kecuali berjaga-jaga agar tidak ada yang bertindak konyol.
            Yuqi akhirnya mendongak sambil berdiri dengan gerakan sedikit kasar hingga membuat Yukyung sedikit mendorong. Menatap Kino dengan matanya yang basah. “Kalau memang kau lebih memilih Chaeyoung, maka aku yang akan menjauh.” Yuqi berbalik memunggungi Kino.
            “Karena kau memilih Chan, kan?”
            Pertanyaan Kino membuat Yuqi membatalkan niat untuk melangkah pergi. Sementara Yukyung sudah melotot gemas pada Kino, gadis itu bahkan memberikan kode menggunakan tangannya agar Kino tidak membahas itu. Namun ekpresi Kino menunjukkan ia tidak mengerti apa yang Yukyung maksud.
            Yuqi terkekeh seakan menertawakan Kino, sambil menyeka sisa air matanya. Yuqi tetap dalam posisi memunggungi Kino. Kino kembali melempar tatapan pada Yukyung berharap Yukyung bisa memberikan percerahan pada kebingungannya. Bukan tidak ingin membertahu, tapi lebih baik Kino mendengar sendiri langsung dari mulut Yuqi.
            Oppa, aku pulang bersama Yuqi.” Yukyung menoleh ke tempat Wooseok berada, dan hanya melambai singkat pada Wooseok belum akhirnya berbalik sambil merangkul Yuqi untuk membawa gadis itu pergi dari sana.
            “Yukyung!” Seru Kino dengan nada pelan namun penuh penekanan.
            Wooseok berdiri sambil menepuk pundak Kino sebagai tanda agar Kino mengalah dulu untuk hari ini. Yuqi terlihat tidak ingin diganggu.
            “Kau lihat? Yuqi bilang Chaeyoung monster?” ada kilatan marah di mata Kino. Meski menyukai Yuqi, namun jika gadis itu megatakan hal buruk tentang Chaeyoung, jelas Kino tidak terima. Ia lebih tahu tentang Chaeyoung dibanding Yuqi, bahkan Yukyung.
            “Yuqi hanya terbiasa hidup tanpa kekerasan sedikitpun. Dimatanya, seorang perempuan yang menguasai beladiri itu sangat aneh. Waktu itu memang Yuqi belum mengetahui tentang Chaeyoung. Mereka akhirnya saling kenal karena Yukyung. Yuqi sangat ketakutan mendengar berita Chaeyoung dikeroyok preman. Dan ketakutannya semakin bertambah karena tahu Chaeyoung menguasai  beladiri. Yuqi takut Chaeyoung melakukan hal kasar padanya.”
            Kino mendelik. Sama sekali belum bisa menghilangkan amarahnya. “Dia tidak tahu Chaeyoung yang sebenarnya.”
            “Sama halnya denganmu, kau belum bisa mengerti Yuqi yang sebenarnya.” Wooseok balas menatap dalam ke mata Kino. “Kau mau bilang aku lebih membela Yuqi?” sergahnya. Mengingat Kino masih dikuasai amarah. Rasa sayang Kino pada Chaeyoung sebagai adik membuatnya bersikap egois.

***

            Yuto menyampirkan jaketnya ke pundak Chaeyoung. Merangkul gadis itu agar wajah penuh darah Chaeyoung tidak terlalu menarik perhatian orang-orang sekitar. Membawa Chaeyoung menyebrang jalan menuju sebuah mobil terparkir. Pemuda itu membuka salah satu pintu mobilnya, dan mendorong pundak Chaeyoung pelan untuk masuk ke sana. Lalu memutarin mobil untuk masuk melalui pintu yang lain. Yuto langsung menyalakan lampu dan membuka kotak dashboard, mengeluarkan kotak putih berisi obat luka.
            Chaeyoung menahan tangan Yuto yang sudah mengarah pada wajahnya sambil memegang kapas yang sudah ditetesi obat. “Sunbae, biar aku saja.”
            Yuto tidak melepaskan tatapannya pada Chaeyoung. Pemuda itu menghembuskan napasnya dengan cukup keras. Sebagai peringatan jika ia tidak ingin ada protes dari gadis itu.
            Chaeyoung sempat balas menatap ke dalam mata Yuto sambil merengut. Lalu hanya diam. Membiarkan Yuto kembali menggerakkan tangannya menuju bagian luka di wajahnya.
            “Akh!” Chaeyoung meringis sambil memejamkan matanya. Bahkan tanpa sadar, tangan gadis itu mencengkeram salah satu tangan Yuto yang berada di bawah, menopang kotak obat.
            Yuto terus tersenyum. Bahkan saat Chaeyoung seperti menjauhkan wajahnya, Yuto terkekeh gemas. Bukan menarik wajah Chaeyoung, Yuto justru yang mengalah dengan memajukan badannya karena Chaeyoung terus menjauh. Sampai akhirnya Chaeyoung sudah tidak bisa menghindar lagi karena kepalanya sudah membentur  kaca mobil dibelakangnya.
            Chaeyoung mendorong pelan dada Yuto untuk menjauh agar dirinya bisa menghirup udara dalam-dalam. Yuto menghempaskan punggungnya ke sandaran kursi. Yuto mendongak saat melihat lampu dalam mobil mati. Pemud itu menoleh ke tempat Chaeyoung berada, lalu melempar tatapan ke luar jalanan, ke arah Chaeyoung melihat sesuatu. Sebuah mobil yang cukup familiar dimatanya. Ada seorang perempuan memunculkan diri dari dalam mobil. Hanya melihatnya sekilas, Yuto bisa menebak siapa gadis itu. Gadis dengan gaun yang sama seperti yang digunakan Mina saat acara di Gedung.
            Yuto mendekatkan tubuhnya ke arah Chaeyoung sambil menarik tengkuk gadis itu saat merasakan Mina seperti melihat ke arahnya. Sontak Chaeyoung menahan pundak Yuto.
            “Lihat gadis itu mengarah ke mana?” bisik Yuto dengan suara beratnya.
            Chaeyoung menuruti ucapan Yuto. Ia mengintip dari balik pundak bidang milik Yuto. Mengawasi Mina yang kini terlihat memasuki gang tempat ia dan Yuto muncul tadi setelah berpisah dengan Kino dan yang lain. Chaeyoung mengerti mengapa Yuto melakukan ini. Yuto ingin jika Mina melihatnya, mereka hanya seperti sepasang kekasih yang berciuman di dalam mobil dan hanya diterangi sedikit lampu jalan.
            “Dia mengarah ke gang tempat kita lewat tadi,” kata Chayeoung juga dengan suara berbisik. Masih mengawasi sosok Mina yang kini menghilang di dalam gang.
            Tok tok tok!
            Chaeyoung dan Yuto yang terkejut, tanpa sadar saling mendorong. Bagian belakang kepala Chaeyoung bahkan sampai membentur kaca jendela.
            “Akh,” Chaeyoung meringis sambil memegangi kepalanya.
            Yuto yang melihat ada seseorang di luar, menurunkan kaca di belakang Chaeyoung. Ia mendapati Kino melotot di sana. Chaeyoung ikut menoleh saat Yuto membantu mengusap kepalanya untuk mengurangi rasa sakit.
            Kino memasukkan kepalanya melalui jendela sambil mengulurkan satu tangan untuk menarik bagian kerah kemeja Yuto. “Apa yang kau lakukan?”
            Yuto hanya menepuk lengan Kino sambil menatap tanpa merasa bersalah. Karena memang ia tidak melakukan hal-hal seperti yan dipikirkan Kino. “Cepat masuk!” seru Yuto setengah memerintah. Kemudian ia kembali duduk seperti semula setelah Kino masuk ke kursi penumpang bagian belakang.
            Kino duduk di ujung jok agar bisa lebih dekat dengan Chaeyoung untuk memastikan keadaan gadis itu. “Kau baik-baik saja?”
            Yuto sudah mulai menjalankan mobilnya saat Chaeyoung menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi beberapa menit lalu. Tentang mereka melihat Mina.
            “Mereka preman yang dulu?” tanya Kino di tengah-tengah Yuto dan Chaeyoung.
            Chaeyoung menggeleng cepat. “Tidak satupun dari mereka.”
            “Gadis itu kenal berapa banyak preman?” Kino terdengar bicara sendiri karena pasti tidak ada yang mengetahui jawabannya.
            Sepi sesaat. Sampai akhirnya Chaeyoung yang kembali buka suara. “Yuqi dan Yukyung sudah pulang?”
            “Hmm.” Kino mengangguk sebagai jawaban. “Jangan kau pikirkan perlakuan Yuqi padamu, ya.”
            Chaeyoung menoleh dengan ekpresi penuh tanya. “Memang Yuqi melakukan apa padaku?”
            Kino tersenyum meremehkan. “Tidak mungkin kau tidak tahu. Lagipula aku tidak akan membahas hal ini.” Kino menepuk sekali pundak Yuto yang sedang konsentrasi menyetir. “Kau punya teman perempuan seumuran kita?”
            Yuto mendengarkan perkataan Kino sambil mengawasi kaca spion. “Ada,” jawabnya.
“Kenalkan satu padaku,” ucap Kino penuh semangat.
            “Tapi mereka semua di Jepang.”
            “Pfft!” Chaeyoung tertawa tertahan. Membuat Kino mendelik kesal padanya.
            “Tapi memang benar mereka di Jepang.” Yuto sempat menoleh sebentar untuk membela diri.
            Kini Chaeyoung sudah tidak bisa menahan tawanya. “Iya sunbae, kau benar.”
            Merasa semakin kesal, Kino menghempaskan punggungnya ke sandaran kursi dan melempar tatapannya ke luar jendela.

***

            Suara bel beringingan dengan suara ketukan pintu yang terdengar tidak sabar. Seseorang menyibak selimutnya di dalam ruangan yang masih cukup gelap. Pemuda itu bangkit sambil mengusap wajahnya. Lalu menyeret langkah menuju jendela untuk membuka tirai hingga membuat kamarnya terang.
            Sementara di luar pintu, tampak Chaeyoung berdiri dengan seragam sekolah lengkap beserta ranselnya. Di salah satu tangan gadis itu Chaeyoung membawa sebuak kotak bekal berukuran cukup besar. Sesekali Chaeyoung melirik jam tangannya karena pemilik rumah belum juga membukakan pintu. Chaeyoung menoleh, justru ke arah seberang apartment yang dikunjunginya. Seorang pemuda muncul dari sana sambil membawa sebuah koper besar. Ekpresinya terlihat terkejut karena mendapati Chaeyoung berdiri di sana.
            Oppa?” Chaeyoung menegakkan tubuhnya. Terkejut karena tertangkap basah oleh kakaknya, mengunjungi apartment laki-laki pagi-pagi begini.
            Pemuda itu, Dongwoon, akhirnya menyunggingkan senyum sambil berjalan mendekati Chaeyoung. “Oppa akan berangkat sekarang. Jaga diri baik-baik, oke?” Dongwoon memeluk Chaeyoung sesaat.
            Chaeyoung tidak melakukan apa-apa kecuali ekspresi wajahnya yang terlihat kecewa. Pekerjaan Dongwoon yang membuat mereka jarang bertemu. Belum lagi mereka juga tinggal terpisah karena Dongwoon tidak ingin kehidupan adik-adiknya terganggu karena fansnya. Chaeyoung sudah membuka mulut. Namun tidak ada satu katapun yang terucap kecuali helaan napasnya. Dongwoon juga terlihat pasrah. Tidak bisa melakukan apa-apa untuk menghibur Chaeyoung kecuali mengusap lembut rambut adiknya.
            “Maafkan Oppa tidak bisa menjagamu.” Dongwoon menunduk untuk mensejajarkan tinggi badan, kemudian mengecup pipi Chaeyoung. tepat ketika pintu di belakang Chaeyoung terbuka. Mengenai luka Chaeyoung, tentu gadis itu sudah menceritakannya pada Dongwoon melalui telepon dan berakhir dengan ceramah Panjang pamuda itu hingga membuat Chaeyoung terlelap karena Lelah. Lelah dengan hari ini, juga Lelah karena tak ayal dua adik kembarnya juga melakukan hal yang sama seperti Dongwoon.
            Dengan rambut yang masih berantakan dan hanya mengenakan kaus tanpa lengan serta celana training, Yuto membuka pintu apartmentnya. Pemandangan pertama yang ia lihat adalah seorang pemuda, yang ia ketahui adalah tetangganya, mencium seorang gadis bertubuh mungil. Yuto membelalakkan mata melihat kejadian itu karena gadis tersebut mengenakan seragam sekolah yang sama seperti miliknya. Rambut hitam Panjang dan proporsi tubuh mungil itu sangat ia kenal. Seperti milik Chaeyoung. Dongwoon sudah menegakkan badannya saat Yuto baru melangkahkan kaki keluar dari apartmentnya. Chaeyoung yang menyadari kehadiran Yuto, menghalangi tubuh tinggi pemuda itu karena dilihatnya Yuto ingin mengejar Dongwoon. Ada aura membara dari cara Yuto memperhatikan tubuh Dongwoon yang semakin menjauh menuju lift yang berada di ujung koridor.
            “Kau mau ke mana?”
            Yuto menatap bergantian antara Chaeyoung dan Dongwoon yang terlihat sudah masuk ke dalam lift. Melambaikan tangan pada mereka sesaat sebelum pintu lift tertutup menyembunyikan Dongwoon di dalam sana. Yuto menghela napas, berusaha menenangkan diri. Ia harus mendapatkan jawabannya saat ini juga. Yuto menarik tangan Chaeyoung, membawa masuk ke dalam apartmentnya. Menghindari Mina kembali memergoki mereka di sana. Meski hal itu terjadi, Yuto juga sudah tidak peduli sama sekali. Namun rasanya lebih aman mereka bicara di dalam.
            “Kenapa kau pagi-pagi ada di sini? Kau menemui laki-laki tadi?” Tangan Yuto terulur menunjuk ke arah pintu, mengibaratkan keberadaan Dongwoon tadi. “Lantas kenapa menggangguku?” Nada bicara Yuto terdengar dingin.
            Chaeyoung tersenyum tipis, seakan tidak peduli dengan kekesalan Yuto. Tanpa sadar senyum itu terukir karena melihat sisi lain seorang Yuto yang biasanya terlihat rapih dan tegas. Namun pagi ini, dengan rambut yang sedikit berantakan dan wajah alami karena baru bangun tidur, benar-benar menarik perhatian gadis itu. Namun reaksi kesal Yuto akhirnya menyadarkannya. Chaeyoung berdeham, dan langsung teringat foto seorang gadis yang ia temukan di dalam dompet Yuto. Kembali pada niat awalnya mendatangi Yuto sepagi ini.
            “Bisa kita bicara sebentar?”
            Yuto mengangguk cepat. “Bicara saja.”
            “Tapi tidak sekarang.”
            Yuto melirik Chaeyoung penuh tanya. “Maksudmu?”
            “Aku mau bicara sambil menemanimu sarapan.” Chaeyoung mengangkat tinggi-tinggi tangannya yang membawa kotak bekal. “Aku perlu suasa yang lebih nyaman, tidak seperti ini. Jadi, kalau tidak keberatan, aku akan menunggumu bersiap-siap.”
            Tanpa ada protes, Yuto balik badan. Tandanya ia setuju. Pemuda itu berjalan menuju kamar, membiarkan Chaeyoung menunggunya di sofa. Selama sekitar 15 menit Chaeyoung duduk di ruang tamu apartment Yuto sambil membaca novel. Sampai akhirnya pemuda itu memunculkan diri, menatap Chaeyoung dari belakang sambil mengusap rambutnya yang basah menggunakan handuk kecil.
            Yuto menghempaskan badan ke samping Chaeyoung hingga membuat gadis itu sedikit terlonjak kaget sambil langsung menutup bukunya. Yuto ingin tersenyum melihat ekpresi kaget Chaeyoung yang terlihat lucu dimatanya. Namun sekuat tenaga ia tahan karena bayangan saat Dongwoon mencium pipi Chaeyoung kembali berputar dikepalanya. Kejadian itu benar-benar terjadi di depan matanya.
            “Apa yang mau kau bicarakan?” Ujar Yuto sambil mengalihkan tatapannya ke arah lain.
            Chaeyoung mendorong kotak makan ke arah Yuto. Membiarkan pemuda itu membukanya lalu mencomot setumpuk roti tawar berisi selai coklat lalu menjejalkannya ke mulut. Chaeyoung membiarkan Yuto menikmati sarapannya, sementara dirinya sibuk mencari sebuah foto pada ponselnya. Sebuah foto milik Taewoong yang dia foto kembali dengan kamera ponselnya. Chaeyoung menunjukkan foto itu pada Yuto. Yuto melirik sesaat lalu mengalihkan lagi, fokus untuk mengambil potongan roti berikutnya. Chaeyoung yang gemas menarik seragam sekolah Yuto agar pemuda itu benar-benar melihat pada apa yang ingin ia tunjukkan.
            Yuto mengalah, akhirnya ia fokuskan matanya pada layar ponsel Chaeyoung. Cukup lama Yuto tenggelam pada foto itu yang membuatnya teringat sesuatu. Tiga bocah laki-laki yang ia kenali sebagai Takuya, Yasuo dan dirinya sendiri.
            “Yoo Taewoong. Atau mungkin kau lebih kenal dia dengan nama Yasuo. Dia pemuda pemilik toko olahraga tempat aku membeli helm sepeda untuk Dongmyung dan Dongju.”
            Yuto melebarkan matanya seraya mendengarkan penjelasan Chaeyoung. Potongan roti ditangannya terlepas, bahkan sebelum sempat ia masukkan kembali ke dalam mulutnya.
            “Bibi Hana, kepala koki di restoranku adalah ibunya Taewoong Oppa. Dan itu artinya dia ibumu juga, kan?” lanjut Chaeyoung meski Yuto masih belum meresponnya.
            Pemuda itu masih belum ingin melepaskan tatapannya pada foto itu. Foto penuh kenangan bertahun-tahun lalu sebelum keluarganya berperncar seperti sekarang ini. Yuto akhirnya menoleh dengan sorot mata penuh kepedihan. Ia tahu semua tentang foto itu meski saat itu ia masih sangat kecil. Takuya pernah menceritakannya padanya. Ia juga memiliki foto tersebut di album keluarga miliknya. Namun benda itu tertinggal di Jepang.
            Chaeyoung mengangguk saat Yuto menunjuk foto gadis kecil dalam pangkuan ibunya. “Itu aku,” kata Chaeyoung dengan nada bergetar. Foto itu juga sarat kenangan baginya. Foto orang tuanya dan sahabat orang tua mereka.
            Chaeyoung buru-buru mengalihkan tatapannya karena tanpa sadar air matanya menetes. Tidak menyangka reaksi Yuto membuncahkan emosinya. Emosi kerinduan terhadap kedua orang tuanya.
            “Ini Dongwoon. Dia kakakku. Dia tinggal di depan apartmentmu. Tidakkah kau tau itu? Tolong kau jangan salah paham.”
            Yuto menarik Chaeyoung ke dalam pelukannya. Membuat gadis itu semakin terisak seiring dengan air mata Yuto yang menetes pelan.

***