Tampilkan postingan dengan label Choi Changjo. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Choi Changjo. Tampilkan semua postingan

Kamis, 05 Desember 2013

DAFTAR MAKNAE (part 2)

EXO-K : Oh Sehoon (Sehun)

EXO-M : Huang Zi Tao

FT Island : Choi Min Hwan

History : Jang Yi Jeong

Infinite : Lee Sungjong

M-Blaq : Bang Chulyong (Mir)

My Name : Chae Jin Seok (Chaejin)

Nu’est : Choi Min Ki (Ren)

SHINee : Lee Taemin

Speed : Choi Sungmin

Super Junior : Cho Kyuhyun

Teen Top : Choi Jonghyun (Changjo)

U-KISS : Shin Dongho

VIXX : Han Sang Hyuk

ZE:A : Kim Dongjun

*bonus :

Super Junior T / Super Junior H : Lee Hyukjae (Eunhyuk)

Jumat, 20 September 2013

SHE’S MY GIRLFRIEND (Maknae version)


Author              : Annisa Pamungkas
Main Cast          :
·        EXO Sehun
·        Boyfriend Minwoo
·        Teen Top Changjo
·        U-Kiss Dongho
·        2PM Chansung
·        F(x) Krystal
Support cast     :
·        Mblaq Chulyong (Mir)
·        SNSD Seohyun
·        2AM Jinwoon
·        Shinee Taemin
·        Miss-A Suzy
·        A-Pink Naeun
·        B2ST Dongwoon
·        Super Junior Kyuhyun
·        BtoB Sungjae
·        Big Bang Seungri
Genre               : romance
Length              : one shoot

***

Chansung POV : “Terpaksa aku menuruti permintaannya untuk masuk ke sekolahku dan bisa hidup bebas sebelum kita menikah tahun depan. Setidaknya aku masih tetap bisa mengawasi siapa saja pemuda yang berani mendekatinya. Tapi setelah menikah, tak akan ku biarkan kau terlalu dekat dengan pemuda selain diriku.”

Sehun POV : “Gadis itu. Dia yang tak sengaja ku tabrak tadi pagi. Ternyata dia siswi baru di kelasku. Astaga… dia benar-benar mengalihkan duniaku sejak kami pertama kali bertemu. Terima kasih Tuhan. Kau telah mengirimkan seorang malaikat cantik untuk menghiasi hidupku. Dan ku harap setelah ini hidupku akan selalu penuh warna.”

Minwoo POV : “Bukankah itu Krystal? Teman masa kecilku. Tak ku sangka dia pindah ke sekolahku. Itu tandanya aku bisa kembali mendekatinya. Akh, semoga saja dia masih mengingatku. Aku sungguh merindukanmu, Krystal. Akh, tidak. Aku juga menyukaimu. Sungguh.”

Dongho POV : “Cintaku baru saja di tolak oleh Naeun. Aku hanya sedikit terlambat karena ternyata dia baru saja jadian dengan Taemin. Pupus sudah harapanku. Sulit sekali berpaling dari gadis itu. Tapi aku juga tidak yakin, setelah kehadiran seorang siswi baru di kelasku. Apa itu artinya aku harus segera membuka lembaran baru dengan orang lain?”

Changjo POV : “Berani-beraninya Suzy menduakanku dengan si Sungjae anak sekolah seberang itu. Tapi aku akan membalasnya. Dan beruntungnya diriku karena ada siswi baru di kelas ini. Dia cukup cantik. Dan aku akan segera mendapatkannya untuk membalas sakit hatiku pada Suzy.”

***

        “Namaku Krystal Jung. Aku baru pindah hari ini. Semoga kalian bisa menerima kehadiranku,” gadis itu baru saja menyelesaikan perkenalannya.
        Dan sang guru tampan bernama Chansung—idola para siswi dan guru-guru perempuan di sekolah itu—mengedarkan pandangannya untuk mencari kursi kosong di kelas itu untuk murid barunya.
        “Di sini saja, pak.” Salah satu siswa bernama Changjo, sedikit mengalihkan perhatian. Sedangkan Sehun, teman semejanya hanya menunjukkan tatapan membunuh padanya. Jelas-jelas kursi di samping Changjo sudah berpenghuni.
        “Apa maksudmu berkata seperti itu?” Sehun melancarkan protes keras. “Kau akan mengalah untuknya?”
        “Tentu saja tidak,” Changjo berujar santai. “Kau yang duduk dengan Taemin di belakang,” putusnya seorang diri.
        Andai saja ini bukan di kelas dan tidak ada pak guru Chansung di sana, mungkin Changjo akan merasakan manisnya tinjuan milik Sehun itu. Dan dengan sangat-sangat terpaksa, Sehun memasukkan dengan sembarang buku pelajarannya, setelah itu menggeret ranselnya untuk ikut pindah ke kursi belakang.
        Sementara itu, sang gadis tampak melempar tatapan bingung pada sang guru tampan di sampingnya. Chansung pun hanya bisa menghembuskan napasnya dengan kasar. “Ya sudah, sana duduk.” Chansung menyuruh Krystal untuk duduk dengan Changjo. Ia sendiri tampak sangat terpaksa membiarkan murid barunya bersama seorang siswa yang sering membuat masalah dan terkenal karena playboy.
        Changjo mengumbar senyuman saat Krystal sudah berdiri di tepi meja. Dan gadis itu hanya membalas dengan senyuman seadanya. Dengan hati-hati Krystal duduk di kursi dan tatapannya mengarah ke meja guru. Di sana Chansung juga cukup mengawasi keberadaan Krystal yang bisa di pastikan tidak akan aman bersama Changjo.

***

        Pergantian jam pelajaran di mulai. Chansung pun sudah meninggalkan kelas tersebut. Seorang siswa yang duduk di kursi tepat di depan Krystal, tampak memutar badannya.
        “Kau masih mengingatku kan, Krystal?” Tanya pemuda itu yang ternyata adalah Minwoo.
        “Jangan sok akrab kau!” protes Changjo yang merasa terganggu dengan bergabungnya Minwoo bersama dirinya dan Krystal.
        Meski sudah duduk berjauhan, Sehun tetap mengawasi gerak-gerik ke empat temannya. Termasuk juga Krystal di sana. “Setidaknya, kursi ku di tempati oleh Krystal.”
        Sementara itu, belum sempat Krystal merespon ucapan Minwoo, suara Dongho—teman semeja Minwoo—sudah lebih dulu mengalihkan pembicaraan. “Apa di kelas ini ada siswi baru lagi?” gumamnya asal karena ada seorang wanita cantik yang memasuki kelas mereka.
        Pletak! Minwoo menjitak kepala teman semejanya itu. “Jelas-jelas pakiannya berbeda!”
        “Selamat siang anak-anak,” sapa guru cantik itu dengan sangat ramah.
        “Siang bu…” sahut murid-murid dengan kompaknya.
        “Perkenalkan, nama saya Seohyun. Saya guru baru kalian di sini. Dan saya adalah guru Matematika.”
        “Ibu sudah menikah?” Tanya Changjo asal yang langsung mendapat sorakan dari teman-teman sekelasnya. Bahkan ada yang melemparinya dengan gumpalan kertas kecil.
        “Kalau belum, menikah dengan saya saja bu!” kali ini giliran Sehun yang menggoda guru barunya itu.
Bahkan Krystal sampai menengok ke tempat Sehun berada. Hanya sesaat sebelum tatapannya kembali ke depan. Dan di sana ternyata sang guru juga tengah menatapnya. Itu justru membuat Krystal harus mendekap mulutnya untuk menahan tawa.

***

        Seohyun membanting tumpukan buku yang ia bawa tepat di atas meja kerja Chansung. Beruntung hanya ada mereka di dalam ruang guru. “Kenapa murid-muridmu itu susah sekali untuk di atur!” protesnya mengenai kelas yang diwalikan oleh Chansung.
        “Kau harus sabar. Setidaknya jika kau bisa menangani Changjo, Sehun, Dongho dan Minwoo, kau pasti bisa mengatasi yang lain,” ujar Chansung memberi semangat.
        Seohyun sudah duduk di kursi yang berseberangan dengan kursi Chansung. “Hari pertama saja sudah banyak yang menggodaku,” kesalnya.
        Chansung terkekeh mendengar cerita Seohyun. “Tapi murid baruku aman, kan? Aku tidak tenang meninggalkannya dengan Changjo.”
        Seohyun mengembungkan pipinya. Masih kesal dengan kejadian beberapa waktu lalu. “Aku tidak yakin.”
        Tak lama muncul seorang guru berpakaian olahraga. “Selamat siang pak Chansung, bu Seohyun,” sapa Jinwoon ramah.
        “Oh, pak Jinwoon. Bukankah anda besok mengajar di kelasku?” Tanya Chansung. Sementara Seohyun hanya tersenyum seadanya dan tak berniat sedikitpun merespon Jinwoon.
        “Benar. Dan ku dengar, di kelas anda ada seorang murid baru?” Jinwoon tampak cukup antusias saat berbicara dengan Chansung. Namun ia juga mencuri-curi kesempatan untuk melirik Seohyun yang kini sudah kembali ke mejanya di ujung ruangan.
        “Tolong bantu aku menjaganya, ya.”
        Jinwoon hanya mengangguk tanda menyanggupi permintaan Chansung, tanpa mencurigai sesuatu di balik permintaan rekan kerjanya sesama guru itu.

***

        Sepulang sekolah, Krystal tampak berdiri di depan gerbang sekolanya. Tak lama kemudian, tampak sebuah motor sport berhenti tepat di depan gadis itu.
        “Aku tak sengaja melihat profilmu di buku absen kelas milik pak Chansung. Ternyata rumah kita se-arah. Apa kau mau pulang bersama?” ajak pemuda itu tanpa basa-basi.
        “Kau yang di usir Changjo itu, kan?” Tanya Krystal agar ragu bahwa ia juga mengenal pemuda yang tengah berbicara dengannya ini.
        Sehun menggaruk belakang kepalanya. “Jangan ingat kejadian memalukan itu.”        Krystal hanya terkekeh melihat Sehun yang malu-malu seperti itu. “Jadi…?”
        “Baiklah,” ujar Krystal akhirnya membuat Sehun sangat gembira sore itu.

***

        “Ini sarapan untukmu.”
        Pagi itu Chansung yang tengah memeriksa kertas ujian milik muridnya, mendongakkan kepala setelah ada seseorang yang meletakkan sebuah kotak bekal tepat di hadapannya.
        Chansung sangat sumringah menerimanya. “Waah… terima kasih cantik.”
        “Oke,” kata Seohyun singkat, lalu meninggalkan Chansung dan kotak bekalnya.
        “Akh, senangnya diperhatikan seperti ini,” gumam Chansung seorang diri. Ia sempat melirik Seohyun sesaat lalu membuka kotak bekalnya dengan penuh semangat. Sebuah sandwich berbentuk hati. “Dia pasti sangat mencintaiku.” Guru tampak itu terkekeh sendiri. Namun seketika, semangatnya kembali hilang. “Akh, tapi yang ku dengar, banyak pemuda yang mendekatinya.”
        Tepat setelah Chansung mengakhiri ucapannya, tampak Jinwoon dan Chulyong baru saja sampai. Sudah bukan rahasia umum jika kedua guru itu menyukai Seohyun sejak wanita itu pertama kali menginjakkan kaki di sekolah itu.  sementara itu, Chansung hanya bisa menghela napas melihat Jinwoon dan Chulyong mulai mencoba untuk merayu Seohyun.

***

        “Krystal!” teriak Minwoo yang langsung mengejar gadis itu yang baru sampai di gerbang sekolah.
        “Minwoo?” Krystal tak kalah semangatnya bertemu dengan Minwoo.
        “Tadinya aku khawatir kau tidak mengenaliku kemarin.”
        Krystal hanya terkekeh mendengar cerita Minwoo. “Tentu saja tidak. Aku justru senang sekali bisa kembali bertemu denganmu. Bahkan kita sampai sekelas.”
        “Kau benar. Tapi, jika Changjo menjahilimu, kau harus laporkan padaku ya.”
        “Oke!” Krystal mengacungkan ibu jarinya.
        “Oiya, tadi siapa yang mengantarmu?” Tanya Minwoo memastikan penglihatannya. “Dongwoon hyung bukan?” Krystal hanya menjawab dengan anggukan. “Kalau gitu, sampaikan salamku padanya ya.” Krystalpun kembali mengangguk.

***

        Pelajaran pertama di kelas Krystal adalah olahraga. Sebelum ke inti materi, Jinwoon menyuruh murid-muridnya pemanasan dengan cara berlari mengelilingi lapangan.
        Changjo sudah mempersiapkan diri. Tapi ada seseorang yang membuat semangatnya menurun. Siapa lagi kalau bukan mantan kekasihnya, Suzy.
        “Kau salah paham Changjo,” gadis bernama Suzy itu masih berusaha menjelaskan sesuatu pada Changjo.
        “Sudahlah, aku tidak peduli.” Changjo mengabaikan Suzy. Ia mempercepat langkahnya dan sengaja berjalan ke arah Krystal.
        Sementara itu, Krystal tanpa sengaja menangkap sosok Dongho berdiri tak jauh dari tempatnya yang terlihat muram. Tentu saja, karena beberapa saat lalu Taemin dan Naeun sempat melintas di depan mereka.
        “Kau kenapa, Dongho? Mau ku temani?” tawar Krystal yang tentu saja membuat Dongho sedikit terkejut dan tak siap atas kehadiran gadis itu.
        PRIIIT…!
        Belum sempat Dongho menjawab, Jinwoon sudah lebih dulu meniup peluit sebagai tanda muridnya harus segera jogging mengelilingi lapangan sebanyak 3 putaran.
        Krystal sempat menoleh ke belakang tempat Minwoo berada. “Minwoo!” teriaknya memberitahu Minwoo tentang keberadaannya yang sudah bersama Dongho.
        “Iya,” balas Minwoo yang kemudian segera mempercepat larinya untuk bisa menyusul Krystal dan Dongho.
        Saat sudah melewati satu putaran, Sehun terlihat membalap Minwoo, Krystal dan Dongho. “Hai..!” Hanya itu sapaan yang ke luar dari mulut Sehun. Ia juga tak lupa untuk memberikan sebuah senyuman pada Krystal. Tentu saja gadis itu membalasnya. Ini sudah seminggu ia bersekolah di sana. Dan sudah selama itu pula ia selalu pulang bersama Sehun.
        Setelah Sehun menjauh, kini giliran Changjo yang mengganggu kenyaman tiga temannya itu. “Ayo cepat lari.” Dengan terang-terangan Changjo menarik Minwoo dan Dongho agar berlari dengan cepat.

***

        Pak Chulyong selaku guru Kimia, menyuruh para muridnya untuk membentuk kelompok sebanyak lima orang. Dan tentu saja langsung menyulut kericuhan di kelas itu.
        “Changjo! Aku boleh bersamamu?” Tanya Suzy yang kebetulan kursinya tak terlalu jauh dari tempat Changjo berada.
        “Sudah pas!” jawab Changjo enggan. Pemuda itu bahkan tidak menatap Suzy saat berbicara.
        “Tapi kalian baru berempat!” Suzy bersikeras untuk masuk ke kelompok Changjo.
        Kali ini Changjo menoleh dan menunjukkan tatapan tak suka. “Walau tempat duduknya jauh, kau pikir aku akan meninggalkan Sehun begitu saja?”
        Suzy diam. Percuma jika memaksa. Toh mereka memang sudah berlima—Changjo, Dongho, Minwoo, Krystal dan Sehun.
        “Suzy, kau bisa bergabung denganku dan Taemin,” ajak Naeun yang merasa kasihan dengan Suzy. Terlebih gadis itu juga teman semejanya.
        “Cepat kita kerjakan,” paksa Dongho karena secara tak langsung, Naeun sangat menunjukkan bahwa ia selalu bersama dengan taemin.

***

        Perpustakaan adalah pilihan terbaik Sehun dan yang lainnya untuk mengerjakan tugas kelompok mereka. Ada beberapa pertanyaan yang harus mereka jawab. Karena Krystal satu-satunya anggota perempuan di sana, tentu saja dengan senang hati ia akan menuliskan hasil kerja kelompok mereka.
        Sesekali Krystal menjelaskan jawaban miliknya. Hanya Dongho yang terlihat cukup antusias menanggapi penjelasan Krystal. Bahkan ia tak segan-segan kembali mengajukan pertanyaan yang tidak ia mengerti. Berbeda dengan Changjo dan Minwoo yang terang-terangan mengagumi sosok Krystal yang sesungguhnya. Bukan hanya terpesona karena kepintaran yang dimiliki gadis itu.
        Lain halnya dengan Sehun. Meski tak terlalu fulgar seperti dua temannya, Sehun sebenarnya juga memperhatikan Krystal namun dengan caranya sendiri. Pemuda itu terkesan cuek dengan pura-pura sibuk sendiri. Tapi ia mengawasi apa yang dilakukan Krystal.
        “Jangan bertanya terlalu berlebihan seperti itu!” tegur Sehun pada Dongho karena Krystal mulai kewalahan menanggapi pertanyaan yang dilontarkan pemuda itu.
        “Sudahlah Sehun. Aku juga memang belum mengerti. Nanti akan ku tanyakan lagi pada pak Chulyong.” Krystal tampak membela Dongho.
        Sehun melempar pandangannya ke arah lain. Kesal karena Krystal seolah menjatuhkannya. Tak lama pemuda itu berdiri. “Kita sudah selesai, kan?” ujarnya enteng sebelum yang lain memprotes dirinya yang siap meninggalkan perpustakaan.

***

        Beberapa bulan kemudian. Krystal semakin dekat dengan Sehun, Changjo, Dongho dan Minwoo tentunya. Begitupula dengan perasan ke empat pemuda itu. Tapi mereka tidak ada yang saling bercerita satu sama lain.
Mereka memiliki kebahagiaan sendiri-sendiri jika bersama Krystal. Changjo tentu saja senang bisa selalu berdekatan dengan Krystal karena mereka teman semeja. Terlebih tempat Suzy berada tidak terlalu jauh dari mereka. Changjo akan dengan leluasa memanfaatkan kedekatannya dengan Krystal.
Berbeda dengan Dongho. Ia akan sangat bersemangat jika tengah membahas pelajaran. Maklum saja, Dongho termasuk salah satu siswa berprestasi di sekolah itu. Sehun juga pintar, hanya saja ia belum bisa melampaui nilai-nilai Dongho. Dan kedekatannya dengan Krystal itu juga termasuk keuntungan bagi Dongho, karena kini ia sudah mulai melupakan perasaannya pada Naeun yang sudah bahagia bersama Taemin.
        Lain pula halnya dengan Minwoo. Karena ia dan Krystal pernah bertetangga waktu kecil sebelum Krystal dan keluarga pindah, akan selalu banyak hal yang bisa mereka ceritakan satu sama lain ketika di luar jam sekolah. Bahkan ketika libur, Minwoo sering main ke rumah Krystal ataupun sebaliknya. Meski kini rumah mereka tidak sedekat dulu.
        Sementara Sehun akan selalu memanfaatkan waktu kebersamaan dengan Krystal meski hanya tiap pulang sekolah. Tapi jangan pikir mereka tidak punya cerita yang seru. Sehun sering kelaparan jika sudah pulang sekolah. Dan Krystal dengan senang hati akan menemani Sehun. Tidak hanya itu, sudah banyak tempat-tempat seru yang bisa mereka datangi sepulang sekolah. Apalagi jika Sehun akan bertanding basket, Krystal bisa dengan penuh semangat untuk ikut menonton pertandingan itu dan mendukung Sehun tentunya.

***

        Pagi itu Seohyun tampak kembali mengantarkan bekal makanan untuk Chansung. Dan Jinwoon langsung menggeser kursinya agar lebih dekat dengan kursi yang saat itu di huni oleh Chulyong.
        “Ku rasa sekarang mereka sudah benar-benar resmi sebagai sepasang kekasih,” bisik Jinwoon yang tak suka dengan pemandangan di hadapannya.
        “Huaa… aku sakit hati melihatnya.” Chulyong mulai ikut berlebihan sambil pura-pura menangis. Ia bahkan sampai menggigiti ujung buku di tangannya.
        “Bahkan aku belum sempat menyatakan cintaku padanya,” lanjut Jinwoo yang ikut berakting seolah-olah ia sedang menangis.
        “Hiks… Hiks…” Chulyong dan Jinwoon kompak menangis. Mereka bahkan sampai saling berpelukan.
        Sementara itu, Chansung yang menyadari pemandangan tadi memberikan sebuah kode pada Seohyun untuk melirik ke arah yang ia maksud.
        Sadar jika kini mereka menjadi pusat perhatian, Jinwoon dan Chulyong saling menjauhkan diri dan saling menyalahkan karena sudah memeluk lebih dulu. Padahal mereka melakukan itu tanpa ada unsur kesengajaan. Semuanya murni dari hati mereka-masing. Jinwoon kembali ke mejanya seperti semula. Terlebih bukan hanya Chansung dan Seohyun saja yang menatap mereka aneh. Tapi juga beberapa dewan guru yang lain.

***

        Krystal benar-benar menganggap Minwoo, Sehun, Dongho dan Changjo sebagai teman saja. Tapi tidak dengan ke empat pemuda itu. Dalam satu hari, mereka menyatakan cinta pada Krystal.
        Di mulai dari Changjo yang menyatakan cinta setelah ujian hari terkahir selesai.
        “Awalnya aku memang ingin mendekatimu hanya untuk membalas sakit hatiku pada Suzy yang telah menyelingkuhiku. Tapi semakin lama dekat denganmu, aku sadar bahwa ternyata aku benar-benar menyukaimu. Dan aku ingin kau menjadi kekasihku,” kata Changjo panjang lebar tanpa ada jeda sedikitpun. Ia bahkan terdengar cukup lancar mengutarakan kata tiap kata.
        Lanjut dengan Dongho saat mereka bertemu di perpustakaan sekolah. Krystal yang berniat hanya mengembalikan buku, Dongho justru mengajaknya bicara.
        “Jika memang kau tidak berpacaran dengan Changjo, Sehun atau Minwoo, bisakah jika kau yang menjadi kekasihmu? Ku harap kau mau membuka sedikit saja hatimu untukku.” Tampaknya Dongho memang sudah benar-benar bisa melupakan perasaannya pada Naeun.
        Krystal sengaja meminta waktu untuk memikirkannya. Apalagi saat itu pasti Sehun sudah menunggunya untuk pulang bersama. Dan tidak di sangka, setelah sampai di depan rumah Krystal, Sehun tak langsung pulang seperi biasanya.
        “Mungkin terdengar aneh untuk orang yang cuek sepertiku. Tapi sungguh aku benar-benar telah menyukaimu sejak kita bertemu pertama kali. Aku juga sengaja tidak mengacaukan kedekatanmu dengan Changjo, Minwoo atau Dongho. Itu semua untuk memastikan kebenaran perasaanku. Dan ternyata aku benar-benar kesal dan sangat cemburu melihat kalian. Jadi, bisakah aku menjadi kekasihmu. Tapi tenang saja, aku tidak akan memaksamu untuk menjawabnya sekarang juga.”
        Setelah itu Sehun pulang. Dan seakan belum tuntas, malamnya Minwoo datang ke rumah Krystal untuk menambahkan beban perasaan gadis itu.
        “Aku tau kau hanya menganggapku teman selama ini. Tapi aku ingin kau tau, bahwa selama ini aku menyukaimu. Aku benar-benar merasa kehilangan saat kau pindah tujuh tahun lalu. Itu juga alasannya mengapa selama ini aku tidak bisa berpaling pada gadis lain,” ujar Minwoo yang harus berusaha menahan rasa malunya karena Krystal sudah berteman dengannya sejak kecil. Tapi pemuda itu juga tidak ingin membohongi perasaannya selama ini.

***

        Meski sudah tidak belajar efektif, tapi Krystal dan yang lain harus tetap datang ke sekolah karena masih ada kegiatan praktikum dan lainnya yang harus mereka laksanakan. Dan siang itu, Krystal beserta ke empat pemuda tampan yang kemarin menyatakan cinta padanya, tampak duduk dalam satu meja di kantin. Krystal memang menyuruh mereka merahasiakan hal kemarin sebelum ia menjawabnya.
        Tak lama terjadi sedikit kegaduhan dilakukan beberapa siswi yang baru datang lalu mengambil tempat di dekat meja Krystal. Beberapa di antaranya seperti tengah mengalami sesuatu.
        “Aku benar-benar tidak terima. Ternyata pak Chansung berpacaran dengan bu Seohyun,” seru salah satu dari mereka. Bahkan suaranya sampai terdengar hingga meja Krystal.
        “Apalagi sekarang bu Seohyun hamil. Apa hubungan mereka sudah sejauh itu? Aku takut jika pak Chansung di keluarkan dari sekolah ini,” lanjut yang lainnya.
        Dua guru paling popular di sana terjerat kasus memalukan seperti tadi. Dongho, Changjo, Minwoo dan Sehun cukup terkejut dengan berita itu. Tapi tampaknya tidak untuk Krystal. Gadis itu tampak biasa saja dan seolah tak mendengar berita apa-apa.
        Selang beberapa saat, muncul kembali dua siswi yang langsung bergabung dengan yang lainnya sambil membawa berita yang tak kalah menghebohkan. “Ternyata pak Chansung dan bu Seohyun sudah mempersiapkan pernikahan,” seru salah satu dari dua siswi yang baru datang tadi.
        “Pak Chansung baru aja mengambil undangan mereka dari percetakan,” lanjut siswi yang satu lagi. Dan setelah itu, suasana semakin tak jelas. Mereka seakan-akan tak rela jika guru idolanya akan segera menikah.
        “Bisakah kita pindah dari sini?” kata Sehun yang tampaknya sudah sangat terganggu dengan siswi-siswi tak jelas itu. Secara tak langsung, ia memang memaksa untuk segera meninggalkan kantin. Dan tentu saja segera mendapat persetujuan dari yang lain.

***

        Inilah waktunya. Krystal sudah berjanji untuk menjawab pernyataan cinta dari empat pemuda yang menyukainya dalam waktu yang hampir bersamaan itu. Pemuda pertama yang akan ia temui adalah Dongho. Kemudian di lanjutkan dengan Changjo, lalu Sehun dan terkahir adalah Minwoo. Gadis itu hanya mengantarkan sebuah amplop coklat.
        “Sebelumnya aku ingin meminta maaf padamu. Dan semua jawabannya ada di dalam amplop itu.” Krystal mengatakan hal yang sama pada ke empat pemuda yang ia temui.
        Setelah Krystal pulang, Sehun segera masuk ke dalam rumah lalu menghempaskan tubuhnya di sofa. Di samping kakaknya yang sudah lebih dulu duduk di sana sambil menonton televisi. Sehun membuka amplop tadi dan mengeluarkan selembar kertas dari dalamnya. Sementara amplop tadi, tak sengaja Sehun melemparnya ke arah Seungri kakaknya.
        Karena penasaran, Seungri dengan lancangnya membuka amplop milik Sehun itu. Ternyata tersisa sebuah undangan di dalam sana. “Kau juga mendapatkan undangan ini?” Tanya Seungri, namun Sehun sudah lebih dulu sibuk dengan suratnya.
        Sehun… terima kasih karena telah menyukaiku. Dan aku sungguh minta maaf padamu karena aku tidak bisa menerima perasaanmu. Aku hanya menganggapmu sebagai teman saja. Aku juga tidak berniat membuat kau menyukaiku. Aku hanya ingin berteman dengan siapa saja sebelum aku menikah nanti. Dan terpaksa aku memberitaumu bahwa sebenarnya aku sudah bertunangan dan akan segera menikah bulan depan dengan pak guru Chansung. Sekali lagi aku meminta maaf padamu. Ku harap kau masih mau berteman denganku. Krystal.
        “Huwaa!” jerit Sehun sambil meremas kertas di tangannya.
        “Kau kenapa?” belum sempat Seungri mendapatkan jawaban, bel rumah lebih dulu berbunyi. Dan tak lama terdengar suara langkah kaki orang yang berjalan mendekat.
        “Sehunnn…! Huwaa… aku patah hati lagi,” ujar Dongho yang datang bersama Changjo. Mereka saling berangkulan satu sama lain.
        “Aku juga patah hati…” lanjut Changjo.      
        Sehun berdiri. “Kau pikir aku tidak?”
        “Huwaa…” Sehun, Changjo dan Dongho menjerit bersama lalu sedetik kemudian mereka saling berpelukan, meratapi nasib percintaan mereka yang senasib kali ini.
        Seungri yang melihat itu hanya bisa geleng-geleng kepala. “Untung Minwoo tidak senasib juga,” gumamnya. Namun prediksi Seungri salah besar.
        “Kenapa kalian tidak mengajakku juga?”
        Sehun, Changjo dan Dongho menoleh. Tak terkecuali Seungri yang langsung syok karena Minwoo sudah berdiri di sana dengan kondisi tak jauh berbeda dengan tiga temannya.

***

        “Jadi hyung mengenal Krystal juga?” Tanya Sehun setelah mengetahui bahwa kakaknya juga menerima undangan pernikahan yang sama seperti yang Krystal kirimkan padanya. Saat itu suasana sudah sedikit terkendali meski ke empatnya masih sedikit terisak setelah menangis berjamaah.

 
Sehun, Minwoo, Dongho dan Changjo duduk di satu sofa panjang. Sementara Seungri duduk di sofa yang lain. “Chansung itu kakak kelasku,” jelas Seungri tentang alasan mengapa ia juga menerima undangan itu.
        “Tapi pak Chansung itu menghamili bu Seohyun. Mereka juga akan menikah,” ujar Changjo seakan belum bisa menerima kenyataan.
        “Benar. Berita itu sudah menyebar luas di sekolah,” lanjut Dongho mendukung ucapan Changjo.
        “Biar ku jelaskan!” Seungri menahan Minwoo sebelum anak itu juga ikut melancarkan protesnya. “Seohyun itu sebenarnya juga sudah menikah dengan Kyunhyun, kakak kandung Chansung. Itu artinya Chansung adalah adik iparnya Seohyun. Mereka dekat karena mereka itu berteman sejak sekolah. Dan yang ku dengar Krystal memang diminta untuk pindah ke sekolah Chansung tapi dengan syarat ia di bebaskan untuk berteman dengan siapa saja sebelum mereka menikah akhirnya.”
        “Kenapa kau tidak menceritakan pada kami? Bukankah kau itu temannya?” kali ini Sehun tampak seperti menyalahkan Minwoo.
        “Aku juga baru tau dari Dongwoon hyung tadi kalau ternyata Krystal dan pak Chansung memang sudah di jodohkan sejak lama,” seru Minwoo utuk membela diri. “Jika tau seperti ini aku tidak akan mengatakan perasaanku padanya.”

***

        Dua bulan kemudian. Chansung dan Krystal yang telah menikah, kini hanya tinggal berdua di rumah mereka. “Aku senang karena kau tidak pernah lupa menyiapkan sarapan untukku seperti saat kau sekolah dulu,” goda Chansung pada istrinya setelah menerima kotak bekal yang Krystal siapkan sebelum Chansung bekerja.
        Krystal hanya menyunggingkan senyuman manisnya. Tapi sedetik kemudian, rauta wajah Krystal berubah. Dan Chansung menyadari perubahan itu.
        “Kau masih memikirkan Sehun, Minwoo, Changjo dan Dongho?” tebak Chansung. Ia sangat tau bahwa istrinya cukup merasa bersalah dengan ke empat pemuda yang memiliki perasaan pada Krystal itu. “Kau tenang saja. Aku sudah memberikan pengertian pada mereka. Dan mereka juga sudah bisa menerima takdirmu untuk menikah denganku.” Lalu pemuda itu menarik Krystal ke dalam pelukannya.
        “Tapi, apa aku masih boleh bertemu dengan mereka?” Tanya Krystal ragu. Ia takut Chansung akan membatasi pergaulannya.
        “Tentu saja boleh.” Krystal langsung sumringah mendengar jawaban Chansung. “Tapi ada syaratnya.”
        Krystal menjauhkan tubuhnya untuk menatap Chansung. “Apa?”
        “Changjo tidak boleh meminta bantuanmu untuk membuat paacrnya cemburu. Lalu, tidak ada lagi berlajar berdua di perpustakaan dengan Dongho. Tidak boleh bermain seharian dengan Minwoo. Dan hanya aku yang boleh mengantarmu pulang kuliah, bukan Sehun.”
        Krystal hanya terkekeh mendengar perkataan atau lebih tepatnya larangan dari Chansung. Apalagi, semua itu adalah kebiasaan yang sering ia lakukan bersama Dongho, Changjo, Sehun dan Minwoo.

***

        Di sisi lain, Sehun, Dongho, Minwoo dan Changjo sudah sepakat menerima kenyataan yang harus mereka jalani. Krystal memang bukan untuk mereka. Dan setelah mereka melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi, mereka juga sudah siap membuka hati mereka jika dihadapkan pada cinta yang lain selain Krystal pastinya.
        Seperti halnya Changjo. Ia baru tau jika ternyata pemuda bernama Sungjae itu adalah sepupu Suzy yang baru kembali dari luar negeri. Dan pemuda itu sangat-sangat menyesal tidak mendengarkan penjelasan dari Suzy saat itu. Namun ia beruntung karena Suzy masih bisa menerima Changjo kembali sebagai kekasihnya setelah apa yang Changjo alami dengan Krystal.
        Berbeda dengan apa yang dialami Dongho. Dengan sangat mengejutkan Naeun mengutarakan perasaannya. Ternyata gadis itu sudah lama memendam perasaannya pada Dongho. Karena ia takut Dongho tak menyukainya, ia terpaksa menerima cinta Taemin. Dan ternyata Taemin sudah menerima kenyataan hingga ia bisa merelakan Naeun bersama Dongho.
        Selama ini Minwoo memang menutup diri pada gadis lain karena masih teringat dengan cinta pertamanya, Krystal. Dan belajar dari pengalaman, Minwoo akhirnya memuntuskan akan berusaha membuka hatinya pada seorang gadis yang ternyata sudah sejak lama menyukainya.
        Dan Sehun… ia kembali mengalami cinta pada pandangan pertama. Tapi kali ini ia akan memastikan bahwa pengalaman seperti saat bersama Krystal tidak akan kembali terulang.


*_E_N_D_*

Jumat, 12 Juli 2013

BECAUSE OF STRAWBERRY MILK (part 2) end




Author              : Annisa Pamungkas
Main Cast          :
·        Chunji (Teen Top)
·        Ricky (Teen Top)
·        Niel (Teen Top)
·        LJoe (Teen Top)
·        CAP (Teen Top)
·        Changjo (Teen Top)
Original cast     : Hye Ra
Genre               : romance
Length              : two shoot

***

        Chunji melempar ranselnya sembarangan ke atas kasur. Ia bergegas masuk ke dalam kamar mandi dan menyalakan keran wastafel. Pemuda itu menggulung lengan kaus panjangnya lalu menadahkan air dengan tangan untuk membasuh mukanya. Pemuda itu melakukan hal yang sama beberapa kali dan seperti orang kesetanan. Bajunyapun sampai basah terkena percikan air.
        Chunji meletakan tangannya di tepi wastafel sambil menatap pantulan wajahnya di cermin, lalu ia mengacak rambutnya yang setengah basah, frustasi. Napasnya menjadi berat dan terdengar tak teratur.
        Tak lama, pintu kamar mandi terbuka dengan kasar. Chunji tak perlu repot-repot menoleh karena ia bisa melihat sosok Ricky yang muncul melalui pantulan cermin.
        “Katakan apa yang terjadi? Dan kenapa justru Niel yang bersama Hye Ra? Kapan kau bertemu denga pemuda itu?” Ricky menyerang Chunji dengan beberapa pertanyaan sekaligus.
        Chunji tak langsung menjawab. Ia masih menatap tajam wajahnya sendiri melalui cermin. Tak lama kemudian, Chunji berbalik dan melangkah melewati Ricky ke luar dari kamar mandi. Ia menyambar handuknya untuk mengeringkan wajah serta rambutnya.

*flashback*
        Chunji tak henti-hentinya tersenyum saat ia ke luar dari sebuah toko sambil menggenggam tas kertas yang berisi coklat berbentuk hati. Dia bukan pemuda yang romantis dan hanya itu yang bisa ia berikan untuk Hye Ra. Chunji berjalan menuju mobilnya masih diiringi dengan senyuman. Baru membayangkan saja sudah membuat hati Chunji bahagia. Apalagi jika Hye Ra benar-benar menerima cintanya.
        Chunji baru saja akan membuka pintu mobil bersamaan dengan seseorang menyentuh pundaknya. Chunji berbalik dan mendapati seorang pemuda yang sedikit lebih tinggi darinya. “Niel?”
        Pemuda yang dipanggil Niel oleh Chunji tampak senang karena pemuda itu masih mengingatnya. “Aku senang bisa bertemu lagi denganmu di sini.” Niel memeluk Chunji namun pemuda itu sama sekali tak membalasnya.
        Niel sama saja seperti ancaman untuk Chunji bisa mendapatkan Hye Ra. Pemuda itu mantan kekasih Hye Ra. Mereka berpacaran cukup lama ketika SMA. Setelah lulus, Niel melanjutkan kuliah ke luar negeri dan meninggalkan Hye Ra begitu saja hingga membuat gadis itu sedikit frustasi sampai akhirnya menjadi seorang playgirl.
        “Kau tau apa yang membuat aku meninggalkan Hye Ra dulu?”
Chunji sama sekali tak berniat menebak apalagi menjawab pertanyaan Niel.
        “Karena jika aku bicara baik-baik, aku yakin Hye Ra tidak akan mau melepaskanku dan aku juga akan menderita karena itu. Dan setelah aku kembali ke sini, aku akan menemui Hye Ra dan mengajaknya untuk kembali bersamaku,” jelas Niel.
        Chunji masih diam. Tentu saja itu upaya untuk menahan emosinya.
        Niel menghela napas. “Aku juga mendengar bahwa Hye Ra berubah menjadi sedikit player. Tapi aku tidak peduli. Aku akan menebus semua kesalahanku padanya, apapun itu,” lanjutnya.
        Chunji berusaha menahan dadanya yang mulai sesak. Sejak SMA, Chunji, Ricky dan Niel berteman. Ketika Niel pergi, ia yang selalu berada di samping Hye Ra. Ia yang menjadi saksi betapa terpuruknya Hye Ra saat ditinggalkan Niel. Apapun ia lakukan agar Hye Ra bisa bangkit lagi dari keterpurukannya. Walau Hye Ra menjadi player, ia tak peduli asalkan Hye Ra berhenti memikirkan Niel. Itu juga yang membuat Chunji perlahan mencintai mantan kekasih sahabatnya. Karena memang hanya Chunji yang berada di dekat Hye Ra. Termasuk Ricky, namun nampaknya pemuda itu tak memiliki perasaan apapun pada Hye Ra.
        Dan sekarang, pemuda bernama Niel itu ada di sini. Berdiri tepat di hadapan Chunji. Chunji menghela napas, berat. Ia tak yakin bisa membahagiakan Hye Ra karena gadis itu mulai kembali menyinggung masalah Niel, terlebih setelah putus dengan LJoe. Seolah sudah tak akan ada tempat lagi di hati Hye Ra untuk pemuda lain.
        “Temui Hye Ra di café, sekarang.” Setelah mengatakan itu, Chunji segera melesat meninggalkan Niel yang sibuk dengan pikirannya seorang diri. Terlebih sebelum benar-benar pergi, Chunji memberikan paksa bungkusan di tangannya kepada Niel.
*flashback off*

        Ricky mencegah tangan Chunji yang mulai menggapai tumpukan pakaiannya dari dalam lemari. Chunji belum menjawab, ia bahkan telah menepiskan tangan Ricky. Tanpa pikir panjang, Ricky sedikit mendorong tubuh Chunji, lalu menjauhkan koper besar dari jangkauan Chunji yang akan memasukan pakaiannya ke dalam koper.
        Tanpa bisa berkata-kata, Chunji hanya menatap Ricky kesal. Ia bahkan sudah melempar tumpukan pakaiannya ke atas tempat tidur.
        “Aku tidak akan membiarkan kau pergi ke manapun,” desis Ricky tajam.
        Chunji menghela napas. “Aku hanya akan bekerja di luar kota. Setidaknya Hye Ra sudah menemukan kembali seseorang yang dicintainya.”
        Ricky tampak tak puas dengan jawaban Chunji. “Kau akan melepaskan Hye Ra begitu saja?”
        “Kau sudah melihat Hye Ra bersama Niel, kan?” tebaknya. Tanpa menunggu Ricky menjawab, jawabannya sudah pasti benar. “Aku yakin gadis itu pasti bahagia.”
        “Setidaknya kau harus memberitauku di mana kau bekerja!” tuntut Ricky sekaligus mengalihkan pembicaraan. Chunji terlihat tersenyum tipis. Itu artinya, Hye Ra sudah kembali jatuh ke dalam pelukan pemuda yang benar.

***

        Satu tahun berlalu. Dan Hye Ra tampak cukup menikmati keberadaannya bersama Niel. Mereka selalu memanfaatkan waktu sesempit apapun di tengah-tengah kesibukan mereka bekerja. Namun tak bisa dipungkiri, Hye Ra merasa sangat kehilangan sosok pemuda yang selalu di sampingnya. Siapa lagi kalau buka Chunji? Pemuda itu menghilang tanpa jejak. Mendesak Rickypun percuma. Pemuda itu juga tidak akan mengatakan apapun tentang keberadaan Chunji saat ini.
        Dan sekarang, Hye Ra berdiri di depan kantor Niel menunggu pemuda itu untuk menemuinya.
        “Maaf, membuatmu menunggu lama.”
        Hye Ra menoleh. Senyumnya selalu terukir ketika bertemu Niel. “Aku hanya ingin memberimu ini,” Hye Ra menyerahkan paksa minuman kaleng ke tangan Niel. Perlahan senyuman Hye Ra memudar ketika melihat Niel meresponnya datar. Tidak biasanya pemuda itu berlaku demikian.
        Niel menatap Hye Ra. “Aku tidak suka susu stroberi, tapi vanilla. Yang menyukai ini Chunji,” ujarnya polos.
        Meski ucapan Niel cukup lembut, tapi tetap saja itu semua sukses memberikan Hye Ra sebuah tamparan keras. Bagaimana bisa ia lupa akan hal sekecil itu? Mungkin kepergian Niel selama empat tahun sangat berpengaruh di bandingkan saat ia mendapati Chunji menghilang satu tahun belakangan ini.
        Empat tahun bukan waktu yang singkat. Meski Hye Ra berpacaran dengan banyak pemuda, tapi hanya satu yang selalu mendapat perhatian khusus darinya. Yaitu Chunji. Hye Ra hampir tak pernah lupa mengirimi Chunji sekaleng susu rasa stroberi setiap harinya meski mereka hanya bisa bertemu tak lebih dari satu menit.
        Hye Ra tersadar dari lamunannya. Ia buru-buru merebut kembali minuman pemberiannya dari tangan Niel. “Aku akan menggantinya dengan rasa vanilla.”
        Niel menjauhkan kaleng itu dari jangkauan Hye Ra. Ia menggeleng pelan. “Tidak usah. Kau kembali saja ke kantormu.”
        Tak ingin berlama-lama lagi, Hye Ra segera meninggalkan kantor Niel dan pemuda itu kembali ke dalam kantornya. Ia berjalan sambil menatap hampa minuman di tangannya.
        Selama setahun. Setiap kali Niel ingin mendengar kehidupan Hye Ra selama ia tak ada, nama Chunji tak pernah absen sekalipun terucap dari bibir Hye Ra. sementara itu, di ujung koridor ada seorang pemuda yang mengawasi Niel. Itu Ricky. Mereka bekerja di kantor yang sama. Begitu pula dengan CAP, namun saat ini baik Niel ataupun Ricky sama sekali tak menyadari keberadaan pemuda itu yang juga tengah mengawasi mereka berdua.
        Sampai akhirnya tatapan Niel dan Ricky bertemu. Ricky yang berinisiatif menghampiri lebih dulu karena ia tertarik akan benda dalam genggaman tangan Niel.
        “Itu dari Hye Ra?” tebak Ricky. Niel tak menjawab. Ia hanya menghela napas sambil menatap hampa kaleng minuman di tangannya. Untuk Ricky, semua itu sudah mewakili pertanyaannya. “Ternyata,” gumamnya pelan lalu berniat menginggalkan Niel, namun langkahnya terhalangi pemuda itu.
        “Aku yakin kau pasti tau keberadaan Chunji,” seru Niel di telinga Ricky tanpa menatap pemuda itu.
        “Maaf, Niel. Kau tidak akan menemukan jawaban itu,” ujar Ricky dingin, lalu benar-benar menjauh dari tempat Niel berada.
        Setelah cukup jauh dari keberadaan Niel, Ricky berhenti di sebuah koridor kantornya yang siang itu cukup sepi. “Chunji harus tau kalau ternyata Hye Ra justru masih mengingatnya,” Ricky mengeluarkan ponsel dari saku celananya.
        Ricky berdecak kecewa karena panggilannya beralih ke voice mail. “Kita harus bertemu. Ada sesuatu yang kau harus tau. Cepat hubungi aku kembali!” Ricky segera memutuskan sambungan setelah selesai mengirimkan pesan suara pada seseorang dengan sedikit memerintah.

***

        Sore itu Niel duduk seorang diri di sebuah taman. Ia masih mengenakan pakaian kantornya meski sudah terlihat sedikit berantakan. Lalu ia menoleh setelah merasakan seseorang duduk di sampingnya. Niel hanya menatap pemuda itu datar. Niel mengenali pemuda itu adalah salah seorang karyawan di kantor tempat ia bekerja, tapi tampaknya mereka belum saling kenal.
        “Aku tau kau. Tapi aku yakin kau tak sedikitpun mengenalku.” Pemuda itu menyadari tatapan bingung yang ditunjukkan Niel padanya. “Panggil saja aku CAP. Dan aku juga tau bahwa Hye Ra adalah kekasihmu.”
        Setelah memahami maksud ucapan CAP tadi, Niel akhirnya tertawa. “Apa hubunganku dengan Hye Ra sepopuler itu?” Tanya Niel heran.
        Sedetik kemudian mereka tenggelam dalam obrolan ringan mengenai Hye Ra. Gadis yang juga sempat menjadi kekasih mereka. CAP bercerita tentang hubungannya, bahwa ia cukup serius dan sudah sangat menyayangi Hye Ra selama mereka berpacaran. Namun ternyata tanggapan Hye Ra berbeda. Beberapa kali CAP juga mendengar cerita Hye Ra tentang Niel. Setelah itu mereka putus hingga membuat CAP kecewa. Ia juga cukup menyesal karena sampat memanfaatkan perasaan Hye Ra terhadap LJoe untuk membalaskan sakit hatinya.
        Hingga akhirnya pembicaraan mereka sampai pada sosok Chunji. Niel mengakui bahwa antara dirinya, Chunji juga Ricky cukup akrab ketika mereka SMA.
        “Chunji mungkin tak menunjukkannya, tapi aku yakin pemuda itu menyimpan perasaan pada Hye Ra sudah cukup lama. Dan Hye Ra sendiri, ku rasa tanpa sadar ia memang selalu memberi perhatian pada Chunji. Bahkan ketika kami berpacaran, Hye Ra selalu menyempatkan diri bertemu Chunji meski ia hanya memberikan sekaleng susu rasa stroberi,” jelas CAP.
        Niel kembali teringat minuman yang Hye Ra berikan padanya siang tadi. Dan ia juga baru menyadari bahwa Ricky tiba-tiba berprilaku cukup janggal setelah melihat dirinya membawa minuman itu.
        Niel menatap CAP yang masih duduk di sampingnya. “Menurutmu, apa yang sebaiknya aku lakukan?” Tanya Niel penuh harapan bahwa CAP bisa membantunya.
        CAP meletakkan tangannya di pundak Niel. “Maaf aku tidak bisa membantu. Tapi aku yakin keputusanmu adalah yang terbaik demi kebahagiaan Hye Ra.”

***

        “Astaga Hye Ra! Bagaimana bisa kau memberikan Niel minuman kesukaan Chunji?” omel Changjo setelah mendengar pengakuan Hye Ra. Sementara LJoe hanya berusaha menengahi keduanya.
Sejak setahun yang lalu hubungan antara Hye Ra dengan Changjo dan LJoe memang cukup baik. Mereka bahkan semakin dekat. Terlebih semenjak Chunji juga menghilang di waktu yang bersamaan.
        “Jadi? Kalau memang bisa memilih, siapa yang akan kau pilih? Chunji atau Niel?” Tanya LJoe lembut. Ia tak ingin Hye Ra merasa semakin terpojokkan. Walau bagaimanapun, mereka harus menyelesaikan masalah Hye Ra secepat mungkin.
        Hye Ra menutup wajahnya menggunakan tangan sambil menggeleng.
        Changjo dan LJoe hanya bisa menghela napas menanggapi jawaban Hye Ra. Tak lama, minuman pesanan merekapun datang. Changjo langsung menggeser salah satu gelas ke hadapan Hye Ra.
        “Minum dulu biar kau tenang,” seru Changjo.
        Belum sempat Hye Ra menyentuhnya, warna minuman itu cukup mencurigakan. Gadis itu lalu memastikan dengan cara mencium aromanya. Sedetik kemudian ia tersadar dan menatap tajam LJoe dan Changjo bergantian. Namun kedua pemuda itu justru membalas Hye Ra dengan tatapan bingung.
        “Kalian mau semakin memojokkanku?” seru Hye Ra dengan nada pelan namun penuh dengan penekanan. Ia sadar di tempat umum seperti ini akan membuatnya menjadi pusat perhatian jika tadi nekat berteriak.
        Tak lama pelayan yang mengantarkan minuman tadi kembali dan mengatakan bahwa minuman yang dipesan Hye Ra tertukar. Lantas pelayan itu membawa kembali gelas di hadapan Hye Ra.
        Samar-samar LJoe sempat mencium aroma minuman yang di bawa pergi pelayan tadi. “Susu stroberi?” gumamnya pelan, bahkan nyaris tanpa suara. Changjo ikut khawatir melihat perubahan wajah LJoe.
        LJoe mengikuti langkah pelayan tadi yang mengantarkan minuman tersebut ke sebuah meja yang dihuni dua orang wanita. Seakan teringat sesuatu, LJoe melirik Hye Ra. Gadis itu juga baru saja menatap ke arah dua wanita tersebut dan kini Hye Ra tertunduk, kecewa.
        “Ku rasa aku tau apa jawabannya,” ujar LJoe lalu menyeruput minumannya. Ia juga tak mempedulikan Changjo yang melemparinya dengan tatapan ingin tau.

***

        Niel menegakkan badannya saat menyadari pintu gudang di kantornya terbuka dari luar. Di sana muncul CAP yang membawa serta Ricky meski dengan sedikit paksaan. Ricky berhenti memberontak saat menemukan Niel sudah berada di sana.       
        “Ku mohon katakan di mana Chunji berada,” pinta Niel sungguh-sungguh.
        Ricky menatap CAP tajam karena pemuda itu pernah menanyakan hal yang sama seperti Niel. “Percuma kalian bertanya padaku. Kalian tidak akan menemukan jawabannya.”
        Niel menarik napas dalam saat menatap Ricky hampir meninggalkan gudang. “Apa kau tidak ingin melihat Chunji dan Hye Ra bersama?” seru Niel. Ia sudah sangat bersusah payah mengatakan hal tersebut.
        Ricky membeku seketika. Tapi ia belum ingin berbalik karena ia belum bisa percaya begitu saja dengan ucapan Niel. Biar bagaimanapun, Niel masih berstatus kekasih Hye Ra. Niel langsung berdecak kecewa saat melihat Ricky memilih melanjutkan langkah dan mengabaikannya.

***

        CAP, LJoe dan Changjo langsung menegakkan badan mereka saat melihat sosok Ricky ke luar dari gedung kantornya. Mereka saling melempar tatapan dan memberi isyarat. Tak lama tampak Changjo mendahului mereka untuk menghampiri Ricky.
        “Masih belum mau memberi tahu keberadaan Chunji?”
        Ricky yang berdiri di samping mobilnya, membatalkan niat untuk masuk. Ia berbalik dan menatap Changjo penuh Tanya.
        Changjo tampak seperti melakukan peregangan otot. Sementara itu, CAP dan LJoe hanya terkikik melihat kelakuan Changjo. “Sepertinya aku terpaksa melakukan cara kasar,” ujarnya meremehkan. Dan tanpa pikir panjang, Changjo mulai melancarakan aksinya. Ia menyambar ponsel Ricky dan segera membawanya kabur.
        Ricky yang panic hampir saja meneriaki Changjo seorang maling. Tapi itu tidak mungkin ia lakukan. Akhirnya, Ricky lebih memilih mengejar Changjo. Di sana CAP dan LJoe sudah menunggu. LJoe sudah bersiap, dan setelah Changjo melempar ponsel Ricky padanya, ia pun segera menjauh. Sementara CAP membantu Changjo untuk menghalangi Ricky dan membawa pemuda itu ke dalam mobilnya. Mereka menghimpit Ricky di kursi belakang.
Sampai akhirnya LJoe masuk ke dalam mobil dan duduk di kursi kemudi. Ia menengok ke belakang. “Ternyata mereka akan bertemu di taman kota jam 4 sore ini,” ujarnya lalu menyalakan mesin mobil. “Kalian tinggal atur pertemuan Niel dan Hye Ra juga.”
        Mendengar LJoe menyebut nama Niel dan Hye Ra, sontak saja membuat Ricky memberontak. Terlebih, tempat itu adalah tempat yang ia rencanakan untuk bertemu Chunji. Namun ia tampak tak berdaya di tengah-tengan tubuh besar milik CAP dan Changjo. “Apa yang kalian rencanakan untuk Niel dan Hye Ra?” pekik Ricky menuntut penjelasan. Dan tampaknya, LJoe sama sekali tak berniat mengembalikan ponsel Ricky.
        “Diam!” bentak CAP dan sedetik kemudian, ia sibuk dengan ponsel di tangannya. Begitu pula dengan yang dilakukan Changjo. Sementara LJoe mulai menjalankan mobilnya dan membawa mereka ke suatu tempat.

***

        Setelah mengulur waktu cukup lama, LJoe akhirnya menepikan mobil tak jauh dari sebuah taman kota. Mereka berempat ke luar dari mobil. Changjo dan LJoe bergegas meninggalkan CAP yang hanya berdua dengan Ricky.
        “LJoe, ponselku!” teriak Ricky.
        LJoe berbalik dan melangkah dengan berjalan mundur. “Nanti saja,” balasnya dengan teriakan juga.
        “Jadi, kau benar-benar melakukan itu?”
        Ricky menoleh saat mendengar CAP berujar. Namun ternyata, ia sudah mendapati Niel berdiri di samping CAP. Pemuda itu tampak memaksakan senyumnya.
        “Ku rasa itu yang terbaik,” seru Niel akhirnya.
        CAP menepuk pundak Niel. Ia tau pemuda itu sudah sangat susah payah mengatakannya. “Kau hebat, Niel.”
        Kembali, Niel berusaha mengukir senyumnya. CAP cukup kagum melihat itu. Ia sendiri justru menjebak Hye Ra dengan LJoe. Tidak seperti apa yang Niel lakukan. Ricky sendiri hanya bisa menahan kesal karena hanya dia yang tidak tau apa-apa.

***

        Sementara di tempat berbeda, Chunji tampak memasuki sebuah supermarket. Pemuda itu tampak semakin tampan dan dewasa dengan kacamata berbingkai hitam yang menghiasi wajahnya.
        “Apa stok susunya masih ada?” Tanya Chunji pada salah seorang karyawan di sana perihal kaleng susu stroberi yang tak tersisa satupun. Chunji hanya menghela kecewa karena stoknya benar-benar habis. Tanpa sengaja, matanya menangkap seorang gadis yang baru saja melewati pintu supermarket. Segera saja Chunji mengikuti gadis tadi.
        Chunji mengikuti gadis tadi hingga ke dalam taman kota. Di sana gadis itu duduk di sebuah bangku lalu menatap minuman kaleng yang berada di tangannya. Chunji melebarkan matanya saat mendapati gadis itu sudah mengangkat tinggi-tinggi minuman itu seperti hendak membuangnya.
        “Hentikan!” pekik Chunji cepat-cepat demi menyelamatkan minuman favoritnya. Ia menatap gadis tadi setelah kaleng itu berada di tangannya. “Dari pada kau buang, lebih baik ini untukku saja.” Dan tanpa pikir panjang, Chunji segera membuka minuman itu.
        “Chunji!”
        “Kau boleh memarahiku setelah aku menghabiskan minuman ini,” ujar Chunji enteng seakan memang sudah mengantisipasi kejadian itu. Terlebih karena gadis itu adalah Hye Ra.
        Chunji sedikit lega karena rasa hausnya sudah hilang. Dan ia juga sudah siap mendapatkan serangan kemarahan dari Hye Ra.
        “Apa kau sudah merasa hebat sekarang? Pergi tanpa pamit selama setahun? Kau bahkan membungkam mulut Ricky!”
        Chunji justru tersenyum melihat amarah Hye Ra. Tanpa mempedulikan tatapan membunuh dari gadis itu, Chunji justru menariknya ke dalam pelukan. Cukup lama, sampai akhirnya Chunji merasa kemejanya basah dan terdengar isakan tangis seseorang.
        “Maaf, aku yang salah,” suara Chunji terdengar sangat merasa bersalah.
        Hye Ra menggeleng masih dengan posisi dalam pelukan Chunji. “Niel memutuskanku,” ujarnya terisak.
        Chunji menghela napas. Menyesal untuk yang kesekian kalinya karena tidak sempat mengutarakan perasaannya pada Hye Ra. Ia pun melepaskan pelukannya untuk bisa menatap mata gadis itu yang kini basah karena air mata. “Sudah lama sekali aku ingin mengatakan ini,” ujar Chunji lembut sambil mengapus sisa air mata di wajah Hye Ra. “Aku ingin kau memberikanku kesempatan untuk menjadi kekasihmu.”
        Hye Ra menatap Chunji tajam. Mencoba mencari kebenaran di mata pemuda itu. Tanpa di duga, Hye Ra justru menyingkirkan tangan Chunji. “Untuk apa kau kembali?” desisnya dengan nada tinggi. Tanpa menunggu Chunji merespon ucapannya, Hye Ra sudah lebih dulu membalikan badan.
        “Karena aku mencintaimu, Hye Ra!” teriak Chunji tepat di belakang Hye Ra. Ia lalu memutar tubuh Hye Ra agar gadis itu menghadapnya. “Maaf, aku baru kembali sekarang,” ujar Chunji untuk kesekian kalinya ia meminta maaf.
        Air mata Hye Ra kembali mengalir. “Kalau memang kau mencintaiku, ku mohon jangan pergi lagi.”
        Chunji tersenyum lega, lalu menangkupkan wajah gadis itu menggunakan tangannya. Perlahan Chunji mendekatkan wajahnya ke arah Hye Ra seperti akan mencium gadis itu. Semakin dekat dan keduanya saling memejamkan mata. Chunji tak tau kalau Hye Ra sudah menutup mulutnya menggunakan tangan. Merasa ada yang aneh, pemuda itu membuka mata dan mendapati ia mencium tangan Hye Ra.
        Hye Ra menjauhkan tubuh Chunji. “Jika kau ingin menciumku, setidaknya hilangkan dulu aroma susu favoritmu itu,” protesnya.
        Chunji hanya terkekeh karena rasa susu stroberi di mulutnya masih sangat terasa. “Jika kau tidak suka, kenapa kau membeli susu itu?” Chunji mengajukan pertanyaan menjebak. Dan tentu saja Hye Ra tak bisa menjawabnya membuat Chunji tersenyum puas. “Aku tau,” pekiknya. “Itu pasti karena kau sudah sangat merindukanku,” godanya. “Tapi setidaknya, kau menyukai pemuda pecinta susu stroberi sepertiku, kan?” seru Chunji penuh percaya diri.
        Hye Ra mendengus kesal lalu menginjak kaki Chunji dan otomastis pemuda itu langsung meringis kesakitan. “Itu untukmu,” serunya kesal sambil melangkah pergi.
        “Hye Ra kau harus bertanggung jawab!” pekik Chunji kesal sambil berusaha mengejar ditengah kakinya yang berdenyut.
        Di depan sana Hye Ra berhenti. Dan tentu saja Chunji segera mempercepat langkahnya menyusul gadis itu. Gadis itu menatap ke arah 5 orang pemuda di sekitar bangku taman.
        “Jadi ternyata…” Chunji tak melanjutkan ucapannya. Lima pemuda tadi tak lain adalah teman-teman mereka sendiri. Niel, CAP, Ricky, LJoe dan Changjo. Yang membuat keduanya tercengang adalah tumpukan kaleng susu rasa stroberi di dekat 5 pemuda tadi. Bahkan masih banyak yang utuh.
        Chunji segera mendakati dan tak lupa ia menyambar tangan Hye Ra untuk ikut bersamanya. Tepat bersamaan saat LJoe menggoda Niel yang memang tak menyukai susu rasa stroberi itu.
        “Jadi kalian memborong semua susu itu di supermarket?” tegur Chunji. Ia bahkan sudah melepaskan kacamatanya.
        Niel tampak diam karena ia tak tau apa-apa masalah susu dan supermarket. Sementara LJoe tampak menyenggol-nyenggol lengan CAP. Dan Changjo serta Ricky tampak saling melempar pandang lalu tersenyum puas.
        “Setidaknya rencana kami berhasil, kan?” ujar Changjo yang sudah tidak sabar menggoda Chunji karena masih menggandeng tangan Hye Ra.
        Chunji tampak menatap Ricky dan menuntut penjelasan. Namun Ricky tampak mengangkat bahu dan tak mau ambil pusing. “Maaf Chunji. Aku juga menjadi korban di sini.”
        “Jadi kalian juga yang mengatur rencana pertemuanku dengan Chunji?” kali ini Hye Ra yang bertanya, dan tak ada yang berniat menjawab. “Niel?” panggilnya, masih dengan nada menuntut penjelasan.
        Niel tampak tak siap merespon ucapan Hye Ra. Ia melirik yang lain seolah meminta bantuan. Tapi sedetik kemudian, Niel kembali menatap Hye Ra. “Kau pantas bersama Chunji.”
        Ucapan Niel tadi membuat Chunji lega. Sementara CAP yang kebetulan berada di dekat Niel, menepuk pundak pemuda itu.
        “Sudahlah…” Niel berusaha menghentikan perilaku CAP terhadapnya. “Lebih baik kita pergi. Jangan mengganggu Chunji dan Hye Ra,” serunya mengalihkan. Ia juga sudah lebih dulu berbalik menuju mobil. Di susul CAP dan LJoe tak lama kemudian.
        “Sebaiknya kita pergi,” bisik Chunji pada Hye Ra karena sudah mendapat gelagat tak baik dari Changjo dan Ricky. Kedua pemuda itu pasti akan mengganggunya. “Cepat,” seru Chunji sekali lagi sebelum menarik Hye Ra pergi bersamanya.
        “Lain kali kau tidak akan selamat, Chunji!” canda Changjo yang kemudian di tarik oleh Ricky untuk menyusul yang lain.

*_E_N_D_*