Tampilkan postingan dengan label Lee Gikwang. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Lee Gikwang. Tampilkan semua postingan

Senin, 16 Desember 2019

FC LOVE (chapter 15)





Author              : Annisa Pamungkas (@nniissaa11)
Main Cast          :
·        B2ST/Beast Lee Gikwang
·        Infinite Lee Howon (Hoya)
·        SNSD Im Yoona
Support cast     :
·        Other member B2ST/Beast, Infinite and SNSD
·        Yong Hwa CN Blue
·        Siwan Ze:a
·        Jonghyun, Minho and other member Shinee
·        Member Super Junior, A-Pink, F(X)
Genre                : romance, family, friendship
Length              : chapter

***

        Howon dan Gikwang masih berada di meja makan. Saling diam dan sibuk dengan pikiran masing-masing. Gikwang dengan segala ketidakpercayaannya terhadap keadaan tersebut. Sementara Howon teringat semua ucapan Siwon saat di rumah sakit.

Flashback…
        “Kamu nggak pengen tau ayah kandung kamu?”
        Howon menatap Siwon dengan tatapan yang sulit di artikan. “Aku punya orang tua sebaik ayah. Dan nggak sedetikpun aku ingat kalau aku masih punya ayah kandung yang lain.”
        Siwon menatap Howon nanar. Hatinya mencelos mendengar betapa besar rasa sayang Howon padanya. Bahkan mungkin bisa lebih besar dari Minho, anak kandungnya sendiri. Tapi biar bagaimanapun, Howon tetap harus mengetahui semuanya, meski Ga In sebenarnya tak ingin Howon tau.
        “Aku dan ibumu dulunya sepasang kekasih. Tapi kita di jodohkan dengan orang lain oleh orang tua kita masing-masing. Dan sebelum Ga In tau dia hamil dirimu, Ga In sudah lebih dulu bercerai dengan mantan suaminya itu. Lalu setahun kemudian kami kembali bertemu. Tak lama setelah ibu Minho meninggal. Kami segera memutuskan untuk menikah setelah itu,” jelas Siwon tentang perjalanan hidupnya dan Ga In.
        Bibir Howon terasa kelu. Ia tak tau harus berbuat apa selain bertanyaa, “ayah mengenal ayah kandungku?”
        Siwon mengangguk samar. “Aku dan Sungmin berteman dekat sejak SMA.”
        “Jadi nama ayahku Sungmin?” seru Howon memastikan.
“Iya. Lee Sungmin.”
“Ayah tau dia tinggal di mana?” Entah perasaan dari mana Howon justru penasaran dengan ayah kandungnya itu.
        Kali ini Siwon menggeleng. “Tapi kamu juga perlu tau. Nama ‘Hoya’ adalah pemberian Sungmin yang tadinya ingin diberikan pada anak pertama Sungmin dan Ga In. Tapi Ga In nggak setuju. Aku memutuskan memberikan nama itu untuk nama panggilanmu agar kamu nggak ngelupain ayah kandung kamu.”
        “Aku juga punya kakak? Cewek apa cowok, yah?” Tanya Howon lagi, bersemangat.
        “Cowok. Dan kalo nggak salah namanya Lee Gi…” kalimat Siwon terputus karena pintu kamar rawatnya terbuka. Minho dan Sulli muncul dari baliknya. Setelah itu, obrolan Howon dan Siwon tentang Sungmin harus terhenti.
Flashback end…

        “Udah ngerasa lebih baik?” Gikwang membuka suara. Memecah keheningan yang sejak tadi terjadi.
        Howon mendongak menatap Gikwang. Namun belum ada sepatah katapun yang meluncur dari bibirnya. “Bokap lo bernama Lee Sungmin?” Howon balik bertanya tanpa menjawab pertanyaan Gikwang sebelumnya.
        Gikwang menatap Howon, heran. “Lo udah tahu tentang itu?”
        Howon yang juga sudah tidak bisa menahan rasa penasarannya, memilih untuk menceritakan semua pembicaraannya dengan Siwon saat pria itu masih dirawah di rumah sakit. Cepat atau lambat, semua pasti akan terbongkar. Dan Howon lebih memilih untuk mencoba mencari tahu semuanya mulai sekarang. Bekerja sama dengan Gikwang, mungkin. Meski rasa tidak sukanya pada Gikwang juga masih mendominasi.
        Sesaat mereka kembali saling diam. Sampai akhirnya pintu rumah keluarga Howon terbuka. Memunculkan Sulli di sana Bersama Eunji. Sulli terlihat pucat dengan Eunji membantu memapahnya. Mereka berjalan melintasi ruang makan hingga membuat dua pemuda di sana menoleh. Melihat Sulli yang pucat, Howon langsung berdiri, Gikwang menyusul kemudian. Howon mengambil alih Sulli dan menggendong adiknya untuk di bawa ke kamar.
        Eunji dan Gikwang saling melempar tatapan. Namun tidak ada yang mereka lakukan lagi kecuali Eunji yang menyusul Howon. Gikwang sendiri lebih memilih berbalik, kembali menuju ruang makan untuk mengambil ranselnya. Pemuda itu pun meninggalkan rumah keluarga Howon. Eunji berdiri diambang pintu kamar Sulli. Bertepatan dengan Howon yang berniat meninggalkan kamar adiknya itu. Mereka saling berpapasan namun tidak ada yang Howon ucapkan. Pemuda itu hanya melewati Eunji. Eunji langsung nyelonong masuk ke kamar Sulli untuk melihat keadaan gadis itu.
        Howon menghentikan langkah dan berbalik, memastikan Eunji sudah tidak ada di sana. Benar saja gadis itu sudah masuk ke dalam kamar adiknya. Howon kembali mendekat ke kamar Sulli. Namun hanya sampai ambang pintu. Howon menyembunyikan tubuh dibalik tembok, ia mengintip apa yang Eunji lakukan di sana.

***

        Hari ke-2 Gikwang tidak masuk sekolah. Belum lagi memang tidak ada yang mengetahui kabar kenapa cowok itu sampai absen bersekolah. Karena status Gikwang sebagai murid pindahanlah yang membuat cowok itu belum terlalu memiliki banyak teman di sekolah itu. Lalu saat jam istirahat pertama, Yoona mencoba mengirimi Gikwang sebuah pesan singkat untuk menanyai keberadaan cowok itu.
        Sementara di salah satu unit ‘Phoenix’ apartemen, Gikwang sedang meringkuk dibalik selimut tebalnya. Tepat saat Yong Hwa baru saja mengunjunginya beberapa menit lalu hanya untuk memastikan Gikwang meminum obatnya tepat waktu. Sudah sejak kemarin malam Gikwang demam. Saat mendengar ponselnya berbunyi, Gikwang menjulurkan tangan dari balik selimut untuk mengambil ponselnya di meja kecil. Sebuah pesan dari Yoona.

      Kwang, lo di mana? Kenapa nggak ada kabar dari kemaren?
      ~Yoona~

        Melihat isi pesan yang dikirimi Yoona, sontak Gikwang berusaha bangkit. Cewek itu memberikannya sedikit suntikan semangat. Dengan cepat tangan Gikwang mengetikkan sesuatu sebagai balasan pesan Yoona. Namun ternyata Gikwang mendapati informasi jika pesan tersebut gagal terkirim. Hingga beberapa kali mencoba, hal yang sama tetap terjadi.
        “Akh, sial! Pulsa gue habis!” seru Gikwang. Membanting ponselnya dengan murka ke atas kasur. Gikwang yang sudah kesal hanya bisa melempar pandangan ke seluruh sudut kamarnya. Memikirkan apa yang bisa ia lakukan sekarang dengan kondisinya yang seperti ini.
        Di salah satu sudut kamarnya, Gikwang menemukan laptopnya tergeletak dengan posisi layar terbuka. Gikwang menyeret kakinya mendekat ke meja belajar. Ia menyalakan laptopnya, dan mencoba menyambungkan ke jaringan wifi. Namun selalu gagal.
        “Astaga, apa Papa udah segitu miskinnya sekarang sampe nggak sanggup bayar tagihan wifi? Padahal gue udah nggak pernah main game online lagi sekarang.” Gikwang hanya tertunduk lesu.
        “Bang Gikwang!”
        Gikwang sedikit terlonjak saat mendengar teriakan seseorang di luar kamarnya. “Myungsoo?” serunya seakan mendapat pencerahan. Buru-buru Gikwang melangkah ke luar kamar. Benar saja, itu Myungsoo yang tampak sedang meletakkan sebuah bungkusan di atas meja ruang tamu.
        “Bang, kayaknya bel rumah lu rusak deh. Untung gue tau kodenya. Maaf ya gue nyelonong masuk. Oh iya, ini makanan buat lu.”
        Gikwang menghempaskan badan ke samping Myungsoo yang sudah lebi dulu duduk di sofa. “Nggak-papa, Myung. Oh, makasih ya.”
        “Hmm lu sakit dari kapan? Cewek lu nggak nengokin?” goda Myungsoo sambil mengawasi Gikwang yang tampak mulai membuka bungkusan tadi dengan tatapan jahilnya.
        “Dari dua hari lalu. Tapi ini udah mendingan sih.” Gikwang terlihat masih asik dengan makanan yang kini dihadapannya. “Gimana mau ngasih tau dia, pulsa gue keburu habis.”
        Mendengar udapan Gikwang, membuat Myungsoo menoleh cepat dan semakin menatap penuh minat terhadap Gikwang yang belum menyadari reaksi Myungsoo. Gikwang masih sibuk dengan makanannya. Myungsoo sudah menangkap arah ucapan Gikwang tadi. Kemudian pemuda itu tersenyum jahil.
        “Kalo udah sembuh, pajak jadiannya traktir gue pizza ya.”
        Sontak Gikwang tersedak makannya sendiri mendengar pernyataan Myungsoo. Gikwang langsung menyambar air minumnya untuk meredakan sedakan. Tepat ketika ponselnya berdentang karena sebuah pesan masuk.

Sunggyu : “Lo jadian sama siapa? Nggak mungkin Taeyeon.”
     
        Giwang melebarkan matanya melihat sebuah pesan masuk dari Sunggyu. Myungwoo tertawa melihat reaksi Gikwang. Siapa lagi pelakunya jika bukan Myungsoo yang membocorkan pada Sunggyu tentang berita itu. Gikwang menoleh sambil menyambar kerah baju Myungsoo menggunakan satu tangan. Myungsoo masih saja tertawa.
        “Eh, serius deh, bang. Jadian sama siapa? Taeyeon?”
        Dengan perlahan Gikwang melepaskan tangannya dari kerah Myungsoo sambil kembali duduk seperti semula. Menimbang apakah ia ceritakan saja pada Myungsoo meski bisa dipastikan rahasia ini hanya aman dalam hitungan jam ditangan adik sahabatnya itu.
        “Lo bilang Taeyeon juga udah jadian kan sama cowok lain?” tanya Myungsoo yang kemudian menyambar minumannya. “Berarti nggak mungkin sama Taeyeon.”
        Gikwang mengangguk membenarkan. “Tapi sebenernya…” Ucapan Gikwang terputus karena interupsi suara bel. Saat menoleh, ia sudah mendapati Myungwoo berdiri dan berjalan ke arah pintu. Dari balik pintu memunculkan sosok Sunggyu dan Yonghwa. Yonghwa bahkan terlihat seperti baru bangun tidur.
        Yonghwa menghempaskan badan ke samping Gikwang sambil memeluk bantalan sofa. Gikwang hanya memperhatikan yang dilakukan temannya itu. Sementara Sunggyu duduk di sofa seberangnya Bersama Myungsoo. Lalu kali ini tatapan Gikwang jatuh pada Myungsoo sendiri. Pemuda yang sejak tadi bersamanya.
        “Lo yang menyuruh mereka datang?” Tuduh Gikwang pada Myungsoo.
        Myungsoo menggeleng tegas. “Gue Cuma kasih tau Bang Sunggyu, tapi nggak nyuruh dateng kok.”
        “Jonghyun, mana?” tanya Gikwang.
        “Nggak bisa, dia lagi ada acara.” Sunggyu duduk di ujung sofa sambil mencondongkan tubuhnya ke arah Gikwang. “Lo punya cewek di sekolah baru? Serius? Siapa? Cepet banget move on.”
        Kali ini Gikwang benar-benar melepaskan sendoknya ke atas piring. Membiarkan makanannya menunggu dimakan nanti. Yonghwa juga sudah menegakkan badan di samping Gikwang. Tadi Yonghwa memang diajak paksa oleh Sunggyu untuk ke rumah Gikwang.
        “Jadi, gue cerita dari mana ya. Intinya sih udah lama gue agak ngerasa hopeless ke Taeyeon. Kayak susah dijangkau aja. Atau gue yang nggak tau sebenernya selama ini dia udah punya cowok. Atau mungkin perasaan gue ke dia Cuma sebatas kagum aja. Iya nggak, sih?” Gikwang menatap satu-persatu teman-temannya.
        “Ya gue sih nggak paham kalo kondisi kaya gitu disebutnya apa. Yang penting lo-nya nggak ribet.”
        Gikwang menoleh ke samping, ke tempat Yonghwa duduk. “Kok gue nggak paham ya?” ujarnya sambil menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal.
        “Tau ah.” Yonghwa kembali menenggelamkan punggungnya ke sandaran kursi, masih sambil memeluk bantal. Seperti tidak peduli dengan apa yang sedah teman-temannya bahas.
        “Kalo gue sih,” ujar Sunggyu kemudian. Kembali mengalihkan tatapan Gikwang padanya. “Nggak peduli dilbilang kecepetan move on atau gimana. Karena kan posisinya nggak sampe pacarana sama Taeyeon, kan? Kalo ternyata nemu yang lebih baik, kenapa nggak.”
        “Tapi masalahnya, doi juga baru putus. Dia bilangnya sih mereka emang udah nggak cocok dan mesti udahin hubungan mereka.”
        “Nah, yaudah sih. Lanjutin aja.”
        “Gitu, ya?”

***

        “Yoon.”
        “Hmm?” Yoona hanya menyahut dengan dengan dehaman. Gadis itu sedang sibuk mengikat tali sepatu saat Doojoon mengajaknya bicara.
        “Pulang yok.”
        Yoona sontak menoleh sambil menghentikan kegiatannya. “Pulang ke mana? Ini kan rumah kita.”
        “Balik ke Surabaya.”
        Yoona menatap Doojoon, namun pemuda itu seperti mengalihkan pandangannya. “Kalo lu mau balik ke sana, yaudah lu aja. Gue tetep di sini.”
        Mereka diam sesaat sampai akhirnya Doojoon menatap kembali adiknya. “Jakarta bisa jadi rumah kita buat pulang, Yoon?”
        “Lo apaan sih, bang?” Yoona sontak berdiri.
        Doojoon menahan tangan Yoona karena gadis itu bersiap pergi. “Kasarnya nih ya, gue kan emang udah nggak punya orang tua kandung, tapi seenggaknya gue punya elu sama ayah ibu juga. Tapi cepat atau lambat, tempat gue bakal jatuh ke tangan Siwan. Jadi, setelah gue nggak punya siapa-siapa lagi, gue boleh pulang ke rumah ini kan, Yoon?”
        Yoona menghela napas dan kembali duduk ke atas sofa. Abangnya yang biasa menyebalkan ini sedang berada dalam kondisi ‘nggak punya apa-apa dan nggak punya siapa-siapa’. Walaupun bukan saudara kandung, mereka masih sepupuan. Seenggaknya bukan dua orang asing yang berbeda asal.
        “Bang,” panggil Yoona.
        Doojoon menoleh.
        “Hidup pisah-pisah kayak gini bikin gue juga mencari ‘rumah’ gue sendiri. Sebenarnya sama aja kalo gue balik ke Surabaya toh gue bakal tetep kayak hidup sendiri. Dan gue memang nggak mau ‘pulang’ ke sana, kecuali mungkin untuk sekedar berkunjung sih oke. Tapi ya gue bakal tetep pulang ke Jakarta. Numpang ke rumah lo sih tetep aja.”
        Doojoon menatap berkeliling ruangan yang tengah ia tempati sekarang ini. Setelah kejadian itu, kejadian terungkap dirinya bukan anak kandung Seulong dan Victoria, fakta tentang rumah yang tinggali beberapa tahun belakangan ini pun juga terungkap. Rumah yang memiliki dua lantai tersebut ternyata peninggalan orang tua kandungnya.
        “Lo bakal tetep di sini kan, beneran? Seenggaknya kalo gue mau pulang, gue tau gue masih punya adek kayak lo.”
        Yoona mengernyitkan keningnya. “Apa, sih? Lo mau ke mana? Udah ngaku aja.”
        “Balik ke Surabaya, Yoon.”
        “Oh, yaudah. Santai aja lah gue di sini sendirian. Toh seenggaknya sekarang udah ada bang Siwan. Udah ya, gue main dulu.”
        Lagi, Doojoon menahan langkah Yoona dengan menangkap tangan gadis itu. Yoona menghela napas. Baru ia akan membuka mulut, Doojoon sudah lebih dulu berbicaara. “Siwan bantuin ayah di Surabaya.” Doojoon mendongak perlahan dan mendapati Yoona terbelalak. “Karena kecelakaan itu, kemungkinan Siwan nggak bisa main bola lagi.”
        Dengan perlahan namun tegas, Yoona melepaskan tangan Doojoon yang masih menahannya. “Oke.” Hanya itu yang diucapkan Yoona sebelum akhirnya benar-benar pergi dari rumah sebelum Doojoon kembali menahannya.

***

        Yoona menuntun sepedanya sejak ia keluar dari gerbang perumahannya. Gadis itu bergerak menuju taman. Melewati anak-anak seumura Yoogeun dan Leo yang asik bermain sepakbola. Tidak mempedulikan keseruan mereka. Yoona bahkan sampai tidak menyadari jika ada Howon di sana. Menjadi salah satu bagian dari anak-anak itu.
        Howon berpamitan pada Yoogeun dan yang lain untuk meninggalkan lapangan. Menyusul Yoona yang masih mendorong sepedanya hingga sampai pada sebuah danau. Di dekat sana ada sebuah bangku taman yang kosong. Yoona meninggalkan sepedanya pada jalan setapak kemudian berjalan seorang diri menuju kursi taman, lalu duduk di sana. Howon yang memang sejak tadi mengikuti Yoona juga ikut duduk di kursi itu, namun sedikit berjauhan dengan Yoona.
        “Yoon, gue mau minta maaf.”
        Yoona tersentak, menoleh dengan tatapan terkejut mendapati Howon di sana. “Sejak kapan lo…” Yoona menggantungkan ucapannya.
        Howon menghela napas, sudah mengantisipasi jika Yoona akan terkejut dengan kehadirannya. “Gue terlalu egois kayanya ke Eunji.” Pemuda itu kemudian tertawa. Lebih tepatnya menertawai diri sendiri. “Bego banget gue ya udah nyia-nyiain cewek sebaik Eunji.” Kembali terlintas kejadian beberapa hari lalu saat Eunji mengantarkan Sulli pulang entah dari mana, dan perilaku Eunji pada Sulli yang sangat perhatian. “Cemburu nggak jelas.” Lanjut Howon yang masih menertawai dirinya sendiri.
        “Sebenernya gue nggak tau masalah lo sama Eunji apa, kenapa lo cemburu, dan apa yang lo cemburuin. Baiknya sih lo ngomong langsung aja. Jangan sampe lo nyesel.”
        Howon tertunduk, menatap ujung sepatunya. “Tadi gue minta ketemu sama Eunji, tapi Eunjinya nggak mau. Apa dia udah segitu kecewanya kali ya sama gue.”
        “Nggak. Kasih dia waktu. Dia bahkan tetep mau bantu gue nganter baju lo waktu itu, padahal hubungan kalian nggak dalam kondisi bagus. Jangan nyerah, lo ajakin aja terus buat ketemu walau Eunji masih nggak mau. Biar seenggaknya dia liat kesungguhan elo.”
        Yoona berdiri perlahan. Tatapannya lurus ke depan. Ke arah jalan setapak yang ia lalui tadi. Ada seseorang berdiri di sana. Namun orang tersebut sudah berbalik badan setelah melihat Yoona Bersama Howon.
        “Nanti kita sambung lagi ya, gue ada urusan penting.”
        Saat Howon menoleh, Yoona sudah melangkah pergi dari sana. Gadis itu menyambar sepedanya untuk ia bawa pergi dari sana dan mengejar gadis tadi. Eunji.

***

        Gikwang menghentikan kegiatannya lari sore karena ponselnya berketar. Pemuda itu langsung memeriksanya. Sebuah pesan masuk dari Yonghwa. Saat sedang mengetikkan balasan untuk temannya itu, tanpa ia sadari ada seseorang yang menabraknya hingga membuat ponsel Gikwang terlepas dari genggamannya dan terlempar ke aspal jalanan. Sialnya, bertepatan dengan sebuah motor yang melaju. Ponsel Gikwang tidak selamat dari ban motor tersebut.
        “Maaf, maaf.” Gadis itu merapatkan kedua telapak tangannya sambil meminta maaf karena merasa bersalah.
        Gikwang masih diam menatap ponselnya yang hancur.
        “Gikwang?”
        Saat mendengar ada yang memanggil, Gikwangpun menoleh. Ia mendapati Yoona di sana—bersama sepeda tercintanya. “Yoon?” Gikwnag menoleh lagi ke arah berbeda. Ternyata gadis yang menabraknya adalah Eunji.
        “Bang, gue…”     
        “Eh, udah sih nggak apa-apa, hape mah masih bisa beli lagi.” Gikwang memotong ucapan Eunji, tentu gadis itu masih merasa bersalah. “Yang penting lo nggak apa-apa, kan?”
        Eunji hanya mengangguk menjawab pertanyaan Gikwang. Melihat Gikwang begitu perhatian dengan Eunji, membuat Yoona berusaha mengalihkan pandangannya ke arah lain sambil memainkan sepedanya—mendorong maju dan mundur dengan pelan.
Menyadari suasanya yang canggung, Gikwang berujar, “gimana kalau kita ngobrol sebentar sambil makan es krim?” tanyanya diiringi dengan senyuman sambil menunjuk ke arah belakangnya, tempat sebuah kedai es krim berada. Gikwang melangkah lebih dulu untuk menyeberang, namun tetap sesekali menoleh ke belakang untuk memastikan keberadaan dua gadis tadi masih mengikutinya.
        Saat tiba di sana, Gikwang langsung menuju konter untuk memesan. Dua gadis tadi berinisiatif untuk mencari meja kosong. Membiarkan Gikwang memilihkan pesanan untuk mereka. Tidak terlalu lama sampai Gikwang ikut bergabung.
        “Dia Cuma ngaku kok dia cemburu nggak jelas.” Yoona menoleh dan menghentikan sementara obrolannya dengan Eunji.
        Gikwang meletakkan baki yang berisi tiga gelas es krim di tengah meja. “Kalian pilih gih mau yang mana, gue sisanya,” kata Gikwang lalu menghentikan pandangan pada Yoona. “Yoon, gue boleh pinjem hape lo? Mau ngabarin Yonghwa, tapi melalui Myungsoo aja. Lo punya nomor Myungsoo kan pasti?”
Yoona mengangguk sambil merogok saku jinsnya dan menyerahkan ponsel pada Gikwang yang langsung diterima pemuda itu. Setelah Yoona dan Eunji mengambil gelas pilihan mereka, Gikwang juga mengambil miliknya namun pemuda itu tidak bergabung duduk di sana.
        “Gue duduk di sana dulu, ya.” Gikwang menunjuk salah satu meja kosong tidak jauh dari tempat mereka berada. “Takutnya obrolan kalian penting, nanti kalau udah selesai panggil gue lagi aja.”
        “Eh, jangan.” Suara Eunji membuat Gikwang membatalkan niat untuk balik badan. “Gue udah selesai kok.”
        Yoona menatap Eunji dengan ekspresi penuh tanya. Eunji hanya mengangguk meyakinkan Yoona. Sementara Gikwang masih berdiri menunggu keputusan berikutnya dari dua gadis itu.
        “Gue paham maksud lo. Maaf ya kalau gue juga sempet cemburu sama kalian. Nanti gue juga bakal hubungin Hoya setelah ini,” jelas Eunji yang kemudian menoleh ke tempat Gikwang yang baru saja duduk. “Bang, nanti hape lo gue ganti ya?”
        “Eh, jangan sih.” Gikwang berujar buru-buru. “Gue ada hape cadangan kok. Udahlah, jangan terlalu ambil pusing.”
        “Yaudah kalau gitu, nanti es krimnya gue yang bayar ya.”
        Gikwang tersenyum kikuk sambil mengaruk keningnya dengan jari. “Yaudah kalau yang itu nggak apa-apa deh.”

***

        “Gue duluan ya. Daaah.” Eunji melambaikan tangan sebelum menyeberangi jalan. Meninggalkan Yoona Bersama Gikwang yang masih berdiri di depan café es krim tadi.
        Gikwang berbalik. Dan saat Yoona juga ikut berbalik, gadis itu melihat Gikwang mengeluarkan sepeda Yoona dari tempat parkir. Gikwang bahkan sampai menaiki sepeda itu.
        “Mau jalan dulu sama gue, nggak?”
        “Ke mana?” Yoona balik bertanya. Pertanda ia menyetujui ajakan Gikwang.
        Gikwang berpikir sejenak. “Lapangan tempat gue liat lo pertama kali?”
        Kali ini Yoona tidak langsung merespon ucapan Gikwang. Lapangan itu juga tempat Yoona pertama kali bertemu Gikwang. Dan hal itu mengingatkan Yoona tentang sebuah fakta bahwa Gikwang adalah seorang pemain sepakbola.
        “Gue nggak bakal main kok, Yoon.”
Yoona menatap Gikwang, heran. Ternyata Gikwang masih ingat tentang ketidaknyamannya dengan ‘sepakbola’, meski tidak setiap saat Yoona membenci hal itu. Hanya saja posisinya hanya berselang hitungan jam dari saat Yoona berdebat kecil dengan Doojoon. Karena alasan Doojoon kembali ke Surabaya adalah tentang untuk sepakbola.
“Cuma ada yang pengen gue obrolin sama elu,” lanjut Gikwang karena Yoona belum juga meresponnya lagi.
        “Yaudah ayo, Kwang. Gue juga nggak ada acara abis ini,” ujar Yoona akhirnya sambil mendekat ke tempat Gikwang. Bersiap duduk di besi depan sepedanya.
        Gikwang tersenyum sambil membiarkan Yoona duduk di depannya. “Tapi lo ikut ke rumah gue dulu aja ya. Gue mau mandi sebentar. Soalnya kan hape gue rusak, ribet nggak bisa ngehubungin kalo lo mesti pulang dulu.”
        Mereka akhirnya menuju apartment Gikwang dengan sepeda milik Yoona.

***

Minggu, 15 Februari 2015

PERFECT LOVE (chapter 19)


Author              : Annisa Pamungkas (@nniissaa11)
Main Cast          : B.A.P (Yongguk, Himchan, Daehyun, Youngjae,
  Jongup, Zelo [Junhong])
Support cast     :
·        A-Pink (Chorong, Bomi, Naeun, Eun Ji, Namjoo, Hayoung)
·        G.Na (Soloist)
·        B2ST (Doojoon)
·        BtoB
Genre               : romance, family, brothership
Length              : chapter

***

        Setelah mengetahui punya banyak kakak laki-laki, sifat manja Zelo mendadak muncul. Ia memaksa dan terkesan sedikit merengek agar Jongup untuk ikut menginap di rumahnya. Pulang ke kediaman Doojoon bersama pasangan pengantin baru itu juga, Youngjae dan Eun Ji. Zelo benar-benar sudah melupakan masalah yang pernah terjadi antara dirinya dan Jongup. Bahkan seperti tidak pernah ingat kalau kedekatan Jongup dengan Hayoung membuat pemuda tinggi itu menjadi resah. Tidak lupa Zelo bahkan memaksa Ilhoon untuk ikut bersamanya juga.
        Eun Ji menggamit lengan Youngjae saat menaiki anak tangga di rumah mewah tempat tinggal Youngjae selama ini. Sementara Zelo dan Jongup dengan semangat bersedia memegangi bagian belakang gaun pernihakan Eun Ji yang menjuntai panjang. Lalu Ilhoon membantu membawakan tas besar berisi barang-barang milik Eun Ji.
        Sesampainya di ambang pintu kamar Youngjae, Ilhoon menyodorkan tas milik Eun Ji pada kakak iparnya itu. Tapi mereka belum juga membubarkan diri. Seakan menggoda pasangan pengantin baru itu dengan tatapan jahil mereka. Youngjae sudah tidak bisa menahan diri lagi. Sementara Eun Ji benar-benar merasa tidak nyaman dengan cara ketiga pemuda itu menatapnya.
        “Pada nggak pengen istirahat?”
        Zelo, Jongup, dan Ilhoon tampak menahan tawa mereka. Entah apa isi kepala mereka saat itu yang kelihatannya hampir serupa. Zelo dan Jongup bahkan saling sikut. Kemudian tiba-tiba Zelo mendekatin Eun Ji lalu memeluk gadis itu.
        “Selamat istirahat ya kakak ipar. Dan selamat datang juga dikeluarga kami.”
        Eun Ji hanya diam tanpa bisa membalas perkataan Zelo. Begitu juga dengan Youngjae yang hanya bisa terperangah dengan perlakuan Zelo pada Eun Ji. Cukup di luar dugaan mengingat Zelo termasuk anak yang cuek. Selesai Zelo, kini giliran Jongup melakukan hal yang sama. Dan tersisa Ilhoon. Youngjae menatap adik laki-laki Eun Ji yang ikut ke sana itu seakan bertanya apakah Ilhoon akan melakukan hal serupa pada Eun Ji?
        Mengerti maksud tatapan Youngjae, Ilhoon terkekeh kecil kemudian ia justru memeluk Youngjae. “Aku udah sering meluk Kak Eun Ji,” ledeknya.
        Setelah tiga ‘pengganggu’ itu pergi, Youngjae mengajak Eun Ji masuk ke dalam kamarnya. Menggenggam lembut tangan gadis yang sudah resmi menjadi istrinya itu. Eun Ji terlihat memaksa berhenti karena ia melihat ada sesuatu yang berbeda di kamar itu dari saat terakhir kali ia ke sana. Ada seperangkat meja rias dengan kaca besarnya di salah satu sudut kamar. Dan memang tampak masih baru.
        “Hadiah dari Om Doojoon. Tapi buat lo, bukan buat gue.”
        Eun Ji terkekeh melihat raut wajah kesal dari Youngjae. Tapi tentu Youngjae tidak serius bersikap seperti itu karena kemudian ia ikut tertawa.

***

        Beberapa menit lalu, Zelo baru saja dari dapur untuk mengambil segelas air. Lalu saat kembali ke lantai atas, ia justru melihat Ilhoon berdiri di depan kamar Youngjae. Padahal saat itu masih tengah malam. Tapi bisa saja Ilhoon sedang membutuhkan sesuatu.
        “Ngapain, Mas?” tegur Zelo.
        Ilhoon menoleh cepat sambil meletakkan jari telunjuknya dibibir dan berdesis pelan. “Kakak gue diapain ya sama Mas Youngjae? Kok kayak kesakitan gitu masa,” ujar Ilhoon sepelan mungkin agar tidak menimbulkan kecurigaan. Terutama untuk dua orang yang berada di dalam kamar tersebut.
        Zelo hanya diam karena memang ia tidak bisa menjawab kebingungan Ilhoon. Namun cowok itu justru masih bertahan di sana sambil menenggak minumannya.
        “Akh, Youngjae! Bisa pelan sedikit kan? Kasar banget sih!”
        Tanpa sadar Zelo menyemburkan kembali ke dalam gelas air yang belum sempat ia telan setelah mendengar teriakan Eun Ji tadi.
        “Iya, maaf. Soalnya ini susah banget ditariknya,” lanjut terdengar suara Youngjae.
        “Balik ke kamar,” ajak Zelo. Ia bahkan sampai menarik kaos yang dikenakan Ilhoon dengan sedikit kasar.

***
       
        Eun Ji duduk di depan meja rias. Menatap pantulan dirinya dengan pandangan kosong. Sementara Youngjae sudah melesat ke kamar mandi. Tidak lama kemudian, Youngjae memunculkan diri dan sudah berganti pakaian dengan piyama tidurnya. Tapi Eun Ji masih bertahan seperti tadi dengan riasan lengkap.
        “Lo mau tidur pakai baju begitu?” tegur Youngjae sambil duduk di tepi ranjangnya. Sementara salah satu tangannya mengusap rambutnya yang basah menggunakan handuk.
        “Iya,” ujar Eun Ji pendek. Ia lalu mulai melepas satu persatu perhiasan yang menempel ditubuhnya. Namun karena banyaknya aksesoris yang memenuhi kepalanya, Eun Ji sedikit bingung untuk melepasnya.
        Youngjae berdiri dan berinisiatif untuk membantu Eun Ji karena ia lihat gadis itu seperti berada dalam masalah. “Sini gue bantu.”
                “Akh, Youngjae! Bisa pelan sedikit, kan? Kasar banget, sih!” pekik Eun Ji saat Youngjae membantunya melepas aksesoris yang menempel di kepalanya.
“Iya, maaf. Soalnya ini susah banget ditariknya.” Youngjae menatap Eun Ji melalui cermin, cukup merasa bersalah.
        Setelah beberapa menit, mereka akhirnya selesai. Eun Ji sampai memijat-mijat kepalanya yang sudah terasa sangat berat. Tanpa sepengetahuan Eun Ji, Youngjae tengah memperhatikannya dalam-dalam. Merekam wajah cantik Eun Ji yang biasanya tampil tanpa make-up. Youngjae mengembalikan kesadarannya karena dirasa Eun Ji tampak berdiri.
        “Lo mandi aja dulu. Nanti gue bawain teh hangat,” ujar Youngjae yang tanpa menunggu persetujuan Eun Ji sudah lebih dulu meninggalkan kamar. Namun Youngjae sempat bertahan sesaat sambil menyandarkan punggungnya pada daun pintu sebelum akhirnya ia melangkah pergi. Sambil berjalan menuju dapur, pikiran Youngjae melayang pada kejadian beberapa saat lalu. Tepat seusai resepsi pernikahannya dengan Eun Ji. Ia menemui sahabat kecilnya, Gikwang.

Flashback…
        Youngjae menemui Gikwang di sebuah koridor yang sepi. Pemuda itu sudah menunggunya di sana. Youngjae sedikit mempercepat langkahnya.
        “Jadi, calon istri yang lo bilang waktu itu adalah Eun Ji? Padahal lo tahu kalau Eun Ji itu cewek gue,” desis Gikwang saat Youngjae sudah benar-benar berhenti tepat di hadapannya.
        “Sorry, tapi sebenernya gue nggak pernah tahu pasti wajah cewek lo itu. Dan lagi pula, itu udah lama sebelum gue denger lo ninggalin dia.” Dalam hati sebenarnya Youngjae menyesali ucapannya yang bisa saja membuat pertemanan mereka justru menjadi hancur.
        “Lepasin Eun Ji.”
        Youngjae melebarkan matanya mendengar ucapan Gikwang. “Lo terlambat, Kwang.”
        Gikwang menunduk sesaat untuk menghela napas. “Bukan untuk gue. Tapi untuk kebaikan lo.”
        “Kebaikan apa?”
        “Gue nggak mau lo nerima kekejaman Minhyuk.”
        “Oh,” Youngjae justru berujar enteng.
        Gikwang menoleh cepat. Berusaha memberi peringatan untuk Youngjae. “Lo nggak tahu siapa itu Minhyuk. Dia seseorang yang cukup kejam dan sangat mencintai Eun Ji. Dia bisa berbuat apa saja untuk mendapatkan Eun Ji kembali.”
        Youngjae menatap Gikwang dengan santainya. “Apa itu juga alasan lo ninggalin Eun Ji? Hanya karena takut menghadapi Minhyuk?”
        Gikwang mengerjap tak percaya. Ucapan Youngjae sangat tepat. Padahal ia sama sekali tidak pernah bercerita tentang masalah tersebut. “Jae, lo…”
        “Gue bahkan udah pernah dihajar oleh Minhyuk sampai masuk rumah sakit. Dan bonus mobil gue dibawa pergi sama Minhyuk juga.” Youngjae menatap Gikwang. Menunggu reaksi pemuda itu yang ternyata hanya bisa diam. “Gue udah tahu cerita antara Eun Ji dan Minhyuk. Dan itu justru bikin gue dan Eun Ji berada di posisi seperti sekarang ini.”
        Gikwang masih diam tanpa bisa membalas ucapan Youngjae.
        “Tapi gue bersyukur nggak pernah tahu siapa cewek lo dulu.”
        Gikwang melirik ragu. Perkataan Youngjae cukup menyakiti hatinya.
        Youngjae tersenyum penuh arti untuk membalas tatapan Gikwang. “Kalau gue tahu Eun Ji itu cewek lo, mungkin gue nggak akan bisa sedeket ini sama Eun Ji. Gue menghargai perasaan lo. Dan akhirnya justru lo yang jadi korban dari Minhyuk. Seperti lo mengkhawatirkan gue, gue juga pasti merasa hal yang sama. Bahkan mungkin dua kali lipat akan lebih ngerasa bersalah.”
        Gikwang semakin bungkam. Youngjae merangkul pemuda itu. Perasaannya juga bercampur aduk sekarang ini.
        “Mungkin terdengar klasik, tapi wajah lo itu asset berharga buat hidup lo. Karena lo seorang model. Cukup gue aja yang hampir mati dihajar sama Minhyuk,” ujar Youngjae. Secara tidak langsung ia juga menghibur Gikwang.
        “Tapi lo baik-baik aja kan waktu itu?”
        Youngjae mengangguk cepat. “Sangat merasa baik karena yang nolongin gue waktu itu Eun Ji dan Mas Himchan.”
        Gikwang sudah ingin membuka mulut, tapi Youngjae sudah lebih dulu membuat Gikwang membatalkan niatnya.
        “Jangan bahas apa-apa lagi hari ini. Cuma bikin gue semakin ngerasa bersalah sama lo.”
        “Lo nggak usah khawatirin hal itu. Niat gue balik emang buat memperbaiki hubungan gue sama Eun Ji. Karena siapa tahu Minhyuk udah nyerah buat ngedapetin Eun Ji. Tapi nyatanya, Eun Ji justru jatuh ke tangan orang yang jauh lebih baik dari gue.”
        Youngjae tertawa keras membuat Gikwang menatapnya heran. “Eun Ji adalah orang pertama yang akan ngehajar gue kalau sampai hubungan Naeun dan Daehyun rusak. Eun Ji sama sekali nggak berpikir gue cowok baik-baik, inget itu. Hubungan gue dan Eun Ji jauh dari kata ‘baik’.”
        “Tapi…”
        “Tapi gue akan berusaha untuk mencintai Eun Ji,” kata Youngjae. Terdengar jauh lebih serius. Youngjae kemudian bercerita dengan singkat saat-saat yang dilalui dirinya dan Eun Ji sebelum hari ini tiba. Mereka memang baru bertemu karena selama ini Gikwang berada di luar kota meski pertemanan keduanya masih bertahan sampai sekarang.
Flashback end…

        Youngjae kembali ke kamar dengan membawa 2 cangkir teh hangat. Gaun Eun Ji tampak tergeletak begitu saja di atas kursi. Gadis itu juga masih berada di dalam kamar mandi saat Youngjae meletakkan cangkir di atas meja. Pemuda itu memilih bersandar di kepala tempat tidur sambil memeriksa ponselnya.
        Terdengar pintu kamar mandi terbuka. Namun tidak ada yang terjadi setelah itu. Youngjae akhirnya mendongak karena penasaran dan hanya mendapati kepala Eun Ji yang menyembul ke luar dari dalam kamar mandi.
        “Lo ngapain masih di situ? Nggak mau ke luar?”
        Eun Ji menggigit bibirnya. “Gue cuma pakai handuk, Jae. Bisa tolong ke luar dulu nggak? Gue mau ganti baju. Sebentar aja. Janji nggak bakal lama.”
        Youngjae nyaris terkekeh melihat sikap pemalu Eun Ji yang baru saja ditunjukkan gadis itu. Tentu karena selama ini Eun Ji hanya menunjukkan sikap galaknya pada Youngjae. Tapi Youngjae menahan diri agar tawanya tidak pecah. Ia memilih mengembalikan ponselnya ke atas meja, kemudian merebahkan badan sambil menarik selimut hingga menutupi sebagian tubuhnya.
        “Gue capek, mau istirahat.”
        Eun Ji menahan rasa kesalnya untuk saat ini. Dengan terpaksa ia melangkahkan kakinya ke luar setelah beberapa saat. Mendekap handuk yang hanya menutupi bagian dadanya hingga paha. Sambil terus menatap waspada ke arah Youngjae, Eun Ji berjingkat menuju pakaian yang sudah ia siapkan di atas tempat tidur. Tepat di dekat kaki Youngjae yang tertutup selimut.
        Tentu Youngjae belum sepenuhnya tertidur. Ia mengintip dari balik guling yang didekapnya. Tepat saat Eun Ji kembali berlari kecil menuju kamar mandi setelah berhasil mengambil pakaiannya di tempat tidur. Melihat kaki mulus Eun Ji, membuat Youngjae meneguk ludah. Buru-buru pemuda itu menenggelamkan wajahnya ke balik selimut.
        “Sial…! Kenapa tadi gue nggak nurutin permintaan Eun Ji aja buat ke luar kamar!” Youngjae berdesis kesal.

***

Empat hari berlalu setelah hari pernikahan Youngjae dan Eun Ji. Mereka sementara masih tinggal di rumah keluarga Doojoon. Dan hari itu Youngjae tampak sudah siap dengan sebuah koper besar miliknya. Ia akan bertolak ke luar kota karena memang sudah mulai belajar mengurus perusahaan keluarga Doojoon. Atau yang sebenarnya memang miliknya juga sebagai salah satu anak kandung Hyunseung.
        Youngjae ke luar kamar sambil menarik koper besarnya. Ia juga belum melihat Eun Ji pagi ini. Dan ternyata gadis itu justru muncul dari kamar Zelo yang tidak terlalu jauh dari kamar Youngjae berada.
        “Suami lo tuh gue atau Zelo, sih? Lo abis ngapain di sana?” Youngjae menegur dengan nada cukup tinggi. Sukses membuat Eun Ji sedikit terkejut mendengar suaranya.
        “Adik lo sakit. Apa salah kalau gue juga perhatian ke Zelo?” Eun Ji membalas ucapan Youngjae dengan nada lebih rendah. Membuat Youngjae kini balik merasa bersalah.
        “Maaf,” ujar Youngjae mengalah. “Lo nggak mau nganter gue ke bandara?”
        “Nggak. Lagian, bukannya lo udah biasa sendiri. Gue mau di rumah aja. Kasian Zelo nggak ada yang nemenin. Om Doojoon juga nggak ada tanda-tanda bakal pulang. Lagi pula, gue belum ngapa-ngapain juga.”
        Youngjae menghela napas, pasrah. Ia sudah ingin berangkat, dan tidak mungkin memaksa Eun Ji untuk mengantarnya ke bandara. Eun Ji bahkan masih memakai piyama tidurnya.
        “Kalau nganter gue sampai depan rumah, nggak nolak ‘kan?” Youngjae tetap ingin Eun Ji mengantarnya. Meski hanya sampai depan rumah. Pagi itu rasanya ia ingin memanjakan diri pada Eun Ji sebelum meninggalkan istrinya tersebut.
        Meski sebenarnya masih saling bersikap dingin, Eun Ji dan Youngjae sepakat untuk sedikit berbaikan. Eun Ji tetap mengabulkan permintaan Youngjae. Tapi saat Youngjae berniat merangkulnya, gadis itu sedikit menolak. Tentu Youngjae tidak ingin mengalah. Ia bahkan sampai terkesan memaksa Eun Ji.
        “Kalau lo nurut, gue nggak bakal kasar.” Youngjae membalas tatapan tajam Eun Ji atas perbuatannya.
        “Gue cuma nggak enak aja. Soalnya gue belom mandi.”
        Youngjae terkekeh mendengar jawaban Eun Ji yang menurutnya hanya sebuah alasan klasik. “Oh, ya? Apa menurut lo itu masalah buat gue?”
        Eun Ji menoleh cepat untuk memastikan maksud ucapan Youngjae. Tapi yang didapat jauh lebih besar dari sekedar jawaban. Youngjae sudah lebih dulu mendaratkan bibirnya sekilas pada bibir Eun Ji. Dan setelah itu, Youngjae dengan jelas menunjukkan tatapan penuh kemenangan pada Eun Ji sambil mengajak Eun Ji turun ke lantai bawah.

***

        Eun Ji melenggang riang, menaiki escalator menuju tempat Peniel dan teman-temannya menunggu. Ia sedang berada di bandara sekarang. Eun Ji juga akan melakukan perjalanan ke luar kota. Menghadiri bahkan ikut terlibat dalam sebuah event besar bersama rekan kerjanya di kantor Peniel.
        “Gue belum terlambat, kan?” seru Eun Ji saat sudah berdiri di depan Namjoo dan Peniel.
        Namjoo dan Peniel sontak berdiri bersamaan. Menatap penuh minat kehadiran Eun Ji di sana. Peniel bahkan sampai membuka kacamata hitamnya.
        “Gue kira lo nggak bakal dateng? Youngjae tahu lo pergi?”
        Mendengar pertanyaan Peniel, membuat Eun Ji diam dan hanya bisa menggigit bibirnya. “Youngjae bahkan udah pergi dari tadi pagi. Bisa sebulan dia baru balik.”
        “Akh, nggak seru dong? Kenapa nggak minta ijin langsung aja, sih?” goda Peniel.
        “Udah, deh. Gue masih belum yakin Youngjae bakalan nggak rese ke gue. Bisa-bisa dia ngadu ke bokap gue.” Eun Ji berujar malas. Namun Peniel hanya tersenyum.
Mereka kemudian duduk sambil berbincang seru tentang rencana mereka. Termasuk juga sempat membahas sedikit tentang ketidak hadiran Peniel saat pernikahan Eun Ji dan Youngjae. Cukup melupakan kehadiran Namjoo yang kini sibuk dengan pikiran-pikirannya tentang Youngjae.
        “Apa lo bisa bahagia dengan Eun Ji yang bahkan nggak sedikitpun memiliki rasa untuk lo?” Namjoo mengkhawatirkan Youngjae. Pemuda yang masih memiliki tempat tersendiri dihatinya.

***

        Daehyun dan G.Na mendapat tugas malam dan baru akan pulang dari rumah sakit siang nanti. Sementara Yongguk, Jongup serta Himchan juga sudah berangkat sejak pagi. Memulai aktifitas mereka hari ini. Meninggalkan Chorong seorang diri di sana. Tapi itu cukup menyenangkan untuk Chorong. Wanita itu sangat menikmati keberadaannya di tengah-tengah keluarga Yongguk yang hangat. Terlebih G.Na juga sudah mulai membuka diri semenjak kejadian di hari pernihakan Youngjae waktu itu.
        Seusai membersihkan semua peralatan makan yang digunakan untuk sarapan, kegiatan Chorong berikutnya hanya menonton televisi. Ia memang dilarang melakukan pekerjaan berat. Chorong juga masih dalam kondisi cuti bekerja hingga akhir pekan ini. Chorong sempat ke dapur untuk mengambil segelas air. Tepat beberapa saat kemudian terdengar suara pintu terbuka dan bunyi ponsel miliknya.
Chorong menempelkan ponselnya ke telinga, sementara tangan yang lainnya masih menggenggam gelas. Ternyata Himchan juga sudah pulang. Padahal waktu masih menunjukkan pukul 11 siang. Mereka hanya saling sapa melalui tatapan mata karena Himchan berniat langsung menuju kamarnya. Namun saat mendengar suara pecahan kaca, Himchan membatalkan niat untuk masuk ke dalam kamar.
        Gelas dalam genggaman tangan Chorong terlepas begitu saja hingga pecah di atas lantai. Buru-buru Himchan melesat ke tempat Chorong berada. Wanita itu sudah menangis, tepat saat Himchan menangkap tubuhnya yang sedikit sempoyongan. Himchan membimbing Chorong untuk duduk di sofa. Setelah itu ia merebut ponsel Chorong yang mencurigakan. Himchan tertegun sesaat saat mendengar seseorang bicara dari ponsel Chorong.
        Himchan berusaha mengimbangi berat tubuhnya agar tetap berdiri tegap. Tangannya yang memegang ponsel Chorong juga terasa lemas. Kemudian ia melirik Chorong karena merasakan tangannya digenggam seseorang.
        “Him, kita harus segera ke… akh!” Tiba-tiba Chorong memegangi perutnya yang terasa sakit.
        “Chorong!” Himchan menatapnya panik. Sambil memegangi pundak Chorong. “Darah…” gumam Himchan saat matanya mendapati noda darah mengalir di kaki Chorong yang hanya mengenakan dress selutut. Tanpa pikir panjang, Himchan mengangkat tubuh Chorong dan membawanya ke luar.
        “Bomi…!” seru Himchan meneriaki nama Bomi saat cewek itu baru saja memasuki rumahnya.
        “Mba Chorong kenapa, Mas?” tanya Bomi sambil mendekat.
        “Gue mau bawa Chorong ke rumah sakit.”
        “Pakai mobil gue aja.”
Bomi berlari kembali menuju rumahnya. Membukakan pintu mobil untuk Chorong. Himchan kemudian membuka pintu kemudi. Namun sesaat ia menatap Bomi.
        “Bisa minta tolong? Gue belom sempet ngunci rumah.”
        “Oke, tapi gue juga ikut ke rumah sakit.” Bomi segera melesat ke rumah Himchan. Melakukan permintaan pemuda itu yang tadi memang terburu-buru ke luar rumah.

***

        Bomi masih menemani Himchan di ruang tunggu rumah sakit sementara Chorong sedang mendapatkan perawatan. Namun ia tidak berani bertanya apa-apa tentang apa yang terjadi pada Chorong. Bomi hanya menunggu dengan resah kehadiran Daehyun di sana.
        “Mas, Jongup belum tahu kan?”
        Himchan dan Bomi menoleh bersamaan. Daehyun juga sudah duduk di samping Himchan masih lengkap dengan seragam dokternya.
        “Gue nggak ngasih tahu Jongup, kok. Dia juga lagi ke rumah Zelo. Zelo sakit,” jelas Himchan. “Oiya, gimana Mas Yongguk?”
        “Tadi Mas Yongguk keserempet motor gitu. Tapi udah nggak-papa kok. Cuma luka-luka aja. Nanti bisa langsung di ajak pulang sekalian dan…” Daehyun melebarkan mata saat baru menyadari sesuatu. “Mba Chorong mana?”
        Belum sempat ada yang menjawab, pintu tempat Chorong mendapat perawatan terbuka. Himchan, Daehyun dan Bomi langsung berdiri dan menghampiri seorang dokter yang menangani Chorong.
        “Siapa suami dari nyonya Chorong?” dokter itu menatap Daehyun dan Himchan bergantian.
        “Saya, dok.”
        Mereka menoleh cepat ke arah sumber suara. Tampak Yongguk sudah berdiri di sana dengan kondisi lengan kirinya yang dibalut perban.
        “Mas Yongguk?” Himchan, Bomi serta Daehyun berujar hampir bersamaan.
        “Maaf, istri anda mengalami keguguran. Nampaknya ada sesuatu yang dipikirkannya.”
        Mendengar jawaban dari dokter tersebut, Yongguk melempar tatapan menyelidik pada 2 adiknya, terutama pada Daehyun. “Siapa yang ngasih tahu Chorong kalau gue kecelakaan?”
        Himchan sendiri juga ikut menatap Daehyun.
        “Petugas UGD,” Daehyun berujar sepelan mungkin.
        Yongguk dengan cepat bergerak memasuki ruangan. Tidak ingin melakukan perdebatan lebih dulu dengan Daehyun karena pemuda itu tentu tidak tahu apa-apa.
“Untuk kita punya keponakan tertunda dong?” Daehyun terdengar mengeluh. “Akh, tapi seenggaknya masih ada Youngjae kan ya?”
        Himchan mentap Daehyun dengan pandangan aneh. “Jelas-jelas Eun Ji nggak hamil,” desisnya seolah mengingatkan.
        Daehyun terlihat menjentikkan jarinya. “Mas Himchan bener.” Ia menatap Bomi dan Himchan bergantiang. Tatapannya sangat penuh minat. Mata Daehyun kemudian terlihat menerawang. Seperti ada sesuatu yang ia pikirkan. Dan saat melihat dua orang di hadapannya, mendadak isi kepala Daehyun berubah. Ada sesuatu yang ia inginkan dari dua orang itu. “Kalian jangan lama-lama ya nyusul Youngjae nikah.”
        “Apa?” seru Bomi. Tentu ia memprotes dengan tegas. Meski ia memang masih menyukai Himchan, tapi bukan saatnya membahas pernikahan. Hubungan antara dirinya dan guru tampan itu saja bahkan belum jelas sampai sekarang.
        Himchan hanya diam menanggapi ucapan jahil Daehyun. Tapi tentu saja itu hanya usaha menutupi sesuatu yang ia pikirkan. “Ayo pulang,” putus Himchan pada Bomi. Ia tidak ingin terjebak di sana dengan pikiran Daehyun yang mulai serupa dengan Jongup.

***

Yongguk menutup pintu di belakangnya. Tidak ingin 2 adiknya yang masih di luar mengganggu. Di sana ia mendapati Chorong dalam keadaan sadar. Wanita itu bahkan sampai tersenyum melihat kedatangan Yongguk.
        “Kamu baik-baik aja?”
        Yongguk mendesah berat sambil menghempaskan badannya ke kursi. “Harusnya aku yang nanya begitu.” Tangan Yongguk perlahan mengarah pada perut Chorong yang masih terlihat rata. “Kamu ngelakuin apa di rumah sampai bisa bikin kamu keguguran gitu?” tanyanya selembut mungkin. Tidak ingin menyakiti Chorong dalam bentuk apapun.
        “Aku memang wanita keras kepala. Tapi aku bukan wanita pembangkang. Terutama setelah kita nikah. Jadi, tolong jangan salahin aku atas kejadian ini. Karena setidaknya, sudah tidak ada nama ‘Changsub’ lagi yang tersisa di antara kita.”
        “Apa kamu nggak sedih karena…”
        “Tentu aku sedih. Tapi sumpah, Yongguk, aku nggak kelakuin hal jahat pada bayi ini.” Chorong menatap Yongguk, sementara tangannya ia letakkan di atas tanggan Yongguk yang masih memegangi perutnya. “Sebelumnya aku baik-baik aja. Sampai.. ada seseorang yang telepon aku dan bilang kalau kamu…”
        “Maaf.” Yongguk memeluk tubuh Chorong. “Maaf karena udah bikin kamu khawatir sampai mengganggu janin kamu.”
        “Ketakutan aku untuk kehilangan kamu jauh lebih besar.”
        Yongguk perlahan melepaskan pelukannya. Tersenyum sambil mengusap pipi Chorong yang sudah basah. “Aku mencintaimu,” ujarnya sesaat sebelum mendaratnya bibirnya di atas bibir Chorong.

***

        Eun Ji duduk bergabung di meja makan bersama Peniel, Namjoo dan beberapa rekan kerjanya yang lain. Eun Ji memilih kursi di antara Namjoo dan Peniel.
        “Gue denger, kita bakal ketemu sama CEO acara ini besok siang?” tanya seorang pemuda berkaca mata bernama Dongwoon. Ia duduk di seberang Peniel.
        “Iya,” ujar Peniel pendek. Ia sendiri tampak memegang sebuah buku agenda. Membolak-balikkan isinya dengan penuh minat sambil menelusuri setiap sudut halaman tanpa ada yang terlewatkan. “Setelah makan malam, kita rapat.” Peniel lalu menoleh ke tempat Eun Ji berada yang mulai menikmati makanannya. “Lo udah bikin daftar yang gue minta, kan?”
        Eun Ji mengangguk cepat. “Model tambahan yang kita butuhin itu udah ada?”
        “Catetannya gue taruh di halaman belakang,” kata pemuda lain yang duduk di samping Dongwoon.
        “Oh.” Peniel langsung membuka halaman yang dimaksud oleh Yoseob tadi. “Iya, ada 3 orang. Lee Jonghyun, Ahn Jaehyo dan…” Peniel tidak langsung meneruskan ucapannya karena nama tersebut. ‘Lee Gikwang’. “Kayaknya waktu kita nggak banyak. Kalian selesai makan malam kalian. 15 menit lagi kita ketemu di ruang rapat.” Peniel tampak berdiri.
        Namjoo, Yoseob dan Dongwoon kembali melanjutkan makan malam mereka. Namun tidak untuk Eun Ji. Ia menatap punggung Peniel yang sudah berjalan semakin menjauh. Seperti ada yang disembunyikan pemuda itu.

***

        “Kalian jangan tinggalin gue sendirian dong di sini,” rengek Zelo dengan suara paraunya. Ia juga masih tenggelam di balik selimut tebalnya.
        Daehyun dan Jongup saling melempar pandangan. Daehyun baru saja memeriksa kondisi Zelo. Dan sekarang, ia juga Jongup harus pulang. Meski tentu saja Yongguk atau mungkin Himchan tidak melarang mereka untuk lebih lama berada di rumah Zelo. Terutama Jongup. Tapi keduanya masih memiliki keingin pulang ke rumah mereka selama ini, bahkan rasanya jauh lebih besar.
        “Lo ikut kita pulang aja,” putus Jongup secara sepihak.
        Daehyun sontak menoleh cepat. Menatap Jongup seakan adiknya itu tidak bisa sembarangan memutuskan sesuatu. Terlebih dikondisi yang seperti sekarang ini. Namun Jongup membalas tatapan Daehyun dengan pandangan tenang. Pemuda itu sudah memiliki pemikiran sendiri.
        “Gue kan bisa tidur di sofa. Cuma buat semalam aja, kan?”
        Jongup sudah lebih dulu menepuk pelan lengan Daehyun untuk memastikan semuanya baik-baik saja. Ia lalu menyingkir dan berniat membawa beberapa helai pakaian untuk Zelo. Sementara Daehyun sendiri mampu mengawasi kegiatan Jongup.
        Sekitar hampir 1 jam, mereka akhirnya sampai di rumah G.Na. Tentu dengan membawa serta Zelo bersama mereka. Himchan yang tampak membukakan pintu karena mendengar seseorang datang, sukses dibuat tercengang melihat tubuh tinggi Zelo yang merangkul pundak Daehyun.
        “Ini darurat, Mas.”
        Himchan hanya mampu menyingkir tanpa berkomentar apa-apa. Membiarkan Daehyun dan Jongup membawa Zelo untuk duduk di sofa. Sesaat Himchan masih tertegun di tempatnya tanpa bergerak sedikitpun. Memperhatikan 3 adiknya dengan pikirannya yang cukup bercampur aduk. Zelo sakit, dan Jongup tampak begitu perhatian. Seperti bukan Jongup yang selama ini ia kenal. Jongup sempat menyelimuti Zelo dengan jaket tadi sebelum ia ke dalam. Sementara Daehyun, tentu karena profesinya yang sebagai seorang dokter.
        G.Na tampak memunculkan diri dari dalam kamarnya, bertepatan saat Jongup dan Daehyun melintas. Namun 2 pemuda itu tampak biasa saja. Seakan tidak menyadari keberadaan G.Na di sana.
        “Himchan, apa Yongguk mengabari sesuatu tentang Chorong?”
        Himchan tidak langsung menoleh. Fokusnya masih untuk Zelo. Seseorang yang selama ini ia anggap sebagai muridnya. Ternyata anak kandung dari Ibunya juga. Meski ayah mereka berbeda.
        Melihat Himchan mengabaikan pertanyaannya, tentu G.Na merasa sedih. Perlakuannya yang selama ini mengabaikan anak kandung, seperti sedang terbalaskan. Bahkan pelakunya adalah anak kandungnya sendiri.
        “Nanti aku temenin Jongup tidur di luar, deh. Nggak-papa kan kalau Zelo di kamar kita malam ini?”
        G.Na baru menyadari jika Himchan tidak sendirian di sana. Karena posisi Daehyun dan Zelo terhalang sebuah lemari besar sebagai pembatas ruangan. Dan saat mendengar Daehyun menyebut nama Zelo, sontak G.Na mendekat. Dengan jelas ia melihat wajah pucat Zelo yang duduk di sofa dengan mata terpejam erat.
        “Aku pergi beli obat buat Zelo dulu ya.” Jongup berpamitan sambil berlalu.
        “Nggak minta uang?” tanya Daehyun.
        Jongup menaikkan resleting jaketnya. “Masih punya kok, Mas.”
        “Zelo sakit? Apa dia akan menginap di sini juga?”
        Mendengar G.Na bersuara, Jongup hanya mampu melempar tatapan pada dua kakaknya. Seakan berusaha untuk saling bertukar pikiran. Kejadian saat di pernikahan Youngjae beberapa hari lalu seperti belum memberikan dampak apapun di keluarga itu.
        “Tapi kan nggak bagus tidur di luar. Zelo bisa di kamar ibu aja.”
        Ketiga pemuda itu tentu terkejut. Tatapan Himchan kini kembali jatuh pada sosok Zelo. Sementara Daehyun menatap khawatir pada Jongup yang berdiri di samping Himchan.
        “Sama Jongup juga kan, Bu?”
Himchan bertanya dengan penuh penekanan. Tidak sekalipun selama ini G.Na mengijinkan Jongup untuk tidur bersamanya. Ia bahkan teringat kejadian di rumah sakit saat Jongup mencium pipi G.Na yang sedang dirawat. Jongup sangat merindukan Ibu mereka. Namun Himchan, Daehyun, bahkan Yongguk sadar, Jongup tidak memiliki kekuatan sedikitpun untuk membenci G.Na. Tapi ia tidak yakin untuk beberapa detik kemudian saat G.Na memberikan jawaban yang mungkin akan menyakiti hati Jongup. Atau sebaliknya…
        “Tentu. Kita bisa tidur sama-sama.”
        Semuanya runtuh. Kekhawatiran Himchan bahkan sama sekali tidak terjadi. Dan ini yang sudah ia tunggu-tunggu selama belasan tahun. G.Na kini mulai membuka hatinya.
        “Jong, cepet pergi. Keburu malem,” tegur Daehyun.

***