Tampilkan postingan dengan label Luhan EXO. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Luhan EXO. Tampilkan semua postingan

Minggu, 28 Desember 2014

Masha And The K-Pop Idol

          Author tuh lagi iseng akut… selain suka k-pop, author juga suka kartun ‘Masha and the bear’… dan beginilah jadinya..

hahaha... demen aja nistain dua anak kecil ini...


Ini siapa yang saling menginspirasi siapa sebenernya?? ^_^


Sama-sama lagi tidur sih intinya.. hahaha


Jungkook kelakuan emang /siapa yang ngelakuin itu ke dede?/.. hahaha tapi kalah banyak kuncirannya sama Masha


Omaigat... /jauhkan cat pada anak-anak/ hahaha bisa kayak mereka ntar... *_*


yaishh... melet melet


Jungkook lagi ya... nggak mau kalah noh permennya.. -_-


dua anak kecil ini kalo ketemu bisa begitu kali ya... Jungkook pliss, jangan di dalem kotak juga ngumpetnya... -_-


kacamatanya Masha menginspirasi sepertinya... noh Yoseob, Daehyun sama V juga pake... /elaaaah,, banyak kali yang jual kacamata model begonoh... wkwkwkw/


hahaha... kali ini mereka maskeran bareng(?)


ishh... melet melet lagi sukaannya...


hahaha,,, ini lebih mirip lagi cara kuncirnya...


hoaamm... bobok yuk sama Masha and V... /sleep/


ayooo,, pilih di foto sama siapaaa?


yang ini salah fokus... ya kali di lagunya B.A.P, Masha yang jadi modelnya(?) /anggep aja temanya sama/


shy.. shy.. shy.. /maksa/ ^_^

 kelakuan emang si Masha.. Lah,, Jungkook yang minta maap(?) 


 jangan sekali-sekali ngajak J-Hope foto bareng... /nyakitin... hiks/ 


 eaaa... Kookie sombong... hahahaha


belagu amat lu Zel.. Zel.. wkwkwkw *_*

ini salah fokus lagi ya.. mentang-mentang Mashanya lagi nangis, terus diedit aja tuh ke lagunya MBlaq yang Cry... kekekeke

Jumat, 06 Juni 2014

BLUE FLAME BAND 2 (part 16)


Author              : Annisa Pamungkas (@nniissaa11)
Main Cast          :
·        Lee Joon/Changsun (Mblaq)
·        Lee Minhyuk (BtoB)
·        Jung Yong Hwa (CN Blue)  
Original cast     : Hye Ra
Support cast     :
·        Im Siwan (Ze:a)
·        Nichkhun Horvejkul (2PM)
·        Yoon Doojoon (Beast/B2ST)
·        Xi Luhan (Exo-M)
·        Choi Sulli (F(x))
·        Choi Minho (SHINee)
·        Im Yoona (SNSD)
·        Kim Himchan (B.A.P)
·        Cha Hackyeon ‘N’ (VIXX)
Genre               : romance
Length              : part

***

        Saat membuka mata, orang pertama yang dilihat oleh gadis itu adalah seorang leader band terkenal. Lee Joon. Mungkin untuk sebagian orang, hal tersebut hanyalah sebuah mimpi di siang bolong. Tapi tidak untuk seorang Hye Ra. Karena pemuda tersebut tak lain dan tak bukan adalah kekasihnya.
        “Ku pikir dia sudah tidak ingin menemuiku lagi.” Gadis itu tersenyum bisa melihat pemudanya dari dekat. Sesuatu yang sudah sangat lama ia rindukan. Wajah mereka bahkan hanya berjarak kurang dari setengah meter.
        Hye Ra mengulurkan tangannya. Ia ingin menyentuh wajah Joon yang tertidur sangat pulas. Namun hanya tersisa beberapa senti lagi, gadis itu langsung menarik tangannya. Ada yang janggal dari apa yang ia alami saat ini.
        “Tidak mungkin Joon bisa….” Ucapan Hye Ra menggantung begitu saja saat ia menyadari tempat ia berada sekarang. Kamarnya. Ia dan Joon berada dalam satu ranjang yang sama. Dan… “Joon! Bangun!” jerit Hye Ra sedikit histeris mendapati tangan Joon melingkari pinggangnya. Tanpa sadar gadis itu bahkan sampai mendorong tubuh Joon.
        “Huaaa!” teriak Joon sama nyaringnya karena ia nyaris saja terguling ke bawah dari atas tempat tidur.
        Hye Ra buru-buru membuat jarak antara dirinya dan Joon. Sementara Joon sendiri langsung panik mendapati dirinya berada di sana. Joon bahkan tidak sempat melakukan protes atas perlakuan Hye Ra padanya tadi.
        “Kenapa kau mendorongku?” tanya Joon dengan nada polos. Tentu saja ia mengetahui tempat tersebut adalah kamar kekasihnya, Hye Ra. Namun ia juga baru menyadari sesuatu. “Kenapa aku bisa ada di sini?” tanyanya karena merasa ada yang janggal.
        “Harusnya aku yang bertanya seperti itu padamu!” protes Hye Ra.
        “Seingatku, aku masih berada di mobil. Dan mobilkua juga masih terparkir di tempat kita bertemu tadi,” jelas Joon.
        “Aku juga masih berada di sana,” balas Hye Ra tak mau kalah.
        Ke duanya kini saling tatap. Ada hal yang tidak beres terjadi pada mereka hari ini.
        “Apa kau yang merencanakan hal ini hanya untuk bisa bertemu denganku?” tuduh Joon dengan tatapan menyelidik.
        Hye Ra menatap Joon, meremehkan. “Jangan terlalu percaya diri tuan leader yang terhormat. Aku tidak akan menggunakan cara kampungan seperti ini untukmu!” desis gadis itu tak mau kalah.

***

Flashback…
        Siwan dan Doojoon mengendap-endap menyusul sampai mobil Yong Hwa. Dan tanpa sepengetahuan Hye Ra juga Sulli, dua member ‘Blue Flame’ tersebut berhasil membuat Yong Hwa menghampiri mereka. Ketiganya bersembunyi di balik mobil lain yang juga terparkir di sana.
        “Hubungan Hye Ra dan Joon semakin tak sehat,” ujar Siwan memulai.
        “Tapi memang tak ada perjuangan juga dari Joon untuk mempertahankan Hye Ra.”
        Doojoon menggeleng tegas, menolak pernyataan Yong Hwa tadi. “Bukan itu! Tapi karena Joon memang tak ingin melawan Minhyuk. Tapi ia juga tak mau melepas Hye Ra begitu saja.”
        “Sebenarnya kurasa yang memegang kendali adalah Hye Ra. Semua keputusan ada padanya,” sahut Siwan menimpali pernyataan Doojoon.
        Yong Hwa menatap bergantian dua member ‘Blue Flame’ tersebut. “Bukankah katanya Joon tidak mau berbicara dengan Hye Ra?” serunya untuk memastikan kebenaran berita dari dua belah pihak.
        Siwan sontak mengangguk cepat. “Joon mungkin hanya kecewa. Dan ia juga ingin mengetahui sikap Hye Ra jika ia memperlakukannya seperti itu.” Siwan sempat memberi jeda sesaat dalam kalimatnya. “Mungkin saja Minhyuk akan beraksi dengan cepat. Dan di situ pula kita bisa melihat respon Hye Ra untuk Minhyuk.”
        Kali ini Yong Hwa tampak menggeleng. Bukan karena tidak sependapat dengan apa yang dikatakan Siwan. “Ke duanya saling mengandalkan. Hye Ra tidak akan bicara pada Minhyuk jika Joon belum memaafkannya.”
        “Apa kita harus merencanakan pertemuan mereka berdua?” usul Doojoon sedikit tidak sabar dengan akhir cerita leadernya itu.
        “Pasti akan sangat sulit,” kata Siwan.
        “Bukan rencana. Tapi paksaan,” ujar Yong Hwa yang sukses mengundang beribu pertanyaan dibenak Doojoon juga Siwan. Ia sempat mengawasi sekitar sebelum ada yang mencurigai mereka. “Memang cukup sedikit kasar, namun itu cara tercepat untuk merealisasikan rencana kalian.”
        Doojoon dan Siwan bersiap untuk mendengarkan dengan serius strategi yang mungkin telah disusun oleh Yong Hwa. Siwan juga sempat menangkap sosok Luhan yang tampak sedang menelepon seseorang.
        “Bagus! Luhan masih mengalihkan Joon!” pekik Siwan cukup bersemangat.
        “Aku akan pastikan obat yang Sulli berikan pada Hye Ra akan membuatnya cukup tidur,” jelas Yong Hwa akhirnya. “Dan lakukan hal yang sama pada Joon. Aku akan mengambilkannya di bagasi,” lanjutnya kemudian.
        Lalu Yong Hwa tampak menegakkan badan dan berusaha bersikap senormal mungkin. Setelah itu, ia melangkah menuju mobilnya dan membuka bagasi belakang mobil sedannya. Tentu berusaha tak menimbulkan kecurigaan untuk dua gadis yang sudah menunggu di dalam mobil.
        Mulanya Siwan yang menghampiri Yong Hwa lebih dulu. Seolah terlihat seperti hanya melintas, padahal Yong Hwa memberikan sesuatu secara diam-diam pada pemuda itu.
Sementara Doojoon tampak mendahului Siwan. Namun salah satu tangan pemuda itu menggenggam selembar sapu tangan. Kemudian Siwan terlihat mengikutinya sampai tempat mobil Joon berada. Doojoon sedikit mengulurkan tangan, sementara Siwan akan meneteskan cairan dari dalam botol kecil pemberian Yong Hwa.
        Doojoon mengetuk pintu Joon dengan sikap senormal mungkin. Joon sendiri juga terlihat membuka pintu tanpa ada rasa curiga. Tentu, karena mereka adalah anggota ‘Blue Flame’.
        “Kalian…” ucapan Joon terputus tepat saat ia menoleh ke tempat Siwan berada. Dan Doojoon tak membuang waktu untuk membekap mulut Joon dengan sapu tangannya hingga pemuda itu seperti tak sadarkan diri.
        “Cepat bawa Joon masuk,” seru Siwan yang menangkap tubuh Joon. Setelah ia dan Doojoon berhasil membawa Joon masuk ke dalam mobil, Siwan langsung mengambil alih kemudi. Sementara Doojoon juga ikut masuk ke dalam mobil Joon, namun ia sambil menelepon Luhan dan menceritakan rencananya tersebut.
        Di sisi lain, Yong Hwa juga sudah menjalankan aksinya meski Sulli sempat memprotesnya. Tapi setelah ia menjelaskan alasan mereka melakukan itu, Sulli akhirnya menurut bahkan mendukung rencana tunangannya tersebut.
Flashback end…

***

        Luhan sampai menguap karena bosan menunggu. Siwan yang duduk di sampingnya bahkan sudah tertidur. Tapi tidak untuk Doojoon, Nichkhun, Yong Hwa, juga Sulli. Mereka semua kini berada disebuah ruangan yang sama. Ruang tamu dikediaman keluarga Minho.
        Lalu Yoona muncul dari arah dapur. “Kita makan malam dulu,” ajak wanita itu sambil mengulurkan tangan pada Sulli. Tentu karena Sulli juga seorang wanita sepertinya. “Bangunkan Siwan dan Luhan,” ujarnya lagi seraya mengingatkan. Luhan bahkan sampai benar-benar tertidur tadi.
        “Apa Hye Ra dan Joon melakukan sesuatu?” tanya Minho khawatir. Ia memang sudah lebih dulu duduk di kursi makan.
        “Luhan yang terakhir kali memeriksa sebelum tertidur tadi,” kata Nichkhun.
        Minho sontak melempar tatapan pada Luhan yang hanya dijawab gelengan kepala oleh guitarist ‘Blue Flame’ tersebut. “Tidak ada, hyung. Kurasa obat yang diberikan Doojoon pada Joonnie hyung tadi cukup banyak,” desisnya yang kini melempar kesalahan pada Doojoon.
        Tentu Doojoon tidak terima begitu saja dengan tuduhan Luhan terhadap perlakuannya tadi. “Bukan aku yang menuangkan cairannya ke sapu tangan,” serunya untuk membela diri. Luhan kemudian melempar tatapan untuk Yong Hwa dan takut-taku ia menunjuk pemuda yang duduk berseberangan dengannya itu. “Yong Hwa hyung.”
        Yong Hwa sontak menahan tangan Doojoon yang kemudian ia alihkan hingga kini mengarah ke Siwan yang duduk di sampingnya. Sementara Doojoon hanya tersenyum sambil menunjukkan deretan giginya.

***

        “Pasti Doojoon, Siwan, dan yang lain yang telah merencanakan ini,” desis Joon yang baru teringat dengan kejadian terakhir kali sebelum ia pingsan. Pemuda itu bertemu Doojoon dan Siwan di mobilnya.
        Hye Ra sendiri hanya memutar bola matanya, malas. “Jangan menuduh orang lain sembarangan,” seru gadis itu dengan nada dingin sambil beranjak menuju pintu. Meski ia sangat ingin berbaikan dengan Joon, namun gadis itu membatalkan niatnya. Karena melihat sikap Joon yang sepertinya tidak berusaha untuk memperbaiki itu semua.

        Apa kalian menikmati malam, eh, maksudnya siang pertama kalian? Hahaha… Kami harap kalian bisa menyelesaikan semua kesalah pahaman yang terjadi. Dan jangan khawatir, kami juga sudah menyediakan makanan dan minuman untuk kalian berdua. Tapi jangan harap kalian terbebas dari sana sebelum benar-benar berbaikan…!
From : Blue Flame members dengan bantuan Yong Hwa dan Sulli, juga dengan persetujuan Minho hyung dan Yoona noona ^_^

        Hye Ra menatap kesal secarik kertas yang tertempel rapih didaun pintu kamarnya. Dan setelah menyelesaikan membaca, gadis itu menarik paksa kertas tersebut. Kemudian ia menoleh ke atas meja riasnya. Benar saja, di sana sudah tersedia bungkusan yang bisa dipastikan berisi makanan. Serta botol-botol minuman yang juga masih terbungkus rapih.
        Melihat itu, Hye Ra meremas kertas ditangannya lalu membuang sembarangan ke lantai. Ia kemudian mencoba membuka pintu yang ternyata memang benar terkunci.
        “Kau kenapa?” seru Joon yang juga mulai mencurigai sesuatu karena melihat sikap aneh yang ditunjukkan Hye Ra. Pemuda itu lalu melangkah mendekat saat Hye Ra dengan kasar menggedor pintu kamarnya sendiri.
        “Oppa! Minho Oppa! Buka pintunya!” teriak Hye Ra sekeras mungkin agar suaranya bisa terdengar sampai luar. Dan tentu diiringi dengan gedoran keras pada daun pintunya.
        “Apa yang terjadi!” pekik Joon dengan suara tak kalah keras.
        Hye Ra masih senantiasa berteriak. “Oppa, buka!”
        Joon yang sudah tidak sabar, mencoba menghentikan tangan Hye Ra agar berhenti memukuli pintu. “Hye Ra, cukup!”
        “Tapi kita terkunci!” Gadis itu membalas dengan suara yang kini terdengar panik. Entah apa yang harus ia khawatirkan.

***

        Terlihat sangat kontras dengan keadaan di ruang makan. Semua yang berada di sana terlibat dengan pembicaraan seru dan terasa hangat. Luhan dan Siwan bahkan sampai tertawa keras dan melupakan rasa kantuk mereka tadi.
        “Dan kau harus melihat ekspresi wajah Joon saat itu, hyung?” ujar Doojoon saat bercerita seru. “Siapa yang berani membuka pakaianku?”
        Luhan menertawai ekspresi wajah Doojoon saat pemuda itu mempraktikan gaya Joon waktu ketahuan tidur di dalam bathtub dan hanya menyisakan celana jins yang menempel ditubuhnya. Doojoon bahkan benar-benar mengkhayati perannya tersebut. Luhan sampai memukul-mukul meja dan matanya mulai berair.
        Tak kalah keras tawa Nihckhun juga Siwan yang saat itu juga berada di tempat kejadian.
        “Doojoon, hentikan!” seru Siwan yang belum bisa menghentikan tawanya. “Perutku sakit,” ujarnya lagi kali ini sambil memegangi perutnya.
        “Kenapa diam?” tegur Yoona pada Sulli yang duduk di sampingnya.
        “Hah?” Sulli tampak terkejut dengan suara Yoona. Gadis itu terlalu sibuk memperhatikan para member ‘Blue Flame’ yang berada di sana. “Eonnie. Aku hanya bingung harus berekspresi seperti apa. Melihat bahkan makan semeja dengan ‘Blue Flame’ rasanya bagai mimpi.” Sesaat, Sulli tampak mengawasi sekitar lalu sedikit mencondongkan tubuhnya ke arah Yoona. “Aku juga sedikit tak enak dengan Hye Ra karena member favoritku, Lee Joon, ternyata kekasihnya.”
        Yoona terkekeh pelan mendengar pengakuan Sulli. “Hye Ra bahkan menyukai Siwan. Dan kau harus tahu perbedaan kagum dan cinta. Perasaan Hye Ra pada ke dua pemuda itu jelas berbeda.”

***

        “Tidak ada kata ‘minum’ untukmu Lee Minhyuk!”
        “Him…!” ucapan Minhyuk terputus karena tangan Himchan dengan mudahnya merebut gelas minuman di tangan pemuda itu.
Himchan bahkan kini sudah mengambil satu tempat di samping Minhyuk tanpa ada rasa bersalah. Dan Hackyeon yang ternyata datang bersama Himchan, duduk di sisi lain tempat Minhyuk.
        “Kau melarangku ‘minum’, tapi justru kau yang ‘minum’!” protes Minhyuk yang bahkan sudah merebut kembali gelas dari tangan Himchan. Ia kemudian meletakkan gelas itu di atas meja bar tempat mereka berada sekarang.
        “Tolong singkirkan ini dan ganti dengan soft drink biasa,” kata Hackyeon pada bartender di sana. Ia juga tadi yang menjauhkan gelas minuman Minhyuk ke arah bartender tadi.
        Karena tidak ada yang ia lakukan, Minhyuk akhirnya hanya menopang dagu dengan tangan kanannya. Pemuda itu bahkan hanya menatap kosong ke depan. “Hackyeon pasti sudah bercerita padamu tentang kejadian hari ini?”
        Himchan menoleh cepat setelah mendengar suara Minhyuk. Meski pemuda itu tidak menatapnya, namun bisa dipastikan pertanyaan Minhyuk memang ditujukan pada Himchan. Himchan sendiri terdengar menghela napasnya, berat. Ia kemudian meletakkan satu tangannya ke pundak Minhyuk.
        “Aku benar-benar tidak percaya jika kau dan Lee Joon hyung ternyata terlibat dalam sebuah cinta segitiga tanpa kalian ketahui sebelumnya.” Himchan tampak tidak melanjutkan ucapannya karena Minhyuk menggeser gelas minuman untuknya yang baru diberikan oleh bartender tadi.
        “Aku juga ingin meminta maaf padamu tentang…”
        Minhyuk buru-buru mengangkat tangannya sebagai tanda agar Hackyeon tidak melanjutkan ucapannya. “Kau sama sekali tidak salah,” ujarnya sambil mengaduk-aduk tak minat pada minumannya.
        Himchan menarik kembali tangannya dari pundak Minhyuk. “Lalu, apa yang akan kau lakukan setelah ini?”
        “Tidak ada,” seru Minhyuk pendek.
        “Lebih baik kau coba lowongan pekerjaan di tempat sepupuku,” kata Hackyeon menyarankan. “Setidaknya kau bisa sedikit mengalihkan pikiranmu untuk sementara.”
        Kali ini Minhyuk yang terdengar mendesah. Ia juga belum ingin memikirkan hal lain. “Hye Ra tidak akan mau bicara padaku jika Changsun hyung belum memaafkannya. Dan aku tidak tahu sampai kapan.”
        “Apa kau tidak mencoba bicara pada hyungmu?”
        Minhyuk hanya menggeleng sebagai jawabannya. “Tidak akan semudah itu.”
        Hackyeon menenggak minumannya sebelum kembali bicara. “Jika kau mau, aku bisa pinjami kau apartmen. Aku sudah jarang pulang ke sana.”
        “Terima kasih kalian berdua selalu membantuku. Tapi kurasa, itu hanya akan semakin memperkeruh suasana jika aku ke luar dari apartmen Changsun hyung.” Minhyuk menolak tawaran Hackyeon dengan baik-baik.
        “Kami akan selalu mendukung keputusanmu.”
        Kali ini Minhyuk mencoba melemparkan senyumnya pada Himchan.

***

        Setelah tidak ada harapan untuk siapa pun membukakan pintu, Hye Ra lebih memilih mengalah dan duduk di depan meja belajarnya. Sementara Joon tampak bersandar di tempat tidur sambil membuka-buka dengan malas sebuah majalah yang tak sengaja ia temukan di kolong tempat tidur.
        Hye Ra yang semula sibuk dengan gambar desainnya, kali ini tampak menyerah menyelesaikan sebuah rancangan gaun pengantin. Ia meletakkan begitu saja pensilnya sambil menghempaskan punggung ke sandaran kursi. Kemudian tatapan Hye Ra jatuh pada sebuah bungkusan yang tidak jauh dari sana. Ia lalu menarik bungkusan itu mendekat padanya.
        Melihat itu, Joon menutup paksa majalah di tangannya sambil menegakkan badan. “Kau makan sendiri? Tidak mengajakku?” Joon terdengar melancarkan protes keras.
        “Aku tidak bicara pada orang yang tidak ingin bicara padaku,” seru Hye Ra cuek. Meski merasa bersalah, namun ia tak ingin begitu saja mengalah pada pemuda seperti Joon. Setidaknya ia ingin Joon menyadari bahwa sikapnya juga tidak bisa dibilang benar.
        Joon hanya menatap datar punggung gadis di hadapannya tersebut. “Hye Ra, bagaimana jika kita menikah?”
        Mendengar itu, Hye Ra sama sekali tidak merasa tersentuh. Ia justru mendengus merendahkan. Hye Ra menolehkan sedikit wajahnya, namun tidak sampai melihat Joon. “Kau saja yang menikah dengan Minhyuk.” Selanjutnya, gadis itu kembali melanjutkan aktifitas makannya.
        Joon sendiri sama sekali tidak merasa sakit hati mendengar jawaban Hye Ra. Ia lalu menjatuhkan kepalanya ke samping hingga mendarat di atas bantal. Sementara tangannya kembali menyambar majalah tadi. Pemuda itu ingat, dalam majalah tersebut terdapat foto dirinya juga beberapa member ‘Blue Flame’ yang lain. Joon langsung membolak-balikkan halaman majalah. Ia bahkan sampai memutar tubuhnya hingga kini berposisi terlungkup. Dan ia tersenyum saat mendapati foto dirinya di sana.
        Sekilas, Joon sempat kembali melirik pada Hye Ra. Sejujurnya ia sangat merindukan kekasihnya itu. Kemudian Joon  menatap cincin yang melingkar disalah satu jarinya. Ia mendesah berat saat menatapnya. Sampai akhirnya, tatapan Joon kini jatuh pada foto dirinya di atas nakas tempat tidur Hye Ra. Sementara tanggannya yang lain berusaha membalikkan lagi halaman pada majalah tadi. Namun ada yang aneh.
        Joon tertunduk dan mendapati halaman pada majalah tersebut ternyata sengaja diberi solasi untuk menutupi halaman berikutnya. Joon dengan jahilnya mengintip pada halaman yang terisolasi tersebut. Ia bahkan sampai kembali menegakkan tubuhnya. Saat halaman tersebut sudah berhasil ia buka, Joon menyambar fotonya yang berada di atas nakas tadi. Foto yang bagian kacanya diberi sebuah tulisan tangan oleh Hye Ra.
        Sementara itu, merasa ada yang aneh, Hye Ra sontak memutar tubuhnya hingga kini menghadap Joon. Ia mendapati pemuda itu terkekeh sendiri dengan 2 gambar di hadapannya. Foto Joon dalam bingkai, serta foto Doojoon dalam majalah yang semula telah diisolasi oleh Hye Ra.
        “Apa?” tanya Joon galak saat menyadari Hye Ra sedang menatapnya. “Bukankah kita tidak sedang saling bicara? Habiskan saja makananmu.”
        Hye Ra hanya menatap malas, kemudian ia berbalik kembali untuk meneruskan makannya. Tak lupa, ia membuka laci meja belajarnya dan mengambil kabel handsfree lengkap dengan mp3 playernya. Kemudian ia memasang benda kecil itu pada telinganya. Dan tentu lagu yang terdapat dalam benda kecil itu semuanya karya milik ‘Blue Flame’.

***

        “Oiya, Sungmin hyung ke mana? Aku baru ingat dia tidak ikut ke sini.” Suara Luhan menginterupsi kegiatan yang lain. Saat itu mereka memang masih di meja makan dan baru saja menyelesaikan makan malam.
        Doojoon sontak melempar tatapan pada Yong Hwa. Sejak masalah ‘asmara’ Yong Hwa dan Hye Ra terselesaikan, ia sudah tidak bersikap sinis lagi pada pemuda itu. “Sudah seberapa jauh persiapan pernikahan Sungmin hyung?” tanyanya.
        “Waahh… menejer kalian itu sudah ingin menikah juga?” seru Yoona, kagum.
        “Hanya tinggal beberapa bagian saja yang masih harus diurusi,” jelas Yong Hwa. “Oiya, sepertinya kami harus pulang. Sulli ada dinas malam hari ini.”
        “Oh, iya.” Yoona langsung menyetujui diiringi anggukan Minho dan yang lainnya.
        “Kami pamit ya,” ujar Sulli untuk member ‘Blue Flame’ yang lain. Ia tak lupa untuk menyalami mereka satu-persatu.
        “Yong Hwa hati-hati!” seru Doojoon. Mengingatkan saat ia sering bersikap ‘ptotective’ pada Hye Ra saat gadis itu bersama Yong Hwa.
Kemudian Yoona dan Minho mengantar Yong Hwa juga Sulli ke luar rumah.
        “Calon istrinya Sungmin hyung itu yang tadi bersamanya, kan?” Siwan tampak mengajukan pertanyaan untuk memastikan tebakannya benar. Ia masih melanjutkan pembahasan yang tadi sempat tersita beberapa menit lalu.
        “Ji Yeon?” Nichkhun balik bertanya.
        “Iya, hyung!” Luhan langsung membenarkan. “Mereka berduaan saat kami melakukan pengukuran tadi.” Ucapan Luhan membuat yang lain tertawa.
        “Diantara kalian siapa lagi yang ingin menyusul?” terdengar Minho bersuara. Ia baru saja kembali dari mengantar Yong Hwa dan Sulli yang akan pulang.
        “Suruh Joon untuk cepat-cepat melamar adikmu, oppa!” goda Yoona. Dan kembali menyulut kekehan orang-orang di sana.
        Mendengar ucapan Yoona yang seperti itu, membuat Nichkhun sontak menyadari sesuatu. “Oiya, bagaimana Joon dan Hye Ra di dalam?” Pertanyaan Nichkhun membuat yang lain juga langsung teringat dua orang yang masih mereka kuncikan di dalam kamar itu. “Luhan, coba sana lihat,” serunya memerintah. 
        Luhan menoleh cepat dengan tatapan tajamnya. “Apa karena aku yang paling muda di sini?” protesnya.
        “Atau kau ingin aku yang memeriksa?”
        Luhan buru-buru melambaikan tangannya untuk menolak saran dari Yoona tadi. “Tidak noona. Biar aku saja.” Dan sebelum Yoona atau yang lain merespon, Luhan lebih memilih untuk segera melesat pergi dari sana. Menuju kamar tempat Hye Ra dan Joon berada.
        Begitu sampai di sana, Luhan langsung menghela napas. “Apa jadinya kalau Yoona noona yang ke sini?” Pemuda itu langsung berpikir jauh karena masa lalu yang pernah ada antara Joon dan Yoona.

***

        Hye Ra berdiri saat Joon sudah berada di sampingnya. Pemuda itu ingin mengambil jatah makanan miliknya. Saat Hye Ra meninggalkan kursinya, Joon yang menggantikan duduk di sana. Leader ‘Blue Flame’ tersebut tidak tahu jika di belakang, Hye Ra sedang meminum obatnya. Hye Ra memang baru saja ke luar paksa dari rumah sakit tadi pagi.
        Hye Ra berhati-hati membaringkan tubuhnya ke kasur. Berusaha memejamkan matanya agar obat bisa berfungsi lebih baik.
        Sementara itu, dari luar jendela kamar Hye Ra terdengar suara deru mesin mobil. Joon yang juga mendengar itu sontak langsung melesat ke arah jendela. Ia ingin memastikan siapa yang mengendarai mobil tersebut dan mungkin akan meninggalkannya yang masih terkunci.
        “Jadi Yong Hwa dan tunangannya juga terlibat di sini?” seru Joon. Ia juga menyempatkan diri menoleh pada Hye Ra yang mungkin saja mau meresponnya. Namun yang ia dapat, gadis itu justru meringkuk di atas kasur dengan mata terpejam. Lalu tanpa sadar, mata Joon menangkap bungkusan kecil di atas nakas yang berisi obat-obatan. “Hye Ra!”
        Joon melesat cepat dan duduk di tepi tempat tidur. Tangan pemuda itu juga mendarat dikening Hye Ra yang mengeluarkan keringat dingin. Joon panik seketika melihat kondisi Hye Ra. “Kau kenapa Hye Ra?” tanyanya sambil menggenggam tangan Hye Ra dengan erat.
        Dengan lembut, Hye Ra menyingkirkan tangan Joon. “Aku baik-baik saja,” ujar gadis itu yang kemudian berusaha bangkit. Ia duduk dan bersandar di kepala tempat tidur.
        Joon sendiri juga ikut merubah posisi duduknya yang kini menempatkan diri di samping Hye Ra. Ia bahkan sampai memaksa Hye Ra masuk ke dalam rangkulannya. Joon juga sempat mencium puncak kepala kekasihnya itu penuh rasa sayang.
        “Kenapa kau merahasiakan padaku tentang kondisimu?” Joon semakin erat memeluk Hye Ra. Seakan tak ingin melepaskan sedikit pun gadis itu dari sisinya.
        “Aku…” Hye Ra tak begitu saja melanjutkan ucapannya karena kini Joon justru membuatnya berhadapan dengan pemuda itu. “Joon, maaf. Aku sungguh tidak tahu jika kau dan Minhyuk…”
        Joon menangkup wajah Hye Ra dan menatapnya lembut. “Aku dan mungkin juga Minhyuk tidak ada yang tahu jika diantara kami mengenalmu. Maaf karena aku egois selama ini.”
        Hye Ra menggeleng lemah. Tak sedetik pun ia mengalihkan tatapannya pada sosok Joon sudah cukup lama ia rindukan.
        “Aku belum bisa membuatmu bahagia. Dan aku juga tidak sanggup untuk melawan Minhyuk.” Joon terdengar sekuat tenaga untuk mengatakan hal tersebut.
        Air mata sudah tampak menggenang dipelupuk mata gadis itu. Hye Ra tidak bisa menahan perasaan harunya. Dan saat ia mengedip, cairan bening itu tidak sanggup terbendung lagi. Dengan sangat lembut, Joon menyeka air mata Hye Ra langsung dengan tangannya sendiri. Seakan tidak ingin menyakiti gadis itu sedikit pun.
        “Joon aku mencintaimu,” kata Hye Ra akhirnya dengan nada lirih.
        Joon sontak tersenyum lebar. Itu kata-kata yang sudah lama sangat ia ingin dengar langsung dari bibir gadis itu. “Itu kata-kata terindah yang pernah ku dengar.” Joon menarik Hye Ra ke dalam pelukannya dengan senyuman yang sama sekali tidak pudar sedikit pun.
        Mereka masih berada di posisi yang sama dalam waktu yang cukup lama. Joon bahkan seperti tidak ingin kehilangan sedikit pun moment seperti itu. Keduanya bahkan tidak menyadari jika Luhan sudah mengawasi mereka di sana beberapa menit yang lalu.
        “Tidak ingin ke luar dari kamar ini?”

***


Jumat, 04 April 2014

BLUE FLAME BAND 2 (part 15)


Author              : Annisa Pamungkas (@nniissaa11)
Main Cast          :
·        Lee Joon/Changsun (Mblaq)
·        Lee Minhyuk (BtoB)
·        Jung Yong Hwa (CN Blue)  
Original cast     : Hye Ra, Soo In, Minjung, Sung Hye, Han Yoo
Support cast     :
·        Im Siwan (Ze:a)
·        Nichkhun Horvejkul (2PM)
·        Yoon Doojoon (Beast/B2ST)
·        Luhan (Exo-M)
·        Choi Sulli (F(x))
·        Lee Sungmin (Super Junior)
·        Cha Hackyeon ‘N’ (VIXX)
Genre               : romance
Length              : part

***

        “Waah… kau sudah sadar?”
        Hye Ra buru-buru menoleh dan mendapati Sulli mendekat sambil membawakan nampan makanan. “Sejak kapan aku di sini?” tanya Hye Ra yang baru menyadari dirinya berada di rumah sakit. “Dan siapa yang membawaku?”
        “Hackyeon.” Sulli menggenggam tangan Hye Ra. “Tapi kau tenang saja. Dia tidak akan mengatakan apapun pada Minhyuk tentang kondisimu saat ini.”
        Mendengar itu, Hye Ra bernapas lega. Namun ia masih tetap menatap Sulli penuh arti. “Apa kau sudah tau kalau aku dan Yong Hwa….”
        Belum selesai Hye Ra berbicara, Sulli sudah lebih dulu menganggukkan kepalanya. “Dan aku tidak mempermasalahkan itu.”
        “Tapi hubungan kami hanya sebatas itu. Aku nyaman bersama Yong Hwa seperti saat aku bersama oppaku, Minho.” Hye Ra merasa sedikit tak enak hati pada Sulli. Terlebih gadis itu yang kini merawatnya secara pribadi di rumah sakit.
        Sulli tampak berubah canggung. “Aku percaya kalian tidak akan menjalin hubungan lagi seperti dulu. Apalagi, ada dua pemuda yang sangat mencintaimu saat ini.”
        Hye Ra membulatkan mata, tepat ketika Sulli sudah lebih dulu melepaskan pandangannya terhadap Hye Ra.
        “Yong Hwa memang meminta bantuanku untuk menjagamu. Dan aku yakin itu semua dia lakukan untuk menjaga perasaanku juga daripada dia yang menjagamu secara langsung.”
        Pergerakan dari genggaman tangan Hye Ra membuat Sulli menoleh padanya. “Jadi… kau Sulli kekasih Minhyuk?”
        Sulli tidak menjawab apapun. Namun untuk Hye Ra, itu sudah cukup memberikannya sebuah jawaban.
        “Sulli, maaf. Aku juga tidak bermaksud mendekati Minhyuk…”
        “Kenapa kau harus meminta maaf?” Sulli memotong ucapan Hye Ra dengan penuh penekanan agar Hye Ra berhenti merasa bersalah. “Aku tau kau dan Minhyuk sudah cukup lama hilang komunikasi. Dan aku yakin, pertemuan kalian setelah aku sudah bersama Yong Hwa oppa.”
        Hye Ra tidak berkata apa-apa lagi setelah itu. Namun tatapannya pada Sulli belum berubah.
        “Ku mohon berhenti merasa bersalah,” ujar Sulli. “Karena setidaknya, sudah tidak ada rahasia lagi antara kau dan Yong Hwa oppa padaku.”
        Hye Ra menarik lengan Sulli lalu memeluk gadis itu. “Aku senang bisa bertemu denganmu. Dan aku sangat berterima kasih untuk itu.”
        Sulli menjauhkan tubuh mereka. Ia tersenyum tulus pada Hye Ra. “Jangan sungkan untuk datang padaku. Kau dan Yong Hwa oppa sudah seperti saudara. Dan sudah sepantasnya juga aku memperlakukan hal yang sama padamu.”
        Perlahan, Hye Ra pun mengukir senyuman pada wajah pucatnya.
        “Sekarang kau istirahat, nanti aku akan segera kembali. Dan mulai saat ini juga, kau berada dalam pengawasanku,” ujar Sulli seperti mengancam namun jelas itu hanya gurauannya hingga membuat Hye Ra terkekeh pelan.

***

        “Setelah ini, jangan coba merebutku dari Joon. Dan aku juga tidak sudi bicara padamu sebelum Joon mau memaafkanku.”
        Perkataan Hye Ra yang seperti itu masih terputar jelas di telinga Minhyuk. Semua ucapan itu bahkan nyaris tak pernah hilang dari pikirannya meski hanya sesaat. Bisa dipastikan, hubungan gadis itu dengan Joon memang dalam kondisi yang kurang baik. Sementara tangan pemuda itu mencengkeram erat sebuah majalah dengan wajah para member ‘Blue Flame’ yang menghiasi bagian cover-nya.
        Pintu utama apartmen Joon tempat Minhyuk saat ini berada, terdengar terbuka. Bisa dipastikan itu Joon karena caranya membuka pintu sangat berbeda dengan Hyorin.
        Minhyuk buru-buru berdiri sambil melempar majalah di tangannya kesembarang tempat. Namun ia tidak ingin repot-repot untuk membalikkan badannya.
“Masalahmu denganku, hyung. Jadi, kau tidak perlu menyiksa Hye Ra seperti itu.”
Mendengar itu, Joon tersenyum meremehkan. “Dia mengatakan apa saja padamu?” tantangnya.
        Minhyuk sedikit menolehkan kepalanya, namun tidak sampai menangkap sosok Joon dalam matanya. “Apa harus menunggu Hye Ra bercerita dulu untuk aku bisa mengetahui masalahnya?” Minhyuk balas menantang.
        Joon tidak ingin langsung menjawab. Ia melangkah lebih dalam sambil melempar jaketnya ke sandaran sofa terdekat. Lalu berhenti tepat di belakang Minhyuk dengan sofa yang membatasi mereka.
        “Sebenarnya aku tidak ingin mengakui ini.” Joon sempat memberikan jeda dalam kalimatnya. “Tapi, aku sadar. Darah lebih kental dari pada air. Kita mencintai gadis yang sama. Dan itu semua di luar kendali kita berdua.”
        Minhyuk masih diam di tempat ia berdiri saat ini.
        “Jujur ku akui. Aku tidak akan sanggup melawanmu. Tapi, aku juga tidak ingin melepaskan Hye Ra begitu saja. Karena itu, sekarang terserah apapun caramu untuk mengalahkanku.”
        Kali ini giliran Minhyuk tersenyum meremehkan. Meski Joon tidak bisa melihat itu. “Apa kau sudah memikirkan dengan baik semua keputusanmu? Itu sama saja kau memberikan peluang secara cuma-cuma padaku.”
        Joon menghela napasnya, kasar. “Awal pertemuanku dengannya bukan dalam keadaan yang baik. Namun takdirlah yang mempersatukan kami.” Joon sempat diam sesaat sebelum akhirnya melanjutkan ucapannya. “Kebersamaan kami membuatku belajar banyak hal. Hye Ra melepaskan cintanya untuk Doojoon. Dan Yong Hwa juga melepaskan cintanya untuk Hye Ra.”
        Joon memejamkam matanya sesaat. Sementara tangannya mengepal kuat. Bukan ingin membalas pukulan Minhyuk padanya waktu itu. Tapi, Joon hanya berusaha mengendalikan perasaannya saat ini.
        Senyuman-senyuman Hye Ra. Sikap menyebalkan gadis itu. Ekspresi polosnya saat tertidur. Bahkah kepanikannya saat mengkhawatirkan Joon. Semuanya terekam jelas dalam hati dan pikiran Joon. Dan rasanya lebih menyakitkan melepaskan itu semua dari pada saat ia merelakan Yoona untuk Minho dulu.
        “Jika kau bisa membahagiakan Hye Ra lebih dari diriku…” Joon menggantungkan ucapannya sesaat. “Aku akan berusaha melepasnya untukmu.”
        Minhyuk sudah ingin tersenyum mendengar ucapan Joon. Namun terasa sedikit berat. Seperti ada yang menahannya melakukan itu.
        “Tapi jika yang terjadi justru sebaliknya….” Joon membuat Minhyuk menahan napas. “Siapkan pernikahan kami.” Setelah berujar seperti itu, Joon berbalik dan melesat masuk ke dalam kamarnya.
        Sebuah kalimat singkat, namun penuh dengan makna terpendam. Dan tentu saja itu sebuah kalimat yang paling menyakitkan untuk Minhyuk.

***

        “Hye Ra…” seru Sulli dengan riang. Ia bahkan menggoda Hye Ra dengan mengintip gadis itu dari balik pintu.
        Hye Ra terkekeh pelan menanggapi sikap lucu gadis itu. “Sini…” desaknya agar Sulli segera masuk dan menemuinya.
        Sulli tersenyum sambil menutup pintu di belakangnya. “Oh, iya. Yong Hwa oppa sudah menemuimu?” tanyanya sambil duduk di tepi tempat tidur Hye Ra. Jika sudah bersama gadis itu, Sulli akan benar-benar mencopot semua hal yang berkaitan dengan pekerjaannya. Ia akan bersikap lebih santai selayaknya memperlakukan teman, bukan pasien.
        Mendengar nama Yong Hwa disebut, Hye Ra langsung merubah ekspresinya menjadi sedikit terkesan enggan membahas pemuda itu. “Kekasihmu itu menyebalkan sekali tadi,” ujarnya kesal. “Lihat itu,” seru Hye Ra sambil melirik sesuatu dari sudut matanya.
        Sulli mengikuti arah pandangan Hye Ra dan menemukan sebuket bunga di atas meja. Kini ia menatap prihatin ke arah Hye Ra. “Kau benar. Harusnya Yong Hwa oppa membawakanmu buah atau roti.”
        Hye Ra tampak menahan tawanya mendengar ucapan Sulli. “Apa selama ini Yong Hwa tidak pernah bersikap romantis padamu?” Hye Ra justru melemparkan sebuah pertanyaan.
        Sementara Sulli menatap Hye Ra dengan tatapan polos. “Aku tidak tau hal apa yang menurutku romantis dari sikap Yong Hwa oppa.”
        “Cepat ambil,” seru Hye Ra dan terdengar sedikit memerintah. “Bunga itu untukmu dari Yong Hwa.”
        “Benarkah?” ujar Sulli untuk memastikan. Wajahnya juga tampak sedikit berbinar menanggapi hal tersebut.
        Sementara Sulli menghampiri bunga untuknya, Hye Ra menggembungkan pipi. “Membuatku iri saja.” Namun kekesalan gadis itu langsun teralih karena sebuah pesan yang masuk ke dalam ponselnya. Dari salah satu rekannya sesama desainer. Jiyeon.

        Kita mendapat proyek besar dari salah satu band terkenal. Mereka akan mengenakan pakaian kita. Nanti sore kita bertemu mereka untuk melakukan pengukuran jam 4 di studio.   
     
      Hye Ra membaca pesan itu secara sembunyi-sembunyi sambil mengawasi keberadaan Sulli. Ia tidak ingin gadis itu mengetahuinya.

***

        Ke lima pemuda tampan dari ‘Blue Flame’ terlihat mendatangi sebuah studio. Tentu saja Sungmin juga ikut terlibat di sana. Mereka direncanakan untuk bertemu dengan para desainer-desainer muda yang akan membantu membuatkan kostum untuk salah satu ‘Video Musik’ mereka nantinya.
        “Kenapa kau baru datang? Kita harus melakukan briefing dulu karena melibatkan band besar. Ayo cepat ke atas!”
        Beberapa member ‘Blue Flame’ sempat menoleh ke arah sumber suara. Namun ke dua gadis yang terlibat sudah lebih dulu berjalan ke arah yang berlawanan dengan mereka.
Joon tampak paling menatap lekat gadis yang sedikit lebih pendek dari gadis di sebelahnya. Perasaannya mencurigai sesuatu. Terlebih gadis tadi membawa sebuah file yang cukup familiar di mata Joon.
“Joon!” tegur Nichkhun untuk mengingatkan Joon karena pintu lift sudah lebih dulu terbuka.
        Setelah ke enam pemuda itu menghilang dari balik lift, gadis yang tadi dicurigai Joon menoleh ke belakang. Gadis itu adalah Hye Ra.
        “Kita akan segera bertemu mereka nanti,” seru gadis bersama Hye Ra tadi. Ia bahkan sampai menggamit lengan Hye Ra.
        “Jiyeon!” seru Hye Ra yang bahkan membuat langkah mereka berdua terhenti. “Kenapa tak bilang jika kita akan bekerja sama dengan ‘Blue Flame’?”
        Gadis bernama Jiyeon tersebut justru menatap Hye Ra bingung. “Bukankah seharusnya kau senang? Aku hanya ingin memberikanmu kejutan karena aku tau kau sangat menyukai ‘Blue Flame’.” Jiyeon berujar dengan cukup semangat. Namun semangat itu tidak berimbas pada Hye Ra.
Masalahnya, hubungan Hye Ra dengan Joon sedang tidak dalam kondisi baik. Setidaknya Hye Ra hanya tidak ingin menambah kekacauan jika harus bertemu Joon sebelum pemuda itu memaafkannya. Tapi Jiyeon seakan tidak membiarkan Hye Ra menghindar.

***

        “Hye Ra tidak bersamaku. Bukankah seharusnya dia masih di rumah sakit?”
        Minhyuk menghentikan gerakan tangannya yang menyusuri deretan album-album music di hadapannya saat mendengar suara seseorang di belakangnya. Saat ini ia sedang berada di sebuah toko kaset untuk mencari album terbaru ‘Blue Flame’.
        “Bagaimana bisa dia tidak ada di kamarnya? Kau bilang dia belum diperbolehkan pulang.”
        Merasa orang di belakangnya seperti akan bergerak, Minhyuk sontak membalikkan badan dan secara tidak langsung juga menghalangi langkah orang tersebut. Hackyeon.
        “Kau?” gumam Hackyeon dengan nada panik.
        Minhyuk menatap Hackyeon seakan menuntut penjelasan atas apa yang ia dengar. “Hye Ra dirawat? Di mana? Tempat Sulli bekerja?” tanya Minhyuk dengan nada datar. Sebenarnya pertanyaan itu hanya untuk memastikan maksud ucapan Hackyeon. Minhyuk sudah hampir sepenuhnya bisa menebak suasana.
        “Minhyuk, maaf. Bukan kemauanku untuk tidak mengabarimu.” Dan ucapan Hackyeon tersebut sudah mewakili semua pertanyaan Minhyuk. “Kau mau ke mana?” tanya Hackyeon karena Minhyuk langsung melesat pergi.

***

        Di ruangan tersebut ‘Blue Flame’ berada. Masing-masing dari mereka bersama seorang gadis yang bertugas untuk melakukan pengukuran untuk kostum yang akan ‘Blue Flame’ kenakan. Namun tersisa Joon yang memilih duduk di ujung ruangan karena masih menunggu desainer yang akan mengurusinya.
        Tak lama, pintu ruangan tampak terbuka dan memunculkan Jiyeon di baliknya. Jiyeon langsung disambut oleh Sungmin. Namun Sungmin terlihat cukup terkejut dengan seseorang yang datang bersama Jiyeon tersebut.
        “Kau sakit?” tanya Sungmin untuk Hye Ra tentunya. Tapi ia tidak mengenali gadis itu.
        Jiyeon yang bingung dengan pertanyaan Sungmin, langsung menoleh ke belakang. Sontak saja Jiyeon sedikit terkejut mendapati Hye Ra yang sudah mengenakan masker dan kacamata. “Sejak kapan kau menggunakan…”
        “Maaf, aku tiba-tiba flu.” Hye Ra segera menyelak ucapan Jiyeon.
        Jiyeon sendiri sudah hampir membuka mulut, namun Sungmin sudah lebih dulu mencegahnya. “Kau bisa langsung temui Lee Joon saja. Dia di sana.” Sungmin bahkan menunjukkan posisi Joon berada saat itu.
        Hye Ra hanya mengangguk sebelum akhirnya melangkah. Gadis itu hanya mampu tertunduk untuk menutupi penyamarannya. Ia bahkan hanya sempat mengangguk sekilas saat berpapasan dengan Siwan.
        “Hati-hati dengan Joon,” canda Siwan.
        “Hyung! Jangan menggoda terus. Ingat Soo In,” tandas Luhan yang saat itu bahkan berada di posisi yang cukup jauh dari tempat Siwan berada. Namun sukses sedikit mencairkan suasana.
        Hanya Joon yang tidak terpengaruh dengan candaan Siwan atau Luhan. Dan saat Hye Ra sudah berada dalam jarak beberapa meter darinya, Joon lebih dulu berdiri sambil melepaskan jaketnya untuk membantu mempermudah pekerjaan gadis itu.
        Hye Ra tidak berniat untuk menyapa atau sekedar basa-basi atas keterlambatannya. Sementara Joon sendiri juga hanya diam. Namun Joon mengawasi lekat-lekat gadis itu. Tidak salah lagi, gadis itu yang ia lihat di lantai bawah tadi.
        Hye Ra mencengkeram sebuah meteran di tangannya saat ia menatap punggung kekar milik Joon hanya hanya dilapisi sebuah kaos putih polos. Tubuh pemuda yang sangat dirindukannya.
        Joon sempat menolehkan wajahnya, namun tidak sampai menatap Hye Ra yang berdiri tepat di belakangnya. “Kenapa diam?” tegurnya.
        Hye Ra hanya mengangguk sekilas. Dan tanpa bicara, mulai melakukan tugasnya. Namun kembali ada sesuatu yang menghambatnya. Hye Ra kembali diam. Ia bahkan tidak sadar jika Joon mengawasinya dari sebuah cermin kecil di atas meja.
        Joon sendiri sudah tampak tidak sabar dengan sikap Hye Ra. Pemuda itu lalu membalikkan badan sambil menahan ke dua tangan Hye Ra yang sedang bekerja. Ia menatap Hye Ra seakan berkata bahwa ia tidak bisa dibohongi dengan penyamaran gadis itu.
        “Joon!” seru Doojoon dari kejauhan yang kebetulan sedang mengarahkan tatapan ke tempat Joon berada. Hampir semua orang di sana langsung menoleh ke tempat Joon bersama Hye Ra karena teriakan Doojoon.
        Sementara Hye Ra sendiri tampak berusaha melepaskan tangan Joon dari tangannya. Namun ia sama sekali tak melepaskan pandangan dari wajah tampan Joon yang sangat ia rindukan.
        Joon menarik salah satu tangan Hye Ra ke depan wajah gadis itu. Sebuah cincin yang melingkar di sana seolah menjadi ‘tanda’ antara mereka. Kebetulan Joon juga mengenakan cincin di tangan itu.
        Sungmin tampak sudah hampir melangkah. “Joon…”
        Joon langsung saja menarik tubuh Hye Ra ke dalam pelukannya tempat sebelum Sungmin bisa melanjutkan ucapannya. “Kau tidak bisa membohongi keberadaanmu dariku,” bisik Joon.

***

        Sulli berusaha mengimbangi langkah Minhyuk dan Hackyeon di depannya. Mereka bertiga sudah berada di gedung studio tempat Joon dan ‘Blue Flame’ berada. Tujuan mereka tentu saja untuk menemui Hye Ra. Terlihat jelas dari ponsel Hye Ra yang berada di tangan Sulli. Gadis itu meninggalkannya sebelum kabur dari rumah sakit. Dan bisa dipastikan, keberadaan Hye Ra dapat langsung terlacak.
        Minhyuk tampak melesat paling depan. Saat tiba di depan sebuah pintu, Minhyuk langsung menerobos masuk karena sekilas ia memang sempat melihat sosok Sungmin dari sebuah jendela kecil pada daun pintu.
        Tentu saja kehadiran Minhyuk, Hackyeon dan Sulli memberikan sebuah kejutan untuk orang-orang yang berada di dalam. Namun mereka bertiga juga mendapat kejutan setimpal. Terutama untuk Minhyuk karena kedatangan mereka tepat ketika Joon masih dalam keadaan memeluk Hye Ra.
        Sementara Sulli langsung menatap ke tempat Jiyeon berada. “Aku kehilangan seorang pasienku di sini,” kata Sulli dengan sedikit terbata.
        Tanpa ingin menatap Minhyuk, Joon melepaskan pelukannya. Dilihatnya Hye Ra yang hanya bisa tertunduk. Joon membuka masker yang menutupi sebagian wajah Hye Ra hingga ia bisa melihat rona pucat di sana. Itu menandakan bahwa yang dimaksud ‘pasien’ oleh Sulli adalah Hye Ra.
        Joon melirik ke tempat Minhyuk berada. Adiknya itu justru memandang lurus ke arah Hye Ra dengan tatapan khawatir. Lalu tanpa berkata-kata lagi, Joon menyambar jaketnya dan segera melangkah pergi dari sana.
        “Joon!” seru Nichkhun berusaha mencegah kepergian Joon.
        “Samakan saja ukuran pakaianku dengan Siwan.” Hanya itu jawaban Joon tanpa menghentikan langkah sedetik pun. Ia bahkan seperti tidak mengenali sosok Minhyuk di sana dan tetap berlalu begitu saja. Joon juga tampak tidak menyadari siapa pemuda yang baru saja ia tabrak bahunya saat melewati pintu.
        Doojoon berinisiatif mendekat ke tempat Hye Ra berada. Sementara yang lain tidak ada yang berani bergerak. Termasuk para desainer di sana yang hanya diam mematung karena mereka memang tidak tahu apa-apa.
        Hye Ra sudah hampir ambruk jika Doojoon tidak sigap menahan tubuhnya. Di saat Minhyuk melangkah mendekat, Doojoon justru melempat tatapan tajam untuk pemuda yang berdiri paling dekat dengan pintu. Yong Hwa.
        Merasa ada sesuatu masalah yang rumit di sana, Sungmin mengambil keputusan untuk menyuruh Jiyeon membawa rekan-rekannya meninggalkan ruangan tersebut.
        “Apa kau juga terlibat di sini?” desis Doojoon untuk Yong Hwa tentunya saat hanya menyisakan mereka, Minhyuk, Sulli, Hackyeon, Nichkhun, Luhan, Siwan serta Sungmin juga yang harus tetap mengawasi anggotanya meski masalah yang terjadi saat ini adalah masalah pribadi.
        Yong Hwa membalas tatapan Doojoon sama tajamnya. “Jika memang iya, aku tidak akan melibatkan Sulli juga di sini.” Tampak ia tidak ingin begitu saja disalahkan.
        Minhyuk yang tidak ingin ambil pusing dengan perdebatan antara Yong Hwa dengan Doojoon, lebih memilih mendekati Hye Ra. Ia sudah ingin meraih tangan gadis itu, namun Hye Ra sudah lebih dulu menepis tangan Minhyuk sambil menatap tajam pemuda itu.
        “Harus berapa kali kubilang…”
        Minhyuk memotong ucapan Hye Ra. “Sampai kapan?”
        “Tapi Joon kakak kandungmu. Apa kau tidak bisa mengalah padanya?” seru Hye Ra dengan nada tinggi. Gadis itu sudah hampir menangis, namun masih ia tahan kuat-kuat.
        “Jika sikapnya tidak seperti tadi, mungkin aku bisa mempertimbangkannya! Tapi apa yang baru saja Changsun hyung lakukan?”
        “Kau hanya tidak tau apa tujuan Joonie hyung melakukan itu!” Luhan yang merespon ucapan Minhyuk tersebut. Untuk masalah yang ini ia memang cukup tahu banyak.
        “Biarkan Hye Ra pulang.”
Semua mata menoleh pada Yong Hwa yang tadi berbicara. Yong Hwa bahkan sudah melangkah. Namun Doojoon buru-buru merangkul pundak Hye Ra dengan tatapan yang menegaskan kalau ia benar-benar menolak usulan Yong Hwa tadi.
        Yong Hwa tampak tersenyum meremehkan. Di luar dugaan, ia juga turut menarik dengan lembut tangan Sulli. “Kondisinya sudah tidak seperti dulu. Kau tidak perlu khawatir.”
        Seakan mengerti maksud ucapan Yong Hwa, Sulli tampak mengulurkan tangan untuk mengajak Hye Ra pulang bersamanya. Tidak sampai ada penolakan dari Hye Ra untuk menyetujui ajakan Sulli tadi.
        “Kau!” seru Yong Hwa saat merasakan Minhyuk berniat melangkah. “Jangan temui Hye Ra dulu,” desisnya tajam.

***

        Joon menjawab panggilan dari Luhan. Tepat sesaat setelah ia masuk ke dalam mobilnya. Joon menghela napas, berat. “Minhyuk yang sudah lebih dulu mengenal Hye Ra. Dia mungkin tahu lebih banyak tentang Hye Ra. Jika memang ia bisa lebih membahagiakan Hye Ra dari pada aku…” Joon tampak berat menlanjutkan ucapannya. “Aku hanya ingin melihat Hye Ra bahagia. Kau pasti mengerti maksudku.”
        “Kau yakin, hyung?” Terdengar suara Luhan merespon.
        Cukup lama Joon terdiam. Ia melirik kaca spion mobilnya dari balik jendela yang tertutup penuh. Di sana Joon melihat bayangan sosok Hye Ra yang berjalan bersama Sulli. Sementara Yong Hwa mengikuti mereka dari belakang. Joon juga sempat menangkap sosok Hye Ra yang tengah menatapnya. Gadis itu seakan tahu kalau Joon tengah melihat ke arahnya.
        “Mari kita bertemu di dorm setelah ini. Tapi yang pasti, kau jangan dulu melepaskan Hye Ra begitu saja. Jangan pernah melakukan itu!” tegas Luhan melalui telepon.
        Tanpa berkata-kata lagi, Joon mematikan sambungan teleponnya dengan Luhan. Belum sempat Joon menyalakan mesin mobil, seseorang mengetuk jendela mobil Joon. Joon sendiri langsung menuruti untuk ke luar dari mobilnya tanpa ada rasa curiga.
        “Kalian…” Sontak saja tubuh Joon terasa melemas. Ia tidak tahu jika salah seorang yang berdiri di belakangnya membekap hidung Joon menggunakan sapu tangan yang sudah ditetesi sesuatu hingga membuat Joon pingsan.
        “Cepat bawa Joon masuk,” seru salah satu dari mereka. Yang lain seakan menuruti lalu membuka pintu mobil Joon.


***