Tampilkan postingan dengan label Kim Joon Myun (Suho). Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kim Joon Myun (Suho). Tampilkan semua postingan

Rabu, 05 Juni 2013

KRIS WITHOUT WINGS (part 19) end


        Kris dan Chanyeol berjalan berangkulan menuju tempat Luhan dan yang lainnya berada. Senyum bahkan tak pernah lepas dari bibir mereka.
        Baekhyun yang paling bersemangat menyambut kedatangan Kris dan Chanyeol. Ia bahkan sudah merentangkan tangannya untuk menyambut pelukan dari dua temannya itu. “Chanyeol!” pekik Baekhyun penuh semangat membuat Kris melotot padanya.
        Kris bahkan sampai menghalangi tubuh Chanyeol sebelum Baekhyun sempat memeluknya. “Aku yang selama setahun ini bersamamu! Kenapa kau menyambut Chanyeol lebih dulu?” protes Kris yang merasa seperti di abaikan.
        “Aku bosan padamu!” balas Baekhyun tanpa dosa. Lalu ia sedikit mendorong tubuh tinggi Kris untuk menjauh dari Chanyeol.
        “Bisakah kau tak mengabaikan kami?”
        Kris mendongak. Tatapannya langsung tertancap pada sosok Luhan yang berdiri sambil melipat tangannya. Tiba-tiba saja senyuman Kris mengembang. “Hyung!” serunya yang terdengar manja seperti Sehun.
        “Stop!” Buru-buru Luhan mengangkat tangannya sebagai pertanda agar Kris tak mendekat padanya. “Apa kau akan memelukku dengan badan basah penuh keringat itu?”
        Kris tak mempedulikan reaksi tak menyenangkan dari Luhan. Ia tetap memeluk hyungnya itu sangat erat. “Apa kau tak merindukanku, hyung?”
        “Kris! Lepas!”
        “Tidak akan, hyung!” Semakin keras Luhan berontak, semakin kuat pula pelukan Kris padanya.
        “Hyung, mana Sehun?”
        Semua orang menoleh. Bahkan Kris sampai melepaskan pelukannya dan ikut melirik ke arah sumber suara, Kyungsoo, yang sedikit membuat keributan saat baru datang tadi.
        Lay menunjuk sampingnya. “Sehun di…” ucapannya terhenti saat ia tak menemukan orang yang ia maksud. Beberapa saat yang lalu Sehun memang berdiri tepat di sampingnya.
        Chanyeol melambaikan tangan saat melihat sosok Tao yang baru sampai. “Tao kau lihat Sehun di luar?” Tanya Chanyeol.
        “Sehun di mobil Luhan hyung,” ujar Tao. “Hei, ada apa?” serunya polos saat melihat orang-orang itu berhamburan ke luar gedung. Termasuk Baekhyun meski ia kerepotan karena harus membawa koper milik Kris juga. Beruntung Chanyeol siap sedia untuk membantunya.
        Tao menarik-narik tangan Chanyeol seperti menuntut penjelasan. “Apa yang terjadi pada Sehun?” Tanya Tao khawatir.
        “Ku rasa Sehun hanya kesal pada Kris yang tak langsung pulang ke rumah. Dan tadi dia tiba-tiba saja menghilang tanpa pamit,” jelas Chanyeol.

@@@

        “Sehun tunggu!” seru Kris sambil mengejar Sehun. Sejak dalam perjalanan pulang dari stadion, Sehun tetap bungkam jika di tanya oleh Kris. Dan kini Sehun sudah mengurung diri ke dalam kamarnya.
        “Sehun buka pintunya,” teriak Luhan dari luar kamar Sehun sambil menggedor-gedorkan pintunya. “Kau marah pada Kris?”
        Tidak ada jawaban dari Sehun.
        Kris pura-pura mendesah penuh penyesalan. “Maaf jika kau marah. Aku hanya ingin memberimu kejutan. Dan rencananya nanti malam aku ingin mengajakmu pergi ke luar dan hanya berdua. Tentu saja menggunakan mobilku,” seru Kris dari luar kamar Sehun.
        Tak lama setelah itu, terdengar Sehun memutar anak kunci yang sontak membuat Kris dan Luhan saling menatap cerah. Tatapan Kris mengisyaratkan bahwa ia sudah memperkirakan kejadian ini sebelumnya.
        “Lihat saja nanti,” ujar Sehun dingin, lalu kembali menutup pintu kamarnya. Kali ini sedikit lebih kencang dan tepat di hadapan dua hyungnya.
        Kembali, Kris dan Luhan saling lirik. Namun kali ini dengan tatapan frustasi. Memang tidak ada yang benar-benar bisa mengendalikan Sehun.

@@@

        “Sampai jumpa besok,” seru Chanyeol ceria dan melambaikan tangan pada mobil yang dikendarai Tao bersama Baekhyun.
        “Aku turun di depan saja,” ujar Baekhyun saat mobil sudah jauh meninggalkan rumah Chanyeol.
        “Kenapa?” Tanya Tao bingung. Ia memang berniat mengantar Baekhyun sampai rumah, tapi sepertinya Baekhyun punya pemikiran lain.
        “Aku tak enak padamu.”
        “Tak enak kenapa?” protes Tao yang belum bisa menebak arah pikiran Baekhyun. “Kau teman Chanyeol, dan Chanyeol adalah temanku, jadi kau temanku juga.”
        Baekhyun menghela napas sebelum merespon ucapan Tao. “Kau bisa saja berpura-pura di depan Chanyeol, tapi tidak di depanku.”
        “Apa maksudmu?” desak Tao yang semakin bingung.
        “Tao maaf, aku tak berniat merebut Chanyeol darimu. Aku juga tau sejak tadi kau menahan kesal karena Chanyeol terus saja mengajakku bicara, padahal kau juga ada di sini.”
        “Aku tau bagaimana rasanya ditinggal sahabat. Chanyeol bahkan lebih parah. Ia mengalami itu tidak hanya sekali. Lagi pula, kalian sudah lama tidak bertemu. Sedangkan denganku, hampir setiap saat kami bersama,” jelas Tao diiringi tawanya.
        “Jadi, apa kita sekarang bisa berteman juga?” Baekhyun mengulurkan tangannya ragu-ragu.
        “Tentu saja,” ujar Tao sambil menyambut uluran tangan Baekhyun.

@@@

        Jongin membuka pintu apartmennya dengan malas. Ia masih terbawa suasana kekalahan tadi sore dari timnya Kris. Jongin melempar ranselnya sembarangan lalu dengan santainya menghempaskan badan ke atas sofa.
        “Anak macam apa kau?”
        Jongin yang tersentak sampai tiba-tiba berdiri mendengar teguran dari seseorang karena jelas itu bukan suara ibunya. Meski terkadang ibunya suka marah-marah, tapi tidak akan terdengar sekeras ini suaranya.
        “Ayah?” suara Jongin keluar dengan terbata.
        “Apa ini yang kau lakukan selama tinggal hanya berdua dengan ibumu? Pulang bermain basket langsung bermalas-malasan?”
        Jongin sama sekali tak berani buka mulut. Ia hanya sanggup menunduk. Ada sedikit kebingungan kenapa ayahnya bisa tiba-tiba berada di sana.
        “Ayah sudah, Jongin hampir menangis.”
        Jongin mendongak karena mendengar suara Suho yang juga berada di sana. “Hyung?” Tanya Jongin heran dan tatapannya jelas ia menuntut penjelasan. Apalagi Jongin sama sekali tidak hampir menangis.
        Tanpa sebab yang pasti, Suho sudah memeluk Jongin. “Aku merindukanmu.”
        “Hyung! Lepas!” Jongin berusaha memberontak untuk membebaskan diri dari dekapan Suho. “Kau menjijikkan! Kita bahkan baru bertemu tadi pagi di pemakaman Joonmyun.”
        Kali ini tanpa perlu bersusah payah, Suho sudah melepaskan Jongin dari pelukannya. Ia menatap Jongin kecewa lalu melirik ayahnya. “Ayah, batalkan saja rencananya.”
        “Enak saja!” tuan Kim menolak mentah-mentah permintaan anak sulungnya itu.
        “Ibu, ada apa ini?” karena tadi tak mendapat jawaban dari Suho, kini Jongin menuntut penjelasan dari ibunya yang kini berdiri tepat di samping tuan Kim.
        Suho mengguncang-guncangkan tubuh Jongin penuh semangat. “Keluarga kita akan kembali seperti dulu lagi, Jongin.”
        “Benarkah?” Tanya Jongin untuk memastikan dengan mata berbinar meski ia mengerti arah bicara kakaknya itu. Suho mengangguk lalu membuat Jongin balas memeluknya.
        “Jongin, Lepas!” kali ini giliran Suho yang memberontak.
        “Tidak akan. Lagi pula tadi kau juga memelukku seperti ini,” ujar Jongin terdengar tak mau kalah.
        “Iya, tapi tadi aku lupa jika kau baru pulang bermain basket. Tolong lepaskan, Jongin. Badanmu bau!”
        Akhirnya Jongin mau melepas Suho meski terpaksa. Lalu menatap Suho cemberut, membuat kedua orang tua mereka tak kuasa menahan tawa. Tentu saja mereka sangat merindukan saat-saat hangat seperti ini.

@@@

        Berkali-kali Kris harus membagi konsentrasinya ketika menyetir dan khawatir dengan Sehun yang duduk di sampingnya. Ia memang telah melaksanakan janji untuk membawa Sehun jalan-jalan dengan mobilnya.
        “Sehun, kau masih marah?” tegur Kris berusaha mencairkan suasana. “Sehun, kau jangan diam saja,” desaknya karena Sehun masih bungkam.
        “Hyung, awas!” pekik Sehun mengejutkan hingga membuat Kris menginjak pedal rem secara tiba-tiba.
        Di depan mobil Kris kini sudah berdiri seseorang. Kris dan Sehun buru-buru menghampiri orang tersebut yang ternyata adalah Jongin.
        “Apa kau ingin mati hanya karena kau kalah di pertandingan tadi?” tegur Kris.
        Jongin diam sambil melipat tangannya di depan dada dan menatap Kris tajam. “Permasalahan kita bukan hanya tentang pertandingan basket,” desis Jongin. Ia sedikit menolehkan wajahnya ke samping.
        “Chanyeol? Tao?” gumam Kris yang terkejut karena melihat kedatangan Chanyeol yang berada dalam sanderaan Lay serta Tao yang berada dalam kekuasaan Monseok.
        “Hyung, apa yang kau lakukan? Jika kau masih marah padaku, jangan libatkan mereka!” protes Sehun. Dengan kata lain ia meminta Jongin membebaskan Chanyeol dan Tao.
        Jongin hanya tersenyum sinis dan tak mempedulikan keberadaan Sehun. Hanya dalam hitungan ke tiga, Jongin sudah mulai menyerang Kris. Chanyeol, Tao, Lay dan Minseok juga melakukan hal yang sama seperti yang dulu selalu mereka lakukan. ‘Sparing’.
        “Hyung! Hentikan!” jerit Sehun histeris, tapi ia juga tidak berani melerai siapapun. Karena ‘sparing’ malam ini terlihat sangat brutal dan tak seperti biasanya.
        Pertarungan sudah berlangsung selama beberapa menit. Dan Sehun bahkan sudah sampai terduduk di aspal dan hampir menangis dibuatnya. Ia tidak bisa melakukan apapun. Jalanan sangat sepi. Jika ia menelpon polisi, Kris juga pasti akan terlibat. Sementara Luhan, sama sekali tidak bisa dihubungi.
        Lalu tiba-tiba terjadi sedikit keributan dari balik semak-semak. Kejadian itu juga sampai menyita enam pemuda yang sedang melakukan ‘sparing’.
        “Aww! Semut! Tolong!”
        Sampai akhirnya Kyungsoo muncul dari pinggir lapangan. “Hyung! Tolong aku! Di sini banyak semut,” jeritnya yang tanpa sadar melempar sebuah handycam sembarangan lalu mengusap-usap punggung, tangan sampai kaki dan wajah.
        Minseok segera menghampiri Kyungsoo dan melupakan pertandingannya melawan Tao. “Kau kenapa?” Tanya Minseok cemas.
Jongin dan Kris saling tatap. Seperti ada yang mereka sembunyikan. Sementara Sehun hanya menatap Kyungsoo heran sambil perlahan berjalan ke arah temannya itu.
        “Apa yang kau lakukan di sana?” Tanya Sehun polos lalu tatapannya tertuju pada benda yang kini sudah patah karena terlempar dari tangan Kyungsoo. “Dan kenapa kau membawa benda itu?”
        Ternyata bukan hanya Kyungsoo yang bersembunyi di balik semak-semak ataupun pohon, tetapi ada Luhan, Baekhyun, Suho dan Jongdae. Luhan mendesah kecewa lalu melirik Suho dan mengajaknya keluar dari tempat persembunyian mereka. Jongdae dan Baekhyunpun juga memunculkan diri dan bergabung dengan yang lain. Ke empat pemuda itu masing-masing juga membawa handycam.
        Sehun menoleh ke arah Luhan muncul. “Luhan hyung?” teriaknya lalu berlari menuju tempat Luhan berada. Tatapannya juga menyapu ke arah Suho, Baekhyun dan Jongdae. Terutama benda yang berada dalam genggaman mereka. “Apa yang kalian lakukan? Kenapa kalian membawa handycam seperti itu?” desaknya.
        “Kris, harusnya ini menjadi dokumentasi ‘sparing kita’,” gumam Jongin kecewa.
        “Maaf, hyung. Di sana gelap, aku tidak tahu kalau ada semut,” ujar Kyungsoo yang mendengar ucapan Jongin dan merasa bersalah.
        “Bukan begitu, Kyungsoo. Lagipula tidak hanya kau yang salah.” Buru-buru Jongin meralat ucapannya sebelum Kyungsoo salah perfikir tentang maksudnya tadi. Lalu ia melirik Suho kesal.
        Suho yang menyadari tatapan Jongin, langsung mengusap tengkuknya dan sedikit tertawa untuk menutupi kegugupannya. “Ternyata aku lupa menekan tombol rekam tadi.”
        “Apa kita harus ulang dari awal lagi, Kris?” Tanya Tao meminta pendapat yang langsung di hadiahi tatapan membunuh dari Chanyeol.
        “Apa kau tidak lihat wajah tampanku sudah berubah mengerikan?” protes Chanyeol sambil meringis menahan sakit di sekitar bibirnya.
        “Kenapa tidak bilang jika kalian hanya berpura-pura? Aku tidak akan ketakutan seperti ini,” protes Sehun pada semua orang yang terlibat di sana.
        “Bukankah kau sejak tadi berdiam diri di kamar karena marah padaku? Bagaimana aku bisa memberitaumu?” balas Kris dan sukses membuat Sehun bungkam.
        “Sudahlah, kita lanjutkan lain kali saja,” seru Jongin mengkahiri sekaligus menjadi penengah perdebatan antara Kris dan Sehun.
        Mereka semua berbalik hendak meninggalkan lokasi. Namun ketika baru beberapa langkah, suara deru mesin motor menghentikan dan membuat mereka berbalik. Total ada tiga buah motor sport yang sudah berjejer rapi.
        “Sayang sekali kita terlambat menyaksikan tontonan menarik dari mereka,” seru Doojoon sambil turun dari motor yang dikendarai Dongwoon.
        Sementara itu, Kris dan yang lainnya masih diam di tempat. Kecuali Jongin yang bergeser untuk berdiri di depan Suho. Ia ingin melindungi kakaknya dari kelompok Doojoon.
        “Kenapa kau berdiri di hadapanku?” protes Suho sambil mendorong pelan tubuh Jongin. “Geser sedikit!”
        Sontak saja Jongin melotot jika teringat apa yang Suho alami setahun lalu. “Kau lupa? Saat terakhir bertemu, mereka sampai membuatmu masuk rumah sakit. Apa kau ingin terjadi untuk yang ke dua kali?” pertanyaan Jongin sedikit terkesan mengancam namun sukses membuat Suho diam.
        Kris menyeruak ke depan. Di belakangnya telah bersiap Minseok, Lay, Chanyeol dan Tao, serta Jongin setelah sedikit berdebat dengan Suho.
        “Mau apa lagi kalian?” Tanya Kris mewakili yang lain.
        Doojoon dan yang lain saling melirik meremehkan, kecuali Yoseob. Pemuda itu justru memperhatikan Sehun dan Luhan bergantian sejak mereka tiba.
        Saat Sehun mendekati Kris, Yoseob juga menyeruak dari belakang Junhyung. “Hyung, apa ini termasuk bagian dari scenario?” Tanya Sehun namun suaranya bisa terdengar sampai orang-orang di belakang Kris.
        Jongin dan yang lain saling melempar pandangan khawatir. Cukup menyesal karena hanya Sehun yang tidak tau rencana mereka. Dan kedatangan Doojoon beserta lima anak buahnya benar-benar di luar dugaan.
        Karena pertanyaannya belum di jawab, Sehun menatap satu persatu pemuda yang baru datang tadi. “Hyung maaf, rencana gagal karena Kyungsoo di gigit semut dan Suho hyung lupa merekamnya. Jadi, kita lanjutkan lain waktu saja ya,” ujar Sehun polos yang memang tidak tau apa-apa.
        Kris mengulurkan tangannya namun tak bisa menjangkau Sehun yang kini sudah melangkah mendekati Yoseob karena pemuda itu juga mendekati Sehun. Kini kelompok dari pikah Kris dan Jongin hanya bisa diam mengawasi kelompok Doojoon kalau-kalau mereka menyerang tiba-tiba.
        “Sekali lagi kami minta maaf ya, hyung.”
        Yoseob menatap Sehun bingung. Namun ia semakin mempertegas tatapannya dan merekam tiap lekuk wajah Sehun. “Kalian kembar?” Tanya Yoseob dan salah satu tangannya sudah tegas menunjuk Luhan.
        Sehun berbalik mengikuti arah yang ditunjuk Yoseob. “Oh, maksudnya Luhan hyung?” Sehun mengangguk mengerti lalu kembali menatap Yoseob. “Bukan, dia hyungku dan Kris hyung juga.”
        “Kau adiknya Kris?” seru Yoseob heboh.
        Sehun mengangguk membenarkan.
        Yoseob menatap Sehun dengan mata berbinar. “Aku tidak menyangka Kris punya adik sepertimu, kau imut sekali. Namaku Yoseob. Siapa namamu?” Yoseob seperti bertanya pada anak TK. Ia bahkan sudah mencubit ke dua pipi Sehun karena terlalu gemas.
        “Aku Sehun, hyung. Tapi ku mohon lepaskan. Sakit,” Sehun meringis sambil memegangi pipinya setelah Yoseob tak lagi mencubitnya.
        “Yoseob, lepas!” perintah Junhyung, bahkan tangannya sudah menjangkau rambut Yoseob bagian belakang lalu menariknya.
        “Sakit!” Yoseob tampak meringis sambil memegangi rambutnya yang baru saja mendapat perlakuan kasar dari Junhyung. Saat mengedarkan pandangan, mata Yoseob terhenti pada pemuda tinggi yang berdiri tak jauh dari Minseok. Ia menatap Tao takut-takut. “Hei, panda! Jangan menatapku seperti itu!” teriak Yoseob.
        “Apa kau bilang?” balas Tao dengan teriakan juga. Sebenarnya ia tak berniat mengejar, namun karena Yoseob yang berlari lebih dulu, mau tak mau ia terpaksa mengejar.
        “Hyung! Jangan!” teriak Sehun berusaha menghentikan Tao. Ia juga ikut mengejar Tao yang mengejar Yoseob.
        Adegan kejar-mengejar tiga pemuda tadi menyulut terjadinya ‘sparing’ di antara kelompok Doojoon dengan kelompok Kris yang kini bergabung dengan Jongin. Yoseob, Tao dan Sehun hanya berputar-putar mengelilingi ke-sepuluh pemuda yang sedang adu fisik.
        Sehun masih mengejar dan terus berteriak. “Ku mohon hentikan!”
        Taopun akhirnya berhasi menjangkau tubuh Yoseob. Ia hampir saja menghajarnya kalau Sehun tak muncul tepat waktu dan langsung menahan tangannya.
        “Hyung, cukup!”
        Tao membatalkan niat bukan karena Sehun lebih kuat darinya. Tapi karena nada bicara Sehun yang sangat memohon. Iapun menoleh dan mendapati Sehun yang menatapnya penuh arti.
        Melihat tindakan Sehun yang seperti itu, membuat ke lima pemuda yang tersisa ikut bergerak. Jongdae mengentikan Lay yang siap melancarkan pukulan pada Dongwoon. Kyungsoo menghampiri Minseok yang bertanding melawan Hyunseung. Lalu Baekhyun meghalangi tubuh Gikwang yang siap di hajar oleh Chanyeol. Dan Suho mendorong Jongin dari tubuh Junhyung yang sudah hampir terkapar.
        Sementara Luhan, dia masih memikirkan cara untuk menghentikan adiknya yang masih menyerang Doojoon. “Kris hentikan atau ku buat Sehun kembali marah padamu!” teriak Luhan yang ternyata ampuh membuat perhatian Kris beralih padanya. Lalu Luhan mendapati Doojoon yang sepertinya tak membuang kesempatan untuk memukul Kris. “Kau juga!” bentaknya pada Doojoon. “Aku menghentikan Kris, bukan berarti kini kau bisa memukulnya,” Luhan melanjutkan omelannya.
        “Sampai kapan kalian akan seperti ini?” keluh Sehun kepada semua yang terlibat di sana. “Sudah cukup aku hampir kehilangan Kris hyung. Kini aku tidak mau kehilangan kalian lagi.”
        Kali ini Sehun menatap Kris dan mengunci tubuh kakaknya itu dalam pandangannya. “Bukankah kau dan Jongin hyung sudah berbaikan? Apa dengan Yoseob hyung dan temannya tidak bisa?”
        Yoseobpun ikut menyeruak dan di samping Sehun sambil menatap satu-persatu temannya. “Sehun benar. Meski aku yang paling jarang berkelahi, tapi aku bosan melihat kalian yang berkelahi.” Yoseob menatap Doojoon paling dalam. “Aku hanya ingin merasakan punya banyak teman. Apa itu tidak boleh?” pertanyaan Yoseob terdengar menuntut pada Doojoon.
        “Keluargaku akan kembali utuh. Tapi kebahagiaan itu tidak akan ada artinya jika aku masih memiliki musuh,” ujar Jongin yang kini menjadi pusat perhatian. Terlebih saat ia mengulurkan tangannya untuk membantu Junhyung berdiri dan membuat Suho tersenyum bangga padanya.
        Sehun dan Yoseob saling tatap dan tersenyum lega karena satu-persatu dari mereka yang berkelahi saling membantu untuk bisa berdiri tegak.
        “Kini kau tidak boleh cemburu karena temanku bertambah enam orang,” seru Chanyeol heboh yang kini sudah merangkul Gikwang.
        “Apa kau pikir aku akan merasa kehilanganmu?” balas Baekhyun dan sukses membuat senyum kemenangan Chanyeol memudar. Ia menatap berkeliling seperti mencari sesuatu. “Kini aku memiliki mereka,” ujar Baekhyun bangga sambil merangkul singkat beberapa orang yang paling dekat dengan jangkauannya. Sebut saja Minseok, Hyunseung, Dongwoon, Lay dan Jongin. Lalu terakhir ia sengaja menghampiri Sehun yang berdiri cukup jauh. “Dan aku seperti memiliki adik,” lanjutnya.
        Yoseob yang juga berdiri di samping Sehun tak mau kalah ikut merangkul adik bungsu dari Kris dan Luhan itu. “Sehun juga adikku.”
        “Aku juga sudah menganggap Sehun seperti adikku sendiri!” heboh Jongin yang tiba-tiba menarik Sehun ke dalam pelukannya.
        Kris sudah hampir membuka mulut, namun Luhan lebih dulu memotongnya. “Apa kau akan melakukan hal yang sama?”
        “Tapi Sehun memang benar adikku!” seru Kris tak mau kalah membuat semua orang di sana tertawa sambil saling merangkul satu sama lain.
        “Kalau begitu, Kyungsoo saja yang menjadi adikku,” ujar Luhan yang kini sudah hampir menarik Kyungsoo namun Minseok sebagai kakak kandungnya Kyungsoo lebih dulu menghalangi Luhan.
        “Kita semua adikmu ya, hyung,” seru Sehun yang kini sudah merangkul Luhan. Ia seperti tak ingin membiarkan Luhan sedetik saja melupakannya.
        Tiba-tiba suasana kembali ricuh. Kali ini karena mereka juga ingin menganggap Luhan sebagai kakak mereka. “Aku seperti laki-laki tua yang memiliki banyak adik!” gumam Luhan yang kini tenggelam di tengah-tengah 11 pemuda yang mengepungnya dalam pelukan, termasuk juga Yoseob di antara mereka. Tersisa Kris, Doojoon, Gikwang, Junhyung, Dongwoon dan Hyunseung.
        “Apa kau tak ingin memeluknya juga?” Tanya Dongwoon jahil.
        “Aku sudah terlalu sering memeluk Luhan,” seru Kris sombong dan itu justru membuat Doojoon yang dengan jahilnya mengajak ke empat temannya yang tersisa untuk memeluk Kris seperti yang diterima Luhan. “Lepaskan!” jerit Kris memberontak. Dan akhirnya Kris menjadi bahan tertawaan semua orang yang tadi memeluk Luhan.

@_E_N_D_@


Kamis, 30 Mei 2013

KRIS WITHOUT WINGS (part 18)


        Luhan dan Baekhyun duduk di lantai toilet. Luhan menghela napas berat sebelum menjawab pertanyaan Baekhyun, “sejak kecil.”
        Baekhyun diam. Ia masih berusaha untuk menerima kenyataan ini.
        “Entah atas alasan apa, keluarga memang merahasiakan ini. Terutama dari Sehun.” Luhan diam sesaat. “Sampai akhirnya, Sehun tahu dengan sendirinya tentang penyakit ini,” sesal Luhan karena sempat membuat adik bungsunya itu sedih.
        Hening kembali menguasai mereka. Dari balik pintu yang tak tertutup rapat, Baekhyun dan Luhan tak menyadari sosok Chanyeol yang mengawasi mereka sejak tadi.
        “Baekhyun…” panggil Luhan.
        “Hmm…” hanya itu yang dikatakan Baekhyun sebagai respon untuk panggilan Luhan.
        Namun tak ada yang dikatakan Luhan setelah itu.
        Obat Kris masih berada di tangan Baekhyun. Sementara tangannya yang lainnya tanpa sadar mencengkram dada kirinya yang kembali terasa sakit. Baekhyun sudah hampir membuka tutup tabung itu namun Luhan sudah lebih dulu menahannya.
        “Kau pikir itu vitamin?” omel Luhan karena Baekhyun seenaknya meminum obat milik orang lain.
        Baekhyun menggeleng lemah. “Aku ingin kuat di hadapan Kris. Semangatnya telah memberikan kekuatan tersendiri untukku.” Baekhyun tersenyum, namun senyuman itu sangat sulit di artikan oleh Luhan. “Meski kami sama-sama pernah meninggalkan sahabat terbaik kami di masa lalu, sama-sama memiliki penyakit yang sama,” Baekhyun sudah membuka mulut untuk melanjutkan kata-katanya, namun Luhan sudah lebih dulu memotongnya.
        “Apa maksudmu penyakit yang sama?” desak Luhan bingung.
        Lagi-lagi Baekhyun kembali tersenyum, kali ini ia juga sudah memasukkan satu butir obat lagi ke dalam mulutnya lalu bergegas berdiri untuk mencari air agar bisa mendorong obat itu masuk ke dalam kerongkongannya. Meski dengan terpaksa ia meminum air keran.
        Chanyeol membeku di tempatnya. Tanpa sadar tangan Chanyeol melepaskan pegangan pintu hingga membuat pintu tersebut bergeser dan membongkar tempat persembunyiannya.
        “Kau?” seru Luhan. “Sejak kapan…”
        Chanyeol mendongak, tatapannya langsung tertancap lurus ke arah Baekhyun hingga membuat pemuda itu membeku. Perlahan Chanyeolpun melangkahkan kakinya ke dalam. Ia sama sekali tak memalingkan tatapannya dari sosok Baekhyun.
        “Byun Baekhyun?” seru Chanyeol perlahan.
        Perlahan mata sipit Baekhyun melebar. “Jadi, benar kau Park Chanyeol?”
        Chanyeol tidak menjawab dengan kata-kata. Ia hanya menarik tubuh Baekhyun yang lebih pendek darinya itu ke dalam pelukannya. “Kemana saja kau selama ini! Apa kau bekerja sama dengan Kris untuk menjauhiku? Kau pikir kalian sukses menjalankan rencana itu?”
        Baekhyun siap membuka mulut, namun tampaknya Chanyeol sama sekali tak memberikannya kesempatan bicara.
        “Apa?” Tanya Chanyeol sambil menjauhkan tubuh Baekhyun. “Mau membela diri? Atau mau membela Kris?”
        Tak lama pintu kembali di buka dengan kasar dan memunculkan Tao di sana. “Hyung! Kris!” hanya itu yang kata-kata yang keluar dari mulut Tao namun itu telah mewakili semuanya.

@@@

        Mereka, Luhan, Chanyeol, Baekhyun dan Tao masuk ke dalam ruangan tempat Kris berada. Di sana telah menunggu Jongdae dan Kyungsoo. Mereka hanya diam berdiri. Dan Sehun, ia sudah berdiri di hadapan Kris dan menatap nanar tubuh lemah Kris yang berbaring dengan mata terpejam. Di sisi ranjang Kris yang lain, Joongki juga berdiri dalam diam.
        Luhan melangkah perlahan. Matanyapun mulai berkaca-kaca. Sedetik kemudian, Luhan langsung melesat mendekati Kris. Ia bahkan sampai mendorong tubuh Joongkin untuk menyingkir. Dan di saat yang bersamaan, mesin pendeteksi detak jantung hanya memunculkan sebuah garis lurus dan menghasilkan sebuah bunyi nyaring.
        “Hyung!” teriak Sehun histeris dan mulai mengguncang-guncangkan tubuh Kris. Memaksa pemuda itu untuk bangun. “Hyung bangun! Kau tidak boleh tidur! Kau belum mengajakku pergi menggunakan mobilmu! Kita juga belum menyelesaikan game IRIS kita! Kau tidak boleh melanggar janjimu, hyung! Atau aku juga akan…” Sehun berhenti bicara. Ia memegangi dadanya yang sesak. Sementara Chanyeol dan Kyungsoo sudah sejak tadi berusaha menenangkannya.
        Sementara Luhan, tubuhnya membeku, tangannya menjuntai lemah ke bawah. Bahkan ia sudah tak sanggup menahan air matanya.
        “Luhan, yang sabar,” bisik Joongki menenangkan Luhan, di bantu Tao yang telah merangkul Luhan meski ia juga menangis.
        Luhan tetap diam. Tatapannya tertancap lurus ke wajah Kris yang pucat dan penuh dengan luka. Ia hanya ingin berusaha tegar menghadapi kenyataan ini. Tapi Luhan juga tak bisa berkata apa-apa lagi saat Sehun di paksa keluar oleh Kyungsoo dan Chanyeol.
        “Aku mau di samping Kris hyung!” jerit Sehun meronta-ronta sampai akhirnya Taopun ikut turun tangan membantu Chanyeol dan Kyungsoo.
        Posisi Tao di gantikan Jongdae yang kini sudah di samping Luhan. Isakan Luhan semakin terdengar kala jeritan Sehun di luar masih terdengar hingga dalam membuat Jongdae berinisiatif untuk memeluknya. Dan saat itu, tatapan Jongdae jatuh ke bawah kaki Luhan.

@@@

        Suho memaksa untuk di antarkan ke kamar Kris, namun ia menolak jika Jongin yang mendorong kursi rodanya. Akhirnya, Minseoklah yang bersedia mendorong kursi roda Suho menuju kamar Kris. Sementara Lay menemani Jongin berjalan di belakang Minseok dan Suho. Terlihat jelas raut wajah Jongin sangat terpukul karena di benci oleh kakaknya sendiri. Orang kedua yang sangat berharga dalam hidupnya setelah sang ibu.
        “Kris Hyung…!”
Langkah mereka berhenti ketika mendengar jeritan suara Sehun. Tak jauh dari sana, memang tampak tubuh Sehun yang sudah terkepung tiga orang sekaligus.
Sontak Jongin melirik Suho yang menatap pemandangan itu lurus-lurus. Hatinya semakin sakit ketika melihat air mata Suho mulai mengalir. Penyesalan dan rasa bersalah itu semakin menguasai dirinya.
Akhirnya Sehun berhenti berteriak tapi ia masih menangis sejdi-jadinya. Sehun juga sudah tak memberontak. Ia diam lalu dengan lemahnya meluruh di lantai sampai akhirnya Baekhyun muncul dari dalam kamar Kris.
        Tatapan Baekhyun kosong. Obat milik Kris juga masih berada di genggamannya. Kembali, Baekhyun memegangi dada kirinya. Entah udah untuk yang ke berapa kali hal ini terjadi. Baekhyun semakin kencang memegangi dada dan tabung obat itu bersamaan. Sampai akhirnya ia jatuh berlutut masih dengan tatapan kosong.
        “Baekhyun!” jerit Chanyeol yang kini sudah melesat ke samping Baekhyun. “Baekhyun kau kenapa?” Tanya Chanyeol sambil mengguncang-guncangkan tubuh Baekhyun namun pemuda itu sama sekali tak menjawab. “Baekhyun jawab!” paksa Chanyeol lalu akhirnya Baekhyun menoleh dan hanya menunjukkan senyumannya, kemudian Baekhyun menghempaskan tubuhnya ke arah Chanyeol hingga tak sadarkan diri di sana.

@@@

1 tahun kemudian…
        Suho berjalan di tengah sebuah pemakaman umum. Ia sedikit terkejut ketika mendapati seseorang yang sudah berdiri di hadapan makam yang memang ia tuju saat itu. Tanpa mengurangi niat, Suho semakin mempercepat langkahnya ketika menyadari siapa yang berdiri di sana.
        “Kau? Untuk apa lagi kau di sini?” Tanya Suho ketus.
        Pemuda itu berbalik dengan tatapan kecewa. “Hyung! Apa hyung pikir aku sudah benar-benar tidak memiliki hati?” balas Jongin. Ia tak melepaskan kacamata hitam yang menghiasi wajahnya. “Dia!” Jongin menunjuk sebuah nisan dengan nama ‘Kim Joonmyun’. “Dia kembaranku sendiri! Jika aku tahu Kris juga menderita penyakit yang sama dengan kembaranku, aku tidak akan pernah melakukan itu pada Kris. Aku tidak akan membiarkan ada Joonmyun ke dua di dunia ini.”
        Suho diam. Tatapannya tertancap lurus pada makam di hadapannya. Makam seseorang yang cukup berharga di hidupnya seperti Jongin. Suho memang memiliki adik kembar. Jongin dan Joonmyun. Kepergian Joonmyunlah yang dijadikan alasan ayahnya untuk menceraikan ibunya. Karena penyesalan itulah, membuat Suho tak bisa melakukan apapun untuk mempertahankan Jongin saat itu. Dan kini ia menyesal. Satu-satunya adik yang ia miliki saat ini justru ia benci dengan alasan yang tidak jelas. Karena Kris. Bukan salah Jongin karena memang tidak ada yang tahu jika Kris menderita penyakit tersebut.
        “Jongin, aku…” Suho menoleh, namun ternyata Jongin sudah berjalan jauh meninggalkannya. Suhopun segera menyusul adiknya. Ia memaksa tubuh Jongin untuk berbalik lalu memeluknya. “Maafkan aku. Aku memang tidak bisa menjadi kakak yang baik untukmu,” sesal Suho.
        Jongin melepas pelukan Suho untuk melihat mata kakaknya. “Hyung, aku benar-benar tidak tahu jika Kris…” ucapan Jongin terputus karena Suho telah menarik kembali dirinya ke dalam pelukan.
        “Aku tahu. Maafkan aku. Aku hanya terpukul. Karena, Kris adalah orang yang berhasil membuatku membuka diri untuk orang lain.”

@@@

        Luhan menaiki anak tangga menuju kamar Sehun. Ia ingin mengajak adiknya makan siang bersama. Ketika sampai, perhatian Luhan justru tertuju pada kamar Kris yang pintunya sedikit terbuka. Luhan mengintip dan menatap khawatir seseorang di dalamnya. Di dalam kamar Kris sudah ada Sehun yang sedang duduk manis di hadapan laptop Kris yang memutarkan slide foto-foto mereka bertiga.
        Luhan melangkah masuk secara diam-diam. Sehun masih asik menertawai foto-foto konyol mereka tanpa menyadari kehadiran Luhan di belakangnya.
        “Apa yang kau lakukan?” tegur Luhan pelan.
        Sehun yang terkejut, langsung menoleh ke belakang. “Kau mengagetkanku, hyung!” protes Sehun lalu kembali menatap laptop membuat Luhan ikut tersenyum ketika layar laptop menampilkan foto Kris yang tertidur dengan banyak karet mengikat rambutnya di beberapa bagian.
        Kris memang sulit dibangunkan jika sudah tertidur. Kejahilan Sehunpun menghasilkan kenangan seperti itu. Dan mereka mengancam akan marah pada Kris jika berani menghapus foto tersebut.
        “Aku sangat merindukan Kris hyung,” ujar Sehun lirih.
        “Aku juga,” kata Luhan menyetujui lalu ia melirik Sehun ngeri karena adiknya itu senyum-senyum sendiri padalah layar laptop sudah selesai menampilkan slide foto mereka. “Kau kenapa?” tegur Luhan takut-takut terjadi sesuatu pada adiknya.
        Sehun masih tersenyum lalu melirik Luhan. “Aku hanya teringat hal konyol yang dilakukan Joongki hyung. Dia seorang dokter, tapi sangat ceroboh.”

*Flash back*
Luhan melangkah perlahan. Matanyapun mulai berkaca-kaca. Sedetik kemudian, Luhan langsung melesat mendekati Kris. Ia bahkan sampai mendorong tubuh Joongki untuk menyingkir. Dan di saat yang bersamaan, mesin pendeteksi detak jantung hanya memunculkan sebuah garis lurus dan menghasilkan sebuah bunyi nyaring.
“Aku mau di samping Kris hyung!” jerit Sehun meronta-ronta sampai akhirnya Taopun ikut turun tangan membantu Chanyeol dan Kyungsoo.
        Posisi Tao di gantikan Jongdae yang kini sudah di samping Luhan. Isakan Luhan semakin terdengar kala jeritan Sehun di luar masih terdengar hingga dalam membuat Jongdae berinisiatif untuk memeluknya. Dan saat itu, tatapan Jongdae jatuh ke bawah kaki Luhan.
Ada sebuah kabel mencurigakan. Jongdae memungut benda itu lalu dengan polosnya bertanya pada Joongki, “ini kabel untuk apa?”
Selain Kris, di ruangan itu hanya menyisakan Luhan, Jongdae, Joongki dan Baekhyun. Saat Luhan, Jongdae dan Joongki sibuk dengan kabel tersebut, tangan Kris perlahan bergerak. Dan orang pertama yang menyadari kejadian itu hanyalah Baekhyun.
“Kris!” pekik Baekhyun yang langsung membuat tiga orang tadi menoleh.
“Hwaaa!!!” jerit Luhan yang sontak memeluk Jongdae. “Kenapa kau hidup lagi?”
Baekhyun mengibas-ngibaskan tangannya ke arah Luhan. Ia seperti ingin menyampaikan sesuatu. “Bukan, hyung!” lalu Baekhyun melirik Joongki yang kini menatap Kris tanpa kedip membuat Baekhyun mengacak rambutnya, frustasi. “Hyung, sepertinya kabel itu terlepas kerena tersangkut kakimu saat Luhan hyung tak sadar mendorongmu tadi.”
“Kenapa tidak bilang dari tadi jika kau melihat itu?”
“Karena alat itu langsung berbunyi, aku panic hyung,” seru Baekhyun membela diri.
Luhan berbalik perlahan. “Jadi, sebenarnya Kris…”
“Apa kau pikir aku sudah mati, hyung!” protes Kris dengan suara lemah.
Wajah Luhan berubah cerah. “Kris…” serunya seraya memeluk Kris.
“Hyung! Lepas! Sakit!” rintih Kris.
Joongki, Baekhyun dan Jongdae berusaha menyelamatkan Kris dari serangan Luhan.
“Kau!” pekik Luhan ke arah Baekhyun. “Cepat kasih tahu Sehun,” perintahnya. Sebagai gantinya karena ia tidak bisa memeluk Kris, Luhanpun memeluk Jongdae dan Joongki sambil melompat-lompat penuh semangat. Seperti telah memenangkan sebuah pertandingan besar.
*flashback end*

@@@

        “Chanyeol… Shoot!” teriak Jongkook sedikit memerintah karena posisi Chanyeol saat ini hanya sendiri dan sedikit bebas. Hanya tinggal selangkah lagi ketika anak asuhannya itu menembakkan bola ke arah ring. Dan… “Akh!” pekiknya kecewa karena Chanyeol gagal menambah poin untuk tim-nya yang kini sudah tertinggal angka dari klub ‘Red Stone’, tempat Jongin bergabung.
        “Ternyata aku lebih cepat lima menit dari biasanya.”
        Joongki sampai menghentikan aktifitasnya menenggak air minum ketika mendengar suara seseorang yang sudah sangat asing, namun juga telah lama tak ia dengar. Di saat yang bersamaan, Jongkook meminta time out dari wasit.
        “Kris!” jerit Chanyeol heboh dan kini sudah berlarian ke pinggir lapangan.
        Cepat-cepat Joongki menoleh. Benar saja. Matanya terbelalak saat mendapati seorang pemuda tinggi yang kini sudah terjerat dalam pelukan Chanyeol.
        Joongki melangkah mendekat, dan menatap Kris dari atas hingga bawah lalu ke atas lagi. Setelah itu Chanyeol melepaskan pelukannya terhadap Kris karena kini beberapa pemain dari tim ‘running boy’ sudah mengelilingi Kris, termasuk Jongkook sang pelatih.
        “Apa-apaan kau!” protes Joongki karena Kris kini sudah mengenakan seragam basket mereka, lengkap. Merasa tak di tanggapi, Joongki melirik Baekhyun yang datang bersama Kris. Bahkan di samping Baekhyun ada dua koper besar dan di punggungnya juga ada sebuah ransel yang cukup besar.
        “Ku rasa kesembuhan membuat Kris sedikit kehilangan akal sehat,” sahut Baekhyun asal membuat Joongki hanya mampu menghela napas berat.

@@@

        “Apa!”
        Brak!!! Luhan menggebrak meja hingga membuat Sehun terkejut.
        “Uhuk… uhuk…” Sehun sibuk menepuk-nempuk dadanya seranya mencari gelas yang masih terisi air. Bahkan ia tak peduli jika gelas yang disambarnya adalah milik Luhan.
        “Kau yakin?” Tanya Luhan untuk memastikan kebenaran apa yang ia dengar dari seseorang melalui telpon. Luhan yang kesal, meletakkan ponselnya ke sembarang tempat. “Benar-benar anak itu!”
        “Hyung, mau ke mana?” protes Sehun saat Luhan sudah bangkit dan melesat menuju kamarnya.
        Beberapa saat kemudian, Luhan kembali ke ruang makan. Ia melemparkan sebuah jaket dan mendarat tepat di atas kepala Sehun yang saat itu tengah kembali menikmati makanannya.
        “Hyung!” protes Sehun sambil menyingkirkan jaket yang menutupi wajahnya.
        Luhan tak terlalu ambil pusing dengan reaksi Sehun. Ia menenggak minumannya hingga habis lalu melirik Sehun. “Kris ada di lapangan basket. Kita harus segera ke sana.”
        “Hah?” Sehun menatap Luhan, terkejut. Sedetik kemudian ia baru menyadari bahwa hari ini jadwal Kris pulang ke Korea setelah menjalani perawatan di rumah sakit Jerman bersama Baekhyun. “Astaga, dasar Kris hyung!” keluhnya. Tak lama kemudian Sehun panic karena Luhan sudah tidak berada di sana. “Hyung!” pekik Sehun yang langsung melesat menyusul Luhan.

@@@

        Sehun dan Luhan sampai berlarian memasuki gedung lapangan basket untuk segera memastikan berita dari Minseok tadi. Begitu sampai, ternyata pertandingan baru saja selesai.
        Sehun terbelalak melihat pemandangan di hadapannya. “Itu hyungku?” gumamnya tak percaya pada sosok di tengah lapangan yang kini tubuhnya sedang di angkat tinggi-tinggi oleh beberapa orang. Tim ‘running boy’ layak melakukan selebrasi kemenangan mereka.
        Beberapa saat kemudian, kericuhan di lapangan sudah sedikit memudar. Karena ini adalah pertandingan final, pembagian hadiah dilakasanakan hari itu juga.
        Luhan mengabari Minseok, Lay dan Jongdae tentang posisinya saat itu. Tak lama, Baekhyun muncul, dan Sehun justru yang lebih dulu menghampirinya. Padahal Baekhyun sudah berniat menemui Luhan dan Sehun.
        “Hyung, kenapa tidak langsung pulang?” desak Sehun.
        “Apa kau pikir aku tidak berusaha memaksa Kris untuk pulang dulu?” balas Baekhyun seolah tak terima dengan perlakuan Sehun. Ia bahkan tetap berjalan ke arah Luhan yang sudah berada bersama Minseok, Jongdae dan Lay.

@@@


Rabu, 08 Mei 2013

KRIS WITHOUT WINGS (part 17)



        “Ternyata kau kakaknya Jongin!” pekik Chanyeol kesal setelah mendengar cerita dari Suho. Tao, Sehun dan Luhan bahkan harus bekerja sama untuk menenangkan pemuda tinggi itu.
        “Chanyeol! Tahan dirimu!” teriak Luhan memperingatkan.
        Di sisi lain, Baekhyun membeku dan tatapannya tak lepas dari Chanyeol saat Luhan menyebut nama pemuda yang sedang emosional itu. Bahkan ketika Chanyeol menyadari tatapannya, Baekhyun sama sekali tak ingin berpaling dari sosok yang memiliki nama sama dengan seseorang yang sangat ia rindukan. Sahabat masa kecilnya, Chanyeol.
        Tampaknya Suho sudah tak mempedulikan makian dari Chanyeol tadi. “Di mana biasanya kalian berkelahi?” pertanyaan Suho tertuju pada Chanyeol dan Tao.
        Mereka—Chanyeol dan Tao—saling melempar pandang. “Tidak mungkin Jongin membawa Kris ke lapangan itu,” tebak Tao dan hanya mengajak Chanyeol untuk berdiskusi.
        “Hyung, ku mohon. Cepat temukan kakakku,” rengek Sehun sambil bergantian mengguncangkan lengan dua pemuda tinggi itu.
        Baik Tao ataupun Chanyeol seperti tak mendengar rengekan Sehun. Mereka masih sibuk dengan pikiran masing-masing. “Apa mungkin…” Chanyeol tak melanjutkan ucapannya karena Sehun kembali mengganggu pikirannya dengan menarik-narik ujung lengan jaket yang dikenakan Chanyeol.
        “Sehun! Tak bisakah kau tenang sedikit?” bentakan Luhan sukses membuat Sehun bungkam.
        Chanyeol menatap Tao cerah. “Kau ingat tempat saat aku diculik oleh gangster dari SMA Sun Moon tiga tahun lalu?”
        “Iya,” pekik Tao karena sepertinya ia memiliki pikiran yang sama dengan Chanyeol. “Bukankah karena kau mengganggu kekasihnya Minseok?” Chanyeol mengangguk membenarkan pertanyaan Tao.
        “Sejak kapan Minseok hyung memiliki kekasih?” sambar Kyungsoo.
        Tao melirik Kyungsoo kesal. “Mana kami tahu,” ujarnya ketus.
        Kesabaran Sehun semakin hilang. Di tambah lagi rapat dadakan antara Chanyeol dan Tao yang tak kunjung membuahkan hasil.
“Hyung!” pekik Sehun seperti mengingatkan. “Di mana tempat itu?” desaknya yang sudah sangat tidak sabar.
        “Rumah kosong,” seru Tao dan Chanyeol hampir bersamaan.
        “Cepat kita ke sana!” perintah Sehun sambil menarik paksa tangan dua orang yang paling dekat dengan jangkauannya, Luhan dan Tao. Sementara yang lain segera menyusul setelah itu.
        “Baekhyun,” panggil Suho untuk menghentikan langkah Baekhyun. Namun bukan hanya Baehyun yang berhenti, Chanyeolpun melakukan hal yang sama. Hanya saja Chanyeol tak berbalik dan tetap berdiri di ambang pintu membelakangi Suho dan Baekhyun.
        “Biarkan aku ikut,” pinta Suho dengan amat sangat memohon.
        “Kau mau cari mati, hah!” desis Baekhyun tajam. Dengan terang-terangan ia tak mengijinkan Suho untuk ikut.
        “Tapi…” Suho tak melanjutkan ucapannya karena Baekhyun sudah lebih dulu kembali meninggalkannya.
        Baekhyun melirik Chanyeol sekilas karena pemuda itu masih berdiri di ambang pintu kamar rawat Suho. “Ayo…” ajak Baekhyun sambil menggerakkan kepalanya ke arah luar.
        “Baekhyun, tunggu!” teriak Suho berusaha menghentikan Baekhyun, namun pemuda itu seakan tak mendengar dan terus saja berjalan menjauh.

@@@

        Jongin menarik kerah pakaian Kris dan membawa pemuda itu hingga membentur tembok. “Aku sudah menahan diri untuk melakukan ini padamu. Tapi kenapa justru kau yang membuat masalah!” bentak Jongin tepat di depan wajah Kris, namun pemuda itu hanya membalasnya dengan senyuman.
        “Jongin!” panggil Minseok yang muncul tergesa-gesa ke arah Jongin. Laypun yang awalnya hanya duduk di kursi, ikut bergabung dengan Jongin dan Minseok, serta Kris tentunya.
        “Aku baru melihat ponselku,” lapor Minseok yang langsung di tatap bingung oleh Lay.
        “Kenapa begitu saja kau harus mengadukan pada kami?” protes Lay.
        “Dengar dulu,” balas Minseok. “Yoseob menelponku beberapa kali, dan ia juga mengirimiku pesan,” lanjut Minseok yang belum sempat ia katakan tadi.
        Jongin menyambar ponsel milik Minseok dan menatap layarnya yang menampilkan sebuah pesan dari Yoseob. Di mana kau? Ayo kita sparing lagi. Di sini sudah ada Kris dan temannya.
        “Apa maksudnya itu?” heran Lay yang tadi sempat ikut membaca pesan tersebut.
        “Tentu saja ini jebakan. Mereka pasti bekerja sama untuk memancing kita. Dan Suho dijadikan umpan utama oleh mereka,” seru Jongin.
        Di tempatnya, Kris berdecak, sedikit terkesan meremehkan. “Ternyata hanya itu kesimpulan kalian?” sindirnya.
        “Apa kau bilang?” bentak Jongin yang sudah menyiratkan tatapan kebencian di matanya.
        Kris menghindari tatapan itu. Ia masih bisa bersikap santai seolah tak akan terjadi apa-apa dan seolah Jongin tidak akan menghabisinya setelah ini. Namun ketenangan itu hanya bertahan sesaat. Rahang Kris mengeras. Bukan karena ia menahan emosinya agar tidak tersulut, melainkan menahan rasa sakit di dadanya yang kembali muncul.
        Jongin yang kesal karena ucapannya sama sekali tak di tanggapi oleh Kris, dengan kasar kembali meraih kerah baju pemuda yang lebih tinggi darinya itu. Meski demikian, tak ada sedikitpun rasa takut menghantuinya.
        “Kau! Harus merasakan apa yang dialami hyungku!” Jongin kembali membentak Kris sambil melayangkan sebuah pukulan di wajah Kris.
        Kini giliran Minseok yang menarik kerah baju Kris dan menariknya untuk berdiri, karena tadi Kris terpuruk tepat di kakinya. Minseok juga melakukan hal yang sama seperti Jongin, ia memberikan pukulan tepat di wajah Kris hingga meninggalkan sebuah luka memar di sana.
        Lay tak membuang kesempatan untuk ikut ambil bagian. Ia juga menarik kerah pakaian Kris, dan pemuda itu hanya pasrah mengikuti apa kemauan Lay.
Kris hanya tersenyum pahit di balik luka-luka yang telah penuh menghiasi wajahnya. Tangan Kris meraih salah satu resleting ransel yang masih menggantung di punggungnya. Sakit di dadanya semakin mendominasi, tapi Kris sama sekali tak menunjukkan itu di hadapan Jongin, Minseok dan Lay.
        “Kalian akan menyesal telah melakukan ini padaku,” seru Kris yang masih diiringi senyumannya, ia sama sekali tak terpengaruh saat Lay sudah mengangkat tinjunya ke atas.
        Lay menatap senyuman Kris. Ia sama sekali belum mengayunkan tangannya. Bahkan tidak bergerak sedikitpun.
        Jongin yang sudah sangat tidak sabar, mendorong tubuh Lay untuk menyingkir dari hadapan Kris karena ia yang kini mengambil alih posisi Lay sebelumnya. Bahkan ketika Jongin yang berhadapan dengannya, Kris masih mempertahankan senyumannya itu.
        Kini Jongin sudah mengangkat kepalan tangannya, namun belum sempat ia mengayunkan tangan, pintu rumah dibuka dengan paksa dari luar.
        “Kris hyung!” jerit Sehun histeris melihat posisi Kris berada dalam cengkraman Jongin, bahkan tinggal selangkah lagi Jongin akan mendaratkan pukulan di wajah Kris.
        “Sehun!” gumam Kris nyaris tanpa suara. Tabung obat yang sudah dalam genggamannya terlepas begitu saja hingga jatuh membentur lantai, tutupnya terbuka dan beberapa butir obatnya berceceran keluar dari tabungnya.
        Dibelakang Sehun, Luhan dan yang lainnya juga menatap tak percaya dengan apa yang terjadi saat itu. Bahkan kondisi Kris lebih parah dari pada terakhir kali Chanyeol dan Tao temui di jalanan saat berkelahi dengan Doojoon bersama lima anak buahnya.
        Kris tersenyum ke arah Sehun sebelum akhirnya hilang kesadaran.
        “Hyung!” jerit Sehun lebih histeris dari yang sebelumnya. Sehun langsung berhamburan mendekati Kris, ia bahkan sampai mendorong Jongin untuk menjauhi Kris.
        “Kris!” seru Luhan tak kalah histerisnya dan langsung berjongkok di hadapan Sehun yang sudah memangku kepala Kris.
        Chanyeol yang tersulut emosinya, tanpa pikir panjang mendaratkan sebuah pukulan untuk Lay. Begitu pula yang dilakukan Tao pada Minseok.
        “Hyung! Kalian bisa selesaikan nanti,” Kyungsoo yang dengan berani melerai Minseok dan Tao. Jongdae juga melakukan hal yang sama pada Chanyeol dan Lay.
        Sementara itu, Baekhyun perlahan mendekati Luhan. Fokusnya saat itu adalah butiran obat yang berceceran tak jauh dari kaki Luhan. Ia memungutnya satu lalu mendekatkan pada hidungnya. Mencerna aroma yang menguar dari butir obat putih di tangannya. Baekhyun membeku saat mengetahui obat apa yang berada di tangannya itu.
        “Jadi selama ini Kris…” Baekhyun tak sanggup melanjutkan kata-katanya. ‘Pantas saja Kris mendesakku untuk bercerita tentang penyakit ini’, sesal Baekhyun yang baru menyadari semua ini sekarang.
        “Hyung, bangun!” jerit Sehun sambil mengguncangkan tubuh Kris. Sesekali ia memeluknya sambil menangis.
        Jongin menatap Kris penuh rasa bersalah. Ia memberanikan diri untuk mendekati Sehun. Ia menyentuh pelan pundak pemuda itu yang berguncang. Di sampingnya, Luhan juga sudah menangis.
        “Mau apa lagi kau, hyung!” bentak Sehun saat menyadari apa yang dilakukan Jongin padanya.
        “Bawa Kris ke rumah sakit,” ujar Jongin terbata.
        Sehun menepiskan tangan Jongin dengan kasar dari atas pundaknya. “Tak usah mengajariku!”
        Jongin menatap nanar tangannya yang ditepiskan Sehun. Hatinya sakit mendapati perlakuan seperti itu. Terlebih dari seorang Sehun yang sudah ia anggap seperti adiknya sendiri. Sejak ia berpisah dengan Suho, Sehunlah yang ia jadikan sebagai teman pengganti Suho. Meski nyatanya, Sehun adalah seorang adik dari seseorang yang menjadi musuh bersarnya. Bahkan orang itu yang membuat Suho berbaring di rumah sakit. Setidaknya itu yang ada dipikiran Jongin, bukan kejadian yang sebenarnya.
        Chanyeol memaksa diri untuk sedikit melupakan urusannya dengan Lay, begitu juga Tao. Mereka berlutut di antara Sehun dan Luhan. Bahkan Tao sudah tidak bisa menahan air matanya. Chanyeol hendak mengambil alih Kris dari tangan Sehun, tapi pemuda itu menolaknya.
        “Jangan pisahkan aku dengan Kris hyung!” jerit Sehun tanpa melihat siapa orang yang ia perlakukan seperti itu.
        “Aku bukan ingin merebut Kris, tapi kita harus membawa Kris ke rumah sakit,” jelas Chanyeol dengan nada lembut, berusaha memberi Sehun pengertian bahwa ia tidak akan menyakiti Kris seperti apa yang ditakutkannya.
        Kini Luhan sudah berada di belakang Sehun, ia merangkul adiknya sedangkan Chanyeol dan Tao berusaha untuk mengangkat tubuh Kris. Mereka di bantu oleh Kyungsoo dan Jongdae.

@@@

        Selama Kris di bawa ke ruangan, Sehun tak pernah melepaskan genggamannya dari Kris. Sampai akhirnya, Kris di bawa masuk ke dalam ruangan guna mendapat tindakan.
        “Maaf, anda tidak boleh masuk,” seru seorang suster menghalangi tubuh Sehun.
        “Aku tidak akan meninggalkan hyungku!” jerit Sehun bersikeras untuk tetap di samping Kris, namun Luhan sekuat tenaga menahannya agar tetap di luar.
        “Sehun!” bentak Luhan.
        “Kris hyung!” jerit Sehun masih tetap menyebut nama Kris.
        “Kau ingin Kris baik-baik saja, kan! Bersikaplah dewasa. Ia akan kecewa jika kau seperti ini!” seru Luhan berusaha memberi pengertian.
        “Aku tidak ingin kehilangan Kris hyung,” gumam Sehun sesegukan. Ia tidak bisa berhenti menangis.
        “Kris tidak akan meninggalkanmu. Kau harus percaya itu,” ujar Chanyeol lembut berusaha membantu Luhan untuk menenangkan Sehun. Matanya juga telah basah karena air mata.
        “Ayah!” seru Tao saat melihat dokter Jaesuk muncul bersama Joongki.
        “Kenapa kau masih di sini?” Tanya dokter Jaesuk bingung karena sebenarnya Tao sudah berpamitan dengannya untuk pulang.
        “Ayah… tolong…”
        “Katakan ada apa?” desak dokter Jaesuk karena anaknya tampak tak tenang sehingga sulit berkata-kata.
        “Itu…” tangan Tao menunjuk ruangan tempat Kris berada sekarang. “Kris… dia temanku. Tolong selamatkan dia, ayah,” mohon Tao bahkan sampai membungkukkan badannya.
        Di samping dokter Jaesuk, tampak Joongki berdiri sambil menatap nanar Sehun yang masih menangis histeris. Tak lama Luhanpun menyadari keberadaannya.
        “Hyung… Kris…” hanya kata-kata itu yang keluar dari mulut Luhan meski nyaris tanpa suara, namun Joongki sangat mengerti maksudnya. Ia mengangguk pasti sebelum akhirnya mengikuti dokter Jaesuk ke dalam ruangan tersebut.
        Luhan menghela napas untuk menenangkan dirinya. Ia juga tak membiarkan Sehun jauh dari dekapannya. Dua kakak beradik ini duduk di lantai dan menyandar tembok.
        Tak lama Kyungsoo ikut duduk di samping Sehun. Ia menyentuh pundak sahabatnya tanpa tahu harus berkata apa. Otaknya masih sulit mencerna karena ternyata Kris yang selama ini di benci oleh kakaknya adalah kakak kandung Sehun juga selain Luhan.
        Secara berurutan Chanyeol, Tao dan Jongdae duduk di kursi dan menunggu Kris dengan cemas.
        Saat mendongak, tatapan Luhan bertemu dengan sosok Baekhyun yang juga duduk di lantai berseberangan dengannya. Pemuda itu masih menggenggam tabung obat milik Kris dan menatap benda itu dengan tatapan kosong.
        Luhan langsung menatap khawatir saat Baekhyun berdiri. Luhan memperhatikan bahwa sejak tadi pemuda itu kerap kali memegangi dada kirinya. “Kyungsoo, tolong jaga Sehun,” pinta Luhan dan Kyungsoo langsung mengangguk. Luhanpun segera menyusul Baekhyun dan meninggalkan Sehun yang masih menangis.
        Ditempatnya, Chanyeol juga menyadari kepergian Baekhyun. Disusul Luhan tak lama kemudian.

@@@

        Luhan masuk ke dalam toilet karena sempat melihat Baekhyun masuk ke sana. “Baekhyun…?” seru Luhan pelan, namun seketika matanya membulat melihat tabung berisi butiran-butiran obat yang sangat familiar di matanya. “Apa yang kau lakukan!” teriak Luhan mencegah agar Baekhyun membatalkan untuk menenggak butiran obat milik Kris tersebut.
        Meski sudah terlambat, Luhan tetap bersikeras agar Baekhyun memuntahkan lagi obat itu dengan cara menepuk-nepuk punggung Baekhyun.
        “Hentikan!” jerit Baekhyun berusaha menghindari Luhan.
        “Kau tidak tahu itu obat apa!”
        “Hyung!” bentak Baekhyun yang akhirnya membuat Luhan diam. Tangan Baekhyun bertumpu pada tepi wastafel. Ia menatap nanar pantulan dirinya di cermin.
        “Kenapa kau melakukan itu?” Tanya Luhan cemas melihat kondisi Baekhyun yang terlihat sama terpuruknya dengan Sehun.
        “Aku tahu…” ujar Baekhyun lirih. Hening beberapa saat. Yang terdengar hanyalah desahan suara napas Baekhyun yang cukup keras. “Aku tahu itu obat apa.”
        “Kalau kau tau, kenapa kau masih memasukkan obat itu ke dalam tubuhmu?” protes Luhan. Di saat yang lain terpuruk, Luhan harus tetap tegar.
        Baekhyun tersenyum pahit. Ia menatap Luhan melalui cermin, namun Luhan masih menatapnya secara langsung. “Sejak kapan Kris menderita penyakit itu?” Tanya Baekhyun yang sebenarnya berat mengatakan hal itu.
        Luhan diam.
        Baekhyun menoleh. “Hyung!” tegurnya membuat Luhan mendongak. Sepertinya saat itu Luhan sedang melamun hingga tak menyadari pertanyaan Baekhyun.

@@@

        “Jongin! Dari mana saja kau!” cecar Suho kesal saat melihat adiknya berani memunculkan diri di sana.
Jongin hanya melirik Suho datar dan sesaat. Karena ia masih belum tahu apa yang bisa ia katakan saat ini. Pemuda itu memilih duduk di sofa dan menenggelamkan punggungnya ke sandaran sofa. Minseok dan Lay juga masih setia menemani Jongin.
        “Kalian!” hardik Suho pada Minseok dan Lay. Mereka membalas tatapan itu takut-takut.
        “Hyung, maaf,” Minseok berinisiatif untuk lebih dulu berbicara. “Sebenarnya, apa yang terjadi padamu sebelum ini?”
        “Apa Kris yang memukulmu?” tuduh Lay yang ikut bicara.
        Suho langsung memberikan tatapan tajam pada Lay. Tentu saja ia seperti ini bukan karena Kris. Meski Jongin bersikeras menuduh Kris bekerjasama dengan Doojoon, tapi Suho tetap pada pendiriannya bahwa Kris sama sekali tak terlibat.
        “Katakan dulu, bagaimana kondisi Kris!” desak Suho yang merasa tebakannya benar. Pasti terjadi sesuatu pada Kris.
        Lay dan Minseok saling melempar pandangan dan tak ada yang berani menjawab. Apalagi Jongin, pemuda itu menutupi wajahnya menggunakan jaket.
        “Jadi kalian masih beranggapan bahwa Kris yang menyakitiku?” bentak Suho yang mulai tak bisa menahan emosinya.
        Suara Suho bahkan sampai membuat Jongin tersentak. Ia menatap Suho tak percaya. Pemuda itu bukan seperti Suho yang Jongin kenal selama ini.
        “Aku yakin, pasti telah terjadi sesuatu pada Kris,” lanjut Suho. Tuduhannya semakin terbukti. Tiga pemuda dihadapannya kini sama sekali tak ada yang bisa membela diri.
        “Sebenarnya apa yang kalian pikirkan!” bentak Suho semakin kesal. Susah payah ia menahan emosi sambil menahan sakit di tubuhnya. Justru hatinya yang akan semakin sakit jika benar-benar terjadi sesuatu pada Kris.
        “Jika benar Kris bekerja sama dengan Doojon, dia tidak akan mengorbankan dirinya. Dia tidak akan membelaku tadi!” seru Suho. Suaranya mulai terdengar samar-samar. Jika tadi ia menahan emosi, kini Suho sedang berusaha menahan tangisnya.
        Tatapan Suho tertancap lurus pada Jongin. “Kris telah mengetahui kalau kau adalah adikku,” ujar Suho pelan namun sukses membuat Jongin mendongak dengan mata yang mulai berkaca-kaca. “Jika Kris berniat jahat pada kalian, dia akan benar-benar menghabisiku di sana,” lanjutnya.
        Minseok dan Lay ikut terperangah mendengar pengakuan-pengakuan Suho yang sama sekali tak sedikitpun menjatuhkan Kris.
        Suho buru-buru menoleh ke arah lain dan menyeka dengan kasar buliran bening di sudut matanya. “Jika sesuatu yang buruk terjadi pada Kris, jangan pernah kau memanggilku ‘hyung’ lagi,” ancam Suho dengan memberi tekanan ketika menyebut kata ‘hyung’.
        “Hyung!” seru Jongin panic dan kini ia pindah duduk di samping ranjang Suho. Tangannya menggenggam tangan Suho penuh dengan rasa bersalah. “Tolong jangan siksa aku dengan ancaman seperti itu,” mohon Jongin dengan sangat.
        “Kau tidak tahu apa yang pernah Kris lakukan untukku.” Perlahan Suho menjauhkan tangan Jongin. Dan Jongin hanya menatap nanar tangannya yang sudah tidak menggenggam tangan Suho. “Aku bukan ingin menyiksamu, tapi aku hanya ingin kalian sadar. Kris tidak seburuk yang kalian pikirkan.”
        “Itu karena kau belum mengenal Kris lebih dalam,” protes Minseok akhirnya. Kesal karena Suho selalu membela Kris.
        Suho mendongak ke arah Minseok dan Lay yang berdiri. Ia memberikan mereka senyuman pahit. “Apa kalian pikir kalian lebih tahu tentang Kris dari pada diriku?” Suho memberikan pertanyaan yang kembali tak bisa di jawab.

@@@