Tampilkan postingan dengan label Leeteuk (SuJu). Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Leeteuk (SuJu). Tampilkan semua postingan

Kamis, 21 Februari 2013

EUNHYUKJAE (part 2) end


Author              : Annisa Pamungkas
Main Cast  : Hyukjae, Eunhyuk, Sungmin, Leeteuk, Heechul, Donghae, Kyuhyun,  
  Kibum, Soo Ra
Original cast     : Haesa, Eun Gee, Minjung, Hye Ra, Da Yoon
Genre       : romance, tragedy
Length      : part (2/2)

@@@

        Beberapa menit kemudian, Eun Gee dan Sungmin akhirnya sampai di tempat yang diinginkan Eun Gee, café milik Leeteuk (café yang sama seperti yang dikunjungi Haesa saat itu). Mereka mengedar pandangan untuk mencari meja. Kali ini Eun Gee yang bersemangat sambil menarik tangan Sungmin. Sampai akhirnya mereka melihat Haesa yang tengah menyantap makanannya.
        “Minjung?” Tanya Sungmin dan Eun Gee bersamaan.
        “Apa kalian tadi menyebut Minjung?” tegur Leeteuk yang ternyata berada di sekitar sana, lalu mendekati Sungmin dan Eun Gee. “Minjung? Kau?” Ia pun sama terkejutnya mendapati Haesa duduk di sana.

@@@

Hyukjae POV

      Pagi-pagi sekali aku meninggalkan apartmen tempat tinggalku selama di kota ini. Barang-barang yang ku bawa juga sudah ku kemasi. Sudah saatnya aku kembali ke kota asalku. Namun, tempat pertama yang ku kunjungi sebelum pergi adalah rumahnya Heechul. Sebenarnya Heechul menawarkan diri untuk menjemputku, namun aku menolak. Aku terlalu bersemangat hari ini. Karena ku tau Haesa telah berangkat lebih pagi. Setelah ini, kami akan menjemput ibuku.
        Kami berangkat dengan mobil Heechul. Namun aku yang menyetir karena ku tau Heechul masih lelah, dan saat ini ia tertidur di sampingku. Aku pun sedikit mencuri pandang dari kaca untuk melihat ibuku. Rasanya seperti aku pertama kali jatuh cinta ke Minjung. Selalu ingin mengagumi kecantikannya.
        “Ibu baik-baik saja?” tanyaku karena ku lihat ibu seperti gugup. Namun ia hanya memberikan senyumnya. Astaga, senyum itu. Aku tak ingin kehilangannya lagi.

@@@

Author POV

      Leeteuk, Sungmin, Eun Gee dan Haesa duduk dalam satu meja. Haesa pun menceritakan tentang pertemuan hingga pernikahannya dengan Hyukjae.
        “Jadi kau benar-benar menikah dengan Hyukjae?” Tanya Eun Gee yang tak percaya begitu saja.
        Untuk memastikan kebenaran ucapannya, Haesa mengeluarkan selembar foto pernikahannya dengan Hyukjae. Eun Gee mendekap mulutnya ketika melihat itu.
        Sungmin bersandar lemas ke kursi. “Aku tak percaya kalau ada dua orang Hyukjae dan Minjung dalam hidupku.” Katanya tak percaya.
        “Sungmin.” Tegur Leeteuk yang sejak tadi sibuk dengan pikirannya sendiri. “Apa tak ada rahasia lain dalam keluargamu?” Sungmin menatap Leeteuk dengan menyiratkan pertanyaan bahwa ia tak mengerti dengan apa yang ditanyakan Leeteuk padanya. “Maksudku, apa Minjung punya saudara kembar? Mungkin mereka terpisah? Atau orang tuamu menikah dengan orang tua Minjung seperti yang terjadi dalam keluargaku.”
        Semua menatap Leeteuk karena terkejut dengan apa yang baru saja dikatakan Leeteuk.
        “Astaga! Apa yang aku katakan?” Tanya Leeteuk ketika menyadari kata-kata yang baru saja keluar dari mulutnya. “Atau mungkin malah Hyukjae yang memiliki saudara kembar? Karena hingga saat ini, aku sendiri belum mengetahui perihal ibu kandungnya Hyukjae.” Lanjutnya berspekulasi seorang diri.
        “Apa Hyukjae tak menceritakan apapun padamu?”
        Leeteuk menatap Eun Gee yang tadi bertanya. Ia pun hanya menggeleng.
        Sungmin berdiri. “Bagaimana kalau kita temui ayahmu.” Ia memberi saran. “Maaf, mungkin ini akan menyakiti hati ibumu, tapi hanya ini yang bisa kita lakukan untuk mengetahui kebenarannya.” Lanjutnya sebelum menyakiti hati Leeteuk juga.
       
@@@

Haesa POV

        “Sebentar lagi ayahku pulang. Kalian duduk saja dulu.” Kata Leeteuk ketika kami sampai di rumahnya. Aneh, aku baru pertama kali kesini, tapi kenapa aku sama sekali tidak merasa asing dengan suasananya.
        Eun Gee berdiri. “Aku akan buatkan minum untuk kalian.”
        “Boleh aku membantumu?” tawarku karena sejujurnya agak sedikit tidak nyaman dengan suasana aneh ini. Jadi aku ingin melepas sedikit ketegangan yang ada. Selama perjalanan ke dapur, aku sedikit mencuri pandang ke tiap sudut rumah yang dapat terjangkau oleh mataku.
        Aku mengambil gelas dari salah satu rak, dan menuangkan air minum dari dalam dispenser. Lalu dengan santainya, aku menenggak isinya hingga habis. Aku melakukan seolah memang terbiasa berada di sana. Dan aku menyadari apa yang aku lakukan ketika melihat Eun Gee yang memandangku dengan tatapan yang sulit untuk diartikan. Aku pun menegang dibuatnya.
        “Aku tak percaya kalau kau bukan Minjung. Tapi aku lebih tak percaya kalau kau memang Minjung.”
        “Maaf.” Kataku merasa bersalah. “Aku juga tak tau apa yang aku lakukan. Rasanya aku tak asing dengan suasana di sini.”
        Ku pikir Euh Gee akan marah. Tak ku sangka ia malah memelukku. Aku seperti mendapat saudara baru dalam hidupku.
        “Minjung?” Eun Gee melepaskan pelukannya karena ada seseorang yang menyebut nama Minjung. Kami sama-sama berbalik. Ada beberapa orang asing yang kini berdiri dihadapanku.
        Salah seorang wanita dewasa melihatku dengan tatapan rindu sambil meneteskan air mata. Perlahan ia mendekati ku, lalu dengan cepat ditariknya tubuhku ke dalam pelukannya. “Minjung, ini ibu… apa kau tak mengingatku?”
        Deg… jantungku seakan berhenti berdetak mendengar pengakuannya. Bagaimana bisa aku memiliki dua orang ibu sekaligus?

@@@

Hyukjae POV

      Akhirnya aku sampai di tempat yang sudah sangat aku rindukan. Dimana lagi kalau bukan rumahku tercinta yang sudah ku huni belasan tahun. Karena ini rumahku, aku tak perlu repot-repot untuk memencet bel dan menunggu dibukakan pintu layaknya tamu. Tak banyak yang berubah ternyata.
        Aku tersenyum ketika mendapati mobil ayah dan Leeteuk terparkir. Ternyata mereka sedang ada di rumah. Aku semakin tak sabar. Heechul dan ibu mengikutiku di belakang. Dengan semangat aku membuka pintu ruang tamu. “Ayah… Ibu… Leeteuk hyung… aku pulang…” teriakku seperti anak kecil. Aku tak peduli seperti apa sikapku sekarang. Aku hanya terlalu bahagia saat ini hingga tak bisa mengatur sikap.
        “Hyung… Sungmin…” teriakku lagi masih seperti seorang anak kecil. Tapi aku masih tak peduli. Aku langsung berhamburan memeluk dua orang yang cukup berarti dalam hidupku sekaligus.
        “Kau kemana saja?” Tanya Sungmin menginterogasiku.
        “Kau juga, kenapa tak menghubungiku?” omel Leeteuk padaku. “Kalau tau akan seperti ini jadinya, aku tak akan membantumu kabur.” Sesalnya.
        Aku tertawa tanpa ada rasa berdosa lalu melepaskan pelukanku. “Yang penting kan aku sekarang pulang.” Aku diam sesaat, lalu teringat dengan kekacauan yang ku perbuat di hari pernikahanku waktu itu. “Oiya, gimana acara kemarin? Ayah pasti marah besar? Aku janji aku akan minta maaf pada ayah.” Kataku menyesal.
        Leeteuk tersenyum geli. Diikuti oleh Sungmin. Aku curiga, sepertinya ada sesuatu menakjubkan terjadi. Aku cukup menyesal tak bisa menyaksikannya secara langsung.
        “Itu seru sekali.” Kata Leeteuk bersemangat. “Eun Gee benar-benar bahagia. Aku ikut senang melihatnya.”
        Aku menghela napas lega. “Aku bersyukur tak jadi membuat Eun Gee menderita akibat diriku.” Lalu aku diam sesaat. “Tunggu dulu.” Kataku karena aku merasa ada yang janggal dari cerita Leeteuk. “Apa yang membuat Eun Gee bahagia? Bukankah aku merusak pernikahannya?”
        Ku lihat Sungmin dengan bangganya menunjukkan jari manisnya yang tersemat sebuah cincin. Aku ingat, itu cincin yang memang dipersiapkan Sungmin untuk pernikahannya dengan Eun Gee yang rencananya akan berlangsung setelah aku menikah dengan Minjung.
        “Waah…” aku terbelalak melihatnya. “Itu berarti, kau dan Eun Gee…” aku menggantung ucapanku, namun Sungmin langsung mengangguk seolah mengerti maksudku. “Selamat…” ucapku sambil memeluknya lagi.
        Leeteuk ikut memeluk ku dan Sungmin. Kami melompat-lompat bersama seperti yang sering kami lakukan ketika kecil. Kebiasaan itu masih saja terjadi, padahal kami semua sudah menikah. Kami semua? Aku mengulangi ucapanku. Meski aku tak bisa bersama Haesa, tapi aku kan memang sudah menikah.
        “Hyukjae…” kami menghentikan kegiatan memalukan itu karena seseorang memanggilku. Aku pun berbalik. Itu dia orang yang sangat berarti dalam hidupku. Siapa lagi kalau bukan ayahku? Aku langsung berlari memeluknya.
        “Ayah maafkan aku… aku telah mempermalukanmu hari itu.” Ucapku penuh rasa bersalah dalam pelukan ayahku.
        “Anak bodoh!”
        Aku tersentak mendengar itu dan langsung melepaskan diri dari pelukan ayahku. Aku pun menatap ayahku dengan tatapan nanar.
        “Kenapa kau baru pulang sekarang?” omelnya membuat aku semakin diam tertunduk. Namun aku bahagia, saat-saat seperti ini yang sangat aku rindukan. Mendengar kemarahan ayah. Hahaha… gila. Aku tersenyum bahagia. “Kenapa malah tersenyum?” ayahku terus memarahiku, namun aku malah semakin merasa tidak bersalah.
        “Aku bahagia karena ayah telah memarahiku lagi. Aku rela kalau ayah mau memarahiku sampai besok pagi. Asal ayah mau memaafkanku.” Kataku masih tanpa ada rasa berdosa.
        “Jadi kau senang ku marahi? Kau juga ingin ku pukul, hah?” ayahku mengangkat tangannya seolah ingin menamparku. Aku pun bereaksi menghindar, namun masih diselimuti tawa.
        “Jangan, ayah. Lebih baik ayah peluk aku saja.”

@@@

Author POV

      Leeteuk tersenyum penuh keharuan menyaksikan drama antara ayah dan anak itu. Kemudian, ia menoleh dan menyadari ada dua orang asing yang dibawa oleh Hyukjae kesana. Lalu Leeteuk mendekati adiknya.
        “Hyukjae…” Panggil Leeteuk sedikit menarik tangan Hyukjae menjauh dari ayah mereka. “Kau membawa tamu, kenapa tidak dipersilahakan duduk.”
        Hyukjae dengan polosnya menepuk jidat. “Aku lupa hyung kalo aku mengajak mereka.”
        Leeteuk menghela napas menghadapi sikap adiknya.
        Hyukjae kembali menatap ayahnya. “Ayah, aku minta maaf lagi karena mengajak seseorang ke sini.” Hyukjae lalu melangkah kebelakang dan menarik lembut tangan ibunya untuk ia ajak ke hadapan ayahnya. “Aku hanya ingin tau kebenarannya, apa dia ibu kandungku?”
        Ayah dan ibu Hyukjae sama-sama terkejut ketika mereka saling bertemu pandang.
        “Maaf, aku tak berniat mengganggu hidupmu, tapi aku hanya ingin bertemu anakku setelah Eunhyuk…” ibunya Hyukjae tak kuasa melanjutkan ucapannya sambil menahan tangis. Hyukjae pun merangkul dan mengusap lembut pundak ibunya sembari memberikan kekuatan. “Eunhyuk…” kali ini ia benar-benar menangis. Dan Hyukjae semakin mengencangkan rangkulannya.
        Tuan Lee (ayah Hyukjae) mulai bereaksi. “Ada apa dengan Eunhyuk?” tanyanya.
        “Jadi benar, dia ibuku?” Hyukjae balik bertanya.
        Tuan Lee mengangguk lemah. “Sekarang katakan, apa yang terjadi dengan Eunhyuk? Kenapa dia tidak ikut kalian ke sini?”
        Hyukjae menghela napas untuk menenangkan diri. Leeteuk, Sungmin dan Heechul juga ikut tegang menunggu cerita dari Hyukjae. “Eunhyuk meninggal di sebuah kecelakan yang juga menimpa Minjung.”
        Leeteuk segera menangkap tubuh ayahnya yang tiba-tiba lunglai. Lalu ia membawa tuan Lee untuk duduk, dibantu dengan Sungmin.
        “Heechul Oppa… kau di sini?”
        Heechul mendongak karena mendengar seseorang menyebut namanya. “Haesa? Kau?” matanya terbelalak ketika mendapati adiknya muncul di rumah itu juga. Lalu mata Heechul tertuju oleh benda yang terjuntai dari tangan Haesa. Sebuah kalung yang bertahun-tahun dikenakan Haesa. “Kalung itu ada padamu? Tapi aku ingat…” Heechul mulai mencari-cari sesuatu di dalam saku jaket hingga jeans yang ia kenakan. “…kalau aku menyimpannya di sini.” Ketika dapat, Heechul langsung mengeluarkannya. Itu adalah kalung yang sama seperti yang berada dalam genggaman Haesa.
        Haesa menahan tangis sambil menatap nanar kalung dalam genggaman Heechul. Sedetik kemudian, Haesa sudah membenamkan wajahnya ke dalam pelukan Heechul sambil menangis.
        “Katakan padaku apa yang terjadi?” Tanya Heehcul yang mulai panic.
“Oppa aku akan tetap menjadi adikmu selamanya.”
        Heechul melepaskan pelukan Haesa dan menatap lembut wajah adiknya yang basah karena air mata. “Kau memang adikku, dan tidak ada yang bisa menggantikan itu.” Katanya lembut sambil mengusap air mata Haesa dengan jarinya.

@@@

Haesa POV

      Heechul oppa melepaskan pelukanku dan menatap lembut wajahku yang basah karena air mata. “Kau memang adikku, dan tidak ada yang bisa menggantikan itu.” Katanya lembut sambil mengusap air mataku dengan jarinya.
        Ini adalah kenyataan hidupku. Dia, orang yang selama ini ku anggap sebagai kakak, ternyata bukan kakak kandungku. Tuan dan nyonya Kim, sepasang suami istri yang ku panggil ayah dan ibu ternyata bukan orang tuaku. Dan orang tua kandungku yang sebenarnya adalah tuan dan nyonya Lee, orang tua Sungmin dan Minjung. Jadi, itu artinya aku dan Minjung memang saudara kembar seperti Hyukjae dan Eunhyuk.
        Peristiwa itu terjadi di bandara sekitar 22 tahun yang lalu. Orang tuaku dan orang tua Heechul oppa baru saling kenal karena kami satu perjalanan. Karena Minjung tiba-tiba sakit, orang tuaku panic dan tanpa sengaja meninggalkanku bersama orang tua Heechul oppa. Harusnya aku memang kecewa dengan mereka yang melupakanku. Namun rasa kecewa itu terobati karena orang tua Heechul oppa merawatku dengan baik dan penuh kasih sayang selayaknya anak kandung mereka. Karena kedua orang tua Heechul oppa lah, aku sama sekali tidak kehilangan kasih sayang.
        Orang tuaku—tuan dan nyonya Lee—memang merencanakan pindah keluar kota, namun Sungmin oppa tetap meneruskan perusaannya di sini karena ia juga telah menikah. Dan aku, kembali ke kota asal Heechul oppa karena aku masih memiliki pekerjaan di sana.
        Dan dengan Hyukjae… aku menghela napas untuk menghilangkan sesak di dadaku. Ku pikir dia tidak bahagia karena aku. Maka dari itu ku putuskan untuk bercerai dengannya. Sejujurnya aku cukup menyesali karena Hyukjae sama sekali tak menolaknya.

@@@

Hyukjae POV

5 tahun kemudian… sudah selama itu pula aku bercerai dari Haesa, namun sampai sekarang aku belum mendapatkan penggatinya. Terkadang aku merutuki kebodohanku karena melepaskan Haesa begitu saja. Karena yang kudengar dari Sungmin, sekitar tiga tahun lalu Haesa sudah menikah dengan pria lain.
Aku terlalu sibuk dengan pekerjaan yang pernah aku abaikan selama beberapa bulan. Ibu kandungku juga tinggal di kota ini. Namun ia aku belikan apartmen, dan aku juga sering menginap di sana. Ayah dan ibuku—nyonya Park, ibu kandung Leeteuk—juga tak keberatan dengan keputusanku, karena aku juga tetap tinggal bersama mereka. Dan yang sangat aku syukuri adalah kedua ibuku kini juga lumayan akrab dan kompak. Tapi satu kekompakan mereka yang tak ku suka, yaitu kompak memarahiku jika aku melakukan kesalahan. Sepertinya jatah kemarahan untuk Leeteuk hyung kini dilimpahkan kepadaku.
        Hari ini jadwalku untuk mengunjungi makam Minjung. Dan setelah itu, aku akan pergi ke taman kota karena ada janji dengan seseorang. Itulah rutinitasku yang  lain saat akhir pekan seperti ini. Sesampainya di sana, aku mengedarkan pandangan mencari-cari sesuatu.
        “Ayah…” kudengar suara anak kecil dibelakangku. Kemudian aku berbalik dan mendapati dua anak laki-laki, berumur 4 dan 6 tahun yang berlari riang ke arahku. Aku pun merendahkan posisi berdiriku untuk dapat menjangkau pelukan dua anak itu.
        “Kalian dengar, jangan panggil aku ayah jika kita tidak sedang di rumah.” Omelku pada dua anak laki-laki yang masih dalam pelukanku. Mereka itu, siapa lagi kalau bukan keponakanku dari Leeteuk hyung yang selalu membuatku jengkel karena mereka senang sekali memanggilku dengan sebutan ‘ayah’.
        “Tapi ada syaratnya.” Kata Donghae, anak pertama Leeteuk hyung. Selalu seperti ini, dan mereka baru menuruti permintaanku. Namun setelah itu, mereka akan kembali memanggilku ‘ayah’. “Belikan kami ice cream.” Lanjut Donghae. Sungguh menyebalkan. Tapi untung saja aku sudah terbiasa dengan semuanya.
        “Oke…” ujarku enteng sambil bangkit lalu mengangkat tubuh Kyuhyun dalam gendonganku. “Ayo kita pergi.” Ajakku kali ini sambil menggandeng Donghae dengan tanganku yang satu lagi. Aku sudah seperti ayah sungguhan yang memiliki dua orang anak.
        Meski terkadang menyebalkan, tapi mereka adalah anak yang manis. Terutama Donghae yang senang sekali bercerita padaku tentang hal apa saja. Dan menurutku itu lucu. Seperti sekarang, ia bercerita tentang pengalamannya di sekolah yang membuat ku begitu larut hingga tak sadar aku hampir saja menabrak seseorang di depanku.
        “Maaf, aku tidak sengaja.” Kataku cepat-cepat.
        Ku lihat wanita itu berbalik. “Tidak apa-apa…” ujarnya dengan kata-kata yang langsung terputus karena terkejut ketika melihatku.
        “Haesa?” aku tak kalah terkejutnya saat ini. Pikiranku kacau karena kami bertemu di saat yang tidak tepat. Bagaimana tidak? Aku bersama dua orang anak kecil, dan dia pasti mengira Donghae dan Kyuhyun adalah anakku, karena aku juga pasti mengira gadis kecil sekitar 3 tahun yang bersamanya adalah anaknya.
        “Ternyata kalian di sini…”
        Kulihat anak yang bersama Haesa itu berbalik. “Ayah…” ujarnya riang sambil berlari ke arah orang tersebut.
        “Aku mencari kalian sejak tadi.” Kata orang itu lagi yang sekarang mulai terlihat jelas dimataku wajahnya.
        “Heechul…?” gumamku pelan tak percaya dengan apa yang kulihat.
Ia pun menoleh. “Hyukjae…?” ujar Heechul tak kalah terkejutnya seperti ku.

@@@

Heechul POV

        “Istriku meninggal setelah melahirkan Hye Ra, putri pertamaku.” aku mulai bercerita ketika kami memilih bicara santai di bangku taman sambil mengawasi Donghae, Kyuhyun dan Hye Ra bermain. Aku diam sejenak kemudian menghela napas untuk mengatur emosiku. Aku pun menoleh penuh arti ke arah Hyukjae. “Maafkan aku, karena setelah beberapa bulan kemudian, aku menikah dengan Haesa.” Sesalku. Ku lihat Hyukjae dan Haesa diam. Aku tau betapa sakitnya hati mereka karenaku.
        Aku mengalihkan pandanganku ke arah tiga anak kecil yang sangat lucu sedang bermain di hadapanku. Suasana hati mereka sangat kontras jika dibandingkan dengan apa yang sedang terjadi padaku, Hyukjae dan Haesa.
        Ku lihat Hyukjae berdiri, semakin membuat pikiranku kacau. “Kalau kau bisa membahagiakan Haesa, apa ada alasan untukku marah padamu?” aku mendongak karena terkejut dengan ucapannya. Ia tersenyum sangat tulus.
        Aku mengikutinya berdiri. “Aku tak tau harus mencari wanita yang mana lagi yang pantas untuk menjadi ibu dari anakku. Hye Ra sangat membutuhkan sosok seorang ibu.”
        Hyukjae kembali tersenyum. “Aku mengerti.” Katanya penuh pengertian. Lalu ia melirik arlojinya. “Aku senang bertemu kalian, tapi aku harus mengantar anak-anak pulang ke rumah Leeteuk hyung.” Ia pun berbalik mendekati Donghae dan Kyuhyun yang masih asik bermain bersama Hye Ra. “Kyu… Hae… ayo kita pulang.” Ajaknya sambil mengangkat tubuh kecil Kyuhyun.
        Hye Ra berlari ke arah ku, dan aku pun langsung mengangkat tubuhnya. Lalu kurasakan tangan Haesa melingkari pinggangku menandakan ia akan tetap berada di sampingku apapun yang terjadi. Aku melirik Haesa yang kini menatap nanar kepergian Hyukjae. Ku lihat tangan Haesa yang satu lagi terangkat, dan sontak aku mendongak dan mendapati Hyukjae melambaikan tangan pada kami. Kedua anak kecil bersamanya juga melambaikan tangan. Aku tersenyum karena Hye Ra juga melakukan hal yang sama untuk membalas lambaian tangan Donghae dan Kyuhyun.

@@@

Hyukjae POV

        Aku kembali berbalik untuk melihat Haesa dan Heechul yang terakhir kalinya. Dan ku lihat mereka juga telah berbalik dan berjalan ke arah yang berlawanan dengan ku. Semakin lama, sosok mereka pun hilang dalam pandanganku.
        Aku memang sedikit tak focus setelah kejadian barusan, namun aku masih dapat mendengar dengan jelas sayup-sayup suara orang disekitar ku.
        “Tante ayo kejar aku…”
        “Kibum berhenti…! Atau mau ku laporkan pada ayah dan ibumu…”
        Lalu… Buk…! Ku rasakan sesuatu menabrak kakiku. Ku pikir itu Donghae, namun ketika menunduk, ternyata ada anak laki-laki lain yang kini terduduk di dekat kakiku. Aku pun berjongkok untuk melihat keadaannya.
        “Kau baik-baik saja?” tanyaku, lalu ia mengangguk dan aku pun sontak tersenyum sambil mengusap puncak kepalanya penuh kasih sayang.
        “Maaf… tolong maafkan keponakanku. Ia tidak sengaja melakukan itu. Semua ini salahku. Kalau kau ingin marah, marahlah padaku…”
        Aku segera bangkit, karena ternyata anak ini bersama seseorang. Aku tertawa melihat sikapnya yang sangat ketakutan.
        “Kau tidak marah?” Tanya gadis itu.
        Aku mengangguk. “Untuk apa aku marah?” Tanya ku lagi. Dia pun tersenyum. Astaga… jujur, aku terpesona dengan senyumnya.
        “Kenapa?” tegurnya membuyarkan lamunanku. “Kau merasa mengenalku?” tebaknya.
“Mana mungkin. Aku yakin ini pertama kalinya aku melihat mu.”
“Tak ku sangka ingatanmu cukup buruk.” Dia merendahkan ku. “Padahal aku selalu ke sini hampir tiap akhir pekan. Aku juga sering melihatmu bahkan aku tau nama dua anakmu, Donghae dan Kyuhyun, kan?” tebaknya lagi. Dan kali ini tepat sasaran.
Sebenarnya aku terkejut dengan apa yang baru saja dikatakannya. Apa dia stalkerku? Ah, aku tak peduli siapapun dia. Yang aku pedulikan saat ini hanyalah dirinya. Dia sangat menarik perhatianku.
“Kalau begitu, sampai jumpa lagi…” pamitnya tiba-tiba.
Ku lihat ia berbalik sambil menggandeng tangan anak yang tadi datang bersamanya. Aku pun masih saja terpesona. Dan untungnya aku segera sadar akan kepergiannya. “Tunggu…”
“Iya…” gadis itu pun berbalik. Aku tak akan menyia-nyiakan kesempatan ini.
“Kita belum berkenalan. Kalau ternyata kau sering ketempat ini, berarti kita bisa menjadi teman, kan?” aku bersikap sebaik mungkin sambil perlahan menjulurkan tangan kananku. “Namaku Hyukjae.”
Meski awalnya ku lihat ia sedikit ragu, tapi aku senang akhirnya ia membalas jabatan tanganku. “Aku Park Minjung.”
Aku tersentak mendengar namanya.
“Ada apa?” Tanya Minjung yang terlihat khawatir dengan kondisi ku.
“Tidak ada.” Aku segera menepis kecurigaannya. “Minggu depan kita bertemu lagi di sini…”
“Baiklah…” ujar Minjung lagi sebelum akhirnya berbalik dan meninggalkanku bersama dua jagoannya Leeteuk hyung.

@@@

        Ku lihat dari kejauhan, Minjung melambaikan tangan padaku. Ternyata ia menepati janjinya. Dan aku harus benar-benar memanfaatkan momen berharga ini. Di mana dua perusuhku, Donghae dan Kyuhyun tidak ikut bersama ku. Karena aku memang sudah melakukan sebuah kesepakatan dengan Leeteuk hyung. Semakin beruntungnya diriku, karena Minjung juga tak membawa Kibum, keponakannya. Tapi aku harus bersyukur dengan keberadaan Kibum yang membuka jalanku mengenal seorang gadis, yang sejujurnya cukup heroic dalam hidupku karena ia memiliki nama yang sama dengan gadis yang sangat ku cinta.
        “Ada yang ingin aku tanyakan…” kataku ketika Minjung sampai dihadapanku.
        “Apa?”
        “Kalau kau mengetahui bahwa aku pernah menikah dan telah bercerai, apa kau masih mau menjadi temanku?” aku memang terlalu cepat menanyakan hal tersebut. Tapi menurut ku itu sama saja. Karena cepat atau lambat pasti Minjung juga akan mengetahuinya.
        “Aku menyukai anak kecil, dan dua anakmu kemarin sangat lucu menurutku. Jadi, tak ada alasan aku tak ingin berteman denganmu.” Aku cukup terkejut mendengar jawabannya yang membuatku sedikit tertawa.
        “Mereka bukan anak kakak laki-laki ku. Aku belum memiliki anak.”
Kami memulai acara… sebut saja kencan pertama kami dengan berjalan mengitari taman. Kami bercerita banyak hal. Mulai keluarga, pendidikan, teman, hingga kisah asmara. Terutama aku yang bercerita tentang kisah cintaku yang cukup rumit ini. Tapi yang membuatku terkejut, ternyata ia adik kelasku semasa SMA dan ia juga cukup banyak tau tentang diriku.
“Apa sekarang kau sudah menikah?” tanyaku penasaran ketika kami sepakat melanjutkan obrolan di sebuah café.
Minjung menggeleng lemah.
“Kalau gitu, pasti kau telah memiliki kekasih?” tanyaku lagi. Entah apa yang medorongku bertanya tentang hal itu. Jujur, Minjung yang ini cukup menarik perhatianku.
Kali ini Minjung tertawa kecil sambil kembali menggeleng membuatku tersenyum puas. “Ada apa?” Tanya Minjung yang mencurigai perubahan sikapku.
“Ku rasa kau tak keberatan dengan statusku. Kau juga cukup banyak mengenalku. Dan setelah ini kita akan sering bertemu. Menurut ku itu cukup untuk aku juga bisa mengenalmu.”
Minjung mengerutkan dahi mendengar semua ucapanku.
“Aku tak ingin bermain-main lagi.”
“Lalu…?”
“Bagaimana kalau kita menikah?” tawarku tanpa pikir panjang.
“Apa?”

@@@

        Aku pulang dengan membawa kabar yang sangat menggemparkan di rumah. Yaitu rencana pernikahanku. Meski belum tau kapan akan terlaksana, tapi Minjung memang menerima permintaanku. Terkadang aku berfikir, apa aku memang sudah gila? Bahkan kami baru bertemu sebanyak 2 kali. Setidaknya itu yang ku sadari. Karena nyatanya, kami dulu satu SMA.
        Ternyata Leeteuk hyung tak ingin kalah. Ia juga membawa kabar bahagia. Istrinya, Soo Ra noona kini tengah mengandung anak ke-empat mereka. Bagaimana tak kalah menggemparkan dengan beritaku? Leeteuk bahkan telah memiliki 3 anak. Donghae, Kyuhyun dan Da Yoon, seorang anak perempuan berusia 2 tahun. Padahal aku saja baru berencana untuk menikah. Tapi Leeteuk hyung justru ingin menambah anak lagi? Tak bisa ku bayangkan bagaimana Leeteuk junior ke-empat nantinya.


@_E_N_D_@

EUNHYUKJAE (part 1)


Author              : Annisa Pamungkas
Main Cast  : Hyukjae, Eunhyuk, Sungmin, Leeteuk, Heechul, Jinki
Original cast     : Haesa, Eun Gee, Minjung
Genre       : romance, tragedy
Length      : part (1/2)

@@@

        Telah terjadi kecelakaan di sebuah jalan tol. Sebuah mini bus kehilangan kendali dan menabrak pagar pembatas jalan sebelum akhirnya masuk ke dalam jurang. Tidak ada satupun korban yang berhasil selamat dalam kecelakaan tersebut. Hingga saat ini polisi masih menyelidiki penyebab terjadinya kecelakaan.

@@@

Hyukjae POV

        Ku tatap pantulan diriku yang berbalut stelan jas di cermin. Pakaian ini yang akan ku kenakan di hari pernikahanku besok. Ya, besok aku akan menikah. Dengan sahabatku sejak sekolah menengah, Eun Gee. Kita memang bersahabat, tapi kita tidak saling mencintai. Aku memiliki kekasih, begitu pun dengan Eun Gee.
        Kenapa kalian tidak menikah dengan kekasih kalian? Pertanyaan bagus. Harusnya memang seperti itu. Sebenarnya esok akan menjadi pernikahanku dengan Minjung, kekasih yang sudah aku pacari hampir dua tahun. Namun takdir berkata lain. Saat itu Minjung dalam perjalanan pulang dari rumah kakek dan neneknya. Kecelakaan bus seminggu yang lalu telah merenggut nyawa Minjung dari sisiku.
        Pernikahan sama sekali tidak bisa di batalkan. Dan yang harus menjadi tumbalnya adalah Eun Gee. Karena orang tua kami cukup dekat, hingga membuat kami tidak bisa menolak. Dua buah pintu terbuka hampir bersamaan. Satu dari dalam ruang ganti, dan satu lagi dari arah luar ruangan ini. Eun Gee muncul dari dalam ruang ganti dan mengenakan gaun putih indah yang akan ia kenakan di hari pernikahan kami esok.
        Kalau seperti ini jadinya, aku lebih memilih mati dari pada harus menikahi Eun Gee. Kalian tau siapa pria yang muncul dari pintu yang satu lagi? Dia Sungmin. Sahabatku dari kecil. Dan dia adalah kekasih Eun Gee. Dia juga kakak dari calon istriku, Minjung. Semakin besar saja dosaku padanya. Maafkan aku Sungmin.
        Aku melepas dengan paksa jas yang melekat dari tubuhku dan ku lempar sembarangan ke sofa. “Kenapa tidak kau bunuh saja diriku, Sungmin?” pintaku sambil melangkah mendekati Sungmin. Aku juga melepaskan kancing yang berada di lengan kemeja yang ku gunakan dan menggulungnya.
        “Aku memang sudah berniat melakukan itu.” Kata Sungmin tajam. Tapi sedetik kemudian, ia tersenyum menandakan ia tak sungguh-sungguh dengan ucapannya.
        Eun Gee menggenggam tangan ku dan Sungmin dengan kedua tangannya. Sepertinya ada yang ingin ia katakan. Aku menunggu, sampai akhirnya ia tak sanggup mengatakan apapun hingga Sungmin menarik Eun Gee yang menangis ke dalam pelukannya.
        Aku mengusap kepala Eun Gee yang masih bersandar pada Sungmin dengan lembut. “Setelah menikah aku janji tidak akan menyentuhmu. Dan segera mencari cara agar kita bisa bercerai.” Kataku membuat Sungmin dan Eun Gee menatap heran padaku. Dan aku hanya tersenyum menanggapinya.

@@@

Eun Gee POV

        Aku bersiap memasuki Gereja tempat aku akan mengikrarkan janji suci pernikahan dengan Hyukjae. Seperti yang kalian ketahui, Hyukjae adalah sahabatku. Dan tak bisa ku bayangkan jika melihat Sungmin berada di barisan tamu undangan lalu memberikan ucapan selamat untuk ku dan Hyukjae. Aku berhenti tepat di depan pintu masuk Gereja untuk menunggu ayahku. Tatapan ku mengedar ke sekeliling. Suasananya sedikit sepi karena para tamu sudah memenuhi Gereja.
        Pandanganku mengarah ke seberang dan berhenti pada seorang pemuda yang mengenakan stelan jas yang kemarin dipakai Hyukjae ketika mencoba pakaian pernikahan kami. Apa aku tidak salah lihat? Astaga! Itu benar-benar Hyukjae. Ia melambaikan tangan padaku seperti sedang berpamitan. Dan wajahnya terlihat sangat lega seperti telah melakukan sesuatu yang membahagiakan orang lain.
        “Kau sudah siap sayang?” tegur ayahku, dah aku hanya mengangguk sedikit.
        Sebelum memasuki Gereja, aku menoleh sekali lagi ke belakang. Sosok Hyukjae sudah tidak terlihat. Apa yang baru saja ia lakukan? Kalau Hyukjae tidak menungguku di dalam? Kenapa suasana begitu tenang seolah tidak terjadi apa-apa?

@@@

Hyukjae POV

      Setelah melakukan perjalanan yang cukup jauh menggunakan kereta bawah tanah, akhirnya aku sampai di sebuah daerah yang berada di pinggir kota. Aku menelusuri jalan yang ramai siang itu. Di sini cukup panas. Dan aku baru menyadari masih mengenakan stelan jas yang sama ketika kabur dari Gereja tadi. Ku buka jas ku dan ku sampirkan di tangan. Karena ransel yang kubawa tidak cukup untuk menampung jas tersebut. Oiya, ransel dan isinya telah disiapkan oleh Leeteuk, kakakku yang tadi membantu aksi kabur ku dari pernikahan ku sendiri. Sebenarnya Leeteuk kakak tiriku. Ayahku menikah dengan ibunya Leeteuk. Namun karena telah bersama sejak kecil, kedekatan kami selayaknya sodara kandung.
        Aku sempat istirahat sebentar di sebuah taman setelah hampir satu jam aku berjalan kaki. Lalu melanjutkan perjalanan. Kota ini cukup indah meski gedung-gedungnya tak setinggi dan semewah di kota tempat tinggalku. Tapi aku cukup menikmati.
        Sekarang aku baru saja keluar dari sebuah bank untuk memindahkan isi tabunganku. Kalau masih memakai buku yang lama, bisa-bisa keberadaanku dapat terlacak dengan cepat oleh ayahku.
        Bahagianya. Seperti memulai sebuah babak baru dalam hidup. Aku kembali berjalan. Hari ini aku berniat hanya mencari kamar atau apapun itu yang bisa aku sewa sebagai tempat tinggalku dan barulah besok aku akan mencari pekerjaan. Sebenarnya tabungan yang ku punya bisa untuk biaya hidupku selama setengah tahun. Tapi tidak mungkin aku hanya berdiam diri di rumah, kan?
        Cukup sulit mencari tempat yang bisa di sewakan. Tapi aku tetap akan mencari. Sampai akhirnya aku mendapati sebuah Gereja yang berdiri megah di hadapanku. Aku tersenyum geli karena teringat dengan pernikahanku yang ku rusak sendiri. Sudahlah, aku tak ingin berlama-lama di sana. Ketika aku berbalik, seorang wanita berbalut gaun pengantin memelukku. Astaga! Kenapa aku masih saja di hantui dengan bayang-bayang pernikahan? Apa Eun Gee tidak bahagia karena ku? Tapi aku tak bisa menghubungi temanku itu karena aku pergi tanpa membawa ponsel.
        “Aku tau kau tak akan meninggalkan ku.” Kata wanita yang memelukku sambil menangis. “Aku tau kau akan kembali, Hyukkie.” Lanjutnya yang masih terisak.
Hyukkie? Dari mana ia tau namaku? Tunggu dulu. Suara itu? Kenapa mirip sekali dengan suara Minjung? Perlahan aku menarik tubuhnya menjauhi tubuhku agar aku bisa melihat wajahnya.
        “Astaga! Minjung? Kau?” tanyaku syok. Karena gadis itu adalah Minjung.
        “Minjung?” gadis itu menatapku bingung dengan mata yang masih basah.

@@@

Heechul POV

        Aku mencari-cari adikku, Haesa. Dan aku terkejut ketika mendapati Haesa memeluk seorang pria lain. Segera aku mendekati mereka. Ku lihat pria itu menjauhkan tubuh Haesa yang memeluknya. Dan wajah pria itu semakin jelas di mataku. Astaga! Eunhyuk? Tak mungkin itu dia? Tapi itu benar wajah Eunhyuk. Aku tak mungkin salah mengenali.
        “Eunhyuk?” tegurku sambil memandangnya intens.
        “Siapa Eunhyuk?” Tanya pria itu tak kalah heran dengan ku. Lalu ia menatap Haesa. “Dan kau siapa?”
        “Hyukkie… aku Haesa. Apa kau tak mengenaliku? Kita akan menikah hari ini. Ayo kita ke Gereja.”
        Aku sadar pria itu bukan Eunhyuk. Dan betapa hancurnya hatiku ketika mendengar Haesa berkata seperti itu. Aku terbelalak melihat Haesa menarik tangan pria itu.

@@@

Hyukjae POV

        “Hyukkie… aku Haesa. Apa kau tak mengenaliku? Kita akan menikah hari ini. Ayo kita ke Gereja.” Gadis itu menarik tanganku. Apa-apaan ini? Tapi kenapa aku tak bisa menolak? Jelas-jelas gadis ini memang bukan Minjung. Karena aku memang telah mengikhlaskan Minjung pergi untuk selama-lamanya dari hidupku. Atau karena ia memanggilku dengan sebutan ‘Hyukkie’ seperti yang selama ini Minjung gunakan untuk menyebut namaku?
        Aku mengganti stelan jasku dengan yang baru. Satu kata yang tidak bisa terlepas dari diriku hari ini, yaitu ‘pernikahan’. Dan apa yang aku lakukan? Apa aku akan benar-benar menikah hari ini? Dengan seseorang yang baru saja aku kenal. Di saksikan dengan orang-orang yang juga tak aku kenal. Tapi kenapa aku sama sekali tak ingin pergi dari ruangan ini? Lalu pintu terbuka, dan pria yang tadi memanggilku ‘Eunhyuk’ pun masuk. Kami duduk berhadapan.
        “Siapa, kau?” Tanya pria itu yang mengaku bernama Heechul.
        “Aku Lee Hyukjae. Aku baru datang dari kota.” Kataku jujur.
        “Tapi kenapa kau tak menolak dan pergi saja dari sini?”
        Itu memang yang ingin ku lakukan. Tapi seperti yang ku bilang tadi, aku tak bisa. “Entahlah.” Aku menggeleng.
        Heechul menatap kosong ke arah lain. “Hari ini Haesa harusnya menikah dengan kekasihnya. Tapi itu tidak mungkin. Eunhyuk meninggal seminggu yang lalu dalam sebuah kecelakaan lalu lintas. Bus yang ditumpanginya masuk ke dalam jurang.” Ia merogoh lalu mengeluarkan sesuatu dari balik jasnya. Sebuah foto yang membuat mataku membulat seketika.
        Deg! Apa yang sebenarnya terjadi hari ini. Kenapa aku dan Haesa mengalami nasib yang sama? Dan orang dalam foto itu… kenapa Heechul menyimpan fotoku bersama Minjung.
        “Ini foto Haesa dan Eunhyuk.” Jelasnya seolah tau apa yang ku pikirkan.
        Aku pun melakukan hal yang sama dengan mengeluarkan sebuah foto dari dalam ransel. Ekspresi yang ditunjukkan Heechul pun ketika melihat fotoku bersama Minjung ini sama seperti ku tadi.
Semua ini memang sangat aneh. Wajah ku dan Eunhyuk sangat mirip. Dan kami mencintai wanita berbeda namun memiliki wajah yang mirip juga. Bahkan kami merencanakan pernikahan di tanggal yang sama. Hanya saja aku yang ditinggalkan oleh Minjung, namun Eunhyuk lah yang meninggalkan Haesa.
        “Ini Minjung. Kami harusnya menikah hari ini. Tapi Minjung meninggalkanku untuk selamanya dalam sebuah kecelakaan. Bus yang ditumpanginya masuk ke dalam jurang.” Jelasku yang semakin membuatnya syok.
        Lalu aku menceritakan bagaimana ketika aku terpaksa menikah dengan wanita yang tidak ku cintai sampai akhirnya aku kabur dari acara pernikahanku.

@@@

Heechul POV
     
Ini sebuah kebetulan yang membingungkan. Pria dihadapanku ini memang tidak sedang mempermainkanku. Karena aku lah yang menjemput jenazah Eunhyuk dari rumah sakit. Jadi, Eunhyuk memang tidak mungkin mengerjaiku dengan mengaku sebagai Hyukjae.
“Aku sangat sedih karena Haesa tak ingin membatalkan hari bahagianya ini. Dia begitu yakin bahwa Eunhyuknya akan kembali. Tapi itu tidak mungkin.” Akupun berkata dengan mata yang mulai berair. Aku menjatuhkan harga diriku dengan berlutut di hadapan Hyukjae. “Ku mohon tolong menikahlah dengan adikku.” Yang ku fikirkan saat ini hanyalah kebahagiaan Haesa.
        Hyukjae yang terkejut, sontak memegang pundakku dan memaksaku untuk berdiri. “Jangan bersikap seperti itu.”
        “Aku tak tau lagi apa yang harus ku perbuat.” Akupun tak kuasa menahan air mataku. “Tapi aku janji, setelah acara ini selesai, kau boleh pergi.” Kataku untuk meyakinkannya.
        Anggukan Hyukjae menjadi saat-saat bahagia untukku.

@@@

Hyukjae POV

        Aku kembali ke ruang ganti. Semua berjalan lancar. Pernikahan hanya dihadiri keluarga dan kerabat terdekat saja. Aku kembali teringat seorang wanita yang menangis sambil memelukku. Ada perasaan aneh kala itu. Wanita yang selama ini ku panggil ibu memang bukan ibu kandungku. Tapi wanita tadi? Kenapa rasanya aku seperti memiliki kontak batin dengannya?
        Aku membaringkan diri di sofa. Tak lama, terdengar suara langkah kaki masuk ke ruangan ini.
        “Maaf, siapapun kau, aku sangat berterima kasih untuk hari ini.”
Aku langsung bangkit mendengar gadis, ah maksudku istriku yang berbicara. Aku terpaku melihatnya. Sadarlah Hyukjae, walau dia istrimu, tapi dia bukan Minjung, bukan juga cinta sejatimu. Kalian hanya dua orang tidak saling kenal yang memiliki kisah sama dan tanpa sengaja ditakdirkan untuk bertemu.
        “Kau boleh pergi sekarang.” Katanya sambil memberikan ponselnya padaku. “Tulis nomor hapemu, dan aku akan segera menghubungimu setelah mengurus surat perceraian kita.”
        Aku menggeleng. “Tidak ada.”
        Dia berjalan ke sudut ruangan. Dan aku melihat Heechul berdiri mengawasi kami dari ambang pintu. Tak lama Haesa kembali dan menyodorkan sebuah kartu nama padaku.
        “Kalau gitu, kau hubungi ku segera.” Ujar Haesa yang seperti tak ingin berlama-lama lagi di ruangan ini. Ia pun pergi begitu saja.
        Aku pun harus segera pergi dari sini. Ku buka jas ku, lalu ku sambar ranselku dan pergi dari sana. Ternyata Heechul masih berdiri seperti tadi. Aku pun berhenti tepat di hadapannya.
        “Aku bukan tak suka kau menikah dengan adikku. Namun yang ku sesali, Haesa seperti mempermainkanmu saat ini. Kata maaf saja menurutku tidak cukup atas perlakuan adikku padamu.”
        Aku tersenyum untuk menghilangkan rasa bersalah Heechul padaku. “Ku rasa ini bukan salah Haesa. Tapi karma karena aku pun meninggalkan acara pernikahanku.”
        “Kalau begitu…” ku lihat Heechul membuka dompetnya dan mengeluarkan selembar kartu nama yang langsung ia berikan padaku. “…kau terima ini. Kalau terjadi sesuatu selama kau tinggal di sini, kau bisa segera mencari bantuan padaku.”
        Aku menghela napas kelegaan. Tak ku sangka aku bertemu dengan orang baik seperti Heechul di hari pertamaku meninggalkan rumah.
        Heechul seperti menertawai sesuatu. “Astaga! Betapa anehnya aku bicara padamu.” Aku menatapnya bingung. “Aku dan Eunhyuk selayaknya teman. Kita selalu bicara informal.”
        “Kalau begitu, mulai saat ini anggap aku temanmu juga. Dan teman pasti akan dengan senang hati membantu temannya, bukan?”
        Tak ku sangka Heechul meresponku sebaik itu. “Apa yang bisa ku lakukan untukmu?” tawarnya.
        “Kalau ada orang yang bertanya tentang diriku, yakinkan mereka kalau aku adalah Hyukjae, bukan Eunhyuk yang mereka kenal.” Pintaku.
        “Akan kulakukan itu untukmu.”
        Aku tersenyum lega. “Dan satu hal lagi. Aku butuh tempat tinggal. Bisa bantu aku mencarikannya?”
        “Ayo ikut aku.” Ajaknya.

@@@

        Sudah seminggu setelah aku menikah dengan Haesa. Namun aku masih belum ingin menghubunginya. Karena ia pasti akan memaksa bertemu untuk menandatangani surat perceraian kita. Bukankah perjanjiannya memang seperti itu? Tapi kenapa aku tak ingin berpisah dengannya?
        Aku telah bekerja di sebuah café tak jauh dari apartmen sederhana yang dicarikan Heechul untukku waktu itu. Kantor Haesa lumayan dekat dari café tempatku bekerja. Tiap sore, jadwal pulangku dan Haesa selalu berbarengan. Aku sering memperhatikannya diam-diam. Kebiasaannya setelah pulang bekerja adalah mampir ke taman, memperhatikan bahkan mengajak anak-anak kecil di sana bermain. Dan aku sangat senang melihat senyumnya. Seperti melihat Minjungku hidup kembali.
        Ini sudah memasuki minggu ke empat aku menjadi stalker istriku sendiri. Ya, Haesa masih istriku. Kami belum bercerai karena aku belum menghubungi ataupun memunculkan diri di hadapannya. Itu artinya, Haesa tidak bisa memaksaku menandatangi surat cerai yang ku yakin sudah diurusnya sejak lama.
        Saatnya aku pulang. Setelah mengganti seragam, aku segera pulang. Untuk melihat Haesa juga sebenarnya. Dan sepertinya, rencana ku hari ini akan gagal. Karena ku lihat Heechul masuk ke dalam café, lalu ia mengajakku ke sebuah meja. Kami duduk dekat jendela. Dan saat itu pula, aku melihat Haesa melintas dari kejauhan.
        “Kenapa kau tak menghubungi Haesa?” tegurnya mengalihkan tatapanku.
        “Aku akan menemui Haesa dan menandatangani surat cerai kami hari ini juga.” Kataku frustasi lalu berdiri. Namun Heechul menahanku untuk duduk kembali.
        “Aku hanya bertanya, bukan memaksamu.” Aku tak bisa membalas kata-katanya. “Kalau aku ingin kau segera bercerai dengan Haesa, sudah sejak lama aku datang ke apartmen mu dan memaksamu menandatangani surat cerai saat itu juga.”
        Heechul benar. Aku semakin bingung sekarang.

@@@

        Aku berjalan menuju tempat tinggalku. Namun perkataan Heechul barusan masih menghantui pikiranku. Dia bilang besok Haesa akan ke luar kota. Dan kota tersebut adalah tempat tinggalku sebelumnya. Tempat aku bertemu hingga berpisah dengan Minjung. Dengan kesal aku menendang benda yang berada dekat dengan kakiku. Tadinya ku pikir itu hanya kaleng minuman yang sudah kosong. Namun rasanya berbeda. Setelah aku menunduk, ternyata sebuah dompet. Aku memungutnya lalu melihat kesekeliling. Tidak ada siapa-siapa.
Lalu kuputuskan untuk membukanya hanya untuk melihat identitas pemilik. Karena aku berniat untuk mengembalikannya. Hal pertama yang menarik perhatianku adalah sebuah foto. Astaga! Itu wanita yang pernah memelukku saat pernikahanku dengan Haesa yang ku yakini itu adalah ibunya Eunhyuk.
        Aku mencari lebih dalam. Bukannya tidak sopan. Aku hanya ingin mencari tau alamat wanita itu. Namun yang langsung ku temukan adalah selembar foto yang membuat dadaku sesak seketika. Foto wanita itu ketika masih muda, ia menggendong seorang anak laki-laki sekitar umur 1 tahun, dan disampingnya berdiri seorang pria yang ku yakini adalah suaminya yang juga menggendong anak laki-laki yang sama. Anak mereka kembar. Dan pria itu adalah ayahku. Aku ingat, aku juga memiliki foto yang sama, namun yang ku punya hanya bagianku dan ayah.
        Jadi, wanita itu… ibuku? Astaga! Kenyataan apa lagi ini? Kurasakan kakiku lemas seketika. Namun aku harus tetap mencari rumah wanita itu saat ini juga.
        Aku sempat bertanya kepada orang-orang yang ku temui di jalan. Ternyata rumah itu tidak jauh dari tempat aku menemukan dompet. Kenapa tak terfikirkan olehku sebelumnya? Dan kenapa ayah seolah menyembunyikan keberadaan kembaranku? Bahkan tuhanpun sepertinya tak mengizinkan ku bertemu dengan Eunhyuk.
        Dapat. Dan aku semakin gugup ketika menekan bel rumah yang tadi ku cari-cari. Kurasakan seseorang membuka pintu dari dalam. Jantungku seakan berhenti berdetak. Aku akan bertemu dengan ibu kandungku?
        “Siapa?” wanita itu langsung terpaku melihatku. Badanku pun menegang seketika. “Hyukkie?” panggilnya.
        “Aku ingin mengembalikan dompet anda.” Kataku kemudian sambil menyodorkan dompet yang kutemukan. Wanita itu diam seketika. Sepertinya ia memang menyadari bahwa aku bukanlah Eunhyuk seperti yang ia harapkan. Namun aku langsung merutuki kebodohanku. Kenapa aku bersikap seperti itu?
        Betapa bahagianya diriku ketika ibuku tersenyum menerima dompetnya. Apa aku akan segera diizinkan pulang. Kumohon, persilahkan aku masuk. Aku ingin bicara banyak denganmu ibu…
        “Masuklah. Aku baru saja selesai masak.” Ajaknya.
        Benarkah yang aku dengar? Aku tak menyia-nyiakannya dan langsung mengikuti kemanapun ia pergi. Kami duduk berhadapan di meja makan. Rumah ini sungguh sepi. Apa ia tinggal sendiri? Apa ia tidak menikah lagi setelah berpisah dengan ayahku?
        “Makanlah dulu.” Katanya sambil menyendokkan beberapa menu makanan ke dalam piringku.
        Rasanya aku ingin sekali menangis mendapati perlakuannya terhadapku. Aku berdosa karena tidak mencarinya selama ini. Berdosa karena selama ini aku hanya menganggap ibunya Leeteuklah sebagai ibuku satu-satunya. Dan diriku semakin merasa berdosa karena tidak pernah mengunjunginya lagi setelah pernikahanku dengan Haesa.
        “Setelah berpisah dengan suamiku, aku pindah ke sini bersama Eunhyuk.” Ia mulai bercerita, dan aku sedikit menghentikan aktivitas makanku. “Kami hanya tinggal berdua karena aku tidak menikah lagi saat itu. Sampai akhirnya Hyukkie meninggalkanku terlebih dulu.” Namun ia masih berusaha tersenyum di tengah ceritanya. “Saat pertama kali aku bertemu denganmu, aku sangat bahagia seperti Eunhyuk telah kembali. Tapi aku sadar, bahwa kau bukan Hyukkieku.”
        Aku bangkit dan berlutut di hadapannya. Air matanya mengalir ketika aku menggenggam kedua tangannya. “Apa kau akan bahagia kalau aku berkata bahwa aku adalah Lee Hyukjae, putra dari tuan Lee Jinki?” lalu aku mengeluarkan selembar foto dari saku jaketku. Foto ayah yang sedang menggendongku waktu aku kecil. Foto yang sama seperti yang dimiliki wanita di hadapanku.
        Air mata ibuku semakin deras kala meraih foto yang ku tunjukkan. Lalu, ia pun memelukku sekuat mungkin seolah tak akan membiarkan aku pergi lagi dari hidupnya.

@@@

Heechul POV

      Aku menuju taman tempat Hyukjae menunggu. Ada apa ia ingin bertemu denganku malam-malam begini. Seolah tidak ada hari esok saja.
        “Apa penting sekali kau ingin bertemu denganku?” keluhku sambil duduk di sampingnya.
        “Maaf kalau aku mengganggu.” Katanya, lalu diam sejenak. “Ibunya Eunhyuk…”
        Aku terbelalak mendengar Hyukjae menyebut ibunya Eunhyuk. “Ada apa dengan ibunya Eunhyuk?”
        “Dia ibuku?”
        “Hah?” kejutku. Lalu Hyukjae bercerita tentang pertemuannya tadi dengan wanita yang ku kenal sebagai ibunya Eunhyuk. Ternyata ia juga baru saja dari sana.
        “Rencananya besok aku ingin pulang. Bersama ibuku. Dan aku juga akan menemui Haesa di sana. Apapun keputusannya, akan aku terima.”
        Haesa? Memang aku yang menyarankannya pergi ke sana. Aku tak bisa membayangkan apa saja yang akan ditemui oleh adikku itu. Tapi apapun yang terjadi, sepertinya aku harus ikut bersama Hyukjae ke sana.

@@@

Haesa POV

      Aku berencana menenangkan diri ke luar kota. Surat perceraian telah di urus oleh Heechul sejak sebulan lalu setelah pernikahanku. Namun hingga detik ini, Hyukjae belum menghubungiku.
        Aku turun di stasiun kereta bawah tanah, lalu menelusuri kota. Sebenarnya, aku kesini untuk menenangkan diri hanyalah alasan di depan orang tuaku. Tujuan sebenarnya adalah untuk mencari tau tentang Hyukjae. Heechul yang menyarankanku. Karena menurutnya, ada sesuatu antara diriku dan Hyukjae.
        Aku juga heran dengan diriku sendiri. Bukankah aku yang memaksa menikah, lalu bercerai dengan Hyukjae. Aku pula yang meminta bantuan Heechul mengurus surat perceraianku. Tapi aku sama sekali tidak ingin Hyukjae menghubungiku kalau untuk membahas perceraian. Apa karena dia adalah suamiku? Tapi dia bukan Eunhyuk. Dan dia mau melakukan ini pasti karena aku mirip dengan calon istrinya.
        Untuk saat ini aku cukup lelah dan memutuskan untuk sekedar istirahat di sebuah café.

@@@

Author POV

        “Sungmin oppa…” Eun Gee membuka pintu ruang kerja Sungmin. “Ini sudah siang, apa kau tak lapar?” Tanya Eun Gee lagi.
        Sungmin tersenyum sambil membereskan beberapa berkas di atas mejanya. “Kau mau makan di mana?” Sungmin balik bertanya.
        “Hmm…” Eun Gee terlihat berfikir. “Kita ke cafenya Leeteuk oppa saja bagaimana?” tawarnya.
        “Apapun ku lakukan untukmu nyonya Lee.” Goda Sungmin sambil menggandeng tangan Eun Gee.
        Beberapa menit kemudian, mereka akhirnya sampai di tempat yang diinginkan Eun Gee, café milik Leeteuk. (café yang sama seperti yang dikunjungi Haesa saat itu). Mereka mengedar pandangan untuk mencari meja. Kali ini Eun Gee yang bersemangat sambil menarik tangan Sungmin. Sampai akhirnya mereka melihat Haesa yang tengah menyantap makanannya.
        “Minjung?” Tanya Sungmin dan Eun Gee bersamaan.
        “Apa kalian tadi menyebut Minjung?” tegur Leeteuk yang ternyata berada di sekitar sana, lalu mendekati Sungmin dan Eun Gee. “Minjung? Kau?” Ia pun sama terkejutnya mendapati Haesa duduk di sana.



@_to_be_continue_@