Tampilkan postingan dengan label Yook Sungjae. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Yook Sungjae. Tampilkan semua postingan

Minggu, 15 Februari 2015

PERFECT LOVE (chapter 18)


Author              : Annisa Pamungkas (@nniissaa11)
Main Cast          : B.A.P (Yongguk, Himchan, Daehyun, Youngjae,
  Jongup, Zelo [Junhong])
Support cast     :
·        A-Pink (Chorong, Bomi, Naeun, Eun Ji, Namjoo, Hayoung)
·        G.Na (Soloist)
·        B2ST (Doojoon)
·        BtoB
Genre               : romance, family, brothership
Length              : chapter

***

        Zelo membuka pintu kamar Youngjae dengan gerakan kasar. Ia sendiri sudah tampak rapih dengan stelan jas yang sangat pas membalut tubuh tingginya tersebut. Sementara sang pemilik kamar, Youngjae, duduk membelakangi Zelo dengan posisi menempelkan pipinya ke permukaan meja dengan perasaan hampa. Bahkan saat mendengar pintu kamarnya terbuka dengan kasar pun, Youngjae sama sekali tidak bergerak.
        “Jadi aku orang terakhir yang tahu tentang semuanya. Orang tua kita? Ibu kita?”
        Youngjae sempat memejamkan matanya sesaat. Masih tanpa merubah posisinya. Ia sadar dengan apa yang dibicarakan Zelo. Sementara itu, sebenarnya tangan Youngjae yang tersembunyi di bawah meja sedang menggenggam sebuah foto yang menurutnya sangat berharga. Zelo sempat menanyainya tentang foto itu pada Youngjae beberapa hari lalu. Dan Youngjae hanya mengatakan bahwa itu foto keluarganya. Ayah, ibu dan saudaranya. Memang tanpa Zelo. Karena tentu saja yang sangat ingin diketahui Youngjae adalah tentang keluarganya, tidak termasuk Zelo yang selama ini ia ketahui sebagai sepupunya.
        “Papaku memang Yoon Doojoon.” Zelo kembali bersuara. Menatap hampa punggung Youngjae yang sudah mengenakan kemeja putihnya. “Tapi Ibu kita sama. Choi G.Na.”
        Youngjae cukup bereaksi mendengar ucapan Zelo. Lalu kemudian terdengar suara ketukan pada pintu kamar Youngjae. Zelo berbalik untuk memastikan. Dan cukup terkejut karena ia mendapati Jongup di sana. Di susul pemuda yang ia kenal sebagai gurunya, Himchan. Tidak ketinggalan Daehyun serta Yongguk yang berdiri paling belakang.
        Yongguk kemudian menerobos masuk. Di tangannya terdapat sebuah ‘photo book’. Buku berisi jepretan foto karya Zelo. Setelah pertemuan mereka pada hari pernikahan Yongguk, keduanya terlibat proyek penting. Yongguk yang tertarik dengan isi memori milik Zelo, memang ingin mengabadikan karya tersebut menjadi sebuah buku. Tentu saja karenya isi buku tersebut adalah kumpulan foto-foto seorang Ibu bersama anak mereka yang ditemui Zelo di mana saja. Bukti kecil bahwa seorang Zelo merindukan sosok ‘Ibu’. Sama seperti Yongguk.
        Zelo menerima buku tersebut dengan perasaan bercampur aduk. Pertengkarannya dengan Jongup dulu, ternyata membawa dampak yang sangat berarti. Semua karya-karyanya tidak hanya sampai layar laptop saja. Tapi bahkan sudah terkumpul rapih dalam sebuah buku. Zelo memeluk buku itu, terharu. Ia sama sekali tidak bisa berkata apa-apa membuat Yongguk ingin memeluk tubuh tinggi itu.
        Tersisa Daehyun, Jongup serta Himchan yang ikut senang melihat Yongguk dengan Zelo. Dengan adik kecil mereka yang bahkan badannya lebih tinggi dari mereka sendiri. Jongup menyenggol-nyenggol Daehyun untuk memberi tahukan keberadaan Youngjae di sana.
        Daehyun sempat melirik jam tangannya sambil tersenyum jahil. “Kayaknya kalau kita nggak pergi sekarang, Minhyuk bisa-bisa tiba duluan di rumahnya Eun Ji,” ujar Daehyun dengan suara yang sengaja ia keraskan.
        Sontak Youngjae mendorong dengan kasar kursinya sambil berdiri. Saat berbalik, ia terkejut karena ternyata sudah banyak orang di kamarnya. Himchan bahkan hanya berjarak beberapa meter darinya sambil membawa jas yang seharusnya Youngjae kenakan. Karena hari ini adalah hari pernikahannya dengan Eun Ji.
        “Atau kamu mau Ibu yang jemput ke sini?” tanya Himchan, jahil.
        “Ibu?” Youngjae hanya bergumam samar. Ia tidak bisa menebak suasana yang terjadi. Keberadaan Yongguk, Himchan, Jongup dan Daehyun dengan pakaian rapih di sana. Youngjae sempat melirik Daehyun untuk memastikan apa yang terjadi di sana. Tentu karena selain Zelo, Youngjae sudah mengenal Daehyun lebih dulu.
        “Gue juga nggak nyangka, Jae. Kita keluarga. Lo bahkan adik gue. Tapi nyatanya lo bakal nikah duluan dari gue.” Daehyun berujar sedih hingga menyulut tawa diantara yang lainnya. Kecuali Youngjae yang hanya tersenyum tipis.
        Himchan membentangkan jas milik Youngjae. Membantu pemuda yang ternyata adiknya itu untuk mengenakannya. Jongup juga ikut mengibaskan tangannya ke atas pundak Youngjae seakan ingin menghilangkan debu yang masih tersisa di sana.
        “Jodoh tuh emang nggak ada yang tahu ya, Mas?”
        Himchan mengangguk, menyetujui ucapan Jongup. Ia kemudian meletakkan tangannya di pundak Youngjae. “Dan kita semua datang ke sini untuk menjemput kamu.”
        Youngjae masih tertegun. Tidak menyangka jika ternyata selama ini sebenarnya ia tidak sendirian membongkar semuanya. Bahkan di saat ia masih meraba-raba kenyataan yang ada, Daehyun dan keluarga sudah mengetahui semua dari sisi Ibu mereka, G.Na. Tentu dengan sedikit campur tangan Hyuna dan Junhyung,—Bomi juga termasuk—Yongguk  bisa membawa adik-adiknya sampai ke sana. Meski mereka sendiri belum bisa bertemu Doojoon untuk memastikan semua kebenarannya.
        Jongup baru menyadari jika tangan Youngjae masih menggenggam sebuah foto. Jongup yang teringat sesuatu, mengeluarkan sebuah foto dari dalam saku jasnya. Foto yang sama persis seperti apa yang dipegang Youngjae. Youngjae hanya melebarkan mata saat Jongup menunjukkan foto tersebut.
        “Ini aku,” kata Jongup saat menunjuk foto seorang bayi laki-laki dalam gendongan Ibu mereka. Lalu berturut-turut, Jongup kembali menunjuk foto bocah laki-laki, mulai dari yang paling besar. “Kalau ini Mas Yongguk, Mas Himchan, terus Mas Daehyun.” Tersisa bocah laki-laki lagi yang masih cukup kecil dan duduk dalam pangkuan ayahnya. “Dan ini Mas Youngjae, kan?”
        Youngjae mengangkat tangannya yang menggenggam foto. Seakan menyamakan isi ke dua foto tersebut.
        “Isinya sama kok, Mas. Nggak ada guenya,” desis Zelo. Memang hanya dirinya yang menatap tak suka saat Jongup seperti mengenalkan Youngjae pada keluarganya sendiri. Dan memang tidak ada bayi Zelo di dalam foto tersebut.
        Semua orang menertawai sikap kekanakan Zelo. Yongguk yang memang berada paling dekat dengan Zelo, menepuk-nepuk pundak pemuda itu.

***

        Youngjae ke luar dari sebuah mobil bersama Himchan serta Daehyun. Sementara Yongguk, Jongup dan Zelo berada di mobil yang berbeda. Mereka beriringan menemani Youngjae memasuki aula besar sebuah hotel mewah tempat Youngjae akan melangsungkan pernikahannya. Yongguk dan Himchan yang benar-benar mengapit Youngjae sambil menenangkan adik mereka tersebut. Meski belum pernah merasakannya, Himchan juga ikut gugup seperti halnya Youngjae.
        Setelah itu hanya benar-benar Yongguk yang mengantar Youngjae sampai depan. Di sana terdapat sebuah meja yang sudah dikelilingi beberapa orang. Termasuk ke dua orang tua Eun Ji dan.. G.Na. Youngjae menatap takjub akan kehadiran G.Na. Tebakan Youngjae sama sekali tak meleset tentang G.Na yang ternyata memang benar Ibu kandungnya. Youngjae langsung melesat memeluk Ibunya. G.Na bahkan sudah benar-benar menangis saat membalas pelukan Youngjae. Yongguk ikut mengusap punggung Youngjae dan G.Na. Setelah memeluk Youngjae sesaat, Yongguk menyingkir untuk bergabung dengan adiknya yang lain.
        Chorong menyambut kedatangan Yongguk dengan memberikan tempat pada Yongguk tepat di sampingnya dan Himchan. Hampir ke ujung sana, Yongguk melihat keberadaan Ilhoon, tapi ia tidak sempat menegurnya. Daehyun, dan Jongup duduk di deretan belakang Yongguk bersama Hayoung juga. Tersisa Zelo yang berada tidak jauh dari meja besar bersama kamera kesayangannya untuk mengabadikan momen sakral yang akan dijalani Youngjae.
        Seorang pria melangkah terburu-buru memasuki ruangan. Tujuan utamanya adalah meja besar tempat Youngjae akan menikah. Di sana ia langsung menyapa Junhyung dengan perasaan sedikit bersalah karena keterlambatannya.
        “Kita baru akan mulai kok, Joon.”
Junhyung mempersilahkan Doojoon untuk menempati kursinya, di samping Youngjae. Namun langkah pria itu tertahan karena melihat seorang wanita yang bahkan sama sekali tidak meninggalkan Youngjae. G.Na, yang saat itu sedang menggenggam tangan Youngjae. G.Na memang sudah menyadari siapa pria yang baru datang tersebut. Dan ia berusaha menghindari bertatap mata secara langsung dengan seorang Yoon Doojoon.
        “Pa, ayo cepet duduk. Acaranya udah mau mulai, nih.” Tegur Zelo yang secara tidak langsung menekankan pada G.Na bahwa ia adalah anaknya Doojoon. Meski Zelo melakukan itu dengan tidak sadar.

***

        Setengah jam berlalu. Pernikahan Youngjae selesai. Dan kini giliran Eun Ji untuk memunculkan diri ke dalam aula. Eun Ji memang menunggu di sebuah ruangan yang disediakan. Ditemani Bomi serta Naeun yang menggandeng Eun Ji di kedua sisinya. Kemudian Hyuna tampak mengambil alih Eun Ji untuk duduk tepat di samping Youngjae. Pemuda itu bahkan tampak tidak berkedip saat Eun Ji baru memunculkan diri di sana.
        Bomi dan Naeun menyingkir dan bergabung dengan Daehyun juga yang lain. Naeun tentu saja langsung duduk bersebelahan dengan Daehyun. Namun Bomi justru memilih duduk di samping Chorong. Cukup berjauhan dengan Himchan yang tidak melakukan protes apa pun terhadap keputusan Bomi tidak duduk di kursi kosong, tepat di samping Himchan.
        “Youngjae kocak banget sih mukanya pas liat Eun Ji,” ujar Daehyun saat Naeun sudah duduk di sampingnya.
        “Apa lagi aku, Dae. Jelas banget liat wajah Youngjae. Tuh anak udah bener-bener jatuh cinta sama Eun Ji aku rasa,” sahut Naeun yang secara tidak langsung ikut membenarkan perkataan Daehyun.
        “Mereka serasi ya?” gumam Hayoung saat menyaksikan Youngjae memasangkan cincin ke jari manis Eun Ji. Tapi tidak ada yang tahu jika diam-diam mata Hayoung mengawasi Zelo yang masih sibuk memotret.
        “Aku juga bakal bilang begitu kalau nggak tahu apa yang terjadi sama mereka sebelum ini.”
        Hayoung menatap Naeun penuh minat. Jelas saja ia tidak tahu apa-apa tentang Eun Ji dan Youngjae. Keberadaannya di sana juga bisa dibilang karena ajakan Zelo yang kini justru mengabaikannya. Dan atas permintaan Jongup juga. Hayoung sendiri juga baru mengetahui kebenaran hubungan antara Jongup dan Himchan saat pernikahan kakaknya, Chorong.
        Jongup yang duduk bersebelahan dengan Hayoung ikut berujar, “Cintanya Mas Youngjae dulu pernah ditolak sama Mba Naeun,” lanjutnya hingga terdengar kekehan kecil dari bibir Jongup yang melihat ekspresi kesal dari Daehyun.
        Daehyun meletakkan tangan kirinya di belakang pundak Naeun untuk memukul belakang kepala adiknya itu yang duduk di samping Naeun. Daehyun dan Jongup duduk mengapit Naeun. “Tolong jangan bahas itu lagi ya adikku sayang,” desis Daehyun dengan nada kesal namun ia harus menyembunyikan kekesalannya itu. Sementara Naeun hanya terkekeh dibuatnya.
        Yongguk tampak berdiri. Tidak lupa ia menggandeng tangan Chorong sambil mengajak adik-adiknya juga, “Ayo kita beri selamat pada Youngjae.”
        Setelah Yongguk melangkah, Himchan juga berdiri tanpa mengatakan apapun. Tampak sibuk dengan dunianya sendiri. Melupakan Bomi yang bahkan sama sekali tidak ia lepaskan saat berada di pernikahan Yongguk. Berbeda dengan hari ini. Dan akhirnya Hayounglah yang berinisiatif mengajak Bomi untuk menyusul.
        Jongup berjalan paling akhir karena ia lebih tertarik menghampiri Zelo terlebih dahulu. Bukan hanya karena Zelo, tapi karena ia melihat kehadiran Sungjae di sana. Berbincang dengan Zelo.
        “Sungjae? Lo di sini juga?”
        Sungjae memeluk Jongup singkat, kemudian berkata, “Gantiin Bang Eunkwang, nih. Dia lagi persiapan mau lamaran soalnya. Dan bagus deh kalau gue ketemu lo di sini juga.”
        “Waaah, berarti ada harapan buat ngelamar Mba Bomi dong, ya?” seru Jongup sedikit heboh. Membuat Yongguk yang mendengar, sontak menghentikan langkah.
Tentu Jongup sengaja melakukan hal itu. Kemudian saat menoleh, ia mendapati Yongguk melemparinya tatapan tajam. Seolah menegur Jongup atas ucapannya pada Sungjae tadi. Padahal yang sebenarnya bukan seperti apa yang dipikirkan Yongguk. Jongup lalu memberi isyarat dengan melirikkan matanya ke arah Himchan yang tetap berjalan lurus seorang diri. Yongguk hanya bernapas lega karena maksud Jongup adalah untuk Himchan. Tentu Yongguk sangat menyetujui ide liar Jongup tersebut.

***

        Doojoon dan Junhyung berada di dalam sebuah ruangan yang hanya berisi meja dan sofa-sofa besar. Saat pintu terbuka, keduanya sontak menegak. Hyuna muncul bersama seorang wanita yang ia bawa dengan sedikit paksaan. G.Na.
        “Semua harus diselesaikan sekarang juga. Anak-anak kamu udah nunggu lama untuk hari ini, G.Na.”
        Doojoon sudah berdiri dengan tatapan lurus ke arah G.Na. Pria itu rasanya sudah ingin berlari dan membawa G.Na masuk ke dalam pelukannya. Tapi tatapan dingin wanita itu membuat Doojoon membatalkan semua keinginannya. Dan perasaan bersalah yang menggantikannya.
        “Kita bicara. Tapi kamu tetap di sana!” desis G.Na yang memang sudah menyadari keberadaan bahkan gelagat aneh yang akan dilakukan Doojoon.
        Usaha Hyuna dan Junhyung ternyata tidak sia-sia. Mereka memang ingin menyelesaikan kesalahpahaman antara G.Na dan Doojoon. Tapi terhalang karena selama ini Junhyung tidak tahu jika G.Na menjadi perawat di rumah sakitnya selama beberapa tahun terakhir. Dulu G.Na sempat menghilang.Dan kejadian antara Eun Ji dan Youngjae pun menjadi celah untuk mempertemukan G.Na dengan Doojoon. Hyuna duduk mendampingi G.Na. Sementara Junhyung dan Doojoon duduk berseberangan dengan sebuah meja membatasi mereka.
        “Entah apa yang membuat Hyunseung tidak pernah menceritakan jika ia memiliki seorang adik laki-laki yang tinggal dengan Ibunya. Aku juga hanya pernah bertemu dengan Ibunya Hyunseung beberapa kali. Selama beberapa tahun, aku dan Hyunseung hidup bahagia dengan lima anak laki-laki kami. Kemudian Doojoon datang.”
        G.Na sempat menghela napas sesaat di tengah-tengah ia bercerita. Namun air mata wanita itu tetap tidak bisa terbendung lagi. Buru-buru G.Na menyekanya sebelum kembali bercerita. Sementara Doojoon sendiri hanya mampu mengepalkan tangannya tanpa bisa berbuat apa-apa lagi.
        “Jujur aku memang masih menyimpan rasa dengan Doojoon kala itu. Dan tidak menyangka jika pertemuan kami hingga membawa aku hamil Junhong. Lalu semua terbongkar. Hyunseung mengetahui apa yang tidak kuketahui. Junhong ternyata bukan anak kandung Hyunseung. Itu juga alasan Hyunseung akhirnya meninggalkanku. Pergi hanya dengan membawa Youngjae hingga membuatku mengabaikan keberadaan anak-anakku yang lain.”
        “Tapi jangan pernah berpikir aku tidak berusaha untuk mencarimu.” Doojoon akhirnya tidak sabar untuk bersuara.
        G.Na menatap Doojoon, datar. “Oh, terima kasih. Dan memang aku yang menghindar.” G.Na memutuskan kontak terhadap Doojoon. Matanya yang masih basah, kini semakin tidak bisa menahan air matanya yang lain untuk mengalir. “Aku hanya tidak tahu apa yang harus aku lakukan setelah Hyunseung pergi. Berharap Hyunseung tidak melakukan hal yang sama terhadap anak-anakku yang lain. Membawa pergi bersamanya.”
        “Hyunseung memang hanya sempat membawa Youngjae yang sedang di rawat di rumah sakit. Kekhawatiran G.Na memang beralasan karena aku yakin Hyunseung memang akan membawa pergi satu-persatu anaknya. Tapi tepat di hari yang sama, Hyunseung dan Youngjae mengalami kecelakaan. Aku juga berada di rumah sakit tersebut karena Zelo sedang sakit.”
        Kini giliran Doojoon yang bercerita dengan pandangan kosong. Ia juga serba salah saat itu.
        “Tadinya kupikir setelah membawa Zelo, semua masalah selesai. Karena tentu saja aku tidak ingin merusak rumah tangga G.Na. Tapi ternyata semuanya diluar dugaan. Nyawa Hyunseung tidak tertolong, dan dia hanya sempat menitipkan Youngjae padaku. Maaf, karena tidak langsung mencarimu waktu itu. Semuanya berlalu begitu cepat. Dan G.Na sudah terlanjur pergi entah ke mana.”
        Tangis G.Na semakin pecah setelah mengetahui jika Hyunseung ternyata sudah tiada selama ini. Dan tidak hanya G.Na, ruangan tersebut ternyata tepat bersebelahan dengan ruang ganti untuk Youngjae. Ada celah sebesar pintu yang hanya tertutup tirai dan memungkinkan semuanya terdengar jelas.
Di sana Youngjae tidak sendiri, tapi bersama semua saudara laki-lakinya. Zelo bahkan sudah menenggelamkan wajahnya ke telapak tangan dan terisak di sana. Jongup juga sudah berurai air mata di salah satu sudut ruangan di temani Daehyun yang sibuk menenangkan adiknya meski ia sendiri juga sudah sempat menangis.
        Yongguk berdiri di samping Youngjae yang duduk di kursi dengan tangan yang ia letakkan di atas pundak adiknya yang baru ia temui selama ini. Mata keduanya juga tampak memerah karena menahan tangis. Sementara Himchan duduk diam di samping Zelo. Mata guru tampan itu sama merahnya seperti Yongguk dan Youngjae. Tapi ia masih bisa menahan tangisannya.
        “Maafin Papa saya, Pak.”
        Himchan menoleh. Panggilan formal tersebut memang masih digunakan Zelo pada Himchan. Ia belum bisa seperti Jongup yang bersikap professional terhadap Himchan saat di rumah maupun saat di sekolah. Zelo menunjukkan wajahnya yang sudah basah karena air mata. Melihat itu, Himchan memeluk Zelo. Membiarkan adik bungsunya itu membasahi kemeja Himchan.
        “Semua memang sudah sangat terlambat untuk diperbaiki. Jadi aku hanya bisa bertanya, apa maumu sekarang Choi G.Na?”
        Suara berat Doojoon kembali terdengar hingga ruangan Youngjae dan yang lainnya berada. Mereka menunggu dengan gusar jawaban G.Na. wanita itu cukup mengulur waktu untuk menjawab.
        “Kembalikan Youngjae padaku, dan kamu bisa pergi. Aku tidak akan mengganggumu dengan cara apapun.”
Zelo tampak melepaskan dengan paksa pelukan Himchan dari tubuh tingginya. Jongup ikut bangkit saat dilihatnya Zelo sudah berdiri. Bahkan sudah ingin menerobos tirai dengan tidak sabar. Namun Himchan masih berusaha menghalanginya.
        “Zel!” Youngjae ikut menangkap salah satu tangan Zelo.

***

        Nanti gue kirimin alamat website. Lo tinggal isi data diri aja untuk pemesanan tiket. Kalau udah, lo kabarin gue lagi. ~Peniel~

      Eun Ji menatap nanar layar ponselnya. Tidak bisa berkonsenterasi dengan kejadian yang terjadi di ruangan sebelah. Tempat G.Na, Doojoon, Junhyung dan Hyuna saat ini, tepat berada di antara ruangan Youngjae dan Eun Ji. Sama seperti ruangan Youngjae, tempat Eun Ji berada bersama Naeun, Chorong, Hayoung, Namjoo dan Bomi juga memiliki tirai yang menjadi pembatas ruangan.
        Eun Ji sendiri juga sudah berganti pakaian karena setelah ini akan berlangsung resepsi pernikahannya dengan Youngjae. Di ruangan itu Chorong dan Bomi saling berangkulan. Tentu saja Bomi yang sudah sangat berurai air mata. Ia sudah menganggap keluarga G.Na seperti keluarganya sendiri. Sejak kecil Bomi sudah hidup di tengah-tengah keluarga G.Na.
        “Semua memang sudah sangat terlambat untuk diperbaiki. Jadi aku hanya bisa bertanya, apa maumu sekarang Choi G.Na?”
        “Kembalikan Youngjae padaku, dan kamu bisa pergi. Aku tidak akan mengganggumu dengan cara apapun.”
        Para gadis di ruangan itu ikut terkejut dengan pernyataan G.Na. Termasuk Namjoo yang memang tidak terlalu tahu apa-apa tentang semua yang sedang terjadi saat itu.
        “Bagaimana nasib Zelo?” bisik Hayoung dengan nada khawatir.
        Naeun yang duduk disebelahnya, mengusap-usap pundak Hayoung. Sampai akhirnya, Ilhoon yang tidak tahu apa-apa tampak memasuki ruangan. Ia dibuat bingung dengan pemandangan yang ada. Suasana tegang yang mendominasi.
        “Aku pikir ini ruangannya Mas Youngjae. Tapi kakak udah siap juga, kan?” Ilhoon menatap lurus ke arah Eun Ji yang berada di dalam ruangan.
        “Bentar lagi, Hoon. Gue telepon Youngjae dulu. Kamu urusin yang lain lagi aja.”
        Tanpa merespon apa-apa, Ilhoon menuruti ucapan Eun Ji yang secara tidak langsung menyuruhnya untuk meninggalkan ruangan itu.

***

        “Ibu nggak menginginkan gue, Mas! Sekarang apa lagi? Apa kalian juga bakal ninggalin gue sendirian? Sedangkan kalian masih bisa bersama-sama. Bahkan Mas Youngjae juga kembali sama kalian. Apa karena ayah kita berbeda? Makanya Ibu juga memperlakukan gue seperti ini?” Zelo berteriak-teriak, meluapkan amarahnya mendengar ucapan G.Na yang tentu sukses menyakiti hatinya.
        Jongup menyeka matanya dengan sedikit kasar. Tanpa ada yang bisa mencegah, ia menerobos tirai. Membuat keterkejutan bagi pada orang tua yang ada di sana. Karena sebenarnya mereka memang menunggu G.Na untuk berujar lagi, tapi wanita itu tetap pada pendiriannya yang hanya ingin mengambil Youngjae kembali ke pelukannya. Tanpa Zelo.
        “Apa Ibu akan meninggalkan Zelo? Memisahkan kami?” Jongup menatap Ibunya penuh permohonan.
        G.Na mengitari sofa untuk menghampiri ke enam putranya. Yongguk juga tampak melangkah lalu jatuh berlutut di hadapan G.Na. Tanpa mengurangi rasa hormat, tentu pemuda itu ingin G.Na menarik ucapannya. Ia baru dipertemukan kembali dengan dua adiknya. Dulu bahkan Yongguk belum pernah melihat bayi Zelo.
        “Keluarga kita baru lengkap. Youngjae dan Junhong yang Ibu cari selama ini telah kembali. Apa itu tidak bisa untuk selamanya?” tanya Yongguk yang kemudian menatap Doojoon dikejauhan sambil menunggu respon G.Na.
Youngjae dan Himchan bahkan sudah mengikuti jejak Yongguk, berlutut di hadapan G.Na. Disusul Daehyun kemudian. Jongup justru terlihat menyingkir, sedikit merapat bahkan sempat menghadap ke tembok. Tidak jauh dari sana, Zelo masih berdiri dengan matanya yang basah, menatap hampa ke arah G.Na.
        Doojoon yang memang sudah tidak bisa berbuat apa-apa, menjatuhkan tatapannya pada Youngjae. Di saat yang bersamaan Youngjae juga menatap penuh harap pada Doojoon. Namun pria itu hanya mampu mengangkat bahunya, pasrah. Gerakan mata Doojoon mengisyaratkan jika ia menyerahkan semua keputusan pada G.Na.
        Youngjae menghembuskan napasnya yang terdengar sedikit berat. Ia kemudian mengajak Yongguk dan Himchan yang berada tepat di kedua sisinya untuk sama-sama berdiri. Secara tidak langsung, Himchan juga mengajak Daehyun untuk berdiri.
        “Kalau memang Ibu tidak bisa membawa Zelo, biar aku yang tetap tinggal. Aku nggak mau ngeliat Zelo sendirian.”
        Mendengar ucapan Youngjae, air mata G.Na kembali menetes. Rasa bersalahnya pada Zelo berlipat ganda. “Maaf Junhong. Ibu yang salah.”
        Zelo hanya tersenyum getir dan tidak bergerak dari tempatnya berada. Namun Youngjae tetap mengarahkan tatapannya pada Zelo hingga pemuda itu tersadar. Dan benar, Zelo akhirnya menyadari tatapan Youngjae. Tidak sepantasnya ia membalas perlakuan G.Na. Meski hanya lewat pandangan mata, Zelo tampak menurut dan mengalah. Ia bahkan yang lebih dulu menghampiri G.Na untuk memeluknya, penuh rasa bersalah.
        Youngjae merasakan ponselnya bergetar di tengah-tengah suasana haru tersebut. Dari Eun Ji. Pemuda itu sedikit menyingkir, seakan bertukar tempat dengan Jongup.
        “Apa kalian udah selesai?”
        Youngjae tidak menjawab pertanyaan Eun Ji karena suara gadis itu terasa sangat dekat. Lalu kemudian, mata Youngjae menangkap sebuah tirai di sisi lain ruangan tersebut. Ia pun berjalan dengan langkah lebarnya ke arah tirai tersebut. Tanpa pikir panjang, Youngjae menyingkap tirai dan mendapati Eun Ji berdiri di sana. Masih dengan posisi ponsel menempel di telinganya.
        Eun Ji melangkah ke luar tirai dengan bantuan Youngjae yang menyingkap tirai lebih lebar lagi. Bukan hanya untuk Eun Ji, namun Youngjae masih melakukan hal yang sama kepada para gadis yang menyusul Eun Ji ke luar dari ruangan tersebut. Berkumpul dengan yang lainnya.
        Eun Ji dan Youngjae masih bertahan di sana. Sisa-sisa air mata di mata Youngjae masih terlihat. Bahkan ada yang sempat kembali mengalir. Youngjae sudah ingin mengangkat tangan, namun Eun Ji lebih cepat menghalanginya.
        “Tangan lo kotor, Jae.” Eun Ji lalu memberikan selembar tissue pada pemuda yang sudah resmi menjadi suaminya tersebut.
        Eun Ji melihat tangan kiri Youngjae yang hanya sedang menggenggam ponsel. Cewek itu mengambil ponsel Youngjae lalu menggantikannya dengan mengaitkan jari-jari tangannya di sana. Menggenggam erat tangan Youngjae seolah menandakan ia juga berada di sana merasakan kesedihan dan bahagia luar biasa seperti yang dirasakan Youngjae saat ini. Mereka kemudian bertatapan tanpa berkata apa-apa.
        Selanjutnya, Eun Ji dan Youngjae harus menemui para tamu undangan yang sudah hadir di resepsi pernihakannya tersebut. Mereka melangkah penuh senyum menuju pelaminan. Tangan Eun Ji juga sudah seperti tidak bisa melepaskan Youngjae.
        Kejadian beberapa saat lalu seperti sudah terlupakan. Zelo juga sudah kembali ceria dengan kamera di tangannya. Bergantian Zelo memotret anggota keluarga barunya. Terkadang bahkan ia mengajak Jongup dan Hayoung atau dengan yang lainnya untuk melakukan self camera. Tertawa tanpa henti. Lalu Yongguk tampak meminta Zelo untuk mengabadikan gambarnya bersama Chorong.
        Tidak ingin ketinggalan, Daehyun dan Naeun juga ingin difoto bersama. Zelo juga sempat memberi petunjuk pada Jongup karena tentu ia juga ingin menjadi objek foto. Tidak lupa Zelo memaksa Hayoung untuk berfoto bersama dengan gaya remaja yang mereka miliki.
        Merasa cukup puas, Zelo kembali merebut kamera kesayangannya. Selanjutnya, ia mengarahkan lensa kamera kepada Jongup. Dengan bantuan Hayoung yang sedikit memaksa Namjoo untuk berdiri lebih dekat dengan Jongup. Namjoo dan Jongup hanya saling melempar tatapan. Namun itu justru membuat Zelo merasa sangat puas dengan hasil tangkapannya.
        “Waah, siapa lagi nih yang belum foto?” ujar Zelo penuh semangat.
        Jongup mengedarkan pandangannya. Dan lagi-lagi berhadapan langsung dengan Yongguk. Tapi kontak batin keduanya seakan sudah sangat kuat. Target mereka tentu saja Himchan. Yongguk dengan sengaja mengajak Chorong untuk menjauhi Himchan yang sedang mengobrol bersamanya. Jongup sendiri langsung melesat ke samping Bomi. Jongup bahkan sudah menggamit lengan Bomi dan memaksa gadis itu mengikutinya.
        “Zelo!” seru Jongup. Saat Zelo menyadari posisinya, Jongup menunjuk-nunjuk ke arah Bomi dan Himchan secara bergantian.
        “Jong!” desis Bomi yang akhirnya menyadari kejahilan Jongup.
Dan Jongup memang benar-benar jahil. Ia tidak segan-segan mendorong tubuh Bomi ke arah Himchan. Tentu Himchan dengan sigap menangkap tubuh ramping Bomi. Adegan yang lebih spektakuler dibandingkan milik Jongup-Namjoo pun terjadi. Himchan dengan posisi setengah memeluk Bomi dan saling bertatapan.
        Setelah melihat hasil karya Zelo, Jongup melakukan high five  dengan adiknya itu. Rencana mereka memang sukses berat. Yongguk, Daehyun beserta pasangan merekapun ikut senang melihat Himchan dikerjai dua adiknya tersebut. Cepat-cepat Jongup mengajak Zelo menyingkir dari sana sebelum Himchan menunjukkan amarahnya.
        Di sisi lain, Namjoo terlihat bernapas lega. Ia sendiri juga belum mengetahui maksud perasaannya sendiri. Namjoo melihat dengan jelas saat Jongup berbicara dengan Sungjae dan mengatakan ada peluang untuk melamar Bomi. Ternyata maksud Jongup adalah untuk Himchan. Ia hanya merasa nyaman kenal dengan Jongup. Dan rasanya ingin tetap sama seperti ini, tidak ada yang berubah. Tentu setelah Youngjae sudah dimiliki gadis lain. Namjoo menatap hampa namun ia tetap bahagia melihat Youngjae bersanding dengan Eun Ji.

***

        Kita berangkat hari Kamis. Penerbangan jam 2 siang. Jam 11 gue tunggu di studio.

      Eun Ji tidak segera merespon pesan dari Peniel tersebut karena merasakan tangan Youngjae seperti memanggilnya. Malam itu Peniel tidak hadir karena masih sibuk mengurusi acara yang akan mereka jalani beberapa hari lagi.
        “Iya, Jae.”
        “Kenalin, ini sahabat gue dari kecil. Namanya Gikwang.”
        Eun Ji melebarkan matanya menatap pemuda dihadapannya. Bahkan suara Youngjae tadi seperti tidak menembus gendang telinganya. Tanpa harus diperkenalkan, ia sudah mengenal pemuda itu dengan jelas.
        Pemuda bernama Gikwang itu tak kalah terkejutnya seperti Eun Ji. Namun ia menghargai posisi Youngjae di sana. Gikwang berusaha tidak menunjukkan kenyataan antara dirinya dan Eun Ji dengan mengulurkan tangan. Seolah mereka memang belum saling kenal.
        “Senang berkenalan dengan kamu,” ujar Gikwang.
        Eun Ji tidak langsung begitu saja membalas uluran tangan Youngjae.

***

Rabu, 01 Oktober 2014

Oh My School (chapter 11)

"You Not You”
 

Author      : N-Annisa (@nniissaa11)
Cast          :
·        Jung Hyerim (A-Pink)
·        Kim Seok Jin (BTS)
·        Kim Himchan (BAP)

·        Jung Taekwoon (VIXX)
·        Choi Minho (SHINee)
·        Lee Minhyuk (BtoB)
Genre       : Life school, teen romance, tragedy
Length      : Chapter

***

        Taekwoon merentangkan salah satu tangannya sebagai tanda untuk menyuruh Minhyuk dan Ho Seok agar berhenti. Sementara di depan sana, mereka melihat Sungjae berdiri di depan meja informasi. Mereka benar-benar mengejar Sungjae sampai tempat tersebut. Sebuah rumah sakit.
        “Padahal kita kemarin di sini, Taek.” Minhyuk, ia berujar seperti menyesali sesuatu.
        Taekwoon tidak langsung menjawab meski ia cukup sependapat dengan Minhyuk. Lalu kemudian, Sungjae tampak kembali melanjutkan langkah dan terlihat seperti tidak mendapatkan apa yang ia cari.
        Sampai detik ini Sungjae sepertinya sama sekali tidak menyadari keberadaan Taekwoon, Minhyuk dan Ho Seok yang mengikutinya.
        “Lo yakin kalau cewek itu Jung Eun Ji?” seru Sungjae pada seseorang berpakaian dokter di sana. Dan kali ini, suaranya bisa terdengar sampai ke telinga 3 pemuda di belakangnya.
        “Lo pikir gue nggak kenal cewek yang namanya Eun Ji itu?” Dokter tersebut membalas ucapan Sungjae. Tidak terima jika anak sekolah seperti Sungjae merendahkannya.
        “Masalahnya, nggak ada nama Eun Ji di daftar pasien. Gue udah tanya tadi.” Sungjae juga tidak mau terlihat kalah.
        Dokter tersebut terlihat berpikir. “Memang ada yang aneh di sini.” Ia kemudian berbalik dan membiarkan Sungjae untuk mengikuti langkahnya.
        Tidak tinggal diam. Taekwoon, Minhyuk juga Ho Seok kembali melangkah seiring bergeraknya tubuh tinggi Sungjae. Tidak terlalu jauh dari sana. Setelah berbelok, dokter tadi membuka salah satu pintu ruang perawatan. Ia dan Sungjae segera masuk ke dalam.
        “Kita ikut masuk nggak, nih?” seru Ho Seok meminta pendapat dua kakak kelasnya yang hanya diam di depan pintu tersebut.
        Minhyuk menempelkan telinganya pada daun pintu. Sementara Taekwoon menunggu sambil memikirkan sesuatu.
        Di sisi lain, Sungjae melihat sosok terbaring lemah tersebut. Dengan selang infuse yang tertancap di tangannya, dan sebuah perban melingkar di kepala cewek itu. Sosok dengan mata terpejam tersebut adalah Jung Hyerim.
        “Udah percaya sama gue, kan?” seru dokter tadi memecah keheningan.
        Sungjae tidak begitu saja melemparkan tatapan pada dokter itu. Kini matanya tertuju pada catatan milik Hyerim yang terletak pada ujung tempat tidur cewek itu. Tertera nama Eun Ji di sana sebagai pendonor darah untuk Hyerim.
        “Eun Ji bahkan yang ngedonorin darah untuk cewek ini!” tunjuk Sungjae pada Hyerim. Ucapannya yang cukup keras, membuat 3 cowok yang sejak tadi mengikutinya, menerobos masuk ke dalam sana. Membuat keterkejutan Sungjae bertambah.
        Minhyuk yang muncul pertama kali dan langsung menuju tempat tidur Hyerim. Memastikan sendiri keadaan cewek itu.
        “Kenapa kalian bertiga bisa ada di sini juga?” desis Sungjae dengan nada tak suka.
        Taekwoon tidak terlalu mempedulikan Sungjae. Karena ia lebih tertarik melihat kondisi Hyerim. Dan saat itu, Minhyuk terlihat menyentuh tangan Hyerim yang tidak tertusuk jarum infuse.
        “Sial!” terdengar Minhyuk memaki pelan. Ia kemudian menoleh ke arah Taekwoon dan Ho Seok secara bergantin. “Kenapa gue nggak kepikiran dari tadi? Cincin ini.” Minhyuk menunjukkan sebuah cincin yang melingkar di jari manis Hyerim.
        Taekwoon langsung mengerti akan arah bicara Minhyuk. Ia lalu melempar tatapan pada Sungjae dengan penuh selidik. Melupakan sesaat tentang aksi kejam yang pernah dilakukan seorang Sungjae.
        “Bisa jelasin kenapa Hyerim ada di sini?” tukas Taekwoon akhirnya.
        Sungjae melimpahkan kembali hal tersebut pada dokter yang berdiri di samping Taekwoon. Jelas saja karena ia tidak tahu apa-apa tentang kejadian yang menimpa Hyerim.
        “Seok, cari tahu tentang Hyerim kenapa bisa sampai di sini?” ujar Minhyuk setengah memerintah pada Ho Seok yang langsung saja dilakukan oleh cowok itu.
        Sungjae menatap punggung Ho Seok yang meninggalkan ruangan. Ia teringat akan ucapan salah satu teman sekelasnya itu. Bahwa di SMA Paradise sudah tidak ada siswi bernama Eun Ji. Tapi Hyerim. Sungjae lalu melirik ke tempat Hyerim berada. Minhyuk dan Taekwoon berada di kedua sisinya.
        “Jadi selama ini gue salah orang?” gumam Sungjae dalam hati.

***

        Seok Jin duduk di tepi tempat tidur ruang kesehatan dengan kaki menjuntai ke bawah. Sementara tatapannya luruh ke arah dua orang yang duduk di depannya. Jungkook dan Eun Ji.
        “Jadi, di mana Hyerim sekarang?” Seok Jin berujar pelan. Namun terdengar cukup menuntut.
        Jungkook sempat melirik Eun Ji. Sedikit merasa bersalah karena ia juga terlibat di sini. Terlibat membantu Eun Ji untuk menyamar sebagai Hyerim. Namun tak disangka semuanya terbongkar bahkan dihari pertama Eun Ji menggantikan Hyerim.
        Terdengar Eun Ji mendesah berat sebelum akhirnya berujar, “gue memang Eun Ji.”
        Mata Seok Jin terlihat membulat. Tentu ia cukup terkejut mendengarnya. Eun Ji benar-benar ada di hadapannya sekarang ini. Dan setelahnya, tampak pintu terbuka dengan kasar. Memunculkan Himchan di sana.
        Himchan mengedarkan pandangan pada orang-orang yang terkejut dengan kedatangannya ke sana. Bisa dipastikan Himchan baru saja mendengar pernyataan Eun Ji.
        “Kalau memang lo Eun Ji, terus di mana Hyerim?” Himchan melemparkan pertanyaan serupa seperti yang dilontarkan Seok Jin.
        “Hyerim di rumah sakit. Dia kecelakaan karena nolongin Yura yang nyaris ketabrak mobil gue.”
        “Yura?” seru Himchan memastikan ucapan Eun Ji.
        “Iya. Yura adik lo.”
        Ditengah-tengah keterkejutannya, sempat terlintas oleh Seok Jin kejadian beberapa saat lalu. Saat ia ditinggalkan oleh Taekwoon, Ho Seok dan Minhyuk yang mengejar Sungjae. Seok Jin memeriksa saku celananya dan berniat untuk mengeluarkan ponsel. Ia bahkan sampai melompat turun untuk memudahkannya mengambil ponsel. Namun yang terjadi, Seok Jin justru semakin meringis kesakitan. Ia lupa jika kakinya masih terkilir.
        “Akh, kaki gue.” Seok Jin meringis di atas lantai sambil memegangi kaki kanannya.
        Himchan terlihat mendekati Seok Jin karena Eun Ji dan Jungkook tampak tidak melakukan apa-apa untuk menolong Seok Jin.
        “Jin lo nggak pa-pa?” tanya Himchan. Ia sampai membantu Seok Jin untuk kembali duduk di atas tempat tidur. “Kok kalian diem aja, sih?” protesnya. Kali ini untuk Eun Ji dan Jungkook yang masih terlihat seperti tidak terjadi apa-apa pada Seok Jin. “Kalau terjadi sesuatu sama Jin gimana?”
        “Kita malah udah tahu kalau kakinya Kak Jin terkilir,” ujar Jungkook dengan nada polos.
        Seok Jin menatap Jungkook, kesal. Sementara Himchan melempar tatapan bingung. Sedangkan Eun Ji terkekeh kecil mendengarnya.
        “Dianya aja yang nggak nyadar diri,” timpal Eun Ji. Masih sambil terkekeh pelan.
        “Ya udah.. ya udah.. gue telepon Minhyuk dulu,” ujar Seok Jin sekaligus untuk mengalihkan suasana.

***

        Minhyuk mendongak pada Taekwoon saat mendapati Jin menelepon ke ponselnya. “Jin,” kata Minhyuk sesaat sebelum akhirnya menjawab panggilan tersebut.
        “Jangan bilang kalau Hyerim yang ada di rumah sakit sekarang!” desak Seok Jin. Bahkan Minhyuk belum berujar sepatah kata pun saat menjawab panggilannya.
        “I… iya… yang ada di sekolah memang Kak Eun Ji.” Terdengar Jungkook berujar. Ho Seok yang sedikit lebih dulu meneleponnya sebelum Seok Jin berbicara tadi.
        Dan sekarang, seluruh mata menatap Jungkook penuh minat. Terutama Himchan yang benar-benar tertarik dengan obrolan Jungkook bersama Ho Seok tersebut.
        “Itu siapa? Dan di mana Hyerim dirawat?” seru Himchan, tak sabar. Ia benar-benar menuntut jawaban pada Jungkook. Sementara Seok Jin justru seakan mengabaikan sambungan teleponnya bersama Minhyuk karena sama tertariknya seperti Himchan pada Jungkook.
        Seok Jin meraih pundak Himchan dengan cepat. “Tahan dulu, Him.” Ia melihat Himchan seakan ingin menyerang Jungkook. Atau lebih tepatnya untuk memaksa Jungkook memberi tahu tentang Hyerim.
        Di tempatnya berada, Ho Seok kembali membuka pintu kamar rawat Hyerim. Namun ia tetap berdiri di ambangnya tanpa berniat masuk. “Jadi lo udah tahu tentang Kak Hyerim dan Kak Eun Ji?” Ho Seok bertanya, namun tatapannya terlempar pada Taekwoon dan Minhyuk secara bergantian.
        “Siapa?” tanya Minhyuk tanpa suara. Jelas ia penasaran dengan seseorang yang dihubungi Ho Seok yang bisa dipastikan tepat sasaran untuk ditanyai tentang dua cewek yang memiliki kemiripan wajah tersebut.
        “Jungkook,” ujar Ho Seok pelan.
        Mendengar nama adik kelas mereka disebut, Taekwoon dan Minhyuk sontak saling melempar pandangan. Cukup tak percaya meski untuk Taekwoon sendiri hal tersebut tidak terlalu mustahil mengingat Jungkook memang orang pertama yang ditemui oleh Eun Ji.
        “Iya, maaf.” Jungkook berujar lirih. “Ini permintaan Kak Eun Ji. Tapi gue juga nggak bisa nyalahin dia.” Jungkook lalu melirik ke tempat Eun Ji berada. Cewek itu tampak menghindari tatapan dari siapa pun.
        Lalu kemudian, Ho Seok mematikan sambungan teleponnya dengan Jungkook. Ia melangkah mendekat ke arah Sungjae. Sementara Sungjae membalas tatapan Ho Seok tanpa ingin terlihat kalah.
        “Udah jelas kan kalau selama ini lo salah orang?” desis Ho Seok, dingin. Ia mengarahkan jari telunjuknya pada Hyerim yang masih belum sadarkan diri. “Dia bukan Jung Eun Ji. Tapi Hyerim.”
        Tanpa berkomentar apa-apa, Sungjae melangkah pergi dari sana. Ia bahkan masih sempat menubruk pundak Ho Seok. Dokter yang ada di sana juga mengikuti langkah Ho Seok untuk pergi ke luar. Sementara Ho Seok sudah ingin mengejar Sungjae karena kesal cowok itu telah menabraknya.
        “Seok, udah!” seru Taekwoon yang bahkan sampai menahan pundak Ho Seok agar tidak mengejar Sungjae. “Lo jangan macem-macem sama Sungjae.” Taekwoon benar-benar memperingatkan karena ia mengetahui seperti apa Sungjae.

***

        Hyerim masih belum sadarkan diri. Sementara Taekwoon, Minhyuk dan Ho Seok masih menunggu di sana setelah Sungjae meninggalkan kamar rawat Hyerim. Ke tiganya hanya duduk diam tanpa mengeluarkan sepatah kata pun. Tentu karena mereka juga ingin menjaga ketenangan di sana.
        Taekwoon dan Ho Seok duduk di sofa. Sedangkan Minhyuk memilih duduk di kursi dekat tempat Hyerim berbaring. Sambil memandangi wajah pucat teman semeja yang juga sahabat baiknya. Sesekali Minhyuk juga mengusap lembut punggung tangan Hyerim. Seakan berusaha memberikan kekutan dan menunjukkan jika ia ada di sana. Di samping Hyerim meski cewek itu sedang tidak dalam kondisi sadarkan diri.
        Taekwoon sempat memeriksa ponselnya karena Hayoung mengirimi sebuah pesan. Sedetik kemudian, ia mendesah berat. “Siap-siap nambah hari untuk kerja sosial.”
        Ho Seok menoleh cepat ke tempat Taekwoon berada. Jelas ia sedikit syok mendengar kata-kata tersebut. Dan tanpa bisa berkata apa-apa, Ho Seok menghempaskan kembali punggungnya ke sandaran sofa dengan lesu.
        Sementara Minhyuk hanya bisa memejamkan mata sesaat. Berusaha menerima dari sekarang hukuman yang akan ia jalani nantinya di sekolah. Tentu tidak mungkin kaburnya Minhyuk bersama Taekwoon dan Ho Seok bisa mulus tanpa ada yang mencurigai. Terlebih Minhyuk sendiri adalah adik kandung dari sang kepala sekolah. Yoon Doojoon.

***

        SMA Paradise. Di sana baru saja memasuki istirahat ke dua. Di saat siswa lain mulai meninggalkan kelas, terlihat hanya Seok Jin yang tidak melakukan apa-apa sejak beberapa menit bahkan sebelum bu guru Victoria meninggalkan ruang kelas 3. Selain karena kondisi kakinya yang masih terasa sakit, Seok Jin memang sangat mengkhawatirkan kondisi Hyerim yang belum bisa ia temui. Apa lagi sudah bisa dipastikan bahwa Hyerim benar-benar habis mengalami kecelakaan.
        Di sisi lain, Himchan menjadi salah satu siswa yang sudah melesat meninggalkan kelas. Minho sendiri memang kembali ke kelas tersebut. Duduk di samping Himchan. Dan saat melihat teman semejanya ke luar kelas, Minho sudah ingin menyusul. Namun saat menangkap sosok Eun Ji di depan kelas, Minho benar-benar membatalkan niat.
        Sempat kembali melirik sosok Himchan sebelum Himchan menghilang di luar pintu. Lalu kemudian Minho menolehkan lagi kepalanya ke arah Eun Ji yang sedang membereskan perlengkapan sekolahnya. Melihat itu membuat Minho kembali gusar karena tidak bisa memastikan bahwa cewek itu Eun Ji atau Hyerim. Sementara itu, tidak ada yang bisa ia tanyai tentang kebenaran hal tersebut.
        Tidak ingin berlama-lama di sana, Minho memutuskan untuk meninggalkan kelas. Ia juga tidak ingin terlibat kesalah pahaman jika Himchan akhirnya mengira ia memperhatikan Eun Ji yang ia pikir sebagai Hyerim.
        Tepat bersamaan dengan ke luarnya Minho dari dalam kelas, Krystal memunculkan diri di sana. Ia sempat menatap takjub sosok kakak kelas yang sudah cukup lama tidak ia lihat keberadaannya.
        Di saat Krystal sibuk memperhatikan Minho, ternyata ada seseorang yang juga melakukan hal yang sama pada Krystal. Dongwoo. Ia menatap adik kelasnya itu dengan tatapan menggoda.
        “Tau aja kalau Minhyuk lagi nggak ada.” Suara Dongwoo sukses mengejutkan Krystal yang juga sukses membuatnya tertawa. “Makanya lo berani main ke sini,” lanjutnya masih sambil menahan tawa.
        Krystal menatap Dongwoo, horror. “Terus, nggak boleh gue main ke sini?” desis Krystal. Kesal dengan sambutan Dongwoo padanya. Dan cewek itu memilih meninggalkan Dongwoo yang masih saja terkekeh. Ia menghampiri Seok Jin yang bahkan tidak menyadari saat Krystal sudah duduk menempati kursi milik Dongwoo.
        “Kak Jin.” Krystal bersuara sangat pelan. Seolah tidak ingin membuat Seok Jin terganggu sedikit pun karena suaranya.
        Seok Jin menoleh perlahan. Begitu terkejutnya cowok itu mendapati seorang Krystal di sana. Seok Jin bahkan sampai tidak melepaskan tatapannya sedikit pun pada Krystal hingga membuat cewek itu tak nyaman.
        “Kak Jin,” gumam Krystal sambil melirik ke kanan dan ke kiri. Beberapa pasang mata mulai mencuri pandang pada mereka. Memang cukup mengejutkan mendapati Krystal yang terkenal sebagai fans nomor satu sang kepala sekolah, mendatangi cowok lain. Dalam hal ini adalah Seok Jin yang menjadi cowok tersebut.
        Sementara Seok Jin sendiri tampaknya tidak terlalu ambil pusing dengan reaksi dari teman-teman sekelasnya tersebut. “Kok lo bisa…”
        Krystal sudah lebih dulu menyelak ucapan Seok Jin. “Kata Hayoung, Kak Jin jatoh dari tembok belakang sekolah?” Krystal bertanya tanpa sedikit pun melirik ke tempat Seok Jin.
        Mendengar Krystal yang secara tidak langsung mengkhawatirkannya, Seok Jin hanya mampu meneguk ludah. Sementara tatapannya ia alihkan lurus ke depan.
        Di sisi lain, Krystal justru teringat candaan Namjoon yang menggodanya saat melihat Hyerim memeluk Seok Jin. Cewek itu mengibas-ngibaskan tangan di depan wajahnya yang tiba-tiba terasa panas.
        “Syukur dek kalau Kak Jin baik-baik aja.”
        Seok Jin menoleh cepat. Seok Jin bahkan belum memberikan jawaban dari pertanyaan Krystal tersebut. Dan ia justru mendapati Krystal sudah berdiri. Bahkan sedetik kemudian, Krystal sudah melangkah pergi dari sana. Seok Jin hanya menatap bingung punggung Krystal yang semakin menjauh bahkan menghilang di luar kelas.

***

        “Aku mendapat laporan bahwa ada beberapa murid yang kabur sejak jam istirahat pertama. Jung Taekwoon, Lee Minhyuk, Jung Ho Seok, dan Yook Sungjae.”
        Langkah kaki Minho berhenti secara tidak terduga saat ia melintas di depan ruang guru. Bukan hanya berita yang disampaikan salah satu guru di SMA Paradise tersebut. Tapi juga karena suara dan nada bicara orang tersebut yang sangat familiar baginya.
        “Ada kejadian yang lo inget di sini?”
        Minho sedikit terkejut dan membalikkan badan dengan cepat karena mendengar suara seseorang yang berbicara tepat di belakangnya. Minho menemukan sosok Cheondung di sana. Selama beberapa saat, Minho sama sekali tidak merespon pertanyaan Cheondung. Selain ia juga sibuk berpikir alasan yang tepat agar cowok yang ia kenal di SMA Destiny itu tidak menaruh curiga berlebihan padanya.
        “Kayaknya sih gue sering ke sini. Apa dulu gue bandel kali, ya? Jadi, sering disidang di ruang guru?” Minho justru balik bertanya. Memastikan pada Cheondung bahwa ia memang benar masih mengalami amnesia.
        Cheondung terpaksa berpikir keras. Meski nyatanya ia tidak pernah tahu mengenai hal itu. Jelas saja karena ia mengenal Minho setelah cowok itu pindah dari SMA Paradise.

***

        Siswa kelas 2 dan kelas 1 yang menempati gedung lantai atas, tampak beberapa saat lebih dulu menyelesaikan pelajaran di kelas mereka. Dan hal itu membuat koridor lantai 1 yang ditempati siswa kelas 3 tampak penuh. Jelas karena akses jalan ke luar memang hanya 1 jalur.
        Tidak terkecuali siswa kelas 3 dengan seragam SMA Destiny mereka yang ikut memenuhi koridor. Salah satu siswi di sana menghentikan langkah dengan tatapan terkejut saat melihat sosok Seok Jin yang melangkah dengan kaki sedikit pincang, memunculkan diri ke luar kelasnya.
        “Oh.. My.. God..! Kenapa gue baru sadar?” pekiknya yang ternyada adalah Taeyeon. Perbuatannya sontak menimbulkan rasa penasaran siswa yang lain.
        Siswa kelas 2 yang mengenakan seragam SMA Paradise, juga menatap Taeyeon tak kalah penasaran. Namun mereka lebi dulu bergabung dengan kakak kelas mereka yang sudah berada di tingkat 3. Himchan, Eun Ji dan Minho juga terlihat di sana. Dan tentu saja Jimin langsung mengambil tempat di samping Luna. Hingga membuat Changsub menatapnya tak suka.
        “Lo masih di sini?” desis Taeyeon dengan tatapan tak lepas pada sosok Seok Jin. “Dan itu artinya, gue satu sekolah sama pelayan restoran?”
        Seok Jin sama sekali tidak terpengaruh dengan hinaan dari Taeyeon. Justru teman-temannyalah yang menahan kesal pada Taeyeon yang bahkan dulu juga bersekolah di sana.
        “Jaga omongan lo, Taeyeon!” seru Kibum, dingin. “Lo dan temen-temen lo cuma ‘numpang’ di sini!” jelasnya dengan memberikan penekanan pada kata ‘numpang’.
        Di sisi lain, terlihat Sandara mendekatkan wajahnya ke telinga Yoona. “Gue baru inget, dia juga yang nganter makanan waktu kita lagi di rumah Chaerin, kan?” Ia bahkan sampai mengingat jelas saat Seok Jin dengan seragam pelayan sebuah restoran, mengantarkan makanan yang dipesannya.
        “Jadi, kakak OB ganteng itu kurir juga?” sahut Gyuri yang mencuri dengar pembicaraan kakak kelasnya itu. Termasuk Chaerin juga berada di sana dan mendengar semua ucapan Sandara. “Waah.. hebat. Dia ternyata pekerja keras.” Gyuri justru menatap takjub pada Seok Jin. Ia bahkan sampai menggumamkan kata-kata pujian untuk Seok Jin.
        “Kekuasaan bokap lo udah nggak berpengaruh di sini.” Suara keras Yoongi juga ikut melawan Taeyeon. “Ini Paradise, bukan Destiny.”
        “Eh, Kyeon!”
        Hackyeon langsung mendongak saat menyadari bahwa suara Sungyeol saat itu tertuju pada dirinya.
        “Mending lo bawa pergi temen lo yang satu itu,” ujar Sungyeol yang bahkan enggan menyebut nama ‘Taeyeon’.
        Sementara itu, Krystal yang berdiri berseberangan dengan Seok Jin, berdiri mengawasi suasana panas yang terjadi. Posisinya membuat cewek itu leluasa memperhatikan beberapa siswi Destiny. Terutama Gyuri yang dengan terang-terangan mengagumi Seok Jin. Belum lagi Chaerin yang tampaknya juga mencuri pandangan pada salah satu siswa Paradise itu.
        “Nggak usah lo suruh, gue juga bakal pergi.” Taeyeon masih saja terlibat adu mulut yang memang dimulai dari dirinya sendiri.
        Taeyeon mulai melangkah pergi diikuti beberapa teman-temannya yang lain. Yuri dan Hackyeon hanya menatap langkah Taeyeon. Sementara Chaerin, sibuk menarik Gyuri yang masih saja ingin menatap Seok Jin. Krystal yang melihat itu, segera saja melesat ke samping Seok Jin berdiri. Tak lupa, Krystal bahkan sampai menggamit lengan cowok itu sambil menunjukkan kedekatannya dengan Seok Jin. Tertutama di hadapan Gyuri yang sukses menunjukkan ekspresi cemberutnya.
        “Jin.” Yuri melangkah mendekat. Disusul Hackyeon di belakangnya. Ia tentu merasa bersalah atas perlakuan Taeyeon pada Seok Jin.
        “Kak Yuri nggak perlu ngerasa bersalah. Omongan kak Taeyeon itu emang nggak penting, kok.” Krystal terdengar bersuara. Secara tidak langsung, ucapannya memang benar. Beberapa orang juga mendukung ucapan Krystal. Namun nyatanya mata Krystal justru memancarkan kemenangan atas Gyuri seakan ia melakukan itu dengan sengaja.
        Seok Jin sendiri sudah sama sekali tidak bisa bersuara. Selain karena perang mulut beberapa temannya dengan Taeyeon, juga karena perlakuan Krystal yang di luar dugaannya. Seok Jin hanya mampu menatap wajah Krystal dari samping yang kelihatan sangat dekat baginya.

***

        Taeyeon sudah ingin masuk ke dalam mobil mewahnya. Namun ia membatalkan niat karena melihat kedatangan sebuah mobil yang bahkan lebih mewah dari miliknya. Jelas ia mengerti seperti apa mobil itu. Taeyeon sempat mengedarkan tatapannya. Sandara sudah berdiri di dekat mobil miliknya karena masih harus menunggu Cheondung muncul. Chaerin, Yoona, Hyoyeon dan Gyuri juga masuk ke dalam satu mobil yang dikendarai Hyoyeon.
        “Siapa anak dari Destiny yang di jemput pakai mobil mewah model gitu?” desis Taeyeon yang suaranya bisa terdengar oleh Yong Hwa yang mobilnya kebetulan terparkir dekat dengan milik Taeyeon.
        Yong Hwa ikut melempar tatapan ke arah yang dilihat Taeyeon. Tepat bersamaan saat pintu penumpang di bagian depan mobil tadi terbuka. Memunculkan seorang pria berseragam serba hitam. Pria itu berpapasan dengan sosok Gikwang dan Yoseob.
        “Apa kalian mengenal tuan muda Kim Seok Jin?” tanya pria itu yang justru membuat Taeyeon penasaran dan mendekat.
        “Bapak nggak mungkin mau jemput Kim Seok Jin, kan?” sela Taeyeon bahkan sebelum Gikwang membuka mulut untuk memberi tahu jika siswa berseragam SMA Paradise sudah memunculkan diri dari gedung B dan Seok Jin adalah salah satunya. “Mungkin maksudnya Kim Donghyun, Kim Won Sik, Kim Jaeseop, atau mungkin… Kim Himchan.”
        Yura terlihat melintas di sana. Dan saat mendengar nama kakaknya disebut, ia langsung mendekat. “Mereka bukan supir keluarga gue,” seru Yura yang membuat Taeyeon menatapnya tak percaya.
        “Akh, itu dia.” Pria berseragam hitam tadi berseru lega saat matanya menangkap para siswa dari SMA Paradise tersebut. Ia langsung mendekat. Dan tujuan utamanya adalah menghampiri Seok Jin. “Biar saya….”
        Seok Jin mengangkat tangannya saat pria itu mengajukan diri untuk membawakan ransel miliknya. Sementara ekspresi wajah Seok Jin kini tidak bisa terbaca setelah tadi ia cukup terkejut mendapati sebuah mobil mewah di sana serta seorang pria yang mendekat padanya.
        “Bukannya gue udah pernah bilang, jangan munculin diri di sekolah?” desis Seok Jin sepelan mungkin agar hanya pria itu yang mendengar suaranya.
        “Tapi ini darurat, tuan muda. Tuan muda baik-baik saja, kan?”
        Siswa SMA Paradise di sekitar Seok Jin kini terlihat terkejut karena panggilan pria tersebut terhadap Seok Jin.
        “Jin, lo kenal sama mereka?”
        Tanpa perlu menoleh, Seok Jin sudah bisa menebak. Bahwa yang mewakili teman-teman mereka bertanya adalah suara Dongwoo. Teman semejanya di kelas.
        Seok Jin menghela napas, berat. Jelas banyak hal yang belum bisa ia ceritakan. Dan tanpa bisa menjelaskan apa-apa, Seok Jin memberikan paksa kunci motornya pada pria tersebut. Ia kemudian berusaha melangkah cepat meski kakinya masih terasa sakit.
        Semua mata menatap penuh tanya pada sosok Seok Jin. Tidak terkecuali beberapa siswa berseragam SMA Destiny yang sempat melihat kejadian tersebut. Mobil mewah, jelas kendaraan tersebut akan cepat menjadi sorotan. Terutama di lingkungan SMA Paradise. Karena semenjak sekolah tersebut hanya memiliki 2 kelas saja, sudah hampir tidak terlihat siswa yang menggunakan mobil.
        Pria berseragam hitam tersebut mempercepat langkah menuju mobil untuk membukakan pintu. Seok Jin tidak buru-buru masuk. Ia mendapati Taeyeon menatap tak percaya. Namun Seok Jin berusaha tidak menghiraukan dan akhirnya memutuskan untuk masuk ke dalam mobil.
        “Dan Jin, ternyata punya rahasia besar selama ini.” Sungyeol bersuara tanpa mengalihkan tatapannya pada mobil mewah yang bergerak meninggalkan halaman sekolah.
        Yoongi yang tampak memikirkan sesuatu, sontak melempar tatapan penuh tanya pada Dongwoo yang menjadi teman semeja Seok Jin. “Lo nggak tahu apa-apa tentang Jin?”
        Hampir semua mata menoleh ke tempat Dongwoo dan Yoongi berada secara bergantian. Namun Dongwoo menggeleng pelan sambil berujar, “bukan berarti gue tahu semua hal tentang Jin.” Yang lain mendesah, kecewa.
Kecuali Krystal yang tampaknya tidak terlalu tertarik dengan pembicaraan teman-temannya itu. Cewek tersebut memiliki pemikiran sendiri tentang kakak kelasnya itu yang memberikan kejutan besar untuk semua.
        Sementara itu, Hayoung tampak merebut ransel milik Taekwoon yang dibawakan oleh Sungyeol. “Gue mau nyusul kak Taekwoon. Sekalian nganterin tasnya.”
        Mendengar suara Hayoung yang membahas Taekwoon, membuat Himchan teringat akan Hyerim. Ia lantas mengedarkan pandangan dan akhirnya mendapati Jungkook dan Eun Ji yang berdiri paling belakang dari rombongan siswa SMA Paradise. Cowok itu kemudian melangkah depat menghampiri keduanya.
        “Bisa kita temuin Hyerim sekarang?” Himchan berujar pelan. Dan bisa dipastikan hanya Eun Ji serta Jungkook yang mendengarnya.

***

        Di saat yang lain sibuk dengan perdebatan Taeyeon dengan Seok Jin. Serta tentang mobil mewah asing yang tiba-tiba saja membawa pergi seorang Kim Seok Jin yang diketahui hanya sebagai siswa yang bekerja part time di sebuah restoran. Minho ternyata sudah tidak berada di lingkungan sekolah.
        Cowok satu itu sudah berada di dalam mobilnya yang terparkir sedikit jauh di luar gerbang sekolah. Ia menunggu sesuatu terjadi. Cukup lama sampai akhirnya sebuah mobil mewah memasuki gerbang sekolah. Tidak terlalu mencurigakan di mata seorang Minho. Namun setelah beberapa menit, ternyata mobil itu lagi yang pertama kali meninggalkan gerbang SMA Paradise.
        Minho menegakkan tubuhnya saat mendapati motor yang biasa dikendarai Seok Jin, kini justru berada di tangan orang lain. Lalu kemudian, satu-persatu kendaraan milik siswa SMA Paradise—dan SMA Destiny tentunya—mulai meninggalkan gerbang sekolah.
        Sudah hampir setengah jam kemudian, Minho akhirnya kembali menyalakan mesin mobilnya. Ia lalu menyusul sebuah mobil yang baru saja bergerak meninggalkan gerbang SMA Paradise. Karena memang itu yang ia tunggu sejak tadi.

***