Tampilkan postingan dengan label Son Dongmyung. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Son Dongmyung. Tampilkan semua postingan

Selasa, 17 September 2019

-BEAUTIFUL MONSTER (8)-




Author          : N-Annisa [@nniissaa11]
Cast                :
·        Son Chaeyoung
·        Adachi Yuto
·        Kang Hyunggu (Kino)
·        Jung Wooseok
·        Lee Hangyul
·        and other
Genre            : School Life, Romance, Drama

***

            Yuto dan Chaeyoung berjalan beringinan. Namun ketika keluar dari pintu utama, Chaeyoung berjalan mendahului. Dipikirannya Yuto akan menuju basement. Tanpa berpamitan, Chaeyoung terus berjalan sendiri menuju halte bus. Sama sekali tidak menyadari jika Yuto justru berjalan mengekorinya meski terlihat sibuk dengan pikirannya sendiri. Chaeyoung berhenti, tentu saja sontak membuat Yuto menubruk tubuh mungilnya karena pikiran Yuto terus melayang hingga membuat senyuman mengembak di pipinya.
            “Ya!” pekik Chaeyoung sambil menoleh kesal. Jika saja ia tidak menemukan Yuto di sana, mungkin gadis itu sudah melayangkan tinjunya.
            Yuto menatap dengan ekspresi bingung. Namun Chaeyoung sudah meredakan emosinya.
            “Kenapa kau di sini? Tidak membawa mobilmu sendiri?” Chaeyoung bertanya sambil mengedarkan pandangan. Tidak melihat mobil mewah yang selalu menemani Yuto di sekitar sana.
            Yuto tersenyum penuh arti. Benar-benar seperti membayangkan sesuatu yang membuatnya tenggelam dalam kebahagiaan. “Aku hanya khawatir tidak konsentrasi menyetir.”
            “Memangnya kenapa?” tanya Chaeyoung masih dengan ekspresi bingungnya.
Namun Yuto memilih untuk merangkul Chaeyoung sambil membalikkan tubuh mungil gadis itu, seperti tidak ingin membahasnya dulu. Ingin ia nikmati sendiri untuk beberapa saat. Terlebih bus yang akan mereka tumpangi sudah muncul. Chaeyoung hanya pasrah di ajak masuk ke dalam bus oleh Yuto.
            Suasana bus yang sudah penuh penumpang membuat Yuto dan Chaeyoung terpaksa berdiri. Mereka berdiri berhadapan dengan Yuto yang berpegangan dengan besi di atas. Chaeyoung terkekeh karena melihat Yuto tersenyum sendiri. Meski menyadari sejak tadi jadi pusat perhatian Chaeyoung, Yuto sama sekali tidak merasa malu. Ia semakin tersenyum melihat Chaeyoung. Seseorang yang mengantarkannya menemui kebahagiannya. Ternyata selama ini mereka sudah sangat dekat—ibu dan kakaknya. Dan mereka saling terhubung melalui Chaeyoung.
            Yuto meletakkan tangannya yang mash dibalut perbang ke atas kepala Chaeyoung. Saat tatapan mereka bertemu, Yuto mengangguk lalu menggandeng tangan Chaeyoung untuk mengajaknya turun karena mereka sudah tiba di halte tujuan. Namun setelah menuruni bus, Chaeyoung melepaskan tangannya dari genggaman Yuto. Karena ini sudah di lingkungan sekolah. Yuto menunjukkan ekpresi cemberutnya, namun Chaeyoung tidak mempedulikan hal tersebut dan memilih berjalan sedikit cepat mengejar Hwiyoung tidak jauh di depannya.

***

            Yukyung melambai tangan ke arah belakang, ke arah Chaeyoung yang berjalan beberapa meter di belakangnya dan Yuqi. Chaeyoung tersenyum sambil balas melambaikan tangan. Mereka akan menuju toilet untuk berganti pakaian olahraga. Chaeyoung memeluk seragam olahraganya. Namun dari arah berlawanan, terlihat Dayoung bersama beberapa teman sekelasnya juga mengarah menuju toilet perempuan. Mereka saling tertawa sambil membawa gelas minuman di tangan. Sebelum ini mereka memang dari kantin sekolah. Karena sibuk bercanda membuat mereka menjadi tidak fokus dengan seseorang di depan mereka. Dayoung menabrak Chaeyoung hingga menyebabkan minuman di tangannya tumpah dan membasahi rok hingga celana ketat Panjang yang selalu ia gunakan di balik rok pendeknya.
            “Chaeyoung, maaf.” Dayoung berkata sambil berlalu. Meninggalkan Chaeyoung yang masih berdiri dengan ekpresi syok.
            Para gadis yang tadi bersama Dayoung juga ikut melesat ke dalam tanpa ada yang berniat membantu Chaeyoung. Chaeyoung hanya menghela napas untuk menenangkan diri. Gadis itu memang paling pintar menahan emosi. Karena jika tidak, bisa saja Dayoung dan yang lainnya itu dibuat patah tulang dengan ilmu beladiri yang dikuasainya.
            Chaeyoung masuk ke dalam toilet dan memilih bilik paling ujung. Mengkunci pintunya dari dalam, lalu mulai membuka kemeja seragam sekolahnya. Chaeyoung megulurkan tangan untuk meraih seragam olahraganya yang tergantung pada sebuah paku. Namun salah satu bagiannya tersangkut dan karena Chaeyoung menariknya terlalu kuat hingga membuat bagian yang tersangkut itu robek. Chaeyoung melebarkan matanya, panik, melihat kondisi pakaianya yang tidak terselamatkan. Buru-buru Chaeyoung memakai kembali kemeja sekolahnya kemudian keluar dari dalam bilik. Dia menemukan Yukyung sudah berjalan ke arah pintu keluar.
            “Yukyung!”
            Gadis yang Namanya dipanggil tersebut berhenti dan berbalik. Tidak terkecuali dengan Yuqi yang hampir selalu bersama Yukyung. Namun karena mendapati Chaeyoung yang mengganggu mereka, Yuqi lebih memilih meninggalkan Yukyung di sana.
            Yukyung sempat melirik Yuqi dengan perilaku aneh gadis itu. Namun ia tidak ingin terlalu memusingkan hal itu. “Kenapa belum berganti pakaian?” Tegurnya pada Chaeyoung.
            Tanpa menjawab, Chaeyoung membentangkan pakaiannya sambil menunjukkan ekpresi sedih. “Tadi tersangkut…”
            “Cepat keluar! Pak guru sudah memanggil!” seru Yuqi yang kembali ke dalam toilet hingga membuat Chaeyoung dan Yukyung menoleh padanya. Namun tanpa menunggu respon siapapun, gadis itu langsung memutar tubuh dan melesat pergi lagi dari sana.
            Yukyung kembali berbalik pada Chaeyoung sambil melangkah mendekat. “Tidak ada waktu untuk beli baju baru.” Yukyung merebut baju Chaeyoung yang terdapat lubang di bagian lengan akibat robekan.
            “Ya!” seru Chaeyoung sedikit menjerit karena Yukyung justru membuat robekan pada bajunya semakin besar. Bahkan lebih parah lagi, membuat pakaian Chaeyoung menjadi baju tanpa lengan. Yukyung merobek satu lagi bagian lengan yang sebelumnya masih dalam kondisi utuh.
            Yukyung tersenyum penuh arti sambil mengembalikan pakaian milik Chaeyoung. “Sudah sana pakai. Kau terlihat seksi dengan baju tanpa lengan.”
            Chaeyoung tertunduk dengan wajah pasrah. Bahkan saat Yukyung mendorong pelan tubuhnya untuk kembali ke dalam bilik, Chaeyoung sama sekali tidak sanggup melakukan protes.
            Hasilnya, ketika semua sudah berbaris di lapangan, Chaeyoung menjadi orang terakhir yang bergabung. Tentu saja penampilannya menjadi sorotan karena pakaiannya yang tanpa lengan dan celana olahraganya yang pendek menampakkan bekas luka di bagian kakinya yang selama ini selalu ia tutupi dengan celana ketat Panjang berwarna kulit. Terlihat jelas bekas jahitan di bagian betis dan di atas lututnya. Dan beberapa goresan juga seperti masih terlihat meninggalkan jejak.
            Awalnya Hangyul tidak menyadari kedatangan Chaeyoung karena berdiri membelakangi gadis itu. Namun sikap Taeeun dan Hwiyoung yang saling sikut membuatnya mau tidak mau menoleh ke belakang, karena penasaran dengan apa yang menarik perhatian dua temannya itu. Sosok Chaeyoung langsung tertangkap matanya. Semula Hangyul tidak berfikir ada yang aneh lalu melanjutkan kegiatannya melakukan pemanasan. Karena setiap mereka latihan Muai Thai penampilan Chaeyoung memang seperti itu. Namun beberapa saat kemudian, Hangyul berbalik kembali dengan reaksi sedikit syok. Chaeyoung tidak pernah menunjukkan bekas lukanya pada penghuni sekolah.
            Tutup mata, tutup telinga. Tentu saja kehadiran Chaeyoung dengan kondisi seperti itu menyedot perhatian seluruh siswa yang akan melakukan kegiatan di dalam Gedung olahraga. Gadis itu berusaha tidak menghiraukan reaksi berlebihan orang-orang karena dirinya. Beruntung hal tersebut tidak berlangsung lama karena beberapa saat kemudian pusat perhatian berpindah tempat. Rombongan siswa kelas dua mulai berdatangan bersama guru olahraga mereka. Kelas Kino dan Yuto.
            Kino berhenti mendadak hingga membuat Yuto yang berjalan dibelakangnya menubruk Kino. Pemuda itu sama syoknya dengan Hangyul karena mendapati Chaeyoung berada di sana dengan penampilan seperti itu. Namun berbeda dengan Yuto. Pemuda tinggi itu tersenyum, tampak senang karena berada satu lokasi dengan Chaeyoung pada pelajaran olahraga.
            Yuto menyadari perubahan sikap Kino. Buru-buru Yuto menahan tangan Kino yang sudah ingin bergerak. “Kau mau ke mana?” tanya Yuto yang curiga Kino akan menghampiri Chaeyoung.
            Kino menoleh tanpa memberontak. Seketika sadar posisinya yang tidak bisa sembarangan berinteraksi dengan Chaeyoung di sekolah. Dengan adanya Yuto seakan bisa menjadi jembatan penghubungan dengan gadis itu. “Orang-orang tidak boleh melihat bekas luka itu. Karena hanya akan membuat Chaeyoung semakin terkucilkan.”
            Yuto menghela napas, berat. Selama Kino bicara, ia menatap lurus ke tempat Chaeyoung berada. Benar-benar tidak bisa diprediksi apa yang sebenarnya terjadi pada seluruh penghuni sekolah yang seakan berada di bawah bayang-bayang seorang Mina. Sambil melepaskan pegangannya pada Kino, Yuto perlahan melangkah mendekat ke arah Chaeyoung selagi siswa-siswi yang lain kini mulai disibukkan dengan kegiatan masing-masing. Yuto mempercepat langkah ketika Chaeyoung mulai meninggalkan tempatnya. Yuto meraih siku tangan gadis itu dan menariknya hingga membalikkan badan. Tatapan Yuto langsung jatuh pada lengan bagian atas Chaeyoung. Luka jahitan yang meninggalkan bekas sekitar lebih 10 centi.
            Chaeyoung yang terkejut tidak bisa menahan badannya yang dipaksa berbalik. Gadis itu ikut menoleh ke arah yang ditatap Yuto, bagian lengannya yang terdapat bekas luka. Menyadari perubahan raut wajah dari Yuto, Chaeyoung menyingkirkan tangan Yuto dengan pelan. Sedikit tidak nyaman dengan cara Yuto menatapnya.
            Lagi-lagi, Yuto menghela napasnya. Membiarkan Chaeyoung terlepas dari genggamannya. Tragedi yang dialami Chaeyoung membuatnya kembali merasakan sakitnya saat ia kehilangan Sana. 
            Suara pluit dari kedua guru mereka mencoba mengambil alih perhatian yang semula tertuju pada Chaeyoung. Tidak terkecuali Yuto dan Chaeyoung yang juga menyempatkan diri untuk menoleh. Chaeyoung sudah ingin melangkah pergi, namun Yuto lebih sigap menyadari pergerakan gadis itu yang langsung saja membuat Yuto menahan lengan Chaeyoung.
            “Sunbae,” kata Chaeyoung dengan ekspresi memohon untuk dilepaskan.
            “Ini peringatan dariku. Kalau ada yang mengganggumu, katakan padaku atau boleh pada Kino jika kau masih meragukan keberadaanku.”
            “Tapi…” Chaeyoung tidak melanjutkan kalimatnya karena Yuto sudah lebih dulu meninggalkannya. Chaeyoungpun menyusul Yuto, namun mereka berpisah di tengah lapangan untuk menuju kelas masing-masing.
            Yuto menepuk Pundak Kino saat ia melewati pemuda itu. Namun Kino hanya melirik sekilas. Ia sedang sibuk memperhatikan seseorang dikejauhan. Dayoung. Siswi teman sekelas itu sedang sibuk dengan ponselnya secara sembunyi-sembunyi. Dayoung memang salah satu siswi yang cukup dekat dengan Mina dan Jihyo.

***

            Sampai jam pelajaran terakhir, Yuqi belum kembali ke kelas. Chaeyoung menatap khawatir kursi kosong yang biasa ditempati Yuqi. Sesekali pandangan Chaeyoung bertemu dengan Yukyung ketika gadis itu menoleh ke belakang. Chaeyoung mengisyaratkan sebuah pertanyaan melalui ekspresi wajah, namun Yukyung selalu menggeleng.
            Hangyul yang menyadari kekhawatiran Chaeyoung, mengangkat bukunya untuk sedikit menutupi Chaeyoung dari kemungkinan terlihat oleh guru yang mengajar. Dari bawah meja, jari Chaeyoung bergerak cepat pada layar ponselnya, mengirimi sebuah pesan untuk Kino perihal keberadaan Yuqi yang belum juga kembali.

            Kino : Aku tidak peduli.

            Chaeyoung menghela napas, berat. Jika tidak bisa menahan emosi mungkin ia sudah membanting ponselnya ke lantai. Tanpa harus meminta, Chaeyoung sudah menyodorkan ponselnya pada Hangyul. Membiarkan pemuda itu membaca chat antara dirinya dengan Kino. Masih sambil memegangi ponsel Chaeyoung, Hangyul langsung mengeluarkan ponselnya dan mengirimi pesan pada grup chat miliknya bersama Wooseok, Kino, Yugyeom, Eunwoo dan Junyoung.

***

            Kino yang berada di dalam bilik toilet, langsung berdiri dan memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku celana setelah membalas chat dari Chaeyoung mengenai Yuqi yang belum kembali ke kelas. Membuka dengan kasar pintu toilet yang justru membuatnya terkejut sendiri karena menemukan Yuto di sana yang juga sama terkejutnya.
            “Kau!” seru Kino gemas.
            Yuto tidak terlalu ambil pusing meski jantungnya masih berdetak sedikit cepat akibat terkejut. “Ada apa?” tanya pemuda itu karena melihat raut wajah suram milik Kino.
            Kino tidak langsung menjawab karena sibuk memperhatikan sekelilingnya. Terdapat beberapa bilik toilet di sana. Tidak terlalu aman jika membicarakan hal tersebut di sini. Yuto sama sekali tidak melepas pandangan pada Kino karena ia belum menemukan jawaban atas pertanyaannya tadi. Tanpa bicara, Kino melangkah ke luar toilet siswa laki-laki. Jelas Yuto menyusul tanpa meminta ijin terlebih dahulu.
            Kino menyodorkan ponselnya ke belakang. Yutopun menerima dan melihat layarnya. Kino hanya mengetikkan sesuatu pada aplikasi note. Yuqi menghilang dan belum kembali ke kelas sampai sekarang.
            Dengan sigap Yuto berlari mendahului. Kino yang dengan tanpa sadar menyusul mengejar Yuto. Bukan karena Yuto membawa pergi ponselnya. Namun memang cara Yuto pergi cukup mencurigakan. Mungkin ada hubungannya dengan menghilangnya Yuqi.
            “Kau mau ke mana?” teriak Kino setelah Yuto berbelok ke arah area belakang sekolah.
            Yuto tidak menjawab sampai akhirnya mereka berhenti di dekat tembok pembatas. Yuto berbalik dan mendapati Kino sedang terengah-engah karena mengejarnya.
            “Kenapa kau ke sini?” Kino mengulangi pertanyaannya sambil menerima ponselnya yang diulurkan Yuto. Kino menatap berkeliling, untuk memastikan mereka benar-benar berada di kebun belakang sekolah.
            “Aku sedang bersama Wooseok saat ia bertemu dengan gadis itu.”
            “Siapa?” tanya Kino dengan nada tidak sabar. Begitu penasaran dengan petunjuk yang mungkin meluncur dari mulut Yuto.
            “Yang kita temui malam itu, saat Chaeyoung berkelahi dengan preman.”
            “Yuqi?”
            Yuto menggeleng tegas. Ia mungkin lupa dengan nama gadis yang ia maksud. Namun bisa dipastikan bukan gadis bernama Yuqi. Karena yang ia tahu, Yuqi adalah seorang gadis yang namanya sering di sangkut pautkan dengan Kino.
            “Yukyung?” desak Kino akhirnya yang benar-benar tidak bisa menahan kesabaran. Sesungguhnya yang ia katakan pada Chaeyoung hanyalah kebohongan. Jelas ia khawatir tentang kondisi Yuqi sekarang. Ia takut jika Yuqi mengalami hal serupa dengan Chaeyoung. Tentu saja ia juga mengkhawatirkan Chaeyoung saat itu, namun Yuqi dan Chaeyoung dua orang yang jauh berbeda.
            “Kekasihnya Wooseok, kan?”
            “Ssst!” Kino berdesis keras. Lagi-lagi ia mengedarkan pandangan, namun kali ini untuk memastikan tidak ada orang lagi di sana selain mereka berdua. “Jangan katakan atau bahas masalah itu. Di manapun. Terutama di sekolah.”
            Yuto mengangguk mengerti. Kemudian ia balik badan sebelum Kino lebih dulu menahannya.
            “Apa?”
            “Kau belum jawab pertanyaanku, kau mau ke mana? Ini belum jam pulang sekolah.”
            Yuto menggaruk belakang kepalanya. Lupa jika ia belum menceritakan hal itu pada Kino. “Yukyung bilang Yuqi pergi menemuimu di belakang sekolah dan ia tidak mau Yukyung menemaninya.”
            Kino membulatkan mata. “Astaga,” desisnya sambil mengusap wajah dengan telapak tangan, terdengar cukup frustasi. “Aku bahkan tidak komunikasi dengan Yuqi sejak malam itu.”
            Yuto diam. Sejak awal ia sudah mencurigai hal tersebut. “Tanya Wooseok, Mina di kelas atau tidak?”
            Tanpa pikir panjang, Kino seakan menuruti ucapan Yuto, segera membuka ponselnya. Betapa kagetnya mereka jika grup chat milik Kino dan 5 pemuda lainnya cukup ramai. Padahal ini masih jam pelajaran. Kino beberapa kali melakukan swipe dan hanya membaca chat penting, terutama dari Hangyul dan Wooseok.

            Wooseok : “Sial! Mina tidak di kelas.”
Hangyul : “Hah?”
Wooseok : “Dia ijin pulang karena sakit perut katanya.”
Wooseok : “Kino kau di mana?”
Eunwoo : “Kelas Kino bukannya sedang tidak ada guru?”
Hangyul : “Mungkin Kino hyung sedang bermain games.”
Junyoung : “Wah, enak sekali. Ayo bertukar kelas denganku.”
Wooseok : “Kau tau Yuqi di mana? @Kino”

          Yuto masih menunggu Kino yang kini sibuk dengan ponselnya. Membalas pesan dari teman-temannya di grup. “Semoga apa yang menimpa Chaeyoung tidak terulang kembali.” Tanpa sadar Kino menggumamkan kalimat yang membuat Yuto kini menatapnya.

            Kino : “Aku sedang bersama Yuto.”
Kino : “Tolong cari Yuqi di sekitar sekolah.”
          Kino : “Hubungi Chaeyoung! Aku takut hal itu terjadi lagi.”

            Yuto merebut ponsel Kino. “Kau kembali ke kelas. Ponselku tertinggal di kelas. Kalau terjadi apa-apa, aku akan mengabarimu melalui ponselmu.”
            Kino mendelik kesal, bukan karena Yuto merebut ponselnya. Karena rasanya lagi-lagi ia menjadi seseorang yang tidak berguna. “Aku tidak ingin kejadian itu terulang lagi!”
            Yuto memegang salah satu pundak Kino untuk menenangkan pemuda itu. Tanpa harus bertanya lagi, yuto sudah paham ke mana arah yang dimaksud Kino. “Aku yang akan memastikan kejadian itu tidak terulang. Kau tidak boleh mendapat masalah di sekolah. Atau ibumu yang berada dalam bahaya. Cukup kau kembali ke kelas. Tunggu sampai pelajaran selesai. Dan kalau perlu kau bisa temui Chaeyoung.”
            Kino tidak langsung merespon. Ia masih menatap Yuto cukup lama. Meyakinkan hati untuk menuruti ucapan Yuto. Untuk mempercayakan keselamatan Yuqi pada pemuda yang bahkan baru ia kenal dalam sebulan. Kemudian terlintas di benak Kino tentang siapa Yuto sebenarnya. Pemuda itu lebih baik mengalah.
            “Akh!” Kino menjerit, marah. Marah dengan dirinya sendiri karena tidak bisa melakukan apa-apa.
            “Dengan kau menuruti ucapanku, bukan berarti kau tidak melakukan apa-apa. Kau harus menutupi kepergianku.” Yuto kemudian melirik jam tangannya karena Kino belum kunjung memberikan respon. “Hanya untuk satu jam. Pelajaran akan berakhir dalam satu jam.”
            “Sial!” Kino yang masik dikuasai emosi, menendang kerikil kecil di atas tanah. “Harusnya kita tidak hanya mencurigai Mina!” Sekelebat bayangan tentang Dayoung saat di ruang olah raga kembali berputar di kepalanya.
            “Kino, sudahlah!” Yuto berseru sedikit keras. Berusaha membuat Kino terfokus padanya. Hanya padanya, dan pada ucapannya. Yuto memegang kedua pundak Kino. “Dalam satu jam, aku akan mengabarimu.” Buru-buru Yuto menepuk pundak Kino sebelum akhirnya benar-benar berbalik. Berlari ke arah tembok dan memanjatnya. Dalam hitungan detik, Yuto sudah menghilang di seberang tembok.

***
            Chaeyoung meremas kedua tangannya yang ia letakkan di atas rok. Ia bahkan sudah tidak bisa berkonsentrasi dalam pelajaran. Di sampingnya, Hangyul tampak sedikit terkejut karena sebuah notifikasi yang masuk ke dalam ponsel Chaeyoung. Karena gadis itu tidak pernah mengunci poselnya dengan sandi, Hangyul dengan leluasa memeriksa siapa pengirim pesan tanpa merasa bersalah karena tidak meminta ijin terlebih dahulu pada Chaeyoung. Kondisinya tidak memungkinkan untuk sekedar berbasa-basi meminja ijin.

            Kogyeol : “Kau di mana? Aku melihatmu di bawa segerombolan orang.”

            Hangyul membulatkan mata. Terkejut dengan informasi yang ia dapat dari seseorang yang ia ketahui sebagai seniornya di camp Muay Thai, sekaligus salah satu karyawan di restoran milik keluarga Chaeyoung. Lagi-lagi, tanpa harus meminta ijin, Hangyul sudah menggerakkan jari-jarinya di atas layar ponsel Chaeyoung. Membalas pesan dari Kogyeol.

***

            Sambil menenteng sesuatu, Kogyeol tampak berjalan sendiri. Ia baru melepaskan pandangannya terhadap ponsel karena ada seseorang yang muncul dari dalam sebuah gang.
            “Dokyeom?”
            “Hyung? Sedang apa di sekitar sini?” pemuda itu justru balik bertanya.
            “Kau bolos?” Kogyeol tidak langsung menjawab karena melihat penampilan Kogyeol yang masih mengenakan seragam sekolah, lengkap dengan ransel di punggungnya.
            “Jam terakhir tidak ada guru, Hyung. Jadi, untuk apa aku masih di sekolah?” Ujar Dokyeom dengan nada santai. Terlihat bukan masalah besar. Lagipula memang itu bukan hal besar yang ia lakukan saat itu.
            Namun Kogyeol justru tidak terlalu menanggapi pernyataan terakhir Dokyeom karena beberapa notifikasi sekaligus masuk ke dalam ponsel. Buru-buru pemuda itu memeriksanya. Sedikit teralihkan untuk merespon Dokyeom yang bahkan ia sendiri sudah bosan menasihati bocah itu.

            Chaeyoung : “Aku di kelas, di sekolah.”
          Chaeyoung : “Di mana kau melihat orang yang kau kira itu aku?”
          Chaeyoung : “Tolong katakan, Sunbae.”
          Chaeyoung : “Salah satu temanku menghilang.”

          Kogyeol mengangkat kepalanya dari layar ponsel. Lalu mengedarkan pandangan kesekelilingnya. Tanpa sadar, Dokyeom juga melakukan hal yang sama dengan Kogyeol meski ia sendiri tidak tahu apa yang dicari pemuda itu.
            “Kau mencari apa?”
            Seakan mendapatkan titik terang, Kogyeol menatap Dokyeom penuh harap. Membuat Dokyeom sendiri semakin bingung dengan apa yang Kogyeol lakukan.
            “Kau melihat seorang gadis, memakai seragam sekolahmu dan di bawa segerombolan orang?”
            Dokyeom mengernyitkan dahi. “Kau terlibat lagi, Hyung? Aku saja bahkan tidak tahu apa-apa. Atau kau menuduhku…” Satu jitakan mendarat di pundak kepala Dokyeom yang sontak membuat pemuda itu mengerang kesakitan sambil memegangi kepalanya.
            “Kalau aku terlibat, aku tidak mungkin bertanya. Dan aku juga tidak menuduhmu sama sekali.”
            “Maaf, Hyung.” Dokyeom hanya menunduk, merasa bersalah. Namun ia juga memikirkan siapa yang menjadi korban berikutnya dari Mina. “Hyung, apa itu Chaeyoung?”
            Kogyeol menggeleng tegas. “Bukan. Rambutnya berbeda dengan milik Chaeyoung. Dan lagi pula aku sudah bertanya langsung pada Chaeyoung. Gadis itu masih berada di sekolah.”
            Jika bukan karena bertemu dengan Kogyeol, Dokyeom mungkin bisa tutup mata dan tutup telinga perihal kejadian ini. Namun kali ini rasanya ia harus ikut bertindak. Karena ia sudah janji dengan dirinya sendiri untuk berubah menjadi lebih baik. Seperti Kogyeol saat ini.
            “Kau lihat mereka di mana?”
            “Tidak jauh dari sini. Mereka pergi menggunakan mobil.” Kogyeol menatap lurus jalanan yang kosong. Tempat yang mungkin dilalui mobil itu.
            “Ini masih belum terlalu sore. Mereka pasti membawa anak itu ke Gudang atau rumah kosong. Karena aku sempat melihat Mina meninggalkan sekolah lebih dulu dariku.”

***

            Hangyul melirik jam di pergelangan tangan kirinya. Hanya tersisa beberapa menit lagi untuk tiba jam pulang sekolah. Diliriknya gadis yang sejak tadi terdiam disampingnya. Kondisi Chaeyoung tidak jauh berbeda seperti beberapa tahun lalu saat orang tuanya meninggal. Gadis itu hanya melamun dengan tatapan kosong.
Trauma itu mungkin kembali Chaeyoung rasakan. Saat gadis itu menjadi korban pengroyokan beberapa preman. Mungkin ia bisa melawan, bisa selamat tanpa cedera fatal. Tapi Yuqi berbeda dengan dirinya. Yuqi bahkan menganggap Chaeyoung seorang monster berwujud siswi SMA.
Hangyul masih belum melepaskan tatapannya pada Chaeyoung. Ia bahkan sampai sedikit memutar tubuhnya menghadap gadis itu. “Mina sunbae mungkin sudah tidak berada di lokasi sekolah.”
            Hanya dengan menyebut satu nama itu, Hangyul berhasil menyadarkan Chaeyoung dari keterpakuannya. Gadis itu benar-benar menoleh penuh minat. Tepat saat bel tanda berakhirnya pelajaran berdentang. Seluruh siswa di kelas itu dengan kompak langsung menutup buku pelajaran mereka dan membereskannya ke dalam tas. Kecuali Chaeyoung dan Hangyul yang menunggu reaksi berikutnya dari gadis itu.
            Chaeyoung berdiri. Hangyul ikut mendongak seakan tidak ingin kehilangan satu detikpun tentang pergerakan Chaeyoung. Gadis itu memegang pundaknya dengan Gerakan seakan menyuruh Hangyul untuk menyingkir. Posisi duduk Hangyul yang di pinggir menghalangi Chaeyoung yang duduk di dekat jendela.
            Hangyul mengalah sebelum Chaeyoung mungkin melemparnya dari jendela kelas yang berada di lantai 3. Pemuda itu berdiri dan sedikit menyingkir. Benar saja, Chaeyoung langsung melesat meninggalkan kelas. Gadis itu bahkan belum membereskan peralatan sekolahnya yang masih tergeletak di atas meja.
            “Titip tas,” kata Hangyul pada Hwiyoung dan Taeeun yang duduk di meja belakangnya, sebelum ia juga menyusul Chaeyoung keluar kelas. Saat menapaki anak tangga terakhir, dari sebelah kiri tampak Kino berlari, berusaha menembus kerumunan para siswa yang ingin bergegas meninggalkan sekolah. Tepat di belakang Kino, ada Wooseok yang mengejar pemuda itu. Mereka berhenti karena melihat kedatangan Hangyul dan Chaeyoung
            Hangyul memeriksa ponsel di tangannya yang bergetar, menandakan sebuah pesan masuk. Chaeyoung menoleh cepat dan menatap ponsel di tangan Hangyul dengan lekat. Seperti mengenali benda itu, Chaeyoung merebut ponsel miliknya yang memang sejak tadi berada di tangan Hangyul. Chaeyoung mungkin sempat lupa kalau ia memiliki benda seperti itu. Sebuah pesan masuk dari Kogyeol.

            Kogyeol : “Syukur kalau kau baik-baik saja.”
Kogyeol : “Aku melihat mobil itu ke arah daerah X.”
          Kogyeol : “Aku tidak bisa menebak ke mana mereka membawa temanmu.”
          Kogyeol : “Kata Dokyeom, kemungkinan temanmu di bawa ke Gudang atau rumah kosong.”
          Kogyeol : “Nanti akan ku kabari lagi.”

            Chaeyoung merasakan dengkulnya lemas. Tepat setengah tahun lalu, dirinya pernah berada di posisi itu. Di bawa ke sebuah rumah kosong yang sedikit terpencil. Namun Chaeyoung berhasil kabur. Dan ia baru menyadari, kemungkinan yang membuatnya lolos ada campur tangan Kogyeol. Namun sial, beberapa preman berhasil menemukannya. Dan pengeroyokan itu terjadi di sebuah gang sepi.
            Chaeyoung mendongak saat merasakan tarikan kuat pada tangannya. Wooseok membawanya pergi, menembus kerumunan siswa SMA Paradise. Tidak peduli dengan tatapan mata dari hampir seluruh penghuni sekolah. Dari situ Chaeyoung seakan mendapatkan lagi kekuatannya. Wooseok benar, ia harus bergegas menemukan Yuqi. Cukup dirinya yang pernah ada di posisi seperti itu. Jangan sampai ada orang lain lagi yang merasakannya. Terlebih orang itu adalah Yuqi.

***

            Kino : /mengirim tautan lokasi : Mina/
          Hangyul : “Hyung, kau dapat dari mana?”
          Hangyul : “Aku akan segera menyusul ke sana.”

            “Gadis bodoh.”
            Seringai itu benar-benar terlihat penuh kemenangan. Yuto kini sudah berada dari gerbang sebuah Gudang kosong. Lokasinya sedikit cukup jauh dari pemukiman warga.
            Pemuda itu masih menatap ponsel Kino di tangannya. Beberapa menit sebelum pertemuannya dengan Kino di toilet, Yuto bertemu dengan Mina yang terlihat baru saja keluar dari ruang guru, lengkap tengan ransel. Raut wajah gadis itu sangat mencurigakan.
            Mereka bertemu pandang dengan Yuto yang mulai mengatur raut wajahnya. Sambil memegangi perutnya, Yuto bersandar di sebuah tembok. Melihat Yuto seperti tidak berdaya seperti itu, sontak membuat Mina tidak bisa mengabaikannya begitu saja. Gadis itu berusaha menunjukkan kekhawatirannya pada Yuto.
            “Aku sepertinya salah makan. Sekarang perutku sakit sekali.”
            “Mau ku antar pulang? Kita kan bertetangga.”
            Jelas dalam hati Yuto ingin memaki. Gadis itu berpura-pura sekarang tidak terjadi apa-apa pada mereka. Padahal jelas Yuto tahu siapa Mina dan Mina juga tahu siapa Yuto.
            “Tidak bisa, aku ada ujian pada jam pelajaran terakhir,” kata Yuto, berbohong.
            “Siapa yang mengajar? Katakan saja padaku, aku bisa meminta gurumu mengganti ujiannya di hari lain.”
            Cukup sudah. Yuto tidak tahan melihat mulut berbisa itu. Ia hanya berusaha menutupi raut wajah muaknya terhadap Mina. Jika misinya dari Takuya sudah selesai, ingin sekali rasanya Yuto menendang gadis itu. Atau mungkin memperlakukan hal yang sama seperti yang pernah dialami Chaeyoung. Namun ia akan menghabisinya sendiri, tanpa butuh bantuan dari siapapun.
            “Bagaimana jika aku memberikan nomor ponselku saja padamu.”
            “Biar aku saja yang menyimpannya.”           Mina sudah mengulurkan tangannya sebagai tanda ia meminta ponsel Yuto.
“Ah, sayang sekali ponselku tertinggal di kelas.” Rasanya keringat dingin nyaris mengucur di pelipisnya.
            Beruntung Mina sama sekali tidak menaruh curiga. Gadis itu lantas memeriksa tasnya dan mengeluarkan ponsel. Setelah menerima benda itu, hal pertama yang Yuto lakukan justu memeriksa buku kontak. Dan benar saja, Mina sudah menyimpan nomor ponselnya. Berusaha mengesampingkan ‘dari mana Mina mendapatkan nomor ponselnya?’, Yuto membuka chat pada kontak nomornya, mengirimi sebuah pesan lokasi dari nomor Mina. Mina sendiri sama sekali tidak melepas tatapannya pada wajah tampan Yuto. Benar-benar mengagumi tanpa harus melakukannya secara sembunyi-sembunyi.
            “Oke, sudah.” Yuto mengembalikan ponsel itu pada Mina. Namun tentu saja sebelumnya ia sudah menghapus pesan yang ia kirimi pada nomornya sendiri. “Kalau begitu aku pergi dulu.”
            Tanpa menghiraukan teriakan Mina, Yuto sudah berlari dan melesat pergi. Menuju toilet tempat ia akhirnya bertemu dengan Kino dan mengetahui fakta jika Yuqi belum kembali ke kelas hingga jam pelajaran terakhir. Atau lebih tepatnya, Yuqi menghilang bersama kecurigaannya tentang Mina.
            Dan setelah memastikan lokasi tempat ia berada sekarang—sama seperti lokasi Mina yang ia dapat melalui ponsel Kino—Yuto mengedarkan pandangan. Mengawasi beberapa orang yang tampak berjaga di sana. Dan tidak jauh dari gerbang, ada sebuah mobil yang Yuto kenal adalah milik Mina. Ia ingat hal itu karena Mina pernah berurusan dengan Dongju.

            Yuto : “Ini aku Kino.”
Yuto : “Nanti saja aku jelaskan kenapa ponsel Yuto ada padaku.”
Wooseok : “Aku dan Hangyul bersama Chaeyoung akan menyusul Yuto.”
Junyoung : “Aku ingin ikut.”
Junyoung : “Tapi aku harus belajar.”
Yuto : “Serahkan pada kami, hyung.”
Yuto : “Aku akan mengambil kendaraan di restoran Chaeyoung.”
Eunwoo : “Bahaya untuk Kino jika kau pergi menyelamatkan Yuqi.”
Yuto : “Iya aku tahu.”
Yuto : “Wooseok-ah! Ku percayakan Yuqi padamu.”
Wooseok : “Tenang saja.”
Yuto : “Yuto-ya! Hati-hati.”
Kino : “Terima kasih sudah percaya padaku. (Yuto).”

          Yuto tersenyum melihat percakapan teman-temannya. Sejak pagi tadi, ia resmi bergabung dengan grup chat milik ‘siswa yang tidak boleh disentuh’. Dengan paksaan Kino tentunya. Karena Kino merasa kondisi mereka saat itu hampir serupa, hanya saja Yuto berani memberontak. Dan dengan cara seperti ini mereka bisa saling melindungi. Terutama melindungi para gadis yang tidak bersalah. Tentu saja seluruh anggota grup tersebut kini telah mengetahui tentang Yuto. Siapa lagi kalau bukan karena Kino yang tidak bisa menjaga rahasia.

***

            “Yoochan sebentar lagi juga berada dalam kekuasanku. Jadi, jangan berharap kau bisa leluasa setelah tidak berhasil mendapatkan Kino.”
            Sementara di dalam Gudang, Yuqi berada di sana dengan Mina yang duduk di sebuah kursi, sementara dirinya berlutut di lantai Gudang yang terbuat dari semen. Matanya sudah sembab karena menangis sejak tadi. Menangis ketakutan, dan menangis karena kebodohannya mempercayai jika chat tersebut benar-benar dari Kino yang ingin bertemu dengannya di belakang Gedung sekolah.
            Mina sendiri masih sibuk dengan ponselnya. “Lagi pula, apa bagusnya Kino?”
            “Kalau begitu lepaskan Kino sunbae!”
            Yuqi mendongak mendengar suara keras itu yang berasal dari pintu. Mina tidak langsung menoleh karena ia sudah memprediksi dari siapa suara itu bersumber. Chaeyoung. Gadis itu tertangkap setelah terjatuh karena gagal melompati tembok. Beberapa sudut kakinya berdarah. Chaeyoung bukan gagal, hanya saja dia memang menjadikan dirinya sendiri sebuah umpan setelah mengancam jika ia ingin menjadi yang pertama memastikan kondisi Yuqi. Chaeyoung juga sudah memastikan jika Kogyeol dan Dokyeom sudah meminta bantuan teman-teman mereka.
            Mina tertawa puas mendengar kemarahan Chaeyoung. “Masih ingat jalan ke sini rupanya?” Mina masih tertawa beberapa saat sebelum tawanya benar-benar berhenti karena ia baru menyadari jika ‘lokasi’ di ponselnya hidup.
            Chaeyoung melirik ke tempat Yuqi yang hanya tertunduk setelah tahu jika yang datang adalah Chaeyoung, orang yang sedang dihindari Yuqi mati-matian. Satu hal lagi, Chaeyoung melakukan hal ini karena ia ingin meluruskan kekhawatirannya tentang sikap Yuqi padanya.
            “Harusnya dulu kau benar-benar mati!”
            Chaeyoung menoleh ke tempat Mina yang sudah dalam posisi berdiri, namun masih membelakanginya. Nada suara Mina benar-benar terdengar sangat marah.
            “Apa yang kau lakukan pada Yugyeom! Dan apa yang kau lakukan pada Kogyeol? Kogyeol orang kepercayaanku!” Mina berbalik dengan kilatan mata penuh amarah. Dengan tangan terkepal erat, Mina mendekat ke tempat Chaeyoung yang berdiri di kawal oleh beberapa anak buahnya. “Kenapa mereka tunduk padamu! Sebenarnya apa yang telah kau lakukan!”
            Prak!
            Yuqi menutup kedua telinganya menggunakan tangan sambil memejamkan erat matanya yang justru membuatnya tidak bisa membendung air mata. Satu tamparan keras mendarat di pipi kiri Chaeyoung. Chaeyoung sendiri sudah mengantisipasi hal tersebut. Dalam hati ia ingin tersenyum, meremehkan. Mina bukan lawan yang sepadan dengannya.
            “Bahkan kau juga merebut kebahagiaan Teman-temanku! Hangyul dan Kino juga membelamu! Siapa kau! Hah!”
            Chaeyoung menunduk dengan mata terpejam. Berusaha meredam suara cempreng Mina yang berteriak di depan wajahnya. Chaeyoung tidak bisa menutup telinga karena kedua tangannya di tahan.
            “Dan sekarang, kau juga ingin merebut Yuto dariku!”

***

            “Wanita gila!”
            Wooseok dan Hangyul bersama-sama menahan Yuto agar tidak menerobos masuk. Kejadian itu tepat setelah Mina memberikan tamparan peringatan untuk Chaeyoung. Mereka bersembunyi di balik pintu dan sedikit mengintip dari celah. Teriakan Mina dari dalam Gudang yang tidak terlalu besar itu bisa terdengar dengan jelas.
            Sementara Kogyeol dan Dokyeom sudah mulai melawan beberapa preman yang berjaga di dekat pintu belakang. Cukup jauh dari Gedung utama dan dari tempat Yuto menunggu. Mereka bahkan sudah dibantu beberapa teman mereka yang baru saja sampai. Menurut informasi dari Dokyeom, beberapa preman mungkin akan datang lagi. Maka mereka menyuruh Yuto, Wooseok dan Hangyul untuk berjaga dan lebih dulu menghabisi preman yang baru akan datang nanti sebelum mereka menerobos masuk ke dalam untuk menyelamatkan Chaeyoung dan Yuqi.
            Dan benar saja, sebuah mobil jeep datang dari gerbang depan membawa sekitar 5 preman. Mereka terkejut karena menemukan tiga siswa SMA mengintip ke dalam Gudang. Baik Yuto, Wooseok dan Hangyul saling melempar tatapan seolah memberi sinyal sambil memungut balok kayu di bawah kaki mereka. Mereka berlari, justru ke arah preman-preman itu seakan ingin menyerang lebih dulu. Ternyata yang menyerang hanya Wooseok dan Hangyul. Keduanya melindungi Yuto yang berlari ke arah samping, pintu tempat Chaeyoung di bawa masuk. Yuto mendapat tugas untuk menyelamatkan Chaeyoung.
            Tentu saja suara ricuh sampai terdengar ke dalam Gudang. Salah satu preman memberi tahu Mina jika ada yang menyerang mereka. Membuat Mina semakin melempar tatapan kebencian pada Chaeyoung. Perlahan Chaeyoung mendongak dengan senyum samar, seolah memberi isyarat pada Mina jika kali ini ia yang menang.
            Brak!
            Tepat beberapa saat kemudian, pintu di dobrak oleh seseorang. Yuto datang dengan penuh amarah. Belum lagi ia sempat melihat Mina menampar Chaeyoung. Membuat kebenciannya pada Mina semakin memuncak.
Chaeyoung berlari ke samping saat dilihatnya Mina seperti mengincar Yuqi. Namun Chaeyoung lebih dulu menghadang. Mina memukuli Chaeyoung berkali-kali dengan tangan kosong, namun Chaeyoung hanya bertahan dan mengalah. Lagi, Mina bukan lawan yang sepadan dengannya yang menguasai bela diri.
            Sunbae! Hentikan semua ini!”
            “Tidak!” Jerit Mina yang memaksakan tenaganya. Ia menarik bagian lengan seragam Chaeyoung hingga tersobek dan memperlihatkan kaus dalam putih milik gadis itu.

***

Selasa, 16 April 2019

-BEAUTIFUL MONSTER (7)-



Author          : N-Annisa [@nniissaa11]
Cast                :
·        Son Chaeyoung
·        Adachi Yuto
·        Kang Hyunggu (Kino)
·        Jung Wooseok
·        Lee Hangyul
·        and other
Genre            : School Life, Romance, Drama

***

             “Siapa kau?”
            Dongwoon mengerutkan kening. “Kau tidak mengenalku?”
            Yuto memikirkan jawaban yang pas. “Bukan itu. Iya aku pernah melihatmu di televisi. Maksudnya…”
            “Harusnya aku yang bertanya, kau siapa?” Dongwoon lebih dulu menyela ucapan Yuto sebelum pemuda itu menyelesaikan ucapannya.
            “Yuto,” kata Yuto singkat. “Kau siapa dengan Chaeyoung, hmm maksudku Chaeyoung siapamu atau kau siapanya Chaeyoung?” Yuto melipat tangannya dengan tatapan menyelidik, persis seperti detective.
            Dongwoon terkekeh sambil menggeleng. Mungkin dipikirnya ada-ada saja dengan pemuda asing yang menjadi tetangganya itu. Namun memang tidak banyak yang mengetahui hubungannya dengan Chaeyoung. Kecuali keluarga dan orang-orang terdekat.
            “Tanya saja pada Chaeyoung.”
            Dengan gerakan cepat, Dongwoon sudah melesat masuk kembali ke dalam apartmentnya.
            “Tunggu!” Yuto nyaris mengejar Dongwoon namun ia batalkan karena Dongwoon sudah lebih dulu menghilang ke dalam apartmentnya.

***

            Tepat jam 7 malam, para pria berseragam pelayan tengah sibuk di sebuah gedung mengatur makanan yang akan menjadi jamuan acara pertemuan pengurus Yayasan sekolah dan para pemilik saham. Beberapa dari mereka juga turut serta membawa keluarga. Acara tersebut memang rutin dilakukan setahun sekali untuk mempererat hubungan orang-orang yang terlibat atas kelangsungan masa depan sekolah. Dan di sana Chaeyoung berada. Dengan stelan kasual, celana dan jaket jeans, dengan rambut diikat satu keatas. Gadis itu mengawasi makanan yang keluar dari dapur dan memastikan semuanya sesuai dengan pesanan.
            Kogyeol juga berada di sana. Kerap kali ia yang terlihat melakukan koordinasi dengan Chaeyoung. Mengkonfirmasi dan melaporkan beberapa hal. Karena Kogyeol bekerja di dalam ruang acara, sedangkan Chaeyoung siaga di dapur.
            Sementara itu, sebuah tampak mobil memasuki pelataran parkir. Setelah mematikan mesin mobil, pengendara itu membuka pintu dan mengulurkan kaki jenjangnya sebelum benar-benar keluar dari mobil. Ia berjalan menuju area Gedung tempat acara berlangsung. Pemuda itu hanya mengenakan celana Panjang hitam dan kemeja putih polos dengan lengan baju yang di gulung hingga siku, serta rambut yang sedikit ditata. Saat benar-benar memasuki ruangan, pemuda tinggi itu langsung dihujani tatapan kagum dari beberapa tamu yang hadir. Terutama para gadis, anak-anak dari pemilik saham ataupun pengurus Yayasan. Namun kejadian itu tidak berlangsung lama karena acara akan dimulai dan dibuka oleh pembicaraan seorang MC.
            Setelah beberapa sambutan oleh beberapa orang, sang MC yang adalah seorang wanita itu kembali ke tengan podium. “Kami akan memperkenalkan seseorang yang sudah sangat sukses di usianya yang masih muda. Salah satu penyumbang saham di Yayasan kita. Seorang pemuda dari negara Jepang. Please welcome, Adachi Yuto.”
            Riuh tepuk tangan orang-orang yang hadir menciptakan suara gemuruh. Terlebih jeritan histeris dari pada gadis yang hadir. Namun si pemilik nama justru baru tersadar setelah beberapa saat karena menyadari hampir seluruh pasang mata mengarah padanya.
Pemuda itu, Yuto, ia sejak tadi lebih memilih menyendiri di bagian belakang atau dekat dengan pintu masuk. Sibuk dengan ponselnya. Yuto masih menatap layar ponselnya. Sejak tadi ia mengirimi pesan pada Chaeyoung, namun tidak kunjung mendapat balasan. Sambil menghela napas, berat, Yuto memasukkan ponselnya ke saku celana, kemudian melangkah malas ke depan. Beberapa saat lagi ia akan memberikan kejutan untuk Keigo Nishimoto, Mina, dan ibunya Mina yang kemungkinan pasti hadir di sana.
            Yuto menginjakkan kaki di atas podium setelah sebelumnya ia menerima mic dari sang MC. Dari atas sana ia bisa melihat dengan jelas suasana acara secara keseluruhan. Dengan meja makanan di sisi kiri dan kanan ruangan. Tidak terkecuali dua orang yang kini bertabrakan mata dengannya. Keigo dan Mina. Terutama Keigo yang tadi bahkan tidak memberikan tepukan apresiasi untuk Yuto. Jelas pria itu terkejut setengah mati karena mendapati anak bungsunya berdiri di sana. Bukan sekedar tamu undangan biasa.
            Hanya berlangsung beberapa menit saat Yuto harus menjadi pusat perhatian. Ia sengaja mengaku belum terlalu lancar berbahasa Korea untuk menghindari pertanyaan-pertanyaan yang mungkin tidak ingin ia jawab. Terutama tentang bagaimana ia akhirnya bisa sampai berdiri di sana karena memiliki saham Yayasan atas nama dirinya. Karena jawabannya adalah : ia tidak tahu apa-apa.
            Setelah itu acara berganti menjadi lebih santai. Seluruh tamu undangan juga sudah dipersilahkan untuk menikmati hidangan. Yuto berjalan ke salah satu meja yang berisi minuman. Mereka akhirnya kembali bertemu pandang—Yuto dan Keigo. Yuto hanya menunduk sedikit untuk menunjukkan tanda hormat. Mereka tidak mungkin membongkar identitas mereka di sana. Lebih tepatnya Yuto tidak ingin ada yang tahu jika dirinya dan Mina adalah saudara tiri. Yuto sengaja memilih jalan lain untuk menghindari keberadaan Keigo.
            “Cepat panggil pimpinan kalian!”
            Yuto berbalik kembali setelah mendengar ada sebuah keributan. Beberapa orang sudah berkerumun namun ia masih bisa melihat siapa gadis yang membuat heboh tadi dengan suara cemprengnya. Yuto berdesis kesal. Lagi-lagi Mina sok berkuasa. Yuto perlahan mendekat dengan langkah pelan. Tidak ada yang ia pikirkan selain berjalan semakin dekat. Seiring dengan orang-orang yang di seberangnya tampak seperti membuka jalan. Di sana Yuto semakin terkejut karena ia melihat Chaeyoung muncul. Yuto semakin mempercepat langkahnya, tidak peduli jika badan besarnya menubruk orang-orang di depannya.
            “Aku suruh panggilkan pimpinan kalian, bukan rekan kalian sesama pelayan,” kata Mina dengan nada angkuhnya sambil bertolak pinggang.
            Kebetulan Kogyeol memang mengekori Chaeyoung saat gadis itu dipanggil ke sana. “Mohon maaf, tapi Son Chaeyoung adalah pimpinan kami.”
            Chaeyoung menoleh pada Kogyeol yang hanya dibalas anggukan oleh pemuda itu. Anggukan untuk membuat Chaeyoung merasa sedikit tenang.
            Kali ini Mina melipat tangannya di depan dada. “Waaah, hebat. Kau sudah naik pangkat rupanya.”
            Pemuda yang tadi membuat Mina marah tampak sedang membersikan tumpahan minuman yang mengotori lantai. Mina yang melihat itu semakin kesal.
            “Berhenti, kau!” titah Mina dengan tangan yang bergerak memerintah. “Aku ingin Chaeyoung yang membersihkan semuanya. Yang lain silahkan melanjutkan menikmati makan malam kalian.”
            Di tempatnya berdiri, Yuto semakin mengatupkan rahangnya menahan kesal sambil mengepalkan erat kedua tangannya. Chaeyoung sediri tampak belum menyadari keberadaan Yuto di sana. Karena Yuto masih diam. Lebih tepatnya tidak ingin Mina semakin menghancurkan Chaeyoung. Atau bahkan lebih parah dari itu, menghancurkan restoran Chaeyoung. Bukan karena takut melawan Mina, hanya saja ia takut jika justru tidak bisa membereskan semuanya.
            Mina memajukan kaki kanannya saat Chaeyoung terlihat menerima gagang pel dari pemuda tadi. Terlihat ada bercak noda warna dari minuman yang tadi tumpah. Sementara Kogyeol sudah mengalihkan pandangan ke arah lain seiring beberapa orang berangsur meninggalkan kejadian yang sedikit mengganggu acara tersebut.
            “Bersihkan kakiku juga.”
            Yuto dan Kogyeol sontak menoleh ke arah Mina, bersamaan. Gadis itu mengulurkan selembar tissue dari dalam tas tangannya. Kali ini sudah tidak bisa ditolelir lagi. Yuto melangkah maju. Mina menoleh, Chaeyoungpun menoleh dengan tatapan terkejut. Yuto menatap Chaeyoung beberapa saat. Dan tanpa melirik sedikitpun ke arah Mina, ia merebut tissue dari tangan gadis itu. Kemudian Yuto berjongkok di dekat kaki Mina yang sudah ia tarik kembali seperti posisi semula.
            Chaeyoung menyentuh pundak Yuto sambil menahan pemuda itu. “Sunbae, biar aku saja!”
            Yuto mengabaikan Chaeyoung. Ia semakin mendekat pada Mina. Dengan kasar, Yuto menarik kaki Mina dan melepas sepatunya agar ia bisa lebih leluasa membersihkan noda pada sepatu gadis itu.
            “Yuto, hentikan!” pekik Mina.
            Yuto seakan tuli namun ia mempercepat pekerjaannya. Setelah dirasa selesai, Yuto kembali berdiri. “Yang kau hina itu adalah pemilik restoran tempat kau menikmati semua makanan di sini.” Dikembalikannya tissue kotor itu pada Mina secara paksa dengan menarik tangan gadis itu.
            Yuto membalikkan badan dengan gerakan cepat sambil menyambar tangan Chaeyoung dan membawa gadis itu pergi meninggalkan ruangan. Mereka sampai di area luar tidak jauh dari pintu Gedung. Di sana Yuto melepaskan genggaman tangannya sambil berbalik untuk menghadap Chaeyoung yang kini menunjukkan tatapan marah padanya.
            “Apa yang kau lakukan?”
            “Membelamu.”
            “Kau tidak tahu kalau yang kau lakukan itu…”
            Yuto menyambar ucapan Chaeyoung yang belum selesai. “Jika Mina berani menyakitimu, atau bahkan menghancurhan restoranmu, aku berjanji aku akan bertanggung jawab semuanya.”
            “Kenapa kau tiba-tiba peduli padaku?” tanya Chaeyoung dengan kening berkerut.
            “Atau kau ingin kita membuat surat perjanjian?” Yuto tidak menjawab pertanyaan Chaeyoung
            Chaeyoung menggeleng, tidak habis pikir dengan apa yang dilakukan Yuto tadi. “Bukan itu. Maksudku, kenapa kau peduli? Kita bahkan baru kenal.”
            Yuto menggeleng tegas lalu menarik tubuh mungil Chaeyoung ke dalam pelukannya. “Kita tidak baru kenal.”
            Merasa tidak nyaman, Chaeyoung mendorong tubuh Yuto dengan sekuat tenaga untuk membebaskan diri dari tubuh besar pemuda itu. Yuto sendiri bersikap lunak, tidak menahan Chaeyoung dalam pelukannya. Di dalam pencahayaan yang minim itu, Yuto melihat seseorang yang tampak berjalan mendekat, menyusul mereka. Pemuda itu adalah Kogyeol.
            “Kita bicara lagi nanti.” Buru-buru Yuto berbalik.
            “Ya! Sunbae!” Chaeyong berteriak namun tidak mengejar Yuto. Membiarkan tubuh pemuda itu semakin jauh.
            “Chaeyoung,” panggil Kogyeol dengan suara lembut. “Kau pulanglah dulu. Urusan di sini biar aku yang menyelesaikan,” lanjutnya setelah mendapati Chaeyoung berbalik. “Lagipula, acara sudah akan berakhir.”
            Chaeyoung mengangguk lalu kembali berbalik dan melangkah pergi. Gadis itu sempat berhenti sesaat karena ada mobil yang melintas. Mobil milik Yuto yang dikendarai sendiri oleh pemuda itu dengan sorot mata penuh kebencian. Namun Chaeyoung tidak terlalu ingin ambil pusing dulu untuk saat ini. Ia bisa bicara lagi dengan Yuto, nanti.

***

Gadis itu berjalan menuju halte untuk menunggu bus. Tidak berselang lama, bus yang ia tunggupun tiba. Chaeyoung segera naik, berjalan lebih dalam mencari kursi kosong.
            Seseorang melambaikan tangan pada Chaeyoung. Gadis itu menajamkan pandangannya. Ada sosok Taewoong di sana. Duduk di kursi paling belakang. Kebtulan ada satu kursi kosong tepat di sebelah Taewoong. Tentu saja Chaeyoung memilih untuk menempati kursi kosong yang berada di dekat jendela itu.
            Oppa kau baru pulang?”
            Taewoong tersenyum sambil mengangguk pelan. “Kau sendiri dari mana?”
            “Tadi ada acara yang memesan makanan dari restoranku.”
            Kemudian mereka saling diam. Sampai akhirnya Taewoong memecah keheningan karena tiba-tiba ia teringat sesuatu. Taewoong memeriksa tasnya. “Chaeyoung,” panggilnya hingga membuat gadis yang semula tengah menikmati pemandangan dari luar jendela itu menoleh. “
            “Lihat foto ini.” Di tangan Taewoong terdapat selembar foto yang sudah sedikit usang.
Mata Chaeyoung berubah berbinar saat melihatnya. Foto dua buah keluarga bersama anak-anak mereka. Ada seorang anak perempuan sekitar berusia 1 tahun dan seorang anak laki-laki berusia sekitar 2 tahun yang masing-masing duduk dipangkuan ibu mereka. Dan ada 3 anak laki-laki lagi berdiri di samping ibu mereka. Sementara sang ayah berdiri di belakang istri mereka.
            “Aku menemukan foto ini di rumah,” kata Taewoong lagi seakan bisa menebak isi pikiran Chaeyoung yang bisa dipastikan sangat penasaran bagaimana foto tersebut berada pada Taewoong. “Kau tahu? Itu adik laki-lakiku yang bernama Yuto.
            Chaeyoung masih menyunggingkan senyuman. Jelas saja karena ia sangat merindukan orang tuanya yang telah tiada. Lalu kemudian Chaeyoung mengeluarkan ponsel dan memoto ulang foto tersebut menggunakan kamera ponselnya. Namun sepertinya Chaeyoung sedikit tidak menangkap ucapan Taewoong barusan.
            Taewoong mengulurkan tangan karena dilihatnya Chaeyoung mengembalikan foto tersebut padanya. Namun Chaeyoung tidak langsung melepaskan benda itu dari tangannya meski Taewoong sudah ingin mengambil benda itu.
            “Apa?” tanya Taewoong dengan tatapan bingung melihat raut wajah Chaeyoung yang seketika berubah. Sulit diartikan.
            “Aku baru ingat. Kau pernah memiliki nama Jepang, kan?” Chaeyoung mengerutkan dahi dengan tatapan menyelidik. “Apa tadi kau menyebut nama seseorang?”
            “Siapa? Yuto? Adachi Yuto?” Taewoong balas bertanya.
            Sontak Chaeyoung membulatkan matanya. Sayang ia tidak memiliki foto Yuto diponselnya untuk ia tunjukkan pada Taewoong. Gadis itu sedikit tahu tentang keluarga Taewoong yang juga tidak utuh karena orang tuanya bercerai. Namun ia sempat lupa jika Taewoong memiliki adik laki-laki karena Taewoong hampir tidak pernah menyebut nama pemuda itu.
            “Siapa nama Jepangmu?”
            Meski tampak bingung, Taewoong tetap menjawab pertanyaan Chaeyoung. “Yukimoto Yasuo.”          

***

            Chaeyoung setengah berlari setelah keluar dari bus. Taewoong sudah turun dari satu halte sebelumnya. Ia berlari menyeberangi jalanan yang sedikit lebih lelang. Malam itu sudah bukan jam padat kendaraan. Gadis itu ingin segera bertemu Yuto. Mungkin dengan cara ini ia dan Yuto bisa berbaikan kembali. Meski sebenarnya mereka tidak bertengkar, Chaeyoung hanya sedikit merasa bersalah.
            Tuk.
            Chaeyoung mengehentikan langkah karena dirasa kakinya menendang sesuatu. Saat menunduk, gadis itu menemukan sebuah ponsel dengan gantungan berbentuk hati berinisial ‘Y’. Seingat Chaeyoung, itu mirip seperti milik Yukyung.
            “Chaeyoung!”
            Merasa ada yang memanggil, Chaeyoung menolah. Ia melihat seseorang berlarian mendekat. Itu Kino yang berlari sambil menempelkan ponsel ke telinganya.
            Sunbae, kau kenapa?”
            Kino memegang pundak Chaeyoung untuk berpegangan sambil berusaha mengatur napasnya. “Kau lihat Yuqi di dekat sini?”
            Mendadakan Chaeyoung merasakan jantungnya berdegup sedikit cepat. Seperti ada rasa takut yang tiba-tiba mengerebungi. Gadis itu menggenggam erat ponsel Yukyung di tangannya. Tadi siang Yukyung sempat mengabarinya jika ia pergi bersama Yuqi.
            “Apa ini ponsel Yukyung? Di mana mereka?” Kino bertanya dengan tidak sabar.
            Chaeyoung memasukkan ponsel Yukyung ke dalam saku celananya. Tanpa menjawab pertanyaan Kino, gadis itu berlari kembali ke seberang jalan yang sudah ia lalui tadi. Dibelakangnya Kino tampak menyusul mengejar Chaeyoung tanpa banyak bertanya lagi. Mereka memasuki sebuah gang yang sudah sedikit sepi. Hanya beberapa lampu jalanan yang masih menyala menerangi jalan dengan banyak kios yang sudah tutup.
Di ujung sana Chaeyoung melihat gerombolan orang-orang yang seperti saling Tarik-menarik. Kebetulan mereka sempat melintas di bawah lampu jalanan yang memungkinkan mereka menjadi sedikit lebih jelas terlihat. Ada dua orang gadis, terlihat dari rambut Panjang mereka.
            Kino lebih dulu melesat berlari mendahului Chaeyoung yang menyusul kemudian. Pemuda itu meyakini gadis yang memiliki rambut bergelombang itu adalah Yuqi. Dan ternyata dugaan mereka benar. Itu Yuqi dan Yukyung. Chaeyoung kembali mendahului Kino karena pemuda itu seperti mengurangi kecepatan. Chaeyoung menendang punggung salah satu dari lima pemuda yang mengganggu temannya. Kino melakukan hal sama meski dengan ilmu beladiri yang pas-pasan. Mereka saling pukul dan saling tendang.
            “Yuqi cepat ajak Yukyung pergi dari sini!” pekik Kino di sela-sela bertarungnya.
            Kino dan Chaeyoung sama-sama terhempas dan justru membuat mereka saling bertubrukan. Dengan posisi Chaeyoung di depan Kino seperti Kino seolah memeluk Chaeyoung.
            Yukyung menarik tangan Yuqi. Namun Yuqi seakan belum ingin melepaskan pandangannya dari Kino. Yukyung tetap berusaha menariknya meski Yuqi tidak bergerak.
            Tiga preman sudah tersungkur. Satu preman lagi kini sudah berhasil Chaeyoung lumpuhkan. Chaeyoung lalu berlari ke arah Kino karena ada seorang preman yang ingin menyerang Kino. Namun pergerakannya sangat mudah ditebak oleh Chaeyoung yang berhasil menendangnya sebelum pereman itu menyerang Kino.
            Chaeyoung mengatur napas beberapa saat sebelum akhirnya melangkah ke tempat Yuqi dan Yukyung berada. Yuqi mundur selangkah hingga ia seperti berdiri di belakang Yukyung. Yukyung sendiri hanya menoleh heran mengapa Yuqi melakukan itu. Chaeyoung sendiri sudah tidak bisa mengatur raut wajahnya yang berdarah di bagian pelipis dan tepi bibir. Ia hanya mengembalikan ponsel milik Yukyung yang ia temukan di jalanan.
            “Yukyung!”
            Hampir semua yang berada di sana menoleh. Di ujung sana, dibelakang Yuqi dan Yukyung, terlihat pemuda tinggi setengah berlari mendekat.
            Oppa.” Yukyung terdengar bergumam pelan.
            Kino sudah berdiri di dekat Yuqi, mengulurkan tangannya, namun Yuqi seperti menolak. Karena fokus mereka kini tertuju pada pemuda tinggi yang semakin dekat itu. Wooseok. Chaeyoung menajamkan penglihatannya, bukan kepada Wooseok, melainkan pada sesuatu beberapa meter di belakang Wooseok. Pemuda yang tidak kalah tinggi. Kepalanya sudah sakit untuk menebak-nebak pemuda itu benar Yuto atau hanya ilusinya saja.
            Yuto—seperti yang ada pada pikiran Chaeyoung—berjalan semakin mendekat ke tempat Chaeyoung berdiri. Belum lagi dilihatnya Wooseok sendiri tampak sudah sibuk dengan Yukyung. Seakan tidak menyadari keberadaan Chaeyoung. Gadis itu merasakan sesuatu menyentuh tepi bibirnya. Chaeyoung mendongak sambil memegang lengan orang itu yang menempelkan sapu tangannya untuk membersihkan darah dari tepi bibir Chaeyoung. Itu benar-benar Yuto. Ia bisa merasakan deru napas pemuda itu akibat kelelahan karena berlari.
            “Kau baik-baik saja?” tanya Yuto tanpa melepaskan tatapan khawatirnya pada Chaeyoung. Sama seperti gadis itu, Yuto juga seakan sudah melupakan kejadian menegangkan saat terakhir kali mereka bertemu 1 jam lalu.
            Chaeyoung mengangguk pelan sambil merasakan perih pada tepi bibirnya.
            “Aku bertemu Wooseok tadi. Dia bilang ingin menyusul Yukyung karena ada hal janggal saat ia menelepon Yukyung tadi. Sepertinya ada preman yang mengganggu mereka,” kata Yuto menjelaskan meski sebenarnya Chaeyoung tidak menanyakan tentang bagaimana dirinya bisa sampai di sana.
            Yuto kembali menghela napas, berat. Di lihatnya para preman tadi sudah berdiri dan berjalan dengan tergopoh-gopoh meninggalkan tempat itu. Pemuda itu kemudian melirik ke tempat Wooseok berdiri dengan yang lain. Wooseok sama sekali tidak melepaskan rangkulan pada Yukyung. Saat mata mereka saling bertemu, Yuto dan Wooseok saling mengangguk seperti memberikan isyarat satu sama lain. Yuto berpindah ke samping Chaeyoung. merangkul tubuh mungil gadis itu dengan satu tangan. Sementara tangan yang lainnya memegangi sapu tangan yang kini ia tempelkan pada pelipis Chaeyoung.
            Kino berjalan lebih dulu. Wooseok lalu mengajak Yukyung dan Yuqi untuk menyusul Kino. Mereka pergi ke arah yang berlawanan dengan Yuto dan Chaeyoung. Menuju sebuah taman yang sudah cukup sepi malam itu. Yuqi, Yukyung dan Wooseok duduk di kursi Panjang. Sementara Kino memilih berdiri tidak jauh dari Wooseok. Mendengarkan cerita versi Yukyung perihal mereka bertemu dengan preman itu yang tiba-tiba saja membawa mereka pergi. Sampai akhirnya Chaeyoung datang bersama Kino.
            Wooseok mengulurkan tangan dan mengusap pundak Yukyung sekaligus untuk menenangkan gadis itu. Kino memperhatikan keduanya dengan tangan terlipat di depan dada. Lalu tatapan pemuda itu beralih pada Yuqi yang sejak tadi terdiam.
             “Ada yang ingin kau katakan?”
            Yuqi mendongak, mendapati Kino menatap lurus padanya. “Apa maksudmu?”
            Wooseok menatap Kino berharap pemuda itu balik menatapnya. Jelas terlihat Wooseok mengkhawatirkan sesuatu. Ia ingin Kino menahan diri. Terlebih hubungan Kino dan Yuqi terakhir kali kurang baik. Kino akhirnya menoleh sesaat, ia mendapati Wooseok memberinya isyarat agar tidak bertindak atau mengatapa apa-apa pada Yuqi. Namun Kino seakan tidak peduli. Ia kembali menatap Yuqi, menunggu gadis itu mengatakan sesuatu.
            “Apa kau ingin membela Chaeyoung?”
            Kino melebarkan mata. Tidak menyangka Yuqi akan bertanya seperti itu. Entah mengapa ia menangkap ada sorot kebencian dari mata Yuqi. Kino sudah maju selangkah mendekat ke tempat Yuqi duduk lalu berkata, “kau ini aneh. Chaeyoung yang telah menyelamatkan kalian. Dan kau bahkan tidak mengucapkan terima kasih. Kau pikir aku tidak melihat sikapmu?”
            Yuqi ikut berdiri dengan ekspresi menantang. Seakan ia tidak terima karnea Kino terus memojokkannya. “Apa yang kau lihat? Apa kau lihat aku ketakutan?”
            “Ketakutan? Pada Chaeyoung?”
            “Selamat dari pengeroyokan 6 bulan lalu. Menghajar preman-preman sendirian, memangnya apa dia kalau bukan monster? Dan aku tidak boleh takut pada monster?” jerit Yuqi dengan nada tinggi seakan kekesalannya sudah memuncak. Gadis itu berjongkok lalu menelungkupkan wajahnya, menangis.
            Yukyung melesat dari samping Wooseok, ikut berjongkok disamping Yuqi untuk menenangkan gadis itu. Sementara Kino maish berdiri dengan mengepalkan tangannya, sangat erat, sambil mendongak menahan emosi. Wooseok sendiri hanya menunduk, tidak bisa berbuat apa-apa, kecuali berjaga-jaga agar tidak ada yang bertindak konyol.
            Yuqi akhirnya mendongak sambil berdiri dengan gerakan sedikit kasar hingga membuat Yukyung sedikit mendorong. Menatap Kino dengan matanya yang basah. “Kalau memang kau lebih memilih Chaeyoung, maka aku yang akan menjauh.” Yuqi berbalik memunggungi Kino.
            “Karena kau memilih Chan, kan?”
            Pertanyaan Kino membuat Yuqi membatalkan niat untuk melangkah pergi. Sementara Yukyung sudah melotot gemas pada Kino, gadis itu bahkan memberikan kode menggunakan tangannya agar Kino tidak membahas itu. Namun ekpresi Kino menunjukkan ia tidak mengerti apa yang Yukyung maksud.
            Yuqi terkekeh seakan menertawakan Kino, sambil menyeka sisa air matanya. Yuqi tetap dalam posisi memunggungi Kino. Kino kembali melempar tatapan pada Yukyung berharap Yukyung bisa memberikan percerahan pada kebingungannya. Bukan tidak ingin membertahu, tapi lebih baik Kino mendengar sendiri langsung dari mulut Yuqi.
            Oppa, aku pulang bersama Yuqi.” Yukyung menoleh ke tempat Wooseok berada, dan hanya melambai singkat pada Wooseok belum akhirnya berbalik sambil merangkul Yuqi untuk membawa gadis itu pergi dari sana.
            “Yukyung!” Seru Kino dengan nada pelan namun penuh penekanan.
            Wooseok berdiri sambil menepuk pundak Kino sebagai tanda agar Kino mengalah dulu untuk hari ini. Yuqi terlihat tidak ingin diganggu.
            “Kau lihat? Yuqi bilang Chaeyoung monster?” ada kilatan marah di mata Kino. Meski menyukai Yuqi, namun jika gadis itu megatakan hal buruk tentang Chaeyoung, jelas Kino tidak terima. Ia lebih tahu tentang Chaeyoung dibanding Yuqi, bahkan Yukyung.
            “Yuqi hanya terbiasa hidup tanpa kekerasan sedikitpun. Dimatanya, seorang perempuan yang menguasai beladiri itu sangat aneh. Waktu itu memang Yuqi belum mengetahui tentang Chaeyoung. Mereka akhirnya saling kenal karena Yukyung. Yuqi sangat ketakutan mendengar berita Chaeyoung dikeroyok preman. Dan ketakutannya semakin bertambah karena tahu Chaeyoung menguasai  beladiri. Yuqi takut Chaeyoung melakukan hal kasar padanya.”
            Kino mendelik. Sama sekali belum bisa menghilangkan amarahnya. “Dia tidak tahu Chaeyoung yang sebenarnya.”
            “Sama halnya denganmu, kau belum bisa mengerti Yuqi yang sebenarnya.” Wooseok balas menatap dalam ke mata Kino. “Kau mau bilang aku lebih membela Yuqi?” sergahnya. Mengingat Kino masih dikuasai amarah. Rasa sayang Kino pada Chaeyoung sebagai adik membuatnya bersikap egois.

***

            Yuto menyampirkan jaketnya ke pundak Chaeyoung. Merangkul gadis itu agar wajah penuh darah Chaeyoung tidak terlalu menarik perhatian orang-orang sekitar. Membawa Chaeyoung menyebrang jalan menuju sebuah mobil terparkir. Pemuda itu membuka salah satu pintu mobilnya, dan mendorong pundak Chaeyoung pelan untuk masuk ke sana. Lalu memutarin mobil untuk masuk melalui pintu yang lain. Yuto langsung menyalakan lampu dan membuka kotak dashboard, mengeluarkan kotak putih berisi obat luka.
            Chaeyoung menahan tangan Yuto yang sudah mengarah pada wajahnya sambil memegang kapas yang sudah ditetesi obat. “Sunbae, biar aku saja.”
            Yuto tidak melepaskan tatapannya pada Chaeyoung. Pemuda itu menghembuskan napasnya dengan cukup keras. Sebagai peringatan jika ia tidak ingin ada protes dari gadis itu.
            Chaeyoung sempat balas menatap ke dalam mata Yuto sambil merengut. Lalu hanya diam. Membiarkan Yuto kembali menggerakkan tangannya menuju bagian luka di wajahnya.
            “Akh!” Chaeyoung meringis sambil memejamkan matanya. Bahkan tanpa sadar, tangan gadis itu mencengkeram salah satu tangan Yuto yang berada di bawah, menopang kotak obat.
            Yuto terus tersenyum. Bahkan saat Chaeyoung seperti menjauhkan wajahnya, Yuto terkekeh gemas. Bukan menarik wajah Chaeyoung, Yuto justru yang mengalah dengan memajukan badannya karena Chaeyoung terus menjauh. Sampai akhirnya Chaeyoung sudah tidak bisa menghindar lagi karena kepalanya sudah membentur  kaca mobil dibelakangnya.
            Chaeyoung mendorong pelan dada Yuto untuk menjauh agar dirinya bisa menghirup udara dalam-dalam. Yuto menghempaskan punggungnya ke sandaran kursi. Yuto mendongak saat melihat lampu dalam mobil mati. Pemud itu menoleh ke tempat Chaeyoung berada, lalu melempar tatapan ke luar jalanan, ke arah Chaeyoung melihat sesuatu. Sebuah mobil yang cukup familiar dimatanya. Ada seorang perempuan memunculkan diri dari dalam mobil. Hanya melihatnya sekilas, Yuto bisa menebak siapa gadis itu. Gadis dengan gaun yang sama seperti yang digunakan Mina saat acara di Gedung.
            Yuto mendekatkan tubuhnya ke arah Chaeyoung sambil menarik tengkuk gadis itu saat merasakan Mina seperti melihat ke arahnya. Sontak Chaeyoung menahan pundak Yuto.
            “Lihat gadis itu mengarah ke mana?” bisik Yuto dengan suara beratnya.
            Chaeyoung menuruti ucapan Yuto. Ia mengintip dari balik pundak bidang milik Yuto. Mengawasi Mina yang kini terlihat memasuki gang tempat ia dan Yuto muncul tadi setelah berpisah dengan Kino dan yang lain. Chaeyoung mengerti mengapa Yuto melakukan ini. Yuto ingin jika Mina melihatnya, mereka hanya seperti sepasang kekasih yang berciuman di dalam mobil dan hanya diterangi sedikit lampu jalan.
            “Dia mengarah ke gang tempat kita lewat tadi,” kata Chayeoung juga dengan suara berbisik. Masih mengawasi sosok Mina yang kini menghilang di dalam gang.
            Tok tok tok!
            Chaeyoung dan Yuto yang terkejut, tanpa sadar saling mendorong. Bagian belakang kepala Chaeyoung bahkan sampai membentur kaca jendela.
            “Akh,” Chaeyoung meringis sambil memegangi kepalanya.
            Yuto yang melihat ada seseorang di luar, menurunkan kaca di belakang Chaeyoung. Ia mendapati Kino melotot di sana. Chaeyoung ikut menoleh saat Yuto membantu mengusap kepalanya untuk mengurangi rasa sakit.
            Kino memasukkan kepalanya melalui jendela sambil mengulurkan satu tangan untuk menarik bagian kerah kemeja Yuto. “Apa yang kau lakukan?”
            Yuto hanya menepuk lengan Kino sambil menatap tanpa merasa bersalah. Karena memang ia tidak melakukan hal-hal seperti yan dipikirkan Kino. “Cepat masuk!” seru Yuto setengah memerintah. Kemudian ia kembali duduk seperti semula setelah Kino masuk ke kursi penumpang bagian belakang.
            Kino duduk di ujung jok agar bisa lebih dekat dengan Chaeyoung untuk memastikan keadaan gadis itu. “Kau baik-baik saja?”
            Yuto sudah mulai menjalankan mobilnya saat Chaeyoung menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi beberapa menit lalu. Tentang mereka melihat Mina.
            “Mereka preman yang dulu?” tanya Kino di tengah-tengah Yuto dan Chaeyoung.
            Chaeyoung menggeleng cepat. “Tidak satupun dari mereka.”
            “Gadis itu kenal berapa banyak preman?” Kino terdengar bicara sendiri karena pasti tidak ada yang mengetahui jawabannya.
            Sepi sesaat. Sampai akhirnya Chaeyoung yang kembali buka suara. “Yuqi dan Yukyung sudah pulang?”
            “Hmm.” Kino mengangguk sebagai jawaban. “Jangan kau pikirkan perlakuan Yuqi padamu, ya.”
            Chaeyoung menoleh dengan ekpresi penuh tanya. “Memang Yuqi melakukan apa padaku?”
            Kino tersenyum meremehkan. “Tidak mungkin kau tidak tahu. Lagipula aku tidak akan membahas hal ini.” Kino menepuk sekali pundak Yuto yang sedang konsentrasi menyetir. “Kau punya teman perempuan seumuran kita?”
            Yuto mendengarkan perkataan Kino sambil mengawasi kaca spion. “Ada,” jawabnya.
“Kenalkan satu padaku,” ucap Kino penuh semangat.
            “Tapi mereka semua di Jepang.”
            “Pfft!” Chaeyoung tertawa tertahan. Membuat Kino mendelik kesal padanya.
            “Tapi memang benar mereka di Jepang.” Yuto sempat menoleh sebentar untuk membela diri.
            Kini Chaeyoung sudah tidak bisa menahan tawanya. “Iya sunbae, kau benar.”
            Merasa semakin kesal, Kino menghempaskan punggungnya ke sandaran kursi dan melempar tatapannya ke luar jendela.

***

            Suara bel beringingan dengan suara ketukan pintu yang terdengar tidak sabar. Seseorang menyibak selimutnya di dalam ruangan yang masih cukup gelap. Pemuda itu bangkit sambil mengusap wajahnya. Lalu menyeret langkah menuju jendela untuk membuka tirai hingga membuat kamarnya terang.
            Sementara di luar pintu, tampak Chaeyoung berdiri dengan seragam sekolah lengkap beserta ranselnya. Di salah satu tangan gadis itu Chaeyoung membawa sebuak kotak bekal berukuran cukup besar. Sesekali Chaeyoung melirik jam tangannya karena pemilik rumah belum juga membukakan pintu. Chaeyoung menoleh, justru ke arah seberang apartment yang dikunjunginya. Seorang pemuda muncul dari sana sambil membawa sebuah koper besar. Ekpresinya terlihat terkejut karena mendapati Chaeyoung berdiri di sana.
            Oppa?” Chaeyoung menegakkan tubuhnya. Terkejut karena tertangkap basah oleh kakaknya, mengunjungi apartment laki-laki pagi-pagi begini.
            Pemuda itu, Dongwoon, akhirnya menyunggingkan senyum sambil berjalan mendekati Chaeyoung. “Oppa akan berangkat sekarang. Jaga diri baik-baik, oke?” Dongwoon memeluk Chaeyoung sesaat.
            Chaeyoung tidak melakukan apa-apa kecuali ekspresi wajahnya yang terlihat kecewa. Pekerjaan Dongwoon yang membuat mereka jarang bertemu. Belum lagi mereka juga tinggal terpisah karena Dongwoon tidak ingin kehidupan adik-adiknya terganggu karena fansnya. Chaeyoung sudah membuka mulut. Namun tidak ada satu katapun yang terucap kecuali helaan napasnya. Dongwoon juga terlihat pasrah. Tidak bisa melakukan apa-apa untuk menghibur Chaeyoung kecuali mengusap lembut rambut adiknya.
            “Maafkan Oppa tidak bisa menjagamu.” Dongwoon menunduk untuk mensejajarkan tinggi badan, kemudian mengecup pipi Chaeyoung. tepat ketika pintu di belakang Chaeyoung terbuka. Mengenai luka Chaeyoung, tentu gadis itu sudah menceritakannya pada Dongwoon melalui telepon dan berakhir dengan ceramah Panjang pamuda itu hingga membuat Chaeyoung terlelap karena Lelah. Lelah dengan hari ini, juga Lelah karena tak ayal dua adik kembarnya juga melakukan hal yang sama seperti Dongwoon.
            Dengan rambut yang masih berantakan dan hanya mengenakan kaus tanpa lengan serta celana training, Yuto membuka pintu apartmentnya. Pemandangan pertama yang ia lihat adalah seorang pemuda, yang ia ketahui adalah tetangganya, mencium seorang gadis bertubuh mungil. Yuto membelalakkan mata melihat kejadian itu karena gadis tersebut mengenakan seragam sekolah yang sama seperti miliknya. Rambut hitam Panjang dan proporsi tubuh mungil itu sangat ia kenal. Seperti milik Chaeyoung. Dongwoon sudah menegakkan badannya saat Yuto baru melangkahkan kaki keluar dari apartmentnya. Chaeyoung yang menyadari kehadiran Yuto, menghalangi tubuh tinggi pemuda itu karena dilihatnya Yuto ingin mengejar Dongwoon. Ada aura membara dari cara Yuto memperhatikan tubuh Dongwoon yang semakin menjauh menuju lift yang berada di ujung koridor.
            “Kau mau ke mana?”
            Yuto menatap bergantian antara Chaeyoung dan Dongwoon yang terlihat sudah masuk ke dalam lift. Melambaikan tangan pada mereka sesaat sebelum pintu lift tertutup menyembunyikan Dongwoon di dalam sana. Yuto menghela napas, berusaha menenangkan diri. Ia harus mendapatkan jawabannya saat ini juga. Yuto menarik tangan Chaeyoung, membawa masuk ke dalam apartmentnya. Menghindari Mina kembali memergoki mereka di sana. Meski hal itu terjadi, Yuto juga sudah tidak peduli sama sekali. Namun rasanya lebih aman mereka bicara di dalam.
            “Kenapa kau pagi-pagi ada di sini? Kau menemui laki-laki tadi?” Tangan Yuto terulur menunjuk ke arah pintu, mengibaratkan keberadaan Dongwoon tadi. “Lantas kenapa menggangguku?” Nada bicara Yuto terdengar dingin.
            Chaeyoung tersenyum tipis, seakan tidak peduli dengan kekesalan Yuto. Tanpa sadar senyum itu terukir karena melihat sisi lain seorang Yuto yang biasanya terlihat rapih dan tegas. Namun pagi ini, dengan rambut yang sedikit berantakan dan wajah alami karena baru bangun tidur, benar-benar menarik perhatian gadis itu. Namun reaksi kesal Yuto akhirnya menyadarkannya. Chaeyoung berdeham, dan langsung teringat foto seorang gadis yang ia temukan di dalam dompet Yuto. Kembali pada niat awalnya mendatangi Yuto sepagi ini.
            “Bisa kita bicara sebentar?”
            Yuto mengangguk cepat. “Bicara saja.”
            “Tapi tidak sekarang.”
            Yuto melirik Chaeyoung penuh tanya. “Maksudmu?”
            “Aku mau bicara sambil menemanimu sarapan.” Chaeyoung mengangkat tinggi-tinggi tangannya yang membawa kotak bekal. “Aku perlu suasa yang lebih nyaman, tidak seperti ini. Jadi, kalau tidak keberatan, aku akan menunggumu bersiap-siap.”
            Tanpa ada protes, Yuto balik badan. Tandanya ia setuju. Pemuda itu berjalan menuju kamar, membiarkan Chaeyoung menunggunya di sofa. Selama sekitar 15 menit Chaeyoung duduk di ruang tamu apartment Yuto sambil membaca novel. Sampai akhirnya pemuda itu memunculkan diri, menatap Chaeyoung dari belakang sambil mengusap rambutnya yang basah menggunakan handuk kecil.
            Yuto menghempaskan badan ke samping Chaeyoung hingga membuat gadis itu sedikit terlonjak kaget sambil langsung menutup bukunya. Yuto ingin tersenyum melihat ekpresi kaget Chaeyoung yang terlihat lucu dimatanya. Namun sekuat tenaga ia tahan karena bayangan saat Dongwoon mencium pipi Chaeyoung kembali berputar dikepalanya. Kejadian itu benar-benar terjadi di depan matanya.
            “Apa yang mau kau bicarakan?” Ujar Yuto sambil mengalihkan tatapannya ke arah lain.
            Chaeyoung mendorong kotak makan ke arah Yuto. Membiarkan pemuda itu membukanya lalu mencomot setumpuk roti tawar berisi selai coklat lalu menjejalkannya ke mulut. Chaeyoung membiarkan Yuto menikmati sarapannya, sementara dirinya sibuk mencari sebuah foto pada ponselnya. Sebuah foto milik Taewoong yang dia foto kembali dengan kamera ponselnya. Chaeyoung menunjukkan foto itu pada Yuto. Yuto melirik sesaat lalu mengalihkan lagi, fokus untuk mengambil potongan roti berikutnya. Chaeyoung yang gemas menarik seragam sekolah Yuto agar pemuda itu benar-benar melihat pada apa yang ingin ia tunjukkan.
            Yuto mengalah, akhirnya ia fokuskan matanya pada layar ponsel Chaeyoung. Cukup lama Yuto tenggelam pada foto itu yang membuatnya teringat sesuatu. Tiga bocah laki-laki yang ia kenali sebagai Takuya, Yasuo dan dirinya sendiri.
            “Yoo Taewoong. Atau mungkin kau lebih kenal dia dengan nama Yasuo. Dia pemuda pemilik toko olahraga tempat aku membeli helm sepeda untuk Dongmyung dan Dongju.”
            Yuto melebarkan matanya seraya mendengarkan penjelasan Chaeyoung. Potongan roti ditangannya terlepas, bahkan sebelum sempat ia masukkan kembali ke dalam mulutnya.
            “Bibi Hana, kepala koki di restoranku adalah ibunya Taewoong Oppa. Dan itu artinya dia ibumu juga, kan?” lanjut Chaeyoung meski Yuto masih belum meresponnya.
            Pemuda itu masih belum ingin melepaskan tatapannya pada foto itu. Foto penuh kenangan bertahun-tahun lalu sebelum keluarganya berperncar seperti sekarang ini. Yuto akhirnya menoleh dengan sorot mata penuh kepedihan. Ia tahu semua tentang foto itu meski saat itu ia masih sangat kecil. Takuya pernah menceritakannya padanya. Ia juga memiliki foto tersebut di album keluarga miliknya. Namun benda itu tertinggal di Jepang.
            Chaeyoung mengangguk saat Yuto menunjuk foto gadis kecil dalam pangkuan ibunya. “Itu aku,” kata Chaeyoung dengan nada bergetar. Foto itu juga sarat kenangan baginya. Foto orang tuanya dan sahabat orang tua mereka.
            Chaeyoung buru-buru mengalihkan tatapannya karena tanpa sadar air matanya menetes. Tidak menyangka reaksi Yuto membuncahkan emosinya. Emosi kerinduan terhadap kedua orang tuanya.
            “Ini Dongwoon. Dia kakakku. Dia tinggal di depan apartmentmu. Tidakkah kau tau itu? Tolong kau jangan salah paham.”
            Yuto menarik Chaeyoung ke dalam pelukannya. Membuat gadis itu semakin terisak seiring dengan air mata Yuto yang menetes pelan.

***