Tampilkan postingan dengan label teen romance. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label teen romance. Tampilkan semua postingan

Minggu, 17 November 2013

WANNA BE LOVED YOU (part 14)


Author              : Annisa Pamungkas
Main Cast          : Infinite (Sungyeol, Hoya, Sunggyu, Myungsoo,
  Dongwoo, Woohyun, Sungjong)
Original cast     : Hye Ra, Haesa, Eun Gi
Support cast     : Boy Friend (Jeongmin, Hyunseong, Minwoo,
  Donghyun, Youngmin, Kwangmin), SNSD (Hyoyeon)
Genre               : teen romance, family
Length              : part

***

        “Jadi kau itu Lee Sungjong…”
        “Pemuda berseragam SMP yang kau temui sedang menangis di depan sekolah SMA Paradise sekitar 5 tahun lalu,” lanjut Sungjong seakan meneruskan kalimat Hye Ra yang kembali terpotong.

Flashback (4 tahun lalu)…
        “Aku tidak ingin punya saudara tiri…!” gumam seorang bocah berseragam SMP yang duduk di depan gerbang sekolahnya yang sudah sepi sambil menenggelampan wajahnya ke lutut. Suaranya tak terdengar jelas karena sudah sejak tadi menangis.
        Tak jauh dari sana, sebuah mobil mewah berhenti dan ke luarlah seorang gadis yang juga masih berseragam SMP meski berbeda dengan bocah laki-laki tadi. Gadis kecil itu berjalan ke arah gerbang SMA Paradise. Di sana langkahnya terhenti melihat anak lelaki duduk tak jauh dari sana. Gadis itu sudah ingin melangkah memasuki gerbang SMA Paradise, namun ia membatalkan niat dan justru memilih menghampiri bocah itu.
        “Kau menangis?” Tanya gadis kecil yang ternyata adalah Hye Ra, dan sudah ikut berjongkok di depan bocah itu.
        “Jangan campuri urusanku!” seru bocah itu ketus yang merasa terganggu dengan kehadiran Hye Ra tanpa merubah posisinya sedikitpun.
        “Aku hanya bertanya. Dan tak masalah jika kau tidak ingin menjawabnya.”
        Bocah itu akhirnya mendongak dengan wajah basah penuh air mata. “Kau tidak akan mengerti masalahku,” ujarnya lagi masih dengan nada tak ramah.
Hye Ra seakan tak mempedulikan bentakan bocah tadi. “Aku tau semua orang pasti memiliki masalah hidupnya. Tak terkecuali anak kecil seperti kita. Meski aku tidak berjanji bisa membantu, setidaknya aku masih bisa mendengarkan cerita bahkan menjadi temanmu. Mungkin…”
        Bocah itu menatap Hye Ra sambil menyeka matanya dengan kasar dan masih sesegukan karena habis menangis. “Benar kau ingin berteman denganku? Kita bahkan tidak saling kenal.”
        Mendengar bocah tadi berucap seperti itu, Hye Ra dengan riangnya berinisiatif mengulurkan tangan lebih dulu untuk mengajaknya berkenalan. “Namaku Hye Ra… Kim Hye Ra…”
         Dengan sedikit ragu, bocah laki-laki itu mengulurkan tangannya. “Aku Lee Sungjong.”
        “Sekarang, apa kau mau bercerita?” seru Hye Ra tak lama setelah mereka selesai berkenalan.
        “Kau punya kakak atau adik?” Sungjong justru balik bertanya.
        Tanpa memprotes, Hye Ra menjawab, “aku hanya punya satu kakak laki-laki.”
        Sungjong manggut-manggut mengerti. “Bagaimana rasanya?”
        “Menyenangkan. Kau tidak merasa kesepian di rumah.”
        “Tapi, bukannya menjadi anak tunggal lebih enak? Kau bisa meminta apa saja yang kau inginkan pada orang tuamu tanpa harus memikirkan saudara atau yang lainnya. Semua akan menjadi milikmu.”
        Hye Ra menggeleng kuat. “Jika kakakku pergi, aku akan semakin merasa kesepian di rumah. Karena kedua orang tuaku sibuk bekerja.” Dilihatnya Sungjong yang tertegun. “Apa kau memiliki masalah dengan saudaramu?”
        “Ibuku akan menikan lagi. Dan pria itu juga sudah memiliki anak gadis yang seumuran denganku. Aku hanya takut jika dia ternyata bukan anak yang baik.”
        Hye Ra tersenyum untuk menyembunyikan tawanya mendengar cerita Sungjong. “Kau dekati dulu dia. Dan yakinlah, jika kau berbuat baik padanya, dia juga pasti akan membalas kebaikanmu.”
Flashback end…

        “Aku cukup malu padamu saat itu. Tapi kau benar. Aku mendekati Haesa dan berbuat baik padanya.” Sungjong tersenyum di tengah ceritanya. “Dan sekarang kita bahkan seperti anak kembar yang tak terpisahkan karena terlalu kompaknya.”
        Hye Ra ikut tersenyum mendengar kebahagiaan teman kecilnya dulu. Meski mereka hanya sekali bertemu. Namun ketika Sungjong menyebut nama Haesa, gadis itu tersenyum miris. Haesa masih sangat berkaitan dengan masalahnya akhir-akhir ini. Sunggyu, Sungyeol, Hoya. Semua pemuda yang ia sayangi itu seakan dalam penguasaan Haesa seutuhnya.
        “Apa kau membenci Haesa?”
        Hye Ra menoleh cepat. “Maksudmu?”
        Sungjong melirik perlahan sambil tersenyum. Senyum meremehkan karena ia tau Hye Ra kecewa dengan apa yang dilakukan Haesa padanya.
        Hye Ra mengalihkan wajahnya dari hadapan Sungjong. “Ku rasa kau tau banyak hal. Harusnya aku memang membencinya. Tapi aku tak bisa. Kakakku sangat menyayanginya. Dan aku tak ingin Sunggyu oppa kecewa padaku.”
        Haesa mendengar semua yang di ucapkan Hye Ra tentangnya. Sampai tak sadar, air mata itu meleleh di wajah cantik Haesa. Gadis itu langsung menegakkan badan ketika Sungjong muncul bersama Hye Ra. Ia juga cepat-cepat mengusap wajahnya yang basah karena air mata.
        “Kau kenapa?” Tanya Sungjong khawatir.
        Haesa tak menjawab. Air matanya kembali menetes ketika tatapannya jatuh pada Hye Ra. “A… Aku…” Haesa seakan kehabisan kata-kata. Ia terus terisak di sana.
        “Kau menyayangi kakakku?” sekuat tenaga Hye Ra melontarkan pertanyaan seperti itu. Meski rasa sakit mendominasi dadanya. Terutama jika teringat kebersamaan Haesa dengan Hoya atau Sungyeol.
        Dengan tegas Haesa mengangguk.
        Hye Ra sempat memejamkan mata sejenak. Ia lalu menghela napasnya berat. “Apa itu artinya kau bisa merelakan salah satu dari Hoya dan Sungyeol oppa?” Tanya Hye Ra sakartis.
        Haesa tak langsung menjawab. “Dia menginginkan Sungyeol oppa?” Ia sempat melirik Sungjong untuk membantunya menjawab. Namun tak ada yang ia dapat. Kembali Haesa memusatkan perhatiannya pada Hye Ra.
        Hati Hye Ra sendiri langsung terasa mencelos karena Haesa tak kunjung memberikan jawaban. Dan itu artinya, Haesa tak bisa melepaskan satu dari mereka. Hye Ra hanya bisa mengangguk pasrah.
        Haesa juga sudah tak kuat terus berhadapan dengan Hye Ra. Ia yang belum sanggup mengucap kata ‘maaf’, hanya mampu berlari menghindari kenyataan. Bahkan teriakan Sungjong juga tak mampu menghalanginya.
        Salah satu tangan Hye Ra meraih tembok terdekat untuk membantunya bertumpu. Kakinya lemas seketika. “Aku tau jawabannya,” ujarnya pelan namun Sungjong bisa jelas mendengar.
        Sungjong menggeleng cepat. “Kau tidak tau kebenaran yang terjadi.”

***

        Sambil setengah berlari, Haesa kembali menuju kelasnya. Namun ketika di perjalanan—hanya beberapa meter dari pintu kelasnya—Haesa menerima sebuah panggilan masuk ke ponselnya. Sebuah nomor asing. Namun gadis itu tetap menjawabnya tanpa menaruh curiga sedikitpun.
        Cukup lama Haesa tertegun sambil mendengarkan dengan baik setipa detail kata yang di ucapkan seseorang dari seberang telpon. Sampai akhirnya Haesa tanpa sadar membekap mulutnya sendiri dan air matanya turun dengan deras. Haesa merasakan tubuhnya cukup limbung. Ia juga nyaris saja melepaskan ponselnya begitu saja jika tidak ada Dongwoo yang dengan sigap menangkapnya.
        “Kau kenapa?” Tanya Dongwoo yang baru saja datang. Ia bahkan masih membawa ransel sekolahnya. Haesa hanya menggeleng. Namun ia tetap tak bisa tenang. Terlebih suasana sekolah yang entah mengapa masih sepi. “Hoya!” teriaknya dan berharap orang yang dimaksud bisa mendengar dari dalam kelas.
        Haesa buru-buru menegakkan badannya. “Aku gapapa.” Ia sedikit mendorong tubuh Dongwoo agar menjauh, lalu secepat mungkin melesat ke dalam kelas. Di sana ia hanya menyambar tasnya yang kebetulan masih rapi sejak ia datang tadi.
        Hoya yang tengah membaca buku hanya melirik sekilas ke arah Haesa. Namun ketika menyadari sesuatu terjadi, Hoya langsung mencampakkan bukunya lalu menarik tangah Haesa yang sudah ingin pergi lagi dari sana.
        “Apa yang terjadi?” Tanya Hoya sedikit mendesak.
        Dengan lembut Haesa menyingkirkan tangan Hoya. “Kau tak perlu tau masalah ini,” ujarnya sambil tersenyum karena tak ingin mengecewakan Hoya saat itu.
        Hoya mengangguk mengalah. Ia tak akan mendesak lagi. “Tapi kau mau ke mana?” Hoya mangganti pertanyaannya. Ia hanya sekedar ingin tau apa yang akan teman sebangkunya itu lakukan karena Haesa juga membawa tas sekolahnya.
        “Kakakku kecelakaan,” kata Haesa yang sudah kembali berurai air mata. “Dan setelah ini, ku mohon ungkapkan perasaanmu pada Hye Ra.”
        Mendengar nama ‘Hye Ra di sebut, Myungsoo menoleh penuh rasa ingin tau. Namun Haesa sudah terlanjur lebih dulu meninggalkan kelas. Sementara Hoya tiba-tiba sibuk dengan pikirannya sendiri. Ada sesuatu yang terjadi padanya sebelum ini.

***

        Akhirnya Sungjong bisa membawa Hye Ra kembali ke kelas karena bel masuk sudah berdentang. Hye Ra segera melesat ke mejanya. Namun tidak untuk Sungjong. Ia masih berdiri di dekat pintu karena ketidakberadaan Haesa di samping Hoya.
        “Mana Haesa?”
        Hoya langsung mendongak karena ia yakin Sungjong mengajaknya bicara. “Dia bilang kakaknya kecelakaan,” jawab Hoya apa adanya. Karena memang hanya itu yang ia tau. Namun ia belum menyadari sesuatu.
        “Apa!” pekik Sungjong yang segera saja menuju mejanya. Ia hanya menyambar tas dan tak menghiraukan pertanyaan-pertanyaan Dongwoo padanya.
        “Apa yang terjadi padamu, Sungjong dan Haesa?” desak Myungsoo pada sepupunya itu tak lama setelah Sungjong ikut pergi dari kelas karena Myungsoo melihat beberapa kejadian mencurigakan antara tiga orang yang ia maksud tadi.
        Sisa-sisa tangisan masih terlihat jelas di wajah Hye Ra. Ia sempat mengawasi keberadaan Hoya melalui sudut matanya.

Flashback…
      Sungjong menggeleng cepat. “Kau tidak tau kebenaran yang terjadi.”
      Hye Ra melirik Sungjong cepat, namun pemuda itu sudah lebih dulu membelakanginya. “Bisa kau katakan padaku apa-apa saja yang belum ku ketahui tentang diriku sendiri?”
        Sungjong sedikit menengokkan wajahnya, namun tak sampai menatap Hye Ra yang berdiri di belakangnya. “Selama ini Hoya memiliki perasaan padamu. Ia sengaja ‘pura-pura’ pacaran dengan Haesa agar kau tidak terlalu berharap padanya.”
        Hye Ra membeku dengan semua cerita Sungjong. “Jadi selama ini perasaanku tak bertepuk sebelah tangan pada Hoya?” Ada setitik kegembiraan di hati Hye Ra. Namun tiba-tiba saja pikirannya melayang dan jatuh pada sosok Sungyeol yang kini entah di mana keberadaannya.
        “Karena setelah lulus nanti, Hoya akan pindah dan menetap di Jepang,” lanjut Sungjong. Dan kali ini sukses membuat hati Hye Ra serasa mencelos.
        “Pi… Pindah?” Hye Ra mengulang pertanyaan Sungjong dengan sedikit tergagap.
        Sungjong hanya mengangguk membenarkannya. “Itu karenanya, Hoya sama sekali tak berani mengungkapkan perasaannya padamu.”
        “Tapi…” Hye Ra tak langsung meneruskan perkataannya. Dari semua yang di ungkapkan Sungjong, masih ada yang janggal di hati Hye Ra. “Dari mana kau tau semuanya?”
        Sungjong hanya tersenyum menanggapi tatapan tak percaya yang berikan Hye Ra untuknya meski hanya untuk beberapa saat. “Dari pertemuan pertama kita, aku menyukaimu.” Sungjong buru-buru mengalihkan tatapannya karena ia tau setelah itu Hye Ra akan kembali menatapnya. “Tapi aku tak mau terlalu jauh mengusik hidupmu karena kita baru dipertemukan lagi beberapa bulan yang lalu.”
        “Aku bisa melihat kecemburuanmu karena Haesa mendekati Hoya,” lanjut Sungjong karena Hye Ra tak merespon apapun. “Aku mendesak Hoya untuk mengakui perasaannya padamu. Ternyata benar. Dan setelah itu Hoya memutuskan bersandiwara dengan mengakui Haesa sebagai kekasihnya.” Sungjong terkekeh sesaat. “Padahal mereka baru saja saling kenal.”
        Di saat Sungjong sibuk bercerita, Hye Ra juga di sibukkan dengan pikiran-pikirannya tentang Hoya dan Haesa yang selama ini ia pikir benar-benar menjalin hubungan. Ia bahkan pernah men-cap Haesa bukan gadis baik-baik saat memergoki gadis itu juga didekati kakaknya, Sunggyu, dan Sungyeol juga.
        “Aku senang bisa melihatmu lagi. Bahkan kita ditakdirkan sekelas.”
        “Ke mana kau selama ini?”
        “Dua tahun setelah menikah, ayahnya Haesa mengajak aku, ibu, serta Haesa pindah ke luar kota. Dan baru tahun ini kami kembali.” Sungjong memutar tubuhnya menghadap Hye Ra. “Aku hanya tidak ingin melihatmu menderita karena Hoya tak bisa membalas perasaanmu.”
        Hye Ra hanya menatap nanar ke mata Sungjong. Ia tak menyangka pemuda itu tau banyak hal, bahkan ia terlibat di sana.
Flashback end…

        Myungsoo tak berani menatap Hye Ra selama gadis itu bercerita. Namun tangannya tak lepas menggenggam tangan Hye Ra. Setelah itu, mereka sama-sama mendongak karena kehadiran Dongwoo. Pemuda itu bahkan sudah memutar kursi lalu duduk menghadap Hye Ra.
        Dongwoo mengulurkan tangannya untuk menyeka sisa air mata di tepi mata Hye Ra sambil tersenyum. Beberapa saat, tak ada kata yang meluncur dari bibirnya. “Sejujurnya, aku sangat ingin melihatmu bahagia bersama Hoya. Tapi karena suatu keadaan, aku justru tidak ingin itu sampai terjadi. Lepaskan Hoya.”
        Hye Ra menatap Dongwoo nanar. Myungsoo juga menatap Dongwoo dengan bingungnya. Yang Myungsoo tau, Dongwoo juga memiliki perasaan pada sepupunya itu. Tapi mereka tidak tau bahwa Dongwoo sudah menyadari perasaan Sungyeol saat mereka terakhir kali bertemu.
        “Masih banyak pemuda yang pantas membahagiakanmu.” Ucapan Dongwoo memberikan makna ganda. Tidak ada yang tau pasti siapa yang di maksud pemuda itu. Karena Dongwoo sudah lebih dulu kembali ke mejanya sebelum salah satu dari Myungsoo dan Hye Ra mendesaknya lebih dalam.
        Hye Ra masih tertegun setelah kepergian Dongwoo. Myungsoo melingkarkan salah satu tangannya ke pundak Hye Ra. Sementara tangan satunya meraih tangan Hye Ra sambil meletakkan sesuatu di sana. Myungsoo menoleh karena merasakan Hye Ra menatapnya bingung. Benda yang diselipkan Myungsoo di telapak tangan Hye Ra adalah kalung berbandul cincin milik Hye Ra yang selama dua tahun ini berada pada Sungyeol.
        Myungsoo mengedipkan kedua matanya penuh makna agar Hye Ra mau menerima kalung tersebut. “Itu milikmu.”

***

        “Oppa!” jerit Haesa setelah membuka pintu sebuah kamar pasien di salah satu rumah sakit. Ia mendapati seorang pemuda yang sudah lama ia kenali terbaring lemah di sana. Tangan dan kepala pemuda itu penuh tertutup perban. “Oppa!” Haesa melangkah perlahan. Kakinya sedikit lemah karena pemuda itu benar-benar Sungyeol.
        Sungyeol yang sadar, menyunggingkan senyumnya ketika melihat Haesa berada di sana. Menemaninya. Meski di lubuk hati terdalam, tentu saja ia mengharapkan sosok Hye Ra yang datang menjenguknya.
        “Oppa, apa yang terjadi?” Haesa sudah kembali terisak. Ia menggenggam tangan Sungyeol yang tak tertusuk infuse dengan erat.
        Sungyeol menggeleng lemah karena tak ingin membuat adiknya sedih. “Hanya kecelakaan kecil,” gumamnya pelan.
        Haesa menyerah terhadap kakaknya. Ia menarik kursi ke dekat tempat tidur Sungyeol, lalu duduk di sana. Gadis itu sama sekali tak melepaskan tatapan dan genggaman tangannya terhadap Sungyeol.
        “Jika seperti ini terus, kau bisa membuat oppa jatuh cinta padamu,” goda Sungyeol dan sukses membuat Haesa terkekeh meski sisa tangisan masih kentara di wajahnya.
        Haesa mengulurkan tangannya ke arah leher Sungyeol. Sungyeol yang menyadari maksud Haesa, menahan tangan adiknya itu lalu menatap Haesa gugup. “Kau tidak memakai kalung itu lagi?”
        Benar apa yang dipikirkan Sungyeol. Adiknya pasti akan membahas kalung itu. Sungyeol hanya meneguk ludah untuk mengurangi kegugupannya.
        “Oppa bertemu gadis itu? Bagaimana reaksinya ketika bertemu oppa?” desak Haesa setengah bersemangat. Ia lupa bahwa gadis yang ia maksud adalah teman sekolahnya yang tadi sedikit mengalami sebuah kejadian tak mengenakkan dengannya.
        “Hye Ra teman sekelasmu, kan?”
        Haesa tersentak. Ia baru menyadari itu ketika Sungyeol berkata demikian.
        “Ku mohon jangan ceritakan apapun yang terjadi padaku sekarang ini. Terutama pada Hye Ra.”
        “Tapi…”
Buru-buru Sungyeol menyela ucapan adiknya. “Aku akan ceritakan semuanya.”

Flashback…
        Semalam. Di hari yang sama saat Sungyeol mengundurkan diri dari café milik Sunggyu. Sepulang dari bank ketika mengambil uang untuk membayar gaji para karyawan yang bekerja di restoran ibunya, Sungyeol tak langsung menemui ibunya untuk memberikan uang-uang tersebut. Perasaan Sungyeol yang masih bercampur aduk itu, membuatnya memilih berkeliling dengan mobilnya sampai malam.
        Sungyeol benar-benar tak ikhlas mengakhiri nasib percintaannya bahkan sebelum ia mulai dengan Hye Ra. Tapi pemuda itu juga tak berani menemui Hye Ra secara langsung. Masih terlalu cepat sejak Hye Ra mengetahui kebenaran akan dirinya dan pemuda masa lalu yang belum sempat ditemui gadis itu.
        Di sisi lain, sang ibu juga tak tampak mengingatkannya untuk cepat kembali. Membuat Sungyeol semakin tenggelam dalam kesendiriannya.
        Saat itu pula, sebuah kejadian tak diinginkan itu terjadi. Mobil yang dikendarai Sungyeol di hadang tiga sampai empat pria yang berpakaian seperti preman. Terlebih itu sudah larut malam dan suasa jalan yang sudah sangat sepi.
        Sungyeol di hajar habis-habisan. Bahkan mobilnya di bawa kabur beserta uang-uang yang berada di dalamnya. Beruntung tak lama setelah itu, ada seorang pemuda yang mengendarai sepeda motor menemukan bahkan sampai mengantarnya ke rumah sakit.
Flashback end…

        Haesa semakin erat menggenggam tangan kakaknya. Air matanya bahkan sampai kembali mengalir deras setelah mendengar cerita Sungyeol. “Oppa aku harus ceritakan semuanya.” Haesa sudah melangkah ke arah pintu untuk ke luar.
        “Kalau kau berani melakukannya, jangan anggap aku ‘oppa’ mu lagi,” desis Sungyeol yang sukses membuat Haesa bergidik ngeri dan membatalkan niatnya untuk pergi.
        “Tapi oppa…” ucapan Haesa terputus begitu saja ketika matanya dan Sungyeol bertemu.
        “Biarkan Hye Ra menenangkan diri dulu setelah ia mengetahui semuanya.”
        Perlahan Haesa kembali ke sisi Sungyeol. “Bagaimana perasaanmu padanya saat ini?”
        Sungyeol hanya menatap adiknya. Tak lama. Setelah itu ia memalingkan wajah. Seakan ada yang ia sembunyikan. Ia kembali menoleh ketika merasakan sesuatu menyentuh tangannya. Di sana Sungyeol menemukan Haesa menatapnya lembut. Gadis itu mengkhawatirkan kakaknya.
        Belum sempat Sungyeol mengatakan sesuatu, perhatiannya teralihkan pada pintu ruangannya yang tiba-tiba terbuka. Dari sana muncullah seorang gadis cantik seumuran dengan Sungyeol. Penampilannya tidak bisa dikatakan ia berasal dari kalangan biasa. Meski ‘style’ khas mahasiswi melekat padanya, tapi barang-barang yang ia kenakan adalah keluaran brand terbaik.
        “Kenapa aku harus tau dari orang lain tentang keadaanmu?” tuntut gadis itu pada Sungyeol.
        “K… Kau?” gugup Sungyeol. Inilah ketakukan terbesarnya.
        “Kata Hyunsik beberapa bulan ini kau menghilang. Kau pikir selama aku di Jepang aku tidak memikirkanmu? Apa kau sudah tidak menganggap aku adalah kekasihmu?”
        Sungyeol membulatkan matanya. Kerongkongannya terasa tercekat. Ia sempat menatap Haesa yang sama terkejutnya. Namun tangan gadis itu menarik dagunya untuk kembali menatap gadis itu.
        “Jawab aku tuan Lee Sungyeol!” paksa gadis itu dengan penuh penekanan. “Dan siapa dia?” tanyanya tajam sambil menunjuk Haesa menggunakan dagunya. “Kekasih barumu? Atau selingkuhanmu?” tuduhnya tajam.
        “Cukup Hyoyeon!” bentak Sungyeol yang sukses membuat gadis itu bungkam. “Jaga bicaramu! Haesa adikku. Adik kandungku!” jelasnya masih dengan nada tajam.
        Gadis bernama Hyoyeon itu menghela napasnya, keras.
        Sungyeol berusaha tak mempedulikannya. “Hyunsik bohong. Dia tau aku ke mana selama beberapa bulan ini. Dan aku yang menyuruhnya membohongimu.”
        Hyoyeon membulatkan mata lalu tersenyum meremehkan. “Kau pikir kau hebat? Atau kau masih mengingat bocah kecil yang kau tolong karena tercebur kolam renang?”
        Haesa menegang saat Hyoyeon menyinggung masalah Hye Ra. Tidak salah lagi.
        “Kau tak perlu mengurusiku.”
        “Tapi kau masih kekasihku!”
        “Dan Changsub juga?” kata Sungyeol setengah menyindir. Hyoyeon semakin menegang. Kali ini Sungyeol yang tersenyum meremehkan. “Kau pikir aku tidak tau? Aku, Changsub, Hyunsik.”
        Perlahan air mata Hyoyeon jatuh. Tapi ia tetap bertahan di sana.
        Sungyeol melemah melihat air mata gadis itu. Tapi ia tak ingin memperlihatkan itu. “Aku tau kau tidak bisa melepaskan aku dan Changsub karena status social kami. Dan kami bertahan karena Hyunsik. Maaf aku menghilang. Karena aku ingin menjalani hehidupanku secara normal. Hyunsik yang tulus mencintaimu. Bukan aku ataupun Changsub.”
        “Tapi aku mencintaimu,” ujar Hyoyeon membela diri.
        Sungyeol menggeleng. “Tidak akan lagi setelah kau tau apa yang terjadi padaku sekarang ini.”

***


Kamis, 14 November 2013

WANNA BE LOVED YOU (part 13)



Author              : Annisa Pamungkas
Main Cast          : Infinite (Sungyeol, Hoya, Sunggyu, Myungsoo,
  Dongwoo, Woohyun, Sungjong)
Original cast     : Hye Ra, Haesa, Eun Gi
Support cast     : Boy Friend (Jeongmin, Hyunseong, Minwoo,
  Donghyun, Youngmin, Kwangmin)
Genre               : teen romance, family
Length              : part

***

        “Lee Sungyeol!”
        Sungyeol baru saja tiba di rumah, dikejutkan dengan suara seseorang yang memanggilnya dari arah dapur. “Ibu sudah pulang?” Ia justru melontarkan sebuah pertanyaan pada ibunya. Sementara sang ibu hanya memberi kode agar Sungyeol melihat jam dinding di ruangan tersebut. “Maaf, bu. Aku tidak sadar kalau pulang telat dari café.”
        “Kau tidak mengajak Hye Ra?” Tanya ibu Sungyeol penuh harap. Ia sepertinya sudah sangat merindukan sosok adik dari bos pemilik café tempat anaknya bekerja.
        “Ibu…”
        “Baiklah kalau kau tak ingin menjawab yang itu,” sela ibu Sungyeol yang sudah menduga sebelumnya. Sungyeol pulang dengan sedikit kacau. “Tapi kau pasti bisa menjelaskan, kenapa ada baju basah di belakang? Kau berenang dengan seragam café lengkap seperti itu?”
        Andai bisa memilih, tentu Sungyeol akan menjawab pertanyaan pertama dari ibunya dari pada ia harus menjelaskan kronologi kejadian di kolam renang sekolah Hye Ra tadi siang. Sungyeol lebih memilih duduk di kursi makan untuk bisa sekedar menenangkan diri sesaat.
        “Oke… oke… ibu tidak akan bertanya lagi,” seru ibu Sungyeol mengalah. “Hanya saja ibu ingin mengingatkan. Besok adalah hari terakhirmu bekerja di café itu.”
        “Hk…!” Sungyeol tersedak karena mendengar ucapan ibunya ketika tengah menenggak minumannya. Setelah di rasa cukup reda, Sungyeol mendongak dan mendapati ibunya tengah menatapnya.
        “Kenapa menatap ibu seperti itu?” Tanya wanita itu pada anaknya. Ia sama sekali tidak khawatir apalagi membantu ketika Sungyeol tersedak akibat perkataannya.
        Sungyeol menghela napas, pasrah. Tidak mungkin juga ia melawan ibu kandungnya sendiri. “Aku sudah bertemu Haesa,” kata Sungyeol yang tentu saja sukses membuat ibunya terkejut. Namun sedetik kemudian, ibunya berusaha untuk tak mempedulikan hal itu lagi. Sungyeol menyentuh tangan ibunya.
        “Jangan bawa-bawa nama Haesa untuk merayu ibu. Lusa, kau harus tetap meninggalkan café itu,” putus ibu Sungyeol. Beliau sudah hampir beranjak dari maja makan, namun Sungyeol menahannya. “Ibu tidak akan bisa menemui Haesa karena perjanjian dengan ayahmu. Jika aku berani menemui Haesa, dia akan membawamu bersamanya. Begitu pula sebaliknya.”
        Sungyeol menggeleng seolah ibunya tak mengetahui sesuatu. “Aku sudah bertemu ayah beberapa hari yang lalu. Dan beliau berjanji tidak akan membawaku tinggal bersamanya jika ibu menemui Haesa,” jelas Sungyeol. Ia lalu menggenggam tangan sang ibu dengan ke dua tangannya. “Ibu juga jangan khawatir. Besok aku akan bicara pada Sunggyu hyung tentang pengunduran diriku dari café.”
        Ibu Sungyeol menatap anaknya penuh haru. Sungyeol ikut tersenyum melihatnya. “Setelah bertemu Haesa, bisa kau pertemukan ibu dengan Hye Ra juga?” pinta ibu Sungyeol dan kali ini sukses membuat senyum di bibir Sungyeol lenyap.
        “Sepertinya rasa cinta ibu ke Hye Ra lebih besar dari perasaanku. Mungkin juga ibu lebih menyayangi Hye Ra dari pada aku yang anak kandungnya sendiri,” keluh Sungyeol sedikit frustasi.

***

        “Myungsoo! Minwoo!” teriak Hye Ra yang sudah berada di depan pintu rumah sepupunya itu. “Buka pintunya!” lanjutnya, kali ini sambil menggedor pintu dengan tidak sabar.
        “Apa-apaan kau, Hye Ra!” protes Myungsoo setelah membuka pintu dan mendapati gadis itu di sana. Ia masih sedikit menguap dan mengusap matanya karena Hye Ra datang cukup pagi sekali. Gadis itu bahkan masih menggunakan piyama tidurnya sejak semalam.
        “Aku mau bertemu Minwoo,” kata Hye Ra yang dengan tidak sabar menerobos masuk hingga punggung Myungsoo menubruk daun pintu di balakangnya.
        “Kau ini kenapa?” teriak Myungsoo. Kesal dengan sikap Hye Ra pagi itu. Ia juga memilih mengikuti Hye Ra sampai ke kamar Minwoo.
        Hye Ra mengetuk pintu sebuah kamar. “Minwoo kau di dalam?” teriaknya. Namun karena tak ada jawaban, Hye Ra memilih kembali menerobos masuk ke dalam kamar adik sepupunya itu.
        “Noona!” pekik Minwoo yang baru saja ke luar dari kamar mandi dan hanya mengenakan handuk sebatas pinggang.
        “Aaaa! Minwoo!” Hye Ra tak kalah terkejutnya dengan Minwoo.
        Myungsoo yang memang mengikuti langkah Hye Ra, langsung menutup mata gadis itu dan memutar tubuh Hye Ra agar membelakangi Minwoo. “Minwoo! Sana masuk!” perintahnya.
        “Iya iya, hyung.” Tanpa pikir panjang, Minwoo menuruti perkataan kakaknya untuk kembali ke dalam kamar mandi. “Hyung! Pakaianku di luar!” teriak Minwoo dari dalam kamar mandi.
        Myungsoo langsung gelagapan dan memeriksa hampir tiap sudut kamar Minwoo. “Aku akan membawa Hye Ra ke luar,” kata Myungsoo dengan teriakan juga. Ia lalu menyeret Hye Ra agar meninggalkan kamar Minwoo sementara gadis itu masih sibuk menutup mata dengan kedua tangannya. Myungsoo menutup pintu kamar Minwoo dari luar. “Lain kali jangan masuk kamar orang lain seenaknya,” cibir Myungsoo.
        Dengan perlahan Hye Ra menurunkan kedua tangan yang menutupi wajahnya. Takut-takut, ia mulai membuka mata dan mendapati dirinya sudah tidak berada di dalam kamar Minwoo. Setelah itu Hye Ra menghela napasnya, lega.
        “Sebenarnya ada apa kau mencari Minwoo sepagi ini?” Tanya Myungsoo untuk yang kesekian kalinya.
        “Semalam Minwoo mengirimiku pesan, tapi baru ku baca tadi pagi.”
        “Iya… maksudku, kalian ada masalah apa? Dan apa yang dibicarakan Minwoo dalam pesan itu?”
        “Tentang Sungyeol oppa,” kata Hye Ra dengan suara pelan.
        “Sungyeol karyawannya Sunggyu hyung?” Tanya Myungsoo memastikan.
Namun belum sempat Hye Ra menjawab, Minwoo lebih dulu muncul di balik pintu kamarnya. Myungsoo dan Hye Ra menoleh bersamaan.
“Minwoo aku baru membaca pesanmu tadi pagi,” kata Hye Ra.

***

        “Sebenarnya aku cukup menyayangkan kalau kau harus meninggalkan café ini,” kata Sunggyu ketika ia berbicara hanya dengan Sungyeol di ruangannya di café.
        Sungyeol yang duduk berseberangan dengan Sunggyu, juga sedikit menyesal dengan keputusannya untuk berhenti bekerja di café Sunggyu. Meski ini memang sudah mereka sepakati sejak awal. Sungyeol hanya bekerja di café selama beberapa bulan saja. Dan jika bukan karena harus melanjutkan kuliah dan membantu ibunya mengelola restoran, Sungyeol pasti lebih memilih bertahan di sana lebih lama. Alasannya karena ia memang nyaman bekerja di sana, dan… karena Hye Ra.
        “Aku suka dengan kinerjamu selama bekerja di sini. Kau cukup baik menjaga café. Dan… kau juga memperlakukan adikku dengan sangat baik,” lanjut Sunggyu.
        Sungyeol yang sejak tadi diam semakin membeku karena perkataan Sunggyu tadi. Selama ini ia memang memperlakukan Hye Ra dengan sangat-sangat baik karena Hye Ra adalah gadis yang ia cintai.
        Sunggyu terkekeh canggung. Begitu pula dengan Sungyeol karena memang kecanggungan yang mendominasi mereka.
        “Oiya, hyung.” Sungyeol tampak berdiri. Di tangannya telah siap sebuah celemek pinggang yang ia gunakan selama bekerja di café Sunggyu. “Seperti saat pertama kali hyung menerima aku bekerja di sini, sekarang aku ingin mengembalikan padamu barang berharga ini.” Ia pun menyerahkan celemek ke tangan Sunggyu.
        Sunggyu sekuat tenaga mengangguk. Ia lalu memeluk Sungyeol singkat sebelum akhirnya memaksa diri untuk menerima lipatan celemek dari tangan ‘mantan’ karyawannya itu.

***

        Aku hampir mati tenggelam hanya demi sebuah benda kecil namun sangat berarti untukku. Kenangan terakhir yang ditinggalkan ayah dan ibu. Beruntung aku masih dapat hidup karena ada seseorang yang menyelamatkanku. Pemuda itu… SUNGYEOL. Tapi sayang aku belum sempat mengucapkan terima kasihku padanya. Bagaimana caranya? Aku bahkan tidak sempat mengingat wajahnya. Ku harap suatu hari nanti bisa bertemu dengannya meski hanya sekali saja untuk mengatakan ‘Terima Kasih Sungyeol karena telah menyelamatkanku’.

        Myungsoo menatap tak percaya pada tulisan di hadapannya. Ia lalu menoleh dan menatap Hye Ra seakan menuntut penjelasan. “Jadi, Sungyeol yang kau maksud itu benar-benar Sungyeol yang bekerja di café Sunggyu hyung?”
        Hye Ra tampak mengangkat bahu. Sementara Minwoo hanya mampu mengawasi kakak dan sepupunya itu dari sofa tempatnya duduk sekarang.
        Ketika Myungsoo sibuk mencerna bukti-bukti kemungkinan pemuda yang menyelamatkan Hye Ra dulu, gadis itu sendiri justru sibuk dengan dunianya sendiri. Ingatan-ingatan tentang Sungyeol dan pemuda yang menolongnya di kolam renang itu silih berganti memenui pikiran Hye Ra.
        “Hye Ra!”
        Gadis itu tersentak dan langsung menoleh ke arah Myungsoo yang kebetulan duduk di sampingnya. Ketika Myungsoo menyebut nama ‘Hye Ra’, gadis itu justru mendengar jeritan suara pemuda yang dulu menyelamatkannya. Serta suara-suara milik Sungyeol yang sudah sering ia dengar ketika menyebutkan namanya.
        “Ku rasa noona harus bertemu dengan Sungyeol hyung untuk memastikan kebenaran semuanya,” kata Minwoo memecah keheningan sekaligus memberikan sarang yang sangat tepat.
        Hye Ra hanya mengangguk setuju. Karena tidak ada lagi yang bisa ia lakukan selain seperti yang dikatakan Minwoo padanya.
        Myungsoo menyentuh pundak Hye Ra hingga gadis itu menoleh. “Aku ganti pakaian dulu. Setelah itu kita ke café Sunggyu hyung.”

***

        “Hyung, sepertinya café mulai ramai,” kata Sungyeol setelah keluar dari ruangan Sunggyu dan melihat pemandangan café pagi itu.
        Belum sempat Sunggyu merespon ucapan Sungyeol, karyawannya yang baru saja mengundurkan diri itu justru sudah melesat ke arah meja bar. Tujuan Sungyeol adalah jendela yang menghubungkan dapur dengan meja bar karena ia melihat Woohyun baru saja meletakkan piring-piring berisi makanan di sana.
        “Ku mohon biar aku saja yang mengantar.” Sungyeol sedikit menyerobot dan setengah memaksa ketika Jeongmin sudah ingin mengangkat baki berisi pesanan pelanggan tersebut.
        “Tapi…” Jeongmin tak jadi protes.
        “Ini yang terakhir,” kata Sungyeol setengah memohon dan segera saja ia melesat ke luar meja bar untuk mengantarkan pesanan pelanggan.
        Sunggyu tertegun melihat semangat kerja Sungyeol. Tiba-tiba ia tersentak karena ada seseorang yang sudah merangkulnya dari arah belakang. Saat menoleh, Sunggyu mendapati Woohyun yang juga tengah mengawasi Sungyeol dengan tatapan kagum. Di sana Jeongmin juga tampak ikut bergabung dengan Woohyun dan Sunggyu.
        “Besok aku akan benar-benar kehilangan salah satu karyawan terbaikmu, hyung.” Woohyun melirik Sunggyu setelah menyelesaikan kalimatnya.
        Sunggyu juga menatap Woohyun sesaat sambil tersenyum tipis sebelum akhirnya kembali mengawasi Sungyeol. Sudah tidak ada kata yang bisa mewakili perasaannya saat ini.
        Ketika Sungyeol kembali, buru-buru Jeongmin menambar baki kosong di tangan Sungyeol. “Kau sudah tidak bekerja lagi di sini. Dan jangan membuat Sunggyu hyung memecatku karena aku tak bertanggung jawab dengan pekerjaanku sendiri,” kata Jeongmin seakan tak suka dengan perlakuan Sungyeol. Tapi tentu saja tatapannya dinginnya itu tak sungguhan. Jeongmin hanya bercanda untuk menggoda Sungyeol. Karena setelah itu ia dan yang lain tertawa bersama.
        “Aku akan merindukanmu,” kata Hyunseong.
Sungyeol menoleh dan mendapati Hyunseong sudah merangkulnya. Persis seperti yang dilakukan Woohyun pada Sunggyu. Ia terkekeh karena Jeongmin juga melakukan hal yang sama di sisi yang lainnya.
        “Ku ingatkan sekali lagi. Hye Ra sangat suka milk shake stroberi. Sedangkan Sunggyu hyung lebih suka susu atau kopi,” ujar Sungyeol sebelum ia benar-benar meninggalkan café pada akhirnya. Untuk sekedar memastikan bahwa baik Jeongmin ataupun Hyunseong tak melupakan hal-hal kecil seperti apa yang ia katakan tadi.
        “Kalau aku. Apa kau ingat apa minuman kesukaanku?” seru Woohyun penuh semangat sekaligus setengah menguji Sungyeol.
        Sungyeol sedikit memutar bola matanya. “Kalau kau, hyung. Apapun minuman yang ku buat, kau pasti akan langsung menghabiskannya,” ledek Sungyeol.
        “Tapi aku tak suka milk shake!” protes Woohyun. Lalu sedetik kemudian mereka kembali tertawa.

***

        Baru saja mobil Myungsoo berhenti di parkiran café Sunggyu, Hye Ra sudah melompat turun. Tak jauh dari sana, ada seorang pemuda ke luar dari dalam café. Hye Ra segera menghampirinya karena ia yakin itu Sungyeol meski sudah tak mengenakan seragam café. Pemuda tadi sudah membuka kunci mobil dari jarak beberapa meter. Dan tiba-tiba Hye Ra sudah menahan tangannya. Pemuda yang benar Sungyeol itu langsung membalikkan badan.
        “Hye Ra?” seru Sungyeol sedikit terkejut bahkan sampai melepas kacamata hitamnya untuk memastikan ia tak salah lihat. Pemuda itu senang bisa melihat Hye Ra sebelum benar-benar meninggalkan café karena ketika bersama Sunggyu, ia tak berani menanyakan perihal Hye Ra. Tapi tampaknya Sungyeol tak mendapatkan apa yang ia inginkan sebenarnya.
        Hye Ra justru menatap Sungyeol tajam dan sangat tak bersahabat. Ia juga sedikit membulatkan mata ketika menangkap kalung yang dikenakan Sungyeol. Meski telah lama hilang, tapi Hye Ra sama sekali tak melupakan bentuk aslinya.
        Hye Ra sampat memejamkan mata sejenak sambil menghirup udara banyak-banyak karena rasa sesak di dadanya. “Jadi oppa sudah tau siapa aku?”
        Sungyeol membeku mendengar pertanyaan tajam Hye Ra. Tamatlah riwayatnya. Bahkan langsung di tangan gadis ini. “Hye Ra, aku…”
        “Kenapa oppa tak pernah mengatakan sebelumnya?” seru Hye Ra dengan nada tinggi. Ia bahkan sampai memotong ucapan Sungyeol tadi.
Sementara Myungsoo dan Minwoo hanya mampu mengawasi dari jauh. Myungsoo juga memperhatikan mobil Sungyeol. Pikirannya tiba-tiba jatuh pada beberapa hari lalu ketika ia menjemput Eun Gi yang ingin bertemu Hye Ra. Dan mobil itu adalah mobil yang sama seperti yang digunakan Sungyeol waktu itu.
        Sungyeol berusaha menenangkan diri dari tatapan membunuh yang di lancarkan Hye Ra. “Untuk apa? Bukankah kau tak mengenalku sebelumnya?”
        Deg! Hye Ra terperangah dengan ucapan Sungyeol yang di luar dugaannya. Ia mengerjap-ngerjap tak percaya dengan apa yang baru saja Sungyeol lakukan padanya. Hye Ra menatap Sungyeol nanar. Tanpa sadar air matanya menetes.
        “Hye Ra maafkan aku,” kata Sungyeol lemah. Tubuhnya ikut melemas melihat air mata Hye Ra yang semakin deras.
        Hye Ra menyeka tepi matanya yang basah dengan kasar menggunakan ujung lengan baju piyamanya yang panjang. Dadanya sudah kian sesak. Ingin sekali Hye Ra memaki Sungyeol tepat di depan wajah pemuda itu. Tapi rasanya sudah tak sanggup. Gadis itu akhirnya hanya bisa memaksa bibirnya untuk tersenyum.
        “Terima kasih atas semua yang sudah lakukan untukku selama ini.” Hye Ra buru-buru meninggalkan Sungyeol dan kembali ke dalam mobil Myungsoo.
        “Hye Ra!” Sungyeol berusaha menahan langkah Hye Ra, namun gadis itu sudah terlanjur berlari cukup jauh.
        Myungsoo sudah ingin menghampiri Sungyeol yang sudah hampir terlihat frustasi. Tapi ia membatalkan niat dan lebih memilih mengejar Hye Ra. Sementara Minwoolah yang mendekati Sungyeol.
        “Jadi hyung bener-bener yang nolong noona waktu nyaris tenggelam dulu?” Tanya Minwoo.
        Sungyeol menghela napasnya, berat. “Aku memang bodoh.”
        “Noona hanya terkejut aja, hyung. Selama ini dia hanya ingin berterima kasih sama hyung. Tapi tidak tau caranya. Dan ternyata selama ini kalian selalu bertemu hampir setiap hari.”
        Sungyeol membuka kalung yang selama ini melingkar di lehernya. “Tolong sampaikan salam dari ibuku dan permintaan maafku padanya.” Ia lalu menarik tangan Minwoo dan meletakkan kalung tadi di telapak tangan Minwoo.
        “I… iya.” Minwoo sedikit tergagap. Tak mungkin ia menolak permintaan Sungyeol. “Tapi, hyung mau ke mana? Tidak bekerja?” tanyanya polos karena tadi melihat Sungyeol berniat pergi dan tidak mengenakan seragam café seperti yang selama ini ia lihat.
        Sungyeol tersenyum pahit sambil menggeleng kecil. “Aku sudah tidak bekerja lagi di café Sunggyu hyung.”
        Minwoo yang tercengang dengan pengakuan Sungyeol, hanya mampu membuka mulutnya tanpa ada sepatah katapun yang terucap darinya.
        Sungyeol menepuk pundak Minwoo sebagai upaya agar pemuda itu sedikit tersadar dari keterkejutannya. “Tolong sampaikan semuanya pada Hye Ra,” kata Sungyeol sebelum akhirnya memakai kembali kacamatanya dan berbalik memasuki mobil.
        Tangan Minwoo terangkat untuk menjangkau pundak tinggi Sungyeol. Namun Sungyeol sudah terlanjur menjauh. Ketika melihat ke belakang, ternyata mobil Myungsoo sudah bergerak meninggalkan parkiran. “Hyung!” pekik Minwoo karena terlalu terkejut. “Myungsoo hyung!” paniknya sambil berlari mengejar.

***

        Kenyataan bahwa pemuda yang pernah menolongnya dulu ternyata selama ini—untuk beberapa bulan terakhir—ada di depan matanya sendiri. Bahkan mereka hampir setiap hari bertemu dan saling berinteraksi. Dan pemuda itu pula satu-satunya orang yang bisa membuat terauma gadis itu akan segala sesuatu yang berhubungan kolam renang bisa sedikit teratasi.
        Hye Ra hanya bisa menghela napasnya, berat. Ia bahkan sedikit mengacuhkan kedatangan Myungsoo pagi itu di kelas.
        Dengan tidak sopan, Myungsoo meletakkan punggung tangannya di kening Hye Ra. “Tidak panas,” komentarnya terhadap suhu badan sepupunya itu.
        “Myungsoo!” pekik Hye Ra sambil menjauhkan tangan Myungsoo dari keningnya. Ia sedang tidak ingin di ganggu sepagi ini.
        “Aku tau kau masih memikirkan kejadian kemarin.” Myungsoo berkata dengan suara pelan. “Minwoo bilang, ibunya Sungyeol hyung menitipkan salam untukmu.”
        Hye Ra menoleh cepat. Sesak di dadanya semakin membuncah. Ibunya Sungyeol seakan menjadi kartu mati terakhir bagi Hye Ra. Ia menyerah untuk masalah wanita yang kini ia panggil dengan sebutan ‘ibu’ itu.
        Myungsoo pura-pura sibuk dengan kegiatannya mengeluarkan beberapa buku pelajaran dan alat tulisnya. Tapi pemuda itu selalu mengawasi gerak-gerik Hye Ra melalui sudut matanya. “Jadi kau bahkan sudah mengenal ibunya Sungyeol hyung?” Ujar Myungsoo yang masih mempertahankan posisinya.
        Hye Ra berusaha menahan gejolak dadanya. Ia tak ingin berkomentar apa-apa dulu tentang itu. Dan saat melirik ke arah pintu, bertepatan dengan kemunculan Hoya bersam Haesa. Meski sebenarnya mereka hanya bertemu tak jauh dari pintu kelas. Bukan berniat datang ke sekolah bersama seperti apa yang dipikirkan Hye Ra.
        Myungsoo buru-buru menarik tangan Hye Ra yang berniat beranjak dari kursinya. “Maaf,” ujarnya lirik dengan tatapan penuh rasa bersalah.
        Hye Ra hanya mengangguk pelan sambil menyingkirkan tangan Myungsoo dengan lembut. Ia bahkan sampai membentuk senyuman tipis di bibirnya untuk Myungsoo di tengah-tengah perasaannya yang kini bercampur aduk. “Aku hanya ingin ke toilet,” seru Hye Ra akhirnya agar Myungsoo tidak terlalu mengkhawatirkan kondisinya.
        Dengan terpaksa Myungsoo melepaskan Hye Ra dan hanya mampu menatap nanar punggung gadis yang semakin menjauh itu.
        Di tempatnya berada, Hoya dan Haesa juga menatap Hye Ra dengan gejolak dan pikiran masing-masing. Hoya begitu merasakan aura kesedihan yang terpancar dari diri Hye Ra.
Sementara Haesa menatap Hye Ra dengan penuh rasa bersalah. Posisinya juga serba salah. Hye Ra adalah adik dari pemuda yang ia cintai, Sunggyu. Dan Hye Ra juga gadis yang dicintai oleh kakaknya sendiri, Sungyeol.
Tiba-tiba Haesa berdiri hingga membuat Hoya terkejut. Pemuda itu bahkan belum sempat menahannya. Begitu pula dengan Myungsoo yang tanpa sengaja menyadari apa yang di lakukan Haesa. Entah apa yang membuat Myungsoo menatap gadis itu penuh selidik.
        Haesa mengikuti langkah Hye Ra sampai ke area belakang sekolah. Ternyata Hye Ra tidak ke toilet. Ia justru duduk di salah satu bangku yang ada di sana. Haesa membatalkan niat untuk menghampiri Hye Ra karena ternyata Sungjong sudah lebih dulu mengikuti langkah gadis itu. Ia akhirnya hanya bisa menunggu di balik tembok sambil berharap bisa mendengar semua yang mereka bicarakan.

***

        Hye Ra membiarkan air matanya mengalir. Pandangan matanya yang buram karena air mata, menatap tak fokus pohon yang berdiri tegak di depannya.
        “Aku tau semua orang pasti memiliki masalah hidupnya. Tak terkecuali anak kecil seperti kita. Meski aku tidak berjanji bisa membantu, setidaknya aku masih bisa mendengarkan cerita bahkan menjadi temanmu.”
        Hye Ra yang tersentak, langsung menoleh cepat. Ia bahkan tidak menyadari sudah berapa lama Sungjong duduk di sana dan menemaninya. Sungjong mengukir senyuman hangat di bibirnya, membuat Hye Ra segera mengusap kasar tepi matanya yang basah.
        “Kau…” ucapan Hye Ra terputus begitu saja.
        Sungjong masih tersenyum penuh misteri. “Masih ingat kalimat itu?” tanyanya seolah mengajak Hye Ra bermain tebak-tebakan.
        Hye Ra mengerjapkan mata tak percaya dengan apa yang baru saja dikatakan Sungjong. Pemuda itu masih tersenyum seolah membenarkan apa yang dipikirkan Hye Ra apapun tentangnya.
        “Jadi kau itu Lee Sungjong…”

***