Selasa, 02 April 2013

KRIS WITHOUT WINGS (part 1)



        “Aaakkkhhh…!” jerit seorang pemuda bertubuh tinggi ketika seseorang menempelkan plester di keningnya.
        Sehun menutup telinga mendengar teriakan kakaknya. “Hyung, kau bisa diam tidak?” Tanya Sehun dengan suara tenang.
        “Kau terlalu kasar mengobati luka ku.” Balas pemuda tinggi tadi yang bernama Kris.
        “Kau terlalu sering pulang dengan kondisi babak belur seperti ini. Harusnya kau sudah kebal.” Sindir Sehun sambil membereskan peralatan p3k yang ia pakai untuk mengobati kakaknya. Sehun berdiri hendak pergi dari sana.
        “Sehun…!” pekik Kris ketika Sehun mendaratkan tangannya tepat di kening Kris yang luka. Kris hendak mengejar, namun Sehun sudah lebih dulu kabur dari sana.
        “Dokter Jaesuk tadi menelponku, besok kau harus bertemu dengannya.”
        Kris menoleh ketika mendengar suara seseorang yang kini sudah duduk di sampingnya di tempat Sehun duduk tadi. “Kenapa dokter Jaesuk selalu merindukanku?” Kris merespon dengan enggan.
        Luhan, kakak tiri Kris hanya tertawa menanggapi ucapan adiknya itu. “Lakukanlah demi ayah dan ibu. Kau tidak ingin mereka kecewa, kan?”
        Kris hanya berdecak, lalu menyambar remote tivi.
        “Kau berkelahi lagi? Dengan siapa?”
        “Masih dengan Minseok, Lay dan Jongin kok, hyung.” Jawab Kris sambil mengganti-ganti saluran tivi. “Mereka selalu cari gara-gara denganku.”
        “Apa kau tidak bisa berhenti?”
        Kris menoleh dan menatap Luhan tajam. “Kau sama saja seperti dokter Jaesuk.” Cibir Kris, lalu pergi dari sana.
        “Kris…” panggil Luhan untuk menghentikan Kris. “Kau mau kemana?”
        Kris tetap melangkah dan tak mempedulikan panggilan dari Luhan.
        Luhan menyandarkan tubuhnya sambil mendesah. “Selalu seperti ini.” Keluhnya.

@@@

        Pagi-pagi sekali Kris sudah keluar rumah menggunakan motor sport andalannya. Ini untuk kedua kalinya ia menjadi murid kelas 1 di SMA Two Moons. Karena kemarin ia terpaksa tinggal kelas akibat tertangkap berkelahi dengan murid dari SMA Sun Moon.
        Ketika berbelok, di ujung jalan sana Kris melihat sedikit keributan. Ia pun langsung mempercepat laju motornya agar segera sampai di sana. Ternyata ada sedikit perkelahian antara dua siswa berseragam SMA. Kris terpesona dengan teknik bela diri yang ditunjukan pemuda yang memiliki sorot mata tajam dan memiliki lingkaran hitam di sekitar matanya.
        “Siapa pemuda yang matanya terlihat seperti panda itu?” Tanya Kris pada seseorang yang berdiri tak jauh dari tempat ia menghentikan motornya.
        Pemuda yang diajak bicara dengan Kris itu juga bertubuh tinggi namun sedikit di bawah Kris. “Dia Tao, teman ku.” Kata pemuda yang memiliki tatapan playboy itu.
        Kris tersenyum samar. “Sepertinya aku memiliki saingan baru.” Gumam Kris sambil memakai helmnya.

@@@

        Luhan memainkan kunci mobil di tangannya. Ia berjalan keluar rumah lalu mendekati mobil sport keluaran terbaru hadiah dari Choi Gary, ayah Kris yang sudah seperti ayah kandungnya sendiri. Luhan membuka pintu mobil. Ketika melirik jam, ternyata masih terlalu cepat untuk masuk kuliah di hari pertamanya ini.
        Luhan menggeleng sambil menutup kembali pintu mobilnya dari luar. “Ini terlalu fulgar untuk mahasiswa baru sepertiku.” Luhan tampak mengurungkan niat untuk pergi menggunakan mobil. Ia lantas berjalan kaki keluar dari rumah.
        Ketika baru duduk di dalam bus, Luhan kembali memeriksa jam di tangannya. Ia menertawai dirinya sendiri. Hari pertama sebagai mahasiswa memang penuh dengan semangat. Tapi Luhan tak ingin terlalu ambil pusing. Ia akan menikmati perjalannya sekarang ini. Karena bisa saja nanti ketika kembali ke rumah, ayahnya akan memarahi karena Luhan tidak menggunakan mobil pemberiannya.
        Hanya beberapa meter lagi, bus akan berhenti di sebuah halte. Memang bukan halte tujuan Luhan, tapi pemuda itu mengambil langkah seribu untuk turun karena tak jauh dari sana ia melihat sedikit perkelahian. Entah hal apa yang membuatnya ingin ikut campur.
        Luhan mengejar orang-orang yang mulai berlarian. Jumlahnya tidak banyak, hanya tiga orang mengejar satu orang. Luhan mempercepat larinya ketika salah satu dari tiga oran itu berhasil menangkap pemuda itu yang kelihatannya seorang pemuda baik-baik.
        “Jangan beraninya hanya pada yang lemah.” Teriak Luhan memberanikan diri. Luhan berbeda dengan Kris. Jelas saja karena mereka tak sedarah. Biar bagaimanapun orang-orang mengenalnya sebagai kakaknya Kris, seorang ketua gangster sekolah yang hobinya berantem. Akan terdengar cukup janggal jika Luhan tak bisa berkelahi. “Aku bersyukur Kris pernah mengajari tekhnik beladiri.” Gumam Luhan sambil melepaskan ranselnya ke tanah sebelum akhirnya menyerang.

@@@

        Seseorang berseragam seperti dokter tampak membereskan arsip di sebuah ruangan. Kris yang mengintip kejadian itu, menyelinap masuk tanpa sepengetahuan orang itu. Kris sedikit membungkukan badannya di belakang orang itu.
        “Pagi dokter Jaesuk…!” teriak Kris tak sopan hingga membuat orang itu tersentak dan sedikit menghamburkan arsip di tangannya.
        “Kris…?” orang itu menatap Kris bingung.
        “Joongki hyung?” balas Kris sama bingungnya. “Pantas saja, tadi ku pikir doker Jaesuk operasi plastic makanya terlihat tampan sepertimu.”
        “Sudah selesai membicarakanku?”
        Kris membeku di tempat ketika mendengar suara seseorang di belakangnya. Sementara Joongki hanya menahan tawa sambil kembali melanjutkan urusannya yang sempat di ganggu oleh Kris.
        “Kenapa kau ada di sini, Kris?” Tanya suara itu lagi.
        Perlahan Kris membalikkan tubuhnya menghadap orang yang tadi berdiri di belakangnya. Tapi pria itu kini sudah duduk di kursi kerjanya. Kris mengukuti duduk di hadapan dokter Jaesuk.
        “Bukankah dokter sudah sangat merindukanku?” ujar Kris tak sopan sambil menatap nakal dokter Jaesuk.
        Pada umumnya dokter seperti dokter Jaesuk akan bersikap penuh wibawa meski tetap terlihat ramah kepada pasiennya. Tapi tidak untuk dokter Jaesuk kepada Kris. Ia malah tertawa selayaknya teman ketika menanggapi ucapan iseng dari Kris.
        “Ini masih pagi, harusnya kau sekolah.” Sambar Joongki masih dari tempat ia berada tadi.
        Kris berbalik untuk melihat Joongki. “Kau sendiri hyung? Bukankah kau harusnya kuliah? Kau kan calon dokter. Aku tak mau kau seperti dokter Jaesuk.” Oceh Kris hingga mendapat lemparan buku dari dokter Jaesuk yang mendarat tepat di kepalanya. “Kenapa anda memukul ku?” protes Kris tak terima sambil mengusap kepalanya.
        “Diam atau mau ku larang bermain basket lagi?” ancam dokter Jaesuk serius sambil berdiri dari kursinya.
        “Itu sama saja anda ingin aku mati lebih cepat.”
        Dokter Jaesuk menatap Kris tajam. “Jaga ucapanmu!” tegurnya. Kris hanya diam. Sementara Joongki cukup dibuat tegang dengan pemandangan di hadapannya. “Cepat berbaring. Aku ingin memeriksamu.” Perintah dokter Jaesuk tanpa menatap Kris.
        Kris menghela napas sebelum akhirnya melepaskan ransel yang masih menempel di pundaknya. “Selalu saja seperti ini.” Cibir Kris pelan. Dengan malas ia naik dan berbaring di tempat tidur. Sementara dokter Jaesuk masih mempersiapkan alat kedokterannya untuk memeriksa Kris.
        Dokter Jaesuk menepuk pelan pipi Kris karena pasiennya itu telah memejamkan mata. “Aku tidak menyuruhmu untuk tidur.”
        Kris menggeliat masih dengan mata tertutup lalu membaringkan badannya ke arah samping. “Anda kan tau kalau aku sangat menyukai tempat tidur.” Ujar Kris seenaknya lalu kembali tidur.
        “Kris…” tegur dokter Jaesun yang terdengar sangat sabar menghadapi pasiennya yang satu ini.
        “Oke… oke… aku menurut.” Kata Kris cepat-cepat sambil kembali ke posisi semula lalu kedua tangannya mulai membuka kancing kemeja seragam sekolahnya.

@@@

        Luhan tampak keluar dari sebuah mini market sambil menenteng kantong plastic berisi air mineral dan beberapa obat untuk luka. Di luar sana, pemuda yang tadi ia tolong telah menunggu sambil sesekali memegangi tepi bibirnya yang terluka.
        “Aku tidak seperti Sehun, adikku yang selalu menyediakan obat untuk luka seperti itu.” Kata Luhan berbasa-basi sambil duduk di samping pemuda tadi. “Aku Song Luhan. Panggil saja aku Luhan.”
        “Park Jongdae.” Balas pemuda tadi sambil menerima obat pemberian Luhan.
        Untuk kesekian kalinya Luhan memeriksa jam di tangan kirinya. “Ternyata masih satu jam lagi.” Luhan mendesah pelan.
        “Apa ini hari pertamamu kuliah?” tebak Jongdae.
        Luhan terkesiap mendengar ucapan pemuda yang baru saja ia kenal. “Dari mana kau tau?”
        Jongdae tersenyum samar. “Aku juga. Dan kalau tak keberatan aku ingin mengantarmu sebagai tanda terima kasih. Kau kuliah di mana?”
        “Aku kuliah di Central University. Tapi kau tak perlu repot-repot untuk mengantarku.” Tolak Luhan cepat-cepat.
        “Kalau aku katakan aku juga kuliah di Central University, apa kau akan tetap menolak?” Tanya Jongdae membuat Luhan melebarkan matanya tak percaya bahwa ia sudah memiliki teman bahkan sebelum ia tiba di kampusnya.

@@@

        “Kyungsoo…” panggil Sehun kepada pemuda yang duduk di depannya sambil menumpukkan beberapa buku pelajaran miliknya. Saat ini sudah masuk jam istirahat. Beberapa teman sekelasnya yang lainpun mulai meninggalkan kursi mereka.
        Pemuda yang memiliki mata bulat tersebut berbalik menghadap Sehun. “Kau mau makan apa?”
        Sehun berdecak kecewa. “Bukan itu yang ingin ku tanyakan.”
        “Lalu?” Tanya Kyungsoo penuh minat.
        “Apa di SMA nanti kita masih bisa satu sekolah?” Sehun bertanya dengan nada khawatir mereka tidak bisa berteman lagi.
        “Memangnya kau ingin bersekolah di mana?”
        “SMA Two Moons.” Sehun menjawab penuh semangat.
        “Kenapa kau harus memilih sekolah itu?” kini giliran Kyungsoo yang tampak kecewa. “Kau tau? Di sana ada siswa bernama Kris.” Ucapan Kyungsoo ketika menyebut nama Kris membuat Sehun membeku seketika. “Dia selalu cari masalah dengan hyungku. Tapi aku senang, karena ku dengar ia sampai tinggal kelas karena berkelahi dengan hyungku dan temannya. Si Kris itu memang pantas mendapatkannya.”
        Sehun semakin tertunduk ketika mendengar temannya menjelek-jelekkan Kris di hadapannya. Kyungsoo memang tidak tau bahwa Sehun adalah adiknya Kris. Dan Kris juga sedikit melarang Sehun untuk mengaku sebagai adiknya dengan alasan demi keselamatan Sehun.
        “Kau kenapa?” tegur Kyungsoo karena melihat perubahan sikap yang ditunjukkan Sehun.
        Sehun memaksakan senyumnya terukir. “Tidak, aku hanya sudah sangat lapar. Ayo pergi.” Ajak Sehun sekaligus untuk mengalihkan pembicaraan mereka tentang Kris dan SMA yang mereka pilih nantinya.

@@@

        Kris asik sendiri mengunyah makanan ringan di hadapannya sambil menyaksikan pertandingan sepakbola dari tivi. Di sisi lain, ia juga sedikit khawatir karena hingga malam Luhan belum pulang. Tak lama terdengar suara pintu terbuka lalu kembali menutup. Kris berbalik dan berharap itu Luhan yang datang. Ternyata Sehun yang keluar dari kamarnya sambil membawa beberapa tumpuk buku dan alat tulis.
        Kris menatap Sehun sampai adiknya mengambil tempat tepat di sampingnya. “Tugas lagi?” Tanya Kris enggan.
        Sehun mengangguk mantap sambil membuka buku-buku yang ia bawa dan membuat Kris bersandar lemah pada sandaran sofa.
        “Tunggu Luhan saja.” Seru Kris tanpa melirik ke Sehun. Ia kini lebih memilih kembali menikmati tontonannya dari pada menemani Sehun berkutat dengan tugas matematika.
        “Tidak mau!” kesal Sehun sambil bangkit mendekati tivi. Ia mematikan tivi langsung dari tombol utama. “Sebelum tugasku selesai, kau tidak boleh menonton tivi.” Putus Sehun secara sepihak. Ia tak peduli seberapa besar kekesalah Kris padanya.
        Dengan sangat terpaksa Kris menerima buku yang disodorkan Sehun. Terpaksa atau tidak, Kris memang ingin Sehun menjadi lebih baik dari pada dirinya yang lebih suka berkelahi. Dengan malas Kris membolak-balikkan halaman pada buku Sehun. Saat ini harapannya hanya satu, yaitu Luhan cepat pulang agar hyungnya itu menggantikan posisi Kris untuk mengajari Sehun.
        “Ku rasa Luhan hyung lupa jalan pulang.” Ledek Sehun seolah bisa menebak isi kepala Kris.
        Kris melirik Sehun tajam. Ia juga hendak memukul kepala Sehun dengan buku jika saja tidak terdengar suara pintu utama terbuka.
        “Hyung, cepat kembali dan bantu aku mengerjakan tugas.” Teriak Kris yang kini sudah membalikkan badan menghadap Luhan yang siap membuka pintu kamarnya.
        “Kenapa Luhan hyung cepat sekali pulang?” kesal Sehun. Ia memang sangat menghindari Luhan untuk membantunya mengerjakan tugas, karena hyungnya yang satu itu tidak akan melepaskan Sehun dengan mudah.
        “Sudah bagus hyungmu tidak nyasar naik bus.” Omel Kris.
        “Sudahlah, apa yang bisa ku bantu.” Luhan melerai Kris dan Sehun sebelum perang di antara dua adiknya benar-benar pecah.
        “Hyung, jangan duduk di situ.” Cegah Kris sebelum Luhan duduk di sampingnya. Kris langsung bergeser dan mengisyaratkan Luhan untuk duduk di tengah-tengah antara dia dan Sehun. Kris tersenyum jahil melihat Sehun cemberut.
        Kris masih saja mengganggu Sehun. Ia memukul kepala Sehun dari belakang kepala Luhan.
        “Hyung!” protes Sehun sambil memegangi kepalanya.
        “Perhatikan yang benar!” balas Kris tak kalah galaknya.
        “Kris, jangan mengganggu Sehun terus.” Luhan ikut menegur Kris karena ulahnya sedikit mengganggu dirinya yang sedang memberi penjelasan untuk Sehun.
        “Apa kau ingin aku meninggalkan kalian di sini?” Tanya Kris, namun tatapannya tertuju ke Sehun yang mati-matian menolak Kris meninggalkannya hanya berdua saja dengan Luhan. Tentu saja Luhan tak melihat raut wajah Sehun karena ia tengah melirik ke arah Kris.

@@@

        “Kris…” teriak seseorang dari luar kamar Kris.
        Kris melirik jam dinding di dalam kamarnya melalui matanya yang merah. Siapa yang berani menganggu tidurnya tengah malam begini? Kris semakin dalam menutup tubuhnya hingga kepala menggunakan selimut.
        Karena tidak mendapat jawaban, orang tersebut membuka pintu kamar Kris lalu masuk ke dalamnya. Seorang wanita paruh baya namun masih terlihat sangat cantik.
        “Kris… ayo bangun sayang…” ucapnya lembut sambil menarik ujung selimut yang menutupi tubuh jangkung Kris.
        Kris memaksa membuka matanya yang terasa sangat pedas. Begitu tau siapa wanita itu, Kris tersenyum dengan mata setengah terpejam. “Ibu…” gumam Kris manja sambil memeluk tubuh ibunya yang lebih kecil darinya itu.

@@@

        Luhan menguap sebelum memasukan makanan ke dalam mulutnya menggunakan sumpit. Makan bersama di tengah malam seperti ini bukan kejadian aneh di tengah keluarga Luhan. Tuan dan nyonya Choi yang sangat sibuk dengan pekerjaan mereka, selalu menyempatkan makan bersama ketiga putra mereka sesempit apapun waktunya.
        “Sayang… jangan manjakan Kris seperti itu.”
        Luhan buru-buru menoleh dan menajamkan matanya untuk melihat apa yang membuat ayahnya berkata demikian. Sedetik kemudian, Luhan tertawa melihat Kris yang tinggi menjulang itu memeluk ibunya dari belakang dan memaksakan diri untuk menenggelamkan wajahnya di pundak sang ibu. Kris bahkan harus bersusah payah membungkuk bahkan sampai menekuk lehernya.
        Kris menghempaskan tubuh di kursi tepat di samping ibunya. Sementara Luhan duduk berseberangan dengannya. Kris sedikit tertawa ketika menyadari seseorang yang duduk di samping Luhan. Luhanpun ikut menoleh dan menertawai Sehun yang sudah kembali tidur sambil menopang dagunya dengan tangan di atas meja makan.
Kembali sebuah ide jahil muncul di otak Kris. Ia merebut sumpit sari tangan Luhan, lalu mengambil sebuah cabai yang masih utuh dari dalam mangkuk Luhan. Tidak ada yang berniat melarang aksi jahil Kris, bahkan ayah dan ibunya sekalipun.
        Tuan Choi bahkan ikut andil mengerjai Sehun ketika Kris mendekatkan sumpit yang menjepit cabai itu ke mulut Sehun.
        “Sehun… ayo buka mulutnya.” Bisik tuan Choi tepat di telinga Sehun. Sementara nyonya Choi hanya bisa menatap kasihan anak bungsunya itu. Dan yang lebih mengejutkan, Sehun menuruti ucapan sang ayah untuk membuka mulut yang tak di sia-siakan Kris untuk memasukan cabai tadi ke dalam mulut Sehun. Dengan santai Sehun mengunyah dengan mata masih terpejam erat.
        Kris, Luhan, tuan dan nyonya Choi menunggu reaksi Sehun sambil melempar tatapan satu sama lain.
        “Hwaaaaa…” jerit Sehun seketika hingga membuat Luhan yang duduk tepat di sampingnya menutup telinga. Dan Kris yang paling senang melihat penderitaan adiknya.
        “Ini minum…” nyonya Choi dengan panic menyodorkan gelasnya untuk Sehun setelah anak bungsunya memuntahkan cabai tadi ke atas piringnya yang kosong.
        “Hyung jahat…” rengek Sehun. “Ibu…” dengan manja Sehun mendekati nyonya Choi dan memeluk ibunya dari belakang.
        “Dia ibuku…” iseng Kris sambil berusaha menjauhkan tangan Sehun dari badan ibunya.
Luhan hanya menatap penuh haru pemandangan di depannya ketika nyonya Choi juga merangkul Kris. Walau Kris bukan anak kandungnya, tapi nyonya Choi sama sekali tak membedakan kasih sayangnya kepada Luhan, Kris dan Sehun karena mereka telah bersama bahkan sejak Sehun belum lahir.

@@@

3 komentar:

  1. hahaha
    kocak banget :
    “Bukankah dokter sudah sangat merindukanku?” ujar Kris tak sopan sambil menatap nakal dokter Jaesuk".

    ini ngakak bgt sumpah :
    Dokter Jaesuk menepuk pelan pipi Kris karena pasiennya itu telah memejamkan mata. “Aku tidak menyuruhmu untuk tidur.”
    Kris menggeliat masih dengan mata tertutup lalu membaringkan badannya ke arah samping. “Anda kan tau kalau aku sangat menyukai tempat tidur.” Ujar Kris seenaknya lalu kembali tidur."

    disuruh periksa dy malah tidur.. wkwkwkwk

    hahaaha
    disuruh belajar sama Luhan kaga mau, malah pengen belajar sama kris.. wkwkwkwk

    sumpah kris jail bgt sama ade nya..
    masukin cabe ke dalem mulutnya Sehun.. wkwkwk


    BalasHapus
  2. wkwkwkw.... gak nyesel kan bacanya??? udah dibilangin dari lama jugaaaa

    BalasHapus
  3. hahahaha
    ne... ne... ne...
    enggak..
    hahahaha
    maklum sibuk coy.. wkwkwkwk:D

    BalasHapus