Tampilkan postingan dengan label Min Yoongi (Suga). Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Min Yoongi (Suga). Tampilkan semua postingan

Minggu, 11 Januari 2015

Baby Boy and Baby Girl (1/3)


Author              : N-Annisa (@nniissaa11)
Main Cast          :
·        Jeon Jungkook (BTS)
·        Oh Hayoung (A-Pink)
·        Kim Yukwon (Block B)
Support Cast     :
·        Yoogeun, Recipon Leo, Dayoung, Lauren, Illayda (Hallo Baby)
·        Minhyuk, Jihoon, Zico (Block B)
·        Hoseok, Yoongi, Jimin, Taehyung (BTS)
·        Junhong, Jongup (BAP), Eunji (A-Pink)
·        Jessica, Hyoyeon, Sooyoung, Yoona, Seohyun (SNSD)
·        Krystal, Sulli, Victoria (Fx)
·        Yunho, Changmin (TVXQ), Minwoo (Boyfriend)
·        Hyukjae, Heechul, Donghae, Kyuhyun (SuJu)
Length              : 3 shoot
Genre               : Romance, family

***

        “Kenalkan, dia pacarku.”
        “Kamu tahu kan dia dulu pernah berpacaran denganku?”
        Mendengar nada sinis yang dilontarkan temannya itu, Yukwon justru semakin menggenggam erat tangan gadis di sampingnya. “Lalu? Lagi pula itu sudah berlalu kan? Sekarang dia denganku.” Yukwon kemudian membawa pergi gadis itu bersamanya.      Pemuda tadi masih di sana bersama salah seorang temannya yang lain.
        “Minhyuk Hyung.” Pemuda bernama Minhyuk itu menoleh melihat adik sepupunya datang. “Aku sempat melihat Yukwon Hyung. Dengan pacarnya ya?”
        Teman Minhyuk yang bernama Zico tersebut langsung bersandar lemas ke kursi café. “Aku padahal baru ingin mendekati gadis itu.”
        “Cukup, Zico. Kamu nggak bakal bertahan lama dengan gadis kekanakan seperti itu.” Minhyuk memperingati. “Jungkook ayo duduk.” Ia kemudian duduk kembali di kursinya.
        “Dia sudah 21 tahun. Tapi masih menyukai sereal, boneka Barbie, dan film kartun. Sama persis seperti adiknya keponakanku si Maru itu. Sudahlah, masih banyak gadis lain yang bisa kau pacari. Nanti ku kenalkan dengan temanku.”
        Zico yang sudah terlanjur kecewa hanya berdecak malas.

***

        “Noona… Hyung…” Sepasang suami-istri itu memasuki rumah beserta dua anak mereka. Gadis kecil berusia 11 tahun, dan adik laki-lakinya yang berusia 9 tahun.
        Wanita paruh baya yang menjadi pemilik rumah itu muncul dari dalam dapur. Mereka saling berpelukan melepas rindu. Di hari raya ini, keluarga besar mereka akan berkumpul. Dan satu-persatu adik dari pemilik rumah, Jessica, mulai berdatangan. Mulai dari adik laki-lakinya yang paling kecil itu, Changmin bersama istrinya Seohyun dan anak mereka, Sulli serta Minwoo.
        “Mana Hyukjae Hyung dan adik kecil kita, Hayoung?”
Changmin celingukan ke sekitar mencari dua orang tersebut. Jessica dan Seohyun sudah menuju dapur saat Sulli dan Minwoo juga mulai menaiki anak tangga menuju lantai atas rumah.
        “Adikmu masih tidur. Dan Oppa tadi sedang mandi,” Jessica berteriak dari arah dapur.
        Changmin kembali ke luar rumah saat mendengar suara deru mesin mobil. “Kyuhyun Hyung!” Ia berseru saat salah satu kakak laki-lakinya itu datang bersama istrinya Hyoyeon, yang juga membawa putra-putri mereka Dayoung dan Leo yang berusia 8 dan 5 tahun.
        “Leo ayo, Sulli Eonnie pasti sudah di dalam.” Dayoung dengan ceria menggamit tangan Leo dan membawa adiknya itu berlari ke dalam rumah. Sementara tangan yang lainnya sibuk membawa sebuah boneka kucing.
        “Taehyung tidak ikut?” Changmin terlihat keheranan karena Kyuhyun dan Hyoyeon sebenarnya memiliki 3 orang anak. Hyoyeon dan Kyuhyun hanya memberikan kode bahwa ada sesuatu di belakang mereka. Ternyata muncul seorang pemuda berusia sekitar 15 tahun dengan langkah gontai dan wajah mengantuknya. Bahkan tampaknya anak itu masih mengenakan baju saat ia tidur semalam.
        “Aah.. paman Changmin. Aku ingin ke kamar Junhong dulu.” Sambil berlalu, Taehyung memaksakan matanya terbuka lebar agar tidak menabrak sesuatu saat berjalan.
        “Dia baru pulang jam 5 pagi tadi.”
        “Ya sudahlah, Hyung. Ayo kita masuk saja sambil menunggu yang lain datang.” Changmin mengajak kakaknya untuk ke dalam rumah. Hyoyeon melangkah lebih dulu, sementara dirinya menyusul bersama Kyuhyun.
        “Victoria Noona akan datang terlambat katanya.”

***

        “Eonnie…
        “Noona…! Panggil aku.. Noona.
        “Itu panggilan dari anak laki-laki. Aku, Dayoung, dan Sulli seharusnya memanggilmu Eonnie.
        “Tidak Krystal. Aku pusing dengan panggilan yang berbeda-beda itu. Sudah ya. Panggil aku.. Noona.” Hayoung tetap teguh pada keinginannya. Ia menentang ucapan Krystal.
        “Bahkan sebenarnya kita harus memanggil Hayoung dengan sebutan.. Bibi.”
        Hayoung menatap tajam pemuda itu. “Hoseok!” Ia mendesis sehingga Hoseok sendiri tidak jadi tertawa karena suara ancaman Hayoung. “Aku bunuh kamu kalau sampai berani manggil gitu.”
        Tiba-tiba, ‘plak’, sebuah bantal kecil berbentuk hati mendarat mulus di kepala Hayoung. Hayoung menoleh ke ujung ruangan tempat seorang pemuda berbaring santai di atas sofa. Pemuda itu tampak paling dewasa diantara bocah laki-laki yang lainnya.
        “Apa Yukwon Hyung juga harus memanggilmu Noona?”
        Jihoon langsung membungkam mulutnya dan menyesal telah bertanya seperti itu saat Krystal sudah berpindah duduk untuk membantu Dayoung memakaikan pakaian pada boneka Barbie milik Hayoung. Adiknya, Jimin, sudah terkekeh geli di sudut lain bersama Taehyung.
        Yukwon sudah kembali memejamkan mata. Hoseok ikut berbaring bersama Jihoon untuk mengganggu Leo yang bermain dengan sebuah robot-robotan. Hayoung hanya menatap mereka satu-persatu. Tepat saat Minwoo melintas bersama psp-nya dan menghampiri Junhong.
        Mereka semua, 12 anak-anak itu adalah keponakan Hayoung. Ingat! Keponakan! Bukan adik. Hayoung adalah anak bungsu dari 7 bersaudara dikeluarganya. Ia bahkan sangat kesal mendapati kenyataan bahwa Yukwon yang bahkan lebih tua setahun darinya adalah keponakannya. Anak sulung dari kakak pertama Hayoung, yaitu Jessica. Jessica menikah dengan Hyukjae dan memiliki anak, Yukwon, Hoseok (seumuran dengan Hayoung), serta Junhong yang berusia 15 tahun. Masih ada lagi. Krystal (20th) serta Dongho (18th) adalah anak dari kakak keduanya, Yunho dari istri yang bernama Sooyoung. Lalu kakak keempatnya, Donghae menikah dengan Yoona dan memiliki anak, Jihoon (18th) dan Jimin (15th). Lalu kakak kelimanya yang bernama Kyuhyun sudah memiliki anak, Taehyung, Dayoung dan Leo dari istrinya, Hyoyeon. Terakhir adalah Changmin yang memiliki anak bersama Seohyun, yaitu Sulli dan Minwoo.
        Hayoung baru saja merebahkan punggungnya ke sandaran sofa saat seorang  anak laki-laki lagi muncul dari arah tangga. Satu dari dua anak laki-laki kakak ketiganya, Victoria dan Heechul.
        “Jongup Hyung.” Junhong, Jimin, Taehyun, Leo dan Minwoo berseru hampir bersamaan. Ia menyodorkan sebuah tas plastic ke tangan Hoseok yang kebetulan posisinya paling dekat dengannya.
        “Kapan paman Heechul kembali dari Australi?” Dongho bertanya saat Junhong dan Taehyung sudah ikut membongkar isi plastic itu bersama Jimin yang tadi merebutnya dari Hoseok.
        Jongup menjatuhkan diri diantara Dongho dan Hayoung. “Beberapa hari yang lalu.” Ia kemudian menatap ke sebelah kirinya, tempat Hayoung berada. Di tangannya masih tersisa satu tas plastic lagi yang kemudian ia daratkan ke pangkuan Hayoung karena gadis itu terlihat tidak antusias akan kedatangannya.
        Hayoung yang kaget, menoleh cepat dengan tatapan ‘ini apa?’.
        “Yoongi tidak ikut ke sini?”
        Jongup mengabaikan tatapan Hayoung tadi karena Krystal lebih dulu mengalihkan dengan pertanyaannya. “Hyung ada di bawah.” Jongup adalah kedua dari kakak ketiga Hayoung, Victoria yang menikah dengan Heechul.
        Karena penasaran, Hayoung membongkar isinya yang teradapat beberapa bungkusan lebih kecil yang sudah diberi nama. Krystal, Dayoung, dan Sulli. Hayoung membagi-bagikan sesuai nama. Dan terakhir, tersisa miliknya. Krystal, Dayoung serta Sulli juga sudah memeriksa isinya yang ternyata sebuah mini dress. Entah kapan datangnya, ternyata Jimin sudah duduk di lengan sofa, dekat Hayoung. Jimin bahkan dengan jahilnya membuka bungkusan milik Hayoung yang isinya sama persis seperti milik Krystal, Dayoung dan Sulli.
        Menjadi anak sulung dikeluarga, membuat Hayoung diperlakukan selayaknya adik kecil oleh kakak-kakaknya. Namun nyatanya lebih parah dari itu. Hayoung tetap dianggap adik kecil yang harus mendapat perlakuan istimewa bahkan diusia Hayoung yang sudah menginjak 21 tahun. Mini dress yang sama dengan Dayoung dan Sulli. Bahkan dimata Hayoung, milik Krystal jauh lebih bagus dan terlihat lebih dewasa dari miliknya yang kekanak-kanakan.

***

        “Oh, Jungkook?”
        “Minhyuk Hyung, Yoogeun di sini?”
        “Ah, iya. Noona-mu juga sudah bilang tadi kalau kamu yang akan jemput Yoogeun. Ayo masuk.” Minhyuk mendahului ke dalam. Di ruang keluarga, Jungkook bertemu dengan Zico yang sedang menyesap kopinya.
        “Zico Hyung di sini? Tidak berlibur dengan keluarga?” Jungkook mengambil tempat di samping Zico yang baru saja meletakkan kopinya di meja.
        Zico merespon malas pertanyaan Jungkook. Bahkan bisa terlihat jelas bahwa ia menolak untuk menjawabnya. “Aku masih kepikiran dengan pacarnya Yukwon. Kalau memang gadis itu kekanakan, suka makan sereal… akh aku tidak percaya. Selera Yukwon untuk masalah perempuan sangat tinggi.” Zico tadi sempat tidak ingin melanjutkan ucapannya mendeskripsikan sosok gadis yang pernah Yukwon kenalkan padanya.
        Zico kemudian menatap Jungkook penuh minat. Seorang pemuda yang tampak seumuran dengan adik bungsu Zico, yaitu Eunji yang juga teman sekolah Jungkook. Belum lagi saat Minhyuk turun dari anak tangga sambil menggandeng dua bocah laki-laki yang tampak seumuran di kanan dan kirinya. Salah satu dari bocah itu melesat menghampiri Jungkook dan duduk dipangkuan pemuda itu. Sementara Minhyuk mengajak bocah yang masih bersamanya untuk duduk berdampingan.
        “Paman, ayo beli es krim.”
        “Apa? Dia keponakanmu?” Zico menatap Yoogeun dan Jungkook bergantian. “Aku pikir adikmu. Dia lebih pantas jadi adikmu.”
        “Yoogeun anak kakakku yang kedua. Ya sudah Hyung. Kami harus segera pulang.” Jungkook setelah berpamitan, mengajak Yoogeun untuk pergi dari sana. Menggandeng tangan Yoogeun dengan ceria seolah ia adalah kakak dari bocah itu.
        “Paman, kenapa tidak mengendarai apa-apa?” Yoogeun bertanya di tengah-tengah perjalanan mereka yang sudah melangkah jauh meninggalkan rumah Minhyuk.
        “Paman belum boleh membawa motor. Nanti kita naik bus saja. Dan membeli es krim di toko yang tidak jauh dari rumah saja. Sekalian untuk Jeongmin juga.” Jungkook memberikan pengertian kepada salah satu keponakannya itu.

***

        Hayoung menuju lantai bawah. Tempat para orang tua dari anak-anak yang berkumpul di lantai atas berada. Hayoung baru menyalami semua kakak beserta kakak iparnya di sana. Bahkan istri dari kakak lelakinya juga memperlakukannya seperti adik kecil.
        “Bibi Hyoyeon.. Leo ingin sereal katanya.” Krystal berseru dari arah tangga sambil menggandeng Leo menuruni anak tangga.
        Hampir semua para ibu menoleh ke tempat Krystal dan Leo muncul. Terutama Hyoyeon yang langsung menggengdong putra bungsunya itu. Sementara Jessica melirik Hayoung yang tampak pura-pura tidak mendengar ucapan Krystal yang berteriak bahwa Leo meninginkan sereal. Hayoung sibuk menenggak minuman dalam gelasnya.
        “Sereal milikmu masih ada?”
        “Eonnie… hanya tersisa satu. Besok aku bagaimana?” Hayoung mengeluh manja pada Jessica. Nyatanya, naluri anak bungsu yang manja tetap melekat pada diri Hayoung yang sudah berusia 21 tahun itu. “Kecuali aku harus membelinya lagi sekarang.”
        Jessica menyodorkan selembar uang pada Hayoung. “Pergi dengan Yukwon atau Hoseok.”
        “Aku bisa pergi sen…”
        “Dengan mereka atau tidak sama sekali.”
        Hayoung hanya memanyunkan bibirnya karena Jessica memotong ucapannya sekaligus melarangnya pergi ke luar seorang diri. Seperti itu. Hayoung tidak pernah dibiarkan ke luar sendiri. Bahkan selama sekolah, ia dan Hoseok tidak pernah terpisah. Kecuali saat kuliah karena jurusan yang ia dan Hoseok pilih berbeda. Tapi Hayoung tidak benar-benar bisa mandiri. Selalu ada Hoseok dan Yukwon yang bergantian pergi bersamanya ke kampus.
        Victoria yang mendengar percakapan Jessica dan Hayoung, ikut bicara. “Ada Yoongi di depan. Kamu pergi sama dia saja.”
        Dengan langkah berat, terpaksa Hayoung meninggalkan ruang makan. Victoria bahkan sudah sempat mengatakan hal tersebut pada Yoongi agar anak sulungnya itu menemani Hayoung. Saat melintas di hadapan kakak laki-lakinya pun, Hayoung tidak lepas dari perlakuan untuk anak-anak. Yunho dan Donghae bergantian mengusap kepala Hayoung penuh sayang. Saat berboncengan di atas motor, Hayoung melingkarkan tangannya di pinggang Yoongi yang membuat pemuda berusia 20 tahun itu memutar badannya menghadap Hayoung.
        “Apa tidak terlalu berlebihan?”
        “Bukannya kalian memang masih menganggapku anak kecil? Dan anak kecil harus seperti ini saat berboncengan naik motor.” Hayoung membalas protes yang dilancarkan Yoongi hingga membuat kakak dari Jongup itu terpaksa mengalah.

***

        Baru tiba di sebuah super market, Yoogeun sudah berlarian meninggalkan Jungkook.
        “Yoogeun, bukannya tadi ingin es krim?” Jungkook menunjuk frustasi tempat es krim berada. Benar-benar bertolak belakang dengan arah berlarinya Yoogeun. Dengan terpaksa ia menyusul Yoogeun yang justru membuatnya bertemu dengan Yoongi yang sedang sendiri. “Eh? Yoongi Hyung?”
        “Oh, Jungkook? Kamu sendirian?” Yoongi bertanya karena melihat tidak ada siapa-siapa di dekat Jungkook.
        “Dengan Yoogeun, keponakanku. Tadi dia lari ke sana. Hyung sendiri datang bersama siapa?”
        “Bagaimana ya menjelaskannya.” Yoongi mengacang belakang rambutnya saat mereka bicara sambil berjalan menuju arah yang diyakini Jungkook jalan yang dilewati Yoogeun tadi. Bocah itu bahkan sudah tidak terlihat. “Aku bersama Hayoung Noona.”
        “Ah.. kakaknya Hyung?”
        Yoongi menggeleng tegas. “Bukan. Dia itu adik bungsu ibuku. Tapi umurnya hanya setahun lebih tua dari aku. Dan sekarang dia juga menghilang. Apa jangan-jangan Noona sudah di tempat sereal?”
        Di tempat sereal, ternyata Yoogeun sudah bersama dengan Hayoung dan mereka tampak sangat akrab. Keranjang belanja Hayoung bahkan sudah penuh dengan kotak-kotak sereal. Ia juga mengambilkan kotak sereal yang tidak dapat terjangkau oleh tangan kecil Yoogeun.
        “Mau yang ada gambar gajah atau jerapah?”
        “Jerapah!” Yoogeun berseru penuh semangat sambil melompat-lompat kecil.
        Hayoung mengambilkan kotak tersebut dan memberikannya pada Yoogeun. “Berarti kita berbeda selera. Kamu suka susu coklat atau stroberi?” Hayoung bertanya lagi. Selayaknya teman sebaya sambil berjongkok untuk mensejajarkan tinggi badan mereka.
        “Aku suka vanilla.”
        Hayoung hanya nyengir mendengar jawaban Yoogeun yang bahkan tidak ia masukan ke dalam opsi pilihan.
        “Kwangmin dan Youngmin Hyung yang suka susu coklat. Illayda juga.”
        “Yoogeun! Ternyata kamu di sini.”
        Melihat kedatangan Yoongi dan Jungkook, Hayoung menegakkan badannya kembali. Yoogeun sendiri sudah berlarian menghampiri Jungkook dengan sekotak sereal ditangannya. Saat Yoongi menatap, Hayoung sedang meletakkan kotak sereal terakhirnya ke dalam keranjang belanja.

***

        Beberapa hari berlalu. Jungkook sempat melihat Hayoung duduk sendiri di halte depan kampus. Ia juga berada di sana untuk menunggu bus yang akan mengantarnya pulang. Namun mereka langsung sibuk dengan ponsel masing-masing.
        “Hoseok! Eonnie pasti marah jika aku pulang sendiri. Kemarin saja Yoongi disuruh menemaniku ke super market depan kompleks.”
        Jungkook dan beberapa orang lain di sana sedikit terkejut dengan suara keras Hayoung. Namun Jungkook dua kali lipat lebih tertarik dengan Hayoung karena gadis itu tadi menyebut nama Hoseok. Seseorang yang ia tahu adik dari Yukwon, teman salah satu kakaknya juga. Jungkook masih menatap Hayoung saat gadis itu akhirnya menoleh dan tatapannya jatuh ke tempat Jungkook berada. Lalu kemudian, sebuah bus datang. Beberapa orang sudah mulai meninggalkan halte dan hanya menyisakan Hayoung dengan Jungkook saja.
        “Tidak ikut naik?” Jungkook bertanya heran karena yang ia tahu, Hayoung adalah keluarganya Yoongi. Dan bus tadi mengarah ke daerah tempat tinggal Yoongi jika ternyata mereka tinggal bersama. Namun Hayoung hanya menatap Jungkook dengan wajah bingung.
        “Setahu aku, kamu keluarganya Yoongi Hyung. Dan mungkin saja kamu tinggal di rumah keluarganya Yoongi Hyung.”
        Jungkook sempat melempar tatapan ke arah lain. Mendadak ia gugup berhadapan dengan Hayoung. Selain mereka belum kenal, Jungkook juga menjadi merasa bersalah menanyakan hal yang cukup pribadi. Belum sempat Hayoung bersuara, dering ponsel Jungkook lebih dulu menyelak.
        “Apa? Noonaaa…” Reaksi kaget dan memohon ditunjukkan oleh Jungkook yang sedang berbicara dengan seseorang melalui telepon. “Tidak bisa Yuri Noona saja yang nanti menemaniku? Itu akan memalukan kalau aku harus ke toko mainan dan membeli boneka… Barbie.” Jungkook melirik Hayoung sambil memelankan suaranya. Tapi tampaknya tidak mungkin Hayoung tidak mendengar. Sedangkan halte sudah sangat sepi dan mereka hanya berdua.
        Kemudian giliran Hayoung kembali menerima sebuah panggilan. “Tidak ada yang bisa mengantar pulang. Yukwon masih harus di kampus sampai sore. Dan Hoseok sedang mengerjakan tugas dengan teman-teman sekelasnya. Aku juga tidak bisa menunggu, Eonnie. Aku butuh bukuku yang ada di rumah.” Hayoung memandang ponselnya dengan tatapan frustasi.
        “Maaf tentang pertanyaanku tadi.”
        Hayoung menoleh cepat. Tadi ia memang sempat ingin menjawab pertanyaan Jungkook mengenai dirinya dan Yoongi. Ia bisa saja pulang sendiri, dan Yoongi menjemputnya di depan kompleks rumah Jessica. Jadi seolah-olah, Yoongi yang benar-benar menjemput Hayoung dari kampus. Lalu kemudian Hayoung langsung menhubungi Yoongi yang ternyata tidak sesuai dengan harapannya.
        “Yoongi di luar kota. Bagaimana aku bisa pulang?” Hayoung bicara dengan dirinya sendiri.
        “Mau aku yang antar?” Jungkook sudah tidak bisa menunggu lebih lama. Ia juga membutuhkan bantuan Hayoung. “Tapi tolong temani aku dulu membelikan boneka untuk keponakanku.”

***

        Hayoung menatap penuh minat deretan boneka saat ia dan Jungkook tiba di sebuah toko mainan. Ia bahkan sudah mendahului Jungkook sampai ke dalam. Boneka-boneka tersebut penuh sampai menutupi dinding toko.
        “Kamu suka boneka atau mengoleksinya juga?” Jungkook sangat penasaran melihat antusias Hayoung terhadap boneka.
        “Kamarku bahkan sudah dipenuhi boneka-boneka. Kemarin Jihoon sempat memberikan boneka beruang. Lalu saat aku ulang tahun, Hoseok juga memberikan boneka beruang dengan ukuran besar.”
        Hayoung merentangkan tangan seolah menggambarkan besarnya boneka pemberian Hoseok. Jungkook hanya menatap penuh minat bahkan nyaris tidak berkedip. Benar-benar tidak ada yang disembunyikan cewek itu. Hayoung bahkan seakan tidak memedulikan tatapan orang-orang yang berada di sekitar sana. Namun Jungkook sendiri juga terlihat tidak terganggu dengan sikap kekanakan Hayoung.
        “Aku juga suka boneka Barbie. Dan yang paling aku suka adalah boneka pemberian Taehyung dan Jongup.” Hayoung memuji dua keponakannya itu. “Akh, mereka ternyata sangat perhatian padaku.”
        Jungkook hanya tersenyum menanggapinya. Suasananya hampir sama seperti saat ia mengajak Illayda ke toko pakaian. Anak itu sangat senang saat Jungkook mengajaknya ke sana. Lalu kemudian Hayoung teringat tujuannya berada di sana untuk menemani Jungkook. Bukannya sibuk sendiri mengagumi boneka-boneka yang sebagian besar bahkan sudah ia miliki di rumah. Saat menoleh, Jungkook memberikan kode padanya untuk menuju ke salah satu sudut toko yang memajang deretan boneka Barbie.
        Tanpa pikir panjang, Hayoung menyusul Jungkook menuju tempat yang dipenuhi deretan boneka Barbie. Dan pilihan Hayoung jatuh pada sebuah boneka yang berpenampilan seperti seorang Pop Star. Jungkook juga sama sekali tidak memprotes pilihan Hayoung. Ia hanya ingin cepat-cepat pergi dari sana karena tidak nyaman dengan tatapan aneh beberapa pengunjung di sana. Bisa saja mereka adalah pasangan muda yang baru menikah. Padahal tidak sama sekali. Jungkook saja bahkan baru berusia 18 tahun.
        “Tidak ingin membelikan bajunya juga?”
        Jungkook sudah lebih dulu melesat menuju meja kasir. Meninggalkan bahkan membiarkan Hayoung membawa kotak berisi boneka Barbie. Namun karena Hayoung sudah terlanjur melihat deretan pakaian untuk boneka tersebut, tanpa menunggu persetujuan Jungkook, ia ikut membawa beberapa buah pakaian Barbie yang bisa terjangkau tangannya.
        Hayoung dan Jungkook sudah berdiri di depan sebuah rumah. Hayoung dengan pikirannya yang menakjubkan karena bisa naik bus umum, sementara Jungkook sibuk menatap lurus ke arah rumah besar tersebut.
        “Ternyata naik bus umum tidak seburuk itu. Harusnya Eonnie tidak perlu khawatir jika aku pulang sendiri lain kali.”
        Jungkook seperti tidak mendengar ucapan Hayoung. Tapi ia tetap menoleh ke tempat gadis itu berada dengan tatapan yang sulit diartikan. Pikirannya bercabang ke mana-mana.
        “Yang aku tahu ini rumah Yukwon Hyung. Dan kalau kamu tinggal di sini juga, apa hubunganmu dengan Yukwon Hyung sudah sejauh itu?”
        “Apa?”
        Hayoung menatap Jungkook penuh protes. Ucapan Jungkook mengarah ke sesuatu yang negative. Memang sulit dipercaya jika Yukwon adalah keponakan Hayoung yang bahkan umurnya lebih tua dari gadis itu.
        “Ibunya Yukwon adalah kakak kandungku. Terserah kamu mau percaya atau tidak.”
        Jungkook hanya menatap punggung Hayoung yang sudah lebih dulu meninggalkannya dan masuk ke dalam rumah. Jungkook bahkan belum sempat mengucapkan terima kasih karena Hayoung telah membantunya tadi. Jungkook hanya menatap hampa tas plastik di tangannya sambil memutar badan dan berniat meninggalkan tempat itu. Tepat saat seorang pemuda melintas dengan sepeda motornya dan berhenti di depan rumah Hayoung.
        “Ibu! Hayoung sudah pulang atau belum?”
        Yukwon berteriak sambil berlari ke arah pintu utama. Bertepatan saat Jessica ternyata memunculkan diri setelah mendengar suara keras Yukwon. Suara Yukwon juga sampai ke telinga Jungkook hingga membuat pemuda itu menghentikan langkah.
        “Yukwon! Yang sopan memanggil Hayoung. Biar bagaimana pun dia bibimu!”
        “Iya iya, Bu. Aku hanya khawatir Noona ternyata sudah pulang. Dia pulang sama siapa? Hoseok?”

***

        Pagi hari keesokannya, Jungkook sudah rapi dan bersiap untuk ke luar sambil menunggu panggilannya dijawab. Tas karton berisi boneka Barbie yang ia beli kemarin juga sudah siap di atas tempat tidur.
        “Noona, hari ini aku libur dan rencananya ingin ke rumahmu. Tapi mungkin sedikit sore karena aku ingin menemui temanku dulu.”
        Sekitar setengah jam kemudian, Jungkook tiba di sebuah café yang berada pada sebuah pusat perbelanjaan. Di sana sudah menunggu seorang gadis yang seumuran dengan Jungkook meski pembawaan gadis itu sedikit lebih dewasa dari pada seharusnya.
        “Aahh.. rasanya sudah lama tidak makan es krim seperti ini.”
        Jungkook yang sudah duduk berhadapan dengan Eunji hanya tersenyum menanggapi reaksi gadis itu. Ia juga sudah sempat menyicipi sesendok es krim vanilla kesukaannya.
        “Pertemuan berikutnya, kamu yang traktir kan?” Jungkook menatap jahil.
        Eunji menatap malas pemuda di depannya setelah berusaha menyeka dengan anggun tepi bibirnya yang sedikit belepotan es krim. Namun tampaknya Jungkook yang menjadi tidak nyaman dengan sikap Eunji. Rasanya gadis itu seperti menjadi orang lain. Terlihat dipaksakan.
        “Itu sudah jadi kesepakatan kita kan?”
        Kemudian Eunji kembali menikmati es krim miliknya. Sementara dari arah pintu tampak segerombolan pemuda memasuki café yang sontak membuat Eunji seperti memperbaiki diri. Tidak ingin terlihat jelek jika salah satu dari mereka sempat melirik pada Eunji nantinya. Tapi hal itu justru membuat Jungkook merasa jengah. Ia menatap kecewa perubahan sikap Eunji.
        “Berhenti seperti itu. Kamu bukan seperti Eunji yang selama ini aku kenal.”
        “Ayolah Jungkook. Kita sudah berada difase menuju kedewasaan. Naeun, Chorong, dan Bomi bahkan sudah memiliki pacar. Hanya aku saja yang masih sendiri. Dan jika aku masih bersikap seperti anak kecil, mungkin Minhyuk Oppa akan menjauhiku.”
        Cih. Lagi-lagi karena pemuda itu. Jungkook bahkan sudah mengenalnya luar dan dalam. Pesona Minhyuk membuat para gadis tidak bisa menjadi diri mereka sendiri. Eunji menjadi salah satunya. Tapi Eunji tidak tahu jika gerombolan pemuda yang ia lihat ada diantaranya adalah teman Jungkook. Jungkook juga baru menyadari itu saat ia menangkap sosok Hayoung yang membawa baki berisi gelas-gelas es krim ke meja pemuda-pemuda tadi. Hoseok, Jihoon, Taehyung, Jimin, dan Jongup. Ternyata Yukwon juga menyusul ke sana dan langsung bergabung.
        Berbeda dengan apa yang terjadi pada Eunji. Hayoung bebas memain-mainkan sendok es krim dimulutnya. Tidak juga merasa terganggu saat Yukwon senang sekali mengacak rambutnya hingga sedikit berantakan. Suasana ramai langsung terjadi. Taehyung mengulurkan tangannya dan berniat menyuapi Hoseok, tapi karena reaksi Jongup yang sedikit berlebihan membuat tangan Taehyung yang memegang sendok es krim menjadi goyah dan akhirnya mengenai bagian pipi Hayoung. Hayoung sontak melempar tatapan membunuh. Melihat itu Taehyung buru-buru menyodorkan selembar tissue. Hayoung menyambarnya sedikit kasar lalu menyeka pipinya yang berlumuran es krim.
        “Bisa lembut sedikit tidak sih?”
        Yukwon yang gemas, merebut tissue tersebut dari tangan Hayoung untuk mencontohkan cara yang baik sebagai seorang perempuan. Hayoung diam saja saat Yukwon mengusapkan lembut tissue tersebut ke pipinya. Tapi Yukwon juga yang justru merusak suasana dengan menertawai sikapnya sendiri.
        “Itu apa?”
        Suara Eunji membuyarkan pikiran Jungkook yang sejak tadi memperhatikan Hayoung dan para pemuda itu. Saat menoleh ternyata Eunji sudah mengintip ke dalam bungkusan kado untuk Illayda. Jungkook tidak ingin mengganggu ketika Eunji mulai mengintip ke dalam tas karton tersebut.
        “Waah.. Barbie. Semua boneka milikku sudah kuberikan pada orang lain.”
        Jungkook hanya menatap datar wajah sedih Eunji saat melihat mainan untuk anak perempuan tersebut. Berbanding terbalik dengan Hayoung yang masih menyimpan koleksi boneka sesuka hatinya.

***

        “Hyung jadi pergi sekarang?”
        Yukwon hanya mengangguk menanggapi pertanyaan Hoseok tadi. Mereka juga masih di café yang sama. Berbeda dengan Jungkook dan Eunji yang sudah meninggalkan tempat itu. Tapi para pemuda dan Hayoung tidak menyadari kapan mereka pergi.
        “Aku akan memulai proyek kecil dengan temanku. Jadi sepertinya nanti malam aku tidak pulang. Ayah dan ibu juga sudah tahu tentang rencanaku.” Yukwon lalu mencomot kentang goreng dan memasukkan ke dalam mulutnya.
        “Noona, ikut pulang denganku saja. Nanti malam juga Hoseok Hyung akan menginap di rumah temannya kan? Dan Junhong sedang pergi berkemah sampai lusa.” Taehyung berseru penuh semangat. Tapi Hayoung justru menatapnya datar.
        Yukwon menunggu dengan khawatir. Hayoung dan Taehyung sebenernya sedikit sulit untuk disatukan. Taehyung yang jahil, dan Hayoung yang kekanakan. Mereka adalah kombinasi yang mencemaskan. Jika Hayoung menginap di rumah Kyuhyun, akan berakhir dengan tangisan Leo karena Taehyung menganggunya yang ditinggal bermain juga dengan Dayoung yang justru sibuk bermain dengan Hayoung.
        Tanpa menunggu apa-apa lagi, Yukwon kemudian berdiri karena bisa dipastikan Hayoung akan menolak ajakan Taehyung. “Kamu di rumah saja. Kalau ada sesuatu, telepon aku. Hoseok, aku duluan. Kalian semua juga.”
        Hayoung diantar pulang menggunakan motor oleh Hoseok. Sama seperti saat berboncengan dengan Yoongi, Hayoung melingkarkan tangannya ke pinggang Hoseok. Tapi Hoseok tidak terlalu ambil pusing karena mereka sudah biasa seperti itu. Sementara Taehyung, Jimin dan Jongup juga sudah langsung pulang ke rumah masing-masing setelah dari café tadi.
        “Aku langsung pergi lagi ya.”
        “Hati-hati.”
        Hayoung menatap punggung Hoseok yang sudah semakin menjauh. Ia memasuki rumah dan bertemu dengan Krystal di pintu. Dan Hayoung baru menyadari bahwa ada sebuah mobil di depan rumah.
        “Waah, kamu udah berani bawa mobil sampai ke sini?”
        Krystal sama sekali tidak antusias menanggapi ledekan Hayoung dan memilih untuk menghempaskan tubuh ke kursi. Hayoung juga langsung membungkam mulutnya melihat reaksi Krystal, ia lalu perlahan menempatkan diri di samping Krystal.
        “Aku bukannya tidak ikhlas menjemput bibi Jessica dan paman Hyukjae ke sini. Tapi karena aku anak sulung, aku dituntut harus bisa melakukan segalanya. Termasuk menyetir mobil.”
        “Menjemput?”
        Krystal menoleh dan mendapati Hayoung menatapnya keheranan. “Mereka dan orang tuaku akan ke kampung. Kakekku meninggal.” Yang Krystal maksud adalah ayah dari ibunya, Sooyoung. Sooyoung dan Hyukjae juga masih memiliki hubungan keluarga. Dan jika Hyukjae pergi, kemungkinan besar Jessica juga ikut menemani suaminya.

***

        “Kibum Hyung. Taeyeon Noona bilang Yuri Noona akan melahirkan. Jam berapa Noona masuk rumah sakit?”
        Seorang pria bernama Kibum menghampiri Jungkook yang baru tiba. “Sekitar satu jam yang lalu. Tapi Yuri masih di dalam.”
        Jungkook bisa bernapas lega sesaat. Sebelum akhirnya, ia teringat anak bungsu Kibum dan Yuri. “Lauren mana, Hyung?”
        “Aah, dia kutitipkan pada Yukwon.”
        Kibum cukup santai menanggapi pertanyaan Jungkook. Namun tidak untuk pemuda itu yang sontak melebarkan matanya. “Bagaimana bisa Lauren dititipkan pada Yukwon Hyung?”
        Jungkook langsung teringat pada Hayoung. Saat di café, Jungkook mendengar jika Yukwon sedang mengerjakan proyek dengan temannya. Seharusnya Jungkook memang sudah pergi dari café, tapi mainan Illayda tertinggal sehingga ia harus kembali untuk mengambilnya dan mendengar pembicaraan Yukwon tersebut.
        “Yukwon sudah menawarkan diri kemarin. Sebenarnya aku juga sedikit tak enak padanya. Tapi nampaknya Lauren cukup nyaman.. hei, Jungkook!”
        Jungkook sudah melesat pergi bahkan ia tidak mendengarkan cerita Kibum. Kecuali saat kakak iparnya itu meneriaki namanya. Tapi Jungkook lebih memilih terus berlari. Tujuannya adalah menuju rumah Hayoung.
        Sementara di rumahnya, Hayoung duduk sendiri di meja makan. Menatap hampa permukaan meja yang kosong. Baru beberapa menit yang lalu Jessica dan Hyukjae pergi bersama Krystal. Ternyata Hoseok berbohong tentang ia sudah mengabari Jessica jika ia akan menginap di tempat temannya.
        Apa artinya ini adalah kesempatan? Kesempatan untuk Hayoung melakukan sesuatu yang belum pernah ia lakukan selama ini. Namun akhirnya Hayoung menelungkupkan wajah ke atas meja dengan frustasi. Rasa takut langsung menguasainya. Tapi tidak berlangsung lama karena Hayoung tampak bangkit dan melesat ke luar setelah mendengar suara deru mesin motor Yukwon.
        “Aku tau kamu pasti…”
        Hayoung tidak langsung menyelesaikan ucapannya karena Yukwon ternyata tidak datang seorang diri. Ia bersama seorang gadis cilik yang berdiri memegangi kaki Yukwon dengan malu-malu.
        “Kamu nggak mengencani anak kecil kan? Tapi bukannya kamu sedang ada…”
        Yukwon menatap Hayoung tajam hingga sukses membuat gadis itu bungkam. “Noona! Hati-hati kalau bicara. Ibunya Lauren sedang melahirkan dan tidak ada yang bisa menjaganya. Karena Jungkook juga sedang tidak ada, makanya kupikir aku bisa meminta bantuanmu.”
        Yukwon berjalan melewati Hayoung. Di tangan kanannya ia menggandeng Lauren, sementara tangannya yang lain menenteng sebuah tas bergambar Princess Sofia dan bisa dipastikan itu milik Lauren.
        Hayoung segera menyusul Yukwon ke dalam. “Yukwon!”
        Yukwon mengajak Lauren ke lantai atas dan menyalakan televisi. Berusaha membuat Lauren nyaman berada di sana. Ia bahkan mengeluarkan beberapa camilan untuk gadis kecil itu. Membukakan susu kotak rasa coklat dan menyodorkannya pada Lauren. Saat itu Hayoung juga menyusul ke atas dan memantau mereka dari atas tangga.
        “Aku nitip Lauren sebentar ya. Janji deh tidak sampai malam.”
        Hayoung membulatkan mata, bahkan mulutnya juga sudah sedikit terbuka. “Aku juga sendiri di rumah. Eonnie dan Oppa ke kampung. Ayahnya Sooyoung Eonnie meninggal. Dan.. dua adikmu juga tidak akan pulang sampai besok.”
        Yukwon membeku. Mulutnya sudah terbuka, namun ia sulit mengeluarkan sebuah kata sekali pun. Semuanya diluar dugaan. Dan rencananya merencanakan proyek juga menjadi sedikit berantakan. Yukwon sudah mengacak rambutnya, frustasi. Saat melirik jam tangannya, Yukwon sontak berdiri cepat.
        “Noona aku mohon. Anggap saja Lauren seperti temanmu. Dia juga anak yang baik dan aku bisa pastikan Lauren tidak akan merepotkanmu. Dan sebagai gantinya, aku akan kasih kamu apapun yang kamu mau. Boneka, sereal, aksesoris, film kartun.”
        Yukwon mengabsen deretan hal yang sangat disukai Hayoung. Sambil perlahan melangkah mendekat dan sesekali ia mengawasi Lauren yang sudah tenggelam dengan suguhan Yukwon. Hayoung juga menunjukkan tatapan penuh permohonan agar Yukwon tidak meninggalkannya hanya berdua dengan Lauren.
        “Aku sayang Noona.”
        “Yukwon!”
        Hayoung menjerit tertahan. Bukan karena kecupan kilat Yukwon di pipinya. Tapi karena Yukwon bahkan sudah berlari melesat meninggalkan rumah. Dan Hayoung hanya bisa menghentakkan kakinya dengan kesal. Tidak mungkin ia menunjukkan amarahnya sementara ada Lauren di sana. Gadis kecil itu bahkan belum genap berusia 5 tahun.
        Dengan lemah, Hayoung melirik ke tempat Lauren. Gadis kecil itu tampak sudah berdiri dan menatap berkeliling dengan resah. Hayoung segera melesat ke dalam kamarnya lalu kembali ke luar sambil membawa beberapa boneka miliknya sebelum Lauren benar-benar menangis.
        “Ayo kita main. Kamu suka yang mana?”
        Malu-malu Lauren mengarahkan tangannya ke sebuah boneka Twetty dalam pelukan Hayoung. Hayoung akhirnya bisa bernapas lega setelah ia memberikan boneka tersebut yang langsung didekap erat oleh Lauren.
        “Aah.. Noona juga punya boneka Barbie, kamu mau main?”
        Lauren hanya mengangguk kecil dan Hayoung segera masuk kembali ke kamarnya untuk mengambil boneka yang banyak digemari oleh anak-anak kecil tersebut.

***


Rabu, 01 Oktober 2014

Oh My School (chapter 11)

"You Not You”
 

Author      : N-Annisa (@nniissaa11)
Cast          :
·        Jung Hyerim (A-Pink)
·        Kim Seok Jin (BTS)
·        Kim Himchan (BAP)

·        Jung Taekwoon (VIXX)
·        Choi Minho (SHINee)
·        Lee Minhyuk (BtoB)
Genre       : Life school, teen romance, tragedy
Length      : Chapter

***

        Taekwoon merentangkan salah satu tangannya sebagai tanda untuk menyuruh Minhyuk dan Ho Seok agar berhenti. Sementara di depan sana, mereka melihat Sungjae berdiri di depan meja informasi. Mereka benar-benar mengejar Sungjae sampai tempat tersebut. Sebuah rumah sakit.
        “Padahal kita kemarin di sini, Taek.” Minhyuk, ia berujar seperti menyesali sesuatu.
        Taekwoon tidak langsung menjawab meski ia cukup sependapat dengan Minhyuk. Lalu kemudian, Sungjae tampak kembali melanjutkan langkah dan terlihat seperti tidak mendapatkan apa yang ia cari.
        Sampai detik ini Sungjae sepertinya sama sekali tidak menyadari keberadaan Taekwoon, Minhyuk dan Ho Seok yang mengikutinya.
        “Lo yakin kalau cewek itu Jung Eun Ji?” seru Sungjae pada seseorang berpakaian dokter di sana. Dan kali ini, suaranya bisa terdengar sampai ke telinga 3 pemuda di belakangnya.
        “Lo pikir gue nggak kenal cewek yang namanya Eun Ji itu?” Dokter tersebut membalas ucapan Sungjae. Tidak terima jika anak sekolah seperti Sungjae merendahkannya.
        “Masalahnya, nggak ada nama Eun Ji di daftar pasien. Gue udah tanya tadi.” Sungjae juga tidak mau terlihat kalah.
        Dokter tersebut terlihat berpikir. “Memang ada yang aneh di sini.” Ia kemudian berbalik dan membiarkan Sungjae untuk mengikuti langkahnya.
        Tidak tinggal diam. Taekwoon, Minhyuk juga Ho Seok kembali melangkah seiring bergeraknya tubuh tinggi Sungjae. Tidak terlalu jauh dari sana. Setelah berbelok, dokter tadi membuka salah satu pintu ruang perawatan. Ia dan Sungjae segera masuk ke dalam.
        “Kita ikut masuk nggak, nih?” seru Ho Seok meminta pendapat dua kakak kelasnya yang hanya diam di depan pintu tersebut.
        Minhyuk menempelkan telinganya pada daun pintu. Sementara Taekwoon menunggu sambil memikirkan sesuatu.
        Di sisi lain, Sungjae melihat sosok terbaring lemah tersebut. Dengan selang infuse yang tertancap di tangannya, dan sebuah perban melingkar di kepala cewek itu. Sosok dengan mata terpejam tersebut adalah Jung Hyerim.
        “Udah percaya sama gue, kan?” seru dokter tadi memecah keheningan.
        Sungjae tidak begitu saja melemparkan tatapan pada dokter itu. Kini matanya tertuju pada catatan milik Hyerim yang terletak pada ujung tempat tidur cewek itu. Tertera nama Eun Ji di sana sebagai pendonor darah untuk Hyerim.
        “Eun Ji bahkan yang ngedonorin darah untuk cewek ini!” tunjuk Sungjae pada Hyerim. Ucapannya yang cukup keras, membuat 3 cowok yang sejak tadi mengikutinya, menerobos masuk ke dalam sana. Membuat keterkejutan Sungjae bertambah.
        Minhyuk yang muncul pertama kali dan langsung menuju tempat tidur Hyerim. Memastikan sendiri keadaan cewek itu.
        “Kenapa kalian bertiga bisa ada di sini juga?” desis Sungjae dengan nada tak suka.
        Taekwoon tidak terlalu mempedulikan Sungjae. Karena ia lebih tertarik melihat kondisi Hyerim. Dan saat itu, Minhyuk terlihat menyentuh tangan Hyerim yang tidak tertusuk jarum infuse.
        “Sial!” terdengar Minhyuk memaki pelan. Ia kemudian menoleh ke arah Taekwoon dan Ho Seok secara bergantin. “Kenapa gue nggak kepikiran dari tadi? Cincin ini.” Minhyuk menunjukkan sebuah cincin yang melingkar di jari manis Hyerim.
        Taekwoon langsung mengerti akan arah bicara Minhyuk. Ia lalu melempar tatapan pada Sungjae dengan penuh selidik. Melupakan sesaat tentang aksi kejam yang pernah dilakukan seorang Sungjae.
        “Bisa jelasin kenapa Hyerim ada di sini?” tukas Taekwoon akhirnya.
        Sungjae melimpahkan kembali hal tersebut pada dokter yang berdiri di samping Taekwoon. Jelas saja karena ia tidak tahu apa-apa tentang kejadian yang menimpa Hyerim.
        “Seok, cari tahu tentang Hyerim kenapa bisa sampai di sini?” ujar Minhyuk setengah memerintah pada Ho Seok yang langsung saja dilakukan oleh cowok itu.
        Sungjae menatap punggung Ho Seok yang meninggalkan ruangan. Ia teringat akan ucapan salah satu teman sekelasnya itu. Bahwa di SMA Paradise sudah tidak ada siswi bernama Eun Ji. Tapi Hyerim. Sungjae lalu melirik ke tempat Hyerim berada. Minhyuk dan Taekwoon berada di kedua sisinya.
        “Jadi selama ini gue salah orang?” gumam Sungjae dalam hati.

***

        Seok Jin duduk di tepi tempat tidur ruang kesehatan dengan kaki menjuntai ke bawah. Sementara tatapannya luruh ke arah dua orang yang duduk di depannya. Jungkook dan Eun Ji.
        “Jadi, di mana Hyerim sekarang?” Seok Jin berujar pelan. Namun terdengar cukup menuntut.
        Jungkook sempat melirik Eun Ji. Sedikit merasa bersalah karena ia juga terlibat di sini. Terlibat membantu Eun Ji untuk menyamar sebagai Hyerim. Namun tak disangka semuanya terbongkar bahkan dihari pertama Eun Ji menggantikan Hyerim.
        Terdengar Eun Ji mendesah berat sebelum akhirnya berujar, “gue memang Eun Ji.”
        Mata Seok Jin terlihat membulat. Tentu ia cukup terkejut mendengarnya. Eun Ji benar-benar ada di hadapannya sekarang ini. Dan setelahnya, tampak pintu terbuka dengan kasar. Memunculkan Himchan di sana.
        Himchan mengedarkan pandangan pada orang-orang yang terkejut dengan kedatangannya ke sana. Bisa dipastikan Himchan baru saja mendengar pernyataan Eun Ji.
        “Kalau memang lo Eun Ji, terus di mana Hyerim?” Himchan melemparkan pertanyaan serupa seperti yang dilontarkan Seok Jin.
        “Hyerim di rumah sakit. Dia kecelakaan karena nolongin Yura yang nyaris ketabrak mobil gue.”
        “Yura?” seru Himchan memastikan ucapan Eun Ji.
        “Iya. Yura adik lo.”
        Ditengah-tengah keterkejutannya, sempat terlintas oleh Seok Jin kejadian beberapa saat lalu. Saat ia ditinggalkan oleh Taekwoon, Ho Seok dan Minhyuk yang mengejar Sungjae. Seok Jin memeriksa saku celananya dan berniat untuk mengeluarkan ponsel. Ia bahkan sampai melompat turun untuk memudahkannya mengambil ponsel. Namun yang terjadi, Seok Jin justru semakin meringis kesakitan. Ia lupa jika kakinya masih terkilir.
        “Akh, kaki gue.” Seok Jin meringis di atas lantai sambil memegangi kaki kanannya.
        Himchan terlihat mendekati Seok Jin karena Eun Ji dan Jungkook tampak tidak melakukan apa-apa untuk menolong Seok Jin.
        “Jin lo nggak pa-pa?” tanya Himchan. Ia sampai membantu Seok Jin untuk kembali duduk di atas tempat tidur. “Kok kalian diem aja, sih?” protesnya. Kali ini untuk Eun Ji dan Jungkook yang masih terlihat seperti tidak terjadi apa-apa pada Seok Jin. “Kalau terjadi sesuatu sama Jin gimana?”
        “Kita malah udah tahu kalau kakinya Kak Jin terkilir,” ujar Jungkook dengan nada polos.
        Seok Jin menatap Jungkook, kesal. Sementara Himchan melempar tatapan bingung. Sedangkan Eun Ji terkekeh kecil mendengarnya.
        “Dianya aja yang nggak nyadar diri,” timpal Eun Ji. Masih sambil terkekeh pelan.
        “Ya udah.. ya udah.. gue telepon Minhyuk dulu,” ujar Seok Jin sekaligus untuk mengalihkan suasana.

***

        Minhyuk mendongak pada Taekwoon saat mendapati Jin menelepon ke ponselnya. “Jin,” kata Minhyuk sesaat sebelum akhirnya menjawab panggilan tersebut.
        “Jangan bilang kalau Hyerim yang ada di rumah sakit sekarang!” desak Seok Jin. Bahkan Minhyuk belum berujar sepatah kata pun saat menjawab panggilannya.
        “I… iya… yang ada di sekolah memang Kak Eun Ji.” Terdengar Jungkook berujar. Ho Seok yang sedikit lebih dulu meneleponnya sebelum Seok Jin berbicara tadi.
        Dan sekarang, seluruh mata menatap Jungkook penuh minat. Terutama Himchan yang benar-benar tertarik dengan obrolan Jungkook bersama Ho Seok tersebut.
        “Itu siapa? Dan di mana Hyerim dirawat?” seru Himchan, tak sabar. Ia benar-benar menuntut jawaban pada Jungkook. Sementara Seok Jin justru seakan mengabaikan sambungan teleponnya bersama Minhyuk karena sama tertariknya seperti Himchan pada Jungkook.
        Seok Jin meraih pundak Himchan dengan cepat. “Tahan dulu, Him.” Ia melihat Himchan seakan ingin menyerang Jungkook. Atau lebih tepatnya untuk memaksa Jungkook memberi tahu tentang Hyerim.
        Di tempatnya berada, Ho Seok kembali membuka pintu kamar rawat Hyerim. Namun ia tetap berdiri di ambangnya tanpa berniat masuk. “Jadi lo udah tahu tentang Kak Hyerim dan Kak Eun Ji?” Ho Seok bertanya, namun tatapannya terlempar pada Taekwoon dan Minhyuk secara bergantian.
        “Siapa?” tanya Minhyuk tanpa suara. Jelas ia penasaran dengan seseorang yang dihubungi Ho Seok yang bisa dipastikan tepat sasaran untuk ditanyai tentang dua cewek yang memiliki kemiripan wajah tersebut.
        “Jungkook,” ujar Ho Seok pelan.
        Mendengar nama adik kelas mereka disebut, Taekwoon dan Minhyuk sontak saling melempar pandangan. Cukup tak percaya meski untuk Taekwoon sendiri hal tersebut tidak terlalu mustahil mengingat Jungkook memang orang pertama yang ditemui oleh Eun Ji.
        “Iya, maaf.” Jungkook berujar lirih. “Ini permintaan Kak Eun Ji. Tapi gue juga nggak bisa nyalahin dia.” Jungkook lalu melirik ke tempat Eun Ji berada. Cewek itu tampak menghindari tatapan dari siapa pun.
        Lalu kemudian, Ho Seok mematikan sambungan teleponnya dengan Jungkook. Ia melangkah mendekat ke arah Sungjae. Sementara Sungjae membalas tatapan Ho Seok tanpa ingin terlihat kalah.
        “Udah jelas kan kalau selama ini lo salah orang?” desis Ho Seok, dingin. Ia mengarahkan jari telunjuknya pada Hyerim yang masih belum sadarkan diri. “Dia bukan Jung Eun Ji. Tapi Hyerim.”
        Tanpa berkomentar apa-apa, Sungjae melangkah pergi dari sana. Ia bahkan masih sempat menubruk pundak Ho Seok. Dokter yang ada di sana juga mengikuti langkah Ho Seok untuk pergi ke luar. Sementara Ho Seok sudah ingin mengejar Sungjae karena kesal cowok itu telah menabraknya.
        “Seok, udah!” seru Taekwoon yang bahkan sampai menahan pundak Ho Seok agar tidak mengejar Sungjae. “Lo jangan macem-macem sama Sungjae.” Taekwoon benar-benar memperingatkan karena ia mengetahui seperti apa Sungjae.

***

        Hyerim masih belum sadarkan diri. Sementara Taekwoon, Minhyuk dan Ho Seok masih menunggu di sana setelah Sungjae meninggalkan kamar rawat Hyerim. Ke tiganya hanya duduk diam tanpa mengeluarkan sepatah kata pun. Tentu karena mereka juga ingin menjaga ketenangan di sana.
        Taekwoon dan Ho Seok duduk di sofa. Sedangkan Minhyuk memilih duduk di kursi dekat tempat Hyerim berbaring. Sambil memandangi wajah pucat teman semeja yang juga sahabat baiknya. Sesekali Minhyuk juga mengusap lembut punggung tangan Hyerim. Seakan berusaha memberikan kekutan dan menunjukkan jika ia ada di sana. Di samping Hyerim meski cewek itu sedang tidak dalam kondisi sadarkan diri.
        Taekwoon sempat memeriksa ponselnya karena Hayoung mengirimi sebuah pesan. Sedetik kemudian, ia mendesah berat. “Siap-siap nambah hari untuk kerja sosial.”
        Ho Seok menoleh cepat ke tempat Taekwoon berada. Jelas ia sedikit syok mendengar kata-kata tersebut. Dan tanpa bisa berkata apa-apa, Ho Seok menghempaskan kembali punggungnya ke sandaran sofa dengan lesu.
        Sementara Minhyuk hanya bisa memejamkan mata sesaat. Berusaha menerima dari sekarang hukuman yang akan ia jalani nantinya di sekolah. Tentu tidak mungkin kaburnya Minhyuk bersama Taekwoon dan Ho Seok bisa mulus tanpa ada yang mencurigai. Terlebih Minhyuk sendiri adalah adik kandung dari sang kepala sekolah. Yoon Doojoon.

***

        SMA Paradise. Di sana baru saja memasuki istirahat ke dua. Di saat siswa lain mulai meninggalkan kelas, terlihat hanya Seok Jin yang tidak melakukan apa-apa sejak beberapa menit bahkan sebelum bu guru Victoria meninggalkan ruang kelas 3. Selain karena kondisi kakinya yang masih terasa sakit, Seok Jin memang sangat mengkhawatirkan kondisi Hyerim yang belum bisa ia temui. Apa lagi sudah bisa dipastikan bahwa Hyerim benar-benar habis mengalami kecelakaan.
        Di sisi lain, Himchan menjadi salah satu siswa yang sudah melesat meninggalkan kelas. Minho sendiri memang kembali ke kelas tersebut. Duduk di samping Himchan. Dan saat melihat teman semejanya ke luar kelas, Minho sudah ingin menyusul. Namun saat menangkap sosok Eun Ji di depan kelas, Minho benar-benar membatalkan niat.
        Sempat kembali melirik sosok Himchan sebelum Himchan menghilang di luar pintu. Lalu kemudian Minho menolehkan lagi kepalanya ke arah Eun Ji yang sedang membereskan perlengkapan sekolahnya. Melihat itu membuat Minho kembali gusar karena tidak bisa memastikan bahwa cewek itu Eun Ji atau Hyerim. Sementara itu, tidak ada yang bisa ia tanyai tentang kebenaran hal tersebut.
        Tidak ingin berlama-lama di sana, Minho memutuskan untuk meninggalkan kelas. Ia juga tidak ingin terlibat kesalah pahaman jika Himchan akhirnya mengira ia memperhatikan Eun Ji yang ia pikir sebagai Hyerim.
        Tepat bersamaan dengan ke luarnya Minho dari dalam kelas, Krystal memunculkan diri di sana. Ia sempat menatap takjub sosok kakak kelas yang sudah cukup lama tidak ia lihat keberadaannya.
        Di saat Krystal sibuk memperhatikan Minho, ternyata ada seseorang yang juga melakukan hal yang sama pada Krystal. Dongwoo. Ia menatap adik kelasnya itu dengan tatapan menggoda.
        “Tau aja kalau Minhyuk lagi nggak ada.” Suara Dongwoo sukses mengejutkan Krystal yang juga sukses membuatnya tertawa. “Makanya lo berani main ke sini,” lanjutnya masih sambil menahan tawa.
        Krystal menatap Dongwoo, horror. “Terus, nggak boleh gue main ke sini?” desis Krystal. Kesal dengan sambutan Dongwoo padanya. Dan cewek itu memilih meninggalkan Dongwoo yang masih saja terkekeh. Ia menghampiri Seok Jin yang bahkan tidak menyadari saat Krystal sudah duduk menempati kursi milik Dongwoo.
        “Kak Jin.” Krystal bersuara sangat pelan. Seolah tidak ingin membuat Seok Jin terganggu sedikit pun karena suaranya.
        Seok Jin menoleh perlahan. Begitu terkejutnya cowok itu mendapati seorang Krystal di sana. Seok Jin bahkan sampai tidak melepaskan tatapannya sedikit pun pada Krystal hingga membuat cewek itu tak nyaman.
        “Kak Jin,” gumam Krystal sambil melirik ke kanan dan ke kiri. Beberapa pasang mata mulai mencuri pandang pada mereka. Memang cukup mengejutkan mendapati Krystal yang terkenal sebagai fans nomor satu sang kepala sekolah, mendatangi cowok lain. Dalam hal ini adalah Seok Jin yang menjadi cowok tersebut.
        Sementara Seok Jin sendiri tampaknya tidak terlalu ambil pusing dengan reaksi dari teman-teman sekelasnya tersebut. “Kok lo bisa…”
        Krystal sudah lebih dulu menyelak ucapan Seok Jin. “Kata Hayoung, Kak Jin jatoh dari tembok belakang sekolah?” Krystal bertanya tanpa sedikit pun melirik ke tempat Seok Jin.
        Mendengar Krystal yang secara tidak langsung mengkhawatirkannya, Seok Jin hanya mampu meneguk ludah. Sementara tatapannya ia alihkan lurus ke depan.
        Di sisi lain, Krystal justru teringat candaan Namjoon yang menggodanya saat melihat Hyerim memeluk Seok Jin. Cewek itu mengibas-ngibaskan tangan di depan wajahnya yang tiba-tiba terasa panas.
        “Syukur dek kalau Kak Jin baik-baik aja.”
        Seok Jin menoleh cepat. Seok Jin bahkan belum memberikan jawaban dari pertanyaan Krystal tersebut. Dan ia justru mendapati Krystal sudah berdiri. Bahkan sedetik kemudian, Krystal sudah melangkah pergi dari sana. Seok Jin hanya menatap bingung punggung Krystal yang semakin menjauh bahkan menghilang di luar kelas.

***

        “Aku mendapat laporan bahwa ada beberapa murid yang kabur sejak jam istirahat pertama. Jung Taekwoon, Lee Minhyuk, Jung Ho Seok, dan Yook Sungjae.”
        Langkah kaki Minho berhenti secara tidak terduga saat ia melintas di depan ruang guru. Bukan hanya berita yang disampaikan salah satu guru di SMA Paradise tersebut. Tapi juga karena suara dan nada bicara orang tersebut yang sangat familiar baginya.
        “Ada kejadian yang lo inget di sini?”
        Minho sedikit terkejut dan membalikkan badan dengan cepat karena mendengar suara seseorang yang berbicara tepat di belakangnya. Minho menemukan sosok Cheondung di sana. Selama beberapa saat, Minho sama sekali tidak merespon pertanyaan Cheondung. Selain ia juga sibuk berpikir alasan yang tepat agar cowok yang ia kenal di SMA Destiny itu tidak menaruh curiga berlebihan padanya.
        “Kayaknya sih gue sering ke sini. Apa dulu gue bandel kali, ya? Jadi, sering disidang di ruang guru?” Minho justru balik bertanya. Memastikan pada Cheondung bahwa ia memang benar masih mengalami amnesia.
        Cheondung terpaksa berpikir keras. Meski nyatanya ia tidak pernah tahu mengenai hal itu. Jelas saja karena ia mengenal Minho setelah cowok itu pindah dari SMA Paradise.

***

        Siswa kelas 2 dan kelas 1 yang menempati gedung lantai atas, tampak beberapa saat lebih dulu menyelesaikan pelajaran di kelas mereka. Dan hal itu membuat koridor lantai 1 yang ditempati siswa kelas 3 tampak penuh. Jelas karena akses jalan ke luar memang hanya 1 jalur.
        Tidak terkecuali siswa kelas 3 dengan seragam SMA Destiny mereka yang ikut memenuhi koridor. Salah satu siswi di sana menghentikan langkah dengan tatapan terkejut saat melihat sosok Seok Jin yang melangkah dengan kaki sedikit pincang, memunculkan diri ke luar kelasnya.
        “Oh.. My.. God..! Kenapa gue baru sadar?” pekiknya yang ternyada adalah Taeyeon. Perbuatannya sontak menimbulkan rasa penasaran siswa yang lain.
        Siswa kelas 2 yang mengenakan seragam SMA Paradise, juga menatap Taeyeon tak kalah penasaran. Namun mereka lebi dulu bergabung dengan kakak kelas mereka yang sudah berada di tingkat 3. Himchan, Eun Ji dan Minho juga terlihat di sana. Dan tentu saja Jimin langsung mengambil tempat di samping Luna. Hingga membuat Changsub menatapnya tak suka.
        “Lo masih di sini?” desis Taeyeon dengan tatapan tak lepas pada sosok Seok Jin. “Dan itu artinya, gue satu sekolah sama pelayan restoran?”
        Seok Jin sama sekali tidak terpengaruh dengan hinaan dari Taeyeon. Justru teman-temannyalah yang menahan kesal pada Taeyeon yang bahkan dulu juga bersekolah di sana.
        “Jaga omongan lo, Taeyeon!” seru Kibum, dingin. “Lo dan temen-temen lo cuma ‘numpang’ di sini!” jelasnya dengan memberikan penekanan pada kata ‘numpang’.
        Di sisi lain, terlihat Sandara mendekatkan wajahnya ke telinga Yoona. “Gue baru inget, dia juga yang nganter makanan waktu kita lagi di rumah Chaerin, kan?” Ia bahkan sampai mengingat jelas saat Seok Jin dengan seragam pelayan sebuah restoran, mengantarkan makanan yang dipesannya.
        “Jadi, kakak OB ganteng itu kurir juga?” sahut Gyuri yang mencuri dengar pembicaraan kakak kelasnya itu. Termasuk Chaerin juga berada di sana dan mendengar semua ucapan Sandara. “Waah.. hebat. Dia ternyata pekerja keras.” Gyuri justru menatap takjub pada Seok Jin. Ia bahkan sampai menggumamkan kata-kata pujian untuk Seok Jin.
        “Kekuasaan bokap lo udah nggak berpengaruh di sini.” Suara keras Yoongi juga ikut melawan Taeyeon. “Ini Paradise, bukan Destiny.”
        “Eh, Kyeon!”
        Hackyeon langsung mendongak saat menyadari bahwa suara Sungyeol saat itu tertuju pada dirinya.
        “Mending lo bawa pergi temen lo yang satu itu,” ujar Sungyeol yang bahkan enggan menyebut nama ‘Taeyeon’.
        Sementara itu, Krystal yang berdiri berseberangan dengan Seok Jin, berdiri mengawasi suasana panas yang terjadi. Posisinya membuat cewek itu leluasa memperhatikan beberapa siswi Destiny. Terutama Gyuri yang dengan terang-terangan mengagumi Seok Jin. Belum lagi Chaerin yang tampaknya juga mencuri pandangan pada salah satu siswa Paradise itu.
        “Nggak usah lo suruh, gue juga bakal pergi.” Taeyeon masih saja terlibat adu mulut yang memang dimulai dari dirinya sendiri.
        Taeyeon mulai melangkah pergi diikuti beberapa teman-temannya yang lain. Yuri dan Hackyeon hanya menatap langkah Taeyeon. Sementara Chaerin, sibuk menarik Gyuri yang masih saja ingin menatap Seok Jin. Krystal yang melihat itu, segera saja melesat ke samping Seok Jin berdiri. Tak lupa, Krystal bahkan sampai menggamit lengan cowok itu sambil menunjukkan kedekatannya dengan Seok Jin. Tertutama di hadapan Gyuri yang sukses menunjukkan ekspresi cemberutnya.
        “Jin.” Yuri melangkah mendekat. Disusul Hackyeon di belakangnya. Ia tentu merasa bersalah atas perlakuan Taeyeon pada Seok Jin.
        “Kak Yuri nggak perlu ngerasa bersalah. Omongan kak Taeyeon itu emang nggak penting, kok.” Krystal terdengar bersuara. Secara tidak langsung, ucapannya memang benar. Beberapa orang juga mendukung ucapan Krystal. Namun nyatanya mata Krystal justru memancarkan kemenangan atas Gyuri seakan ia melakukan itu dengan sengaja.
        Seok Jin sendiri sudah sama sekali tidak bisa bersuara. Selain karena perang mulut beberapa temannya dengan Taeyeon, juga karena perlakuan Krystal yang di luar dugaannya. Seok Jin hanya mampu menatap wajah Krystal dari samping yang kelihatan sangat dekat baginya.

***

        Taeyeon sudah ingin masuk ke dalam mobil mewahnya. Namun ia membatalkan niat karena melihat kedatangan sebuah mobil yang bahkan lebih mewah dari miliknya. Jelas ia mengerti seperti apa mobil itu. Taeyeon sempat mengedarkan tatapannya. Sandara sudah berdiri di dekat mobil miliknya karena masih harus menunggu Cheondung muncul. Chaerin, Yoona, Hyoyeon dan Gyuri juga masuk ke dalam satu mobil yang dikendarai Hyoyeon.
        “Siapa anak dari Destiny yang di jemput pakai mobil mewah model gitu?” desis Taeyeon yang suaranya bisa terdengar oleh Yong Hwa yang mobilnya kebetulan terparkir dekat dengan milik Taeyeon.
        Yong Hwa ikut melempar tatapan ke arah yang dilihat Taeyeon. Tepat bersamaan saat pintu penumpang di bagian depan mobil tadi terbuka. Memunculkan seorang pria berseragam serba hitam. Pria itu berpapasan dengan sosok Gikwang dan Yoseob.
        “Apa kalian mengenal tuan muda Kim Seok Jin?” tanya pria itu yang justru membuat Taeyeon penasaran dan mendekat.
        “Bapak nggak mungkin mau jemput Kim Seok Jin, kan?” sela Taeyeon bahkan sebelum Gikwang membuka mulut untuk memberi tahu jika siswa berseragam SMA Paradise sudah memunculkan diri dari gedung B dan Seok Jin adalah salah satunya. “Mungkin maksudnya Kim Donghyun, Kim Won Sik, Kim Jaeseop, atau mungkin… Kim Himchan.”
        Yura terlihat melintas di sana. Dan saat mendengar nama kakaknya disebut, ia langsung mendekat. “Mereka bukan supir keluarga gue,” seru Yura yang membuat Taeyeon menatapnya tak percaya.
        “Akh, itu dia.” Pria berseragam hitam tadi berseru lega saat matanya menangkap para siswa dari SMA Paradise tersebut. Ia langsung mendekat. Dan tujuan utamanya adalah menghampiri Seok Jin. “Biar saya….”
        Seok Jin mengangkat tangannya saat pria itu mengajukan diri untuk membawakan ransel miliknya. Sementara ekspresi wajah Seok Jin kini tidak bisa terbaca setelah tadi ia cukup terkejut mendapati sebuah mobil mewah di sana serta seorang pria yang mendekat padanya.
        “Bukannya gue udah pernah bilang, jangan munculin diri di sekolah?” desis Seok Jin sepelan mungkin agar hanya pria itu yang mendengar suaranya.
        “Tapi ini darurat, tuan muda. Tuan muda baik-baik saja, kan?”
        Siswa SMA Paradise di sekitar Seok Jin kini terlihat terkejut karena panggilan pria tersebut terhadap Seok Jin.
        “Jin, lo kenal sama mereka?”
        Tanpa perlu menoleh, Seok Jin sudah bisa menebak. Bahwa yang mewakili teman-teman mereka bertanya adalah suara Dongwoo. Teman semejanya di kelas.
        Seok Jin menghela napas, berat. Jelas banyak hal yang belum bisa ia ceritakan. Dan tanpa bisa menjelaskan apa-apa, Seok Jin memberikan paksa kunci motornya pada pria tersebut. Ia kemudian berusaha melangkah cepat meski kakinya masih terasa sakit.
        Semua mata menatap penuh tanya pada sosok Seok Jin. Tidak terkecuali beberapa siswa berseragam SMA Destiny yang sempat melihat kejadian tersebut. Mobil mewah, jelas kendaraan tersebut akan cepat menjadi sorotan. Terutama di lingkungan SMA Paradise. Karena semenjak sekolah tersebut hanya memiliki 2 kelas saja, sudah hampir tidak terlihat siswa yang menggunakan mobil.
        Pria berseragam hitam tersebut mempercepat langkah menuju mobil untuk membukakan pintu. Seok Jin tidak buru-buru masuk. Ia mendapati Taeyeon menatap tak percaya. Namun Seok Jin berusaha tidak menghiraukan dan akhirnya memutuskan untuk masuk ke dalam mobil.
        “Dan Jin, ternyata punya rahasia besar selama ini.” Sungyeol bersuara tanpa mengalihkan tatapannya pada mobil mewah yang bergerak meninggalkan halaman sekolah.
        Yoongi yang tampak memikirkan sesuatu, sontak melempar tatapan penuh tanya pada Dongwoo yang menjadi teman semeja Seok Jin. “Lo nggak tahu apa-apa tentang Jin?”
        Hampir semua mata menoleh ke tempat Dongwoo dan Yoongi berada secara bergantian. Namun Dongwoo menggeleng pelan sambil berujar, “bukan berarti gue tahu semua hal tentang Jin.” Yang lain mendesah, kecewa.
Kecuali Krystal yang tampaknya tidak terlalu tertarik dengan pembicaraan teman-temannya itu. Cewek tersebut memiliki pemikiran sendiri tentang kakak kelasnya itu yang memberikan kejutan besar untuk semua.
        Sementara itu, Hayoung tampak merebut ransel milik Taekwoon yang dibawakan oleh Sungyeol. “Gue mau nyusul kak Taekwoon. Sekalian nganterin tasnya.”
        Mendengar suara Hayoung yang membahas Taekwoon, membuat Himchan teringat akan Hyerim. Ia lantas mengedarkan pandangan dan akhirnya mendapati Jungkook dan Eun Ji yang berdiri paling belakang dari rombongan siswa SMA Paradise. Cowok itu kemudian melangkah depat menghampiri keduanya.
        “Bisa kita temuin Hyerim sekarang?” Himchan berujar pelan. Dan bisa dipastikan hanya Eun Ji serta Jungkook yang mendengarnya.

***

        Di saat yang lain sibuk dengan perdebatan Taeyeon dengan Seok Jin. Serta tentang mobil mewah asing yang tiba-tiba saja membawa pergi seorang Kim Seok Jin yang diketahui hanya sebagai siswa yang bekerja part time di sebuah restoran. Minho ternyata sudah tidak berada di lingkungan sekolah.
        Cowok satu itu sudah berada di dalam mobilnya yang terparkir sedikit jauh di luar gerbang sekolah. Ia menunggu sesuatu terjadi. Cukup lama sampai akhirnya sebuah mobil mewah memasuki gerbang sekolah. Tidak terlalu mencurigakan di mata seorang Minho. Namun setelah beberapa menit, ternyata mobil itu lagi yang pertama kali meninggalkan gerbang SMA Paradise.
        Minho menegakkan tubuhnya saat mendapati motor yang biasa dikendarai Seok Jin, kini justru berada di tangan orang lain. Lalu kemudian, satu-persatu kendaraan milik siswa SMA Paradise—dan SMA Destiny tentunya—mulai meninggalkan gerbang sekolah.
        Sudah hampir setengah jam kemudian, Minho akhirnya kembali menyalakan mesin mobilnya. Ia lalu menyusul sebuah mobil yang baru saja bergerak meninggalkan gerbang SMA Paradise. Karena memang itu yang ia tunggu sejak tadi.

***