Sabtu, 26 Mei 2012

TAK KAN SALAH



Aku tergesa-gesa keluar kamar dan menuruni anak tangga sambil menenteng sebuah bola sepak. Ada janji bermain sepak bola sore ini. Aku menemukan kakak ku yang sedang menonton televisi di ruang tengah. Ia sodara tiriku . kami seumuran. Namanya Revan.
        Aku tau ia menyadari kehadiranku, tapi aku sama sekali tak peduli. Karena ku rasa ia sama seperti diriku dan yang lain.
        “Lingga.” Panggilnya.
        Aku meresponnya dengan berhenti tepat dibekakang sofanya.
        “Udah sholat?” Tanya Revan lagi tanpa menoleh kea rah ku.
        Aku meliriknya sinis. “Lakukan apa yang menurutmu benar.” Ucapku sebelum pergi, dan sebelum ia merespon ucapanku lagi.

@@@

        Jam 3 pagi aku terbangun. Memang disengaja olehku. Karena aku berniat menonton pertandingan sepakbola. Aku melalui depan kamar Revan. Pintunya sedikit terbuka. Aku tergelitik untuk sedikit meliriknya. Ku dapati Revan sedang sholat.
        “Sholat apaan jam segini?” gumamku penasaran. “Tumben!” celetukku. Aku berfikir demikian karena menurutku ia tak setaat itu.
        Aku melanjutkan langkahku menuju ruang tengah. Ku raih remote tivi dan menghidupkannya. Tak berapa lama, Revan datang dan duduk di sampingku.
        Aku menatapnya masih dengan pandangan sinis.
        “Kau tak sholat?” tegurnya.
        Aku hanya menanggapinya dengan senyuman kecut dan tak mempedulikan kata-katanya.
        Dua jam kami lalui dalam diam. Aku tak tertarik untuk bicara dengannya. Karena bicara dengannya sama seperti bicara dengan ayahku.
        Aku siap kembali ke kamar. Tapi Revan menegurku sekali lagi.
        “Udah waktunya sholat Subuh.” Revan memperingatkan.
        “Tak usah mengajariku.” Ujarku tanpa ingin menatapnya.
        Revan tak kembali tidur. Ia memilih untuk langsung melaksanakan sholat Subuh, lalu bergegas untuk bersiap ke sekolah.
        Tak ada yang berbeda dari dirinya dengan kehidupan remaja lain seumurnya. Kesekolah mengendarai sepeda motor. Di kelaspun Revan memilih tempat duduk sedikit di belakang. Ketika jam istirahatpun Revan berkumpul dengan teman-temannya di kantin. Dan terkadang menyibukkan diri dengan bermain sepakbola.
        Apa yang dilakukannya terekam olehku. “Apa yang berbeda denganku?” ujar ku pelan.
        “Bedanya, dia rajin sholat sedangkan kau tidak.”
        Lingga menoleh. Aku sedikit terperenjat mendapati seorang cewek yang tiba-tiba berada di sampingku. Cewek itu menatapku dengan sorot mata sedikit meledek.
        “Kau menguping?” hardikku.
        “Tidak.” Ucapnya sedikit bersemangat sambil menggeleng, membuat jilbabnya seolah bergerak kesana-kemari.
        Aku lega mendengarnya. Tapi itu hanya berlangsung sesaat.
        “Tidak sengaja maksudku.” Cewek itu tertawa.
        “Riva?” aku terdengar mengeram dan tak kusadari mataku melebar menatpnya kesal.
        “Apa?” tantangnya.
        Aku tak meresponnya lagi dan langsung pergi.
        “Lingga.”
        Ku dengar Riva menyebut namaku. Tapi aku tak serta-merta menghentikan langkah. Aku sadar Riva mensejajarkan langkahnya denganku.
        “Kau tau kalau Revan itu…”
        “Stop.” Aku membuat kata-katanya menggangtung tanpa sedikitpun menghentikan langkah. “Jangan katakana itu lagi.” Pintaku.
        “Aku tak kan mengatakannya.”
        Ucapannya kembali membuatku lega. Tapi tatapannya tidak.
        “Karena kau sudah mengetahuinya.”
        Kata-katanya yang terakhir membuatku benar-benar menghentikan langkah. Tapi tidak untuknya. Riva terus melangkah menjauhiku.
        “Hei. Mau kemana kau?” teriakku.
        “Menemui kakak iparmu.” Balasnya sambil melambaikan tangan dan terus berjalan tanpa berpaling.
        Sikapnya membuatku tak ingin mengejarnya lagi. Karena menurutku ia akan menemui Revan. Aku sama sekali tak tertarik.

@@@

        Apa yang ku temukan begitu sampai di kelas? Ku lihat Riva bersama Karina. Dan Revan, duduk sendiri di kursinya sambil membaca buku. Aku pun duduk di kursiku. Tidak jauh dari tempat Revan.
        Aku menyaksikan Riva bicara dengan Revan dari kursi mereka masing-masing.
        “Revan. Kau mau ikut belajar bersama dengan kami siang ini di rumahku?” itu suara Riva.
        Akupun dengan jelas menangkap respon Revan.
        “Kami?” ulangnya.
        “Iya. Aku, kau, dan Karina.” Jawab Riva.
        Revan terlihat ragu. Aku mengawasinya.
        “Maksudku, kita bertiga dan aku juga berencana mengajak Nurul, Mega, Adit dan Bima nanti.” Cepat-cepat Riva menambahkan ucapannya.
        Keraguan Revan terlihat memudar. “Insya Allah.” Jawabnya. Membuat Riva dan Karina terlihat tersenyum.
        Aku menatap Revan heran. Apa maksudnya dengan bilang ‘insya Allah’? jadi dia akan datang atau tidak?
        “Lingga.” Ku dengar Riva memanggilku.
        Aku mendongak kearahnya.
        “Apa kau mau bergabung bersama kami?”
        Ku dengar suaranya sungguh-sungguh. Ia menungguku. Lalu aku menggeleng.
        “Kau yakin?” Riva memastikan.
        Aku tak menjawab. Hanya mengangguk.
        “Tapi kita rame-rame kok.” Riva masih berusaha membujukku.
        Apa bedanya rame-rame atau hanya beberapa orang saja? Sekali lagi. Aku menggeleng. Kali ini terlihat lebih meyakinkan.
        Ku lihat mulut Riva kembali terbuka. Aku yakin ia iangin bersuara lagi. Tapi ku lihat Karina menahan tangannya dan berkata.”Riva, udah ya? Jangan dipaksa kalau Lingga gak mau.” Suaranya terdengar lembut. Dan seketika Riva luluh.
        Aku kembali melirik ke tempat Revan berada. Revan memang terlihat tak memperhatikan kami. Tapi aku lihat ia tersenyum di balik bukunya.
        Ketika pulang sekolah, Revan mendekati mejaku. Tanpa harus bertanya, aku yakin ia akan mengatakan sesuatu.
        “Katakan pada ibu, hari ini aku pulang telat.”
        “Ya. Aku mengetahuinya.” Kataku cuek. “Ada lagi?”
        Revan diam. “Ada.” ucapnya.
        Aku menunggu.
        Ia menepuk pundakku pelan. “Jangan lupa sholat.” Kata Revan sesaat sebelum ia meninggalkanku.

@@@

        Revan akan pulang telat. Itu benar. Dan baru saja ibu berpamitan untuk menghadiri acara pengajian. Alhasil, di rumah aku sendiri. Mencoba mencerna apa yang terjadi hari ini.
        Aku teringat semua ucapan Riva sebelum ia bilang ingin menemui Revan. Tapi kurasa mereka tidak benar-benar mempertemukan diri. Aku berfikir lagi. Dan kali ini aku yakin. Aku telah salah menangkap. Riva tak mengatakan ingin menemui Revan. Tapi siapa? Aku mencoba mengingat.
        Aku mendengar suara pintu menjeblak. Kurasa itu Revan. Dan ternyata benar.
        “Assalamualaikum.” Revan selalu begitu.
        “Waalaikumsalam.” Jawabku.
        Tapi tampaknya ia sedkit terkejut mendengar aku menjawab salamnya.
        “Kau ada di situ?” ucapnya heran. “Sudah sholat ashar?” ia bertanya sambil tetap melangkah melaluiku. Ia tak menunggu. Mungkin karna ia tau aku tak kan menjawabnya.
        “Mengapa kau selalu bertanya seperti itu?” suaraku membuat Revan berhenti dan berbalik. Kami saling berhadapan dalam jarak beberapa meter.
        “Apa lagi yang bisa ku tanyakan padamu?” Revan balik bertanya. Suaranya tenang namun menantang.
        “Kalau begitu, aku yang bertanya.” Aku tak mau kalah.
        “Apa?” ia menungguku.
        “Aku tau kau. Aku sadar apa yang kau lakukan. Aku mungkin tak sepertimu. Tapi ada satu sikapmu yang janggal.”
        Ucapanku membuat Revan seolah harus berfikir keras. Aku sadar, perkataanku cukup sulit untuk dicernanya.
        “Aku tak mengerti.” Kata Revan akhirnya.
        Kali ini aku ingat. Sungguh, ini benar. Riva bilang ingin menemui kakak iparku. Siapa yang di maksudnya dengan ‘kakak ipar’ ku? Riva membuatku berfikir kalau Revan…
        “Lingga.” Suara Revan membuyarkanku. Mungkin karena aku terlalu lama diam.
        “Awalnya aku fikir kau tak setaat itu. Tapi ternyata aku salah. Aku sadar apa yang kau lakukan. Pertanyaan yang selalu kau lontarkan untukku. Kita memang baru setahun menjadi keluarga. Tapi aku tau apa yang selalu ibu ajarkan padamu. Bahkan padaku juga. Aku juga sadar seperti apa kaluarga baruku. Tapi aku tak bisa me…”
        “Katakan apa yang menurutmu janggal dari ku?” Revan tampak tidak sabar menunggu ucapanku.
        “Oke.” Aku mengalah. “Kau tau ayah dan ibu melarang kita ‘pacaran’?” aku memberi tekanan ketika menyebut kata ‘pacaran’.
        “Aku sangat menyadari itu.”
        “Tapi kau punya pacar?”
        Kata-kataku mengejutkannya. Jelas ia, cukup kaget mendengarnya. Tapi aku tak melihat kemarahan dalam matanya. Revan tersenyum.
        “Aku mengetahuinya.” Ucapku sengit.
        “Apa yang kau ketahui?” revan semakin menantangku.
        “Kau tak begitu peduli dengan ponselmu. Tapi aku pernah memergokimu membaca sebuah sms, lalu kau pergi. Kau tak sadar aku mengikutimu. Mengikuti sampai kau berhenti didepan sebuah rumah. Dan aku tau itu rumah Karina.” Tatapanku mengancam ke Revan.
        “Apa yang kau pikir setelah itu?” Revan masih tenang menungguku.
        “Karina pacarmu.”
        Revan malah tertawa menanggapi suaraku.
        “Kau tau apa yang terjadi setelah itu? Apa yang kulakukan dirumah Karina? Siapa yang kutemui disana?” Revan balik menyerangku dengan pertanyaannya.
        Jawabannya tidak. Ia tau itu. Aku hanya diam.
        “Karina berasal dari keluarga yang beragama. Kau tau itu. Mungkin kau berfikir aku munafik. Tapi kau salah. Aku kerumah karina untuk menemui ayahnya. Karina tak ada disana. Ayahnya mengajariku tentang agama. Aku tak masalah kau mengabaikanku ketika menyuruhmu sholat. Karna kau berfikir aku sama sepertimu.”
        Revan masih membuatku diam.
“Mungkin salah kalau aku menyuruhmu mengikutimu. Tapi aku ingin kau tau. Agama tak kan menghalangimu bermain sepak bola.”
        Entah mengapa suara Revan terdengar semakin samar. Aku mengerti semua yang dikatakannya. Dan entah mengapa aku membenarkan itu.
        “Aku harap kau ingat. Aku tak pernah meminta Karina menjadi pacarku.” Revan menekan itu sekali lagi..
        “Iya. Sebenarnya aku tak sungguh-sungguh mengatakan itu.” Oke. Lalu, apa kau memintanya menjadi istrimu suatu saat nanti?”
        Oh, tidak. Jangan katakana itu lagi. Tapi semua telah terucap. Revan mendengar pertanyaan ajaibku.
        “Iya.”
        Mengejutkan. Revan membenarkan perkataanku.
        “Tapi aku masih 17 tahun?” Aku keheranan
        “Tapi itu tak melanggar ucapan ibu kan?”
        “Benar.” Aku menghela napas.
        “Kau bisa mempraktekan itu ke Riva.” Revan terdengar meledekku.
        Mataku melebar. Mendengar nama itu disebut, aku langsung jengkel. Aku masih sedikit kesal dengan Riva.
        “Maaf. Aku tak bermaksud.” Cepat-cepat Revan kembali merubah suasana hatiku. ”Lupakan. Lebih baik kau sholat dulu.”
        Kali ini aku menuruti sarannya. Revan benar. Dan aku bertekad. Setelah ini aku ingin jadi lebih baik. Begitu sampai depan kamar mandi, aku berhenti dan kembali melihat Revan menaiki tangga.
        “Revan.” Panggilku.
        “Iya?” Ia menoleh.
        “Maafkan aku mengabaikanmu.” Ucapanku sungguh terdengar tulus.
        “Ya. Aku maafkan.” Kata Revan cepat.
        Aku lega. Dan aku tau Revan akan mengatakan itu.
        “Boleh ku pinta sesuatu darimu?” Aku berkata lagi sebelum Revan kembali melangkah.
        “Silakan.” Ujarnya enteng.
        “Tolong bimbing aku menjadi lebih baik.” Pintaku.
        “Pasti.” Revan langsung menjawab dengan lantang.
        “Alhamdulillah.” Gumamku pelan.
        Dan aku bersyukur dapat membuka mata hatiku sebelum terlambat.

@@@


Tidak ada komentar:

Posting Komentar