Sabtu, 26 Mei 2012

KAKAK VS PACAR



Sepulang sekolah, Anggi langsung menuju gerbang sekolah tempat kakaknya biasa menunggunya. “Kak, aku gak jadi pulang bareng kakak ya.”
        “Lho? Emang kenapa?” Tanya Doni, sang kakak yang juga siswa di SMA tersebut. “Kalo mama nanya, gue harus jawab apa?”
        “Ya udah, bilang aja aku mau pergi sama temen.” Kata Anggi.
        “Terserah lo aja deh.” Balas Doni yang sedikit kesal yang langsung meninggalkan Anggi sendiri.
       
@@@

        Anggi duduk sendiri di sebuah bangku taman. Ia harap-harap cemas menunggu kedatangan seseorang. Sesekali ia melirik jam tangannya.
        “Putra mana sih? Jam segini kok belum datang-datang juga?” keluhnya. Cewek itu berdiri sambil mengedarkan pandangannya ke sekitar taman yang siang itu memang cukup sepi. “Beteeee…” Keluh Anggi lagi untuk yang kesekian kalinya.
        Tak lama, seorang cowok muncul dengan nafas yang sedikit tersengal-sengal. “Hai sayang… Maaf ya aku telat.” Ujar Putra sambil duduk di samping Anggi. “Kamu lama nunggu yaa?” Tanya Putra.
        “Kamu kemana aja?” Anggi balik bertanya dengan nada kecewa karena dibiarkan menunggu lama oleh sang pacar.
        “Iya tadi jalanan macet.” Ujar Putra menjelaskan alasan keterlambatannya.
        Anggi berdiri untuk sedikit menghindari Putra. “Jam segini mana ada macet!” Ia belum bisa begitu saja menerima alasan Putra yang tak menepati janji.
        “Beneran, tadi macet di jalan.” Putra berusaha meyakinkan Anggi.
        “Jalan mana?” Tanya Anggi lagi, masih dengan raut wajah kekesalan.
        “Jalan menuju hati kamuuu…” Putra mengeluarkan jurus pamungkasnya.
        Skak matt. Anggi tak bisa membalas gombalan Putra.
        Melihat Anggi diam, Putra tak menyia-nyikan kesempatan untuk meluluhkan hati sang pujaan. “Maaf ya.” Ujar Putra dengan lembut sambil mengulurkan jari kelingkingnya.
        Meski terlihat sedikit ragu, dengan perlahan Anggi pun mengaitkan jari kelingkingnya ke jari kelingking Putra. “Tapi janji ya, kamu gak ngulangin lagi?” Pinta Anggi dengan nada manja.
        “Iya, aku janji.” Kata Putra meyakinkan. “Senyum donk.” Putra merayu karena Anggi kembali diam.
        Anggi pun tersenyum malu-malu. “Nanti malam kita jadi nonton kan?” Tanya Anggi memastikan Putra menepati janjinya.
        “Jadi donk.” Jawab Putra penuh semangat. “Emang kenapa? Kamu gak mau, ya?”
        “Mau.” Balas Anggi yang tak ingin mengecewakan Putra. “Emangnya, kamu mau nonton film apa?”
        “Hmm… Terserah kamu…”
        “Yaudah deh. Jangan telat jemput ya.” Anggi memperingatkan Putra sambil menyambar ranselnya yang tergeletak di atas bangku taman.
        “Pasti.”
        “Aku pulang dulu ya.” Anggi pun berpamitan.
        “Dandan yang cantik ya.” Kata Putra sebelum Anggi benar-benar pergi meninggalkannya sendiri di taman.
        Akhirnya… Putra pun bisa bernapas lega. Ia duduk dan langsung bersandar di bangku taman.
        “Untung aja, Anggi gak curiga kalo gue telat gara-gara tawuran.”

@@@

        “Bos, itu bukannya anak SMA yang tadi tawuran sama kita?”
        “Mana?” Doni mencari-cari arah yang ditunjuk Moel.
        “Iya bener, bos.” Panji meluruskan ucapan Moel.
“Kita abisin aja sekalian.” Ujar Yuris menimpali perkataan Panji.
Doni yang terhasut ucapan teman-temannya tadi langsung mempercepat langkahnya menuju tempat Putra berada. Kala itu Putra tengah bersiap untuk meninggalkan taman.
“Hebat bener berani dateng ke sini.” Ucap Doni sambil menepuk tangan tanda meremehkan.
“Ada apa nih, bang?” tanya Putra yang sedikit kebingungan.
Panji memaksa Putra untuk melepaskan kembali ranselnya. “Ada apa ada apa? Lo dateng kemari, punya nyawa berapa?” Tanya Panji sambil sedikit mendorong tubuh Putra.
Yuris menahan tubuh Putra yang terdorong ke arahnya. Kemudian, ia merangkul Putra dengan tatapan merendah. “Lo pikir, bokap lo Jendral di sini? Hah!” Bentaknya.
“Boy! Sini lo!” Perintah Moel.
Dengan gugupnya, Putra pun menuruti permintaan Moel.
“Abis ketemu cewek, ya?” lanjut Moel.
“Nggak bang.” Jawab Putra dengan suara pelan.
“Akh! Buang-buang waktu. Hajar bos!” teriak Moel memberi komando sambil mendorong Putra ke arah Yuris dan Panji berada dan Doni pun langsung melayangkan tinjuan tepat mengenai perut Putra. “Abisin aja, bos!”
Belum sempat membela diri, serangan berikut dilancarkan oleh Panji. Bogeman cowok itu ampuh menyungkurkan Putra. Lanjut menendang bagian perut sebelum Putra berhasil berdiri.
Doni pun tak mau buang kesempatan ketika Putra masih tergeletak di atas rumput. Ia berulang kali menonjok wajah Putra. Dirasa cukup, Doni menarik kerah seragam Putra dan memaksa cowok itu untuk berdiri. Yuris dan Panji dengan sigap menangkap tubuh Putra ketika Doni mendorong Putra ke arah mereka.
Dengan sangat leluasa, Moel melayangkan tendangan dengan perut Putra sebagai samsaknya.
“Cabut.” Ajak Doni ketika dilihatnya Putra sudah tidak akan memberi perlawanan.
Yuris yang berjalan paling belakang kembali menoleh. Dilihatnya Putra masih tersungkur dan susah payah untuk bangkit. Di saat itu pula, Yuris tak segan-segan untuk berlari kembali ke arah Putra dan menendang perut cowok itu hingga kembali tersungkur.

@@@

Suasana taman sore ini lebih ramai dibandingkan dengan saat siang tadi. Banyak anak-anak bermain. Kala itu Putra tak sengaja lewat. Di sana ia melihat Doni yang tengah asik menyaksikan anak-anak bermain.
“Cowok yang tadi siang ngehajar gue tuh.” Ujar Putra kesal. Rasa ingin balas dendampun menguasai cowok ini untuk menghampiri Doni.
Pelan tapi pasti, Putra menepuk punggung Doni hingga cowok itu menoleh. “Urusan kita belum selesai.” Tanpa menunggu kata-kata keluar dari mulut Doni, Putra langsung melayangkan tinjuan hingga mengenai wajah cowok itu.
Sontak kericuhan pun terjadi. Beberapa anak yang tengah bermain pun menjerit histeris ketakutan dan mulai berhamburan menjauhi Doni dan Putra.
Tak terima, Doni pun membalas perlakuan Putra. Tak ayal, pertarungan sengit terjadi. Beberapa orang yang menyaksikan tak ada yang berani melerai. Akhirnya Doni pun bisa melepaskan diri dan kabur.
“Woi…! Jangan lari lo!” teriak Putra sambil mengejar. Ia tak ingin Doni lepas begitu saja karena saat ini ia berada di atas angin. One by one, akhirnya Putra bisa member perlawanan. Bukan seperti tadi siang saat ia dikeroyok.
Putra terus mengejar Doni yang masih berlari sejauh mungkin untuk menghindarinya. Kini Doni hanya berada kurang dari dua meter dihadapannya. Sekuat tenaga, Putra berusaha meraih kerah baju Doni. Dan… dapat! Putra menarik Doni hingga terjatuh. Suasana yang sepi pun semakin menguatkan niatnya untuk menghabisi Doni.
Putra terus menghujani Doni dengan pukulan-pukulannya. Sementara Doni tak bisa memberikan perlawanan yang berarti.
“Mampus lo!” ujar Putra yang merasa puas karena Doni sama sekali tak berontak. Sudah cukup. Pikirnya. Putra pun meninggalkan Doni begitu saja.

@@@

Ini yang telah ditunggu-tunggu oleh Putra. Dengan semangat ’45, ia menjemput Anggi dirumahnya. Cewek itu telah menunggunya di teras.
“Hai, sayang. Kali ini aku gak telat, kan?” kata-kata yang keluar dari mulut Putra sama sekali tak membuat Anggi tersenyum. “Kamu kenapa sih?” Tanya Putra sedikit mencurigai sikap aneh yang ditunjukkan Anggi.
“Kita gak jadi pergi.” Ujar Anggi tegas.
“Lho, kenapa?”
“Kakak aku…” Anggi menggantungkan ucapannya.
“Ada apa sama kakak kamu?” Putra kembali bertanya penuh kekhawatiran.
Anggi tak sanggup menjawab. Ia seperti menahan tangisnya. “Kakak aku meninggal.” Anggi akhirnya tak sanggup menahan tangisnya yang kali ini benar-benar pecah. “Sekarang aku mau ke rumah sakit.”
“Emang selama ini kakak kamu sakit?”
Anggi cepat-cepat menggeleng. “Tadi sore dia dihajar sama seseorang sampe meninggal.”
Putra mendengarkan cerita Anggi sambil melirik tangan cewek itu yang seperti menyembunyikan sesuatu. Cepat-cepat ia rampas benda itu dari tangan Anggi. Bagaikan disambar petir, Putra tak mempercayai apa yang baru saja dilihatnya. Itu foto Anggi bersama kakaknya. Dan kakaknya Anggi adalah Doni, cowok yang tadi sore …

@@@

5 komentar:

  1. OMO....!!!!!!
    ini kan yang di pensi waktu itu... dijadiin FF juga.. hahahaha

    gue baru baca yang ini...
    ya ampun...
    putra jahat banget...

    BalasHapus
  2. bukan FF ini mah... ngerti pengertian FF yg sebenernya, kan???

    BalasHapus
  3. iya bukan..
    kaya cerpen gtu bukan ini??
    iya ngerti.. huffff....

    BalasHapus
  4. iya, lain kali jangan sebut ini FF

    BalasHapus