Rabu, 19 Maret 2014

FC LOVE (chapter 11)


Author              : Annisa Pamungkas (@nniissaa11)
Main Cast          :
·        B2ST/Beast Lee Gikwang
·        Infinite Lee Howon (Hoya)
·        SNSD Im Yoona
Support cast     :
·        Other member B2ST/Beast, Infinite and SNSD
·        Yong Hwa CN Blue
·        Siwan Ze:a
·        Jonghyun, Minho and other member Shinee
·        Member Super Junior
·        All member A-Pink
·        Sulli, Victoria F(x)
Genre               : romance, family, friendship
Length              : chapter

***

        Howon tiba di kamar rawat Siwon. Sepulang sekolah ia memang langsung ke rumah sakit. Ia bahkan masih mengenakan seragam sekolahnya. Saat itu Siwon tidak sedang tidur, dan hanya menonton tivi saja. Nggak ada orang lain juga di sana.
        “Hai ganteng. Kamu kok nggak pulang dulu?” Siwon menyapa duluan anak tirinya itu.
        Howon hanya tersenyum singkat. “Aku bawa baju ganti kok, Yah.” Setelah itu Howon terlihat melesat ke dalam kamar mandi. Dan beberapa saat kemudian ke luar dan telah berganti pakaian. “Aku sengaja dateng sekarang, soalnya nanti sore harus latihan bola di sekolah buat persiapan pertandingan ‘away’ lawan SMA Paradise nanti,” jelas Howon yang sudah duduk di tepi tempat tidur Siwon.
        “Waah… seru tuh. Mudah-mudahan nanti ayah bisa nonton ya.”
        Mendengar itu, Howon tersenyum lebar. “Aku sama Minho pasti seneng banget kalo ayah beneran dateng. Makanya, Ayah cepet sembuh ya.”
        Siwon mengulurkan tangannya untuk menyentuh kepala Howon. Pria itu menatap Howon penuh kasih sayang selayaknya anak kandung sendiri. “Oh, iya. Kamu nggak bareng Minho ke sini?”
        “Minho lagi ada kerja kelompok dulu di sekolah. Dia kan juga dicalonin jadi ketua OSIS yang baru. Jadi, dia sibuk banget sekarang.”
        “Terus, kamu nggak dicalonin jadi ketua OSIS juga?”
        “Nggak deh, Yah. Kalo aku sama Minho sibuk, siapa yang gantiin Ibu jagain Ayah di sini? Lagian, aku juga nggak terlalu minat buat jadi ketua OSIS. Kalo jadi kapten bola sih gapapa,” candanya dengan sedikit terkesan membanggakan diri.

***

      Sungmin baru saja tiba di apartmennya. Ia berjalan ke arah dapur lalu membuka pintu yang menuju balkon. Di sana juga biasanya digunakan untuk menjemur pakaian. Dan ada sebuah seragam sepakbola yang tergantung. Jelas saja sangat menarik perhatian Sungmin karena hanya ada benda itu di sana. Terlebih sebuah nama yang tertera di bagian belakang kaosnya adalah nama ‘HOYA’. Nama yang sangat melekat di hatinya.
        Sebuah suara gemericik air dari kamar mandi yang terdengar membuat Sungmin menoleh seketika. Ia yakin anaknya sudah pulang. Sungmin mendekat karena orang tersebut membuka pintu.
        “Itu baju yang namanya Hoya punya siapa?” tanya Sungmin bahkan sebelum ia benar-benar melihat wajah orang itu.
        “Eh, Om Sungmin?” seru orang itu yang ternyata adalah Yong Hwa.
        “Oh, Yong Hwa? Om kira Gikwang. Ke mana dia?” tanya Sungmin mencari-cari anaknya.
        “Lagi ke luar Om sama Sunggyu,” kata Yong Hwa.
        Lalu seseorang muncul dari dalam kamar Gikwang. Itu Jonghyun. Ia sibuk menatap ponselnya. “Kok Gikwang sama Sunggyu lama banget, sih?” tanyanya tanpa memastikan ada siapa saja di sana. Kemudian Jonghyun mendongak karena Yong Hwa nggak langsung menjawab. “Wah, Om Sungmin udah pulang?” serunya sedikit terkejut.
        “Iya, baru aja,” ujar Sungmin.
        Setelah itu, pintu utama apartmen terbuka dan memunculkan Gikwang yang datang bersama Sunggyu dan Myungsoo juga. “Makanan datang…” terdengar suara Gikwang. “Loh, Papa udah pulang?” serunya nggak kalah terkejut seperti Jonghyun tadi saat melihat sosok Sungmin di sana. “Aku kira belom, makanya aku nggak beliin makanan juga buat Papa,” jelas Gikwang sedikit merasa bersalah.
        “Santai aja. Papa udah makan, kok,” kata Sungmin yang nggak ingin anaknya terlalu merasa bersalah. “Kalian kan lagi pada ngumpul, ya udah lanjutin aja acaranya. Papa masuk dulu,” pamitnya pada Gikwang dan teman-temannya juga.
        Jonghyun tampak mengajak Yong Hwa untuk bergabung ke ruang tamu tempat Sunggyu sudah duduk dan bahkan meletakkan pesanan mereka. Ke lima cowok itu duduk di lantai dan mengelilingi meja.
        “Bokap gue udah lama pulangnya?” tanya di sela-sela kesibukkannya membuka bungkus makanan. Tentu saja pertanyaan itu ia lontarkan untuk Yong Hwa dan Jonghyun yang memang ada di sana.
        “Nggak terlalu kok. Pas banget waktu gue di kamar mandi,” jelas Yong Hwa. Dan memang saat itu posisinya berada di depan pintu kamar mandi.
        “Nah, lo bocah!” tunjuk Jonghyun pada Myungsoo. “Kok bisa ikutan nongol di sini. Perasaan tadi nggak ada deh. Ngintilin Sunggyu mulu lo,” ledeknya pada adik kandung Sunggyu tersebut.
        Myungsoo menunjukkan wajah kesalnya. “Ya elah, bang. Pelit banget lo kalo gue ikutan gabung. Lagian temen-temen gue si Dongwoo, Woohyun sama Sungjong tuh lagi pada ngapel. Maklum, ini kan malem minggu. Nah, kebetulan gue nggak punya pacar, jadilah ngumpulnya sama cowok-cowok jomblo juga,” kata Myungsoo panjang lebar dan terdengar nggak mau kalah dari Jonghyun tadi.
        “Tapi ini kan belom malem, Myung!” seru Sunggyu meralat ucapan adiknya.
        “Sama aja akh, bang!” balas Myungsoo cuek.
        “Ade lo songong banget, sih!” protes Gikwang yang malah ia tujukan untuk Sunggyu.
        “Tau, nih. Kan nggak semua dari kita masih jomblo,” timpal Yong Hwa.
        “Bener tuh,” Jonghyun juga mendukung ucapan Yong Hwa. “Kan Yong Hwa doang yang udah punya pacar,” ujarnya mempertegas.
        Mendengar itu, Yong Hwa justru menjadi nggak terlalu memusingkannya. Ia lebih memilih sibuk dengan makanannya. Melihat Yong Hwa yang seperti itu, Sunggyu dan Gikwang tiba-tiba saling melempar tatapan curiga.
        Sunggyu menatap Yong Hwa curiga secara terang-teranga. “Biasanya Yong Hwa ngapelin Seohyun juga. Kok lo malah ikutan ngumpul di sini, Yong?”
        “Oh, itu…” Yong Hwa terdengar cukup gugup meresponnya. “Seohyun… sebenernya… hmm… kita udah… putus,” ujarnya susah payah mengatakan hal itu.
        Gikwang, Jonghyun, Sunggyu dan nggak terkecuali Myungsoo langsung menoleh cepat ke tempat Yong Hwa berada. Yong Hwa sediri sudah tertunduk dan hanya mampu mengaduk-aduk makanannya tanpa minat. Namun sedetik kemudian, terdengar gelak tawa Gikwang dan yang lain. Tentu saja untuk menertawakan Yong Hwa.
        Yong Hwa sendiri langsung melempar tatapan horornya. “Temen lagi patah hati, hibur kek! Bukannya di ketawain!” protes Yong Hwa yang justru semakin menyulut tawa teman-temannya.

***

        Di dalam kamar, Sungmin tampak menatap sebuah foto usang di tangannya. Itu foto pernikahan ia dan mantan istrinya yang juga Ibu kandung Gikwang. Wanita di dalam foto tersebut adalah Ga In, ibu kandung Howon. Sungmin dan Ga In memang pernah menikah dan menghasilkan Gikwang dari pernikahan mereka tersebut. Namun sayangnya Sungmin sedikit merahasiakan tentang keberadaan Ga In dari Gikwang.
        “Apa kamu memberi nama Hoya pada anakmu bersama Siwon?” ujar Sungmin pada foto tersebut. Ia seolang tengah berbicara langsung dengan Ga In.
Sungmin juga mengenal Siwon, bahkan ia juga mengetahui pernikahan Ga In dan Siwon. Hanya saja yang tidak Sungmin ketahui yaitu tentang anak dari hasil pernikahan Ga In dengan Siwon itu adalah Sulli, bukan anak yang ia pikir bernama Hoya. Sungmin langsung mengingat nama tersebut karena melihat sebuah kaos bola yang di jemur oleh Gikwang. Dan ia yakin nggak pernah mendengar Gikwang menyebutkan salah satu temannya ada yang bernama Hoya.
        “Kenapa kau melakukan itu? Padahal kau sama sekali nggak setuju saat aku ingin menamai Gikwang dengan nama Hoya,” seru Sungmin dengan nada kecewa.
        Sungmin memasukkan kembali foto tersebut ke dalam sebuah laci di dekat tempat tidurnya. Suasana hening yang terjadi membuat gelak tawa Gikwang dan temannya terdengar menembus tembok yang membatasi ruang tamu dan kamar tidur Sungmin.
        “Setidaknya, aku masih bisa mendengar tawa Gikwang dan selalu ada di sampingnya.”

***

        Yoona hampir tidak pernah melepaskan kebiasaannya berjalan-jalan sore menggunakan sepeda kesayangannya. Meski ia sudah terbebas secara sepihak dari Howon, cewek itu masih melakukan hobinya. Termasuk sore ini. Namun tanpa sengaja, ia justru tetap bertemu Howon di tempat yang sedikit jauh dari lokasi biasa mereka bertemu.
        Yoona menghentikan laju sepedanya saat sosok Howon tampak mendekat. Howon memang sedang menunggu kedatangan cewek itu.
        “Apa maksud lo nyuruh Eun Ji yang nganter seragam ini?” desis Howon cukup tajam. Ia bahkan sampai menyerahkan paksa bungkusan di tangannya pada Yoona. Bisa dipastikan Howon baru saja bertemu dengan Eun Ji beberapa saat lalu.
        Yoona nggak langsung menjawab. Pikirannya melayang pada saat ia pertama kali bertemu Eun Ji. Cewek itu justru mendesak agar Yoona menceritakan tentang Howon. Dari situ bisa disimpulkan kalao hubungan antara Eun Ji dan Howon sedang tersandung masalah. Terlebih dengan tatapan yang ditunjukkan Howon sekarang ini. Entah apa masalah mereka.
        “Eun Ji bener cewek lo, kan?” Yoona justru balik bertanya.
        Di saat yang bersamaan, muncul Sungyeol, Yoseob dan Dongwoon di sana. Mereka memang mencari-cari sosok Howon yang ternyata sedang bersama Yoona.
        “Hoya! Kita cariin ke mana-mana. Ternyata lo di…” Yosoeb langsung membungkam mulutnya sendiri karena melihat suasana dingin di sana. Yoona dan Howon saling tatap dan seakan mengabaikan kedatangan Yoseob dan yang lain.
        “Eun Ji emang masih cewek gue, tapi…”
        “Nah, kan!” sela Yoona. “Apa salahnya kalo dia mau ngelakuin itu buat lo? Dan lo juga nggak mikirin posisi gue, kan? Gimana ternyata gue udah punya cowok juga, lalu cowok gue tau kalo gue sering ketemuan dengan cowok lain di taman?”
        Yoseob, Sungyeol dan Dongwoon yang nggak mengerti apa-apa, hanya menatap Yoona serta Hoya secara bergantian. “Kalian pada kenapa, sih?” tanya Dongwoon penasaran.
        “Kayaknya tadi gue denger sempet nyebut-nyebut nama Eun Ji juga,” ujar Sungyeol menimpali. “Waah, lagi terlibat cinta segitiga nih kayaknya?” tanyanya jahil.
        Howon masih saja nggak mempedulikan keberadaan tiga temannya itu. Yang mengganjal dipikirannya saat ini adalah ucapan Yoona yang mengatakan cewek itu udah memiliki pacar. Tentu saja karena sejak hubungannya dengan Eun Ji bermasalah dan ia bertemu dengan Yoona, perasaannya sedikit teralih pada cewek itu.
        “Udah cukup beberapa minggu ini gue ngejalanin permintaan lo,” kata Yoona lagi karena Howon nggak juga memberikan respon. “Apa itu masih kurang? Mau sampe kapan, hah?”
        Howon udah hampir buka mulut, namun Yoseob udah lebih dulu menghalanginya sambil berujar, “lanjutin nanti aja ya ngobrolnya. Minho udah SMS gue buat cepetan dateng ke sekolah.” Yoseob bahkan sampai menunjukkan bukti pesan singkat yang dikirim Minho padanya. Ia kemudian mengisyaratkan Sungyeol dan Dongwoon juga untuk membantunya menarik Howon dari tempat itu.
        Yoona langsung berinisiatif melempar kembali bungkusan dari Howon tadi dan jatuh tepat di pelukan cowok itu. Lalu tanpa berkata-kata lagi, ia memutar sepedanya dan pergi dari sana.

***

        Seusai makan, Gikwang yang membereskan seluruh peralatan makan yang kotor karena ia kalah dalam sebuah permainan kecil yang mengharuskan ia mendapatkan hukuman. Gikwang bahkan harus mencuci seluruh peralatan yang terpakai.
        “Untung gue udah biasa ngelakuin ini,” seru Gikwang sekedar menghibur diri juga. Teman-temannya yang lain juga sama sekali nggak ada yang berniat membantu. Karena sebenarnya jarang-jarang Gikwang kalah dalam permainan seperti itu. Kecuali setelah pindah ke apartmen tersebut, Sungmin memang nggak membayar pembantu dan jadilah Gikwang yang dengan keinginannya sendiri bertanggung jawab untuk urusan pekerjaan rumah.
        Setelah beberapa menit, Gikwang benar-benar selesai dari pekarjaannya. Ia kemudian beralih ke dispenser untuk mengambil segelas air minum. Dan di sana ia sempat melirik ke jendela dan dapat dengan jelas melihat seragam bola milik Howon yang tanpa rencana bisa ada di tangannya.
        “Kok kayaknya gue familiar ya sama yang namanya ‘Hoya’ itu?” gumam Gikwang yang sibuk dengan pikirannya sendiri.

***

        Sementara di tempat lain, Howon tengah bersiap menjalai latihan sepakbola rutin di sekolahnya. Ia hanya tinggal mengenakan kaos yang ada di tangannya. Namun cowok itu masih saja menatap deretan huruf yang membentuk nama ‘Gikwang’ di bagian punggung kaos.
        “Gue nggak pernah denger temen sekolah gue ada yang namanya Gikwang. Tapi kenapa rasanya gue kayak udah kenal deket ya sama pemilik baju ini,” ujar Howon untuk dirinya sendiri.
        “Lo kenal sama temen sekelas gue yang namanya Gikwang?”
        Howon langsung menoleh dan mendapati Yoseob di sana. Yoseob sendiri langsung duduk di samping Howon yang masih duduk di tepi lapangan.
        “Emang temen sekelas lo ada yang namanya Gikwang?” Howon justru balik bertanya dengan tatapan bingung. “Oh, yang anak baru itu bukan?” serunya lagi.
        Yosoeb sama sekali nggak terlihat antusias menanggapi tebakan Howon. “Masalahnya pas kemaren gue latihan di ‘Running Boys’, gue liat Gikwang pake baju lo. Apa mungkin Eun Ji salah ambil baju lo?” pikirnya. “Soalnya kan Yoona tiba-tiba nyerahin tanggung jawabnya ke Eun Ji.”
        Howon tampak mengangkat bahunya.
“Dipikirin nanti lagi aja. Mending sekarang kita latihan,” ujar Yoseob sekaligus mengingatkan bahwa mereka sudah di tunggu untuk segera ke tengah lapangan.
Howon nggak langsung menyusul Yoseob. Pikirannya melayang kembali saat ia bertemu dengan Eun Ji di taman.

Flashback…
        “Ini baju siapa?” protes Howon ketika memeriksa bungkusan yang diberikan Eun Ji padanya. “Mana baju gue?”
        Eun Ji sedikit meremas ujung seragamnya. Nggak biasanya Howon bersikap cukup kasar seperti ini. “Baju lo kemarin mendadak dipinjem sama temennya Yoona. Dan tadi pagi Yoona nyuruh gue ngasih lo baju itu dulu,” jelasnya sambil menunduk.
        Kalau saja Eun Ji tidak menyinggung masalah Yoona, mungkin ia akan melemparkan protes lagi pada cewek itu. Namun karena ia juga harus bergegas latihan sepakbola, Howon akhirnya lebih memilih meninggalkan Eun Ji di sana.
Flashback end…

***

        Yoona tiba di rumahnya. Ia kembali lebih cepat karena suasana hatinya sedang sedikit buruk akibat berdebat dengan Howon tadi. Sebenarnya alasan Yoona berkata seperti itu bukan karena ia memang sudah memiliki kekasih, tapi karena Gikwang. Semenjak Yoona tau dirinya dan Siwan saudara kandung, ia semakin gencar melupakan perasaannya pada Siwan. Salah satunya dengan cara dekat dengan Gikwang.
        Setelah memarkirkan sepedanya, Yoona melangkah ke pintu utama. Ada sesuatu yang janggal di sana. Pintu tidak tertutup rapat. Padahal ia yakin telah menguncinya sebelum pergi. Padahal saat ini Yoona juga sudah memegang kunci rumahnya.
        “Jangan-jangan, ada maling?” ujar Yoona yang entah dari mana mendapat pikiran seperti itu. Segera saja ia melesat masuk ke dalam. Sepi. Yoona melangkahkan kaki semakin dalam. “Hwaaa…!” jeritnya karena tiba-tiba tubuh seseorang menghalangi jalannya saat berbelok ke arah dapur.
        “Ada apaan, sih?” seru seseorang yang juga muncul dari arah dapur dengan nada panic. Itu Doojoon. Ia memang baru saja tiba beberapa menit lalu. “Yoona? Lo gapapa?” Doojoon segera mendekati adiknya yang menatap seorang cowok yang tadi tiba-tiba menghalangi jalannya itu.
        “Lee Jonghyun? Kok lo bisa ada di sini?” tanya Yoona pada cowok itu. Ia bahkan sedikit mengabaikan keberadaan Doojoon di sana.
        Cowok yang dipanggil Yoona dengan nama Lee Jonghyun itu justru menunjukkan raut wajah kecewanya. “Jadi kamu nggak suka aku dateng? Kita kan udah lama nggak ketemu. Kamu nggak kangen gitu?” tanya Lee Jonghyun dengan nada di buat semanja mungkin.
        “Lebay deh lo, Jong!” cibir Doojoon pelan.
        Lee Jonghyun mendekatkan wajahnya ke telinga Doojoon. “Gue denger loh, bang,” bisiknya.
        Yoona sendiri hanya memutar bola matanya. Malas menanggapi dua cowok di hadapannya. “Berarti Bang Siwan udah pulang juga, kan?” Tanpa menunggu respon Doojoon ataupun Lee Jonghyun, Yoona sudah lebih dulu balik badan dan melesat pergi ke luar rumah.
        Doojoon dan Lee Jonghyun saling tatap. Namun sedetik kemudian mereka baru menyadari bahwa Yoona sudah nggak ada di sana. “Yoona! Tunggu!” teriak keduanya dengan kompak. Namun sudah lebih dulu menghilang di sana.
        “Siwan kan masih di Surabaya,” lirih Doojoon karena tidak sempat memberitahukan hal tersebut pada adiknya.

***

        “Kamu suka bermain sepakbola?” tanya dokter yang menangani Siwan.
Saat ini Siwan sendiri baru saja menjalani pemeriksaan. Luka terberatnya ada pada kaki. “Iya,” jawab Siwan pendek dengan tatapan kosong ke depan.
Dokter itu menghela napasnya, berat. “Kamu juga pernah cedera parah di kaki yang sama. Jika masih memaksa bermain, akan fatal akibatnya.”
        Mendengar itu, Siwan menoleh cepat. “Maksud dokter?” serunya tajam. Tentu saja ia kurang bisa menerima perkataan dokter itu. “Saya harus berhenti bermain sepakbola?”
        “Sesekali kamu boleh bermain. Tapi, tidak untuk menjalani pertandingan.”
        Sementara di luar kamar rawat Siwan, tampak Seulong berdiri dengan cukup tegang. Jelas ia mendegar semua pembicaraan Siwan dan sang dokter. Ia cukup terpukul mendengarnya. Apapun kondisinya sekarang, Siwan adalah anak kandungnya. Dan ia wajib bertanggung jawab atas apa yang terjadi pada Siwan.

***

        Sebagai pemain sepakbola, tentu saja Gikwang pernah mengalami yang namanya cedera. Meski sudah sembuh, namun ia harus tetap rutin menjalani pemeriksaan. Termasuk hari ini. Sepulang sekolah, ia melakukan pemeriksaan di sebuah rumah sakit.
        Gikwang tampak baru saja ke luar dari ruangan dokter yang memeriksanya. Ia berjalan menelusuri koridor rumah sakit. Namun tiba-tiba langkahnya terhenti karena sebuah pintu terbuka dan memunculkan seorang wanita yang sedang menangis. Ga In. Melihat itu, Gikwang perlahan mendekat. Ia hanya memperhatikan Ga In secara intens.
Sadar dirinya diperhatikan, Ga In menoleh. Ia menatap Gikwang melalui matanya yang basah. Dan sedetik kemudian, Ga In memeluk Gikwang, sementara Gikwang sendiri langsung membalas pelukan wanita itu. Tidak ada yang mereka lakukan selain berpelukan. Selayaknya dua orang yang baru bertemu setelah sekian lama terpisah.

***

        “Lo kenapa nggak bilang dari kemarin-kemarin, sih?” protes Sungmin saat ia dan Eunhyuk terburu-buru berjalan di koridor sebuah rumah sakit.
        “Gue juga baru tau, Min!” seru Eunhyuk membela diri.
        Beberapa meter di depan mereka, ada dua orang yang tengah saling berpelukan. Dan di dekat sana, tampak sebuah pintu terbuka dan memunculkan Howon. Eunhyuk langsung mengajak Sungmin mendekat.
        “Gimana Siwon?” tanya Eunhyuk sedikit hati-hati pada Howon. Raut wajah cowok itu jelas menyiratkan sesuatu yang buruk terjadi.
        Howon menggeleng lemah. Dan itu sudah cukup menjelaskan semuanya. Meski sedih, Howon tidak menangis. Lalu ketika melihat itu, Sungmin tanpa sadar menarik Howon ke dalam pelukannya. Eunhyuk sendiri tampak membiarkan keduanya dalam posisi seperti itu dan lebih memilih untuk masuk ke dalam.
        “Hoya!” Terdengar teriakan beberapa orang sekaligus. Yoseob, Sungyeol serta Dongwoon. Dan suara itu sukses menginterupsi Howon dan Sungmin untuk melepaskan pelukan mereka.
        “Bokap lo…” ucapan Sungyeol terdengar tertahan.
        Howon menggeleng lemah. Sungyeol serta Dongwoon langsung memberikan ucapan duka cita pada Howon. Namun tidak untuk Yoseob. Ia justru menatap Gikwang yang saat itu tengah memperhatikan Howon dan masih dalam keadaan memeluk Ga In.
        “Gikwang, lo di sini juga?” tanya Yoseob.
        Howon dan Sungmin cukup tersentak karena mereka baru menyadari keberadaan Gikwang yang padahal hanya berjarak beberapa meter saja.
        Di dalam pelukan Gikwang, Ga In juga terkejut mendengar nama itu. Ia lalu perlahan menjauhkan tubuhnya dari tubuh Gikwang. Ga In memperhatikan tiap lekuk wajah pemuda yang baru saja memeluknya itu.
        Sungmin sendiri semakin terkejut karena wanita yang berpelukan dengan Gikwang adalah Ga In yang tak lain mantan istrinya sendiri. “Ga In?” seru Sungmin dengan suara lemah. Namun tentu saja bisa terdengar sampai telinga Ga In.
        Ga In melebarkan mata melihat sosok Sungmin di sana. Berdiri tepat di samping Howon.

***


Tidak ada komentar:

Posting Komentar