Kamis, 04 April 2013

KRIS WITHOUT WINGS (part 2)



        Kris membelokkan motor sportnya ke arah gerbang sekolah. Dari arah berlawanan, Kris melihat seorang pemuda berlari dari dalam gerbang. Itu pemuda bermata panda yang kemarin Kris lihat sedang berkelahi. Kris mengurungkan niat untuk masuk ke dalam gerbang sekolah untuk mengejar pemuda tadi.
        “Ada apa?” teriak Kris dari atas motornya.
        Pemuda itu menoleh meski masih sambil berlari. “Temanku tertangkap oleh anak SMA Sun Moon.”
        “SMA Sun Moon?” ulang Kris dengan suara pelan. Sedetik kemudian ia teringat sesuatu. Itu adalah sekolah di mana tiga orang yang berkelahi dengannya bersekolah. “Cepat naik.” Perintah Kris.
        Pemuda itu tanpa pikir panjang naik ke boncengan motor Kris karena ia melihat lambang sekolah pada seragam Kris sama dengan miliknya. Itu berarti mereka satu sekolah.
        “Kenapa temanmu bisa tertangkap?”
        “Ku rasa karena Chanyeol menggoda kekasih Minseok lagi.” Pemuda bernama Tao itu bicara dengan suara keras. “Temanku itu playboy berat.”
        Kris hanya tertawa mendegar cerita Tao tentang temannya yang bernama Chanyeol itu.

@@@

        Kris, Tao dan Chanyeol berlari menyelamatkan diri keluar dari sebuah gudang. Ketika merasa sudah aman, tiga pemuda tinggi itu mulai memperlambat langkah mereka.
Kris memegangi dada kirinya yang terasa sakit karena terlalu lelah berlari. Ia bahkan sampai harus bertumpu pada sebuah tembok tak jauh dari sana.
        “Ternyata aku juga di jebak. Gadis itu yang pertama menggodaku. Tapi aku yang habis di hajar Minseok dan anak buahnya.” Cerita Chanyeol kepada Tao sambil mengelap tepi bibirnya yang mengeluarkan darah.
“Sepertinya Jongin tadi tidak berada di sana.” Timpal Tao. Tapi sepertinya mereka yang tidak menyadari bahwa Kris tertinggal jauh di belakang.
        “Entahlah… aku juga tak melihatnya sejak awal.” Ujar Chanyeol. “Oiya… terima kasih karena…” Chanyeol tak melanjutkan ucapannya ketika menoleh ke kiri. Ia bahkan sampai berhenti dan berbalik. Tao juga melakukan hal yang sama. Mereka tak menemukan Kris. “Kris…” teriak Chanyeol sambil berlari ke tempat sebelumnya.
        “Kau mengenalnya?” heran Tao, namun Chanyeol tak menjawab.
        Tao dan Chanyeol menemukan Kris berdiri dan bersandar pada sebuah tembok. Matanya terpejam, sementara tangan kanannya mencengkeram erat dada kirinya.
        “Kris… kau baik-baik saja?” Tanya Chanyeol sambil menyentuh pundak Kris.
        “Jadi namanya Kris?” Tao bertanya lagi.
        Chanyeol mengangkat bahu. “Ku dengar kemarin Lay memanggilnya Kris.” Jelas Chanyeol, lalu kembali menatap Kris. Dilihatnya bibir Kris menggoreskan senyum tipis. “Kau baik-baik saja?” Chanyeol mengulangi pertanyaannya.
        “Sudahlah, jangan terlalu mengkhawatirkanku.” Seru Kris yang perlahan mencoba membuka matanya. Ia juga telah berdiri tegak.
        “Kita sudah terlambat jika kembali ke sekolah.” Tao mengingkatkan setelah melirik jam tangannya.
        “Kita ke café ku saja.” Ajak Chanyeol.
        “Oke…” Tao menyetujui usul temannya itu. “Kau ikut mobil Chanyeol saja, motormu biar aku yang bawa.” Saran Tao.

@@@

        Kris memang tak menyetujui untuk ikut bersama Chanyeol dan Tao, tapi ia juga tak menolaknya. Begitu sampai, Chanyeol langsung mengajak Kris dan Tao ke tempat favoritnya di café itu. Tapi Kris lebih memilih langsung menuju toilet. Ia mengaduk isi tasnya mencari sebuah tabung berisi butiran-butiran obat.
Kris menuangkan beberapa butir obat ke dalam telapak tangannya lalu melemparkan semua ke dalam mulut. Tidak ada air minum. Kris terpaksa mendorong obat-obat tersebut dengan air langsung dari keran. Kris menyeka tepi bibirnya menggunakan tangan. Cukup lama ia berdiri di sana. Sebelum akhirnya memutuskan kembali bergabung dengan Tao dan Chanyeol.
        “Kau mau makan apa?” tawar Chanyeol yang saat itu sedang memegang buku menu ketika Kris duduk.
        “Samakan saja.” Jawab Kris yang enggan untuk memilih makanan.
        “Apa kau juga memiliki masalah dengan Minseok dan gerombolannya?” Tanya Tao penuh selidik ketika menatap Kris.
        “Ku rasa mereka yang bermasalah denganku.” Kris menjawab dengan nada meremehkan.
        “Sepertinya kita dalam misi yang sama.”
        Tao melirik Chanyeol tajam. “Kata siapa? Aku bukan pemuda pengejar gadis sepertimu.” Ledek Tao membuat mata Chanyeol melotot sempurna.
        “Sudah sering ku katakan padamu, gadis itu yang…”
        “Ya ya ya ya…” Tao memotong ucapan Chanyeol. “Gadis itu yang mengejarmu.” Lanjutnya malas mengulangi ucapan Chanyeol.
        Chanyeol siap memukul kepala Tao, tapi Kris lebih cepat menghalanginya. “Sudahlah…” lerai Kris.

@@@

        Kris tak berniat berlari menuju kelas meski bel telah berbunyi dan membuat para siswa yang lain berhamburan menuju kelas masing-masing. Begitu sampai di depan kelasnya, Kris tak buru-buru masuk. Ia sedikit mengintip dari jendela. Sudah ada seorang guru di sana.
        “Kenapa aku harus kembali bertemu dengan pak guru Sukjin?” Kris berdecak kecewa dari luar jendela.
        Sementara Chanyeol ternyata melihat kejadian itu dari dalam kelas. “Kris…” seru Chanyeol sambil melambai ke arah Kris. Ia tak mempedulikan pak guru Sukjin yang sudah memberikan tatapan membunuh padanya.
        Tao menyenggol tangan Chanyeol untuk memberi tahu kejadian yang sebenarnya. Chanyeol pun membeku ketika menyadari pak guru Sukjin masih menatap seperti ingin memakannya. Chanyeol hanya nyengir sebelum akhirnya Sukjin berjalan menuju pintu.
        “Kris? Apa yang kau lakukan di sini?” tegur Sukjin.
        “Bukankah bapak yang membuatku tinggal kelas?” Kris balik bertanya seenaknya. “Jadi, mau tidak mau bapak harus rela bertemu denganku lagi di kelas.”
        Sukjin menghela napas ketika menghadapi murid special seperti Kris. “Cepat masuk, dan jangan cari gara-gara lagi.” Perintah Sukjin sebelum berbalik mendahului Kris masuk ke dalam kelas.
        “Waah… Kris, kau sekelas dengan kami?” Tanya Chanyeol heboh menyambut kedatangan Kris di kelasnya.
        “Jangan mulai lagi, Kris.” Tegur Sukjin meski sebenarnya Kris juga tidak bisa disalahkan begitu saja. “Dan jangan mempengaruhi temanmu yang lain.” Lanjutnya.
        Kris hanya mendengus pelan sebelum akhirnya mengambil tempat duduk di barisan paling belakang.

@@@

        Sehun melangkah di saat yang bersamaan ketika Kyungsoo berdiri. Sedikit benturan pun tak bisa mereka hindari membuat sesuatu terjatuh dari tangan Sehun. Kyungsoo yang lebih cepat memungut benda itu dari lantai. Selembar foto. Sehun menegang karena foto itu adalah gambar dirinya bersama Kris dan Luhan juga. Bagaimana tidak, karena yang ia tahu Kyungsoo tidak suka dengan Kris.
        “Apa ini hyungmu?” tunjuk Kyungsoo pada gambar diri Luhan. Jelas saja Kyungsoo langsung menebak Luhan, karena Sehun lebih memiliki kemiripan dengan Luhan, tidak dengan Kris.
        “Iya.” Jawab Sehun singkat sambil menerima foto itu dari tangan Kyungsoo.
        “Dan yang satu lagi?”
        Sehun tak langsung menjawab. Ternyata Kyungsoo tidak benar-benar tahu sosok Kris yang sebenarnya. Mungkin ia hanya mendengar cerita tentang Kris dari hyungnya.
        “Kyungsoo…” Sehun mendorong tubuh Kyungsoo yang lebih pendek darinya. “Aku sudah sangat lapar…”

@@@

        Seorang pemuda berdiri mematung sambil menatap keluar jendela di dalam kamarnya. Sementara pemuda yang satu lagi, duduk memeluk lututnya di atas sofa tak jauh dari tempat pemuda pertama berdiri.
        “Apa kita benar-benar akan dipisahkan?” Tanya pemuda yang duduk di sofa. Ia sangat takut. Takut jika mereka benar-benar akan berpisah seperti apa yang ia tanyakan.
        Belum sempat pemuda yang berdiri tadi menjawab, pintu lebih dulu terbuka dan memunculkan seorang wanita dewasa yang cukup cantik. Dua pemuda tadi langsung menoleh dan menegang setelah mengetahui siapa wanita itu.
        “Jongin, kau ikut ibu!” perintah wanita tadi.
        “Tidak!” Pemuda yang tadi duduk di sofa itu langsung berdiri sambil menggelengkan kepalanya kuat-kuat. “Ibu tidak bisa memisahkanku dengan Suho hyung.”
        Kembali muncul seseorang dari belakang wanita tadi. Kali ini seorang pria dengan pakaian sangat rapih. Jongin langsung merapatkan tubuhnya ke samping Suho.
        “Apa kau ingin berhenti sekolah dan melihat Suho menderita?” ancam tuan Kim dengan sorot mata tajam menusuk Jongin.
        “Kita tidak punya banyak waktu, Jongin.” Seru nyonya Kim sambil menarik tangan Jongin menjauh dari Suho.
        Jongin yang panic tidak bisa melawan. Ia hanya sempat meraih tangan Suho yang tidak bereaksi apa-apa. Semakin kuat nyonya Kim menarik tangannya, Jongin akan semakin erat pula menggenggam tangan Suho.
        Tatapan Suho dan tuan Kim bertemu. Suho tak berani melawan ketika mata tuan Kim terlihat seperti memerintah sesuatu. Digenggamnya tangan Jongin hingga adiknya itu menoleh.
        “Pergilah.” Seru Suho singkat sambil perlahan menjauhkan tangan Jongin dari tangannya tanpa menatap adiknya.
        “Hyung…” lirih Jongin tak percaya Suho memperlakukannya seperti itu. Sedetik kemudian tatapan Jongin berubah ke Suho. Sekuat tenaga Jongin menutupi rasa kecewanya. Ia pura-pura tak peduli sambil berbalik dan ganti menarik tangan ibunya untuk segera pergi dari sana.
        Suho menghempaskan tubuhnya ke sofa setelah Jongin menutup pintu kamar dari luar. Ia tak mempedulikan tatapan ayahnya yang penuh dengan kemenangan.

@@@

        Ketika jam istirahat, Tao dan Chanyeol berbondong-bondong mendekati meja Kris.
        “Kris… ku pikir kau kakak kelas kami.” Kata Chanyeol.
        “Harusnya memang iya. Tapi ya sudahlah…” Kris tampak tak ingin membahas lagi tentang kasus tinggal kelas yang sempat ia alami. Chanyeol dan Tao tak ada yang berkomentar lagi. “Apa kalian ingin bersenang-senang?” tawar Kris.
        Chanyeol dan Tao saling pandang, lalu mereka kompak menatap Kris penuh tanya.
        Kris memposisikan wajahnya di tengah-tengah wajah Chanyeol dan Tao. “Minseok ingin mengajak sparing nanti sore.” Ujar Kris pelan.
        “Sparing apa?” Tanya Tao dengan tatapan polos. “Basket? Sepakbola? Voli? Atau…” Tao tak melanjutkan ucapannya karena mendapat tatapan membunuh dari Kris.
        “Apa kau akan menyia-nyiakan kemampuan berkelahimu?”
        Sepertinya Tao baru mengerti maksud ucapan Kris tadi. Kris sendiri tak ingin ambil pusing dan lebih memilih meninggalkan dua teman barunya ini.

@@@

        Kris menyandarkan badannya pada tiang gawang sambil memejamkan mata menikmati alunan music yang ia putar dari mp3nya. Sementara Tao, tampaknya sudah tertidur di atas lapangan rumput tersebut. Dan Chanyeol, duduk di samping Kris dengan mata yang selalu mengedar.
        “Apa benar ini tempatnya?” Tanya Chanyeol. Ketika melirik Kris, ia sadar Kris tidak akan menjawab karena earphone yang digunakan Kris membuat suara Chanyeol teredam.
        Chanyeol kembali mengawasi sekitar, kali ini sambil membuka tutup botol air mineral yang sempat ia beli sebelum ke sini. Chanyeol mulai menenggak minumnya langsung dari botol, namun salah satu tangannya yang bebas menyenggol-nyenggol Kris.
        “Apa?” Tanya Kris yang merasa terganggu sambil menarik earphone yang menutupi telinganya. Kris melirik arah yang ditunjuk Chanyeol. Tampak tiga pemuda berseragam SMA datang mendekat.
        “Ku pikir kalian yang tidak akan datang?”
        Kris berdiri, dan tatapannya langsung saja tertuju pada pemuda yang tadi bicara. “Jongin, kau di sini?” Kris menatap lekat pemuda yang paling tinggi dari dua pemuda lainnya. Tapi tentu saja ia masih kalah tinggi dari Kris. “Aku sudah sangat merindukanmu.” Ledek Kris sambil merentangkan tangannya untuk menggoda Jongin.
        “Jaga sikapmu!” tegur Jongin yang cukup ngeri dengan tatapan abnormal dari Kris.
Kris tampak seperti pemuda yang menyukai sesama jenis. Tapi tentu saja itu hanya trik untuk menjatuhkan mental lawan.
        “Apa aku melewatkan sesuatu?”
        Kris berbalik dan mendapati Tao sudah berdiri di belakangnya dan bertanya sambil mengusap kedua matanya seperti anak kecil yang baru bangun dari tidur.
        “Tenang saja, kita bahkan belum mulai.” Kris yang menjawab. Namun tak sampai sedetik kemudian Kris tampak merunduk karena ternyata Minseok hendak melancarkan pukulan yang bisa dengan mudah di tahan oleh Tao.
        Jongin tak membuang kesempatan untuk menyerang Kris. Dan Tao harus menghadapi Minseok. Sementara Chanyeol? Pemuda itu masih duduk seperti tadi. Tampaknya ia tidak terlalu tertarik untuk berkelahi saat itu.
        Chanyeol mengambil earphone yang ditinggalkan Kris, lalu memasang benda itu di telinganya. Tinggal satu orang lagi dari teman Minseok yang tersisa.
        “Hai Lay…” Chanyeol melambaikan tangan. Mungkin ia merasa simpatik karena pemuda itu ditinggal berkelahi oleh Minseok dan Jongin. “Mau bergabung denganku?” tawarnya sambil menepuk rumput di sampingnya sebagai isyarat ia mengajak Lay untuk duduk di sana.
        Dengan kesal Lay mendekat. Tapi ia tak melakukan apa yang diperintah Chanyeol.
        “Aku datang ke sini untuk berkelahi.” Tegas Lay.
        Chanyeol mendongak dengan tatapan meremehkan. “Nanti saja. Aku ingin merlihat mereka dulu.” Chanyeol beralasan.
        Lay sendiri sudah tidak bisa sabar lagi. Lantas ia menarik dengan paksa earphone dari telinga Chanyeol, lalu membawa pemuda yang lebih tinggi darinya itu untuk berdiri. Lay mendaratkan satu pukulan hingga Chanyeol tersungkur ke belakang.
        “Aku bahkan belum siap!” protes Chanyeol yang beranggapan Lay mencuri start. Ia sempat menyeka tepi bibirnya sambil berdiri.
        Lay berdiri dengan posisi sigap sambil mengepalkan kedua tangannya di depan dada. “Apa tidak ada sedikitpun ilmu bela diri yang kau pelajari dari Tao?” sindir Lay apalagi jika membandingkan dengan kesigapan Tao dan Kris menghadapi serangan diam-diam dari Minseok tadi.
        Chanyeol pura-pura berfikir. “Maksudmu seperti ini?” secepat kilat Chanyeol melempar tendangan yang sukses mendarat di perut Lay hingga pemuda itu tersungkur.
        Sementara itu, Kris mati-matian menahan serangan Jongin yang bertubi-tubi. “Bukan seperti itu.” Teriakan Kris membuat Jongin berhenti menyerang, namun tetap menatap Kris waspada.
        “Kris!” teriak seseorang dari pinggir lapangan. Pria itu adalah Sukjin, guru sekolah Kris. “Kenapa kau selalu cari masalah? Apa kau ingin kejadian kemarin terulang lagi?” ancamnya sambil pasang tampang galak. Tapi sepertinya, wajah galak Sukjin yang seperti itu tidak akan membuat siswanya merasa takut, melainkan akan menertawakannya.
        “Cari masalah apa? Kami sedang bermain di sini.” Jawab Kris tak sopan.
        Jongin tetap dalam posisi sigap sambil memperhatikan percakapan antara murid dan guru yang satu ini.
        “Bagaimana bisa aku mempercayaimu.” Sukjin masih mempertahankan ekspresi galaknya.
        Kris menoleh dengan malas ke arah Tao dan Minseok yang kini telah bermain ‘batu gunting kertas’. Di saat yang bersamaan ketika Kris menyaksikan pemandangan itu, nampaknya Minseok kalah sehingga ia harus terima ketika Tao mencubit pipinya yang tembam. Minseok sedikit melotot karena sepertinya Tao tak membuang kesempatan untuk menganiayanya.
        “Bapak lihat sendiri, kan?” pertanyaan Kris sukses membuat Sukjin mendelik kesal padanya, lalu pergi tanpa berkata-kata lagi.
        Jongin melirik ke arah Lay dan Chanyeol berada. Dua pemuda itu bahkan kini telah berbaring di atas lapangan rumput. “Apa yang kalian lakukan?” seru Jongin, baik untuk Lay ataupun untuk Minseok ketika Sukjin sudah tak terlihat lagi.
        Minseok segera bangkit di susul Tao yang kini berdiri di sampingnya. Jongin sendiri sama sekali tak merubah posisinya yang masih berdiri sigap dan kedua tangannya pun masih terkepal erat.
        Kris menurunkan kedua kepalan tangan Jongin. “Lanjutkan lain waktu.” Putusnya sepihak, lalu berjalan meninggalkan Jongin untuk memungut ranselnya yang tergeletak di samping Chanyeol. Ia juga sempat merebut paksa earphone yang sudah kembali dalam kekuasaan Chanyeol.
        Chanyeolpun bangkit diikuti dengan Lay. “Kau mau kemana?” tegur Chanyeol.
        “Pulang.” Jawab Kris singkat sambil terus berjalan.
        Tak ada yang berniat menghentikan Kris. Terutama Chanyeol yang berniat kembali membaringkan tubuhnya, namun tak jadi ia lakukan ketika mendapati Lay sedikit meringis sambil memegangi perutnya.
        “Apa tendanganku terlalu keras?” Tanya Chanyeol dengan tatapan polos.
        Lay melirik kesal. “Tidak.” Jawabnya. “Aku hanya sedikit lapar. Jadi perutku sedikit sakit.”
        “Oh…” Chanyeol manggut-manggut tak jelas. “Kenapa tidak bilang? Jadi aku akan memukulmu di bagian yang lain.”
        “Lay…” tegur Minseok sebelum Lay sempat berucap lagi. “Jangan teruskan.” Perintah Minseok, kemudian berbalik dan meninggalkan lapangan itu bersama Jongin dan Lay.

@@@


Selasa, 02 April 2013

KRIS WITHOUT WINGS (part 1)



        “Aaakkkhhh…!” jerit seorang pemuda bertubuh tinggi ketika seseorang menempelkan plester di keningnya.
        Sehun menutup telinga mendengar teriakan kakaknya. “Hyung, kau bisa diam tidak?” Tanya Sehun dengan suara tenang.
        “Kau terlalu kasar mengobati luka ku.” Balas pemuda tinggi tadi yang bernama Kris.
        “Kau terlalu sering pulang dengan kondisi babak belur seperti ini. Harusnya kau sudah kebal.” Sindir Sehun sambil membereskan peralatan p3k yang ia pakai untuk mengobati kakaknya. Sehun berdiri hendak pergi dari sana.
        “Sehun…!” pekik Kris ketika Sehun mendaratkan tangannya tepat di kening Kris yang luka. Kris hendak mengejar, namun Sehun sudah lebih dulu kabur dari sana.
        “Dokter Jaesuk tadi menelponku, besok kau harus bertemu dengannya.”
        Kris menoleh ketika mendengar suara seseorang yang kini sudah duduk di sampingnya di tempat Sehun duduk tadi. “Kenapa dokter Jaesuk selalu merindukanku?” Kris merespon dengan enggan.
        Luhan, kakak tiri Kris hanya tertawa menanggapi ucapan adiknya itu. “Lakukanlah demi ayah dan ibu. Kau tidak ingin mereka kecewa, kan?”
        Kris hanya berdecak, lalu menyambar remote tivi.
        “Kau berkelahi lagi? Dengan siapa?”
        “Masih dengan Minseok, Lay dan Jongin kok, hyung.” Jawab Kris sambil mengganti-ganti saluran tivi. “Mereka selalu cari gara-gara denganku.”
        “Apa kau tidak bisa berhenti?”
        Kris menoleh dan menatap Luhan tajam. “Kau sama saja seperti dokter Jaesuk.” Cibir Kris, lalu pergi dari sana.
        “Kris…” panggil Luhan untuk menghentikan Kris. “Kau mau kemana?”
        Kris tetap melangkah dan tak mempedulikan panggilan dari Luhan.
        Luhan menyandarkan tubuhnya sambil mendesah. “Selalu seperti ini.” Keluhnya.

@@@

        Pagi-pagi sekali Kris sudah keluar rumah menggunakan motor sport andalannya. Ini untuk kedua kalinya ia menjadi murid kelas 1 di SMA Two Moons. Karena kemarin ia terpaksa tinggal kelas akibat tertangkap berkelahi dengan murid dari SMA Sun Moon.
        Ketika berbelok, di ujung jalan sana Kris melihat sedikit keributan. Ia pun langsung mempercepat laju motornya agar segera sampai di sana. Ternyata ada sedikit perkelahian antara dua siswa berseragam SMA. Kris terpesona dengan teknik bela diri yang ditunjukan pemuda yang memiliki sorot mata tajam dan memiliki lingkaran hitam di sekitar matanya.
        “Siapa pemuda yang matanya terlihat seperti panda itu?” Tanya Kris pada seseorang yang berdiri tak jauh dari tempat ia menghentikan motornya.
        Pemuda yang diajak bicara dengan Kris itu juga bertubuh tinggi namun sedikit di bawah Kris. “Dia Tao, teman ku.” Kata pemuda yang memiliki tatapan playboy itu.
        Kris tersenyum samar. “Sepertinya aku memiliki saingan baru.” Gumam Kris sambil memakai helmnya.

@@@

        Luhan memainkan kunci mobil di tangannya. Ia berjalan keluar rumah lalu mendekati mobil sport keluaran terbaru hadiah dari Choi Gary, ayah Kris yang sudah seperti ayah kandungnya sendiri. Luhan membuka pintu mobil. Ketika melirik jam, ternyata masih terlalu cepat untuk masuk kuliah di hari pertamanya ini.
        Luhan menggeleng sambil menutup kembali pintu mobilnya dari luar. “Ini terlalu fulgar untuk mahasiswa baru sepertiku.” Luhan tampak mengurungkan niat untuk pergi menggunakan mobil. Ia lantas berjalan kaki keluar dari rumah.
        Ketika baru duduk di dalam bus, Luhan kembali memeriksa jam di tangannya. Ia menertawai dirinya sendiri. Hari pertama sebagai mahasiswa memang penuh dengan semangat. Tapi Luhan tak ingin terlalu ambil pusing. Ia akan menikmati perjalannya sekarang ini. Karena bisa saja nanti ketika kembali ke rumah, ayahnya akan memarahi karena Luhan tidak menggunakan mobil pemberiannya.
        Hanya beberapa meter lagi, bus akan berhenti di sebuah halte. Memang bukan halte tujuan Luhan, tapi pemuda itu mengambil langkah seribu untuk turun karena tak jauh dari sana ia melihat sedikit perkelahian. Entah hal apa yang membuatnya ingin ikut campur.
        Luhan mengejar orang-orang yang mulai berlarian. Jumlahnya tidak banyak, hanya tiga orang mengejar satu orang. Luhan mempercepat larinya ketika salah satu dari tiga oran itu berhasil menangkap pemuda itu yang kelihatannya seorang pemuda baik-baik.
        “Jangan beraninya hanya pada yang lemah.” Teriak Luhan memberanikan diri. Luhan berbeda dengan Kris. Jelas saja karena mereka tak sedarah. Biar bagaimanapun orang-orang mengenalnya sebagai kakaknya Kris, seorang ketua gangster sekolah yang hobinya berantem. Akan terdengar cukup janggal jika Luhan tak bisa berkelahi. “Aku bersyukur Kris pernah mengajari tekhnik beladiri.” Gumam Luhan sambil melepaskan ranselnya ke tanah sebelum akhirnya menyerang.

@@@

        Seseorang berseragam seperti dokter tampak membereskan arsip di sebuah ruangan. Kris yang mengintip kejadian itu, menyelinap masuk tanpa sepengetahuan orang itu. Kris sedikit membungkukan badannya di belakang orang itu.
        “Pagi dokter Jaesuk…!” teriak Kris tak sopan hingga membuat orang itu tersentak dan sedikit menghamburkan arsip di tangannya.
        “Kris…?” orang itu menatap Kris bingung.
        “Joongki hyung?” balas Kris sama bingungnya. “Pantas saja, tadi ku pikir doker Jaesuk operasi plastic makanya terlihat tampan sepertimu.”
        “Sudah selesai membicarakanku?”
        Kris membeku di tempat ketika mendengar suara seseorang di belakangnya. Sementara Joongki hanya menahan tawa sambil kembali melanjutkan urusannya yang sempat di ganggu oleh Kris.
        “Kenapa kau ada di sini, Kris?” Tanya suara itu lagi.
        Perlahan Kris membalikkan tubuhnya menghadap orang yang tadi berdiri di belakangnya. Tapi pria itu kini sudah duduk di kursi kerjanya. Kris mengukuti duduk di hadapan dokter Jaesuk.
        “Bukankah dokter sudah sangat merindukanku?” ujar Kris tak sopan sambil menatap nakal dokter Jaesuk.
        Pada umumnya dokter seperti dokter Jaesuk akan bersikap penuh wibawa meski tetap terlihat ramah kepada pasiennya. Tapi tidak untuk dokter Jaesuk kepada Kris. Ia malah tertawa selayaknya teman ketika menanggapi ucapan iseng dari Kris.
        “Ini masih pagi, harusnya kau sekolah.” Sambar Joongki masih dari tempat ia berada tadi.
        Kris berbalik untuk melihat Joongki. “Kau sendiri hyung? Bukankah kau harusnya kuliah? Kau kan calon dokter. Aku tak mau kau seperti dokter Jaesuk.” Oceh Kris hingga mendapat lemparan buku dari dokter Jaesuk yang mendarat tepat di kepalanya. “Kenapa anda memukul ku?” protes Kris tak terima sambil mengusap kepalanya.
        “Diam atau mau ku larang bermain basket lagi?” ancam dokter Jaesuk serius sambil berdiri dari kursinya.
        “Itu sama saja anda ingin aku mati lebih cepat.”
        Dokter Jaesuk menatap Kris tajam. “Jaga ucapanmu!” tegurnya. Kris hanya diam. Sementara Joongki cukup dibuat tegang dengan pemandangan di hadapannya. “Cepat berbaring. Aku ingin memeriksamu.” Perintah dokter Jaesuk tanpa menatap Kris.
        Kris menghela napas sebelum akhirnya melepaskan ransel yang masih menempel di pundaknya. “Selalu saja seperti ini.” Cibir Kris pelan. Dengan malas ia naik dan berbaring di tempat tidur. Sementara dokter Jaesuk masih mempersiapkan alat kedokterannya untuk memeriksa Kris.
        Dokter Jaesuk menepuk pelan pipi Kris karena pasiennya itu telah memejamkan mata. “Aku tidak menyuruhmu untuk tidur.”
        Kris menggeliat masih dengan mata tertutup lalu membaringkan badannya ke arah samping. “Anda kan tau kalau aku sangat menyukai tempat tidur.” Ujar Kris seenaknya lalu kembali tidur.
        “Kris…” tegur dokter Jaesun yang terdengar sangat sabar menghadapi pasiennya yang satu ini.
        “Oke… oke… aku menurut.” Kata Kris cepat-cepat sambil kembali ke posisi semula lalu kedua tangannya mulai membuka kancing kemeja seragam sekolahnya.

@@@

        Luhan tampak keluar dari sebuah mini market sambil menenteng kantong plastic berisi air mineral dan beberapa obat untuk luka. Di luar sana, pemuda yang tadi ia tolong telah menunggu sambil sesekali memegangi tepi bibirnya yang terluka.
        “Aku tidak seperti Sehun, adikku yang selalu menyediakan obat untuk luka seperti itu.” Kata Luhan berbasa-basi sambil duduk di samping pemuda tadi. “Aku Song Luhan. Panggil saja aku Luhan.”
        “Park Jongdae.” Balas pemuda tadi sambil menerima obat pemberian Luhan.
        Untuk kesekian kalinya Luhan memeriksa jam di tangan kirinya. “Ternyata masih satu jam lagi.” Luhan mendesah pelan.
        “Apa ini hari pertamamu kuliah?” tebak Jongdae.
        Luhan terkesiap mendengar ucapan pemuda yang baru saja ia kenal. “Dari mana kau tau?”
        Jongdae tersenyum samar. “Aku juga. Dan kalau tak keberatan aku ingin mengantarmu sebagai tanda terima kasih. Kau kuliah di mana?”
        “Aku kuliah di Central University. Tapi kau tak perlu repot-repot untuk mengantarku.” Tolak Luhan cepat-cepat.
        “Kalau aku katakan aku juga kuliah di Central University, apa kau akan tetap menolak?” Tanya Jongdae membuat Luhan melebarkan matanya tak percaya bahwa ia sudah memiliki teman bahkan sebelum ia tiba di kampusnya.

@@@

        “Kyungsoo…” panggil Sehun kepada pemuda yang duduk di depannya sambil menumpukkan beberapa buku pelajaran miliknya. Saat ini sudah masuk jam istirahat. Beberapa teman sekelasnya yang lainpun mulai meninggalkan kursi mereka.
        Pemuda yang memiliki mata bulat tersebut berbalik menghadap Sehun. “Kau mau makan apa?”
        Sehun berdecak kecewa. “Bukan itu yang ingin ku tanyakan.”
        “Lalu?” Tanya Kyungsoo penuh minat.
        “Apa di SMA nanti kita masih bisa satu sekolah?” Sehun bertanya dengan nada khawatir mereka tidak bisa berteman lagi.
        “Memangnya kau ingin bersekolah di mana?”
        “SMA Two Moons.” Sehun menjawab penuh semangat.
        “Kenapa kau harus memilih sekolah itu?” kini giliran Kyungsoo yang tampak kecewa. “Kau tau? Di sana ada siswa bernama Kris.” Ucapan Kyungsoo ketika menyebut nama Kris membuat Sehun membeku seketika. “Dia selalu cari masalah dengan hyungku. Tapi aku senang, karena ku dengar ia sampai tinggal kelas karena berkelahi dengan hyungku dan temannya. Si Kris itu memang pantas mendapatkannya.”
        Sehun semakin tertunduk ketika mendengar temannya menjelek-jelekkan Kris di hadapannya. Kyungsoo memang tidak tau bahwa Sehun adalah adiknya Kris. Dan Kris juga sedikit melarang Sehun untuk mengaku sebagai adiknya dengan alasan demi keselamatan Sehun.
        “Kau kenapa?” tegur Kyungsoo karena melihat perubahan sikap yang ditunjukkan Sehun.
        Sehun memaksakan senyumnya terukir. “Tidak, aku hanya sudah sangat lapar. Ayo pergi.” Ajak Sehun sekaligus untuk mengalihkan pembicaraan mereka tentang Kris dan SMA yang mereka pilih nantinya.

@@@

        Kris asik sendiri mengunyah makanan ringan di hadapannya sambil menyaksikan pertandingan sepakbola dari tivi. Di sisi lain, ia juga sedikit khawatir karena hingga malam Luhan belum pulang. Tak lama terdengar suara pintu terbuka lalu kembali menutup. Kris berbalik dan berharap itu Luhan yang datang. Ternyata Sehun yang keluar dari kamarnya sambil membawa beberapa tumpuk buku dan alat tulis.
        Kris menatap Sehun sampai adiknya mengambil tempat tepat di sampingnya. “Tugas lagi?” Tanya Kris enggan.
        Sehun mengangguk mantap sambil membuka buku-buku yang ia bawa dan membuat Kris bersandar lemah pada sandaran sofa.
        “Tunggu Luhan saja.” Seru Kris tanpa melirik ke Sehun. Ia kini lebih memilih kembali menikmati tontonannya dari pada menemani Sehun berkutat dengan tugas matematika.
        “Tidak mau!” kesal Sehun sambil bangkit mendekati tivi. Ia mematikan tivi langsung dari tombol utama. “Sebelum tugasku selesai, kau tidak boleh menonton tivi.” Putus Sehun secara sepihak. Ia tak peduli seberapa besar kekesalah Kris padanya.
        Dengan sangat terpaksa Kris menerima buku yang disodorkan Sehun. Terpaksa atau tidak, Kris memang ingin Sehun menjadi lebih baik dari pada dirinya yang lebih suka berkelahi. Dengan malas Kris membolak-balikkan halaman pada buku Sehun. Saat ini harapannya hanya satu, yaitu Luhan cepat pulang agar hyungnya itu menggantikan posisi Kris untuk mengajari Sehun.
        “Ku rasa Luhan hyung lupa jalan pulang.” Ledek Sehun seolah bisa menebak isi kepala Kris.
        Kris melirik Sehun tajam. Ia juga hendak memukul kepala Sehun dengan buku jika saja tidak terdengar suara pintu utama terbuka.
        “Hyung, cepat kembali dan bantu aku mengerjakan tugas.” Teriak Kris yang kini sudah membalikkan badan menghadap Luhan yang siap membuka pintu kamarnya.
        “Kenapa Luhan hyung cepat sekali pulang?” kesal Sehun. Ia memang sangat menghindari Luhan untuk membantunya mengerjakan tugas, karena hyungnya yang satu itu tidak akan melepaskan Sehun dengan mudah.
        “Sudah bagus hyungmu tidak nyasar naik bus.” Omel Kris.
        “Sudahlah, apa yang bisa ku bantu.” Luhan melerai Kris dan Sehun sebelum perang di antara dua adiknya benar-benar pecah.
        “Hyung, jangan duduk di situ.” Cegah Kris sebelum Luhan duduk di sampingnya. Kris langsung bergeser dan mengisyaratkan Luhan untuk duduk di tengah-tengah antara dia dan Sehun. Kris tersenyum jahil melihat Sehun cemberut.
        Kris masih saja mengganggu Sehun. Ia memukul kepala Sehun dari belakang kepala Luhan.
        “Hyung!” protes Sehun sambil memegangi kepalanya.
        “Perhatikan yang benar!” balas Kris tak kalah galaknya.
        “Kris, jangan mengganggu Sehun terus.” Luhan ikut menegur Kris karena ulahnya sedikit mengganggu dirinya yang sedang memberi penjelasan untuk Sehun.
        “Apa kau ingin aku meninggalkan kalian di sini?” Tanya Kris, namun tatapannya tertuju ke Sehun yang mati-matian menolak Kris meninggalkannya hanya berdua saja dengan Luhan. Tentu saja Luhan tak melihat raut wajah Sehun karena ia tengah melirik ke arah Kris.

@@@

        “Kris…” teriak seseorang dari luar kamar Kris.
        Kris melirik jam dinding di dalam kamarnya melalui matanya yang merah. Siapa yang berani menganggu tidurnya tengah malam begini? Kris semakin dalam menutup tubuhnya hingga kepala menggunakan selimut.
        Karena tidak mendapat jawaban, orang tersebut membuka pintu kamar Kris lalu masuk ke dalamnya. Seorang wanita paruh baya namun masih terlihat sangat cantik.
        “Kris… ayo bangun sayang…” ucapnya lembut sambil menarik ujung selimut yang menutupi tubuh jangkung Kris.
        Kris memaksa membuka matanya yang terasa sangat pedas. Begitu tau siapa wanita itu, Kris tersenyum dengan mata setengah terpejam. “Ibu…” gumam Kris manja sambil memeluk tubuh ibunya yang lebih kecil darinya itu.

@@@

        Luhan menguap sebelum memasukan makanan ke dalam mulutnya menggunakan sumpit. Makan bersama di tengah malam seperti ini bukan kejadian aneh di tengah keluarga Luhan. Tuan dan nyonya Choi yang sangat sibuk dengan pekerjaan mereka, selalu menyempatkan makan bersama ketiga putra mereka sesempit apapun waktunya.
        “Sayang… jangan manjakan Kris seperti itu.”
        Luhan buru-buru menoleh dan menajamkan matanya untuk melihat apa yang membuat ayahnya berkata demikian. Sedetik kemudian, Luhan tertawa melihat Kris yang tinggi menjulang itu memeluk ibunya dari belakang dan memaksakan diri untuk menenggelamkan wajahnya di pundak sang ibu. Kris bahkan harus bersusah payah membungkuk bahkan sampai menekuk lehernya.
        Kris menghempaskan tubuh di kursi tepat di samping ibunya. Sementara Luhan duduk berseberangan dengannya. Kris sedikit tertawa ketika menyadari seseorang yang duduk di samping Luhan. Luhanpun ikut menoleh dan menertawai Sehun yang sudah kembali tidur sambil menopang dagunya dengan tangan di atas meja makan.
Kembali sebuah ide jahil muncul di otak Kris. Ia merebut sumpit sari tangan Luhan, lalu mengambil sebuah cabai yang masih utuh dari dalam mangkuk Luhan. Tidak ada yang berniat melarang aksi jahil Kris, bahkan ayah dan ibunya sekalipun.
        Tuan Choi bahkan ikut andil mengerjai Sehun ketika Kris mendekatkan sumpit yang menjepit cabai itu ke mulut Sehun.
        “Sehun… ayo buka mulutnya.” Bisik tuan Choi tepat di telinga Sehun. Sementara nyonya Choi hanya bisa menatap kasihan anak bungsunya itu. Dan yang lebih mengejutkan, Sehun menuruti ucapan sang ayah untuk membuka mulut yang tak di sia-siakan Kris untuk memasukan cabai tadi ke dalam mulut Sehun. Dengan santai Sehun mengunyah dengan mata masih terpejam erat.
        Kris, Luhan, tuan dan nyonya Choi menunggu reaksi Sehun sambil melempar tatapan satu sama lain.
        “Hwaaaaa…” jerit Sehun seketika hingga membuat Luhan yang duduk tepat di sampingnya menutup telinga. Dan Kris yang paling senang melihat penderitaan adiknya.
        “Ini minum…” nyonya Choi dengan panic menyodorkan gelasnya untuk Sehun setelah anak bungsunya memuntahkan cabai tadi ke atas piringnya yang kosong.
        “Hyung jahat…” rengek Sehun. “Ibu…” dengan manja Sehun mendekati nyonya Choi dan memeluk ibunya dari belakang.
        “Dia ibuku…” iseng Kris sambil berusaha menjauhkan tangan Sehun dari badan ibunya.
Luhan hanya menatap penuh haru pemandangan di depannya ketika nyonya Choi juga merangkul Kris. Walau Kris bukan anak kandungnya, tapi nyonya Choi sama sekali tak membedakan kasih sayangnya kepada Luhan, Kris dan Sehun karena mereka telah bersama bahkan sejak Sehun belum lahir.

@@@

Senin, 01 April 2013

KRIS WITHOUT WINGS (cast)



Choi Kris Woo :
·        Memiliki penyakit lemah jantung sejak kecil
·        Ayahnya menikah dengan ibunya Luhan
·        Ketua gangster di SMA bersama Tao dan Chanyeol
·        Bermusuhan dengan Minseok, Lay dan Jongin
·        Dilarang dokter bermain basket
·        Bersikeras mendekatkan Sehun dengan Luhan
·        Pernah tinggal kelas 1 kali

Song Luhan :
·        Kakak tiri Kris
·        Ibunya menikah dengan ayahnya Kris
·        Paling tidak dekat dengan Sehun, tapi sangat perhatian dengan dua adiknya
·        Bersahabat dengan Jongdae

Choi Sehun
·        Anak dari Choi Gary dengan Song Ji Hyo
·        Paling dekat dengan Kris
·        Bercita-cita menjadi dokter
·        Sangat menghindari Luhan ketika belajar
·        Bersahabat dengan Kyungsoo, adik Minseok

Choi Gary :
·        Suami Song Ji Hyo
·        ayah Choi Kris Woo dan Choi Sehun

Song Ji Hyo
·        istri Choi Gary
·        ibu Song Luhan dan Choi Sehun

Kim Minseok :
·        sahabat Lay dan Jongin
·        musuh Kris sejak SMA
·        kakak Kyungsoo
·        sepupu Baekhyun

Park Jongdae :
·        sahabat Luhan
·        kakak Lay

Park Shin Lay :
·        sahabat Minseok dan Jongin
·        adiknya Jongdae
·        musuh Kris sejak SMA

Yoo Zi Tao :
·        sahabat Kris dan Chanyeol di SMA
·        anak Yoo Jaesuk

Kim Suho :
·        teman kuliah Kris dan Baekhyun
·        kakak Jongin
·        orang tuanya berpisah dan ia tinggal bersama ayah, sementara Jongin ikut dengan ibu mereka
·        pintar, pendiam, anak orang kaya, menutup diri dari lingkungan kampus

Byun Baekhyun :
·        teman kuliah Kris dan Suho
·        sepupu Minseok dan Kyungsoo
·        adik kelas Luhan di SMA
·        teman kecil Chanyeol

Park Chanyeol :
·        sahabat Kris dan Tao di SMA
·        teman kecil Baekhyun

Kim Kyungsoo :
·        sahabat Sehun
·        adik Minseok
·        sepupu Baekhyun

Kim Jongin :
·        sahabat Minseok dan Lay
·        musuh Kris sejak SMA
·        adik Suho
·        orang tuanya berpisah dan ia tinggal bersama ibu, sementara Suho ikut dengan ayah mereka

Yoo Jaesuk :
·        dokter pribadi Kris
·        ayah Tao

Ji Sukjin :
·        kepala sekolah dan guru SMA Kris

Kim Jongkook :
·        pelatih klub basket Kris

Kim Dong Hoon :
·        Ayah Suho dan Jongin

Lee Gwangsoo :
·        supir pribadi keluarga Suho

Song Joongki :
·        calon dokter
·        asisten dokter Yoo Jaesuk
·        teman klub basket Kris

Member B2ST (Doojoon, Gikwang, Yoseob, Junhyung, Hyungseung, Dongwoon) :
·        ‘cameo’
·        Musuh SMA Twomoons dan SMA Sunmoon