Senin, 16 Desember 2019

SKY AND EARTH (5. Doyoung sakit)




            Wooshin menghentikan mobil Doyoung yang ia kendarai. Cowok itu masih menatap rumah besar di depannya sambil menunggu salah saeorang satpam pribadi Doyoung membukakan pagar. “Lu adeknya Inseong?”
            Doyoung menoleh sambil mengangguk. “Lu kenal?
            “Senior gue di kampus. Kan gue juga satu jurusan sama dia.”     
            Setelah benar-benar menghentikan mobil, Wooshin segera turun lalu mengitari mobil menuju pintu penumpang tempat Doyoung duduk. Jiwoo ternyata sudah lebih dulu membantu Doyoung. Wooshin kemudian mengambil alih salah satu tangan Doyoung untuk ia lingkarkan ke lehernya. Jiwoo ikut membantu dari samping. Hanya berjarak beberapa meter dari depan pintu, benda tinggi itu sudah lebih dulu perlahan terbuka. Memunculkan seorang wanita cantik bersama cowok tinggi. Itu Yoona dan Jungwoo yang sontak terkejut dengan kedatangan Wooshin dan Jiwoo yang membawa Doyoung dengan kondisi sakit.
            “Doyoung kamu kenapa?” jerit Yoona sedikit histeris. Wanita itu kemudian menangkup wajah Doyoung yang tampak pucat.
            Doyoung berusaha tersenyum sambil melepaskan tangannya dari pundak Wooshin. “Nggak apa-apa, bun. Abis donor darah, pusing dikit. Besok juga baikan.”
            “Halo, tante. Saya Wooshin. Dulu saya pernah datang ke sini. Saya juniornya bang Inseong juga di kampus.” Wooshin mengulurkan tangan untuk menyalami Yoona. “Ini teman saya, Jiwoo.”
            “Jiwoo, tante.” Cewek itu juga melakukan hal yang sama seperti Wooshin dan dibalas dengan ramah oleh Yoona.
            “Kalian mau ke mana?” tanya Doyoung yang mencurigai Jungwoo karena membawa ransel dipunggungnya.
            “Papa di rawat,” Jungwoo yang menjelaskan dan Yoona hanya mengangguk untuk membenarkan. Doyoung, Wooshin dan Jiwoo jelas langsung terkejut.
            “Makanya ini bunda bingung. Gimana ya? Inseong baru pulang besok pagi. Terus kamu pulang-pulang kaya gini.” Yoona membelai lembut pipi Doyoung. Tidak ada yang bicara lagi setelah itu sampai akhirnya tatapan Yoona jatuh pada sosok Jiwoo. “Tante bisa minta tolong kamu?” Yoona menyentuh pundak Jiwoo dengan tangannya yang satu lagi sambil menatap penuh harap. “Tolong jagain Doyoung dulu. Nanti kamu kasih nomor telepon mama kamu, biar tante yang minta ijin.”
            Jiwoo yang tidak bisa langsung memberi keputusan, menatap Wooshin. Untuk kondisi seperti ini, justru yang ia butuhnya adalah ijin dari Wooshin atau teman-temannya yang lain. Terlebih kondisinya ia diminta untuk menjaga Doyoung. Hubungan mereka dengan teman-temannya Doyoung juga jauh dari kata baik. Kecuali dalam situasi tertentu—contohnya seperti sekarang karena Doyoung tiba-tiba sakit.
            “Besok pagi gue jemput lu di sini,” kata Wooshin akhirnya.
            Jiwoo menatap Wooshin sedikit tidak percaya. Wooshin yang menyadari reaksi Jiwoo, hanya mengedip pelan sebagai tanda ia mengijinkan Jiwoo di sana. Toh Jungwoo juga akan pulang setelah mengantar ibunya ke rumah sakit.
            “Wooshin, thanks ya. Lu bawa mobil gue aja, besok kan lu ke sini lagi.”
            Wooshin hanya mengangguk untuk merespon ucapan Doyoung. Jiwoo lalu menyodorkan kuncil mobil Doyoung yang tadi ia pegang karena Wooshin ingin membantu Doyoung. Setelah itu Wooshin pamit. Bersamaan dengan Yoona dan Jungwoo yang juga akan meninggalkan rumah.

***

//The Eliters//
Seunghee : *Mengirim foto self camera cewek itu yang tengah berada di sebuah klab malam*
Seunghee : “Nggak ada yang mau nyusul?”
Seunghee : “Gue tunggu loh.”
Taeyong : “Kenapa nggak bilang dari tadi, sih? Gue langsung on the way!”
Yuta : “Yaudah gue nyusul entar. Makan dulu, udah terlanjur pesen.”
Somin : “@Johnny ikut, nggak?”
Johnny : “Lu yang jemput gue ya? @Somin.”
Yujin : “Nggak ada kendaraan. Kalo ada yang bisa jemput, boleh banget.”
Taeyong : “Siap-siap ya @Yujin.”
Rowoon : “Skip ya gue. Mau bikin laporan bulanan café.”
Somin : “Pulangnya gue nginep di tempat lu ya @Johnny.”
Johnny : “Tinggal di rumah gue juga nggak apa-apa. Hahahaha. @Somin.”
Ten : “Anak rajin @Rowoon. Nggak kaya @Taeyong sering skip kelas. Wkwkwk.”
Taeyong : “Nggak usah bacot. Kalo mau ikut gue belok perumahan lu, nih @Ten.”
Ten : “Gue lagi nggak di Jakarta. Udah lu nerus aja. @Taeyong.”
Yuta : “Yaudah entar gue nyusul pokoknya. Kebetulan lagi sama Sejun nih.”
Seunghee : “Nongol, dong @Sejun.”
Yuta : “Hapenya mati doi. @Seunghee.”
Seunghee : “@Doyoung di mana lu? Buruan nyusul sini.”
Rowoon : “Doyoung nggak bisa dihubungin dari sore.”
Ten : “Loh? Ke mana ya?”
Yuta : “Kata Sejun terakhir Doyoung masih nelpon dia nyuruh nganterin obat ke Wonwoo.”
Yuta : “Terus abis itu anaknya ngilang.
Yuta : “Padahal dia yang mau nganterin obatnya Wonwoo.”
Rowoon : “Nggak ada yang mau ke Wonwoo dulu?”
Taeyong : “Yaah, gue udah jauh, Woon.”
Doyoung : *Mengirim foto*
Doyoung : “Maaf nggak bisa ikutan, abang lagi sakit. -Jungwoo.”

***

            Jungwoo tertawa sendiri sampai memegangi perutnya. Sesekali juga itu memukul sandaran sofa. Cowok itu baru saja kembali ke rumah beberapa menit lalu. Kebetulan Inseong juga baru sampai rumah saat menemukan Jungwoo di ruang tengah.
            “Kenapa lu?”
            Jungwoo menoleh dan mendapati Inseong sudah duduk di sebelahnya. Jungwoo lalu mengarahkan layar ponsel ditangannya ke depan wajah Inseong. “Temen-temennya bang Doy. Kocak banget.” Jungwoo bercerita masih sambil tertawa.
            “Loh ini hapenya Doy?” tanya Inseong sambil mengambil alih ponsel di tangan Jungwoo yang masih membuka grup chat Doyoung bersama geng elitersnya. Inseong melakukan scroll down pada layar sentuh ponsel Doyoung. Cowok itu membulatkan mata saat menemukan foto Doyoung yang tertidur di kamarnya. Foto yang dikirmkan langsung dari ponsel tersebut. Bukan hanya Doyoung, namun di dalam foto itu ada sebuah tangan lain yang sedang menggenggam tangan Doyoung. Jika dipertegas, tangan itu milik seorang cewek. “Doyoungnya mana?”
            “Di kamar. Bang Doyoung pulang-pulang sakit. Itu hapenya di gue karena dia minta tolong di charge. Tadi low bath,” jelas Jungwoo dengan nada cuek. Cowok itu juga sudah sibuk dengan ponselnya sendiri.
            “Doy sakit apa? Terus ini dia sama siapa? Doyoung bawa cewek? Bunda tahu?”
            Jungwoo hanya menatap Inseong melalui lirikan mata. “Bunda yang nyuruh cewek itu nginep sini.”
            Inseong melebarkan mata mendengar penuturan Jungwoo. “Kok bisa? Emang siapa, sih? Cewek yang mau dijodohin ke Doyoung itu?”
            “Bukan.” Jungwoo menggeleng tegas. “Gue udah tau siapa cewek yang bakal dijodohin sama Bang Doyoung.”
            “Siapa?” tanya Inseong penuh rasa penasaran.
            Jungwoo tidak langsung menjawab. Ia menatap Inseong cukup lama. Namun akhirnya dia menggeleng. “Mending lu kasih ke gue list perusahan orang tua dari temen-temen lu dan temen-temennya Bang Doyoung juga kalo bisa.”
            “Mau ngapain sih lu anak kecil?”
            Jungwoo langsung menatap Inseong sinis karena merasa di remehkan. “Terserah. Tapi adik kecil lu ini nggak rela Bang Doyoung dijodohin sama dia. Mending lu cari ide buat gagalin tunangan mereka aja deh kalo nggak mau bantu.”
            Inseong memijat keningnya. Jungwoo itu sulit ditebak dan sedikit licik. Berbeda dengan Doyoung yang bisa dikatakan cukup polos. Namun Jungwoo tidak akan tinggal diam jika ada yang menyakiti saudaranya. “Yaudah gini aja. Lu butuh gue bantu ngapain buat nyelametin Doyoung dan perusahaan ayah. Berasa nggak guna gue jadinya.”
            List yang tadi gue minta. Udah itu aja,” kata Jungwoo dengan entengnya sambil berdiri dan meninggalkan Inseong di sana tanpa pamit.

***

            Di pagi harinya, Jiwoo terlihat mengerjapkan matanya yang kemudian perlahan terbuka. Cahanya matahari juga tampak sudah menembus celah-celah jendela kamar Doyoung. Dan Jiwoo melebarkan mata sambil perlahan bangkit karena terkejut menemukan Doyoung masih tertidur di sebelahnya.
            “Oiya, semalem gue disuruh jagain Doyoung.” Jiwoo berujar pelan. Berusaha untuk tidak membangunkan Doyoung. Perlahan tangan cewek itu terulur lalu mendaratkan telapak tangannya ke atas dahi Doyoung. “Nggak panas.” Tampak kelegaan di wajah cewek itu. Wajah Doyoung juga sudah tidak sepucat semalam.
            Jiwoo dikagetkan dengan suara pintu kamar Doyoung yang terbuka. Mendapati seseorang berdiri di sana—Jungwoo, Jiwoo bergegas turun dari tempat tidur Doyoung dan berdiri membeku. Dengan santainya Jungwoo melangkah masuk. “Ayo sarapan dulu. Takutnya temen lu bentar lagi dateng. Udah ditunggu juga sama Bang Inseong.”
            “Oh, iya.”
            Jungwoo hanya tersenyum kemudian cowok itu balik badan dan meninggalkan kamar Doyoung. Saat menutup pintu kamar Doyoung dari luar, Jungwoo masih tersenyum. Entah apa yang ia pikirkan. Cowok itu menuruni anak tangga dan langsung berbelok menuju dapur untuk bergabung dengan Inseong yang sudah duduk di meja makan sambil mengisi roti tawarnya dengan selai.
            “Kenapa lu senyum-senyum gitu? Naksir sama temennya si Doyoung?”
            Mendengar dituduh seperti itu, Jungwoo sama sekali tidak sakit hati. Seperti biasa, Jungwoo akan selalu mengambil tempat duduk di sebelah Inseong. “Nanti minta tolong cari tahu tentang cewek itu ya.”
            Inseong membatalkan niatnya untuk menggigit rotinya. “Buat apaan? Emang di salah satu temennya Doyoung itu?”
            Jungwoo menggeleng. “Bukan salah satu temennya Bang Doyoung. Gue bahkan nggak pernah liat dia sebelumnya. Tapi dia semalem dateng sama temennya lagi. Cowok. Dan cowok itu kenal elu. Katanya sih lu senior dia di kampus.”
            “Siapa?”
            “Gue lupa namanya,” jawab Jungwoo dengan santainya. Jungwoo melambaikan tangan karena dilihatnya Jiwoo mengintip dari balik tembok. “Sini. Abang gue nggak gigit, kok.”
            Jiwoo terkekeh mendengar candaan Jungwoo. Cewek itu kemudian melangkah mendekat ke arah Inseong sambil mengulurkan tangan untuk berkenalan. “Saya Jiwoo.”
            Inseong membalas uluaran tangan Jiwoo. “Gue Inseong. Santai aja ya di sini.”
            Jiwoo mengangguk sambil tersenyum canggung. Cewek itu kemudian mengambil tempat duduk di seberang Inseong. Jiwoo sempat mengucapkan terima kasih pada Jungwoo yang tadi menyodorkan segelas susu padanya. Kemudian, obrolan-obrolan ringanpun terjadi. Lebih banyak Inseong yang bertanya pada Jiwoo tentang bagaima Jiwoo mengenal Doyoung. Dan sedikit bertanya tentang keluarga Jiwoo juga. Namun tentu saja Jiwoo tidak menyebutkan nama seorang Jeon Wonwoo.
            Selang berapa menit, Wooshin tiba di sana. Inseong dan Jungwoo ikut mengantar Jiwoo sampai depan rumah. Dan sampai Jiwoo benar-benar pergi bersama Wooshin, Doyoung masih terlelap di kamarnya.

***

            Wooshin dan Jiwoo pulang menggunakan bus. Mereka langsung menuju café milik Rowoon. Heedo dan Euijin sudah menunggu di sana untuk membawakan pakaian milik Jiwoo. Cewek itu ada shift sejak pagi sampai sore.
            “Kalo nggak karena Wooshin, gue nggak bakal ijinin lu nginep di rumah Doyoung. Nggak peduli walau nyokapnya juga yang minta,” ujar Heedo saat melihat Jiwoo dan Wooshin datang.
            Jiwoo menatap Heedo merasa bersalah sambil duduk di sebelah cowok itu. “Do. Maaf.”
            Heedo tidak menatap Jiwoo. Namun cowok itu menarik kedua tangan Jiwoo dan memeriksanya untuk memastikan sesuatu. “Udah enakan?”
            Jiwoo hanya mengangguk seperti anak kecil tanpa berani menatap Heedo. Lalu cewek itu merasakan usapan lembut di kepalanya. Jiwoo mendongak dan mendapati tangan Heedo yang tadi mengusapnya.
            “Gue tuh mau marah tapi nggak bisa. Soalnya lu berurusan sama Doyoung.” Heedo balas menatap Jiwoo penuh rasa bersalah karena sempat kelas pada cewek itu. “Tapi urusan gue sama Wooshin belum kelar ya,” kata Heedo sambil melirik Wooshin melalui ekor matanya.
            Wooshin hanya terkekeh menanggapinya. “Terserah elu, Do.”
            “Do,” Jiwoo memanggil dengan suara pelan.
            “Apa, Woo?”
            “Emang Doyoung kenapa?” tanya Jiwoo yang justru membuat Heedo terdiam. Berbeda dengan sebelumnya, Heedo akan dengan antusias menanggapi Jiwoo.
            “Entahlah. Gue Cuma nggak suka aja sama gengnya dia.”
            “Yaelah Do, kirain apa.”
            “Ya nggak gitu. Cuma males aja kalo udah berurusan sama mereka.”
            “Gue juga maunya gitu. Tapi yaa, kadang nggak sengaja malah jadi berurusan sama Doyoung. Apa ini jalan untuk gue deket sama Wonwoo?” Jiwoo menatap satu persatu temannya. Wooshin dan Euiin yang semula sempat asik ngobrol berdua, tiba-tiba menghentikan kegiatan mereka dan menoleh ke arah Jiwoo. “Doyoung bahkan ngasih tau gue kalo Wonwoo lagi kena alergi karena semalem makan kerrang. Tapi gue nggak tahu Doyoung curiga apa nggak ke gue. Kayaknya sih, nggak.”
            Wooshin menatap Jiwoo dengan pikiran menerawang. “Menurut gue bagus sih kalo dia curiga. Pelan-pelan jadi kayak semacam ‘kode’ untuk Wonwoo, apalagi kalo Doyoung ceritain elu ke dia. Biarin aja biar Wonwoo penasaran.”
            “Yaudah sana kerja dulu. Nanti sore mau di jemput siapa? Hoshi sama Hayoung lagi beliin tiket buat kalian.”
            Ucapan Heedo membuat Jiwoo teringat sesuatu. “Oiya, Hoshi. Gue belum ada bilang apa-apa loh sama dia.”
            “Kayak baru kenal aja sama Hoshi,” ledek Euijin.
            “Wah lu beneran numbalin gue ke Hoshi.” Jiwoo menunjuk Euijin sambil berpura-pura kesal dengan cewek itu yang hanya direspon tawa oleh Euijin.

***

~Apartment Wonwoo
            Sebenarnya semalam, saat Rowoon menolak untuk menyusul Seunghee di klub malam, cowok itu memang masih berada di cafenya. Kemudian karena teringat jika Wonwoo sakit, Rowoon berinisiatif mengunjungi temannya itu mewakili yang lain. Temang memang menjadi salah satu obat yang ampuh saat sakit. Rowoon pernah merasakan itu—dikunjungi teman saat sakit. Namun yang datang justru Soyoung dan teman-temannya, termasuk Jiwoo. Melihat bagaimana pertemanan Jiwoo, membuat Rowoon perlahan mulai menerapkannya. Dimulai dengan malam itu. Rowoon meneruskan pekerjaannya di apartmen milik Wonwoo sampai bermalam di sana.
            Lalu pagi itu, tampak Rowoon sedang membereskan laptopnya yang sejak semalam ia tinggalkan di ruang tamu saat Wonwoo baru saja ke luar dari kamarnya. Cowok itu juga sudah berpakaian rapih.
            “Lu mau pergi?” protes Rowoon. “Masih sakit juga.”
            “Lu mau ke mana?” Wonwoo balik bertanya. Tidak peduli dengan Rowoon yang secara tidak langsung melarangnya pergi.
            “Ke rumah Doyoung. Sakit juga dia kata Jungwoo.” Rowoon menegakkan badan sambil menyampirkan ransel ke punggungnya dan menatap Wonwoo yang duduk di sandaran sofa.
            Wonwoo balas menatap Rowoon dengan tatapan heran. “Lu jadi sering jengukin orang sakit gini, sih? Minggu lalu lu juga kan yang ngajak jenguk bang Taeyong?”
            Rowoon tertawa canggung. “Loh, emang kenapa?”
            “Biasa juga lu sibuk di café, Woon.”
            Rowoon berusaha memutar otak untuk menepiskan kecurigaan Wonwoo. “Lu terharu ya gue jengukin gini?” Ledeknya.
            Ekspresi Wonwoo berubah ngeri saat melihat perubahan Rowoon. “Sumpah gue nyesel nanya itu.”
            “Yaudahlah gini aja. Ayo ke rumah Doyoung. Sekalian gue pengen minta penjelasan tentang tangan cewek semalem. Gue nggak mau kenal sama cewek itu setelah mereka tunangan.”
            Wonwoo menegakkan badannya. Ucapan Rowoon juga membuatnya teringat sesuatu tentang perjodohan Doyoung. Sampai detik ini siapa cewek yang akan menjadi tunangan Doyoung nantinya. “Yaudah tunggu gue ambil hape di kamar.”
            Rowoon menghentikan langkahnya yang sudah sampai di depan pintu untuk menunggu Wonwoo. “Mobil gue aja, Woo. Nanti gue anterin lagi,” teriak Rowoon pada Wonwoo yang masih berada di kamarnya.

***

            “Iya sebentar!” Jungwoo berteriak sambil setengah berlari menuju pintu karena ada tamu yang sejak tadi memencet bel. Jungwoo membuka pintu dan menemukan seorang cewek dengan gaya yang cukup glamour berdiri di sana.
            “Hai, gue Sejeong.”
            Dengan ragu Jungwoo membalas uluran tangan cewek itu dengan tatapan bingung. “Mau ketemu siapa?”
            “Kamu Inseong ya?” cewek itu balas bertanya.
            Jungwoo teringat jika dirinya bahkan belum memperkenalkan diri. “Oh, bukan. Gue Jungwoo, adeknya Bang Inseong. Mau cari siapa?” tanya Jungwoo lagi dengan sedikit penekanan.
            “Gue mau jenguk Doyoung. Gue denger dia sakit. Gue harus lihat kondisi calon tunangan gue.”
            Ucapan Sejeong membuat Jungwoo melebarkan mata. Benar-benar terkejut. Sebenarnya Jungwoo hanya tahu siapa keluarga dari seseorang yang akan dijodohkan dengan Doyoung—masih kerabat jauh ayahnya. Namun cowok itu tidak menyangka bahwa cewek itu adalah orangnya.
            “Tapi, tau dari mana Bang Doyoung sakit?”
            Sejeong menghela napas. Gelagat Jungwoo sedikit mencurigakan. Sejeong bahkan sama sekali belum dipersilahkan masuk. “Gue tahu dari ayah kalian. Jadi, gue boleh jenguk Doyoung?”
            Dengan terpaksa Jungwoo menggeser tubuhnya untuk memberikan jalan pada Sejeong. “Di lantai dua, kamar yang tengah,” kata Jungwoo setengah malas.
           Sejeong sama sekali tidak merespon ucapan Jungwoo dan terus berjalan menaiki tangga. Jungwoo sudah berniat menutup pintu, namun ia membatalkan niat karena mendengar suara deru mesin mobil yang memasuki halaman luas rumahnya. Jungwoo menyipitkan mata saat dua orang tampak ke luar dari mobil. Rowoon dan Wonwoo.
            “Itu ada mobil, baru gue liat di sini. Punya siapa?” tanya Wonwoo saat ia dan Rowoon sudah berhadapan dengan Jungwoo.
            “Cewek yang semalem?” Rowoon ikut menimpali bahkan sebelum Jungwoo merespon ucapan Wonwoo.
            Jungwoo menggeleng tegas. “Sama sekali bukan. Cewek yang semalem udah pulang. Dan mendingan kalian naik aja gih ke kamarnya Bang Doyoung.” Setelah menyelesaikan kalimatnya, Jungwoo buru-buru berbalik lalu meninggalkan Rowoon dan Wonwoo di sana.

***


1 komentar:

  1. Casino Near Chicago (Chicago) - Mapyro
    Find Casino 전라남도 출장샵 Near Chicago (Chicago) location map, see 영천 출장안마 100 photos and 1 tip from 309 경주 출장샵 visitors to 포항 출장안마 CasinoNearChicago. "The name of the hotel I worked 진주 출장안마 in"

    BalasHapus