Senin, 16 Desember 2019

SKY AND EARTH (4. Donor Darah)




Doyoung menutup pintu mobil lalu menguncinya. Tepat bersamaan Heedo melintas bersama Wooshin. Heedo sempat menyadari keberadaan Doyoung, begitu juga sebaliknya. Namun kedua cowok itu tidak saling bertegur sapa. Doyoung berjalan hanya selang dua meter di belakang Heedo dan Wooshin.
            “Eh, lu jadi beli alkohol?” tanya Heedo.
            “Udah, tapi gue titip ke Jiwoo,” kata Wooshin yang terus melanjutkan jalannya.
            Mereka tidak menyadari jika Doyoung mendengar percakapan antara Heedo dengan Wooshin. “Alkohol?” Doyoung berujar tanpa mengeluarkan suara. “Do!” seru Doyoung sambil mengejar Heedo dan Wooshin yang sontak berbalik hampir bersamaan. “Kalian bawa alkohol ke kampus?”
            “Iya. Ada di Jiwoo,” kata Wooshin dengan ekspresi polos.
            Berbeda dengan Doyoung yang raut wajahnya berubah. “Jiwoo di mana?”
            Heedo dan Wooshin sesaat saling melempar tatapan. Lalu Heedo terlihat melirik jam tangannya. “Di kantin palingan sih. Setengah jam lagi gue ada kelas terakhir.”
            “Tolong kabarin dia suruh jangan ke mana-mana, gue susulin sekarang.” Doyoung menepuk pelan pundak Heedo sebelum melesat pergi dari sana. Menuju kantin. Tempat yang sangat jarang ia kunjungi.

***

~Kantin Fakultas Ekonomi
            “Hari ini lu libur, Woo?”
            Jiwoo mengangguk menanggapi pertanyaan Euijin karena ia sedang menyuap makanan ke dalam mulutnya. “Sabtu gue full time. Soalnya Hayi izin. Jadi gue Minggu bisa libur.”
            “Jadi ma uke Bandung, Woo?” kali ini Hayoung yang bertanya.
            “Jangan sendirian, Hoshi libur tuh Seninnya. Minta anterin aja,” kata Soyoung juga menambahi. “Nanti gue nginep tempat lu deh buat nemenin Euijin.
            So sweet  banget sih kamu.” Euijin mencubit gemas pipi Soyoung yang kebetulan duduk di sebelahnya.
            “Kalo gitu Wooshin juga libur, dong? Mending sama Wooshin lah gue.”
            “Nggak!” seru Euijin yang langsung memprotes ucapan Jiwoo. “Capek gue ngeladenin Hoshi. Lu ajak aja sana.”
            “Diiih, gue dijadiin tumbal.” Jiwoo pura-pura cemberut sambil mengusap-usap pergelangan tangannya yang terasa gatal.
            Euijin, Soyoung dan Hayoung hanya tertawa. Namun tidak bertahan lama karena Euijin dan Soyoung perlahan menghentikan tawa mereka. Merasa ada yang janggal, Jiwoo menoleh ke belakang. Cewek itu melebarkan mata karena mendapati sosok Doyoung berjalan mendekat.
            “Jiwoo, gue boleh ngomong sebentar? Penting.”
            “Kenapa, Doy?”
            “Ikut gue dulu ya. Bawa tas lu juga aja.”
            Jiwoo melempar tatapan pada tiga temannya. Euijin, Soyoung dan Hayoung kompak mengangguk. Kemudian Jiwoo kembali menatap Doyoung yang masih menunggunya dengan ekspresi yang benar-benar serius. “Oke,” kata Jiwoo akhirnya yang kemudian berdiri sambil menyambar ranselnya. Jiwoo menyusul Doyoung yang berjalan lebih dulu.
            Doyoung terus berjalan. Membawa Jiwoo menuju ke arah belakang kampus. Terdapat sebuah taman yang cukup sepi di sana. Sambil menyusul Doyoung, Jiwoo tampak sedikit sibuk dengan ponselnya.

//The Dreamers//
Jiwoo : “Ada yang punya obat alergi?”
Soyoung : “Yaah, nggak Woo. Lu alergi?”
Wooshin : “Nanti gue telponin Hoshi buat beli. Dia kebetulan lagi di luar.”
Hoshi : “Gue di sini. Iya iya ini gue beliin sekalian.”
Hoshi : “Mumpung baru banget keluar apotik.”
Jiwoo : “Terima kasih kesayangan.”

Jiwoo menyimpan kembali ponselnya ke dalam saku celana. “Ada apa sih, Doy?” Cewek itu tidak bisa menahan rasa penasarannya.
            Dengan lembut, Doyoung menarik tangan Jiwoo untuk ikut duduk di sebuah bangku taman. Ekspresi cowok itu masih serius. “Gue denger lu bawa alkohol?”
            Jiwoo mengangguk meski jelas ia bingung dari mana Doyoung tahu hal itu. Dan untuk apa Doyoung menanyakan hal tersebut. “Kenapa, lu butuh juga?”
            Doyoung menghela napas untuk melepaskan beban pada dirinya. Tatapan cowok itu sama sekali tidak melepakan Jiwoo. “Beberapa hari lalu ada mahasiswa yang ketahuan bawa alkohol. Dan gue dengen dari bang Johnny kalo bakal ada Razia.”
            Jiwoo mengerjapkan mata. Berusaha mencerna arah pembicaraan Doyoung. “Terus kenapa…” ucapan Jiwoo terputus.
            Doyoung menengadahkan tangannya. “Sini kasih gue. Gue bakal aman karena gue temennya bang Johnny.”
            Jiwoo mengerutkan kening sambil menggeleng pelan. “Gue nggak ngerti maksud lu.” Namun karena tidak ingin memperpanjang urusan, tangan Jiwoo bergerak untuk membuka resleting ranselnya. Mencari-cari sesuatu di dalam sana. Sementara Doyoung sibuk mengedarkan pandangan.
            Doyoung merasakan sesuatu mendarat di atas telapak tangannya yang masih terbuka sejak tadi. Cowok itu langsung menoleh untuk memastikan benda apa yang kini berada dalam ganggamannya. Namun seketika mata pemuda itu melebar. “Ini?”
            “Iya. Emang lu kira apa?”
            Doyoung mengangkat benda itu, memperhatikan dengan teliti. Sebuah botol berukuran sedang dengan sebuah label ‘alkohol’ pada badannya. Alkohol dalam artian sebenarnya. Alkohol yang bisa didapatkan di apotik atau toko obat. “Alkohol ini?” 
            Jiwoo semakin bingung dengan reaksi Doyoung yang seperti baru saja mendapati sesuatu namun tidak seperti ekspektasinya. “Lu mikir apa, sih?”
            Doyoung terdiam. “Gue kira minuman…”
            Jiwoo menepuk keningnya. Tidak habis pikir dengan Doyoung. Rela menemuinya, membawa pergi hanya karena dicurigai membawa minuman beralkohol. “Gue nggak tau kenapa lu nyari gue buat ngambil alkohol itu, tapi yang mungkin harusnya lu tau, hari ini ada acara donor darah di fakultas Ilkom. Dan itu punya Wooshin. Tadi dia nitip ke gue, temennya minta bawain karena stok mereka kurang.”
            Sambil menahan malu, Doyoung mengembalikan botol tersebut pada Jiwoo. “Maaf ya, Ji.”
            Jiwoo tertawa pelan. “Santai aja, Doy. Gue nggak akan bilang siapa-siapa kok tentang kejadian ini.”
            Doyoung mengusap tengkuknya, menahan malu. “Makasih, Woo.” Diam-diam Doyoung mencuri pandang melirik Jiwoo yang saat itu kebetulan sedang memeriksa ponselnya dengan posisi masih tersenyum. “Bisa nggak sih bunda jodohin gue sama Jiwoo aja,” Doyoung berujar dalam hati.
            Jiwoo mematikan layar ponselnya kemudian menoleh dan mendapati Doyoung masih menatapnya. “Lu nggak ada kelas?” tanya Jiwoo untuk mencairkan suasana. Namun tanpa sadar, cewek itu menarik lengan bajunya yang panjang. Mengusap dengan kasar pergelangan tangannya yang tampak kemerahan.
            Doyoung menggeleng. “Udah kelar bahkan tadi udah jalan pulang tapi gue balik lagi buat ngambil obatnya Wonwoo. Kebawa sama Sejun katanya.”
            “Wonwoo sakit?” tanya Jiwoo. Jelas, biar bagaimanapun ia khawatir dengan Wonwoo.
            “Alergi dia kambuh. Padahal nggak bisa makan kerrang, eh ternyata semalem dikasih kerrang sama nyokapnya Soobin.” Doyoung sempat terkekeh saat menceritakan tentang Wonwoo.
            “Pantesan.” Jiwoo berujar pelan. Bahkan sangat pelan.
            “Pantesan kenapa?”
            Jiwoo mendongak, menatap Doyoung. “Eh, nggak.” Cewek itu kemudian menyambar ranselnya sambil berdiri. “Urusan kita udah selesai, kan? Gue udah boleh pergi?”
            Mata Doyoung tertuju pada kedua tangan Jiwoo yang sibuk menggaruk satu sama lain. Dengan sergap, Doyoung berdiri sambil memegang kedua tangan Jiwoo sekaligus menghentikan tangan cewek itu. “Lu kenapa?” tanya Doyoung yang sampai mendekatkan wajahnya untuk memastikan kondisi Jiwoo yang mulai bermunculan bercak kemerahan disekitar pipi. “Jangan digaruk.” Doyoung menahan tangan Jiwoo yang mulai memberontak.
            “Gatel banget ini.”
            Doyoung mengangguk. “Iya ngerti. Kita cari obat. Dan jangan digaruk.” Doyoung menarik salah satu tangan Jiwoo dan membawanya pergi. Sementara tangannya yang lain sibuk memainkan ponsel. Doyoung menelepon seseorang.

***

~Lapangan Fakultas Ilmu Komputer
            Terlihat Hoshi dan Wooshin berdiri di depan tenda besar. Mahasiswa dari fakultas Ilmu Komputer memang sedang mengadakan acara donor darah. Hoshi dan Wooshin tampak menunggu seseorang. Mereka mencari-cari diantara ramainya orang-orang. Baik yang hanya melintas, ataupun yang ikut serta dalam kegiatan.
            “Tuh Jiwoo.” Hoshi menepuk pundak Wooshin sambil menunjuk ke salah satu arah. Wooshin masih mencari sampai akhirnya ia juga menemukan Jiwoo di sana. Berjalan mendekat bersama Doyoung. Cowok itu bahkan masih menggenggam tangan Jiwoo. Doyoung bahkan sesekali menoleh untuk memastikan jika Jiwoo tidak menggaruk ke bagian tubuhnya yang gatal.
            Wooshin berjalan mendekat meski Jiwoo dan Doyoung juga sudah berada di depannya. Cowok itu meraih pergelangan tangan Jiwoo yang bebas. “Lu abis makan apa? Kerrang?” tanya Wooshin yang langsung dijawab gelengan oleh Jiwoo.
            Doyoung menatap Wooshin, heran. Ia lalu memperhatikan Jiwoo sesaat. Kemudian matanya kembali tertuju pada Wooshin yang sedang memastikan kondisi Jiwoo.
            “Shin, bawa ke dalem aja. Udah mau kelar ini.”
            Wooshin menoleh sekilas ke arah Hoshi sebelum akhirnya menyadari jika Doyoung masih di sana. “Eh, Doy? Makasih ya udah bawa Jiwoo.”
            Belum sempat Doyoung mengangguk untuk sekedar merespon ucapan Wooshin, cowok itu sudah lebih dulu membawa Jiwoo pergi menuju tenda. Membuat Doyoung terpaksa melepaskan tangan Jiwoo karena Hoshi menghalangi langkahnya yang sudah ingin menyusul Jiwoo. Jiwoo sendiri sempat menoleh ke tempat Doyoung berada, tepat ketika Doyoung sedang menoleh pada Hoshi.
            “Lu mau ikut donor darah juga? Boleh kok dari fakultas lain.” Tanpa menunggu persetujuan Doyoung, Hoshi sudah merangkul cowok itu lalu membawanya ke depan meja yang digunakan sebagai tempat pendaftaran.

***

            Suasana tenda tempat berlangsungnya acara donor darah di fakultar Ilmu Komputer sudah mulai sepi. Tempat tidur yang tersedia sudah mulai kosong, dan hanya tersisa beberapa orang saja yang masih berbaring untuk melakukan donor darah. Salah satunya tempat tidur paling pojok tempat Doyoung duduk sekarang untuk menunggu petugas dari rumah sakit.
            Doyoung duduk di ujung tempat tidur. Menghadap ke arah tempat tidur yang terletak di seberangnya. Mengawasi Wooshin yang berjongkok di depan Jiwoo—posisi tempat tidur yang memang cukup rendah—untuk mengawasi cewek itu meminum obatnya. Doyoung sama sekali tidak melepaskan tatapannya.
            “Gue tinggal sebentar ya, mau bantu beres-beres.” Wooshin berdiri setelah melihat Jiwoo mengangguk sambil mengusap kepala Jiwoo.
            Melihat kejadian itu, Doyoung meremas ke dua tangannya. Wooshin melewati Doyoung begitu saja karena tidak menyadari keberadaan cowok itu. Doyoung sempat mengikuti arah perginya Wooshin melalui mata. Setelah cukup jauh, Doyoung kembali menoleh ke tempat Jiwoo berada. Cewek itu duduk sila di atas tempat tidur sambil mengusap-usap kedua tangannya dari luar baju—tanpa menggulung lengan bajunya.
            “Woo, udah baikan?”
            Jiwoo sontak mendongak. Cukup terkejut mendapai Doyoung berada di sana. “Gue kira lu udah pulang.”
            Tatapan Doyoung berubah melembut. Berbeda dengan saat ia menatap Wooshin tadi. “Gue mau donor darah.”
            “Oh?” Jiwoo kembali terkejut. Aneh rasanya seorang Doyoung—yang ia tahu dari kalangan atas—melakukan kegiatan sosial. Meski sebenarnya tidak sedikit juga orang kaya di luaran sana juga melakukan kegiatan serupa. Hanya saja lingkaran pertemanan Doyoung yang membuat Jiwoo sempat memandang buruk pada Doyoung.
            “Emm, Woo.” Doyoung memanggil dengan suara pelan.
            “Iya?”
            Doyoung kembali meremas kedua tangannya yang masih saling bertautan saat melihat seseorang yang mengenakan pakaian sebagai petugas donor darah mendekat padanya.
            “Kim Doyoung?” tanya si petugas bernama Cha Yoonji.
            “Iya,” Doyoung menyahut dengan cepat sambil menoleh. Yoonji hanya tersenyum, lalu kemudian cewek itu duduk di sebuah kursi kecil sambil menyiapkan beberapa peralatan yang dibutuhkan. Tanpa harus menoleh, Doyoung tau apa yang sedang dikerjakan cewek itu. Doyoung meneguk ludahnya sendiri. “Woo. Boleh temenin gue di sini?”
            Jiwoo mengangguk cepat. Dan hanya hitungan detik, gadis itu sudah berdiri lalu berjalan ke tempat Doyoung berada. Doyoung melepas jaketnya sebelum berbaring. Jiwoo berinisiatif untuk memegangi jaket Doyoung sambil duduk di atas lantai lapangan. Doyoung hanya menoleh ke tempat Jiwoo berada. Ia sama sekali tidak ingin melihat apa yang Yoonji lakukan pada lipatan lengannya. Dan entah sejak kapan, Doyoung sudah kembali menggenggam erat salah satu tangan Jiwoo untuk menahan rasa sakit.
            Jiwoo menahan tawa melihat ekspresi Doyoung yang meringis. “Petugasnya cantik tuh, Doy. Lirik dikit biar sakitnya ilang.” Goda Jiwoo.
            Doyoung tampak tidak peduli. Cowok itu sama sekali tidak merubah posisi kepalanya. “Iya cantik tapi dia lagi nyakitin gue, Woo.”
            Jiwoo tertawa mendengar ucapan konyol Doyoung. Yoonji yang bisa mendengar itu juga ikut tertawa. “Yaudah, gue tungguin lu di sini. Kalau butuh apa-apa bilang ya.”
            Doyoung mengangguk dan Jiwoo tersenyum. Senyuman yang membuat Doyoung sedikit lupa kalau Yoonji sedang ‘menyakitinya’. “Woo, kalau ngantuk tidur aja. Gue tau lu abis minum obat alergi, kan?”
            Kali ini Jiwoo tidak terlalu terkejut. Namun ia juga tidak bisa menyangkal pernyataan Doyoung. Matanya mulai terasa berat. Wooshin juga tadi menyuruhnya tidur sebentar sambil menunggu cowok itu menyelesaikan tugasnya. Jiwoo melipat asal jaket Doyoung yang kemdian ia letakkan samping badan cowok itu setelah Doyoung menyingkirkan tangannya dari sana. Jiwoo meletakkan kepalanya di sana dan langsung memejamkan mata. Membuat tangan Doyoung leluasa mengusap kepala cewek itu.

***

            “Kalian balik gimana?” tanya Heedo pada Wooshin dan Hoshi. Mereka kebetulan berada di depan tenda dan Heedo memang hanya berkunjung ke sana karena bukan bagian dari Fakultas Ilmu Komputer.
            “Gampang gue nanti naik ojek online aja. Hoshi biar sama Jiwoo.” Wooshin yang menjawab, sedangkan Hoshi hanya mengangguk menyetujui ucapan Wooshin.
            “Jangan kemaleman baliknya. Kalo masih ada urusan anterin balik dulu aja si Jiwoo.”
            Hoshi memutar bola matanya, pura-pura kesal. “Iya bawel,” ujarnya yang kemudian Hoshi terkekeh juga.
            “Yaudah gue duluan ya, kasian ini Hayoung nggak enak badan katanya. Pengen gue liat dulu kondisinya. Nitip Jiwoo.” Heedo kemudian melambaikan tangan sebelum akhirnya berbalik dan pergi.
            Hoshi dan Wooshin juga berbalik dan menuju tenda. Saat sampai di tengah ruangan, keduanya berhenti karena mendapati tempat tidur yang di tempati Jiwoo sudah kosong. Sementara di seberang tempat tidur Jiwoo, terlihat Doyoung melambaikan tangan dan menunjuk ke arah Jiwoo yang masih tertidur di sebelahnya. Doyoung sendiri juga sudah selesai melakukan donor darah. Wooshin dan Hoshi sontak bergegas menuju tempat Doyoung.
            Hoshi berjongkok di sebelah Jiwoo. “Loh kok malah tidur di sini? Woo?” panggil Hoshi sambil merapihkan helai rambut Jiwoo yang menutupi sebagian wajah cewek itu dengan lembut.
            Doyoung beberapa kali memejamkan mata. Namun tidak ingin kehilangan moment saat Hoshi yang biasanya jahil begitu perhatian pada Jiwoo. Membangunkan cewek itu dengan lembut. Sementara Wooshin, duduk di kursi kecil yang biasa digunakan para petugas untuk mengambil darah pendonor.
            “Doy, kok lu pucet banget?”
            Hoshi yang mendengar pertanyaan Wooshin, sontak menoleh ke arah Doyoung untuk memastikannya. Memang jelas terlihat dari ekspresi wajah Doyoung dan bibir cowok itu juga pucat.
            “Shin, itu vitaminnya kasih dulu. Suruh minum.” Hoshi menunjuk-nunjuk ke arah plastik kecil yang tergeletak disamping Doyoung.
            Wooshin sudah berdiri dan pergi dari sana. Hanya beberapa saat, Wooshin sudah kembali sambil membawa sebotol air mineral. Wooshin kembali duduk sambil membuka penutup botol sebelum ia sodorkan pada Doyoung yang langsung menegakkan posisi duduknya. Dan di saat yang bersamaan, Jiwoo juga terbangun. Susah payah cewek itu membuka matanya yang masih berat. Hal pertama yang Jiwoo lihat adalah Doyoung yang sedang menenggak minumnya.
            “Masih gatel?” tanya Hoshi yang membuat perhatian Jiwoo kini beralih padanya.
Jiwoo menggeleng pelan. “Cuma ngantuk banget aja. Dan gue nggak makan kerrang sama sekali,” kata Jiwoo yang membuat Hoshi membatalkan niatnya membuka mulut.
            “Iya, Woo. Mungkin bukan elu yang makan kerrang.” Wooshin berusaha menengahi. Hoshi juga bisa bawel jika menyangkut Jiwoo dan teman-temannya yang lain jika ada yang sakit.
            Baik Jiwoo, Wooshin dan Hoshi tidak ada yang menyadari jika Doyoung sebenarnya memperhatikan mereka bergantian. Terutama pada Jiwoo. Sebenarnya cowok itu memikirkan suatu kebetulan yang janggal antara Jiwoo dan Wonwoo. Temannya itu juga alergi kerrang, dan alergi mereka kambuh di waktu yang bersamaan.
            “Doy, lu balik gimana?”
            Doyoung tersadar dari lamunan. Ia sontak menoleh pada Wooshin. “Sendiri aja, nggak apa-apa. Temen-temen gue udah pada balik semua.”
            Meski tidak terlalu mengenal Doyoung, Wooshin juga tidak bisa diam begitu saja. “Pusing lu?”
            “Iya, lumayan.”
            “Gue anter aja, gimana? Mobil lu gue yang setirin. Nggak ada penolakan lah. Kalo lu kenapa-napa gue sama Hoshi juga yang kena.” Wooshin lebih dulu berdiri dan disusul Hoshi kemudian yang langsung membantu Jiwoo untuk berdiri juga.
            Perlahan Doyoung juga menurunkan kakinya. Cowok itu diam sesaat. Tertunduk sambil memejamkan mata. Wooshin bisa menangkap kondisi Doyoung saat itu.
            “Ayo sini gue bantu pelan-pelan.” Wooshin sudah mengulurkan tangannya untuk membantu Doyoung berdiri. “Jiwoo ikut dulu aja sekalian. Nanti balik naik taksi dari rumah Doyoung.
            Hoshi langsung mengangguk mewakili Jiwoo.

***


Tidak ada komentar:

Posting Komentar