Senin, 16 Desember 2019

SKY AND EARTH (6. Tunangan)




            Pintu kamar Doyoung tiba-tiba terbuka. Doyoung yang menyadari siapa yang datang, langsung melesat menuju dua temannya itu. “Tolongin gue, dong. Woon. Woo.”
            Wonwoo menemukan seorang cewek berdiri di tengah kamar Doyoung. Cowok itu sampai mengerutkan kening untuk memastikan bahwa dirinya tidak salah mengenali orang. “Sejeong?”
            “Lu kenal?” Desak Doyoung.
            “Temen ceweknya Wonwoo,” Rowoon yang menjawab. “Emang lu nggak tau?” pertanyaan Rowoon hanya dibalas gelengan oleh Doyoung.
            “Ngapain lu di sini?” tanya Wonwoo, heran. “Di kamar Doyoung, lagi.”
            Sejeong duduk di tepi Kasur sambil menyilangkan kaki. “Gue Cuma mau jengukin calon tunangan gue aja, kok. Kenapa emang?”
            Bukannya membalas lagi ucapan Sejeong, Wonwoo malah menoleh menuntut penjelasan pada Doyoung. Begitu juga pada Rowoon. Doyoung menggeleng dengan ekspresi memelas. Cowok itu bahkan tidak tahu apa-apa.
            “Ya baru calon, kan? Tunangan juga belom. Lagian juga nggak pantes cewek main ke kamar cowok.”
            Sejeong melipat tangan di depan dada, lalu melempar tatapan sinis pada Wonwoo. “Aneh gue denger lu ngomong gitu. Kayak Yerin nggak pernah main ke kamar lu aja?”
            “Ya emang nggak pernah,” balas Wonwoo. “Terserah sih kalo nggak percaya.”
            Sejeong mendengus kemudian berdiri. Cewek itu berjalan ke arah tiga cowok yang menghalangi pintu. “Jangan lupa nanti malem,” kata Sejeong pada Doyoung yang bahkan nggak ingin menatap cewek itu.
            Setelah Sejeong benar-benar pergi meninggalkan kamarnya, Doyoung menyambar ponsel yang tergeletak di atas tempat tidur sambil duduk di sana. Doyoung tampak menempelkan ponsel ke arah salah satu telinganya. “Jung. Bisa ke kamar gue sekarang? Cewek itu udah pergi, kok.” Doyoung menyimpan kembali ponselnya setelah menyelesaikan panggilan.
            “Gimana keadaan lu?” tanya Rowoon yang duduk di sebelah Doyoung. Namun Doyoung mengubah posisi duduknya menjadi bersandar pada kepala tempat tidur.
            “Gue udah baikan kok. Efek abis donor darah aja kemaren.”
            Wonwoo sendiri ikut naik ke atas tempat tidur, duduk di sebelah Doyoung sambil memeluk bantal di depan dadanya. Mereka masih diam beberapa saat sampai akhirnya pintu kamar Doyoung kembali terbuka dan memunculkan Jungwoo di sana yang kemudian masuk sambil membawa laptop di salah satu tangannya. Jungwoo meletakkan laptopnya di atas meja belajar yang berada di samping Doyoung, lalu menarik kursi untuk duduk di sana.
            “Lu tau tadu ada cewek ke sini?” tanya Doyoung menuntut penjelasan. Menurutnya Jungwoo mengetahui sesuatu.
            Jungwoo mengangguk, lalu menumpu kedua sikunya di atas paha, membuat posisi duduknya sedikit merunduk. “Lu jalanin dulu aja, Bang. Tunangan doang, kok. Gue juga bakal bantu sebisa gue ngelepasin lu dari cewek itu. Gue nggak akan ngebiarin kalian sampe nikah.”
            Doyoung mengerutnya keningnya. Tidak paham dengan arah pembicaraan Jungwoo. “Siapa yang mau tunangan, sih? Bunda nggak ada omongan apa-apa sama gue. Dan gue bahkan baru denger kemaren banget tentang gue yang bakal di jodohin. Itu lu juga kan yang keceplosan?”
            Jungwoo terunduk sesaat tanpa merespon ucapan Doyoung.
            “Tunggu deh,” kata Wonwoo. “Dua hari lalu Yerin ngirimin gue undangan pertunangan Sejeong. Gue nggak baca jelas, sih. Soalnya males. Jangan-jangan itu…” Wonwoo sengaja menggantungkan ucapannya, menatap Doyoung dan Rowoon secara bergantian.
            Terdengar helaan napas yang cukup berat dari Jungwoo. “Gue juga kaget. Ternyata semua udah dipersiapin dari jauh-jauh hari.” Cowok itu mendongan dan mendapati Doyoung, Wonwoo juga Rowoon menatapnya. “Maafin gue, Bang. Gue juga baru tahu semalem. Dan gue yakin, ayah sakit juga gara-gara mikirin hal ini.”
            “Lu nggak salah, Jung.” Rowoon menepuk pundak Jungwoo untuk menghibur adik dari temannya tersebut.
            Doyoung melirik Wonwoo. “Jadi, acaranya kapan?”
            Wonwoo sedikit terkejut dan seperti tidak siap menerima pertanyaan dari Doyoung. “Pertunangan elu?” Wonwoo balik bertanya untuk memastikan ke arah mana pertanyaan Doyoung dan hanya dibalas anggukan oleh Doyoung sendiri. “Malam ini.”
            “Mau gue dateng buat nemenin?”
            Doyoung menggeleng cepat pertanyaan dari Rowoon. “Bukan acara yang harus gue rayain bareng kalian.”
            “Eh, Doy. Semalem tangan siapa? Nggak mungkin Jungwoo, kan?” tanya Wonwoo memecah keheningan.
            Diam-diam Jungwoo memutar kursi Doyoung. Pura-pura sibuk memeriksa laptopnya yang tadi ia letakkan di atas meja. Menghindari kontak mata dalam bentuk apapun dari Doyoung ataupun kedua temannya.
            “Oh, itu Jiwoo.” Doyoung menjawab enteng.
            “Jiwoo mana? Kayaknya nggak pernah denger lu punya temen yang Namanya Jiwoo.” Wonwoo berujar dengan tatapan menerawang.
            Jungwoo masih mengawasi tiga cowok itu melalui ekor matanya. Sedikit tidak percaya jika Doyoung sama sekali tidak bereaksi dengan kejahilannya. Sebenarnya semalam Jiwoo tertidur di kursi. Ketika Jungwoo masuk ke kamar Doyoung—untuk menawari Jiwoo makan malam sebenarnya, Jungwoo melihat kedua orang itu justru sudah tertidur. Dan bukan Jungwoo kalau tidak memiliki ide jahil. Jungwoo yang memindahkan Jiwoo ke sebelah Doyoung. Bahkan Jungwoo juga yang membuat tangan Doyoung dan Jiwoo berpegangan sebelum akhirnya ia memotret kejadian itu untuk ia kirimkan pada grup chat milik Doyoung.
            “Yang kerja di café lu, Woon.” Doyoung memberikan jawaban sambil menunjuk Rowoon menggunakan dagu.
            Ditempatnya berada, Wonwoo benar-benar terkejut. “Kok bisa sampai lu sama dia semalem?” Dan pertanyaan itu muncul begitu saja. Entah hanya karena pernasaran atau karena tanpa sadar Wonwoo ‘merasakan’ suatu hubungan.
            Doyoung sudah membua mulut, namun ia rapatkan kembali. Tidak. Cowok itu tidak mau membahas tragedy alkohol yang memalukan. “Gue ketemu di tempat donor darah. Kelar itu gue sakit, dan Wooshin yang anterin gue. Ditemenin Jiwoo, deh.”
            “Terus, kenapa bisa sampe nginep?”
            “Bunda yang nyuruh."

***

            Dua pintu yang terletak bersamaan itu kompak terbuka. Masing-masing memunculkan Doyoung dan Jungwoo. Doyoung yang tampak rapih dengan stelan jasnya, sementara Jungwoo masih mengenakan kaus dan celana pendek. Melihat penampilan adiknya yang seperti itu, Doyoung tidak bisa protes. Mereka kemudian berjalan bersamaan, meski Jungwoo berjalan sedikit dibelakang Doyoung. Keduanya sama sama menuruni anak tangga.
            “Bang,” panggil Jungwoo yang ternyata sudah menghentikan langkahnya.
            Doyoung ikut berhenti kemudian berbalik. “Kenapa?”
            “Gue udah cari tahu semua latar belakang temen-temen lu.”
            “Buat apa?” tanya Doyoung dengan nada seperti tidak suka. “Nggak usah usik mereka lah, Jung.”
            “Bokapnya Jeon Wonwoo punya perusahaan yang sama seperti ayah.” Ucapan Jungwoo membuat Doyung membatalkan niat untuk berbalik. Jungwoo menatap mata Doyoung dengan ekspresi serius.
            “Terus?” Tidak bisa dipungkiri jika Doyoung benar-benar penasaran sekaligus merasa bodoh karena tidak mengetahui apa-apa. Jungwoo sudah bergerak sejauh ini meski ia tidak tahu apa maksud dan tujuan adiknya tersebut.
            “Bokapnya Bang Wonwoo masih salah satu kenalan ayah. Kalo aja dulu beliau nggak cerai sama istrinya, mungkin lu bakal dijodohin sama kembarannya Wonwoo.”
            Doyoung melebarkan mata. “Wonwoo punya kembaran?” Benar-benar merasa bodoh. Bahkan ia tidak cukup tahu tentang Wonwoo yang sudah ia kenal sejak awal kuliah.
            “Tapi nggak tau ke mana mereka berdua. Kesampingin dulu masalah itu, deh. Saran gue, lu temuin aja bokapnya Bang Wonwoo. Lu belajar semuanya sama dia tentang bisnis yang ayah jalanin. Toh, perusahaan juga masih diawasin sama ayah sendiri.”
            Doyoung sesekali mengangguk selama Junwoo menjelaskan. “Tadi Wonwoo juga bilang buat gue hati-hati sama keluarganya Sejeong.”
            Jungwoo menghela napas sambil memegang salah satu pundak Doyoung. “Iya bener, makanya lu hati-hati aja. Gue juga udah nggak bisa cegah hal ini terjadi.”

***

            “Iya ini udah di jalan kok, Bun. Kejebak macet banget,” kata Doyoung pada seseorang di telepon.
            “Makanya bukan berangkat daritadi kamu, tuh.”
            Doyoung menjauhi ponsel dari telinganya karena mendengar omelan Yoona. “Ini bunda tuh mihak siapa sebenernya?” keluh Doyoung, pelan. Tidak ingin jika Yoona mendengar ucapannya.
            “Yaudah, jangan nyasar ya. Hati-hati di jalan.”
            Doyoung menghela napas. Ia lemparkan tatapannya ke luar jendela mobilnya yang terjebak di tengah kemacetan setelah mengakhiri panggilan. Samar-samar Doyoung menarik bibirnya membentuk senyum tipis. Cowok itu sebenarnya sengaja mencari jalan yang lebih ramai. Lebih bagus malah kalau bisa sampai 2 hari.
            Setelah sekitar hampir 1 jam, Doyoung akhirnya memasuki area Gedung tempat acaranya berlangsung. Acara pertunangan dirinya dengan Sejeong. Seseorang biasanya pasti kesal jika tidak menemukan lahan parkir yang kosong. Namun tidak untuk Doyoung yang dalam hati justru berdoa agar tidak menemukan tempat parkir, lalu bisa ia jadikan alasan untuk tidak menghadiri acara tersebut. Namun tidak bisa. Usai memarkirkan mobilnya, Doyoung langsung bergegas menuju lift.
            Selama di lift, cowok itu hanya bersandar malas pada tembok. Begitu sampai, Doyoung langsung ke luar dan menelusuri Lorong yang terdapat banyak pintu di kanan dan kiri. Namun hanya ada satu pintu yang terlihat memiliki penjaga di sana. Di bagian tembok juga terpajang layar LCD yang menampilan nama Doyoung dan Sejeong.
            “Silahkan, Mas. Bisa tunjukkan kartu undangannya?”
            Doyoung termenung mencerna ucapan salah satu petugas yang bertanya padanya. “Waduh, nggak ada, Pak.”
           “Mohon maaf kalalu begitu anda tidak bisa masuk,” kata petugas itu dengan nada sopan. Sementara salah satu petugas lainnya sibuk memeriksa undangan tamu lain yang kebetulan baru datang.
            “Oh iya, Pak.” Doyoung mengangguk sopan, kemudian berbalik dan menyingkir dari sana. Doyoung mengeluarkan ponselnya dan memeriksa grup chat.

//The Eliters
Wonwoo : “@Doyoung di mana?”
Wonwoo : “Ini acara udah mau mulai.”
Sejun : “Cukup tau gue, Doy. Tunangan nggak ngundang-ngundang.”
Somin : “Serius Doy tunangan? Sama Sejeong.”
Rowoon : “Ngapain di tanya di grup sih @Wonwoo?”
Yuta : “Oleh-oleh ya, Doy.”
Taeyong : “Kelar tunangan langsung nge-room dong, Doy?”
Seunghee : “Doyoung mah nggak kayak elu, bang @Taeyong.”
Wonwoo : “@Rowoon maaf, bro. Gue lupa.”
Johnny : “Beneran lu tunangan @Doyoung?”
Johnny : “Kok nggak ngundang, sih? Gue nggak apa-apa loh kalo dilangkahin.”
Johnny : “Tapi gue kecewa kalo gini ceritanya.”
Ten : “Wonwoo doang yang diundang?”
Yujin : “Gue dateng sama keluarga gue karena diundang sama keluarganya Sejeong.”
Yujin : “Jadi, ini calon tunangannya Sejeong itu si Doy?”
Yujin : “Gemes ih, cocok banget kalian.”
Rowoon : “Yang menurut lu cocok, bukan berarti cocok juga buat yang ngejalanin.”
Yujin : “Yaa masih bisa pendekatan dulu lah.”
Wonwoo : “Sebenernya bukan masalah dipendekatannya, @Yejin.”
Yujin : “Terus?”
Wonwoo : “Tanya langsung ke Doyoung aja lah kalau pada kepo.”
Yujin : “Tapi mereka tunangan. Berarti mereka selama ini backstreet dari kita-kita?”
Doyoung : “Karena nggak suka sama Sejeong.”
Doyoung : “Dan gue udah suka seseorang.”
Taeyong : “Siapa @Doyoung.”
Doyoung : “Nggak bisa gue ceritain. Sorry.”
Wonwoo : “Doy, serius lu di mana? Nyokap lu panik ini.”
Doyoung : “Ini gue udah di depan ruangannya tapi gue nggak boleh masuk.”
Yuta : “Hah? Ngapain lu? Tapi kok bisa sih nggak dibolehin masuk?”
Doyoung : “Karena nggak punya undangan.”
Wonwoo : “Konyol.”
Sejun : “@Yejin, jemput Doy gih sana. Katanya lu diundang, kan?”
Rowoon. : “Aduh, Jun. Gue udah tahan padahal malah diceplosin.”

            Doyoung masih tertawa melihat grup chat-nya. Sampai-sampai ia tidak menyadari jika Wonwoo sudah berdiri di belakangnya. “Doy. Ini kalo nggak karena nyokap lu, gue juga ogah ya nyamperin.”
            Buru-buru Doyoung menoleh sambil berdiri. “Gue udah nelponin bunda juga tapi hape bunda mati.”
            Wonwoo menenggelamkan tangannya ke dalam saku celana. “Nanggung banget. Kenapa nggak kabur aja sekalian?” Wonwoo menatap temannya itu seperti merasa bersalah.
            Doyoung menggeleng. “Gue nggak mau ayah makin sakit. Anggep ini hanya sementara, oke? Hanya pencitraan demi nyelametin perusahaan bokap gue.” Jeda sesaat sebelum Doyoung menghela napas dan melanjutkan kalimatnya. “Andai sodara lu ada di sini, Won.”
            “Maksudnya?” Wonwoo meminta Doyoung untuk mempertegas ucapannya. Cowok itu tidak terlalu fokus mendengarkan, tadi. Ia bahkan sampai menatap Doyoung dengan tatapan penasaran.
            “Iya, sodara kembar lu. Ya gue tau sih dulu orang tua lu pisah, kan?”
            “Kembar? Gue bahkan nggak tau kalau gue punya sodara,” ujar Wonwoo dengan nada lirih. Terasa menyedihkan bagi Wonwoo. Ia bahkan seperti tidak tahu apa-apa tentang dirinya sendiri. “Kalaupun ada, kayaknya nggak bakal bisa gantiin posisinya Sejeong. Perusahaan bokap gue nggak sebesar perusahaan bokapnya Sejeong, Doy.”
            “Ah. Udahlah.” Doyoung hanya menepuk pundak cowok itu dan tidak ingin membahasnya lagi. Karena yang harus ia lakukan adalah segera masuk ke dalam ruangan agar hari ini cepat berakhir. Doyoung merangkul Wonwoo untuk mengajaknya masuk
            “Pak, dia ini yang mau tunangan, loh. Makanya nggak punya undangan.” Wonwoo berujar pada salah satu petugas sambil menyodorkan ponselnya ke arah mesin scan yang dipegang petugas tadi.
            “Waduh, maaf ya, Mas. Kenapa nggak bilang? Saya jadi nggak enak, Mas.”
            Doyoung hanya terkekeh pelan. “Nggak apa-apa, Pak. Saya justru seneng tadi diusir.”

***

//The Eliters
Yujin : *Mengirim foto*
Taeyong : “Eh gila, itu Sejeong cantik bener ya.”
Taeyong : “Tau Doyoung nggak mau, tadi gue yang gantiin deh. Hahaha.”
Johnny : “Ngakak Doyoung mukanya tegang bener kayak mau disunat.”
Sejun : “Hahahaha. Doyoung kenapa, sih?”
Seunghee : “Yaudah nggak apa-apa kalo nggak mau ngundang temennya, tapi makan-makan ya tetep harus berjalan lah. Terserah bapak @Doyoung aja lah mau kapan dan di mana.”
Yuta : “Setuju. Seneng nih gue kalo urusan makan-makan.”
Wonwoo : *Mengirim foto dirinya bersama Doyoung.”
Yujin : “Doyoung kenapa lebih seneng pas foto sama Wonwoo dibanding sama Sejeong?”
Ten : “Plot twist. Doyoung sebenernya tunangan sama Wonwoo.”
Taeyong : “Wkwkwkwkwk.”

            “Sial, gue dikira homoan sama elu, Won.” Doyoung menutup pintu mobilnya dengan sedikit kasar.
Wonwoo yang terkekeh geli sambil masuk ke dalam mobil, duduk di kursi penumpang di sebelah Doyoung. Doyoung sudah menyalakan mesin mobil, namun ia tidak buru-buru pergi dari sana. Doyoung meloskan cincin yang meligkar di jari manisnya. Doyoung meletakkannya asal box di dashboard mobilnya.
            “Awas ilang, Doy,” ledek Wonwoo.
            “Nggak peduli, Won.”

Johnny : “Tapi sejujurnya gue bingung, ini gue harus ngucapin selamat atau nggak ke Doyoung?”
Taeyong : “Gue sih nggak bakal ngucapin, tapi tetep terima traktiran.”
Ten : “Gue sih nggak bakal ngucapin, tapi tetep terima traktiran.(2)”
Yuta : “Ayo sini ke tempat yang kemaren Seunghee ajakin.”
Yuta : “Asik juga tertanya.”
Taeyong : “Lagi nggak pengen mabok, gue. Besok siang aja lah ngumpul, mau ke mana? Nerus ke Bali boleh tuh.”
Wonwoo : *Mengirim foto Doyoung yang tengah menyetir.*
Sejun : “Oh, kayak gitu muka yang abis tunangan?”
Ten : “@Sejun kenapa emang, Jun?”
Sejun : “Suram. Wkwkwkkw.”
Yuta : “On the way ke sini, kan @Wonwoo?”
Wonwoo : “Gue sama Doyoung mau langsung ke Bandung.”
Wonwoo : “Mau ke rumah gue, jenguk bokap sebentar.”
Taeyong : “Dih nggak ngajak-ngajak pada kebiasaan banget, sih.”
Wonwoo : “Yang mau ikut, absen. Temuin gue di K*C sebelum jalan tol.”
Wonwoo : “Tapi ketemuan di jalan.”
Wonwoo : “Batas sampe jam 11 malem.”
Taeyong : “Langsung pesen ojek online nih gue.”
Taeyong : “@Wonwoo pesenin gue juga ya. Apa aja.”
Yuta : “@Taeyong, lah nggak jadi?”
Taeyong : “Nggak deh, gue butuh ke luar kota bentar.”
Somin : “@Taeyong besok siang juga nggak jadi?”
Taeyong : “Nggak lah Somin cantik. Duh, gue tidurin juga lu.”
Somin : “Ogah lu mesum, Bang @Taeyong.”

***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar