Senin, 16 Desember 2019

-BEAUTIFUL MONSTER (9)-




Author          : N-Annisa [@nniissaa11]
Cast                :
·        Son Chaeyoung
·        Adachi Yuto
·        Kang Hyunggu (Kino)
·        Jung Wooseok
·        Lee Hangyul
·        and other
Genre            : School Life, Romance, Drama

***

            Tidak mudah bagi Yuto untuk bisa leluasa masuk. Di depannya sudah ada 5 preman yang menghalangi. Masing-masing dari mereka membawa balok kayu panjang. Begitu pula dengan Yuto yang juga membawa balok kayu yang ia temukan di sekitar area Gedung tersebut. Yuto dan para preman itu belum ada yang mulai menyerang duluan membuat suara ricuh dari luar Gedung kembali terdengar. Lalu sedetik kemudian, pintu dibelakang Yuto terbuka membuat pemuda itu harus menajamkan kewaspadaan antara preman dan seseorang yang baru muncul dari arah belakang.
Yuto hanya sempat menoleh kebelakang sesaat, kemudian kembali memfokuskan diri pada preman-preman itu yang kini sudah mulai berlari ke arahnya. Hanya butuh melihat sekilas, Yuto sudah bisa sedikit bernapas lega karena Hangyul datang dengan gaya cueknya, seolah tidak terjadi apa-apa. Itu artinya suasana di luar sudah bisa dikuasai pihak Yuto.
            Hangyul menyeka tepi bibirnya, kasar, dengan menggunakan tangan. Sesaat ia melirik melalui ekor mata dengan sorotan tajam pada Mina yang masih berdiri berhadapan dengan Chaeyoung. “Hei, sunbae! Kalau aku menjadi jelek, kau melepaskan aku, kan?”
            “Hangyul, bodoh.” Chaeyoung bergumam pelan sambil memegangi bagian atas seragamnya yang sobek.
            Mina sendiri sama sekali tidak ingin menggubris Hangyul sedikitpun. Tatapannya sama sekali tidak terlepas dari Chaeyoung. Ia bahkan bisa mendengar gumaman Chaeyoung tentang Hangyul. “Kau, mengacaukan semuanya.”
            Hangyul berlarian ke arah dua gadis itu yang kini tampak berseteru melalui tatapan mata masing-masing. Jelas sekali Chaeyoung benar-benar menahan emosinya untuk tidak bersikap kasar pada Mina. Tepat saat itu, justru Mina yang lebih dulu melayangkan pukulan dengan tangan kosong, namun mengenai punggung Hangyul yang menjadikan dirinya tameng untuk Chaeyoung.
            “Kau mengacaukan semuanya! Harusnya waktu itu kau mati saja!” Mina menjerit sambil terus memukuli punggung Hangyul dengan membabi buta. Hangyul bahkan sampai terhuyung ke depan karena tidak bisa menahan dorongan akibat pukulan tangan Mina.
            Hangyul memeluk Chaeyoung dengan tujuan untuk mengurangi benturan yang mungkin terjadi pada tubuh mungil gadis itu. Sementara itu Mina masih menjerit dengan air mata sudah penuh membasahi pipinya. Mina mungkin sudah tidak menyadari siapa yang ia pukuli sekarang ini. Yuto sudah menggantikan Hangyul untuk dipukuli. Menahan tangan Mina yang masih memberontak.
            “Hentikan! Apa kau sudah gila!”
            Seruan dari pemilik suara berat itu seperti sihir di telinga Mina. Mina berangsur mengurangi kekuatannya sambil membuka mata untuk melihat dengan jelas siapa yang kini sudah berada di hadapannya. Mina langsung disambut tatapan tajam dari Yuto. Kilatan marah jelas terlihat dari sorot mata pemuda tinggi itu.
            Setelah Kogyeol bersama Dokyeom dan beberapa teman mereka memenuhi Gudang untuk menangkap beberapa preman lagi yang baru saja berhasil di kalahkan Yuto bersama Wooseok yang tadi datang tidak lama setelah Hangyul. Preman-preman itu sudah diurus oleh teman-teman Kogyeol. Setelah itu, Kino tiba seorang diri. Ketika Hangyul sedang memberikan seragamnya untuk dipakai oleh Chaeyoung karena seragam gadis itu sobek, Kino langsung berlari ke sudut Gudang tempat Yuqi menjauhkan diri dari kerumunan.
            “Ini aku,” kata Kino. Hatinya hancur mendapati penolakan dari Yuqi. gadis itu masih diselimuti trauma.
Meski awalnya menolak, akhirnya Yuqi mau diajak pergi oleh Kino. Sambil merangkul Yuqi dan membawa gadis itu pergi, Kino sempat melirik ke tempat Hangyul berada. Hangyul hanya memberikan kode dengan Gerakan tangan agar Kino cepat pergi bersama Yuqi dari sana tanpa harus mengkhawatirkan Chaeyoung yang saat itu sedang berbalik badan untuk mengancingkan seragam sekolah Hangyul yang tampak kebesaran di tubuhnya yang mungil.
            Setelah Chaeyoung selesai, gadis itu langsung kembali menghampiri Hangyul yang hanya mengenakan celana sekolah dan kaus putih polos tanpa lengan. Di saat yang hampir bersamaan, Wooseok juga mendekat setelah ia sendiri memastikan jika semuanya sudah aman. Mata pemuda itu terus berkeliling, menyapu pandangan pada tiap sudut Gudang yang bisa tertangkap matanya.
            “Di mana Yuto?”
            Mendengar Woosoek mencari Yuto, baik Chaeyoung ataupun Hangyul tanpa sadar ikut menatap berkeliling mencari pemuda Jepang itu. Hangyul menunjuk salah satu sisi Gudang yang hanya berisi tumpukan kardus berukuran sedang.
            “Terakhir Yuto di sana,” jelas Hangyul. Karena setelah itu ia sibuk mengurus Chaeyoung yang seragamnya sobek akibat Mina.
            Wooseok tidak ingin mencari tahu lebih lanjut. Ia yakin Yuto baik-baik saja. Baiknya ia mengkhawatirkan kondisi Chaeyoung. “Kau baik-baik saja?”
            Chaeyoung menggeleng. “Baik, jika saja aku tidak bisa menahan emosiku.” Sambil menghembuskan napas berat, Chaeyoung sempat mengalihkan pandangan mata ke arah lain. “Apa harusnya ku hajar saja?”
            Hangyul terkekeh, namun Wooseok hanya menyunggingkan senyum. “Sedikit lagi sisi monstermu muncul. Padahal aku ingin melihatnya.” Hangyul menggoda Chaeyoung yang justru dihadiahi pukulan keras pada lengannya oleh Chaeyoung.
            Kemudian Wooseok mengajak dua adik kelasnya itu untuk meninggalkan Gudang sambil menemui Kogyeol dan yang lainnya yang masih menunggu di luar. Kogyeol langsung mendekat begitu melihat Chaeyoung juga sedang berjalan mengarah padanya. Tentu hal pertama yang dilakukan pemuda itu adalah menanyakan keadaan Chaeyoung.
            “Hyung!”
            Semua menoleh ke arah Dokyeom yang berlarian mendekat. “Gadis itu di bawa kabur.” Menyadari Kogyeol tidak sendiri, Dokyeom menatap Wooseok, Hangyul dan Chaeyoung secara bergantian. “Anak baru dari Jepang itu yang membawa Mina pergi. Apa sebenarnya mereka bekerja sama?” terlihat ada nada tidak suka dari cara Dokyeom menyinggung perihal Yuto yang membawa Mina pergi.
            Chaeyoung menoleh ke tempat Wooseok berada, meminta jawaban dari mulut Wooseok. Mungkin pemuda itu tahu sesuatu, pikir Chaeyoung. Wooseok tidak bisa langsung menjawab, ia malah melempar tatapan lagi pada Hangyul.
            “Bukankah dia yang memberi tahu tentang lokasi keberadaan Mina?”
            Hangyul hanya mengangkat bahu untuk menanggapi pertanyaan Wooseok. Jika memang kenyataan begitu, rasanya Hangyul belum bisa percaya begitu saja. Hangyul menoleh ke arah Dokyeom sambil bertanya, “bisakah kita tunggu informasi dari Kino hyung dulu?”
            Wooseok hanya mengangguk sambil menepuk pundak Hangyul sambil melihat ke arah belakangnya. Tempat Kino dan Yuqi masih berada. Mereka belum beranjak dari tempat itu. Tampak Kino masih mencoba membujuk Yuqi. “Kalian duluan saja,” kata Wooseok sambil berbalik.

***

            Yuto mendorong kasar tubuh Mina untuk masuk ke dalam mobil milik gadis itu. Kemudian menutup pintu dengan keras sebelum memutar dan masuk lalu duduk di kursi kemudi. Yuto memutar kunci untuk menyalakan mesin mobil, tatapan sesekali melirik marah pada Mina. Jika ada kesempatan melakukan sesuatu pada gadis itu, Yuto benar-benar akan melakukannya sampai puas. Sebagai ganti membalaskan dendam pada seseorang yang pernah menyakiti kekasihnya dulu.
            Mobil yang dikendarai Yuto mulai meninggalkan lokasi. Pergerakan mereka diketahui oleh Chaeyoung dan yang lain ketika mereka hendak melangkah ke luar gerbang. Ternyata ada pintu lain yang membuat kepergian Yuto bersama Mina tidak diketahui siapapun.
            “Apa itu mereka?” Hangyul memicingkan mata seraya berusaha mengingat nomor polisi mobil itu. “Aku tidak hafal nomornya, tapi aku yakin itu mereka. Kenapa Yuto Hyung pergi bersama Mina?”
            Belum ada yang sempat menjawab, sebuah mobil datang dari arah berlawanan dan mengalihkan perhatian Chaeyoung, Hangyul, Kogyeol serta Dokyeom. Mobil itu tepat terparkir di belakang mobil Chaeyoung yang dikendarai Kino sebelum datang ke sana.
            “Jangan khawatir, itu temanku.” Kogyeol berkata sesaat sebelum melangkah menghampiri temannya yang baru saja tiba, Soo Il.
            Sesaat, Chaeyoung masih menatap ke arah jalanan kosong tempat Yuto menghilang bersama Mina. Di saat yang bersamaan, Kogyeol juga sudah mengajak mereka pergi, namun Chaeyoung masih belum bergerak. Beruntung Hangyul menyadari keberadaan gadis itu. Hangyul berbalik hanya untuk menjemput Chaeyoung, menarik pelan tangan gadis itu untuk ia ajak pulang menggunakan mobil milik temannya Kogyeol. Tanpa melakukan pemberontakan, Chaeyoung tetap menurut mengikuti Hangyul meski tatapannya belum beralih dari jalanan kosong itu.

***

            Yuto mengatur aplikasi penunjuk jalan sambil fokus menyetir. Tidak mempedulikan kondisi atau bahkan posisi Mina disebelahnya. Sebelum ini memang ia mengabari seseorang menggunakan ponsel Kino.
            “Kau mau membawaku ke mana?”
            “Ke tempat di mana tidak ada yang bisa menemukanmu,” jawab Yuto tanpa menoleh sama sekali.
            Mina mendengus. “Apa setelah itu kau akan membunuhku?” tanyanya lagi.
            “Jika kau yang meminta, akan ku kabulkan.”
            Kali ini Mina tertawa. Namun tidak sedikitpun membuat seorang Yuto tertarik untuk mengetahui apa yang membuat Mina tertawa. Pemuda itu masih fokus menyetir sesuai aplikasi penunjuk arah. Setelah seiktar setengah jam, mereka tiba di sebuah Gedung apartment. Yuto memarkiran mobil di basement. Lalu ia ke luar, mengitari mobil kemudian membukakan pintu disebelah Mina. Lagi, dengan sedikit kasar, Yuto menarik tangan gadis itu untuk ke kuar dari mobil. Tentu saja tenaga Yuto jauh lebih kuat dibanding Mina yang melakukan sedikit pemberontakan.
            Yuto mendekatkan wajah ke telinga Mina sambil berkata, “Aku tidak akan kasar jika kau tidak melakukan tindakan bodoh.” Setelah itu Yuto menyelipkan jari-jari tangannya ke dalam jari-jari tangan Mina. Kali ini ia menarik dengan lebih lembut dengan ekspresi wajah agar Mina mau menurutinya kali ini saja.
            Karena di mata Mina, pemuda itu adalah Yuto. Pemuda yang sebenarnya tengah ia kagumi saat ini, atau mungkin lebih dari sekedar kagum. Maka itu ia percaya, dan menuruti semua yang Yuto pinta. Karena pemuda itu adalah Yuto. Jika Yuto benar-benar melakukan hal ‘gila’ padanya, gadis itu mungkin tidak akan dengan senang hati menerimanya. Terdengar gila? Atau mungkin memang benar Mina sudah gila.
            Yuto membawa Mina masuk ke dalam lobi apartment. Masih dengan menggenggam tangan gadis itu, Yuto mengangguk sopan pada security yang berjaga. Hanya berbasa-basi agar tidak dicurigai jika ia ke sana dalam konteks ‘menculik’, bukan membawa ‘pacar’. Telebih dibagian wajah Yuto terdapat beberapa luka kecil. Yuto juga seperti sudah terbiasa ke sana. Pemuda itu bahkan memiliki kartu akses memasuki wilayah apartment elit tersebut.
            Tepat setelah memasuki lift, Yuto dengan tegas melepaskan genggamannya pada Mina. Sementara tangan lainnya yang bebas menekan tombol lantai 11. Selama lift bergerak, Yuto hanya diam, namun ia sadar jika Mina sama sekali tidak melepas tatapannya padanya.
            “Jangan menatap seperti itu. Aku tidak suka.”
            Mina hanya tersenyum samar, seolah ia tidak peduli dengan teguran Yuto. Lalu tidak lama setelahnya, mereka tiba di depan pintu sebuah unit apartment. Yuto menekan bel beberapa kali sampai pemilik apartment itu membukakan pintu. Mina hanya membelalakkan mata melihat siapa pemuda yang membukakan pintu itu. Pemuda yang masih menggunakan seragam sekolah yang sama seperti Yuto. Junyoung.

***

            Mina, Yuto dan Junyoung sudah duduk di ruang tamu yang berada di apartment Junyoung. Mina menatap berkeliling tiap sudut ruangan yang bisa terjangkau matanya. Apartment itu lebih mewah dibandingkan dengan apartment yang dirinya dan Yuto tempati. Yuto dan Junyoung sama-sama sedang membuka kaleng minuman yang Junyoung sediakan beberapa saat lalu.
            “Jadi, aku akan dibunuh di sini?” Mina menatap Junyoung dan Yuto secara bergantian. Namun Junyoung justru ikut melempar tatapan pada Yuto.
            “Dibunuh?” tanya Junyoung dengan ekspresi meminta penjelasan terhadap Yuto.
            Yuto hanya menepuk pundak Junyoung. “Sudahlah, kuserahkan Mina padamu. Atau kau mau aku pergi dari sini?”
            Junyoung mengela napas mendengar pertanyaan Yuto. “Jangan.” Ia kemudian melirik ke tempat Mina duduk. “Apa kabar, Mina? Kapan terakhir kali kita mengobrol santai seperti ini?”
            Mendengar pernyataan Junyoung yang seperti itu, sontak membuat Yuto menegakkan badannya. Heran melihat dua orang itu. Benar-benar sesuatu yang jauh dari bayangannya saat ini ketika Junyoung meminta Yuto membawa Mina padanya. Junyoung hanya bilang akan menjelaskan kenapa ia meminta Yuto membawa Mina ke tempatnya setelah mereka sudah sampai di sana.
            Sesaat Junyoung bisa membuat Mina mengalihkan pandangannya dari Yuto, namun sedetik kemudian Mina benar-benar mengalihkan padangannya dari Junyoung juga. Sedikit menengadah, berusaha menahan tangis. Junyoung sedikit menunduk dan kembali menghela napasnya, kasar. Mengepalkan kedua tangannya, berusaha meyakinkan diri untuk benar-benar melakukan apa yang ia inginkan sekarang. Iya, melakukan itu. Berpindah ke sebelah Mina, bahkan langsung memeluk tubuh gadis itu dan membuat tangis Mina semakin menjadi.
            Yuto hanya mengernyitkan dahi melihat pemandangan di depannya. Dua sosok yang bahkan bisa dikatan baru ia kenal dalam hitungan minggu. Terutama Mina, yang ternyata adalah saudara tirinya. Sang ayah benar-benar menyembunyikan tentang pernikahannya dengan ibunya Mina. Membohongi anak kandungnya sendiri.
            “Kalau capek, kamu boleh istirahat. Kamu boleh tinggalin semuanya.” Junyoung berujar pelan ke telinga Mina. Membuat Yuto duduk dengan gusar. Tidak ingin mengganggu urusan Junyoung, namun ia perlu melakukan sesuatu sebagai alasan bisa meninggalkan mereka berdua. Jelas ia buth penjelasan tentang hubungan dua orang itu. Tapi yang lebih ia butuhkan sekarang adalah menghindari keduanya.
            “Ah, sudahlah.” Yuto menggumam pelan, bahkan nyaris tidak terdengar. Junyoung menoleh saat Yuto berdiri dan tanpa ijin memasuki area dapur apartment Junyoung. Setelah menemukan kotak P3K di salah satu sudut dapur, Yuto membawa benda itu ke dekat wastafel. Ia perlu membersihkan lukanya.
            Selama membasuh wajah, sesekali Yuto menghentikan kegiatannya, sibuk meyakinkan diri bahwa apa yang ia lihat tentang Junyoung dan Mina adalah nyata. Sebenarnya Yuto sudah mengenal Junyoung sebelum ini. Mereka sama-sama menggeluti Taekwondo dan sempat bertemu di beberapa pertandingan mewakili negara masing-masing. Dan akhirnya mereka bertemu lagi di sini, di SMA Paradise. Kemudian, dengan mata kepalanya sendiri, Junyoung memperlakukan Mina dengan sangat lembut. Sedangkan Mina, tidak seperti apa yang ia ketahui selama ini. Bertolak belakang dengan fakta jika Mina adalah dalang dibalik ‘pengeroyokan’ Chaeyoung dan ‘penculikan’ Yuqi. Gadis itu benar-benar berbeda saat bersama Junyoung.

-Don’t Touch me’s chat room-
            Wooseok : “Bisa dijelaskan anda @Kino berada di mana sekarang?”
          Junyoung : “Di apartmentku.”
          Hangyul : “Hyung, bagaimana bisa Yuto hyung di sana? Ia tadi membawa Mina pergi entah ke mana?”
          Hangyul : “Tolong @Kino hyung jelaskan.”
          Junyoung : “@Yuto bagaimana Yuqi?”
Junyoung : “Dan bagaimana Chaeyoung? @Hangyul”
Wooseok : “Mereka baik-baik saja. Lebih baik kalian jelaskan apa yang terjadi sebenarnya?”
Yuto : “Aku dan Wooseok baru saja mengantar Yuqi pulang.”

Merasakan ponsel di saku celananya terus bergetar, Yuto mempercepat kegiatannya, mengeringkan tangan lalu merogoh saku celana untuk mengeluarkan ponsel milik Kino yang masih ada padanya.
            “Tenang, nanti aku yang ceritakan semuanya pada mereka.”
            Yuto yang sedikit terkejut langsung menoleh. Junyoung sudah berada di sana. Membuka kulkas dan mengeluarkan sebotol air dingin. Benar-benar terlihat tenang. Seakan ia memegang kartu ‘AS’ dari segala permasalahan yang terjadi.
            “Mina tertidur. Kau boleh meninggalkannya di sini. Nanti aku yang akan mengantarnya pulang. Oiya, kau bawa saja mobil Mina ke apartmentmu.” Junyoung seakan menjawab semua pertanyaan di benak Yuto.
            Yuto bisa sedikit bernapas lega. Ia bisa melepaskan Mina di sini. Mengingat ia sebenarnya masih menyimpan kesal terhadap Mina. Terlebih seharusnya ia bertemu dengan ibunya sekarang. Namun ia malah terjebak dengan permainan konyol milik Mina. Ia kemudian mengangguk tegas. Hanya menepuk pelan lengan Junyoung sebagai tanda berpamitan. Lalu segera melesat pergi sebelum mungkin Mina kembali mengacau. Saat melintasi ruang tamu, Yuto sempat menangkap melalui ekor matanya, gadis itu tertidur di sofa dan Junyoung sudah menyelimutinya.

***

            Yuto kembali ke tempat tinggalnya. Saat di perjalanan, ia sempat menatap beberapa saat Gedung restoran milik Chaeyoung. Harusnya ia ada di tempat itu. Sekarang. Mungkin sejak beberapa jam lalu. Memeluk ibunya, bercengkrama dengan Chaeyoung dan dua adiknya juga. Padahal sudah di depan mata. Tapi ia tidak bisa melakukan sekarang. Mood­-nya sedikit berantakan. Ia ingin bertemu ibunya dengan membawa cerita baik dengan suasana hati yang baik juga.
            Setelah memarkirkan mobil milik Mina yang di bawanya, Yuto lebih memilih melesat masuk ke dalam Gedung menuju unit apartmentnya. Perutnya lapar, namun tidak ingin mampir ke tempat makan manapun. Mungkin nanti bisa delivery saja. Begitu ke keluar lift, Yuto sibuk memainkan jarinya ke atas layar ponsel Kino. Mengecek aplikasi pemesanan makanan. Begitu sampai di depan pintu, Yuto tidak langsung masuk, masih fokus dengan ponsel sampai-sampai ia tidak menyadari jika ada seseorang yang sedang memperhatikannya dari depan pintu apartment yang berseberangan dengan miliknya.
            Orang itu adalah Chaeyoung. Masih dengan seragam kebesaran milik Hangyul, Chaeyoung berdiri di depan apartment kakaknya sejak beberapa menit lalu tanpa ada niatan masuk ke sana. Di saat-saat berat seperti ini ia hanya ingin bertemu kakaknya. Sementara di depan Chaeyoung sekarang ini ada pemuda yang bisa dikatakan baru ia kenal tapi seperti sudah lama mengenalnya. Terbesit keinginannya memeluk pemuda itu. Karena orang itu adalah Yuto. Yuto yang ia tahu sebelum ini memiliki kehidupan yang sama berat dengan dirinya. Namun harus ia tahan kuat-kuat. Yuto, orang itu kini adalah pemuda yang tadi ia lihat pergi bersama seseorang yang mencelakainya. Mencelakai temannya, Yuqi. Wajar jika Chaeyoung juga sempat berfikir bahwa Yuto ternyata terlibat dengan Mina dan sukses membuatnya kecewa. Meski hati kecilnya tidak ingin mempercayai hal itu.
            Yuto menoleh. Sedikit terkejut mendapati Chaeyoung di sana. Langkah Yuto yang mendekat membuat Chaeyoung justru menjauh. Yuto hanya menghela napas sambil mengusap wajahnya. Tidak perlu ditanyakan lagi, jelas penyebab Chaeyoung bersikap demikian karena kepergiannya bersama Mina tadi. Tidak salah lagi.
            “Aku tau kau marah karena aku pergi bersama Mina,” kata Yuto. Chaeyoung masih diam. Sementara salah satu tangan Yuto terulur untuk menarik gagang pintu dan membukanya. “Kalau kau percaya padaku, ayo kita bicara di dalam.” Yuto menggeser tubuhnya, memerikan jalan kepada Chaeyoung untuk lewat.
            Chaeyoung menoleh ke belakang, menatap pintu apartment kakaknya yang masih tertutup rapat hanya untuk memantapkan hati. Apapun yang ia lihat tadi, Chaeyoung tetap memilih untuk percaya pada Yuto. Gadis itu akhirnya berjalan ke arah pintu apartment Yuto. Memasuki unit itu. Lalu Yuto menyusul setelahnya sambil menutup pintu di belakangnya. Chaeyoung masih berdiri, Yuto meraih pergelangan tangan Chaeyoung dan membawa gadis itu untuk berbalik badan menghadap padanya.
            “Kau baik-baik saja?” Yuto bertanya sambil merentangkan tangan Chaeyoung. Menatap gadis itu dari kepala sampai kaki. “Bagian mana yang terluka?”
            Chaeyoung masih diam. Membiarkan Yuto melakukan apapun yang pemuda itu inginkan. Mencari luka yang menggores kulit Chaeyoung. “Bukankah yang terluka itu Mina Sunbae?”
            Yuto yang saat itu sedang memeriksa bagian tangan kanan Chaeyoung, sontak menghentikan kegiatannya. Chaeyoung sendiri juga tidak ada niatan menarik tangannya. Yuto akhirnya menoleh pelan. Ia mendapati Chaeyoung sedang menatap lurus ke depan.
            “Benar. Tapi aku tidak tahu sedalam apa luka yang dimiliki Mina,” ujar Yuto dengan suara pelan namun tegas. Seolah ia benar-benar tahu tentang kondisi itu. Bagaimana tidak? Perlakuan Junyoung membuka sedikit mata Yuto tentang Mina. Biar bagaimanapun, tetap ada alasan dibalik seluruh kejahatan yang dilakukan Mina.
            Chaeyoung menoleh perlahan, membalas tatapan Yuto. “Maksud Sunbae?”
            Tidak ingin langsung menjawab, Yuto memilih menarik lembut tangan gadis itu, dan ia bawa untuk duduk berhadapan di sebuah sofa panjang yang berada di ruang tengah apartmentnya. Beberapa saat setelah duduk, Yuto sama sekali tidak melepas genggaman tangannya pada Chaeyoung. Lalu diam sesaat, memikirkan kalimat  yang tepat untuk menjelaskan semuanya pada gadis itu. Benar-benar tidak ingin terjadi salah paham sedikitpun. Yuto bahkan sampai mengeluarkan ponsel milik Kino yang masih ada padanya. Membuka chat dirinya dengan Junyoung, lalu menunjukkan semuanya pada Chaeyoung.
            “Aku membawa Mina ke apartment Junyoung atas permintaan Junyoung sendiri.”
            “Junyoung Sunbae yang itu?”
            Yuto mengangguk pelan. “Iya, yang tidak boleh di sentuh itu.”
            “Lalu?”
            Yuto kemudian menjelaskan apa yang ia lihat selama berada di sana, di apartment Junyoung. Tentang tatapan lembut Junyoung dan bagaimana Junyoung memeluk Mina sampai akhirnya Yuto menemukan Mina tertidur di sana. “Aku belum mendapatkan informasi lagi. Terakhir Mina masih berada di sana.”
            Hening beberapa saat, sampai Chaeyoung kembali buka suara. “Sunbae maaf-.“
            “Aku yakin kalian semua pasti sempat berfikir aku berada dipihak Mina?” Balas Yuto cepat, bahkan sebelum Chaeyoung menyelesaikan kalimatnya. Mendengar satu kata ‘maaf’ itu saja sudah bisa dipastikan bahwa kekhawatiran Yuto memang benar. Yuto tersenyum sambil mengacak pelan puncak kepala Chaeyoung.
            Chaeyoung mengusap tengan Yuto yang sejak tadi masih bertaut dengan tangannya. “Sunbae, bahkan harusnya kau hari ini…” Kali ini Chaeyoung benar yang menggantungkan kalimatnya sendiri.
            Yuto mengangguk. Mengerti apa yang sedang dibahas Chaeyoung. “Aku juga ingin bertemu dengan ibu detik ini juga. Tapi aku tidak ingin merusak suasana. Aku ingin bertemu ibu dengan suasana hati yang baik. Tidak seperti sekarang.”
            “Bagaimana kalau kita pesan makanan saja? Aku yang akan traktir Sunbae.”
            Wajah Yuto berubah cerah. “Makanan dari restoranmu?”
            Chaeyoung menggeleng dengan wajah sedih. “Ayolah kali ini saja aku ingin makan-makanan lain.”
            Yuto terkekeh melihat ekspresi Chaeyoung. “Monster cantik sepertimu memiliki ekspresi imut juga ternyata.” Tanpa sadar Yuto mencubit pipi Chaeyoung karena gemas dengan gadis itu. Namun kejadian tersebut justru berakhir dengan kecanggungan dari keduanya. Chaeyoung yang terkejut dengan perlakuan Yuto, dan Yuto yang terkejut karena tidak menyangka ia melakukan hal tersebut pada Chaeyoung.

***

Esoknya~
            Pagi-pagi sekali Yuto sudah berada di salah satu taman kota. Berada di tengah-tengah keramaian warga sekitar yang berolahraga pagi. Yuto duduk di sebuah bangku sambil menenggak air minumnya setelah melakukan jogging selama sekitar 30 menit. Selang beberapa saat, terlihat Kino datang. Yuto tidak terkejut menemukan Kino di sana—dengan celana training pendek, kaos dan hanya menggunakan sendal sebagai alas kaki.
            “Maaf aku kesiangan,” kata Kino sambil menghempaskan badan di sebelah Yuto.
            Yuto melirik sambil mengangguk, memperlihatkan ekspresi kalau ia mengerti dengan situasi Kino. “Gadis itu masih marah padamu?”
            Kino menoleh cepat dengan posisi tangan yang memegang ponsel Yuto sedikit terangkat. “Kau mendengar berita dari mana?”
            Yuto ikut mengangkat tangan yang memegang ponsel Kino. Lalu meraihnya menggunakan satu tangan lagi yang terbebas sambil meletakkan ponsel Kino diatas tangan pemuda itu yang kosong setelah Yuto mengambil ponsel miliknya. “Dari Chaeyoung,” kata Yuto menjawab pertanyaan Kino yang tadi.
            Kino menunjukkan ekspresi takjub. “Kalian sudah sedekat itu rupanya?”
            Yuto mengangguk sambil menatap ke arah lain dan tangannya memainkan ponsel. “Aku mungkin lahir dan besar di Jepang, tapi hubungan ku dengan Chaeyoung tidak bisa dikatakan sesederhana itu.”
            “Maksudmu?” Kino mengernyitkan keningnya. Jelas ia terkejut karena ada hal tentang Chaeyoung yang tidak ia ketahui. Dan jutru ia mendengar hal itu dari seseorang yang juga baru ia kenal.
            Yuto menoleh lagi. “Orang tuaku dan orang tua Chaeyoung bersahabat. Kami bahkan memiliki foto bersama saat masih sangat kecil.”
            “Ku kira selama ini aku tahu segalanya tentang Chaeyoung.”
            Yuto menepuk pundak Kino. Kino terlihat seperti seseorang yang di khianati. “Kami bahkan baru mengetahui hal itu. Kau juga tahu kan aku berada di sini untuk mencari ibuku? Dan ternyata makanan yang setiap hari ku nikmati adalah masakan ibuku sendiri.”
            “Bibi koki di restoran Chaeyoung?”
            Yuto hanya merespon dengan anggukan. Tidak terlalu menanggapi kehebohan Kino karena tidak lama setelah itu, Wooseok datang sambil membawa ransel karena hari Sabtu adalah jadwalnya untuk latihan Muai Thai. Tidak jauh di belakang Woosek, tampak Junyoung berjalan bersama Eunwoo. Mereka sibuk dengan ponsel masing-masing. Yugyeom izin tidak bergabung karena ada sesuatu yang harus diurus. Sementara Hangyul, pemuda itu berada di suatu tempat, Sedang menatap berkeliling seperti mencari sesuatu, dan jarinya juga sibuk bermain di atas keyboard ponselnya.

-Don’t Touch me’s chat room-
            Hangyul : “Sunbae-sunbae terhormat, kalian berada di mana?”
          Hangyul : “Saya sudah tiba di depan Gedung.”

            Ke lima pemuda yang sedang berada dalam satu lokasi kontan saja seling melempar tatapan satu sama lain. Mereka sama-sama mempertanyakan tentang keberadaan Hangyul dan isi pesan pemuda itu di group chat mereka.

-Don’t Touch me’s chat room-
            Junyoung : “Di taman tidak ada Gedung.”
          Kino : “Hahahahahaha.”
          Kino : “Di mana kau? Tersasar ke mana?”
          Wooseok : “Si bodoh ;D”

            Wooseok memasukkan ponsel ke dalam saku celananya sambil menggeleng melihat kelakuan Hangyul. “Dia pasti berada di Gedung latihan kami.”
            “Apa informasi dariku masih kurang jelas?” Junyoung menatap satu persatu temannya yang berada di sana dengan ekspresi serius. Sedikit merasa bersalah karena keberadaan Hangyul yang tidak jelas di mana. Karena dirinyalah yang menyarankan untuk bertemu di taman itu. Ia dan Eunwoo bahkan sama seperti Yuto, sempat berolahraga ringan sebelum berkumpul dengan yang lainnya.
            Kino juga sudah memasukkan ponsel ke dalam saku celananya sambil berdiri. “Sudahlah, ayo cari café terdekat. Aku lapar. Nanti kita beri tahu Hangyul untuk menyusul.”
            Semuanya mengangguk setuju dan langsung bergerak pergi dari taman yang masih saja ramai, padahal hari sudah beranjak siang.
            “Kau latihan jam berapa?” tanya Eunwoo yang kebetulan berjalan beriringan dengan Wooseok.
            “Jam 10, Hyung. Jadi mungkin aku tidak terlalu lama berada di sana.”

***

            Pagi itu di kediaman Chaeyoung, terlihat Dongmyeong meletakkan piring berisi omelette ke atas meja makan dengan sedikit kasar lalu duduk berseberangan dengan Dongju yang sedang mengolesi selai pada roti tawar miliknya. Dua adik kembar Chaeyoung itu bahkan masih mengenakan pakaian yang mereka gunakan saat tidur.
            Noona! Bisakah kau menurut kali ini saja?” tegur Dongmyung dengan nada kesal.
            Dongju yang bingung dengan sikap Dongmyeong, sontak berbalik dan mendapati kakaknya yang berdiri di anak tangga terakhir. Sudah lengkap dengan ransel yang biasa ia gunakan ketika ingin pergi latihan Muai Thai.
            “Tapi ini hanya latihan,” sergah Chaeyoung yang kini sudah melepaskan sepatunya ke lantai. Gadis itu kemudian berjalan mendekat dan bergabung dengan dua adiknya, lalu duduk diantara Dongju dan Dongmyeong.
            “Ku mohon kali ini saja. Aku akan tetap melarangmu.” Dongmyeong berujar sambil menatap Chaeyoung, lembut. Meski kesal, ia bahkan tidak bisa marah berkepanjangan dengan kakaknya itu. Kali ini terlihat seperti Dongmyeong adalah kakaknya Chaeyoung.
            Chaeyoung hanya menghela napas sambil meraih gelas susu yang berada tidak jauh dari piring omelette milik Dongmyeong. Dongju sendiri hanya menggeleng melihat sikap kakaknya.
            “Akibat kejadian itu, kau mendapati cedera. Jika kau tetap melakukan olahraga berat seperti ini, cederamu bisa bertambah dan bisa berakibat fatal. Ayolah Noona, hanya kau dan Dongwoon Hyung yang kami miliki.”
            Chaeyoung membatalkan niat untuk menenggak susu ditangannya. Mendadak kehilangan nafsu untuk sarapan. “Aku butuh melindungi diri.”
            Pernyataan Chaeyoung membuat Dongmyeong melepaskan garpunya dengan kasar lalu menautkan kedua tangannya dan dengan bertumpu pada siku yang menempel di permukaan meja. Berusaha bersabar menghadapi Chaeyoung yang entah kenapa tiba-tiba bersikap kekanakan. Harusnya gadis itu mengerti tentang kondisi tubuhnya.
Sebenarnya beberapa hari lalu Chaeyoung mengeluh sakit di beberapa bagian tubuh. Terutama bagian tangan dan kaki. Tanpa pikir panjang, dua anak kembar itu membawa Chaeyoung untuk memeriksakan diri. Dan baru semalam hasil pemeriksaan Chaeyoung ditambil oleh Dongju dan Dongmyeong, tanpa Chaeyoung karena gadis itu baru saja mengalami kejadian buruk lagi. Dua anak kembar itu tentu tidak ingin mengambil resiko jika Chaeyoung harus ikut ke rumah sakit hanya untuk mengambil hasil pemeriksaan.
            “Aku janji aku tidak akan…”
            Dongju terlihat menempelkan ponselnya ke telinga. “Halo, Dongwoon Hyung.
            “Oke aku tidak akan pergi!” seru Chaeyoung. Terkejut karena Dongju tiba-tiba menelepon Dongwoon. Chaeyoung bahkan sampai berdiri dan merebut paksa ponsel milik Dongju. Sedetik kemudian, Chaeyoung merasakan hatinya mencelos. Hanya terlihat wallpaper pemadangan di layar ponsel Dongju. Adiknya itu tidak benar-benar menghubungi ponsel Dongwoon. Saat mendongak, Chaeyoung mendapati dua adiknya itu terkekeh pelan, menertawakan kebodohannya sambil saling menautkan kepalan tangan mereka.

***

            “Aku kenal dengan Mina sejak kelas 5 SD. Mina murid baru di sekolahku. Dia anak yang ceria dan polos. Namun banyak anak yang entah kenapa menjauhi Mina. Lalu akhirnya kami berteman karena rumah kami ternyata cukup berdekatan. Sebelum ini juga dia berasal dari keluarga yang tergolong biasa saja. Kita semua juga tahu jika salah satu pemilik saham di sekolah hanya ayah tiri Mina.”
            Mereka semua mendengarkan cerita Junyoung dengan serius sambil sesekali menikmati minuman yang mereka pesan. Terutama Yuto. Ketika Junyoung ‘menyinggung’ tentang ayahnya, Yuto berusaha tidak menunjukkan ekspresi yang berlebihan. Hangyul juga sudah berada di sana sejak beberapa menit lalu. Meski ia menjadi yang terakhir datang, namun Junyoung sepakat untuk memulai ceritanya tentang Mina jika Hangyul sudah bergabung dengan mereka di sana.
            “Ayah kandung Mina termasuk orang yang kasar. Ibunya sering menjadi korban kekerasan. Tidak terkecuali Mina, meski tidak sesering ibunya. Lalu ketika baru masuk SMP, orang tua Mina bercerai. Dan saat itu aku juga masih sering berinteraksi dengan Mina. Namun selang beberapa bulan kemudian, Mina dan ibunya pindah. Entahlah, banyak rumor yang beredar setelah itu. Salah satu yang ku dengar adalah ibunya menikah lagi.”
            Setelah menyelesaikan kalimatnya, Junyoung memberi jeda sesaat sebelum melanjutkan kembali. Ia menyeruput vanilla latte-nya dan mengambil sepotong pizza lalu memakannya.
            “Secepat itu ibunya menikah lagi?” tanya Wooseok. Hangyul dan Eunwoo terlihat mendukung ucapan Wooseok seolah mewakili mereka.
            Namun tidak untuk Kino yang justru menjatuhkan tatapan pada Yuto yang duduk tepat si seberangnya. Yuto masih tampah masih menyibukkan diri dengan minumannya. Tapi pemuda itu sadar jika Kino lebih tertarik padanya perihal pembahasan Mina.
            “Kalian penasaran kenapa ibunya Mina secepat itu menikah lagi?” Yuto berujar sambil mengangkat kepala, menatap satu-persatu temannya tersebut karena mengambil alih pembahasan tentang Mina. “Karena laki-laki yang ia nikahi adalah dari masa lalunya. Atau kalian mungkin lebih akrab dengan istilah mantan kekasih?”
            “Kau kenal dengan laki-laki itu, Hyung?”
            “Gyul!” Desis Kino sambil menyikut lengan pemuda yang kebetulan duduk di sebelahnya karena mengeluarkan pertanyaan seperti itu pada Yuto. Hangyul hanya menoleh dengan ekspresi wajah ‘Apa salahku?’.
            Tidak disangka Yuto mengangguk. “Laki-laki itu adalah ayahku.”
            Eunwoo dan Wooseok menoleh cepat. Junyoung tersedak minumannya. Lalu ada yang berujar pelan, namun terdengar seperti umpatan kasar. Kino yang sejak tadi memang memperhatikan Yuto, hanya melebarkan matanya.
            “Jadi, kau dan Mina. Saudara tiri? Eh, apa? Saudara tiri!” seru Hangyul hingga membuat orang-orang di sekitar sana menoleh padanya karena keributan pemuda itu. Namun Hangyul tidak peduli. Hangyul bahkan tidak sadar jika awalnya hanya ia yang merespon datar. Karena saat itu ia sedang sibuk memisahkan bawang dari makanannya.
            “Kejutan apa lagi kali ini?” tanya Eunwoo tanpa melepaskan tatapannya pada Yuto.
            Yuto sendiri memilih kembali menyesap kopinya.
            “Aku jadi tidak memiliki nafsu makan,” kata Hangyul yang sedetik kemudian sudah menyuapkan makanan ke mulutnya.
            Junyoung mengerutkan dahi melihat kelakuan Hangyul. “Aku jadi tidak habis pikir, siapa gadis yang suka padamu? Apa dia tahu kelakuanmu di belakang?” Junyoung menggeleng dengan persepsinya sendiri tentang Hangyul.
            “Ku rasa alasan aku dimasukkan ke sini sedikit berbeda dengan kalian. Bukan karena suka tapi karena dendam, hahaha.” Hangyul menertawai pemikirannya sendiri. Karena selama ini ia tidak merasa pernah memiliki penggemar. Siswi perempuan yang dekat dengannya hanyalah Chaeyoung. Dan sangat musatahil jika Chaeyoung berada di pihak Mina dan memiliki perasaan khusus dengannya.

***

            Yuto terlihat menyebrang dari arah Gedung apartmennya menuju restoran milik Chaeyoung. Setelah pertemuan dengan Kino dan yang lainnya selesai, Yuto memutuskan kembali pulang untuk mandi dan berganti pakaian. Seharusnya sejak kemarin ia sudah bertemu dengan ibunya. Namun ada beberapa hal yang menghalanginya menemui salah satu koki yang dimiliki restoran Chaeyoung tersebut.
            Yuto berhenti sejenak—hanya beberapa meter dari pintu masuk restoran Chaeyoung—karena melihat seorang pemuda yang tidak asing dimatanya. Pemuda dengan kaus dan celana training yang membawa sebuah ransel dipunggungnya. Belum ada satu jam sejak mereka bertemu di café tadi pagi. Pemuda tersebut adalah Hangyul yang saat ini belum menyadari keberadaan Yuto karena ia berjalan sambil sibuk dengan ponselnya.
            “Ku kira jadwal latihanmu belum selesai.”
            Sontak Hangyul berhenti dan mendongak. Tidak terlalu terkejut mendapati Yuto berdiri di sana. Ia tahu pemuda itu memang tinggal di daerah sana dan Yuto juga sudah berpamitan pulang lebih dulu.
            “Tidak bersama Chaeyoung?” tanya Yuto lagi karena tadi Hangyul tidak merespon ucapannya.
            Hangyul menggeleng sambil memasukkan ponselnya ke saku celana. “Aku tidak jadi pergi latihan. Dan Chaeyoung juga tidak latihan.”
            Yuto mengerutkan kening. “Kenapa? Dia sakit?”
            Hangyul berpikir sejenak. “Iya sakit, tapi bukan karena sakit demam atau sejenisnya.”
            “Maksdumu? Chaeyoung kenapa?” desak Yuto.
            “Aku juga belum tahu detail karena aku tahu dari Wooseok Hyung, dan Wooseok Hyung sendiri tahu dari Dongmyeong atau Dongju gitu, aku sedikit lupa.” Hangyul melirik sekilas ke tempat Yuto berdiri. Pemuda di hadapannya itu diam dan menatapnya balik. Lebih tepatnya menunggu Hangyul menyelesaikan kalimatnya. Jelas saja apapun yang menyangkut tentang Chaeyoung, Yuto akan merasakan penasaran berlebih. “Chaeyoung tidak boleh bertangding, maksudku seperti ‘fight’, kau paham kan? Akibat pengeroyokan terhadap Chaeyoung setengah tahun lalu. Kalau Chaeyoung kembali mengalami posisi seperti dulu itu, cederanya akan kambuh dan mungkin berakibat fatal.”
            Selama Hangyul bercerita, Yuto mengepalkan tangannya dan mengalihkan pandangannya ke arah lain. Rasa sakit itu kembali menjalari hati Yuto. Mendengar tiap detail cerita hidup Chaeyoung membuatnya kembali teringat mendiang Sana. Keduanya sudah tidak memiliki orang tua. Hanya saja Chaeyoung masih memiliki Hangyul, dua adik kembar, dan beberapa teman lainnya seperti Kino juga Wooseok. Tidak seperti Sana yang hanya ‘memiliki’ dirinya. Sana tidak memiliki adik atau kakak. Gadis itu hanya tinggal bersama bibi dan pamannya.
            “Ah, Hyung. Memikirkan Chaeyoung membuatku lapar.” Hangyul menggerutu. Tanpa menunggu reaksi Yuto, pemuda itu sudah bergerak mendahului untuk masuk ke dalam.
            Yuto menyusul kemudian. Ia berjalan sedikit di belakang Hangyul. Menunggui pemuda itu yang sedang berbincang dengan Dongju yang seperti biasa duduk di balik mesin kasir. Tidak seperti biasa, Yuto seperti bingung harus bersikap seperti apa saat ini. Biasanya setelah menyapa Dongju atau Dongmyung, Yuto akan langsung mencari meja kosong dan memesan makanan.
            Saat Hangyul bergerak, Yuto kembali menyusul. Hangyul bahkan sampai terkejut saat ia berbalik lalu hendak duduk di salah satu kursi kosong dan mendapati Yuto di sana.
            “Astaga!” Hangyul memekik sambil memegangi dadanya. Benar-benar terkejut. Melihat itu, Yuto hanya tersenyum canggung.
            “Hahaha, iya bibi nanti aku akan melakukan sesuai saranmu.”
            Yuto menoleh ke arah pintu yang menghubungkan dengan dapur setelah mendengar ada sedikit keributan. Bukan keributan yang bagaimana, hanya saja tampak terlihat Dongmyung muncul dengan tawa khasnya bersama dengan seorang wanita paruh baya yang terlihat masih cantik untuk ukuran wanita seusianya. Wanita itu—Chaeyoung menyebutnya bibi Hana—juga tertawa bersama Dongmyung.
            “Chaeyoung hanya mengerti berkelahi.”
            “Iya bibi benar sekali. Kadang aku berfikir Chaeyoung Noona adalah laki-laki.” Dongmyung tertawa lagi, bersama bibi Hana.
            Mereka tidak menyadari jika ada seseorang yang sedang memperhatikan mereka dengan perasaan bercampur aduk. Yuto. Langkah pemuda itu seperti tertahan. Sampai akhirnya mata itu saling bertemu. Mata bibi Hana dan Yuto. Hanya sekali lihat Yuto bisa mengetahui jika wanita itulah yang ia cari selama ini. Yang ia rindukan setengah mati. Namun berbeda dengan bibi Hana. Wanita itu memang mengenali Yuto sebagai pelanggan tetap di sana. Namun akhirnya senyuman di bibir bibi Hana memudar perlahan. Semakin lama ia menatap Yuto, semakin membuatnya teringat sesuatu. Teringat seorang pria bernama Keigo Nishimoto.
            Bibi Hana sontak membalikkan badan. Dongmyung yang menyadari keberadaan Yuto sudah ingin menyapa pemuda itu, namun ekspresi Yuto seperti menandakan ini bukan saatnya untuk saling sapa.
            Brak!
            Chaeyoung yang baru tiba mejatuhkan paper bag berisi buku pelejaran milik Dongmyung yang ia bawa. Chaeyoung berlari menghampiri bibi Hana. Melewati Yuto dan Dongmyung begitu saja. Gadis itu kemudian memeluk bibi Hana dari belakang. Bibi Hana sudah terisak di sana, membuat Chaeyoung semakin mengeratkan pelukannya.

***


Tidak ada komentar:

Posting Komentar