Senin, 16 Desember 2019

-BEAUTIFUL MONSTER (10)-




Author          : N-Annisa [@nniissaa11]
Cast                :
·        Son Chaeyoung
·        Adachi Yuto
·        Kang Hyunggu (Kino)
·        Jung Wooseok
·        Lee Hangyul
·        and other
Genre            : School Life, Romance, Drama

***

            Chaeyoung meninggalkan ruangannya. Memberikan waktu kepada ibu dan anak itu saling melepas rindu. Tanpa sadar setitik air mata meluncur di sudut matanya. Chaeyoung segera menyekanya sebelum ada yang sadar. Gadis itu menangis Bahagia, melihat bibi Hana—wanita yang sudah ia anggap seperti ibunya sendiri—bertemu dengan putranya setelah sekian tahun berpisah.
            Sementara di dalam, Yuto sama sekali tidak melepaskan pelukannya pada sang ibu yang bahkan tidak bisa menghentikan tangisannya. Mata pemuda itu juga basah karena air mata Bahagianya. Akhirnya Yuto melepaskan pelukannya. Ia mengajak Hana untuk duduk di sofa, berhadapan. Yuto menangkup wajah cantic ibunya.
            “Ibu, maaf aku baru datang mencarimu.” Suara Yuto terdengar bergetar akibat tangisannya tadi. Ia berusaha menyeka sisa air mata di wajah ibunya, namun pipi wanita itu selalu basah akibat air matanya kembali jatuh.
            Bibi Hana menggeleng. “Harusnya ibu yang mencarimu, nak.”
            Yuto tersenyum, berusaha agar ibunya berhenti menangis. “Yang penting sekarang, kita sudah bersama-sama ya, bu. Ah, aku juga rindu Yasuo.”
            Bibi Hana menatap Yuto melalui matanya yang basah. “Taewoong. Namanya Taewoong. Dia tidak suka dipanggil Yasuo lagi.”
            Yuto terkekeh. Sulit diartikan apa yang ia rasakan sekarang. Namun tebakannya pasti Yasuo/Taewoong terlalu kecewa dengan keluarganya. Terutama ayah mereka. Jika ia berada di posisi Taewoong, mungkin Yuto juga akan melakukan hal yang sama. “Kapan aku bisa bertemu dengan Taewoong Hyung? Dia pasti senang jika aku memanggilnya begitu. Ya kan, bu?”
            Wanita itu sama sekali tidak melepas pandangannya barang sedetikpun. Namun lagi-lagi bibirnya bergetar. Bibi Hana kembali menangis. Mereka sudah berpisah selama belasan tahun. Namun rasanya seperti baru beberapa minggu saja, terlebih mendapati Yuto memanggil Taewoong dengan sebutan ‘Hyung’.
            “Apa selama ini kau di Seoul?” bibi Hana bertanya dengan nada menyelidik setelah ia sudah bisa sedikit meredakan tangisnya.
            Yuto berpikir sesaat. “Baru hampir dua bulan. Memangnya kenapa? Apa aku sudah pantas menjadi orang Korea?” goda Yuto pada ibunya. Entah karena memiliki darah Korea juga, tidak sulit bagi Yuto untuk terbiasa dengan budaya di sana. Hanya dalam hitungan hari saja tanpa sadar ia mengganti panggilan pada Takuya menjadi ‘Hyung’.
            Bibi Hana tersenyum di sisa-sisa air matanya. Rasanya malam ini ia akan tidur nyenyak. Si bungsu sudah besar, dan kini ada di hadapannya. Bisa ia sentuh dan ia peluk. Yuto sendiri juga tidak melepaskan tatapan pada ibunya, seperti menatap cinta pertamanya.
            “Ibu, maaf aku baru bisa mencarimu sekarang. Dulu aku belum bisa berbuat apa-apa.”
            Kembali, bibi Hana menarik Yuto ke dalam pelukannya. Seolah membayar hutang pelukan yang seharusnya Yuto terima sejak belasan tahun lalu. Yuto balas memeluk ibunya, mengusap punggung wanita itu sambil menenggelamkan wajah ke leher ibunya. Kehangatan yang sangat ia rindukan.

***

            Chaeyoung menyandarkan kepalanya pada dinding, tepat di sebelah pintu ruangan yang biasa dijadikan kantor. Tidak bisa dibayangkan bagaimana suasana di dalam sana yang hanya diisi dua orang. Yuto dan ibunya, bibi Hana. Jika tahu sejak awal, hari itu juga—saat ia pertama kali bertemu Yuto—Chaeyoung sudah mempertemukan mereka. Mungkin memang sudah jalannya seperti ini. Perjuangan Yuto sudah membuahkan hasil. Bahkan sebenarnya sejak hari pertama menginjakkan kaki di Korea, Yuto sudah bertemu dengan ibunya melalui masakan bibi Hana.
            Chaeyoung kembali menegakkan badan sambil menyeka ekor matanya sebelum air matanya mengalir. Gadis itu ikut merasakan emosi ketika mengetahui bibi Hana bertemu dengan anaknya, Yuto. Bibi Hana pernah beberapa kali bercerita tentang anak bungsunya. Tidak terlalu banyak, karena bibi Hana tidak ingin larut dalam kesedihan karena tidak bisa berbuat apa-apa untuk bisa bertemu dengan Yuto. Kalau dipikir lagi, takdir terkadang begitu lucu. Chaeyoung bahkan cukup akrab dengan Yuto—meski baru kenal. Sampai akhirnya lamunan Chaeyoung terganggu karena ada suara desisan seseorang yang seakan sedang berusaha mendapatkan perhatian Chaeyoung.
            “Hei, ibu Boss.”
            Chaeyoung benar-benar menoleh. Didapatinya sosok Hangyul yang mengankat tangannya agar Chaeyoung bisa dengan mudah menemukan teman semejanya ketika di kelas itu. Chaeyoung sedikit mengerutkan keningnya sambil melangkah mendekat. Tadi ia tidak sempat menyadari keberadaan pemuda itu. Hangyul memang sudah beberapa menit di sana. Terlihat dari mejanya yang sudah terhidang makanan dan minuman yang ia pesan.
            Hangyul menggeser posisi duduknya—ia tadi memilih meja dengan kursi panjang—sambil memberikan tanda agar Chaeyoung duduk di sebelahnya.
            “Kenapa tidak latihan?” tanya Chaeyoung sesaat setelah ia duduk seperti permintaan pemuda itu. Gadis itu juga menangkap sebuah tas ransel yang Hangyul letakkan di bawah meja.
            “Aku sedang kurang nafsu makan, dan tadi pagi aku tidak sarapan. Bagaimana mungkin aku latihan dalam keadaan perut kosong?”
            Chaeyoung melirik kesal pada Hangyul saat pemuda itu menyuapkan nasi ke dalam mulutnya. Chaeyoung tidak begitu saja mempercayai Hangyul. Padahal memang kenyataannya Hangyul sudah sarapan bersama seniornya di sekolah. Dan Chaeyoung juga mengetahui hal tersebut dari Kino yang sempat saling bertukar kabar dengannya tadi.
            “Jangan coba membohongiku jika kau sedang bersama Kino Oppa.”
            Hangyul membatalkan menyuapkan kembali makanannya dan justru malah tertawa. Ia memang sengaja berbohong. Tidak seru jika bicara terlalu jujur pada Chaeyoung. Namun selama beberapa menit, tidak ada sepatah katapun meluncur dari bibir Hangyul. Ia lebih memilih menikmati makanannya dalam diam, dan Chaeyoung juga masih di sana menunggunya sampai selesai.
            Hangyul memutar badannya hingga berhadapan dengan Chaeyoung. “Wooseok Hyung sepertinya sudah menceritakan kondisimu pada coach.”
            Chaeyoung menoleh dengan ekspresi bingung. “Kondisi apa? Memangnya aku kenapa?”
            Hangyul masih diam tidak bereaksi. Menatap lurus ke dalam mata Chaeyoung hingga membuat gadis itu sedikit salah tingkah. Tanpa harus bertanya, Chaeyoung sudah menyadari jika Hangyul mengetahui sesuatu tentang dirinya. Dan jika Wooseok juga tahu, bisa dipastikan mata-mata yang membocorkan rahasia tersebut adalah si kembar Dongju-Dongmyung. Dua anak kembar itu memang harus meminta bantuan orang lain untuk mengawasi kakaknya. Salah satunya melalui Wooseok. Dan mungkin Kino juga sudah mengetahui hal ini. Mereka memang tidak bisa merahasiakan sesuatu, apalagi yang menyangkut Chaeyoung.
            “Lalu? Kau juga akan melarangku berlatih Muay Thai?”
            Kali ini pertanyaan Chaeyoung membuat kening Hangyul mengerut. “Memangnya kenapa harus sampai tidak berlatih lagi?” tanya pemuda itu dengan ekspresi bingung.
            Chaeyoung mengedipkan mata pelan dengan hati yang mencelos. “Sebenarnya apa yang kau bicarakan?”
            Hangyul tersenyum canggung. Ekspresi Chaeyoung kali ini sudah tidak bisa ia nikmati lagi sebagai hiburan. Karena semenjak Namanya berjejer dengan Junyoung, Wooseok dan yang lain, Hangyul merasa waktu kebersamaan dengan Chaeyoung seperti berkurang. “Maaf kalau aku keterlaluan.” Tatapan Hangyul berubah lembut.
            Chaeyoung tertunduk. Benar masalah itu. Masalah tubuhnya yang sudah tidak seperti dulu. Masalah tentang dirinya yang tidak boleh berada dalam situasi ‘perkelahian’. Bahkan diperparah dengan dirinya yang harus meninggalkan Muay Thai. Tempat gadis itu mendapatkan kepercayaan dirinya. Bahkan karena dari tempat itu, Chaeyoung bisa melindungi dirinya sendiri.
            “Aku tidak ingin kau menderita lebih dari ini.”
            Chaeyoung hanya tersenyum sarkas. Teringat kejadian sial tersebut. Mina. Bahkan sampai detik ini, Chaeyoung tidak tahu di mana letak kesalahannya hingga ia menjadi korban. Kalau hanya karena Yugyeom, harusnya Mina tidak perlau melangkah sejauh itu.
            “Ada yang harus kau tahu.”
            Chaeyoung kembali menoleh pada Hangyul yang bahkan tidak melepaskan tatapannya.
“Tentang Mina,” lanjut Hangyul yang kemudian menceritakan secara jelas apa yang ia alami selama berada di ‘grup’ itu, hingga pertemuannya dengan anggota ‘grup’ itu tadi pagi. Tentang Junyoung yang membeberkan cerita masa lalunya dengan Mina. Seakan story tersebut berkelajutan dengan apa yang Yuto ceritakan kemarin malam.

***

            Kino tampak duduk disebuah undakan tangga sebuah rumah dengan membawa sebuah paper bag berisi dua gelas ice chocolate. Pakaian pemuda itu masih seperti yang ia kenakan saat sarapan bersama teman-temannya tadi pagi. Tidak lama kemudian terdengar suara pintu terbuka. Kino buru-buru menoleh sambil berdiri. Didapatinya sosok Yuqi dengan pakaian santainya. Pemuda itu belum membuka mulut sama sekali. Sampai akhirnya Yuqi yang duduk di undakan tangga, membuat Kino juga menyusul dengan paper bag yang membatasi mereka.
            “Sudah lebih baik?” tanya Kino akhirnya memulai untuk membuka suara. Sejak kejadian Yuqi di culik, pemuda itu sudah melunak. Hubungan mereka sebelum itu sangat buruk.
            Sunbae maafkan aku,” kata Yuqi dengan nada sedikit bergetar.
            Kino langsung menggeser tubuhnya lebih mendekat pada gadis itu, lalu merangkul pundak Yuqi. Gadis itu juga baru saja menghadapi kejadian besar yang tidak bisa ia lupakan begitu saja. “Kau tidak perlu memikirkan itu lagi. Yang terpenting kau sudah baik-baik saja. Itu sudah lebih dari cukup.” Kino tersenyum hangat hingga berdampak senyuman itu menular pada Yuqi. Masih mempertahankan senyumannya, Kino membelai rambut bergelombang milik Yuqi.
            “Apa Chaeyoung baik-baik saja?”
            Pertanyaan Yuqi membuat Kino menghentikan kegiatannya. Bibirnya masih membentuk senyum, namun bukan senyuman seperti tadi. Semua pembahasan tentang Chaeyoung pasti tertuju pada ‘sakit’ yang diderita gadis itu. Namun rasanya Kino belum perlu memberi tahu Yuqi tentang berita itu. Ya, Kino tentu tahu apa yang sedang dialami Chaeyoung. Karena yang sebenarnya terjadi adalah : Wooseok membeberkan hal tersebut di depan forum. Dalam hal ini di depan seluruh anggota ‘grup’—kecuali Yugyeom.
            “Ah, tidak ada yang perlu kau khawatirkan,” kata Kino akhirnya. “Chaeyoung baik-baik saja. Dan kalaupun terjadi sesuatu, masih ada Hangyul dan Yuto yang berdiri paling depan untuk melindungi Chaeyoung.” Sedikit membubuhi lelucon untuk menutupi kegugupannya. Tidak ingin Yuqi mengalami trauma lebih mendalam sejak kejadian penculikan itu.
            “Lagipula, yang kudengar, waktu itu kau datang karena menerima pesan dariku. Apa itu benar?” tanya Kino sampai memiringkan kepalanya karena Yuqi terlihat menunduk dan sedikit menghindari kontak mata dengannya.
            Diam-diam Kino tersenyum. Karena alasahan itu pula ia memberanikan diri untuk datang ke rumah Yuqi. Padahal kemarin Yuqi bahkan seperti tidak ingin melihat Kino. Gadis itu lebih mempercayai untuk ikut bersama Wooseok. Padahal Kino juga di sana. Kino bahkan orang pertama yang mengulurkan tangan padanya.
            Kemarin, Yuqi memang kesal. Kesal karena hubungannya yang renggang dengan Kino. Ditambah lagi kejadian itu dan Mina. Namun semalaman gadis itu memikirkan hal ini. Kenapa dirinya menjauh dari Kino? Kenapa dirinya memandang Chaeyoung seperti sosok monster yang terperangkap pada tubuh mungil anak SMA seperti Chaeyoung? Sempat teringat kembali kejadian saat Mina menampar Chaeyoung. Menampar monster cantik itu yang sebenarnya datang untuk menolongnya. Lalu setelah bangun dari tidurnya yang bahkan tidak nyenyak sama sekali, Yuqi bertekad untuk menghilangkan pikiran jeleknya tentang Chaeyoung selama ini. Yukyung benar, dirinya hanya belum mengenal Chaeyoung lebih dalam.
            “Maka dari itu aku di sini. Bertanggung jawab karena hal ini juga menyangkut tentang diriku.”
            Sunbae kau bahkan tidak salah apa-apa.”
            Kino memegang pundak gadis itu. “Tapi aku merasa bersalah, Yuqi.”
            Di mata pemuda itu terlihat sebuah rasa bersalah. Meski bukan dirinya yang mengirimi pesan pada Yuqi, tapi pesan tersebut mengatas namakan Kino.
Yuqi menghela napas. Biar bagaimanapun, Kino harus terbebas dari rasa bersalah itu. “Bagaimana kalau kau ceritakan saja tentang semuanya. Tentang kalian yang akhirnya menyadari kepergianku dan menemukanku di sana.”
            Tanpa harus berfikir dua kali, Kino langsung mengangguk tegas. Setelah memberikan ice chcolate yang ia bawa pada Yuqi, pemuda itu mulai bercerita.

***

            Dua hari kemudian, Chaeyoung melangkahkan kaki melintasi gerbang sekolahnya. Dan sudah selama itu pula ia belum bertemu dengan Yuto. Setelah pertemuan Yuto dengan ibunya tersebut, bibi Hana memang mendapatkan libur, dan pasti waktu libur tersebu tidak di sia-siakan oleh ibu dan anak tersebut. Membayangkan betapa serunya liburan mereka, tanpa sadar senyum Chaeyoung mengembang. Namun dalam perjalanannya menuju kelas, langkah kaki gadis itu perlahan memelan. Banyak pasang mata dengan terang-terangan menatapnya dengan sorot mengejek. Firasatnya kuat, pasti ada yang tidak beres.
            Sementara beberapa meter di depan sana, terlihat kerumunan siswa/siswi memenuhi depan madding  sekolah. Tidak lama kemudian, Hangyul terlihat menyeruak dari sana dengan wajah merah padam menahan marah.
            “Hangyul,” Chaeyoung bergumam pelan, nyaris tidak terdengar siapapun.
Namun seolah mendengar, Hangyul menoleh tepat ke arah Chaeyoung berdiri. Dengan langkah tergesa, Hangyul melesat menghampiri Chaeyoung. Di belakang Hangyul terlihat Yuto juga memunculkan diri dari kerumunan itu. Hanya saja Yuto berjalan ke arah yang berlawanan dengan Hangyul. Tampak juga Kino dan Wooseok menyusul Yuto.
            “Tidak peduli lagi, aku akan di sampingmu.”
            “Terjadi sesuatu?” Chaeyoung mendongak menatap Hangyul, menuntut penjelasan. “Apa itu?”
            Hangyul menghela napas, dan hanya diam sambil menarik tangan gadis itu untuk pergi dari sana bersamanya. Saat melewati depan madding, Chaeyoung sempat menoleh, berusaha melihat apa yang membuatnya kembali menjadi sorotan seperti sekarang. Namun kerumunan siswa di sana menghalangi. Chaeyoung hanya bisa pasrah di bawa pergi oleh Hangyul, entah ke mana. Kemungkinan ke arah belakang sekolah. Tapi setelah bertemu dengan Eunwoo, mereka berbelok menuju area parkir sekolah. Di sana sudah tampak Kino dan Wooseok yang berdiri di depan Yuto—mereka melihat dai belakang—menghadap sebuah mobil. Tidak terlihat ada dua orang lagi karena tertutup tubuh tiga pemuda itu.

***

            Yuto melangkah cepat menuju area parkir karena mengetahui Mina dan Junyoung belum datang. Entahlah, dua orang itu yang menjadi pertama kali Yuto pikirkan setelah content pada madding untuk minggu ini diterbitkan. Kino dan Wooseok masih sentantiasa membuntuti. Mereka benar-benar harus mengawasi Yuto, terlebih karena reaksi Yuto yang tentu saja menjadi yang sangat marah.
            Kino dan Wooseok mempercepat langkah karena mereka melihat mobil Junyoung baru selesai diparkirkan. Sedikit menghalangi Yuto agar tidak gegabah. Tidak lama dua orang tampak muncul, Junyoung dan Mina. Tangan Yuto masih terkepal saat Kino dan Wooseok berdiri menghalanginya. Tentu saja membuat Junyoung dan Mina memasang ekspresi bingung, terlebih Yuto sama sekali tidak mengalihkan pandangannya dari Mina.
            “Masih belum puas kau rupanya?” hardik Yuto.
            Junyoung bergegas melesat ke depan Mina. Menyembunyikan gadis itu dibelakangnya. “Kino atau Wooseok tolong jelaskan ini ada apa?” Junyoung bertanya namun tatapannya tertuju pada Yuto yang kini mengalihkan pandangan, tampak berusaha untuk menahan marah.
            Kino menghela napas sebelum menjelaskan apa yang telah menghebohkan sekolah pagi ini. “Ada yang menyebar foto Hangyul dan Chaeyoung.”
            “Foto apa?” tanya Mina, tidak sabar. Terlihat dari raut wajahnya, Mina memang seperti tidak tahu apa-apa.
            “Biar aku yang jelaskan.” Hangyul mempercepat langkah, masih tetap menarik Chaeyoung untuk ikut.
Tatapan Hangyul juga tidak lepas dari sosok Mina. Setelah cerita Junyoung kemarin, Hangyul sudah hampir luluh. Namun pagi ini, sama seperti Yuto, kebenciannya pada Mina kembali membuncah. Terlebih jika ia teringat Chaeyoung juga pernah mengalami hal serupa seperti yang dialami Yuqi beberapa hari lalu. Bahkan dampaknya terasa sampai detik ini—tentang Chaeyoung yang harus meninggalkan Muay Thai.
            “Gara-gara kau yang menyobek baju Chaeyoung, kau mendorongku hingga aku dan Chaeyoung terjatuh. Lalu kau menyuruh orang untuk memfoto kejadian itu. Iya, kan? Mengaku saja!”
            Lagi-lagi Cheyoung mendongak, menatap Hangyul dari samping yang tengah menumpahkan emosinya. Pemuda itu benar-benar marah. Baru kali ini Chaeyoung melihat Hangyul semarah itu. Gadis itu juga marah—marah karena melihat Hangyul emosi yang tentu saja pasti menyangkut tentang dirinya juga—namun ia masih berusaha mencerna apa yang sedang dikatakan Hangyul tentang sebuah foto. Foto Hangyul menindih tubuh mungil Chaeyoung tanpa sengaja. Chaeyoung ingat tentang semua kejadian itu, namun ia belum melihat seperti apa foto yang dimaksud.
            “Foto itu membuat semua orang salah paham. Mereka mengira aku dan Chaeyoung melakukan tindakan asusila. Apa kau bisa bertanggung jawab membereskan ini semua?” Suara keras Hangyul membuat mereka kini kembali menjadi pusat perhatian orang-orang di sekitar sana yang mungkin belum tau apa-apa tentang isi madding sekolah.
            Tindakan asusila. Dua kata yang membuat hati Chaeyoung mencelos. Belum lagi saat ia melihat ke arah Yuto yang sedang menjambak rambutnya sendiri, tampak sangat frustasi. Karena kasus ini jauh lebih sulit untuk dibereskan dari tragedi penculikan atau pengroyokan. Apalagi sudah masuk ke lingkungan sekolah. Mina berlari menerobos antara Hangyul dan Wooseok. Mereka bukan lengah, hanya ingin membiarkan gadis itu pergi.
            “Aku akan bertanggung jawab untuk hal ini. Karena bisa kupastikan selama beberapa hari lalu Mina dalam pengawasanku.” Junyoung hanya menepuk pundak Hangyul dan Wooseok yang terjangkau olehnya. Kemudian menyusul Mina pergi dari sana.
            Selepas kepergian dua orang itu, Chaeyoung dan yang lainnya masih di sana tanpa ada yang bicara, tanpa ada yang bergerak sedikitpun. Tanpa ia sadari, air mata Chaeyoung perlahan menetes. Yuto memeluk gadis itu dari belakang, mendekap pundak Chaeyoung. Sementara Hangyul masih belum melepaskan tangannya dari Chaeyoung dan semakin menggenggamnya erat.
            “Kenapa firasatku mengatakan Mina tidak tahu apa-apa,” gumam Wooseok yang sejak tadi memang hanya diam.
            Belum ada yang merespon. Lebih tepatnya mereka tidak tahu harus merespon seperti apa. Rentetan kejadian ini terlalu pelik. Mereka bahkan belum membereskan kasus penculikan Yuqi. Yuto melepaskan pelukannya lalu memutar tubuh Chaeyoung agar gadis itu berhadapan dengannya.
            “Kau pulangkah bersama Hangyul,” ujar Yuto.
            Chaeyoung masih menunduk sambil menggeleng dan Hangyul menoleh juga dengan ekspresi menolak. Alasannya karena mereka harus sekolah dan jika pergi, mereka hanya tidak tahu harus pergi ke mana. Yuto merogoh saku celananya dan mengeluarkan kunci mobilnya pada Hangyul.
            “Kau bisa pakai apartmentku. Nanti akan ku beri tahu kodenya,” kata Yuto pada Hangyul. Kemudian pemuda itu menoleh pada Chaeyoung. “Kau bisa ke tempat Oppa-mu, kan? Jangan pulang ke resto dulu. Nanti sore kita bertemu di apartmentku,” lanjut Yuto bicara pada Kino, Wooseok dan Eunwoo. Yuto kemudian merangkul Chaeyoung, membawa gadis itu pergi menuju mobilnya yang terparkir. Hangyul dan yang lain mengekori dari belakang.

***

            Pihak sekolah sudah memutuskan. Hangyul dan Chaeyoung terpaksa di skorsing selama 3 hari. Dan sudah selama itu Hangyul menetap di apartment Yuto karena mereka—Yuto, Kino dan yang lain—sepakat untuk tidak membertitahukan kepada orang tua angkat Hangyul. Beruntung pihak sekolah memang belum memanggil orang tua atau wali dari Chaeyoung dan Hangyul. Chaeyoung sendiri juga terkadang masih menenangkan diri di apartment kakaknya, Dongwoon. Dongju dan Dongmyung sebenarnya sudah mengetahui, namun mereka juga tidak bisa berbuat apa-apa.
            Hari ini, hari pertama Chaeyoung dan Hangyul sudah bisa kembali ke sekolah setelah masa skorsing berakhir. Yuto yang sudah mendengar berita itu dari Kino, menunggu mereka—Chaeyoung dan Hangyul—di gerbang sekolah. Selama itu pula Yuto memang tidak menemui Chaeyoung atas permintaan gadis itu yang masih ingin menenangkan diri, seorang diri. Dan malam tadi juga Yuto bermalam di rumah Junyoung.
            “Ikut aku,” kata Yuto dengan nada seperti memerintah pada Hangyul dan Chaeyoung. Yuto bahkan sampai menarik tangan Chaeyoung.
Mereka berjalan ke arah parkir mobil dan menuju ke salah satu mobil dengan mesin yang masih menyala. Ada seseorang yang duduk di balik kursi kemudi. Yuto membukakan pintu penumpang bagian belakang dan membiarkan Chaeyoung untuk masuk terlebih dulu, kemudian ia menyusul. Hangyul juga ikut masuk, duduk di kursi penumpang depan, di sebelah Junyoung yang sejak tadi memang menunggu di sana.
            Hangyul yang mendapati Junyoung sama sekali tidak menoleh saat ia masuk, dan kedua tangan pemuda itu mencengkeram erat pada stir mobil. Hangyul kemudian menoleh ke belakang, ke arah Yuto lebih tepatnya untuk memastikan sesuatu. “Apa ada kabar buruk?”
            Belum sempat Yuto menjawab, terdengar desahan berat dari Junyoung. “Mina sudah mengakui semua kesalahannya di depan pihak sekolah kemarin saat pengurus mengadakan rapat akhir tentang kasusmu dan Chaeyoung.”
            Hangyul dan Chaeyoung sontak melebarkan mata. Mereka kembali menatap Yuto untuk memastikan sesuatu, bahwa yang dikatakan Junyoung memang benar. Dan Yuto mengangguk membenarkan.
            “Mina mengakui tentang foto itu juga?” desak Hangyul lagi.
            Junyoung menoleh sambil menggeleng. “Dayoung.”
            “Sial!” pekik Hangyul yang bahkan sudah memukul dashboard mobil karena emosi. Lalu memutar badan dengan tegas untuk menghadap Chaeyoung yang duduk di kursi belakang. “Benar kan kecurigaanku selama ini? Dia bahkan terlibat cukup jauh.”
            Yuto sudah mengangkat tangan untuk menenangan Hangyul. Pemuda itu bukan marah pada Chaeyoung, tapi ia memang kesal pada Dayoung. Chaeyoung akhirnya mengangguk, mengalah.
            “Iya aku paham. Dan dia juga yang membuat namamu masuk ke jajaran itu,” ucap Chaeyoung.
            Hangyul kembali membalikkan badan ke posisi semula, kemudian menyandarkan punggungnya, frustasi. “Hyung,” panggilnya pada Junyoung. “Apa yang harus aku lakukan?” Hangyul juga kembali menolah ke belakang, kali ini tertuju pada Yuto.
            Yuto belum menjawab. Pemuda itu justru menoleh ke tempat Chaeyoung. “Apa kau ingin melaporkan Mina?”
            Chaeyoung menggeleng tegas. “Kogyeol Sunbae bisa ikut terlibat.”
            Junyoung menatap Chaeyoung melalui kaca spion dalam mobil. “Kau yakin?”
            Lagi, Chaeyoung mengangguk dengan tegas. Seakan ia memang sudah memikirkan hal ini matang-matang. “Aku juga sudah mendengar tentang Junyoung Sunbae dan Mina Sunbae. Dan aku sudah tidak perlu membalas dendam lagi.”
            Hangyul menatap Chaeyoung sambil mengerutkan dahi, curiga. Gadis itu menyembunyikan sesuatu. Gadis itu akhirnya tahu alasan kenapa Mina sangat ingin menghancurkannya.
            Yuto menangkap tangan Chaeyoung, tepat ketika gadis itu sudah membuka pintu mobil. “Kau mau ke mana?” tanya Yuto namun Chaeyoung tidak menjawab maupun menoleh. “Aku belum…” ucapan Yuto terpotong karena sebuah panggilan masuk di ponselnya, dari Takuya. Yuto menjawab panggilan itu namun tanpa sengaja ia menyentuh tombol load speaker.
            “Apa kau belum membaca pesanku? Cari Son Wanho dan istrinya, Kim Taeyeon!”
            Yuto membeku mendengar suara Takuya yang mengintimidasi. Semua orang yang berada di sana diam. Bahkan terdengar seperti menahan napas mereka. Kecuali Chaeyoung. Hanya gadis itu yang sebenarnya tidak terlalu terkejut. Sudah terlambat untuk Yuto mematikan mode load speaker. Chaeyoung memalingkan wajah dan menunduk dalam-dalam dan membatalkan niat untuk pergi dari sana. Tidak ingin ada yang mengetahui jika gadis itu sudah menitihkan air mata.
            “Awal mula kehancuran keluarga kita adalah mereka berdua. Kim Taeyeon itu sumber sakit hati yang dialami ayahnya Mina.”
            “Sakit hati bagaimana maksudmu?” Yuto akhirnya mengeluarkan suara. Ia harus mendapatkan kepingan puzzle ini untuk membereskan semuanya.
            “Karena Kim Taeyeon menerima perjodohan dengan Son Wanho, duda satu anak. Son Dongwoon. Laki-laki itu sakit hati, dia melampiaskan semuanya pada Sooyoung, ibunya Mina. Sooyoung hamil, lalu mereka menikah, namun pernihakan mereka juga hancur.”
            Tidak ada satupun dari mereka yang bersuara. Jeda sesaat sebelum Takuya melanjutkan kalimatnya.
            “Kau bilang kau sudah bertemu ibu, kan? Apa kau sudah bertanya bagaimana ibu bisa pergi? Memang karena kehadiran ibunya Mina. Tapi jika Taeyeon tidak membuat ayahnya Mina sakit hati, keluarga kita tidak akan seperti ini. Jika kau sudah bertemu dengan anaknya, kau hancurkan mereka. Aku tidak peduli apapun caramu.”
            Klik. Takuya mematikan sambungan secara sepihak. Tidak menunggu Yuto berkomentar sama sekali. Memang seperti pendapat dari Yuto tidak diperlukan. Takuya langsung memutuskan sambungan jika ia merasa apa yang ia ingin sampaikan sudah selesai.
            Yuto melepaskan genggaman tangan Chaeyoung, ke luar dengan tergesa-gesa dan menutup pintu mobil dengan kasar. Di saat Hangyul dan Junyoung mengalihkan perhatian pada Yuto, diam-diam Chaeyoung juga pergi dari sana. Hangyul dan Junyoung menyusul ke luar dari mobil. Mereka melihat Yuto sudah cukup jauh, menuju mobilnya. Dan benar saja, pemuda itu langsung masuk dan melesat pergi dengan mobilnya. Menekan klakson dengan tidak sabar agar orang-orang yang menghalanginya menyingkir. Hangyul dan Junyoung sudah tidak bisa mengejar karena pintu keluar parkir mobil berlawanan arah dengan keberadaan mereka yang hanya bisa menatap nanar kepergian Yuto. Keduanya bahkan melihat Yuto melempar sesuatu dari dalam jendelanya. Yuto melempar ponselnya ke luar. Membiarkan benda itu terlindas ban mobil pengendara lain.

***

            Dua hari sudah Yuto menghilang. Pemuda itu tidak ada di apartmentnya. Bibi Hana pun tidak tahu di mana keberadaan putranya tersebut. Belum lagi ponsel Yuto yang hancur membuat keberadaan pemuda itu semakin sulit dilacak.
            Di kelasnya, Chaeyoung tampak membereskan bukunya setelah guru Kang menyelesaikan pelajarannya. Hangyul langsung melesat ke luar kelas dan berlari menuju toilet. Chaeyoung juga terlihat mengangguk untuk menanggapi ajakan Hwiyoung dan Taeeun untuk ke kantin. Sementara di depan kelas, tampak Yuqi dan Yukyung sudah menunggunya untuk ke kantin bersama. Yuqi sudah mengalahkan egonya dan menerima Chaeyoung kembali sebagai temannya.
            Mereka duduk di meja yang kosong—di area balkon kantin—setelah membawa pesanan mereka masing-masing. Tepat setelah itu Hangyul bergabung dan belum membawa makanan. Hangyul duduk di antara Yukyung dan Taeeun yang dibalas tatapan aneh oleh teman-temannya. Seharusnya memang Hangyul tidak berada di sana, tapi berada diantar Kino, Wooseok dan senior mereka dari kelas 3.
            Hangyul tampak tidak memedulikan tatapan teman-temannya. Pemuda itu mencondongkan tubuhnya ke tengah meja. “Ku dengar Dayoung dikeluarkan dari sekolah,” ujarnya dengan suara pelan, namun sama sekali tidak mengurangi esensi keterkejutan untuk teman-temannya.
            “Tapi aku juga sudah memperkirakan hal ini. Meski bagaimanapun, Mina Sunbae pasti akan menghabisi merek yang menjatuhkannya. Karena hampir seluruh dari kita pasti menuduh Mina Sunbae yang menyebarkan foto tersebut.” Yukyung terdengar bersuara meski tangannya sibuk mengaduk gelas jus dihadapannya.
            Hangyul dan yang lain mengangguk atas ungkapan pendapat Yukyung. Mereka menyetujui gadis itu. Di saat yang lain sudah mulai sibuk dengan makan siang mereka, Hangyul hanya saling menautkan kedua tangannya dia atas meja dan menatap Chaeyoung yang saat itu sedang menikmati ice lemon tea-nya.
            “Kau sudah menerima kabar tentang Yuto Hyung?” pertanyaan Hangyul membuat orang-orang yang berada satu meja dengannya benar-benar menghentikan kegiatan mereka. Hwiyoung bahkan membatalkan niat untuk menyuapkan makanan ke dalam mulutnya.
            Chaeyoung mengangkat bahu sambil menghela napas, cukup panjang. Ia kemudian membalas tatapan Hangyul sambil menggeleng. “Dia bahkan belum mengurus nomor ponselnya untuk diaktifkan kembali.”
            Hangyul mengangguk. Jika Yuto kembali, teman-temannya seperti Kino atau Junyoung pasti sudah mengabarinya. “Aku yakin dia baik-baik saja.”

***

Di suatu tempat, terdengar suara mesin-mesin besar bekerja. Mesin tersebut menghasilkan berlembar-lembar undangan. Di ruangan tersebut juga banyak orang-orang yang berlalu Lalang, sibuk dengan pekerjaan mereka masing-masing. Di ruangan besar beratap tinggi itu terhubung dengan jendela yang berada di lantai 2. Dan di balik jendela itu ada seseorang tengah berdiri sambil memperhatikan sebuah undangan—yang baru saja selesai di cetak di perusahannya. Undangan ulang tahun pernikahan atas nama Keigo Nishimoto dan Choi Sooyoung.
            “Ternyata ini kenapa Takuya onie-chan membangun perusahaan percetakan dan jasa travel.” Pemuda itu meremas benda persegi di tangannya, lalu melemparnya ke sudut ruangan.
            Yuto di sana. Dia juga yang berada di lantai 2—di ruangan yang difungsikan sebagai kantor—dan meremas undangan ulang tahun pernikahan ayahnya sendiri. Selama 2 hari menghilang ia berada di sana untuk menenangkan diri. Belum lagi kemarin ia juga menemukan data milik perusahan travel milik Takuya yang di Jepang, yaitu data tentang keberangkatannya ke Korea. Dan dari sana, Yuto juga bisa melihat siapa saja pengguna jasa penerbangan dari Korea. Yuto mengusap wajahnya dengan kasar lalu menghempaskan tubuhnya ke atas sofa.
            “Gila,” desisnya sambil memejamkan mata.

***

Chaeyoung’s Resto.
            Sore itu Dongju seperti biasa Dongju sibuk dengan laptopnya—di dekat meja kasir—melakukan pendataan terhadap pemasukan dan pengeluaran restoran mereka. Dan hanya berjarak sekitar satu meter dari Dongju, terlihat juga Dongmyung yang sibuk dengan buku-buku pelajarannya. Mereka akan menghadapi ujian kelulusan sebentar lagi. Tidak ada waktu lagi untuk bermain-main bagi mereka.
            “Dongju,” panggil Dongmyung.
            “Hmm?” Dongju hanya menggumam tanpa menoleh sedikitpun.
            “Jus stroberi dengan susu coklat atau susu putih?” tanya Dongmyung yang sama sekali tidak tersinggung karena Dongju tetap fokus pada layar laptopnya.
            “Susu putih.”
            Dongmyung terlihat berfikir sambil mengetuk-ngetukkan ujung pulpennya ke dagu. “Pancake dengan toping coklat atau madu atau caramel?”
            Kali ini Dongju menghentikan kegiatannya sesaat. Memikirkan pertanyaan Dongmyung yang bisa saja terdengar mengganggunya. Tapi karena Dongmyung yang melakukannya, Dongju tidak bisa marah. Karena bisa saja Dongmyung akan melakukan sesuatu, seperti membuat menu baru di restorannya.
            “Coklat, dan ada irisan stroberi di atasnya,” kata Dongmyung akhirnya.
            Dongmyung tersenyum penuh arti tanpa sepengetahuan Dongju. Lalu pemuda itu mengeluarkan ponsel dan memainkan jari di atas layarnya.
            Merasa penasaran, Dongju menoleh sambil berusaha mencuri lihat apa yang membuat Dongmyung sibuk dengan ponselnya. Kembarannya tersebut ternyata membuka sebuah aplikasi pemesanan makanan. “Kalau ada es krimnya juga lebih bagus lagi.”
            “Oke,” sahut Dongmyung singkat.
            Dongju hanya tersenyum lalu kembali menoleh ke tempat laptopnya berada. Pemuda itu mendongak karena ada seseorang yang datang. Orang itu adalah Yuto. Yuto hanya melambaikan tangannya singkat saat melihat Dongmyung yang lebih dulu mengangkat tangan untuknya sebagai sapaan.
            Hyung, kau ke mana saja?”
            Noona mu di sini?” Tanya Yuto tanpa membalas lebih dulu pertanyaan Dongju sebelumnya. “Dia baik-baik saja, kan?”
            Noona baik, Hyung. Dia sedang pulang sebentar. Memangnya ada apa?”
            “Aku kehilangan ponselku,” ujar Yuto sambil mengeluarkan selembar kertas. “Tolong sampaikan pada Chaeyoung, aku menunggunya di tempat itu tepat jam 4 sore. Ku harap dia tidak sibuk.”
            Dongju mengangguk-angguk sambil menerima alamat yang dimaksudkan Yuto. “Noona tidak terlalu sibuk di tanggal segini, Hyung.”
            Yuto terkekeh pelan. “Terima kasih Dongju. Aku akan menunggunya di depan pintu masuk.” Yuto menepuk pelan pundak Dongju sebelum pergi meninggalkan tempat itu. Ia juga sempat melambaikan kembali tangannya untuk Dongmyung.

***

Yuto berdiri dari duduknya saat melihat sosok mungil Chaeyoung di kejauhan. Tidak salah lagi. Itu sosok gadis yang ia rindukan beberapa hari ini. Dan tepatnya pagi tadi, ia menerima laporan dari agentravel-nya yang di Jepang, terdapat pemesanan tiket atas nama Terada Takuya dan beberapa orang lagi yang Yuto ketaui memang rekan kerja Takuya. Kedatangan Takuya pasti untuk mencarinya. Maka pemuda itu langsung memunculkan diri di restoran Chaeyoung untuk mencari gadis itu sebelum—kemungkinan terburuknya—Takuya menyeretnya kembali ke Jepang. Sementara di seberang sana Chaeyoung terlihat mempercepat langkah setelah melihat pemuda tinggi yang berdiri menunggunya adalah memang benar Yuto.
            Sunbae kau…” Chaeyoung sempat menghentikan kalimatnya karena pemuda tinggi di hadapannya justru menarik Chaeyoung ke dalam pelukannya. “Ke mana saja? Kau tidak pulang ke tempat bibi Hana dan apartmentmu?” tanya Chaeyoung melanjutkan kalimatnya.
            Yuto tidak langsung menjawab, dan lebih memilih untuk mendekap Chaeyoung lebih erat. “Maaf, aku sedang sedikit menenangkan diri. Setelah dari sini aku akan langsung menemui ibu,” Yuto berujar sambil melepaskan pelukannya namun tangan pemuda itu tetap memegangi lengan Chaeyoung.
            Chaeyoung mendongak dengan tatapan yang sulit di artikan. Membiarkan Yuto tetap memegangi tangannya. Ada rindu, ada kecewa. Tapi dengan melihat Yuto baik-baik saja dengan mata kepalanya sendiri sudah jauh lebih dari cukup.
            “Ayo temani aku.” Yuto menggerakan kepalanya ke arah pintu masuk. Mereka sebenarnya berada di depan sebuah pusat perbelanjaan sekarang.
Tanpa menunggu persetujuan Chaeyoung, pemuda itu sudah menyambar tangan Chaeyoung, menautkan jari-jarinya sambil mengajak Chaeyoung masuk ke dalam. Chaeyoung hanya menatap sosok tinggi di depannya tanpa melakukan penolakan sedikitpun. Yuto sesekali menoleh ke belakang untuk memastikan gadis itu masih di sana sambil tersenyum. Ditatap seperti itu, perlahan senyum Chaeyoung juga mengembang.
            Setelah itu keduanya tampak ke luar dari toko ponsel untuk membeli benda yang kemarin dengan sengaja Yuto hilangkan. Sesaat Chaeyoung masih berjalan sedikit di belakang Yuto, namun kali ini Yuto menariknya agar berdiri sejajar. Tentu saja Yuto masih menggenggam tangan Chaeyoung seperti tadi meski pemuda itu tidak bisa menutupi rasa canggungnya. Seperti pemuda yang baru pertama kali berkencan, atau lebih tepatnya ia sudah sedikit lupa bagaimana caranya berkencan.
            Namun nyatanya mereka sudah melewati beberapa jam keberasamaan mereka dengan makan, berbelanja beberapa barang dan pergi bermain games. Yuto bahkan sudah berniat mengajak Chaeyoung menonton film, namun dengan tegas gadis itu menolaknya.
            Chaeyoung menangkap salah satu tangan Yuto sebelum pemuda itu benar-benar berbalik. “Sunbae, kita masih punya esok kalau hanya untuk menonton film. Kau mau menonton sampai berapa judul?”
            Yuto berbalik perlahan sambil menghela napas, membalas genggaman Chaeyoung, lebih erat. Menunduk sesaat, menghindari tatapan gadis didepannya yang seakan menunggu jawaban. Masalahnya, tidak mungkin ia menceritakan tentang kecurigaannya terhadap kakaknya sendiri, Takuya. Meski kemungkinannya kecil namun firasatnya mengatakan, Chaeyoung dalam bahaya. Terlebih setelah memastikan sendiri kebencian Takuya terhadap keluarga Chaeyoung. Yuto akhirnya mengangguk, mengalah, mesti terlihat berat untuk melakukan itu.
            “Apa besok kita harus mengajak Kino-Yuqi dan Wooseok-Yukyung juga?” Goda Yuto saat melihat Chaeyoung terlihat lega dengan keputusannya.
            Chaeyoung mengangguk tegas. “Ide bagus, Sunbae.”
            Yuto tersenyum—tersenyum hanya untuk menenangkan dirinya—sambil mengusap kepala Chaeyoung. “Ayo pulang.”
            Keduanya meninggalkan pusat perbelanjaan tersebut dengan Yuto yang selalu menggenggamkan tangannya pada Chaeyoung. Selama perjalanan menuju parkiran, diam-diam Yuto mengawasi sekeliling—terutama ketika bertemu atau melihat laki-laki berperawakan tinggi. Menurut jadwal keberangkatan Takuya ke Korea, bisa dipastikan pemuda itu memang sudah menginjakkan kaki di Korea.
            Yuto sedikit mengajak Chaeyoung berbincang ringan guna mengalihkan pikiran gadis itu. Sampai akhirnya mereka tiba, Yuto yang membukakan pintu untuk Chaeyoung dan memastikan gadis itu sudah aman. Yuto menutup pintu lalu mengitari mobil—masih dengan tatapan waspada ke sekelilingnya.
Mobil Yuto sudah meninggalkan barisan dan berbelok menuju pintu ke luar. Namun selang beberapa meter, Yuto terpaksa menginjak pedal rem dalam-dalam. Beberapa orang berseragam hitam tampak memunculkan diri dari sela-sela barisan mobil. Yuto menekan klakson dengan marah. Kegelisahannya beberapa saat lalu terbukti. Takuya di sana. Tubuh tinggi pemuda itu akhirnya terlihat di kejauhan. Yuto memilih untuk turun, mencoba menghadapi Takuya. Sudah pernah sekali—sejak Yuto dengan sengaja membuang ponselnya—Yuto menghindari Takuya dan justru membawa Takuya kini berdiri di hadapannya.
            “Hai adik kecilku,” ujar Takuya penuh senyum dengan menggunakan Bahasa Korea. Yuto masih diam. “Kenapa menghilang? Kau ingin menikmati sendirian kebersamaanmu dengan ibu?” Pemuda itu berkacak pinggang dengan waut wajah kesal. Lebih tepatnya seperti iri terhadap Yuto.
            Yuto hanya menatap datar. Berusaha tidak terpancing dengan ekspresi wajah Takuya. Belum lagi Takuya muncul dengan pakaian rapih—stelan jas. Membuat kakak sulungnya itu terlihat seperti boss mafia yang ada di film-film. Pantas saja sejak menginjakkan kaki di baseman, suasana sangat sepi bahkan  seperti tidak ada kehidupan. Hanya deretan mobil-mobil yang teronggok di sana. Takuya ikut andil untuk mensterilkan tempat itu. Dan baru detik ini Yuto menyadari, Takuya tidak sekedar seorang kakak baginya, tapi Takuya adalah orang yang memiliki kekuasan. Kekuasaan yang seperti apa, Yuto bahkan tidak bisa membayangkannya meski sudah terbukti jelas, Takuya selalu memberikan informasi yang tidak main-main padanya selama mencari bibi Hana—ibu mereka.
            Hyung, apa maumu?” tanya Yuto dengan tatapan redup. Menyesal karena sempat ‘kabur’. Namun ia juga seperti tidak memiliki daya untuk melawan Takuya. Yuto hanya bisa diam saat melihat salah satu anak buah Takuya membawa Chaeyoung ke luar dari dalam mobil.
            Takuya hanya memberi isyarat dengan tatapan mata dan sedikir Gerakan kepala, empat sampai lima orang langsung bergerak ke arah Yuto. Mengamankan pemuda itu agar tidak mengacaukan keinginan Takuya yang kali ini meminta anak buahnya membawa Chaeyoung untuk lebih mendekat. Yuto sudah melakukan pemberontakan namun percuma saja karena tubuhnya sudah terkunci oleh para anak buah Takuya.
            Takuya menatap Chaeyoung dari atas hingga ke bawah. “Kau cantik juga.” Takuya berjalan pelan mengitari Chaeyoung. Lalu tiba-tiba, Takuya melayangkan pukulan pada tengkuk Chaeyoung hingga membuat gadis itu tersungkur.
            Yuto yang melihat itu berteriak marah. Dengan kekuatannya, pemuda itu berhasil melarikan diri dari cengkraman anak buah Takuya dan berusaha menyerang kakaknya sendiri. Takuya hanya berdiri, menunggu kedatangan Yuto bersama pukulannya yang menyerang tepat di rahang Takuya. Pemuda itu hanya terlihat mundur beberapa langkah akibat pukulan Yuto
            “Kau boleh saja membunuhku asal jangan kau menyentuh gadis itu!” teriak Yuto tepat di depan Takuya yang hanya terkekeh menanggapinya.
            Ancaman Yuto hanya lelucon bagi Takuya. Namun tidak diprediksi oleh Takuya adalah Chaeyoung yang masih bisa bangkit. Pukulan Takuya bukan hal baru bagi gadis itu. Chaeyoung sudah berdiri, tepat saat ia melihat salah seorang anak buah Takuya ingin menyerang Yuto. Chaeyoung sudah lebih dulu memberikan tendangan pada pria itu. Dan, perkelahian tidak bisa dihindari lagi. Yuto mencengkeram kerah pakaian Takuya dan membawa tubuh pemuda itu sampai ke badan mobilnya.
            “Apa kau tidak ingin bertemu ibu? Chaeyoung bisa kita urus nanti. Sekarang aku bertemu ibu. Ku mohoh, Hyung.”
            Tindakan Yuto bukan suatu ancaman lagi bagi Takuya yang kini tengah menatap ke dalam mata Yuto. Mata adiknya yang ia jadikan seperti ‘boneka’ itu terlihat memerah, menahan amarah. Namun tidak ada niatan sedikitpun untuk Yuto menghajar Takuya lagi. Hanya Yuto yang tau cara untuk menjatuhkan Takuya, yaitu bukan dengan kekerasan. Tapi mengalah. Mengalah yang bukan hanya untuk kepentingan dirinya sendiri, tapi untuk melindungi Chaeyoung juga.
            “Hentikan.”
            Lagi, Takuya menunjukkan kekuasannya. Ia menyuruh anak buahnya berhenti hanya dengan satu kata yang bahkan tidak perlu diteriakkan dengan suara lantang. Takuya menyingkirkan tangan Yuto dari pakaiannya, lalu berbalik ke arah lain.
Yuto langsung berlari ke arah Chaeyoung  yang sedang berusaha untuk berdiri. Ada luka di bagian tepi bibir Chaeyoung. Ditariknya gadis itu ke dalam pelukannya. Rahang Yuto terkatup rapat. Dia tidak bisa bicara apa-apa lagi pada Chaeyoung selain membawa gadis itu untuk berdiri dan ia membimbing Chaeyoung untuk masuk ke dalam kursi kemudi mobilnya. Yuto berbalik, berjalan ke arah yang dilalui Takuya. Masuk ke dalam mobil dan duduk di samping Takuya yang memang menunggunya.

***


Tidak ada komentar:

Posting Komentar