Senin, 16 Desember 2019

FC LOVE (chapter 15)





Author              : Annisa Pamungkas (@nniissaa11)
Main Cast          :
·        B2ST/Beast Lee Gikwang
·        Infinite Lee Howon (Hoya)
·        SNSD Im Yoona
Support cast     :
·        Other member B2ST/Beast, Infinite and SNSD
·        Yong Hwa CN Blue
·        Siwan Ze:a
·        Jonghyun, Minho and other member Shinee
·        Member Super Junior, A-Pink, F(X)
Genre                : romance, family, friendship
Length              : chapter

***

        Howon dan Gikwang masih berada di meja makan. Saling diam dan sibuk dengan pikiran masing-masing. Gikwang dengan segala ketidakpercayaannya terhadap keadaan tersebut. Sementara Howon teringat semua ucapan Siwon saat di rumah sakit.

Flashback…
        “Kamu nggak pengen tau ayah kandung kamu?”
        Howon menatap Siwon dengan tatapan yang sulit di artikan. “Aku punya orang tua sebaik ayah. Dan nggak sedetikpun aku ingat kalau aku masih punya ayah kandung yang lain.”
        Siwon menatap Howon nanar. Hatinya mencelos mendengar betapa besar rasa sayang Howon padanya. Bahkan mungkin bisa lebih besar dari Minho, anak kandungnya sendiri. Tapi biar bagaimanapun, Howon tetap harus mengetahui semuanya, meski Ga In sebenarnya tak ingin Howon tau.
        “Aku dan ibumu dulunya sepasang kekasih. Tapi kita di jodohkan dengan orang lain oleh orang tua kita masing-masing. Dan sebelum Ga In tau dia hamil dirimu, Ga In sudah lebih dulu bercerai dengan mantan suaminya itu. Lalu setahun kemudian kami kembali bertemu. Tak lama setelah ibu Minho meninggal. Kami segera memutuskan untuk menikah setelah itu,” jelas Siwon tentang perjalanan hidupnya dan Ga In.
        Bibir Howon terasa kelu. Ia tak tau harus berbuat apa selain bertanyaa, “ayah mengenal ayah kandungku?”
        Siwon mengangguk samar. “Aku dan Sungmin berteman dekat sejak SMA.”
        “Jadi nama ayahku Sungmin?” seru Howon memastikan.
“Iya. Lee Sungmin.”
“Ayah tau dia tinggal di mana?” Entah perasaan dari mana Howon justru penasaran dengan ayah kandungnya itu.
        Kali ini Siwon menggeleng. “Tapi kamu juga perlu tau. Nama ‘Hoya’ adalah pemberian Sungmin yang tadinya ingin diberikan pada anak pertama Sungmin dan Ga In. Tapi Ga In nggak setuju. Aku memutuskan memberikan nama itu untuk nama panggilanmu agar kamu nggak ngelupain ayah kandung kamu.”
        “Aku juga punya kakak? Cewek apa cowok, yah?” Tanya Howon lagi, bersemangat.
        “Cowok. Dan kalo nggak salah namanya Lee Gi…” kalimat Siwon terputus karena pintu kamar rawatnya terbuka. Minho dan Sulli muncul dari baliknya. Setelah itu, obrolan Howon dan Siwon tentang Sungmin harus terhenti.
Flashback end…

        “Udah ngerasa lebih baik?” Gikwang membuka suara. Memecah keheningan yang sejak tadi terjadi.
        Howon mendongak menatap Gikwang. Namun belum ada sepatah katapun yang meluncur dari bibirnya. “Bokap lo bernama Lee Sungmin?” Howon balik bertanya tanpa menjawab pertanyaan Gikwang sebelumnya.
        Gikwang menatap Howon, heran. “Lo udah tahu tentang itu?”
        Howon yang juga sudah tidak bisa menahan rasa penasarannya, memilih untuk menceritakan semua pembicaraannya dengan Siwon saat pria itu masih dirawah di rumah sakit. Cepat atau lambat, semua pasti akan terbongkar. Dan Howon lebih memilih untuk mencoba mencari tahu semuanya mulai sekarang. Bekerja sama dengan Gikwang, mungkin. Meski rasa tidak sukanya pada Gikwang juga masih mendominasi.
        Sesaat mereka kembali saling diam. Sampai akhirnya pintu rumah keluarga Howon terbuka. Memunculkan Sulli di sana Bersama Eunji. Sulli terlihat pucat dengan Eunji membantu memapahnya. Mereka berjalan melintasi ruang makan hingga membuat dua pemuda di sana menoleh. Melihat Sulli yang pucat, Howon langsung berdiri, Gikwang menyusul kemudian. Howon mengambil alih Sulli dan menggendong adiknya untuk di bawa ke kamar.
        Eunji dan Gikwang saling melempar tatapan. Namun tidak ada yang mereka lakukan lagi kecuali Eunji yang menyusul Howon. Gikwang sendiri lebih memilih berbalik, kembali menuju ruang makan untuk mengambil ranselnya. Pemuda itu pun meninggalkan rumah keluarga Howon. Eunji berdiri diambang pintu kamar Sulli. Bertepatan dengan Howon yang berniat meninggalkan kamar adiknya itu. Mereka saling berpapasan namun tidak ada yang Howon ucapkan. Pemuda itu hanya melewati Eunji. Eunji langsung nyelonong masuk ke kamar Sulli untuk melihat keadaan gadis itu.
        Howon menghentikan langkah dan berbalik, memastikan Eunji sudah tidak ada di sana. Benar saja gadis itu sudah masuk ke dalam kamar adiknya. Howon kembali mendekat ke kamar Sulli. Namun hanya sampai ambang pintu. Howon menyembunyikan tubuh dibalik tembok, ia mengintip apa yang Eunji lakukan di sana.

***

        Hari ke-2 Gikwang tidak masuk sekolah. Belum lagi memang tidak ada yang mengetahui kabar kenapa cowok itu sampai absen bersekolah. Karena status Gikwang sebagai murid pindahanlah yang membuat cowok itu belum terlalu memiliki banyak teman di sekolah itu. Lalu saat jam istirahat pertama, Yoona mencoba mengirimi Gikwang sebuah pesan singkat untuk menanyai keberadaan cowok itu.
        Sementara di salah satu unit ‘Phoenix’ apartemen, Gikwang sedang meringkuk dibalik selimut tebalnya. Tepat saat Yong Hwa baru saja mengunjunginya beberapa menit lalu hanya untuk memastikan Gikwang meminum obatnya tepat waktu. Sudah sejak kemarin malam Gikwang demam. Saat mendengar ponselnya berbunyi, Gikwang menjulurkan tangan dari balik selimut untuk mengambil ponselnya di meja kecil. Sebuah pesan dari Yoona.

      Kwang, lo di mana? Kenapa nggak ada kabar dari kemaren?
      ~Yoona~

        Melihat isi pesan yang dikirimi Yoona, sontak Gikwang berusaha bangkit. Cewek itu memberikannya sedikit suntikan semangat. Dengan cepat tangan Gikwang mengetikkan sesuatu sebagai balasan pesan Yoona. Namun ternyata Gikwang mendapati informasi jika pesan tersebut gagal terkirim. Hingga beberapa kali mencoba, hal yang sama tetap terjadi.
        “Akh, sial! Pulsa gue habis!” seru Gikwang. Membanting ponselnya dengan murka ke atas kasur. Gikwang yang sudah kesal hanya bisa melempar pandangan ke seluruh sudut kamarnya. Memikirkan apa yang bisa ia lakukan sekarang dengan kondisinya yang seperti ini.
        Di salah satu sudut kamarnya, Gikwang menemukan laptopnya tergeletak dengan posisi layar terbuka. Gikwang menyeret kakinya mendekat ke meja belajar. Ia menyalakan laptopnya, dan mencoba menyambungkan ke jaringan wifi. Namun selalu gagal.
        “Astaga, apa Papa udah segitu miskinnya sekarang sampe nggak sanggup bayar tagihan wifi? Padahal gue udah nggak pernah main game online lagi sekarang.” Gikwang hanya tertunduk lesu.
        “Bang Gikwang!”
        Gikwang sedikit terlonjak saat mendengar teriakan seseorang di luar kamarnya. “Myungsoo?” serunya seakan mendapat pencerahan. Buru-buru Gikwang melangkah ke luar kamar. Benar saja, itu Myungsoo yang tampak sedang meletakkan sebuah bungkusan di atas meja ruang tamu.
        “Bang, kayaknya bel rumah lu rusak deh. Untung gue tau kodenya. Maaf ya gue nyelonong masuk. Oh iya, ini makanan buat lu.”
        Gikwang menghempaskan badan ke samping Myungsoo yang sudah lebi dulu duduk di sofa. “Nggak-papa, Myung. Oh, makasih ya.”
        “Hmm lu sakit dari kapan? Cewek lu nggak nengokin?” goda Myungsoo sambil mengawasi Gikwang yang tampak mulai membuka bungkusan tadi dengan tatapan jahilnya.
        “Dari dua hari lalu. Tapi ini udah mendingan sih.” Gikwang terlihat masih asik dengan makanan yang kini dihadapannya. “Gimana mau ngasih tau dia, pulsa gue keburu habis.”
        Mendengar udapan Gikwang, membuat Myungsoo menoleh cepat dan semakin menatap penuh minat terhadap Gikwang yang belum menyadari reaksi Myungsoo. Gikwang masih sibuk dengan makanannya. Myungsoo sudah menangkap arah ucapan Gikwang tadi. Kemudian pemuda itu tersenyum jahil.
        “Kalo udah sembuh, pajak jadiannya traktir gue pizza ya.”
        Sontak Gikwang tersedak makannya sendiri mendengar pernyataan Myungsoo. Gikwang langsung menyambar air minumnya untuk meredakan sedakan. Tepat ketika ponselnya berdentang karena sebuah pesan masuk.

Sunggyu : “Lo jadian sama siapa? Nggak mungkin Taeyeon.”
     
        Giwang melebarkan matanya melihat sebuah pesan masuk dari Sunggyu. Myungwoo tertawa melihat reaksi Gikwang. Siapa lagi pelakunya jika bukan Myungsoo yang membocorkan pada Sunggyu tentang berita itu. Gikwang menoleh sambil menyambar kerah baju Myungsoo menggunakan satu tangan. Myungsoo masih saja tertawa.
        “Eh, serius deh, bang. Jadian sama siapa? Taeyeon?”
        Dengan perlahan Gikwang melepaskan tangannya dari kerah Myungsoo sambil kembali duduk seperti semula. Menimbang apakah ia ceritakan saja pada Myungsoo meski bisa dipastikan rahasia ini hanya aman dalam hitungan jam ditangan adik sahabatnya itu.
        “Lo bilang Taeyeon juga udah jadian kan sama cowok lain?” tanya Myungsoo yang kemudian menyambar minumannya. “Berarti nggak mungkin sama Taeyeon.”
        Gikwang mengangguk membenarkan. “Tapi sebenernya…” Ucapan Gikwang terputus karena interupsi suara bel. Saat menoleh, ia sudah mendapati Myungwoo berdiri dan berjalan ke arah pintu. Dari balik pintu memunculkan sosok Sunggyu dan Yonghwa. Yonghwa bahkan terlihat seperti baru bangun tidur.
        Yonghwa menghempaskan badan ke samping Gikwang sambil memeluk bantalan sofa. Gikwang hanya memperhatikan yang dilakukan temannya itu. Sementara Sunggyu duduk di sofa seberangnya Bersama Myungsoo. Lalu kali ini tatapan Gikwang jatuh pada Myungsoo sendiri. Pemuda yang sejak tadi bersamanya.
        “Lo yang menyuruh mereka datang?” Tuduh Gikwang pada Myungsoo.
        Myungsoo menggeleng tegas. “Gue Cuma kasih tau Bang Sunggyu, tapi nggak nyuruh dateng kok.”
        “Jonghyun, mana?” tanya Gikwang.
        “Nggak bisa, dia lagi ada acara.” Sunggyu duduk di ujung sofa sambil mencondongkan tubuhnya ke arah Gikwang. “Lo punya cewek di sekolah baru? Serius? Siapa? Cepet banget move on.”
        Kali ini Gikwang benar-benar melepaskan sendoknya ke atas piring. Membiarkan makanannya menunggu dimakan nanti. Yonghwa juga sudah menegakkan badan di samping Gikwang. Tadi Yonghwa memang diajak paksa oleh Sunggyu untuk ke rumah Gikwang.
        “Jadi, gue cerita dari mana ya. Intinya sih udah lama gue agak ngerasa hopeless ke Taeyeon. Kayak susah dijangkau aja. Atau gue yang nggak tau sebenernya selama ini dia udah punya cowok. Atau mungkin perasaan gue ke dia Cuma sebatas kagum aja. Iya nggak, sih?” Gikwang menatap satu-persatu teman-temannya.
        “Ya gue sih nggak paham kalo kondisi kaya gitu disebutnya apa. Yang penting lo-nya nggak ribet.”
        Gikwang menoleh ke samping, ke tempat Yonghwa duduk. “Kok gue nggak paham ya?” ujarnya sambil menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal.
        “Tau ah.” Yonghwa kembali menenggelamkan punggungnya ke sandaran kursi, masih sambil memeluk bantal. Seperti tidak peduli dengan apa yang sedah teman-temannya bahas.
        “Kalo gue sih,” ujar Sunggyu kemudian. Kembali mengalihkan tatapan Gikwang padanya. “Nggak peduli dilbilang kecepetan move on atau gimana. Karena kan posisinya nggak sampe pacarana sama Taeyeon, kan? Kalo ternyata nemu yang lebih baik, kenapa nggak.”
        “Tapi masalahnya, doi juga baru putus. Dia bilangnya sih mereka emang udah nggak cocok dan mesti udahin hubungan mereka.”
        “Nah, yaudah sih. Lanjutin aja.”
        “Gitu, ya?”

***

        “Yoon.”
        “Hmm?” Yoona hanya menyahut dengan dengan dehaman. Gadis itu sedang sibuk mengikat tali sepatu saat Doojoon mengajaknya bicara.
        “Pulang yok.”
        Yoona sontak menoleh sambil menghentikan kegiatannya. “Pulang ke mana? Ini kan rumah kita.”
        “Balik ke Surabaya.”
        Yoona menatap Doojoon, namun pemuda itu seperti mengalihkan pandangannya. “Kalo lu mau balik ke sana, yaudah lu aja. Gue tetep di sini.”
        Mereka diam sesaat sampai akhirnya Doojoon menatap kembali adiknya. “Jakarta bisa jadi rumah kita buat pulang, Yoon?”
        “Lo apaan sih, bang?” Yoona sontak berdiri.
        Doojoon menahan tangan Yoona karena gadis itu bersiap pergi. “Kasarnya nih ya, gue kan emang udah nggak punya orang tua kandung, tapi seenggaknya gue punya elu sama ayah ibu juga. Tapi cepat atau lambat, tempat gue bakal jatuh ke tangan Siwan. Jadi, setelah gue nggak punya siapa-siapa lagi, gue boleh pulang ke rumah ini kan, Yoon?”
        Yoona menghela napas dan kembali duduk ke atas sofa. Abangnya yang biasa menyebalkan ini sedang berada dalam kondisi ‘nggak punya apa-apa dan nggak punya siapa-siapa’. Walaupun bukan saudara kandung, mereka masih sepupuan. Seenggaknya bukan dua orang asing yang berbeda asal.
        “Bang,” panggil Yoona.
        Doojoon menoleh.
        “Hidup pisah-pisah kayak gini bikin gue juga mencari ‘rumah’ gue sendiri. Sebenarnya sama aja kalo gue balik ke Surabaya toh gue bakal tetep kayak hidup sendiri. Dan gue memang nggak mau ‘pulang’ ke sana, kecuali mungkin untuk sekedar berkunjung sih oke. Tapi ya gue bakal tetep pulang ke Jakarta. Numpang ke rumah lo sih tetep aja.”
        Doojoon menatap berkeliling ruangan yang tengah ia tempati sekarang ini. Setelah kejadian itu, kejadian terungkap dirinya bukan anak kandung Seulong dan Victoria, fakta tentang rumah yang tinggali beberapa tahun belakangan ini pun juga terungkap. Rumah yang memiliki dua lantai tersebut ternyata peninggalan orang tua kandungnya.
        “Lo bakal tetep di sini kan, beneran? Seenggaknya kalo gue mau pulang, gue tau gue masih punya adek kayak lo.”
        Yoona mengernyitkan keningnya. “Apa, sih? Lo mau ke mana? Udah ngaku aja.”
        “Balik ke Surabaya, Yoon.”
        “Oh, yaudah. Santai aja lah gue di sini sendirian. Toh seenggaknya sekarang udah ada bang Siwan. Udah ya, gue main dulu.”
        Lagi, Doojoon menahan langkah Yoona dengan menangkap tangan gadis itu. Yoona menghela napas. Baru ia akan membuka mulut, Doojoon sudah lebih dulu berbicaara. “Siwan bantuin ayah di Surabaya.” Doojoon mendongak perlahan dan mendapati Yoona terbelalak. “Karena kecelakaan itu, kemungkinan Siwan nggak bisa main bola lagi.”
        Dengan perlahan namun tegas, Yoona melepaskan tangan Doojoon yang masih menahannya. “Oke.” Hanya itu yang diucapkan Yoona sebelum akhirnya benar-benar pergi dari rumah sebelum Doojoon kembali menahannya.

***

        Yoona menuntun sepedanya sejak ia keluar dari gerbang perumahannya. Gadis itu bergerak menuju taman. Melewati anak-anak seumura Yoogeun dan Leo yang asik bermain sepakbola. Tidak mempedulikan keseruan mereka. Yoona bahkan sampai tidak menyadari jika ada Howon di sana. Menjadi salah satu bagian dari anak-anak itu.
        Howon berpamitan pada Yoogeun dan yang lain untuk meninggalkan lapangan. Menyusul Yoona yang masih mendorong sepedanya hingga sampai pada sebuah danau. Di dekat sana ada sebuah bangku taman yang kosong. Yoona meninggalkan sepedanya pada jalan setapak kemudian berjalan seorang diri menuju kursi taman, lalu duduk di sana. Howon yang memang sejak tadi mengikuti Yoona juga ikut duduk di kursi itu, namun sedikit berjauhan dengan Yoona.
        “Yoon, gue mau minta maaf.”
        Yoona tersentak, menoleh dengan tatapan terkejut mendapati Howon di sana. “Sejak kapan lo…” Yoona menggantungkan ucapannya.
        Howon menghela napas, sudah mengantisipasi jika Yoona akan terkejut dengan kehadirannya. “Gue terlalu egois kayanya ke Eunji.” Pemuda itu kemudian tertawa. Lebih tepatnya menertawai diri sendiri. “Bego banget gue ya udah nyia-nyiain cewek sebaik Eunji.” Kembali terlintas kejadian beberapa hari lalu saat Eunji mengantarkan Sulli pulang entah dari mana, dan perilaku Eunji pada Sulli yang sangat perhatian. “Cemburu nggak jelas.” Lanjut Howon yang masih menertawai dirinya sendiri.
        “Sebenernya gue nggak tau masalah lo sama Eunji apa, kenapa lo cemburu, dan apa yang lo cemburuin. Baiknya sih lo ngomong langsung aja. Jangan sampe lo nyesel.”
        Howon tertunduk, menatap ujung sepatunya. “Tadi gue minta ketemu sama Eunji, tapi Eunjinya nggak mau. Apa dia udah segitu kecewanya kali ya sama gue.”
        “Nggak. Kasih dia waktu. Dia bahkan tetep mau bantu gue nganter baju lo waktu itu, padahal hubungan kalian nggak dalam kondisi bagus. Jangan nyerah, lo ajakin aja terus buat ketemu walau Eunji masih nggak mau. Biar seenggaknya dia liat kesungguhan elo.”
        Yoona berdiri perlahan. Tatapannya lurus ke depan. Ke arah jalan setapak yang ia lalui tadi. Ada seseorang berdiri di sana. Namun orang tersebut sudah berbalik badan setelah melihat Yoona Bersama Howon.
        “Nanti kita sambung lagi ya, gue ada urusan penting.”
        Saat Howon menoleh, Yoona sudah melangkah pergi dari sana. Gadis itu menyambar sepedanya untuk ia bawa pergi dari sana dan mengejar gadis tadi. Eunji.

***

        Gikwang menghentikan kegiatannya lari sore karena ponselnya berketar. Pemuda itu langsung memeriksanya. Sebuah pesan masuk dari Yonghwa. Saat sedang mengetikkan balasan untuk temannya itu, tanpa ia sadari ada seseorang yang menabraknya hingga membuat ponsel Gikwang terlepas dari genggamannya dan terlempar ke aspal jalanan. Sialnya, bertepatan dengan sebuah motor yang melaju. Ponsel Gikwang tidak selamat dari ban motor tersebut.
        “Maaf, maaf.” Gadis itu merapatkan kedua telapak tangannya sambil meminta maaf karena merasa bersalah.
        Gikwang masih diam menatap ponselnya yang hancur.
        “Gikwang?”
        Saat mendengar ada yang memanggil, Gikwangpun menoleh. Ia mendapati Yoona di sana—bersama sepeda tercintanya. “Yoon?” Gikwnag menoleh lagi ke arah berbeda. Ternyata gadis yang menabraknya adalah Eunji.
        “Bang, gue…”     
        “Eh, udah sih nggak apa-apa, hape mah masih bisa beli lagi.” Gikwang memotong ucapan Eunji, tentu gadis itu masih merasa bersalah. “Yang penting lo nggak apa-apa, kan?”
        Eunji hanya mengangguk menjawab pertanyaan Gikwang. Melihat Gikwang begitu perhatian dengan Eunji, membuat Yoona berusaha mengalihkan pandangannya ke arah lain sambil memainkan sepedanya—mendorong maju dan mundur dengan pelan.
Menyadari suasanya yang canggung, Gikwang berujar, “gimana kalau kita ngobrol sebentar sambil makan es krim?” tanyanya diiringi dengan senyuman sambil menunjuk ke arah belakangnya, tempat sebuah kedai es krim berada. Gikwang melangkah lebih dulu untuk menyeberang, namun tetap sesekali menoleh ke belakang untuk memastikan keberadaan dua gadis tadi masih mengikutinya.
        Saat tiba di sana, Gikwang langsung menuju konter untuk memesan. Dua gadis tadi berinisiatif untuk mencari meja kosong. Membiarkan Gikwang memilihkan pesanan untuk mereka. Tidak terlalu lama sampai Gikwang ikut bergabung.
        “Dia Cuma ngaku kok dia cemburu nggak jelas.” Yoona menoleh dan menghentikan sementara obrolannya dengan Eunji.
        Gikwang meletakkan baki yang berisi tiga gelas es krim di tengah meja. “Kalian pilih gih mau yang mana, gue sisanya,” kata Gikwang lalu menghentikan pandangan pada Yoona. “Yoon, gue boleh pinjem hape lo? Mau ngabarin Yonghwa, tapi melalui Myungsoo aja. Lo punya nomor Myungsoo kan pasti?”
Yoona mengangguk sambil merogok saku jinsnya dan menyerahkan ponsel pada Gikwang yang langsung diterima pemuda itu. Setelah Yoona dan Eunji mengambil gelas pilihan mereka, Gikwang juga mengambil miliknya namun pemuda itu tidak bergabung duduk di sana.
        “Gue duduk di sana dulu, ya.” Gikwang menunjuk salah satu meja kosong tidak jauh dari tempat mereka berada. “Takutnya obrolan kalian penting, nanti kalau udah selesai panggil gue lagi aja.”
        “Eh, jangan.” Suara Eunji membuat Gikwang membatalkan niat untuk balik badan. “Gue udah selesai kok.”
        Yoona menatap Eunji dengan ekspresi penuh tanya. Eunji hanya mengangguk meyakinkan Yoona. Sementara Gikwang masih berdiri menunggu keputusan berikutnya dari dua gadis itu.
        “Gue paham maksud lo. Maaf ya kalau gue juga sempet cemburu sama kalian. Nanti gue juga bakal hubungin Hoya setelah ini,” jelas Eunji yang kemudian menoleh ke tempat Gikwang yang baru saja duduk. “Bang, nanti hape lo gue ganti ya?”
        “Eh, jangan sih.” Gikwang berujar buru-buru. “Gue ada hape cadangan kok. Udahlah, jangan terlalu ambil pusing.”
        “Yaudah kalau gitu, nanti es krimnya gue yang bayar ya.”
        Gikwang tersenyum kikuk sambil mengaruk keningnya dengan jari. “Yaudah kalau yang itu nggak apa-apa deh.”

***

        “Gue duluan ya. Daaah.” Eunji melambaikan tangan sebelum menyeberangi jalan. Meninggalkan Yoona Bersama Gikwang yang masih berdiri di depan café es krim tadi.
        Gikwang berbalik. Dan saat Yoona juga ikut berbalik, gadis itu melihat Gikwang mengeluarkan sepeda Yoona dari tempat parkir. Gikwang bahkan sampai menaiki sepeda itu.
        “Mau jalan dulu sama gue, nggak?”
        “Ke mana?” Yoona balik bertanya. Pertanda ia menyetujui ajakan Gikwang.
        Gikwang berpikir sejenak. “Lapangan tempat gue liat lo pertama kali?”
        Kali ini Yoona tidak langsung merespon ucapan Gikwang. Lapangan itu juga tempat Yoona pertama kali bertemu Gikwang. Dan hal itu mengingatkan Yoona tentang sebuah fakta bahwa Gikwang adalah seorang pemain sepakbola.
        “Gue nggak bakal main kok, Yoon.”
Yoona menatap Gikwang, heran. Ternyata Gikwang masih ingat tentang ketidaknyamannya dengan ‘sepakbola’, meski tidak setiap saat Yoona membenci hal itu. Hanya saja posisinya hanya berselang hitungan jam dari saat Yoona berdebat kecil dengan Doojoon. Karena alasan Doojoon kembali ke Surabaya adalah tentang untuk sepakbola.
“Cuma ada yang pengen gue obrolin sama elu,” lanjut Gikwang karena Yoona belum juga meresponnya lagi.
        “Yaudah ayo, Kwang. Gue juga nggak ada acara abis ini,” ujar Yoona akhirnya sambil mendekat ke tempat Gikwang. Bersiap duduk di besi depan sepedanya.
        Gikwang tersenyum sambil membiarkan Yoona duduk di depannya. “Tapi lo ikut ke rumah gue dulu aja ya. Gue mau mandi sebentar. Soalnya kan hape gue rusak, ribet nggak bisa ngehubungin kalo lo mesti pulang dulu.”
        Mereka akhirnya menuju apartment Gikwang dengan sepeda milik Yoona.

***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar