Kamis, 09 Januari 2014

PERFECT LOVE (chapter 1)


Author              : Annisa Pamungkas (@nniissaa11)
Main Cast          : B.A.P (Yongguk, Himchan, Daehyun, Youngjae,
  Jongup, Zelo [Junhong])
Support cast     : A-Pink (Chorong, Bomi, Naeun, Eun Ji, Namjoo,
                          Hayoung), G.Na (Soloist), B2ST (Doojoon,
  Hyunseung), BtoB
Genre               : romance, family, brothership
Length              : chapter

***

        “Mas Himchan… Yuhuuu… Ini Bomi…”
        Cewek itu menggedor pintu sebuah rumah yang tidak terlalu besar, namun sangat nyaman. Rumah keluarga G.Na, seorang perawat yang memiliki 4 anak laki-laki. Bomi sering main ke sana karena ia berteman dengan anak laki-laki itu. Juga karena rumahnya tepat berseberangan di depan sana.
        “Apaan sih pagi-pagi berisik di rumah orang?”
        Bomi sampai mundur selangkah mendengar suara keras cowok yang baru saja membukakan pintu. Namun cewek itu justru tersenyum melihat sosok tampan di depannya itu. Himchan.
        “Mau nebeng Daehyun ke kampus,” kata Bomi yang sama sekali nggak terpengaruh dengan tatapan horror yang ditunjukkan Himchan. “Akh, pak guru juga mau berangkat, ya?” Cewek itu justru menggoda si guru muda nan tampan yang masih setia memasang tampang galaknya.
        “Apaan sih!” Himchan tampak risih dengan perlakuan Bomi. Percuma bersikap jahat sama cewek itu, yang ada Bomi semakin senang menggodanya. “Ya terus? Kalo mau ketemu Daehyun ngapain juga harus manggil nama gue?”
        “Ya kali gapapa. Lumayan, masih pagi udah liat yang bening-bening.”
        Himchan hanya bisa menahan kesalnya. Tepat ketika seorang cowok muncul di belakang Himchan. “Ini dia,” ujar Himchan ketika melihat adiknya di sana. Daehyun. “Urusin tuh pacar lo!” Himchan yang masih kesal setengah mati, langsung saja melesat ke dalam.
        “Ikh, enak aja! Pacar gue kan si Naeun!” balas Daehyun tak terima.
        “Payah tuh kakak lu. Masa lupa mulu kalo gue bukan pacar lo,” timpal Bomi mendukung ucapan Daehyun.
        “Yaa… lo tau kelakuan abang gue yang satu itu. Udah, akh. Ayo jalan,” ajak Daehyun yang sudah lebih dulu berjalan menuju garasi tempat motor kesayangannya berada.

***

        “Udah hampir 4 tahun, dan lo masih setia sama si calon dokter itu?”
        Suara berat itu membuat seorang cewek tiba-tiba menghentikan langkah. Bukan hanya cewek berambut panjang yang dimaksud itu saja yang terkejut, tapi seorang cewek juga yang berpenampilan sedikit tomboy dengan rambut diikat satu yang kini berdiri di balik sebuah pilar tak jauh dari sana. Eun Ji.
        “Naeun, lo masih inget gue, kan?”
        Cewek dengan rambut panjang tergerai itu membalikkan badan. Di hadapannya kini muncul seorang cowok tampan dengan balutan barang-barang mahal.
        “Youngjae?” desis cewek berkuncir satu yang mencuri dengar omongan cowok tadi. “Mau ngapain lagi dia?”
        “Kita kan temenan dari SMA. Ya nggak mungkinlah gue lupa begitu aja sama lo,” kata Naeun berusaha terlihat santai.
        Cowok bernama Youngjae tadi tersenyum pahit. “Jadi selama ini lo Cuma anggep gue temen aja?” Youngjae perlahan melangkah dan mengunci sosok Naeun dalam tatapan matanya.
        “Yaa… mau gimana? Gue kan udah…” Ucapan Naeun terputus seiring tubuh belakangnya yang sudah tersudut ke tembok.
        “Apa nggak bisa sedikit aja lo buka hati lo buat gue?” Youngjae mendekatkan wajahnya yang kini hanya berjarak beberapa senti saja dari depan wajah Naeun. “Ngasih kesempatan yang sama seperti Daehyun?”
        “Naeun…!”
        Mendengar teriakan seseorang, keduanya menoleh. Cewek berkuncir satu tadi tampak berlari kecil dan seperti dengan sengaja menubruk tubuh Youngjae agar menyingkir dari hadapan Naeun. Beruntung cowok itu nggak sampai terjatuh.
        “Naeun lo punya pembalut, kan?”
        “Lo apa-apaan, sih?” protes Youngjae.
        Cewek itu seperti tak mendengar suara Youngjae. Ia justru menarik tangan Naeun dan buru-buru pergi dari sana. Namun Youngjae nggak semudah itu melepaskan mereka.
        “Lo mau bawa Naeun ke mana?” Tanya Youngjae yang sudah menahan tangan Naeun.
        Cewek itu menyambar file yang di bawa Naeun untuk menutupi bagian belakang jinsnya. “Emang tadi nggak denger gue bilang apa?” seru Eun Ji galak seakan menutupi kegugupan.
        Melihat apa yang dilakukan Eun Ji, Naeun ikut panic. “Eun Ji, lo…” Ia tak sanggup melanjutkan kalimat.
        Sementara Youngjae seperti tak bisa membaca suasana. “Tapi gue lagi ada perlu sama Naeun.” Cowok itu sudah ingin membawa Naeun pergi bersamanya. Tapi lagi-lagi Eun Ji menghalangi, bahkan melepaskan dengan paksa pegangan tangan cowok itu pada Naeun.
        “Lo mau, liat darah netes ke lantai?”
        “Udah ayo, Ji!” Naeun mendorong tubuh Eun Ji untuk menyingkir dari hadapan Youngjae.
        “Eh! Gue belom selesai!” teriak Youngjae, namun tak di gubris oleh ke dua cewek itu yang sudah melesat jauh.
        Naeun membawa Eun Ji ke toilet. Tapi Eun Ji menahannya sebelum Naeun benar-benar menyeretnya ke dalam. “Loh? Kenapa nggak jadi?” Tanya Naeun polos.
        Eun Ji menoleh dengan tatapan gemas. “Gue Cuma pura-pura… Na… Eun…”
        “Hah?” Naeun masih memasang tampang polosnya. Dan dengan polosnya juga ia memaksa Eun Ji berbalik untuk memeriksa sendiri. “Jadi… tadi lo nyelametin gue dari Youngjae?”
        Eun Ji memutar bola matanya, kesal. “Dari tadi ke mana aja?”
        “Huwaaah… Eun Ji makasih!” Naeun dengan hebohnya memeluk Eun Ji penuh semangat. “Lo emang sahabat gue yang pa… ling… baik.”
        “Mau donk di peluk juga…”
        Naeun dan Eun Ji menoleh bersamaan. “Daehyun!”

***

        Sebuah amplop coklat mendarat di atas meja milik Zelo. Cowok berkulith putih itu langsung menyingkirkan buku yang tengah ia baca lalu menjulurkan tangan untuk meraih amplop tersebut. Nggak butuh menoleh, ia juga tau kalau benda itu berasal dari Jongup. Setelah menghitung sejumlah uang yang berada di dalam amplop tadi, Zelo menoleh ke tempat Jongup duduk bersama Sungjae.
        “Kalo lo selalu ngasih segini, berarti sisa 3 kali lagi baru utang lo gue anggep lunas,” ujar Zelo meski Jongup seperti mengabaikannya. Tapi tentu saja suara Zelo tetap terdengar sampai tempat Jongup yang hanya berjarak satu meja di kanan Zelo.
        “Berarti gue masih harus kerja part time selama 3 bulan lagi?” Jongup sendiri hanya berdecak kesal mendengarnya sambil melempar dengan asal buku yang baru aja ia keluarin dari dalam tas. Di sampingnya, Sungjae menyentuh pundak Jongup sebagai tanda simpatiknya. “Lagian, kenapa harga kameranya bisa semahal itu, sih?”

Flashback… *2 bulan lalu*
        Klik… klik… klik…
        Seorang cowok putih, tinggi, tampak asik dengan kameranya. Ia memoto taman-taman kecil yang indah di sekitar area sekolahnya. Sampai tanpa sadar, akhirnya Zelo berjalan sampai lapangan yang dipenuhi siswa bermain sepakbola. Turut di dalamnya adalah Jongup. Zelo sempat mengambil beberapa gambar siswa yang bermain sepakbola tersebut.
        “Akh!” terdengar Zelo meringis karena ada yang menabrak tubuhnya.
        “Eh! Maaf… Maaf…” Kata Jongup sedikit merasa bersalah. “Tapi kalo mau foto-foto, mending jangan di deket sini deh.” Dan dengan cueknya, Jongup meninggalkan Zelo.
        Zelo sendiri seperti tak mendengar peringatan Jongup. Ia masih asik memfoto sampai akhirnya terjadi hal yang tidak diinginkan terjadi. BRAAKKK… Kamera Zelo yang memang tidak tergantung di leher pemiliknya, terjun bebas ke aspal hingga pecah di beberapa bagian. Teruama bagian lensanya yang terlepas.
        Semua yang menyaksikan kejadian itu sampai menahan napas. Termasuk Jongup. Karena bola yang ditendangnya, ternyata melenceng hingga mengenai kamera di tangan Zelo. Namun karena merasa sudah memperingatkan Zelo, Jongup dengan beraninya mendekati cowok itu.
        “Tadi kan gue udah bilang buat nyingkir,” kata Jongup langsung. Kali ini sama sekali nggak merasa bersalah.
        Beberapa saat, Zelo masih membeku menatap kameranya yang sudah hancur. Perlahan namun pasti, cowok tinggi itu menatap Jongup tajam. Seakan tatapannya itu bisa membunuh Jongup saat itu juga. “Kalo bukan karena tugas sekolah, gue nggak akan deket-deket apalagi nginjek lapangan kesayangan lo itu,” ujarnya dingin dan penuh dengan penekanan.
        “Terus?” lanjut Jongup seperti menantang.
        Zelo berdecak kesal. “Ganti kamera gue. Apapun caranya!”
        Seperti apa yang Zelo bilang tadi. Itu semua karena tugas dari sekolah yang mengirimnya untuk ikut lomba fotografi yang bertemakan tentang lingkungan sekolah.
        Kamerapun hancur. Dan itu artinya, Zelo tidak bisa mengikuti lomba. Tapi tetap saja Zelo menuntut Jongup untuk mengganti kamera miliknya. Setelah perundingan alot bersama dengan wali kelas mereka masing-masing—Zelo bersama Himchan—akhirnya Jongup setuju menggantinya namun tidak bisa ia lunasi saat itu juga.
        Sebenarnya bisa saja Himchan membantu kesulitan adiknya itu, tapi Jongup lebih memilih egonya sendiri. Ia menolak bantuan kakaknya dengan bekerja part time di café milik kakaknya Sungjae.
        Karena kesibukan bekerja, waktu belajar Jonguppun berkurang. Belum lagi beberapa kali Jongup bolos sekolah bahkan sampai di skors. Dan akhirnya ia gagal mengikuti ujian kelulusan. Jongup harus mengulang di kelas 3. Malahan kini ia sekelas dengan Zelo.
Flashback end…

        “Namanya juga kerja part time, gajinya ya nggak seberapa,” hibur Sungjae. “Kecuali…”
        Jongup menoleh cepat karena merasa Sungjae seperti akan memberikan sedikit pencerahan untuknya. “Lo ada lowongan kerja lain buat gue?” tanyanya penuh harap.
        “Tapi gue nggak yakin, Jong.”
        “Kasih tau dulu aja, deh.” Jongup setengah memaksa.
        Ragu-ragu Sungjae mendekatkan wajahnya ke telinga Jongup dan membisikkan sesuatu. Mendengar itu, Jongup menoleh cepat. Ia meneguk ludahnya. Sementara Sungjae langsung menyibukkan diri dengan buku-bukunya.

***

        Jam 4 sore waktu setempat. Keramaian terjadi di lapangan parkir sebuah Bank swasta. Terutama parkiran motor yang didominasi oleh seluruh karyawan Bank yang akan pulang. Satu diantaranya adalah Yongguk. Anak tertua di keluarga ibu G.Na.
        “Yongguk!”
        Cowok itu membatalkan niat memakai helm ketika mendengar seseorang memanggilnya. Saat menoleh, Yongguk melihat seorang cewek berseragam khas wanita kantoran berlari kecil ke arahnya.
        “Kalo aku nggak ke sini, kita sama sekali nggak bisa ketemu. Dan ini udah seminggu. Inget, kan?” cecar cewek itu yang juga kekasih Yongguk. Chorong.
        “Ya udah. Kamu mau ngomong apa?” Tanya Yongguk sedikit malas. “Aku masih harus ke kantor lagi, nih.”
        Chorong memutar bola matanya, kesal. “Kamu udah dapet posisi enak di bank. Nggak usahlah kerja lagi di kantor penerbitan itu. Waktu untuk kita berdua kan jadi berkurang. Kalo gitu kamu lamar aku aja. Kita nikah.”
        Yongguk memutar tubuhnya hingga menghadap Chorong. Ia menatap mata kekasihnya itu tajam. “Harus berapa kali aku bilang sama kamu? Aku udah nggak punya ayah. Dan 2 adikku masih sekolah. Jongup bahkan harus mengulang kelas. Kalau kita nikah, apa kamu mau biayain kuliah Jongup nanti?”
        Cukup lama Yongguk menunggu jawaban Chorong atas tantangannya. Namun nggak ada yang dikatakan Chorong. Yongguk akhirnya memilih memakai kembali helmnya.
        “Tapi kan masih ada Himchan yang masih bisa bantu kamu.”
“Kalau ada pemuda lain yang bersedia menikahimu dalam waktu dekat, kabari aku.” Yongguk berujar dingin lalu meninggalkan Chorong begitu saja di sana. Nggak peduli bahwa cewek itu adalah kekasihnya.

***

        Malam itu, Himchan yang sibuk memeriksa tugas murid-muridnya di ruang tamu, melihat sosok ibunya muncul dari dalam kamar dan menuju dapur. Segera saja Himchan menyusul. Di sana G.Na hanya mengambil segelas air putih dan langsung berniat kembali ke kamarnya. Namun Himchan sudah lebih dulu menghalangi langkah ibunya.
        “Kayaknya aku masuk angin nih, bu. Obat apa kira-kira yang cocok?” Tanya Himchan sambil memegangi tengkuknya dan sedikit berpura-pura seperti hal itu benar-benar terjadi padanya.
        G.Na menatap datar putra keduanya itu. “Daehyun kan calon dokter. Kenapa nggak Tanya aja sama dia,” kata G.Na dingin dan segera saja meninggalkan Himchan di sana yang hanya bisa menghela napas pasrah dengan tindakan ibunya.
        Terdengar suara pintu kamar G.Na ditutup. Himchan masih berdiri mematung di sana. Tak lama, kembali terdengar suara pintu utama di buka. Itu pasti salah satu dari adiknya. Karena ketika Himchan berbalik, Jongup memunculkan diri dan masih mengenakan seragam sekolahnya.
        “Mas Yongguk belum pulang, kan?” Tanya Jongup sambil mengedarkan tatapan ke sekitar. Takut-takut kakak tertuanya sudah berada di sana mengawasi. Hanya Himchan dan Daehyun yang tahu bahwa ia kerja part time di tempat kakaknya Sungjae.
        Himchan kembali menghembuskan napas lebih keras. “Cepat mandi. Terus makan. Paling bentar lagi Daehyun pulang.” Hanya itu yang dikatakan Himchan sebelum kembali melanjutkan tugas-tugasnya sebagai seorang guru SMA.
        Benar saja, karena tak lama Daehyun muncul. Tepat ketika Himchan sudah kembali duduk di depan meja yang penuh dengan tumpukan kertas-kertas ujian muridnya.
        Tatapan Daehyun jatuh pada Jongup. Ia sekaligus meminta jawaban tentang apa yang kemungkinan terjadi pada Himchan. Namun Jongup hanya menggeleng. “Mas Himchan sakit?” tebaknya.
        Himchan sempat tertegun sesaat sebelum akhirnya kembali melanjutkan pekerjaannya. “Gapapa, kok. Udah sana masuk.” Himchan berkata bahkan tidak sambil menatap apalagi menoleh pada Daehyun. Saat berkata dirinya sakit, sang ibu justru melimpahkan pada Daehyun. Tapi adiknya itu justru mengatakan hal yang layaknya di katakan oleh G.Na. Padahal G.Na termasuk orang kesehatan karena pekerjaannya sebagai perawat. Meski tak mengerti banyak soal kesehatanpun, biasanya para ibu mengerti dengan apa yang sedang dialami anaknya.
        “Yuhuuu… Mas Himchan!”
        Himchan mendongak cepat dan mendapati pintu di hadapannya sudah menjeblak terbuka hingga memperlihatkan sosok cewek cantik di sana. Bomi. Lengkap dengan gelas mug di tangannya.
        “Bomi bawain wedang jahe buat pak guru tampan,” seru Bomi semangat. Ia tetap memasang senyuman meski Himchan justru menatapnya horror.
        Sementara Jongup dan Daehyun justru saling tatap dan tak bisa menahan tawa mereka tiap kali sang guru playboy macam Himchan lagi di goda sama Bomi. Fansnya nomor satu. Mereka justru dengan jahilnya sengaja meninggalkan Himchan di sana.

***

        “Yeay! Goool! Jongup!” jerit seorang cewek yang sedang menonton Jongup bermain sepakbola dari lantai 2 gedung sekolah.
        Zelo yang berdiri tepat di samping cewek itu, tampak risih karena cewek itu berjingkrakan nggak jelas. Mereka sedang ada penilaian salah satu pelajaran dari Himchan, yaitu seni music.
        “Jongup keren banget main bolanya. Lo liat kan Zelo?” cewek itu meminta dukungan dari cowok di sampingnya.
        “Nggak! Biasa aja,” jawab Zelo malas. Ia sama sekali tak berminat mendukung ucapan Hayoung barang sedikitpun.
        Saat itu, Zelo dan Hayoung sedang menunggu giliran masuk ke dalam ruang music untuk penilaian. Sementara Jongup sudah mendapat giliran di awal. Makanya pemuda itu bisa langsung bermain sambil menunggu jam pelajaran selesai karena ia sudah melakukan ujiannya tadi.
        “Zelo! Giliran lo,” kata Sungjae yang baru saja ke luar dari ruang ujiannya.
        “Loh? Kok Zelo duluan?” protes Hayoung. Namun Zelo sudah lebih dulu melangkah. “Kan harusnya gue duluan!” lanjutnya. Sementara Sungjae hanya mengangkat bahu. Tak ingin ambil pusing karena itu perintah langsung dari Himchan.
        Setelah beberapa menit, akhirnya giliran Hayoung. Ia menatap Zelo sedikit kesal.
        “Jangan salahain gue, donk!” protes Zelo dan sekedar membela diri. Karena memang bukan salahnya juga. Tapi Hayoung tetap cuek meninggalkannya ke dalam.
        “Kok saya jadi terakhir sih, Pak?” cewek itu masih nggak terima. Ia bahkan melakukan protes langsung kepada Himchan selaku guru yang berwenang di mata pelajaran tersebut.
        “Udah jangan banyak protes,” kata Himchan. Suasa hatinya masih sedikit buruk gara-gara kejadian semalam. Niatnya ingin bisa mendekatkan diri dengan G.Na, ia justru mendapatkan hal sebaliknya. Belum lagi kedatangan Bomi yang selalu tak diharapkannya. “Main gitar sambil nyanyi,” perintah Himchan seenaknya. Sementara matanya melirik pada sebuah gitar yang tersandar di tembok. Nampaknya ia memang sengaja memasukkan Hayoung di urutan terakhir karena ia tau kemampuan salah satu anak didiknya itu.
        Meski masih setengah kesal dan tak terima dengan keputusan sepihak gurunya itu, Hayoung tetap melakukan apa yang diperintahkan Himchan padanya. Bermain gitar sambil bernyanyi sudah bukan hal baru pada diri cewek itu.
        “Khusus untuk hari ini, kamu nyanyi 2 lagu,” putus Himchan lagi. Dan masih secara sepihak. Nggak meminta ijin lebih dulu pada Hayoung.
        “Tapi pak…”
        “Atau nilai kamu di bawah rata-rata,” sela Himchan mengancam.
        Meski Himchan tergolong guru yang banyak di sukai murid, tapi tatapan matanya yang tajam tetap aja bisa ngebuat Hayoung merinding seperti ini dan akhirnya menuruti tanpa protes.

***

        “Cuma setiap Jum’at sama Sabtu aja kok, mas.”
        Himchan dan Daehyun saling tatap menunggu jawaban Yongguk atas permintaan Jongup untuk menginap di rumah Sungjae setiap akhir pekan karena kesibukan orang tua Jongup di luar kota.
        “Memangnya Sungjae nggak punya kakak atau adik?” Tanya Yongguk datar. Tanpa menoleh dan tetap sibuk dengan sarapannya.
        “Kakaknya juga sibuk kerja,” jawab Jongup. Berusaha menutupi kegugupannya. Himchan dan Daehyun ikut tegang menunggu keputusan Yongguk.
        “Kalo gitu, suruh aja Sungjae yang menginap di sini.”
        Jongup membulatkan mata mendengar respon Yongguk. Tentu saja ia kecewa. “Ya nggak mungkinlah, mas. Aku nggak enak sama Sungjae kalo nanti dia ketemu ibu,” serunya dan sengaja terdengar sedikit tinggi agar ibunya mendengar.
        Jongup menyandarkan punggung tanpa ingin merespon protes keras dari Himchan dan Daehyun karena ia bicara seperti tadi. Jongup hanya menghabiskan sisa susunya dari dalam gelas, setelah itu bangkit untuk segera pergi ke sekolah. “Aku berangkat dulu,” pamit Jongup sekedarnya sambil menyambar ransel dan jaketnya.
        Daehyun hanya bisa menghela napas berat melihat kondisi keluarganya sekarang ini. Jongup semakin menjadi pemberontak meski sebenarnya masih cukup bisa diatasi.
        “Udahlah, mas. Ijinin aja. Aku tau Sungjae kok kayak gimana,” kata Himchan lembut untuk mempengaruhi kakaknya.
        “Jika terjadi sesuatu pada Jongup, kalian yang harus bertanggung jawab,” ujar Yongguk akhirnya. “Ingat, dia sempet nggak lulus kemarin.” Terkesan ingin melepas tanggung jawab atas Jongup. Meski sebenarnya itu hanya cara dia yang secara tidak langung mengijinkan Jongup untuk menginap ke tempat Sungjae.

***

        Suasana bising di sebuah kelab malam. Tampak Jongup yang baru muncul. Ia berjalan sedikit di belakang seorang cowok yang memang mengantarnya ke sana. Eunkwang. Jongup menunggu ketika Eunkwang menepuk pundak seorang cowok yang tengah duduk menikmati minumannya di meja bar.
        “Hei… Eunkwang?” serunya dengan suara yang teredam alunan music keras di kelab itu.
        “Gue bawa anak yang mau kerja di sini nanti,” jelas Eunkwang sambil menunjukkan Jongup di hadapan cowok itu. Ia kemudian menatap Jongup yang tampak lebih gugup dari pada saat pertama kali bekerja di cafénya. “Dia Minhyuk, pemilik kelab ini,” jelasnya.
        Jongup hanya mengangguk. Sementara Minhyuk menatap Jongup dari atas ke bawah. Ia lalu melirik Eunkwang seakan meminta penjelasan. “Temennya Sungjae? Berarti masih SMA, donk?”
        “Iya, dan kayaknya Cuma bisa sebulan atau dua bulan aja,” sela Eunkwang membela Jongup yang terkesan disudutkan Minhyuk.
        “Oke… Bisa kok. Mau mulai sekarang juga boleh,” kata Minhyuk akhirnya, membuat Eunkwang bisa bernapas lega. Termasuk pula Jongup.
        “Terima kasih, bang.”
        Minhyuk mengangguk-angguk. Lalu ia memerintahkan salah satu karyawannya untuk mengajak Jongup ke dalam agar berganti pakaian.
        Ketika Jongup sudah ke dalam, Eunkwang masih di sana bersama Minhyuk. Ia sempat menyapu pandangannya ke seluruh kelab. Dari mulai meja-meja yang sudah penuh dengan berpasang-pasang orang, atau beberapa orang yang memang sedang ingin ke sana meski tak berpasangan. Lalu di hadapannya juga banyak karyawan yang lalu-lalang mengantarkan makanan dan minuman untuk pelanggan.
        “Kira-kira, Jongup bakal lo tempatin di mana?” Tanya Eunkwang di sela-sela kesibukan Minhyuk menenggak minumannya.
        “Yang umum aja, lah. Nganter-nganterin makanan atau minuman,” jawab Minhyuk. Ia sempat meminta karyawannya membuatkan minuman untuk Eunkwang. “Kelab gue nggak separah kelab lain kok. Buka aja Cuma sampe jam 2 pagi. Dan lo liat itu…” Minhyuk menunjuk ke arah seorang DJ muda di tengah-tengah stage. Sementara Eunkwang mengukuti arah telunjuk Minhyuk. “Namanya Ilhoon. Dia juga baru lulus SMA. Dan Cuma jadi DJ doank. Nggak pernah bawa cewek, apalagi minum alcohol di sini. Tapi gue santai aja.”
        Sesaat Eunkwang masih memperhatikan permainan apik yang ditunjukkan cowok bernama Ilhoon itu. Ia kemudian kembali melirik Minhyuk. “Lo nggak ngajak cewek lo ke sini?” tanyanya iseng.
        Minhyuk membeku sesaat. Ia lalu meletakkan gelasnya yang sudah kosong sebelum akhirnya menoleh ke tempat Eunkwang berada. Minhyuk kemudian tersenyum mengejek. “Eun Ji bukan cewek yang mau di ajak ke tempat kayak gini.”
        Eunkwang menatap Minhyuk penuh minat. Sambil memutar kursi menghadap ke meja bar karena Minhyuk memberikannya soft-drink. “Kalian udah beneran jadian?”
        “Belom. Tapi gue tetep bakal berusaha ngedapetin Eun Ji.”
        “Cewek-cewek di sini kan banyak. Nggak ada gitu satu aja yang nyantol di hati lo?”
        Minhyuk sempat menghela napas berat. “Yaa… walau yang lo tau gue cowok brengsek, tapi gue tetep mau cewek baik-baiklah yang bakal gue ajak nikah suatu hari nanti,” kata Minhyuk terdengar serius. Namun Eunkwang justru terkekeh mendengarnya. Nggak peduli kalo Minhyuk melototinya sebagai tanda protes.
        “Iya iya gue percaya.” Meski berkata seperti itu, Eunkwang tetep nggak bisa menghentikan tawanya. Membuat Minhyuk semakin jengkel. Sampai akhirnya, ia melihat Jongup yang sudah mengenakan seragam melintas di hadapannya. Buru-buru ia menghentikan langkah cowok itu. “Nanti pulangnya lo langsung ke rumah gue aja.”
        Jongup mengangguk mengerti dan langsung mengerjakan tugas pertamanya mengantar minuman.
        Eunkwang menepuk pundak Minhyuk sampai cowok itu menoleh. “Jongup cukup rajin kok waktu kerja di tempat gue.”
        “Iya, gue tau. Gue udah bisa ngelihat sendiri.”
        “Gue tinggal pulang ya.” Eunkwang berpamitan meninggalkan kelab itu. Minhyuk hanya mengangguk dan membiarkan Eunkwang pergi.


***

1 komentar:

  1. author aku tertarik sama ceritanya. tp sayang sekali bahasanya tidak baku. aku mau lanjut baca ke chapter berikutnya tp sedikit terganggu bahasa tulisnya. maaf ya author.. kalo boleh aku kasih saran, bahasa tulisnya dibuat baku (jangan pake "lo" "gue") ya.. sayang kan kalo ceritanya bagus,, ini pendapatku. mgkn reader lain ada yg gak terganggu. tp semoga saranku bs diterima. ^^

    BalasHapus