Selasa, 08 Juli 2014

Oh My School (chapter 9)


“The Memories”

Author      : N-Annisa (@nniissaa11)
Cast          :
·        Jung Hyerim (A-Pink)
·        Kim Seok Jin (BTS)
·        Kim Himchan (BAP)
·        Jung Taekwoon (VIXX)
·        Lee Minhyuk (BtoB)
Genre       : Life school, teen romance, tragedy
Length      : Chapter

***

        “Mau tambah minuman?” tawar Seok Jin. Masih terlihat canggung akibat perlakuannya sendiri tadi pada Krystal.
        Krystal menyeruput sisa minumannya dalam gelas sambil menggeleng. Ia bahkan tak berani menoleh ke tempat Seok Jin yang berada di sampingnya.
        Cukup lama mereka kembali saling diam. Sibuk dengan pikiran masing-masing. Sampai akhirnya, Seok Jin terdengar berdeham pelan.
        “Lo udah lebih baik kan, Krys?”
        Krystal tersenyum tipis. “Berkat Kak Jin. Makasih, ya…”
        “Uhuk!” Seok Jin menepuk-nepuk dadanya. Tiba-tiba ia tersedak tanpa sebab.
        “Kak Jin nggak pa-pa?” ujar Krystal. Sementara tangannya menyodorkan gelas milik Seok Jin sendiri.
        “Makasih, Krys.” Seok Jin menerima gelas yang disodorkan Krystal. Setelah beberapa saat, cowok itu akhirnya terlihat lebih baik. Ia juga meletakkan kembali gelasnya ke atas meja. “Syukur deh kalau lo udah ngerasa lebih baik. Karena gue yakin, besok lo pasti bakal ngerasa lebih baik lagi dari sekarang.”
        Krystal menatap Seok Jin penuh arti karena ucapan cowok itu yang terasa misterius. “Emang bakal ada apa besok?”
        Seok Jin sengaja mengulur waktu untuk menjawab. “Lo pasti bakal seneng. Karena… beberapa temen-temen kita dari Destiny bakal balik ke Paradise.”
        Krystal tampak speechless. Matanya menatap Seok Jin, namun pikirannya melayang dari sana.
        “Biar gue tebak. Pasti lo ngarepin Dongwoon atau mungkin Jaehwan yang balik, kan?” tebak Seok Jin dengan nada jahilnya. Dan ia terkekeh puas saat melihat ekspresi Krystal yang justru menatapnya, tajam.

***

        Minhyuk melirik jam di tangan kanannya. Sesekali ia melempar pandangan ke ujung koridor dengan tatapan resah. “Hyerim beneran nggak balik ke sini lagi, apa?”
        “Kamu temannya Himchan?”
        Minhyuk sedikit terlonjak karena mendapat sebuah tepukan pelan di pundak dan suara seseorang bicara padanya. Buru-buru cowok itu membalikkan badan sambil berdiri dan mendapati ke dua orang tua Himchan di sana. “Iya om, tante. Saya Minhyuk.”
        “Kami ada keperluan di luar. Bisa minta tolong kamu temenin Himchan dulu? Soalnya, Yura belum datang sampai sekarang?” pinta wanita yang juga ibu kandung dari Himchan tersebut.
        Tentu Minhyuk langsung mengangguk tanpa harus pikir panjang. Setelah orang tua Himchan pergi, Minhyuk kemudian menyambar ranselnya yang tergeletak di kursi, lalu melangkah masuk ke dalam kamar tempat Himchan dirawat saat ini.
        Minhyuk menutup pintu di belakangnya dengan sangat pelan. Tidak ingin mengganggu istirahat Himchan. Minhyuk kemudian mendekat dan menghempaskan tubuh di kursi dekat tempat tidur. “Gue tenang karena ternyata lo baik-baik aja.”
        “Min!”
        Minhyuk menoleh karena Taekwoon dan Hayoung ternyata memunculkan diri di sana. “Berdua aja? Jin mana?” tanya Minhyuk, heran.
        “Jin ada urusan sama Krystal,” jawab Taekwoon saat sudah berdiri di dekat ujung tempat tidur Himchan. “Gara-gara berita pernikahan Pak Doojoon, gue yakin cewek itu pasti sakit hati,” jelasnya kemudian dengan cukup berhati-hati. Ia menyadari perubahan waut wajah Minhyuk tadi saat ia menceritakan tentang Jin dan Krystal.
        Hayoung juga sebenarnya menyadari sikap Minhyuk. Dan ia berusaha untuk mengalihkan suasana. “Kak Hyerim mana, Kak?”
        Minhyuk menoleh cepat, namun ia tak langsung menjawab. Dan itu menandakan bahwa kondisi Hyerim tidak bisa dikatakan dalam keadaan ‘aman’.

***

        Eun Ji ke luar dari dalam sebuah ruangan sambil memegangi salah satu lengannya yang terdapat sebuah plester kecil pada lipatan tangannya. Cewek itu menyeret langkah menuju kursi tempat Yura menunggunya dan Hyerim juga.
        Yura sontak berdiri dan menghampiri Eun Ji. “Kakak nggak pa-pa?” tanyanya yang khawatir karena melihat wajah Eun Ji kini tampak sedikit pucat.
        Eun Ji menghempaskan tubuhnya ke kursi tanpa berkata apa-apa. Ia bahkan tidak menjawab pertanyaan Yura tadi. Pikirannya sibuk melayang seorang diri.
        “Coba tanyakan pada orang tuamu. Saya yakin ada rahasia besar antara dirimu dan Hyerim yang belum diketahui siapa pun. Sekalian, saya akan melakukan tes DNA pada kalian berdua.”
        Eun Ji mendesah panjang. Ia lalu melirik Yura yang duduk di sampingnya. “Mungkin nggak sih kalau gue sama Hyerim itu beneran kembar?”
        “Hmm?” Yura terdengar tak siap dengan pertanyaan Eun Ji. “Hyerim itu cewek yang…” ucapannya menggantung, namun tangan Yura menunjuk ke arah sebuah pintu kamar rawat.
        “Yura? Kenapa kamu di sini?”
        Mendengar ada yang memanggil, sontak Yura menoleh cepat. Bahkan Eun Ji juga melakukan hal yang sama. Ke dua orang tua Himchan tampak berada di sana.
        “Ma, Pa, aku nyaris kecelakaan tadi. Tapi untung ada yang…”
        “Mau apa lagi kamu di sini?”
        Eun Ji menatap bingung wanita itu yang kini justru menatapnya tajam.
        “Kamu cewek yang dulu itu, kan? Kamu di sini pasti tau kondisi Himchan? Dan kamu berniat jengukin dia di sini?” tuduh ibu Himchan. “Saya nggak akan ngebiarin itu terjadi. Dan harusnya Himchan juga nggak kembali ke sekolah itu. Tapi…”
        Eun Ji tersenyum sedikit meremehkan. Ia sadar dengan siapa ia berhadapan saat ini. Dan berita tentang Hyerim waktu itu menyebar cepat. Terutama diantara orang-orang yang dekat dengan Hyerim juga Himchan. Termasuk dirinya. “Jadi, tante itu ibunya Himchan yang udah ngusir Hyerim waktu itu?”
        “Apa maksud kamu?” desis ibu Himchan tak suka. Sementara tuan Kim sontak merangkul istrinya agar bersikap lebih tenang.
        Eun Ji berdiri sambil menyambar tas dan jaketnya. “Tante salah orang. Karena saya adalah Eun Ji, bukan Hyerim.”
        Mendengar ucapan Eun Ji, ibu Himchan menatap cewek itu dari atas ke bawah. Jelas penampilan dua cewek yang memiliki kemiripan wajah tersebut memang jauh berbeda. Hyerim adalah cewek sederhana, sementara Eun Ji sangat mementingkan penampilan.
        “Anak tante nyaris menjadi korban kecelakaan kalau aja Hyerim nggak nyelametin dia.”
        Ke dua orang tua Himchan tersebut sontak melempar tatapan pada Yura. “Bener gitu?” tanya tuan Kim untuk memastikan.
        “Iya,” kata Yura, pendek. “Dan sekarang cewek itu lagi mendapat perawatan di dalam.”
        Eun Ji tampak sudah sedikit malas berada di sana. Ia lalu mendekatkan wajahnya ke arah telinga Yura. “Gue balik dulu, Ra. Agak anemia gara-gara donor darah tadi.” Eun Ji kemudian menegakkan kembali tubuhnya dan bersiap untuk berpamitan dengan orang tua Himchan. “Om, tante, saya permisi dulu.” Tanpa ingin berbasa-basi, Eun Ji membalikkan badan lalu melangkah pergi dari sana.

***

        “Him!” seru mereka kompak. Minhyuk, Taekwoon, dan Hayoung langsung mendekat ke tempat tidur untuk memastikan sendiri kondisi Himchan saat cowok itu mulai membuka matanya.
        Himchan menegakkan badannya dengan bantuan Taekwoon dan Minhyuk di ke dua sisinya. “Makasih Taek, lo udah ngebawa gue ke sini. Sama Hayoung juga,” ujar Himchan, lalu tatapannya terhenti pada sosok Minhyuk. “Oh, ada lo juga, Min? Maaf gue nggak inget.”
        Taekwoon dan Minhyuk saling melempar tatapan, bingung. Tak terkecuali dengan Hayoung. Namun tak ada yang bisa memberikan jawaban tentang kondisi Himchan.
        “Tapi…” suara Himchan kembali menarik perhatian. Belum lagi dengan reaksi keterkejutannya yang cukup menghebohkan. Himchan memeriksa hampir seluruh bagian tubuhnya. “Young, kaca!” ujarnya setengah memerintah. Hayoung sendiri tanpa sadar langsung menuruti permintaan Himchan dengan memberikan cowok itu sebuah kaca kecil yang ia ambil dari dalam ranselnya.
        Cukup lama Himchan terdiam sambil menatap pantulan wajahnya dicermin. “Nggak mungkin,” gumamnya pelan.
        “Him, lo nggak pa-pa?” tanya Taekwoon berhati-hati.
        “Berapa lama gue pingsan?”
        “Nggak sampe 2 jam.” Minhyuk yang menjawab.
        Himchan menurunkan kaca di tangannya. Sementara tatapannya mengarah pada Taekwoon, menuntut penjelasan. “Nggak mungkin luka bekas pukulan di wajah bisa ilang dalam 2 jam, kan? Ini bukan dunia Harry Potter!” Himchan berseru sedikit histeris.
        “Coba Kak Himchan cerita apa yang kakak rasain.” Hayoung berusaha mencari jawaban. Karena dapat dipastikan Minhyuk dan Taekwoon benar-benar tidak bisa menerka apa yang terjadi pada Himchan.
        Himchan tertegun sesaat. “Gue dipukulin sama orang yang nggak gue kenal di kelas.”
        Taekwoon meneguk ludahnya mendengar Himchan bercerita. Ia kembali teringat Sungjae yang muncul dengan pakaian penuh darah. Taekwoon juga sempat melirik Hayoung yang ternyata sejak tadi mengawasinya. Belum lagi ia juga sedikit merasakan kekuatan tendangan seorang Sungjae.
        “Gue sempet liat Hayoung dari luar jendela.” Kali ini Himchan tampak menoleh ke arah Hayoung untuk memastikan bahwa ingatannya tak salah.
        “Hmm… apa artinya, ingatan lo udah balik seutuhnya?” tanya Minhyuk. Terdengar ragu, namun ia memaksa diri untuk tetap menanyakan hal tersebut. Karena ucapan Himchan memang sudah mengarah ke sana.
        Himchan melempar tatapan hampir ke seluruh penjuru kamar rawatnya. Ada sebuah kalender bertulisan besar yang bisa dengan jelas ia lihat. “Jadi, selama setengah tahun lebih ini gue lupa ingatan? Termasuk tentang Hyerim, dong?”

***

        “Mau sekalian gue anter pulang nggak, Krys?” tawar Seok Jin. Ia dan Krystal baru saja ke luar dari café tadi.
        “Hmm…” Krystal cukup lama mempertimbangkan tawaran Seok Jin. Cewek itu kemudian melirik ke tempat Seok Jin. “Gue mau main ke rumah Hayoung dulu aja mungkin. Dan bakal balik agak malem. Takutnya Pak Doojoon tau-tau ada di rumah gue buat ngurusin pernikahannya.”
        Seok Jin menatap prihatin cewek di sampingnya. Ia berpikir keras untuk nasib cewek itu setelah ini. Tentu karena Seok Jin tahu Hayoung pergi dengan Taekwoon ke rumah sakit untuk menjenguk Himchan. “Lo ikut gue aja, ya!” putusnya sepihak. Seok Jin bahkan sampai menarik paksa cewek itu untuk ikut bersamanya.
        Krystal duduk diboncengan motor Seok Jin. Cewek itu tampak sedikit tegang. Belum lagi ini kali pertama dirinya berboncengan dengan ketua kelas 3 tersebut. Krystal akhirnya hanya mencengkeram ujung jaket yang dikenakan Seok Jin tanpa berbicara apa pun.
        “Hayoung lagi pergi sama Taekwoon jenguk Himchan.”
        “Apa, Kak?” seru Krystal yang tampak tidak terlalu mendengar ucapan Seok Jin. Memang karena posisi mereka saat itu adalah sudah dalam perjalanan.
        “Hayoung lagi pergi sama Taekwoon jenguk Himchan.” Seok Jin mengulangi ucapannya. “Tadi ada sedikit insiden di sekolah,” lanjutnya kemudian dengan suara yang sedikit lebih dikeraskan. “Lo mau ke rumah temen lo yang lain? Jinri, Naeun atau Namjoo gitu?”
        “Tadinya mau ke rumah Jinri, tapi kayaknya dia lagi sibuk nyiapin buat lomba cerdas cermat itu.”
        “Oh, ya udah. Lo pergi sama gue aja, ya?” ajak Seok Jin kemudian. Jelas ia tak tega jika Krystal pergi sendiri dengan kondisi seperti sekarang. Belum lagi cewek itu juga tidak ingin pulang.
        “Ke mana, Kak?” tanya Krystal memastikan.
        Seok Jin hanya tersenyum tipis tanpa sepengetahuan Krystal. Ia juga tidak berniat mengatakan apa-apa pada cewek itu.
        “Kak Jin!” jerit Krystal karena tiba-tiba Seok Jin menambah kecepatan laju motornya. Mau tidak mau, Krystal terpaksa melingkarkan tangannya di pinggang Seok Jin. Dan tidak diduga, perbuatan Krystal sukses membuat Seok Jin juga membeku.

***

        “Gue ngabarin ke mana ya tentang kondisi Hyerim?” Eun Ji sibuk mengotak-atik ponselnya. Karena tidak menemukan apa yang ia butuhkan, Eun Ji mengalihkan tatapannya ke luar jendela mobil. “Ke SMA Paradise, Pak!” ujarnya pada sang supir.
        Mobil pun melaju ke tempat yang dimaksud oleh Eun Ji. Dan cewek itu sama sekali tidak melepaskan tatapannya ke arah jendela. Eun Ji tampak menegakkan badan saat melihat cewek dan cowok berseragam SMA Paradise sedang berboncengan motor.
        “Itu Luna?” seru Eun Ji. “Pak, cegat motor itu.” Eun Ji sendiri sudah membuka jendela mobilnya. “Luna! Ji… Jin. Eh, Jimin!” teriaknya yang sukses membuat Jimin menghentikan motornya. Setelah mobil berhenti, Eun Ji melesat ke luar.
        Jimin sontak melepas helmnya dengan cepat. “Kak Hyerim? Tapi kok udah ganti baju aja? Terus rambutnya…” Jimin tidak melanjutkan ucapannya karena ia merasakan Luna turun dari boncengan motornya.
        “Eun Ji?” seru Luna yang sejak tadi tidak melepaskan tatapannya ke arah Eun Ji.
        “Iya, Lun. Gue Eun Ji. Dan gue butuh bantuan kalian. Siapa aja yang sampe sekarang masih deket sama Hyerim?”
        Jimin dan Luna sontak saling melempar tatapan. “Kak Jin, Kak Minhyuk.” Jimin yang menjawab. “Nah… Ho Seok juga,” lanjutnya. Kali ini terdengar sedikit heboh.
        Eun Ji terlihat tidak puas dengan jawaban Jimin. Dan nggak sengaja, tatapannya terhenti pada seorang cowok yang juga berseragam SMA Paradise. “Jeon!” teriaknya.
        “Jeon?” Jimin menatap Eun Ji, bingung. Ia kemudian ikut menoleh ke arah yang dimaksud Eun Ji. “Oh, maksudnya Jeon Jungkook?”
        Dikejauhan, Jungkook tampak terdiam sesaat untuk memastikan siapa orang-orang yang meneriaki namanya tersebut. Namun Jungkook akhirnya tetap melanjutkan langkah. Ia tidak akan menemukan jawaban apa pun jika tetap di sana.
“Lho, Kak Eun Ji? Sama…” Jungkook tidak melanjutkan ucapannya karena heran melihat Eun Ji bersama Luna dan Jimin.
        “Makasih ya kalian berdua,” ujar Eun Ji cepat. Ia bahkan sambil menyambar salah satu tangan Jungkook dan membawanya masuk ke dalam mobil.
        “Ada apaan sih, Kak?” Jungkook tak bisa menahan rasa penasarannya setelah mobil Eun Ji mulai berjalan.
        “Kayaknya sekolah lagi sibuk banget ya?” Eun Ji justru balik bertanya. “Abis ada kejadian apa?”
        Jungkook menghela napas, panjang. Cukup melelahkan apa yang terjadi di SMA Paradise akhir-akhir ini. “Gue ampe bingung mau cerita dari mana.” Jungkook menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Ia sudah ingin membuka mulut, namun tidak ada kata yang ke luar dari mulutnya karena melihat wajah Eun Ji yang tampak sedikit pucat.
        “Kak Eun Ji sakit?”
        Eun Ji menoleh sambil tersenyum penuh rahasia.

***

        Sedikit ketegangan justru terjadi di dalam kamar rawat Himchan. Seluruh orang yang berada di sana tidak ada yang bersuara satu pun. Sementara Taekwoon dan Hayoung berusaha saling komunikasi melalui tatapan. Namun diakhiri dengan reaksi frustasi dari Taekwoon yang tidak bisa menangkap maksud tatapan Hayoung.
        “Tolong rahasiain kondisi gue saat ini,” kata Himchan yang akhirnya memecah keheningan.
        “Jadi lo mau pura-pura tetap lagi amnesia?” seru Minhyuk.
        Himchan mengangguk cepat. “Nggak ada hal penting yang terjadi, kan? Oh, iya. Minho kenapa nggak nyusul ke sini?”
        Untuk pertanyaan tersebut, jelas Minhyung angkat tangan. Ia justru melemparkan tatapan pada Taekwoon untuk menjawabnya.
        “Hmm… sebenernya, banyak yang udah terjadi di Paradise,” tukas Taekwoon akhirnya. Secara bergiliran, Hayoung dan Minhyuk melengkapi setiap penjelasan Taekwoon. Mulai tentang kondisi SMA Paradise, hingga apa yang telah terjadi setelah Himchan kembali ke sekolah tersebut. Termasuk juga cerita tentang Minho serta Sungjae.

***

        Pagi itu keramaian terjadi di halaman SMA Paradise. Pemandangan yang sudah lama tidak terlihat, akhirnya kembali mewarnai sebagian besar area parkiran. Mobil-mobil mewah tampak berjejer rapih di sana. Dan hampir seluruh penghuni mobil yang muncul adalah menggunakan seragam SMA Destiny.
        Sementara di titik berbeda, siswa yang memang masih menjadi siswa SMA Paradise tampak berkumpul. Kelas 2 dan kelas 3 membaur menjadi 1. Ke dua kubu belum ada yang beranjak menuju gedung sekolah. Tampak masih menunggu teman-teman mereka yang lain. Mungkin karena hari ini lain, dan tidak seperti hari biasanya.
        Di antara siswa berseragam SMA Destiny, hanya Yuri yang berdiri mengarah ke belakang. Dan Hackyeon hanya menatapnya khawatir tanpa berkata apa-apa. Ia yakin, cewek itu menyembunyikan sesuatu. Namun Hackyeon belum ingin mengusiknya.
        “Kayaknya lo nyantai banget ya pindah ke sini lagi?” cibir Yoona secara terang-terangan pada Yuri. “Pasti dalam hati lo seneng karena bisa ngeliat Taekwoon. Cuma lo pendam aja karena ada Hackyeon di sini,” lanjutnya. Sempat melirik kesal ke arah Hackyeon.
        “Gue rasa untuk masalah Taekwoon, itu urusan gue sama Yuri.” Hackyeon bicara dengan nada dingin. Kemudian ia melirik Yoona, datar. “Mending lo awasin Gikwang. Takut dia masih ngelirik Chorong. Oiya, Naeun juga masih sekolah di sini, kan?” balasnya.
        Sontak Yoona menatap Hackyeon tak bersahabat. Sementara Yuri sama sekali tak berniat ikut campur sedikit pun dengan perdebatan mereka.
        “Eh, itu mobilnya Minho kan ya?”
        Kemudian, kehebohan sedikit terjadi. Yoona dan Hackyeon sontak menoleh. Namun tidak untuk Yuri. Tepat saat sebuah mobil mewah melintas dan terparkir bergabung dengan mobil-mobil yang lainnya.

***

        Seok Jin baru bergabung ke dalam gerombolan SMA Paradise. Ia terlihat datang bersama Kibum, Jinki, juga Ho Seok dan Youngjae. Seok Jin menghampiri Hayoung yang berdiri bersama Jinri.
        “Taekwoon belum dateng?” ujar Seok Jin pelan.
        Hayoung melirik jam tangannya. “Udah,” ujarnya pendek. Lalu ia menatap Seok Jin. Dengan tatapan seolah hanya mereka yang mengetahui kebiasaan tentang Taekwoon. “Tapi nggak lewan pintu depan.”
        Seok Jin sontak terkekeh mendengar jawaban Hayoung. Ia teringat saat diajak memanjat pagar belakang sekolah. “Nggak lagi-lagi deh gue ngikutin kebiasaan gilanya si Taekwoon.”
        “Oiya, gimana keadaan Kak Himchan kemarin?” Jinri terdengar mengajukan pertanyaan.
        Mendengar itu, Seok Jin juga menatap Hayoung penuh minat. Tentu ia tertarik dengan pertanyaan Jinri dan sama ingin tahunya seperti cewek itu.
        Hayoung tampak menegakkan badan. Menggerak-gerakkan bola matanya, menggambarkan kepanikan. “Hmm… kemarin sih…” cewek itu tidak melanjutkan ucapannya karena kedatangan sebuah mobil yang menarik perhatian.
        Mobil mewah yang terparkir berjejeran dengan mobil-mobil milik siswa dari SMA Destiny. Hayoung sempat melirik Seok Jin yang menatap penuh minat ke arah mobil tersebut. Mau tidak mau, cewek itu juga menatap ke tempat mobil tadi berada. Ikut merasa penasaran. Terutama saat sang pengendara tampak membuka pintu mobil. Warna celana yang terlihat mencolok—siswa SMA Paradise berwarna hitam, sementara SMA Destiny berwarna kecoklatan—hingga membuat beberapa orang menahan napas, penasaran.
        Cowok tinggi itu menampakkan diri dengan seragam milik SMA Paradise. Ia menutup pintu mobil sambil melempar senyuman kebeberapa siswa yang berada di dekatnya. Dan kebetulan yang berada disekitar sana adalah siswa berseragam SMA Destiny.
        “Apa besok kita harus pakai seragam itu juga?”
        Yoona melirik kesal ke tempat Hackyeon berada. Jelas, ia menolak ucapan cowok itu. “Jangan bercanda, Hack!”
        Yuri akhirnya menoleh karena merasakan suasana aneh di sana. Sedikit terasa sunyi, namun suara bisik-bisik para siswa di sana cukup jelas terdengar.
“Itu Minho?” Yuri bergumam. Sedikit tidak mempercayai penglihatannya.

***

        TAP!!
        Sepasang sepatu mendarat mulus di atas rumput halaman belakang SMA Paradise. Cowok itu melirik jam di tangannya karena merasa suasana yang sangat terasa sepi. “Gue kecepetan ya?”
        Cowok tinggi itu menegakkan badan. Melempar tatapan ke sekitar. Belum bisa menemukan kejanggalan di sana, Taekwoon memilih melangkah menuju gedung yang berada paling dekat dengan tempatnya berada sekarang.
        Taekwoon menatap ke dalam jendela kelas yang tampak masih kosong dari luar gedung. “Pada ke mana nih anak-anak?” Cowok itu menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal. Bingung dengan keadaan yang terjadi. Taekwoon akhirnya berinisiatif mengeluarkan ponsel untuk menghubungi salah satu teman sekelasnya, mungkin.
        BRAAK!!
        “Akh!” Taekwoon tanpa sadar melepaskan ponselnya hingga terjun bebas ke lantai. Akibat suara benturan keras yang berasal dari dalam kelas.
Taekwoon tak langsung memungut ponselnya. Namun ia sedikit merunduk karena seseorang tampak memasuki kelas tersebut. “Pak Junhyung?” gumamnya pelan.
        “Gue tahu itu memang musibah! Tapi kenapa Paradise juga terlibat buat nampung mereka! Belum lagi Minho juga termasuk yang balik ke sini! Dan semua rencana gagal total!”
        Taekwoon sampai membekap mulutnya mendengar penuturan keras dari Junhyung tersebut. Salah satu guru tampan tersebut tampak berbicara dengan seseorang melalui telepon.
        “Sungjae udah tahu, tapi dia sama sekali nggak peduli dengan rencana ini. Dia punya misi sendiri di sini. Masalah cewek!”
        “Eun Ji,” Taekwoon bergumam pelan. Cowok tinggi itu merunduk kembali hingga bawah jendela. Kemudian ia memungut ponselnya yang ternyata terhubung dengan nomor milik Seok Jin. Belum lagi panggilan masih berjalan dan sudah terlewat sampai beberapa menit.
        “Oke, gue bakal pastiin Minho masih amnesia.”
        Taekwoon masih membeku di sana. Ia juga belum mematikan sambungannya dengan Seok Jin. Hanya menatap layar ponselnya. Tidak ada suara apa pun yang terdengar dari dalam ponsel. Dan Taekwoon bisa bernapas lega saat mendengar tanda-tanda Junhyung meninggalkan kelas tersebut.
        Taekwoon mendekatkan ponselnya ke telinga. “Lo di mana, Jin?”

***

        “Ada apaan sih, Kak?” tegur Hayoung yang curiga dengan perubahan sikap Seok Jin.
        Seok Jin hanya mengangkat tangan tanpa ingin mengatakan  apa pun. Ia kemudian melangkah ke luar rombongan. Di sisi lain, Minho juga berjalan ke arah yang bersamaan dengan Seok Jin. Namun sepertinya Seok Jin tidak terlalu menghiraukan keberadaan Minho dengan seragam Paradise yang dikenakannya.
        “Jiiinnn!” Taekwoon teriak histeris sambil berlari. Fokus cowok itu hanya pada Seok Jin. Dan akhirnya… BRUKK!!
        “Akh, Taek!” Minho meringis karena tertabrak tubuh Taekwoon. Bukan hanya itu, Taekwoon bahkan sampai menindihnya.
        “Ya ampun, Taek… lo apa-apaan, sih?” seru Seok Jin yang sudah mengulurkan tangannya. Berniat membantu Taekwoon juga Minho untuk berdiri.
        Hampir seluruh siswa di sana sontak menghampiri lokasi insiden antara Minho dengan Taekwoon.
        “Sorry, Min!” seru Taekwoon, menyesal.
        “Nggak pa-pa, Taek.” Minho menepuk-nepuk celananya untuk menghilangkan kotoran.
        Di tempatnya berada, Gyuri tampak menyenggol-nyenggol lengan Chaerin. Memberi tanda tentang keberadaan Seok Jin juga Taekwoon di sana. “Itu OB ganteng yang kemarin.”
        Chaerin hanya melirik sekilas. Berusaha tidak terpengaruh dengan ucapan Gyuri. Jika Seok Jin dan Taekwoon memang OB, tentu cewek itu tidak ingin ada yang tahu jika ia ‘mengagumi’ ketampanan dua cowok itu.
        “Mereka bukan OB,” desis Yuri yang kebetulan berada tidak terlalu jauh dari tempat Chaerin dan Gyuri. Ada rasa tidak suka saat dua temannya mengatakan demikian, baik untuk Seok Jin atau pun Taekwoon. Yuri yang menyadari Hackyeon mengawasinya, lebih memilih menghindari tatapan cowok itu dengan balik badan dan menyeruak ke luar dari kerumunan.

***

        Jungkook terkekeh kecil melihat seorang cewek berseragam SMA Paradise, mengintip ke dalam gerbang sekolah tersebut. Ia mengenal jelas siapa cewek itu.
        “Ayo buruan masuk,” ujar Jungkook yang dengan jahilnya menggamit lengan cewek itu dan menyeretnya untuk masuk bersama.
        “Jung! Jeon Jungkook!” protes Eun Ji. Namun ia juga tidak berniat melepaskan diri dari cengkeraman kuat adik kelasnya tersebut. “Gue takut, Jung.”
        “Kalau takut, kenapa kemarin minta?”
        Eun Ji tidak bisa membalas ucapan cowok itu. “Tunggu…!”
        Jungkook sontak tertarik ke belakang karena Eun Ji berhenti tiba-tiba. Beruntung ia masih bisa mengimbangi tubuh hingga tidak sampai terjatuh. Namun… BRUUKK!!
        “Sorry…!”
        Eun Ji dan Jungkook sontak berbalik dan mendapati tubuh tinggi Himchan di sana.
        “Him… Chan…” Eun Ji menjadi yang paling terperangah. Karena ini pertama kalinya ia melihat Himchan kembali.
        “Lo nggak bareng Minhyuk atau si Jin, Rim?” tanya Himchan polos. Namun diam-diam, ia mencurigai Eun Ji yang ia sangka sebagai Hyerim. Jelas tetap ada yang berbeda dari cewek itu meski Eun Ji sudah berusaha berpenampilan sama persis dengan Hyerim.
        “Kita baru aja nyampe, Kak.” Jungkook yang menjawab.
        “Ayo masuk,” ajak Himchan kemudian. Ia bahkan tidak sungkan untuk merangkul Jungkook dan Eun Ji di kedua sisinya. “Waah… masih pada di luar.”
        “Anak SMA Destiny juga udah pada dateng,” seru Jungkook.

***

        “Ayo masuk kelas. Sebentar lagi bel.” Minhyuk tampak mengingatkan sambil menepuk pundak Seok Jin. Kemudian, satu-persatu siswa SMA Paradise mulai meninggalkan lapangan.
        Cheondung tampak sengaja menghampiri Minho untuk mengajaknya masuk bersama. Di sisi lain, Taekwoon juga terlihat mengulurkan salah satu tangannya yang kemudian disambut oleh Hayoung.
        Hackyeon yang melihat kejadian antara Taekwoon dan Hayoung, sontak membuatnya teringat Yuri. Ia tidak langsung menghampiri ceweknya itu tadi. Hackyeon kemudian mulai mencari Yuri yang justru lebih memilih ke arah berbeda dari teman-temannya yang lain.
        Yuri menghentikan langkah karena berpapasan dengan Jungkook, Himchan dan Eun Ji. Namun tatapan cewek itu justru tertuju pada sesuatu di belakang ketiganya.
        Hackyeon yang tadi mengejar Yuri, sama terlihat terkejutnya. “Itu kan…”
        Jungkook yang sudah ingin buka mulut, tampak membatalkan niat karena melihat reaksi Yuri dan Hackyeon. Ia kemudian mengintip dari balik pundak Himchan yang berdiri di sampingnya. Cowok itu membulatkan mata melihat seseorang melangkah di belakang mereka.
        Tanpa pikir panjang Jungkook menyingkirkan tangan Himchan yang masih merangkulnya. Jungkook lalu menyambar tangan Eun Ji. Dan lagi-lagi ia menarik paksa cewek itu. “Jangan nengok ke belakang. Itu Sungjae,” bisik Jungkook. Tapi nyatanya, suara Jungkook masih bisa sampai ke telinga Himchan.
        Himchan sontak membeku mendengar ucapan Jungkook. Tentu ia sudah tahu siapa cowok bernama Sungjae. Lengkap dengan perlakuan cowok itu terhadapnya. Himchan harus berpikir cepat agar Sungjae tidak sempat menangkap wajahnya.
        Hackyeon dan Yuri. Beruntung Himchan sudah bisa mengingat ke dua orang tersebut. Teman lamanya yang sempat pindah ke SMA Destinya. Sontak saja Himchan memaksa Yuri dan Hackyeon agar berbalik dan segera menyusul teman-teman mereka lainnya yang sudah lebih dulu masuk ke dalam gedung.

***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar