Senin, 21 Juli 2014

PERFECT LOVE (chapter 13)


Author              : Annisa Pamungkas (@nniissaa11)
Main Cast          : B.A.P (Yongguk, Himchan, Daehyun, Youngjae,
  Jongup, Zelo [Junhong])
Support cast     :
·        A-Pink (Chorong, Bomi, Naeun, Eun Ji, Namjoo, Hayoung)
·        G.Na (Soloist)
·        B2ST (Doojoon)
·        BtoB
Genre               : romance, family, brothership
Length              : chapter

***

        Dengan langkah yang sedikit sempoyongan, Himchan menuju dapur sambil memegangi perutnya yang kosong. Ia belum makan apa-apa dari pagi. Dan saat memeriksa tudung saji di atas meja makan, sudah tidak tersisa apa pun di sana.
        Himchan melirik jam dinding yang baru menunjukkan pukul 10 pagi. Masih cukup lama jika menunggu sampai Jongup pulang sekolah untuk membawakannya makan siang. Apa lagi mengharapkan Yongguk pulang. Karena paling cepat kakak tertuanya itu pulang di hari sibuk adalah jam 7 malam.
        Sementara Daehyun…
        “Kenapa tuh anak nggak kepikiran bawain gue makanan juga, sih?” Himchan menggerutu sendiri. Mungkin wajar Daehyun melupakan hal tersebut karena ia sedikit panik mendengar berita tentang Himchan. Dan jika saja Himchan dalam kondisi sehat, ia pasti bisa mengolah sendiri bahan makanan yang tersedia di dalam kulkas.
        Himchan menghempaskan punggungnya ke sandaran kursi makan. Sesekali ia memejamkan matanya yang terasa berat. Pusing di kepalanya juga masih cukup terasa. Dan lebih tidak memungkinkan untuk ia pergi mencari makan ke luar. Himchan akhirnya memutuskan untuk kembali ke kamarnya. Membaringkan tubuhnya di sana.
        Himchan sempat memeriksa ponselnya yang ternyata hanya berisi pesan tidak penting dari pacarnya, Yookyung. Cewek itu ingin bertemu Himchan sepulang cowok itu mengajar. Namun sama sekali tidak ada balasan apa pun dari Himchan sendiri.
        Detik berikutnya, terdengar pintu utama rumah terbuka pelan. Suaranya sampai ke telinga Himchan, namun cowok itu enggan untuk bangkit kembali. Karena mungkin saja yang ada adalah Yongguk, Daehyun, Jongup, atau mungkin ibunya, G.Na.
        Himchan menunggu sampai ada yang terdengar berbicara atau mungkin memastikan jika ada orang di sana. Tapi sama sekali tidak ada yang terjadi. Sampai akhirnya, pintu kamar terbuka. Sepintas terlihat rambut panjang yang berkibar. Dan Himchan sampai menajamkan matanya. Tidak mungkin ketiga saudaranya tiba-tiba memiliki rambut panjang.
        “Maaf, aku kira Mas Himchan tidur.”
        Himchan menghela napas karena ternyata yang datang hanya Bomi. Ia menegakkan tubuh seiring Bomi yang melangkah masuk. Seakan itu adalah ijin dari pemilik kamar.
        “Mas Himchan udah makan?” tanya Bomi untuk memastikan.
Bomi terlihat gugup dari biasanya ketika berhadapan dengan Himchan. Dan saat Himchan menggeleng, samar-samar Bomi terlihat tersenyum. Lega, karena usahanya tidak sia-sia. Meski biasanya Himchan memang selalu menghargai pemberiannya walau dengan tanggapan yang kurang bersahabat.
        “Mau di sini atau di meja makan?” tawar cewek itu lagi.
        Himchan hanya melirikkan matanya ke arah pintu. Dan itu artinya, ia ingin makan di luar kamar. Kemudian, Bomi mengulurkan tangan menawarkan bantuan pada Himchan. Namun saat Himchan membalas uluran tangan Bomi, ternyata tarikannya lebih kuat dan Bomi yang kurang siap. Akhirnya, Bomi justru terhuyung ke depan. Beruntung Himchan menangkap pundak cewek itu. Mengakibatkan wajah mereka menjadi sangat dekat.
        Beberapa saat mereka masih bertahan dalam posisi seperti itu. Sampai akhirnya, suara ketukan pintu yang membuyarkan mereka. Himchan yang terkejut, menyingkirkan tubuh Bomi dengan sedikit kasar ke samping hingga cewek itu terhempas duduk di sampingnya.
        Seseorang yang tadi mengetuk pintu kamar Himchan tidak lain adalah teman sekamar Himchan sendiri. Yaitu Yongguk.
        Yongguk melangkah pelan. “Lo sakit, Him?” Ia bertanya, tapi tatapannya tidak melihat ke arah Himchan. Karena Yongguk menuju ranjang kosong yang juga ada di kamar tersebut.
        “Bomi tunggu luar,” kata Bomi yang merasa sangat canggung di sana. Terlebih karena apa yang baru terjadi padanya bersama Himchan. Cewek itu lalu melesat pergi ke luar.

***

        Youngjae membawa Eun Ji ke sebuah kantin kampus yang letaknya berada cukup di belakang area kampus. Sengaja cowok itu memilihkan suasanya yang sedikit sepi. Sementara, ia meninggalkan Eun Ji menuju konter makanan.
        Eun Ji sudah sempat mengganti baju Taekwondo bagian atas dengan jaket miliknya. Sesaat sebelum akhirnya Youngjae kembali dengan membawakan segelas teh hangat dan plastik bening kecil berisi sebongkah es batu.
Youngjae menempatkan diri di samping Eun Ji. Ia duduk menyamping dengan posisi Eun Ji tepat di hadapannya. Menyodorkan teh hangat ke hadapan Eun Ji. Sementara ia sendiri berniat menghilangkan bengkak di wajah Eun Ji dengan menggunakan es batu tersebut.
        “Akh! Sakit, Young!” protes Eun Ji sambil menjauhkan wajahnya. Tak lupa ia juga sempat memberikan tatapan membunuh untuk cowok itu.
        Tatapan membunuh Eun Ji serasa bukan apa-apa bagi Youngjae. Ia menyentuh pipi Eun Ji yang tidak terluka dengan satu tangan dan membawanya untuk menoleh. Kemudian melanjutkan kegiatannya lagi. Menempelkan es batu ke atas luka Eun Ji. Kali ini Youngjae melakukannya dengan lebih hati-hati.
        “Apa lo mau pulang ke rumah dengan wajah kayak gini?”
        Eun Ji tidak menjawabnya. Ia justru menjauhkan tangan Youngjae dari wajahnya. Menghindari tatapan cowok itu. Dan lebih memilih menyeruput minuman hangat yang dibawakan cowok itu.
        Sesaat, Youngjae juga mengalah dan tidak melakukan apa-apa lagi pada Eun Ji selain menatap cewek itu dalam-dalam.
        Youngjae menoleh karena tiba-tiba ada seseorang yang duduk bergabung dengannya dan Eun Ji. Eun Ji juga tampak menatap orang tersebut yang ternyata adalah Naeun. Dengan wajah sedikit cemberut, Naeun menatap Eun Ji dan Youngjae bergantian.
        “Bikin ngiri aja sih kalian!” seru Naeun yang justru membuat Youngjae dan Eun Ji saling melempar tatapan, bingung.
        Eun Ji sebenarnya ingin menolak mentah-mentah atas ucapan Naeun yang secara tidak langsung menuduhnya dan Youngjae sedang ‘berpacaran’. Namun karena kondisinya lebih parah dari itu,—ia dan Youngjae justru akan menikah—Eun Ji lebih memilih bungkam. Mungkin membiarkan Youngjae yang bereaksi. Belum lagi bibirnya yang memang terasa sakit.
        “Daehyun mana? Tumben lo mau jauh-jauh ke kantin sini sendirian?”
        Benar saja, Youngjae yang berbicara. Ia juga menyadari kondisi Eun Ji yang tidak memungkinkan untuk banyak bicara. Kecuali untuk melancarkan protes padanya seperti tadi.
        Naeun mendesah berat. “Sengaja,” serunya malas sambil menyandarkan punggung ke kursi. “Biar ngulur-ngulur waktu sendirian. Daehyun lagi di rumah sakit. Bomi juga nggak dateng gara-gara pangerannya yang lagi sakit.”
        Eun Ji yang sejak tadi mengaduk-aduk minumannya, kini mendongak. Menatap Naeun penuh minat. Terlebih tentang Bomi dan ‘pangerannya’ yang tak lain adalah Himchan.
        Tersisa Youngjae yang sibuk dengan pikirannya sendiri. “Pangeran?” serunya memastikan jika ia tidak salah dengar. “Cowoknya Bomi? Siapa?”
        “Kim Himchan. Dia tetangganya Bomi sekaligus kakaknya Daehyun juga,” ujar Naeun. “Hmm… lo inget cowok-cowok waktu di rumah Eun Ji? Dia duduk di samping Daehyun.”
        Youngjae berusaha mengingat-ingat dari petunjuk yang Naeun berikan. Cowok tinggi, putih. Salah satu guru di sekolah Zelo. Seseorang yang bersama Eun Ji membawanya ke rumah sakit. Mengingat itu, Youngjae menarik pelan lengan Eun Ji sampai cewek itu menoleh padanya.
        “Lo bahkan pernah deket sama kakaknya Daehyun juga?” seru Youngjae. Dari nada bicaranya, secara tidak langsung Youngjae seperti menuduh Eun Ji.
        Eun Ji menangkap gelagat aneh dari Youngjae. Terlihat seperti orang cemburu. Dan mendapati hal tersebut, rasanya masih cukup aneh bagi seorang Eun Ji. Terlebih hubungan mereka yang tidak pernah membaik sejak kenal saat SMA dulu.
        “Gue kenal bahkan sama seluruh anggota keluarganya Daehyun. Mas Yongguk, Mas Himchan, bahkan sama adiknya Daehyun si Jongup. Hmm… nyokapnya juga gue kenal deh. Perawat di rumah sakit bokap gue.”
        Mendengar itu, tatapan Youngjae melunak. Dan Eun Ji kembali menangkap ekspresi janggal tersebut. Termasuk juga Naeun yang memang mengawasi Youngjae sejak tadi.

***

        Yongguk mengawasi Himchan yang berjalan ke arah dapur. Menyusul Bomi yang sudah menunggunya di meja makan sendirian. Sementara Yongguk hanya berdiri di ambang pintu dapur. Saat melihat Himchan duduk bergabung dengan Bomi meski agak sedikit berjauhan. Yongguk terkekeh samar melihatnya.
        “Sebenernya yang pacaran sama Bomi tuh lo atau Jongup sih, Him?” tegur Yongguk. Tatapannya setengah menggoda Himchan saat bertanya seperti itu. Belum lagi raut wajah datar milik Himchan yang membuatnya tidak ingin berhenti tersenyum.
        Bomi sendiri tidak berani melirik Yongguk yang berdiri di belakangnya. Hari ini cewek itu tidak seperti biasanya. Sejak Himchan mengajaknya pergi ke luar berdua, Bomi menjadi sedikit canggung untuk menggoda Himchan seperti kebiasaannya selama ini.
        “Ya udah kalau nggak ada yang mau jawab. Mas tinggal balik ke kantor ya.” Tanpa menunggu respon apa-apa lagi, Yongguk lebih memilik balik kanan dan pergi dari sana.
        Entah apa yang ada dipikiran Yongguk. Cowok itu masih memiliki sisa senyuman di wajahnya. Tentu karena Himchan dan Bomi yang sebenarnya tidak melakukan apa pun. Kecuali, insiden tidak sengaja saat di kamar tadi.
        Setelah Yongguk dipastikan sudah benar-benar pergi dari rumah, Himchan tampak menghela napas, lega. Ia dan Bomi tidak ada yang berani saling lirik. Himchan benar-benar menolehkan wajahnya yang terasa panas sejauh mungkin dari Bomi.
        “Coba nggak kepergok Mas Yongguk tadi. Nggak mungkin cangung gini kan jadinya!” Himchan memaki sendiri dalam hati.
        Himchan memberanikan diri untuk melirik Bomi. Dan… aman. Cewek itu masih tertunduk menatap sesuatu di atas meja makan. Jika ia tidak memulai, entah sampai kapan suasana seperti itu akan berlangsung.
        “Lo nggak kuliah?”
        Bomi menoleh cepat. Namun Himchan juga tak kalah cepat menghindari tatapan tersebut. “Hmm… tadi….”
        “Itu lo bawa apaan?” tanya Himchan lagi. Ia sadar Bomi tidak mempersiapkan jawaban atas pertanyaannya yang tadi. Belum lagi Bomi juga masih berpakaian rapih seperti saat ia ingin berangkat ke kampus.
        Mendengar suara Himchan, Bomi langsung menegakkan tubuhnya. “Oh, ini.” Cewek itu juga tiba-tiba teringat dengan masakan yang sengaja ia buat khusus untuk Himchan. “Cuma makanan buat Mas Himchan. Mas Himchan pasti harus minum obat, kan?”
        Himchan kemudian menggeser tubuhnya menjadi benar-benar berhadapan dengan Bomi. Ia menatap penuh minat kotak-kotak yang berisi makanan bawaan Bomi.
        “Bom, makasih ya. Gue nggak tahu gimana jadinya kalau nggak ada lo di sini.”
        Bomi sempat menghentikan kegiatannya saat ingin menuangkan nasi pada piring kosong. “Tadi juga kan Mas Yongguk sempet pulang,” ujarnya yang juga tersadar dan kembali melanjutkan kegiatannya yang sempat sedikit tertunda. “Dia juga pasti bakal ngelakuin sesuatu buat Mas Himchan,” lanjutnya.
        Himchan tersenyum saat menerima piring berisi nasi yang disodorkan Bomi padanya. Setelah menyadari perbuatannya, Himchan justru menjadi aneh sendiri karena hal tersebut.

***

        “Terus, mau bagaimana jadinya?” Suara Youngjae memecah keheningan di sana. Ia menatap Eun Ji seperti menuntut sebuah keputusan.
        “Kenapa, Ji?” Naeun, ia bertanya karena tidak mengerti apa-apa.
        “Eun Ji nggak mungkin pulang dengan wajah begini,” ujar Youngjae. Dan dengan jahilnya ia sengaja menyentuh luka di tepi bibir Eun Ji menggunakan telunjuknya.
        Eun Ji sendiri sontak mendaratkan sebuah pukulan tepat di bagian lengan Youngjae. Membuat Youngjae mengelus-elus lengannya yang terasa perih.
        “Apa Eun Ji mau ke rumah gue aja?” tanya Naeun, menawarkan diri. Berusaha mengabaikan ‘kekerasan’ yang dilakukan Eun Ji pada Youngjae.
        Eun Ji melirik Youngjae seolah mengatakan tidak mungkin bisa semudah itu untuk dijalani. Namun Youngjae memiliki tanggapan berbeda. Cowok itu justru seperti mendapat sebuah jalan ke luar dari masalahnya.
        “Gue yang bakal bilang ke orang tua lo.”
        “Bilang apa, Young?” seru Eun Ji dengan tatapan meremehkan.
        Youngjae tersenyum. Membalas tatapan meremehkan dari Eun Ji. “Udah bukan hal sulit untuk gue. Nanti gue bakal bilang ke Om Junhyung kalau gue mau ngajak lo ketemu keluaga besar gue.”
        Eun Ji dan Naeun sontak melebarkan mata mereka. Ide Youngjae tampak terlalu berbahaya untuk mereka.
        “Gimana sama Om Doojoon…”
        “Itu urusan gue.” Youngjae menyambar ucapan Eun Ji dengan nada enteng. “Tiga hari cukup untuk ngilangin lukanya, kan?”
        Naeun menatap Eun Ji intens. Memastikan seberapa besar luka Eun Ji yang hanya diberi waktu 3 hari untuk sampai benar-benar hilang. “Gue nggak bisa mastiin, Young.” Naeun terdengar tak yakin.
        Youngjae memutar bola matanya. Tidak puas dengan jawaban Naeun. “Cewek pasti kenal sama yang namanya make-up, kan? Dan jangan bilang kalian nggak bisa gunain itu?”
        Naeun melirik Eun Ji seperti meminta pembelaan. Namun si target justru tidak ingin ambil pusing untuk masalah tersebut. Dan Naeun hanya tersenyum dengan menunjukkan deretan giginya ke hadapan Youngjae.
        “Lo nggak ada jam?” seru Naeun mengalihkan suasana.
        Youngjae tesenyum penuh arti. Ia tahu Naeun bicara padanya. Belum lagi Youngjae memang hanya membawa diri ke sana. Tanpa ransel atau apa pun yang biasa ia bawa untuk kuliah.
        “Cuma pengen ketemu Eun Ji. Soalnya setelah ini kita nggak bakal ketemu sampai hari pernikahan kami. Soalnya gue ada urusan di luar kota. Dan gue yakin dia pasti bakal kangen berat sama gue,” ujar Youngjae penuh percaya diri. Di sampingnya, Eun Ji melirik kesal.
Dan sedetik kemudian, Youngjae tampak tersentak. Perlahan cowok itu menoleh ke tempat Eun Ji berada dengan tatapan penuh ancaman. Youngjae juga tampak mengeraskan rahangnya. Menahan sakit karena tadi Eun Ji dengan leluasa menendang kakinya di bawah meja.
        Eun Ji sendiri hanya mendengus. Tak terlalu ambil pusing dengan apa yang baru saja ia lakukan pada Youngjae.

***

        Yongguk menghentikan motornya di depan pagar rumah milik keluarga Chorong. Ia baru saja mengantar cewek itu pulang. Setelah Chorong turun dari boncengan motornya, Yongguk juga ikut menyusul cewek itu. Membukakan pintu pagar untuk Chorong masuk.
        “Katanya kamu buru-buru?” seru Chorong menatap Yongguk, bingung. Dan ia semakin dibuat bingung karena Yongguk justru menjawab dengan senyuman. Chorong sempat ingin mengalihkan tatapannya dari Yongguk. Namun cowok itu justru menangkup wajah Chorong dengan ke dua tangannya.
        Yongguk menatap Chorong, lembut. Semenjak ada kejadian pahit yang menimpa Chorong, membuat Yongguk justru semakin tidak ingin kehilangan cewek itu. Pacarnya yang nyaris saja dinihaki cowok lain. “Aku nggak mau pulang sebelum…” Yongguk sengaja menggantungkan ucapannya sambil mendekatkan wajah ke arah Chorong.
        Chorong mencengkeram erat tali tasnya. Dan sebisa mungkin menghindari Yongguk. Belum lagi wajahnya kini sudah terasa panas. Chorong hampir selalu sulit berekspresi di hadapan Yongguk semenjak kasus Changsub tersebut.
        Yongguk tidak melakukan apa-apa. Selain menatap wajah Chorong yang terlihat panik. Dan itu menjadi kebahagiaan tersendiri untuknya. Yongguk lalu menegakkan kembali tubuhnya. Menjauhkan wajah sambil menahan tawa.
        “Kamu banyak berubah ternyata.”
        “Hmm?” Chorong tampak tak siap dengan pernyataan Yongguk. Ia melemparkan tatapan bingung. Menuntut penjelasan pada cowok di hadapannya tersebut.
        Masih dengan sisa senyum diwajahnya, Yongguk mengulurkan tangan untuk mengusap lembut puncak kepala Chorong. “Mana Chorong yang agresif ke aku? Yang sering nekat nyusul ke kantor kalau nggak bisa ketemu aku.”
        Chorong semakin tertunduk dalam. “Semua udah nggak seperti dulu. Aku malu sama kamu.”
        Mendengar itu, Yongguk menarik Chorong ke dalam pelukannya. “Harusnya aku yang malu. Kita bakal nikah, tapi pakai modal milik Changsub.”
        Chorong mendorong tubuh Yongguk agar menjauh. “Kita udah sepakat buat nggak bahas itu, kan?”
        Yongguk sempat berdecak kecil. “Kalau nggak karena paksaan keluarga kamu, mungkin aku nggak bakal ngelakuin itu.”
        “Itu sebagai rasa terima kasih keluarga aku ke kamu,” Chorong berujar cepat.
        Terdengar desahan berat napas Yongguk. “Ah… aku nggak sabar buat minggu depan,” desisnya sambil beranjak menuju motornya.
        Tepat seminggu kemudian. Pernikahan yang semula antara Chorong dan Changsub, kini akan berubah menjadi Chorong dan Yongguk. Yongguk bersedia menggantikan Changsub untuk menikahi Chorong meski kondisi Chorong yang dalam keadaan hamil karena Changsub. Dan beruntung, keputusan tersebut bisa diterima oleh ke dua belah pihak keluarga. Termasuk keluarga Yongguk.
        Jika Yongguk merasa Chorong jadi lebih pemalu. Sebaliknya, Chorong menganggap Yongguk yang dingin, kini jadi sedikit lembut. Dan tidak dipungkiri jika akhirnya Chorong mengukir senyum.
        “Yong!”
        Suara Chorong membuat Yongguk membatalkan niat untuk memutar kunci kontak motornya. Cowok itu lalu menoleh ke tempat Chorong berada dengan tatapan penuh tanya. Menunggu apa yang ingin dikatakan cewek itu.
        “Bisa siapin kamar untuk kita di rumah kamu?”
        Yongguk membulatkan mata mendengar permintaan Chorong. “Kamu yakin bakal tinggal di rumah aku? Nggak takut kalau tiga adik aku gangguin kamu.”
        “Aku nggak mau denger penolakan,” tukas Chorong. Cewek itu kemudian hanya melambaikan tangan dan bergegas masuk ke dalam rumah. Tidak sampai menunggu Yongguk membalas lambaian tangannya.

***

        Berikutnya, 3 hari kemudian. Eun Ji masih berada di kediaman keluarga Naeun. Seperti yang dikatakannya, Youngjae berhasil mendapatkan kepercayaan dari orang tua Eun Ji. Sementara cowok itu sendiri berada di dalam flat apartmen disuatu tempat. Membantu Doojoon mengawasi salah satu perusahaan mereka yang berada di luar kota.
        Sebenarnya Youngjae masih harus di sana sampai beberapa mingguk ke depan. Namun ia hanya diberikan waktu selama 3 hari untuk membawa Eun Ji pulang dari rumah Naeun. Dan hari ini ia akan pulang hanya untuk hal tersebut. Setelahnya, ia harus kembali ke kota ini.
        Youngjae menyambar ransel yang sudah ia persiapkan. Saat sudah ingin meninggalkan kamar, Youngjae berbalik kembali karena ada sesuatu yang masih tertinggal. Entah apa yang dicari Youngjae dari dalam laci nakas kecil di samping tempat tidur.
        Youngjae mengeluarkan hampir semua barang yang berada di sana. Isinya didominasi kertas-kertas kecil yang Youngjae sendiri tidak tahu kertas apa. Youngjae membongkar hingga laci tersebut benar-benar kosong. Namun saat ingin membereskan kembali barang-barang tersebut ke dalam laci, ada sesuatu yang menarik perhatiannya.
        Sebuah amplop coklat yang sudah usang. Amplop yang keberadaannya cukup mencolok di antara lembaran-lembaran kertas kecil tadi. Youngjae memungutnya perlahan. Kemudian ia membuka lipatan teratas, lalu melirik ke dalamnya.
Youngjae sudah ingin membatalkan niatnya. Namun rasa penasarannya jauh lebih besar. Belum lagi memang banyak hal yang tidak ia ketahui tentang kehidupan masa lalunya. Terutama tentang orang tuanya. Dan Doojoon hampir selalu menghindari Youngjae jika mulai membahas masalah tersebut.
        Di sana Youngjae menemukan sebuah foto keluarga dengan 5 anak mereka yang masih cukup kecil-kecil. Dan yang paling menarik perhatian Youngjae adalah sosok wanita dalam foto tersebut. Samar, namun Youngjae seperti pernah bertemu dengannya.
        Saat menoleh, Youngjae melihat pantulan wajahnya dicermin. Memang sudah tidak terlalu mencolok. Namun sisa luka yang pernah ia dapati dari Minhyuk masih terlihat. Dan ada satu orang yang tiba-tiba ia ingat. G.Na.

***

        Kesibukan terjadi dikediaman keluarga Yongguk. Daehyun dan Jongup tampak saling membantu menggotong kardus-kardus dari dalam kamar Yongguk. Mereka meletakkan barang-barang itu di depan kamar Daehyun dan Jongup.
        Himchan baru muncul dari arah dapur. Ia mengawasi ekspresi wajah dua adiknya. Dan saat mengintip ke dalam kamar Yongguk, kakaknya itu sedang mengatur beberapa barang di dalam sana. Kamar tersebut sudah terlihat lebih lengang dari sebelumnya.
        “Kalau nggak ikhlas gue pindah ke kamar kalian, ngaku aja.”
        Yongguk yang mendengar suara berat Himchan, sontak menghampiri tiga adiknya yang kebetulan berada di lokasi yang sama. Ia melirik Daehyun dan Jongup yang tampak terkejut dengan ucapan Himchan. Sementara Himchan sendiri hanya berdiri menunggu jawaban. Masalahnya, di sini Himchan menjadi pihak yang ‘diusir’ dari kamar yang biasa ia tempati dengan Yongguk.
        Yongguk langsung mengerti tentang suasana yang terjadi. Ia menjadi yang paling bertanggung jawab di sana karena nanti, Chorong ingin pindah ke rumahnya.
        “Ini cuma untuk sementara kok, Him.” Yongguk, ia berkata pada Himchan dengan tatapan sedikit merasa bersalah. “Mungkin Chorong cuma pengen lebih deket juga sama kalian.”
        “Nyantai, Mas. Ini juga nggak bakal berlangsung lama.”
        Ke tiga adik-kakak tersebut menatap adik bungsu mereka dengan penuh minat. Jongup seperti memiliki pemikiran sendiri yang tidak bisa diterka kakak-kakaknya. Jongup melirik Himchan penuh arti.
        “Kalau cewek itu udah lulus kuliah, buruan lamar deh. Keburu diambil sama cowok lain,” ujar Jongup dengan tatapan menggoda pada Himchan. Ia lalu melesat pergi dari sana.
        Jongup menuju dapur untuk mengambil minuman. Namun pikirannya masih melayang pada sosok Himchan. Jika menggoda Himchan, Jongup hampir selalu mengaitkannya pada Bomi. Ya, cewek itu tentu sudah bercerita tentang kejadian antara dirinya dan Himchan saat guru tampan tersebut jatuh sakit beberapa hari lalu.
        Sementara itu, Himchan, Yongguk dan Daehyun masih terlihat saling sibuk dengan pikiran masing-masing.
        “Mas Himchan berniat ngelamar pacarnya mas yang mana?” Daehyun bertanya dengan tatapan polosnya. Ia memang mengetahui Himchan memiliki lebih dari satu pacar. Namun Daehyun tidak bisa memastikan mana yang akan dipilih Himchan.
        Belum sempat Himchan membuka mulut, ada seseorang yang datang. Seseorang yang sudah terbiasa datang ke rumah tersebut tanpa harus merasa seperti tamu. Bomi. Cewek itu muncul dengan membawa bungkusan ditangannya.
        “Jongup bilang kalian lagi kerja bakti.” Bomi mengangkat tinggi-tinggi bungkusan tersebut. “Nih, Bomi bawain es kelapa. Sekalian aku siapin, deh. Kalian lanjut aja dulu.”
        Yongguk melirik samar ke tempat Himchan berada. Mengawasi ekspresi wajah adiknya itu saat Bomi datang. Himchan bahkan tidak melakukan apa-apa saat Bomi melintas. Biasanya Himchan akan menghindari untuk menatap cewek itu. Tapi kali ini, Himchan seperti sulit memilih ekspresi yang pas saat itu.
        “Gue punya firasat kalau Bomi bakal jadi anggota keluarga kita,” bisik Yongguk dengan suara pelan. Dan bisa dipastikan hanya Daehyun yang mendengarnya.
        Daehyun menoleh cepat. “Maksudnya sama Jongup?”
        Yongguk balas menatap Daehyun dengan ekspresi datar. Ia juga tidak ingin menjelaskan lebih rinci karena sepertinya hanya Daehyun yang tidak mengetahui perkembangan hubungan Bomi dan Himchan.

***

        Youngjae menjemput Eun Ji di rumah Naeun. Setelah bertemu dua cewek itu di depan pintu utama, langsung saja Youngjae meraih pergelangan tangan Eun Ji.
        “Kita langsung ya, Na. Makasih untuk semuanya,” ujar Youngjae. Terdengar sangat terburu-buru. Setelah memastikan Naeun memberi respon, Youngjae benar-benar membawa Eun Ji pergi dari sana. Bahkan seperti tidak memberi kesempatan Eun Ji berpamitan lebih lama dengan Naeun.
        Sementara di luar, taksi yang ditumpangi Youngjae masih tampak menunggu. Youngjae lalu membukakan pintu taksi untuk Eun Ji. Setelahnya, mereka segera melesat menuju kediaman rumah Eun Ji.
        Selama setengah jam perjalanan, Youngjae dan Eun Ji hanya saling diam. Youngjae sibuk dengan pikirannya sendiri. Sedangkan Eun Ji memang masih ada rasa ‘malas’ untuk memulai pembicaraan. Terutama untuk cowok di sampingnya tersebut.
        Setelah memastikan Eun Ji sampai di rumah, Youngjae langsung berpamitan untuk pergi lagi. Masih dengan menumpang taksi yang sama, cowok itu meminta diantar menuju rumahnya. Suasana di sana tampak sepi karena ini adalah hari biasa. Zelo pasti sedang sekolah, sedangkan Doojoon juga sedang sibuk di luar kota. Mengurus perusahaan mereka yang lain.
        Youngjae berlari menuju kamarnya di lantai atas. Langkah cowok itu langsung menuju lemari. Membuka pintunya dan membuka laci yang ada di dalam lemari. Dari dalam sana Youngjae mengeluarkan sesuatu. Selembar foto lama yang tidak sengaja pernah ia temukan di rumah tersebut. Beberapa hari sebelum hari ulang tahunnya waktu itu.
        Foto wanita yang sama seperti yang Youngjae temukan di apartmen sebelum pulang ke rumah. Namun yang ia temukan di rumah adalah saat wanita itu bersama Doojoon.
        Youngjae kembali meneliti foto yang baru saja ia temukan. Kali ini tatapannya jatuh pada anak kecil yang dalam pangkuan ayahnya. Bukan hanya sekedar terlihat familiar. Tapi Youngjae benar-benar mengenali sosok anak kecil itu.

***

        Selang beberapa saat sampai di rumahnya, Eun Ji sempat beristirahat sebentar di sofa. Tidak lama kemudian, ia tampak bangkit dan melangkah menuju kamarnya. Tepat saat Eun Ji menyadari kedatangan ke dua orang tuanya. Cewek itu masih belum ingin membicarakan apa-apa pada mereka dan masih ingin menghindar.
        “Apa Doojoon akan ngehubungin G.Na untuk datang dipernikahan Youngjae sama Eun Ji?”
        Mendengar suara ibunya, sontak Eun Ji menghentikan langkah. Ia menoleh sambil mencari tempat persembunyian untuk bisa mencuri dengar atas obrolan ke dua orang tuanya. Terlebih menyangkut tentang Youngjae dan pernikahan mereka.
        “Aku belum yakin kalau suster G.Na yang bekerja di rumah sakit kita adalah ibunya Youngjae,” seru Junhyung menanggapi ucapan istrinya.
        Hyuna sedikit memutar badan untuk menghadap Junhyung. “Belum yakin bagaimana? Kita udah saling kenal sejak lama. Termasuk dengan Hyunseung, ayahnya Youngjae.”
        Junhyung mendesah berat sambil berpikir keras. Biar bagaimana pun, anggota keluarga terdekat harus tahu berita bahagia tersebut.
        “Dibicarain dulu aja ke Doojoon,” seru Junhyung akhirnya. “Takut kita salah ambil sikap.”
        “Gara-gara masa lalu Doojoon, G.Na dan Hyunseung. Youngjae dan Zelo yang harus jadi korban.”
        Eun Ji sudah tidak sanggup mendengar lebih jauh lagi meski hanya sekilas tentang keluarga Youngjae. Cewek itu memilih meneruskan langkah menuju kamarnya. Menutup pintu rapat-rapat, dan menghempaskan tubuh ke atas ranjang.
        “Jadi, Papa sama Mama udah kenal sejauh itu sama keluarganya Om Doojoon? Apa karena itu pula mereka gampang banget ngelurusin lamarannya Youngjae ke gue?”
        Mendengar cerita tentang Youngjae, membuat Eun Ji sepintas terbayang wajah cowok itu.
        “Tapi masalahnya, apa alasan Youngjae justru ngaku-ngaku ngehamilin gue? Apa ada yang dia incer di sini?”
        Eun Ji perlahan bangkit. Ia menatap layar ponselnya. Berniat mengontak seseorang. Dan sudah tertera nama ‘Youngjae’ di sana. Namun Eun Ji tidak langsung menghubungi nomor cowok itu. Pikiran Eun Ji masih melayang entah ke mana.
        “Suster G.Na,” gumam Eun Ji.

***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar