Jumat, 12 April 2013

KRIS WITHOUT WINGS (part 6)



        Seminggu kemudian, seluruh anggota keluarga Choi disibukkan dengan aktifitas di rumah baru mereka. Nyonya Choi tampak sedang menyiapkan minum untuk suami dan tiga putranya.
        Sehun menghempaskan tubuhnya di sofa yang saat itu belum sesuai dengan posisi sebenarnya. “Aku lelah…” disusul tuan Choi yang duduk di sebelahnya.
        Sementara itu Kris dan Luhan masih harus menggotong sebuah kardus lagi yang akan mereka bawa ke kamar Kris. Rumah baru mereka sama luasnya dengan rumah sebelumnya. Terdiri dari dua lantai. Namun disini hanya tersedia tiga kamar. Kamar utama rencananya akan dihuni oleh Luhan. Tuan dan nyonya Choi tidak mendapat jatah kamar karena kesibukan mereka di luar rumah yang sangat padat. Sehingga jika mereka pulang, Luhan yang akan mengalah untuk tidur di kamar Kris ataupun Sehun.
        “Apa kau tak menyesal dengan keputusan kita pindah?”
        Kris menghembuskan napas sebelum mereka meletakkan kardus besar tersebut di kamar baru Kris. “Sudahlah hyung. Jangan buat aku menyesal nantinya.”
        “Hyung…” Luhan dan Kris menoleh ketika Sehun muncul di ambang pintu. “Ayo turun. Ibu telah menyiapkan minuman untuk kita.” Sehun berbalik ketika mendapati anggukan dari dua hyungnya.

@@@

        Pagi itu Tao tampak tengah mencuci motor di halaman rumahnya. Tak lama sebuah mobil berhenti di depan pagar rumah keluarga Tao. Pemuda ini langsung melemparkan selang air kesembarang tempat karena menyadari siapa yang datang.
        “Kenapa pagi-pagi sudah sampai di rumahku?” tegur Tao.
        Pemilik mobil menurunkan kaca dan menampakkan seorang Chanyeol yang lengkap dengan sebuah kaca mata hitam bertengger di wajahnya. “Apa tidak boleh?” cibir Chanyeol.
        Tao hanya tertawa kecil menanggapi ucapan Chanyeol sambil berbalik kembali ke dalam pagar. Chanyeolpun turun dari mobil dan mengikuti langkah Tao.
        “Dari semalam aku menghubungi Kris, nomornya selalu tidak aktif.” Keluh Chanyeol yang memilih duduk di kursi untuk menunggu Tao menyelesaikan pekerjaannya.
        “Bagaimana kalau kita ke rumahnya?”
        “Aku memang berencana untuk itu.” Seru Chenyeol namun ada guratan kekecewaan di wajahnya. “Tapi aku lupa jalannya. Kita kan ke sana hanya sekali.”
        Tao ikut murung mendengar ucapan Chanyeol karena ia juga sedikit lupa jalan menuju rumah Kris. Tao menyiramkan air asal ke atas motornya. Tatapan Tao tak focus karena memikirkan sesuatu.
        “Bagaimana kalau kita coba cari saja, aku ingat nama daerahnya dan nama ayah Kris, Choi Gary kan?” cetus Tao sedikit memberi pencerahan. Seketika Chanyeol melirik Tao kagum.
        “Ayo pergi sekarang!” putus Chanyeol yang tanpa pikir panjang bergegas menuju mobil diikuti Tao yang begitu saja meninggalkan pekerjaannya mencuci motor.

@@@

        Luhan menuruni tangga mengikuti langkah Sehun. Sementara Kris menyusul di belakangnya. Sehun memilih duduk di samping ayahnya dan Luhan duduk di sisi Sehun satu lagi.
        “Biar aku yang bawakan, bu.” Paksa Kris sambil merebut nampan yang dibawakan nyonya Choi. Kris meletakkan nampan berisi minuman itu di tengah meja, lalu ia menghempaskan badan di samping ibunya. Tak lupa Kris berbaring dan menggunakan paha nyonya Choi sebagai bantal. Kris juga tak peduli meski kakinya yang panjang harus sampai menjuntai ke bawah.
        “Bagaimana sekolahmu, Sehun?” Tanya tuan Choi.
        Sehun menenggak isi gelasnya sampai habis sebelum menjawab pertanyaan ayahnya. “Masih seperti biasa. Tidak ada hal menakjubkan yang terjadi.”
        Nyonya Choi sendiri saat itu tengah mengusap puncak kepala Kris dengan lembut. “Kau sendiri, apa sudah memutuskan akan kuliah di mana?” Tanya nyonya Choi lembut.
        “Nanti akan ku pikirkan.” Jawab Kris seadanya.
        “Kuliah di kampus Luhan hyung saja, hyung.” Saran Sehun.
        Kris melirik Sehun tajam. “Aku tidak mau menyusahkan Luhan hyung.” Tegasnya namun tak mendapat respon apa-apa dari Luhan.
Sehun juga tak ingin memperpanjang urusan dengan Kris meski hanya mengenai kampus. Seperti teringat sesuatu, Sehun memutuskan untuk meninggalkan ruangan itu untuk sementara.
        Mata Luhan mengikuti arah langkah Sehun hingga adiknya menghilang di balik tembok. “Kris…” desis Luhan masih tetap mengawasi, takut-takut Sehun muncul dengan tiba-tiba.
        “Hmm…” Kris tampaknya malas untuk bersuara lebih dari itu.
        “Dokter Jaesuk merindukanmu.” Ujar Luhan seperti apa yang biasa ia katakan pada Kris.
        Kris mengacak rambutnya frustasi lalu memaksa dirinya untuk bangkit. Pemuda ini menghela napas dengan malas setelah melihat jam pada arlojinya.
        “Bukankah mobilmu di dalam? Pakai mobilku saja.” Tawar Luhan yang sudah mengulurkan kunci mobil. Karena posisi duduk lebih jauh, nyonya Choi yang menjadi perantara kunci tersebut untuk sampai ke tangan Kris.
        “Cepat sembuh ya sayang.” Nyonya Choi merengkuh wajah Kris dan mencium kening anaknya tersebut.
        Kris hanya sanggup merespon ibunya dengan senyuman. Cepat-cepat Kris bangkit untuk pergi dari sana.
        “Kris hyung mau kemana?” Tanya Sehun kepada siapapun yang berada di sana perihal kepergian Kris.
        “Mungkin Kris mau menemui Tao dan Chanyeol.” Bohong Luhan namun sangat bisa membuat Sehun percaya. Terbukti ketika Sehun sudah tak membahas hal tersebut lagi dan memilih duduk di sofa yang ditinggalkan Kris.

@@@

        Chanyeol menendang pagar rumah Kris yang tentu saja sudah kosong. Di sampingnya Tao berusaha menenangkan pemuda yang dianggapnya sebagai seorang playboy sejati.
        “Kau tidak pernah merasakannya!” cetus Chanyeol kasar. Napasnya tak teratur. Chanyeol memegangi dadanya yang mulai merasa sesak. Tubuhnya meluruh di depan pagar rumah mewah Kris. “Kau tidak pernah kan merasakan ditinggal teman terbaikmu seperti ini!”
        Perlahan Tao juga menjatuhkan tubuhnya di samping Chanyeol. “Kau pikir aku tidak terpukul dengan perlakuan Kris pada kita?” balas Tao namun nada bicaranya masih terdengar cukup tenang. Ia tak mau terbawa suasana kecewa pada diri Chanyeol.
        Chanyeol melirik Tao tajam. “Apa kau juga akan meninggalkanku seperti Baekhyun dan Kris?” tuduh Chanyeol.
        Tao mendengus kesal. “Jika iya, aku tidak akan mau menemanimu ke sini.” Sinis Tao namun semuanya sudah mewakili jawaban atas pernyataan Chanyeol padanya.
        Chanyeol segera bangkit menyusul Tao. Ia tak ingin lagi kehilangan teman terbaiknya seperti dulu. Tao berhenti tiba-tiba dan berbalik. Dihadapannya, Chanyeol menatap Tao penuh rasa bersalah.
        “Siapa yang telah meninggalkanmu sebelum Kris?”
        Chanyeol menunduk dan tak menjawab.
        “Jawab!” paksa Tao yang kini juga telah mencengkeram kerah baju Chanyeol. “Jangan tunjukkan penderitaanmu jika kau tak mau cerita.” Tegas Tao lalu dengan kasar melepaskan tangannya dari baju Chanyeol membuat pemuda itu sedikit terdorong kebelakang.
        “Maaf…” lirih Chanyeol menyesal.
        Setelah itu, Chanyeol dan Tao sudah dalam perjalanan pulang. Tao yang memutuskan untuk menyetir mobil Chanyeol. Sementara Chanyeol, duduk di sampingnya dan masih tenggelam dengan ingatan masa lalunya.
        “Namanya Baekhyun.” Mulai Chanyeol namun tatapannya tak tertuju ke Tao. “Dia teman masa kecilku. Ketika lulus SD, Baekhyun dan keluarga pergi tanpa ada yang mengabariku sebelumnya.”
        “Kenapa tak pernah kau ceritakan selama ini?” Tao bersuara dengan nada lembut.
        “Aku hanya tak ingin mengingat kejadian itu.” Lanjut Chanyeol masih dengan tatapan suramnya. “Dan sekarang, Kris juga melakukan hal yang sama padaku.” Mata Chanyeol berubah kecewa ketika mengingat Kris juga meninggalkannya tanpa jejak.
        Tao menghela napas berat, sementara tangannya dengan keras mencengkeran stir mobil. Dia juga kecewa dengan keputusan Kris yang menghilang tiba-tiba. Tapi Tao tak ingin menunjukkannya di depan Chanyeol.
        “Aku tau ini rumit. Tapi bukankah kita telah bersama bahkan sebelum Kris masuk ke dalam kehidupan kita?” ujar Tao mengingatkan persahabatan mereka yang terjalin jauh sebelum mereka bertemu dengan pemuda bernama Choi Kris Woo.
        Untuk pertama kalinya, Chanyeol melirik Tao dengan tatapan penuh rasa bersalah. “Maaf aku mengecewakanmu.”
        Tao hanya tersenyum dan tak ingin menambah keruh suasana. “Ayo kita persiapkan diri untuk masuk Universitas.” Seru Tao penuh semangat.

@@@

        “Jongin, susunya dihabiskan!”
        Jongin terburu-buru mengenakan sepatu. Bahkan bibirnya menjepit sebuah roti yang belum sempat ia makan. Setelah selesai, Jongin berdiri dan sedikit merapihkan pakaiannya. Jongin mengigit rotinya. “Ibu, aku berangkat.” Teriaknya dengan mulut yang masih penuh terisi roti.
        Sang ibupun muncul dari arah dapur. Mereka tinggal di sebuah apartmen sederhana. “Apa kau tidak menyesal jika tidak melanjutkan kuliah seperti teman-temanmu?” Tanya nyonya Kim untuk meyakinkan anak bungsunya itu.
        Jongin menghela napas berat. Ia sudah terlalu lelah untuk membahas mesalah ini. “Apa ibu tidak merindukan Suho hyung?” Jongin membuat nyonya Kim tak bisa menjawab pertanyaannya. “Ibu pasti tau bagaimana ayah. Kerinduanku pada hyung sudah tidak bisa terbendung lagi. Aku lebih memilih tidak kuliah dari pada harus semakin lama berjauhan dengan hyung.”
        Nyonya Kim berbalik untuk menyembunyikan air matanya.
        “Aku akan bekerja keras, bu.” Janjinya. “Dan suatu hari nanti aku akan kuliah seperti apa yang selalu ibu harapkan.” Perlahan Jongin melangkah mendekati nyonya Kim dan memeluk ibunya dari belakang. “Maaf jika aku mengecewakan ibu.” Lirih Jongin tepat di telinga ibunya.

@@@

        “Nanti ku telpon jika sudah pulang.” Seru Suho mengingatkan sebelum turun dari mobil mewahnya. Suho turun bukan karena telah sampai di tempat kuliahnya, tapi ia sampai di halte kedua sebelum benar-benar sampai di kampusnya.
        Rutinitasnya selalu seperti ini. Suho tidak akan pernah mau di antar sopir pribadinya sampai kampus. Ia hanya akan di antar sampai halte tersebut dan akan menunggu bus yang akan mengantarnya kuliah.
        Ternyata Kris melihat kejadian itu dari dalam mobil Luhan yang ia kendarai. Meski pakaian yang dikenakan Suho sangat sederhana, namun tidak bisa membohongi mata Kris kalau semuanya adalah keluaran brand termahal. Kris tersenyum karena teringat Luhan. Di hari pertama hyungnya kuliah, Luhan malah lebih memilih naik bus dari pada mengendarai mobil baru hadiah ayah mereka.
        “Ku rasa mereka cocok jika bertemu.” Seru Kris diiringi dengan pikiran jahilnya.

@@@

        Kris siap membuka pintu ruangan dokter Jaesuk. Kris mendengar percakapan dari dalam. Karena itu Kris memutuskan untuk tidak menerobos masuk. Kris menajamkan pendengaran, bukan karena ingin mengetahui pembicaraan dokter Jaesuk dengan tamunya, tapi karena suara tamu dokter Jaesuklah yang familiar di telinga Kris.
        “Kau sudah sampai, Kris?” tegur seseorang membuat Kris menoleh. Joongki.
        “Baru saja, hyung.” Jawab Kris.
        Tak lama terdengar seseorang memutar knop pintu membuat Kris sontak menegang. Sebelum orang tersebut benar-benar muncul, Kris memutuskan untuk menyingkir dan bersembunyi, namun ia masih bisa mengawasi dari sana.
        Jongki siap menahan langkah Kris, tapi terlanjur orang tersebut muncul dan Kris juga sudah lebih dulu bersembunyi.
        “Joongki, hyung?” tegur salah satu dari dua orang yang muncul dari ruangan dokter Jaesuk.
        “Chanyeol… Tao…” gumam Kris dari tempat ia bersembunyi. Pantas saja ia merasa sangat mengenal suara tersebut. Kris mengawasi pertemuan antara Joongki, Chanyeol dan Tao. Namun ia tidak bisa mendengar apa yang mereka bicarakan.
        Tangan Kris mengepal karena Chanyeol terlihat seperti mencecar Joongki. Disampingnya Tao berusaha untuk menahan emosi Chanyeol. Kris sadar, semua pasti berhubungan dengannya.
        Taopun berhasil memaksa Chanyeol pergi dari sana. Setelah itu, Kris baru berani menampakkan dirinya kembali di hadapan Joongki.
        “Hyung, maaf…”
        Joongki tersentak mendengar suara seseorang tepat di belakang kepalanya. Ia pun hanya tersenyum dengan kehadiran Kris. “Sudahlah, Kris.” Gumam Joongki, sementara tangan kanannya menyentuh pundak Kris menandakan ia baik-baik saja. “Chanyeol pantas melakukan itu.”
        Kris masih menatap Joongki penuh penyesalan. Joongki sendiri berkali-kali meyakinkan Kris bahwa ia tidak mempermasalahkan tentang Chanyeol tadi.
        “Tapi, kenapa mereka bisa ada di sini?” Tanya Kris heran.
        “Ku rasa pemuda yang bersama Chanyeol tadi adalah anaknya dokter Jaesuk.”
        Kris sukses terbelalak mendengar pernyataan Joongki. “Tao anaknya dokter Jaesuk?” ulang Kris untuk meyakinkan dirinya. Namun belum sempat Joongki menjawab, pintu ruangan dokter Jaesuk terbuka.
        “Kenapa kalian ribut-ribut di depan ruanganku?” omel dokter Jaesuk dengan kepala menyembul dari balik pintu. “Kris? Cepat masuk.” Perintahnya yang langsung dituruti Kris dan Joongki.

@@@

        Joongki menahan tangan Kris saat pemuda itu sudah meninggalkan ruangan dokter Jaesuk. “Apa kau tidak ingin memberi tau ku alamat rumahmu?” protes Joongki karena Kris memang masih merahasiakan alamat rumah barunya.
        Kris tertawa menanggapi pertanyaan Joongki. “Nanti akan ku kirim alamatnya.”
        Joongki hanya mengangguk lalu berbalik untuk kembali ke dalam ruangan dokter Jaesuk.
        “Hyung…” teriak Kris.
        Joongki menoleh setelah mendengar Kris memanggilnya. “Apa?”
        “Apa Chanyeol masih bermain basket?”
        “Tentu saja. Jika kau ingin kembali ke klub, kembalilah kapanpun kau mau, Kris.” Balas Joongki segera masuk karena masih banyak pekerjaan yang harus ia selesaikan. Sebenarnya, bukan itu alasan utama Joongki. Tapi ia hanya tidak ingin melontarkan pertanyaan yang mungkin tidak bisa ia tahan. Yaitu tentang Kris, apakah ia akan meninggalkan klub basket kebanggaannya itu.
        Kris mendesah setelah Joongki menghilang ke dalam ruangan dokter Jaesuk. Ia tau, Joongki pasti kecewa karena Kris akan meninggalkan klub basket yang sudah membuat hubungan keduanya sangat dekat. Tapi itulah Kris, ia hanya ingin orang-orang disekitarnya tak merasa kehilangan jika Kris pergi untuk selamanya. Terlebih di sana Chanyeol juga bergabung.
        Perlahan Kris berbalik tak hati-hati membuat ia tak bisa menghindari tubuh seseorang yang berlari ke arahnya. Benturanpun tak bisa dihindari. Kris menabrak tubuh seorang pemuda sehingga keduanya sedikit terpental kebelakang.
        “Maaf aku terburu-buru.” Kata pemuda itu cepat-cepat bangkit dan membantu Kris berdiri. “Apa kau baik-baik saja?”
        Kris hanya mengangguk sekilas untuk menjawab pertanyaan pemuda di hadapannya kini.
        “Sekali lagi aku minta maaf.” Kata pemuda itu sambil mengucapkan kata ‘maaf’ sekali lagi lalu pergi saat Kris kembali mengangguk.
        Mata Kris terbelalak melihat sesuatu tertinggal di sana. Kris menoleh ke belakang, namun pemuda tadi sudah tidak terihat. “Ceroboh sekali orang itu.”
        Kris memungut sebuah dompet dan sebuah map coklat berisi dokumen perkuliahan atas nama Byun Baekhyun.
        “Ku kembalikan besok saja.” Putus Kris lalu pergi dan tak lupa ia membawa serta benda yang ia temukan tadi bersamanya. Ia terlalu lelah hari ini dan ingin segera sampai ke rumah.

@@@

        “Gool…!” seru Luhan girang membuat Kris membanting stik PSnya, frustasi.
        “Biar aku yang membalaskan kekalahanmu, hyung.” Ujar Sehun yang tiba-tiba saja menyeruak di antara dua hyungnya. Luhan hanya bergeser sedikit, sementara Kris menyingkir dan pindah duduk di sofa belakang mereka. “Siap melawanku, hyung?” tantang Sehun pada Luhan sambil meraih stik PS yang ditinggalkan Kris.
        “Cih… jangan sombong, kau!” balas Luhan tak terima.
        Kris mengawasi dari belakang ketika Sehun dan Luhan memulai permainan mereka. “Sehun, oper!” perintah Kris yang ikut terbawa suasana permainan. “Shoot! Shoot!” teriaknya lagi untuk mengintimidasi adiknya.
        “Hyung! Berhenti memerintah!” protes Sehun yang merasa konsen trasinya sedikit terganggu atas ulah Kris. Namun pandangannya tetap tertancap pada layar tivi.
        Kali ini giliran Luhan yang melempar stik PSnya.
        “Kok berhenti, hyung?” Tanya Sehun bingung.
        “Aku lelah…” ujar Luhan sambil beranjak menuju sofa tempat Kris duduk sekarang. “Lagi pula, kau harus belajar. Cepat sana kembali ke kamar.” Perintah Luhan membuat Sehun cemberut. Bukannya menuruti perintah Luhan, Sehun malah ikut bergabung duduk di sofa. Ia mengambil posisi di samping Kris yang duduk di tengah-tengah.
        “Oiya hyung. Kau tau National University?” Tanya Kris kepada Luhan.
        “Tapi aku tidak tau pasti letaknya.” Jawab Luhan ragu.
        “Itu sekolah mahal hyung.” Sehun ikut menjawab pertanyaan Kris membuat kedua hyungnya menoleh. “Lebih mahal dari kampus Luhan hyung. Salah satu universitas bisnis terbaik di kota ini.” Lanjutnya.
        “Apa kau ingin kuliah di sana?” Tanya Luhan menyelidik. Kris hanya menoleh tanpa arti. “Lagi pula, bukankah kau juga punya minat menjadi pebisnis?” Tanya Luhan lagi namun tetap tak mendapat jawaban pasti dari Kris.

@@@

2 komentar:

  1. bener tuh yang dibilang Sehun??
    National Sehun university termahal??

    BalasHapus
  2. mahal tapi pergaulannya gak fair... suho pura2 miskin di sana,, padahal kuliah aja di anter sopir pribadi loh... *lope lope di udara buat SUHO*

    BalasHapus