Jumat, 26 Juli 2013

WANNA BE LOVED YOU (part 4)



Author              : Annisa Pamungkas
Main Cast          : Infinite (Sungyeol, Hoya, Sunggyu, Myungsoo,
  Dongwoo, Woohyun, Sungjong)
Original cast     : Hye Ra, Haesa, Eun Gi
Support cast     : (Boy Friend) Jeongmin, Hyunseong, Minwoo,
  Donghyun, Youngmin, Kwangmin
Genre               : romance, family
Length              : part

***

        Sebuah sepeda motor berhenti tepat di depan sebuah halte di mana Hye Ra duduk sendiri menunggu seseorang. Gadis itu menoleh tepat saat sang pengendara membuka kaca helmnya. Pemuda itu adalah Sungyeol.
        Hye Ra mendekati Sungyeol. “Oppa, kau yang menjemputku?”
        Sungyeol menyunggingkan senyumannya. “Kau keberatan? Di café tak ada yang bisa menjemputmu.”
        “Bukan. Tapi aku hanya…” Hye Ra tak melanjutkan ucapannya. “Ah, oppa. Bisakah kita ke suatu tempat sebentar?”
        Sungyeol melirik jam tangannya seperti mempertimbangkan permintaan Hye Ra. Sementara gadis itu menunggu dengan khawatir. Sungyeol menatap Hye Ra penuh arti. Dengan sangat menyesal Sungyeol menggeleng. “Café sedang ramai,” sesalnya.
        Hye Ra menghela napas. “Yasudahlah. Ayo kita kembali ke café.” Gadis itu memegang pundak Sungyeol lalu naik ke atas motor.
        Beberapa menit kemudian, mereka sampai di café. Dan Hye Ra segera melesat ke dalam meninggalkan Sungyeol. Gadis itu juga tak mempedulikan keberadaan Jeongmin di sana. Bahkan ketika Hyunseong menyapapun, gadis itu tetap berlalu ke dalam. Ia menuju ruangan Sunggyu dan merebahkan diri di kasur. Bahkan ia tak memberikan sapaan apapun pada kakaknya itu.
        Belum sempat Sunggyu beranjak dari kursinya, Woohyun tampak muncul dari balik pintu.
        “Kau kenapa?” tegurnya pada Hye Ra. “Mau aku masakkan sesuatu?” tawarnya.
        Sunggyu menatap adiknya, menunggu sampai gadis itu merespon ucapan Woohyun. Tapi tetap tak ada jawaban apapun dari Hye Ra. Sunggyu melirik Woohyun. “Buatkan saja,” ujarnya menanggapi tawaran Woohyun untuk Hye Ra.
        Woohyun hanya mengangguk sekilas lalu meninggalkan ruangan Sunggyu. Saat berbalik, ia mendpaati Sungyeol muncul dari dalam toilet. “Apa yang terjadi pada Hye Ra?”
        “Dia tidak cerita apa-apa, hyung.” Sungyeol dan Woohyun masih di sana beberapa saat, namun mereka saling diam. “Bagaimana keadaannya sekarang?” Tanya Sungyeol.
        “Ku rasa dia hanya butuh istirahat.” Woohyun sedikit enggan membahas Hye Ra lebih lanjut. Ia lebih memilih untuk kembali bekerja meninggalkan Sungyeol di sana.

***
        Seusai berlatih sepakbola, Hoya meninggalkan lapangan seorang diri. Namun langkahnya dihalangi seseorang. Sungjong.
        “Aku akan mengatakan langsung maksudku. Sepertinya Haesa mulai tertarik padamu. Dan yang ku tanyakan, apa kau menyukai gadis lain? Aku sangat butuh jawabanmu,” cecar Sungjong tanpa basa-basi.
Hoya tak langsung menjawab pertanyaan Sungjong. Ia tampak mengawasi sekitar. Hoya hanya sedikit menggerakkan kepalanya mengajak Sungjong untuk sedikit menyingkir dari sana.
        “Maaf Sungjong. Tapi ku rasa, kau belum berhak tau tentang aku menyukai gadis lain atau tidak.”
        “Tapi menurutku Haesa…”
        Hoya memotong ucapan Sungjong. “Katakan pada Haesa untuk tidak memiliki perasaan apapun padaku. Dia bisa menyukai pemuda lain. Myungsoo atau Dongwoo, mungkin.” Hoya bersiap meninggalkan Sungjong, namun pemuda itu menahan tangannya.
        “Aku tau kau pemuda baik. Kau tidak ingin menyakiti siapapun, terlebih pada seorang gadis.” Sungjong berkata setenang mungkin. “Tapi dengan caramu seperti ini, kau tidak sadar jika akan banyak yang kau sakiti tanpa sadar. Kau lihat Hye Ra tadi?”
        Hoya menoleh tajam saat Sungjong menyinggung soal Hye Ra. “Ada apa dengan Hye Ra?”
        “Kau pasti sadar gadis itu datang ke lapangan. Tapi ia langsung pergi begitu saja. Dan ku yakin penyebab utama Hye Ra seperti itu adalah karena dia melihatmu bersama Haesa.” Sungjong memberi jeda sesaat dalam ucapannya. “Walau aku belum genap seminggu sekolah di sini, tapi aku mengawasi hampir setiap kejadian di kelas. Dan yang paling mencolok adalah tentang kau, Hye Ra, Myungsoo, serta Dongwoo.”
        Terdengar helaan napas kasar dari Hoya. “Lalu, apa yang kau mau dariku?” Pemuda itu bicara tanpa menatap Sungjong.
        “Tidak ada. Tapi kalau bisa, kau bicarakan semua.”
        Hoya masih berusaha mencerna tiap kata yang meluncur dari bibir Sungjong. Bahkan setelah pemuda itu pergi, Hoya masih berdiri di sana beberapa saat.

***

        Sunggyu masih mengawasi adiknya yang tertidur. Gadis itu terlihat sangat lelap. Sampai akhirnya, Hye Ra mulai membuka matanya perlahan.
        “Apa tadi ada pelajaran olahraga di sekolah?”
        Hye Ra menoleh ke arah Sunggyu yang mengajaknya berbicara. “Sejak kapan oppa ada di sana?”
        “Jadi kau tidak menyadari aku ada di sini sejak kau datang?” Sunggyu berdecak kecewa karena Hye Ra melupakan kehadirannya.
        “Aku bahkan tidak ingat berapa lama aku tertidur.” Hye Ra bicara sambil mengusap matanya. “Sepertinya sudah hampir sore.”
        “Ini bahkan sudah malam.”
        “Benarkah?” Hye Ra terkejut medengar ucapan kakaknya. Ia lalu bergegas ke luar dari ruangan Sunggyu menuju toilet. Setelah membasuh wajahnya, Hye Ra kembali ke ruangan Sunggyu untuk mengambil ranselnya. “Oppa aku ingin pulang.”
        Sunggyu meninggalkan sejenak tugas kuliahnya. “Makan dulu,” ujarnya sambil menggerakkan dagu ke arah nampan berisi makanan yang tadi dibuatkan Woohyun untuk Hye Ra.
        “Aku makan di rumah saja. Oppa bisa mengantarku sebentar?” gadis itu sudah bersiap diri.
        “Kau ikut Hyunseong saja. Tadi dia ijin untuk pulang lebih cepat.”
        Hye Ra mengangguk lalu meninggalkan ruangan Sunggyu dan mencari Hyunseong. Kebetulan pemuda itu juga baru ke luar dari ruangan karyawan.
        “Oppa, boleh aku ikut pulang denganmu?” pinta Hye Ra.
        Hyunseong mengangguk tanpa berpikir terlebih dahulu. “Ayo,” ajaknya sambil merangkul Hye Ra. Namun tatapan gadis itu seperti mencari-cari seseorang. Tepatnya penghuni belakang meja bar. Siapa lagi kalau bukan Sungyeol. Tapi nampaknya pemuda itu sedang tidak berada di sana.
        Hye Ra akhirnya berhenti mencari dan hanya sedikit menundukkan wajahnya saat meninggalkan café.
        Satu yang tak mereka sadari, Sungyeol justru yang mengawasi mereka. Pemuda itu memang sengaja bersembunyi dari pandangan Hye Ra. “Bahkan semua orang yang ada di café ini sangat memperhatikannya,” gumam Sungyeol dalam hati. Tak ada lagi yang bisa ia perbuat kecuali kembali melanjutkan pekerjaannya.

***

        Sementara itu di kediaman keluarga Haesa, gadis itu tampak menuju halaman belakang rumahnya. Ia menghampiri Sungjong yang tengah menebarkan makanan ikan ke permukaan kolam. Serempak saja ikan-ikan peliharaannya berebut memakan makanan dari Sungjong.
        Sungjong menoleh karena merasa ada seseorang yang berdiri di sampingnya. Ia tidak mengatakan apapun saat mengetahui orang itu adalah Haesa.
        “Kau bicara apa dengan Hoya?” Tanya Haesa langsung ke intinya.
        Sungjong tak langsung menjawab. Ia memilih menyingkir menuju kursi panjang tak jauh dari kolam ikan. Haesapun mengikuti pemuda itu dan duduk di sampingnya.
        “Jujur padaku. Kau menyukai Hoya?”
        “Kau masih ingin membahas itu?” Haesa justru menjawabnya dengan kembali bertanya.
        Sungjong berdecak dan mengalihkan tatapannya kembali menuju kolam ikan. “Kalau begitu, kau tidak perlu tau apa yang aku bicarakan pada Hoya.”
        “Oke,” seru Haesa terdengar mengalah. “Aku mengaguminya. Hanya itu. Karena aku tau Hoya menyukai seseorang di kelas kita.”
        “Benar.” Sungjong mengangguk. Ia lalu melirik Haesa penuh arti. “Ternyata dugaan kita sama.” Pemuda itu kembali menoleh ke arah lain. Tatapannya seperti menerawang sesuatu. “Dan aku kasihan dengan gadis itu.”
        Haesa menarik pundak Sungjong agar pemuda itu menatapnya. “Kau juga menyukai Hye Ra?” Tanya gadis itu, sedikit tak mempercayai kesimpulan pikirannya.
        Sungjong meresponnya datar. Ia sama sekali tak terpengaruh dengan ucapan Haesa. “Mereka sama-sama suka. Tapi Hoya tampak menjauhi gadis itu dengan cara memanfaatkan keberadaanmu.”
        “Ku rasa itu bukan urusan kita.”
        “Karena kau terlibat, itu menjadi urusan kita juga.” Sungjong menunggu jawaban Haesa. Tapi gadis itu tak memberikan respon apapun. “Bagaimana jadinya jika kau yang berada di posisi Hye Ra? Aku tak ingin kau menjadi gadis yang bahagia di atas penderitaan gadis lain.”
        “Kau pikir aku sejahat itu?” Haesa melancarkan protes keras. Secara tidak langsung, Sungjong menuduhnya demikian.
        “Ku mohon kau cari tau tentang ini pada Hoya.”

***

        Hye Ra tengah mengikat tali sepatunya di teras rumah ketika Sunggyu telah bersiap di samping mobilnya. Pemuda itu melirik jam tangan lalu menatap adiknya penuh Tanya.
        “Biasanya kau cerewet jika jam segini kita masih di rumah,” komentar Sunggyu saat mendapati Hye Ra sudah beranjak menuju mobil.
        Hye Ra lebih memilih terlebih dulu masuk ke dalam mobil sebelum menjawab kecurigaan kakaknya.
        “Kau bertengkar dengan Hoya?” tebak Sunggyu.
        Hye Ra terlihat malas membahas Hoya pagi ini. “Lupakan pemuda itu untuk hari ini.”
        Sunggyu hanya mengangguk pelan. “Ku rasa si Hoya itu memang tidak pantas untukmu?”
        “Apa maksud oppa?” gadis itu melirik tajam kakaknya.
        “Tidak ada.” Sunggyu sama sekali tak merasa bersalah. Ia tetap berkonsentrasi menyetir. Dan setelah itu, tidak ada lagi yang mereka bicarakan sampai mereka tiba di sekolah Hye Ra.

***

        Saat istirahat tiba, Hoya, Haesa dan Sungjong segera menuju kantin. Mereka memilih meja sedikit lebih dalam. Sungjong bersandar di kursi sambil melipat tangannya di depan dada saat mengawasi Hye Ra yang baru saja datang bersama Myungsoo tentu saja. Tak lama bergabung Minwoo dan dua temannya yang kembar. Tidak hanya Myungsoo dan Minwoo saja yang terlihat akrab dengan Hye Ra, tapi dua anak kembar tadi juga.
        Sungjong melirik Hoya yang berada di sampingnya. Pemuda itu juga melancarkan tatapan menusuk ke meja yang dihuni Hye Ra. Sampai akhirnya, Haesa datang sambil membawa baki berisi makanan dan minuman pesanan mereka.
        “Ternyata gadis itu ramah kepada siapa saja. Hmm… aku jadi ingin dekat juga dengannya,” ujar Sungjong yang tanpa sadar membuat Hoya juga menatapnya tajam. Tapi sepertinya Sungjong memang sengaja melakukan itu untuk melihat reaksi Hoya.
        Sementara Haesa yang tidak tau apa-apa, menatap Sungjong dan Hoya bergantian.
        “Tak ku sangka gadis itu memiliki cinta yang tak terbalas. Padahal ku yakin, di sekolah ini banyak pemuda yang tertarik padanya. Sebut saja…” Sungjong sengaja sedikit mengulur ucapannya seolah-olah tengah berpikir keras. “Dongwoo.” Pemuda itu bicara masih tidak menatap Hoya.
        Seolah mengerti maksud ucapan Sungjong, Haesa menoleh ke belakang. Ia mendapati Hye Ra yang terlihat asik bersama empat pemuda disekitarnya.
        Hoya berdiri dan bergegas meninggalkan Sungjong dan Haesa.
        Kali ini Haesa yang menghadiahi Sungjong tatapan dingin. “Hentikan!” serunya lalu menyusul Hoya.
Sungjong sendiri sama sekali tak berniat menyusul Haesa dan Hoya. Ia justru lebih memilih menikmati makanannya yang sama sekali belum tersentuh tadi.
        “Hoya, tunggu!” teriak Haesa untuk menghentikan langkah Hoya.
        Tentu saja Hye Ra, Myungsoo dan yang lainnya mendengar Haesa meneriaki nama Hoya dan menyusul pemuda itu meninggalkan kantin. Tiba-tiba saja suasana hati Hye Ra berubah buruk. Myungsoo yang menyadari perubahan itu segera mengalihkan pikiran Hye Ra dari Hoya.

***

        Hoya berjalan tanpa mempedulikan keadaan sekitar. Termasuk teriakan Haesa yang saat ini tengah mengejarnya. Ia juga tak meminta maaf ketika tubuhnya membentur siapa saja yang dilaluinya.
        Haesa berhenti di ambang pintu dan sedikit membuatnya menjadi pusat perhatian. Gadis itu tak mempedulikan tatapan penuh Tanya dari teman-temannya. Ia segera melesat dan duduk di kursinya, tepat di samping Hoya.
        “Maafkan Sungjong,” sesal Haesa atas perbuatan saudara tirinya itu.
        “Lupakan,” balas Hoya datar. Pemuda itu sibuk membaca bukunya.
Tapi Haesa tau, apa yang Hoya lakukan itu hanya untuk mengalihkan keadaan. Gadis itu menarik paksa buku dari hadapan Hoya. Sayangnya setelah itu, tidak ada yang bisa dikatakan Haesa. Mereka hanya saling tatap.
        “Ikut aku,” paksa Hoya yang sudah menarik tangan Haesa dan membuat gadis itu tak bisa memberontak.
        Hoya membawa Haesa ke area parkiran mobil. Pemuda itu mengawasi sekitar sebelum kembali menatap Haesa. Tapi ia tak menyadari bahwa dari kejauhan Sungjong juga sedang mengarah ke sana.
        “Jadi kekasihku.”
        Haesa menatap Hoya datar. Tidak ada rasa keterkejutan sedikitpun karena Hoya juga mengatakan hal tersebut seperti tanpa ada maksud dan tujuan.
        “Aku tidak memiliki perasaan apapun padamu.”
        “Berpura-puralah.”
        “Maksudmu?” Haesa menatap Hoya bingung.
        “Aku kepikiran ucapan Sungjong kemarin.”
        “Kalau begitu abaikan saja,” Haesa memotong ucapan Hoya.
        Pemuda itu menggeleng. “Sungjong benar. Karena itu aku meminta bantuanmu untuk berpura-pura menjadi kekasihku. Hanya untuk di lingkungan sekolah saja dan itu tidak akan berlangsung lama.”
        “Jadi benar, kau…”
        Hoya menghela napas. Perasaan yang ia tutupi selama ini harus terbongkar. Meski setidaknya hanya untuk dihadapan Haesa. “Aku menyukai Hye Ra sejak hari pertama dia pindah ke sekolahku. Sekitar 2 tahun yang lalu,” jelas Hoya akhirnya meski terlihat berat ia mengatakan itu.
        “Kenapa kau tak mengatakan perasaanmu itu padanya?”
        “Ini bukan hanya sekedar masalah mengatakan perasaan saja.” Saat mengatakan hal itu, Hoya tampak seperti menahan emosinya agar tidak memuncak. “Jika aku mau, aku sudah mengatakannya sejak lama.” Hoya memutuskan kontak matanya terhadap Haesa. Ia bersandar di badan mobil.
        “Lalu?”
        Hoya mendongak, berusaha mencari kata yang tepat untuk bercerita. Selama ini memang tidak ada yang mengetahui alasannya menjauhi Hye Ra.
        Pemuda itu menghela napas sebelum mulai bercerita. “Alasanku tak berani mendekat apalagi mengatakan perasaanku pada Hye Ra, karena aku tak ingin meninggalkannya dalam keadaan dia sebagai kekasihku. Apalagi aku tau dia juga memiliki perasaan padaku. Setelah lulus nanti, aku akan menetap di Jepang dan tidak akan kembali ke sini.”
        Haesa mendengarkan cerita Hoya dalam diam. Meski tak bisa dipungkiri, ia juga terkejut saat Hoya mengatakan akan menetap di Jepang.
        “Seharusnya aku sudah pindah ke Jepang sekarang. Semua keluargaku sudah di sana sejak tahun lalu. Dan tersisa aku di sini. Aku bertahan karena aku ingin melihat Hye Ra lebih lama lagi sebelum benar-benar pindah ke Jepang,” lanjut Hoya.
        “Tapi bukankah kalian tetap akan bisa berkomunikasi?”
        “Resikonya besar. Aku sudah memikirkan itu sejak lama. Tak bisa dipungkiri, aku takut berpindah ke lain hati saat aku dan Hye Ra sudah memiliki hubungan khusus tapi kami berada di tempat yang berjauhan. Terlebih dalam jangka waktu yang lama.”
        Haesa diam tak sanggup membalas ucapan Hoya. Mereka menoleh bersamaan saat menyadari ada seseorang yang mendekat.
        “Jadi kau lebih memilih menyembunyikan perasaanmu pada Hye Ra?” Tanya orang itu yang ternyata adalah Sungjong.
        Hoya sudah membuka mulutnya, tapi tidak ada satu katapun yang keluar. Sampai akhirnya Sungjong yang mendekat dan menepuk pundak Hoya.
        “Aku tau itu pilihan yang sulit.” Kali ini Sungjong menatap Haesa. “Apa kau mau membantu Hoya?”
        “Sejujurnya aku tak tega melakukan itu, tapi ku rasa…” Haesa tak langsung berujar. “Ah, kalau memang itu yang terbaik. Ayo kita lakukan.”
        Hoya mengembuskan napas, lega. Tapi ia tak tau apakah ia bisa benar-benar lega setelah ini. Karena bisa dipastikan jarak antara dirinya dan Hye Ra akan semakin jauh.

***

        Beberapa menit lagi istirahat akan segera selesai. Myungsoo yang terlebih dulu mengajak yang lainnya untuk kembali ke kelas. Menyusul si kembar Youngmin dan Kwangmin di belakang Myungsoo. Sementara Minwoo sengaja mengajak Hye Ra untuk memperlambat langkah mereka.
        “Noona, berjanjilah padaku.”
        Hye Ra menoleh. “Berjanji untuk apa?”
        “Jika Hoya mulai membuatmu sakit hati, kau harus segera menemuiku karena aku yang akan menghiburmu.”
        Mata Hye Ra berbinar menanggapi perhatian adik sepupunya itu. Di banding dengan Myungsoo, Minwoo memang sangat perhatian padanya. “Apa kau akan membelikanku es krim?”
        “Bukan hanya es krim, kau boleh meminta apapun dariku asal kau tidak bersedih lagi,” seru Minwoo meyakinkan.
        Hye Ra yang terlalu senang, memeluk Minwoo dengan penuh semangat.
        “Tapi itu hanya berlaku jika kau disakiti Hoya. Kalau kau bertengkar dengan Myungsoo hyung atau Sunggyu hyung, aku hanya bertanggung jawab menemanimu, tidak mentraktirmu apapun,” lanjut Minwoo sebelum Hye Ra menyalahgunakan kebaikan hati Minwoo.
        “Tapi setidaknya itu lebih baik. Dari pada Myungsoo. Dia malah memojokkanku dengan Dongwoo,” seru Hye Ra dengan nada kesal.
        Minwoo seketika tertawa membuat Hye Ra melepaskan pelukannya. “Noona jangan marah. Setidaknya aku tidak ikut memojokkanmu dengan Dongwoo hyung, kan?” rayu Minwoo sambil mengejar Hye Ra.
        Hye Ra menghentikan langkah lalu berbalik. Kali ini giliran ia yang menertawai Minwoo. “Kau lucu sekali jika panic seperti itu,” ujarnya sambil mengacak rambut Minwoo.
        Minwoo hanya mendengus kesal karena ternyata Hye Ra mengerjainya.
“Jangan marah…”
        “Iya, nona…” Minwoo menunjukkan senyumnya.
        “Kembalilah ke kelas, dan… terima kasih atas tawarannya.”
        Minwoo mengangguk sebelum berjalan ke arah yang berlawanan dengan Hye Ra. Dan Hye Ra juga kembali ke kelasnya. Di sana tampak Myungsoo yang berdiri di ambang pintu. Pemuda itu seperti menunggunya.
        “Kenapa jalanmu lama sekali?” protes Myungsoo.
        “Aku hanya mengobrol dengan Minwoo,” jelas Hye Ra. Mereka juga tak langsung kembali ke dalam.
“Mengobrol apa?” Tanya Myungsoo ingin tau.
“Rahasia,” ucapan Hye Ra membuat Myungsoo sedikit cemberut.
Dan tak lama kemudian, tampak Hoya dan Haesa muncul dari arah koridor. Hye Ra tampak memutar matanya lalu menarik Myungsoo ke dalam seolah tak mempedulikan kehadian dua orang tadi.
        Hoya menghela napasnya. Sementara Haesa hanya mengusap lengan Hoya sebagai upaya menenangkan pemuda itu. Hoya justru berjalan lebih cepat meninggalkan Haesa di belakangnya.
        Saat akan menyusul Hoya ke dalam, tangan Haesa di tahan oleh Sungjong yang berada di belakangnya. Pemuda itu seakan menanyakan apa yang baru saja terjadi di sana.
        “Kurasa efeknya mulai terjadi,” ujar Haesa, lalu melanjutkan langkahnya masuk ke dalam kelas.
       
***

        Hari ini Hye Ra pulang sendiri dari sekolahnya menggunakan kendaraan umum.  Setelah bel pulang berdentang, ia bergegas menuju halte untuk menunggu bus. Saat baru memasuki pintu café, ponselnya bergetar. Sebuah panggilan dari Myungsoo.
        “Aku baru saja sampai di café,” seru Hye Ra setelah menempelkan ponselnya ke telinga.
        “Aku mencarimu, dan kau ternyata telah sampai di café?” pekik Myungsoo dari seberang sana membuat Hye Ra harus sedikit menjauhkan ponsel dari telinganya.
        Hye Ra duduk di kursi andalannya di belakang meja bar. Di sana juga ada Sungyeol yang tengah sibuk membuat minuman. “Sudahlah, jangan bahas itu. Ada apa memangnya kau sampai menelponku seperti ini?”
        “Tidak ada. Aku hanya ingin menelpon.”
        Hye Ra memutar matanya mendengar ucapan Myungsoo. “Astaga! Kita bahkan bertemu setiap hari di kelas.”
        Myungsoo terkekeh mendengar ucapan Hye Ra. “Ya sudah, aku mau pulang. Minwoo sudah sampai,” ujar Myungsoo sebelum memutuskan sambungan telponnya.
        Hye Ra melirik ke arah Sungyeol yang baru kembali setelah mengantarkan pesanan pelanggan. “Sepertinya kau sibuk sekali, oppa?”
        Sungyeol hanya melirik sekilas sambil tersenyum karena masih ada minuman yang harus ia buat. “Yaah… begitulah.” Sungyeol siap mengantarkan minuman lagi untuk pelanggan. “Tunggu sebentar, ya.”
        Tak lama Sungyeol kembali setelah mengantarkan minuman pelanggan. Sementara Hye Ra, seperti biasa, sudah kembali disibukkan dengan tugas sekolahnya.
        “Mau ku buatkan minuman?” tawar Sungyeol sambil menyentuh pundak Hye Ra dengan satu jari.
        Hye Ra tampak menimbang-nimbang tawaran Sungyeol. Tapi ia sama sekali tak menemukan jenis minuman yang ia inginkan sekarang. “Apa kau bisa merekomendasikan sesuatu?”
        “Hmm…” Sungyeol juga tampak berpikir. “Bagaimana kalau stroberi milk shake?”
        “Ide bagus, oppa.” Hye Ra tampak berbinar dan langsung berubah penuh semangat.
        “Oke, tunggu sebentar.”
Setelah itu Sungyeol tampak sibuk membuatkan minuman untuk Hye Ra, sementara gadis itu kembali berkutat dengan tugas sekolahnya. Tak butuh waktu lama untuk Sungyeol menyajikan minuman tadi di hadapan Hye Ra.
        Sungyeol menunggu reaksi Hye Ra setelah meminum minuman buatannya. “Bagaimana? Kau suka?” Tanya Sungyeol antusias.
        Hye Ra mengelap tepi bibirnya menggunakan tangan. “Kau hebat, oppa.”
Terdengar pujian untuk Sungyeol dari bibir Hye Ra membuat pemuda itu terlihat sangat puas dengan hasil karyanya. Lalu gadis itu kembali menyeruput minumannya.
        “Ku harap kau tidak pernah lupa bahwa aku sangat menyukai stroberi milk shake. Tidak seperti Hyunseong oppa. Dia sering tertukar dengan minuman kesukaan Sunggyu oppa.”
        Sungyeol terkekeh mendengar cerita Hye Ra. “Bagaimana dengan Jeongmin?”
        Hye Ra terlebih dulu mengawasi sekitar. Lebih tepatnya mencari tau di mana keberadaan Jeongmin saat ini. Ternyata pemuda itu masih berada di meja pelanggan. “Dia lebih payah dari Hyunseong oppa. Dan ku sarankan, jangan pernah menyerahkan tugasmu padanya. Karena dia bisa mengacaukan segalanya.”
        Dan kali ini Sungyeol justru tertawa sedikit lebih keras dari yang sebelumnya. Bahkan Hye Ra pun ikut terbawa suasana untuk tertawa.
        “Apa yang kalian tertawakan?” tegur seseorang.
        Tiba-tiba tawa Hye Ra dan Sungyeol berhenti. Saat mengetahui pemuda yang menegur mereka adalah Jeongmin, tawa mereka kembali tersulut, bahkan lebih keras lagi dari yang lain.
        “Hentikan!” omel Jeongmin yang merasa ada yang tak beres dengan kedua orang itu. Dan tentu saja Hye Ra dan Sungyeol belum ingin menghentikan tawa mereka.

***


14 komentar:

  1. hahaha..
    Minwoo kocak banget..
    aku juga mau dong di traktir makan es krim kalo lagi sedih.. pasti lebih menyenangkan kalo Minwoo yang beliin, apalagi makannya ditemenin sama Minwoo... hmmm....
    mau.. mau.. mauuu...

    hmmm...
    lagi2 ada unsur2 stroberi...
    yang ini stroberi milk shake lagi.. zzzzz....
    jadi pengen kan... author harus tanggung jawab nih..

    BalasHapus
  2. author juga pengen... itu nulisnya karena lagi ngidam milk shake stroberi...
    aku juga mau ditemenin Minwoo nya boyfriend... huhuhu

    BalasHapus
  3. nah pengen juga kan?? hahaha
    owh.. pantesan..
    aku sekarang lagi ngidam kue tart stroberi nih..
    bikinin cerpen atau dimasukin novel aja dong ada kue tart stroberi.. yah yah yah???
    hahaha
    mau aja apa mau banget?? kan aku udah nge tap in duluan sama Minwoo boyfriend.. hehehe :)

    BalasHapus
  4. akh telat,,, di part 3 Myungsoo bawa rainbow cake... coba bilang, kan bisa di ganti sama stroberi cake...

    BalasHapus
  5. ya udah, di sini author sama bang Yeollie aja...

    BalasHapus
  6. hahaha
    iya sih telat bilangnya.. soalnya baru ngeliat di tv, kmrn itu ada yang makan stroberi cake.. dan kayanya enak banget gtu.. warnanya merah2 campur creamnya yang putih2 gmna gtu.. hmmm.. makin nyes aja ngeliatnya..
    hmmm... yummy banget gtu ngeliatnya..
    jadi pengen stroberi cake kan... *ngelap bibir ala Donghae*

    hihihi
    iya gpp author sama bang Yeollie aja, kan author udah banyak biasnya.. bagi2 bias dong..

    BalasHapus
  7. ya tapi jangan bias gue juga yang lo ambil *Minwoo boyfriend*

    BalasHapus
  8. hahahaha
    owh iu bais mu yah?? wkwkwk
    kiraiin ga ada yang mau ngakuiin..

    eh, bikin FF yang main cast nya boyfriend dong..

    BalasHapus
  9. ish!!!
    FF Boyfriend??
    udah rencana sih, tapi nanti ya...
    soalnya masih ada proyek FF yg masih ngantri...
    FF 3shoot aja belom lanjut sama FF yg main castnya MBLAQ...

    BalasHapus
  10. iya maksudnya FF boyfriend..
    okeh dedh chagi..
    gomawo author.. :)
    apaan aja tuh masih ngantri FF nya??
    FF 3shoot spa yang maen??
    oh MBLAQ blm dibikin juga yah??

    BalasHapus
  11. FF 3shoot nya random, ada yonghwa, jonghyun, GO, dongjun, sungyeol, changmin, taeckyeon, siwon, hyunseung... hmm cek aja di label 3shoot...

    BalasHapus
  12. buset..
    itu kayanya yang pertama, kedua sama ke empat bias kau semua itu.. ckckckck
    iya ntr di cek..
    judulnya apa??

    BalasHapus
  13. sungyeol ke 5, bukan 4... hmmm

    BalasHapus
  14. eh iya.. salah ngitung.. wkwkwkwkwk
    udah sih gpp sama yang ke 4 juga, cakep juga ko.. hahahaha

    BalasHapus