Rabu, 12 Februari 2014

BLUE FLAME BAND 2 (part 10)



Author              : Annisa Pamungkas (@nniissaa11)
Main Cast          :
·        Lee Joon/Changsun (Mblaq)
·        Lee Minhyuk (BtoB)
·        Jung Yong Hwa (CN Blue)  
Original cast     : Hye Ra, Soo In, Minjung, Sung Hye, Han Yoo
Support cast     :
·        Im Siwan (Ze:a)
·        Nichkhun Horvejkul (2PM)
·        Yoon Doojoon (Beast/B2ST)
·        Luhan (Exo-M)
·        Im Yoona (SNSD)
·        Choi Minho (SHINee)
·        Choi Sulli (F(x))
·        Kim Himchan (B.A.P)
·        Lee Sungmin (Super Junior)
·        Cha Hackyeon ‘N’ (VIXX)
Genre               : romance
Length              : part

***

        Usai menggelar konser malam tadi, ke lima member ‘Blue Flame’ beserta hampir seluruh orang yang terlibat dalam konser tersebut kembali ke hotel dan langsung beristirahat di sana. Karena di pagi hari mereka ada rapat untuk membahas rencana konser berikutnya, juga rencana konsep untuk MV (Musik Video) single di album terbaru ‘Blue Flame’ yang baru selesai di rekam semalam.
Setelah tiga jam lebih, akhirnya rapat selesai dan itupun hanya untuk membahas evaluasi konser terakhir mereka semalam serta persiapan untuk konser berikutnya.
        “Kalian jangan pergi dulu,” perintah Sungmin untuk ke lima pemuda tampan ‘Blue Flame’ tersebut yang hampir saja meninggalkan ruang rapat menyusul yang lain. “Harusnya dua jam lagi kita bisa berangkat, tapi tadi aku dapat berita pesawat kita terpaksa tunda. Mungkin bisa sampai sore.”
        Semua member ‘Blue Flame’ mendesah kecewa mendengar ucapan Sungmin tadi. Tak terkecuali. Ke limanya sudah sangat ingin pulang. Namun mereka terpaksa bertahan beberapa waktu di hotel. Doojoon, Siwan dan Nichkhun sudah kembali menempati kursi mereka seperti tadi. Di susul Joon dan Luhan kemudian.
        “Kalian sudah terima CD rekaman kalian kemarin?” tanya Sungmin akhirnya. Sedikit memecah keheningan. Yang lain hanya menjawab dengan anggukan. Luhan bahkan kembali terpejam di kursinya. Mereka memang mengalami lelah yang luar biasa. “Tanganmu bagaimana Siwan?”
        “Sudah lebih baik, hyung,” seru Siwan. Semalam ia memang sedikit mengalami cedera di bagian pergelangan tangan saat konser.
        “Apa kita ada rencana untuk membuat album ‘repackage’?”
        Sungmin menatap Nichkhun penuh arti. “Sudah lama hal itu ada dibenakku. Tapi tidak mungkin untuk jangka waktu dekat. Projek untuk album-album terbaru terus bermunculan.”
        “Apa kita setenar itu?” gumam Joon sedikit tak semangat yang saat itu menopang wajahnya menggunakan tangan dengan posisi kedua sikunya menempel pada permukaan meja. Membayangkan dirinya akan semakin sibuk layaknya momok menankutkan.
        Sungmin mengangguk mantap. “Kalian sedang berada di puncak saat ini.”
        “Kalau begitu, maanfaatkan peluang yang ada. Dan aku juga sangat ingin memiliki album ‘repackage’ tersebut,” timpal Doojoon.
        “Bisakah kita yang memilih lagunya? Aku sangat ingin ‘Here I Am’ muncul lagi,” sahut Siwan penuh semangat yang secara tidak langsung sudah ikut menyetujui rencana untuk album ‘repackage’ tersebut.
        Luhan tiba-tiba mengangkat salah satu tangannya. Meski setengah tertidur, Luhan tetap menyimak obrolan menejer bersama teman-temannya yang lain. “Aku ingin lagu ‘Heart Attack’.”
        “Bagaimana kalau ‘Tired Of Waiting’ juga?” kata Nichkhun yang ikut menyuarakan pikirannya.
Joon dan Doojoon saling melempar tatapan seolah mereka saling menanyakan lagu apa yang mereka pikirkan untuk masuk ke album ‘repackage’ tersebut.
        “Bagaimana kalau ‘Shadow’?” ujar Doojoon akhirnya.
        Dan hanya Joon yang tersisa membuat yang lain penasaran dengan pilihan leader mereka tersebut. “Hmm… ‘Where You Are’?” ujar Joon yang terdengar sedikit ragu. Memang karena sedang tidak ada satupun lagu ‘Blue Flame’ yang sedang dipikirannya.
        “Sudah ku duga kau akan memilih lagu itu, hyung.” Luhan tampak membuka mata dan menatap Joon setengah menggoda. Ia teringat kejadian saat Hye Ra menghilang dan Joon harus merekam lagu tersebut. Leader ‘Blue Flame’ itu benar-benar melakukannya dari hati. Sementara yang lain terkekeh mendengar perkataan Luhan, juga karena tatapan membunuh yang ditunjukkan Joon.
        “Apa kau tidak ingin memasukkan satu lagu, hyung?” tanya Nichkhun pada Sungmin yang seolah bisa menebak pikiran menejernya itu.
        “Bolehkah?” Sungmin justru balik bertanya karena ia merasa hanya sebagai menejer dan tidak berhak ikut campur dalam selera bermusik anak-anak ‘Blue Flame’. Apalagi jika sampai membentuk sebuah album.
        “Kenapa tidak? Kau juga bagian dari ‘Blue Flame’, hyung,” timpal Doojoon.
        Sungmin berpikir sesaat. “Aku suka dengan lagu… ‘Cry’,” ujar Sungmin akhirnya. Yang lain mengangguk setuju dengan pilihan Sungmin.

***

        Aku mendapat libur sebentar. Nanti malam aku sampai dan akan langsung menemuimu. Jangan di tunda, atau kau akan sulit menemuiku.
       
        Setelah membaca pesan dari Joon tersebut, Hye Ra sontak melebarkan mata. Sedikit tak percaya jika kekasihnya yang juga artis terkenal itu akan pulang dan menemuinya. Gadis itu melirik jam dinding di kamarnya yang baru menunjukkan pukul 1 siang.
        Hye Ra kemudian melirik meja kecil di samping tempat tidurnya yang terdapat dua buah bingkai foto berisi foto Joon dan dirinya di masing-masing figura. Hye Ra lalu menyambar figura berisi foto Joon dan membawanya ke meja belajar. Gadis itu menuliskan sesuatu di atasnya menggunakan spidol.


        Sesaat Hye Ra menatap penuh kagum hasil karyanya tersebut sambil tersenyum. Setelah mengembalikan foto Joon ke tempat semula, Hye Ra membuka lemari dan mengambil pakaian yang akan ia gunakan hari ini. Lalu ia bersiap untuk pergi. Jadwalnya hari ini cukup banyak. Selain ikut mengawasi renovasi gedung untuk butiknya nanti, gadis itu juga memiliki janji dengan Sulli untuk mengantarkan gaun pesanannya. Dan setelah itu, menemui Joon pastinya.

***


        “Jadi hyung sudah memiliki kekasih? Dan memang benar bukan Yoona,” pikir Minhyuk yang saat itu tak sengaja menemukan sebuah majalah lama di atas meja. Pemuda itu sedang berada di gedung calon butik Yoona dan Hye Ra. Himchan dan Hackyeon juga sudah berada di sana. Saat ini mereka beserta pekerja yang lain sedang beristirahat.
        Pikiran Minhyuk kembali melayang ke kejadian tadi pagi saat ia menemukan sebuah majalah edisi lama. Judul artikel tentang ‘Blue Flame’ masih terbayang jelas di otaknya. BLUE FLAME MEMILIKI KEKASIH.
        “Selamat siang semuanya…” seru Hye Ra penuh ceria. Gadis itu baru saja memunculkan diri di balik pintu. Hampir semua orang yang ada di sana langsung menoleh. Tak terkecuali Minhyuk.
        “Ku pikir kau tidak datang?” sahut Himchan dari arah dalam.
        Hye Ra melangkah dengan riang lalu duduk di hadapan Minhyuk. “Mana mungkin aku tidak datang. Yaah… walaupun aku juga tidak mungkin sampai sore di sini,” serunya sedikit merasa bersalah. “Aku masih ada sedikit kesibukan lain di luar.”
        Himchan hanya mengangguk tak keberatan. “Oh, iya. Ini titipan dari Hackyeon,” kata Himchan yang bahkan sudah memutar laptopnya hingga kini menghadap Hye Ra. Gadis itu menerimanya dengan tatapan berbinar.
        Di tempatnya berada, Minhyuk pura-pura sibuk dengan majalah di hadapannya. Padahal sesekali ia sedikit mengawasi Hye Ra lewat sudut matanya. Cukup cemburu melihat kedekatan keduanya. Minhyuk menoleh ke arah lain karena ia mendengar sebuah kekehan kecil. Dan ternyata itu perbuatan Hackyeon yang tidak bisa menahan tawanya melihat ekspresi kesal di wajah Minhyuk. Minhyuk sendiri hanya mengeluarkan tatapan membunuhnya pada Hackyeon.

***

        Pesawatku mungkin akan mendarat sekitar jam 8. Aku minta tolong kau untuk menjemput.

        Yong Hwa hanya membalas singkat pesan kakaknya itu dengan jawaban yang menandakan ia menyetujui untuk menjemput Sungmin di bandara jam 8 malam nanti. Pemuda itu menggenggam stir dengan ketat.
Jika beberapa hari yang lalu ia tidak bertemu dengan Hye Ra, mungkin keadaannya tidak akan seperti ini. Ia tidak akan sakit hati membayangkan Hye Ra dan Joon akan bertemu. Yong Hwa memang sudah bisa menerima keberadaan Sulli, namun ia tak semudah itu melepaskan Hye Ra.
        Yong Hwa melirik jam di tangannya. Saat itu masih pukul 6 sore. “Aku masih ada waktu bertemu Sulli,” ujarnya seorang diri lalu menjalankan mobilnya untuk menuju rumah Sulli.
        Sekitar setengah jam, Yong Hwa sudah benar-benar tiba di rumah keluarga kekasihnya itu. Namun Yong Hwa sendiri tak langsung meninggalkan mobilnya. Sudah ada mobil Hye Ra juga di sana.
        “Apa Minhyuk juga ada di sana?” serunya khawatir sambil menatap bangunan mewah itu dari dalam mobilnya. Karena terakhir kali ke sana, Minhyuk datang bersama Hye Ra, gadis yang pernah dicintainya. Dan mungkin sampai detik ini perasaan itu masih tersisa.
        Yong Hwa memaksakan tubuhnya untuk ke luar dari mobil. Ia melangkah sedikit tertunduk. Tepat di depan pagar, Yong Hwa berhenti karena terkejut mendapati seseorang membuka pagar dari dalam. Gadis itu Hye Ra.
        “Oh, kau?” seru Yong Hwa datar.
        Hye Ra tersenyum manis. “Hei… baru datang?” ujarnya ceria. Sejak menerima pesan dari Joon tadi siang, suasana hati gadis itu menjadi lebih cerah.
        Yong Hwa tak berkata-kata lagi setelah itu. Ia sempat melirik suasana rumah Sulli. Nampaknya tidak ada tanda-tanda Sulli atau siapapun di sekitar sana. Yong Hwa lalu mengarahkan tatapan lagi pada Hye Ra.
        “Kau kenapa?” tanya Hye Ra yang bingung dengan reaksi Yong Hwa.
        Pemuda itu memejamkan matanya sesaat. Yong Hwa kemudian menghela napas untuk menenangkan dirinya. Tangan pemuda itu mengepal erat hingga ia bisa merasakan sendiri satu-satunya cincin yang ia pakai. Cincin tunangannya dengan Sulli.
        “Hye Ra maafkan aku,” kata Yong Hwa lembut. Belum sempat Hye Ra merespon dengan bentuk apapun, Yong Hwa sudah menarik tengkuk Hye Ra lalu mencium tepat di bibir gadis itu. Tak lama, dan kemudian Yong Hwa pergi meninggalkan Hye Ra begitu saja yang masih membeku di sana.
        Tangan Hye Ra meraba bibirnya. Dan dengan langkah yang sedikit tersendat, Hye Ra menyeret kakinya menuju mobil. Baru beberapa langkah, Hye Ra berhenti. Tepat di depannya, Minhyuk berdiri dengan tatapan tajam dan sedikit sulit di artikan. Itu karena Minhyuk melihat kejadian beberapa saat lalu saat Yong Hwa mencium Hye Ra.
        Dengan susah payah, Minhyuk mengulurkan tangannya yang menggenggam album music milik ‘Blue Flame’. Hye Ra menerima benda itu, lalu tanpa berkata-kata lagi Minhyuk balik kanan dan berjalan menjauh.
        “Minhyuk!” Hye Ra memanggil pemuda itu dengan nada sedikit keras. Namun Minhyuk seakan tak mendengar, dan Hye Ra sendiri tampaknya tak berniat mengejar Minhyuk. Ia masih membeku di sana sampai sebuah getaran di ponsel yang menyadarkannya. Sebuah pesan dari Minho.

        Cincin pesananmu sudah bisa di ambil. Secepatkan kau beri tahu pada Joon. Kalian harus segera bertunangan dengan resmi dan dihadiri keluarga besar.

        Setelah membaca pesan tersebut, Hye Ra langsung melesat menuju mobilnya. Gadis itu menggeleng cepat saat kembali teringat ciuman singkat yang dilakukan Yong Hwa dan tatapan tajam yang ditunjukkan Minhyuk.
        “Yang Yong Hwa lakukan bukan apa-apa. Dan Minhyuk…” Hye Ra tiba-tiba kehilangan kata-kata. “Apa mungkin Minhyuk kecewa dengan Yong Hwa karena… Sulli? Astaga? Mungkinkah Sulli tunangan Yong Hwa saat ini adalah Sulli yang sama dengan kekasih Minhyuk? Kenapa aku baru menyadari itu?” pikirnya.
        Hye Ra berdecak. Saat melirik jam tangannya, gadis itu sedikit terkejut. Sudah hampir jam 7 malam. Ia harus bergegas lalu bersiap untuk bertemu Joon dan terpaksa mengabaikan tentang dua pemuda itu.

***

        Yong Hwa terlihat meninggalkan rumah keluarga Sulli. Ia langsung masuk ke dalam mobil dan menyalakan mesin untuk segera bergegas meninggalkan tempat itu. Baru saja Yong Hwa menginjak pedal gas, ia harus langsung menginjak pedal rem. Ada seseorang yang tiba-tiba muncul di depan mobilnya.
        “Minhyuk!” seru Yong Hwa sesaat sebelum ke luar dari mobil untuk menghampiri orang tersebut. “Apa-apaan kau? Mau bunuh diri di depan rumah Sulli?”
        Minhyuk justru mendengus dan menatap Yong Hwa meremehkan. “Bukannya kau yang ingin mati di depan rumah Sulli?” ucapan Minhyuk justru membuat Yong Hwa menatapnya bingung. “Jangan pikir aku tak lihat saat kau mencium Hye Ra.”
        Yong Hwa bungkam seketika mendengar perkataan Minhyuk.
        “Jika kau masih menginginkan Hye Ra, lepaskan Sulli padaku.”
        Kali ini raut wajah Yong Hwa berubah. “Tidak akan. Lagi pula bukankah kau sudah melepaskan Sulli? Dan yang tadi ku lakukan pada Hye Ra hanya merealisasikan apa yang belum pernah ku lakukan saat masih berpacaran dengan Hye Ra.”
        Minhyuk menatap Yong Hwa marah. Sementara kedua tangannya terkepal dengan erat. Ia dan Yong Hwa hanya berjarak beberapa meter saja. “Brengsek kau!” dengan satu pukulan, Minhyuk sukses membuat Yong Hwa tersungkur.
        Yong Hwa menyeka tepi bibirnya yang berdarah. Ia mendongak dan menatap Minhyuk meremehkan. Pemuda itu tertawa di balik kilatan kebencian dari mata Minhyuk. Perlahan Yong Hwa mengangkat tubuhnya hingga ia kembali berdiri berhadapan dengan Minhyuk.
        “Kau ingin aku kembali memilih satu antara Sulli dan Hye Ra?” ujar Yong Hwa menantang. Senyum meremehkan masih menghiasi bibirnya. Di tempatnya berdiri, Minhyuk masih mengarahkan tatapan tajamnya. “Tentu aku akan tetap memilih Sulli.”
        “Setelah kau mencium Hye Ra, kau akan melepaskannya begitu saja?”
        “Apa kau akan melaporkan pada kekasih Hye Ra?” Yong Hwa justru balik bertanya. “Lakukan sesukamu. Asal kau tau saja, pemuda itu salah satu anggota ‘Blue Flame’. Dan ‘Blue Flame’ sendiri sudah ada dalam perjalan kembali ke sini. Setelah itu, Hye Ra pasti akan menemui pemuda tersebut,” yakinnya.
        “Jangan mengarang cerita,” kata Minhyuk yang tidak bisa percaya begitu saja.
        Yong Hwa berdesis kesal. “Sungmin, menejer ‘Blue Flame’ adalah kakak kandungku,” jelasnya dan tentu saja Minhyuk tidak akan langsung percaya begitu saja. “Dan beri aku alasan untuk berbohong? Kau bisa tanyakan langsung pada Sungmin hyung,” lanjutnya lagi yang kemudian balik kanan untuk meninggalkan Minhyuk di sana. Minhyuk sendiri juga sudah pergi dari sana. Saat di dalam mobil, Yong Hwa menyambar tissue untuk menghilangkan sisa darah di tepi bibirnya. “Sial kau Minhyuk!” desisnya tajam sambil menahan perih di bibirnya.

***

        Gadis itu terlihat ke luar dari sebuah toko perhiasan. Di tangannya menenteng sebuah tas karton berukuran kecil. Gadis itu adalah Hye Ra yang baru saja mengambil cincin pesanannya seperti apa yang Minho suruhkan. Seusai mengambil cincin yang nantinya akan ia gunakan untuk pertunangannya dengan Joon nanti,—itupun karena Minho yang mendesaknya—Hye Ra semakin tak menghilangkan senyumannya. Ia terlampau senang hari ini.
        Hye Ra masuk ke dalam mobil dan langsung memeriksa ponselnya. Ada sebuah pesan masuk dari Joon.

        Aku baru ke luar bandara dan akan langsung ke tempat yang kita janjikan. Sudah tidak sabar untuk bertemu denganmu. Aku mencintaimu.

      “Aku tau Joon,” kata Hye Ra sambil tersenyum gemas pada ponselnya sendiri. Lalu gadis itu menginjak pedal gas mobilnya dan pergi dari sana. Hanya beberapa menit saja, gadis itu sudah tiba di sebuah taman kota yang memang sedikit sepi saat malam hati.
Hye Ra memarkirkan mobilnya di luar pagar yang membatasi lalu meninggalkannya ke dalam. Ia berjalan sendiri di terangi lampu yang sedikit temaram. “Susahnya memiliki kekasih seorang artis terkenal. Harus bertemu di tempat yang sepi,” gumamnya pelan sedikit untuk menyibukkan diri agar tidak terlalu merasa sepi karena ia memang hanya sendiri di sana.
        “Merindukanku, sayang?”
        Hye Ra tersenyum mendengar suara pemuda yang sudah familiar di telinganya. Pemuda itu berjalan mengikuti Hye Ra dari belakang. “Bukankah kau yang sangat merindukanku?” balasnya, namun pemuda itu tidak berkata apa-apa lagi selain masih mengikuti Hye Ra semakin ke dalam taman karena gadis itu sendiri juga tidak berhenti melangkah.

***

        Saat di dalam taksi, Minhyuk masih terbayang perkataan Yong Hwa tadi tentang jatidiri kekasih Hye Ra yang katanya adalah salah satu member ‘Blue Flame’. Minhyuk juga berusaha mengingat sebuah artikel di tabloid yang membahas tentang konferensi pers ‘Blue Flame’ karena foto-foto skandal mereka.
        “Saat terakhir kali aku bertemu Doojoon hyung, kekasihnya adalah Sung Hye noona. Gosipnya mereka juga sudah bertunangan. Walaupun Hye Ra pernah menyukainya, tapi rasanya tidak mungkin. Lalu Luhan…” Minhyuk memejamkan mata sambil berusaha mengingat kutipan artikel tersebut. “Akh, iya. Pembaca berita. Nichkhun hyung juga tidak mungkin. Ia sudah menikah dengan Minjung dari ‘Red Inject’.”
        Minhyuk memutar-mutar dengan bosan ponsel di tangannya. Otaknya juga tidak berhenti mengingat-ingat sekaligus menebak-nebak pemuda yang menjadi kekasih Hye Ra tersebut.
        “Apa kau ‘flamers’?” tanya Hye Ra cukup antusias. Setidaknya ini untuk mencairkan suasana karena setelah ini ia dan Sulli akan segera membahas proyek mereka bersama. “Siapa yang kau suka dari mereka? Aku mengagumi Siwan.”
        Minhyuk menggeleng tegas tentang ingatannya saat ia dan Hye Ra mengunjungi rumah Sulli. “Tidak mungkin Siwan hyung. Hye Ra bilang ia hanya mengaguminya. Dan kalau memang ‘iya’, Hye Ra pasti sudah mengakuinya.”
        Minhyuk lalu melempar tatapannya ke luar jendela. “Target terakhir, Changsun hyung…” ucapannya terputus seketika saat matanya menangkap sebuah mobil yang sangat familiar. Mobil Hye Ra. Tidak mungkin salah. Sedetik kemudian, Minhyuk meminta si supir menghentikan taksi dan Minhyuk segera melesat ke luar setelah membayar ongkos taksi.
        Pemuda itu menatap tiap detail mobil. “Sama persis,” ujarnya ketika memeriksa plat nomor mobil tersebut. Tanpa sadar, mata Minhyuk terhenti pada kaca mobil bagian depan. Terdapat sebuah album music ‘Blue Flame’ di atas dashboard mobil. Dan album tersebut adalah benda yang beberapa waktu lalu ia kembalikan pada Hye Ra tepat di depan rumah Sulli.
        Minhyuk mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Tidak terlalu ramai. Bahkan orang-orang yang melintas bisa dihitung dengan jari. Tak jauh di sana, ada seorang pemuda tampak memasuki area taman. Pemuda itu mengenakan jaket dengan hoddie yang menutupi kepalanya dan ke dua tangan yang di masukkan ke dalam saku celana. Minhyuk yang tiba-tiba saja menaruh curiga pada pemuda tersebut, langsung mengikutinya diam-diam. Dan hanya beberapa meter didepan pemuda tadi, tampak Hye Ra berjalan seorang diri. Minhyuk tidak mungkin tidak mengenali gadis itu.
        Minhyuk masih menunggu apa yang akan dilakukan pemuda mencurigakan tersebut. Ia terus saja mengikuti diam-diam. Sampai akhirnya, pemuda itu justru memeluk Hye Ra dari belakang. Tentu saja Minhyuk tidak tinggal diam. Ia melangkah mendekat, lalu dengan kasar ia menjauhkan tubuh pemuda itu dari Hye Ra. Tak lupa Minhyuk juga melancarkan sebuah pukulan hingga pemuda tadi terjungkal.

***

        “Masih ingat kalau aku pernah bilang sangat ingin memelukmu?”
        Hye Ra tersenyum mendengarnya. Tidak mungkin ia melupakan hal itu. Joon pernah mengatakannya dengan jelas. “Apa artinya kau akan merealisasikan hal itu?” tanya Hye Ra setengah menantang dan masih pada posisi semula. Ia membelakangi pemuda tersebut.
        Di bawah sorot lampu taman yang memang tidak terlalu terang tersebut, bisa dilihat pemuda tadi tersenyum. Senyuman khas seorang Lee Joon, leader band ‘Blue Flame’. Pemuda tersebut, yang bisa dipastikan memang Joon, mengeluarkan ke dua tangannya dari dalam saku celana. Lalu ia rentangkan untuk bisa memeluk tubuh Hye Ra dari belakang.
        Hye Ra tersenyum dengan perlakuan Joon saat itu. Namun hanya sesaat karena setelah itu, ada seseorang yang menarik tubuh Joon menjauhinya. Dan bahkan ia memberikan sebuah pukulan pada Joon.
        “Joon!” jerit Hye Ra sedikit histeris. Ia sudah ingin menghampiri Joon yang terjerembap ke aspal, namun tersangka yang memukul Joon tadi justru menahan tangan Hye Ra dan menarik gadis itu ke arahnya. “Minhyuk!” seru Hye Ra tertahan ketika melihat dengan jelas wajah pemuda itu berkat bantuan cahaya lampu taman di sana.
        Minhyuk menangkupkan wajah gadis itu dan menatap mata Hye Ra penuh kekhawatiran. “Kau baik-baik saja, kan?” tanya Minhyuk cemas.
        Hye Ra seperti tidak mempedulikan Minhyuk. Ia sudah ingin melepaskan diri dari pemuda itu, tapi Minhyuk justru tidak ingin melepasnya. Tatapan gadis itu lebih memilih tertuju pada Joon.
        Joon kini sudah berdiri dan menatap tajam ke duanya. Belum lagi Minhyuk justru sudah merengkuh tubuh Hye Ra ke dalam pelukannya. Minhyuk tetap berusahan menahan tubuh Hye Ra meski gadis itu memberontak. Joon menarik ke belakang hoddienya lalu menyeka tepi bibirnya yang berdarah dengan ujung jaketnya.
        “Jadi ini yang kalian lakukan di belakangku?” ujar Joon dingin.
        Minhyuk membeku mendengar suara yang sudah sangat di hafalnya tersebut. Perlahan ia menjauhkan tubuhnya dari tubuh Hye Ra. Minhyuk juga memaksakan diri menoleh ke tempat Joon berada. Matanya membulat sempurnya saat mendapati kakaknya di sana. “Hyung?” serunya pelan.

***

1 komentar:

  1. Minhyuk masih menunggu apa yang akan dilakukan pemuda mencurigakan tersebut. Ia terus saja mengikuti diam-diam. Sampai akhirnya, pemuda itu justru memeluk Hye Ra dari belakang. Tentu saja Minhyuk tidak tinggal diam. Ia melangkah mendekat, lalu dengan kasar ia menjauhkan tubuh pemuda itu dari Hye Ra. Tak lupa Minhyuk juga melancarkan sebuah pukulan hingga pemuda tadi terjungkal.

    -> maen pukul ajah si Minhyuk.. parah dah akh.. hmmm

    BalasHapus