Senin, 03 Februari 2014

PERFECT LOVE (chapter 5)


Author              : Annisa Pamungkas (@nniissaa11)
Main Cast          : B.A.P (Yongguk, Himchan, Daehyun, Youngjae,
  Jongup, Zelo [Junhong])
Support cast     : A-Pink (Chorong, Bomi, Naeun, Eun Ji, Namjoo,
                          Hayoung), G.Na (Soloist), B2ST (Doojoon), BtoB
Genre               : romance, family, brothership
Length              : chapter

***

        Youngjae berlari sekencang-kencangnya untuk menghindari cewek-cewek yang masih mengejarnya. Ia lalu berbelok ke sebuah koridor. Dengan panic, Youngjae berusaha mencari-cari pintu yang kemungkinan bisa terbuka. Ternyata ada satu yang tidak terkunci. Sebuah ruangan yang masih kosong. Setidaknya ia bisa bersembunyi dan beristirahat sebentar dari kejaran cewek-cewek tadi.
        Youngjae mengawasi keadaan di luar melalui kaca transparan di tengah-tengah daun pintu. Cewek-cewek tadi ternyata masih mengejar sampai sana. Youngjae buru-buru merunduk untuk menyembunyikan diri saat mereka lewat. Beruntung nggak ada yang menyadari keberadaannya di sana.
        Setelah di rasa telah aman, perlahan Youngjae membuka pintu sambil tetap mengawasi keadaan di luar. Youngjae ke luar masih dengan sedikit merunduk. Ternyata masih ada satu orang lagi yang tersisa. Namun itu bukan dari rombongan cewek-cewek tadi. Tapi itu Eun Ji.
        Youngjae menatap cewek itu penuh minat seakan mendapatkan kembali tawanannya yang lepas. “Lo sengaja kan ngelakuin hal tadi?” desis Youngjae tajam.
        Eun Ji hanya mampu membeku dan menelan ludahnya sendiri.
        Dengan sigap, Youngjae menyambar tangan Eun Ji tanpa membiarkan cewek itu memberontak sedikitpun. Ia lalu membawa Eun Ji ke dalam ruangan kosong tadi.
        “Youngjae! Lepas!”
        Cowok itu baru melepaskan Eun Ji setelah benar-benar menutup pintu di belakangnya. Ia bahkan berdiri di tepan di depan daun pintu agar cewek itu nggak bisa kabur ke luar.
        “Puas lo ngeliat gue kayak orang gila kabur buat ngindarin kejaran cewek-cewek itu?”
        Mendengar itu, Eun Ji justru menatap Youngjae meremehkan. “Lo pikir gue nggak stress di kejar sama Minhyuk?” balasnya mengingat kejadian ketika Minhyuk mendatanginya di kampus.
        Youngjae justru tersenyum dengan menarik satu sudut bibirnya. “Jadi lo balas dendam?”
        “Pengennya sih nggak. Tapi pengecualian untuk lo,” kata Eun Ji. Ia lalu menunggu sampai Youngjae membalasnya kembali. Cowok itu justru terdiam. “Kenapa diam?” Eun Ji kemudian balas tersenyum dengan menarik satu sudut bibirnya. “Fansnya Naeun,” cibirnya pelan.
        “Apa lo bilang?” desak Youngjae sambil menarik kedua lengan Eun Ji. “Fansnya Naeun?” ulangnya dengan tatapan tajam karena bisa dipastikan Youngjae memang mendengar ucapan Eun Ji.
        “Apa lagi namanya kalo bukan fansnya Naeun? Lo nggak pernah bisa ngerebut Naeun dari Daehyun, kan? Itu karena perasaan tulus mereka yang nggak mudah dihancurin hanya karena cowok kayak lo! Jadi selamanya lo cuma bisa jadi fansnya Naeun aja.”
        Youngjae nggak membalas perkataan Eun Ji sedikitpun. Namun posisi mereka masih tetap sama. Youngjae masih menatap tajam ke dalam mata Eun Ji. “Lo pasti nyesel udah ngelakuin hal itu ke gue,” desisinya tajam. Dan sedetik kemudian, Youngjae menarik tengkuk Eun Ji lalu mencium gadis itu tepat di bibirnya.
        Sekuat tenaga Eun Ji memberontak. Ia bahkan sampai menendang tulang kering Youngjae agar cowok itu benar-benar melepaskannya. Mata gadis itu sudah merah seperti hampir menangis. Di saat Youngjae sibuk meringis sambil memegangi kakinya, Eun Ji nggak menyia-nyiakan kesempatan untuk kabur dengan sebelumnya mendorong tubuh Youngjae ke samping karena menghalangi jalannya.
        Youngjae nyaris saja tersungkur. Namun ia juga nggak berniat sedikitpun untuk mencegah kepergian Eun Ji. Youngjae mengusap wajahnya. Sedikit merasa bersalah dengan apa yang ia lakukan tadi. Belum lagi ketika melihat raut wajah Eun Ji sebelum meninggalkannya.

***

        “Nanti gue nyusul ke kantin,” kata Zelo sambil menepuk pundak Hayoung. Ia membiarkan cewek itu pergi duluan. Nggak lupa, Hayoung juga membawa kotak makanan yang tadi diberikan Zelo untuknya.
        “Oke,” seru Hayoung. Ia kemudian berjalan sendirian. Dan sesampainya di kantin, Hayoung memilih bergabung dengan Sungjae yang saat itu baru saja di tinggal ke konter makanan oleh Jongup. Sebelum duduk, mata cewek itu sempat menangkap sebuah kotak bekal di hadapan Sungjae. Hayoung kemudian memilih duduk di samping cowok itu. “Jae, bawa bekal juga?” godanya.
        Sungjae yang sebelumnya sibuk dengan ponsel, langsung menatap benda yang menarik perhatian Hayoung. Ia lalu terkekeh menanggapinya. “Itu Jongup yang bawa,” kata Sungjae.
        Dengan jahilnya, Hayoung mengintip apa yang tersembunyi di dalam kotak bekal yang kata Sungjae adalah milik Jongup. “Wow…” Cewek itu sedikit terkejut. “Kue tar?” seru Hayoung memastikan sambil menatap Sungjae. Ia bahkan tanpa sadar menarik kotak bekal pemberian Zelo ke hadapannya.
        Sungjae melirik kotak bekal milik Jongup. “Dia bilang kakaknya ulang tahun.”
        Mendengar itu, Hayoung membatalkan niat untuk membuka tutup kotak bekal itu. Bahkan tangan Hayoung sudah berada di atasnya. Cewek itu seperti sibuk dengan pikirannya sendiri. “Kok sama kayak yang Zelo bilang? Ini juga dari kakaknya.”
        Nggak satupun dari antara Sungjae dan Hayoung yang menyadari bahwa ternyata Himchan berdiri di belakang mereka. Guru muda tersebut sebenarnya nggak berniat ikut campur dengan perbincangan dua muridnya itu. Namun ada hal yang menarik perhatiannya terutama tentang kue tar yang di bawa Jongup. Belum lagi ketika Hayoung benar-benar membuka kotak bekalnya Zelo. Entah mengapa potongan yang ada justru menyisakan kata ‘YOUNG’. Sementara milik Jongup, tersisa tulisan ‘JAE’.
        Beberapa saat kemudian, Jongup datang dengan membawa baki berisi makanan miliknya dan Sungjae juga. Di susul Zelo nggak lama kemudian.
        Jongup sedikit terkejut dengan kehadiran Himchan di sana. Ia bahkan menatap kakaknya dengan sorotan mata penuh tanya. Himchan sendiri yang menyadari maksud Jongup, mengarahkan matanya agar Jongup melihat ke dua kotak makan di hadapan Hayoung dan Sungjae.
        Dengan cepat, Jongup menyambar kotak makan tersebut. Ia bahkan menyandingkan keduanya yang jika di gabungkan akan membentuk kata ‘YOUNGJAE’.
        Hayoung sendiri sepertinya penasaran dengan apa yang menarik perhatian seorang Zelo. Ia lalu menoleh ke belakangnya dan mendapati Himchan baru saja akan pergi dari sana. Sementara itu, diam-diam Sungjae menendang pelan kaki Jongup. Sungjae kemudian memberikan tatapan penuh tanya ketika Jongup mendongak.
        “Makan nih, Jae.” Jongup menyodorkan piring makanan milik Sungjae. Cowok itu sepertinya beniat mengalihkan perhatian ke tiga temannya yang lain.
        Sementara Zelo, sepertinya ia baru menyadari ketika kotak bekal miliknya bersanding dengan milik Jongup akan membentuk nama seseorang yang bertahun-tahun hidup satu atap dengannya. Youngjae. Zelo lalu melirik cepat ke arah Jongup dan seperti menaruh kecurigaan terhadap cowok itu. Namun Jongup sudah lebih dulu sibuk dengan makannya.
        Zelo menghempaskan punggungnya ke sandaran kursi. “Kenapa bisa ngebentuk nama mas Youngjae, sih? Terus itu kotak bekal punya siapa? Jongup apa Sungjae?” Zelo sibuk dengan pikirannya sendiri dan bahkan seperti menurunkan minatnya terhadap makanan. Ia sempat menolak ketika Hayoung menawarinya untuk memesan makanan. Cewek itu bahkan sampai pergi ke konter makanan seorang diri.
        Tiba-tiba Jongup sedikit tersentak karena ponselnya bergetar. Sebuah pesan masuk dari Himchan. “Kamu ngebawa semua sisa kue tar yang kemarin?” ujar Jongup dalam hati saat membaca pesan dari kakaknya tersebut. “Kok mas Himchan bisa nuduh gitu, sih?” tanya Jongup yang lebih untuk dirinya sendiri.
        Tak lama kemudian, Zelo tampak bangkit dan meninggalkan merek berdua tanpa pamit. Di saat yang bersamaan, Sungjae dan Jongup saling melempar tatapan. Jongup lalu menunjuk kotak bekal yang ia sendiri tidak mengetahui milik siapa dengan dagunya.
        “Oh, kata Hayoung itu punya Zelo,” ujar Sungjae seolah tahu maksud tatapan Jongup.

***

Youngjae baru saja menyelesaikan mata kuliahnya siang itu. Youngjae bahkan sedikit kurang bisa berkonsentrasi selama perkuliahan tadi. Ia lalu memilih jalan yang melewati lapangan sepakbola. Youngjae sempat melihat kedatangan Eun Ji yang melangkah ke sana dari kejauhan. Eun Ji berlajan dengan tatapan kosong. Cewek itu memilih duduk sendiri di salah satu tribunnya.
Tapi Youngjae sendiri sama sekali nggak berniat untuk mendekatinya. Bahkan sepertinya rasa bersalah atas apa yang ia lakukan tadi pagi pada Eun Ji sudah menghilang begitu saja. Ia terus melangkah sampai akhirnya langkah cowok itu terhenti karena ia bertemu Naeun dan mereka bahkan sampai berhenti sesaat.
        “Mau ke mana, Na?” tegur Youngjae.
        “Mau ke lapangan, nemuin Eun Ji.”
        “Dia udah di sana,” kata Youngjae sambil menunjuk ke tempat yang sempat di lalui Eun Ji.
        “Makasih, Young.” Buru-buru Naeun meninggalkan Youngjae sambil mendekap tas karton yang ia bawa. Sementara Youngjae hanya bisa menatap punggung Naeun yang semakin menjauh. Ia bahkan sempat teringat sesuatu ketika melihat benda dalam pelukan Naeun.

Flashback…
        Malam itu hanya segelintir orang yang tersisa usai merayakan ulang tahun Youngjae. Sementara Youngjae sendiri memilih melesat ke lantai dua rumahnya. Ia membawa serta beberapa hadiah yang ia terima, termasuk pemberian Naeun.
        Youngjae menutup pintu kamarnya dan meletakkan barang-barang yang ia bawa ke atas kasur. Youngjae menyambar tas karton pemberian Naeun sambil duduk ditepi tempat tidurnya. Tangan cowok itu meraih benda di dalamnya. Youngjae meraih sebuah binder dengan sampul berwarna hitam. Lalu ada selembar kertas yang terlepas dari selipan kertas. Youngjae memungut kertas itu yang tergeletak di lantai.
        “Transkrip nilai punya Eun Ji?” gumamnya heran. “Kenapa bisa ada di sini?” Youngjae membaca tiap detail deretan nilai yang di dapat Eun Ji selama perkuliahannya di jurusan kedokteran. “Nih cewek kuliahnya terpaksa atau emang dia yang nggak sanggup ngikutin pelajarannya, sih?” seru Youngjae sedikit meremehkan Eun Ji karena nilai-nilai cewek itu jauh dari kata baik.
Flashback end…

        Diam-diam Youngjae mengikuti langkah Naeun yang sudah semakin jauh. Youngjae duduk di undakan teratas. Nggak jauh dari tempat Naeun duduk di samping Eun Ji, hanya beberapa undakan di bawahnya. Namun nggak satupun dari dua cewek itu yang menyadari kehadirannya.
        “Eun Ji, maaf gue baru dateng.” Naeun yang tadi baru saja duduk, langsung merangkul sahabatnya itu. “Ini,” ujarnya sambil menyodorkan tas karton yang ia bawa tadi.
        Eun Ji menerimanya tanpa curiga. Ia yakin isinya adalah binder miliknya yang kebawa oleh Naeun kemarin. “Nyantai aja, Na.” Eun Ji berujar, sementara tangannya sibuk membuka barang pemberian Naeun. Sebuah binder yang sama persis seperti yang diterima oleh Youngjae. “Masalahnya ada transkrip nilai gue,” lanjut Eun Ji. Kali ini ia sibuk mencari-cari sesuatu di antara lembaran kertas isi binder yang masih kosong.
        Mendengar ucapan Eun Ji tadi, Naeun langsung membeku seketika. Begitu pula dengan Youngjae yang bisa mendengar semua pembicaraan antara Eun Ji dan Naeun.
        “Kok nggak ada, ya?” ujar Eun Ji untuk dirinya sendiri. Ia bahkan sampai memeriksa tas karton tadi. “Naeun,” seru Eun Ji yang sudah menatap cewek di sampingnya.
        Naeuh hanya bisa menelan ludahnya dan nggak sanggup menatap mata Eun Ji. “Ji, gue nggak tau kalo di binder itu ada transkrip nilai lo.”
        Eun Ji sepertinya nggak terlalu menangkap maksud ucapan Naeun yang sepertinya sedikit merasa bersalah. “Terus, keselip di mana dong, ya?” Eun Ji sibuk mengingat-ingat.
        “Kemarin Namjoo maksa gue dateng ke ulang tahun Youngjae. Semua serba mendadak. Dan karena gue nggak sempet nyari hadiah, akhirnya gue ngasih binder yang baru lo beli kemarin itu,” jelas Naeun. Ia masih nggak berani ngelirik ke mata Eun Ji.
        “Youngjae?” seru Eun Ji memastikan sambil menoleh cepat. “Kemungkinan dia udah nemuin transkrip nilai gue, dong?” ujarnya panic. “Kenapa harus dia, sih!”
        “Maafin gue ya, Ji.” Naeun menyentuh pundak Eun Ji sambil menatap cewek itu penuh rasa bersalah. “Gue nggak…”
        “Nyantai aja lah, Na.” Eun Ji memotong ucapan Naeun. Lalu ia terdiam sesaat. Rasanya ada yang janggal. Eun Ji ingin memastikan sendiri bahwa nggak ada yang memperhatikannya terutama ketika histeris karena masalah binder berisi transkrip nilainya yang sudah melayang ke tangan Youngjae. Saat menoleh ke belakang, ia membeku seketika. Youngjae masih di sana dan menatapnya dengan sorot mata datar.
        “Eun Ji,” panggil Naeun sambil menyenggol lengan Eun Ji namun tatapannya mengarah ke tempat berbeda. Ke tempat munculnya Daehyun. Naeun juga sepertinya nggak menyadari keberadaan Youngjae di belakang mereka.
        “Ji, ini beberapa materi tambahan yang gue dapet dari semester satu,” ujar Daehyun. Di tangannya sudah ada tumpukan kertas yang ingin ia berikan pada Eun Ji.
        Eun Ji akhirnya menoleh dan sesaat melupakan keberadaan Youngjae. “Makasih Dae,” ujarnya setelah menerima barang-barang pemberian Youngjae. “Ini buat Ilhoon juga. Gue nggak mau dia kayak gue.”
        Daehyun hanya mengangguk mengerti. “Kalo butuh apa-apa, kabarin gue aja. Terus, kapan lo mau ngurus perbaikan nilai-nilai lo? Kalo udah cetak transkrip nilai, langsung urus aja biar cepet.”
        Eun Ji sempat mengawasi perubahan raut wajah Naeun saat Daehyun membahas tentang transkrip nilainya. “Iya, nanti bakal gue cetak.”
        “Kalo gitu, gue tinggal bentar ya?” Daehyun sudah mengulurkan tangannya ke hadapan Naeun yang langsung saja di balas cewek itu.
        Eun Ji hanya terkekeh mengerti tentang sepasang kekasih dihadapannya itu. “Ya udah sana gih kencan. Gue mau nyari Bomi aja buat nemenin makan,” ujar Eun Ji yang juga sudah bersiap untuk meninggalkan tempat itu.
        “Kita duluan ya,” pamit Naeun.
        Setelah dua temannya itu pergi, senyum Eun Ji langsung memudar. Ia lalu menghela napas kasar. Eun Ji sempat melirik kembali ke tempat Youngjae tadi berada. Namun hanya punggung cowok itu yang terlihat karena Youngjae sudah melangkah meninggalkan tribun lapangan.

***

        Bomi dan Eun Ji tiba di sebuah café. Mereka sengaja datang ke sana dari kampus. Dua cewek itu memilih tempat yang sedikit dalam. Salah satu pelayan di sana sudah melihat kedatangan Bomi dan Bomi sendiri langsung mengisyaratkan pelayan itu untuk melayaninya.
        “Lo kayak udah kenal gitu sama pelayan yang tadi?” bisik Eun Ji. “Lo sering makan di sini?” lanjutnya bahkan setelah mereka duduk.
        Bomi tersenyum penuh arti ketika pelayan yang dimaksud menghampiri mejanya. “Dia adenya Daehyun.”
        “Hah?” Eun Ji terperangah hebat. Ia lalu melirik pelayan tersebut yang ternyata adalah Jongup. “Lo adenya Daehyun?”
        Jongup tersenyum lebar. “Saya Jongup,” ujarnya pelan karena ia masih dalam posisi bekerja. “Mba Eun Ji, ya?” tebaknya.
        Eun Ji mengangguk membenarkan. “Iya, gue Eun Ji.”
        “Kayak biasa, Jong. Tapi gue pesen dua,” ujar Bomi. Dan Jongup langsung mencatat pesanan Bomi dengan lancar bahkan tanpa ada pengulangan. “Mas Himchan udah pulang apa masih di sekolah?”
        Jongup terkekeh mendengar pertanyaan tambahan dari Bomi. “Kurang tau deh mba. Tadi sih liat mas Himchan udah ke luar sekolah, tapi nggak tau langsung pulang atau ada urusan lain,” jelasnya. “Bentar ya.” Jongup lalu meninggalkan meja Bomi dan Eun Ji.
        “Ya ampun, lo masih cinta mati sama si kakaknya Daehyun itu?” goda Eun Ji.
        Bomi hanya tersenyum misterius. “Lo nggak akan kebayang senengnya gue kalo lagi ngeledekin dia.”
        Eun Ji berdecak sambil geleng-geleng kepala melihat kelakuan temannya itu. “Kenapa nggak lo tembak aja sih sekalian?” desaknya. “Syukur-syukur lo di terima sama mas Himchan lo tersayang,” ledek Eun Ji sambil terkekeh. Tepat dengan kedatangan Jongup yang membawakan minuman pesanan mereka.
        “Walau gue adik kandungnya mas Himchan, tapi gue lebih seneng liat mba Bomi bahagia sama cowok lain. Contohnya sama mas Eunkwang mungkin,” seru Jongup menimpali ucapan Eun Ji yang sempat di dengarnya barusan dan sukses membuat Bomi cemberut.
        Bomi mencibir tak suka. “Nggak deh sama bos kamu yang satu itu.”
        Eun Ji membulatkan mata mendengar ucapan Bomi dan Jongup tadi. “Eunkwang mantan lo, Bom?” serunya antusias. Eun Ji lalu melirik Jongup yang masih di sana. “Dia pemilik café ini?”
        Jongup hanya mengangguk sebelum kembali meninggalkan meja Bomi dan Eun Ji.
        “Tapi kok lo masih mau ke sini, sih?” tanya Eun Ji heran mengingat Bomi selalu malas jika membahas Eunkwang.
        “Terpaksa, kalo bukan karna Jongup kerja part time di sini dan gantian sama Daehyun buat ngawasin Jongup. Tapi kalo gue beruntung, bisa ketemu mas Himchan juga.”
        “Akh, gue pengen banget liat tampang pangeran lo secara langsung. Waktu ke rumah Daehyun, dia selalu nggak ada.”
        Tak lama, Jongup sudah datang bersama sebuah baki berisi makanan pesanan Bomi dan Eun Ji.
        “Wow… cepet juga nih pelayanannya,” puji Eun Ji.
        “Secara yang pesen tamu istimewa mantannya si bos,” goda Jongup sambil meletakkan piring-piring makanan ke atas meja. Ia bahkan hanya terkekeh ketika Bomi menghadiahinya tatapan tajam.
        “Oh, ada Eunkwang di dalam?” tanya Eun Ji penasaran.
        “Mau aku panggilin?” tawar Jongup setengah bercanda.
        Eun Ji terkekeh mendengarnya. “Akh, sakit!” Eun Ji meringis karena Bomi menendang kakinya dari bawah meja.
        “Balik kerja sana, Jong!” kata Bomi kesal setengah memerintah pada Jongup yang langsung saja menurutinya. “Nyesel gue ngajak lo ke sini,” desisnya tajam karena Eun Ji masih saja terkekeh.
        Di balik tawanta tadi, tentu saja Eun Ji masih kepikiran dengan transkrip nilainya yang nggak sengaja ada di tangan Youngjae.

***

        “Nomor 407 silahkan,” kata satpam sebuah Bank pada Youngjae. Youngjae lalu menuju meja teller yang ternyata milik Yongguk.
        “Selamat siang. Ada yang bisa di bantu?” sapa Yongguk ramah sambil menatap Youngjae lekat-lekat.
        Youngjae duduk di kursi yang tersedia. “Saya mewakili Yoon Doojoon dari Paradise Grup. Katanya ada sedikit masalah tentang pembukuan transfer kemarin.”
        Yongguk mengangguk mengerti. “Memang ada salah konfirmasi dari pihak pengirim. Bisa saya lihat datanya?” pintanya, sementara Youngjae langsung mencari barang-barang yang dimaksud dalam ranselnya. “Saya periksa ke dalam sebentar,” ujar Yongguk lalu bangkit dari sana sambil membawa serta lembaran-lembaran kertas yang ia terima dari Youngjae.
        Sambil menunggu, Youngjae sibuk memainkan ponselnya. Sementara itu, di meja tepat di sampingnya duduk seorang pemuda. Youngjae sempat menoleh sesaat. Namun sedetik kemudian, Youngjae kembali menoleh dengan cepat. “Itu bukannya cowok yang kemarin gue liat sama Eun Ji di supermarket?” gumam Youngjae dalam hati saat menyadari sosok Ilhoon di sana.
        Beberapa saat kemudian, Yongguk sudah kembali dan duduk di kursinya. “Sudah diperbaiki,” ujarnya lalu menyodorkan selembar kertas di hadapan Youngjae. “Tolong tanda tangan di sana.”
        “Sibuk nih mas Yongguk?” goda Ilhoon yang memang sudah mengenal Yongguk karena ia sering datang ke Bank tersebut dan hampir selalu dilayani oleh Yongguk.
        Yongguk hanya terkekeh meresponnya. “Kok baru dateng? Dua hari lalu padahal udah bisa di urus loh uang untuk kuliahnya. Atau biasanya kakak kamu yang ngambil.” Meski di selingi pembicaraan ringan dengan Ilhoon, namun Yongguk tetap melayani Youngjae dengan baik.
        “Kak Eun Ji juga nggak sempet, mas.”
        Youngjae yang sedang membereskan kertas-kertas di tangannya, sempat membeku sesaat ketika mendengar Ilhoon menyinggung tentang Eun Ji. “Jadi dia adiknya Eun Ji?”
        “Terima kasih. Selamat siang,” ujar Yongguk sambil berjabat tangan dengan Youngjae karena urusan mereka telah selesai.
        “Siang,” balas Youngjae sebelum benar-benar meninggalkan meja Yongguk. Youngjae sendiri juga nampaknya tidak terlalu terburu-buru meninggalkan tempat itu.
        “Eun Ji yang kuliah kedokteran di National University, kan?” Yongguk melanjutkan obrolannya dengan Ilhoon. “Adik saya kuliah kedokteran di sana juga. Namanya Daehyun.”
        Youngjae yang memang sengaja memperlambat langkah, sampai berhenti ketika Yongguk menyebut nama Daehyun. Orang yang ia kenal juga kuliah kedokteran di kampus yang sama dengannya, National University.
        “Kayaknya aku pernah denger kak Eun Ji cerita kalo dia punya temen yang namanya Daehyun juga.”
        Setelah mendengar Ilhoon berbicara tadi, Youngjae benar-benar melanjutkan langkah dan nggak ingin mendengar kelanjutan obrolan Ilhoon dan Yongguk.

***

        Zelo baru saja menyelesaikan kegiatan ekskul fotografinya. Namun ia masih belum bosan membidik lensa kameranya ke berbagai sudut. Kali ini cowok itu menangkap sosok seorang cewek di kejauhan. Merasa seperti mengenal cewek itu, Zelo menekan tombol ‘zoom’ sampai beberapa kali hingga akhirnya ia mengukir senyum.
        “Hayoung!” teriak Zelo setelah menurunkan kameranya. Hayoung sendiri tampaknya menyadari panggilan Zelo. Melihat itu, Zelo langsung melesat menyeberangi lapangan upacara untuk sampai ke tempat Hayoung berada.
        “Lo baru selesai juga?” tanya Hayoung ketika Zelo sudah berada di hadapannya.
        Zelo mengangguk cepat setelah itu ia melangkah tepat di samping Hayoung. “Oiya, tadi di kelas gue nggak sempet nanya. Potongan kue tar di kantin tadi siapa yang bawa? Jongup apa Sungjae?”
        “Oh, itu punya Jongup,” kata Hayoung sambil menatap ke tempat Zelo berada. “Ngomong-ngomong, lo nggak pernah ngedesak Jongup buat ngelunasin kamera lo, kan?” tanya Hayoung sebelum Zelo sempat sibuk dengan pikirannya sendiri tentang kasus kue tar.
        “Seharusnya gue emang udah ngelakuin itu. Tapi nggak tau kenapa gue sama sekali nggak bisa ngelakuin itu ke Jongup,” batin Zelo. “Nggak kok. Gue nyantai aja.”
        Hayoung tampak menghela napas, lega. “Syukur deh.”
        Diam-diam Zelo menatap curiga cewek di sampingnya. “Hubungan lo dan Jongup udah sedekat apa?”
        Hayoung menoleh cepat. Ia bahkan sampai menghentikan langkah. Sedikit cukup tersentak dengan pertanyaan Zelo tadi. Belum lagi tatapan cowok itu yang sulit diartikan. Zelopun ikut berhenti sambil menunggu respon Hayoung selanjutnya.


***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar