Minggu, 24 November 2013

WANNA BE LOVED YOU (part 16)


Author              : Annisa Pamungkas
Main Cast          : Infinite (Sungyeol, Hoya, Sunggyu, Myungsoo,
  Dongwoo, Woohyun, Sungjong)
Original cast     : Hye Ra, Haesa, Eun Gi
Support cast     : Boy Friend (Jeongmin, Hyunseong, Minwoo,
Donghyun, Youngmin, Kwangmin), SNSD (Hyoyeon), BtoB (Sungjae, Hyunsik, Changsub, Eunkwang)
Genre               : teen romance, family
Length              : part

***

        Sungyeol baru saja kembali ke dalam ruangannya. Ia sudah mulai membantu ibunya mengelola restoran. Satu-satunya asset berharga mereka. Setelah kejadian tak terlupakan malam itu, Sungyeol harus menjual rumahnya untuk membayar gaji karyawan karena uang yang ia bawa dalam mobil ikut raib bersama mobil yang ia kendarai saat itu.
        Pemuda tinggi itu melepaskan dasinya. Lalu membuka kancing meja teratas dan menggulung lengan kemejanya yang panjang hingga sebatas siku. Sungyeol menghempaskan tubuhnya ke kursi. Lelah dengan pekerjaannya hari ini. Namun masih ada yang harus ia kerjakan sekarang. Memeriksa beberapa CV pelamar yang masuk. Tak peduli jika bekas-bekas lukanya masih terlihat di beberapa bagian wajah. Bahkan salah satu sudut keningnya masih terplester.
        Sungyeol membuka salah satu CV di hadapannya. “Nam…”
Belum sempat Sungyeol membaca lebih detai CV di tangannya, ia dikejutkan dengan suara ponselnya. Sebuah pesan masuk. Sungyeol menghela napas kesal. Pesan dari seseorang yang sedang ingin ia hindari saat ini. Hyoyeon. Gadis itu meminta Sungyeol menemuinya di sebuah taman.
        Dengan berat hati Sungyeol meninggalkan restoran. Ia langsung melesat menuju tempat yang di maksud Hyoyeon. Tak lama ia sampai dan langsung menelusuri taman untuk mencari Hyoyeon. Gadis itu sudah menunggu di taman. Sungyeol memaksakan langkahnya untuk mendekat.
        “Aku senang kau mau datang,” ujar Hyoyeon yang sudah menyadari kedatangan Sungyeol. Gadis itu tersenyum lebar. Saat Sungyeol sudah berdiri dihadapannya, Hyoyeon langsung memeluk tubuh pemuda itu.
        Tentu saja tak ada balasan apapun dari Sungyeol. Dengan berusaha bersikap selembut mungkin, ia mulai menyingkirkan tangan Hyoyeon dari tubuhnya. Hyoyeon juga langsung menurut. Namun tentu saja setelahnya gadis itu menarik Sungyeol untuk duduk di sampingnya.
        “Aku hanya ingin mengatakan sesuatu,” kata Hyoyeon, tapi Sungyeol tak terlalu mendengarkan karena pikiran pemuda itu teralih pada seorang gadis tak sengaja tertangkap matanya. Sungyeol hanya melihat bagian punggung gadis itu yang berjalan semakin menjauh. Entah mengapa ia merasa gadis itu adalah Hye Ra. Meski sebenarnya juga tak hanya Hye Ra yang memiliki seragam sekolah seperti itu.
        “Bisakah kau dengarkan aku sebentar saja,” ujar Hyoyeon setengah menyindir karena ia sadar pikiran Sungyeol sedang tak berfokus padanya.
        Sungyeol yang mendengar itu sedikit tersentak. “Maaf,” serunya sedikit menyesal, meski ia tak bisa begitu saja mengabaikan keberadaan gadis tadi yang kini bahkan sudah tak terlihat lagi olehnya.
        “Sebelumnya aku ingin mengatakan kata ‘putus’.”
        “Putus?” ulang Sungyeol ragu.
        Hyoyeon menoleh cepat. “Kenapa? Selama ini memang tak ada yang mengatakan hal itu, kan?” serunya terdengar seperti menantang. “Atau kau ingin kau yang mengatakan itu?” lanjutnya. “Silahkan.”
        Sungyeol menatap Hyoyeon penuh arti, namun sedetik kemudian ia mengalihkan tatapannya. “Sudahlah, jangan di perpanjang. Kau sudah mengatakan itu, kan?” ujarnya mengalah pada gadis itu.
        Hyoyeon tampak menurut dan tidak membahas hal itu lagi. Ia kemudian menatap lurus ke depan. Meski ia sendiri tak yakin dengan apa sedang ia lihat saat itu. “Aku tau kalau Hyunsik sudah berhasil saat ini. Tapi itu semua tak serta merta membuatku jatuh begitu saja ke pelukannya. Aku justru malu jika ternyata itu terjadi. Setelah ini aku juga akan menemui Changsub dan mengatakan hal yang sama seperti yang ku katakan padamu tadi,” jelas Hyoyeon tanpa henti.
        Hening sesaat sebelum Hyoyeon akhirnya kembali melanjutkan kata-katanya. “Aku akan kembali ke Jepang setelah adikku menerima surat kelulusannya.”
        Sungyeol menoleh dan memberikan tatapan tak percaya pada Hyoyeon. “Kau punya adik? Siapa?”
        Hyoyeon balas menoleh dengan ekspresi datar. “Ingat pemuda yang menolongmu setelah kau di rampok dan di pukuli?” serunya dengan tatapan penuh arti.
        Sungyeol seperti mengerjapkan mata. Tak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar. “Di… dia?” ujarnya ragu. Ia ingat. Pemuda itu Hoya, teman sekolah Haesa. Dan kalau tak salah ingat, nama Hoya juga sempat tercetus sebagai salah satu pemuda yang dekat dengan Hye Ra.
        “Kau mengenal Hoya?” seru Hyoyeon lebih seperti pernyataan. Gadis itu tersenyum kecil. Namun perlahan arti senyuman itu berubah. “Aku iri dengan Hye Ra. Kau dan Hoya sama-sama mencintainya dengan tulus,” ujarnya seakan mengiri dengan Hye Ra.
        Mata Sungyeol perlahan melebar mendengar ucapan Hyoyeon. Namun sepertinya gadis itu kini sibuk dengan pikirannya sendiri. Ia sampai tak menghiraukan perubahan raut wajah Sungyeol. Saat menoleh, Hyoyeon cukup terkejut. Sungyeol menatapnya tajam, seakan tak terima jika ada pemuda lain yang mencintai Hye Ra selain dirinya.
        Hyoyeon yang melihat itu hanya bisa tersenyum pahit. “Jangan khawatir,” hiburnya sambil menepuk pelan pundak Sungyeol. “Hoya akan pindah ke Jepang bersamaku. Dan kalian bisa tenang menjalani kehidupan kalian.”
        Setelah itu Hyoyeon tampak meninggalkan Sungyeol. Pemuda itu hanya bisa menatap kepergian Hyoyeon tanpa bisa mencegahnya sedikitpun.

***

        Di sebuah rumah sakit. Tampak Donghyun baru kembali ke ruangannya setelah memeriksa beberapa pasiennya. Ia baru saja menghempaskan tubuhnya ke kursi, dan pikirannya langsung melayang ke ponselnya yang segera saja ia keluarkan dari saku. Ada dua panggilan tak terjawab dari Sunggyu. Tanpa pikir panjang Donghyun langsung menelponnya balik.
        “Hyung, kau bersama Hye Ra?” cecar Sunggyu tak sabar. Ia bahkan sampai tak mengucapkan salam. Dan saat ini Sunggyu baru saja menuju mobilnya yang terparkir di depan café miliknya.
        “Ti…” Donghyun tak langsung menjawab karena ia teringat sesuatu. Ia pernah berjanji pada Hye Ra. Mungkin gadis itu sedang melakukannya sekarang. “Akh, tidak ada. Tapi tadi Hye Ra memang menghubungiku dan ingin bertemu. Tapi aku belum bisa mengabulkannya. Mungkin dia sedang dalam perjalanan ke sini,” ujarnya berbohong.
        “Aku tidak bisa menghubunginya. Jika sudah bertemu, tolong kabari aku secepatnya,” pinta Sunggyu penuh harap. “Dan mungkin aku akan langsung menyusul ke sana.”
        Donghyun meneguk ludahnya. Jika Sunggyu saja tak bisa menghubunginya, bagaimana dengan ia sendiri. Belum sempat Donghyun merespon, Sunggyu sudah lebih dulu mematikan sambungan telpon.

***

        Pemandangan itu kembali berputar di kepala Hye Ra seakan tak terlepas sedikitpun. Kejadian antara Sungyeol dan Hyoyeon. Sementara gadis itu kini kembali duduk bersama Woohyun. Namun kali ini tempatnya berbeda. Woohyun mengajak Hye Ra mengobrol di sebuah café yang tak terlalu jauh dari area pemakaman.
        “Oppa, aku…” Hye Ra tak melanjutkan ucapannya.
        “Bukankah sudah ku katakan untuk tak terlalu…” kali ini ucapan Woohyun yang terputus.
        “Oppa, dengarkan dulu!” protes Hye Ra menyela ucapan Woohyun. “Kau berhak mendapatkan jawaban, apapun itu,” lanjutnya kesal.
        Woohyun langsung menyesap minumannya dan memilih mengalah dari gadis di hadapannya itu.
        Hye Ra terdengar menghela napas sesaat. “Kau tau siapa pemuda yang pernah menolongku saat tenggelam dulu?”
        Woohyun mendongak cepat. Tertarik dengan arah pembicaraan Hye Ra. Namun ia menggeleng karena memang tidak tau siapa pemuda itu.
        Hye Ra sedikit tertunduk sambil mengaduk-ngaduk minumannya tanpa minat sedikitpun. “Beberapa bulan terakhir ini ternyata aku sangat dekat dengannya. Kau bahkan juga mengenalnya.”
        Ucapan Hye Ra semakin membuat Woohyun penasaran. “Siapa?” desaknya. “Jeongmin?” tebaknya kemudian. Namun Woohyun langsung menggeleng meralat jawabannya. “Tapi tidak mungkin. Setauku Jeongmin bahkan tak bisa berenang. Apalagi Hyunseong. Dia bukan berasal dari kota ini,” jelas Woohyun tentang analisisnya. Tapi sayangnya tak ada satupun yang dekat dengan sasaran.
        Cukup lama Hye Ra menggantungkan jawabannya. “Sungyeol.”
        Woohyun langsung menatap tak percaya. “Tidak mungkin!”
        “Nyatanya memang begitu, oppa. Dan setelah lulus nanti, Hoya akan langsung pindah ke Jepang.”
        “Hoya?” Woohyun justru tak mengerti karena tiba-tiba Hye Ra menyangkut pautkan dengan Hoya.
        Hye Ra menatap Woohyun penuh harapan. “Bisakah oppa membantuku melupakan mereka? Aku ingin berusaha membalas perasaanmu.”
        Woohyun justru terlihat keberatan. “Tidak semudah itu. Lagi pula, itu perasaanmu. Aku tak bisa mencampurinya.”
        “Meski dengan jadi kekasihmu?” Tanya Hye Ra ragu-ragu. Ia sangat ingin mengalihkan perasaannya itu. Dan hanya dengan Woohyun satu-satunya pilihan yang ada. Setelah memutuskan mengatakan itu, Hye Ra langsung tertunduk. Tak berani menatap Woohyun.
        Woohyun juga tak langsung menjawab.
        “Tapi aku takut akan menyakitimu. Lebih baik tidak usah saja.” Cepat-cepat Hye Ra meralat ucapannya. Ia lega karena lebih cepat menyadari hal itu.
        “Kau kekasihku sekarang,” putus Woohyun.
        Hye Ra bungkam mendengar pernyataan Woohyun. Dan ia lihat Woohyun memang benar-benar tulus melakukan itu. Seakan tak peduli jika ia akan benar-benar sakit hati nantinya.
        Woohyun menggenggam lembut tangan Hye Ra di atas meja. “Aku tak akan menyesal dengan keputusanku,” serunya meyakinkan.

***

        “Ternyata kau di sini. Kau tau! Gadis bernama Hye Ra itu mencarimu. Dia bahkan ke rumahmu tadi.”
        Hyoyeon yang memang belum terlalu jauh dari tempat ia dan Sungyeol bertemu tadi, langsung menghentikan langkahnya sesaat setelah mendengar suara seseorang yang sudah tak asing lagi di telinganya. Dadanya sesak seketika. Orang itu… Hyunsik. Dan ia yakin Hyunsik sedang bicara dengan Sungyeol tentang Hye Ra.
        Hyoyeon kembali berjalan lurus dan berusaha untuk menghiraukan pembicaraan dua pemuda di belakangnya itu.
        Sementara Sungyeol yang mendengar itu justru tak terlihat antusias. Ia masih duduk terdiam dan sibuk dengan pikirannya sendiri. “Apa tadi Hye Ra sudah melihatku?” gumamnya tak tenang dalam hati. “Dan ia melihat Hyoyeon…” Sungyeol tak berani melanjutkan khayalannya.
        “Sungyeol!” Hyunsik sedikit mengguncang tubuh temannya itu hingga Sungyeol tersadar dari lamunannya.
        “Kau tau dia pergi ke mana?” Sungyeol menatap Hyunsik penuh harap, namun yang di maksud justru menggeleng. Tanpa pamit Sungyeol meninggalkan Hyunsik. Ke arah tempat Hyoyeon pergi.
        “Jika akhirnya kau ingin menemui gadis itu, kenapa kemarin kau justru menghindarinya!” teriak Hyunsik yang sudah gemas dengan cerita cinta temannya itu.
        Sungyeol memperlambat langkahnya. Hyunsik benar. Jika ia ingin menghindar, kenapa sekarang justru mengejar? Sementara tak jauh di depannya, Hyoyeon menitihkan air mata mendengar ucapan Hyunsik. Namun gadis itu tetap berusaha tegar.

***

        Sungyeol kembali ke restoran. Ia ingat masih ada pekerjaan yang sempat ia tunda. Saat masuk ke dalam ruangannya, Sungyeol mendapati ibunya di sana. Dan Sungyeol hanya memberikan tatapan penuh Tanya untuk ibunya.
        “Kita butuh karyawan cepat. Terutama yang bisa bertanggung jawab untuk urusan di dapur,” jelas ibu Sungyeol seakan mengerti arti tatapan anaknya.
        Sungyeol mengangguk tanpa protes. Ia lalu masuk dan duduk di sofa menemani sang ibu yang tampak masih sibuk dengan beberapa CV di tangannya.
        “Dari beberapa CV yang ku baca, hanya ada satu yang menarik perhatianku.” Ibu Sungyeol menyodorkan satu map ke hadapan Sungyeol. “Ibu sudah menghubunginya, dan besok kau tinggal mewawancarainya saja.”
        Lagi, Sungyeol mengangguk tanpa berpikir terlebih dahulu. Ia percaya apapun pilihan ibunya, itu pasti yang terbaik. Sungyeol juga tak tertarik sedikitpun untuk memeriksa seperti apa calon karyawannya tersebut. Setelah itu ibu Sungyeol berpamitan untuk pulang lebih dulu.

***

        Sunggyu yang baru saja masuk ke dalam rumah, langsung mengalihkan pandangan ke luar jendela. Ia melihat Hye Ra yang baru tiba dan di antar dengan seorang pemuda menggunakan motor. Dari tempatnya berada, Sunggyu tak terlalu bisa melihat dengan jelas siapa pemuda yang mengantar Hye Ra pulang itu. Namun dilihat dari motornya, tampak familiar di mata Sunggyu.
        “Woohyun?” pikirnya bingung. Karena yang ia tahu Hye Ra pergi dengan Donghyun. Seperti apa yang ia harapkan, adiknya dekat dengan pemuda yang ia pikir tepat untuk adiknya. Bukan berarti Donghyun bukan pemuda baik-baik.
        Sunggyu masih bertahan di posisinya seperti tadi. Tak lama Hye Ra muncul dan memergoki Sunggyu mengintip sesuatu dari balik jendela.
        “Oppa!” tegur Hye Ra.
        Sunggyu berbalik dan menatap adiknya penuh arti. Ia cukup terkejut dengan penglihatannya tadi. Hye Ra dan Woohyun tampak bersika tak seperti biasanya mereka tunjukkan.
        “Bukankah kau bilang pergi dengan Donghyun?” tanyanya pelan, namun terdengar sedikit menginterogasi. Ia butuh meluruskan apa yang terjadi hari ini. “Tapi Woohyun…” Sunggyu tak melanjutkan ucapannya. Sementara tangannya menunjuk ke arah luar seakan menandakan bahwa ia tengah membicarakan kedatangan Hye Ra bersama Woohyun.
        Hye Ra tak ingin langsung menjawab. Ia baru saja pulang. Terlebih masih menggenakan seragam sekolahnya sejak siang. Gadis itu memilih untuk duduk di sofa. Dan Sunggyu dengan sendirinya mengikuti Hye Ra.
        “Oppa, apa hubunganmu dengan Haesa?” Tanya Hye Ra. Ia tiba-tiba teringat gadis itu. Karena nantinya masalah ini masih berkaitan dengan apa yang ingin ia jelaskan tentang Woohyun.
        Sunggyu nyaris tersedak dengan pertanyaan itu. Hye Ra seperti menyimpan banyak misteri, terdengar dari nada bicaranya. Hye Ra seakan menyimpan kenangan tak baik dengan Haesa. “Kau akan melarangku seperti aku tak suka jika kau dekat dengan Hoya?”
        Hye Ra menoleh cepat. Ia menghela napas sesaat. Gadis itu sedang tak ingin membahas Hoya. Tapi ia harus tetap menceritakannya. Kali ini ia memutuskan kontak matanya terhadap Sunggyu. “Hoya sebenernya juga menyukaiku. Jauh sebelum aku menyukainya.”
        Berbeda dengan reaksi Sunggyu sebelumnya. Ia justru tampak lega mendengarnya. “Aku bukan tak suka kau dengan Hoya. Tapi aku hanya ingin kau tak sakit hati karenanya. Jika nyatanya Hoya juga menyukaimu, apa boleh buat? Kau boleh menerimanya.”
        Hye Ra diam. Bukan itu jawaban yang ia harapkan saat ini. Dan ia juga sebenarnya tak menginginkan komentar apapun tentang Hoya dari Sunggyu. “Itu tidak akan terjadi. Hoya memutuskan mundur untuk mendapatkanku. Setelah lulus dia akan pindah ke Jepang.”
        “Lalu?” desak Sunggyu. Tampak sedikit bersemangat.
        Hye Ra menoleh ngeri ke arah Sunggyu. Tak biasanya Sunggyu bersikap seperti itu.
        “Bagaimana dengan Donghyun? Sudah sejauh apa hubungan kalian?” lanjut Sunggyu. Masih dengan semangat yang ia miliki.
        Hye Ra memutar bola matanya, malas. Heran kenapa kakaknya sangat ingin menjodohkan dirinya dengan Donghyun. “Aku tau maksud oppa melakukan itu. Jadi kami memutuskan bersandiwara.”
        “Maksudmu?” Tanya Sunggyu. Jelas ia tak mengerti dengan ucapan Hye Ra.
        “Kau tau aku pergi dengan Donghyun oppa?” Sunggyu mengangguk untuk pertanyaan yang itu. “Sebenarnya tidak. Donghyun oppa yang menyuruhku seperti itu. Dia bilang jika aku ingin ke suatu tempat yang tidak ingin kau ketahui, aku boleh mengatakan sedang bersamanya.”
        Hati Sunggyu seperti mencelos. “Kenapa kau membohongiku seperti itu?” protesnya. “Aku akan memberikan perhitungan pada Donghyun hyung nanti,” kesalnya.
        Hye Ra justru memukul lengan Sunggyu sambil melotot.
        “Sakit!” ringis Sunggyu sambil mengusa-ngusap lengannya yang kini memerah.
        “Apa kau memikirnya posisi Donghyu oppa juga?” seru Hye Ra, tak peduli jika nada bicaranya setengah menyudutkan Sunggyu. “Dia memiliki kekasih, kau tau!”
        “Oh,” ujar Sunggyu singkat dan dengan polosnya.
        Hye Ra hanya bisa menahan kesal melihat kakaknya pura-pura tak merasa bersalah.
        “Lalu Woohyun.” Sunggyu tampak mengalihkan. Dan dengan begitu saja, Hye Ra seakan melupakan kejadian beberapa saat tadi.
        “Aku…” Hye Ra memikirkan kata-kata yang pas. “Aku berpacaran dengan Woohyun oppa. Dan kau jangan tanyakan apa-apa dulu!” sela Hye Ra tepat sebelum Sunggyu membuka mulutnya. Setelah itu Hye Ra langsung bangkit dan berniat masuk ke kamarnya.
        “Ku pikir kau lebih dekat dengan Sungyeol,” kata Sunggyu dan lebih terdengar bicara untuk dirinya sendiri.
        Hye Ra yang sudah hampir membuka pintu kamarnya, langsung membeku seketika mendengar Sunggyu menyinggung masalah Sungyeol. Jika sudah menyangkut pemuda yang menolongnya dari tenggelam itu, Hye Ra tak bisa bersikap acuh begitu saja. Namun gadis itu beruntung karena Sunggyu juga tak menunggu responnya. Pemuda itu juga sudah bangkit dari sana. Ia bahkan sempat mengecup kening adiknya ketika melewati Hye Ra yang masih berdiri di depan kamarnya.

***

        Esoknya, Sungyeol tampak tergesa-gesa datang ke restoran. Ia langsung melesat ke ruangannya. Pagi ini Sungyeol memiliki janji dengan calon karyawannya itu. Dan sekarang ia baru sampai. Sementara orang yang ia janjikan sudah berada di dalam ruangannya sejak beberapa menit yang lalu. Ia malu dengan dirinya yang terkesan mengabaikan pekerjaan seperti ini. Semalam ia sulit tidur dengan cepat. Banyak yang ia pikirkan. Mulai dari resoran, hingga Hye Ra tentunya.
        Sungyeol membuka pintu ruangannya dengan sedikit tidak sabar. “Maaf, aku terlambat,” ujarnya sedikit merasa bersalah.
        Pemuda itu tampak bangkit dari sofa. “Ti…” ucapannya terputus seketika melihat calon atasannya itu.
        Sementara Sungyeol sendiri sama terkejutnya melihat pemuda itu. “Woohyun hyung?” ujarnya sedikit tak percaya jika yang mengirimi CV ke restorannya itu adalah seorang Woohyun.
        “Sungyeol kau…” lagi-lagi Woohyun tak sanggup melanjutkan ucapannya. Sungyeol. Pemuda yang hampir setiap saat ia repotkan dengan menyuruhnya ke sana ke mari, kini berdiri dihadannya dengan kemeja hitam dan sangat terlihat rapi juga berkelas. Dan… Sungyeol akan menjadi atasannya nanti. Ia tak bisa bercaya kalau ternyata Sungyeol pemilik restoran sebesar ini.
        Sungyeol tak langsung merespon. Ia sedikit mengabaikan Woohyun untuk sementara lalu beralih ke meja kerjanya. Di sana ia menyambar map yang berisi CV calon karyawan yang dipilihkan ibunya kemarin.
        “Nam Woohyun.” Sungyeol membaca nama pengirim lamaran itu. Di sana juga terselip foto Woohyun sebagai syarat kelengkapan CV. Kemarin ia belum sempat menyadari itu. Sungyeol lalu menatap Woohyun. “Hyung, kau yang mengirimi…” Sungyeol melanjutkannya dengan menunjuk map di tangannya.
        Woohyun agak sedikit tertunduk. Ia merasa sedikit bersalah. Meski dulu ia memang cukup baik memperlakukan Sungyeol, tapi tetap saja ia merasa selalu merepotkan pemuda itu. Dan kini ia justru melamar pekerjaan pada Sungyeol.
        “Aku tidak perlu mewawancaraimu lagi, hyung.” Sungyeol memutuskan secara sepihak.
        Woohyun mendongak cepat dan menatap Sungyeol penuh Tanya. “Tapi…” ia sudah ingin memprotes, tapi langsung ia kurungkan niat itu melihat tatapan Sungyeol.
        “Aku membutuhkan seorang koki di sini. Dan aku sudah tau kinerjamu. Kau kunci utama kesuksesan café Sunggyu hyung.” Sungyeol berjalan sambil melepaskan dasinya, dan berdiri tepat di hadapan Woohyun. “Kau ikut aku ke dapur sekarang.”
        Woohyun tak langsung menurut, sementara Sungyeol sudah mendahuluinya. Namun karena merasa Woohyun tak menyusul, Sungyeol berhenti lalu berbalik.
        “Kalau ada yang bertanya tentang interview-ku bagaimana?” Tanya Woohyun takut-takut. Sungyeol terkesan mengistimewakan dirinya. Apapun kondisinya, Sungyeol tak boleh bersikap seperti itu.
        “Bilang saja aku melarangmun untuk menceritakannya.” Sungyeol lalu meneruskan langkahnya. Dan kali ini Woohyung langsung mengejar Sungyeol sampai dapur. Tak berani protes lagi karena Sungyeol sudah memutuskannya.
“Pagi ini ibuku kedatangan tamu. Kurang tau sepenting apa. Katanya mereka anak dari teman lama ibu. Dan aku ingin meminta bantuanmu untuk memasakkan beberapa hidangan,” kata Sungyeol tak lama setelah mereka tiba di dapur restoran. “Tapi tenang saja, kau tidak sendirian,” lanjutnya.
        Woohyun tampak mengangguk karena tak lama kemudian muncul dua pria berpakaian layaknya koki. Mereka yang akan membantunya nanti. Ia lalu mulai mempelajari menu makanan yang akan ia buat dari selembar kertas yang ia dapati dari Sungyeol tadi.
        “Aku juga akan membantumu.”
        “Apa?” Woohyun tersentak mendengar pernyataan Sungyeol. Saat menoleh, pemuda yang menjadi atasannya itu sudah sibuk di salah satu sudut dapur. Sungyeol juga tampak mengabaikannya. Tanpa sadar Woohyun tersenyum melihat pemandangan yang beberapa minggu ini cukup ia rindukan. Sungyeol sibuk membuat minuman. Dan itu memang keahliannya.
        Satu jam kemudian, mereka sudah selesai. Tentu saja Sungyeol yang selesai lebih cepat karena ia hanya membuatkan minuman. Namun setelah itu Sungyeol tak tinggal diam untuk membantu Woohyun.
        “Kau tidak menemui tamu ibumu?” Tanya Woohyun setelah semua masakan di bawa ke luar oleh pelayan. Ia hanya tinggal membereskan sisa-sisa bekas memasak tadi.
        “Nanti saja,” jawab Sungyeol santai.
        “Ini.” Woohyun membawakan seporsi makanan untuk Sungyeol yang sedang menenggak minuman. Sungyeol menatapnya bingung. “Aku yakin kau belum sarapan.” Woohyun melirik ke arah jam dinding. “Ini sudah telat waktu untuk sarapan.”
        Sungyeol menerimanya dengan senang hati. “Kalau begitu aku kembali ke meja bar dulu,” candanya.
        Woohyun sempat berpikir dua kali maksud ucapan Sungyeol. Setaunya di sini tidak ada meja bar seperti yang ada di café Sunggyu. Dan Sungyeol yang melihat ekspresi Woohyun langsung terkekeh. Woohyun langsung menyadari candaan Sungyeol. Mereka seperti mengulang kembali kebiasaan mereka ketika sama-sama menjadi karyawan Sunggyu.
        Sungyeol menarik kursi untuk kemudian menikmati masakan istimewa dari Woohyun. “Aku sungguh merindukan saat-saat itu, hyung.”
        “Aku juga.” Woohyun mengangguk setuju, ia lalu juga menarik kursi dan duduk di samping Sungyeol yang tengah menikmati makanannya. “Kalau ternyata kau pemilik restoran sebesar ini, kenapa kau justru bekerja sebagai karyawan biasa di café Sunggyu hyung?”
        Sungyeol tertegun sesaat. Pertanyaan yang sama persis seperti yang pernah Hye Ra lontarkan padanya. Tentu saja Sungyeol langsung menceritakan semua alasannya hingga bisa menjadi karyawan di café yang tak terlalu besar itu.
        “Dan kau sekarang atasanku,” kata Woohyun menerima keadaan.
        “Jangan seperti itu, hyung.” Sungyeol kecewa karena Woohyun kini merasa terlihat kecil di sampingnya. “Aku ingin seperti Sunggyu hyung yang memperlakukan karyawannya tanpa ada batasan. Bahkan terkadang aku berpikir Sunggyu hyung itu kakakku, bukan bossku.”
        Woohyun terkekeh. Ia juga ingin memperlakukan Sungyeol sedekat dulu ketika di café Sunggyu. Tapi ia menyadari posisinya. Namun jika Sungyeol sudah meminta seperti itu, Woohyun tak punya kuasa menolak. Atau Sungyeol akan marah padanya.
        “Akh, iya,” pekik Sungyeol yang teringat sesuatu. “Kau sudah membuatkan aku makanan. Tadi aku juga sudah membuatkan sesuatu untukmu.” Sungyeol sempat kembali sesaat ke meja tempat ia membuatkan minuman untuk Woohyun juga.
        “Terima kasih,” kata Woohyun setelah menerimanya. Sungyeol hanya mengangguk dan ingin segera melahap makanannya. Namun ada yang janggal dengan minuman itu. Sungyeol memilih membuatkannya milk shake stroberi. Woohyun memang suka hampir segala jenis minuman yang ada di café Sunggyu. “Tapi kenapa harus milk shake stroberi?” gumamnya dalam hati sambil menatap Sungyeol sedikit curiga. Minuman itu mengingatkannya dengan Hye Ra.

***


Kamis, 21 November 2013

WANNA BE LOVED YOU (part 15)


Author              : Annisa Pamungkas
Main Cast          : Infinite (Sungyeol, Hoya, Sunggyu, Myungsoo,
  Dongwoo, Woohyun, Sungjong)
Original cast     : Hye Ra, Haesa, Eun Gi
Support cast     : Boy Friend (Jeongmin, Hyunseong, Minwoo,
Donghyun, Youngmin, Kwangmin), SNSD (Hyoyeon), BtoB (Sungjae, Hyunsik, Changsub, Eunkwang)
Genre               : teen romance, family
Length              : part

***

        “Oppa, siapa gadis itu?” desak Haesa, setelah Hyoyeon benar-benar meninggalkan kamar rawat Sungyeol. “Benar dia kekasihmu?” sambungnya dengan nada tak suka.
        Sungyeol menghela napas.
        “Kenapa tak pernah cerita padaku sebelumnya? Sudah berapa lama kau dengan gadis itu?” Tanya Haesa lagi. Padahal Sungyeol belum menjawab pertanyaan sebelumnya.
        “Tak lama setelah Hye Ra pindah dari sekolahku.” Sungyeol memberi jeda sesaat dalam ucapannya. “Seperti yang kukatakan tadi. Itu semua aku dan Changsub lakukan untuk Hyunsik. Dia yang benar-benar mencintai Hyoyeon. Gadis itu memiliki masa lalu yang sedikit buruk. Dan Hyunsik merasa belum pantas bersama Hyoyeon. Maka dari itu aku tidak pernah sedikitpun menyinggung masalah Hyoyeon padamu. Lagipula, yang ku tau dia dan keluarga sudah pindah ke Jepang,” jelas Sungyeol. “Tak ku sangka dia kembali lagi.”
        Mendengar sesuatu tentang Jepang, Haesa langsung teringat Hoya. Pemuda itu juga memiliki niat untuk pindah ke sana. Setelah itu tak ada yang bicara lagi. Sampai akhirnya pintu kembali terbuka dan memunculkan Sungjong dari baliknya.
        “Hyung, kau baik-baik saja?” Tanya Sungjong setengah khawatir.
        Sungyeol tersenyum sebagai jawaban dirinya baik-baik saja. Sedetik kemudian, ia baru menyadari sesuatu. Sungyeol langsung mengarahkan pandangannya pada jam dinding di salah satu sudut ruangan. Masih jam 9 pagi.
        “Bukankah harusnya kalian sekolah?” omel Sungyeol karena dua adiknya ada di sana. Terlebih mereka juga masih mengenakan seragam sekolah.
        Sunjong dan Haesa bungkam dan hanya mampu saling tatap menghadapi kemarahan Sungyeol.

***

        Myungsoo menyenggol lengan Hye Ra hingga gadis itu sedikit tersentak dari lamunannya. “Tak ingin pulang?”
        Hye Ra menoleh cepat ke sekitar. Hampir seluruh teman-teman sekelasnya sudah meninggalkan kelas. Dan kini hanya tersisa dirinya dan Myungsoo tak lama setelah Dongwoo serta Hoya ke luar. Gadis itu segera membereskan peralatan sekolahnya.
        “Sebenarnya apa yang kau pikirkan? Untung tadi kau tak di tegur guru.”
        Hye Ra menghela napas berat. “Entahlah. Perasaanku tak enak. Mungkin Sunggyu oppa sakit,” kata Hye Ra berusaha setenang mungkin. Ia meraih pulpen yang disodorkan Myungsoo padanya. “Bisa antar aku ke café?” pintanya.
        Myungsoo menggangguk cepat. Ia lalu menggandeng tangan Hye Ra meninggalkan kelas. Myungsoo membukakan pintu depan untuk Hye Ra, namun gadis itu menahannya. Myungsoo menoleh cepat dengan tatapan bertanya.
        “Tidak menunggu Minwoo?” Hye Ra meningatkan.
        Myungsoo menggeleng. “Dia mau mengerjakan tugas bersama si kembar.”
        Dua puluh menit kemudian Myungsoo sudah membelokkan mobilnya di parkiran café Sunggyu. “Aku langsung pulang,” kata Myungsoo tepat ketika Hye Ra akan membuka pintu mobil. Gadis itu sempat berhenti sesaat lalu mengangguk sebelum akhirnya melompat ke luar dari mobil Myungsoo.
        “Oppa!” teriak Hye Ra di depan pintu café. “Akh!” pekiknya kemudian karena sebuah lap mendarat tepat di kepalanya. “Oppa!” protesnya pada Sunggyu yang tadi melakukan itu.
        “Kau pikir ini di hutan!” desis Sunggyu tajam bercampur kesal. Pasalnya saat ini beberapa pengunjung sudah menghadiahi mereka tatapan tajam.
        Berbalik dengan Hye Ra. Gadis itu justru berbinar mendapati Sunggyu di depan matanya berdiri tegak. Sedetik kemudian, ia sudah berhamburan memeluk Sunggyu. “Oppa, kau baik-baik saja?”
        “Apa-apaan kau, Hye Ra?” kata Sunggyu sedikit risih. Bukan karena tak suka jika Hye Ra memeluknya seperti ini. Hanya saja suasanya sedang tidak tepat. Dengan penuh permohonan, Sunggyu meminta Hye Ra melepaskannya.
        “Jika Sunggyu hyung tak mau di peluk, biar aku saja yang menggantikan,” goda Jeongmin yang kebetulan berada tak jauh dari sana. Ia tengah membersihkan meja yang baru saja ditinggalkan pelanggan.
        Sunggyu menghadiahi karyawannya itu pelototan tajam, namun Jeongmin justru hanya terkekeh menanggapinya. “Sana ke dalam,” perintahnya pada Hye Ra.
        Hye Ra melangkah malas menuju meja bar. Seperti hari-hari sebelumnya, Hye Ra selalu memiliki teman yang sama-sama menghuni meja bar tersebut. Hye Ra tak langsung masuk. Ia memilih berdiri di luar meja bar, tepat di depan mesin kasir.
        “Selamat siang. Ada yang bisa saya bantu?” Tanya pemuda yang berdiri di sana.
        Hati Hye Ra serasa mencelos. Itu bukan Sungyeol. Melainkan seorang karyawan baru yang menggantikan tugas Sungyeol di belakang meja bar. Hye Ra langsung melesat ke dalam meja bar dan berhenti tepat di depan pemuda itu.
        Pemuda itu sudah ingin melarang Hye Ra untuk masuk, namun tak sanggup ia lancarkan karena tatapan tajam yang diberikan Hye Ra.
        “Siapa kau?” Tanya Hye Ra yang sama sekali tak merubah tatapannya.
“Yook Sungjae,” jawabnya polos.
Hye Ra lalu menoleh ke jendela untuk melihat Woohyun. “Oppa! Mana Sungyeol oppa?”
        Dari dalam tampak Woohyun merunduk lalu melipat tangannya di meja. Melihat Hye Ra dari dalam jendela dengan tatapan bingung. “Kemarin hari terakhir Sungyeol bekerja di sini. Kau lupa?”
        “Oppa bahkan tak pernah cerita apa-apa padaku!” seru Hye Ra dengan nada tinggi.
        “Oh, ya?” Woohyun menatap Hye Ra bingung. Yang ia tau selama ini mereka cukup dekat. Tidak mungkin Sungyeol tak bercerita tentang hal itu.
        Hye Ra tak menanggapi Woohyun. Ia melangkah gontai menuju kursi yang biasa ia tempati di sana. Pikirannya melayang tiap detail kebersamaannya dengan Sungyeol selama ini. Dua kali ia kehilangan pemuda itu begitu saja.
        “Hei…” Sunggyu mencolek lengan adiknya. “Kau merasa kehilangan Sungyeol?” tanyanya membuat Hye Ra mendongak cepat. “Aku juga.”
        Hye Ra juga tak terlalu menghiraukan perkataan Sunggyu.
        Sunggyu mengusap lembut puncak kepala Hye Ra. “Sudahlah, lebih baik kau belajar untuk ujian negaramu.” Lalu Sunggyu meninggalkan Hye Ra di sana bersama karyawan barunya.

***

        Hoya yang baru tiba di apartmennya, dibuat bingung dengan adanya sebuah tas wanita di sofa ruang tamu. Pikirannya melayang. Siapa yang kira-kira mengetahui password apartmennya.
        “Akhirnya kau pulang!”
        Hoya mendongak dan mendapati Hyoyeon berdiri di ambang dapur. “Kenapa noona ada di sini? Aku belum mau ke Jepang. Minggu depan aku baru akan ujian Negara.”
        Hyoyeon mendengus kesal. “Kau pikir urusanku hanya denganmu!” katanya tak suka lalu membanting tubuh ke sofa.
        Takut-takut Hoya duduk di seberang Hyoyeon yang tampak sangat kesal. “Lalu untuk apa kau ke sini kalau bukan untuk menyuruhku kembali ke Jepang?” Cukup lama Hyoyeon tak menjawab. “Mencari kekasihmu?”
        Kali ini Hyoyeon mendelik. Sedikit kesal karena tebakan adiknya tepat sasaran. “Eunkwang menduakanku,” katanya dingin.
        Hoya hanya berdecak menanggapinya. “Apa bedanya denganmu? Bukankah di sini kau juga memiliki 2 kekasih sekaligus?” sindirnya tajam.
        “Tapi yang ku cintai hanya Sungyeol!” jelas Hyoyeon tak terima.
        Hoya menegakkan badannya cepat. “Sungyeol?”
        “Kenapa? Kau mengenalnya? Tapi dia sedang di rawat sekarang. Semalam Sungyeol kecelakaan.” Hyoyeon bersuara ketus.
        “Apa?” pekik Hoya dengan perasaan mencelos. “Kenapa aku baru sadar? Semalam aku yang mengantar Sungyeol ke rumah sakit. Dan berarti yang dimaksud Haesa tadi… Akh! Kenapa dunia sempit sekali. Sungyeol itu kakaknya Haesa.”
        “Sudahlah. Aku ingin istirahat!” kata Hyoyeon yang sudah beranjak dari sana karena Hoya bungkam sejak tadi.

***

        Dua minggu berlalu. Hye Ra dan yang lainnya baru saja menyelesaikan ujian Negara mereka. Sepulangnya dari sekolah, seperti biasa Hye Ra langsung menuju café.
        “Hai… bagaimana ujian terakhirmu?” sapa Sungjae ceria. Pemuda itu menggantikan Sungyeol menjadi teman meja bar Hye Ra.
        Hye Ra mendesah sesaat. “Tidak terlalu baik. Tapi tidak buruk juga.” Gadis itu tampak tak bersemangat. Sangat kontras dengan Sungjae.
        “Kemarin Woohyun hyung bilang, kau sangat suka milk shake stroberi. Mau mencoba buatanku?” tawar pemuda tinggi itu.
        Hye Ra menoleh cepat. Dan tanpa menunggu persetujuannya, Sungjae sudah mulai sibuk dengan kegiatannya. Hye Ra terkesiap melihat pekerjaan Sungjae. Cara pemuda itu membuat minuman, dan juga postur tubuhnya yang tinggi sangat mengingatkan Hye Ra akan sosok seorang Sungyeol.
        Gadis itu hampir tak berkedip menatap Sungjae. Sungjae menoleh dan memberikan senyuman pada Hye Ra. Seketika itu pula Hye Ra tersadar. Belum lama ia menetralisir pikirannya, Sungjae sudah lebih dulu menyuguhkan minuman buatannya di hadapan Hye Ra.
        Tak ingin menyakiti hati Sungjae yang sudah susah payah membuatkannya minuman, tanpa pikir panjang Hye Ra langsung menenggaknya hingga tersisa setengah gelas. Semua milk shake stroberi pada dasarnya sama, hanya saja Hye Ra tetap merasakan ada sedikit perbedaan antara buatan Sungyeol dan Sungjae.
        “Terima kasih atas minumannya. Hmm… kalau Sunggyu oppa bertanya, bilang saja aku ada janji bertemu Donghyun oppa.” Tanpa menunggu jawaban apapun dari Sungjae, Hye Ra segera melesat pergi dari sana. Ia menuju rumah Sungyeol tanpa sepengetahuan siapapun. Cukup lama ia berdiri di sana, menatap rumah besar tersebut.
        Gadis itu tersentak ketika melihat pintu utama terbuka dan memunculkan sesosok pemuda. Cukup tampan. Tapi itu bukan Sungyeol. Pemuda tersebut membatalkan niat membuka pintu mobilnya karena melihat Hye Ra berdiri di depan pagar rumahnya.
        “Maaf, kau mencari siapa?” tegur pemuda itu.
        Hye Ra menatap nanar pemuda di hadapannya. “I… Ini benar rumah Lee Sungyeol, kan?”
        “Kau siapa?” pemuda itu justru balik bertanya. Ia tampak berhati-hati pada siapa saja yang bertanya mengenai Sungyeol.
        “Katakan saja dari Kim Hye Ra,” ujarnya cukup bersemangat mengingat ia sudah merasa kehilangan sosok Sungyeol dua minggu terakhir ini.
        Pemuda itu cukup lama berfikir. Ia tak ingin salah menjawab.

***

        Myungsoo menghentikan mobilnya di depan rumah Eun Gi ketika ia mengantarkan kekasihnya itu sepulang sekolah. Ia lalu menoleh dan tatapannya jatuh pada seorang gadis di depan rumah yang ia ketahui dari Eun Gi milik Sungyeol.
        “Myung.” Eun Gi menegur kekasihnya. Namun Myungsoo justru memilih ke luar dari mobilnya dan menghampiri gadis yang sedang berbicara dengan seorang pemuda tersebut.
        “Katakan saja dari Kim Hye Ra.”
        Myungsoo membulatkan mata mendengar gadis itu menyebut dirinya ‘Hye Ra’. Pemuda itu juga tak kunjung memberikan jawabannya.
        “Kau di sini?” tegur Myungsoo, bahkan ia juga meraih tangan gadis itu.
        “Myungsoo, aku hanya ingin bertemu dengan Sungyeol oppa,” tegas Hye Ra.
        Eun Gi juga berada di sana menyusul Myungsoo. Ia bahkan tengah menatap pemuda yang tadi bicara dengan Hye Ra dari atas ke bawah. Sementara pemuda itu sedikit tak nyaman dengan perlakuan Eun Gi padanya.
        “Hyunsik oppa!” pekik Eun Gi bersemangat. Semua yang ada di sana menoleh cepat padanya. “Sudah seminggu kau di sini. Tapi kita baru bertemu sekarang.”
        Pemuda yang panggil Hyunsik tadi hanya mengangguk canggung.
        Myungsoo menarik lengan Eun Gi lalu berkata setengah berbisik, “kau mengenalnya?”
        Eun Gi menepis pelan tangan Myungsoo dari lengannya. “Hyunsik oppa ini temannya Sungyeol oppa,” jelas Eun Gi. Ia lalu kembali melirik Hyunsik. “Oppa kau ke mana saja selama ini? Tak ku sangka ternyata kau yang membeli rumah Sungyeol oppa.”
        Hye Ra dan Myungsoo saling tatap setelah mendengar ucapan Eun Gi.
        “O, iya. Apa Sungyeol oppa sudah bertemu lagi dengan adiknya? Kalau tidak salah, namanya Haesa. Benar kan, oppa?” lanjut Eun Gi yang tak menyadari perubahan raut wajah Myungsoo dan Hye Ra. Ia terus berbincang dengan Hyunsik yang ia ketahui sebagai teman lama Sungyeol.
        “Lee Haesa teman sekelasku?” Tanya Myungsoo yang kembali mencoba menarik perhatian Eun Gi.
        “Sejak kapan kau memiliki teman sekelas bernama Haesa?” Eun Gi balik bertanya dan berusaha kembali pada Hyunsik, namun Myungsoo lagi-lagi mencegahnya agar Eun Gi tak mengabaikannya.
        “Haesa anak baru di kelasku,” tegas Myungsoo.
        “Benarkah di kelasmu ada anak baru?” Tanya Eun Gi polos. “Aku tidak pernah tau. Tapi bisa jadi mereka orang yang berbeda.”
        Myungsoo menatap Eun Gi gemas.
        “Sudahlah Myungsoo. Eun Gi benar. Bisa saja mereka orang yang berbeda,” kata Hye Ra berusaha menengahi meski sebenarnya ia juga tak yakin mengingat ia pernah melihat Haesa bersama Sungyeol. Hye Ra lalu menatap Hyunsik. “Jadi Sungyeol oppa sudah pindah?” tanyanya.
        Dengan berat hati Hyunsik mengangguk. “Iya,” ujarnya pendek.
        “Ke mana?” Hye Ra setengah mendesak karena ia benar-benar sudah frustasi dengan keberadaan Sungyeol sekarang.
        Sementara itu, Myungsoo masih sibuk beradu argument dengan Eun Gi dan sedikit mengabaikan keberadaan Hye Ra serta Hyunsik. “Waktu itu aku pernah melihat Sungyeol bersama Haesa teman sekelasku itu. Mereka bahkan sempat ke luar dari sini,” tunjuknya pada rumah besar di belakang Hyunsik tersebut.
        “Benarkah?” ujar Eun Gi mengalah. “Tapi, kenapa tak pernah cerita kalau di kelasmu ada anak baru?” protesnya kemudian.
        Myungsoo menepuk keningnya. “Apa itu penting?”
        “Maaf, Sungyeol tak pernah mengatakannya,” kata Hyunsik kembali membuat hati Hye Ra mencelos.
        Gadis itu hanya mengangguk tanpa melancarkan protes atau mungkin desakan pada Hyunsik. Ia harus mempercayai perkataan pemuda itu, meski hati kecilnya tidak berkata demikian. “Terima kasih. Dan kalau kau bertemu dengan Sungyeol oppa. Tolong katakan aku mencarinya.”
        Hyunsik tak menjawab. Hye Ra juga sudah terlanjur pergi dari sana. Sedikit banyaknya pemuda itu menyesal dengan keputusannya. Ia merasa ada sesuatu pada gadis itu. Tapi tentu saja ia tak berani melanggar janjinya pada Sungyeol.
        Beberapa menit kemudian, Myungsoo dan Eun Gi berhenti dari perdebatan panjang yang tidak penting itu. Dan saat menoleh, ternyata Hyunsik serta Hye Ra sudah tidak ada di sana.
        “Mana Hye Ra?” seru Myungsoo sambil menyapu pandangan ke sekitar.
        “Gadis itu sudah pergi,” kata Hyunsik dari dalam mobil. Ia lalu meninggalkan Myungsoo bersama Eun Gi di sana.
        Myungsoo berdecak kesal. “Aku mencari Hye Ra dulu,” pamit Myungsoo kemudian, dan Eun Gi hanya mengangguk tanpa protes kalau kekasihnya itu sangat mengkhawatirkan sepupunya.

***

        Hye Ra berjalan seorang diri menelusuri taman kota. Tak jauh di depannya ada Hyoyeon duduk seorang diri di kursi taman. Namun tentu saja Hye Ra tak mengenal Hyoyeon. Gadis itu berusaha mengabaikan keberadaan Hyoyeon. Tapi tidak setelah ada seorang pemuda tinggi dengan balutan kemeja putih yang tampak elegan membungkus tubuh rampingnya. Tanpa dasi, sementara bagian lengan kemejanya di gulung hingga siku. Pemuda itu, Sungyeol, terlihat sangat berbeda dari apa yang Hye Ra ketahui selama ini.
        Andai Sungyeol datang sendiri dan tidak menghampiri Hyoyeon, mungkin Hye Ra sudah akan berlari lalu memeluknya dengan erat. Hye Ra menatap tak suka dengan Hyoyeon karena gadis itu langsung memeluk Sungyeol. Memang tak terlalu lama karena Sungyeol tampak tak membalasnya. Setelah itu, Hyoyeon menarik tangan Sungyeol agar duduk di sampingnya.
        Hye Ra yang melihat kejadian itu, segera membalikkan badan. Jika bisa, ingin di depannya tiba-tiba muncul sebuah kolam renang besar dan ia akan langsung menceburkan diri ke dalamnya. Dengan begitu Sungyeol pasti akan mengabaikan keberadaan Hyoyeon. Namun itu semua hanya khayalan belaka. Dan Hye Ra memutuskan untuk meninggalkan tempat itu.
        Kembali Hye Ra menelusuri taman yang tadi sudah sempat ia lalui Di depannya muncul Woohyun yang setengah berlari dan tampak seperti mengejar seseorang, namun orang tersebut sudah tak terlihat.
        Hye Ra belum menyadari keberadaan Woohyun. Namun tampaknya Woohyunlah yang pertama kali melihat Hye Ra. Dan ia langsung tersenyum lalu mendekati Hye Ra.
        “Ternyata benar yang ku lihat itu, kau.”
        Hye Ra mendongak karena merasa ada seseorang yang bicara dengannya. Terlebih suara itu sangat familiar di telinganya. “Woo… Woohyun oppa?” kejutnya setengah terbata.
        Woohyun masih menyunggingkan senyumnya. Perlahan Woohyun melangkah semakin dekat. “Sedang apa kau di sini?”
        “Oppa sendiri?” Hye Ra malah balik bertanya.
        Woohyun tak menjawab. Ia justru meraih tangan Hye Ra. “Bagaimana kalau kita jalan?” ajaknya. “Ke mana saja yang kau mau,” sambungnya melihat Hye Ra yang bingung.

***

        Hye Ra dan Woohyun menghentikan langkah di depan sebuah makan atas 2 nama. Kim Heechul dan Jung Jessica. Kedua orang tua Hye Ra dan Sunggyu. Sesuai janji Woohyun tadi, Hye Ra meminta pemuda itu menemaninya ke makam orangtuanya. Mereka meletakkan masing-masing bucket bunga yang mereka bawa. Setelah berdoa sebentar, mereka duduk dan masih menghadap makam orang tua Hye Ra.
        Cukup lama mereka terdiam, dan Hye Ra baru menyadari Woohyun tak mengenakan seragam café seperti biasanya. “Oppa kau sedang mengambil cuti bekerja?” tanyanya penasaran. Terlebih ini belum waktunya jam kerja Woohyun selesai.
        Woohyun menunduk dan memastikan pakaian yang ia kenakan saat ini. Kemudian pemuda itu tersenyum lalu menoleh. “Kenapa kau selalu ketinggalan berita tentang café?” kata Woohyun sedikit meremehkan.
        Hye Ra mengerutkan keningnya, bingung. Namun Woohyun juga tak kunjung memberitau apa yang sebenarnya terjadi. Akhirnya Hye Ra hanya berdecak. Sedikit kesal. Seperti yang Woohyun baru saja katakan, ia selalu ketinggalan berita. Pertama tentang perginya Sungyeol, lalu Sungjae yang tiba-tiba sudah bekerja di sana. Setelah ini apa lagi? Mungkin Jeongmin atau Hyunseong mengikuti jejak Sungyeol meninggalkan café.
        Setelah beberapa saat berspekulasi dengan pikirannya sendiri, Hye Ra membulatkan mata. Ia lalu memutuskan kontak mata dengan Woohyun. “Jangan bilang oppa juga ke luar dari café?” tanyanya takut-takut. Ia sangat berharap Woohyun mengatakan hal sebaliknya.
        Woohyun menggenggam lembut tangan Hye Ra.
        Gadis itu tak langsung menoleh. Ia memejamkan mata sesaat dan berusaha menyadari sesuatu. “Oppa layak mendapatkan pekerjaan yang lebih baik dari sekedar koki di café kecil seperti milik keluargaku,” ujarnya pelan tanpa menatap Woohyun sedikitpun.
        Woohyun terkekeh pelan karena Hye Ra ternyata menyadari hal tersebut. Ia lalu membawa tangan kanan Hye Ra dan ia letakkan di atas pahanya. Woohyun menepuk-nepuk lembut tangan gadis itu. “Tak ku sangka kau bisa berpikir seperti itu.”
        Hye Ra perlahan menoleh, menatap senyuman pemuda di sampingnya tanpa sedikitpun menarik tangannya menjauh dari kekuasaan tangan Woohyun. Ia nyaman diperlakukan seperti itu. Terlebih dari seorang Woohyun. “Oppa sudah seperti Sunggyu oppa ke dua untukku.”
        Mendengar itu, senyuman Woohyun menghilang tanpa sisa. Ia menghembuskan napas sebelum membalas tatapan Hye Ra. “Harusnya aku memang sudah menyadari itu sejak awal,” ujarnya sambil perlahan mengembalikan tangan Hye Ra seperti semula dan kembali membuang pandangannya.
        Hye Ra memiringkan kepalanya agar bisa menatap wajah Woohyun lebih jelas. Ia juga menaruh curiga di sana. “Maksud oppa?” serunya pelan namun terkesan sedikit mendesak. Cukup lama ia menunggu Woohyun meresponnya.
        Woohyun akhirnya menoleh. Ia bahkan sedikit memutar tubuhnya agar bisa menghadap Hye Ra. “Kau hanya menganggapku kakak, kan?” tegasnya memastikan, dan Hye Ra menjawabnya dengan anggukan. “Aku tau, dan…” Woohyun memberikan jeda sesaat sebelum kembali melanjutkan ucapannya. “Dan aku tak bisa menganggapmu sama seperti kau menganggapku.”
        Hye Ra memberikan penekanan dalam tatapannya agar Woohyun lebih detai lagi menjelaskannya.
        “Aku sadar dengan posisiku.” Woohyun mengalihkan pandangannya. Ia tak sanggup berlama-lama menatap gadis di hadapannya. “Kau adalah pemilik café tempat aku bekerja. Dan aku dengan lancangnya mencintaimu diam-diam.”
        Hye Ra membeku mendengar pernyataan cinta Woohyun. Matanya menatap Woohyun, namun pikirannya melayang dari sana.
        Sementara Woohyun sendiri tampak terkekeh dengan semua yang ia katakan. Seakan itu adalah hal memalukan yang pernah terjadi di hidupnya. Woohyun berusaha terlihat santai di hadapan Hye Ra. “Kau jangan terlalu me…” ucapannya langsung terputus ketika menoleh dan mendapati Hye Ra menangis.
        Gadis itu buru-buru menyeka air matanya dengan kasar. “Oppa, aku bukan menangis karenamu,” ujarnya cepat-cepat sebelum Woohyun memikirkan hal tersebut. Hye Ra memang bukan menangis karenanya. Tapi karena semua. Tentang Sungyeol, Hoya, bahkan tentang Haesa dan Sunggyu. Juga kenyataan antara Haesa dan Sungyeol yang baru saja ia ketahui. Terakhir, ia teringat pemandangan beberapa waktu lalu ketika Hyoyeon memeluk Sungyeol.
        Woohyun menahan tangan Hye Ra dan menggantikannya menghapus sisa air mata di pipi gadis itu dengan lembut. “Aku hanya mengatakan apa yang aku rasakan selama ini. Jujur aku cemburu melihat kedekatanmu dengan Sungyeol. Padahal kalian belum lama bertemu. Tapi ku mohon, kau jangan terlalu ambil pusing dengan apa yang aku katakan tadi. Aku hanya ingin menyatakan perasaanku tanpa menginginkan balasan apapun darimu.”
Tak lama setelah menyelesaikan kalimatnya, Woohyun berdiri dan berniat meninggalkan tempat itu. Namun ia merasakan seseorang menahan tangannya. Saat menoleh, ia mendapati Hye Ra sudah berdiri di sampingnya.
        “Kau mau ke mana?” cegah Hye Ra. “Tak ingin mendengar jawabanku?”
        Tanpa sadar Woohyun menggerakan tubuhnya hingga kembali berhadapan dengan gadis itu. Menatapnya tak percaya karena seolah memberikan harapan padanya. Meski ia sudah mempersiapkan diri untuk jawaban terburuk sekalipun.
        Hye Ra menatap Woohyun lembut. “Oppa… aku…”
        Woohyun sampai menahan napasnya, menunggu jawaban yang ke luar dari bibir Hye Ra dengan sedikit tidak sabar.

***