Senin, 18 Maret 2013

BLACK ORCHID (part 12 end)



        Meski tidak tinggal bersama keluarga Park Jung Soo, Joon harus tetap menuruti kemauan ayahnya. Ia dikuliahkan agar kelak bisa membantu Kyuhyun mengurus perusahaan keluarga mereka.
Dan malam ini sepulang kuliah, Joon tidak langsung kembali ke apartmen. Pemuda ini duduk diam seorang diri di sebuah bangku taman yang sepi dengan tatapan kosong lurus ke depan. Otaknya memutar kembali kenangan yang ia lalui bersama Haesa beberapa minggu belakangan. Meski belum berlangsung lama, keberadaan Haesa selama ini sangat mempengaruhi hidupnya.
Di masa lalu, Joon memang dirawat oleh Yoo Ra dan Hyukjae, namun kehidupan yang ia jalani tak semulus apa yang dipikirkan orang. Sering kali ia hanya tinggal seorang diri. Saat-saat tersulit hidup Joon terjadi ketika Hyukjae hilang, disusul kemudian oleh Yoo Ra. Serta, saat-saat ia hidup dalam sebuah penyesalan besar sebagai seorang pembunuh bayaran.
Joon menghela napas panjang untuk menghilangkan rasa sesak yang kini membuncah di dadanya. Rasa sakit itu semakin terasa kala Joon teringat Haesa menangis ketika Minho menolak kenyataan sebenarnya antara mereka. Itu lebih sakit ketika dulu ia dituduh sebagai seorang pembunuh.
“Kau tau, walau umurku di bawah Haesa, tapi aku menyukai kepribadian gadis itu. Sampai akhirnya Minho lah yang mendapatkan cintanya.”
Joon menoleh dan mendapati Taemin telah duduk di sampingnya. Pemuda itu menatap adiknya penuh Tanya. Menurutnya, Taemin seperti orang yang mengetahui banyak hal.
Taemin membalas tatapan Joon sambil tersenyum. “Waktu tidak akan berpengaruh untuk seseorang mendapatkan cinta mereka.”
Joon melempar pandangan ke arah lain. Tampaknya ia mengerti maksud pembicaraan Taemin. “Apa aku salah mencintainya?”
Taemin tertawa lepas. “Akhirnya kau mengakuinya.”
“Tapi Minho…” ternyata hal yang memberatkan Joon hingga detik ini adalah tentang Minho. Joon hanya tidak ingin menyakiti orang lain ketika ia mulai mencintai seorang gadis.
Tawa Taemin perlahan memudar. “Mungkin saat ini Minho hanya belum bisa menerima kenyataan. Cintanya untuk Haesa terlalu besar. Bahkan ia sampai mengancam akan menghajarku jika aku benar-benar merebut Haesa darinya.” Ujar Taemin kembali tertawa, kali ini ia menertawai ancaman Minho untuknya.
“Jadi nama gadis itu Haesa?”
Taemin menoleh dan menatap kakaknya heran karena pertanyaan yang keluar dari mulut Joon. “Astaga! Kaliah bahkan sempat tinggal bersama, tapi kau tak mengetahui namanya?” Tanya Taemin gemas.
Joon menggeleng polos membuat Taemin menghela napas lalu menggeleng menanggapi sikap kakaknya.

@@@

        Cheondung membuka pintu yang mengarah ke balkon apartmen Joon. Di sana ia menemukan Haesa yang terduduk seorang diri sambil memandangan hamparan bintang di langit luas. Cheondung duduk di samping Haesa. Udara dinginpun langsung menyergap membuat Cheondung memeluk tubuhnya sendiri.
        Tapi gadis itu tampaknya tak menyadari kehadiran Cheodung. Ia sibuk dengan pikirannya sendiri yang kembali memutarkan memori indah bersama Minho. Bahkan yang paling menggelikan adalah kecemburuan Minho ketika Haesa menyinggung tentang pemain sepakbola idolanya, Baekhyun, membuah gadis itu tersenyum geli.
        Namun perlahan senyuman itu berubah menjadi senyum penuh kerinduan tatkala Haesa teringat masa-masa singkatnya bersama Joon. Bahkan pertemuan pertama kali yang hampir meregang nyawa mereka pun menjadi salah satu kenangan yang tak akan pernah terlupakan.
        “Kau merindukan Minho?” ujar Cheondung yang sukses membuat Haesa terkejut.
        “Sejak kapan kau…” Haesa tak melanjutkan kata-katanya.
        Cheondung tersenyum dan melempar pandangan ke arah lain. “Kau terlalu tenggelam dalam pikiranmu sendiri. Bahkan kau tak menyadari sudah berapa lama aku di sini.”
        Haesa tertunduk untuk menyembunyikan rasa malunya.

@@@

        Joon baru saja sampai dan masuk ke dalam apartmennya. Terlalu lelah dengan kegiatannya hari ini. Joon sempat melirik ke arah balkon. Pintu di sana tidak tertutup. Yang ada dalam pikiran Joon mungkin ayahnya lupa menutup pintu itu. Joon hendak ke sana, namun setelah beberapa langkah, kakinya terhenti mendapati Haesa dan Cheondung muncul dari arah sana.
        “Joon?” pekik Haesa, namun pemuda yang dimaksud malah menghindar dan masuk ke dalam kamarnya. “Joon… buka pintunya!” teriak Haesa sambil menggedor pintu kamar Joon.
        Cheodung masih berdiri di sana dengan setia menemani sahabat yang ternyata adalah kakaknya. Cheondung lagi-lagi hanya mampu mengusap lembut pundak Haesa yang sedikit terlihat frustasi.

@@@

        Tengah malam, Baekhyun terlihat terbangun dari tidurnya. Ia langsung menyalakan lampu di samping tempat tidurnya. Baekhyun menoleh ke tempat tidur di sisi kiri ranjangnya. Tak ada yang aneh. Di sana Sehun masih terlelap dengan tenangnya. Namun pemandangan berbeda ketika ia menoleh ke kanan. Minho duduk sambil memeluk lututnya dan memandang hampa ke luar jendela.
        “Apa kau tidak lelah, Minho?” tegur Baekhyun sambil mengusap matanya yang masih terasa mengantuk. “Kita baru saja menghadapi pertandingan berat tadi sore.”
        Minho tak menjawab. Cukup lama ia terdiam, hingga akhirnya Minho bersuara namun tak sedikitpun melirik ke Baekhyun. “Kau mencintai kekasihku?”
        Baekhyun hendak kembali berbaring untuk melanjutkan tidurnya. Namun ketika mendengar pertanyaan Minho, sontak ia kembali menegakkan badan dan menatap tajam ke arah Minho. “Apa?” pekiknya heran. “Kenapa kau bicara seperti itu? Tentu saja tidak. Dia itu kekasihmu. Mana mungkin aku mencintainya.” Protes Baekhyun untuk membela diri.
        Minho balas melirik Baekhyun. “Tapi kau sudah tau cerita tentang ku, kan? Jadi, apa kau sekarang bisa mencintainya?”
        Tenggorokan Baekhyun terasa tercekat. “Iya aku tau, tapi…” Ia tak tau harus mengatakan apapun untuk Minho.
        “Maaf.” Ujar Minho singkat sebelum akhirnya kembali memandang langit dari dalam kamarnya dengan tatapan kosong. Minho menghela napas berat. “Apa yang akan kau lakukan jika menjadi diriku?”
        Baekhyun menggaruk belakang kepalanya sambil berfikir. “Aku tidak bisa menjawab. Semua keputusan ada di tanganmu.”
        Minho menoleh dan mendapati Baekhyun telah berbaring lalu menarik selimut hingga menutupi seluruh tubuhnya. “Baekhyun!” tegur Minho sambil turun dari tempat tidurnya menuju ranjang Baekhyun. “Tolong bantu aku…” pinta Minho sedikit memaksa sambil menarik selimut yang menyembunyikan tubuh Baekhyun. “Aku akan mendengarkan apapun yang kau katakan.”
        “Oke…” Baekhyun menuruti Minho meski terdengar cukup terpaksa. “Kau ingat? Kau juga cemburu melihat perlakuan Haesa terhadap Kibum. Padahal Kibum adalah kakaknya. Dan sekarang, status mu juga sebagai kakaknya Haesa. Kau harus terima kenyataan itu.”
        “Ucapan kalian semua sama.”
        “Jelas saja.” Sergah Baekhyun. “Setidaknya kini kau bisa mendapatkan perlakuan Haesa seperti yang selama ini diterima Kibum. Apa itu masih kurang untukmu?”
        Minho diam. Tanpa berkata-kata lagi, ia kembali ke ranjangnya dan berbaring di sana. Menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut dan berharap bisa menutupi semua keresahan hatinya dari semua orang bahkan dari seluruh dunia.

@@@

        Sementara di tempat lain, hal serupa juga dialami Joon. Pemuda itu hanya berbaring di tempat tidurnya tanpa bisa memejamkan mata. Minho, Kibum bahkan kini Cheondung. Tak selayaknya ia bersikap seperti itu. Tapi Joon juga tak bisa menahan diri untuk tidak cemburu terhadap tiga pemuda itu jika Haesa bersama mereka.
        “Bodoh sekali kau Joon.” Makinya terhadap diri sendiri. “Mereka bahkan tidak mungkin menjalin hubungan sebagai sepasang kekasih. Kau tidak berhak berharap mereka saling berjauhan satu sama lain.”

@@@

        Malam itu, Haesa memaksa pergi dari apartmen Joon. Ia juga mengajak Cheondung. Haesa memutuskan untuk pulang ke rumah Cheondung dan gadis itu menempati kamar Yong Hwa karena sang pemilik sedang tidak di rumah. Sekitar pukul 4 pagi, ponsel Haesa berbunyi membuat gadis itu sontak terbangun.
        Haesa meraih ponselnya yang tergeletak di meja. Panggilan dari Seungho. “Hallo…” sapanya berat.
        “Kau lupa, hah?” sungut Seungho.
        Haesa berusaha mencerna ucapan Seungho sambil mengingat-ingat apa yang ia lupakan. “Aku tak ingat apapun.”
        Seungho menghela napas lelah. “Kenapa adikku yang satu ini sangat bodoh sekali.”
        Haesa masih berusaha berfikir keras. Tapi ia sama sekali tak menemukan apapun yang ia lupakan. Haesa memandang tiap sudut kamar Yong Hwa. Tentu saja ia tak akan menemukan apapun yang bisa memancing ingatannya kembali.
        “Minho hari ini ulang tahun.” Kata Seungho akhirnya karena tak kunjung mendapatkan jawaban dari Haesa. “Bukankah kalian berjanji akan melihat sunrise pagi ini?”
        “Astaga!” pekik Haesa sambil menepuk keningnya. “Terima kasih telah mengingatkanku. Kau benar-benar kakak yang baik.”
        “Ya sudah. Aku akan menjemputmu.”
        “Tunggu.” Sergah Haesa sebelum Seungho sempat menutup telpon. “Aku di rumah Cheondung. Kalau kau ingin menjemput, datanglah ke sini.”
        Setelah mengakhiri panggilan dengan Seungho, Haesa langsung melesat keluar kamar.
        “Kau mau kemana?” tegur Yong Hwa yang saat itu baru saja pulang.
        “Aku ingin menemui Minho.”
        “Pagi-pagi sekali? Apa kau ingin memberikan kejutan di hari ulang tahunnya?”
        “Kami berencana melihat sunrise di hari ulang tahun Minho.”
        “Waahh… tak ku sangka Minho bisa seromantisi itu.” Kata Yong Hwa kagum. “Kau ingin ku antar?” tawarnya.
        “Tidak usah.” Sergah Haesa cepat-cepat. “Seungho akan menjemputku. Dan tolong katakan pada Cheondung aku pergi.”
        Yong Hwa mengangguk mengerti. “Baiklah… aku akan menemanimu menunggu Seungho.”

@@@

        Hempasan angin pagi itu menerpa rambut Minho yang tengah duduk seorang diri di tepi dermaga. Deburan ombak yang kencang senada dengan hati Minho yang kacau saat ini.
        “Kau tidak bisa kabur lagi sekarang, Choi Minho.” Ujar Haesa dengan napas satu-satu sambil menjatuhkan diri di samping Minho. Minho hendak bangkit, namun Haesa lebih cepat menangkap tangannya. “Jangan siksa aku seperti ini.”
        Minho akhirnya mengalah dan tetap duduk di sana.
        “Apa salah jika aku sangat mencintaimu?” tegas Minho dan membuat gadis itu menatapnya dalam-dalam. “Apa tidak bisa jika suatu hari nanti kita menikah, punya anak, lalu…”
        “Cukup!” potong Haesa membuat Minho diam seketika. Pemuda itu mengalihkan pandangan kembali ke tengah lautan yang mulai di terpa cahaya. “Ku mohon jangan siksa aku lagi dengan semua impian-impian kita yang tidak akan pernah terwujud.”
        Minho tersenyum pahit. Diliriknya Haesa yang sudah tak menatapnya. Wajah gadis itu sudah menengadah ke atas seperti ingin menahan tangis. Namun kenyataannya memang seperti itu.  Haesa buru-buru menyeka buliran air yang mulai mengalir keluar melalui celah matanya, tapi tangan Minho lebih cepat untuk menghadangnya.
        Haesa menoleh. Perasaannya kini campur aduk menatap mata Minho yang penuh dengan ketulusan untuk mencintainya. Tapi gadis itu harus mulai mempersiapkan diri dari sekarang karena pemuda yang sudah menjadi kekasihnya selama lebih dari dua tahun ini hanya akan menjadi kakaknya selamanya.
        “Menangislah…” lirih Minho. Haesa melempar tatapan penuh Tanya. “Aku ingin melihatmu menangis. Karena setelah itu, aku sangat ingin menghentikan tangismu dalam pelukanku seperti yang selalu Kibum lakukan untukmu.” Perkataan Minho semakin membuat air mata Haesa mengalir lebih deras lagi dan pemuda itu tak menyia-nyiakan kesempatan untuk menarik gadis itu ke dalam pelukannya.
        Minho mengusap rambut Haesa lembut. “Aku akan mencari kebahagian lain ketika bersamamu yang bukan lagi sebagai kekasihku.” Haesa tak menjawab. “Berjanjilah bahwa kau akan menjadikanku orang pertama yang mengetahui semua keluh kesahmu.”
        Haesa menjauhkan tubuhnya dari Minho. “Kibum harus menjadi yang pertama.”
        “Oke, aku yang kedua.” Kata Minho mengalah.
        “Cheondung? Seungho? Yong Hwa? Heechul?”
        Minho membulatkan mata. “Berarti, kau akan menjadikanku yang terakhir?” protesnya membuat gadis itu menertawainya.
        Tak lama kemudian, Minho ikut menertawai kebodohannya. Ia barus sadar bahwa keluarga barunya bukan hanya Kibum dan Haesa. Tapi juga Heechul, Yong Hwa dan Cheondung. Setelah itu, Minho mulai bisa meredakan tawanya.
        Keheningan sesaat menguasai mereka berdua yang menyambut datangnya pagi yang indah. Sorotan matahari yang belum muncul sempurnya memberikan efek siluet bayangan Haesa dan Minho yang duduk tenang di sana.
        Tanpa menoleh sedikitpun, Minho meraih tangan Haesa dan menarik gadis itu untuk berdiri. Diputarnya tubuh Haesa hingga kini mereka saling berhadapan. Namun pandangann Haesa masih tersita oleh indahnya sunrise pagi itu.
        “Minho… Kau lihat? Sunrise pagi ini sangat indah.” Gumam Haesa penuh semangat. Tapi ia tak menyadari bahwa Minho sudah mendekatkan wajahnya ke wajah Haesa.
        “Hentikan…!” teriak seseorang di belakang mereka membuat Haesa menoleh seketika, tapi ternyata, pipi gadis itu justru menyentuh bibir lembut Minho karena pemuda itu belum bergerak sama sekali.
        “Minho!” desisi Haesa menjauhkan wajah Minho dari hadapannya.
        Minho mendengus kesal ketika mengetahui siapa saja yang telah mengganggunya. “Kenapa kalian…” ucapan Minho terputus. Ia mengacak belakang rambutnya dan terlihat cukup frustasi.
        Mulai dari Seungho, Heechul, Kibum, Yong Hwa hingga Cheondung juga berada di sana. Kini mereka berjalan mendekati Minho yang masih bersama Haesa. Minho menarik paksa tangan Haesa untuk ikut bersamanya.
“Kalian mau kemana?” terdengar beberapa protesan dari kelima pemuda tadi.
“Aku masih belum ingin kebersamaanku dengan Haesa di ganggu oleh kalian.” Cetus Minho semakin jauh membawa Haesa dari sana dan tak mempedulikan protes keras dari sudaranya.
Haesa menatap kebelakang tempat Kibum dan lain berada. Ia hanya mengangkat bahu menandakan bahwa ia tak mengetahui kemana Minho akan membawanya pergi.
“Mungkin itu bentuk pemberontakan Minho karena selama ini ia tidak bisa bersikap protektif terhadap Haesa.” Ujar Cheondung. Pemuda itu memang sangat tau bagaimana antara Minho dan Haesa selama mereka menjalin hubungan sebagai sepasang kekasih.
Heechul tampak merangkul Seung Ho dan Yong Hwa yang berdiri di kedua sisinya. “Setidaknya Minho sudah bisa menerima status mereka saat ini.”

@@@

        Pagi ini udara cukup cerah dan sayang jika dilewatkan begitu saja. Hal itulah yang membuat Joon memutuskan untuk menggunakan transpotrasi umum untuk menuju kampusnya. Alasan lainnya karena Joon semalam hanya tidur selama 3 jam dan harus bangun cukup pagi. Hingga akhirnya ia memilih tidak mengendarai mobilnya karena itu akan membahayakan jika menyetir dalam keadaan mengantuk.
        Joon berjalam sambil mengedarkan pandangan. Lega rasanya bisa berjalan tanpa perlu khawatir dirinya akan diincar oleh anak buah Zhoumi yang berniat membunuhnya. Setelah beberapa langkah, Joon berhenti tepat di depan sebuah pohon, namun tatapannya tetap lurus ke depan. Mengawasi seorang gadis bersama seorang pemuda yang duduk di halte bus. Joon mengepalkan tangan untuk menahan emosi ketika melihat keakraban dua orang yang seperti sepasang kekasih.

@@@

        “Apa Joon pernah menyakitimu?”
        Haesa tersentak mendengar pertanyaan yang keluar dari mulut Minho. Entah apa yang dipikirkan Minho hingga pemuda itu menyebut nama Joon.
        “Jadi benar?” tegas Minho karena tak mendapat jawaban dari gadis yang duduk di sebelahnya.
        Haesa menatap Minho sekilas, lalu membuang pandangan ke luar jendela bus yang mereka tumpangi. Lagi-lagi Haesa harus kembali mengingat kenangan singkatnya bersama Joon. Haesa mendesah pelan. “Joon bahkan terlalu baik untukku.”
        “Apa kau mencintainya?”
        “Minho!” desisi Haesa dengan tatapan menusuk ke mata Minho. “Jangan bebani aku dengan pertanyaan seperti itu.” Tegasnya.
        Minho mengalihkan pandangan dari Haesa. Ia tersenyum seakan puas dengan jawaban yang dilontarkan Haesa. “Joon bahkan terlihat terpuruk melihatmu menangis waktu itu.”
        Haesa menahan diri untuk tidak menghajar Minho. Bahkan ketika nanti mereka turun dari bus sekalipun. Gadis itu tetap diam dengan tatapan kosongnya ke luar jendela bus.

@@@

        Keesokan harinya, Joon bangun pagi-pagi sekali. Setelah semua yang ia persiapkan selesai, Joon mengontak seseorang melalui ponselnya.
        “Taemin!” pekik Joon setelah mendapat jawaban dari orang yang dihubunginya.
        “Kenapa kau mengganggu pagi-pagi sekali?” protes Taemin karena waktu tidurnya di hari libur seperti sekarang ini diganggu oleh bunyi telpon dari kakaknya sendiri.
        “Cepat jemput aku di apartmen.” Kata Joon setengah memerintah. “Mulai hari ini aku akan tinggal bersama kalian.” Ujarnya dengan nada lebih berat dari sebelumnya.
        Sontak Taemin menegakkan badannya. “Apa?”  pekiknya dengan mata membulat sempurnya. “Kau serius?”
        “Jangan banyak protes!” tegas Joon lalu mematikan telponnya sebelum Taemin benar-benar melancarkan protes kerasnya.
        Joon menghela napas cukup berat. Sebuah ransel dan koper besar sudah menemaninya berdiri di tengah ruangan. Joon menyapu pandangan hampir keseluruh sudut kamarnya. Sejujurnya, Joon sangat berat meninggalkan tempat tersebut. Ini hanya salah satu cara untuk mengalihkan perhatiannya dari Haesa. Pemandangan antara seorang pemuda bersama seorang gadis di halte kemarin cukup menguras emosinya. Setelah ini, Joon hanya berharap ia tak melihat lagi kebersamaan antara Haesa dengan Minho
        Setelah itu, Joon benar-benar meningalkan apartmennya. Apartmen itu sudah ia tempati ketika ia pindah ke kota itu dan belum mengetahui siapa orang tua kandungnya yang sebenarnya. Dengan kata lain, apartmen itu milik Hyukjae. Joon juga mengembalikan mobil mewah yang selama ini setia menemaninya di jalan raya. Awalnya Hyukjae memprotes keras keputusan Joon. Tapi pemuda itu memberi alasan karena jarak kampus dan apartmen cukup jauh. Ia juga berjanji akan sering mengunjuingi Hyukjae. Meski berat hati, Hyukjae terpaksa melepaskan Joon. Biar bagaimanapun, Joon memang bukan anak kandungnya dan pemuda itu juga masih memiliki orang tua.

@@@

        Sebulan berlalu setelah hari itu. Selama itu pula Joon telah tinggal bersama keluarga Park Jung Soo. Seungho, Heechul, Yong Hwa, Kibum, Haesa dan Cheondung bergantian menginap di apartmen yang ditinggalkan Joon untuk menemani Hyukjae. Kecuali Minho, karena pemuda ini dikontrak sebuah klub sepakbola dan mengharuskannya tinggal di asrama klub.
        Hari ini adalah peresmian cafe pemberian Hyukjae yang akan dikelola oleh Cheondung dan Haesa. Memang hanya mereka yang bisa. Karena Seungho sudah bekerja di kepolisian, Heechul bekerja di rumah sakit, sementara Yong Hwa sedang mengurus album perdana bersama bandnya ‘Blue Jell’ dan Kibum yang menjadi menejer band adiknya sendiri.
Cheondung beberapa kali terlihat melirik arlojinya dengan gusar. Kemudian melempar pandangan ke pintu masuk café keluarganya yang baru saja buka. “Apa Minho belum memberi kabar? Di mana ia sekarang?” Tanya Cheondung kepada Seungho yang kebetulan melintas di hadapannya.
Seungho memastikan keadaan sekelilingnya. Seluruh anggota keluarganya yang lain sedang sibuk dengan urusan masing-masing. Terutama Haesa. Gadis itu sibuk duduk di sudut ruangan sambil mendengarkan lagu yang dimainkan oleh Yong Hwa bersama gitarnya. Karena keberadaan mereka cukup jauh, bisa dipastikan gadis itu tidak akan mendengar bahkan mencurigai Seungho dan Cheondung.
“Minho sedang dalam sebuah misi.”
Cheondung mengerutkan keningnya. “Misi?” ia mengulangi ucapan Seungho dan pemuda itu hanya mengangguk membenarkan. Setelah itu Cheondung mendapat sebuah pesan dari Sandeul. Ia melirik Seungho panic. Tapi tidak dengan kakaknya Minho itu yang terlihat sangat tenang. “Minho dan Joon berkelahi di stadion.”

@@@

        Minho malayangkan sebuah pukulan yang tepat mengenai wajah Joon hingga pemuda itu terjungkal kebelakang. “Itu hadiah karena kau telah menyakiti Haesa.”
        Joon menyeka tepi bibirnya yang berdarah sambil tersenyum meremehkan. “Apa kau pikir, kau tidak menyakitinya, hah? Kau egois karena hanya memikirkan perasaanmu sendiri!” balasnya sambil berusaha berdiri tegak.
        Minho kembali memberikan pukulan ke arah Joon, namun masih bisa dihalau. Joon pun melakukan hal yang sama. Pertarungan antar keduanya tak bisa dihindari lagi. Bahkan teriakan seseorang pun tak bisa menghentikan mereka sama sekali.
        “Minho…! Joon…! Hentikan…!”
        Joon terjerembap kebelakang akibat tendangan keras dari Minho. Joon memejamkan mata sambil menyilangkan kedua tangannya untuk menghalau pukulan Minho yang mungkin akan mengincar bagian wajahnya. Setelah itu memang terdengar suara pukulan. Tapi ketika Joon membuka mata, tak ada sesuatu yang terjadi padanya. Bahkan Minho pun tidak berada di hadapannya.
        “Kau tanyakan padanya, kenapa dia mengindarimu!” tunjuk Minho dengan tatapan tajam mengarah ke Joon.
Haesa tak mempedulikannya. “Kau tidak berhak ikut campur urusan pribadi Joon.” Gadis itu berbalik ke arah Joon setelah sebelumnya memberikan satu tamparan keras di pipi kiri Minho. “Ikut aku.” Ajak Haesa sambil menarik tangan Joon yang sudah berdiri tegak.

@@@

        Haesa mengajak Joon duduk di bangku taman tak jauh dari stadion tempat Joon dan Minho berkelahi. Haesa mengulurkan tangan untuk membersihkan darah di tepi bibir Joon menggunakan tissue yang baru saja ia beli.
        “Aku minta maaf karena Minho…”
        Joon menahan tangan Haesa sekaligus membuat gadis itu menghentikan ucapannya. “Aku yang seharusnya minta maaf.” Joon berpaling ke arah lain lalu menghela napas berat untuk menenangkan diri. “Minho benar. Aku menghindarimu karena…” Joon menggantung ucapannya untuk melirik Haesa. Gadis itu juga menatap ke arah lain namun fokusnya tak di sana.
        “Ku mohon jangan menjauhiku lagi.” Pinta Haesa lirih.
        Perlahan senyuman di bibir Joon berkembang. Karena merasa ada yang janggal, Haesa melirik Joon dengan tatapan aneh. “Kenapa kau melihatku seperti itu?”
        “Aku menghindarimu karena…” Joon seolah sengaja mengulur ucapannya. “Karena… aku jatuh cinta padamu dan menjalankan strategi dari Minho.”
        “Minho?” pekik Haesa tak percaya.

*flashback*
        Kejadian sebulan lalu, ketika menunggu bus di halte bersama Haesa, Minho telah menyadari kehadiran Joon tak jauh dari sana. Terlintas sebuah ide di benak Minho. Sore harinya, setelah puas seharian menghabiskan waktu bersama Haesa, Minho memutuskan menemui Joon di kampusnya.
        Minho dan Joon panjang lebar membahas Haesa. Joon sendiri telah mengakui perasaannya terhadap Haesa. Namun Joon masih ragu dengan perasaan gadis itu terhadapnya. Dan, mereka pun mulai mengatur strategi untuk mengetahui perasaan Haesa yang sebenarnya.
        Pertama, Minho mengatur scenario untuk Joon meninggalkan apartmen. Tentu saja tanpa pikir panjang Joon menyetujui karena jarak ke kampus memang lebih dekat jika ditempuh dari kediaman Park Jung Soo. Lagi pula, Jung Soo sendiri adalah ayah kandungnya. Jadi, tidak salah jika ia juga tinggal di sana.
        Kedua, Joon memang dibuat sengaja menghindari Haesa. Kibum, Seungho dan Yong Hwa juga mengetahui rencana ini. Kecuali Cheondung. Pemuda satu itu dibiarkan tidak tau agar rencana tetap terlihat natural.
        Dan ini dia rencana terakhir mereka. Rencana perkelahian antara Minho dan Joon. Di sana akan terlihat, siapa yang lebih dibela oleh Haesa. Minho atau Joon.
        “Aku pernah berjanji, akan menghajar siapapun yang berani merebut Haesa dariku.” Ujar Minho kala itu sebelum mereka menyepakati rencana terakhir. “Bahkan aku pun sempat mengancam hal serupa untuk Taemin dan Cheondung.” Minho tertawa geli mengingat perlakuannya terhadap Taemin dan Cheondung. Diliriknya Joon yang masih setia mendengarkan setiap ucapannya. “Dan tak terkecuali untukmu.”
        “Jadi, kau akan menghajarku juga?” Tanya Joon dengan sedikit ngeri dengan tantangan dari Minho. Ia harus mengeluarkan darah untuk mendapatkan seorang gadis.
        “Kau takut?” Minho tertawa lalu memukul pelan pundak Joon. “Bukankah kemarin kau menghajar anak buah Zhoumi?”
*flashback end*

        Haesa terbelalak tak percaya dengan apa yang baru saja di ceritakan Joon. “Jadi, selama ini kau…” Haesa menggantungkan ucapannya lalu bercedak kesal.
        Joon tersenyum puas. Sangat menikmati pemandangan di hadapannya. “Tadi kau membelaku. Apa itu artinya kau…” Joon sengaja tak melanjutkan ucapannya untuk sedikit menggoda Haesa.
        Gadis itu melirik tajam mata pemuda yang duduk di sampingnya. “Tidak.” Ujarnya singkat.
        “Apa luka di sekujur tubuhku tak berarti apa-apa untukmu?” protes Joon. Namun gadis tetap bungkam. Joon menyandarkan badannya lalu menghela napas panjang. Kecewa dengan apa yang ia dapat.
        Hening beberapa saat di antara keduanya. Tak lama kemudian, Joon merasakan ada yang menarik tangannya dan ada sesuatu yang lembut menyentuh pipinya. Kejadian itu berlangsung sangat cepat dan sontak membuat Joon menoleh sambil memegangi pipinya yang tersentuh sesuatu. Sepertinya bibir seseorang dan membuat senyum Joon merekah seketika. Haesa masih di sana. Tapi gadis itu terlihat menghindari tatapannya.
        “Haesa! Kau bahkan tidak pernah menciumku! Kenapa sekarang kau dengan mudahnya memberikan ciuman untuk Joon!”
        Haesa dan Joon berbalik dan mendapati sebuah keributan kecil di belakang mereka. Ternyata yang baru saja melancarkan aksi protes adalah Minho yang kini sudah dalam cengkeraman Cheondung dan Seungho. Aksi saat Haesa mencium Joon memang terjadi di depan mata Minho hingga membuat pemuda itu berniat mengacaukannya.
        “Minho… setidaknya nasibmu lebih baik dariku karena pernah menjadi kekasihnya Haesa.” Kata Taemin pura-pura sedih sambil menyandarkan wajahnya di pundak Yong Hwa. Kibum yang juga berada di sana menepuk-nepuk kepala Taemin seolah merasa simpatik untuknya.
        “Taemin…” seru Joon. “Setidaknya kau tak dihajar oleh Minho sepertiku.” Ujarnya membela diri sambil menunjuk sebuah luka di tepi bibirnya.
        “Kau bilang itu hanya scenario?” protes Haesa menuntut jawaban dari Joon dan Minho. Minho menggaruk belakang kepalanya dan mulai bersikap salah tingkah. “Kau keterlaluan.” Teriak Haesa sambil menghampiri Minho. Gadis itu cukup kesal atas perlakuan Minho terhadap Joon.
Tapi Minho sama sekali tak merasa bersalah. Ia menangkap tangan Haesa sebelum gadis itu sempat memukulnya. “Kau tak boleh protes.” Ancam Minho ketika sudah membawa Haesa ke dalam pelukannya. “Termasuk, kau!” Joon yang sebenarnya tak melakukan apapun turut mendapat ancaman.
“Lepaskan.” Haesa memberontak. Setelah berhasil melepaskan diri, ia langsung menggamit lengan Joon. “Ayo kita pergi.” Joon yang tak berani menolak hanya melambaikan tangan canggung.
“Huaaa… mereka pergi…” rengek Taemin. Semua langsung panic dibuatnya.
“Taemin, jangan menangis.” Usaha Cheondung. “Bagaimana kalau kau ku traktir di café baruku?” ujarnya yang tiba-tiba mendapat ide.
“Sungguh?” Wajah Taemin berubah senang. “Kalau begitu, ayo.” Ujarnya penuh semangat sambil menarik tangan Cheondung.
Cheondung pun dengan sangat terpaksa menuruti kemauan Taemin. “Aku menyesal berkata seperti itu.” Ujarnya kemudian.
Seungho, Kibum, Minho dan Yong Hwa saling melempar pandangan sebelum akhirnya mengangguk lalu mengikuti Taemin yang sudah membawa Cheondung berjalan cukup jauh.

@_E_N_D_@

Tidak ada komentar:

Posting Komentar