Jumat, 08 Maret 2013

BLACK ORCHID (part 8)



        Setelah menemui Seungho, Haesa yang baru saja keluar dari kantor polisi langsung menuju halte bus yang terletak di seberang jalan. Ketika menunggu bus, ada sebuah mobil yang tampak sudah cukup akrab di mata gadis ini. Pemilik mobil pun menurunkan kaca.
        “Ayo masuk.”
        Haesa sedikit menunduk untuk memastikan bahwa pemilik mobil itu adalah Joon. “Kau masih di sini?” tegurnya.
        “Sudahlah… cepat masuk. Kau ingin ke rumah sakit, kan?” paksa Joon, dan Haesa pun tak memiliki alasan untuk menolaknya.

@@@

        Seusai bernyanyi bersama band-nya di sebuah restoran, Yong Hwa langsung menuju rumah sakit dengan menumpang bus. Ia juga masih membawa tas gitar yang menempel di punggungnya. Ketika sampai di depan ruangan Kibum, Yong Hwa mengintip dari kaca pintu. Di dalam sana Kibum tampak tengah berusaha memasukan pakaiannya ke dalam ransel. Kibum sendiri juga sudah tidak mengunakan pakaian untuk pasien yang selalu ia kenakan selama di sana.
        “Kau mau kemana, Kibum?” Yong Hwa menerobos masuk.
        “Aku tak tenang memikirkan Haesa seorang diri di luar sana.” Kata Kibum yang tak mempedulikan kekhawatiran temannya itu.
        “Ada Cheondung dan aku yang bisa menjaganya.”
        Kibum menatap Yong Hwa penuh rasa berterima kasih. “Kau tidak bisa selalu di samping Haesa. Kalian juga memiliki urusan sendiri. Kita  sama-sama saling menjaga satu sama lain.”
        Yong Hwa meletakkan gitarnya di sofa lalu ikut membantu Kibum yang hanya mampu menggunakan satu tangan saja.
        “Kau terlihat kurang baik.” Tebak Kibum sambil menatap wajah Yong Hwa yang tak seperti biasanya. “Aku ingin menceritakan sesuatu.” Yong Hwa mengikuti Kibum duduk di sofa. Cukup lama dua orang ini saling diam. “Aku tau kau bergabung dalam sebuah agensi rahasia.”
        “Agensi apa maksudmu?” Yong Hwa balik bertanya seolah tak mengerti arah pembicaraah Kibum.
        Kibum sedikit menertawai respon Yong Hwa yang terlihat panic. “Kau tak perlu merahasiakannya lagi. Aku tau semua. Sung Byunghae, Chulyong, Hyo Min, Sandeul. Kau pasti mengenalnya juga, kan?”
        “Bagaimana kau…” Yong Hwa tak melanjutkan perkataannya karena Kibum sudah terlebih dahulu kembali tertawa.
        “Aku bahkan hampir gila setelah mengetahui tentang keluargaku.” Perlahan tawa Kibum memudar. “Chulyong seniorku semasa SMA. Tapi kita berteman cukup dekat. Aku juga tau tentang pekerjaan sampingan ayahnya yang membangun agensi tersebut selain sebagai seorang pengacara.”
        “Lalu?” Tanya Yong Hwa yang sangat terlihat penuh minat.
        “Aku pernah mengalami insiden kecil. Chulyong tak sengaja menyerempetku dengan motornya. Dan ayahnya itu yang mengobatiku.” Kibum menggeser posisi duduknya hingga membelakangi Yong Hwa. “Coba kau lihat punggungku.”
        Meski bingung dengan maksud Kibum, Yong Hwa tetap melalukan apa yang diminta Kibum. Perlahan ia pun menarik ujung pakaian yang dikenakan Kibum. Tidak ada yang aneh. Yong Hwa hanya menemukan sebuah tattoo di punggung Kibum bagian kanan atas.
        “Aku tidak pernah tau kalau kau memiliki tattoo.” Ujar Yong Hwa polos lalu menutup kembali bagian belakang tubuh Kibum.
        “Aku kecewa dengan apa yang aku dengar.”
        Yong Hwa semakin bingung menatap Kibum. “Mendengar apa?” Yong Hwa penasaran.
        “Lee Hyukjae. Seorang pembunuh bayaran yang keberadaannya tak terlacak sejak 19 tahun yang lalu.” Kibum memberi jeda sesaat sebelum melanjutkan ucapannya. “Aku dan Haesa adalah anaknya.”
        Yong Hwa menatap Kibum tak percaya. “Bagaimana bisa?” sergahnya. “Bahkan marga kalian saja berbeda.”
        “Ku rasa ibuku ingin merahasiakan jatidiriku yang sebenarnya. Yaitu dengan cara merubah nama kami.” Suasana kembali hening karena Yong Hwa tak berkomentar apapun. “Dan satu lagi. Kau pasti tak percaya dengan apa yang terjadi padaku.”
        Yong Hwa menunggu dengan penuh minat.
        “Sebelum kecelakaan, aku melihat sebuah pembunuhan…”
        “Jangan teruskan.” Tegas Yong Hwa memotong ucapan Kibum yang langsung menatapnya penuh Tanya. “Ayo ikut aku.” Yong Hwa berdiri sambil menyambar tas gitar dan ransel Kibum.

@@@

        Jinyoung kembali ke meja yang dihuni Cheondung dan Taemin sambil membawa laptop yang ia ambil dari ruang kerjanya. “Kau sudah menghubungi Jonghyun, Sandeul dan Yong Hwa?” Tanya Jinyoung pada Cheondung.
        “Sudah, tapi aku masih mencoba menghubungi Sandeul.” Ujar Cheondung sambil menempelkan ponsel ke telinganya. “Masih tidak ada jawaban.” Keluhnya.
        “Café mu buka jam berapa?” Tanya Taemin iseng.
        “Sepertinya tidak akan ku buka sampai sore.” Jawab Jinyoung sedikit malas.
        “Kenapa café mu masih tutup?”
        Cheondung, Jinyoung dan Taemin sama-sama menoleh ketika Jonghyun muncul dari pintu belakang.
        “Sudahlah jangan bahas itu.” Kata Jinyoung enggan.
        Jonghyun menarik kursi untuk duduk. “Taemin? Kau di sini?” selidik Jonghyun ketika baru menyadari keberadaan Taemin.
        “Apa aku tidak boleh berada di sini? Atau kau akan melapor ke Sungmin agar kakakmu bilang ke kakakku bahwa aku bolos sekolah.” Ujar Taemin curiga.
        “Ku rasa suasana hatimu sedang buruk.” Tebak Jonghyun tak ingin ikut campur. “Tenang saja, kekhawatiran mu tak akan terjadi.” Kata Jonghyun mengalah. Kali ini ia menoleh bergantian ke Jinyoung dan Cheondung dengan tatapan penuh Tanya. “Apa yang terjadi?”
        “Pindahlah ke sampingku.” Perintah Jinyoung, dan Cheondung pun bergeser memberikan tempat untuk Jonghyun.

@@@

        Joon menghentikan mobil tepat di depan rumah sakit. “Kabari aku jika kau ingin pulang.” Joon mengingatkan sebelum Haesa keluar dari mobilnya.
        “Kau cukup cerewet rupanya untuk seorang boss.”
        “Hei…! Kau tak boleh melawan perintahku.” Joon tak mau kalah.
        “Oke boss Joon.” Goda Haesa sebelum akhirnya keluar dari mobil Joon hingga membuat pemuda itu tersenyum geli.
        Setelah memastikan Haesa telah masuk ke dalam gedung rumah sakit, Joon pun kembali melajukan mobilnya. Tak lama, Joon mendapatkan sebuah panggilan dari Siwon.
        “Joon… kau di mana?” Tanya Siwon tak sabar. “Aku dan Sun Woo sudah di apartmenmu.”
        “Maaf aku lupa mengatakan padamu.” Ujar Joon seenaknya. “Kibum tak jadi pulang hari ini. Tapi kalau kau mau, kau masuk saja ke dalam apartmenku.”
        “Oke.” Ujar Siwon tak semangat lalu mematikan ponselnya.
        Joon meletakkan ponselnya di dalam saku jaket lalu menepikan mobilnya di pinggir jalan. Ia pun segera keluar dan berjalan menyebrang menuju gang sempit tempat ia kehilangan senjatanya. Joon menelusuri jalan di gang tersebut hingga ia menemukan pintu belakang café milik Jinyoung. “Berarti tak jauh dari sini.” Ujar Joon pelan.
        Joon juga telah memeriksa tempat ia bersembunyi ketika Minho lewat malam itu hingga tempat ia berkelahi dengan Kyungjae, Sunghyun dan Jaeseop. ‘Apa mungkin sudah ada yang menemukan?’ gumam Joon seorang diri.
        “Lepaskan.”
        Joon membalikkan badan ketika mendengar suara seseorang yang seperti tengah berada dalam masalah. Tidak ada yang ia temui.
        “Kalian tidak bisa membunuhku sekarang!” kata suara itu lagi.
        Joon mengendap-ngendap untuk mencari sumber suara yang semakin dekat padanya. Ia sudah hampir mencapai belokkan.
        “Tolong lepaskan aku…”
        Itu dia. Joon segera bergegas ke sana, namun dari arah berlawanan ada seseorang yang tengah berlari hingga sedikit menubruk tubuh Joon yang sedikit lebih besar darinya. Joon sedikit terpaku menatap seorang pemuda yang masih mengenakan seragam sekolah.
        “Sandeul…!” teriak pemuda yang tadi menabrak Joon.
        “Sandeul?” gumam Joon pelan. Namun sedetik kemudian, ia pun segera berlari mengikuti arah anak tadi yang sebenarnya adalah Taemin.
        Lalu, Joon menghentikan langkah setelah melihat pemandangan di hadapannya kini. Kyungjae tengah menahan tubuh Sandeul sambil menodongkan senjata tepat di kepala Sandeul.
        “Kau mau jadi pahlawan kesiangan, anak kecil?” Sunghyun terdengar meremehkan Taemin sambil menodongkan sebuah senjata juga ke arah Taemin berdiri.
        “Apa kabar Joon? Akhirnya kita bertemu lagi di sini.” Kata Kyungjae.
        Sandeul dapat melihat seseorang yang dimaksud Kyungjae dengan jelas ketika Taemin sedikit berbalik hingga sosok Joon semakin jelas dalam pandangannya.
        “Apa yang kalian lakukan?” Tanya Joon dingin. Kyungjae dan Sunghyun tertawa keras.
“Kau lupa?” ujar Kyungjae meremehkan. “Bukankah pemuda ini adalah target bunuhanmu.” Lanjutnya sambil menunjuk Sandeul yang semakin tegang.
‘Mereka telah membongkar rahasiaku.’ Joon berusaha tetap tenang dan tak terpengaruh dengan apapun ucapan Kyungjae. “Kalau kalian tau bocah itu targetku, kenapa kalian malah mendahului ku?”

@@@

        Haesa berlari keluar kamar rawat Kibum ketika mendapti kakaknya tak berada di kamarnya. “Suster…” panggil Haesa kepada seorang perawat.
        “Ada yang bisa saya bantu?” Tanya sang suster ramah.
        “Kau lihat kakakku, Kim Kibum?” kata Haesa panic.
        “Oh, kau adiknya dokter Kibum?”
        “Dokter?” ujar Haesa pelan mengulangi ucapan suster tersebut dengan wajah sangat bingung. Tatapan Haesa pun mengikuti arah suster tadi. Dikejauhan, ia melihat suster itu sedikit berbincang dengan seorang pemuda berpakaian layaknya seorang dokter. Haesa menunggu dokter itu hingga kini mereka berhadapan satu sama lain.
        Dokter itu memberikan senyuman mautnya untuk Haesa. “Apa kau mencariku?”
        “Aku mencari kakakku yang bernama Kim Kibum.” Tegas Haesa.
        “Aku juga Kim Kibum.” Ujarnya sambil menatap Haesa dari balik kacamatanya.
        Pernyataan dokter muda itu langsung saja membuat Haesa menatap lekat papan nama yang tertera pada jas dokternya. ‘dr Kim Kibum’. Ternyata suster tadi sangat salah paham.
        Haesa tampak sedikit salah tingkah. “Maaf dokter. Maksud ku adalah pasien bernama Kim Kibum yang di rawat di ruangan ini.” Haesa menunjuk sebuah kamar inap yang tak jauh dari tempat ia berdiri. “Bukan Anda.”
        Dr Kibum tertawa ramah. “Ternyata ada kesalah pahaman di sini.” Ujarnya. “Apa maksudmu Kim Kibum putra dari nyonya Kim Soo In?” Tanya dr Kibum untuk memastikan.
        Haesa mengangguk tegas. “Iya, dok. Kakakku tak ada di kamarnya. Pakaiannya pun juga sudah tak di dalam.”
        “Tuan Kibum sudah saya ijinkan pulang sekitar satu jam yang lalu.”
        Haesa menatap dr Kibum lekat-lekat. Ada sedikit ketidak yakinan dalam diri gadis ini. Dr Kibum bahkan terlihat seumuran dengan kakaknya, Kibum. ‘Apa dia benar-benar telah menjadi seorang dokter?’ ujar Haesa meragukan.
        “Apa kau tidak percaya?” Tanya dr Kibum seolah mengetahui apa yang berada dalam pikiran Haesa. “Walau aku masih sangat muda, aku sudah benar-benar menjadi seorang dokter.” Dr Kibum berusaha meyakinkan gadis di hadapannya ini.
        Haesa tampak tersenyum penuh rasa berdosa. “Maaf telah mengganggu anda. Kalau begitu, selamat kembali bertugas.” Haesa mulai sedikit demi sedikit melangkah mundur. “Permisi.” Tegasnya sambil berbalik dan bergegas menuju kamar ibunya.

@@@

        Kyungjae dan Sunghyun saling melempar pandangan untuk merundingkan sesuatu. Mereka siap menarik pelatuk pada senjata masing-masing.
        “Tunggu…!” Joon berusaha menghalangi. “Apa mau kalian?” tawarnya.
        Kyungjae dan Sunghyun tersenyum meremehkan. “Kami ingin membalas dendam karena kau telah membunuh Jaeseop.”
        “Aku tidak membunuh teman kalian!” tegas Joon. “Aku sudah tidak memiliki senjata apapun untuk membunuh.”
        Taemin melirik Joon yang sudah terlihat hampir frustasi namun pemuda itu masih berusaha keras untuk tetap tenang.
        “Tapi jika kalian sangat ingin membunuhku…” Joon menghela napas sesaat. “Ku mohon lepaskan mereka. Dan aku akan menuruti apapun mau kalian.” Kata Joon sungguh-sungguh.
        Kyungjae dan Sunghyun kembali menertawakan Joon.
        “Apa pembunuh bayaran kita nomor satu ini sudah tak ingin membunuh orang lagi?” kata Sunghyun meremehkan.
        Perlahan Kyungjae melepaskan tubuh Sandeul namun masih tetap mengarahkan pistol padanya sambil berjalan mundur menjauhi Sandeul. Begitu pula dengan Sunghyun yang langsung merubah target ke Joon.
        Sunghyun membimbing Joon meninggalkan lokasi. Sementara Kyungjae tetap mengarahkan senjata ke Sandeul dan Taemin bergantian sampai mereka benar-benar pergi dari sana.

@@@

        Jonghyun menatap Jinyoung dan Cheondung bergantian. “Ini…” Jonghyun menuntut penjelasan namun ia tak sanggup mengungkapkannya dengan kata-kata.
        “Seperti apa yang kau lihat.” Kata Jinyoung.
        “Mengapa Russel juga menjadi target bunuhan dari bossnya sendiri?” Tanya Jonghyun tak habis pikir dengan apa yang ia saksikan.
        “Itu juga yang mengganjal di pikiranku dan Jinyoung.” Cheondung ikut ambil bagian.
        Lalu terdengar ketukan dari pintu depan. “Apa pelanggan tak membaca tulisan bahwa café ini tidak buka?” kesal Jinyoung.
        Cheondung mencekal tangan Jinyoung sebelum bossnya itu sempat berdiri. “Biar aku saja.” Kata Cheondung membuat Jinyoung kembali duduk.
        “Maaf aku lewat depan, karena kondisi Kibum tak mungkin…”
        Cheondung memotong ucapan Yong Hwa yang datang bersama Kibum. “Ayo cepat masuk.”
        Di kursinya, Jonghyun berdiri sambil menatap Kibum. “Kau sudah…”
        “Jangan tanyakan apapun dulu tentang kondisiku.” Sergah Kibum yang seolah dapat menebak pikiran Jonghyun.
        Cheondung menarik sebuah kursi untuk Kibum.

@@@

        Setelah cukup aman, Sandeul menarik tangan Taemin untuk meninggalkan lokasi tersebut karena Taemin masih terpaku menatap arah tempat Joon dibawa pergi oleh Sunghyun dan Kyungjae. Ketika Taemin sudah benar-benar berbalik, mereka mendengar suara tembakan dan seketika membuat keduanya berlari ke arah sumber suara.
        Taemin dan Sandeul terbelalak karena mendapati tubuh Joon yang sudah terjerembap ke tanah. Taemin menarik tubuh Joon ke dalam pangkuannya sementara Sandeul ikut berjongkok di hadapannya.
        “Ku mohon bertahanlah…” kata Taemin panic.
        Sandeul menatap Taemin aneh. “Dia adalah pembunuh yang selama ini kami cari. Kenapa kau malah ikut sedih dengan penderitaannya?”
        Taemin menatap Sandeul tajam. “Bukan saatnya membahas itu sekarang!” protes Taemin. “Kita bahkan hampir terbunuh jika dia tidak ada.” Tegasnya mengingatkan. Sandeul pun diam. “Cepat kau panggil bantuan.” Perintah Taemin.
        Sandeul pun terpaksa menuruti. Namun, belum sempat berdiri, Sandeul merasakan sebuah tangan menahannya. Ia pun menoleh dan melirik Joon yang kini telah menatapnya.
        “Aku baik-baik saja.” Tegas Joon sambil menegakkan tubuhnya dari pangkuan Taemin. “Terima kasih kalian telah membantu.”
        Sandeul dan Taemin menatap Joon heran. Baru saja pemuda itu terkapar tak berdaya, tapi sekarang justru telah berdiri tegap.
        “Terutama kau.” Kata Joon yang kini telah menatap Taemin. “Terima kasih karena kau ingin membantu.”
        “Bagaimana bisa, kau?” ujar Taemin gugup.
        Joon tersenyum samar seolah mengerti maksud pertanyaan Taemin. “Aku menggunakan pelindung.”
        “Apa kini kau akan membunuhku?”
        Joon menoleh ke sumber suara, Sandeul yang kini berdiri dengan sangat waspada terhadapnya. Joon menghela napas cukup keras. “Bukankah aku sudah bilang jika aku tak memiliki senjata.”
        Sandeul tersenyum pahit. “Seseorang sepertimu bisa saja menggunakan apapun sebagai senjata.”
        “Kau tak perlu khawatir.” Kata Joon meyakinkan. “Aku sama sekali tak punya niat untuk membunuh siapapun. Termasuk dirimu.”
        Sandeul sama sekali tak percaya begitu saja dengan apa yang dikatakan Joon.
        “Kau sudah mengingat baik-baik wajahku, kan?”
        Taemin semakin intens menatap Joon. Sementara Sandeul, tak menjawab pertanyaan Joon. Namun ia juga merekam baik-baik tiap lekuk wajah yang dimiliki Joon.
        “Setelah ini, berhati-hatilah. Dan sebisa mungkin, bantu aku agar aku tak bisa menemukanmu.” Joon memperingatkan sekali lagi sebelum akhirnya pergi meninggalkan Sandeul bersama Taemin.
        Dan kembali Taemin masih terpaku terhadap sosok Joon hingga bayangan pemuda itu tak lagi tertangkap matanya.

@@@

        “Malam itu aku tak sengaja melihat pemuda membuntuti seorang gadis. Namun kejadiannya cukup cepat karena tak lama pemuda itu sudah kembali keluar.” Cerita Kibum tentang pengalamannya sebelum ia mengalami kecelakaan. “Aku berniat mencari gadis itu.” Kibum sedikit berfikir. “Kalau tidak salah, itu kekasihnya polisi Seung Ho.”
        “Maksudmu Jung Han Yo?” Tanya Jinyoung memastikan.
        “Entahlah.” Kibum mengangkat bahu. “Apa kau mengenalnya?”
        “Dia kakakku yang mati terbunuh beberapa minggu lalu.” Tegas Jinyoung. Jonghyun yang duduk di sampingnya berusaha menenangkan Jinyoung.
        “Kau melihat orang yang membunuhnya?” Tanya Cheondung yang muncul cari arah dapur sambil membawa nampan berisi minuman.
        “Tidak terlalu jelas.” Jawab Kibum tak yakin. “Tapi yang ku lihat, pria itu bertubuh cukup tinggi.” Ia memperhatikan satu-persatu orang yang berada di sana. Namun tatapannya terhenti pada Cheondung. “Lebih tinggi dari Cheondung.” Perkiraannya karena di antara mereka, Cheondunglah yang memiliki tubuh paling tinggi.
        Yong Hwa bergegas mengeluarkan ponselnya. “Apa seperti ini?” Tanya Yong Hwa sambil menunjukkan sebuah foto pada layar ponselnya. Foto seseorang yang telah membunuh Jaeseop.
        Perlahan, mata Kibum melebar. “Sama persis seperti ini.” Ujar Kibum yakin. “Tapi ada dua orang di sana. Namun mereka beraksi sendiri-sendiri.” Jelasnya kemudian. “Pelaku pertama hanya menembak di bagian lengan, dan yang satu lagi menembak tepat di jantung.” Lanjut Kibum sambil menunjuk layar ponsel Yong Hwa yang menampilkan sosok pria bertibuh tinggi.
        Jonghyun dan Yong Hwa saling tatap seolah mereka berfikir hal yang sama.
        “Ku rasa mereka memiliki motif sendiri-sendiri.”
        Jonghyun, Yong Hwa, Jinyoung, Cheondung dan Kibum menoleh ke arah munculnya Sandeul bersama Taemin dari pintu belakang.
        “Kau masih di sini?” selidik Jonghyun ke Taemin.
        Taemin menarik kursi dan duduk di antara Yong Hwa dan Kibum. “Kami bahkan hampir menjadi korban pembunuhan tadi.”
        Semua mata menatap Sandeul dan Taemin bergantian. Cheondung bergeser untuk memberi ruang bagi Sandeul untuk duduk. “Kami baru saja bertemu dengan dua teman Jaeseop dan seorang pemuda yang dituduh telah membunuh Jaeseop.”
        “Apakah ada salah satu dari tiga orang ini?” seru Yong Hwa, kali ini ia menunjukkan foto tiga pria mencurigakan yang ia temui di café usai manggung tadi. Ternyata ketika lewat di depan tiga pria itu, tangan Yong Hwa menggenggam ponsel dan secara diam-diam telah memfoto mereka.
        “Apa kini kau telah beralih profesi sebagai fotografer?” ledek Jonghyun karena untuk yang kesekian kalinya ia ditunjukkan sebuah foto oleh Yong Hwa.
        “Setidaknya ini sangat bermanfaat!” protes Yong Hwa membela diri karena tak terima dengan apa yang dikatakan Jonghyun.
        Sandeul menggeleng lemah. “Bukan ketiganya.” Ujarnya sambil mengembalikan ponsel Yong Hwa.
        Jinyoung merebut ponsel Yong Hwa sebelum benda itu kembali kepada pemiliknya. Ia berkali-kali melihat foto pria tinggi itu ketika seorang diri dan foto tiga pria yang dicurigai Yong Hwa secara bergantian.
        “Apa kau mencurigai mereka orang yang sama?” bisik Cheondung membuat Jinyoung menatapnya tajam.
        Jinyoung mengangguk pasti. “Pria bertubuh tinggi itu.”
        Suasana kembali hening. Tak lama ponsel Cheondung bergetar. Ia pun menatap layarnya yang menunjukkan nama ‘Kim Haesa’. “Ada apa?” Tanya Cheondung setelah menempelkan ponsel di telinganya.
        “Kakakku pergi dari rumah sakit. Aku tidak bisa menghubungi ponselnya.” Teriak Haesa yang berada dalam kepanikan.
        Cheondung sedikit menjauhnya ponsel dari telinganya untuk menghindari suara Haesa yang terdengar menggelegar itu. Lalu ia menatap Kibum menuntut penjelasan.
        Menyadari maksud tatapan Cheondung, Kibum pun hanya tersenyum penuh rasa bersalah. “Aku tidak memberitaunya. Katakan saja kalau aku bersamamu.”
        “Cepat minta bantuan kakakmu untuk mencari kakakku. Kondisinya masih belum memungkinkan. Aku takut terjadi sesuatu yang buruk padanya.” Cecar Haesa lagi.
        “Jika kau tak berhenti bicara, aku akan menghubungi Minho dan mengatakan semua kondisi mu.” Ancam Cheondung yang sukses membuat Haesa menutup mulutnya.
        “Kenapa kau selalu mengancam ku?” ujar Haesa lirih.
        “Kau yang memaksaku melakukan itu.” Kata Cheondung lalu diam sesaat dan menghela napas untuk menenangkan diri. “Aku di café. Dan kau jangan khawatir. Kibum bersamaku, Yong Hwa dan Jonghyun di sini.”
        “Benarkah?”
        Cheondung langsung memaksa Kibum untuk menerima ponselnya. “Kau percaya sekarang?”

@@@

        Dokter Kibum berjalan menelusuri koridor rumah sakit. Ia tak menyadari bahwa ada seseorang yang mengikutinya hingga ia sampai di depan ruang kerjanya.
        “Tolong aku…” kata seseorang sambil menggapai salah satu pundak dokter Kibum. Sontak, dokter muda itu terkejut sambil membalikkan badan.
        “Joon…” ujar dokter Kibum panic ketika mendapati Joon di sana yang terlihat seperti kesakitan sambil memegangi dada kirinya. “Kau masih…”
        “Jangan banyak Tanya!” potong Joon.
        Dokter Kibum menarik Joon masuk ke dalam ruangannya sambil membimbing Joon berbaring di tempat tidur yang berada di ruangan itu. Ia lalu membantu Joon membuka jaket serta pakaian pelindung peluru yang dikenakan Joon dan ia lemparkannya ke sembarang tempat.
        “Apa kau masih belum bisa membebaskan diri dari pekerjaan itu?” dokter Kibum bertanya sambil mengambil beberapa peralatan kedokterannya.
        Ternyata pakaian pelindung Joon masih belom bisa melindunginya dari tembusan sebuah peluru meski hanya sedikit. “Apa kau bisa memberitahuku satu cara untuk bisa terbebas dari itu?” Tanya Joon dengan mata tertutup seolah menyindir Kibum.
        Kibum sudah berada di samping ranjang tempat Joon berbaring sambil membersihkan luka di dada Joon. “Siapa yang melakukan ini?”
        “Mereka yang kemarin mengincarku.”
        Kibum menghela napas panjang. “Kemarin aku melihat Zhoumi, Dong Woo dan Henry berada di kota ini.” Ujarnya lemah.
        Joon membuka mata tersentak. “Apa kau bilang?”
        “Apa aku harus mengulangi?” balas dokter Kibum.
        Joon diam dan kembali memjamkan mata untuk menenangkan diri sambil menahan sakit di dada kirinya yang terluka. Meski berusaha terlihat tenang, namun pikiran-pikiran aneh berkecamuk jadi satu di kepala Joon.
        “Lalu, apa yang selama ini kau lakukan?” Tanya dokter Kibum yang kini telah menempelkan plester untuk menutup luka Joon.
        “Masih seperti yang selama ini kau tau.” Kata Joon sebelum ia bangkit lalu turun dari tempat tidur dan duduk di kursi depan meja kerja dokter Kibum. “Aku selalu membawa satu peluru dalam pistol dan hanya menembak di bagian lengan.” Ujarnya lemah sambil menyandarkan tubuh di sandaran kursi.
        Dokter Kibum kembali setelah mencuci tangan lalu menghempaskan diri di kursi kerjanya. “Lalu, kenapa kau bisa jadi pembunuh?” selidiknya. “Jika hanya tertembak di tangan, tidak mungkin sampai menghilangkan nyawa.” Jelas Kibum, namun ucapannya tak mendapatkan tanggapan dari Joon yang sedang mengedarkan pandangannya ke sekeliling.
        “Kau buang kemana pakaianku?” Tanya Joon masih sambil terus mencari.
        Dokter Kibum ikut memeriksa ke sekelilingnya. Ternyata Jaket Joon tergeletak di bawah kakinya. Dokter Kibum meraih jaket milik Joon lalu melemparkan tepat di wajah pemiliknya.
        “Aw…!” ringis Joon karena jaket yang dilempar dokter Kibum sedikit mengenai lukanya. “Apa kau selalu bersikap seperti ini kepada pasienmu?” cibir Joon kesal.
        Dokter Kibum tersenyum sambil membenarkan letak kacamatanya. “Tentu saja aku hanya bersikap seperi itu kepada pasien sepertimu.” Ujarnya santai.
        Joon kembali menyandarkan punggungnya, namun ia belum memakai jaket yang tadi dilemparkan dokter Kibum. Meski tadi terlihat seolah tak peduli, Joon tetap mendengarkan apa yang dikatakan seorang dokter muda yang juga menjadi temannya itu. “Apa benar, jika hanya tertembak di tangan, tidak akan sampai menyebabkan seseorang mati?” Tanya Joon polos.
        “Tak ku sangka ternyata kecerdasanmu di bawah rata-rata.” Ledek dokter Kibum sambil geleng-geleng kepala.
        “Lantas, kenapa selama ini targetku selalu terbunuh?” Tanya Joon lagi yang semakin bingung.
        “Jadi kau tidak pernah mengengar berita?” ujar dokter Kibum membuat Joon menatapnya penuh Tanya. “Astaga…!” serunya tak percanya. “Di setiap tubuh korbanmu yang mati, pasti selalu ditemui peluru di bagian dada kiri.”
        “Dari mana kau tau itu?”
        “Korban terakhirmu, Jung Han Yoo. Aku yang menangani jasadnya.”
        “Bukan dia.” Joon menggeleng cepat-cepat. “Yang terakhir kali ku bunuh adalah Sung Hyo Min.” ralat Joon.
        Dokter Kibum merdecak gemas. “Kau tak tau? Hyo Min masih selamat karena hanya tertembak di lengan kirinya!”
        Joon belum merespon. Pandangannya kosong ke sembarang tempat. “Jadi…” Joon memberi jeda sesaat. “…ada orang lain yang ikut membunuh korbanku?” tebaknya tak percaya.
        “Kenapa kau tak menyadari itu sejak lama?” kesal dokter Kibum.
        “Kenapa kau tak pernah memberi tau ku sebelumnya?” balas Joon sama kesalnya.
        “Kau bahkan tidak pernah membalas e-mailku.” Dokter Kibum terdengar menyalahkan Joon. “Aku tidak memiliki nomor ponselmu.”
        “Maaf…” ujar Joon pelan merasa bersalah. “Jadi, aku bukan pembunuh?” katanya polos dengan nada yang tak yakin.
        “Tentu saja!” tegas dokter Kibum. “Astaga! Kenapa aku memiliki teman sebodoh dirimu.” Sesalnya karena telah mengenal Joon.
        “Benarkah?” seru Joon yang tiba-tiba menjadi bersemangat.
        “Kau jadi menyeramkan ketika terlihat begitu senang.” Protes dokter Kibum.
Namun Joon tak mempedulikannya. Ia hanya bahagia mendengar kenyataan bahwa dirinya tidak pernah menjadi pembunuh.

@@@

        

Tidak ada komentar:

Posting Komentar