Rabu, 20 Maret 2013

YANG SEUNG HO PROPOSAL



Di kutip dari acara ‘Hello Baby’ season 5 episode 6 dimana kelima member MBlaq ingin mencari sosok ibu untuk ketiga anak mereka (Da Young, Leo dan Laurent). Saat itu Seung Ho akan menelpon seseorang yang ingin ia jadikan ibu untuk anak-anak mereka. Kira-kira, siapa yang Seung Ho pikirkan?


Tapi para member MBlaq ingin menebak apa yang dipikirkan Seung Ho kala itu. GO bahkan meminta Seung Ho untuk memberikan petunjuk.

 

Cheondung justru malah meminta Seung Ho melakukan sebuah tarian. Tak di duga, Seung Ho tiba-tiba berdiri untuk mempraktekan sebuah gerakan hingga membuat Mir, GO dan Cheondung tertawa terbahak-bahak. Mereka pun kompak menjawab : “KARA…!!” hingga Mir pun ikut melakukan gerakan dance KARA setelah itu.


Tak berlama-lama lagi, Seung Ho pun langsung menelpon salah satu member KARA, Gyuri.

Gyuri : Halo…

Seung Ho : Ya! Ini aku Yang Seung Ho

Gyuri : Ah, oppa!


Mir yang merespon paling berlebihan. Suasana pun langsung berantakan akibat selebrasi Mir. Cheondung malah menuduh Seung Ho menelpon operator. Tapi Seung Ho menyangkal dan membenarkan bahwa ia memang menelpon member KARA tersebut.


Seung Ho : Gyuri, apakah anda ingin menjadi seorang ibu?

Gyuri : Jadi oppa ayahnya?

Seung Ho : saya ayahnya, jadi maukah kau menjadi seorang ibu?

Gyuri : Oppa, apakah anda melamar saya sekarang?


Seung Ho terkejut mendengar pertanyaan Gyuri. Sementara member MBlaq yang lain (Cheondung, Mir dan GO) kembali heboh bersorak dengan tak terkendali. Terutama Mir. Seung Ho pun hanya tertunduk sambil menahan tawa.

GO : Ini merupakan acara lamaran terbaik berikutnya setelah ‘Lamaran Lee Soo Ra’ (acara TV Korea).
‘YANG SEUNG HO PROPOSAL’.


Seung Ho : Ok… Mari kita menikah.

Gyuri malah tertawa menanggapi ‘lamaran’ Seung Ho…

Sumpah, author sebenernya ngakak banget pas nontonnya. Gak nyangka kalo GO tiba-tiba kepikiran bikin acara tv ‘Yang Seung Ho Proposal’. Seung Ho sendiri malah ikutan ketawa geli mendengar celetukan dari teman sesama member MBlaq.

Tapi, di mana Lee Joon?? Hmm… author juga kecewa bias author gak ikut ambil bagian. Tapi yang pasti, Lee Joon menjadi satu-satunya member yang menolak ide untuk mencari ibu bagi Leo, Laurent dan Da Young. Dan Joon malah menyarankan kalau lebih baik dia saja yang menjadi ibunya (?). gimana ceritanya, bang?? Situ aja bikin nangis Leo terus…

Sebenernya banyak banget kejadian lucu yang terjadi di acara ‘Hello Baby Mblaq Season’. Tapi author gak bisa ngeshare semua, karena tiap episode selalu menimbulkan kelucuan yang tak pernah terbayangkan. So, untuk para readers yang suka MBlaq, author sarankan untuk menonton acara ini. Tapi sih author yakin, untuk para A+ pasti udah pernah nonton… ^_^

Senin, 18 Maret 2013

BLACK ORCHID (part 12 end)



        Meski tidak tinggal bersama keluarga Park Jung Soo, Joon harus tetap menuruti kemauan ayahnya. Ia dikuliahkan agar kelak bisa membantu Kyuhyun mengurus perusahaan keluarga mereka.
Dan malam ini sepulang kuliah, Joon tidak langsung kembali ke apartmen. Pemuda ini duduk diam seorang diri di sebuah bangku taman yang sepi dengan tatapan kosong lurus ke depan. Otaknya memutar kembali kenangan yang ia lalui bersama Haesa beberapa minggu belakangan. Meski belum berlangsung lama, keberadaan Haesa selama ini sangat mempengaruhi hidupnya.
Di masa lalu, Joon memang dirawat oleh Yoo Ra dan Hyukjae, namun kehidupan yang ia jalani tak semulus apa yang dipikirkan orang. Sering kali ia hanya tinggal seorang diri. Saat-saat tersulit hidup Joon terjadi ketika Hyukjae hilang, disusul kemudian oleh Yoo Ra. Serta, saat-saat ia hidup dalam sebuah penyesalan besar sebagai seorang pembunuh bayaran.
Joon menghela napas panjang untuk menghilangkan rasa sesak yang kini membuncah di dadanya. Rasa sakit itu semakin terasa kala Joon teringat Haesa menangis ketika Minho menolak kenyataan sebenarnya antara mereka. Itu lebih sakit ketika dulu ia dituduh sebagai seorang pembunuh.
“Kau tau, walau umurku di bawah Haesa, tapi aku menyukai kepribadian gadis itu. Sampai akhirnya Minho lah yang mendapatkan cintanya.”
Joon menoleh dan mendapati Taemin telah duduk di sampingnya. Pemuda itu menatap adiknya penuh Tanya. Menurutnya, Taemin seperti orang yang mengetahui banyak hal.
Taemin membalas tatapan Joon sambil tersenyum. “Waktu tidak akan berpengaruh untuk seseorang mendapatkan cinta mereka.”
Joon melempar pandangan ke arah lain. Tampaknya ia mengerti maksud pembicaraan Taemin. “Apa aku salah mencintainya?”
Taemin tertawa lepas. “Akhirnya kau mengakuinya.”
“Tapi Minho…” ternyata hal yang memberatkan Joon hingga detik ini adalah tentang Minho. Joon hanya tidak ingin menyakiti orang lain ketika ia mulai mencintai seorang gadis.
Tawa Taemin perlahan memudar. “Mungkin saat ini Minho hanya belum bisa menerima kenyataan. Cintanya untuk Haesa terlalu besar. Bahkan ia sampai mengancam akan menghajarku jika aku benar-benar merebut Haesa darinya.” Ujar Taemin kembali tertawa, kali ini ia menertawai ancaman Minho untuknya.
“Jadi nama gadis itu Haesa?”
Taemin menoleh dan menatap kakaknya heran karena pertanyaan yang keluar dari mulut Joon. “Astaga! Kaliah bahkan sempat tinggal bersama, tapi kau tak mengetahui namanya?” Tanya Taemin gemas.
Joon menggeleng polos membuat Taemin menghela napas lalu menggeleng menanggapi sikap kakaknya.

@@@

        Cheondung membuka pintu yang mengarah ke balkon apartmen Joon. Di sana ia menemukan Haesa yang terduduk seorang diri sambil memandangan hamparan bintang di langit luas. Cheondung duduk di samping Haesa. Udara dinginpun langsung menyergap membuat Cheondung memeluk tubuhnya sendiri.
        Tapi gadis itu tampaknya tak menyadari kehadiran Cheodung. Ia sibuk dengan pikirannya sendiri yang kembali memutarkan memori indah bersama Minho. Bahkan yang paling menggelikan adalah kecemburuan Minho ketika Haesa menyinggung tentang pemain sepakbola idolanya, Baekhyun, membuah gadis itu tersenyum geli.
        Namun perlahan senyuman itu berubah menjadi senyum penuh kerinduan tatkala Haesa teringat masa-masa singkatnya bersama Joon. Bahkan pertemuan pertama kali yang hampir meregang nyawa mereka pun menjadi salah satu kenangan yang tak akan pernah terlupakan.
        “Kau merindukan Minho?” ujar Cheondung yang sukses membuat Haesa terkejut.
        “Sejak kapan kau…” Haesa tak melanjutkan kata-katanya.
        Cheondung tersenyum dan melempar pandangan ke arah lain. “Kau terlalu tenggelam dalam pikiranmu sendiri. Bahkan kau tak menyadari sudah berapa lama aku di sini.”
        Haesa tertunduk untuk menyembunyikan rasa malunya.

@@@

        Joon baru saja sampai dan masuk ke dalam apartmennya. Terlalu lelah dengan kegiatannya hari ini. Joon sempat melirik ke arah balkon. Pintu di sana tidak tertutup. Yang ada dalam pikiran Joon mungkin ayahnya lupa menutup pintu itu. Joon hendak ke sana, namun setelah beberapa langkah, kakinya terhenti mendapati Haesa dan Cheondung muncul dari arah sana.
        “Joon?” pekik Haesa, namun pemuda yang dimaksud malah menghindar dan masuk ke dalam kamarnya. “Joon… buka pintunya!” teriak Haesa sambil menggedor pintu kamar Joon.
        Cheodung masih berdiri di sana dengan setia menemani sahabat yang ternyata adalah kakaknya. Cheondung lagi-lagi hanya mampu mengusap lembut pundak Haesa yang sedikit terlihat frustasi.

@@@

        Tengah malam, Baekhyun terlihat terbangun dari tidurnya. Ia langsung menyalakan lampu di samping tempat tidurnya. Baekhyun menoleh ke tempat tidur di sisi kiri ranjangnya. Tak ada yang aneh. Di sana Sehun masih terlelap dengan tenangnya. Namun pemandangan berbeda ketika ia menoleh ke kanan. Minho duduk sambil memeluk lututnya dan memandang hampa ke luar jendela.
        “Apa kau tidak lelah, Minho?” tegur Baekhyun sambil mengusap matanya yang masih terasa mengantuk. “Kita baru saja menghadapi pertandingan berat tadi sore.”
        Minho tak menjawab. Cukup lama ia terdiam, hingga akhirnya Minho bersuara namun tak sedikitpun melirik ke Baekhyun. “Kau mencintai kekasihku?”
        Baekhyun hendak kembali berbaring untuk melanjutkan tidurnya. Namun ketika mendengar pertanyaan Minho, sontak ia kembali menegakkan badan dan menatap tajam ke arah Minho. “Apa?” pekiknya heran. “Kenapa kau bicara seperti itu? Tentu saja tidak. Dia itu kekasihmu. Mana mungkin aku mencintainya.” Protes Baekhyun untuk membela diri.
        Minho balas melirik Baekhyun. “Tapi kau sudah tau cerita tentang ku, kan? Jadi, apa kau sekarang bisa mencintainya?”
        Tenggorokan Baekhyun terasa tercekat. “Iya aku tau, tapi…” Ia tak tau harus mengatakan apapun untuk Minho.
        “Maaf.” Ujar Minho singkat sebelum akhirnya kembali memandang langit dari dalam kamarnya dengan tatapan kosong. Minho menghela napas berat. “Apa yang akan kau lakukan jika menjadi diriku?”
        Baekhyun menggaruk belakang kepalanya sambil berfikir. “Aku tidak bisa menjawab. Semua keputusan ada di tanganmu.”
        Minho menoleh dan mendapati Baekhyun telah berbaring lalu menarik selimut hingga menutupi seluruh tubuhnya. “Baekhyun!” tegur Minho sambil turun dari tempat tidurnya menuju ranjang Baekhyun. “Tolong bantu aku…” pinta Minho sedikit memaksa sambil menarik selimut yang menyembunyikan tubuh Baekhyun. “Aku akan mendengarkan apapun yang kau katakan.”
        “Oke…” Baekhyun menuruti Minho meski terdengar cukup terpaksa. “Kau ingat? Kau juga cemburu melihat perlakuan Haesa terhadap Kibum. Padahal Kibum adalah kakaknya. Dan sekarang, status mu juga sebagai kakaknya Haesa. Kau harus terima kenyataan itu.”
        “Ucapan kalian semua sama.”
        “Jelas saja.” Sergah Baekhyun. “Setidaknya kini kau bisa mendapatkan perlakuan Haesa seperti yang selama ini diterima Kibum. Apa itu masih kurang untukmu?”
        Minho diam. Tanpa berkata-kata lagi, ia kembali ke ranjangnya dan berbaring di sana. Menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut dan berharap bisa menutupi semua keresahan hatinya dari semua orang bahkan dari seluruh dunia.

@@@

        Sementara di tempat lain, hal serupa juga dialami Joon. Pemuda itu hanya berbaring di tempat tidurnya tanpa bisa memejamkan mata. Minho, Kibum bahkan kini Cheondung. Tak selayaknya ia bersikap seperti itu. Tapi Joon juga tak bisa menahan diri untuk tidak cemburu terhadap tiga pemuda itu jika Haesa bersama mereka.
        “Bodoh sekali kau Joon.” Makinya terhadap diri sendiri. “Mereka bahkan tidak mungkin menjalin hubungan sebagai sepasang kekasih. Kau tidak berhak berharap mereka saling berjauhan satu sama lain.”

@@@

        Malam itu, Haesa memaksa pergi dari apartmen Joon. Ia juga mengajak Cheondung. Haesa memutuskan untuk pulang ke rumah Cheondung dan gadis itu menempati kamar Yong Hwa karena sang pemilik sedang tidak di rumah. Sekitar pukul 4 pagi, ponsel Haesa berbunyi membuat gadis itu sontak terbangun.
        Haesa meraih ponselnya yang tergeletak di meja. Panggilan dari Seungho. “Hallo…” sapanya berat.
        “Kau lupa, hah?” sungut Seungho.
        Haesa berusaha mencerna ucapan Seungho sambil mengingat-ingat apa yang ia lupakan. “Aku tak ingat apapun.”
        Seungho menghela napas lelah. “Kenapa adikku yang satu ini sangat bodoh sekali.”
        Haesa masih berusaha berfikir keras. Tapi ia sama sekali tak menemukan apapun yang ia lupakan. Haesa memandang tiap sudut kamar Yong Hwa. Tentu saja ia tak akan menemukan apapun yang bisa memancing ingatannya kembali.
        “Minho hari ini ulang tahun.” Kata Seungho akhirnya karena tak kunjung mendapatkan jawaban dari Haesa. “Bukankah kalian berjanji akan melihat sunrise pagi ini?”
        “Astaga!” pekik Haesa sambil menepuk keningnya. “Terima kasih telah mengingatkanku. Kau benar-benar kakak yang baik.”
        “Ya sudah. Aku akan menjemputmu.”
        “Tunggu.” Sergah Haesa sebelum Seungho sempat menutup telpon. “Aku di rumah Cheondung. Kalau kau ingin menjemput, datanglah ke sini.”
        Setelah mengakhiri panggilan dengan Seungho, Haesa langsung melesat keluar kamar.
        “Kau mau kemana?” tegur Yong Hwa yang saat itu baru saja pulang.
        “Aku ingin menemui Minho.”
        “Pagi-pagi sekali? Apa kau ingin memberikan kejutan di hari ulang tahunnya?”
        “Kami berencana melihat sunrise di hari ulang tahun Minho.”
        “Waahh… tak ku sangka Minho bisa seromantisi itu.” Kata Yong Hwa kagum. “Kau ingin ku antar?” tawarnya.
        “Tidak usah.” Sergah Haesa cepat-cepat. “Seungho akan menjemputku. Dan tolong katakan pada Cheondung aku pergi.”
        Yong Hwa mengangguk mengerti. “Baiklah… aku akan menemanimu menunggu Seungho.”

@@@

        Hempasan angin pagi itu menerpa rambut Minho yang tengah duduk seorang diri di tepi dermaga. Deburan ombak yang kencang senada dengan hati Minho yang kacau saat ini.
        “Kau tidak bisa kabur lagi sekarang, Choi Minho.” Ujar Haesa dengan napas satu-satu sambil menjatuhkan diri di samping Minho. Minho hendak bangkit, namun Haesa lebih cepat menangkap tangannya. “Jangan siksa aku seperti ini.”
        Minho akhirnya mengalah dan tetap duduk di sana.
        “Apa salah jika aku sangat mencintaimu?” tegas Minho dan membuat gadis itu menatapnya dalam-dalam. “Apa tidak bisa jika suatu hari nanti kita menikah, punya anak, lalu…”
        “Cukup!” potong Haesa membuat Minho diam seketika. Pemuda itu mengalihkan pandangan kembali ke tengah lautan yang mulai di terpa cahaya. “Ku mohon jangan siksa aku lagi dengan semua impian-impian kita yang tidak akan pernah terwujud.”
        Minho tersenyum pahit. Diliriknya Haesa yang sudah tak menatapnya. Wajah gadis itu sudah menengadah ke atas seperti ingin menahan tangis. Namun kenyataannya memang seperti itu.  Haesa buru-buru menyeka buliran air yang mulai mengalir keluar melalui celah matanya, tapi tangan Minho lebih cepat untuk menghadangnya.
        Haesa menoleh. Perasaannya kini campur aduk menatap mata Minho yang penuh dengan ketulusan untuk mencintainya. Tapi gadis itu harus mulai mempersiapkan diri dari sekarang karena pemuda yang sudah menjadi kekasihnya selama lebih dari dua tahun ini hanya akan menjadi kakaknya selamanya.
        “Menangislah…” lirih Minho. Haesa melempar tatapan penuh Tanya. “Aku ingin melihatmu menangis. Karena setelah itu, aku sangat ingin menghentikan tangismu dalam pelukanku seperti yang selalu Kibum lakukan untukmu.” Perkataan Minho semakin membuat air mata Haesa mengalir lebih deras lagi dan pemuda itu tak menyia-nyiakan kesempatan untuk menarik gadis itu ke dalam pelukannya.
        Minho mengusap rambut Haesa lembut. “Aku akan mencari kebahagian lain ketika bersamamu yang bukan lagi sebagai kekasihku.” Haesa tak menjawab. “Berjanjilah bahwa kau akan menjadikanku orang pertama yang mengetahui semua keluh kesahmu.”
        Haesa menjauhkan tubuhnya dari Minho. “Kibum harus menjadi yang pertama.”
        “Oke, aku yang kedua.” Kata Minho mengalah.
        “Cheondung? Seungho? Yong Hwa? Heechul?”
        Minho membulatkan mata. “Berarti, kau akan menjadikanku yang terakhir?” protesnya membuat gadis itu menertawainya.
        Tak lama kemudian, Minho ikut menertawai kebodohannya. Ia barus sadar bahwa keluarga barunya bukan hanya Kibum dan Haesa. Tapi juga Heechul, Yong Hwa dan Cheondung. Setelah itu, Minho mulai bisa meredakan tawanya.
        Keheningan sesaat menguasai mereka berdua yang menyambut datangnya pagi yang indah. Sorotan matahari yang belum muncul sempurnya memberikan efek siluet bayangan Haesa dan Minho yang duduk tenang di sana.
        Tanpa menoleh sedikitpun, Minho meraih tangan Haesa dan menarik gadis itu untuk berdiri. Diputarnya tubuh Haesa hingga kini mereka saling berhadapan. Namun pandangann Haesa masih tersita oleh indahnya sunrise pagi itu.
        “Minho… Kau lihat? Sunrise pagi ini sangat indah.” Gumam Haesa penuh semangat. Tapi ia tak menyadari bahwa Minho sudah mendekatkan wajahnya ke wajah Haesa.
        “Hentikan…!” teriak seseorang di belakang mereka membuat Haesa menoleh seketika, tapi ternyata, pipi gadis itu justru menyentuh bibir lembut Minho karena pemuda itu belum bergerak sama sekali.
        “Minho!” desisi Haesa menjauhkan wajah Minho dari hadapannya.
        Minho mendengus kesal ketika mengetahui siapa saja yang telah mengganggunya. “Kenapa kalian…” ucapan Minho terputus. Ia mengacak belakang rambutnya dan terlihat cukup frustasi.
        Mulai dari Seungho, Heechul, Kibum, Yong Hwa hingga Cheondung juga berada di sana. Kini mereka berjalan mendekati Minho yang masih bersama Haesa. Minho menarik paksa tangan Haesa untuk ikut bersamanya.
“Kalian mau kemana?” terdengar beberapa protesan dari kelima pemuda tadi.
“Aku masih belum ingin kebersamaanku dengan Haesa di ganggu oleh kalian.” Cetus Minho semakin jauh membawa Haesa dari sana dan tak mempedulikan protes keras dari sudaranya.
Haesa menatap kebelakang tempat Kibum dan lain berada. Ia hanya mengangkat bahu menandakan bahwa ia tak mengetahui kemana Minho akan membawanya pergi.
“Mungkin itu bentuk pemberontakan Minho karena selama ini ia tidak bisa bersikap protektif terhadap Haesa.” Ujar Cheondung. Pemuda itu memang sangat tau bagaimana antara Minho dan Haesa selama mereka menjalin hubungan sebagai sepasang kekasih.
Heechul tampak merangkul Seung Ho dan Yong Hwa yang berdiri di kedua sisinya. “Setidaknya Minho sudah bisa menerima status mereka saat ini.”

@@@

        Pagi ini udara cukup cerah dan sayang jika dilewatkan begitu saja. Hal itulah yang membuat Joon memutuskan untuk menggunakan transpotrasi umum untuk menuju kampusnya. Alasan lainnya karena Joon semalam hanya tidur selama 3 jam dan harus bangun cukup pagi. Hingga akhirnya ia memilih tidak mengendarai mobilnya karena itu akan membahayakan jika menyetir dalam keadaan mengantuk.
        Joon berjalam sambil mengedarkan pandangan. Lega rasanya bisa berjalan tanpa perlu khawatir dirinya akan diincar oleh anak buah Zhoumi yang berniat membunuhnya. Setelah beberapa langkah, Joon berhenti tepat di depan sebuah pohon, namun tatapannya tetap lurus ke depan. Mengawasi seorang gadis bersama seorang pemuda yang duduk di halte bus. Joon mengepalkan tangan untuk menahan emosi ketika melihat keakraban dua orang yang seperti sepasang kekasih.

@@@

        “Apa Joon pernah menyakitimu?”
        Haesa tersentak mendengar pertanyaan yang keluar dari mulut Minho. Entah apa yang dipikirkan Minho hingga pemuda itu menyebut nama Joon.
        “Jadi benar?” tegas Minho karena tak mendapat jawaban dari gadis yang duduk di sebelahnya.
        Haesa menatap Minho sekilas, lalu membuang pandangan ke luar jendela bus yang mereka tumpangi. Lagi-lagi Haesa harus kembali mengingat kenangan singkatnya bersama Joon. Haesa mendesah pelan. “Joon bahkan terlalu baik untukku.”
        “Apa kau mencintainya?”
        “Minho!” desisi Haesa dengan tatapan menusuk ke mata Minho. “Jangan bebani aku dengan pertanyaan seperti itu.” Tegasnya.
        Minho mengalihkan pandangan dari Haesa. Ia tersenyum seakan puas dengan jawaban yang dilontarkan Haesa. “Joon bahkan terlihat terpuruk melihatmu menangis waktu itu.”
        Haesa menahan diri untuk tidak menghajar Minho. Bahkan ketika nanti mereka turun dari bus sekalipun. Gadis itu tetap diam dengan tatapan kosongnya ke luar jendela bus.

@@@

        Keesokan harinya, Joon bangun pagi-pagi sekali. Setelah semua yang ia persiapkan selesai, Joon mengontak seseorang melalui ponselnya.
        “Taemin!” pekik Joon setelah mendapat jawaban dari orang yang dihubunginya.
        “Kenapa kau mengganggu pagi-pagi sekali?” protes Taemin karena waktu tidurnya di hari libur seperti sekarang ini diganggu oleh bunyi telpon dari kakaknya sendiri.
        “Cepat jemput aku di apartmen.” Kata Joon setengah memerintah. “Mulai hari ini aku akan tinggal bersama kalian.” Ujarnya dengan nada lebih berat dari sebelumnya.
        Sontak Taemin menegakkan badannya. “Apa?”  pekiknya dengan mata membulat sempurnya. “Kau serius?”
        “Jangan banyak protes!” tegas Joon lalu mematikan telponnya sebelum Taemin benar-benar melancarkan protes kerasnya.
        Joon menghela napas cukup berat. Sebuah ransel dan koper besar sudah menemaninya berdiri di tengah ruangan. Joon menyapu pandangan hampir keseluruh sudut kamarnya. Sejujurnya, Joon sangat berat meninggalkan tempat tersebut. Ini hanya salah satu cara untuk mengalihkan perhatiannya dari Haesa. Pemandangan antara seorang pemuda bersama seorang gadis di halte kemarin cukup menguras emosinya. Setelah ini, Joon hanya berharap ia tak melihat lagi kebersamaan antara Haesa dengan Minho
        Setelah itu, Joon benar-benar meningalkan apartmennya. Apartmen itu sudah ia tempati ketika ia pindah ke kota itu dan belum mengetahui siapa orang tua kandungnya yang sebenarnya. Dengan kata lain, apartmen itu milik Hyukjae. Joon juga mengembalikan mobil mewah yang selama ini setia menemaninya di jalan raya. Awalnya Hyukjae memprotes keras keputusan Joon. Tapi pemuda itu memberi alasan karena jarak kampus dan apartmen cukup jauh. Ia juga berjanji akan sering mengunjuingi Hyukjae. Meski berat hati, Hyukjae terpaksa melepaskan Joon. Biar bagaimanapun, Joon memang bukan anak kandungnya dan pemuda itu juga masih memiliki orang tua.

@@@

        Sebulan berlalu setelah hari itu. Selama itu pula Joon telah tinggal bersama keluarga Park Jung Soo. Seungho, Heechul, Yong Hwa, Kibum, Haesa dan Cheondung bergantian menginap di apartmen yang ditinggalkan Joon untuk menemani Hyukjae. Kecuali Minho, karena pemuda ini dikontrak sebuah klub sepakbola dan mengharuskannya tinggal di asrama klub.
        Hari ini adalah peresmian cafe pemberian Hyukjae yang akan dikelola oleh Cheondung dan Haesa. Memang hanya mereka yang bisa. Karena Seungho sudah bekerja di kepolisian, Heechul bekerja di rumah sakit, sementara Yong Hwa sedang mengurus album perdana bersama bandnya ‘Blue Jell’ dan Kibum yang menjadi menejer band adiknya sendiri.
Cheondung beberapa kali terlihat melirik arlojinya dengan gusar. Kemudian melempar pandangan ke pintu masuk café keluarganya yang baru saja buka. “Apa Minho belum memberi kabar? Di mana ia sekarang?” Tanya Cheondung kepada Seungho yang kebetulan melintas di hadapannya.
Seungho memastikan keadaan sekelilingnya. Seluruh anggota keluarganya yang lain sedang sibuk dengan urusan masing-masing. Terutama Haesa. Gadis itu sibuk duduk di sudut ruangan sambil mendengarkan lagu yang dimainkan oleh Yong Hwa bersama gitarnya. Karena keberadaan mereka cukup jauh, bisa dipastikan gadis itu tidak akan mendengar bahkan mencurigai Seungho dan Cheondung.
“Minho sedang dalam sebuah misi.”
Cheondung mengerutkan keningnya. “Misi?” ia mengulangi ucapan Seungho dan pemuda itu hanya mengangguk membenarkan. Setelah itu Cheondung mendapat sebuah pesan dari Sandeul. Ia melirik Seungho panic. Tapi tidak dengan kakaknya Minho itu yang terlihat sangat tenang. “Minho dan Joon berkelahi di stadion.”

@@@

        Minho malayangkan sebuah pukulan yang tepat mengenai wajah Joon hingga pemuda itu terjungkal kebelakang. “Itu hadiah karena kau telah menyakiti Haesa.”
        Joon menyeka tepi bibirnya yang berdarah sambil tersenyum meremehkan. “Apa kau pikir, kau tidak menyakitinya, hah? Kau egois karena hanya memikirkan perasaanmu sendiri!” balasnya sambil berusaha berdiri tegak.
        Minho kembali memberikan pukulan ke arah Joon, namun masih bisa dihalau. Joon pun melakukan hal yang sama. Pertarungan antar keduanya tak bisa dihindari lagi. Bahkan teriakan seseorang pun tak bisa menghentikan mereka sama sekali.
        “Minho…! Joon…! Hentikan…!”
        Joon terjerembap kebelakang akibat tendangan keras dari Minho. Joon memejamkan mata sambil menyilangkan kedua tangannya untuk menghalau pukulan Minho yang mungkin akan mengincar bagian wajahnya. Setelah itu memang terdengar suara pukulan. Tapi ketika Joon membuka mata, tak ada sesuatu yang terjadi padanya. Bahkan Minho pun tidak berada di hadapannya.
        “Kau tanyakan padanya, kenapa dia mengindarimu!” tunjuk Minho dengan tatapan tajam mengarah ke Joon.
Haesa tak mempedulikannya. “Kau tidak berhak ikut campur urusan pribadi Joon.” Gadis itu berbalik ke arah Joon setelah sebelumnya memberikan satu tamparan keras di pipi kiri Minho. “Ikut aku.” Ajak Haesa sambil menarik tangan Joon yang sudah berdiri tegak.

@@@

        Haesa mengajak Joon duduk di bangku taman tak jauh dari stadion tempat Joon dan Minho berkelahi. Haesa mengulurkan tangan untuk membersihkan darah di tepi bibir Joon menggunakan tissue yang baru saja ia beli.
        “Aku minta maaf karena Minho…”
        Joon menahan tangan Haesa sekaligus membuat gadis itu menghentikan ucapannya. “Aku yang seharusnya minta maaf.” Joon berpaling ke arah lain lalu menghela napas berat untuk menenangkan diri. “Minho benar. Aku menghindarimu karena…” Joon menggantung ucapannya untuk melirik Haesa. Gadis itu juga menatap ke arah lain namun fokusnya tak di sana.
        “Ku mohon jangan menjauhiku lagi.” Pinta Haesa lirih.
        Perlahan senyuman di bibir Joon berkembang. Karena merasa ada yang janggal, Haesa melirik Joon dengan tatapan aneh. “Kenapa kau melihatku seperti itu?”
        “Aku menghindarimu karena…” Joon seolah sengaja mengulur ucapannya. “Karena… aku jatuh cinta padamu dan menjalankan strategi dari Minho.”
        “Minho?” pekik Haesa tak percaya.

*flashback*
        Kejadian sebulan lalu, ketika menunggu bus di halte bersama Haesa, Minho telah menyadari kehadiran Joon tak jauh dari sana. Terlintas sebuah ide di benak Minho. Sore harinya, setelah puas seharian menghabiskan waktu bersama Haesa, Minho memutuskan menemui Joon di kampusnya.
        Minho dan Joon panjang lebar membahas Haesa. Joon sendiri telah mengakui perasaannya terhadap Haesa. Namun Joon masih ragu dengan perasaan gadis itu terhadapnya. Dan, mereka pun mulai mengatur strategi untuk mengetahui perasaan Haesa yang sebenarnya.
        Pertama, Minho mengatur scenario untuk Joon meninggalkan apartmen. Tentu saja tanpa pikir panjang Joon menyetujui karena jarak ke kampus memang lebih dekat jika ditempuh dari kediaman Park Jung Soo. Lagi pula, Jung Soo sendiri adalah ayah kandungnya. Jadi, tidak salah jika ia juga tinggal di sana.
        Kedua, Joon memang dibuat sengaja menghindari Haesa. Kibum, Seungho dan Yong Hwa juga mengetahui rencana ini. Kecuali Cheondung. Pemuda satu itu dibiarkan tidak tau agar rencana tetap terlihat natural.
        Dan ini dia rencana terakhir mereka. Rencana perkelahian antara Minho dan Joon. Di sana akan terlihat, siapa yang lebih dibela oleh Haesa. Minho atau Joon.
        “Aku pernah berjanji, akan menghajar siapapun yang berani merebut Haesa dariku.” Ujar Minho kala itu sebelum mereka menyepakati rencana terakhir. “Bahkan aku pun sempat mengancam hal serupa untuk Taemin dan Cheondung.” Minho tertawa geli mengingat perlakuannya terhadap Taemin dan Cheondung. Diliriknya Joon yang masih setia mendengarkan setiap ucapannya. “Dan tak terkecuali untukmu.”
        “Jadi, kau akan menghajarku juga?” Tanya Joon dengan sedikit ngeri dengan tantangan dari Minho. Ia harus mengeluarkan darah untuk mendapatkan seorang gadis.
        “Kau takut?” Minho tertawa lalu memukul pelan pundak Joon. “Bukankah kemarin kau menghajar anak buah Zhoumi?”
*flashback end*

        Haesa terbelalak tak percaya dengan apa yang baru saja di ceritakan Joon. “Jadi, selama ini kau…” Haesa menggantungkan ucapannya lalu bercedak kesal.
        Joon tersenyum puas. Sangat menikmati pemandangan di hadapannya. “Tadi kau membelaku. Apa itu artinya kau…” Joon sengaja tak melanjutkan ucapannya untuk sedikit menggoda Haesa.
        Gadis itu melirik tajam mata pemuda yang duduk di sampingnya. “Tidak.” Ujarnya singkat.
        “Apa luka di sekujur tubuhku tak berarti apa-apa untukmu?” protes Joon. Namun gadis tetap bungkam. Joon menyandarkan badannya lalu menghela napas panjang. Kecewa dengan apa yang ia dapat.
        Hening beberapa saat di antara keduanya. Tak lama kemudian, Joon merasakan ada yang menarik tangannya dan ada sesuatu yang lembut menyentuh pipinya. Kejadian itu berlangsung sangat cepat dan sontak membuat Joon menoleh sambil memegangi pipinya yang tersentuh sesuatu. Sepertinya bibir seseorang dan membuat senyum Joon merekah seketika. Haesa masih di sana. Tapi gadis itu terlihat menghindari tatapannya.
        “Haesa! Kau bahkan tidak pernah menciumku! Kenapa sekarang kau dengan mudahnya memberikan ciuman untuk Joon!”
        Haesa dan Joon berbalik dan mendapati sebuah keributan kecil di belakang mereka. Ternyata yang baru saja melancarkan aksi protes adalah Minho yang kini sudah dalam cengkeraman Cheondung dan Seungho. Aksi saat Haesa mencium Joon memang terjadi di depan mata Minho hingga membuat pemuda itu berniat mengacaukannya.
        “Minho… setidaknya nasibmu lebih baik dariku karena pernah menjadi kekasihnya Haesa.” Kata Taemin pura-pura sedih sambil menyandarkan wajahnya di pundak Yong Hwa. Kibum yang juga berada di sana menepuk-nepuk kepala Taemin seolah merasa simpatik untuknya.
        “Taemin…” seru Joon. “Setidaknya kau tak dihajar oleh Minho sepertiku.” Ujarnya membela diri sambil menunjuk sebuah luka di tepi bibirnya.
        “Kau bilang itu hanya scenario?” protes Haesa menuntut jawaban dari Joon dan Minho. Minho menggaruk belakang kepalanya dan mulai bersikap salah tingkah. “Kau keterlaluan.” Teriak Haesa sambil menghampiri Minho. Gadis itu cukup kesal atas perlakuan Minho terhadap Joon.
Tapi Minho sama sekali tak merasa bersalah. Ia menangkap tangan Haesa sebelum gadis itu sempat memukulnya. “Kau tak boleh protes.” Ancam Minho ketika sudah membawa Haesa ke dalam pelukannya. “Termasuk, kau!” Joon yang sebenarnya tak melakukan apapun turut mendapat ancaman.
“Lepaskan.” Haesa memberontak. Setelah berhasil melepaskan diri, ia langsung menggamit lengan Joon. “Ayo kita pergi.” Joon yang tak berani menolak hanya melambaikan tangan canggung.
“Huaaa… mereka pergi…” rengek Taemin. Semua langsung panic dibuatnya.
“Taemin, jangan menangis.” Usaha Cheondung. “Bagaimana kalau kau ku traktir di café baruku?” ujarnya yang tiba-tiba mendapat ide.
“Sungguh?” Wajah Taemin berubah senang. “Kalau begitu, ayo.” Ujarnya penuh semangat sambil menarik tangan Cheondung.
Cheondung pun dengan sangat terpaksa menuruti kemauan Taemin. “Aku menyesal berkata seperti itu.” Ujarnya kemudian.
Seungho, Kibum, Minho dan Yong Hwa saling melempar pandangan sebelum akhirnya mengangguk lalu mengikuti Taemin yang sudah membawa Cheondung berjalan cukup jauh.

@_E_N_D_@

Jumat, 15 Maret 2013

BLACK ORCHID (part 11)



        “Kau ingin gadis ini mati, Joon?” ancam Zhoumi yang telah menodongkan pistolnya tepat di kepala Haesa. Gadis itu tertangkap oleh Zhoumi ketika keluar dari apartmen Joon setelah dokter Kibum datang untuk memberi perawatan terhadap Dong Woo.
        Dengan serempak, seluruh anak buah Zhoumi, kecuali Dong Ho yang tersisa menahan Yong Hwa, Kibum dan yang lain seperti yang dilakukan anak buah Zhoumi terhadap Jung Woon dan tiga adiknya. Tersisa Joon yang dibiarkan bebas, seperti yang telah mereka rencanakan.
        Haesa berusaha bersikap tenang. Tapi tidak buat Cheondung yang selalu saja berusaha untuk melepaskan diri. Berkali-kali Haesa berkomunikasi dengan Cheondung melalui mata, namun pemuda itu tak bisa memahami maksud tatapan Haesa karena ia terlalu khawatir akan keselamatan gadis itu.
        Tak ingin menyerah begitu saja. Kini Haesa melirik Yong Hwa yang berada tak jauh dari Cheondung. Beruntung Yong Hwa juga menangkap tatapan dari Haesa. Kembali Haesa melakukan hal yang sama untuk Yong Hwa.
        “Jonghyun?” kata Yong Hwa tanpa suara. Mengerti maksud ucapan Yong Hwa, Haesa mengangguk samar. Artinya, Haesa membenarkan bahwa Jonghyun akan segera datang bersama orang-orang yang akan membantunya menyelamatkan mereka.
        Dong Ho mengedarkan pandangan. Karena hanya dia yang tak melakukan apapun. “Apa sekarang sudah saatnya?” Tanya Dong Ho sambil menatap Zhoumi penuh arti. “Ayolah…” rengek Dong Ho karena tak mendapat jawaban dari Zhoumi. “Aku masih ingin bermain dengan Joon. Kami bahkan belum mencapai klimaks.”
        “Dong Ho! Hentikan!” teriak Joon namun tak digubris sedikitpun oleh Dong Ho. Pemuda itu justru menyuruh Joon untuk tenang.
        “Lima menit.”
        Dong Ho terlihat berdecak kecewa karena keputusan Zhoumi yang tak mungkin bisa ditolerir lagi. “Oke…” ujar Dong Ho akhirnya. Namun sedetik kemudian ia menyeringai penuh arti ketika tatapannya terhenti pada Haesa. “Tapi setelah ini, gadis itu boleh menjadi milikku.”
        “Kau tidak akan bisa melakukan itu terhadap adikku!” marah Joon sambil menarik tubuh Dong Ho lalu memukulnya tepat di wajah hingga pemuda itu terjungkal ke belakang.
        “Adik?” gumam Yong Hwa, Cheondung, Kibum, Taemin dan Jinyoung pelan seakaan tak percaya dengan apa yang dikatakan Joon. Begitu pula dengan Haesa.
        Dong Ho tersenyum penuh kemenangan lalu bangkit sambil menyeka tepi bibirnya yang mengeluarkan darah segar. “Whoah… menarik sekali.” Ujarnya meremehkan.
        Sampai detik ini, Joon sama sekali belum ingin melakukan adu fisik kepada Dong Ho. Ia tetap menahan serangan demi serangan yang dilancarkan Dong Ho. Hingga akhirnya Dong Ho mendapati celah untuk menendang Joon dan akhirnya pemuda itupun terjungkal kebelakang.
        “Waktumu habis.” Tegas Zhoumi sesaat sebelum Dong Ho kembali melancarkan serangannya. “Dan sepertinya, aku juga tertarik dengan gadis ini.”
        Joon sudah ingin bangkit untuk menghajar Zhoumi, tapi Dong Ho sudah lebih dulu menahannya dengan kaki. Yang lain pun ikut berontak untuk menolong Joon dan Haesa. Terutama Cheondung dan Kibum yang paling menyesal tak bisa melindungi Haesa.
        “Aku akan pergi dan tidak akan mengganggu kalian. Selamat bersenang-senang.” Ujar Zhoumi diiringi tawanya.

@@@

        “Sepertinya kau sama sekali tak merasa ketakutan?” bisik Zhoumi masih sambil menggiring Haesa.
        “Terhadap orang sepertimu?” Haesa tersenyum meremehkan. “Tidak akan.”
        “Kau tau, Joon dan temanmu yang lain tidak akan selamat.”
        “Itu menurutmu.” Ujar Haesa masih dengan nada meremehkan.
        Tak lama setelah Zhoumi membawa Haesa berbelok, dari arah depan perlahan sederetan lampu menyorot mereka dengan tajam. Zhoumi pun berhenti karena matanya silau terkena pantulan cahaya yang muncul dari lampu mobil polisi yang menghalangi jalan mereka.
        Zhoumi menodongkan pistol ke arah orang-orang yang turun dari mobil. Satu persatu, kepala polisi Jinki dan ketiga putranya muncul disusul beberapa anggota kepolisian yang lain termasuk Seungho. Zhoumi semakin panic. Dan kelengahannya saat ini tak di sia-siakan oleh seseorang. Tiba-tiba sebuah bola sepak meluncur dengan deras dan tepat mengenai tangah Zhoumi.
        Haesa cepat-cepat menendang pistol Zhoumi jauh-jauh yang jatuh di dekat kakinya. Lagi, gadis itu tak membuang kesempatan, ditendangnya kaki dan disikutnya wajah Zhoumi hingga pria itu meringsis kesakitan. Lalu Haesa segera menjauhkan dirinya dan berlari menuju Seungho yang menyambutnya dan membawa gadis itu berdiri dibelakangnya.
        “Tangkap dia!” perintah Jinki yang langsung dituruti dua anak buahnya, Changmin dan Yunho yang segera menyergap tubuh Zhoumi.

@@@

        Yong Hwa, Cheondung dan Joon sesekali mengalihkan perhatian mereka ke arah Kibum. Seperti saat ini, ketika seseorang akan menyerang Kibum dari belakang, Joon langsung menyerang orang tersebut dengan kaki.
        Dong Ho menarik tubuh Joon untuk kembali melawannya. Karena hanya mereka yang bertarung satu lawan satu. Dong Ho memberikan sebuah pukulan telak di wajah Joon hingga membuat pemuda itu tersungkur kebelakang dan menabrak tubuh Jinyoung.
        “Kau baik-baik saja?” Jinyoung mengulurkan tangan untuk membantu Joon yang hampir terjatuh.
        “Terima kasih.” Kata Joon setelah kembali berdiri tegak.
        Jinyoung masih sangat terjaga konsentrasinya. Karena begitu berbalik, ia berhasil menangkis serangan dari Hoon. Meski pertandingan sangat tak berimbang karena pihak yang membela Joon kalah jumlah dari anak buah Zhoumi yang jumlahnya dua kali lipat dari mereka.
        “Cheondung!” teriak Yong Hwa karena ada seseorang yang ingin menyerang adiknya dari belakang. Cheondung berbalik, namun sayang, ia terkena pukulan tepat di wajahnya. Yong Hwa yang tak terima adiknya di sakiti, balas memukul Sunghyun.
        Joon dan yang lain ternyata sanggup menghadapi anak buah Zhoumi meski jumlah mereka lebih sedikit.
        Dong Ho semakin geram karena Joon masih mengalah untuknya. “Kenapa kau tak melawan?” seru Dong Ho sambil menendang Joon hingga kali ini pemuda itu benar-benar tersungkur ke belakang.
“Jangan sakiti kakakku!” pekik Taemin di tengah-tengah pertarungannya.
Dengan satu kaki Dong Ho melangkahi Joon dan kini pemuda itu berada di atas Joon. “Apa kau tidak menyesal mengakui pembunuh ini sebagai kakakmu?” sinis Dong Ho, tapi Taemin tak menggubris karena terlalu sibuk dengan urusannya bersama Kiseop.
Taemin berbalik dan memberikan satu tinjuan untuk Dong Ho. “Dia bukan pembunuh!” tegas Taemin yang masih bisa mendengar ucapan Dong Ho. Kiseop menarik tubuh Taemin yang hendak akan melancarkan serangan lagi terhadap Dong Ho.
Dua lawan Siwon sudah tak berkutik. Siwon yang sudah geram dengan Dong Ho langsung menghampiri pemuda itu yang masih tersungkur. Ia melakukan hal yang sama seperti yang di dapat Joon dari Dong Ho. Siwon menarik kerah pakaian Dong Ho yang kini tak berkutik dalam kekangannya.
“Joon bukan pembunuh! Yang membunuh ibu dan kekasih kakakmu Soohyun adalah Zhoumi…!” kesal Siwon untuk membela Joon.
Dalam keadaan terpojokkan, Dong Ho masih bisa memberikan senyuman meremehkan untuk Siwon.
Di saat yang bersamaan, Jonghyun, Donghae dan Sungmin muncul. Ternyata dari arah berlawanan dengan mereka, sudah berjejer mobil polisi yang siap membawa anak buah Zhoumi yang sudah cukup babak belur.
“Cheondung berhenti…!” teriak Jonghyun sesaat sebelum Cheondung mendaratkan pukulan pamungkasnya kepada Sunghyun yang sudah tak berkutik sama sekali. “Cukup! Kau bisa membunuhnya!” sekuat tenanga Jonghyun menahan tubuh Cheondung sampai salah seorang anggota kepolisian membawa Sunghyun.
“Akhirnya… selesai sudah…” seru Jinyoung dengan napas yang terengah-engah.
Jonghyun menoleh dan menghampiri Yong Hwa ketika telah menemukan keberadaan temannya yang satu itu. “Kau baik-baik saja?”
Yong Hwa hanya mengangguk lemah.
“Kau akan menyesal jika benar-benar membunuh Joon!” Siwon masih berada di posisi yang sama sampai akhirnya Joon muncul dan dengan sigap menahan Siwon yang siap menghajar wajah Dong Ho.
“Kau yang akan menyesal jika membunuh Dong Ho!” teriak Joon. Dengan bantuan dari Jung Woon dan Sun Woo, Siwon pun bisa dipisahkan dari Dong Ho.
Joon membantu Dong Ho untuk berdiri sebelum akhirnya di bawa oleh Sungmin dan Donghae. Joon hanya menatap nanar tubuh Dong Ho dari belakang yang sudah berjalan semakin jauh.

@@@

        “Kalian salah orang jika menangkapku!” protes Zhoumi memberontak ketika polisi Yunho memasangkan borgol ke tangannya.
        “Kau adalah pembunuh yang sebenarnya Zhoumi.”
        Semua orang menoleh ke arah sumber suara. Seseorang tengah berjalan mendekat ke tempat Zhoumi berada.
        “Tapi kau tidak punya bukti…” ucapan Zhoumi terputus ketika mendapati wajah orah tersebut yang semakin mendekat dan jelas. “Kau?” ujarnya tercekat. Tak percaya bahwa adiknya sendirilah yang akhirnya membawa Zhoumi ke dalam jurang penjara.
        “Mungkin kau kecewa denganku.” Seru Gongchan ketika telah berhadapan dengan kakaknya. “Tapi aku, beribu-ribu kali lipat lebih kecewa dengan mu!” tegasnya. Gongchan menghela napas sesaat. “Apa kau pikir selama ini Dong Woo dan Henry berdiri di pihakmu?”
        Zhoumi menatap Gongchan penuh kebencian. Tak menyangka bahwa adiknya sendiri telah berkhianat darinya.
        “Kami bahkan bekerja sama untuk menjatuhkanmu!”
        “Bawa dia!” perintah kepala polisi Jinki. Tanpa protes, Changmin dan Yunho membawa Zhoumi dari sana.
        Gongchan menunduk ketika kakaknya di bawa dua orang polisi. Penyesalan dan kekecewaan yang saat ini mengganggu pikirannya. Menyesal karena telah membuat kakaknya di bawa polisi, dan kecewa karena pekerjaan kotor kakaknya selama ini.
        Perlahan Seungho menurunkan pistol yang sejak tadi tajam menyorot Zhoumi. Begitu menoleh, ia sangat tenang karena Haesa masih selamat dan kiri berada di sampingnya. Seungho menghela napas setelah Haesa berada di pelukannya.
        “Sampai kapan kalian akan melakukan hal itu di depanku?”
        Seungho dan Haesa melepaskan pelukan mereka dan sama-sama menoleh ke arah sumber suara. “Minho?” pekik Haesa tak percaya.
        “Sejak kapan kau di sana?”
        Minho tak menjawab. Ia memungut bola sepak yang berada di dekat kaki Seungho. “Kalian pikir ini milik siapa?” sinisnya sambil mengangkat tinggi bola sepak yang kini sudah berada dalam genggamannya. “Apa kalian ingin mengkhianatiku?”
        Seungho dan Haesa saling tatap. “Haesa sudah seperti adikku sendiri.” Tegas Seungho membela diri.

@@@

        Ryeowook menepuk pundak Joon untuk menenangkannya. Joon menoleh dengan tatapan penuh terima kasih. Lalu Joon menatap berkeliling. Ketika ia menemukan sosok Taemin, Joon pun langsung menghampirinya.
        “Terima kasih kau telah kembali membantuku.” Ujar Joon canggung.
Taemin menoleh sambil memegangi tepi bibirnya yang berdarah. Ia memaksakan untuk tersenyum sambil menahan rasa sakit. “Itu sudah menjadi kewajibanku sebagai seorang adik.”
Kening Joon sontak berkerut mendengar ucapan Taemin. “Kenapa kau selalu mengatakan aku adalah kakakmu?” Tanya Joon ingin tau.
Taemin tak menjawab. Ia menoleh ke kiri. Sebuah mobil muncul menggantikan deretan mobi polisi yang telah lebih dulu meninggalkan lokasi. Kyuhyun dan Jung Soo terlihat turun dari pintu depan mobil, setelah itu menyusul Soo Ra dan Hyun Rae dari pintu belakang. Mereka semua langsung berhamburan menghampiri Taemin.
“Ayah, aku minta maaf.” Ujar Taemin sambil memeluk Jung Soo.
Jung Soo mengusap punggung putranya. “Kau tidak salah, ayahlah yang salah.” Ujarnya menyalahkan diri. Kyuhyun ikut mengusap lembut puncak kepala Taemin.
Lalu Taemin melepaskan pelukan ayahnya dan beralih memeluk ibunya yang sudah menangis. “Aku juga minta maaf padamu, bu.” Ujar Taemin, namun Soo Ra tak sanggup menjawab. Taemin ingin melepaskan pelukannya, tapi nampaknya Soo Ra menolak. “Ibu, jangan seperti ini.” Kata Taemin lembut sambil mengusap punggung Soo Ra.
Sementara Hyun Rae tampak menyeka darah yang mengalir di sekitar bibir Taemin menggunakan sapu tangan dan Taemin hanya tersenyum menanggapinya. “Aku membawa seseorang untuk kalian.” Taemin sedikit memaksa Soo Ra untuk melepaskan pelukannya.
“Ibu…” pekik Joon membuat Taemin menoleh seketika. Namun tampaknya bukan seperti yang Taemin bayangkan. Joon justru telah tenggelam dalam pelukan Yoo Ra yang sebenarnya datang bersama Jung Soo dan keluarga.
Insiden antara Joon dan Yoo Ra sangat menarik perhatian. Terutama untuk Jung Woon, Siwon, Ryeowook dan Sun Woo. Ketiganya menatap Yoo Ra nanar, karena wanita itu terlihat sangat menyanyangi Joon. Meski kenyataannya merekalah anak Yoo Ra yang sebenarnya.
“Tante maaf. Aku sangat menyesal melakukan ini. Tapi bukankah aku telah berjanji membawa Sun Woo, Siwon, Ryeowook dan Jung Woon kembali padamu.”
Yoo Ra dan Joon menatap Taemin penuh arti. Taeminpun balas menatap Joon penuh rasa bersalah. “Maaf Joon, aku terpaksa melakukan ini.” Ujar Taemin sambil perlahan menarik tangan Yoo Ra untuk menjauhi Joon.
        Joon hanya mampu menatap kepergian Taemin yang membawa serta Yoo Ra, seorang wanita yang hingga detik ini diyakini sebagai ibu kandungnya. Sampai akhirnya, Soo Ra mendekati Joon.
        “Changsun?” lirih Soo Ra membuat Joon menoleh. Ketika menatap Joon melalui matanya yang basah, Soo Ra mendekap mulut lalu memeluk tubuh tinggi Joon.
        Joon sama sekali tak membalas pelukan Soo Ra, tapi ia juga tak melakukan penolakan untuk membebaskan diri.

@@@

        Jung Woon, Siwon, Ryeowook dan Sun Woo berdiri berdampingan. Jantung mereka berdegup kencang ketika menunggu Taemin yang akan membawa Yoo Ra kembali untuk mereka.
        Ketika sampai ke hadapan putranya, Yoo Ra menatap mereka satu-persatu. “Jung Woon… Sun Woo… Siwon… Ryeowook…” ucapnya perlahan, namun nalurinya sebagai seorang ibu sama sekali tak bisa terelakkan. Roo Ya menyebut nama anaknya dengan benar tanpa tertukar. Meski mereka terpisah lebih dari 19 tahun yang lalu.
        “Ibu…” ujar Sun Woo  yang sudah tak bisa menahan gejolak dadanya dan langsung melesat memeluk Yoo Ra. Mungkin Sun Woo dan ketiga kakaknya mengetahui wanita tersebut sebagai ibu kandung Joon. Tapi ini pertama kalinya mereka bertemu secara langsung bersama dengan kenyataan lain.
        Mulai dari Jung Woon, Ryeowook hingga Siwon ikut memeluk ibu mereka dan Sun Woo bersama-sama.

@@@

        Tanpa berkata-kata lagi, Minho langsung menarik tubuh Haesa dan memeluk gadis itu. Seungho yang semula cukup terkejut, langsung tersenyum menyaksikan pemandangan itu.
        “Maaf, aku tak bisa menjagamu.”
        Haesa menjauhkan tubuhnya dari Minho dan menatap mata bulat kekasihnya dalam-dalam. “Tidak, Minho. Aku yang seharusnya meminta maaf.”
        “Jika kalian saling menyalahkan diri, ini tidak akan pernah selesai.” Tegur Seungho yang masih berada di sana. Mengawasi Minho dan Haesa. “Ayo kalian ikut aku. Kita akan menemui yang lain.” Ujar Seungho yang langsung berjalan terlebih dahulu.

@@@

        Akhirnya, semua kenyataan yang tersembunyi rapat-rapat sejak 19 tahun yang lalu terbongkar dalam satu malam. Mulai dari kenyataan bahwa Lee Joon adalah anak kandung dari Park Jung Soo dengan nama Park Changsun.
        Penculik bayi Changsun memang benar Shin Donghee. Tapi ia sama sekali tak tau bahwa Zhoumi, anaknya, menjadi seorang pembunuh ketika dewasa. Faktapun menunjukkan bahwa tak ada korban meninggal akibat tembakan dari senjata milik Joon.
        Dan pada malam itu pula, ketiga mantan istri Lee Hyukjae muncul bersamaan. Choi Hyosun, istri pertama Hyukjae dan merupakan ibu dari Seungho dan Minho. Lalu Song Hyera, ibu dari Heechul, Yong Hwa dan Cheondung. Terakhir Kim Soo In, yang tak lain adalah ibu dari Kim Kibum dan Kim Haesa.
        “Tidak!” pekik Minho kepada ibunya yang langsung menjadi pusat perhatian dari orang-orang di sana. “Ibu pasti bohong. Aku sangat mencintai Haesa. Dan tak mungkin bahwa kami adalah saudara.”
        Hyosun mencoba memberi pengertian terhadap anak bungsunya. “Ibu tidak bisa berbuat apa-apa. Maafkan ibu. Tapi kenyataannya…”
        “Aku tidak akan mempercayai hal ini.” Tegas Minho yang bersikeras dengan apa yang ada di dalam pikirannya.
        Haesa menangis sambil duduk bersimpuh di kaki ibunya yang harus duduk di kursi roda. Hatinya pun ikut sakit mendengar penolakan secara tegas dari Minho.
        Minho menarik tangan Haesa hingga gadis itu berdiri di hadapannya. Orang-orang yang berada di sana sampai harus menahan napas menunggu apa yang akan di lakukan Minho terhadap Haesa.
Terutama Joon yang harus menghadapi hati dan pikirannya yang tak sejalan. Jujur saja, Joon memang jatuh hati terhadap gadis yang pertama kali ia kenal di kota itu. Dan ia cukup lega karena Haesa dan Minho tidak mungkin bisa sampai menikah. Tapi ia tak tega melihat kesedihan Haesa yang harus berpisah dengan Minho sebagai sepasang kekasih.
“Status kita tidak akan pernah berubah.” Tegas Minho sekali lagi.
“Minho tapi…” ucapan Haesa terpotong karena ia melihat Joon tak menatap ke arahnya seperti yang lain.

@@@

        Dua hari berlalu sejak kejadian itu. Haesa, Kibum dan Soo In kembali tinggal di apartmen mereka. Uang tabungan Haesa dari hasil penjualan apartmen ia pakai untuk membeli kembali apartmennya dari Taemin. Dan kekurangan uangnya dilunasi oleh Joon dengan alibi itu adalah gaji Haesa selama bekerja di tempatnya. Tentu saja awalnya Haesa menolak. Tapi Joon bersikeras melakukan hal itu dan mengatakan bahwa Haesa akan tetap bekerja untuknya tanpa gaji sampai uang Joon kembali.
        Joon sendiri masih tetap tinggal di apartmen lamanya bersama Hyukjae yang datang keesokan harinya setelah insiden malam itu. Hubungan antara Hyukjae dan Jung Soo pun kembali baik setelah itu.
        Sementara Yoo Ra kembali ke kota asalnya bersama keempat putranya dan berkumpul kembali bersama Hangeng juga. Karena Hyukjae memutuskan untuk bercerai dengannya.

@@@

        “Biar aku yang buka, yah.” Ujar Joon bergegas keluar dari dapur ketika ada seseorang yang menekan bel apartmennya. Hyukjae menuruti perkataan anaknya lalu kembali duduk di sofa.
        “Pagi, Joon.” Seru Haesa penuh semangat.
        Joon hampir saja menunjukkan senyumannya ketika mendapati gadis itu lah yang muncul di aprtmennya. Namun ditahannya kuat-kuat senyuman itu agar jangan sampai muncul. “Oh, kau?” ujar Joon dingin.
        “Kau kenapa…? Ucapan Haesa terhenti ketika melirik dan mendapati Hyukjae duduk di sana. “Ayah…” serunya tak mempedulikan Joon yang masih berdiri mematung di dekat pintu.
        Haesa langsung memeluk Hyukjae dan mencium pipi ayahnya. “Apa ibumu sehat?”
        “Iya ayah. Ibu sehat.” Haesa perlahan menjauhkan tubuhnya dari sang ayah. “Aku akan membuatkan sesuatu untuk ayah.” Ujarnya yang langsung melesat menuju dapur.
        Di sana Joon terlihat sedang menenggak minumnya. “Kau ingin makan apa Joon untuk sarapan?” Tanya Haesa. Joon tak menjawab. Pemuda itu justru meninggalkan Haesa begitu saja lalu masuk ke dalam kamarnya yang selama ini ia tempati saat Haesa tinggal di sana.

@@@

        “Siapa yang akan mengantarkan undangan untuk keluarga polisi Jinki?” Tanya Sandeul kepada Jinyoung ketika mereka sedang mendata tamu undangan pernikahan Sung Chulyong dengan Jung Ji Woon. Jinyoung meletakkan dua kaleng minuman di hadapan Sandeul.
“Berikan satu. Biar aku yang mengantarkannya.”
Jinyoung dan Sandeul menoleh ke arah sumber suara. Ternyata Eun Gee, yang telah lebih dulu menyambar sebuah undangan tanpa nama penerima. Lalu Eun Gee membubuhkan tulisan dengan nama kepala polisi Lee Jinki di atasnya. Kemudian pergi tanpa pamit.
Jinyoung melirik Sandeul. Begitu pula sebaliknya. Jinyoung menghela napas keras.
“Kenapa?” selidik Sandeul.
Jinyoung mengangkat bahu. “Anak kepala polisi Jinki yang bernama Donghae menyatakan cinta kepada kakakku.”
“Bukankah Eun Gee berpacaran dengan Kyuhyun?” ujar Sandeul memastikan.
Jinyoung mengangguk membenarkan ucapan Sandeul. “Bahkan ku dengar Kyuhyun menghajar Donghae karena kejadian itu.”
Sandeul membulatkan mata mendengar ucapan Jinyoung. “Kenapa kau biarkan kakakmu pergi ke tempat Donghae?”
“Sudahlah biarkan saja.” Kata Jinyoung enggan mencampuri kisah cinta segitiga antara kakaknya, Kyuhyun dan Donghae.

@@@

        “Kenapa kau mengikutiku?” seru Hyo Min ketika mendapati Chulyong yang sama-sama turun dari mobil mereka masing-masing.
        “Kau yang mengikutiku…” balas Chulyong tak terima. “Kau masih belum terima bahwa aku akan menikah lebih dulu?” lanjut Chulyong saat mereka sudah memasuki gerbang sebuah rumah.
        “Bahkan kekasihmu lebih muda dariku.” Hyo Min juga tampak tak mau mengalah. “Harusnya aku yang menikah duluan.”
        “Tapi aku kakakmu!”
        “Tapi…”
        “Berhenti…!” teriak seseorang membuat Hyo Min dan Chulyong akhirnya menghentikan pertengkaran mereka dan melirik Sandeul yang sudah berdiri di depan pintu. “Kenapa kalian rebut-ribut di rumah orang? Bikin malu saja!” protes Sandeul terhadap kedua kakaknya.
        “Jinyoung maaf.” Ujar Hyo Min saat menyadari Jinyoung juga telah berada di sana. “Aku hanya ingin bertemu Eun Gee.”
        “Tidak apa.” Jinyoung hanya mengangguk. “Tapi kakakku baru saja pergi.”
        “Ya sudah, terima kasih.” Hyo Min lalu berbalik dan melirik tajam ke Chulyong. “Awas kau!” cibirnya.
        “Kalian akan menikah. Kenapa masih bersikap seperti anak kecil?”
        “Aku yang akan menikah lebih dulu.”
        Sandeul memutar bola matanya. “Terserahlah…” ujarnya enggan lalu berbalik dan kembali ke dalam meninggalkan Jinyoung dan Chulyong.

@@@

        Hingga malam, Joon belum kembali ke apartmennya. Di ruang tamu telah berkumpul Hyukjae, Seungho dan Kibum yang sedang menanggapi cerita Yong Hwa tentang karirnya di dunia music. Sementara Haesa hanya diam tenggelam dengan pikirannya sendiri meski Cheondung berada di sana menemaninya.
        Tak lama Kibum muncul. “Apa kau tak ingin pulang?” tegur Kibum kepada Haesa. Gadis itu menggeleng. Kibum mengangguk tanpa berkomentar lalu pergi dari sana.
        Haesa menghela napas cukup keras. “Minho… Joon… kenapa kalian melakukan ini padaku?” keluhnya. Bagaimana tidak, ponsel milik kedua pemuda itu tidak bisa dihubungi. Meski ia tahu Minho sedang menjalani pertandingan, tapi ini sangat janggal. Bahkan Seungho sendiri tidak tau apa yang sedang dialami adiknya.
        Sementara Joon? Dia bahkan lebih parah dari Minho. Tanpa ada alasan yang jelas pemuda itu menghilang tanpa jejak dari mata Haesa. Cheondung juga tak bisa mengatakan apapun. Ia hanya mengusap kepala Haesa sebagai usaha menenangkan gadis itu.

@@@

        Jonghyun hanya memperhatikan kakaknya, Donghae, memasukkan barang belanjaan mereka ke dalam troly. “Yang itu juga.” Tunjuk Jonghyun kepada sebuah makanan kemasan.
        Donghae tak menggubris ucapan Jonghyun, namun ia tetap menuruti permintaan adiknya itu.
        “Apa kau masih ingin berbelanja?” protes Jonghyun ketika Donghae meneruskan berjalan. Padalah isi troly mereka sudah hampir penuh. Lagi-lagi Donghae tak menjawab. Jonghyun cukup kesal mendapat perlakuan seperti itu. Entah dari mana asalnya, terlintas sebuah ide jahil di benaknya.
        Jonghyun memandang berkeliling supermarket. Tak jauh dari sana, ada seorang gadis seorang diri dan tengah memilih-milih bahan makanan. “Kak, bukankah itu Eun Gee?” tebak Jonghyun asal sambil menunjuk gadis itu.
        “Di mana?” sentak Donghae dan langsung mengikuti arah tangan Jonghyun.
        Jonghyun tiba-tiba tertawa cukup keras karena berhasil mengerjai kakaknya. Donghae hanya melirik kesal ke arah adiknya. Namun ia kembali melirik gadis itu. Menurutnya, Jonghyun mungkin hanya ingin mengerjai, tapi target yang dipilih Jonghyun tepat sasaran.
        “Eun Gee?” gumam Donghae sambil berjalan mendekati gadis itu.
        Di saat bersamaan, gadis itu juga hendak berbalik. “Donghae?” serunya tak percaya karena bertemu Donghae di sini.
        Jonghyun sendiri terperangah dengan apa yang dilihatnya. Tak di sangka, ternyata gadis yang ia tunjuk benar-benar seorang Jung Eun Gee.
        “Aku ingin minta maaf karena…”
        “Tidak.” Potong Donghae. “Aku yang seharusnya meminta maaf karena aku tidak tau bahwa kau dan Kyuhyun…” Donghae tak melanjutkan kata-katanya.
        “Apa kita masih bisa berteman?” Tanya Eun Gee sambil mengulurkan tangan kanannya.
        Tanpa ragu, Donghae membalas uluran tangan Eun Gee. “Tentu.” Ujarnya tegas.
        Eun Gee tiba-tiba teringat sesuatu. “Oiya…” gadis itu mencari-cari sesuatu di dalam tasnya. “Ini.” Ujar Eun Gee sambil menyodorkan sebuah undangan ke hadapan Donghae.
        Donghae memaksakan diri untuk meraih benda tersebut. pikiran-pikiran aneh mulai menyerang kepalanya. Donghae berpikir bahwa itu adalah undangan pernikahan Eun Gee dengan Kyuhyun.
        “Itu undangan pernikahan kakakku Ji Woon dengan Sung Chulyong anak pak Sung Byunghae untuk keluarga polisi Lee Jinki.” Jelas Eun Gee seolah bisa menebak pikiran Donghae.
        Donghae tersenyum malu karena Eun Gee dengan tepat menebak isi kepalanya. “Tentu. Akan ku sampaikan kepada ayah.”

@@@