Rabu, 01 Februari 2012

Rosengard FC (part 3)


3. ROSENGARD FC TERANCAM BUBAR

Lingga menutup pintu lokernya. Ia tertunduk. Lalu menyandarkan badannya. Sampai akhirnya ia terduduk di lantai. Kostum bola miliknya dibiarkan tergeletak. Telinganya kembali memperdengarkan pembicaraan pelatih kepala dan asisten pelatih klub sepakbolanya perihal kelangsungan sepakbola SMA Rosengard.
       
        “Apa tidak terlalu memberatkan jika hari ini anak-anak tanding, bapak akan lengser?”
        “Kepala sekolah beranggap klub sepakbola kita sudah terlalu banyak mendapat dispensasi. Karena sering mengikuti kompetisi, namun tak sekalipun dihampiri gelar juara.”
        “Kalo kepengurusan direshuffle, berarti kita harus mulai lagi dari awal.”
        “Sekolah akan memberikan pelatih kepala baru yang lebih baik.”
        “Tapi terlalu cepat jika mengambil acuan dari pertandingan hari ini. Karena 50% pemain adalah wajah-wajah baru. Sedangkan yang kita harapkan, Diaz dan Danu, tadi pagi mengalami musibah.”
“Semua sudah terlambat.”     
“Tapi pak?”
        “Penentuannya adalah pertandingan sore ini.”

        Lingga berdiri dan mengepalkan tangan. Emosinya sudah tak terkontrol. “AARRRGGGHHH…” Lingga siap menghantam tangannya ke loker.
        Tiba-tiba pintu terbuka. Kurang sepersekian detik. Tangan Lingga brhenti beberapa senti dari pintu lokernya.
        “Lingga.”
        Lingga berbalik. ILAN. Kapten SMA Siliwangi. Rivalnya yang merebut gelar juara turnamen tahun lalu dari SMA Rosengard.
        Cuma ada mereka berdua di ruang ganti pemain. Lingga yang kembali terduduk di lantai. Dan Ilan, yang berdiri berseberangan dengan Lingga menyandarkan badannya di loker.
        “Kemungkinan terburuk adalah bubarnya klub sepakbola SMA Rosengard.” Lingga masih dihantui dengan apa yang didengarnya dari ruang secretariat.
        “Masih ada ‘ARJUNA Rosengard’. Elu, Diaz, Bagas, Danu dan…” Ilan menghela napas. “bentar lagi kita satu tim.”
        Ya. Ilan kini menjadi bagian dari tim sepakbola SMA Rosengard. Kepindahannya dari SMA Siliwangi memberikannya situasi sulit di Rosengard. Bukan hanya sekedar membela, tapi lebih dari itu. Keadaan yang kurang baik di Rosengard memberikannya beban lebih.
        Ilan mengernyitkan dahi. Menunggu sesuatu yang di harapkannya dari Lingga.
        “Diantara kami, kini tinggal gue yang tersisa.” Lingga masih tidak mengangkat kepalanya.
        Ilan memang belum tau apa-apa perihal kejadian beberapa hari terakhir.
        “Bagas pindah ke Palembang. Diaz kecelakaan.”
        “Diaz.” Ilan berujar pelan. Sedikit banyaknya membayangkan kondisi Diaz pasca kecelakaan. Kabar terakhir, Diaz baru menjalani operasi kaki. Itu memperburuk catatan seorang pemain sepakbola.
        “Entah kapan Diaz bisa kembali merumput untuk mengejar cita-citanya.”
        Keduanya diam.
        Ilan mencerna setiap ucapan Lingga. Sementara mata Lingga hampir berkaca-kaca. Seolah ia sendiri menghadapi rentetan masalah yang menghampirinya.
        Tapi Ilan juga gak hanya sampai di situ. Berharap satu nama terakhir yang ia sebutkan, bisa membuka sedikit harapan. Bukan hanya harapannya, tapi harapan Lingga dan Rosengard terutama.
        “Danu.”
        Lingga tersenyum pahit. Meski tak menunjukkan terang-terangan terhadap Ilan.
        “Gak segampang itu buat Danu bisa balik lagi main sepakbola.” Dan kali ini Lingga mendongak.
        “Kenapa….” Kata-kata Ilan tertahan.
        Lingga sama sekali gak ngasih Ilan kesempatan untuk berargumen. “Lo gak tau siapa Danu! Dan lo gak tau seperti apa latar belakang keluarga Danu.”
        Memang lebih baik mengalah dari pada melawan Lingga yang tak bisa terjamah suasana hatinya. Ilan diam.
        Lingga benar. Ilan tak tau apa-apa sedikitpun tentang Danu. Tapi gambaran secara umum cukup terbayang. Melihat kondisi Danu secara fisik. Danu bukan berasal dari keluarga sembarangan.
        “Gue emang gak tau.” Ilan menghela napas. Menahan diri untuk tidak terpengaruh sikap Lingga. Tapi kali ini dia harus tegas.
Lingga kembali menunduk. Itu memang lebih baik dari pada harus membenturkan tangan ke loker atau lebih parah lagi, ke tembok.
        “Tapi bukan berarti lo Cuma diem ngejogrok di sini!” suara Ilan cukup terdengar keras untuk suasana ruang ganti yang hanya ada mereka berdua. “Semua gak bakal berubah kalo lo gak bergerak.”
        Lingga sadar akan omongan Ilan. Ia harus bergerak. Ilanpun yakin. Diamnya Lingga bukan berarti ia menghindari kenyataan. Sedikit banyaknya, itu cara Lingga mengendalikan emosi.
        Ilan menunggu
        Belum sempat Ilan mendapatkannya, pintu terbuka diikuti sebuah suara. Ia langsung menoleh tanpa diikuti oleh Lingga.
        “Lingga.” Kharis muncul dari baliknya. “Ada yang mau gue omongin tentang klub.”
        Hampir semua yang kenal Lingga tau tentang kebiasaan Lingga yang gak mau natap orang yang bicara padanya ketika dalam sesuatu yang sulit. Termasuk Kharis. Karena jika terjadi kepada orang yang belum mengenal Lingga, sikap tadi cukup membuatnya di cap sebagai anak yang tidak sopan.
        “Bisa kita ngomongnya di sini aja?” seperti ini. Lingga bener-bener gak mau menatap siapapun.
        Sebenarnya Kharis gak keberatan. Tapi yang menjadi masalah, hadirnya sosok Ilan yang di mata Kharis masih sebagai lawannya di sepakbola. Belum banyak yang tau tentang pindahnya Ilan ke SMA Rosengard. Terutama di klub. Kecuali Lingga tentunya.
        “Dia Ilan.” Kata Lingga menjawab tatapan curiga Kharis terhadap Ilan. “Sepupu gue.”
        Kharis sebenarnya tau Ilan. Dan ia juga tau kalau Ilan kapten SMA Siliwangi. Tapi yang membuatnya curiga adalah… “ngapain dia ada di sini?”. Pertanyaan itu cukup membuat suara Kharis terdengar sewot dan sesekali juga masih mengawasi Ilan melalui ekor matanya.
        Sepertinya wajar jika seperti itu. Sore ini SMA Rosengard di daulat untuk melakoni partai persahabatan melawan juara bertahan SMA Siliwangi. Sementara seseorang yang masih dicurigainya sebagai lawan, kini berada satu ruangan dengannya.
        “Dia bakal jadi bagian dari kita.”
        Kharis yang terkejut langsung tajam mengawasi Ilan. Seolah itu adalah sesuatu yang mustahil.
        Ilan yang sebenarnya cukup gak enak hati sejak tadi di awasi, hanya sanggup mengangguk kecil. Tapi anggukannya terlihat meyakinkan. Karena jika Ilan di todong menunjukkan surat kepindahannya kepada Kharis sebagai bukti pun, ia siap.
        Kharis masih ragu. Perlahan ia menutup pintu di belakangnya. Gak ada banyak waktu untuk memikirkan keberadaan Ilan. Ia langsung ambil tempat, duduk di antara Lingga dan Ilan. Menghela napas sesaat.
        “Ini masalah tentang klub.” Suara Kharis terdengar ragu.
        “Gue udah tau semua. Satu-satunya jalan adalah menang di pertandingan hari ini.” Ucap Lingga dingin. Seolah itu bukan masalah besar.
“Hah..!” Kharis tercengang.
        Setelah sekian lama, akhirnya Lingga mendongak. Seolah Lingga tau apa yang dipikirkan Kharis, ia menatapnya. “Gak penting gue tau dari siapa.”
        Oke. Memang bukan hal penting. Tapi, gak Cuma sampai di situ. Masih ada hal lain yang sebenarnya penting. Bahkan sama pentingnya.
        “Apa Ilan boleh turun?” Tanya Lingga yang sebenarnya untuk Kharis.
        “Apa boleh?” malah Ilan yang balik bertanya.
        Keduanya menatap Ilan.
        “Gue yakin bisa.” Kharis menatap Ilan penuh harap.
        Justru Ilan yang terlihat ragu. “Tapi…”
        Semua pasti berpikir Ilan ragu karena yang akan menjadi lawannya adalah sekolah lama Ilan. Dan tekanan dari para pemain SMA Siliwangi terhadapnya pasti jauh lebih besar. Malah cenderung Ilan menjadi sorotan. Kharis dan Lingga pun  tak luput berpikiran seperti itu. Apa lagi ini hari pertamanya bergabung dengan Rosengard dan harus langsung turun bertanding.
        “Saya harap, kamu tidak sampai terpengaruh dengan tekanan dari rekan se-tim kamu dulu.” Kharis membuktikan apa yang ada di pikirannya.
        Tapi bukan itu yang sebenarnya ditakutkan Ilan. Ia menatap mata Lingga yang masih terlihat kosong. Tapi ia bisa merasakan mata itu menatapnya penuh harapan.
        “Bukan itu yang gue permasalahin.”
        Masih dari tatapan Lingga. Jelas itu menyiratkan sebuah pertanyaan.
        “Gue belom punya seragam…” kata ilan sambil menunjukkan jari telunjuknya.
        Ternyata itu?
        Lingga dan Kharis dibuatnya memeras otak.
        “Gak bawa sepatu…” lanjutnya sambil menunjukkan jari-jarinya lang lain. Seperti anak TK yang baru belajar menghitung. “Kaos kaki. Handuk. Baju ganti…”
        Ya ampun. Lingga tak sabar untuk berdiri sebelum Ilan menyelesaikan absennya terhadap barang-barang keperluan tanding. Berjalan mendekati deretan loker di seberangnya.
        Lingga merogoh saku jeansnya dan mengeluarkan rencengan kunci loker. Hanya ada empat buah. Masing-masing di beri label namanya, Danu, Diaz dan Bagas. Pertama ia memilih milik Danu. Lalu mendekati loker yang tertera nama Danu. Memutar kunci, lalu menarik buka pintunya.
        “Gue rasa ukuran sepatu lo sama kayak Danu.” Kata Lingga sambil melempar rendah sepasang sepatu bola dengan kombinasi garis-garis berwarna hijau muda yang seolah tampak menyala dalam pekatnya warna hitam.
        Setelah menutup dan kembali mengunci loker Danu, Lingga kembali beralih ke loker yang lainnya. Kali ini milik Diaz yang berjarak beberapa pintu dari loker Danu. Ia mengeluarkan sepasang kaus kaki berwarna putih yang masih terbungkus rapih dalam plastic. Serta alat pelindung kaki.
        Terakhir, Lingga menuju loker Bagas yang terletak paling ujung. Di sana ia menemukan seragam sepakbola SMA Rosengard yang terlipat rapih. Lingga meraihnya dengan perlahan. Seolah tak ingin merusak tatanan dalam loker Bagas yang memang paling rapih diantara yang lain. Menatapnya sesaat. “Sorry, Gas. Gue bukannya mau gantiin posisi lo ke Ilan. Karena kalian gak bisa diganti atau menggantikan satu sama lain.”
        Kharis dan Ilan hanya menunggu. Bahkan tak mendengar apa yang Lingga katakan terhadap seragam Bagas dengan suara yang sangat kecil.
        Lingga membawakan seragam itu kepada Ilan.
        “Lo punya kunci loker semua anak-anak?” todong Ilan karena merasa ada sesuatu hal yang ganjil perihal Lingga dengan leluasa membuka dan mengeluarkan isi loker orang lain seperti itu miliknya.
        Kharis hanya mengangkat bahu. Ia mungkin, tapi pasti tau juga tentang yang satu ini. Tapi Kharis ingin Lingga yang menjelaskannya sendiri.
        “Antara gue, Danu, Diaz dan Bagas seolah gak ada batasan terhadap barang-barang pribadi. Dan gak Cuma gue, mereka juga punya kunci loker punya kita masing-masing.”
        Cukup bisa diterima logika Ilan yang tampak manggut-manggut merespon cerita Lingga.
        “Lo bisa pake loker punya Bagas. Tapi berhubung belum sempet gue kosongin, jadi mungkin belum bisa lo pake juga sampe Danu atau Diaz bisa bantuin gue ngeluarin barang-barangnya.”
        Tanpa butuh nunggu respon berikutnya dari Ilan. Setelah meraih seragam yang disodorkan Kharis, Lingga melangkah ke toilet.
        Ilan dan Kharis saling tatap.
        “Cuma dia sendiri yang tau obatnya.”
        Seolah mengerti, Ilan hanya tertawa menanggapi Kharis. Lalu mengikuti langkah Lingga. Sementara Kharis kembali ke luar ruangan. Karena beberapa pemain lain mulai berhamburan masuk. Tampak mulai dari Bintang, Irham, Garra, Hexa, Tegar, dan yang lainnya bergantian memenuhi ruangan.
        Kabar bergabungnya Ilan sudah tersebar di kalangan punggawa Rosengard. Dan beberapa juga menanggapi positive dengan memberi ucapan selamat atau kata-kata penyemangat lainnya.
        ‘Rosengard bukan pilihan yang salah’ pikir Ilan. Belum apa-apa Ilan sudah dibuat nyaman dengan suasananya.

@@@

Pertandingan antara SMA Rosengard melawan SMA Siliwangi udah berjalan 30 menit. Skor sementara keunggulan SMA Siliwangi 2-0.
        Di tengah lapangan, Lingga berlari menggiring bola. Tapi salah satu pemain belakang SMA Siliwangi menghadangnya hingga terjatuh. Wasit langsung meniup peluit dan menilai itu sebagai pelanggaran. Lingga sendiri sampai harus di tandu untuk keluar lapangan. Kharis dan Ilan menunggu di tepi lapangan.
        Lingga masih mengerang menahan sakit sambil terus memegangi kakinya.
        “Ka, bisa turunin gue?” Pinta Ilan yang terlihat tak sabar sajak awal pertandingan.
        “Jangan sekarang.” Bantah Lingga di tengah sakitnya yang kini sedang ditangani oleh tim medis. “Kondisinya gak memungkinkan.”
        “Bukan gue!” balas Ilan. “Tapi kondisi lo yang lebih gak memungkinkan.”
        “Gue bicarain ke pelatih.” Kharis siap berdiri. Tapi tangan Lingga menghadangnya membuat Kharis langsung menoleh.
        “Ka, dari awal anak-anak Siliwangi ngincer gue.” Ilan tak mau kalah untuk bicara terlebih dahulu. “Tapi karena gue belum bisa turun, makanya mereka lebih dulu focus ke Lingga.” Ilan berusaha meyakinkan Kharis.
        Kharis hanya balas menatapnya.
        “Mereka tau Lingga temen gue.” Ilan belum berhenti. “Dan mereka juga pasti tau gue gak akan tinggal diem liat temen gue di serang gak wajar sama mereka.”
        Lingga pun tajam menatap Ilan.
        “Lan. Lo jangan ngorbanin diri.” Lingga terdengar cemas. Rahangnya terlihat mengeras.
        Dirasa tak ada yang merespon, Lingga menoleh ke Kharis. “Ka, Ilan gak tau apa-apa tentang Rosengard.” Lingga juga berusaha membujuk Kharis.
        Ilan lebih tajam menantang Lingga dengan matanya. “Kalo lo gak ngijinin gue turun, kenapa tadi lo minta izin Kharis buat gue bisa turun?” Ilan terdengar menyalahkan Lingga.
        Tapi Lingga tak mau kalah untuk tak terlihat salah. “Gue gak tau kalo kondisinya bakal seperti ini, Lan.”
        “Apa bedanya tadi atau sekarang?”
        Lingga diam. Kharispun tak terlihat membela salah satu dari mereka.
        “Gue emang belom tau apa-apa tentang Rosengard.” Suara Ilan menantang. “Tapi gue tau pasti seperti apa Siliwangi.”
        Lingga kalah. Dan Ilan benar. Kharis berada dalam tekanan. Ilan meletakkan tangannya di pundak Kharis.
        “Ini pembuktian gue buat Rosengard.” Mata Ilan terlihat tulus dan suaranya terdengar sungguh-sungguh.
        Lingga siap buka mulut. “Lapor ke panitia.” Tepat sebelum Kharis memerintahkan Ilan untuk pergi dari tempatnya berada.
        Ilanpun tanpa pikir panjang menuruti ucapan Kharis.
        “Tapi, Ka…”
        “Tolong turutin gue.” Kharis menyela ucapan Lingga. “Kalo lo maksain diri buat tetep tanding, bakal lebih beresiko.” Tanpa menunggu, Kharis meninggalkan Lingga dan tak mempedulikan Lingga yang masih terus memanggil namanya.
        Merasa usahanya sia-sia, Lingga dengan sangat terpaksa mengalah dan menerima nasibnya hari ini yang hanya bisa bermain selama 30 menit.
        Sementara Ilan telah bersiap di pinggir lapangan dengan menggunakan seragam bernomor punggung 8 dan masih tertera nama ‘BAGAS’ di bagian punggungnya. Terdengar suara pengumuman dari speaker mengiringi langkah pertama Ilan ke dalam lapangan dengan berbendera SMA Rosengard.
        “Masuk nomor punggung 9, Brillian Mahendra. Menggantikan pemain bernomor punggung 11, Lingga Dewantara.”
        Pertandingan ini ternyata di siarkan oleh salah satu televisi local. Nalula dapat menyaksikannya dari rumah. Tak ketinggalan, Danu pun menyaksikan pertandingan itu dari rumah sakit. Momen ketika Ilan masuk menggantikan Lingga pun tersiarkan. Dan tak pelak membuat mereka terkejut secara bersamaan. “Ilan?” seru mereka hampir berbarengan meski tidak dari tempat yang sama.
        Seperti yang dikatakannya, Ilan langsung jadi incaran beberapa pemain SMA Siliwangi. Dan seperti yang dikatakannya juga, Ilan berhasil menghadapi pemain-pemain Siliwangi yang sebagian besar cenderung bermain kasar.
        Beberapa menit berlalu. Sejauh ini Ilan bisa mengatasinya. Meski ia dan beberapa pemain Rosengard lainnya kerap kali menjadi sasaran empuk pemain Siliwangi. Baik tak sengaja atau pun dengan sengaja tapi bisa mengelabui penglihatan wasit. Kejadian itu masih terus terjadi hingga pertandingan babak pertama usai.
       
@@@

        Begitu pertandingan babak ke dua mulai, suasana sama seperti babak pertama pun tak dapat dihindari lagi. Kejadian serupa seperti Lingga pun kini dialami Ilan. Dan kali ini membuat Rosengard mendapat hadiah tendangan bebas dari jarak tipis dengan kotak penalty. Ilan telah bersiap dibelakang bola bersama pemain Rosengard lain bernomor punggung 14, Garra.
        “Jangan langsung tendang melambung.” Ilan tampak sedikit berbisik mengatur strategi dengan Garra. “Ada sedikit celah di daerah sayap, terutama kanan.” Lanjutnya. “Coba oper lurus ke arah kiri gawang. Gue akan coba tendang menyusur.”
        Garra mengernyitkan dahi. “Kenapa gue harus ikutin perintah lo?”
        Ilan tercengang. Ia sadar tentang adanya pro kontra di antara pemain Rosengard menyambut kedatangannya. Itu wajar. Tapi itu juga gak boleh dibiarin tetap bertahan dalam jangka waktu lama. Karena Ilan di sini juga tak hanya dalam satu atau dua hari. Mungkin akan selama masa SMA nya.
        Ilan menghela napas. “Tolong percaya sama gue, seperti lo percaya ke Lingga.” Pinta Ilan sungguh-sungguh. Karena memang hanya kesungguhan yang bisa membuktikannya.
        Garra pun akhirnya menuruti apa yang di bilang Ilan. Dan Ilan pun tak membuat kesempatannya terbuang sia-sia. Ia membukitannya dengan berhasil menjalankan rencananya dan merobek gawang klub yang sempat di belanya.
        Kharis dan beberapa pemain dari bangku cadangan pun bersorak menyambut gol dari Ilan. Terkecuali Lingga yang tetap diam melihat kegembiraan di depan matanya. Bukan karena ia tak senang dengan gol Ilan, tapi lebih keran ia melihat sosok pelatih yang berdiri tidak jauh dari kerumunan Kharis, diam tanpa ekspresi seolah tak mengharapkan Ilan bisa mencuri gol. Itu yang sangat di kecewakan seorang Lingga.
       
@@@

        Tak henti-hentinya Ilan jadi incaran penyerangan. Tapi hingga waktu memasuki injury time pun tak ada yang bisa menahan lajunya dan membuat frustasi seorang Ilan. Kecuali dengan menjatuhkannya. Tapi kali ini, sial untuk SMA Siliwangi. Pelanggaran yang terjadi menghadiahi Ilan dkk sebuah tendangan penalty.
        Irham, pemain SMA Rosengard bernomor punggung 7 siap mengeksekusi bola. Tendangan kerasnya berhasih sedikit mengecoh kiper lawan dan bersarang tepat di sudut kanan gawang SMA Siliwangi. Skor 2-2. Pertandingan hanya tinggal hitungan detik. SMA Siliwangipun tak mungkin untuk menambah angka lagi.
        Gak ada selebrasi apapun dari ke dua tim. Terutama SMA Rosengard yang berhasil menyamakan kedudukan di menit-menit akhir. Mungkin sedikit bisa bernapas untuk anak-anak SMA Rosengard, karena bisa menahan imbang jura bertahan tanpa punggawa andalan mereka –Diaz, Danu, Bagas, Lingga.
        Ilanpun tak ingin membuang waktu untuk berlari ke pinggir lapangan. Dilihatnya Lingga yang sudah lebih dulu meninggalkan lapangan untuk mengejar sang pelatih. Ia berlari hingga dapat dipastikan Lingga hanya berjarak beberapa meter. Lingga pun telah mensejajarkan langkahnya dengan sang pelatih kepala.
        “Pak. Saya sudah tau semuanya.”
        Pak pelatih menoleh tajam ke arah Lingga  tanpa memperlambat ataupun menghentikan langkahnya.
“Apa tidak ada lagi kesempatan?” Lingga bersikeras mempertahankan egonya. “Kami berhasil menahan imbang juara bertahan.”    
“Yang dibutuhkan kemenangan.” Begitu pula dengan sang pelatih yang juga mempertahankan egonya. “Bukan hasil seri.” Lanjutnya. Semakin tak mempedulikan Lingga yang tetap bertahan berdiri di sampingnya.
Mereka berjalan hingga lapangan parkir.
“Tapi pak…” Lingga bersikeras meyakinkan pelatihnya.
Kesempatannya telah habis. Sang pelatih telah lebih dulu menghilang ke dalam mobilnya.
“Berarti bapak tidak memperjuangkan apa yan telah kami lakukan?” teriakan Lingga mengiringi laju kendaraan sang pelatih.
Lingga nyaris saja mengejar mobil itu jika Ilan dan Irham tak menangkap tubuhnya. Lingga berontak. Beberapa pemainpun mengerumuni.
“Lingga…!” Suara Kharis menghentikannya. “Cukup.”
Lingga dan yang lain berbalik sembari Ilan dan Irham meregangkan cengkeraman mereka.
PRRAAKK… satu tamparan hadiah dari Kharis mendarat empuk di pipi kiri Lingga.

@@@

Seluruh punggawa Rosengard—termasuk Kharis—berkumpul di ruang ganti pemain. Semua tertunduk. Kharis berdiri diantara mereka, bersandar di pintu loker. Tak ada satu pun yang bersuara.
“Lingga.”
Lingga tak memedulikan suara Kharis yang menyebut namanya.
“Gue tau lo kesel. Tapi coba lo tempatin diri lo di saat yang tepat.” Ujar Kharis yang terdengar bijaksana.  
Lingga berdiri sambil memanggul ranselnya. Tak peduli dengan seragam bola yang masih dikenakannya. “Kurang tepat apa kak? Semua tepat dan jelas!”
Tanpa menunggu, Lingga langsung ngeloyor pergi dari ruangan dan membanting pintu yang dilaluinya.
Ilan menatap Kharis. Tatapannya mengisyaratkan sesuatu. Mungkin Ilan hanya terlalu khawatir dengan kondisi mental Lingga yang lagi kacau.
Kharis menggeleng. “Lingga bukan cowok bego yang dengan gampang ngelakuin hal tolol.” Jawaban Kharis telah mewakili semuanya.    
“Apa benar pelatih akan lengser?” Tanya salah satu dari mereka. Sepertinya itu Irham.
Kharis mengangkat bahu. “Belum ada kepastian.”
“Tapi gue rasa yang dikatakan pelatih tadi ke Lingga, udah bisa ngewakilin semuanya.” Komentar Garra menanggapi jawaban Kharis.   
“Pelatih hanya emosi nanggepin reaksi Lingga yang mungkin menurutnya terlalu berlebihan.” Suara Kharis terdengar meyakinkan. Seolah ia telah menyiapkan jawaban-jawaban yang akan dilontarkan anak didiknya.
Kali ini giliran Ilan yang berdiri. “Gue gak tenang sebelum memastikan Lingga…” Ilan berat mengatakannya. “… melakukan hal tolol seperti apa yang lo katakan.” Lanjutnya.
Kharis menghela napas. “Lakukan aja apa yang menurut lo benar.”       
Ilan berjalan ke arah pintu.
“Makasih untuk hari ini, Lan.”
Ilan menoleh. Itu suara Garra yang berdiri tidak jauh dari pintu. “Gak masalah.” Ilan tersenyum. Lega tepatnya. Kehadiran ia di sana telah di terima. “Kita satu tim.”
Berlebihan memang bagi Ilan. Tapi hanya itu tanda terima kasih dari anak-anak Dipokar yang diwakili Garra. Biar gimana pun Ilan berhasil menyumbangkan satu gol dan satu hadiah penalty yang berhasil di eksekusi Irham.

@@@

Tidak ada komentar:

Posting Komentar