Senin, 20 Februari 2012

rosengard fc (part 4)


4.STAR LIGHT

Dua hari berlalu setelah partai hidup mati yang di jalani Lingga dkk. Tapi duka itu masih tersisa di hati Lingga. Bukan karena tak  bisa memenangkan pertandingan, tapi karena masalah yang di dengarnya sebelum pertandingan.
        Ia berniat menghilangkan bayangan itu untuk sementara waktu. Kini Lingga memarkirkan motornya di depan sebuah studio music. Di sana juga sudah berjajar beberapa motor dan mobil yang begitu familiar di matanya.
        Begitu Lingga mematikan mesin motor, ponselnya bordering. Tertera nama ‘BAGAS’ di layarnya.
        “Halo, Gas.” Sapa Lingga.
        “Heh… kemana aja lo?” todong Bagas. “Gue telponin dari kemaren, gak ada di angkat-angkat. Gue sms, gak ada satu pun juga yang di bales.”
        Lingga diinterogasi. Tapi suara Bagas tak terdengar seperti orang yang marah-marah.
        “Hmm…” Lingga hanya mengacak-ngacak rambutnya.
        “Woy.. jawab.”
        “Iya deh sorry. Gue Cuma kecapekan aja kali.” Ekspresi wajah Lingga seperti menutupi kebohongan.
        “Yakin kecapekan?” Suara Bagas seolah menantang. “Gak ada kasus lain kan? Inget lho! Lingga tuh gak bisa bohong ke Bagas.” Bagas memancing Lingga.
        Lingga memang gak bisa menutupi rahasia besar atau kecil terhadap Bagas. Walau hanya lewat telepon sekalipun.
        Beberapa saat mereka saling diam. Lingga sangat ingin menceritakan setiap detail kejadian yang dialaminya. Tapi ia masih sangat ragu. Bagaspun menunggu dengan sabar.
        Mungkin terlalu lama, Bagaspun berfikir mungkin ini belum saatnya ia mendengar berita buruk dari Lingga. “Ya udah kalo gak mau cerita sekarang. Kapan-kapan aja.”
        “Iya, Gas.” Kata Lingga akhirnya. “Jadi tuh…” ucapan Lingga terhenti dengan hadirnya sebuah sepeda motor yang terparkir di sebelahnya.
        Sang pengendara mematikan mesin lalu membuka helmnnya. Ternyata itu Garra. “Hei, Ga. Sorry gue telat.”
        “Gapapa.” Ujar Lingga yang masih menempelkan ponselnya di telinga. “Gue juga baru dateng kok.”
        Garra mengedarkan pandangan ke sekeliling tempat parkir. Sama seperti Lingga, beberapa kendaraan yang terparkir di sana di kenalnya. “Anak-anak mana?” tanyanya.
        “Mungkin udah di dalem. Lo duluan aja.”
        Dilihatnya Lingga sedang menelpon. “Oke.” Lalu meninggalkan Lingga.
        “Suara Garra ya, Ga.” Tebak Bagas begitu Garra masuk ke dalam.
        “Hah?” Lingga sempat berfikir, ‘kok Bagas tau?’.
        “Eh…” Bagas membuyarkan lamunan Lingga. “Jangan kayak orang gak tau gitu deh.” Ledek Bagas. “Gue kenal sama Garra kan udah lama juga.” Lanjutnya.
        “Iya juga sih.” Kata Lingga polos.
        “Lo lagi di mana sih?” Bagas penasaran.
        “Di studio music.” Jawaban Lingga terasa berat hati. Karena ia harus kembali teringat kasus di pertandingan itu. “Cuma cari hiburan aja kok.” Lingga langsung mengalihkan Bagas agar tak berfikir hal lain.
        Sebenernya itu cuma fikiran Lingga aja. Bagas sangat menerima alasan Lingga.
        “Ya udah sana. Anak- anak pasti udah pada nunggu.”
        “Oke.” Ucap Lingga singkat.
        “Salam buat anak-anak.” Kata Bagas sebelum mengakhiri pembicaraannya.
        “Nanti gue telpon balik.” Ujar Lingga cepat-cepat sebelum bunyi nada telpon terputus terdengar.

@@@

        Lingga membuka pintu studio. Sudah ada beberapa orang—semuanya punggawa sepakbola SMA Rosengard—berkumpul di sana. Mereka tengah sibuk dengan alat band masing-masing.
        “Sorry nunggu lama.” Ucap Lingga sambil menutup pintu di belakangnya.
        “Gapapa.” Kata Irham. “Kita juga belum lama kok.” Sambil menekan-nekan tuts keyboardnya.
        Garra juga terlihat sibuk menyesuaikan stelan gitar listrik di tangannya. Garra sesaat meninggalkan kesibukkannya dan untuk menoleh ke Lingga. “Sebenernya ada apaan sih lo ngajakin kita ngumpul di sini?” lalu kembali ke aktivitasnya.
        Lingga menarik lengan jaketnya. “Gak ada apa-apa sih. Gue Cuma masih bête aja sama kejadian kemaren.” Sambil menggantungkan jaketnya di belakang pintu. “Niatnya sih gue mau ngajakin kalian bikin band. Itu pun kalo pada gak keberatan. Buat hiburan aja lah.” Lanjutnya. Tak lupa Lingga mengeluarkan stik drumnya dari dalam tas.
        Yang lain saling berpandangan. Saling menunggu satu sama lain. Saling… melontarkan pertanyaan perihal ajakan Lingga. Meski hanya dengan isyarat tanpa ada yang bersuara.
        “Gue pribadi setuju-setuju aja.” Ujar Irham akhirnya. “Gak ada masalah.”
        Gak butuh waktu lama untuk menunggu kepastiannya. Semua yang di maksud Lingga mengangguk. Lingga pun merasa cukup senang, meski tak ditunjukkannya dengan senyum.
        “Berarti posisinya udah pas.” Kata Garra menipali. “Irham sama Hexa di gitar.”
        Hexa, anak yang sejak awal sibuk di sudut ruangan hanya merespon ucapan Garra dengan membunyikan gitarnya. Mungkin maksudnya hanya menunjukkan kalau ia siap dengan posisi yang di katakan Garra.
        Garra menengok ke anak yang sejak tadi duduk bersila sambil memeluk sebuah bass dan hanya mendengarkan teman-temannya bicara. “Tegar bisa di bass.” Ujar Garra yang terdengar berat hati mengucapkannya. “Dan gue…” ia menelusuri setiap tuts di keyboardnya dari kanan ke kiri hingga memunculkan bunyi dari nada tinggi hingga rendah. “Keyboard” ucapnya, kali ini penuh semangat.
        “Iya, Ga.” Irham menyetujui usul Garra. “Dan lo bisa jadi drummernya.”        Lingga hanya manggut-manggut menyetujui usul kedua temannya. Lalu berjalan ke belakang drum.
        “Kalo Lingga nge-drum, yang jadi vocalisnya siapa?” Tanya Tegar dengan polosnya tepat ketika Lingga baru duduk. Tapi yang ditanyain nih anak emang ada benernya juga.
        Hexa mengernyitkan dahi. “Kalian yakin kalo yang nyanyi di Bintang?” Kali ini Hexa juga ikut andil mengajukan saran.
        “Emang Bintang bisa nyanyi?” Tegar nyeletuk sekenanya.
        Entahlah. Lingga juga gak tau. Ia hanya bisa nontonin teman-temannya adu argument.
        “Kayaknya sih bisa.” Jawab Garra ragu.
        “Yang ada bisa bikin penonton bubar.” Irham ikutan nyeletuk diiringi sedikit tawanya. Sebagian juga ikut tertawa.
        “Mending lo aja deh Ga, yang nyanyi.” Garra pasrah dengan pilihan yang ada. “Biar yang nge-drum si Bintang.”
        Lingga sama sekali gak yakin dengan pilihan Garra. “Lo serius?” Tanya Lingga memastikan.
        “Nggak.” Balas Garra.
        Lingga terlihat langsung memelototi Garra.
        “Ya iya lah gue yakin.” Garra langsung meralat ucapannya. Ia memang hanya bercanda. Tapi tak disangka pula hingga Lingga melotot ke arahnya seperti itu. “Udah ayo cepet mulai.” Garra juga langsung mengalihkan perhatian Lingga.
        Setuju gak setuju, Lingga harus setuju.
        “Terus, Bintangnya mana?” Tanya Lingga. “Kalo tuh anak ga ada, siapa yang mau nge-drum?” bener kan, akhirnya Lingga setuju.
        Suara pintu terbuka. “Gue di sini.” Kata orang di baliknya. Ternyata itu Bintang yang langsung memunculkan dirinya.
        Akhirnya. Tapi, sepertinya. Masalah selesai. Semua udah siap di posisi masing-masing. Lingga pun telah siap dengan mic di tangannya. Dan, mulai…
        “Tunggu tunggu tunggu.” Tegar mengambil alih menghentikan seenaknya. Membuat seluruh mata melotot ke arahnya.
        “Apaan lagi sih?” Bintang terdengar sewot.
        “Tiap band kan punya nama.” Tegar berkata dengan polosnya. “Terus, kalo kita apa?”
        “Iya juga ya.” Garra yang tadi ikutan melototin Tegar, jadi ikutan mikir juga. “Tapi apa?”
        Lalu. Semua sibuk ikutan pasang tampang mikir. Kecuali Lingga tentunya.
        “Gue udah nyiapin kok.” Jawab Lingga.
        “Apa?” Tanya yang lainnya hampir berbarengan.
        “STAR LIGHT.”
        “Itu bukannya nama sabun cuci piring ya?” Ga penting banget yang ditanyain Tegar.
        “Udah gak usah di bahas.” Omel Hexa serius. “Lagian, kenapa harus star light? Kenapa nggak J-rocks, Ungu, ST12, Lyla, Wali, Changcutters, Cokelat, Nidji. Banyak kan?” Hexa malah ikutan ngawur.
        “Yee lo lagi.” Komentar Irham sambil nyenggol pundak Hexa. “Semuanya tuh udah ada yang pake.”
        “Oohh…” Hexa pasang tampang gak bersalah sambil nyengir.
        Lingga sendiri Cuma bisa ngacak-ngacak rambut saking bingungnya harus ngapain buat ngadepin orang-orang di depannya saat ini. “Oke. Biar gue jelasin.” Kata Lingga akhirnya. “Kenapa gue pilih star light.” Ucapan Lingga bukan sebuah pertanyaan.
        “Kenapa?” Tegar langsung nanya balik. Gak sabaran.
        Lingga menghela napas. Sabar… Sabar… Hanya itu yang dipikirkannya. “Simpel aja sih. Karena terbentuk dari inisial nama kita masing-masing. Star kan atinya bintang. Gue ambil dari nama si Bintang.” Lingga sedikit menunjuk Bintang. “Sedangkan LIGHT, disingkat dari nama gue untuk L nya. Lalu Irham, Garra, Hexa dan Tegar.” Lanjutnya.
        Bintang yang lain cuma pasang tampang sok serius.
        “Ngerti?” Lingga memastikan.
        Mereka hanya menjawab dengan anggukan. “Oke.
        “Bagus.” Lingga akhirnya bisa bernapas lega. “Kita mulai.”
        Tanpa ada pertanyaan-pertanyaan lain lagi, music mulai berjalan. Lingga pun siap dengan mic di tangannya. Mencoba memahami lagu apa yang akan dinyanyikannya dari music. Tapi yang ada, Lingga malah tambah bingung.
        “Ga, kok lu malah diem sih?” Bintang menegur Lingga sambil berangsur menghentikan permainan drumnya.
Yang lain ikutan berhenti.
        “Apaan lagi sih?” Keluh Garra.
        “Musik udah jalan. Tinggal elu aja yang nyanyi.” Hexa ikutan. “Tunggu apaan lagi?” Kesannya semua nyalahin Lingga.
        “Kok jadi gue yang disalahin sih?” Lingga juga tak terima hanya dirinya yang disalahkan.
        “Katanya kita latihan. Kenapa elu malh diem aja?” Tegar pun tak ingin ketinggalan ambil bagian nyudutin Lingga.
        “Sekarang gue yang Tanya.” Lingga membela diri. “Lo semua mainin lagunya siapa?”
        “J-rocks yang ‘hampa hatiku’.” Celetuk Tegar sekenanya.
        “’Hampa hati’ ku sih yang nyanyi Lyla.” Hexa ikutan.
        “Lyla bukannya yang nyanyi ‘biarlah’?” Tanya Garra dengan tampang sok polos.
        “Bukan. Lyla tuh yang nyanyi lagu ‘menunggu’.” Balas Irham yang gak kalah nyawurnya.
        “Yang bener tuh ‘menunggu’ lagunya The Changcutters.” Tegar sok ngebenerin ucapan Irham. “Kalo Lyla yang nyanyi lagu ‘puspa’.” Padahal belum tentu ada yang bener juga.
        “Kalo gitu yang nyanyi ‘cari jodoh’, ST12 donk?” Tanya Garra lagi. Masih dengan tampang sok polosnya.
        Niatnya bikin band buat refreshing karena pertandingan kemaren. Lingga malah dibikin tambah stress gara-gara ulah orang-orang yang gak jelas juntrungannya ngomongin apa. Untuk sementara, Lingga memutuskan untuk keluar.
        “Lagu ST12 tuh ‘I love you bibeh’. ’Cari jodoh’ lagunya Samson.”
        “Ohh. Samson yang nyanyiin ‘jangan menyerah’ juga kan?”
        “Kayaknya bukan Samson deh. Tapi Kerispatih.”
        “Yang ada lagunya Kerispatih tuh ‘lepaskan diriku’.”
        Kali ini semakin gak jelas siapa yang ngomong sok tau kayak gitu. Intinya, ampe Lingga udah balik lagi pun situasinya masih belom berubah.
        “Kalo gitu,” kali ini jelas, itu suara Garra. “lagunya D’masiv yang mana donk?”
        “KETERLALUAN.” Jawab Irham, Tegar, Garra dan Bintang berbarengan. Terdengar kompak malah.
        “Yang keterlaluan tuh lo semua.” Sambar Lingga gak sabar.
        “Ya udah, nyanyi lagu keterlaluan aja.” Bintang menyarankan.
        “Oke.” Yang lain langsung setuju.
        Lingga pun dengan terpaksa setuju. “Dari pada gak jadi.” Ujarnya pelan.
        “One.. Two.. Three.. Go..” Bintang memberi aba-aba sambil mengetuk-ngetukkan kedua stik drumnya.
        Teet.. teet.. teet.. terdengar seperti suara bel. Bintang dkk tidak meneruskan untuk memainkan alat music mereka. Karena suara bell tadi menandakan waktu mereka telah selesai.
        “Hah?” Lingga tercengang. “Satu jam abis cuma buat nentuin nama sama lagu doank?” Lingga masih diam di tempatnya tadi.
        “Udah lah.” Garra merangkul Lingga. “Gak papa kok.”
        “Kita masih bisa main lain waktu.” Irham menimpali sebelum melewati Lingga.

@@@

Hari ini Lingga ke sekolah dengan mengendarai mobil. Sebenernya sih jarang-jarang juga. Belum sempat ia turun dari mobil yang di parkirnya, nampak Ilan yang juga memarkirkan mobilnya tepat di samping mobil Lingga. Mereka turun hampir bersamaan. Ilan menunggu di belakang mobilnya.
        “Kayaknya hari ini parkiran penuh gara-gara kita.” Kata Ilan begitu Lingga di sampingnya.
        “Iya juga sih.” Lingga menyetujuinya.
        “Gara-gara motor gue masuk bengkel nih.” Ujar Ilan. “Sebenernya sih males juga bawanya. Ribet kalo jalanan lagi rame.” Lanjutnya. “Lo sendiri tumben bawa mobil? Motor lo masuk bengkel juga?” Tebak Ilan.
        “Nggak.” Jawab Lingga singkat. “Gue emang sengaja. Soalnya Danu hari ini pulang. Jadi gue niatnya sekalian buat jemput dia.”
        “Syukur deh kalo Danu udah boleh pulang.” Komentar Ilan perihal berita dari Lingga. “Diaz sendiri gimana?” obrolan mereka hari ini cukup terdengar serius.
        Lingga tak langsung menjawab. “Gitu deh, Lan.” Lingga terdengar ragu. “Diaz emang udah dipindahin ke ruang perawatan, tapi dia belum sadar sepenuhnya.”
        “Itu pasti cuma karena pengaruh obat bius aja kok.” Ilan berusaha membuat Lingga tidak terbawa suasana. “Diaz baru abis operasi kan?” Ilan memastikan.
        Belum ada yang bicara lagi setelah itu. Hingga mulai bermunculan siswa-siswi baru. Mereka dapat mengenali itu dari atribut mereka yang mencolok. Masih berseragam SMP dan memakai atribut keperluan MOS.
        Beberapa saat Lingga dan Ilan memperhatikan mereka. Lingga seperti memikirkan sesuatu. “Lan.”
        Ilan menoleh. “Kenapa?”
        “Kalo hari ini masih masa orientasi, berarti kita belum belajar efektif donk?”
        “Iya.” Ilan mencurigai sesuatu. “Terus? Lo mau ngapain?”
        “Gue mau cabut aja ah ke rumah sakit.” Kata Lingga seenaknya sambil membalikkan badan.
        Ilan langsung sigap menahan tangan Lingga. “Gak bisa gitu lah, Ga.” Ilan melarang Lingga. “Ini hari terakhir MOS. Bakal ada demonstrasi ekskul. Sekarang tuh kaptennya elo.” Kata-kata Ilan menyadarkan Lingga.
        “Kan ada Garra sama Irham. Biar mereka aja deh.” Lingga sama sekali gak minat mengurus klub sepakbolanya. “Mumpung pagar belom dikunci nih.”
        “Mereka kan udah kelas tiga, terus jadi pengurus OSIS juga.” Ilan masih berusaha tak membiarkan Lingga pergi. “Sekarang tuh tugasnya anak-anak kelas dua.”
        “Yang kelas dua juga kan banyak. Ada elu, Bintang, Tegar, Hexa.”
        “Mending gini deh.” Ini pilihan terakhir. “Kalo lo mau bantuin anak-anak, gue juga bakal bantuin lo kabur setelah itu.”
        “Gimana caranya gue kabur?” Lingga penasaran.
        “Mana kunci mobil lo?” pinta Ilan sambil menyodorkan tangannya.
        Ilan langsung menuju mobil, begitu Lingga memberikan kunci mobilnnya. Lingga mengikutinya dari belakang. Ilan yang mengambil alih kemudi, dan Lingga duduk di kursi penumpang samping Ilan. Mereka langsung keluar gerbang. Menuju perumahan yang berada di belakang sekolah. Ilan hanya berkendara mengelilingi tembok luar sekolah. Lalu Ilan menghentikan mobil di depan rumah yang tidak jauh dari gerbang belakang sekolah.
        “Mobil gue gapapa di parkir di sini?” Lingga memastikan.
        Ilan mematikan mesin. “Gapapa. Ini rumah temen gue. Ntar gue bilang sama anaknya. Lagian, gerbang belakang gak bakal di kunci. Jadi ntar setelah tugas lo selesai, lo bisa ambil mobil lo di sini.” Jelas Ilan.
        “Ya iya lah, lan. Gerbangnya kan Cuma bisa di lewatin orang doank.” Komentar Lingga. “Terus tas gue?” Tanya Lingga lagi. “Tetep bakal di tanya-tanya juga pasti sama satpamnya.”
        Biarpun pagarnya hanya bisa di lewatin oleh orang-orang saja, tetapi tetap ada satu orang satpam sekolah yang mengawasi.
        “Tas lo di tinggal aja.” Ilan menjawab dengan pasti. “Belom mulai belajar ini.”
        “Oiya.” Lingga baru menyadari apa yang ia pikirkan.
        Apa yang dilakukan Ilan memang di luar perkiraannya. Mobilnya terparkir cukup jauh, walau dapat terlihat dari pagar sekolah. Tetapi tidak terlalu di curigai sebagai rencana dari aksi kabur Lingga nanti.
        “Tas lo taro aja di bawah.” Kata Ilan sambil mencabut kunci lalu melepaskan anak kunci dari gantungannya.
        “Lan…”
        Ilan mengerti maksud Lingga. “Mobil lo di kunci manual aja. Gantungannya kegedean. Walaupun di masukin kantong, bakal keliatan.”
        Lingga tak berkomentar apa-apa lagi. Ia hanya menurut dan mengikuti Ilan keluar dari mobil.

@@@

Di rumah sakit, Danu sudah siap-siap untuk pulang. Sambil menunggu sang kakak merapikan pakaian Danu. Vindhya melipat selimut. “Kamu gapapa, Dan, kalo mba tinggal sendiri?”
        “Gapapa.” Kata Danu sambil menggonta-ganti channel tivi. “Bentar lagi juga Lingga dateng.” Lingga? Danu seolah tak menyadari apa yang dikatakannya. Lingga kan sekolah. Sekarang aja baru jam 10 pagi. Danu tak berani melirik ke arah Vindhya. Berharap kakaknya tak menyadari apa yang tadi diucapkannya.
        Beruntung, Vindhya tak lagi menanyakan hal yang sempat dikhawatirkan Danu. Pintu kamar Danu terbuka. Semakin beruntungnya ia, kerena rencana Ilan untuk membantu aksi kabur Lingga dari sekolah berhasil. Lingga pun masih mengenakan seragam sekolahnya.
        Vindhya menyambut kedatangan Lingga dengan senyum teramahnya. “Hai Lingga. Tolong temenin Danu dulu ya. Mba mau tengokin temen kamu dulu, Diaz.”
        Senyuman Vindhya bikin Lingga bengong. Sampe-sampe Lingga Cuma bisa ngangguk doank nanggepinnya. Vindhya masih tersenyum. Lingga hampir meleleh rasanya.
        “Ayo, Ris.”
        Ekspresi Lingga langsung berubah total. Tuh anak kaget pas tau Vindhya ngajak Kharis yang sebenernya udah ada di sana sejak tadi. Berdiri di tepi jendela sambil baca Koran. Kharis melipat korannya lalu mengikuti Vindhya yang sudah lebih dulu keluar kamar. Ia juga sempat menepuk pundak Lingga yang berdiri dekat pinta sebelum keluar. Begitu Kharis menghilang di balik pintu, Lingga langsung tiduran di samping Danu yang duduk bersandar di atas ranjang yang jelas-jelas hanya cukup untuk satu orang.
        Danu sedikit menggeser posisi duduknya. “Apaan sih, Ga?” Danu sedikit terganggu rupanya.
        “Kok gak bilang sih ada Kharis?”
        Danu masih sibuk gonta-ganti channel tivi. “Lo gak nanya.” Jawab Danu datar.
        Lingga menatap langit-langit kamar rawat Danu. “Abis… Gue gak nyangka kalo ternyata kakak lo cakep banget. Pantesan aja si Diaz naksir berat.” Lingga nyengir gak jelas. Waahh… mikirin apa nih anak?
        Danu tak mempedulikan ucapan Lingga. Tapi ia baru menyadari seragam sekolah yang masih dikenakan Lingga. “Kok gak sekolah? Lo cabut ya?” tebak Danu.
        “Gue males di sekolah, belom belajar ini.”
        “Sekarang kan demo ekskul. Terus, siapa yang ngurusin?” Omel Danu. Saat seperti ini Danu masih memikirkan apa yang sebenarnya menjadi tanggung jawab dirinya.
        “Udah deh, Dan. Gue juga cabut setelah tugas gue selesai kok.” Lingga menjawab pertanyaan Danu dengan santai.
        Bagus deh. Pikir Danu. “Terus, kok lo bisa keluar? Emang gerbangnya gak dikunci?” Tanya Danu lagi.
        Lingga menceritakan semua detail kejadian yang dialaminya bersama Ilan. Bagaimana Ilan meyakinkannya untuk tetap berada di sekolah hingga tugas mereka selesai, sampai rencana Ilan yang memarkirkan mobil Lingga di gerbang belakang sekolah.
        Setelah Lingga selesai bercerita, Danu kembali ke aktivitas sebelumnya. Menggonta-ganti channel tivi.
Lingga tiba-tiba bangkit. “Bukannya kemaren lo bilang Kharis sama kakak lo udah game over? Tapi kenapa…” Lingga menggantungkan ucapannya sambil menunjuk kea rah pintu.
Danu berfikir hal yang sama dengan Lingga. Mereka saling berpandangan. “DIAZ.” Kata mereka dengan kompaknya. Dan kompak juga ketika berlari keluar.
“Mau kemana kalian?”
Danu dan Lingga langsung berhenti. Suara seseorang berbicara padanya. Mereka berbalik. Sedikit terkejut juga kayaknya mereka, pas tau kalau ternyata itu suara Kharis yang duduk di kursi depan kamar Danu.
Kharis berdiri. “Kalian kenapa?”
“Kok kakak masih di sini?” Lingga menunjuk ke belakangnya. “Bukannya tadi…”
Kharis hanya tersenyum menanggapinya. Lalu mengajak Danu dan Lingga untuk kembali ke dalam kamar.
Kharis berdiri memandang keluar jendela. “Pasti kalian pikir gue sama Vindhya udah gak ada apa-apa lagi? Makanya kalian berani minta Vindhya buat nemuin Diaz.”
Danu dan Lingga duduk di tempat tidur. Mereka saling berpandangan dan cukup terlihat merasa bersalah.
“Maafin kita kak.” Kata Danu akhirnya. “Bukannya gak ngehargain kakak. Tapi kita ngelakuin ini…”
“Lo gak perlu minta maaf, Dan.” Kharis menyelak ucapan Danu sambil berbalik. “Gue ngerti kenapa kalian ngelakuin hal ini.” Memberi jeda sesaat. “Gue sadar, Vindhya juga kakak lo, Dan. Malah, gue bersyukur banget kalo ternyata misi kalian berhasil.” Ujar Kharis santai.
“Jadi kakak gak marah?” Tanya Lingga sangat hati-hati untuk memastikan.
“Kenapa gue harus marah?” Kharis balik bertanya.
Baik Danu atau pun Lingga, tak ada yang bisa ngejawab.
“Diaz dan kalian tuh udah kayak adik sendiri buat gue. Semua mengharapkan kesembuhan Diaz. Termasuk gue. Yaa… walaupun…” Kharis menghela napas. “Gue harus rela berbagi Vindhya, cewek gue sendiri.”
Beberapa saat Kharis terdiam. Danu dan Lingga pun gak ada yang berani angkat bicara.
“Jujur aja…” Kata Kharis melanjutkan lagi. “Awalnya gue gak bisa terima sama rencana kalian. Terlebih gue denger semuanya langsung dari mulut Vindhya.”
Danu dan Lingga jadi ngerasa sangat bersalah setelah denger pengakuan dari Kharis.
“Tapi untungnya gue langsung sadar.” Ekspresi Kharis sedikit berubah. Ia terlihat tanpa beban. “Kalo rencana kalian bisa ngebahagiain orang banyak.” Lalu Kharis kembali berbalik memandang keluar jendela.
Danu berbisik ke Lingga. “Apa lo bakal ngelakuin hal yang sama kayak Kharis?”
Lingga mengacak-ngacak rambutnya. “Ngerelain Reva buat Firant, gitu?” ujarnya, sambil tetap melakukan aktivitas yang kayaknya penting banget buat dilakuin.
Danu hanya mengangkat bahu menanggapinya. “Kakak sempet kesel sama kita?” Danu langsung beralih ke Kharis.
Kharis hanya tertawa menanggapi pertanyaan Danu. “Lo tau kan? Kalo sejak kelas dua SMA gue tinggal tanpa orang tua di Jakarta.” Kharis kembali berbalik ke hadapan dua orang anak didiknya. “Gue gak mau lagi kehilangan orang yang deket sama gue. Setelah nenek, serta orang tua gue meninggal.” Danu dan Lingga mendengarkan tanpa bisa berfikir apa-apa. “Cuma ini yang bisa gue lakuin untuk usaha kalian.” Lanjut Kharis yang sedikit memberi jeda pada kata-katanya. “Dan untuk… Diaz.”
Suasana kembali hening sejenak. Gak ada yang bicara, atapun saling tatap satu sama lain.      
Kharispun kembali menghela napas sebelum melanjutkan kata-katanya. “Ada berita untuk kalian.”
Kali ini Lingga dan Danu langsung merespon ucapan Kharis dengan menatapnya. Sambil menegakkan badan, mereka siap mendengarkan apa yang akan di katakan Kharis.  
“Jadi kalian gak kaget kalo denger ini dari orang lain.” Lagi. Kharis mengalihkan pandangannya ke luar jendela. Mungkin hanya itu yang bisa menenangkannya saat ini. Karena kamar Danu yang terletak cukup tinggi, memungkinkan Kharis leluasa memandang langit yang luas dari balik jendela. “Mulai latihan besok, gue udah bukan asisten pelatih Rosengard lagi. Termasuk pelatih kepala. Karena akan ada yang gantiin gue dan pak Guntur.”
Lingga hanya diam mendengarkan. Tatapan matanya kosong. Lalu tersenyum. Pahit. “Apa mereka pikir, gampang buat balikin citra  sepakbola SMA Rosengard.” Lalu seenaknya berbaring di tempat tidur Danu. Posisi kakinya tetap menggantung ke lantai. “Turnamen gak lama lagi bakal di gelar. Kepengurusan di reshuffle. Target juara. GILA.” Lingga menggeleng.
Suasana sama sekali tak mengenakkan. Danu, Lingga, Kharis, diam.
Cukup lama mereka dalam keheningan. Sampai akhirnya, pintu kembali terbuka. Vindhya yang muncul dari baliknya. Terlihat dari senyumnya, Vindhya pasti membawa kabar baik.
“Kondisi Diaz semakin membaik.”
Lingga langsung bangkit meresponnya. Terlihat Kharis tersenyum samar. Tapi tidak untuk Danu. Ia tetap diam meski kelegaan tersirat dari raut wajahnya.
“Danu pulang sama Lingga.” Hanya itu kata-kata yang diucapkan Danu.
Tanpa buang waktu. Vindhya langsung mengizinkan, lalu keluar diikuti Kharis di belakangnya.
Danu menengok ke Lingga begitu Kharis menutup pintu dari luar.
“Hatinya gak lebih sakit dari senyumnya.” Kata Lingga kepada Danu.

@@@

Tidak ada komentar:

Posting Komentar