Jumat, 24 Mei 2013

RIDER’S LOVE



Author              : Annisa Pamungkas
Main Cast          : All member U-Kiss = Dongho, Kyungjae(Eli), Hoon,               Kiseop, Soohyun, Jaeseop(AJ), Sunghyun(Kevin).
Original cast     : Hye Ra, Hyo Ri
Genre               : romance, tragedy
Length              : one shoot

@@@

        Dongho. Seorang pemuda berusia 23 tahun. Kabur dari rumah sejak 3 tahun lalu karena dipaksa menikah untuk menyelamatkan perusahaan keluarga dengan gadis yang bahkan baru lulus SMA. Jelas saja Dongho lebih memilih kabur karena gadis itu adalah kekasih Sunghyun, adiknya—mereka hanya beda setahun. Meski Dongho belum pernah bertemu dengan gadis itu sebelumnya.
Kini ia tinggal di sebuah rumah kontrakan kecil bersama temannya, Jaeseop. Bekerja full time di sebuah café dan sering melakukan taruhan dalam balapan motor liar. Saingan terbesarnya adalah Kyungjae dalam balap liar tersebut.

@@@

        “Yang benar saja?!” seru Dongho yang terkejut dengan berita yang disampaikan Jaeseop melalui telpon. Ia kembali mematikan mesin motor sportnya. “Ini balapan liar! Dia mau ngorbanin nyawa orang lain? Terlebih harus seorang gadis!” Dongho diam ketika mendengarkan penjelasan Jaeseop. “Sial!” pekiknya lalu memutuskan sambungan telpon secara sepihak.
        Dongho melesat dengan motornya meninggalkan sebuah café tempat ia bekerja yang telah tutup. Ini memang sudah hampir tengah malam.
        “Tolong…!”
        Di tengah-tengah perjalanan, Dongho mendengar jeritan seorang gadis. Beruntung penglihatan Dongho cukup tajam. Ada sedikit keributan dari dalam sebuah gang sempit. Dongho segera menepikan motor lalu melesat menuju keributan tersebut. Ternyata ada seorang gadis yang terpojokkan di antara pria-pria yang mengganggunya.
        Tanpa pikir panjang, Dongho menarik pundak salah satu dari mereka lalu menghajarnya tanpa ampun. Dua orang yang lain juga langsung membantu. Namun preman jalanan seperti mereka tak sebanding dengan Dongho. Meski hanya sendiri, Dongho berhasil melumpuhkan ketiga preman tersebut dengan mudah.
        Dongho menyeka tepi bibirnya yang berdarah menggunakan lengan jaket, lalu melirik gadis yang masih duduk memeluk lutut di sudut gang.
        Perlahan Dongho berlutut di hadapan gadis itu. “Kau sudah aman, ayo pergi dari sini,” ujarnya lembut sambil menarik tangan gadis itu dan membawanya menuju tempat di mana motornya terparkir.
        Gadis itu tampaknya masih syok. Ia hanya bisa diam sambil memeluk erat tasnya. Ia juga sampai tidak sempat menghapus air mata yang masih membasahi wajah cantiknya itu.
        Dongho yang sudah berada di atas motor, menoleh karena ia merasakan gadis itu masih diam. “Aku akan mengantarmu pulang.” Tangan Dongho terulur sebagai isyarat agar gadis itu naik ke atas boncengan motornya.
        “Katakan padaku, di mana rumahmu?” Tanya Dongho sambil mengendarai motornya pelan.
        Tidak ada jawaban. Hanya isak tangis yang di tahan dari gadis di belakangnya. Dongho jadi serba salah, sampai-sampai ia tidak sadar bahwa di depannya sudah ramai oleh orang-orang yang akan melihat pertandingan balap motor liar.

@@@

        “Itu Dongho!” pekik Kiseop, teman dari Kyungjae, yang membuat semua menoleh ke arah yang ia tuju.
        Tak terkecuali Jaeseop yang sudah ada di sana. Ia bahkan langsung berlari menghampiri Dongho. “Kau datang?” Tanya Jaeseop, namun matanya melirik ke sesuatu di belakang Dongho. “Siapa?” selidiknya karena sulit melihat wajah gadis tersebut yang menunduk di balik punggung Dongho.
        Dongho merutuki diri kenapa bisa sampai di sana. “Aku harus mengantar gadis ini pulang,” seru Dongho yang sudah menutup kembali kaca helmnya. Namun Kiseop sudah lebih dulu merentangkah bendera di depan motonya seiring deru mesih motor berhenti di samping Dongho.
        “Kau harus tetap bertanding,” ujar Jaeseop yang sudah membawakan jaket dan helm untuk gadis di belakang Dongho. “Berikan tas mu padaku,” bisik Jaeseop lembut.
        Dongho menoleh. Pesaingnya, Kyungjae, sudah siap di sana dan menunjukkan sebuah senyum meremehkan untuk Dongho. Kyungjae juga tak lupa membawa seorang gadis di belakangnya.
        Jaeseop menepuk pundak Dongho membuat pemuda itu menoleh padanya. Dongho masih tak ingin melakukan ini, tapi Jaeseop terus menyemangatinya. Donghopun tersentak ketika tangan gadis itu melingkar kuat di pinggangnya.
        “Tiga…” Kiseop mulai menghitung.
        “Apa-apaan ini! Aku belum setuju untuk bertanding!” Dongho masih ingin protes, namun tak ada yang meresponnya.
        “Dua…” Kiseop masih tetap menghitung membuat Dongho yang terpojokkan justru terpaksa siap-siap agar Kyungjae jangan sampai mencuri start darinya. “Satu…!” pekik Kiseop sambil mengangkat bendera tinggi-tinggi sebagai tanda pertandingan di mulai.
        Kyungjae sedikit mengungguli Dongho, namun Dongho dengan ketat terus membayangi Kyungjae. Gadis di belakang Dongho pun semakin kencang memeluk pinggang Dongho.

@@@

        Seluruh penonton berdebar-debar menunggu siapa yang lebih dulu melewati garis finish. Tak jauh dari sana, dua motor berbelok dan masih bersaing ketat. Sampai akhirnya Kiseop mengibarkan kembali bendera sebagai tanda berakhirnya pertandingan. Tidak sampai setengah dari orang-orang yang hadir menghampiri Dongho karena memenangkan pertandingan. Sisanya adalah pendukung Kyungjae yang hanya diam di tempat.
        Perlahan, gerombolan yang mengerumuni Donghopun bubar menyisakan pemuda itu hanya bersama Jaeseop.
        “Aku harus mengantarnya pulang,” ujar Dongho terburu-buru.
        “Tapi…” ucapan Jaeseop terputus karena tak melihat gadis tadi di atas boncengan motor Dongho.
        Dongho yang menyadari gadis itu menghilang, segera turun dari motor dan berlari kebelakang. Ke arah orang-orang yang kembali berkerumun. Dongho menyeruak masuk dan terkejut karena gadis yang bersamanya tadi sudah terkapar tak sadarkan diri dengan kepala yang mengeluarkan darah karena terbentur batu.

@@@

        Dongho berhenti di depan loket administrasi. Ia menengadahkan tangannya di hadapan Jaeseop.
        “Apa?” Tanya Jaeseop bingung.
        “Uang taruhanku dan carikan identitas gadis itu,” seru Dongho dan langsung dituruti temannya itu.
        Jaeseop menyerahkan kartu identitas gadis tersebut karena tas gadis tadi masih di tangannya. Dongho langsung menuliskan identitas gadis tersebut ke selembar kertas formulir. Gadis tersebut bernama Jung Hye Ra. Lalu Jaeseop mengeluarkan amplop coklat dari dalam jaketnya. Setelah urusan selesai, mereka kembali ke depan ruangan tempat gadis tadi mendapat perawatan dan menunggu di sana.
        “Apa kalian yang menghubungiku?”
        Dongho dan Jaeseop mendongak setelah mendengar suara seseorang yang sepertinya berbicara pada mereka. Belum sempat mereka menjawab, seorang dokter lebih dulu muncul.
        “Bagaimana keadaan Hye Ra, dok?” sergah pemuda yang baru muncul tadi.
        Dongho dan Jaeseop ikut berdiri sambil menunggu penjelasan dari dokter. Setelah dipastikan gadis bernama Hye Ra tadi sudah dalam keadaan lebih baik, mereka bertiga masuk ke dalam ruangan tempat Hye Ra di rawat.
        “Soohyun?” gumam Hye Ra pelan.
        “Apa yang terjadi padamu?” Tanya Soohyun cemas.
        Hye Ra tak menjawab. Ia malah menatap dua pemuda di belakang Soohyun, terutama Dongho. “Hoon?” seru Hye Ra dengan mata berbinar. Tangannya terulur dan berharap Dongho menyambutnya.
        Dongho yang bingung hanya menatap Soohyun dan menuntut penjelasan.
        “Soohyun, lihat. Hoon masih di sini. Dia tidak jadi meninggalkanku,” seru Hye Ra lagi namun tak terlalu di tanggapi oleh Soohyun.

@@@

        “Siapa Hoon?” Tanya Dongho penuh selidik setelah Soohyun mengajaknya dan Jaeseop berbicara di luar.
        “Dia kekasih Hye Ra,” ujar Soohyun lemah. “Mereka sudah cukup lama menjalin kasih, namun Hoon pergi ke luar negeri karena hubungan mereka tidak direstui oleh kedua orang tua Hoon.”
        Dongho diam saja mendengarkan cerita Soohyun. Ada sedikit rasa bersalah karena membawa gadis itu ke arena balap motor liar. Kini Hye Ra harus di rawat di rumah sakit, dan penyebabnya adalah karena Dongho membawanya balapan.
        Hye Ra pasti tidak terbiasa dengan kondisi seperti itu. Hingga akhirnya ia pasti pingsan karena pusing dan kepalanya membentur batu.
        “Kau siapanya Hye Ra?” Tanya Jaeseop memecah keheningan.
        “Namaku Soohyun. Aku kakaknya Hye Ra,” jelas Soohyun.
        Jaeseop mengangguk tanda mengerti. “Aku Jaeseop dan ini temanku, Dongho.”

@@@

        Malam itu, Dongho tak bisa memjamkan matanya. Di tempat tidur sebelah, Jaeseop telah sejak lama merajut mimpi di sana. Dongho menghembuskan napas keras. Ia masih kepikiran ucapan dokter tentang kondisi Hye Ra.
Gadis itu mengalami amnesia ringan. Karena masalah asmaranya dengan pemuda bernama Hoon, ia kehilangan sebagian memori tentang kekasihnya itu, termasuh wajah Hoon sebenarnya. Dan entah apa yang membuat Hye Ra menyangka Dongho adalah Hoon. Mungkin karena pemuda terakhir yang ia lihat sebelum kecelakaan tersebut adalah Dongho.
        Rasa bersalah masih menghantui Dongho meski ia telah bertanggung jawab atas seluruh biaya perawan Hye Ra. Namun terbesit sebuah niat untuk tetap menjaga Hye Ra sampai ingatan gadis itu kembali seutuhnya. Terlebih Dongho telah mengetahui jika Hye Ra sudah tidak memiliki orang tua dan hanya tinggal bersama Soohyun.

@@@

        “Hye Ra akan pulang hari ini. Terima kasih telah banyak membantu. Kami tidak akan merepotkan anda lagi,” ujar Soohyun formal.
        Dongho mengangguk samar. Urusannya telah selesai. Dia dan gadis itu sudah bisa hidup dengan normal seperti sebelumnya. Tapi entah mengapa, ia merasa sangat berat untuk berbalik dari depan kamar rumah sakit yang ditempati Hye Ra beberapa hari ini. Apa karena Dongho belum bertemu dengan gadis itu. Ditekannya kuat-kuat perasaan aneh itu. Ia harus pergi dari kehidupan gadis itu.
        Dan malam itu, Dongho kembali ke arena balapan liar. Kedatangannya di sambut antusias oleh beberapa penonton yang hampir selalu mendukungnya ketika ada pertandingan.

@@@

        “Hoon!”
        Dongho menghentikan langkahnya ketika baru keluar dari pintu café. Ia membeku seketika saat mendapati seseorang yang tadi memanggilnya meski bukan menggunakan nama ‘Dongho’. Hye Ra.
        “Apa kau ingin kabur dariku lagi?” Tanya Hye Ra sambil mendekatkan wajahnya pada Dongho yang masih diam mematung. “Tidak akan bisa,” desis gadis itu serius yang langsung diiringi tawanya.
        Dongho semakin bingung dan tidak tahu apa yang harus ia lakukan setelah ini. Senyuman gadis itu membuat syarafnya seolah berhenti bekerja. Beberapa hari lalu gadis itu terkulai lemah dan bercucuran darah tepat di depan matanya, dan kini semua berbeda. Dongho sangat terpesona akan kecantikan gadis itu meski bekas luka masih menghiasi keningnya.
        “Jangan berpura-pura lupa!”
        Dongho menautkan alisnya, masih sangat bingung dengan apa yang dikatakan gadis itu.
“Kau kan berulang tahun hari ini! Ayo traktir aku makan,” paksa Hye Ra yang kini sudah menarik tangan Dongho kembali masuk ke dalam café tempat pemuda itu bekerja.
        Itu awal kedekatan mereka, meski sebenarnya itu bukan hari ulang tahun Dongho, tapi entah kenapa ia tak bisa menolak ajakan gadis itu. Dan sekarang, telah sebulan lebih mereka melalui kebersamaan. Dongho juga sudah sangat jarang bahkan tidak pernah lagi mengikuti balapan liar.

@@@

        “Hoon!” pekik Hye Ra senang ketika mendapati Dongho menunggu di depan sebuah rumah sakit tempatnya bekerja sebagai perawat. Ia tak menyangka jika pemuda itu datang ke sana.
        “Apa kau sudah siap?”
        Hye Ra menatap bingung pertanyaan Dongho, “untuk apa?”
        Dongho tak menjawab, ia hanya menggerakkan kepalanya sebagai isyarat agar Hye Ra naik ke atas boncengan motornya. Meski terlihat ragu, gadis itu tetap menuruti permintaan Dongho. Ternyata pemuda itu mengajak Hye Ra jalan ke sebuah pusat perbelanjaan.
        Di sana Dongho menyadari sesuatu. Hye Ra berbeda dari kebanyakan gadis seumurannya. Ia tak terlalu bernafsu memburu barang-barang mahal yang di jual di sana. Ketika Dongho menawarinya sebuah pakaian, Hye Ra hanya menjawab bahwa ia belum terlalu membutuhkan itu.
        Tak hanya sampai di sana, saat libur Dongho mengajak Hye Ra ke taman bermain. Mereka tertawa lepas. Kedekatan mereka bahkan sudah terlihat seperti sepasang kekasih.

@@@

        Ini sudah genap tiga bulan mereka dekat, namun hingga saat ini Hye Ra masih memanggil Dongho dengan sebutan Hoon. Dan pagi itu giliran Hye Ra yang memberi kejutan untuk Dongho. Ia telah menunggu Dongho di café bahkan sebelum Dongho datang.
        “Kenapa kau ada di sini?” Tanya Dongho sumringah sambil duduk di hadapan Hye Ra. Ini sebuah kebahagiaan kecil untuknya.
        Hye Ra menatap Dongho datar membuat pemuda itu memandang bingung padanya.
        Dongho terlihat khawatir, “kau sakit?” cemasnya.
        Hye Ra menggeleng. “Aku sudah tidak bisa lagi menyusahkanmu. Dan maaf jika selama ini aku terkesan memanfaatkanmu.”
        “Apa maksudmu?”
        “Aku…” Hye Ra menghela napas sesaat. “Kau boleh meninggalkanku,” ujar Hye Ra sambil berdiri dan langsung pergi dari sana. Ia meninggalkan café tempat Dongho bekerja sambil menangis. Hye Ra yang memutuskan, namun ia sendiri pula yang harus merasakan sakitnya.
        Dongho menarik tangan Hye Ra ketika gadis itu sudah berjalan cukup jauh hingga sampai ke sebuah taman. “Jika kau tidak ingin menyakitiku lagi, bicara!” seru Dongho lembut meski sebenarnya ia sedikit memaksa.
        “Sebenarnya…”
        Dongho tetap menunggu dengan tatapan yang seolah bisa bicara bahwa ia siap mendengar apapun yang dikatakan Hye Ra untuknya. Ia bahkan membawa Hye Ra ke sebuah bangku taman agar gadis itu lebih tenang untuk bercerita.
        “Sebenarnya sejak awal aku tahu bahwa kau bukan Hoon ku,” jelas Hye Ra.
        “Lalu?” ujar Dongho terus seolah itu bukan berita mengejutkan untuknya.
        Hye Ra menatap Dongho penuh rasa bersalah. “Aku terlalu sakit hati karena ditinggal Hoon begitu saja. Jadi aku melampiaskannya padamu. Memanfaatkan kebersamaan kita agar aku tidak merasa kehilangan. Tapi aku tak bisa lebih lama lagi memperlakukanmu seperti itu.”
        Tanpa berkata, Dongho justru memeluk Hye Ra. Namun hanya sesaat. Gadis itu segera melepaskan diri dari Dongho. Dan Dongho hanya menatapnya tak percaya seolah ia berkata ‘apa salahku?’.
        “Aku tak pantas untukmu,” tegas Hye Ra yang segera melesat meninggalkan Dongho untuk ke dua kalinya hari ini. Namun Dongho tak bisa menjangkau gadis itu karena Hye Ra telah pergi menggunakan taksi.

@@@

        Ketika pulang bekerja, Dongho menunggu Hye Ra di tempat gadis itu bekerja. Cukup lama Dongho menunggu. Dan ketika bertanya ke pusat informasi, waktu kerja Hye Ra sudah selesai. Setelah itu Dongho berinisiatif untuk menemui Hye Ra di rumahnya. Ternyata ia hanya menemukan Soohyun. Dan yang mengejutkan, ia tahu dari Soohyun bahwa Hye Ra pindah bekerja namun Soohyun tak bisa mengatakan padanya.
        Donghopun terpaksa kembali ke rumahnya bersama Jaeseop. Baru saja ia menutup pintu, terdengar sebuah ketukan dari luar. Dengan enggan Dongho terpaksa membukakan pintu. Ia melakukan itu tanpa ada rasa curiga sedikitpun.
Dongho tersentak melihat siapa yang datang ke rumahnya saat itu. “Sunghyun?”
        Pemuda dihadapan Dongho tersenyum lega. “Akhirnya aku menemukanmu,” ujarnya sambil memeluk Dongho.
        Dongho sama sekali tak merasa keberatan karena ia juga merindukan adiknya itu. Perlahan Dongho melepaskan pelukannya. “Ada apa kau datang ke sini?” Tanya Dongho dingin. Mungkin ini pengaruh karena ia tidak bisa bertemu dengan Hye Ra.
        Raut wajah Sunghyun berubah serius. “Pulanglah. Ayah dan ibu telah berjanji untuk tidak akan memaksakan kehendak mereka lagi padamu,” jelas Sunghyun dengan nada memohon.
        Dongho menghela napas berat. Mungkin ini memang sudah saatnya ia pulang. Apalagi Hye Ra juga telah meninggalkannya. Dongho akhirnya mengangguk lemah dan Sunghyunpun tersenyum lega.
        Malam itu juga Dongho pulang bersama Sunghyun setelah berpamitan dengan Jaeseop sebelumnya. Dongho dan Sunghyun duduk di kursi belakang. Sekilas Dongho sempat melihat foto seorang bayi laki-laki yang baru berusia beberapa bulan di layar ponsel Sunghyun.
        “Foto anak siapa yang ada di ponselmu?” Tanya Dongho yang penasaran.
        Sunghyun langsung mengerti maksud pertanyaan Dongho. “Ini?” Sunghyun memperjelas foto anak kecil itu ke hadapan Dongho. “Ini anakku, namanya Kevin.”
        Dongho membulatkan matanya tanda ia tak langsung percaya dengan apa yang dikatakan adiknya itu. Sunghyun memang telah menikah tak lama setelah Dongho pergi dari rumah. Ia menikah dengan kekasihnya yang dulu sempat dijodohkan kepada Dongho.
        Tak lama setelah menyaksikan drama pertemuan seorang anak laki-laki dengan orang tuanya setelah kabur dari rumah selama beberapa tahun, Sunghyun pamit pulang. Ia memang sudah tidak tinggal di rumah itu karena kini Sunghyun telah memiliki keluarga kecil sendiri.

@@@

        Esoknya, keluarga Dongho diundang ke acara pernikahan anak dari salah seorang relasi mereka. Sunghyun juga akan datang ke sana bersama istri dan anaknya.
        Dongho hanya mengikuti langkah ke dua orang tua mereka. Ia juga pasrah dikenalkan kepada orang-orang yang bisa dipastikan adalah rekan bisnis ayahnya. Dongho yang telah lelah dengan kegiatan yang menurutnya tak penting itu, diam-diam menjauhkan dirinya dan meninggalkan kedua orang tuanya yang tak sadar jika Dongho sudah tidak ada di sana.
        Dongho berjalan ke luar gedung mewah itu. Ia mencari-cari sosok Sunghyun yang pasti bisa menemaninya di tengah kerumunan orang yang sangat asing untuknya. Dongho masih berusaha menghubungi Sunghyun, namun belum mendapat jawaban sampai akhirnya ia mendapati tulisan dua orang yang telah berbahagia saat ini, Hoon dan Soo In.
        “Hoon?” ujar Dongho meyakinkan bahwa penglihatannya tak salah. Nama mempelai pria itu memang ‘HOON’.
        Entah kenapa tiba-tiba rasa sakit menyerang dadanya. Ketika melihat tulisan yang membentuk nama ‘Hoon’, Dongho langsung teringat akan Hye Ra. Seorang gadis yang telah mengisi hari-harinya beberapa bulan belakangan ini. Satu yang ada dipikirannya saat ini, ‘pulang’. Dongho tak sanggup berlama-lama di tempat itu.
        Dongho bergegas menuju parkiran. Tak jauh dari tempat ia berdiri sekarang, Dongho mendapati seorang gadis yang baru saja menutup pintu salan satu mobil yang terparkir rapi di sana. Tanpa pikir panjang, Dongho segera menghampirinya. Hye Ra. Itu gadis yang ia cari saat ini. Gadis yang sangat ingin ia temui. Memeluknya begitu saja.
        “Kau tidak bisa lepas lagi dariku,” bisik Dongho seperti menemukan hartanya yang sangat berharga.
        Mati-matian gadis itu memberontak untuk melepaskan diri.
        Dongho menatapnya kecewa setelah ia menurut untuk melepaskan pelukannya. “Apa kau sangat ingin meninggalkanku?”
        ‘Plak!’
        Dongho tak mendapat jawaban apapun selain tamparan keras dipipinya. Tak lama, Sunghyun muncul di tengah-tengah mereka dan menarik gadis itu untuk berdiri di sampingnya.
        “Kau memang kakakku. Tapi kau tak berhak memperlakukan istriku semaumu!”
        Seperti ada ribuan palu yang menghantam dadanya. Dongho membeku mendengar ucapan Sunghyun. Ia tersenyum miris dan tak percaya begitu saja. Ia menatap gadis di samping Sunghyun menuntut jawaban.
        “Kalian bohong, kan? Kita baru saja bertemu kemarin. Dan tidak mungkin jika kalian telah menikah,” seru Dongho menolak kenyataan. Tangan Dongho telah terulur untuk menyentuh gadis itu, namun Sunghyun menghalanginya.
        “Apa yang kau lakukan?” tegas Sunghyun. Ia masih menahan diri untuk tidak mengajar Dongho karena pemuda itu adalah kakaknya.
        “Katakan padanya,” Dongho menunjuk Sunghyun. “Katakan yang sebenarnya bahwa beberapa bulan ini kita sangat dekat. Kau tau? Aku mencintaimu, Hye Ra,” seru Dongho seperti sudah tidak bisa membendung lagi perasaannya.
        Sunghyun menatap bingung gadis di sampingnya. Gadis itu juga melakukan hal yang sama sambil menggeleng lemah. Berusaha mengatakan bahwa ia sama sekali tak mengerti apa yang dikatakan Dongho.
        “Hye Ra, jawab aku,” paksa Dongho.
        “Siapa yang kau maksud Hye Ra?”
        Dongho menatap Sunghyun bingung.
        “Dia adalah Hyo Ri, istriku, bukan Hye Ra,” jelas Sunghyun yang baru menyadari bahwa Dongho salah orang.
        “Kau… bukan Hye Ra?” ulang Dongho perlahan. Tatapannya berubah nanar ketika gadis itu mengangguk membenarkan ucapannya. Apalagi di kening gadis itu tidak ada luka bekas kecelakaan. Dia memang bukan Hye Ra, tapi Hyo Ri.
        Sunghyun menyentuh pundak Dongho. “Ceritakan padaku apa yang terjadi. Dan siapa Hye Ra?” kata Sunghyun lembut. Biar bagaimanapun, Dongho adalah kakaknya.

@@@

        Beberapa bulan setelah itu, meski Dongho sudah disibukkan bekerja di perusahaan ayahnya, ia masih belum bisa menepiskan bayang-bayang Hye Ra begitu saja. Apalagi wajah Hye Ra sangat mirip dengan Hyo Ri, istri adiknya. Bahkan nama merekapun hampir sama. Bisa dipastikan Dongho akan sering bertemu dengan Hyo Ri.
        Saat pulang bekerja, ia mendapati Kevin di sana bersama ibunya, nyonya Park. “Sunghyun menitipkan Kevin di sini?”
        Nyonya Park menoleh. “Hanya malam ini saja. Sunghyun dan Hyo Ri sedang ada urusan sebentar.”
        Dongho tersenyum. Setelah melempar jas dan kopernya sembarangan ke lantai, pemuda itu mendekati keponakannya yang masih sangat kecil. Kelucuan Kevin memang cukup bisa menghiburnya.
        “Cepatlah menikah. Dan kau akan punya anak yang lucu juga seperti Kevin,” sindir nyonya Park secara halus ketika melihat kedekatan Dongho dengan cucunya itu.
        Dongho tersenyum samar lalu menoleh ke arah ibunya. “Doakan saja, bu.” Senyuman itu hanya sebagai kedok untuk menutupi perasaan Dongho yang sebenarnya. Saat ini hanya ada satu nama di hatinya, yaitu Hye Ra. Belum ada yang bisa menggantikannya.

@@@

        Sementara itu di sebuah rumah sakit, tampak Hye Ra tengah tergesa-gesa menuju ruang UGD. Di sana ia berpapasan dengan seorang dokter yang pernah menjadi masa lalunya, Hoon. Mereka sama sekali tak menyangka bisa bertemu di tempat itu. Namun ternyata Hoon telah menikah.
        “Ku pikir kau yang kecelakaan,” seru Hoon heboh dan Hye Ra hanya menatapnya bingung. “Gadis itu sangat mirip denganmu,” lanjut Hoon namun Hye Ra tetap tak mengatakan apa-apa dan begitu saja meninggalkan Hoon.
        Ternyata benar, Hye Ra membeku seperti melihat dirinya terbaring lemah di sana.
        “Tolong temui keluarga pasien di depan. Nona Hyo Ri memutuhkan tranfusi darah,” perintah seorang dokter yang membuyarkan pikiran Hye Ra.
        Dengan pikiran yang berkecamuk, Hye Ra menyeretkan kakinya keluar. Di sana ia menemukan seorang wanita paruh baya dan seorang pemuda yang berdiri memunggunginya dan menggendong seorang anak laki-laki.
        “Sabar ya sayang, sebentar lagi kita akan menemui ibumu,” ujar pemuda itu untuk menenangkan anaknya yang mulai resah.
        “Maaf, kalian keluarga nona Kim Hyo Ri?”
        Wanita langsung mendongak dan pemuda itu sontak membalikkan badan. Mata Hye Ra membuat saat melihat wajah pemuda itu. Baru beberapa bulan yang lalu ia dikejutkan karena bekerja di tempat yang sama dengan Hoon, mantan kekasihnya. Dan kini, takdir kembali mempertemukannya dengan seseorang yang pernah mengisi hari-harinya, Dongho.
        “Hyo Ri… Kau?” wanita itu membekap mulutnya ketika memandangi Hye Ra. Ia lalu memegangi kepalannya yang pusing dan beberapa detik kemudian sedikit kehilangan kesadaran. Beruntung Hye Ra sigap menangkap tubuhnya.

@@@

        “Kau yakin ingin mendonorkan darahmu untuk gadis itu?” Tanya Hoon untuk yang kesekian kalinya sebelum ia menusukkan jarum di lengan Hye Ra. “Walau kalian mirip, aku tahu kau tidak mengenalnya.”
        Hye Ra melirik kesal karena Hoon sedikit cerewet. Sekilas ia kembali teringat kenangannya bersama Dongho. Namun sedetik kemudian ia disadarkan oleh wajah imut anak kecil yang digendong Dongho tadi. “Aku hanya berutang budi pada suaminya. Dia pernah menolongku saat aku kecelakaan,” ujar Hye Ra lalu menolehkan wajahnya dari Hoon.
        “Kau pernah mengalami kecelakaan?” pekik Hoon cemas.
        “Cepat lakukan tugasmu dan berhenti bertanya!” omel Hye Ra yang sudah tidak bisa menahan emosi.

@@@

        Karena telah mendonorkan darah, Hye Ra mendapat ijin untuk pulang lebih cepat. Pasien bernama Hyo Ri pun telah dipindahkan ke ruang perawatan. Hye Ra tanpa sengaja melintas di depan kamar itu. Di sana si kecil Kevin sudah tidak di gendong oleh Dongho, tapi Kevin tertidur di pelukan ayah kandungnya, Sunghyun. Sunghyun juga mengalami kecelakaan bersama istrinya, namun ia hanya mengalami luka ringan di area kening dan tangan.
        Dongho juga berada di sana, ia bahkan telah lebih dulu melihat kedatangan Hye Ra. Ia berniat menghampiri gadis itu namun Hoon sudah lebih dulu mengajaknya bicara. Rasa rindunya pada Hye Ra sudah tak terbendung lagi, karena itu ia berniat mengejar Hye Ra. Jika Hoon masih berada di sana, ia mungkin akan menunggu hingga mereka selesai bicara.
        Setelah sekitar lima belas menit mereka bicara, Hoon yang lebih dulu berdiri dan meninggalkan Hye Ra di bangku taman rumah sakit. Dongho hanya mengangguk sekilas saat Hoon melintas di hadapannya. Setelah itu Dongho segera menghampiri Hye Ra yang masih duduk di sana.
        “Jadi, dia Hoon mu?”
        Hye Ra tersentak mendapati Dongho telah duduk di sampingnya. Sedetik kemudian ia tersenyum. “Dia memang Hoon, tapi dia bukan milikku lagi,” ujar Hye Ra tanpa menatap Dongho.
        Selama beberapa saat, hening mendominasi mereka. Sampai akhirnya Hye Ra lah yang berinisiatif memulai obrolan. “Tadi ku lihat anakmu dengan seorang pemuda, apa dia adikmu?”
        Dongho menoleh cepat saat Hye Ra mengira bahwa Kevin adalah anaknya. Sedetik kemudian ia tertawa membuat Hye Ra menatapnya bingung. “Jadi kau menyangka bahwa Kevin adalah anakku?” Tanya Dongho, namun Hye Ra tak menjawab. “Anak itu umurnya sekitar satu setengah tahun, dan kita saling kenal bahkan belum genap setahun. Bagaimana bisa aku memiliki anak sebesar Kevin?” Dongho geleng-geleng kepala. “Kalaupun saat pertama bertemu dulu kita langsung menikah, kira-kira kau baru saja melahirkan anak kita sekarang.”
        Hye Ra melotot saat Dongho mengibaratkan mereka seperti itu. Tawa Dongho semakin keras saat melihat wajah Hye Ra yang seperti itu. “Boleh aku Tanya sesuatu?”  Dongho hanya mengangguk mendengar permintaan Hye Ra. “Siapa nama orang tua Hyo Ri?” Hye Ra terdengar sangat mengharapkan jawaban dari pertanyaannya.
        “Kim Jongkook dan Lee Hyun Rae,” jawab Dongho tanpa pikir panjang dan Hye Ra membulatkan matanya saat mendengar jawaban itu.
        Hye Ra membekapkan mulutnya tak percaya dengan apa yang dikatakan Dongho. Ia berlari meninggalkan Dongho namun pemuda itu segera menyusul.
        Langkah panjang Dongho berhasil menjangkau Hye Ra dan langsung menarik gadis itu ke dalam pelukannya. “Sebenarnya aku hanya anak angkat di keluarga Soohyun. Orang tua Soohyun menculikku karena sakit hati dengan orang tuaku. Tapi mereka sangat menyayangiku seperti anak sendiri. Dan sebelum meninggal, mereka telah memberi tahuku tentang rahasia ini dan menyuruhku untuk mencari orang tuaku,” jelas Hye Ra panjang lebar diiringi tangisnya. “Maafkan aku Dongho,” isaknya.
        Dongho semakin menguatkan pelukannya. “Kau tak perlu meminta maaf,” bisik Dongho lembut.
        “Sebenarnya aku tidak ingin meninggalkanmu. Tapi aku juga ingin bertemu orang tuaku.”
        Dongho tersenyum samar mendengar ucapan Hye Ra. “Tapi Hoon?”
        Hye Ra melepaskan pelukannya dan menatap Dongho melalui matanya yang basah. Hye Ra menggeleng, “Hoon telah menikah. Kami tidak ditakdirkan untuk bersatu.”
        “Jadi, kau…”
        Dongho dan Hye Ra menoleh. Sudah ada Hyo Ri yang duduk di kursi roda bersama Sunghyun yang menggendong Kevin. Hye Ra segera membungkuk ke hadapan Hyo Ri, sementara Dongho merebut Kevin karena Sunghyun sedikit kerepotan mendorong kursi roda dan menggendong Kevin sekaligus.
        “Jadi, kita…” ujar Hyo Ri lambat-lambat. “Kita kembar?”
        Hye Ra mengangguk lemah lalu memeluk Hyo Ri dan mereka menangis bersama.
        “Di mana ayah dan ibu?” Tanya Hye Ra setelah melepaskan pelukannya.
        “Mereka ada bisnis di luar kota dan baru akan kembali minggu depan. Mereka pasti sangat bahagia mendengar kedatanganmu.” Hyo Ri melirik Dongho sekilas lalu kembali menatap saudara kembarnya itu. “Kau dan Dongho…” Hyo Ri tak melanjutkan ucapannya karena Hye Ra lebih dulu menggeleng.
        “Apa maksudmu menggeleng? Jika kau tidak menyukaiku, kenapa kau tadi kau bilang kau tidak ingin meninggalkanku?” protes Dongho. “Kau tahu, aku sangat suka, hmm tidak. Tapi aku mencintaimu Hye Ra. Aku sangat ingin kau menjadi kekasihku.”
        Hyo Rid an Sunghyun ikut tegang menunggu jawaban Hye Ra. “Hanya kekasih?” Hye Ra balik bertanya lalu berdiri. Dongho membeku dan tak tahu harus membalas Hye Ra dengan apa. “Kau tak ingin kita menikah? Kau tak ingin seperti mereka?”
        Skak mat! Biasanya seorang pemuda yang membuat sang gadis tak sanggup berkata-kata, tapi kini Dongholah yang kehabisan kata-kata. Dengan jahilnya Sunghyun merebut Kevin kembali dan mendorong pelan tubuh Dongho ke arah Hye Ra.
        “Kalau begitu, minggu depan kita akan menikah. Untuk urusan orang tuamu, mereka pasti akan menijinkan kita,” seru Dongho akhirnya tanpa rasa berdosa membuat Sunghyun, Hyo Ri dan Hye Ra menatapnya tak percaya.
        Dan seminggu kemudian, mereka benar-benar dibuat percaya dengan ucapan Dongho yang awalnya terkesan main-main. Resepsi pernikahan Dongho dan Hye Ra benar-benar terlaksana. Hoon juga datang bersama istrinya. Dongho juga tak melupakan Jaeseop yang juga datang malam itu. Termasuk Soohyun. Dan yang tak habis pikir adalah kedatangan Kyungjae, Kiseop bersama beberapa rekan mereka di arena balap liar. Ternyata Kyungjae adalah kakak dari Hye Ra dan Hyo Ri. Ternyata malam itu ia tak sempat melihat wajah Hye Ra yang datang bersama Dongho.

@_E_N_D_@

Tidak ada komentar:

Posting Komentar