Kamis, 21 Februari 2013

3twins (part 13)


Tiga Belas…

“Jangan ampe ketinggalan jejak, Ri.” Peritah Ricky. Meski terlihat tenang, cowok ini justru telah menunjukkan kegusaran hatinya
“Woelah… emang mobil Nicky sengebut apa, sih?” Protes Riyu atas ketidaksabaran Ricky. Karena Nicky memang sangat santai melajukan kendaraannya.
“Kayaknya Nicky sengaja nih, biar bisa lebih lama di mobil sama Najwa.” Komentar Vicky membuat Ricky mematung tak berkutik. Ia memang sengaja meledek kembarannya itu.
“Yaiyalah, Vick.” Sambar Riyu mendukung Vicky. “Lagian, mau ngapain lagi mereka? Sekarang aja baru jam…” Riyu baru menyadari kalo hari ini ia tak mengenakan jam. “Sekarang jam berapa, sayang?” bisik cowok ini sambil menatap cewek yang duduk di sebelahnya.
“Setengah tiga.” Jawab Soraya.
Gerbang utama Senayan sudah terlihat.
“Berarti selama sejam kedepan, kita nungguin orang pacaran, donk?” Celoteh Vicky membuat Ricky semakin panas. “Untung gue ngajak pacar juga ke sini.” Liriknya nakal sambil mencolek pipi Nissa yang langsung bersemu merah.
Ricky berbalik. Agak janggal kedengerannya Vicky berkata seperti itu. “Kok lo jadi centil gitu sih sekarang?” protesnya menanggapi perubahan sikap kembarannya yang selama ini selalu terlihat kalem dan santun.
Vicky dan Nissa langsung saling menjauhkan badan mereka dan pura-pura sibuk dengan urusan masing-masing. Nissa pura-pura sibuk dengan poselnya, sedangkan Vicky langsung membuka kembali buku biologi yang sejak tadi dibawanya.
Ricky dengan isengnya menurunkan buku yang di pegang Vicky hingga wajah cowok itu terlihat. “Imej lo udah ancur sekarang.”
“Usil banget sih lo!” protes Vicky gantian. Ia sedikit terganggu dengan sikap Ricky.
Riyu dan Soraya kontan tertawa puas. “Udah deh. Berantem mulu lo berdua.” Kata Riyu menengahi.
“Untung gak ada Nicky juga di sini.” Ujar Soraya sambil menerawang dan melirik Ivo yang duduk dalam diam sambil memandang ke luar jendela. “Vo, ajak ngobrol kak Ricky, donk.” Usulnya.
Ivo hanya melirik Ricky tanpa arti dan hanya menjawab saran dari Soraya dengan senyum.
“Eh, Riyu. Lo mau kemana, sih? Gerbangnya udah kelewat.” Tegur Ricky. Vicky dan Nissa pun memastikan perkataan Ricky dengan menengok ke belakang. Jelas saja, gerbang sudah cukup jauh di belakang mereka.
“Eh, Nicky tuh gak masuk ke gerbang.” Balas Riyu yang tak terima dengan protes dari Ricky.
Ricky diam. Entah apa yang terjadi pada cowok itu hari ini. Untuk kesekian kalinya Ricky menjadi bahan tawa teman-temannya.

@@@

        “Harus sampe kapan nih gue terperangkap sama lo?” tanya Najwa. Meski merasa terperangkap, tapi cewek ini terlihat santai dan biasa aja menghadapi kenyataan dihadapannya ini. Kenyataan harus bersama orang yang belum tentu juga ia inginkan dan entah sampai kapan keadaan ini akan berlangsung. Karena hanya Nicky lah yang tau jawabannya.
        “Ini hukuman karena dulu lo pernah ngerjain gue!” kata Nicky yang sebenarnya juga tak terlihat berkuasa atas diri Najwa.
        “Ya sampe kapan, kak?” Desaknya.
        Seharusnya memang hanya Nicky yang tau jawabannya. Tapi sepertinya cowok ini juga gak menjadwalkan satu tanggal sebagai hari pembebasan Najwa. Karena memang ia sama sekali tak berniat membebaskan Najwa. Ia ingin Najwa tetap seperti ini, selalu di sampingnya.
        “Kak?” tegur Najwa karena Nicky tak kunjung memberikan jawabannya.
        Nicky tak tau harus berkata apa. Ia sendiri di buat pusing atas kelakuannya dan hanya sanggup mengacak-ngacak rambutnya. “Gue juga gak tau tuh.” Katanya polos.
        “Hah? Jangan gitu, donk? Lo harus kasih kepastian.”
        “Oke.” Ujar Nicky akhirnya. “Tunggu sampe gue bosen sama lo.” Kata Nicky sekenanya.
        “Kalo lo gak bakal bosen?” serang Najwa lagi.
        “Na, manusia tuh bakal sampai ke titik jenuh terhadap sesuatu.” Nicky berkata sok bijak. Seperti ia tengah menyamar sebagai Vicky. Tapi jatuhnya malah terlihat dibuat-buat. Namun sedetik kemudian, ia menyesali perkataannya.
        “Tapi kayaknya masih jauh untuk lo sampe ke titik jenuh tersebut. Lo aja gak ada bosen-bosennya gangguin gue.” Beruntung Najwa tak terlalu termakan omongan Nicky barusan.
        “Jadi lo ngerasa terganggu?”
        Jujur. Jawabannya nggak. Kali ini gantian Najwa yang mengutuk dirinya karena telah berkata seperti itu.
        Nicky tak dapat berfikir jernih saat ini. “Kalo emang lo ngerasa terganggu, gue bakal mundur. Murni karena permintaan lo.” Nicky hanya bisa mengalah. “Meski sebenarnya gue gak akan pernah rela ngelakuin itu.” Katanya lagi, menegaskan.
        Najwa masih diam. Ia hanya bisa pasrah dengan keadaan. Kalo memang Nicky benar-benar serius dengan ucapannya, ya anggap aja belum jodoh. Najwa menghela napas penuh sesal.
       
@@@

        Pelataran parkir stadion. Ricky membuka pintu tengah mobil sambil menenteng dua botol air mineral. Hanya ada Ivo di sana. Vicky, Nissa, Riyu dan Soraya, entah sudah berada di mana mereka sekarang ini. Ia memberikan salah satu botol ke Ivo dan langsung di terima cewek itu.
        “Makasih, kak.” Kata Ivo sambil tersenyum.
        Ricky mengangguk samar. Ia hanya berdiri dan tak berniat masuk. Cukup lama Ricky dan Ivo terjebak dalam suasana hening. Satu sisi mereka berharap salah satu dari empat orang—Vicky, Nissa, Riyu dan Soraya—tersebut datang. Tapi di sisi lain, mereka senang berada dalam suasana seperti ini. Karena gak akan ada yang usil meledek mereka.
        “Vo.” Kata Ricky akhirnya memecah keheningan.
        “Iya, kak.” Ivo melirik, namun Ricky memandang ke arah lain.
        Ricky sempat melirik Ivo melalui ekor matanya. Tapi sedetik kemudian, ia telah menatap arah lain karena mendapati Ivo menatapnya. “Lo masih punya perasaan ke gue?”
        Ivo menutup botolnya. Entah sudah keberapa kali Ricky menanyakan hal tersebut. Dan Ivo sendiri sudah sangat terbiasa menanggapinya.
        “Kalo kakak nanyain hal itu lagi, sumpah aku akan gangguin kakak seperti apa yang dilakuin kak Nicky ke Najwa.” Ancam Ivo serius. Entah keberanian dari mana yang didapatkan cewek ini hingga sanggup mengeluarkan kata-kata seperti itu.
        “Berani?” Ricky menantang lalu kembali menenggak minumannya. Ia masih tak berani menatap Ivo, meski hanya melalui lirikan mata.
        “Siapa takut?” Ivo menjawab tantangan Ricky.

@@@

        Najwa dan Nicky bersamaan masuk ke dalam mobil. Nicky mengikat sabuk pengaman dibadannya. “Cari makan dulu, ya.” Ajak cowok itu sebelum menyalakan mesin mobilnya.
        Najwa hanya mengangguk tanda ia tak keberatan.
        “Mau makan dimana?” Tawar Nicky kemudian mulai meninggalkan lapangan parkir.
        Najwa sedikit berfikir. Apa yang sekiranya saat ini ia inginkan. “Hmm… pecel lele enak kali yaa?” ujarnya meminta saran sambil sedikit menerawang.
        “Pecel lele?” Nicky mengulangi. “Lo tau di mana restorannya?”
        Najwa mengerutkan dahi. “Restoran? Emang ada?”
        “Kalo gue nanya lo, ngapain lo nanya balik?” Protes Nicky. “Siapa yang mau jawab?”
        Memang tak ada yang bisa menjawabnya. “Ya kirain. Soalnya setau gue tuh adanya warung tenda pinggir jalan.”
        “Terus, lo mau makan di sana, gitu?” tanya Nicky gak yakin.
        “Gapapa, kan?” lagi-lagi Najwa balik bertanya.
        Nicky garuk-garuk kepala dibuatnya. ‘Gak ada salahnya juga sekali-sekali nurutin permintaannya Najwa’. Pikirnya. Namun sedetik kemudian, Nicky langsung meralat apa yang dipikirannya dengan sedikit menggeleng. Beruntung Najwa tak terlalu memperhatikannya. ‘Gak bisa malam ini.’
        Tanpa meminta persetujuan Najwa, cowok itu langsung memarkirkan mobil di pelataran sebuah restoran. Najwa langsung berdecak kecewa mendapati kenyataan itu.
        “Kita makan di tempat yang biasa aja yuk…” Pinta Najwa setengah merayu sambil mengenggam tangan kiri Nicky.
        “Emang kenapa, sih? Ini juga bukan restoran yang mahal-mahal banget kok.” Nicky tetap pada pendiriannya. Ia membuka pintu dan siap ke luar. Namun Najwa masih mengenggam tangannya dan membuat cowok ini membatalkan niat untuk ke luar.
        “Feeling gue gak enak.” Najwa masih berusaha.
        “Aduh… udah deh. Buang jauh-jauh pikiran jelek lo.” Nicky mengajari. Beberapa saat kemudian, cowok ini udah membukakan pintu untuk Najwa. “Ayo buruan turun.” Kali ini Nicky tak meminta persetujuan Najwa. Ia langsung menarik cewek itu ke luar dari mobil.
        Sejurus kemudian, mereka sudah setengah jalan menyantap makanan yang semuanya dipesankan oleh Nicky.
        “Lo kenapa, sih?” tegur Nicky karena Najwa terlihat tak selera dengan makanannya. “Gak suka sama makanannya?” Najwa tak menjawab. Nicky menghela napas lalu menyandarkan badan di kursi. “Gue suruh pesen, lo malah nyuruh gue yang milihin makanan buat lo.” Kini Nicky malah menyalahkan Najwa. “Yaudah sana pesen lagi.”
        “Ngak usah kak. Ini aja cukup kok.” Kata Najwa akhirnya. Ia sambil berusaha menghilangkan firasat jeleknya. Namun selalu saja gagal.
        Nicky yang terlihat tak sabar, bergerak dari posisi duduknya sekarang. “Sini gue suapin.” Ia merapatkan badan ke meja agar bisa meraih sendok dari tangan Najwa. Cowok itu menyendokkan makanan dari piring Najwa dan mendekatkannya ke bibir cewek itu. Namun Najwa langsung menghindar. “Cepet buka mulut lo!” Perintah Nicky.
        Najwa masih mati-matian menjauhkan sendok dari tangan Nicky. “Gak mau!”
        “Cepet!” Nicky tak menyerah begitu saja.
        “Diliatin!” Najwa melirik sekitar.
        “Bodo!”
        “Oke! Gue makan sendiri.” Kata Najwa yang akhirnya menyerah sebelum mereka benar-benar menjadi tontonan gratis.
        Nicky langsung melunak. “Gitu donk.” Ia langsung meletakkan sendok Najwa dan membuat cewek itu jengkel sejengkel jengkelnya dengan perbuatan cowok ini.

@@@

        Vicky dan rombongannya masih setia mengawasi Nicky dan Najwa. Tak lama Soraya dan Riyu kembali dari pengintaiannya. Mereka sepakat dua orang itu yang mengawasi Nicky ke dalam karena akan sangat beresiko jika Vicky atau Ricky yang maju.
        Riyu dan Soraya duduk di kursi tengah. Karena posisi sebagai pengemudi sudah kembali di ambil alih oleh Ricky. Dan Ivo tak mungkin menolak ketika diperintah untuk duduk di depan menemani Ricky.
        “Mereka lagi makan. Gak mungkin Nicky ngelakuin hal gila di tempat umum kayak gini.” Lapor Riyu.
        “Gue juga sempet liat Nicky mau nyuapin Najwa.” Soraya ikut menambahkan hasil intaiannya bersama Riyu tadi.
        Ricky diam sambil memandang keluar jendela. Hanya itu yang dilakukannya sejak baru sampai di sana. Ia berusaha menahan diri agar tak terpengaruh dengan semua laporan-laporan Riyu dan Soraya.
        Soraya berdesah kecewa. “Tapi sayang, Najwa nolak di suapin Nicky.” Lanjutnya.
Mendengar Soraya berkata demikian, tergoreslah senyum tipis di bibir Ricky. Ia masih memandang keluar jendela. Jadi, bisa dipastikan hanya dia dan Tuhan yang tau senyum itu telah terukir.
“Gue sependapat dengan Riyu.” Kata Vicky. “Terus gimana?” ia meminta saran dari siapa saja. “Apa kita tinggal aja mereka?”
“Gue sih gak masalah.” Nissa yang pertama mengomentari. “Dari pada Nicky curiga.”
Riyu, Soraya dan Ivo lanjut memberikan suara yang sama.
Tersisa Ricky. “Jangan.” Hanya ia yang punya pemikiran berbeda.
“Kenapa?” Riyu mewakili kebingungan yang lain terhadap pendapat Ricky yang berbeda seorang diri.
Cowok ini masih berada di posisi yang sama dengan sebelumnya. Memandang ke luar jendela. “Nicky pasti bakal butuh bantuan kita. Tungguin aja.” Hanya Ricky yang mengerti.

@@@

        Najwa mengikuti Nicky ke meja kasir. Setelah mengetahui berapa harga makanan yang harus di bayarnya, Nicky merogoh saku celana bagian belakang untuk mencari dompet.
        “Gak pake bercada ya, kak.” Protes Najwa sebelum Nicky mengakui dompetnya tak ada. “Lo tau gue gak bawa duit sepeserpun.” Lanjutnya karena ekspresi wajah Nicky benar-benar penuh kepanikan.
        “Gue gak bercanda, Na.” balas Nicky yang tak terima di tuduh seperti itu. Karena memang ia tak menemukan dompetnya di sana. “Gue liat ke mobil dulu.” Kata Nicky yang langsung berderap ke luar.
        Najwa memberikan senyuman memaksa kepada sang kasir ketika Nicky meninggalkannya. Kasir itu memandang kesal dan terlihat jutek.
        Tak lama Nicky kembali dan tak menunjukkan sinyal adanya kabar baik. Cowok itu menarik Najwa sedikit menjauh dari meja kasir. “Mampus, Na.” Bisiknya. “Dompet gue gak ada.”
        Akhirnya firasat jelek Najwa benar-benar terjadi. “Di kantong celana lo ada duit kan pasti?”
        Najwa benar. Nicky pun langsung menurutinya. Ia menemukan sesuatu di kantong depan celananya. Cowok ini berdecak kecewa karena jumlah uang yang ia dapat tak sesuai harapan. Hanya beberapa lembar ribuan sisa uang kembali saat ia membeli tiket nonton voli.
        Najwa pun mencoba peruntungan dengan ikut mencari lembar rupiah yang mungkin saja tertinggal di saku celana jinsnya. “Ada nih, kak.” Ujarnya memberi pencerahan ketika tangannya menyentuh sesuatu. Namun sayang, hanya ada selembar sepuluh ribuan.
        “Gue juga nemu lagi nih.” Kata Nicky tak kalah cerah. Meski hanya selembar lima ribuan. Sedetik kemudian Nicky mengacak rambutnya. “Nyari di mana lagi? Di mobil Vicky juga Cuma sisa recehan buat parkir doank.” Keluhnya.
        “Tuh kan, gue bilang apa? Makan di warung tenda aja.” Najwa kembali kesal mengingat kejadian beberapa jam yang lalu. “Duit segini juga udah cukup.”
        “Iya maaf.” Kata Nicky penuh penyesalan. “Lagian, walau makan di pinggir jalan tetep aja kita masih dalam masalah. Mobilnya Vicky juga butuh makan.”
        Najwa meremas kesal lengan Nicky yang langsung meringis. “Kak Nicky…” Najwa setengah geregetan.
        “Sakit, Na.”
        Najwa melepaskan cengkeramannya. “Kalo gini caranya, terpaksa deh.” Cewek ini mengeluarkan ponselnya.
        Nicky menutupi layar ponsel Najwa ketika cewek itu menekan sederatan nomor. “Lo mau telpon siapa?”
        Najwa berusaha menyingkirkan tangan Nicky. “Riyu.” Jawabnya singkat.
        “Jangan!” Nicky cepat-cepat merebut ponsel Najwa. “Gue gak bakal ngebiarin lo nelpon Riyu.”
        “Kenapa?”
        “Mending gue malu di depan dua kembaran gue dari pada malu di depan Riyu.” Tegasnya.

@@@

        Ricky melirik jam tangan sport berwarna hitamnya. ‘Udah hampir sejam. Nicky kok masih belum ada kabar sih?’ keluhnya seorang diri. Ricky bisa mendengar suara Vicky yang berbicara melalui telepon. Ketika kembarannya itu mengakhiri pembicaraan, Ricky membalikkan badan. “Kenapa, Vick?” Tegurnya.
        “Nicky nelpon gue. Dia bilang dompetnya ilang dan minta gue nyusul ke sini.” Kata Vicky sesuai dengan yang dikatakan Nicky padanya tadi.
        “Itu dia.” Ricky menjentikkan jari. “Itu maksud gue kenapa kita harus tetep nunggu dia.” Ricky mengeluarkan sebuah dompet dari saku celananya. “Pas di stadion, ada cowok yang ngasih dompet ini ke gue.”
        “Itu kayak dompetnya Nicky.” Kata Vicky yang mengenali dompet hitam dengan aksen merah itu sebagai milik Nicky.
        “Tepat. Dan gue yakin orang itu udah ngeliat foto Nicky di dompet ini dan menyangka itu foto gue.” Lanjut Ricky.
        “Berarti Nicky gak ada uang buat bayar makanan mereka?” tebak Soraya.
        Ricky hanya mengangguk. Begitu pula dengan Vicky. “Kalian langsung pulang aja. Biar gue yang nemuin Nicky.” Kata Ricky yang langsung membuka pintu mobil.

@@@

        Besoknya, pas jam istirahat, Najwa dan Ivo berjalan berdua menuju kantin. Tak jauh ketika turun tangga, ponsel Najwa berbunyi dan sesaat membuat cewek ini tenggelam dalam obrolannya.
        “Lo masih punya perasaan ke gue?” seseorang berbisik di telinga Ivo. Suara itu seperti milik Ricky dan terdengar sangat jelas. Tapi Ivo sama sekali tak terpengaruh. Ia juga tak ingin mempercayai Ricky benar-benar kembali mengatakan hal itu. “Kenapa diem aja?.” Tanya suara itu lagi. Ivo melirik Najwa yang masih sibuk sendiri dan tak merasakan ada yang mengganggunya. “Gue masih nunggu gangguan yang lo ancem itu.”
        Najwa berhenti ketika menyadari temannya yang satu itu sudah tak berdiri disampingnya. “Kenapa, Vo?” Tanya Najwa ketika berbalik. Ia mendapati cewek itu seperti mencari-cari sesuatu.
        “Gapapa, Na.” kata Ivo sambil melanjutkan langkah. Baru beberapa meter dari tempatnya berdiri, Ivo merasakan sebuah sms masuk ke ponselnya. Dari Ricky.

        Gak usah nyari gue. Gue gak akan kabur kok. Gue Cuma mau nagih janji dari lo aja setelah gue tanya ‘lo masih punya perasaan ke gue?’ lagi.

        Ivo tampak tak ingin mempedulikan sms dari Ricky barusan. Ia memasukkan kembali ponselnya. Belum juga ngegangguin kakak kelasnya itu, Ricky justru telah mengganggu cewek ini terlebih dahulu.
        Tapi setelah itu, Ivo benar-benar membuktikan ucapannya. Contohnya sore ini, ketika pulang sekolah, Ricky yang udah kelas tiga masih harus mengikuti pelajaran tambahan. Sebelum masuk kelas, ia menyempatkan diri untuk mampir sebentar ke kantin. Di sanalah Ivo beraksi.
        “Mau nemenin kak Ricky makan dulu sebelum PM.” Jawab Ivo setelah Ricky bertanya kenapa dirinya belum pulang.
        Besok paginya, Ivo yang lebih dulu sampai, menunggu Ricky di tempat biasa cowok itu memarkirkan mobilnya. Namun karena Ricky datang bersama Vicky, cowok itu langsung buru-buru mendekati Ivo.
        “Lo gak masuk kelas?” tanya Ricky setengah panic cewek itu ada di sana.
        “Nungguin kak Ricky.” jawab Ivo santai.
        “Nungguin gue?” Ricky mengulangi perkataan Ivo. “Ada apa?”
        “Cuma pengen mastiin kak Ricky udah nyampe sekolah dengan selamat.” Ricky tercengang mendengarnya. “Aku duluan ya, kak.” Kata Ivo yang pergi begitu saja.
        Ricky masih sedikit tercengang sambil mengikuti arah langkah cewek yang memberikannya kejutan yang tak terduga pagi ini. Hati dan pikirannya berkelahi. Ia tak ingin mempercayai seorang Ivo benar-benar melakukan apa yang pernah dilakukan Nicky terhadap Najwa. Namun di sisi lain, ia tenang karena Ivo melakukan itu untuknya. Memperhatikan dengan cara cewek itu sendiri. Bukan seperti Nicky. Karena Ivo memang bukan Nicky.

@@@

        Keesokan paginya, ketika Najwa membuka pagar, ia menemukan Nicky seorang diri di depan rumahnya. Ia tak membawa motor atau pun mobil.
        “Langsung berangkat, kan?” tanya Nicky sambil mengeluarkan motor Najwa.
        “Kakak ke sini naik apa?” Najwa malah balik bertanya sambil melihat sampai ke ujung jalan mencari kendaraan yang mungkin mengantarkan Nicky hingga sampai di rumahnya.
        “Naik ojek.” Kata Nicky santai sambil naik ke atas motor Najwa.
        “Naik ojek?” Najwa mengulangi sekaligus memastikan ia tak salah dengar. “Lo bela-belain naik ojek untuk bisa berangkat bareng gue?”
        “Iya.” Nicky mengangguk. “Kita kan gak bisa pulang bareng. Jadi, gue gak mau nyia-nyiain kesempatan bareng sama lo walau Cuma berangkat sekolah aja.”
        “Setiap hari bakal kayak gini?”
        “Hmm…” Nicky pasang tampang sok mikir. “Maunya sih gitu. Tapi kan gak mungkin juga. Kalo libur sekolah, yaa gue gak bakal kayak gini.”
        Najwa tak habis pikir dan tak bisa memprediksi semua yang dilakukan Nicky.
        “Sekalian sebagai permintaan maaf gue karena ngerusak kencan kita.” Lanjut Nicky karena Najwa tak kunjung memberi respon.
        “Kencan?” protes Najwa yang sukses membuat Nicky semakin merasa bersalah.
        “Kenapa? Itu gak bisa di sebut kencan ya? Apa karena gue kurang romantis?” tanya Nicky merendahkan diri.
        ‘Mampus!’ pekik Najwa dalam hati sambil menepuk keningnya.
        Entah apa yang membuat mereka memikirkan hal yang hampir sama. Mereka membayangkan Nicky menyiapkan makan malam special di tepi kolam renang yang penuh dengan taburan bunga dan lilin yang mengambang di permukaan kolam. Setelah itu, Nicky mengeluarkan selembar kertas yang penuh dengan kata-kata manis namun… tiba-tiba berubah menjijikkan. Nicky dan Najwa menggeleng bersamaan untuk menghilangkan pikiran-pikiran tadi.
        “Nggak deh. Jangan sampe!” Najwa menyesali telah mendapat imajinasi yang … gak bisa diungkapkan dengan kata-kata karena cewek ini sama sekali tak ingin hal itu benar-benar terjadi.
        “Iya jangan sampe.” Nicky menyetujui perkataan Najwa.
        Perlahan Najwa naik ke boncengan motor. “Mending berangkat sekarang deh.” Ajak Najwa karena ia benar-benar ingin menghilangkan pikiran tersebut.

@@@

        Seperti biasa, sejak jadian, Vicky dan Nissa memang selalu terlihat pulang bersama. Tak terkecuali hari ini. Mereka masuk bersama ke dalam mobil Vicky. Sejauh ini berjalan lancar sebagaimana mestinya. Hingga akhirnya, ketika mobil Vicky mulai meninggalkan gedung sekolah, ia membuka kacamatanya.
        “Kenapa gak di buka dari tadi aja sih.”
        “Hah?” balas cowok itu tak percaya. Ia juga tak bisa terlalu lama bersembunyi di balik tubuh kembarannya. Terutama di hadapan cewek yang satu ini.
        “Gak usah sok kaget gitu deh, Rick?” ledek Nissa.
        “Lo bener. Sekarang udah aman.” Yup, cowok itu sebenarnya Ricky. Makanya, setelah penyamarannya terbongkar, cowok ini langsung sedikit mengacaukan penampilan Vicky yang semula rapih hingga ia kembali ke jatidirinya.
        “Vicky udah nyerah sama apa yang terjadi antara gue dan Nicky.” Kata Ricky yang langsung berterus terang. “Gue emang belum terlalu lama kenal sama Najwa. Tapi jujur, Najwa cewek kedua yang bikin perasaan gue kayak gini setelah Jasmin dulu.”
        Nissa sesekali mengangguk. Karena ia memang sangat mengerti masalah percintaan yang tengah di alami cowok yang sudah ia anggap seperti keluarga sendiri. “Apa yang bisa gue bantu?” tanya cewek ini yang langsung menawarkan diri.
        “Gue Cuma butuh masukan. Apa yang sebaiknya gue lakuin?” Ricky balik bertanya. Dan Nissa lah harapan terakhirnya setelah Vicky yang sudah tak bisa membantu apa-apa.
        “Apa Ivo bisa gantiin posisi Najwa di hati lo?”
        Deg… ‘Kenapa bisa cewek itu lagi yang mencuat dipermukaan?’ batih Ricky.
        “Gue lihat cewek itu cukup serius sama lo. Dia bener-bener memandang positif semua kalemahan lo.” Ucap Nissa sungguh-sungguh.
        “Apa gue harus ngalah untuk Nicky?” tanya Ricky ragu-ragu. Ia tak yakin sanggup melakukan itu.
        Beruntung bagi Nissa karena Ricky mengatakan hal itu. “Tepat… karena Nicky gak bisa terus-terusan mengalah.”
        Ricky memegang dada kirinya. Ia tak percaya harus melakukan itu. ‘Nicky gak bisa terus-terusan mengalah.’ Batin Ricky yang mengulangi perkataan Nissa tadi. Cowok ini tampak memikirkan apa yang dikatakan Nissa barusan.
        “Hanya untuk Najwa, Nicky gak sanggup untuk kembali mengalah.”
        Setelah sekian lama, Ricky akhirnya sedikit melirik Nissa.
        “Kita bisa berhenti sebentar kalo lo mau.” Saran cewek itu.
        Ricky pun langsung menepikan mobil dan berhenti di bahu jalan. Ia tak ingin mengambil resiko di tengah suasana hatinya yang sedang sangat tidak bersahabat.
        “Kanapa harus Najwa?” tanya Ricky dengan suara tertahan. Mati-matian ia menahan emosi akibat rasa sakit di hatinya.
        “Itu pilihan hati.” Kata Nissa bijak.
        “Iya. Kenapa bukan cewek lain? Ivo, Viola atau mungkin lo misalnya?”
        Nissa harus mengeluarkan kesabaran ekstra. “Lo pikir, gue gak sakit hati ngeliat kedekatan Nicky dan Najwa?”
        Cukup. Ricky menghempaskan badannya ke sandaran jok mobil. Ricky mengerti. Dan sangat mengerti. Ia, Vicky dan tak terkecuali Nicky, memang telah menyadari bahwa Nissa memiliki perasaan lebih ke Nicky.    
“Nicky selalu ingin melihat kebahagiaan lo dan Vicky. Meski harus mengorbankan perasaannya ke seorang cewek.” Ujar Nissa dengan tatapan menerawang. “Tapi gue mohon kali ini, lo ngalah untuk Nicky bisa ngedapetin Najwa.” Nissa langsung menghadapkan badannya ke Ricky sambil merapatkan kedua telapak tangannya. “Pliss… Hanya untuk kali ini aja.” Lanjutnya.
        “Eh, lo apa-apaan sih?” tanya Ricky yang terkejut dengan apa yang dilakukan cewek di hadapannya ini. “Jangan kayak gitu.” Ricky melerai tangan Nissa yang saling bertautan.
        “Nicky udah beberapa kali ngalah buat lo mengenai masalah cewek. Apa sekali aja lo gak mau ngelakuin itu untuk Nicky?” Nissa masih menatap Ricky dengan sorot penuh permohonan. “Lo pasti gak tau, kan? Vani, Anggi, Retno. Mereka…”
        Ricky cukup tercengang mendengarnya. ‘Jadi, selama ini…’ ucapannya tertahan dalam hati.
        “Mereka beberapa cewek yang sempet di taksir Nicky, dan lo yang…”
        “Cukup.” Pinta Ricky dengan suara pelan dan langsung melanjutkan perjalanan mereka yang sempat terhenti sesaat. ‘Iya… gue inget. Mereka yang telah gue rebut dari tangan Nicky.’ Ujarnya dalam hati penuh sesal.

@@@

        Malam harinya, ketika melawati kamar Nicky, Ricky tampak sedikit melirik ke dalamnya karena pintu kamar cowok itu tidak tertutup rapat. Kala itu, Nicky tengah duduk di tepi balkon sambil memandang hamparan bintang yang bertebaran di langit rumahnya.
        Ricky tak berniat pergi dari sana, tapi ia juga tak ingin masuk untuk menemui Nicky. Hatinya terasa panas, namun ia juga tenang. Karena jika ia tak bisa menjangkau Najwa, cewek itu tetap akan jatuh ke tangan orang yang benar. Orang yang benar-benar bisa ia percayai untuk bisa menjaga Najwa dengan baik.
        Di belakangnya, Ricky merasakan helaan napas seseorang. Ia pun berbalik, dan orang itu adalah Vicky. Kembarannya yang satu itu berdiri dengan tangan terlipat di depan dada sambil memangdang lurus ke tempat Nicky berada.
        Vicky menghela napas sekali lagi. “Mau sampe kapan kalian kayak gini?” kata Vicky yang akhirnya menatap mata kembarannya itu yang tak menyiratkan apa-apa. Namun ia tau, di lubuk hati Ricky yang paling dalam, cowok itu berusaha menyembuhkan rasa sakit  yang tak semua orang sanggup untuk melakukannya. Bagaimana tidak, Ricky harus perang batin dengan sang kakak, Nicky.
        Ricky sedikit berpaling untuk menyembunyikan kegusaran hatinya.
        “Gue adalah orang yang sangat tak berguna hari ini.”
        Ya. Ricky mengerti apa yang dipikirkan adik kembarnya itu. “Gue juga juga bakal ngerasain hal yang sama kalo jadi lo.”
        Kembali hening.
       
@@@

        Malam ini udara berhembus cukup kencang. Nicky mengusap kedua lengannya karena merasa cukup dingin. Kemudian Nicky melepaskan headshet  yang sejak tadi menggantung ditelinganya sebelum ia menyudahi kegiatannya menatap bintang.
        Ricky dan Vicky langsung gelagapan mendapati Nicky yang kini menyadari keberadaan mereka.
        “Pinjem charger hape, donk. Punya gue kebawa Nissa.” Ceplos Vicky yang langsung menengok ke Ricky dengan tatapan ia meminta maaf karena hanya bisa melindungi dirinya sendiri.
        Nicky sendiri tak terlalu ambil pusing meski sebenarnya ia juga menyadari adanya sedikit kejanggalan atas kehadiran dua kembarannya itu yang bersamaan di depan kamar. “Kirain kenapa? Ambil aja sendiri.” Kata Nicky setelah menutup jendela kamarnya, lalu membaringkan diri di atas kasurnya.
        Vicky dan Ricky kembali saling tatap. Vicky masuk ke kamar Nicky tanpa diikuti Ricky. Vicky langsung menuju meja belajar Nicky karena ia tau kembarannya pasti menyimpan benda yang ia maksud di sekitar sana. Sebuah charger hape tergeletak bersebalahan dengan jam tangan biru yang Nicky dapatkan dari Najwa. Vicky yang terkejut melihatnya, justru memilih untuk meraih jam tersebut. Diliriknya Ricky yang masih berdiri di ambang pintu kamar Nicky.
        Suasana seperti ini bertahan cukup lama. Ricky juga tak kalah terkejut melihat benda yang berada dalam genggaman Vicky. Namun ia juga tak bisa berbuat apa-apa.
        Kembali merasakan kejanggalan, Nicky yang semula telah memejamkan mata, kini perlahan membuka mata dan tujuan pertamanya adalah Vicky yang masih berdiri di depan meja belajarnya. Nicky langsung menegakkan badan setelah menyadari bukan charger hape yang ada di tangan Vicky.
        “Ini…?” tanya Vicky yang sangat jelas meminta penjelasan.
        Nicky tersentak. “Itu…” ucapnya terbata.
        Ricky yang semula diam, kini menerobos masuk dan langsung berdiri di samping Vicky. Dengan tegas ia membuka laci meja tersebut dan mengambil sesuatu di tempat yang cukup dalam. Itu dia, sebuah kotak yang menyimpan jam tangan yang sama persis seperti jam dalam genggaman tangan Vicky.
        “Ini punya gue kan, Nick?” tanya Vicky memastikan meski di bagian dalam jam tersebut terukir huruf ‘V’ yang bisa dipastikan itu adalah inisial namanya.
        Nicky menyingkirkan selimut yang menutupi tubuhnya lalu bangkit dan berdiri dihadapan dua kembarannya.
        “Lo nemu jam itu di mana?” Ricky tak ingin hanya tinggal diam. “Gak mungkin lo diam-diam nyimpennya, kan?”
        “Jam itu kebawa Najwa.” Kata Nicky pelan. Akhir-akhir ini nama Najwa memang cukup sensitive untuk mereka bertiga. Terutama antara dirinya dan Ricky.
        “Kenapa…” Vicky tak melanjutkan ucapannya.
        “Najwa nunggu salah satu dari kita.”
        Ricky menatap Nicky tajam. Dan Vicky menatap Nicky tak percaya. “Bukan berarti itu gue, kan?”
        Nicky mengangkat bahunya lemah. Dan Ricky benar-benar tertunduk. Mereka tak percaya seperti ini kejadiannya.
        Vicky sama sekali tak menginginkan ini. “Kalo emang gini kejadiannya, kita rahasiain dari Najwa. Bilang sama dia kalo jam itu bukan milik gue.” Kata Vicky yang langsung melempar jam itu ke atas kasur dan meninggalkan kamar Nicky.
        Nicky mengusap wajahnya dengan satu tangan. Ricky yang ikut lesu menatap raut wajah Nicky. ‘Dia gak kalah kecewa seperti gue.’ Batin Ricky. Tiga anak kembar ini memang memikirkan hal yang sama. Tapi Nicky jadi yang paling terpuruk karena ia lah orang pertama yang menerima jam itu, bahkan langsung dari tangan Najwa.

@@@

        Najwa tengah membaca novel di dalam kamar ketika ponselnya memiliki satu pesan masuk. Dari Nissa.

        Na, aku tau kamu yang nemuin jam triwins. Dan aku boleh tau, dibalik jam itu ada inisial huruf apa?

        Berita itu memang pasti akan cepat sampai di telinga Nissa. Najwa tertegun. Bagaimana mungkin ia melupakan bagian pada jam itu. Padahal, cukup sering ia mengamati tiap detailnya. “Bego banget sih gue! Masa bisa lupa ada huruf apa di jam itu.” Ia memarahi dirinya sendiri.
        Najwa berusaha membuka kembali memorinya tentang jam tersebut. Satu yang ia ingat, huruf terbentuk dari beberapa garis. Antara huruf N, R, dan V. Bisa dipastikan bukan huruf ‘R’.

        Huruf N, kak.

      Pesan terkirim. Najwa seperti tanpa sadar membalas pesan Nissa. Ia mencoba untuk membatalkan sms tersebut. Namun pesan sudah terkirim, dan mungkin saja saat ini Nissa sudah membacanya.

@@@

         

-b �3f n XO~ ��} "Times New Roman"'>        “Yaa… maklum aja. Di antara kita bertiga kan Cuma gue yang nggak punya mobil.” Kata Nicky sok terlihat prihatin.
        Tapi bukan Najwa namanya kalo gampang terpengaruh dengan tampang polos Nicky yang di buat-buat. “Sok melarat tampang lo.” Protes cewek ini sambil memutar di mobil menuju pintu penumpang.
        Nicky hanya tersenyum bangga.

@@@

        Lokasi pertama yang dituju Nicky dan Najwa adalah sebuah café. Ricky yang menyetir, hanya memarkirkan mobilnya di pinggir jalan.
        “Lama deh pasti.” Tebak Nissa sambil berdecak kesal. Vicky yang duduk di depan, langsung membalikkan badan untuk bisa melihat ceweknya yang duduk di kursi tengah bersama Riyu.
        “Kalian laper kan? Kita bungkus makanan biar bisa makan di mobil aja gimana?” saran Vicky yang langsung di setujui.
Namun Ricky berinisiatif untuk pergi memesan makanan. “Gue aja.”
Tak lama Ricky pun kembali dan ia tercengang karena posisi duduk sudah seratus persen berubah. “Apa-apaan nih?” Protesnya sambil membuka pintu tengah. Ivo yang duduk di tengah semakin merapatkan badannya ke pintu seberang.
Ricky melirik tajam ke Vicky yang duduk di kursi belakang bersama Nissa. Mereka tengah mendengarkan music di satu handsfree. Lalu beralih ke Riyu yang asik melihat foto yang ditunjukkan Soraya kepadanya.
“Riyu! Balik ke tempat semula.” Tegurnya setengah memerintah.
Riyu menoleh enggan. “Gak ada.” Tolaknya mentah-mentah. “Kalo lo yang nyetir, gue jamin pulangnya anak-anak langsung kena serangan jantung.”
“Kak Riyu jangan ngomong gitu, akh.” Protes Ivo terdengar ngeri. Namun lebih mengerikan baginya adalah tatapan Ricky yang kurang bersahabat.
“Iya gue cabut omongan gue.” Riyu langsung mengalah. Ia menatap Ricky yang masih berdiri di luar. “Udeehhh… buruan masuk. Kagak laper, apa? Keburu Nicky keluar nih.” Protesnya setengah menakut-nakuti.
Dengan terpaksa Ricky mengorbankan harga dirinya. Selain itu, di luar juga panasnya gak kira-kira. Dan percuma aja ia meminta posisi duduk kembali seperti semula. Sampe ngancem mau ngebakar mobil pun, gak akan ada yang ngalah. Kecuali Ivo. Tapi cewek itu juga gak bisa berbuat banyak.
“Dalam suasana kayak gini, masih sempetnya pada pacaran.” Gerutu Ricky pelan sebelum masuk ke dalam mobil.
“Ngomong apa lo barusan?” tegur Vicky memastikan pendengarannya tak salah. Yang lain juga pasti mendengarnya, meski hanya Vicky yang berani menyinggung.
Ricky yang udah duduk, lantas menoleh ke Vicky yang duduk dibelakangnya. “Dalam suasana kayak gini, masih sempetnya pada pacaran.” Tak di duga Ricky justru memperjelasnya.
“Tuh Ivo nganggur.” Vicky menyambar kotak makanan yang disodorkan Ricky kepadanya. “Ajakin aja pacaran.” Ledeknya.
Riyu, Soraya dan Nissa sontak tertawa puas atas penindasan mental yang di terima Ricky dari kembarannya sendiri.
Dua lawan empat. Bukan, tapi satu lawan empat. Ivo tak mungin membantunya membalas dendam. Biar gimana pun, Ricky memang tak mungkin untuk membalas dengan cara apa pun.

@@@

Tidak ada komentar:

Posting Komentar